BAB II - repo unpas

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Model-Model Pembelajaran
1. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil
penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang
berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada
tingkat operasional di kelas.
Menurut Agus Suprijono (2009:45) menyatakan bahwa: Model
pembelajaran
ialah
pola
yang
digunakan
sebagai
pedoman
dalam
merencanakan pembelajaran maupun tutorial.
Sementara itu, pengertian model pembelajaran menurut Dodo Suhendar
dan Benny Setiawan (2008:12) dalam bukunya yang berjudul persiapan bagi
guru dalam jabatan, yaitu :
Model pembelajaran merupakan suatu cara mengajar yang sifatnya
umum yang dipilih dan ditetapkan untuk menyajikan bahan keilmuan /
pengetahuan supaya tindakan guru dalam KBM untuk peserta didik
dalam menerima bahan keilmuan dengan mudah dan baik.
Dari paparan di atas, penulis dapat mengartikan bahwa model
pembelajaran merupakan pola atau rancangan yang digunakan untuk menyusun
kurikulum, mengatur materi dan memberi petunjuk kepada guru di kelas.
Keberhasilan proses pembelajaran tidak lepas dari kemampuan guru
mengembangkan
model-model
pembelajaran
19
yang
berorientasi
pada
20
peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses
pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya
bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa
dapat belajar secara aktif dan menyenangkan, sehingga siswa dapat meraih
hasil belajar dan prestasi yang optimal.
Dalam
hal
ini,
model-model
pembelajaran
yang
dipilih
dan
dikembangkan guru, hendaknya dapat mendorong siswa untuk belajar dengan
mendayagunakan potensi yang mereka miliki secara optimal. Belajar yang
diharapkan bukan sekedar mendengar, memperoleh atau menyerap informasi
yang disampaikan guru tapi harus menyentuh kepentingan siswa secara
mendasar. Belajar juga harus dimaknai sebagai kegiatan pribadi siswa dalam
menggunakan potensi fikiran dan nuraninya. baik terstruktur maupun tidak
terstruktur untuk memperoleh pengetahuan, membangun sikap dan memiliki
keterampilan tertentu.
Dalam sebuah situs tentang pembelajaran Huitt dalam Abdurrahman
(2009:140),
mengemukakan
rasionalitas
pengembangan
model-model
pembelajaran yang utamanya beranjak dari adanya perbedaan karakteristik
siswa. Karena siswa memiliki berbagai karakteristik, kepribadian dan
kebiasaan-kebiasaan yang bervariasi antara individu satu dengan yang lain,
maka guru juga harus selayaknya tidak hanya terpaku pada model tertentu,
akan tetapi harus bervariasi. Disamping didasari pertimbangan keragaman
siswa, pengembangan berbagai model pembelajaran juga dimaksudkan untuk
menumbuhkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa, agar mereka tidak
21
jenuh dengan proses belajar yang sedang berlangsung. Oleh sebab itu, guru
harus memiliki pemahaman yang baik tentang siswa-siswanya, keragaman
kemampuan, motivasi, minat dan karakteristik pribadi lainnya.
Menurut Gagne dalam Abdurrahman (2009:142), menegaskan lima
kemampuan manusia yang merupakan hasil belajar sehingga memerlukan
berbagai model dan srategi pembelajaran untuk mencapainya, diantaranya
yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
Keterampilan intelektual, yakni sejumlah pengetahuan mulai dari
kemampuan baca, tulis, hitung sampai kepada pemikiran yang rumit.
Kemampuan ini sangat tergantung pada kapasitas intelektual,
kecerdasan sosial seseorang dan kesempatan belajar yang tersedia.
Strategi kognitif, yaitu kemampuan mengatur cara belajar dan
berfikir seseorang dalam arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan
memecahkan masalah.
Informasi verbal, yakni pengetahuan dalam arti informasi dan fakta.
Keterampilan motorik, yakni kemampuan dalam bentuk
keterampilan menggunakan sesuatu, keterampilan gerak.
Sikap dan nilai, yakni hasil belajar yang berhubungan dengan sikap,
intensitas emosional (Depdiknas,1998/1999:16).
Pada umumnya guru menginginkan agar materi pelajaran yang
disampaikan kepada anak didiknya dapat dipahami secara tuntas. Sementara
itu, setiap guru juga menyadari bahwa untuk dapat memenuhi harapan tersebut
bukanlah sesuatu yang dapat dianggap mudah, karena perbedaan karakteristik
siswa. Dari keragaman tersebut guru hendaknya mampu memberikan
pelayanan yang sama, sehingga siswa yang menjadi tanggung jawab kita di
kelas itu merasa mendapatkan perhatian yang sama. Untuk memberikan
pelayanan yang sama tentunya kita perlu mencari solusi dan strategi yang tepat
sehingga harapan yang sudah dirumuskan dalam setiap rencana pembelajaran
dapat tercapai.
22
Penggunaan
model
pembelajaran
yang
tepat
dapat
mendorong
tumbuhnya rasa senang siswa terhadap pelajaran, menumbuhkan dan
meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas, memberikan kemudahan
bagi siswa untuk memahami pelajaran, sehingga memungkinkan siswa
mencapai hasil belajar yang lebih baik.
Keberhasilan mengajar guru utamanya adalah terletak pada terjadi
tidaknya peningkatan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, melalui pemilihan
model pembelajaran yang tepat guru dapat memilih atau menyesuaikan jenis
pendekatan dan metode pembelajaran dengan karakteristik materi pelajaran
yang disajikan.
2. Jenis-Jenis Model Pembelajaran
Ada sejumlah pendapat atau pandangan berkenaan dengan model
pembelajaran. Beberapa model pembelajaran dikemukakan oleh Lapp, Bender,
Ellenwood, & John dalam Abdurrahman (2009:147) yang berpendapat bahwa
berbagai aktivitas belajar mengajar dapat dijabarkan dari empat model utama,
yaitu:
a.
b.
c.
d.
The Classical Model, dimana guru lebih menitikberatkan perannya
dalam pemberian informasi melalui mata pelajaran dan materi
pelajaran yang disajikan.
The Technological Model, yang lebih menitikberatkan peranan
pendidikan sebagai transmisi informasi, lebih dititikberatkan untuk
mencapai kometensi individual siswa.
The Profesionalised Model, dimana proses pembelajaran
dikembangkan dengan memperhatiakan minat, pengalaman dan
perkembangan siswa untuk mengaktualisasikan potensi-potensi
individualitasnya.
The Interaction Model, dengan menitikberatkan pola interdepensi
antara guru dan siswa sehingga tercipta komunikasi dialogis di
dalam proses pembelajaran.
23
Sementara itu, menurut Stalling (2009:147) mengemukakan lima model
dalam pembelajaran, diantaranya yaitu :
1) The Exploratory Model, model ini pada dasarnya bertujuan untuk
mengmbangkan kreativitas dan independensi siswa.
2) The Group Process Model, Model ini utamanya diarahkan untuk
mengembangkan kesadaran diri, rasa tanggungjawab dan
kemampuan bekerjasama antara siswa.
3) The Developmental Cognitive Model, yang menitikberatkan untuk
mengembangkan keterampilan-keterampilan kognitif.
4) TheProgrammed Model, yang dititikberatkan untuk mengembangkan
keterampilan-keterampilan dasar melalui modifikasi tingkah laku.
5) The
Pundamental
Model,
yang
dititikberatkan
untuk
mengembangkan
keterampilan-keterampilan
dasar
melalui
pengetahuan faktual.
B. Model Pembelajaran Cooperatif Learning
1. Definisi Model Pembelajaran Cooperatif Learning (Teknik Jigsaw)
Ada beberapa istilah untuk menyebut pembelajaran berbasis sosial yaitu
pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) dan pembelajaran kolaboratif.
Cooperative Learning adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja
kelompok termasuk bentuk-bentuk yang telah dipimpin oleh guru atau
diarahkan oleh guru. Secara umum, Cooperative Learning cenderung lebih
diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaanpertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang
untuk membantu peserta didik menyelesaikan suatu masalah dan guru biasanya
menetapkan bentuk ujian tertentu pada akhir tugas.
Donal R. Cruickshank, Deborah Bainer Jenkins, Kim K. Metcalf
(2006:238) dalam bukunya yang berjudul The Art of Teaching mengemukakan
bahwa : Cooperatif Learning is the term used to describe instructional
24
procedures whereby learners work together in small groups and are rewarded
for their collective accomplishments. Dari pengertian tersebut penulis dapat
mengartikan bahwa Model pembelajaran Cooperative Learning (Teknik
Jigsaw) yaitu suatu model pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam
kelompok kecil dan diberikan penghargaan untuk pemenuhan kebutuhan
mereka.
Sedangkan, Kelly (1999:18) mengungkapkan bahwa, Cooperatif
Learning adalah pengajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil, dimana
siswa bekerjasama untuk menambah atau memperoleh hasil belajar yang
maksimal.
Adapun pengertian pembelajaran Cooperative Learning menurut Anita
Lie (2002:28), yaitu menyatakan bahwa :
Pembelajaran Cooperative Learning adalah salah satu model
pembelajaran yang menitikberatkan pada kerjasama antar siswa dalam
proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Model pembelajaran
cooperative learning ini berfalsafah bahwa manusia adalah mahluk sosial.
Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi
kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama tidak akan ada individu, keluarga,
organisasi atau sekolah dan tanpa kerjasama kehidupan ini akan punah.
Menurut paparan di atas, dapat di jelaskan bahwa model pembelajaran
Cooperative Learning yaitu suatu metode yang mengajak siswa untuk
bekerjasama dan bahu membahu dalam mempelajari suatu pembelajaran
tertentu dengan sesama teman sekelas.
Pembelajaran Cooperative tidak sama dengan sekedar belajar kelompok.
Ada unsur-unsur dasar pembelajaran Cooperative yang membedakannya
dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan
25
prosedur pembelajaran Cooperative dengan benar akan memungkinkan guru
mengelola kelas lebih efektif. Model pembelajaran Cooperative akan dapat
menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu pembelajaran yang bercirikan : (1).
“Memudahkan siswa belajar” sesuatu yang “bermanfaat” seperti fakta,
keterampilan, nilai, konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan sesama; (2)
Pengetahuan, nilai, dan keterampilan diakui oleh mereka yang berkompeten
menilai.
Roger dan David Johnson dalam Agus Suprijono, (2009:58) mengatakan
bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran Cooperative.
Untuk mencapai hasil yang maksimal, ada lima unsur dalam model
pembelajaran Cooperative yang harus diterapkan, diantaranya adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
Saling ketergantungan positif (Positive Interdependence) yakni, sifat
yang menunjukan saling ketergantungan satu terhadap yang lain di
dalam kelompok secara positif.
Tanggung jawab perseorangan (Individual Accountability) yakni,
bahwa setisp individu di dalam kelompok mempunyai tanggung
jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh
kelompok.
Tatap muka (Face to Face) yakni, bahwa setiap kelompok harus
diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi.
Komunikasi antar anggota (Interpersonal Communication) yakni,
dalam berdiskusi atau bekerja sama diperlukan adanya komunikasi
antar anggota.
Evaluasi proses kelompok (Group Processing) merupakan proses
perolehan jawaban permasalahan yang dikerjakan oleh kelompok
secara bersama-sama.
Dari paparan di atas, penulis dapat mengartikan bahwa dalam
pembelajaran Cooperative Learning terdapat empat unsur yang harus
dipahami, diantaranya yaitu : (1) Interaksi Tatap Muka : Para siswa bekerja
dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan empat sampai lima orang. (2)
26
Interdependensi positif : Para siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan
kelompok. (3) Tanggung Jawab Individual : Para siswa harus memperlihatkan
bahwa mereka secara individual telah menguasai materinya. (4) Kemampuankemampuan interpersonal dan kelompok kecil: Para siswa diajari mengenai
sarana-sarana yang efektif untuk bekerjasama dan mendiskusikan seberapa
baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai tujuan mereka.
Dari ungkapan di atas, penulis menjelaskan secara garis besarnya bahwa
Jigsaw merupakan penggabungan dari pembelajaran Cooperative kedalam
suatu konsep, dimana siswa belajar tentang orang terpenting dalam sebuah
cerita yang diciptakan dari riwayat hidupnya. Kedua hal tersebut, merupakan
inti dari metode jigsaw, dimana siswa dibagi menjadi dua kelompok yang
biasanya terdiri dari empat atau lima orang siswa. Jigsaw dijalankan pada
siswa, dengan tambahan kelompok ahli. Guru membagi tugas pada empat atau
lima bagian. Contoh bagian siswa lainnya berbentuk; penulisan riwayat hidup
(biografi), tiap bagian dibuat oleh kelompok, biar mudah dipahami maka
tugasnya harus sederhana. Apapun tugasnya, tiap anggota tim diberikan
pekerjaan dari empat bagian, tapi mereka mengerjakannya tidak sendiri. Semua
siswa diberikan bagian yang sama untuk dikerjakan secara bersama dalam
kelompok ahli. Kegiatan ini memerlukan waktu kurang kebih 30 menit,
tergantung pada tugasnya. Selanjutnya, kelompok ahli kembali pada kelompok
tim dan mereka berdiskusi dengan teman satu kelompoknya. Kemudian tugas
siswa dinilai dan guru memberikan penghargaan pada kelompok dengan nilai
tertinggi.
27
Model
pembelajaran
Cooperative
Learning
(Teknik
Jigsaw)
dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik,
toleransi, menerima keragaman dan mengembangkan keterampilan sosial.
Untuk mencapai hasil belajar itu, model pembelajaran Cooperative Learning
(Teknik Jigsaw) menuntut kerjasama dan interdependensi peserta didik dalam
struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur reward-nya. Struktur tugas
berhubungan bagaimana tugas diorganisir. Struktur tujuan dan reward
mengacu pada derajat kerjasama atau kompetensi yang dibutuhkan untuk
mencapai suatu tujuan.
Pada umumnya model pembelajaran Cooperative Learning (Teknik
Jigsaw) belum dilakukan secara optimal. Ada kekhawatiran bahwa
pembelajaran Cooperative hanya akan mengakibatkan kekacauan di kelas dan
peserta didik tidak belajar jika mereka ditempatkan dalam kelompok. Selain
itu, banyak orang mempunyai kesan negative mengenai kegiatan kerjasama
atau belajar dalam kelompok. Banyak peserta didik juga yang tidak senang bila
disuruh kerja sama atau belajar dengan yang lain. Peserta didik yang tekun
merasa harus bekerja melebihi peserta didik yang lain dalam kelompok mereka,
sementara peserta didik yang kurang mampu merasa rendah diri ditempatkan
dalam satu kelompok dengan peserta didik yang lebih pandai. Peserta didik
yang pandai merasa temannya yang kurang pandai hanya menumpang saja
pada hasil jerih payah mereka. Kesan negatif lainnya adalah ada perasaan waswas pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik atau keunikan
pribadi mereka karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok.
28
Sebenarnya, pembagian kerja yang kurang adil tidak perlu terjadi dalam
kerja kelompok jika guru benar-benar menerapkan prosedur model
pembelajaran
Cooperative. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran
Cooperative dengan benar akan memungkinkan peserta didik lebih aktif.
2. Ciri-Ciri atau Karakteristik Model Pembelajaran Cooperatif Learning
(Teknik Jigsaw)
Setiap model pembelajaran tentunya memiliki ciri atau karakteristik yang
berbeda. Adapaun karakteristik pembelajaran Cooperative Learning (Teknik
Jigsaw) yaitu ditandai oleh : (1) siswa disusun dalam kelompok; (2) bagian
tugas yang berbeda; (3) adanya aturan dalam kelompok; dan (4) memotivasi
siswa dengan penghargaan.
Dari paparan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa kelompok
harus heterogen atau berbeda jenis kelamin, kemampuan akademis, suku, dan
ciri lain. Heterogen dikembangkan
sedikitnya atas tiga alasan. Pertama,
pembelajaran Cooperatif berdasarkan pentingnya interaksi pribadi dan sosial
dalam pembelajaran di sekolah. Salah satu sasaran hasil utamanya yaitu
membuat siswa merasakan lebih baik disekitar diri mereka dan untuk menjadi
lebih menerima orang lain. Kedua, perbedaan materi yang dibagikan guru pada
setiap kelompok. Diharapkan siswa dapat menguasai materi yang disajikan
guru secara keseluruhan. Ketiga, aturan dalam kelompok yaitu tanggung jawab
individu pada dirinya dan tanggung jawab pada kelompok, dorongan dan
dukungan anggota kelompok, untuk membantu teman sekelompok dan
mengajarinya. Terakhir, pembelajaran Cooperatif ditandai oleh suatu sistem
29
penghargaan berbeda. Karena siswa memiliki nilai pribadi dan penghargaan
kelompok.
3. Fungsi Model Pembelajaran Cooperatif Learning (Teknik Jigsaw)
Falsafah yang mendasari model pembelajarn gotong royong dalam
pendidikan adalah falsafah homo homini socius. Berlawanan dengan Teori
Darwin, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelansungan
hidup. Tanpa kerjasama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi, atau
sekolah dan tanpa kerjasama, kehidupan ini akan punah.
Dengan adanya penerapan model pembelajaran Cooperative Learning
(Teknik Jigsaw) dapat membantu siswa menyampaikan informasi belajar
terhadap siswa lainnya. Siswa diharapkan berfikir secara kritis dalam
memahami materi pembelajaran khususnya mata pelajaran IPS, agar mampu
menyampaikan seluruh informasi dengan tepat kepada teman sebayanya. Hal
ini secara tidak langsung mengajarkan siswa agar lebih mampu berkomunikasi
dan bersosialisasi dengan temannya.
Selain itu, penerapan model pembelajaran Cooperative Learning (Teknik
Jigsaw) dapat menumbuhkan motivasi belajar dan dapat melatih siswa untuk
bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan. Tugas yang diberikan bersifat
terstruktur artinya pada saat siswa mengikuti proses belajar, siswa selalu
bertukar informasi secara sistematis dalam menyatukan materi secara utuh,
karena setiap siswa mendapatkan bagian materi yang berbeda.
30
Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa metode pembelajaran
Cooperative Learning dapat digunakan secara efektif pada setiap tingkatan
kelas dan untuk mengajarkan berbagai macam mata pelajaran. Mulai dari
matematika, membaca, menulis, sampai pada ilmu pengetahuan ilmiah, mulai
dari kemampuan dasar sampai pemecahan masalah-masalah yang kompleks.
Lebih dari pada itu, pembelajaran Cooperative Learning juga dapat digunakan
sebagai cara utama dalam mengatur kelas untuk pengajaran.
4. Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperatif Learning (Teknik
Jigsaw)
Pada pelaksanaan penerapan model pembelajaran Cooperative Learning
(Teknik Jigsaw), ada langkah-langkah atau prosedur yang harus dipahami oleh
guru.
Dalam kelompok Jigsaw, para siswa diberi tugas atau teka-teki untuk
dipecahkan, tugas itu dipecah ke dalam topik lebih kecil atau potongan.
Masing-masing anggota, kelompok ditugaskan atau memilih suatu potongan
untuk dipelajari. Kemudian siswa kembali pada kelompoknya. Setelah itu,
anggota melaporkan apa yang mereka sudah pelajari. Kemudian mereka
menguji tentang apa yang telah mereka pelajari dari kelompoknya.
Sementara itu, langkah-langkah pembelajaran Cooperative Learning
(Teknik Jigsaw) menurut Anita Lie, (2002:69) adalah sebagai berikut :
1) Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi
empat bagian.
2) Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan
pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan
pelajaran untuk hari itu. Pengajar bisa menuliskan topik di papan
tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topic
31
3)
4)
5)
6)
7)
8)
tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk
mengaktifkan kemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan
pelajaran yang baru.
Siswa dibagi dalam kelompok berempat.
Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama,
sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kadua.
Demikian seterusnya.
Kemudian, siswa disuruh membaca/mengerjakan bagian mereka
masing-masing.
Setelah selesai, siswa saling berbagi mengenai bagian yang
dibaca/dikerjakan masing-masing. Dalam kegiatan ini, siswa bisa
saling melengkapi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.
Khusus untuk kegiatan membaca, kemudian pengajar membagikan
bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa.
Siswa membaca bagian tersebut.
Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam
bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau
seluruh kelas.
Sebelum pembelajaran di akhiri, Selanjutnya, guru menutup
pembelajaran dengan memberikan review terhadap topik yang telah
dipelajari. Kemudian, guru memberikan kuis kepada siswa, dimana
soal kuis tersebut terkait dengan keseluruhan materi yang diberikan.
Setelah selesai, maka diberikan reward bagi siswa dan kelompok
yang memperoleh nilai tertinggi. Cara yang digunakan dalam
penentuan nilai kelompok adalah dengan cara menghitung nilai ratarata kelompok.
Dari uraian di atas, dapat penulis jelaskankan bahwa dalam teknik jigsaw,
(1) siswa bekerja dalam anggota kelompok yang sama, yaitu empat orang,
dengan latar belakang yang berbeda seperti dalam STAD dan TGT. (2) Para
siswa ditugaskan untuk membaca bab, buku kecil atau materi lain, biasanya
bidang studi sosial, biografi atau materi-materi yang bersifat penjelasan
terperinci lannya. (3) Tiap tim ditugaskan secara acak untuk menjadi “ahli”
dalam aspek tertentu dari tugas membaca tersebut. (4) Setelah membaca
materinya, para ahli dari tim berbeda bertemu untuk mendiskusikan topik yang
sedang mereka bahas, lalu mereka kembali pada timnya untuk mengajarkan
topik mereka itu kepada teman satu timnya. (5) Akhirnya, akan ada kuis atau
32
bentuk penilaian lainnya untuk semua topik. Penghitungan skor dan rekognisi
didasarkan pada kemajuan yang dicapai seperti dalam STAD.
5. Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Cooperatif Learning
(Teknik Jigsaw)
Setiap model pembelajaran tentunya
memiliki
keunggulan dan
kelemahan. Begitu pula dengan model pembelajaran Cooperative Learning
(Teknik Jigsaw), seperti yang diungkapkan Elliot Aronson (2000:44) bahwa
keunggulan dari model pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw)
yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
Kebanyakan guru menemukan bahwa penerapan teknik jigsaw dalam
kegiatan belajar mengajar adalah mudah.
Kebanyakan guru sangat menikmati penerapan teknik jigsaw dalam
kegiatan belajar mengajar.
Teknik jigsaw dapat digunakan bersama strategi belajar mengajar
yang lain.
Teknik jigsaw tetap dapat digunakan sekalipun hanya satu jam
perhari.
Penerapan metode teknik jigsaw tidak mengeluarkan biaya apapun.
Adapun keunggulan metode pembelajaran Cooperative Learning (Teknik
Jigsaw) menurut Slavin dan Karweit (dalam Anita Lie, 2001:52). Keunggulan
metode pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw) yaitu:
1) Meningkatkan kecakapan kelompok maupun individu dalam
memecahkan masalah, meningkatkan komitmen dan menghilangkan
prasangka buruk terhadap teman sebaya.
2) Menciptakan suasana belajar mengajar siswa yang aktif dan kreatif
serta meningkatkan keakraban.
3) Memberikan pengaruh positif dalam suasana akademik dan tujuan
afektif.
4) Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat kembali mata
pelajaran (berkurangnya belajar hapalan)
5) Meningkatkan motivasi belajar siswa.
33
Dari kedua paparan di atas, dapat di simpulkan bahwa dengan
menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw) ini,
banyak memiliki manfaat bagi siswa karena metode ini menitikberatkan pada
belajar kelompok, sehingga memberikan pengaruh positif baik dalam
meningkatkan komunikasi dan kemampuan siswa secara aktif.
Dari pernyataan di atas, dapat penulis artikan bahwa apabila metode ini
tidak dirancang dengan baik dan benar dapat memicu munculnya “pengendara
bebas”, atau para pembonceng, dimana sebagian anggota kelompok melakukan
semua atau sebagian besar dari seluruh pekerjaan (dan pembelajaran)
Sementara yang lainnya hanya tinggal mengendarainya. Masalah seperti ini
disebut sebagai difusi tanggung jawab karena dapat menjadi penghalang bagi
terciptanya pengaruh pencapaian prestasi dari pembelajaran Cooperatif.
Kelemahan lain dalam pembelajaran Cooperative Learning (Teknik
Jigsaw) yaitu dalam hal pengelompokan heterogen adalah keberatan dari pihak
siswa yang berkemampuan akademis tinggi (atau orang tua mereka pada
tingkat sekolah dasar). Siswa dari kelompok ini bisa merasa rugi dan
dimanfaatkan tanpa bisa mengambil manfaat dari kegiatan belajar Cooperative
Learning (Teknik Jigsaw), karena rekan-rekan mereka dalam kelompok tidak
lebih pandai dari mereka dan tidak jarang protes ini juga disampaikan kepada
guru baik secara langsung maupun tidak. Kepada siswa atau orang tua
semacam itu perlu dijelaskan bahwa sebenarnya siswa dengan kemampuan
akademis tinggi pun akan menarik manfaat secara kognitif maupun afektif
34
dalam kegiatan belajar Cooperative Learning (Teknik Jigsaw) bersama siswa
lain yang berkemampuan rendah.
Mengajar adalah guru yang terbaik, dengan mengajarkan apa yang
seseorang baru pelajari, dia akan lebih bisa menguasai atau menginternalisasi
pengetahuan dan keterampilan barunya. Secara afektif, siswa berkemampuan
akademis tinggi juga perlu melatih diri untuk bisa bekerja sama dan ini akan
sangat bermanfaat.
Dalam pengelompokan bisa sering diubah (untuk setiap kegiatan) atau
dibuat agak permanen, misalnya tetap dalam kelompok yang sama dalam satu
semester. Tapi masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Jika
sering diubah, siswa akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk
berinteraksi dengan siswa-siswa yang lainnya. Namun, membentuk kelompokkelompok baru ini akan memakan waktu, baik itu waktu persiapan maupun
waktu di kelas.
Kelemahan dari model pembelajaran ini muncul di saat metode ini akan
diterapkan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, hendaknya guru
merencanakannya terlebih dahulu dan mempersiapkan apa
yang hendak
dipergunakan dalam menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning
(Teknik Jigsaw) ini. Selain itu, guru harus mampu mengatur waktu dengan
baik karena model pembelajaran ini menyita banyak waktu.
35
C. Tinjauan Tentang Motivasi
1. Pengertian Motivasi
Motivasi berpangkal dari kata motif, yang dapat diartikan sebagai daya
penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas
tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Sejumlah penelitian menunjukan bahwa
hasil belajar pada umumnya meningkat jika anak memiliki motivasi yang kuat
untuk belajar.
Motivasi merupakan tenaga pendorong bagi seseorang agar memiliki
energi atau kekuatan melakukan sesuatu dengan penuh semangat. Motivasi
sebagai suatu kekuatan yang mampu mengubah energi dalam diri seseorang
dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
Oemar Hamalik dalam Abdurrahman (2009:114) mengemukakan bahwa:
Motivasi merupakan suatu perubahan energi dalam suatu perubahan
energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif
(perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan). Perubahan energi dalam
diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik.
Karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari apa yang
dilakukannya, maka seseorang memiliki motivasi yang kuat untuk
mencapainya dengan segala upaya yang dapat dia lakukan untuk
mencapainya.
Sementara
itu,
motivasi
menurut
Hamzah
B.
Uno
(2006:1)
mengungkapkan bahwa, motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun
dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Sedangkan, Djamarah dalam Abdurrahman (2009:115) menyatakan
bahwa:
36
Motivasi terkait erat dengan kebutuhan. Semakin besar kebutuhan
seseorang akan sesuatu yang ingin ia capai, maka akan semakin kuat
motivasi untuk mencapainya. Kebutuhan yang kuat terhadap sesuatu
akan mendorong seseorang untuk mencapainya dengan sekuat tenaga.
Hanya dengan motivasilah anak didik dapat tergerak hatinya untuk
belajar bersama teman-teman yang lain.
Selain ketiga pendapat di atas, motivasi menurut Mc Donald dalam
Pupuh Fathurrohman (2007:19) berpendapat bahwa, motivasi adalah perubahan
energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya felling dan
didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Dari paparan di atas, penulis dapat mengartikan motivasi sebagai
dorongan mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota
masyarakat. Selain itu, motivasi juga dapat diartikan sebagai proses untuk
mencoba mempengaruhi orang atau orang-orang yang dipimpinnya agar
melakukan pekerjaan yang diinginkan, sesuai dengan tujuan tertentu yang
ditetapkan lebih dahulu.
Menurut Abdurrahman (2009:118), agar motivasi belajar dapat tumbuh
dengan baik maka guru harus berusaha :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
Merancang atau menyiapkan bahan ajar yang menarik.
Mengkondisikan proses belajar aktif.
Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang menyenangkan.
Mengupayakan pemenuhan kebutuhan siswa di dalam belajar
(misalnya kebutuhan untuk dihargai, tidak merasa tertekan dan
sebagainya).
Meyakinkan siswa bahwa mereka mampu mencapai suatu prestasi.
Mengoreksi sesegera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera
mungkin pula memberitahukan hasilnya kepada siswa.
Memberitahukan nilai dari pelajaran yang sedang dipelajari siswa
dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata sehari-hari.
37
2. Jenis-Jenis Motivasi
Dalam kegiatan belajar, motivasi tentu sangat diperlukan sebab apabila
seseorang yang tidak memiliki motivasi dalam belajar, maka tidak akan
mungkin bisa melakukan aktivitas belajar. Karena motivasi dapat dikatakan
sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan,
menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga
diharapkan tujuan yang ada dapat tercapai.
Syaiful Bahri jamarah (2008:149), mengemukakan dua jenis motivasi
yaitu sebagai berikut :
a. Motivasi Instrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau
berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri
individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. motivasi ini
timbul dari dalam diri individu itu sendiri tanpa ada paksaan atau
dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan dirinya sendiri.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik merupakan kebalikan dari motivasi instrinsik.
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi
karena adanya perangsang dari luar. Jenis motivasi ini timbul akibat
pengaruh dari luar diri individu, karena adanya ajakan, suruhan, atau
paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau
melakukan sesuatu atau belajar. Motivasi ekstrinsik bukan berarti
motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Guru
yang berhasil mengajar adalah guru yang pandai membangkitkan
minat anak didik dalam belajar, dengan memanfaatkan motivasi
instrinsik dalam berbagai bentuknya. Motivasi ekstrinsik tidak selalu
berdampak buruk sehingga sering digunakan karena bahan pelajaran
kurang menarik perhatian anak didik.
Dengan demikian, baik motivasi ekstrinsik yang positif maupun motivasi
ekstrinsik yang negatif, sama-sama mempengaruhi sikap dan prilaku anak
didik. Diakui angka, ijazah, pujian, hadiah, dan sebagainya berpengaruh positif
dengan merangsang anak didik untuk lebih giat belajar.sedangkan ejekan,
38
celaan, hukuman yang menghina, sindiran kasar dan sebagainya berpengaruh
negatif.
Sementara itu, Nana Syaodih (2007:63) memaparkan tiga macam
motivasi menurut sifatnya yaitu :
1) Motivasi takut atau fear motivation : individu melakukan suatu
perbuatan karena takut.
2) Motivasi Insentif atau incentive motivation, individu melakukan
suatu perbuatan untuk mendapatkan sesuatu insentif atau hadiah.
3) Motivasi sikap atau attitude motivation atau self motivation,
motivasi ini muncul dari dalam diri.
Dari paparan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam
melakukan aktivitas belajar diharapkan didorong oleh motivasi instrinsik,
karena hal itu menjadi pertanda telah tumbuhnya kesadaran dari dalam diri
siswa untuk belajar secara sungguh-sungguh. Namun demikian, tidak berarti
bahwa motivasi ekstrinsik tidak memiliki posisi yang penting bagi para siswa,
karena hasil-hasil penelitian juga banyak menunjukan bahwa pemberian
motivasi menjadi faktor yang memberi pengaruh besar bagi pencapaian hasil
belajar atau keberhasilan seseorang.
3. Prinsip-Prinsip Motivasi Belajar
Aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan unsur jiwa dan
raga. Kegiatan belajar tidak akan bisa dilakukan tanpa ada dorongan yang kuat
baik dari dalam maupun dari luar sebagai upaya lain yang tidak kalah
pentingnya. Faktor yang paling penting dalam mempengaruhi kegiatan belajar
disebut dengan motivasi. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi
dan sebaliknya tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar
39
peranan motivasi lebih optimal, maka kita harus mengetahui prinsip-prinsip
motivasi dalam aktivitas belajar.
Ada beberapa prinsip motivasi yang di ungkapkan oleh Syaiful Bahri
Djamarah dalam bukunya yang berjudul Psikologi Belajar (2008:152-153),
diantaranya yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
Motivasi sebagai penggerak yang mendorong aktivitas belajar
Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang
mendorongnya. Motivasilah sebagai dasar penggeraknya yang
mendorong seseorang untuk belajar. Bila seseorang sudah
termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas belajar
dalam rentang waktu tertentu.
Motivasi instrinsik lebih utama dari motivasi ekstrinsik dalam belajar
Dalam kegiatan pembelajaran guru lebih banyak memutuskan
memberi motivasi ekstrinsik pada setiap anak. Anak didik yang
malas belajar sangat berpotensi untuk diberikan motivasi ekstrinsik
oleh guru supaya dia rajin belajar. Akan tetapi motivasi ekstrinsik
memberikan kecenderungan ketergantungan anak didik terhadap
sesuatu di luar dirinya. Oleh sebab itu, motivasi instrinsik lebih
penting dalam belajar.
Motivasi berupa pujian lebih baik dari pada hukuman.
Meski hukuman tetap diberlakukan dalam memicu semangat belajar
anak didik, tetapi masih baik penghargaan berupa pujian. Karena
setiap orang senang dihargai dan tidak suka dihukum dalam apa pun
juga. Memuji orang lain berarti memberikan penghargaan atas
prestasi belajarnya.
Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar
Kebutuhan yang tidak bisa dihindari dari anak didik yaitu keinginan
untuk menguasai sejumlah ilmu pengetahuan. Sehingga dia
melakukan kegiatan belajar karena kalau tidak belajar dia tidak bisa
memenuhi kebutuhannya untuk mendapat ilmu pengetahuan. Guru
yang berpengalaman memanfaatkan kebutuhan anak didik akan
memancing semangat belajarnya agar menjadi anak yang gemar
belajar.
Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar
Anak didik yang memiliki motivasi dalam belajar akan selalu yakin
dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Karena dia
yakin bahwa belajar bukanlah kegiatan yang sia-sia dan tidak hanya
berguna sekarang tapi juga berguna di masa yang akan datang.
Motivasi melahirkan motivasi belajar
Dari berbagai penelitian bahwa motivasi mempengaruhi prestasi
belajar siswa. Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator
40
baik buruknya prestasi belajar anak didik. Apabila anak didik
menyenangi mata pelajaran tertentu maka ia akan senang hati untuk
mempelajarinya dan melaksanakan setiap tugas yang diberikan oleh
guru.
Setelah diuraikan di atas, menurut Abdurrahman dalam bukunya yang
berjudul Belajar dan Pembelajaran (2009:117), mengemukakan bahwa
penerapan prinsip-prinsip motivasi dalam proses pembelajaran akan berjalan
dengan baik, bilamana guru memahami beberapa aspek yang berkenaan dengan
dorongan psikologis sebagai individu dalam diri siswa sebagai berikut:
1) Setiap individu tidak hanya didorong oleh pemenuhan aspek-aspek
biologis, sosial dan emosional, akan tetapi individu perlu juga
dorongan untuk mencapai sesuatu yang lebih yang ia miliki saat ini.
2) Pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan
yang mendorong terjadinya peningkatan usaha.
3) Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian.
4) Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung
motivasi belajar.
5) Motivasi bertambah bila peserta didik memiliki alasan untuk percaya
bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi.
6) Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh
terhadap motivasi dan prilaku.
7) Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi
kelas, memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin
mendapat hadiah dan bukan karena memang ingin belajar.
8) Kompetensi dan insentif dalam waktu tertentu dapat meningkatkan
motivasi.
9) Sikap yang baik untuk belajar dapat dicapai oleh kebanyakan
individu dalam suasana belajar yang memuaskan.
10) Proses belajar dan kegiatan yang dikaitkan kepada minat peserta
didik saat itu dapat mempertinggi motivasi.
4. Peranan Motivasi dalam Belajar
Dalam kegiatan belajar pasti ditemukan anak didik yang malas
berpartisipasi dalam belajar. Sedikit pun tidak tergerak hatinya untuk
41
mengikuti untuk mengikuti pelajaran dengan cara mendengarkan penjelasan
guru dan mengerjakan tugas-tugas guru yang diberikan.
Ketiadaan minat anak terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal
penyebab kenapa anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa yang telah
disampaikan oleh guru. Hal itu sebagai pertanda bahwa anak didik tidak
memiliki motivasi untuk belajar. Sehingga guru harus memberi suntikan dalam
bentuk motivasi ekstrinsik untuk membantu anak keluar dari kesulitan belajar.
Apabila motivasi ekstrinsik dapat membantu anak didik, maka motivasi dapat
diperankan dengan baik oleh guru. Peranan yang dimainkan oleh guru dengan
mengandalkan fungsi-fungsi motivasi merupakan langkah yang akurat untuk
menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi anak didik.
Hamzah B. Uno (2007: 27) mengemukakan peranan/fungsi motivasi
dalam belajar, yakni : (a) Menentukan hal-hal yang dapat dijadikan penguat
belajar. (b) Memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai. (c) Menentukan
ragam kendali terhadap rangsangan belajar. (d) Menentukan ketekunan belajar.
Adapun peranan motivasi menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008:157),
yaitu sebagai berikut :
a.
b.
Motivasi sebagai pendorong perbuatan
Pada mulanya anak didik tidak memiliki hasrat untuk belajar, tetapi
karena ada sesuatu yang dicari munculah minatnya untuk belajar.
Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik
untuk belajar dan melakukan suatu perbuatan dalam rangka mencari
tahu.
Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik ini
merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung yang kemudian
terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik. Dalam hal ini anak didik
melakukan aktivitas belajar dengan segenap jiwa dan raga dalam
bentuk perbuatan dan akal pikiran untuk mencoba membedah nilai
42
c.
yang terpatri dalam wacana, dalil, prinsip dan hukum, sehingga anak
didik mengerti betul isi yang dikandungnya.
Motivasi sebagai pengarah perbuatan
Dalam hal ini anak didik yang mempunyai motivasi dapat
menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana
perbuatan yang tidak boleh dilakukan. Dengan penuh konsentrasi
anak didik belajar agar tujuannya mencari sesuatu dapat tercapai dan
segala sesuatu yang dapat mengganggu pikirannya diusahakan
disingkirkan jauh-jauh.
Sedangkan peranan/fungsi motivasi menurut Oemar Hamalik dalam
Sobry Sutikno (2007:20), menyebutkan ada tiga fungsi motivasi, antara lain :
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau
motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan
langkah penggerak dari setiap kegiatan yang dikerjakan.
2) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak
dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan
kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang
harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan
menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan
tersebut.
Dari kedua pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa
motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam melakukan kegiatan
termasuk belajar. Suatu perbuatan atau kegiatan yang didorong dengan
motivasi lemah, akan dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh, tidak terarah
dan kemungkinan besar tidak akan membawa hasil. Sebaliknya, apabila
motivasinya besar atau kuat, maka akan dilakukan dengan sungguh-sungguh,
terarah dan penuh semangat, sehingga kemungkinan akan berhasil lebih besar.
Oleh sebab itu, motivasi merupakan suatu pendorong, pengarah, dan sekaligus
sebagai penggerak prilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan.
43
5. Bentuk-Bentuk Motivasi dalam Belajar
Dalam proses pembelajaran seorang guru biasanya memanfaatkan
motivasi ekstrinsik untuk meningkatkan minat anak didik, agar lebih bergairah
dalam belajar meski kadang guru memanfaatkannya dengan tidak tepat.
Sehingga kesalahan dalam memberikan motivasi akan merugikan prestasi
belajar anak didik dalam kondisi tertentu. Oleh sebab itu, pemahaman
mengenai psikologis anak didik sangat diperlukan guna mengetahui gejala apa
yang sedang dihadapi anak didik sehingga gairah belajarnya menurun.
Sementara itu, bentuk-bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam
rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, menurut Syaiful Bahri
Djamarah (2008:158), yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
Memberi Angka
Angka dimaksud adalah simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar
anak didik. Angka yang diberikan kepada siswa biasanya bervariasi
sesuai dengan hasil ulangan yang mereka peroleh dari hasil penilaian
guru, bukan karena belas kasihan.
Hadiah
Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai
penghargaan atau kenang-kenangan. Dalam pendidikan hadiah dapat
diberikan kepada anak didik yang berprestasi tinggi.
Kompetisi
Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi
untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar.
Ego-Involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada peserta didik agar merasakan
pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga
anak belajar dengan keras.
Memberi Ulangan
Ulangan bisa dijadikan alat motivasi. Anak didik biasanya
mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi
ulangan. Oleh karena itu, ulangan akan menjadi alat motivasi bila
dilakukan secara akurat dengan teknik dan strategi yang sistematis
dan terencana.
44
f.
g.
h.
i.
j.
k.
Mengetahui Hasil
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi .dengan
mengetahui hasil anak didik terdorong untuk belajar lebih giat.
Apalagi kalau hasil belajarnya mengalami kemajuan, anak didik
akan terdorong untuk mempertahankannya atau bahkan
meningkatkannya.
Pujian
Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan
sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang
positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik.
Hukuman
Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi apabila
dilakukan dengan tepat dan bijak merupakan alat motivasi yang baik
dan efektif.
Hasrat untuk Belajar
Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud
untuk belajar. Hasrat untuk belajar adalah gejala psikologis yang
tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan kebutuhan anak
didik untuk mengetahui sesuatu dari objek yang akan dipelajarinya.
Minat
Minat dalah kecenderungan untuk memperhatikan dan mengenang
beberapa aktivitas. Dengan kata lain minat merupakan suatu rasa
lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa
ada yang menyuruh.
Tujuan yang diakui
Tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan
alat motivasi yang sangat penting, sebab dengan memahami tujuan
yang harus dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan
menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk belajar terus.
6. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar
Motivasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. Ada
beberapa upaya atau teknik-teknik motivasi dalam belajar yang di kemukakan
Hamzah B. Uno (2007:34) yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
Pernyataan penghargaan secara verbal.
Menggunakan nilai ulangan sebagai pemacu keberhasilan.
Menimbulkan rasa ingin tahu.
Memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa.
Menjadikan tahap dini dalam belajar mudah bagi siswa.
Menggunakan materi yang dikenal siswa sebagai contoh dalam
belajar.
45
g.
Gunakan kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu
konsep dan prinsipyang telah dipahami.
h. Menuntut siswa untuk menggunakan hal-hal yang telah dipelajari
sebelumnya.
i. Menggunakan simulasi dan permainan.
j. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan
kemahirannya di depan umum.
k. Mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dan keterlibatan siswa
dalam kegiatan belajar.
l. Memahami iklim social dalam sekolah.
m. Memanfaatkan kewibawaan guru secara tepat.
n. Memperpadukan motif-motif yang kuat.
o. Memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai.
p. Merumuskan tujuan-tujuan sementara.
q. Memberitahukan hasil kerja yang telah dicapai.
r. Membuat suasana persaingan yang sehat diantara para siswa.
s. Mengembangkan persaingan dengan diri sendiri.
t. Memberikan contoh yang positif.
Sedangkan, Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno dalam bukunya
yang berjudul Strategi Belajar Mengajar (2007:20) menyebutkan beberapa
strategi atau cara menumbuhkan motivasi belajar siswa, yaitu sebagai berikut :
1) Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
2) Hadiah : berikan hadiah bagi siswa yang berprestasi.
3) Saingan / Kompetisi : Guru berusaha mengadakan persaingan di
antara siswa untuk meningkatkan prestasinya.
4) Pujian bagi siswa yang berprestasi, yang sifatnya membangun.
5) Hukuman yang diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat
proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan
agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu
motivasi belajarnya.
6) Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar.
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal kepada
peserta didik.
7) Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
8) Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secar individual
maupun komunal (kelompok).
9) Menggunakan metode yang bervariasi.
10) Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
46
Selain kedua pendapat di atas, De Decce dan Grawford dalam Syaiful
Bahri Djamarah (2008:169) mengemukakan empat fungsi guru sebagai
pengajar yang berhubungan dengan cara pemeliharaan dan peningkatan
motivasi belajar anak didik, antara lain sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
Menggairahkan Anak Didik
Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas guru harus berusaha
menghindari kegiatan atau hal-hal yang monoton dan membosankan.
Ia harus selalu memberikan kepada anak didik cukup banyak hal-hal
yang perlu difikirkan dan dilakukan. Oleh sebab itu, guru harus
mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai disposisi awal setiap
anak didiknya.
Memberikan Harapan Realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan anak didik yang realistis
dan memodifikasi harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis.
Harapan yang tidak realistis adalah kebohongan dan itu yang tidak
disenangi oleh anak didik. Jadi pada intinya, jangan coba-coba
menjual harapan munafik bila tidak ingin dirugikan oleh anak didik.
Memberikan Insentif
Apabila dalam pembelajaran anak didik mengalami keberhasilan,
maka guru diharapkan memberikan hadiah kepada anak didik
(berupa pujian, angka yang baik dan sebagainya) atas
keberhasilannya. Sehingga anak didik terdorong untuk melakukan
usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Mengarahkan Prilaku Anak Didik
Dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan respons terhadap
anak didik yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan belajar di
kelas anak didik yang diam, yang membuat keributan, yang
berbicara semaunya, dan sebagainya harus diberikan teguran secara
arif dan bijaksana.
Dengan demikian, penulis beranggapan bahwa peran guru sangat penting
di dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa. Menyadari bahwa motivasi
sangat terkait erat dengan kebutuhan, maka tugas guru adalah meyakinkan para
siswa agar tujuan belajar yang ingin diwujudkan menjadi suatu kebutuhan bagi
setiap siswa. Guru hendaknya dapat meyakinkan siswa bahwa hasil belajar
yang baik adalah suatu kebutuhan guna mencapai sukses yang dicita-citakan.
47
Bilamana guru dapat merubah tujuan-tujuan belajar ini menjadi kebutuhan,
maka siswa akan lebih mudah untuk terdorong melakukan aktifitas belajar.
D. Tinjauan Tentang Prestasi
1. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam
mempelajari materi pelajaran di sekolah, yang dinyatakan dengan nilai yang
diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu. Prestasi
belajar merupakan indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan dan kecakapan
yang dikuasai siswa selama mengikuti proses belajar. Pengertian proses yaitu
adanya interaksi antara individu dan kebiasaan belajar tertentu sehingga
menimbulkan perubahan tingkah laku dan kebiasaan belajar yang baik.
Menurut Abdul Azis Wahab (dalam Isni Cahya Patmawati, 2008:43)
menyatakan bahwa prestasi belajar secara kualitatif tinggi apabila :
a.
b.
c.
Dilihat dari segi kognitif melahirkan kemampuan membentuk
konsep sendiri dan kemampuan menilai konsep.
Dilihat dari segi afektif yaitu nilai dan moral yang telah dipelajari
atau dilatihkan dan mempribadi dalam diri siswa sebagai keyakinan
atau prinsip yang kokoh.
Dilihat dari segi psikomotor, keterampilan yang dibinakan telah
terkuasai secara penuh dan mampu menciptakan keterampilan baru
sesuai dengan dirinya atau sesuai dengan penemuan baru.
Sedangkan itu, Surya Brata (1997:45) mengemukakan pengertian serta
karakteristik prestasi belajar sebagai berikut :
a.
b.
Prestasi belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang dapat
diukur, atau mengukur. perubahan tingkah laku tersebut dapat
digunakan tes prestasi belajar.
Prestasi belajar menunjukan pada individu sebagai pelaku.
48
c.
d.
Prestasi belajar dapat di evaluasi tinggi rendahnya, baik berdasarkan
atas kriteria yang diterapkan terlebih dahulu atau yang ditetapkan
menurut standar yang dicapai oleh kelompok.
Prestasi belajar menunjukan kepada hasil dari kegiatan yang
dilakukan secara sengaja.
Prestasi belajar merupakan indikator berhasil tidaknya siswa dalam
proses belajar. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, indikator keberhasilan
siswa di sekolah ditentukan melalui ujian semester atau ujian nasional. Hasil
tes tersebut disajikan dalam bentuk angka, huruf maupun simbol pada tiap-tiap
periode tertentu. Misalnya, dalam kurun satu semester atau dalam kurun 1
tahun.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Belajar dapat dilaksanakan dimana pun dan dalam proses belajar selalu
ada faktor yang mempengaruhinya. Sebagai suatu proses kegiatan belajar
terwujud akibat adanya masukan (input) yang akan diproses, dan hasil dari
proses tersebut yaitu berupa keluaran (out put). Berhasil atau tidaknya proses
belajar tergantung pada faktor-faktor untuk mempengaruhinya.
Demikian juga yang di ungkapkan Noehi Nasution dkk dalam Syaiful
Bahri Djamarah (2008:175), yang memandang bahwa :
Belajar bukanlah suatu aktivitas yang berdiri sendiri. Karena ada unsurunsur lain yang ikut terlibat langsung di dalamnya, yaitu raw input,
learning teaching process, output, invironmental input, dan instrumental
input.
49
Dari ungkapan tersebut dapat di gambarkan seperti berikut :
ENVIRONMENTAL
INPUT
RAW INPUT
LEARNING TEACHING
PROCESS
OUT PUT
INSTRUMENTAL INPUT
(Syaiful Bahri Djamarah, 2008)
Dalam gambaran di atas, dapat penulis jelaskan bahwa masukan mentah
(raw input) merupakan bahan pengalaman belajar tertentu, dalam proses
belajar mengajar (learning teaching process) dengan harapan dapat berubah
menjadi keluaran (output) dengan kualifikasi tertentu. Dalam proses belajar itu
ikut juga berpengaruh sejumlah faktor lingkungan, yang merupakan masukan
dari lingkungan (environmental input) dan sejumlah faktor instrumental
(instrumental input) yang dirancang untuk mencapai keluaran yang di
harapkan, untuk menghasilkan perubahan tingkah laku sesuai dengan hasil
belajar yang telah dicapai. Prestasi belajar yang telah dicapai dengan seseorang
individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang saling
mempengaruhi. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar bisa berasal dari dalam diri individu atau
berasal dari luar individu itu sendiri.
50
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang dicapai
siswa tidak hanya ditentukan dengan tinggi rendahnya tingkat kecerdasan siswa
yang bersangkutan, sebab banyak faktor lain di luar kecerdasan yang juga turut
mempengaruhi prestasi belajar siswa, yang salah satunya yaitu keaktifan dan
motivasi belajar siswa.
E. Hubungan Model Pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw)
dengan Motivasi dan Prestasi Belajar
Dalam penerapan model pembelajaran Cooperative Learning (Teknik
Jigsaw), dapat menimbulkan sikap keterbukaan dalam proses belajar mengajar.
Pemberian motivasi kepada siswa di awal pembelajaran akan memberikan
pengalaman yang bermakna.
Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Anita Lie (2004:47), bahwa :
Penerapan model pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw)
dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa dan selain itu juga siswa
dapat belajar memahami karakter orang lain melalui kelompok jigsaw
dan kelompok ahli.
Dari pengertian di
atas, penulis
menyimpulkan bahwa model
pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw), merupakan suatu model
pembelajaran yang menekankan hubungan antara individu-individu lainnya
dalam suatu kegiatan pembelajaran. Sehingga, dapat memotivasi siswa untuk
bekerjasama dalam memecahkan masalah, meningkatkan komitmen dan
menghilangkan prasangka buruk terhadap teman sebaya. Dengan demikian,
proses belajar siswa akan mempengaruhi tingkah laku atau perbuatan
berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya.
51
Siswa yang kuat dalam inteligensi interpersonal biasanya sangat mudah
bekerjasama dan berkomunikasi dengan orang lain. Hubungan dengan orang
lain bagi mereka sangat menyenangkan dan sepertinya keluar begitu saja secara
otomatis. Misalnya, ia sebagai orang baru dalam suatu kelas atau sekolah, ia
dengan cepat dapat masuk ke dalam kelompok, ia mudah berkomunikasi dan
mengumpulkan teman lain. Apabila dilepas seorang diri, ia akan dengan cepat
mencari orang lain, dan lebih suka mengadakan belajar kelompok.
Dalam pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw), siswa
dituntut untuk bekerjasama dalam menguasai materi yang diberikan guru.
Sehingga, siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain.
Dalam interaksi ini, siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan
mereka untuk mencintai proses belajar.
Banyak penelitian yang dilakukan terpisah oleh orang-orang yang
berbeda dalam konteks yang berlainan mengenai penggunaan model
pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw). Dari data tersebut
menunjukan bahwa, suasana belajar Cooperative Learning (Teknik Jigsaw)
menghasilkan prestasi yang lebih tinggi, hubungan yang lebih positif, dan
penyesuaian psikologis yang lebih baik dari pada suasana belajar yang penuh
dengan persaingan dan memisah-misahkan siswa (Johnson & Johnson dalam
Anita lie, 2002:7).
52
Selain pendapat di atas, Slavin, DeVries, dan Hulten (2008:36)
menemukan bahwa :
Para siswa dalam kelompok kooperatif yang berhasil meraih prestasi
membuktikan status sosial mereka di dalam kelas, sedangkan di dalam
kelas-kelas tradisional siswa-siswa seperti ini kehilangan status.
Dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa dengan penerapan
model
pembelajaran
Cooperative
Learning
(Teknik
Jigsaw)
dapat
menimbulkan sikap keterbukaan antar siswa dalam proses belajar mengajar.
Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi
belajar anak didik. Oleh sebab itu, Pemberian motivasi kepada siswa dalam
kegiatan kelompok dapat menimbulkan semangat belajar sehingga siswa
menjadi lebih aktif dan prestasi belajar pun meningkat.
F. Pembelajaran
IPS
Pokok
Bahasan
Perkembangan
Teknologi
Menggunakan Model Pembelajaran Cooperatif Learning (Teknik Jigsaw)
Dalam kurikulum 2006 dikemukakan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS) yaitu salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB
sampai SMP/MTs/SMPLB yang mengkaji seperangkat isu sosial. Pada jenjang
SD/MI, mata pelajaran IPS memuat materi geogerafi, sejarah, sosiologi dan
ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat
menjadi warga Negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab,
serta warga dunia yang cinta damai. IPS bertujuan untuk mengembangkan
logika, kemampuan berfikir dan analitis peserta didik. (BSNP, 2007:7)
53
Dalam suatu pembelajaran diperlukan adanya suatu metode untuk
mencapai tujuan yang diharapkan, salah satunya dengan menggunakan metode
pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw). Model pembelajaran ini
dapat digunakan pada semua mata pelajaran termasuk IPS pada pokok bahasan
perkembangan teknologi.
Teknologi adalah pengembangan dan penggunaan alat, mesin, bahan,
atau proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. (Tim Bina
IPS, 2008:133). Ada bermacam-macam teknologi yang diciptakan manusia,
diantaranya teknologi dibidang produksi, transfortasi, dan komunikasi.
IPS merupakan materi hapalan yang harus dipahami siswa. Sementara,
metode pembelajaran yang digunakan guru membuat siswa jenuh dan merasa
bosan, yang akhirnya siswa kurang aktif dan tidak memiliki motivasi untuk
mengikuti proses pembelajaran.
Pembelajaran
IPS
dengan
menggunakan
model
pembelajaran
Cooperative Learning (Teknik Jigsaw), diharapkan dapat membantu siswa
dalam meningkatkan prestasi belajar melalui belajar kelompok. Sehingga,
siswa dapat saling bertukar pendapat untuk memecahkan permasalahan yang
dihadapinya melalui kerjasama.
Peranan guru dalam pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw) sebagai motivator dan
fasilitator. Sebagai motivator, guru memberikan dorongan agar siswa mau
belajar secara kelompok. Sebagai fasilitator, guru menjadi tempat bertanya
54
apabila siswa menemukan kesulitan dan menyediakan fasilitas yang
dibutuhkan siswa.
Pembelajaran Cooperative Learning (Teknik Jigsaw) sebagai suatu
model pembelajaran yang kreatif dan inovatif merupakan salah satu solusi
yang efektif. Model pembelajaran ini mendukung siswa dalam belajar, dimana
kerja kelompok dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk menggunakan
keterampilan bertanya, membahas suatu masalah, memotivasi siswa yang
kurang aktif, dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan,
mengembangkan kepeminpinan berdiskusi dan kemampuan berinteraksi
dengan teman sebaya.
Download