Asuhan Nutrisi dan Tumbuh Kembang

advertisement
BAB I
ILUSTRASI KASUS
Identitas Pasien :
Nama
: An. MOP
Jenis kelamin
: Laki- laki
Usia
: 1 tahun 5 bulan
Alamat
: Cempaka Putih timur, Jakarta
Caretaker
: Ibu
Kebangsaan
: Indonesia
Agama
: Islam
Admisi IGD
: 31 Maret 2014
Tanggal Periksa
: 4 april 2014
Anamnesis (alloanamnesis) : ibu dan ayah pasien
Keluhan Utama
Pasien mengeluh BAB cair sejak 3 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
24 hari sebelum masuk rumah sakit, pukul 20.00 WIB pasien mengeluh demam, tidak terlalu
tinggi (ibu pasien tidak mengukur suhu), batuk, pilek, diare disangkal. Saat itu juga ibu
pasien memberikan vitamin. Demam seketika itu langsung turun.
23 hari sebelum masuk rumah sakit, pada pagi hari pasien mengeluh ruam-ruam merah
diseluruh tubuhnya, bintik-bintik merah lebih banyak didaerah pipi, perut dan punggung. Saat
itu tidak ada demam, batuk, pilek, mata merah, dan diare. Bintik-bintik tidak terasa gatal.
BAK normal seperti biasa. Pasien dibawa ke Puskesmas dan diberi obat antivirus (acyclovir).
21 hari sebelum masuk rumah sakit, bintik-bintik di tubuh hilang.
19 hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh batuk-batuk, pilek, dahak tidak dapat
keluar, disertai dengan badan yang demam dan tidak terlalu tinggi. Pasien dibawa kembali ke
puskesmas dan diberi obat ambroxol, puyer, dan penurun panas. Keseesokan harinya, gejala
batuk, pilek dan demam membaik.
17 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh mata merah disertai dengan belekan,
badan kembali demam yang tidak tinggi. Batuk, pilek disangkal. BAB dan BAK masih
seperti normal. Makan dan minum tidak berkurang. Pasien dibawa ke puskesmas dan diberi
obat tetes mata. 2 hari kemudian gejala membaik dan demam pun turun.
12 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh demam, dengan suhu yang tidak tinggi,
disertai batuk-batuk (dahak tidak bisa keluar), dan pilek. Disetiap makan pasien serasa seperti
ingin memuntahkan. BAB pasien agak lembek, disertai dengan adanya “kecepirit” yang
berlangsung hingga 5-6x/ hari. Warna dari “kecepirit” hitam kekuningan,kurang lebih
sebanyak ½ sendok teh,dengan bau yang tidak enak. Pasien diberi obat oralit sachet oleh ibu
pasien. Keesokan harinya gejala pun membaik.
10 hari sebelum masuk rumah sakit muncul ruam-ruam merah disekujur tubuhnya ketika pagi
hari. Tidak ada gatal. Batuk, pilek,demam, mata merah disangkal. Pasien diberikan jamu oleh
nenek pasien. BAB sudah tidak lembek tetapi berwarna kuning kehitaman. Sampai keesokan
harinya gejala masih tidak membaik. Pasien tidak dibawa ke puskesmas lagi dikarenakan ibu
pasien tidak menemukan ada tanda-tanda demam dan batuk pilek.
3 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh demam tinggi pada siang hari. Mata
merah, batuk, pilek, disangkal. Pasien diberi obat panadol oleh ibu pasien. Demam turun
kemudian naik kembali. Pasien pun mengeluh BAB cair dengan konsistensi air yang lebih
banyak daripada ampas,berwarna kuning. Pasien menjadi lemas, sering ingin tidur dan sering
merasa haus. Pada malam harinya ketika akan BAB pasien selalu menangis dahulu. BAB
yang dikeluarkan masih dalam bentuk cair. Frekuensi ganti popok lebih sering dari biasanya
sekitar 4-5 xper hari. Pada pukul 22.00 pasien langsung dibawa oleh orang tua pasien ke
Rumah Sakit Islam. Dilakukan cek darah, dan hasilnya dikatakan baik dan tidak ada kelainan.
Pasien diberi obat lacto B, sanmol, dan zinc kid. Hanya obat zinc kid yang tidak ditebus,
dikarenakan tidak ada biaya.
1 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien masih mengeluh demam tinggi, BAB cair masih
lebih dari 7 x sehari, tidak ada batuk pilek. Ruam-ruam merah ditubuh pasien terlihat lebih
mengecil dengan penyebaran yang masih banyak. Pasien terlihat lebih lemas,dan lebih rewel
dari biasanya. Mata dan pipi pasien terlihat lebih cekung.
6 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien dibawa ke rumah sakit islam kembali, pasien
didiagnosis dehidrasi ringan. Dikarenakan tidak ada kamar di rumah sakit islam, pasien pun
dirujuk ke rumah sakit ridwan, dan karena alasan yang sama pula ( tidak ada tempat) maka
pasienpun dirujuk ke rumah sakit cipto mangunkusumo
Di RSCM, Pasien diberi cairan renalit melalui NGT sebanyak 4 botol, dikarenakan diagnosis
yang diterima dari RSI adalah dehidrasi ringan sedang. Ketika satu botol cairan infus habis,
pasien mulai mengalami kejang. Pasien diberi oksigen dengan bagging pump. Keesokan
harinya pada pukul 10.00 pagi, pasien mulai sadar, pasien diberi oksigen mask, kemudian
diberi inhalasi, lalu diberi oksigen melalui selang. Pada hari itu, pasien mulai mengalami
BAB cair yang berwarna hijau, berlendir dan lengket,berbau , dan terdapat warna merah
samar.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat sakit serupa sebelumnya disangkal. Asma disangkal. Penyakit jantung bawaan
disangkal.
Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada riwayat alergi, diabetes melitus, hipertensi dan kelainan bawaan di keluarga pasien.
Kakak pasien juga pernah mengalami kejang demam, dan meninggal di usia 2 tahun.
Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi dan Lingkungan Keluarga
ibu pasien saat ini berumur 30 tahun, dan sehari-harinya adalah ibu rumah tangga. Ayah
pasien saat ini berumur 32 tahun dan bekerja sebagai staf gudang di harmoni.
Riwayat konsanguitas tidak ada.
Lingkungan rumah pasien dikatakan bersih, dan jauh dari tempat sampah. Saat ini sumber air
pada keluarga pasien adalah sumur.
Tetangga pasien juga ada yang mengalami penyakit campak, dan sudah membaik hingga
sekarang.
Riwayat kehamilan
Selama hamil ibu pasien mengalami keputihan, banyak, tidak bau, putih. Diberi obat nystatin.
Riwayat kelahiran
Pasien lahir prematur 32 minggu di RS tarakan dengan normal dikarenakan cairan ketuban
pecah dini. Berat lahir 2250 gram, panjang badan 46 cm. Pasien langsung menangis, tidak
biru dan tidak pucat. Pasien masuk inkubator dan disinar selama sehari.
Riwayat nutrisi
Pasien diberi ASI dari bayi hingga sekarang. Frekuensi pemberian ASI cukup sering yaitu per
3 jam dalam sehari. Pasien tidak diberi susu formula dikarenakan pasien sering mencret bila
minum susu formula. Pasien mulai diberi bubur susu Cerelac sejak usia 3 bulan. Usia 1 tahun
pasien mulai diberi bubur tim sebanyak satu mangkok kecil sebanyak 3 kali sehari.
Komposisi bubur tim yang sering ibu pasien beri seperti nasi satu centong, 1 telor mentah, ½
wortel ( 4 ruas jari), ati 2 ruas jari, bayam 10 lembar. Ketika ibu pasien tidak memasak bubur
tim sendiri, ibu pasien pun sering membeli bubur tim bubuk di pedagang kaki lima di dekat
rumahnya. Tidak bermerk. Pasien sering mengkonsumsi buah jeruk, 1 buah jeruk per hari.
Buah pepaya hanya diberikan ketika pasien sulit BAB. Pasien alergi pada buah pisang. Pasien
juga kadang diberi sosis siap makan, dan gorengan ubi.
Riwayat imunisasi
Pasien sudah imunisasi lengkap sesuai program puskesmas, kecuali Hep B 0. Riwayat MMR
tidak ada.
Riwayat tumbuh kembang
Pasien sudah dapat duduk, tetapi belum merangkak. Pasien saat ini sudah dapat jalan dengan
cara di tuntun sejak usia 1 tahun. Pasien babling sejak usia 1 tahun. Saat ini berat badan
pasien belum naik sejak sakit campak.
Pemeriksaan fisik tanggal 4 april 2014
Hasil Pemeriksaan
Antropometrik
Berat badan (BB)= 8 kg
Tinggi badan (TB) = 77 cm
Lingkar kepala = 43 cm
Status nutrisi
BB/ Usia = z-score -2< z < -3SD
TB/ Usia = z-score 0 ~ -2 SD
BB/ TB = z-score -2< z < -3SD
LK/ Usia = z-score <-3SD
Kesimpulan: gizi kurang, mikrosefali
Kesadaran
Compos Mentis
Keadaan umum
Tampak sakit sedang, tidak ada pucat dan sianosis
Tekanan darah
80/60 mmHg
Frekuensi nadi
100 menit, reguler, isi cukup
Frekuensi napas
35 x/ menit, reguler, abdominotorakal
Suhu
37,8oC
Kepala
Normosefal, tidak ada deformitas, fontanel belum menutup,
rambut kecoklatan, tumbuh jarang, tidak mudah dicabut
Telinga
Low set ear (-)
Mata
Konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/-, mata cekung -/- pupil
isokor 3 mm/3 mm, RCL +/+, RCTL +/+, edema -/-, bercak
bitot (-)
Leher
Trakea di tengah, KGB tidak membesar
I= tidak ada venektasi, pergerakan dada simetris statis dan
Paru
dinamis
P= ekspansi baik
Pr= Batas paru normal, sonor/sonor
A= Vesikular +/+, ronkhi basah halus +/+, wheezing -/Jantung
Batas jantung normal, suara I-II normal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Pott belly, hati dan limpa tidak teraba, shifting dullness (-),
bising usus (+) normal, turgor baik.
Genital
Dalam batas normal
Anus
Tidak ada kemerahan
Extremitas
Akral hangat, CRT <2 detik, edema -/-, refleks fisiologis
normal, simian crease (-), hiperekstensibilitas (-)
Terdapat bintik bintik kemerahan
Kulit
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Nama test
hasil
Nilai rujukan
Hemoglobin
10.1 g/dl
10.5-14.0
Hematokrit
28.3 %
32.0-42.0
leukosit
13.6 ribu/uL
6.0-14.0
Trombosit
175 ribu/uL
150.0-400.0
MCV/VER
72.0 fL
72.0-88.0
MCH/HER
25.7 pg
24.0-30.0
MCHC/KHER
35.7 g/dL
32.0-36.0
Hitung jenis
Basofil
2%
0.5-1.0
Eosinofil
0%
1-4
Neutrofil batang
8%
1-3
Neutrofil segmen
62%
55-70
Limfosit
19%
20-40
Monosit
9
2-8
Gula Darah Sewaktu
276 mg/dL
0-200
SGPT (ALT)
76 u/L
0-27
Kretinin darah
0.564 mg/dL
0.6-1.2
Ureum darah
22.6 mg/dL
0-49
Natrium (Na) darah
128 mEq/L
132-147
Kalium (K) darah
3.9 mEq/L
3.3-5.4
Klorida (Cl) darah
103mEq/L
94/111
Elektrolit (Na,K,Cl)
APTT
APTT
86.4 detik
APTT kontrol
35.2 detik
31.0-47.0
Protrombin Time
Protrombin Time (PT)
19.8 detik
Protrombin time (PT) control
11.4 detik
9.8-12.6
Analisis Gas Darah pada tanggal 1 april 2014
PH
7.520
7.350-7.450
pCO2
19.7
35.00-45.00
pO2
187.6
75.00-100.00
O2 saturation
99.5
95-98
Base Excess
-4.3
(2.50)-2.50
Standard Base Excess
-6.8
Standard HCO3
20.9
22-24
HCO3
16.2
21.00-25.00
Total CO2
16.8
21.00-27.00
2. Analisis Tinja
Makroskopik
Jenis pemeriksaan
hasil
Nilai rujukan
warna
hijau
kuning
konsistensi
cair
lembek
lendir
positif
negatif
darah
negatif
negatif
pus
negatif
negatif
Mikroskopik
Leukosit
4-5 /LPB
Eritrosit
3-4 /LPB
Telur cacing
negatif
Amoeba
Tidak ditemukan
negatif
Pencernaan
Lemak
negatif
negatif
Serat tumbuhan
negatif
negatif
Serat otot
negatif
negatif
Darah samar tinja
Positif
Negatif
Pengecatan Gram
Mikroorganisme
Ditemukan basil gram negatif
Jamur
Negatif
Diagnosis kerja : Kolitis kemungkinan karena antibiotic associated diarrhea
Bakteria over growth
Anjuran pengobatan : metronidazole
Diagnosis kerja
Dehidrasi akut berat
Encepalopati metabolik
Failure to thrive
Manajemen dan tatalaksana
Makanan cair 4 x 250 ml/ NGT
KaEN IIIB 800 cc / 24 jam
Cefotaxim 3 x 500 mg IV
Paracetamol 3 x 120 mg
Zinc 1 x 20 mg
Prognosis :
Quo ad vitam: dubia ad Bonam
Quo ad functionam: Dubia ad bonam
Quo ad sanationam: Dubia ad bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Asuhan Nutrisi dan Tumbuh Kembang
Asuhan nutrisi dan tumbuh kembang ditujukan agar setiap anak baik berobat jalan maupun
rawat dapat dipenuhi kebutuhan zat gizinya secara optimal, atau upaya pemenuhan kebutuhan
zat gizi dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Untuk melaksanakan asuhan nutrisi dilakukan dengan 5 kegiatan yang terdiri dari :
1. Diagnosis masalah nutrisi
Diagnosis masalh nutrisi pada pasien ialah pengkajian terhadap bagaimana status gizi dan
riwayat nutrisi, serta status nutrient terterntu pada anak. Masalah nutrisi tersebut berkaitan
dengan masalah lain seperti masalah pencernaan, masalah ekskresi nutrient atau masalah
metabolisme. Masalah dapat berbentuk tingkat awal yakni tingkat kekurangan zat gizi,
berlanjut jadi deplesi atau dapat di dalam tingkatan yang lebih tinggi lagi seperti defisiensi.
Sebaliknya, masalah pada nutrisi juga dapat terbentuk sebagai masalah nutrisi berlebih, dari
tingkat awal berupa kelebihan hingga toksisitas. Pengkajian status nutrisi meliputi 4 cara
pengkajian yaitu pemeriksaan fisik, analisa diet, pemeriksaan antropometri dan pemeriksaan
laboratorium.
Penilaian meliputi penentuan status gizi, masalah yang berhubungan dengan proses
pemberian makanan dan diagnosis klinis pasien. Anamnesis meliputi asupan makan, pola
makan, toleransi makan, perkembangan oromotor, motorik halus dan motorik kasar,
perubahan berat badan, faktor sosial, budaya dan agama serta kondisi klinis yang
mempengaruhi asupan. Penimbangan berat badan dan pengukuran panjang/tinggi badan
dilakukan dengan cara yang benar dan menggunakan timbangan yang telah ditera secara
berkala. Pemeriksaan fisik terhadap keadaan umum dan tanda spesifik khususnya defisiensi
mikronutrien harus dilakukan. Dalam sehari-hari umumnya status gizi dilakukan pada klinis
dengan pemeriksaan klinis dan antropometris.
Penentuan status gizi dilakukan berdasarkan penentuan proporsi berat badan (BB) menurut
panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB) (BB/PB atau BB/TB). Grafik pertumbuhan yang
digunakan sebagai acuan ialah grafik WHO 2006 untuk anak kurang dari 5 tahun dan grafik
CDC 2000 untuk anak lebih dari 5 tahun.
Grafik WHO 2006 digunakan untuk usia 0-5 tahun karena mempunyai keunggulan
metodologi dibandingkan CDC2000. Subyek penelitian pada WHO 2006 dari 5 benua dan
mempunyai lingkungan yang mendukung untuk pertumbuhan optimal. Untuk usia diatas 5
tahun hingga 18 tahun digunakan grafik CDC 2000 dengan pertimbangan grafik WHO 2007
tidak memiliki grafik BB.TB dan data dari WHO 2007 merupakan smoothing NCHS 1981.
Penetuan status gizi cut off Z score WHO 2006 untuk usian 0-5 tahu dan peresentase berat
badan udeal sesuai kriteria Waterowuntuk anak usia diatas 5 tahun.
Status gizi lebih (overweight)/obesitas) ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT)
Pada pengukuran didapatkan (>+1 SD ) atau BB/TB>110%, dapat digunakan grafik IMT
disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin untuk menentukan adanya obesitas. Untuk anak
<2 tahun, menggunakan grafik IMT WHO 2006 yang kategori overweightnya adalah: Z score
> + 2, obesitas > +3. Pada anak usia 2-18 tahun menggunakan grafik IMT CDC 2000. Untuk
grafik CDC 2000, batas yang digunakan untuk overweight ialah diatas P85 hingga P95,
sedangkan untuk obesitas ialah lebih dari P95 pada grafik CDC 2000.
2. Menentukan kebutuhan zat gizi
Dalam asuhan nutrisi, menentukan kebutuhan nutrisi adalah kebutuhan terhadap masingmasing zat gizi yang perlu dipenuhi agar dapat encakup 3 macam kebutuhan yaitu
a. Untuk kebutuhan penggantian (replacement) zat gizi yang kekurangan (deplesi atau
defisiensi)
b. Untuk kebutuhan rumat ( maintenance)
c. Untuk kebutuhan tambahann karea kehilangan dan tambahan untuke pemulihan
jaringan atau organ yang sedang sakit
Daam praktek klinis, kebutuhan kalori dapat ditentukan berdasarkan :
I. Kondisi sakit kritis (critical illness) :
Kebutuhan energi = REE atau BMR x faktor aktivitas x faktor stress
Kebutuhan nutrisi pada anak sakit kritis, dibedakan berdasarkan kondisi stress yang disebut
sebagai dukungan metabolic dan non-stres yang disebut sebagai dukungan nutrisi. Selama
perioode stress metabolikk ini dijaga supaya pemberiwn nutrisi tidak overfeeding, yang dapat
meningkatkanb kebutuhan metabolisme di paru dan hati yang mengakibatkan meningkatnya
angka kematian. Komplikasi overfeeding menyebabkan produksi berlebih pada CO2 yang
meningkatkan ventilasi, edema paru, serta gagal napas, hiperglikemia yang meningkatkan
kejadian infeksi, lipogenesis karena peningkatan produksi insulin, imunosupresi, dan
komplikasi hati.
II. Kondisi tidak sakit kritis (non critical illness)
1. Gizi baik/kurang:
Kebutuhan kalori ditentukan berdasarkan berat badan ideal dikalikan RDA menurut usia
tinggi (height age). Usia-tinggi ialah usia bila tinggi badan anak tersebut merupakan P50 pada
grafik. Kebutuhan nutrien ter¬tentu secara khusus dihitung pada kondisi klinis ter¬tentu.
Berat badan ideal ditentukan pada TB/PB dimana pada TB tersebut terdapat nilai median
atau P50 nya.
a. Tatalaksana Gizi Buruk menurut WHO, atau
b. Berdasarkan perhitungan target BB-ideal:
BB-ideal x RDA menurut usia-tinggi
Pemberian kalori awal sebesar 50-75% dari target untuk menghindari sindrom refeeding.
2. Obesitas:
Target pemberian kalori adalah:
BB-ideal x RDA menurut usia tinggi
Pemberian kalori dikurangi secara bertahap sampai tercapai target.
Dalam hal ini berat badan ideal yang digunakan adalah berat badan menurut tinggi badan
pada P50 pertumbuhan. Pada Obesitas penatalaksanaan tidak akan berhasil tanpa disertai
dengan peningkatan aktifitas fisik dan perubahan perilaku.
3. Penentuan cara pemberian
Cara pemberian makan yang utama ialah melalui enteral atau oral. Kontra indikasi pemberia
makanan lewat saluran cerna ialah obstruksi saluran cerna, pendarahan saluran cerna, atau
ada penurunan fungsi saluran cerna. Nasogastric tube merupakan jalur pemberian makanan
secara nteral yang dapat dilakukan dalam jangka waktu pendek, begitu pula dengan
nasoduodenal atau nasojejunal. Sedangkan untuk jangka panjang dapat dilakukan dengan
gastronomi atau jejunostomi. Nutrisi parenteral jangka pendek (kurang dari 14 hari), akses
perifer dapat digunakan, sedangkan untuk jangka panjang lebih baik menggunakan akses
sentral. Pemberian nutrisi parenteral baru dipertimbangkan jika nutrisi enteral tidak
memungkinkan.
4. Penentuan jenis makanan
Pada pemberian makan melalui oral bentuk makanan disesuaikan dengan usia dan
kemampuan oromotor pasien, misalnya 0-6 bulan ASI dan/formula, 6 bulan-1 tahun ASI
dan/atau formula di-tambah makanan pendamping, 1-2 tahun makanan keluarga ditambah
ASI dan/atau susu sapi segar, dan di atas 2 tahun makanan keluarga. Jenis sediaan makanan
untuk enteral disesuaikan dengan fungsi gastrointestinal dan dapat dibagi dalam beberapa
jenis, yaitu:
•
Polimerik, yang terbuat dari makronutrien intak yang ditujukan untuk fungsi
gastrointestinal yang normal, terbagi menjadi formula standar dan formula makanan padat
kalori
•
Oligomerik (elemental), biasanya terbuat dari glukosa polimer, protein terhidrolisat,
trigliserida rantai sedang (MCT, medium chain triglyceride)
•
Modular, terbuat dari makronutrien tunggal
Pada pemberian parenteral, pemberian jenis preparat sesuai dengan usia, perhitungan
kebutuhan dan jalur akses vena. Untuk neonatus dan bayi beberapa asam amino seperti
sistein, taurin, tirosin, histidin merupakan asam amino yang secara khusus/kondisional
menjadi esensial, sehingga dibutuhkan sediaan protein yang bisa berbeda antara bayi dan
anak.
Pemilihan formula yang digunakan sebagai nutrisi enteral pada pasien bayi dan anak
tergantung pada faktor psien ( umur, masalah za gizi yang terkait, kebutuhan nutrisi da fungsi
gastrointestinal) serta faktor formula (osmolalitas, renal salut load /RSL, kpekatan serta
kekentalan kalori, komposisi zat gizi : jenis serta jumlah karbohidrat, protein dan lemk,
ketersediaan produk serta harganya).
Formula enteral pediatric dibagi berdasarkan usia anak, yakni, bayi premature, anak usia 1-10
tahun, dan anak usia diatas 10 tahun. Kalori lebih banyak didapatkan pada formula enteral
untuk anak diatas usai 10 tahun dibandingkan dengan formula yang untuk bayi. Namun, lebih
banyak mengandung protein, natrium, kalium, klorida, dan magnesium lebih rendah
dibandingkan susu untuk orang dewasa. Sebaliknya, kadar zat besi, seng, kalium dan fosfort
lebih tinggi. Maka dari itu, tidak nleh memberikan formulaso enteral untuk dewasa kepada
anak dibawah 10 tahun, sebab pada anak dibawah usia 10 tahun ginjalnya masih meiliki
keterbasatasan untuk mengekskresi nutrient, elektrolit dan metablit yang tidak bisa
dimetaolisme (RSL) yang akan menyebabkan dehidrasi. Formula susu dewasa ini dapat
diberikan pada anak usia diatas 10 tahun
5. Pemantauan dan Evaluasi
Dalam hal ini penilaian mencakup respon jangka pendek dan jangka panjang. Respon jangka
pendek ialah daya terima makanan atau obat, toleransi di saluran cerna, efek samping di
saluran cerna. Jangka panjang ialah, menilai penyembuhan penyakit dan tumbuh kembang
anak. Adapula komplikasi dari pemberian nutrisi enteral yang secara garis besar dapat
dikategorikan menjadi tiga; gastrointestinal, mekanis, dan metabolic. Mual, muntah, diare,
konstipasi, dan malarbsorpsi merupakan contoh dari komplikasi gastrointestinal. Sedangkan
pada mekanis ialah aspirasi, malposisi, atau sumbatan pada NGT. Lalu, pada komplikasi
metabolik ialah apabila terdapat hipo/natremi, hipo/hiperkalemi, dehidrasi, dan hiopglikemi.
Adapula komplikasi yang berkaitan dengan pemberian nutrisi parenteral. Mekanis, yang
berkaitan dengan pemasangan kateter dapat berupa pneumothorax, hemothorax, sepsis terjadi
pada 6-20% kasus pemberian nutrisi parenteral. Komponen metabolik yang sering terkena
pada pemberian nutrisi parenteral ialah kolestasis pada bayi yang mendapatkan nutrisi
parenteral >2 minggu.
Refeeding syndrome, merupakan suatu komplikasi metabolik dari dukungan nutrisi pada
opasien malnutrisi berat. Ditandai oleh hipofosfatemia, hipokalemia, hipomagnesemia.
Refeeding syndrome terjadi dikarenakan adanya perubahan sumber utama pembakaran
energi, yang tadinya dari lemak saat kelaparan lalu tergantikan dengan karbohidrat, sehingga
terjadi peningkatan insulin dan perpindahan elektrolit yang dibutuhkan untuk metabolisme
intraseluler.
Gejala klinis meliputi :
•
Aritmia
•
Gagaljantung
•
Gagal napas akut
•
Koma
•
Paralisis
•
Nefropati
•
Disfungsi hati
Maka dari itu pada pasien dengan malnutrisi berat harus diberikan nutrisi secara bertahap.
Dapat dimulai dari 25-75% dari REE. Setelah itu asupan kalori ditingkatkan 10-20% per hari
atau selama 4-7 hari hingga mencapai target asupan kalori.
Failure To Thrive
Suatu keadaanyang ditandai dengan kenaikan berat badan (BB) yang tidak sesuai dengan
seharusnya, tidak naik ( flat growth) atau bahkan turun dibandingkan pengukuran
sebelumnya, yang hal ini diketahui melalui grafik pertumbuhan. Dalam hal ini yang dinilai
hanyalah berat badan terhada umur pada minimal 2 periode pengukuran, sedangkan tinggi
badan dan lingkar kepala yang juga merupakan parameter pertumbuhan mungkin masih
normal. Gejala ini ditegakkan melalui perpindahan posisi berat badan terhadap umur yang
melewati lebih dari 2 persentil utama atau 2 standar deviasi ke bawah jika di plot pada grafik
BB menurut umur. FTT juga belum tentu gizi kurang atau gizi buruk. FTT bukanlah suatu
diagnosis melainkan gejala yang harus dicari penyebabnya.
a. Diagnosis
Anamnesis
Hal yang perlu dicari untuk menegakkan gejala FTT adalah
 Asupan kalori yang tidak mencukupi :

Nafsu makan yang kurang

Anemia misalnya defisiensi Fe

Masalah psikososial seperti apatis

Kelainan sistem saraf pusat (SSP) misalnya hidrosefalus, tumor

Infeksi kronik misalnya infeksi saluran kemih, sindrom imunodefisiensi yang
didapat

Gangguan gastrointestinal seperti nyeri akibat esofagus refluks, gangguan pada
proses makanan

Cerebral palsy/kelainan SSP misalnya hipotonia, hipertonia

Anomali kraniofasial misalnya stresia koana, bibir dan sumbing langitan,
micrognathia, glossoptosis

Sesak napas misalnya penyakit jantung bawaan, penyakit paru

Kelemahan otot menyeluruh misalnya miopati

Fistula trakeoesofageal

Sindrom kongenital misalnya fetal alcohol syndrom

Paralisis palatum molle
 Unavailability of food

Teknin pemberian makan yang tidak tepat

Jumlah makan yang tidak cukup

Makanan yang tidak sesuai usia

Withholding of food misalnya abuse, neglect, psikososial
 Muntah

Kelainan SSP misalnya peningkatan tekanan intrakranial

Obstruksi saluran cerna misalnya stenosis pilorus, malrotasi

Refluks gastroesofageal

Obat-obatan misalnya pemberian sirup ipecak secara sengaja
 Absorpsi zat gizi yang tidak mencukupi

Malabsorpsi

Atresiabilier/sirosis

Cystic fibrosis

Defisiensi enzim

Intoleransi makanan, misalnya intoleransi lakstosa

Defisiensi imunologik, misalnya enteropati sensitif protein

Inflammatory bowel disease
 Diare

Gastroentritis refluks

Infeksi parasit

Starvation diarrhea

Diare akibat refeeding
 Pengeluaran energi berlebihan
 Peningkatan metabolisme/peningkatan penggunaan kalori

Infeksi kronik/rekuren misalnya infeksi saluran kemih, tuberkulosis

Insufisiesi pernapasan kronik misalnya displasia, bronkopulmoner

Penyakit jantung bawaan/penyakit jantung yang didapat

Keganasan

Anemia kronik

Toksin misalnya timah

Obat obatan misalnya levotiroksin

Penyakit edokrin misalnya hipertiroidism, hiperaldosteronisme
 Gangguan pengguaan kalori

Penyakit
metabolik
misalnya
aminoacidopathies,
kelainan
metabolisme
karbohidrat bawaan

Asidosis tubular ginjal

Hipoksemia kronik misalnya penyakit jantung sianotik
Pemeriksaan fisis
Pemeriksaan antropometri (minimal dilakukan di dua periode terutama dalam 3 tahun
pertama kehidupan) didapatkan penuunan persentil berat badan terhadap umur yang
melewati lebih dari 2 persentil mayor (3rd, 5th, 25th, 50th, 75th, 90th, 95th, 97th
Mencari penyakit yang mungkin mendasari, misalnya penyakit jantung, paru, endokrin,
neurologis, dan lain-lain.
Bila ditemukan masalah pertambahan tinggi badan yang dominan, pikirkan kelainan
tulang dan endokrin seperti hiperplasia adrenal kongenital, hipotiroid. Pada keadaan ini
perlu dilakukan pengukuran arm span, lower segment (LS), upper segment (US), rasio
US/LS
Bila ditemukan masalah pertambahan lingkar kepala, pikirkan kelainan neurologis
Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium
Darah perifer lengkap, laju endap darah, urinalisis (pH, osmolalitas, elemen seluler,
glukosa, dan keton), kultur urin, tinja untuk melihat parasit dan amlabsorpsi, ureum dan
kreatinin serum, analisi gas darah, elektrolit termasuk kalsium dan fosfor, tes fungsi hati
termasuk protein total dan albumin.

Pemeriksaan ekokardiografi bila dicurigai kelainan jantung

Foto rontgen dan uji mantoux bila dicurigai kelainan paru

Pemeriksaan usia tulang dan bone survey bila dicurigai kelainan endokrin atau tulang

Pemeriksaan CT scan kepala bila dicurigai kelainan neurologis.
Tata Laksana
Syarat utama pada tata laksana FTT adalah mengenali penyebab dan memperbaiki secara
tepat. Dua prinsip tata laksana pada semua anak FTT adalah diet tinggi kalori untuk
catch-up growth dan pemantauan jangka panjang untuk melihat adanya gejala sisa.
Intervensi pemberian makanan untuk bayi dan balita FTT
Hitung kebutuhan kalori serta protein menggunakan prinsip BB ideal menurut PB atau
TB saat ini dikalikan RDA kalori/ protein sesuai dengan height age ( PB saat ini dengan
ideal usia berapa?)
I.
Evaluasi pemberian ASI pada bayi

Perbaiki manajemen laktasi

Pastikan jumlah asupan serta jadwal pemberian ASI disesuaikan dengan
kebutuhan bayi ( on demand). Frekuensi pemberian berkisar antara 8-12 kali
dalam 24 jam dengan lama pemberian minimal 10 menit disetiap payudara untuk
memastikan asupan hind-milk

Atasi maslah ibu misalnya kelelahan, stress, rasa lapar

Berkurangnya produk susu dapat diatasi dengan antara lain:
o Menggunakan pompa ASI untuk meningkatkan produksi
o Menggunakan obat-obatan misalnya metoklopramid
I.
Pemberian ASI pada batita (1-3 tahun)

Kebutuhan ASI pada batita kurang lebih 1/3 dari total kebutuhan kalori dalam sehari

Pastikan pemberian makanan cukup

Hindari “ngempeng”, bila berlanjut dan mendominasi asupan makanan maka hentikan
pemberian ASI dan tingkatkan asupan susu formula atau MP-ASI
II.

Bottle Feeding
Berikan susu formula yang tepat: starting up untuk yang berusia dibawah 6 bulan dan
follow-on (formula lanjutan) untuk usia 6-36 bulan

Pastikan cara pelarutan dilakukan dengan benar

Jika perlu dapat diberikan formula khusus yang tinggi kalori misalnya formula
prematur, after discharge formula, formula tinggi kalori, formula elemental, dll
III.
Pemberian makanan pada balita

3 kali makan dan 2 kali snack per gizi

Susu sebanyak 480-960 ml per hari

Stop pemberian jus, punch, soda sampai berat badan normal

Hentikan pemberian makan secara paksa

Perhatikan lingkungan tempat memberikan makana
BAB III
PEMBAHASAN
Pasien datang dikarenakan BAB cair dengan frekuensi 5x dalam sehari, volume tidak
diketahui, komposisi air dan ampas, tidak ada darah, lendir. Dari anamnesis diketahui bahwa
pasien mengalami BAB cair dan demam tinggi sejak 2 hari SMRS. Dalam hal ini, diare perlu
dibedakan penyebab yang mendasari sebagai panduan untuk menentukan tata laksana yang
akan diberikan. Pada etiologi diare, alergi pun dapat menyebabkan diare pada anak. Dalam
kasus ini, diketahui anak tidak memiliki alergi pada makanan apapun. Antibiotik juga
merupakan salah satu pencetus diare pada anak. Pada kasus ini, pasien memang sering
mengkonsumsi obat antibiotik setiap pasien demam atau mengeluh gejala batuk pilek yang
diberikan oleh puskesmas, tetapi ketika pemakaian obat ini dihentikan, pasien tetep mengeluh
diare yang tidak kunjung membaik. Infeksi penyebab diare dibedakan berdasarkan kuman
patogen yang menghinggapinya. Virus dan bakteri adalah penyebab diare yang sering
didapatkan pada anak-anak. Pasien pada kasus ini, mengeluh diare dengan konsistensi cair
dan sedikit ampas disertai demam yang tinggi. Dipikirkan hal ini kemungkinan disebabkan
oleh virus, dikarenakan demam yang mendadak tinggi dan tidak mereda dengan pemberian
obat penurun panas. Setelah pasien dirawat di RSCM, BAB cair yang semula berwarna
kuning, berubah menjadi berwarna hijau, berlendir dan lengket, berbau tidak sedap, dan
terdapat darah samar didalamnya. Dari hal ini dipikirkan bahwa penyebab diare yang
berdarah adalah disentri yang diakibatkan oleh bakteri shigella. Dibutuhkan kultur tinja
sebagai pemeriksaan penunjang. Diare dengan frekuensi lebih dari 7x sehari membuat pasien
menjadi sangat lemas, lebih haus dari biasanya, dikatakan oleh orang tua mata dan pipi pasien
tampak lebih cekung daripada biasanya, dan dalam hal ini dipikirkan pasien mengalami
gejala dehidrasi ringan. Pasien mendapat terapi zinc 1 x 20 mg untuk memperbaiki mukosa
usus.
Pasien pun mengeluh demam dengan ruam-ruam merah disekujur tubuhnya. Ruam-ruam
muncul setelah 2 hari setelah demam. Ibu pasien tidak tahu munculnya mulai dari mana. Saat
ini ruam –ruam mulai menghilang dan demam mulai membaik dengan pemberian
paracetamol. Untuk demam dengan ruam ada diagnosis banding diantaranya campak, rubella,
eksantema subitum, DBD, demam skarlet dan infeksi virus lain. Dilihat dari mulainya
timbulnya ruam, rubella, eksantema subitum, bisa disingkirkan. Gejala lain seperti
konjungtivitis, koryza, batuk yang tidak ditemukan pada pasien ini, dapat menyingkirkan
kemungkinan campak. Tidak adanya kelainan pada lidah, maupun tenggorokan,
menyingkirkan kemungkinan demam skarlet. Pada pola demamnya tidak sesuai dengan
DBD,sehingga hal ini dapat disebabkan oleh infeksi virus lain seperti chikungunya dan
enterovirus. Pada pasien ini tidak ada pegal pegal diseluruh tubuh sehingga kemungkinan
chikungunya dapat disingkirkan. Kemudian adanya diare, lebih menguatkan kearah infeksi
enterovirus.
Dalam hal ini, terdapat infeksi virus dan bakteri pada sistem gastrointestinal pasien.
Tatalaksana pada pasien dengan disentri ini adalah dengan pemberian nutrisi yang adekuat
yaitu MC 4 x 250 ml/NGT, pemberian cairan rumatan KaEN IIIB 800cc/24 jam, atasi infeksi
dengan cefotaxim 3 x 500 IV, atasi demam dengan paracetamol 3 x 120 mg.
Pasien lahir dengan masa gestasi 32 minggu. Berat lahir 2250, dan panjang badan 46 cm.
Karen pasien diketahui lahir dengan usia prematur, maka dibutuhkan perhitungan mencari
usia koreksi dengan rumus Usia Koreksi = Usia kronologis – (40 – usia gestasi) yaitu Usia
koreksi = 1 tahun 5 bulan – (40- 32 minggu) = 17 bulan – 2 bulan = 15 bulan pada saat ini.
Berat badan pasien saat lahir bila diplot pada kurva WHO terletak tepat diujung garis
persentil 3. Dan berat badan pasien pada sebulan sebelum masuk RSCM menurut usia
koreksi adalah 14 bulan dengan berat 9,8kg terletak diatas persentil 10. Dan sebulan
kemudian ketika masuk RSCM dengan berat 8 kg terletak di bawah persentil 3. Dari plot
tersebut diketahui terjadi pelintasan dua persentil yang merupakan gejala dari failure to
thrive. Pada gejala ini, tatalaksana pada failur to thrive adalah diet tinggi kalori untuk catchup growth dan pemantauan jangka panjang untuk melihat adanya gejala sisa. Hitung
kebutuhan kalori serta protein menggunakan prinsip BB ideal menurut PB atau TB saat ini
dikalikan RDA kalori/ protein sesuai dengan height age ( PB saat ini dengan ideal usia
berapa?). BB ideal menurut TB saat ini adalah 10kg. Kalori yang dibutuhkan adalah 10 x
100-110 = 1000-1100 kalori protein setiap harinya. Dan sesuai dengan tatalaksana pada
failure to thrive yaitu melakukan intervensi pada pemberian makanan pada balita dengan
FTT. Evaluasi pemberian ASI pada bayi

Perbaiki manajemen laktasi

Pastikan jumlah asupan serta jadwal pemberian ASI disesuaikan dengan
kebutuhan bayi ( on demand). Frekuensi pemberian berkisar antara 8-12 kali
dalam 24 jam dengan lama pemberian minimal 10 menit disetiap payudara untuk
memastikan asupan hind-milk

Atasi maslah ibu misalnya kelelahan, stress, rasa lapar

Berkurangnya produk susu dapat diatasi dengan antara lain:
o Menggunakan pompa ASI untuk meningkatkan produksi
o Menggunakan obat-obatan misalnya metoklopramid
Pemberian ASI pada batita (1-3 tahun)

Kebutuhan ASI pada batita kurang lebih 1/3 dari total kebutuhan kalori dalam sehari

Pastikan pemberian makanan cukup

Hindari “ngempeng”, bila berlanjut dan mendominasi asupan makanan maka hentikan
pemberian ASI dan tingkatkan asupan susu formula atau MP-ASI
Bottle Feeding

Berikan susu formula yang tepat: starting up untuk yang berusia dibawah 6 bulan dan
follow-on (formula lanjutan) untuk usia 6-36 bulan

Pastikan cara pelarutan dilakukan dengan benar

Jika perlu dapat diberikan formula khusus yang tinggi kalori misalnya formula
prematur, after discharge formula, formula tinggi kalori, formula elemental, dll
Pemberian makanan pada balita

3 kali makan dan 2 kali snack per gizi

Susu sebanyak 480-960 ml per hari

Stop pemberian jus, punch, soda sampai berat badan normal

Hentikan pemberian makan secara paksa

Perhatikan lingkungan tempat memberikan makanan.
Dalam asuhan nutrisi pada pediatrik, juga perlu diperhatikan kebutuhan nutrisi dan gizi
pasien dengan mencakup 5 hal yang penting yaitu diagnosis masalah nutrisi, menentukan
kebutuhan nutrisi, memilih alternatif tentang cara pemberian nutrisi, memilih alternatif
bentuk sediaan gizi, dan evaluasi atau pengkajian respons.
Pada pasien ini, diagnosis pada masalah nutrisi adalah failure to thrive dengan diagnosis
status gizi kurang yang ditegakkan dengan kurva pertumbuhan menurut berat badan
dibandingkan dengan tinggi badan termasuk di antara -2SD dan -3SD dimana adalah
termasuk status gizi kurang. Sedangkan untuk menentukan kebutuhan nutrisi yang
dibutuhkan (10 kg menurut tinggi badan 77cm) dikalikan RDA (100) = 100kkal atau 1000 cc
yang dibutuhkan setiap harinya. Makanan yang diberikan berupa susu cair melalui NGT
dikarenakan pasien sulit dan rewel untuk menerima susu, untuk menghindari terjadinya
aspirasi, maka diberikan melalui NGT. Pada pemberian makanan ini disesuaikan dengan
kebiasaan waktu yang orang tua pasien berikan makanan setiap harinya agar tidak terjadi
perubahan pola makan.
DAFTAR PUSTAKA
Sjarif DR, Nasar SS, Devaera Y, Tanjung C. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia:
Asuhan Nutrisi Pediatrik. Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik. IDAI. 2011
Sjarif DR, Lestari ED, Mexitalia M, Nasar SS. Buku Ajar Nutrisi Pediatrik Dan Penyakit
Metabolik. Balai Penerbit IDAI. 2011
Berhman R.E., Kligman R.M., Jenson H.B. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-18.
Philadelphia : W.B. Saunders Co
Ismail R, Sanusi R, Northrup R. Buku Ajar Diare. Pendidikan Medik Pemberantasan Diare.
1999
Tim Adaptasi Indonesia.Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.Jakarta:
WHO Indonesia bersama Departemen Kesehatan Indonesia. 2009.
PRESENTASI KASUS
NUTRISI PEDIATRIK
FAILURE TO THRIVE
Kelompok B1
INDWIANA ARIFI
Narasumber :
dr.Damayanti Rusli Syarif, SpA (K)
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
APRIL 2014
Download