presentasi kasus benjolan pada leher

advertisement
PRESENTASI KASUS
BENJOLAN PADA LEHER
Kelompok 8
Karina Maharani P.
0906487865
Sheli Azalea
0906508516
BAB I
ILUSTRASI KASUS
1.1. Identitas
Nama
: Ny. L
Usia
: 61 tahun
Tanggal Lahir
: 6 Juni 1951
Alamat
: Jl. Pondok Tuak, Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat
Status
: Menikah
Pendidikan
: Tamat SMP
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Agama
: Kristen Protestan
Tanggal masuk
: 1 Februari 2014
No.RM
: 389-22-44
1.2. Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 2 Februari 2014 di ruang rawat
gedung A Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
1.2.1. Keluhan Utama
Benjolan di leher depan yang membesar sejak 2 tahun SMRS.
1.2.2. Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 16 tahun SMRS, terdapat benjolan di leher kanan pasien sebesar ibu jari. Benjolan
bergerak ke atas saat menelan. Benjolan tidak nyeri, tidak panas, tidak merah. Pasien tidak
ada demam. Sejak 2 tahun SMRS, benjolan di leher kanan pasien membesar perlahan hingga
sebesar kepalan tangan pasien dan muncul benjolan di leher kiri yang juga membesar hingga
sebesar 3 jari telunjuk pasien. Pasien tidak ada sesak napas, kesulitan menelan, suara serak,
ataupun perubahan suara sampai saat ini. Kemudian pasien berobat ke Puskesmas, diberi obat
PTU, tetapi benjolan tetap membesar.
Pasien tidak ada keluhan tangan gemetar, cepat lelah, cepat lapar, diare, rambut rontok, cepat
berkeringat, sulit tidur, gelisah, dan berdebar-debar. Tidak ada mata menonjol. Berat badan
turun dari 60 kg menjadi 58 kg dalam 2 tahun. Tidak ada riwayat trauma di leher
sebelumnya. Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Tidak ada
kelainan leher sejak lahir.
1.2.3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki tekanan darah tinggi sejak 10 tahun yang lalu, tekanan darah sistolik
tertinggi mencapai 160. Saat ini diberi obat amlodipin. Tidak ada diabetes mellitus,
tuberculolosis paru, riwayat keganasan sebelumnya. Pasien pernah mengalami keguguran
spontan satu kali.
1.2.4. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu dan adik pasien mengalami keluhan yang serupa, terdapat benjolan di leher, sudah
diangkat dan sekarang tidak kambuh lagi.
1.2.5. Riwayat Sosial
Pasien tidak merokok. Tidak terdapat riwayat radiasi di leher. Pasien sehari-hari
mengkonsumsi garam beryodium.
1.3. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Kesadaran
: kompos mentis
Keadaan Umum
: tampak sakit sedang
Tekanan darah
: 110/70 mmHg
Nadi
: 78 kali/menit
Suhu
: 36,5°C
Pernapasan
: 18 kali/menit
Tinggi badan
: 58 kg
Berat badan
: 155 cm
IMT
: 24,1 kg/m2
Kepala
: normosefal, tidak ada deformitas, tidak ada nyeri tekan
Kulit
: sawo matang, turgor normal
Rambut
: hitam, tidak mudah tercabut
Mata
: konjungtiva pucat negatif/negatif, sklera ikterik negatif/negative,
tidak terdapat eksoftalmus
Telinga
: tidak ada deformitas, tidak ada nyeri tekan aurikula maupun nyeri
tekan tragus.
Hidung
: tidak ada deformitas ,tidak ada deviasi septum, tidak ada nyeri tekan.
Tenggorok
: arcus faring simetris, uvula di tengah, tonsil T1/T1, dinding faring
posterior tidak hiperemis.
Gigi & mulut
: oral hygiene baik
Leher
: JVP 5-2 cmH2O. (lihat status lokalis)
Dada
: simetris saat inspirasi dan ekspirasi, tidak ada pectus excavatum,
tidak ada pectus carinatum
Jantung
Inspeksi
: iktus kordis tidak terlihat
Palpasi
: iktus kordis teraba linea midclavicularis sinistra intercostals V
Perkusi
: batas jantung kanan pada linea sternalis dextra intercostals IV, batas
jantung kiri linea midclavicularis sinistra intercostals V, pinggang
jantung pada linea parasternalis sinistra intercostals III
Auskultasi
Paru
: S1 dan S2 reguler, tidak ada murmur, tidak ada gallop
:
Inspeksi
: Simetris saat inspirasi dan ekspirasi
Palpasi
: vocal fremitus kanan sama dengan kiri
Perkusi
: sonor/sonor
Auskultasi
: vesikuler/vesikuler, tidak ada rhonki, tidak ada wheezing
Abdomen
Inspeksi
: datar, lemas
Palpasi
: tidak ada nyeri tekan abdomen, tidak ada massa, hepar dan lien tidak
teraba
Perkusi
: timpani (+)
Auskultasi
: bising usus (+) 10 kali per menit.
Ekstremitas
: tidak ada edema, tidak ada deformitas, akral hangat, CRT 2”, tremor
halus (-), akral berkeringat (-/-)
Status Lokalis
A
B
C
D
Gambar 1.1. Foto bagian leher pasien A. tampak depan B. tampak depan kepala ekstensi
C. tampak kanan D. tampak kiri
Regio Colli Anterior
Inspeksi
: Tampak massa di anterior colli bilateral yang bergerak naik turun saat
menelan, bagian dextra lebih besar dari sinistra, batas tidak jelas, tidak tampak eritema
maupun luka di sekitar benjolan, trakea di tengah.
Palpasi
: teraba massa yang ikut bergerak keatas saat pasien menelan dengan
konsistensi heterogen padat dan keras di bagian tengah permukaan licin berbenjol-benjol,
batas tidak tegas, mobile saat digoyang latero-medial, dengan ukuran massa kanan 14 x 7,5 x
5 cm batas atas 1 jari dibawah os. hyoid batas bawah sterna notch batas kanan posterior m.
sternokleidomastoideus, ukuran massa kiri sebesar 4 x 4 x 4 cm batas atas 2 jari dibawah os.
hyoid batas bawah sterna notch batas kiri posterior sternokleidomastoideus. Tidak ada nyeri
tekan dan tidak teraba thrill. Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening.
Auskultasi
: Tidak terdapat bruit.
1.4. Pemeriksaan Penunjang
Tabel 1. Pemeriksaan Laboratorium 3 Februari 2014
Hasil
Satuan
Nilai Rujukan
Darah perifer lengkap
Hemoglobin
12,2
g/dL
12-16
Hematokrit
36,6
%
37-47
Jumlah trombosit
282
103/uL
150-450
Jumlah leukosit
7,36
103/uL
5-10
Basofil
0,5
%
0,5-1,0
Eosinofil
3,9
%
1-4
Neutrofil
58,9
%
55,0-70,0
Limfosit
30,2
%
20-40
Monosit
6,5
%
2-8
Pasien
10,3
Detik
Kontrol
12,0
Detik
Pasien
26,9
Detik
Kontrol
31,1
Detik
T4 bebas
1,140
ng/dL
0,930-1,700
TSH sensitive
0,140
µIU/nL
0,270-4,200
Hitung Jenis
Hemostasis
Masa Protrombin (PT)
9,8-12,6
APTT
31,0-47,6
Hormon Tiroid
Kimia klinik
Ureum darah
34
mg/dL
10-50
Kreatinin darah
1,0
mg/dL
<1.4
Albumin
4,29
g/dL
3.2-5.2
eGFR
60,5
mL/min/1,73 m2
60,00-90,00
SGOT
14
U/L
< 27
SGPT
12
U/L
< 34
Gula Darah Sewaktu
120
mg/dl
<141
Natrium
142
mEq/L
137-150
Kalium
3,68
mEq/L
3.5-5.5
Klorida
113,4
mEq/L
99-111
Kalsium (Ca) Darah
9,1
mg/dL
8,8-10,2
Kalsium (Ca++) Ion
1,10
mmol/L
1,02-1,30
Elektrolit
Hasil USG thyroid tanggal 13 November 2013
Gambar 1.2. Hasil USG Kelenjar Tiroid
Thyroid kanan:
Lobus kanan thyroid bentuk dan ukuran membesar
Tampak multipel lesi isoekhoik dengan tepi lesi hipoekhoik ukuran terbesar +/- 1,8 x 1,5 cm.
Tampak peningkatan flow doppler intra lesi.
Tampak pula multipel lesi anekhoik dengan posterior akustik enhacement berukuran terbesar
+/- 1,3 x 0,6 cm. Tidak tampak kalsifikasi.
Thyroid kiri:
Lobus kiri thyroid bentuk dan ukuran membesar
Tampak multipel lesi isoekhoik dengan tepi lesi hipoekhoik ukuran terbesar +/- 3 x 1,9 cm.
Tampak peningkatan flow doppler intra lesi.
Tampak multipel lesi anekhoik dengan posterior akustik enhacement berukuran terbesar +/0,7 x 0,6 cm. Tidak tampak kalsifikasi.
Ishmus menebal. Tampak multipel lesi isoekhoik dengan tepi lesi hipoekhoik ukuran terbesar
+/- 1,2 x 0,8 cm. Tampak peningkatan flow doppler intra lesi. Trakhea di garis tengah.
Regio colli: Tidak tampak pembesaran kelenjar limfe regio colli bilateral.
Kesimpulan: Struma multinodosa dengan degenerasi kistik thyroid kanan kiri.
Hasil Sitologi Thyroid 25 November 2013
Sediaan sitologi aspirasi kelenjar tiroid mengandung sel epitel folikel yang sebagian berinti
atipik, “foam cells”, leukosit, dan koloid.
Kesimpulan: AUS (atypical of undetermined significance)
Rontgen Thorax Proyeksi PA 4 Februari 2014
Gambar 1.3. Foto Rontgen Proyeksi PA
Posisi asimetris
Jantung ukuran membesar CTR 55,5%
Aorta elongasi
Mediastinum superior tidak melebar
Trakhea di tengah
Kedua hilus tidak menebal
Corakan vaskular kedua paru kasar.Tidak terdapat infiltrat/nodul
Lengkung hemidiafragma dan sinus kostofrenikus normal
Tampak penebalan jaringan lunak di regio coli kanan kiri yang meluas ke intratorakal.
Kesimpulan:
Kardiomegali dengan aorta elongasi
Penebalan jaringan lunak di regio coli meluas ke intratorakal dd/ stroma intratorakal
1.5. Diagnosis
1. Struma multinodosa non toksik suspek keganasan T3 N0 M0
2. Hipertensi terkontrol
1.6. Tatalaksana
-
Pro tiroidektomi total
-
Bisoprolol 1x 2,5 mg
-
Amlodipin 1 x 5 mg
1.7. Prognosis
Ad vitam
: bonam
Ad functionam
: malam
Ad sanationam
: bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid berada di inferior laring dan berbentuk seperti kupu-kupu. Kelenjar tiroid
terdiri dari lobus lateral kanan dan kiri yang dihubungkan oleh isthmus yang terletak di
anterior trakea. Terdapat lobus berbentuk piramid berukuran kecil yang terkadang meluas
keatas dari isthmus. Berat tiroid normal adalah sekitar 30 g. Kelenjar tiroid memperoleh
asupan darah dalam jumlah besar dan menerima sekitar 80-12 mL darah setiap menitnya.1,2
Gambar 2.1. Anatomi dan histologi kelenjar tiroid1
Secara mikroskopis, terdapat kantung yang disebut tiroid folikel yang membentuk hampir
seluruh kelenjar tiroid. Dinding setiap folikel terdiri dari sel yang disebut sel folikular yang
meluas hingga ke lumen folikel. Membran dasar mengelilingi setiap folikel. Ketikel sel
folikular tidak aktif, bentuknya menjadi kuboid sampai skuamosa, tapi dengan rangsangan
dari TSG sel ini menjadi aktif menyekresi dan berubah menjadi kuboid sampai kolumnar. Sel
folikular memproduksi dua hormone, yaitu thyroxine yang disebut juga tetraiodothyronine
atau T4 karena terdiri dari 4 atom dan triiodothyronine atau T3 yang terdiri dari 3 atom iodine.
T3 dan T4 inilah yang disebut sebagai hormone tiroid. Beberapa sel yang disebut sel
parafolikular atau sel C berada diantara folikel. Sel-sel ini memproduksi hormon kalsitonin
yang membantu regulasi kalsium.1
Sintesis hormon tiroid distimulasi oleh thyrotropin-releasing hormone (TRH) dan thyroidstimulating hormone (TSH) yang diproduksi oleh kelenjar pituitari anterior. Jumlah T3 dan T4
di darah atau metabolisme yang rendah menstimulasi hipotalamus untuk menyekresi TRH.
TRH masuk ke vena porta hipofisis dan mengalir ke pituitari anterior yang menyekresi TSH.
TSH menstimulasi aktivitas sel folikular, yaitu pengambilan iodine, sintesis dan sekresi
hormone, dan pertumbuhan sel folikular. Sel folikular tiriod melepaskan T3 dan T4 ke darah
sampai tingkat metabolisme kembali ke normal. Peningkatan T3 menghambat pengeluaran
TRH dan TSH (umpan balik negatif). Kondisi yang meningkatkan kebutuhan ATP, seperti
lingkungan yang dingin, hipoglikemi, dataran tinggi, dan kehamilan, juga meningkatkan
sekresi hormon tiroid.1
Gambar 2.2. Regulasi hormon tiorid
2.2. Evaluasi Massa Tiroid
2.2.1. Anamnesis
Dalam anamnesis, perlu ditanyakan riwayat keluarga mengenai keganasan tiroid jinak
maupun ganas. Penyakit terdahulu yang mengikutsertakan leher (iradiasi kepala dan leher
saat masa anak-anak), riwayat kehamilan, dan kecepatan onset dan tingkat pertumbuhan
benjolan di leher harus ditanyakan. Adanya benjolan di leher selama masa kanak-kanak dan
remaja harus diperhatikan karena memiliki kemungkinan keganasan tiga sampai empat kali
lebih besar daripada di orang dewasa. Risiko kanker tiroid juga meningkat pada usia tua dan
laki-laki.3,4
Pasien dengan nodul tiroid biasanya tidak terlalu tampak atau
tidak bergejala.
Seringkali, tidak ada hubungan yang jelas antara gambaran histologist dengan gejala pada
pasien. Pada pasien dengan gejala, riwayat penyakit lengkap penting ditanyakan.
Pertumbuhan benjolan yang lambat tapi progresif (minggu sampai bulan) mengarahkan pada
keganasan.3,4
Nyeri yang tiba-tiba biasanya diakibatkan perdarahan pada nodul kistik. Pasien dengan
pembesaran yang progresif disertai nyeri perlu dicurigai adanya limpoma primer atau
anaplastik karsinoma. Gejala seperti sensasi tersedak, leher tegang atau nyeri, disfagia, atau
suara serak dapat menyertai penyakit tiroid, tetapi seringkali diakibatkan oleh kelainan nontiorid. Gejala servikal dengan onset yang lambat dapat diakibatkan oleh penekanan struktur
vital leher dan rongga dada atas. Gejala ini muncul jika nodul tiroid tertanam dalam goiter
yang besar. Jika tidak terdapat goiter multinodular, gejala kompresi trakea (batuk dan
perubahan suara) dapat mengarahkan pada keganasan. Karsinoma tiroid terdiferensiasi jarang
menyebabkan obstruksi saluran napas, paralisis pita suara, ataupun gejala esofageal. Oleh
karena itu, ketidakadaan gejala lokal tidak menyingkirkan kemunhkinan tumor ganas.3
2.2.2. Pemeriksaan Fisik
Kanker tiroid terdiferensiasi yang berukuran kecil seringkali tidak memiliki
karakteristik yang mencurigakan pada pemeriksaan fisik. Namun, nodul tiroid baik yang
keras ataupun berbatas tegas, dominan maupun soliter yang dapat dibedakan dari kelenjar
lainnya meningkatkan kemungkinan keganasan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan
inspeksi dan palpasi yang teliti dari kelenjar tiroid serta kompartemen anterior dan lateral
nodul pada leher.3
Pemeriksaan kelenjar tiroid secara umum terdiri dari inspeksi, palpasi, dan auskultasi.
Pada inspeksi perlu diperhatikan apakah terdapat pergeseran trakea. Untuk dapat melihat
kelenjar tiroid dengan jelas, pasien diminta untuk sedikit mendangak, kemudian perhatikan
daerah dibawah kartilago krikoid. Minta pasien untuk menelan, perhatikan gerakan ke atas
kelenjar tiroid, simetrisitas, dan konturnya. Palpasi kelenjar tiroid dilakukan dengan
pemeriksa berdiri di belakang pasien. Pasien diminta mendangak. Jari-jari kedua tangan
diletakan di leher pasien tepat dibawah kartilago krikoid. Minta pasien untuk menelan,
rasakan gerakan isthmus yang naik ke atas, tetapi tidak selalu teraba. Geser trakea ke kanan
dnegan jari-jari tangan kiri. Jari-jari tangan kanan meraba lobus kanan pada ruang diantara
trakea dan sternomastoid. Temukan lateral margin. Dengan cara yang sama, periksa lobus
kiri.5 Pada massa di tiroid pelaporan terdiri dari adalah lokasi, konsistensi, ukuran nodul,
ketegangan leher, nyeri, dan adenopati servikal.3,5
2.2.3. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone) yang rendah dihubungkan dengan
berkurangnya kemungkinan keganasan sehingga tidak perlu dilakukan pemeriksaan sitologi
karena insiden keganasan sangat rendah.3
2. Pencitraan
Ultrasonografi resolusi tinggi merupakan tes yang paling sensitif untuk mendeteksi lesi
tiroid, mengetahui dimensi, struktur, dan mengevaluasi perubahan difus pada kelenjar tiroid.
Jika hasil palpasi normal, ultrasonografi hanya dilakukan jikan ada faktor risiko keganasan.
Jika ditemukan pada pemeriksaan fisik adenopati leher yang mencurigakan, perlu dilakukan
ultrasonografi kedua nodus limfa dan kelenjar tiroid karena terdapat risiko metastasis dari
mikrokarsinoma papiler yang tidak disadari sebelumnya.3
Pada semua pasien dengan nodul tiroid dan multinodular stroma teraba, ultrasonografi
perlu dilakukan untuk membantu diagnosis, mencari koinsidental nodul tiroid atau perubahan
kelenjar tiroid difus, mendeteksi keganasan dan lesi untuk dilakukan FNAB, memilih panjang
jarum biopsi, mendapatkan pengukuran objektif volume kelenjar tiroid dan lesi yang akan
dilakukan follow-up. Pelaporan ultrasonografi mencakup posisi, bentuk, ukuran, batas, isi,
dan ekogenik serta gambaran vaskular pada nodul. Gambaran ultrasonografi yang mengarah
pada keganasan diantaranya hipoekogenitas, mikrokalsifikasi (kecil, intranodular, punktata,
titik hiperekoik dengan posterior acoustic shadow minim atau tidak ada), batas irregular atau
microlobulated , dan gambaran vaskularisasi intranodular yang berantakan. Tumor berukuran
besar dengan perubahan degeneratif dan beberapa area yang terisi cairan kadang ditemukan
pada mikrokarsinoma. Walaupun kebanyakan nodul tiroid dengan dominasi komponen cairan
bersifat jinak, ultrasonografi tetap harus dilaukan karena karsinoma tiroid papiler sebagian
dapat berbentuk kistik. Lesi hipoekoik yang melebar hingga ke kapsul, menginvasi otot
pretiroid, dan menginfiltraasi saraf laring jarang ditemukan tetapi memerlukan pemeriksaan
sitologi segera. Adanya pembesaran kelenjar limfa tanpa hilum, perubahan kistik, dan
mikrokalsifikasi meningkatkan kemungkinan ke arah keganasan. Gambaran melingkar dan
hipervaskularisasi yang berantakan lebih sering ditemukan, tetapi tidak spesifik.3
3. Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB)
FNAB pada nodul tiroid lebih baik jika dikombinasikan dengan guided ultrasonografi.
Hasil FNAB ini digunakan untuk pemeriksaan sitologi. Hasil dari FNAB dikategorikan
menjadi diagnostik dan non-diagnostik. Dikatakan diagnostik bila terdiri dari minimal 6 grup
sel epitelial tiroid yang baik dan setiap grup terdiri dari 10 sel. Klasifikasi hasil pemeriksaan
sitologi dibagi menjadi lima, yaitu nondiagnostik, jinak, lesi folikular, mencurigakan, dan
ganas.3,6
2.2. Struma7
Struma disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena
pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau
perubahan susunan kelenjar dan morfologinya.
Dampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat
mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya. Di bagian posterior medial kelenjar
tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong
trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia. Hal
tersebut akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan
elektrolit. Bila pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat
asimetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia.
Struma dapat terjadi akibat kekurangan yodium yang dapat menghambat pembentukan
hormon tiroid oleh kelenjar tiroid sehingga terjadi pula penghambatan dalam pembentukan
TSH oleh hipofisis anterior. Hal tersebut memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam
jumlah yang berlebihan. TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan
tiroglobulin dalam jumlah yang besar (kolid) ke dalam folikel, dan kelenjar tumbuh makin
lama makin bertambah besar. Akibat kekurangan yodium maka tidak terjadi peningkatan
pembentukan T4 dan T3, ukuran folikel menjadi lebih besar dan kelenjar tiroid dapat
bertambah berat sekitar 300-500 gram.
Selain itu, struma dapat disebabkan kelainan metabolik kongenital yang menghambat
sintesa hormon tiroid, penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (goitrogenic agent),
proses peradangan atau gangguan autoimun, seperti penyakit Graves. Pembesaran yang
didasari oleh suatu tumor atau neoplasma dan penghambatan sintesa hormon tiroid oleh obatobatan misalnya thiocarbamide, sulfonylurea dan litium, gangguan metabolik, misalnya
struma koloid dan struma non toksik (struma endemik).
2.3 Klasifikasi Struma
2.3.1. Berdasarkan Fisiologisnya7,8
Berdasakan fisiologisnya struma dapat diklasifikasikan menjadi eutiroidisme,
hipotiroidisme, dan hipertiroidisme. Hipotiroidisme dapat disebabkan kelainan pada
hipotalamus, kerusakan hipofisis, defisiensi iodium, penggunaan antitiroid, dan tiroiditis.
Terdapat pula keadaan yang dikenal sebagai hipotiroidisme iatrogenik yang terjadi
pascatiroidektomi atau pascapengobatan iodium radioaktif.
Hipertiroidisme dapat terjadi pada struma difus toksik (penyakit Graves), struma
nodosa toksik, pengobatan berlebihan dengan tiroksin, permulaan tiroiditis, struma ovarium,
dan pada metastasis ekstensif karsinoma tiroid berdiferensiasi baik. Gejala hipertiroidisme
berupa berat badan menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan, kelelahan, leboh
suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat gejala jantung berdebar-debar, tremor
pada tungkai bagian atas, mata melotot (eksoftalamus), diare, haid tidak teratur, rambut
rontok, dan atrofi otot.
2.3.2. Berdasarkan Klinisnya
Secara klinis pemeriksaan klinis struma toksik dapat dibedakan menjadi:
A. Struma Toksik 7,8
Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma difus toksik dan struma nodusa
toksik. Istilah difus dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana
struma difus toksik akan menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis
sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih
benjolan (struma multinoduler toksik).
Struma difus toksik (tiroktosikosis) menunjukkan gejala hipermetabolisme karena
jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab
tersering adalah penyakit Graves.
B. Struma Non Toksik7,8
Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi menjadi struma difus
nontoksik dan struma nodusa nontoksik. Struma nontoksik disebabkan oleh kekurangan
iodium yang kronik. Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter
koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung iodium
atau terpapar goitrogen yang bisa menghambat sintesa hormon.
2.4. Struma Nodusa Nontoksik7,8
Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini
disebut struma nodusa. Struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan
hipotiroidisme disebut struma nodusa nontoksik. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada
usia muda, awalnya difus, dan berkembang menjadi multinodular.
Struma multinodosa biasanya terjadi pada wanita berusia lanjut dan perubahan yang
terdapat pada kelenjar berupa kombinasi bagian yang hiperplasia dan berinvolusi. Pada
awalnya, sebagian struma multinodosa dapat dihambat pertumbuhannya dengan pemberian
hormon tiroksin.
Biasanya penderita struma nodosa tidak mempunyai keluhan karena tidak mengalami
hipo- atau hipertiroidisme. Degenerasi jaringan menyebabkan terbentuknya kista atau
adenoma. Karena pertumbuhan terjadi secara perlahan, struma dapat membesar tanpa
memberikan gejala selain adanya benjolan di leher, yang dikeluhkan terutama alasan
kosmetik.
Walaupun sebagian besar struma nodosa tidak mengganggu pernapasan karena
pertumbuhannya ke arah lateral atau ke anterior, sebagian lain dapat menyebabkan
penyempitan trakea jika pembesarannya bilateral. Struma nodosa unilateral dapat
menyebabkan pendorongan trakea ke arah kontralateral tanpa menimbulkan gangguan akibat
obstruksi pernapasan. Penyempitan yang hebat dapat menyebabkan gangguan pernapasan
dengan gejala stridor inspiratoar. Secara umum, struma adenomatosa benigna hanya
menimbulkan keluhan rasa berat di leher, adanya benjolan yang bergerak naik turun waktu
menelan, dan alasan kosmetik. Jarang terjadi hipertiroidisme pada struma adenomatosa.
Sekitar 5% struma nodosa mengalami degenerasi maligna. Berbagai tanda keganasan
yang dapat dievaluasi meliputi perubahan bentuk, pertumbuhan lebih cepat, dan tanda
infiltrasi pada kulit dan jaringan sekitar. Dapat terjadi penekanan pada nervus rekurens,
trakea, atau esofagus. Adanya nodul tunggal harus tetap mendapat perhatian karena dapat
merupakan nodul koloid, kistik, adenoma tiroid, atau suatu karsinoma tiroid. Nodul maligna
sering ditemukan pada pria usia muda dan lanjut.
Struma nodosa yang berlangsung lama biasanya tidak dapat lagi dipengaruhi oleh
pengobatan supresi hormon atau pemberian hormon tiroid. Penanganan struma lama adalah
dengan tiroidektomi subtotal atas indikasi yang tepat (kosmetik, eksisi nodulus tunggal
suspek ganas, struma multinodular yang berat, struma yang menyebabkan kompresi laring
atau struktur leher lain, struma retrosternal yang mengompresi trakea).
Struma dapat meluas sampai ke mediastinum anterior superior, terutama pada bentuk
nodulus yang disebut struma retrosternum. Umumnya, struma retrosternum tidak turun naik
pada gerakan menelan karena apertura toraks terlalu sempit. Seringkali struma ini
berlangsung lama dan bersifat asimptomatik, sampai terjadi penekanan pada organ atau
struktur sekitarnya. Penekanan ini akan memberikan gejala dan tanda penekanan trakea atau
esofagus. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan foto rontgen atau iodium radioaktif.
Biasanya pembedahan struma retrosternum dapat dilakukan melalui insisi di leher dan tidak
memerlukan torakotomi karena perdarahan berpangkal pada pembuluh di leher. Jika letaknya
di dorsal arteri subklavia, pembedahan dilakukan dengan cara torakotomi.
Diagnosis banding struma nodosa ialah tumor mediastinum anterior, superior, seperti
timoma, limfoma, tumor dermoid, dan metastasi keganasan paru pada kelenjar getah bening.
2.5 Karsinoma Tiroid7,8
Karsinoma tiroid merupakan keganasan terbanyak ke-9 di antara 10 kanker terbanyak.
Insidensnya lebih tinggi di negara endemik struma, terutama jenis folikular dan jenis
berdiferensiasi buruk/anaplastik. Nodul tiroid dapat dijumpai pada semua usia. Insidensnya
meningkat seiring dengan meningkatnya usia dengan puncaknya pada usia antara 21-40
tahun. Wanita 2-4 kali lebih sering mengalami nodul ini daripada laki-laki.
Keganasan tiroid berasal dari sel folikel tiroid dan dapat diklasifikasikan menjadi
berdiferensiasi baik, yaitu bentuk papilar, folikular, atau campuran keduanya, medular yang
berasal dari sel parafolikular dan mengeluarkan kalsitonin, serta berdiferensiasi
buruk/anaplastik. Perubahan dari struma menjadi karsinoma anaplastik biasa terjadi pada usia
lanjut.
Radiasi daerah leher merupakan salah satu faktor risiko yang penting. Risiko menderita
karsinoma tiroid akibat radiasi biasanya juga bergantung pada usia. Bila radiasi terjadi pada
usia lebih dari 20 tahun, korelasi risikonya menjadi kurang bermakna.
Terdapat beberapa kriteria klinis yang dapat menunjukkan bahwa suatu tumor tiroid
bersifat ganas, antara lain usia <20 tahun atau >50 tahun, riwayat terpapar radiasi leher pada
masa kanak-kanak, pembesaran kelenjar tiroid yang cepat, struma dengan suara parau,
disfagia, nyeri spontan, riwayat keluarga menderita kanker, struma hiperplasia yang tetap
membesar setelah diberikan tiroksin, dan sesak napas.
2.5.1 Patologi7
Tumor dapat berupa nodul lunak, tetapi sering pula tumor keras. Adenokarsinoma
papilar biasanya bersifat multisentrik dan 50% penderita memperlihatkan sarang ganas di
lobus homolateral dan kontralateral. Tumor ini mula-mula bermetastasis ke kelenjar limfa
regional dan akhirnya dapat menjadi metastasis hematogenik. Sebaliknya adenokarsinoma
folikular biasanya bersifat unifokal dan jarang bermetastasis ke kelenjar limfa leher. Jenis ini
lebih menyebar secara hematogenik, antara lain tulang dan paru.
Adenokarsinoma anaplastik yang jarang ditemukan (10%) merupakan tumor yang
agresif, bertumbuh cepat, dengan infiltrasi masif ke jaringan sekitarnya. Pada tahap dini
sudah terjadi penyebaran hematogen dan penyembuhan jarang dicapai. Karsinoma anaplastik
sering menyebabkan kesulitan bernapas karena infiltrasi ke trakea sampai ke lumen yang
ditandai dengan dispnea dengan stridor inspirasi.
Infiltrasi karsinoma tiroid dapat ditemukan di trakea, laring, faring, esofagus, nervus
rekurens, pembuluh darah karotis, vena jugularis, dan struktur lain dalam leher dan kulit.
Metastasis limfogenik dapat meliputi semua regio leher, sedangkan metastasis hematogen
ditemukan, terutama di paru, tulang, otak, dan hati.
2.5.2 Diagnosis7
Kebanyakan karsinoma tiroid bermanifestasi sebagai struma mononodular dan
multinodular. Sekitar 25% nodul tunggal yang muncul merupakan karsinoma tiroid. Oleh
karena itu, jika menghadapi penderita dengan nodul tiroid tunggal, perlu dipertimbangkan
faktor risiko dan ciri keganasan lain. Diagnosis pasti ditegakkan dengan dengan biopsi jarum
halus, kecuali pada karsinoma folikular.
Tabel 2.1. Diagnosis Banding Nodul Tiroid Ganas dan Jinak7
Ganas
Jinak
Usia
<20 tahun atau >50 tahun
20-50 tahun
Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Benjolan
Tunggal
Multipel
Lamanya
Baru
Lama
Terapi supresi
Mungkin berpengaruh
Regresi
Diagnosis radioaktif
Dingin/fungsi (-)
Fungsi (-) atau (+)
USG
Padat dan heterogen
Mungkin kista
Lain-lain
Pernah radiasi leher
-
Untuk menentukan stadium karsinoma tiroid, biasanya digunakan klasifikasi TNM
yang menggambarkan pertumbuhan dan penyebarannya.
Tabel 2.2. Klasifikasi TNM Karsinoma Tiroid3,4
T
Tumor primer
T0
Tidak terbukti ada tumor
T1
<1 cm
T2
1-4 cm
T3
>4 cm
T4
Menembus simpai tiroid
N
Kelenjar Getah Bening Regional
N0
Tidak ditemukan
N1
Pembesaran dapat dipalpasi
N1a
Hanya ipsilateral
N1b
Kontralateral, bilateral, garis tengah, atau
mediastinum
M
Metastasis jauh
M0
Tidak ada
M1
Ada
2.5.3 Terapi
Tabel 2.3. Indikasi Prosedur Intervensional Struma8
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Penegakkan Diagnosis
3.1.1 Anamnesis
Pasien datang dengan keluhan utama berupa benjolan di leher. Timbulnya benjolan di
leher dapat berasal dari berbagai struktur yang ada di bagian tubuh tersebut. Akan tetapi,
pada pasien ini dapat dipastikan berasal dari tiroid karena benjolan dirasakan oleh pasien
bergerak naik dan turun saat menelan.
Benjolan pada tiroid atau struma pada pasien ini merupakan struma multinodular
nontoksik karena benjolan dirasakan muncul pada leher depan sisi kiri dan kanan serta tidak
disertai tanda-tanda hipertiroidisme, seperti sulit tidur, palpitasi, keringat berlebihan, tremor
tangan, nafsu makan meningkat, berat badan menurun, emosi tidak stabil, gangguan
menstruasi, dan sering buang air besar. Patologi pada struma multinodular nontoksik paling
sering ialah struma endemik dan sebagian lainnya ialah tumor. Pasien ini kemungkinan tidak
termasuk pada struma endemik karena pasien mengonsumsi garam beriodium dan tidak
tinggal di daerah penggunungan. Oleh karena itu, struma tersebut sangat dipikirkan adalah
berasal dari tumor.
Apabila telah diduga tumor, perlu dibedakan apakah tumor tersebut bersifat jinak atau
ganas. Kemungkinan jinak bisa dipikirkan karena pasien adalah wanita dan jumlah
benjolannya multipel. Akan tetapi, faktor risiko untuk ke arah kemungkinan bersifat ganas
lebih banyak, antara lain usia>50 tahun, riwayat keluarga, dan pertumbuhan yang cepat dari
kelenjar tiroid selama 2 tahun terakhir. Pasien juga mengalami penurunan berat badan walau
dirasa tidak terlalu signifikan. Oleh karena itu, dari anamnesis bisa dipikirkan diagnosis kerja,
yakni struma multinodusa nontoksik suspek ganas. Untuk lebih memperkuat diagnosis kerja
dan menentukan staging keganasannya, perlu dilakukan pemeriksaan fisik dan penunjang.
3.1.2 Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, terbukti pada status generalis seperti denyut nadi, tekanan
darah, frekuensi pernapasan, ada/tidaknya eksoftalmus, dan ada/tidaknya tremor tangan tidak
menunjukkan tanda hipertiroidisme. Tidak ada abnormalitas juga pada pemeriksaan generalis
lainnya, terutama pembesaran kelenjar getah bening colli atau supraklavikula.
Pada status lokalis, dari inspeksi tampak massa di anterior colli bilateral yang bergerak
saat pasien menelan. Hal tersebut membuktikan bahwa massa berasal dari kelenjar tiroid.
Hasil palpasi menunjukkan ukuran massa kanan sebesar 14 x 7,5 x 5 cm dan kiri sebesar 4 x
4 x 4 cm, batas tidak tegas, permukaan licin berbenjol-benjol, konsistensi kistik dengan
bagian tengah keras (heterogen), dapat digerakkan medio-lateral, serta tidak ada nyeri tekan.
Pemeriksaan tersebut memberikan beberapa petunjuk yang mengarahkan pada keganasan,
antara lain ukuran massa yang cukup besar, batas tidak tegas, dan konsistensi sebagian keras.
Dari hasil pemeriksaan fisik, diagnosis kerja dapat lebih dilengkapi, yakni struma
multinodusa nontoksik suspek ganas T3 N0 Mx. T3 ditegakkan karena ukuran massa sudah
>4cm. Berikutnya, untuk memastikan diagnosis kerja ini harus dilakukan berbagai
pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium, USG tiroid, dan FNAB. Selain
itu, perlu dilakukan rontgen thorax sebagai persiapan operasi dan menilai ada/tidaknya
metastasis.
3.1.3 Pemeriksaan Penunjang
Diagram 4.1. Alur diagnosis pasisen dengan nodul tiroid3
Berdasarkan alur diagnosis Association Medical Guidelines for Clinical Practice for The
Diagnosis And Management of Thyroid Nodule, untuk benjolan tiroid, hal pertama yang
harus dilakukan adalah melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, kemudian dilakukan
pemeriksaan TSH dan hormon tiroid. Pada pasien ini, TSH dan hormon tiroid normal,
sehingga dilanjutkan dengan pemeriksaan USG. Dari ukuran tumor dan kecurigaan ke arah
keganasan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil USG, diputuskan apakah perlu
dilakukan FNAB untuk mendapatkan sediaan sitologi. Jika hasil pemeriksaan sitologi
menunjukkan jinak, akan dilakukan follow-up. Namun, jika hasilnya mengarah pada
keganasan, curiga keganasan, atau lesi folikular, maka harus dilakukan operasi.
Selain dari TSH dan hormon tiroid, dari hasil laboratorium diketahui bahwa tidak ada
peningkatan leukosit yang menandakan infeksi bisa disingkirkan sesuai dengan hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Hasil TSH dan hormon tiroid yang dalam batas normal, hal
ini sesuai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang tidak memperlihatkan adanya tandatanda hiper maupun hipotiroid. Dari hasil pencitraan dengan USG didapatkan bahwa terdapat
pembesaran di tiroid kanan dan kiri. Didapati adanya heterogenitas, hal ini menguatkan
pemeriksaan fisik, dan degenerasi kistik. Flow doppler meningkat pada kedua lobus tiroid
yang menandakan adanya vaskularasi intralesi. Hal ini mendukung struma multinodular
kearah kecurigaan ganas. Oleh karena itu, dilakukan FNAB pada pasien ini.
Hasil FNAB dengan 18 slide, sel-sel atipik didapatkan tetapi undetermined of
significance, yang berarti hasil FNAB belum dapat secara pasti mengatakan stroma tiroid ini
ganas maupun jinak. Terdapat beberapa pendapat mengenai hal ini antara melakukan
manajemen selanjutnya mengarah jinak atau ganas. Penelitian yang dilakukan oleh Andrew
A, et al9 tahun 2009 pada pasien dengan nodul tiroid di Rumah Sakit di Miami, Florida, dari
246 pasien dengan hasil FNAB AUS yang berhasil di follow-up, 25 % terbukti mengalami
keganasan tiroid. Dalam penelitian ini, AUS dibagi menjadi 5 kategori yang setiap
kategorinya memliki risiko untuk menjadi keganasan.
Pada pasien ini, karena dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan USG mengarah pada
keganasan, sedangkan FNAB masih belum bisa menentukan ganas atau jinak, tetapi memiliki
risiko yang cukup besar untuk menjadi ganas, maka diputuskan untuk dilakukan prosedur
pembedahan. Jaringan tiroid yang diangkat selanjutnya dapat dibuat sediaan biopsinya untuk
kemudian diperiksa secara histopatologi sebagai penegakan diagnosis.
Staging pada struma ini dari ukurannya T3, tidak ditemukan pembesaran getah bening
baik pada pemeriksaan fisik maupun penunjang sehingga N0. Untuk metastasis, pada
anamnesis tidak ditemukan adanya metastasis (tidak ada benjolan di tempat lain, sesak napas,
gangguan menelan, maupun keluhan lainnya), pada pemeriksaan penunjang tidak didapatkan
metastasis di tempat lain (foto rontgen tidak terdapat massa di paru) sehingga M0.
3.2 Tata laksana dan Prognosis
Keganasan tiroid yang dapat dipalpasi, berukuran > 2cm, dan tidak teraba KGB leher
sebaiknya dilakukan tindakan tiroidektomi total. Penyulit tiroidektomi terpenting adalah
kerusakan nervus laringeus inferior (rekurens), nervus laringeus superior, dan kelenjar
paratiroid. Pada setiap tiroidektomi nervus rekurens dan nervus laringeus superior harus
dicari, dipisahkan, dan dilindungi agar tidak cedera. Pada pembedahan keganasan tiroid bila
keadaan
memungkinkan,
sebaiknya
satu
paratiroid
harus
dipertahankan
beserta
vaskularisasinya. Pascatiroidektomi total, pasien harus diberikan terapi hormon tiroid seumur
hidup sebagai terapi substitusi.
Prognosis pada karsinoma tiroid bergantung pada jenis keganasannya. Pada pasien ini,
jenis keganasannya belum dapat ditentukan. Akan tetapi, dilihat tidak adanya metastasis
limfogen maupun hematogen serta invasi jaringan sekitar kemungkinan ad vitamnya adalah
bonam. Untuk ad functionam tentunya malam karena pasien tidak akan memiliki kelenjar
tiroid lagi dan harus meminum obat hormon tiroid seumur hidup. Ad sanationam dipikirkan
ad bonam karena fokus keganasan telah seluruhnya diangkat sehingga risiko rekurensi sangat
rendah.
BAB V
KESIMPULAN
Pasien perempuan usia 61 tahun datang dengan benjolan di leher depan yang membesar sejak
2 tahun sebelum masuk rumah sakit. Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang, pasien mengalami struma multinodular nontoksik suspek ganas
T3N0M0. Pada pasien ini dilaukan tiroidektomi total.
Daftar Pustaka
1. Tortora G J, Bryan D. Principles of anatomy and physiology. 12th. River street:
John Wiley & Sons Inc; 2009.p.658-61.
2. Marieb E N, Hoehn K. Human anatomy & physiology. 7th ed. Boston: BenjaminCummings Publishing Company; 2007. [e-book]
3. Gharib H, Papini E, Paschke R, Duick D S, Valcavi E, Hegediis L, et al.
Association medical guidelines for clinical practice for the diagnosis and
management of thyroid nodules. Endocr Pract. 2006; 12 (1): 63-102.
4. Cooper D S, Doherty G M, Haugen B R, Kloos R T, Lee S L, Mandel S J, et al.
Revised American thyroid association management guidelines for patients with
thyroid nodules and differentiated thryroid cancer. Thyroid. 2009; 19 (1): 1-48.
5. Bickley L S. Bate’s guide to physical examination and history taking. 11 ed.
Philadelphia:Lippincott Williams & Wilkins; 2013. P.252-3.
6. British thyroid association. Guidelines for the management of thyroid cancer. 2nd
ed. Report of the thyroid cancer guidelines update group. London: Royal Collage
of Physicians, 2007.
7. R. Sjamsuhidajat, Karnadihardja W, Prasetyono TOH, Rudiman R. Buku Ajar
Ilmu Bedah. 1st. Jakarta: EGC; 2012.p807-11.
8. Acosta J, et al. Sabiston Textbook of Surgery. 18th. USA: Elsevier Saunders;
2007.chap.36.
9. Renshaw A A. Subclassification of atypical cells of undetermined significance in
direct smears of fine-needle aspirations of the thyroid. American Cancer Society.
2011; 119: 322-7.
Download