proposal penelitian kompetitif dosen penelitian tingkat pemula

advertisement
No. Registrasi :
PROPOSAL
PENELITIAN KOMPETITIF DOSEN
PENELITIAN TINGKAT PEMULA
PENGEMBANGAN SKILL-BASED CURRICULUM UNTUK
MENCEGAH TINDAK KEKERASAN PADA ANAK USIA DINI DI
KABUPATEN TANAH DATAR
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI BATUSANGKAR
2016
DAFTAR ISI
Biodata Peneliti dan Proposal
Daftar Isi
Bab I
Pendahuluan
1
A. Latar Belakang Masalah
1
B. Batasan Masalah dan Perumusan Masalah
4
C. Sasaran dan Tujuan Penelitian
4
D. Definisi Operasional
5
E. Kajian Riset Sebelumnya
6
Bab II Kajian Teori
Bab III
Bab IV
A. Kajian Teori
16
B. Bagan Kerangka Konseptual
17
Metode Penelitian
18
A. Metode Penelitian
18
Pembiayaan
21
Daftar Kepustakaan
Lampiran
7
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak usia dini merupakan tunas dan generasi muda yang memiliki potensi dan peran
strategis untuk meneruskan cita-cita perjuangan bangsa. Oleh karenanya, anak usia dini
membutuhkan perlindungan dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi yang mengakibatkan
terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak No. 35
Tahun 2014 disebutkan bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan
melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi
secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan
dari kekerasan dan diskriminasi. Adapun pihak-pihak yang memiliki kewajiban dan
bertanggung jawab untuk menyelenggarakan perlindungan anak, diantaranya: negara,
pemerintah daerah, masyarakat,keluarga, orang tua atau wali.
Salah satu bentuk perlakuan yang mampu mengancam diri anak adalah kekerasan (child
abuse), baik itu secara fisik maupun psikis. Standard definition for childhood injury research
menguraikan perilaku kekerasan adalah perilaku terhadap orang lain, yang menyimpang dari
norma tingkah laku yang mempunyai risiko substansial sehingga dapat menyebabkan kejahatan
fisik dan emosional dengan sub kategori yaitu penyerangan fisik dan seksual, emosional dan
penelantaran, akibat dari perlakuan ini dapat menyebabkan kerugian yang berat, ringan bahkan
tidak timbul dengan segera. Kekerasan pada anak (Child Abuse) umumnya dilakukan oleh
orang tua atau orang yang mempunyai wewenang hubungan tanggung jawab, kepercayaan dan
kekuasaan (Rusmil, 2007)
Penyerangan fisik dan seksual sebagai salah satu bentuk kekerasan pada anak yang
umumnya sering terjadi pada anak di lingkungan rumah dan sekolah perlu mendapat perhatian
mengingat banyak kasus tentang kekerasan pada anak yang semakin mengemuka pada saat ini.
Menurut Sekjen KPAI, M. Ihsan, berdasarkan survei terhadap anak-anak yang mengalami
kekerasan dalam keluarga mencapai 91 persen ditambah yang masih menerima kekerasan di
lingkungan sekolah sebanyak 88 persen. Dari hasil survei tersebut, kekerasan terjadi karena tiga
faktor, yaitu faktor pengasuhan di dalam keluarga, faktor kekerasan di sekolah yang belum
menganut sistem pendidikan berperspektif anak, serta faktor lingkungan karena geng dan
pergaulan, game online, atau tontonan dan situasi lingkungan.
Sementara itu, kekerasan pada anak terjadi juga di Kabupaten Tanah Datar, berikut data
tindak kekerasan pada anak di Kabupaten Tanah Datar tahun 2014 s.d 2015.
Tabel 1
Data Tindakan Kekerasan Pada Anak di Kabupaten Tanah Datar
Tahun
Jumlah Kasus
Korban
2014
55
71
2015
35
44
Data di atas menunjukan bahwa telah terjadi tindakan kekerasan pada anak di Kabupaten
Tanah Datar, untuk tahun 2014 terjadi sebanyak 55 kasus dengan 71 korban, sedangkan tahun
2015 sampai kondisi saat ini, telah terjadi 35 kasus dengan 44 korban kekerasan, diantara kasus
tersebut, kasus cabul (kekerasan seksual) pada anak yang mendominasi. Anak yang mengalami
kekerasan seksual pada umumnya mengalami gejala-gejala sebagai berikut: mengalami luka
atau iritasi di sekitar area genital, terjadinya perubahan bentuk penis atau vagina, mengalami
kesulitan buang anir kecil, infeksi, cemas ketika bertemu orang lain, suka menyerang, memiliki
perilaku regresif, cemas berlebih, tidak nyaman ketika jalan atau duduk, dan menunjukan
ketakutan atau ketidakpercayaan pada orang dewasa (AISA, 2014).
Menurut Dra. H. Mursyidah, ketua P2TP2A Kabupaten Tanah Datar, penyebab terjadinya
kasus tindakan kekerasan seksual di Kabupaten Tanah Datar tersebut diantaranya adalah karena
pernikahan dini, rendahnya pendidikan budi pekerti di rumah tangga melalui pendidikan agama
dan adat, pengaruh sosial ekonomi, perkembangan teknologi yang disalahgunakan, pengaruh
obat-obat terlarang dan rendahnya pendidikan (sumber: http://tanahdatar.go.id, [akses: 01 april
2016]).
Walaupun angka tindakan kekerasan pada anak pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2015
di Kabupaten terjadi penurunan, namun hal tersebut tidak menjamin keamanan dan keselamatan
anak dari tindakan kekerasan. Tindakan kekerasan, khususnya kekerasan seksual pada anak
dapat mempengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang, adapun pengaruh yang
ditimbulkan diantaranya (AISA, 2014):
1. Rendahnya prestasi belajar
2. Tidak mampu menyelesaikan tanggung jawa
3. Tidak mampu untuk hidup bermasyarakat
4. Tidak mampu merawat diri sendiri
5. Tidak mampu bekerja sama
6. Tidak memiliki kepercayaan diri
7. Tidak mampu menunjukan dan menerima kasih sayang dan cinta dari orang lain
8. Tidak mampu memimpin keluarga
9. Memiliki masalah kesehatan mental
10. Memiliki self esteem yang rendah
11. Depresi dan mengalami gangguan kecemasan
12. Mengalami post traumatic dissorder
13. Mengalami gangguan makan
14. Rendahnya kemampuan hubungan teman sebaya
Untuk mencegah terjadinya dampak-dampak buruk dari tindakan kekerasan pada anak usia
dini, maka Lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai bagian makro dari
perkembangan anak dan bagian dari masyarakat, memiliki tanggung jawab dan kewajiban
dalam memberikan perlindungan pada anak. Pada lembaga PAUD, tanggung jawab dan
kewajiban melindungi anak sangat besar, hal ini dikarenakan anak usia dini masih dalam proses
perkembangan dimana anak masih memiliki ketergantungan yang tinggi pada orang dewasa
dan anak belum memiliki pengertian yang kompleks tentang segala bentuk perlakuan yang
mampu mengancam dirinya.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh lembaga PAUD adalah dengan memberikan
bimbingan pada anak mengenai hal-hal yang patut dan tidak patut anak terima dari orang
dewasa. Namun, permasalahan lain dalam pelaksanaan bimbingan dan upaya perlindungan
pada anak adalah banyak guru yang belum memiliki pengetahuan mengenai hak-hak dan
perlindungan anak, selain itu hampir seluruh lembaga PAUD di Tanah Datar belum memiliki
pedoman khusus mengenai perlindungan anak khususnya, dalam tataran praktik pengajaran dan
keterampilan melindungi diri pada anak.
Beberapa lembaga atau organisasi layanan masyarakat di luar negeri telah mengembangkan
program keamanan dan perlindungan anak, salah satu program yang berhasil dikembangkan
adalah skill based curriculum. Skill based curriculum merupakan seperangkat pedoman untuk
mengajarkan keterampilan melindungi diri pada anak dari tindakan kekerasan seksual.
Skill based curriculum yang memiliki manfaat untuk pencegahan tindakan kekerasan pada
anak belum dikembangkan pada lembaga pendidikan anak usia dini di Kabupaten Tanah Datar.
Dengan melihat permasalahan tindak kekerasan seksual pada anak di Kabupaten Tanah Datar,
maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kolaboratif bersama guru kelompok
bermain dan taman kanak-kanak untuk mengembangkan kurikulum berbasis keterampilan
perlindungan diri pada anak usia dini.
B. Batasan Masalah dan Perumusan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada permasalahan kekerasan seksual yang terjadi pada anak di
Kabupaten Tanah Datar, adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana
mengembangkan kurikulum berbasis keterampilan untuk mencegah tindak kekerasan pada
anak usia dini di Kabupaten Tanah Datar?”. Berdasarkan prosedur penelitian dan
pengembangan, masalah penelitian ini dirinci sebagai berikut:
1. Bagaimana identifikasi kebutuhan kurikulum berbasis keterampilan untuk mencegah
tindak kekerasan pada anak usia dini menurut kepala sekolah dan guru?
2. Bagaimana model pembelajaran untuk mencegah tindak kekerasan pada anak usia dini
yang pernah dilakukan oleh guru?
3. Bagaimana prinsip pengembangan kurikulum berbasis keterampilan berdasarkan kajian
teoritik, identifikasi kebutuhan, dan analisis model pembelajaran yang ada?
4. Bagaimana rancangan model pengembangan kurikulum berbasis keterampilan untuk
mencegah tindak kekerasan pada anak?
5. Bagaimana hasil uji coba lapangan model pengembangan kurikulum berbasis
keterampilan untuk mencegah tindak kekerasan pada anak?
C. Sasaran dan Tujuan Penelitian
1. Sasaran penelitian
Adapun yang menjadi sasaran dalam peneliti ini terdiri dari:
a. Anak usia dini dengan batasan usia 3-7 tahun yang mengikuti pendidikan anak
usia dini di Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak di Kabupaten Tanah
Datar
b. Guru Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak se- Kabupaten Tanah Datar
c. Kepala sekolah Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak se-Kabupaten
Tanah Datar
2. Tujuan penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan kurikulum berbasis
keterampilan perlindungan diri untuk anak pada lembaga pendidikan anak usia dini di
Kabupaten Tanah Datar.
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk membekali keterampilan anak usia dini dalam melindungi diri dari ancaman/
tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa
b. Untuk memberikan acuan/ pedoman pembelajaran pada guru/ pendidik anak usia
dini dalam memberikan bimbingan pada anak mengenai ancaman/ tindakan
kekerasan
D. Definisi Operasional
1. Skill Based Curriculum
Skill based curriculum mengacu pada konsep teori kurikulum berbasis kompetensi.
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang
kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar
dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dan mengembangkan sekolah (Depdiknas,
2002). Selanjutnya, Gordon (l988) mengungkapkan bahwa kompetensi memiliki beberapa
aspek diantaranya: pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, sikap dan minat.
Skill based curriculum yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seperangkat rencana
dan pengaturan mengenai keterampilan yang akan diajarkan pada anak usia 3-7 tahun terkait
dengan keterampilan melindungi diri dari tindakan kekerasan seksual.
2. Kekerasan Anak
Menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Kekerasan
adalah setiap perbuatan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.
Adapun kekerasan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah setiap perbuatan trhadap
anak yang menimbulkan penderitaan secara seksual (sexual abuse).
E. Kajian Riset Sebelumnya
Penelitian mengenai upaya pencegahan tindakan kekerasan seksual telah dilakukan oleh
Departemen Layanan Kesehatan dan Publik (Child Walfare, 2013) di Washington pada tahun
2011. Dalam laporan penelitiannya, dilaporkan bahwa pada tahun 2011 terjadi kekerasan pada
anak di Washington dengan jumlah berkisar 676.569 anak. Departemen Layanan Kesehatan
dan Publik melakukan upaya pencegahan kekerasan pada anak dengan melibatkan orang tua,
pengasuh, keluarga dan masyarakat. Dari hasil penelitiannya, dihasilkan beberapa program
pencegahan tindak kekerasan pada anak, sebagai berikut:
1. Kampanye kesadaran publik mengenai tindak kekerasan pada anak
2. Skill based Curriculum untuk mengajarkan anak-anak agar memiliki keterampilan
melindungi diri dari tindak kekerasan
3. Program pendidikan orang tua untuk membantu para orang tua mengembangkan
keterampilan pengasuhan positif
4. Program Home Visit untuk memberikan dukungan dan bantuan pada ibu muda
5. Program kepemimpinan dan mentoring orang tua untuk membantu keluarga yang
memiliki masalah
6. Kelompok dukungan orang tua
Hasil penelitian menunjukan bahwa orang tua dan pengasuh yang memiliki dukungan dari
keluarga, teman, tetangga dan kelompok masyarakat dapat lebih memberikan perlindungan dan
keamanan untuk anak-anak mereka di rumah.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Kekerasan Pada Anak
a. Pengertian
Menurut standard definition for childhood injury research perilaku kekerasan adalah
perilaku terhadap orang lain, yang menyimpang dari norma tingkah laku yang mempunyai
risiko substansial sehingga dapat menyebabkan kejahatan fisik dan emosional dengan sub
kategori yaitu penyerangan fisik dan seksual, emosional dan penelantaran, akibat dari
perlakuan ini dapat menyebabkan kerugian yang berat, ringan bahkan tidak timbul dengan
segera. Kekerasan pada anak (Child Abuse) yang umumnya dilakukan oleh orang tua atau
orang yang mempunyai wewenang hubungan tanggung jawab, kepercayaan dan kekuasaan
(Rusmil, 2007) Kekerasan pada anak adalah penderitaan fisik atau kekerasan yang secara
psikologis pada seorang anak dilakukan oleh orangtuanya atau orang dewasa lainnya
(Carson, 1996). Kekerasan pada anak adalah penganiayaan pada anak yang dapat
mengakibatkan luka baik secara fisik maupun psikis (Papalia, Olds & Feldsman, 2009).
Berdasarkan uraian di atas, maka kesimpulan kekerasan pada anak adalah kekerasan atau
penganiayaan baik secara fisik maupun secara psikologis yang bertujuan untuk menyakiti
anak dan dilakukan secara sengaja oleh orang tuanya.
b. Bentuk – bentuk kekerasan pada anak
Kekerasan dan penelantaran pada anak dapat terjadi di dalam keluarga maupun di luar
keluarga misal dapat berupa kekerasan fisik, penelantaran, kekerasan emosional, dan
kekerasan seksual (Rusmil,2007) yaitu :
1) Kekerasan fisik
Perlakuan kasar terhadap anggota tubuh anak yang dapat mengakibatkan bahkan
menyebabkan cedera yang bukan merupakan kecelakaan dan tindakan yang di sengaja.
Misalnya memukul anak, mengguncang, mencekik, menggigit, menendang, meracuni,
membakar, atau merendam dalam air yang dilakukan oleh orang tua atau orang lain.
Kekerasan fisik ini juga berkaitan dengan hukuman fisik yang melebihi kewajaran
sebagai tindakan mendidik kedisiplinan anak pada suatu budaya tertentu (Suprabandi,
2012). Kekerasan fisik dicirikan oleh terjadinya cedera fisik yang karena penonjokan,
pemukulan, penendangan, pengigitan, pembakaran, atau pembahayaan anak, orang tua
atau orang lain mungkin tidak bermaksud untuk menyakiti anak, cedera tersebut terjadi
akibat hukuman yang melewati batas (Santrock, 2007)
2) Kekerasan emosional
Meliputi tindaksn pengabaian oleh orang tua yang menyebabkan masalah
behavioral, kognitif, atau emosional yang serius. Kekerasan emosional ditandai dengan
ucapan kata – kata yang merendahkan seorang anak, dan seringkali berlanjut dengan
melalaikan
anak
tersebut,mengisolasikan
anak
dari
lingkungan,
hubungan
sosialisasinya, atau bahkan dengan menyalahkan anak secara terus – menerus (Santrock,
2007). Biasanya diikuti dengan bentuk kekerasan lain. Kekerasan emosional sulit
dideteksi karena merupakan kasus yang tidak dilaporkan. Biasanya berupa perilaku
verbal dimana pelaku melakukan pola komunikasi yang berisi penghinaan, atau katakata
yang melecehkan anak (Kusnandi, 2007).
3) Kekerasan seksual
Kekerasan seksual adalah apabila seorang anak mendapatkan perlakuan seksual oleh
orang dewasa. Kekerasan seksual dapat terjadi di dalam keluarga yang dilakukan oleh
orang tua, orang tua tiri, saudara dan kerabat, sedangkan di luar rumah kekerasan
seksual dapat dilakukan oleh tetangga, teman, orang yang merawat anak, porang asing
bahkan guru. Anak – anak yang mengalami penganiayaan secara seksual di kemudian
hari dapat dalam kegiatan prostitusi bahkan masalah serius apabila anak tersebut
beranjak dewasa (Santrock, 2007).
4) Penelantaran atau neglect
Penelantaran anak dicirikan dengan kegagalan dalam memenuhi kebutuhan dasar
anak (Santrock, 2007). Orang tua yang tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya baik
dalam hal kebutuhan fisik, psikis ataupun emosi, tidak dapat memberikan perhatian dan
sarana untuk kemajuan anak dalam berkembang sesuai dengan tugas perkembangannya,
merupakan tindakan penelantaran, yang termasuk dalam tindakan penelantaran anak
adalah (Soetjiningsih, 2007) :
a) Penelantaran untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, misalnya tidak berkata
yang sebenarnya apabila anak tersebut sedang sakit.
b) Penelantaran untuk mendapatkan keamanan, misalnya cedera yang disebabkan
pengawasan yang kurang dan situasi rumah yang membahayakan.
c) Penelantaran emosi, misalnya tidak memberikan perhatian kepada anak –
anaknya, dan menolak kehadiran anak, ketidakmampuan memberikan
kepedulian psikologis, penyiksaan pasangan di depan anak, dan pembiaran
penggunaan alkohol dan obat – obatan oleh anak (Santrock, 2007)
d) Penelantaran fisik, misalnya apabila kebutuhan makan, pakaian, atau tempat
tinggal yang layak tidak terpenuhi untuk mendapatkan sarana tumbuh kembang
yang optimal, penolakan dalam mencari perawatan kesehatan, dan pengawasan
yang kurang memadai.
e) Penelantaran pendidikan, misalnya tidak mendaftarkan anak usia sekolah ke
sekolah, anak tidak mendapatkan sarana pendidkan sesuai dengan usianya, atau
justru menyuruh anak mencari nafkah sehingga anak putus sekolah.
2.
Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan salah satu bentuk inovasi kurikulum.
Munculnya kurikulum berbasis kompetensi dimulai semenjak lahirnya kebijakan pemerintah
dalam pemerintahan daerah atau dikenal otonomi daerah Undang-Undang Nomor 22 tahun
l999. Kelahiran kebijakan pemerintah ini didorong oleh perubahan dan tuntutan kebutuhan
masyarakat dalam dimensi globalisasi yang ditandai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang begitu pesat. Untuk itu, setiap individu harus memiliki kompetensi yang handal dalam
berbagai bidang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan nyata (Sanjaya, 2005)
Kurikulum berbasis kompetensi dikembangkan untuk memberikan keahlian dan
keterampilan sesuai dengan standar kompetensi yang diperlukan untuk meningkatkan daya
saing dan daya jual untuk menciptakan kehidupan yang berharkat dan bermartabat ditengahtengah perubahan, persaingan, dan kerumitan kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya.
Adanya kurikulum berbasis kompetensi memungkinkan hasil lulusan menjadi lebih terampil
dan kompeten dalam segala tuntutan masyarakat sekitarnya.
a. Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kompetensi merupakan kemampuan mengerjakan sesuatu yang berbeda dengan
sekedar mengetahui sesuatu. Kompetensi harus didemonstrasikan sesuai dengan standar
yang ada di lapangan kerja (Hamalik, 2000). Kompetensi dapat berupa pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang merefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan
bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus setiap saat
akan memungkinkan bagi seseorang untuk berkompeten, artinya memiliki pengethauan,
keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Kompetensi dapat diartikan
suatu kemampuan untuk menstrasfer dan menerapkan pengetahuan dan kemampuan yang
dimiliki seseorang pada situasi yang baru. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan
seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus
dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar dan pemberdayaan sumber daya
pendidikan dan mengembangkan sekolah (Depdiknas, 2002).
Dari rumusan tersebut, KBK lebih menekankan pada kompetensi atau kemampuan apa
yang harus dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses pembelajaran tertentu,
sedangkan masalah bagaimana cara mencapainya, secara teknis operasional diserahkan
kepada guru di lapangan. Tidak ada dalam KBK secara tersirat dan tersurat apa yang harus
dilakukan guru untuk mencapai kompetensi tertentu. KBK hanyalah memberikan petunjuk
seca universal bagaimana seharusnya pola pembelajaran diterapkan oleh setiap guru.
Rumusan lain tentang kompetensi menurut McAshan (l981) adalah suatu pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan atau kapabilitas yang dimiliki seseorang yang telah menjadi
bagian dari dirinya sehingga mewarnai perilaku kognitif, afektif, dan psikomotornya. Ini
berarti bahwa kompetensi bukan hanya ada dalam tataran pengetahuan akan tetapi sebuah
kompetensi harus tergambarkan dalam pola perilaku, artinya bagaimana implementasi
pengetahuan itu diwujudkan dalam pola tindakan yang siswa lakukan sehari-hari. Sehingga
kompetensi itu pada hakekatnya merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan,
nilai, sikap yang direfleksikan dalam bentuk kebiasaan berfikir dan bertindak.
KBK beroreantasi bahwa siswa bukan hanya memahami materi pelajaran untuk
mengembangkan kemampuan intelektual saja, melainkan bagaimana pengetahuan itu
dipahaminya dapat mewarnai perilaku yang ditampilkan dalam kehidupan nyata. Gordon
(l988) menyarankan beberapa aspek yang harus terkandung dalam kompetensi sebagai
berikut:
1) Pengetahuan (knowledge), yaitu pengetahuan untuk melakukan proses berfikir.
2) Pemahaman (understanding). Yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki
individu.
3) Keterampilan (skill), yaitu sesuatu yang dimiliki individu untuk melakukan tugas
yang dibebankan.
4) Nilai (value) adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini sehingga akan
mewarnai dalam segala tindakannya.
5) Sikap (attitude), yaitu perasaan atau reaksi terhadap suatu rangsang yang datang dari
luar, perasaan senang atau tidak senang terhadap sesuatu masalah
6) Minat (interest), yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu tindakan
atau perbuatan untuk mempelajari materi pelajaran.
b. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi
Sasaran KBK pada penguasaan kompetensi dalam bidang-bidang praktis terutama
pekerjaan keahlian baik kompetensi teknis, vokasional maupun profesional. Suatu bidang
pekerjaannya tugas utamanya berkenaan dengan kompetensi perbuatan, perilaku,
performance yang menunjukan kecakapan, kebisaan, keterampilan melakukan sesuatu
tugas atau peranan secara standar seperti yang dituntut oleh suatu okupasi (Nana Syaodih,
2004).
Makna yang terkandung dan tersirat dalam KBK terdiri dua hal, yaitu: Pertama KBK
mengharapkan adanya hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik
melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan kedua KBK memberikan
peluang pada siswa sesuai dengan keberagaman yang dimiliki masing-masing.
Dalam KBK, siswa tidak sekedar dituntut untuk memahami sejumlah konsep, akan
tetapi bagaimana konsep yang dipelajari berdampak pada perilaku dan pola pikir dan
bertindak sehari-hari. Kemudian dalam KBK menghargai bahwa setiap siswa memiliki
kemampuan, minat, dan bakat yang berbeda sehingga diberikan peluang kepada siswa
tersebut untuk belajar sesuai dengan keberagaman dan kecepatan masing-masing. Oleh
karena itu dalam KBK, proses pemebelajaran harus didesain agar dapat melayani setiap
keberagaman tersebut.
Berdasarkan makna tersebut, maka KBK sebagai sebuah kurikulum memiliki
karakteristik utama sebagai berikut: Pertama, KBK memuat sejumlah kompetensi dasar
sebagai kemampuan standar minimal yang harus dikuasai dan dicapai siswa. Kedua,
implementasi pemebelajaran dalam KBK menekankan pada proses pengalaman dengan
memperhatikan keberagaman setiap individu. Ketiga, evaluasi dalam KBK menekankan
pada evaluasi dan proses belajar.
William E. Blank (l982) menjelaskan bahwa KBK memiliki karakteristik:
1) Materi yang dipelajari merupakan bidang spesifik, materi disajikan dalam bentuk
kompetensi-kompetensi yang dinyatakan secara jelas dan menjelaskan mengenai
apa yang dapat dilakukan peserta didik setelah menyelesaikan program
pembelajaran.
2) Kegiatan pembelajaran berfokus pada peserta, media, dan bahan belajar yang
dirancang untuk membantu peserta didik belajar, proses belajar disesuaikan dengan
kebutuhan siswa, dalam penilaian disesuaikan dengan performansi. Ketiga,
menyediakan waktu yang cukup bagi peserta dalam menguasai kompetensikompetensi sebelum diizinkan beralih ke kompetensi lain. Keempat, setiap peserta
didik mendemonstrasikan kompetensi yang telah diselesaikannya. Performansi
ditunjukan peserta didik dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan.
Depdiknas (2002) mengemukakan karakteristik KBK secara lebih rinci
dibandingkan dengan pernyataan di atas, yaitu:
1) Menekankan pada ketercapaian kompetensi baik secara individual maupun klasikal,
artinya isi KBK intinya sejumlah kompetensi yang harus dicapai siswa, dan
kompetensi inilah sebagai standar minimal atau kemampuan dasar.
2) Beroreantasi pada hasil belajar dan keberagaman, artinya keberhasilan pencapaian
kompetensi dasar diukur oleh indikator hasil belajar. Indikator inilah yang dijadikan
acuan kompetensi yang diharapkan. Proses pencapaian tentu saja bergantung pada
kemampuan dan kecepatan yang berbeda setiap siswa.
3) Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang
bervareasi sesuai dengan keberagaman siswa
4) Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi sumber belajar lain yang memenuhi unsur
edukatif, artinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
informasi. Guru berperan sebagai fasilitator untuk mempermudah siswa belajar dari
berbagai macam sumber belajar.
5) Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau
pencapaian suatu kompetensi. KBK menempatkan hasil dan proses belajar sebagai
dua sisi yang sama pentingnya.
Capaian kurikulum berbasis kompetensi adalah mengembangkan peserta didik
untuk menghadapi perannya di masa mendatang dengan cara mengembangkan sejumlah
kecakapan hidup (life skill). Life skill merupakan kecakapan yang harus dimiliki
seseorang untuk terbiasa berani menghadapi problem kehidupan secara wajar kemudian
secara kreatif mencari solusi untuk mengatasinya. Adapun tujuan kecakapan hidup ini
adalah:
1) Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk
memecahkan problema yang dihadapi
2) Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran
yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas (broad based
education)
3) Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lingkungan sekolah dengan
memberikan peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat, sesuai
dengan manajemen berbasis sekolah (School Based Management)
c. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses kompleks dan melibatkan berbagai
faktor terkait. Oleh karena itu dalam proses pengembangan kurikulum berbasis kompetensi
tidak hanya menuntut keterampilan teknis dari pihak pengembang terhadap pengembangan
berbagai komponen kurikulum, tetapi harus pula dipahami berbagai faktor yang
mempengaruhinya.
Pengembangan KBK memfokuskan kepada kompetensi tertentu berupa paduan:
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan peserta didik sebagai
wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya. Penerapan KBK memungkinkan
guru menilai hasil belajar peserta didik dalam proses pencapaian sasaran belajar yang
mencerminkan penguasaan dan pemahaman terhadap apa yang dipelajari. Karena itu
peserta didik perlu mengetahui kriteria penguasaan kompetensi yang akan dijadikan sebagai
standar penilaian hasil belajar, sehingga peserta didik dapat mempersiapkan dirinya melalui
penguasaan sejumlah kompetensi tertentu sebagai prasyarat untuk melanjutkan ke
penguasaan sejumlah kompetensi berikutnya. Kriteria tersebut bisa dikembangkan
berdasarkan tujuan khusus yang dipelajari sesuai dengan kompetensi yang harus dikuasai.
1) Asas pengembangan KBK
Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi didasarkan pada tiga asas pokok.
Yaitu asas filosofis, psikologis dan sosiologis. Pertama, asas filosofis berkenaan dengan
nilai yang berlaku di masyarakat. Sistem nilai erat kaitannya dengan arah dan tujuan
yang mesti dicapai. Itu sebabnya, dalam pengembangan KBK, filsafat sebagai sistem
nilai menjadi sumber utama dalam merumuskan tujuan dan kebijakan pendidikan. Di
Indonesia, sistem nilai yang berlaku adalah Pancasila, maka membentuk manusia yang
pancasilais sejati menjadi tujuan dan arah dari segala ihtiar berbagai level dan jenis
pendidikan. Dengan demikian isi KBK yang disusun harus memuat dan mencerminkan
tentang kandungan nilai-nil;ai Pancasila.
Kedua, asas psikologis berhubungan dengan aspek kejiwaan dan perkembangan
peserta didik Secara psikologis anak didik memiliki perbedaan baik minat, bakat
maupun potensi yang dimilikinya. Dengan demikian baik tujuan, isi maupun strategi
pengembangan KBK harus memperhatikan kondisi tahapan-tahapan perkembangan dan
psikologi belajar anak didik.
Ketiga, pengembangan KBK didasarkan pada asas sosiologis dan teknologis. Hal
ini berdasarkan pada asumsi bahwa sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik
agar mereka dapat berperan aktif di masyarakat. Karena itu, kurikulum sebagai alat dan
pedoman dalam proses pendidikan di sekolah harus relevan dengan kebutuhan dan
tuntutan masyarakat.
Ketiga asas pengembangan kurikulum tersebut merupakan landasan pokok KBK
sebagai pedoman dan perangkat perencanaan, implementasi dan pelaksanaan yang
dibingkai oleh tiga sisi yang sama-sama penting seperti sisi filosofis, psikologis, dan
sosialogis teknologis.
2) Prinsip-prinsip pengembangan KBK.
Proses pengembangan KBK harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip
pengembangan KBK sebagai berikut:
a) Peningkatan keimanan, budi pekerti luhur dan penghayatan nilai-nilai budaya.
Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk manusia yang
beriman dan bertaqwa, maka peningkatan keimanan dan pembentukan budi
pekerti merupakan prinsip utama yang harus diperhatikan pengembang
kurikulum.
b) Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika. Pembentukan manusia
yang utuh merupakan tujuan utama pendidikan. Manusia utuh adakah manusia
yang seimbang antara kemampuan intelektual, sikap, moral dan keterampilan.
Pengembang KBK harus memperhatikan tiga keseimbangan tersebut.
c) Penguatan integritas nasional. Indonesia adalah negara dengan beraneka ragam
suku dan budaya yang sangat majemuk. Pendidikan harus dapat menanamkan
pemahaman dan penghargaan terhadap aneka ragam budaya, sehingga menjadi
kekuatan yang dapat memberikan sumbangan yang positif terhadap peradaban
bangsa di dunia ini.
d) Perkembangan pengetahuan dan tehnologi informasi. Pengembangan KBK
diarahkan agar anak didik memiliki kemampuan berfikir dan belajar dengan cara
mengakses berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
e) Pengembangan kecakapan hidup yang meliputi keterampilan diri, ketrampilan
berfikir rasional, keterampilan sosial, keterampilan akademik dan keterampilan
vokasional.
Kurikulum
mengembangkan
kecakapan
hidup
melalui
pembudayaan membaca, menulis, dan berhitung; sikap, dan perilaku adaptif,
kreatif, inovatif, kreatif dan kompetitif.
f) Pilar pemdidikan. Kurikulum mengorganisasikan fondasi belajar ke dalam
empat pilar pendidikan yaitu belajar untuk memahami, belajar untuk berbuat,
belajar hidup dalam kebersamaan, dan belajar untuk membangun dan
mengekspresikan jati diri yang dilandasi ketiga pilar sebelumnya. Konprehensif
dan berkesinambungan. Konprehensif mencakup keseluruhan dimensi
kemampuan dan subtansi yang disajikan secara berkesinambungan mulai
pendidikan taman kanak-kanak sampai pendidikan menengah.
g) Belajar sepanjang hayat. Pendidikan diarahkan pada proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlanjut sepanjang hayat.
h) Diversifikasi kurikulum. Kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi
sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
3. Skill Based Curriculum
Terdapat banyak lembaga dan organisasi sosial di lingkungan masyarakat yang
mengembangkan kurikulum berbasis keterampilan (skill based curriculum) untuk mengajarkan
keterampilan melindungi diri. Banyak dari program-program tersebut difokuskan pada upaya
pencegahan tindak kekerasan seksual dan mengajarkan anak untuk dapat membedakan
kesesuaian sentuhan dari orang dewasa.
Child walfare (2013) mendefinisikan “Skills-based curricula that teach children safety and
protection skills, such as programs that focus on preventing sexual abuse”. Kurikulum berbasis
keterampilan mengajarkan anak keterampilan melindungi diri, program difokuskan pada
pencegahan kekerasan seksual.
Program lainnya berfokus pada mempersiapkan anak-anak untuk meraih keberhasilan di
lingkungan masyarakat, yang mana pengajaran masih pada upaya meningkatkan perilaku
protektif pada anak-anak. Selain itu, kurikulum berbasis keterampilan memiliki komponen
pendidikan orang tua (parenting) dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan dan
keterampilan untuk mengajarkan anak-anak mengenai keterampilan melindungi diri dari
kejahatan seksual.
Kurikulum berbasis keterampilan menggunakan beberapa metode pengajaran untuk
mengajarkan berbagai keterampilan pada anak, diantaranya:
a. Workshops dan pelajaran sekolah
b. Pertunjukan boneka dan aktivitas bermain peran
c.
Film and video
d. Buku kerja, buku cerita dan komik.
Contoh lainnya dari kurikulum berbasis keterampilan meliputi program-program seperti:
Bercakap-cakap tentang sentuhan, keamanan anak, senntuhan baik dan buruk, pertunjukan
teater.
B. Bagan Kerangka Konseptual
Pengembangan Skill
Based Curriculum
Pendidikan Anak Usia
Dini
Tindak Kekerasan
Seksual pada Anak
Usia Dini
Anak memiliki
keterampilan
Melindungi diri dari
Tindakan Kekerasan
Seksual
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan (action
research) dengan pendekatan kolaboratif. Metode ini dipilih dengan tujuan untuk
meningkatkan praktik pengembangan dan pendidikan melalui kerjasama dengan kelompok
masyarakat yang diharapkan dapat menghasilkan perubahan baik untuk orang tua, masyarakat
maupun profesional, adapun secara khusus dipilihnya penelitian tindakan kolaboratif dalam
penelitian ini adalah untuk melakukan kerjasama antara peneliti dan guru dalam
mengembangkan kurikulum berbasis keterampilan perlindungan diri pada anak.
Berkaitan dengan pendekatan kolaboratif yang digunakan dalam penelitian ini, Syaodih
(2013) mengemukakan bahwa penelitian kolaboratif (collaborative inquiry) merupakan nama
lain dari penelitian tindakan. Kemmis (Syaodih, 2013) mendefinisikan penelitian tindakan
sebagai berikut ini.
Penelitian tindakan adalah bentuk penelitian refleksi diri (self-reflective) yang dilakukan
oleh para partisipan dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) dalam rangka meningkatkan
keadilan dan rasionalitas praktik sosial dan pendidikan, pemahaman tentang praktik tersebut
dan situasi tempat praktik dilakukan.
Sementara itu, Reason dan Bradbury (Cook, 2010) mendefinisikan penelitian tindakan tidak
hanya pada penekanan pentingnya teori mengenai penelitian tindakan namun juga
mendefinisikan penelitian tindakan sebagai partisipasi alamiah, Reason dan Bradbury
menyatakan:
It seeks to bring together action and reflection, theory and practice, in participation with
others, in the pursuit of practical solutions to issues of pressing concern to people, and
more generally the flourishing of individual persons and their communities.” However, “in
participation with others” raises the question of whether collaborative action research is
different to participatory action research. My view is that collaborative action research
consists of both critical reflexivity and the participant voice. Therefore collaborative action
research includes participation rather than vice versa.
Pernyataan di atas menyiratkan bahwa penelitian tindakan terdiri dari refleksi kritis dan
suara partisipan. Penelitian tindakan berupaya untuk menyatukan aksi dan refleksi, teori dan
praktek, dalam partisipasi dengan orang lain, dalam berupaya mencari solusi praktis untuk
masalah-masalah penting yang sedang terjadi dan berkembang pada setiap individu dan
kelompok.
Dengan didasarkan pada pandangan para ahli di atas, penelitian tindakan kolaboratif
dianggap metode yang tepat untuk digunakan dalam penelitian di bidang pendidikan dan
pengembangan anak usia dini. Hal tersebut dikarenakan, penelitian ini melibatkan partisipasi
guru/ kepala sekolah dalam upaya melakukan pengembangan kurikulum berbasis keterampilan
perlindungan diri untuk anak usia dini.
Desain penelitian tindakan kolaboratif menggunakan desain penelitian tindakan secara
umum, Elliot (Syaodih, 2013) memaparkan desain penelitian kualitatif sebagai berikut:
a) Pendirian eksploratori diadopsi, pemahaman masalah dikembangkan dan rencana dibuat
untuk beberapa bentuk strategi intervensi.
b) Melaksanakan intervensi.
c) Selama dan sekitar waktu intervensi, pengamatan dilakukan dalam berbagai bentuk
(monitoring pelaksanaan dengan observasi).
d) Strategi intervensi baru dilakukan, dan proses siklus diulangi, dilanjutkan sampai
pemahaman yang cukup (atau menerapkan solusi yang mampu untuk) terhadap suatu
masalah diperoleh.
Dengan demikian, desain penelitian tindakan kolaboratif mengikuti sebuah rangkaian siklus
yang terdiri dari pengembangan masalah, perencanaan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi.
1. Prosedur Penelitian
Penelitian ini mengikuti serangkaian tindakan sebagai suatu proses siklikal. Adapun
langkah-langkah penelitian yang digunakan mengikuti model penelitian tindakan dialektik dari
Deborah South (Syaodih, 2013: 146) yang terdiri atas empat langkah yaitu: identifikasi suatu
daerah fokus masalah, pengumpulan data, analisis dan interpretasi data, perencanaan tindakan
dan pelaksanaan.
Prosedur penelitian tindakan dialektik dipilih karena dalam penelitian ini akan
dilaksanakan sebuah program pengembanan kurikulum berbasis keterampilan perlindungan
diri pada anak, yang akan dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelompok
bermain/ taman kanak-kanak. Model spiral dialektif digambarkan pada bagan 3.1.
Identifikasi
bidang fokus
Pelaksanaan
Pengumpulan
data
Penyusunan
rencana
Analisis dan
Bagan 3.1
Model Spiral Dialektik
Bagan di atas menunjukan pemikiran dan kegiatan yang bersifat dialektik atau timbal
balik dalam setiap langkah tindakan. Adapun setiap langkah penelitian dijabarkan sebagai
berikut:
1. Identifikasi Bidang Fokus Masalah
Kegiatan penelitian diawali dengan mengidentifikasi fokus masalah yang akan diteliti
dan dikembangkan. Pemilihan fokus masalah atau kegiatan dipilih berdasarkan urgensi dan
manfaat dalam bidang pendidikan dan pengembangan anak usia dini
2. Pengumpulan Data
Langkah kedua dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data berkenaan dengan
tindak kekerasan pada anak usia dini di Kabupaten Tanah Datar serta kondisi anak di sekolah.
Selain itu, peneliti juga mengidentifikasi, menghimpun dokumen, serta melakukan diskusi yang
berkenaan dengan pengembangan kurikulum berbasis keterampila, meliputi isi kurikulum,
perencanaan, perangkat, dan materi pembelajaran bersama guru-guru kelompok bermain dan
taman kanak-kanak.
3. Analisis dan Interpretasi Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Dalam hal ini data
diuraikan, dibandingkan, dikategorikan, disintesiskan, lalu disusun atau diurutkan secara
sistematis. Setelah itu, hasil analisis diinterpretasikan dalam arti diberi makna, baik makna
tunggal atau sendiri-sendiri, gabungan, hubungan antar komponen atau aspek, maupun makna
inferensial yang lebih abstrak dan umum.
4. Penyusunan Rencana
Dalam langkah ini, penyusunan rencana dilakukan berdasarkan hasil analisis dan
interpretasi data. Penyusunan rencana bertujuan untuk merancang draf kurikulum berbasis
keterampilan perlindungan diri pada anak.
5. Pelaksanaan
Setelah dilakukan penyusunan draf pengembangan kurikulum maka selanjutnya masuk
ke dalam tahapan pelaksanaan. rancangan pengembangan kurikulum berbasis keterampilan
perlindungan diri pada anak diuji cobaka- lapangan, kemudian dilakukan evaluasi dan
monitoring. Hasil evaluasi dan monitoring kemudian digunakan untuk penyempurnaan
rancangan pengembangan kurikulum berbasis keterampilan perlindungan diri pada anak.
2. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik,
diantaranya:
1. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk menggali bagaimana kurikulum dan kondisi anak-anak di
sekolah serta diadakan focus group disscusiion bersama para guru untuk merumuskan isi materi
pengembangan kurikulum berbasis keterampilan untuk mencegah tindak kekerasan pada anak
usia dini.
2. Dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan seluruh proses dan hasil
diskusi kelompok.
Untuk analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif Data-data hasil
wawancara dan dokumentasi disajikan secara deskriptif maupun tabel agar lebih mudah
dianalisis. Langkah selanjutnya yaitu membandingkan ketiga data tersebut dan catatan lapangan
untuk mengecek keabsahan data. Data-data yang telah dianalisis tersebut kemudian digunakan
untuk menarik kesimpulan.
BAB IV
PEMBIAYAAN
RENCANA ANGGARAN BELANJA (RAB)
KODE
URAIAN
VOL
HARGA
JUMLAH
SATUAN
A.
BELANJA BARANG OPERASIONAL
1. Penggandaan proposal
2. Penggandaan laporan akhir
3. Bahan/ Buku Panduan
15 eksp
10 eksp
20 eksp
Rp
Rp
Rp
15.000
40.000
25.000
JUMLAH
B.
BELANJA BAHAN
1. Konsumsi peserta diskusi pra pelaksanaan
2. Konsumsi Pelaksanaan (20 Org x 1HR x 1 JDL)
3. Konsumsi peserta diskusi pasca pelaksanaan
4. ATK pra pelaksanaan
5. ATK pelaksanaan
6. ATK pasca pelaksanaan
10 OH
20 OH
10 OH
1 Keg
1 Keg
1 Keg
1.
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
35.000
35.000
35.000
200.000
450.000
500.000
JUMLAH
C.
HONOR OUTPUT KEGIATAN
1. Honor pengolah data
1 org
Rp 1.450.000
JUMLAH
D.
E.
Rp
Rp
Rp
225.000
400.000
500.000
Rp
1.125.000
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
350.000
700.000
350.000
200.000
450.000
500.000
Rp
2.550.000
Rp
1.450.000
Rp
BELANJA JASA PROFESI
1. Narasumber penyempurnaan proposal pra
pelaksanaan
2. Narasumber ekspos hasil penelitian pasca
pelaksanaan
JUMLAH
BELANJA PERJALANAN DINAS
1. Transportasi narasumber pra pelaksanaan
2. Transportasi pengumpul data pelaksanaan
3. Transportasi penyusun laporan pelaksanaan
4. Transportasi narasumber pasca pelaksanaan
1.450.000
2 orang
Rp
200.000
Rp
400.000
2 orang
Rp
900.000
Rp
1.800.000
Rp
2.200,000
Rp
Rp
Rp
Rp
240.000
2.000.000
220.000
220.000
Rp
2.680.000
2 perjalanan
10 perjalanan
2 perjalanan
2 perjalanan
JUMLAH
TOTAL
Rp
Rp
Rp
Rp
120.000
200.000
110.000
110.000
Rp 10.000.000
DAFTAR PUSTAKA
Association of International School in Africa. (2014). Child Protection Handbook. Tanpa Kota
Cece Wijaya dkk. (1992). Upaya Pembaharuan Dlam Pendidikan dan Pengajaran, Bandung :
Penerbit PT. Remaja Rosda Karya.
Child Walfare Information Gateway. (2013). Preventing Child Abuse and Neglect. Washington
DC
Fawcett, Claassen, dkk. (1996). Preventing Child Abuse and Neglect. University of Kansas
Hamalik, Oemar, (1993) Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta.
Hamalik, Oemar, (2005). Inovasi Pendidikan : Perwujudannya dalam Sistem Pendidikan
Nasional, YP. Permindo, Bandung.
Hamalik, Oemar. (2002) Pendidikan Guru: Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.Bandung: Bumi
Aksara.
http://tanahdatar.go.id/berita/1260/bupati-shadiq-lebih-baik-terungkap-dibanding-semakin-banyakkorban-berjatuhan.html [Akses: 01 April 2016]
Paramastri, dkk. (2010). Early Prevention Toward Sexual Abuse on Children. Jurnal Psikologi
Volume 37, No. 1, Juni 2010
Syaodih, Nana. (2013). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosda Karya
Sukmadinata, Nana Syaodih, (1997). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata, Nana Syaodih, (2004). Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung:
Yayasan Kesuma Karya.
The Protection Project. (2013). 100 Best Practices in Child Protection.Washington DC: The
John Hopkins University
Thomas, dkk. (tt). Emerging Practice in The Prevention of Child Abuse and Neglect. USA:
Departemen of Health and Human Service
Tn. (tt). Child Abuse Prevention Program. Dublin: Bridge House
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak
Download