BAB II KAJIAN PUSTAKA

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK)
2.1.1 Definisi OMSK
OMSK merupakan peradangan kronis pada ruang telinga tengah akibat infeksi yang
menetap selama lebih dari 2 bulan. Gejala pada OMSK aktif tipe benigna yaitu perforasi atau
lubang pada membram timpani total maupun subtotal disertai riwayat keluar cairan dari
telinga tengah secara terus menerus maupun hilang timbul dimana sifat cairan telinga yang
dikeluarkan dapat berupa cairan mukoid atau mukopurulen. Keadaan ini dapat menyebabkan
gangguan fungsi mendengar terutama bila terjadi pada kedua telinga, serta gangguan
psikososial penderita (Helmi, 2005. Dhingra, 2007). OMSK di dalam masyarakat Indonesia
dikenal dengan istilah “congek”, “teleran” atau telinga berair, sedangkan untuk daerah Bali
lebih dikenal dengan “curek”.
2.1.2 Epidemiologi
Data epidemiologi OMSK bervariasi, prevalensi tertinggi didapatkan pada anak-anak
Eskimo pada Indian Amerika dan Aborigin Australia berkisar 7-40%. Negara industri seperti
Amerika Serikat dan Ingris prevalensinya kurang dari 1%
(WHO, 2004). Perkiraan prevalensi OMSK di Asia Tengara adalah antara 1,4-7,8% seperti
yang dikutip oleh Helmi (2005). Secara umum prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8%
dan pasien OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah
sakit di Indonesia (Aboet, 2007), sedangkan di Provinsi Bali data prevalensi OMSK berkisar
3,9% dari seluruh kabupaten (Depkes, 2010).
Usia terbanyak penderita infeksi telinga tengah adalah usia 7-18 tahun. Sekitar 20%
penderita OMSK di Indonesia adalah anak sekolah. Dalam penelitian Srikrisna (2005),
terhadap 60 pasien di India, sebanyak 26,67% pasien berusia 10-20 tahun dan 56,67% pasien
berusia 21-30 tahun. Data seperti dikutip oleh Biswas (2011), menyebutkan bahwa prevalensi
OMSK ada anak adalah sekitar 2-17%.
2.1.3 Etiologi dan faktor risiko
Penyebab utama dari otitis media dimulai dari otitis media akut yang disebabkan oleh
adanya infeksi virus yang merusak mukosa siliar pada saluran nafas atas sehingga bakteri
patogen masuk dari nasofaring ke telinga tengah melalui tuba Eustachius dengan gerakan
mundur (retrograde movement) (Dhingra,2007). Pada OMSK keadaan ini agak berbeda
dengan adanya perforasi membran timpani, infeksi lebih sering berasal dari luar yang masuk
melalui perforasi membran tympani (Ballenger, 2002).
Pada penelitian Tutwuri ( 2003 ) dilaporkan bahwa bakteri Gram positif penyebab
OMSK yaitu; Staphylococcus aureus 39,4 % dan Bacillus sp 3,03 %, sedangkan bakteri
Gram negatif yaitu; Enterobacter spp 22,73 %, Pseudomonas aeruginosa 13,64 % dan
Proteus spp 7,58 %. Sedangkan pada penelitian Susmita (2012) didapatkan hasil isolasi
bakteri dari penderita OMSK di India adalah bakteri Gram positif yaitu Staphylococcus
aureus 31 % dan Streptococcus pyogenes 2,7 %, sedangkan bakteri Gram negatif yaitu;
Pseudomonas aeruginosa 43,2% dan Enterobacter spp 1,3%.
Faktor risiko terhadap terjadinya OMSK dapat dibedakan menjadi faktor risiko
berdasarkan klinis dan faktor risiko berdasarkan sosio-demografi. Berdasarkan klinis antara
lain infeksi saluran nafas atas, alergi,
kelenjar adenoid yang membesar, malnutrisi dan
gastro-esofageal refluks, sedangkan berdasarkan sosio-demografi antara lain sosio-ekonomi
rendah, tinggal dalam rumah yang penuh sesak, memasak dengan kayu bakar, pusat penitipan
anak, paparan asap rokok, minum susu botol dan lain-lain (Lasisi, 2007).
2.1.4 Klasifikasi
Secara klinis OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu: tipe tubotimpanal (tipe mukosa atau
tipe benigna) dan tipe atikoantral (tipe tulang atau tipe maligna). Tipe tubotimpani atau tipe
benigna yang ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang
bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi
keadaan ini terutama patensi tuba eustachius, infeksi saluran nafas atas, pertahanan mukosa
terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah, disamping itu
campuran bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi
sekunder dari epitel skuamous. Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas: (Ballenger,
2002 ; Helmi, 2005).
a. Penyakit aktif, dimana pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan dapat ditemukan
gangguan pendengaran.
b. Penyakit tidak aktif atau tenang dimana pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total
yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli
konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinitus, atau suatu rasa penuh
dalam telinga.
2.1.5 Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan OMSK tipe benigna dibagi menjadi 2 yaitu; OMSK dengan fase
tenang dimana pada keadaan ini tidak memerlukan pengobatan dan dinasehatkan untuk tidak
mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera
berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya
dilakukan operasi rekonstruksi seperti miringoplasti dan timpanoplasti untuk mencegah
infeksi berulang serta gangguan pendengaran.
Sedangkan pada OMSK aktif tipe benigna dimana prinsip pengobatan yaitu; (Helmi,
2005; Heally, 2003).
1.
Pembersihan
liang
telinga
dan
kavum
timpani
atau
toilet
telinga,
dimana tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk
perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi
perkembangan mikroorganisme.
2.
Pemberian antibiotik topikal dimana terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat
penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan
secara luas untuk OMSK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga, baik pada anak
maupun dewasa. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak
tanpa dibersihkan dulu tidak efektif. Bila sekret berkurang atau tidak progresif lagi diberikan
obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Cara pemilihan antibiotik yang
paling baik berdasarkan pada hasil kultur kuman penyebab dan uji resistensi. Selain itu
dikatakan bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal (Helmi,
2005; Heally, 2003). Mengingat pemberian obat topikal bertujuan agar masuk sampai telinga
tengah, maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik seperti neomisin dan lama
penggunaan tidak lebih dari 1 minggu. Pemakaian jangka panjang obat tetes telinga yang
mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum, sehingga dapat menyebabkan
ototoksik (Erasmo, 2006; Ameer, 2012).
Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah :(Nursiah, 2003;
Loy,2002)
1. Polimiksin B atau polimiksin E yaitu obat ini bersifat bakterisida terhadap bakteri
gram negatif dan gram positif, juga bersifat toksik terhadap ginjal serta sususan saraf.
2. Neomisin yaitu obat bakterisid pada kuman gram positif dan negatif, Resisten pada
semua anaerob seperti Pseudomonas juga bersifat toksik terhadap ginjal dan telinga.
3. Chloramphenicol 1% yaitu obat ini bersifat bakterisid terhadap bakteri gram posistif
dan gram negative. Chloramphenicol 1% akhir-akhir ini jarang digunakan sebagai
antibiotik pada OMSK, hal ini disebabkan efek sampingnya yang dapat menyebabkan
terjadinya anemia aplastik yang fatal, depresi sumsum tulang, glositis, enterokolitis
dan sindrom Gray, juga bersifat resisten dan toksik pada telinga.
Menurut penelitian Afolabi (2012) di Nigeria melaporkan sentivitas Chloramphenicol 1
% terhadap bakteri Gram positif seperti Staphylococcus aureus 32 % dan Streptococcus spp
13 %, sedangkan sensitivitas Chloramphenicol 1 % terhadap bakteri Gram negatif seperti
Pseudomonas aeruginosa 48 % dan Enterobacter spp 4,5 %.
Pemberian antibiotik sistemik diberikan dengan pemilihan antibiotik berdasarkan kultur
kuman penyebab. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai
pembersihan sekret sehingga hasil pengobatan lebih efektif ( Helmi, 2005; Heally, 2003).
2.2 Tanaman Daun ” Tebel-tebel” ( Hoya carnosa )
Klasifikasi tanaman
Kingdom
: Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi
: Magnoliaphyta
Kelas
: Magnoliopsida
Sub Kelas
: Asteridae
Ordo
: Gentianales
Family
: Apocynaceae
Subfamily
: Asclepiadoideae
Genus
: Hoya
Species
: Hoya carnosa R.Br
Kelompok tumbuhan Hoya merupakan tumbuhan yang umum dikenal sebagai tanaman
hias, karena bunganya yang unik dan indah. Namun demikian, jauh sebelum dimanfaatkan
sebagai tanaman hias, Hoya telah dikenal banyak suku di pedalaman Indonesia sebagai
tumbuhan bahan obat tradisional. Sebagai tumbuhan dari Suku Asclepiadaceae sudah
selayaknya Hoya memiliki manfaat sebagai bahan obat. Karena nama suku Asclepiadaceae
berasal dari nama Dewa Yunani yaitu Asclepius. Asclepius adalah Dewa Pengobatan bangsa
Yunani Pengetahuan mengenai manfaat Hoya carnosa sebagai tumbuhan penghasil bahan
obat perlu diungkapkan dan disebarkan agar pengetahuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk
kemaslahatan umat manusia atau makhluk hidup lainnya.
Daerah penyebaran Hoya carnosa meliputi India hingga Papua Nugini. Keragaman jenis
Hoya terbesar terdapat di daerah Asia Tenggara (Malesia) terutama di Kepulauan Indonesia.
Dari sekitar 150 hingga 200 jenis Hoya yang diperkirakan terdapat di dunia. Indonesia
diperkirakan memiliki sekitar 50 sampai 60 jenis (Rahayu, 2001). Keragaman jenis ini
tentunya diikuti pula dengan keragaman pemanfaatan penduduk setempat. Hal ini merupakan
potensi yang besar bagi pengembangan bahan obat dari bahan asli di Indonesia. Namun
demikian, informasi mengenai manfaat obat dari berbagai jenis Hoya carnosa sebagian masih
tersimpan pada kelompok suku tertentu.
2.2.1 Ciri umum tanaman
Tumbuhan Hoya carnosa memiliki ciri umum sebagai epifit, yaitu tumbuhan yang
menumpang pada pohon lainnya. Pohon yang ditumpangi oleh epifit disebut sebagai forofit
(Bezing, 2008). Pada umumnya Hoya tumbuh sebagai tumbuhan merambat, namun beberapa
jenis tidak merambat. Hampir seluruh bagian tumbuhan akan mengeluarkan getah putih atau
bening jika terluka.
Daunnya tersusun bersilang berhadapan. Helai daun yang tebal
(coriaceous) dan berlilin.
Bentuk dan ukuran daun berbentuk bulat telur terbalik,
menjantung,. Panjang daun 15 mm hingga 30 mm, sedangkan lebar 0,5 mm hingga 15 mm
dan memiliki corak peruratan yang tersamar dengan pola menjari serta pinggiran helai
daunnya lurus (entire) (Hoffman et al. 2002; Rahayu, 2010).
Perbungaan terdapat dalam payung (umbel) yang muncul di antara dua tangkai daun
(interpetiolar). Dalam satu payung terdapat beberapa kuntum hingga lebih dari 40 kuntum.
Tangkai bunga (pedicel) ada yang seragam panjangnya sehingga membentuk payung yang
cembung. Perhiasan terdiri dari lima bagian sehingga membentuk bintang. Kelopak
berukuran kecil, jauh lebih kecil dari ukuran mahkota. Mahkota mekar ada yang melengkung
ke luar, datar atau melengkung ke dalam, ada yang berlepasan penuh, sebagian, maupun
hampir seluruhnya berlekatan. Kondisi ini menyebabkan aneka bentuk mahkota mekar yaitu
ada yang mangkuk, cawan, membintang, membundar (revolute), atau seperti kepala tombak
(membalik).
Warna mahkota bermacam-macam, dari mulai putih, kuning merah, merah muda, oranye,
ungu, hijau, coklat. Warna ada yang polos ada pula yang semburat (makulata). Bunga Hoya
umumnya memiliki mahkota tambahan atau korona. Korona terletak di dalam lingkaran
mahkota, membintang, memadat dan mengkilap dengan lapisan lilin yang tebal. Putik dan
serbuk sari menyatu dalam badan yang disebut gynostegium yang terletak di tengah bunga.
Benang sari memadat membentuk polinia berjumlah lima pasang pada setiap kuntum. Setiap
pasang polinia terletak pada sudut gynostegium. Bakal buah dua, terdapat dibawah kepala
putik. Buah berupa buah bumbung (follicle), biji berambut yang mudah diterbangkan angin,
seperti disajikan pada Gambar 2.1.a dan 2.2.b (Bezing, 2008; Rahayu,2001).
2.1.a
Gambar 2.1 a
2.1.b
Daun tanaman Hoya carnosa. (Rahayu,2001).
Gambar 2.1 b. Tanaman Hoya carnosa yang berbunga
2.2.2 Tempat tumbuh
Berbagai jenis Hoya yang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional pada umumnya
dipanen langsung dari habitatnya di hutan. Hoya tumbuh didaerah yang cukup lembab
seperti di daerah pinggiran sungai, danau atau pinggir pantai. Beberapa jenis Hoya dapat
beradaptasi di daerah pegunungan di atas 1.000 m dari permukaan laut, namun banyak jenis
yang lebih menyukai daerah dataran rendah dengan kondisi yang hangat dan lembab (Bezing,
2008). Tempat tumbuh pada forofitnya pun beragam tergantung jenisnya. Beberapa jenis
menyukai bagian batang utama forofit, sedangkan jenis-jenis yang lainnya lebih menyukai
tempat di atas tajuk. Hal ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidupnya, menyangkut air,
cahaya dan unsur hara serta menghindarkan dari pemakan daun. Sebagai tanaman hias, Hoya
dapat ditanam dalam pot gantung atau pohon buah yang terdapat di halaman (Bezing, 2008).
2.2.3 Pemanfaatan sebagai tumbuhan obat
Berbagai jenis Hoya merupakan tumbuhan asli daerah Asia Tenggara dan sekitarnya
yang kemudian berkembang di Eropa dan Amerika Serikat sebagai tanaman hias eksotis.
Namun demikian, sejarah pemanfaatan tumbuhan Hoya oleh manusia di awali sebagai bahan
obat-obatan alami. Pada umumnya Hoya dimanfaatkan oleh penduduk asli sebagai bahan
obat, sedangkan pemanfaatan sebagai tanaman hias dikembangkan oleh penduduk Eropa
yang mengimpor tumbuhan ini pada masa kolonialisme pada abad 18, kemudian menular ke
Amerika Serikat pada abad 19. Pemanfaatan berbagai jenis Hoya sebagai bahan obat meliputi
daerah penyebaran alami Hoya, dari India, Indocina, Cina, Malesia, Polinesia dan Australia
Tropis (Aborigin) (Bezing, 2008).
Pemanfaatan Hoya sebagai obat bervariasi dari penggunaannya sebagai obat luka gores
maupun luka bakar, pembengkakan, bisul, memar, beberapa jenis penyakit kulit yang
disebabkan mikroorganisme seperti kudis, gigitan serangga dan ikan beracun, sakit perut atau
pencernaan, batuk, asma, dan penyakit paru-paru, TBC, rematik atau pernyakit pertulangan
dan sendi, penyakit kelamin, enchepalitis, elephantiasis, hingga tonik pada ibu yang baru
saja melahirkan (Bezing,2008). Pemanfaatan Hoya sebagai obat secara modern telah
dikembangkan antara lain di Jerman, yaitu yang memanfaatkan tinktur daun segar Hoya
carnosa dalam alkohol 80 %, yang dapat digunakan untuk mengganti penggunaan insulin
hingga 50 % pada penderita diabetes melitus (Bezing, 2008). Tinktur yang dikeluarkan oleh
Perusahaan Farmasi Staufen di Gottingen tersebut dijual bebas, umumnya digunakan untuk
pengobatan abses dan bisul yang diaplikasikan secara eksternal. Secara tradisional Hoya
carnosa digunakan oleh penduduk Cina sebagai bahan obat encephalitis dan orchitis yaitu
pembengkakan pada testis (Rahayu, 2010), sedangkan di Vietnam digunakan sebagai obat
pyroderma (pembengkakan kulit yang disebabkan mikroorganisme, seperti bisul, dan
lainnya) dengan cara menempelkan daun yang dihaluskan (Rahayu, 2010). Pada masyarakat
di Provinsi Bali secara empiris pemanfaatan tanaman Hoya carnosa yang lebih di kenal
dengan “don tebel-tebel” untuk penanganan penyakit radang telinga tengah (OMSK), dimana
cairan dari daun Hoya carnosa diteteskan pada telinga yang sakit, sehingga cairan telinga
menjadi kering.
2.2.4 Kandungan kimia
Pemanfaatan suatu tumbuhan sebagai bahan obat pada suatu penyakit tertentu, sangat
terkait dengan bahan kandungan obat, yang merupakan bahan kimia tertentu sebagai produk
hasil metabolisme tumbuhan yang bersangkutan. Bagi tumbuhan yang bergetah, kandungan
bahan obat tersebut biasanya terdapat dalam getah. Ekstrak daun ”tebel-tebel” ( Hoya
carnosa ) memiliki senyawa aktif yaitu saponin, alkaloid, flavonoid dan tanin. (Rahayu,
2010),
Penelitian terhadap kandungan kimia beberapa jenis tanaman Hoya telah beberapa kali
dilakukan, meskipun belum terlalu banyak. Penelitian-penelitian bahan kimia dari berbagai
jenis Hoya antara lain dilakukan di Universitas Farmasi di Tokyo, Jepang untuk senyawa
utama di Universitas Utrech, Belanda untuk kandungan kimia lateks dan daun meliputi
senyawa-senyawa phenolic dan terpenoid serta kandungan alkaloid di Universitas Melbourne,
Australia (Collins, 2002; Rahayu, 2010). Penggunaan sebagai obat luka diyakini karena
getahnya memiliki kekuatan untuk menyatukan jaringan yang terluka (Collins, 2002). Study
tahun 1946 di Universitas Queensland Australia menemukan bahwa Hoya carnosa
mengandung gugus sterol glucosida hoyin, yang mirip dengan condurangin, yaitu suatu zat
glukosida berwarna kuning, pahit dan beracun yang diperoleh dari kulit kering tumbuhan
Marsdenia cundurango (Asclepiadaceae) (Burton, 2007).
2.2.5 Kandungan senyawa aktif
2.2.5.1 Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder yang paling
banyak ditemukan di dalam jaringan tanaman. Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa
phenolic dengan struktur kimia C6-C3-C6 (Zheng dan Wang,2009). Mekanisme kerja
flavonoid sebagai antibakteri yang bersifat bakteriostatik yaitu dengan menghambat sintesis
protein, menghambat asam nukleat dan menghambat metabolisme energi, namun flavonoid
juga bersifat bakterisidal dengan cara
menghambat fungsi membran sel (Zheng dan
Wang,2009).
Mekanisme antibakteri flavonoid menghambat sintesis protein adalah dengan cara terikat
secara spesifik pada ribosom bakteri. Tahap biosintesis protein sel bakteri menjadi tiga tahap
yaitu tahap inisiasi, tahap pemanjangan dan tahap terminasi. Penghambatan sintesis protein
terjadi pada tahap inisiasi dan tahap pemanjangan rantai polipeptida sehingga pada tahap
terminasi terdapat kesalahan dalam menerjemahkan kodon dari mRNA ke tRNA sehingga
mengganggu pertumbuhan bakteri (Zheng dan Wang,2009). Mekanisme menghambat aaam
nukleat adalah cincin A dan B yang memegang peran penting dalam proses interkelasi atau
ikatan hidrogen dengan menumpuk basa asam nukleat yang menghambat pembentukan DNA
dan RNA. Letak gugus hidroksil di posisi 2’,4’ atau 2’,6’ dihidroksilasi pada cincin B dan 5,7
dihidroksilasi pada cincin A berperan penting terhadap aktivitas antibakteri flavonoid (Zheng
dan Wang,2009). Flavonoid menyebabkan terjadinya kerusakan permeabilitas dinding sel
bakteri, mikrosom,dan lisosom sebagai hasil interaksi antara flavonoid dengan DNA bakteri
(Zheng dan Wang,2009).
Mekanisme kerja flavonoid menghambat fungsi membran sel adalah membentuk
senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan terlarut sehingga dapat merusak
membran sel bakteri dan diikuti dengan keluarnya senyawa intraseluler. Penelitian lain
menyatakan mekanisme flavonoid menghambat fungsi membran sel dengan cara
mengganggu permeabilitas membran sel dan menghambat ikatan enzim seperti ATPase dan
phospholipase. Flavonoid dapat menghambat metabolisme energi dengan cara menghambat
penggunaan oksigen oleh bakteri (Zheng dan Wang,2009). Flavonoid menghambat pada
sitokrom C reduktase sehingga pembentukan metabolisme terhambat. Energi dibutuhkan
bakteri untuk biosintesis makromolekul. Flavanoid juga berperan sebagai antioksidan dengan
cara mendonasikan atom hidrogennya atau dalam bentuk glukosida yaitu mengandung rantai
samping glukosa atau dalam bentuk bebas yang disebut aglikon (Zheng dan Wang,2009).
Dalam upaya mengoptimasi metode penentuan kuantitatif flavonoid dengan HPLC, telah
mendapatkan beberapa senyawa flavonoid yang berpotensi sebagai anti-karsinogenik.
Ekstrak daun “tebel-tebel” (Hoya carnosa) menunjukkan adanya senyawa flavonoid seperti
quercetin dan kaempferol (Zheng dan Wang,2009).
2.2.5.2 Tanin
Tanin merupakan senyawa poliphenol dengan bobot molekul tinggi dan mempunyai
kemampuan mengikat protein. Mekanisme tanin sebagai antibakteri yang berhubungan
dengan kemampuannya untuk menginaktifkan adhesin sel mikroba, menginaktifkan enzim,
dan menggangu transport protein pada lapisan dalam sel. Tanin juga mempunyai target pada
polipeptida dinding sel sehingga pembentukan dinding sel menjadi kurang sempurna. Hal ini
menyebabkan sel bakteri menjadi lisis karena tekanan osmotik maupun fisik sehingga sel
bakteri akan mati. Kompleksasi dari ion besi dengan tanin dapat menjelaskan toksisitas tanin.
Mikroorganisme yang tumbuh di bawah kondisi aerobik membutuhkan zat besi untuk
berbagai fungsi, termasuk reduksi dari prekursor ribonukleotida DNA. Enzim reverse
transkriptase dan DNA topoisomerase sel bakteri tidak dapat terbentuk oleh kapasitas
pengikat besi yang kuat oleh tanin (Kurniawati,2008).
2.2.5.3 Saponin
Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks dengan berat molekul tinggi yang
dihasilkan terutama oleh tanaman. Berdasarkan struktur kimianya, saponin dikelompokkan
menjadi tiga kelas utama yaitu kelas steroid, steroid alkaloid, dan triterpenoid. Sifat yang
khas dari saponin antara lain berasa pahit, berbusa dalam air. Triterpenoid adalah senyawa
metabolit sekunder yang merupakan komponen utama tanaman daun “tebel-tebel“ Hoya
carnosa (Burton,2007).
Mekanisme kerja saponin sebagai antibakteri yaitu dapat menyebabkan kebocoran protein
dan enzim dari dalam sel. Saponin dapat menjadi anti bakteri karena zat aktif permukaannya
mirip detergen, akibatnya saponin akan menurunkan tegangan permukaan dinding sel bakteri dan
merusak permebialitas membran. Rusaknya membran sel ini sangat mengganggu kelangsungan
hidup bakteri. Saponin berdifusi melalui membran luar dan dinding sel yang rentan kemudian
mengikat membran sitoplasma sehingga mengganggu dan mengurangi kestabilan membran sel.
Hal ini menyebabkan sitoplasma bocor keluar dari sel yang mengakibatkan kematian sel. Agen
antimikroba yang mengganggu membran sitoplasma bersifat bakterisida (Rachmawati, 2009).
2.2.5.4 Alkaloid
Senyawa alkaloid memiliki mekanisme kerja sebagai antibakteri yaitu dengan cara
mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding
sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut. Mekanisme lain
antibakteri alkaloid yaitu komponen alkaloid diketahui sebagai interkelator DNA dan
menghambat enzim topoisomerase sel bakteri (Rachmawati, 2009).
2.3 Bakteri
Bakteri merupakan organisme bersel-tunggal yang bereproduksi dengan cara sederhana,
yaitu dengan pembelahan biner. Sebagian besar bakteri hidup bebas dan mengandung
informasi genetik serta memiliki sistem biosintetik juga menghasilkan energi yang penting
untuk pertumbuhan dan reproduksinya. Pertumbuhan sel bakteri adalah pertambahan jumlah
sel yang berarti juga terjadi pertambahan jumlah organisme atau individu. Terdapat beberapa
fase pertumbuhan bakteri yaitu;
a. Fase adaptasi yaitu dimana fase sel bakteri mulai mengadakan adaptasi, sel belum
mengadakan pembelahan, hal ini disebabkan beberapa enzim mungkin belum
disintesis. Jumlah sel tetap atau berkurang.
b. Fase logaritmik yaitu pembelahan sel terjadi dengan cepat dan konstan. Sel
membutuhkan energi lebih banyak. Keceptan sel sangat dipengaruhi oleh;PH, nutrien,
kelembaban udara.
c. Fase litik yaitu el-sel akan mengalami kematian, hal ini disebabkan karena nutrisi
sudah habis, energi cadangan didalam sel dan peningkatan zat-zat toksik yang akan
meracuni sel-sel bakteri.
Bakteri dikalsifikasikan dengan berbagai cara salah satu yang paling sering digunakan adalah
pewarnaan gram (Bakhriansyah, 2008).
2.3.1 Bakteri Gram positif
Bakteri Gram positif akan memberikan warna ungu. Golongan ini memiliki struktur
dinding sel selapis dengan ketebalan setebal 20-80 mm, dengan komposisi dinding sel yaitu
lipid 1-4%,lapisan tunggal peptidoglikan lebih dari 50% berat sel dan terdapat asam teichoic,
asam teichuroni dan berbagai macam polisakarida. Polisakarida dan asam amino pada lembar
peptidoglikan bersifat sangat polar, sehingga pada bakteri Gram positif yang memiliki
dinding sel yang sangat tebal, dapat bertahan dari aktivitas cairan empedu di dalam usus.
Sebaliknya lembar peptidoglikan
rentan terhadap lisozim sehingga dapat dirusak oleh
senyawa bakterisidal. Bakteri yang termasuk dalam golongan Gram positif antara lain;
Staphylococcus,
Streptococcus,
Enterococcus,
Listeria,Bacillus,
Clostridium,
Mycobacterium, Propionibacterium, Mycoplasma dan lain-lain (Bakhriansyah, 2008).
2.3.2 Bakteri Gram negatif
Bakteri Gram positif akan memberikan warna merah. Bakteri golongan ini memiliki
struktur dinding sel yang tipis 10-15 mm yang terdiri dari tiga lapisan, dengan komposisi
utama: peptidoglikan jumlahnya sedikit yaitu 10% berat sel , membran luar dan
lipopolisakarida berkisar 11-22%. Membran luar pada bakteri gram negatif juga memiliki
sifat hidrofilik, namun komponen lipid pada dinding selnya justru memberikan sifat
hidrofilik. Selain itu terdapat saluran khusus yang terbuat dari protein yang disebut porins
yang berfungsi sebagai tempat masuknya komponen hidrofilik seperti gula dan asam amino
yang penting untuk kebutuhan nutrisi bakteri. Lipoprotein mengandung 57 asam amino yang
merupakan ulangan sekuen 15 asam amino yang saling bertaut dengan ikatan peptida dengan
residu asam diaminpimelat dari sisi tetrapeptida rantai peptidoglikan. Komponen lipidnya
terdiri dari diglyseride thioether yang terikat pada sistein terminal. Lipoprotein merupakan
komponen yang mendominasi dinding sel gram negtif dan berfungsi menjaga stabilitas
memban luar dan tempat perlekatan pada lapisan peptidoglikan. Membran luarnya
merupakan struktur bilayer; komposisi lembar dalamnya mirip dengan membran sitoplasma,
hanya saja fosfolipid pada laisan luarnya diganti dengan molekul lipopolisakarida (LPS).
Selain itu terdapat ruang antara membran dalam dengan membran luarnya yang disebut ruang
periplasma, terdiri dari lapisan murein dan larutan protein mirip gel yaitu protein pengikat
substrat tertentu, enzim hidrolitik dan enzim detoksifikasi (Bakhriansyah, 2008).
LPS yang merupakan tempat perlekatan dinding sel gram negatif terdiri dari lipid
kompleks yang disebut lipid A, dimana melekat polisakarida dan antigen O. LPS terikat pada
membran luar dengan ikatan hidrofobik. LPS disintesis pada membran sitoplasma dan dibawa
ke posisi akhir di bagian luar. LPS berfungsi sebagai antigen yaitu antigen O pada rantai
karbohidratnya dan toksin yaitu endotoksin yang berasal dari komponen lipid A. Bakteri
yang termasuk golongan gram negatif antara lain Pseudomonas, Escherichia, Shigella,
Neisseria, Bordetella, Vibrio, Helicobacter, Enterobacter, Haemophilus dan lain-lain
(Bakhriansyah, 2008).
Gambar 2.2.a Bakteri Gram positif.
Gambar 2.2.b Bakteri Gram negatif
(Bakhriansyah, 2008).
2.4 Antibakteri
Antibakteri adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan
bakteri dengan cara mengganggu metabolisme bakteri. Antibakteri hanya dapat digunakan
jika mempunyai sifat toksisitas selektif, artinya dapat membunuh bakteri yang menyebabkan
penyakit tetapi tidak toksik bagi penderitanya. Faktor-faktor yang berpengaruh pada aktivitas
zat antibakteri adalah pH, suhu stabilitas senyawa, jumlah bakteri yang ada, lamanya
inkubasi, dan aktivitas metabolisme bakteri (Bakhriansyah, 2008).
2.4.1 Klasifikasi antibakteri
Klasifikasi antibakteri dapat dibedakan antara lain berdasarkan mekanisme kerjanya
yang secara umum terdiri dari empat kelompok utama yaitu; (Bakhriansyah, 2008).
2.4.1.1 Penghambatan terhadap sintesis dinding sel
Dinding sel berisi polimer mukopeptida kompleks (peptidoglikan) yang secara kimia
berisi polisakarida dan campuran rantai polipeptida. Polisakarida berisi gula amino N-
acetylglucosamine (NAG) dan asam acetylmuramic.
Kekerasan dinding sel disebabkan oleh
hubungan saling silang rantai peptida sebagai hasil reaksi transpeptidasi yang dilakukan oleh
beberapa enzim.
Langkah awal dari aksi obat berupa ikatan obat pada reseptor sel yag disebut protein
binding penicillin (PBP). PBP berada dibawah kontrol kromosom dan mutasinya dapat
mengubah jumlah atau afinitasnya terhadap obat. Setelah obat melekat pada satu atau
beberapa reseptor reaksi traspeptidasi dihambat dan inaktivitas inhibitor otolitik pada dinding
sel. Hal ini mengaktivasi enzim lisis dan menghasilkan lisis pada lingkungan yang isotonik.
Perbedaan kerentanan bakteri gram positf dan negatif bergantung pada perbedaan
struktur dinding sel mereka seperti jumlah peptidoglikan, keberadaan reseptor, aktivitas
enzim otolitik yang menentukan penetrasi ikatan dan aktivitas obat.
2.4.1.2 Penghambatan terhadap fungsi membran sel
Sitoplasma semua sel hidup dibatasi oleh membran sitoplasma, yang berperan sebagai
barrier permeabilitas selektif, membawa fungsi transport aktif dan kemudian mengontrol
komposisi internal sel. Jika fungsi integritas membran sitoplasma dirusak maka
makromolekul dan ion keluar dari sel sehingga sel menjadi rusak atau terjadi kematian.
Membran sitoplasma bakteri mempunyai struktur berbeda dinding sel binatang dan dapat
dengan mudah dikacaukan oleh agen tertentu.
2.4.1.3 Penghambatan terhadap sintesis protein
Kebanyakan inhibitor translasi protein atau sintesis protein bereaksi dengn kompleks
ribosom-mRNA. Walaupun sel manusia juga memiliki ribosom, ribosom pada eukariotik
berbeda dalam ukuran dan struktur dari ribsom prokariotik. Konsekuensi yang potensial
terjadi pada penggunan antimikroba ini adalah kerusakan ribosom mitokondria eukariotik
yang mengandung ribosom yang sejenis dengan prokariotik. Dua target pada ribosom yang
dapat diganggu adalah subunit 30 S dan subunit 50 S.
2.4.1.4 Penghambatan terhadap sintesis asam nukleat
Gangguan sintesis asam nukleat juga dapat disebabkan oleh inhibitor kompetitif, sebagai
contok antibiotik yang strukturnya analog dengan asam p-aminobenzoat (PABA) yang
merupakan metabolit penting dalam pembentukan asam folat. Antibiotik masuk ke dalam
reaksi yang melibatkan PABA dan bersaing pada sasaran enzim yang aktif. Sebagai hasilnya
dibentuk asam folat analog yang nonfungsional mengakibatkan
pertumbuhan bakteri
tertekan.
Berdasarkan sifat toksisitas selektifnya terhadap pertumbuhan bakteri, dibagi menjadi;
(Bakhriansyah, 2008).
a. Bakteriostatik yaitu memberikan efek dengan cara menghambat pertumbuhan tetapi tidak
membunuh. Senyawa bakteriostatik seringkali menhambat sintesis protein atau mengikat
ribosom, menghambat sintesis asam nukleat dan menghambat metabolisme energi.
b. Bakterisidal yaitu memberikan efek
dengan cara membunuh
sel bakteri. Efek
bakterisidal dengan cara mnghambat permeabilitas membran sel dan merusak membran
sel.
2.5
Uji Efek Antibakteri In-vitro
Efektivitas antibakteri diukur secara in vitro untuk menentukan potensi agen antibakteri
terlarut, konsentrasinya pada cairan dan jaringan tubuh dan mengetahui kerentanan
mikroorganisme tertentu terhadap konsentrasi antimikroba tertentu (Fluit,2001; Janak,2012).
Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas antimikroba in vitro antara lain; PH
lingkungan, komponen dari medium yang digunakan, stabilitas obat, ukuran inokulum, lama
inkubasi dan aktivitas metabolisme mikroorganisme (Fluit,2001; Janak,2012).
Untuk menentukan aktivitas mikroorganisme patogen terhadap obat antimikroba dapat
dilakukan dengan dua metode, yaitu metode dilusi dan difusi. Penggunaan kedua metode
tersebut mengikuti metode yang sudah standard. Salah satu metode standard yang dapat
digunakan adalah metode Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). (Fluit,2001;
Sridhar,2012).
2.5.1 Metode dilusi
Metode ini menggunakan antimikroba dengan konsentrasi yang diencerkn secara serial,
baik dengan media cair atau padat. Kemudian bakteri uji diinokulasi pada media cair atau
padat. Kemudian bakteri uji diinokulasi pada media dan diinkubasi. Melalui pemeriksaan
cara dilusi ini dapat diperoleh konsentrasi hambat minimun atau minimun inhibitory
concentration (MIC) yaitu konsentrasi terkecil yang masih dapat menghambat pertumbuhan
bakteri. Batas akhir yang diambil adalah kadar dimana antimikroba terlarut menghambat atau
membunuh bakteri dengan kadar terendah. Uji efektivitas secara dilusi agar memerlukan
waktu pengerjaan yang lama dan penggunaannya dibatasi pada keadaan tertentu saja. Uji
efektivitas dilusi menggunakan medium cair didalam tabung reaksi, tidak praktis dan jarang
digunakan, namun kini ada cara yang lebih sederhana dan banyak digunakan yaitu
microdilution plate.
2.5.2 Metode difusi
Metode difusi agar paling sering digunakan untuk mengetahui kepekaan suatu bakteri
terhadap antibiotik. Cakram kertas saring yang berisi sejumlah tertentu obat ditempatkan
pada permukaan medium padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada
permukaannya. Setelah inkubasi, diameter zona hambat sekitar cakram diukur dan dijadikan
ukuran kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji. Metode ini dipengaruhi beberapa
faktor fisik dan kimia, selain faktor antara obat dan organisme, misalnya sifat medium dan
kemampuan difusi, ukuran molekuler dan stabilitas obat, meskipun demikian standardisasi
faktor-faktor tersebut memungkinkan untuk dilakukannya uji sensitivitas dengan baik. Hasil
tes kepekaan bakteri diklarifikasikaan ke dalam dua atau lebih kategori. Terdapat beberapa
sistim yang sederhana untuk menentukan tingkat kepekaan antibakteri berdasarkan diameter
daerah hambat (mm)
yaitu dengan metode “Kirby-Bouer”dengan tiga klasifikasi yaitu;
sensitif, intermediate dan resisten, dimana setiap antibakteri dan bakteri mempunyai ukuran
dan klasifikasi yang berbeda sesuai dengan antibakteri yang digunakan (Sridhar, 2012).
2.6
Chloramphenicol
Chloramphenicol secara alami dihasilkan dari kultur Streptomyces venezuelae
yang
pertama kali diisolasi pada tahun 1947, tapi sekarang dapat dibuat secara sintetik.
Chloramphenicol berbentuk kristal merupakan senyawa stabil yang diabsorpsi secara cepat
dari gastrointesitinal, didistribusikan secara luas ke dalam jaringan dan cairan tubuh,
termasuk mudah masuk ke sistem saraf pusat dan cairan serebrospinal. Sebagian besar obat
diinaktifkan ke dalam hati melalui konjugasi dengan asam glukoronat atau melalui reduksi
menjadi alinamin yang inaktif. Ekskresi terutama dalam urin, 90% merupakan bentuk inaktif.
Meskipun Chloramphenicol biasanya diberikan secara oral, bentuk suksinat dapat diberikan
secara intravena dengan dosis yang sama. Chloramphenicol bekerja dengan menghambat
sintesis protein mikroorganisme. Chloramphenicol memiliki spektrum, dosis, kadar dalam
darah yang sama dengan tetrasiklin. Obat ini digunakan untuk mengobati beberapa tipe
infeksi, biasanya yang disebabkan oleh salmonella, meningococcus dan H.influenzae
(Christina, 2011).
Chloramphenicol jarang menyebabkan gangguan gastrointestinal. Namun pemberian
lebih dari 3 gram/hari secara teratur dapat menyebabkan gangguan pada maturasi sel darah
merah, peningkatan serum besi dan anemia. Kelainan ini dapat sembuh kembali jika obat
dihentikan. Kadang-kadang terjadi idiosikrasi terhadap Chloramphenicol dan mengakibatkan
anemia aplastik fatal yang serius, karena alasan ini penggunaan Chloramphenicol umumnya
dibatasi pada infeksi yang jelas berdasarkan pengalaman dan uji laboratorium (Christina,
2011).
Chloramphenicol memiliki aktivitas bakteriostatik dengan cara menghambat sintesis
protein dengan berikatan dengan subunit 50S ribosom. Chloramphenicol menghambat
ikatan asam amino baru pada rantai peptida yang memanjang, karena Chloramphenicol
menghambat enzim peptidil transferase. Chloramphenicol
bersifat bakteriostatik dan
bakteri dapat tumbuh kembali jika pengaruh obat dihilangkan. Mikroorganisme resisten
terhadap Chloramphenicol menghasilkan enzim Chloramphenicol asetiltransferase yang
merusak aktivitas obat, produksi enzim ini biasanya di bawah kontrol plasmid (Christina,
2011).
Chloramphenicol mengandung berkisar 90,0% sampai dengan 97,0% C11H12Cl2N2O5,
sedangkan obat tetes telinga Chloramphenicol mengandung berkisar 90% sampai dengan
130% C11H12Cl2N2O5 (Christina, 2011).
Download