penerapan metode bermain kooperatif berbantuan media topeng

advertisement
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 4. No. 2 - Tahun 2016)
PENERAPAN METODE BERMAIN KOOPERATIF BERBANTUAN
MEDIA TOPENG KARAKTER UNTUK MENGEMBANGKAN
KEMAMPUAN SOSIAL
Hilda Indriani1, Made Putra2, I Ketut Ardana3
1
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail : [email protected], [email protected],
[email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan sosial setelah penerapan
metode bermain kooperatif berbantuan topeng karakter pada anak kelompok B Semester II di
TK Kemala Bhayangkari I Denpasar Tahun Pelajaran 2015/2016. Jenis penelitian adalah
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari
tahap perencanaan tindakan , pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi. Subjek
penelitian ini adalah 14 anak kelompok B TK Kemala Bhayangkari I Denpasar Tahun Pelajaran
2015/2016. Data tentang pengembangan kemampuan sosial anak dalam media topeng
karakter diperoleh dengan menggunakan metode obesrvasi dengan instrumen obesrvasi. Data
dianalisis dengan menggunakan metode analisi statistik deskriptif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan sosial melalui metode bermain kooperatif
dari 65,35% yang berada pada kategori sedang pada siklus satu meningkat menjadi 80,35 yang
berada pada kategori tinggi pada siklus dua. Jadi, peningkatan kemampuan sosial anak
sebesar 15%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan
metode bermain kooperatif berbantuan media topeng karakter dapat meningkatkan
kemampuan sosial anak.
Kata-kata kunci : metode bermain kooperatif, kemampuan sosial, topeng karakter.
Abstract
This research aims to know the social ability in kindergarten Kemala Bhayangkari I Denpasar
2015/2016 academic year, from the application of cooperative playing method assisted
character mask. Type of this research is the act of class research carried out in the two cycles.
Each cycle consist of the planning phase of action, the implementation of the action,
observation/evaluation and reflection. The subject of the research is 14 student on group B in
Kindergarten Kemala Bhayangkari I Denpasar. Years Lesson 2015/2016. Data about the
increased social ability of student in the character mask media figures obtained using the
methods of observation with the observation instrument. Data were analyzed using descriptive
statistical analysis methods. The result showed that improvement of children’s social ability
through granting methods of 65,35% in the categories is medium in the first cycle increased to
80,35% at high in the second cycles categories. Accordingly, there was a 15%improvment in
the social ability. Based on the result it could be concluded that the implementation of
cooperative playing method assisted character mask could improve the social ability.
Keywords : cooperative playing methods, social ability, character mask
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 4. No. 2 - Tahun 2016)
Pendahuluan
Pendidikan adalah serangkaian proses
yang dilakukan secara terencana untuk
mencapai
hasil
belajar.
Pendidikan
merupakan suatu kegiatan yang sadar akan
tujuan. Maka dari itu, tujuan merupakan
salah satu hal yang penting dalam
pendidikan. Menurut Suryosubroto (Wijana,
2009), “tujuan pendidikan tidak saja akan
memberikan arahan kemana pendidikan
harus ditujukan, tetapi juga memberikan
ketentuan yang pasti dalam memilih materi,
metode, alat, evaluasi dalam kegiatan yang
dilakukan”.
Secara
umum,
tujuan
pendidikan
dapat
dikatakan
untuk
membawa
anak
kearah
tingkat
kedewasaan. Artinya, pendidikan tersebut
dapat membentuk anak menjadi mandiri
dalam
hidupnya
di
tengah-tengah
masyarakat.
Pendidikan anak usia dini adalah
salah suatu upaya pembinaan yang
ditujukan kepada anak sejak usia dini yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani
agar anak
memiliki kesiapan dalam
memasuki pendidikan dasar dan kehidupan
tahap berikutnya. Pengembangan anak usia
dini adalah upaya yang dilakukan oleh
masyarakat dan atau pemerintah untuk
membantu
anak
usia
dini
dalam
mengembangkan potensinya secara holistik
baik aspek pendidikan, gizi, kesehatan
maupun psikososialnya. Secara umum
pelayanan PAUD adalah mengembangkan
berbagai potensi anak sejak dini sebagai
persiapan
untuk
hidup
dan
dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Batasan tentang anak usia dini
disampaikan
oleh
NAEYC
(National
Association for The Education of Young
Children), yang mengatakan bahwa anak
usai dini adalah anak yang berada pada
rentang usia 0-8 tahun yang tercakup dalam
program pendidikan di taman penitipan
anak, penitipan anak pada keluarga (family
child care home), pendidikan prasekolah
baik swasta maupun negeri, TK, dan SD.
Dalam
perkembangannya,
masyarakat telah menunjukkan kepedulian
terhadap masalah pendidikan, pengasuhan,
dan perlindungan anak usia dini untuk usia
0 sampai dengan 6 tahun dengan berbagai
jenis layanan yang sesuai dengan kondisi
dan kemampuan yang ada, baik dalam
pendidikan jalur formal maupun nonformal.
Pendidikan anak usia dini memiliki
peranan
penting
dalam
membentuk
karakter
anak
yang
berakhlak
mulia/bermoral,
kreatif,
inovatif,
dan
kompetitif. Pendidikan anak usia dini bukan
sekedar meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan yang terkait dengan bidang
keilmuan, tetapi lebih dalam adalah
mempersiapkan anak agar kelak mampu
menguasai berbagai tantangan di masa
depan. Kemampuan sosial adalah suatu
proses yang muncul dimana anak-anak
belajar tentang diri dan orang lain dan
tentang
membangun
dan
merawat
pertemanan. Menurut Hoffman (dalam
Fridani, dkk.,2009), “ketika anak-anak
belajar tentang dirinya, mereka juga belajar
tentang intensitas emosi dan cara pandang
mereka”. Dengan demikian, memberikan
petunjuk yang membelajarkan mereka
(anak-anak) secara bertahap dapat mulai
menyadari pandangan orang lain, belajar
bahwa
ada
bermacam-macam
cara
pandang yang berbeda-beda.
Sosialisasi merupakan suatu proses
dimana individu (terutama) anak melatih
kepekaan dirinya terhadap rangsanganrangsangan sosial terutama tekanantekanan
dan
tuntunan
kehidupan
(kelompoknya) serta belajar bergaul dengan
bertingkah laku, seperti orang lain di dalam
lingkungan sosialnya. Kemampuan sosial
seseorang mengikuti suatu pola, yaitu
perilaku sosial yang teratur, dimana pola
tersebut sama untuk setiap anak secara
normal.
Guru memiliki peran yang penting
dalam pengembangan kemampuan sosial
pada anak. Guru harus mampu memilih
metode atau modem pembelajaran yang
akan
digunakan
dalam
proses
pembelajaran,
metode
yang
akan
diterapkan
atau
digunakan
harus
menyesuaikan
dengan
keadaan,
kebutuhan, dan kemampuan anak-anak.
Banyak metode yang dapat digunakan oleh
guru dalam kegiatan pembelajaran serta
media pendukung untuk membantu serta
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 4. No. 2 - Tahun 2016)
mempelancar proses pembelajaran. Guru
dituntut
untuk
mampu
mengenali
karakteristik anak terlebih dahulu sebelum
memilih metode-metode serta media-media
yang akan digunakan dalam proses
pembelajaran. Hal ini dilakukan agar dapat
mengembangkan
seluruh
aspek
perkembangan pada anak, salah satunya
aspek kemampuan sosial.
Namun kenyataanya guru mengajar
kurang kreatif menggunakan media-media
pembelajaran dan metode pembelajaran
demontrasi sehingga anak-anak menjadi
jenuh
dalam
mengikuti
proses
pembelajaran di kelas. Seperti yang peneliti
amati di TK Kemala Bhayangkari I
Denpasar, selama ini kegiatan yang
dilakukan
guru
untuk
meningkatkan
kemampuan sosial pada anak kelompok B3
TK Kemla Bhayangkari I Denpasar adalah
membacakan cerita menggunakan media
buku cerita, sehingga anak, menjadi jenuh
dan membuatnya kurang memperhatikan isi
cerita yang dibacakan.
Bukti berikutnya bahwa kemampuan
sosial anak masih terabaikan.Hal ini tampak
dari hasil observasi yang peneliti lakukan
terhadap guru saat mengajar di kelas. Saat
kegiatan
pengembangan
kemampuan
sosial guru hanya memberikan kegiatan
bercerita dengan buku cerita, bersyair,
bernyanyi dan bermain pesan berantai.
Kegiatan anak hanya mengikuti apa yang
diperintahkan guru dan anak menjadi pasif
karena dengan kegiatan yang diberikan
guru secara berulang-ulang anak menjadi
jenuh.
Observasi yang dilakukan pada hari
pertama diketahui ada 8 anak yang terlihat
sangat aktif dan mampu menjawab semua
pertanyaan
guru
pada
saat
guru
memberikan pertanyaan. Namun 6 anak
terlihat kemampuan sosialnya masih pada
kategori rendah, hal ini terlihat ketika guru
mengajak anak bermain pesan berantai,
masih ada beberapa anak yang masih
diam, nampak bingung, enggan, malu-malu
atau mengalihkan perhatiannya saat guru
meminta anak menyebutkan kata atau
kalimat yang guru ucapkan. Anak tersebut
juga tidak mampu mengerjakan tugas yang
diberikan guru. Setiap hari pada saat
pembelajaran memang sebagian anak
terlihat kurang merespon kegiatan yang
diberikan guru. Selama seminggu setiap
kegiatan di kelas hanya menggunakan
media peraga gambar dan lembar aktivitas.
Setelah menerapkan kelima indikator pada
refleksi
awal
yaitu
anak
dapat
mencerminkan sikap peduli dan mau
membantu jika diminta bantuannya, anak
dapat mencerminkan sikap menghargai dan
toleran kepada orang lain, anak dapat
menyesuaikan
diri,
anak
dapat
mencerminkan sikap jujur dan anak dapat
mencerminkan sikap taat terhadap aturan
sehari-hari untuk melatih disiplin, data hasil
observasi awal kemampuan sosial pada
anak kelompok B3 di TK Kemala
Bhayangkari I Denpasar berada pada
kriteria rendah.
Rendahnya kemampuan sosial pada
anak kelompok B3 TK Kemala Bhayangkari
I Denpasar disebabkan oleh kurangnya
sosialisasi anak dengan teman, kurangnya
dan kurangnya rasa peduli anak dengan
teman. Metode pembelajaran yang kurang
variatif dan kurang memacu semangat anak
dalam
kegiatan
pembelajaran
dan
penggunaan media serta alat peraga yang
kurang menarik perhatian anak. Sedangkan
pada saat observasi di dalam kelas terdapat
media-media yang dapat mengembangkan
kemampuan sosial anak namun belum
dimanfaatkan secara maksimal oleh guru.
Bermain kooperatif dengan topeng
karakter dapat melatih kemampuan sosial
anak, karena mampu merangsang daya
sosial anak. Media topeng karakter dapat
memberikan kesan yang baik dalam
merangsang ketertarikan anak dalam
melakukan kontak sosial. Dengan demikian
guru harus mampu membuat suatu media
yang dapat menarik perhatian dan daya
kreativitas anak.
Berdasarkan latar belakang di atas,
maka peneliti tertarik untuk mengkaji
tentang
penerapan
metode
bermain
kooperatif
berbantuan media topeng
karakter untuk meningkatkan kemampuan
sosial anak pada anak kelompok B3 TK
kemala bhayangkari I Denpasar.
Pelaksanaan pembelajaran anak di
taman
kanak-kanak
haruslah
sesuai
dengan
dunia
anak.
Memberikan
kesempatan kepada untuk aktif dan tampil
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 4. No. 2 - Tahun 2016)
kreatif. Penerapan konsep bermain sambil
belajar kepada anak ditujukan untuk
mengambangkan secara optimal seluruh
aspek perkembangan dasar dan perilaku
anak.
Atas dasar penentuan latar belakang
di atas maka peneliti dapat mengambil
perumusan masalah sebagai berikut,
apakah ada peningkatan kemampuan sosial
setelah
diterapkan
metode
bermain
kooperatif berbantuan
media
topeng
karakter pada anak kelompok B3 semester
II di TK Kemala Bhayangkari I Denpasar
tahun pelajaran 2015/2016 ?
Tujuan penelitian ini adalah untuk
meningkatkan kemampuan sosial setelah
diterapkan metode bermain kooperatif
berbantuan media topeng karakter pada
anak kelompok B3 di TK Kemala
Bhayangkari I Denpasar.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
melengkapi metode-metode pembelajaran
yang telah ada, yaitu dengan mengenalkan
metode bermain kooperatif berbantuan
media topeng karakter, serta dapat
menunjang pemanfaatan dan penggunaan
media pembelajaran agar sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Selain itu diharapkan hasil penelitian ini
dapat memberikan masukan yang positif
dan membangun terhadap dunia pendidikan
pada umumnya
Manfaat praktis, bagi anak-anak hasil
penelitian
ini
dapat
memberikan
pengalaman
belajar
yang
berkesan,
bermakna dan menyenangkan sehingga
dapat meningkatkan kemampuan sosial
pada anak, bagi sekolah, Hasil penelitian ini
diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan
dalam
memilih
dan
menggunakan metode pembelajaran serta
media yang tepat di dalam kelas.Serta
penelitian ini diharapkan menjadi informasi
dan masukan berharga bagi para guru
dalam melakukan berbagai upaya untuk
meningkatkan kemampuan sosial dengan
penerapan metode bermain kooperatif
dengan berbantuan media topeng karakter,
bagi kepala sekolah, Hasil penelitian
diharapkan
dapat
dijadikan
bahan
pertimbangan dalam mengambil kebijakan
untuk pembinaan guru-guru di sekolah yang
dipimpinnya, bagi peneliti lain, Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi
salah satu referensi dalam mendalami objek
penelitian lain yang sejenis.
Perkembangan
manusia
dititik
beratkan pada usia dalam kaitannya
dengan perubahan-perubahan fisik, kognitif,
dan sosial yang terjadi sepanjang rentang
kehidupan. Kemampuan sosial secara
spesifik difokuskan pada kemampuan
pembentukan social self (pribadi dalam
masyarakat). Komunikasi merupakan salah
satu cara pengembangan sosial pada anak,
karena
dengan
berbicara
atau
berkomunikasi anak dapat memahami apa
maksud lawan bicaranya.
Menurut Hurlock (dalam Djaali,
2013:49), “kemampuan sosial merupakan
kemampuan seseorang dalam bersikap
atau
tata
cara
perilakunya
dalam
berinteraksi dengan unsure sosialisasi di
masyarakat”. Pendapat lain dari Wijana
(2008:2.13) “kemampuan bersosial adalah
satu kemampuan lain yang harus dikuasai
anak karena anak akan berinteraksi dengan
orang lain.
Faktor
yang
mempengaruhi
pengembangan kemampuan sosial anak
dapat berasal dari faktor lingkungan
keluarga seperti pengalaman-pengalaman
berinteraksi sosial di dalam keluarga yang
turut menentukan tingkah lakunya terhadap
orang-orang lain dalam kehidupan sosial di
luar keluarga, apabila interaksi didalam
keluarga tidak lancar atau tidak wajar maka
interaksinya dengan masyarakat juga
berlangsung tidak wajar atau akan
mengalami gangguan, faktor diluar rumah
seperti pengalaman sosial awal di luar
rumah melengkapi pengalaman di dalam
rumah dan merupakan penentu yang
penting bagi sosial dan pola perilaku anak,
jika hubungan mereka dengan teman
sebaya dan orang dewasa diluar rumah
menyenangkan, mereka akan menikmati
hubungan itu tidak menyenangkan atau
menakutkan,
anak-anak
akan
menghindarinya dan kembali kepada
anggota
keluarga
untuk
memenuhi
kebutuhan sosial mereka dan faktor
pengaruh pengalaman sosial awal.
Bermain merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh anak-anak sepanjang hari
karena bagi anak bermain adalah hidup dan
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 4. No. 2 - Tahun 2016)
hidup adalah permainan. Anak usia dini
tidak membedakan antara bermain, belajar
dan bekerja. Anak-anak umumnya sangat
menikmati permainan dan akan terus
melakukannya dimanapun mereka memiliki
kesempatan.
Piaget (dalam sujiono, 2011:144)
mengatakan,
“bermain
adalah
suatu
kegiatan yang dilakukan berulang-ulang
dan menimbulkan kesenangan/kepuasan
bagi
diri
seseorang.
Karena
pada
hakikatnya bermain adalah kegiatan yang
dapat
memberikan
kesenangan
dan
membuat suasana hati menjadi gembira.
Salah satu metode yang dapat
diberikan kepada anak yaitu metode
bermain kooperatif. Dimana anak dapat
bekerjasama dan membuat hubungan
sosial dengan teman-temannya.
Metode
bermain
koooperatif
merupakan salah satu metode penyajian
kegiatan dimana anak bermain bersama
secara lebih terorganisasi dan masingmasing menjalankan peran yang saling
memengaruhi satu sama lain (Sujiono,
2011:148). Anak bekerja sama dengan
anak lain untuk membangun sesuatu,
terjadi persaingan, membentuk permainan
drama dan biasanya dipengaruhi oleh anak
yang memiliki pengaruh atau adanya
pemimpin dalam permainan.
Penerapan metode bermain kooperatif
dapat dilakukan dengan banyak media.
Menurut Bovee (dalam Sanaky, 2009:3)
mengemukakan bahwa “media merupakan
sebuah alat yang mempunyai fungsi
menyampaikan
pesan”.
Media
pembelajaran adalah sebuah alat yang
berfungsi
dan
digunakan
untuk
menyampaikan
pesan
pembelajaran.
Pembelajaran adalah proses komunikasi
antara pembelajar, pengajar, dan bahan
ajar. Dapat dikatakan bahwa, bentuk
komunikasi tidak akan berjalan tanpa
bantuan sarana untuk menampaikan pesan.
Proses pembelajaran merupakan
proses komunikasi dan berlangsung dalam
suatu sistem, maka media pembelajaran
menempati posisi yang cukup penting
sebagai salah satu komponen sistem
pembelajaran. Tanpa media, komunikasi
tidak akan terjadi dan proses pembelajaran
sebagai proses komunikasi juiga tidak akan
bisa berlangsung secara optimal. Media
pembelajaran adalah komponen integral
dari sistem pembelajaran.
Ibrahim, dkk. (dalam Raga, 2013:5)
menyebutkan, fungsi media pembelajaran
ditinjau dari dua hal, yaitu: proses
pembelajaran sebagai proses komunikasi
dan
kegiatan
antara
siswa
dan
lingkungannya.
Ditinjau
dari
proses
pembelajaran sebagai proses komunikasi,
maka fungsi media adalah sebagai
pembawa informasi dan sumber (guru) ke
penerima (siswa). Jika ditinjau dari proses
pembelajaran sebagai kegiatan interaksi
antara siswa dan lingkungannya, maka
fungsi media dapat diketahui berdasarkan
adanya kelebihan media dan hambatan
komunikasi yang mungkin timbul dalam
proses pembelajaran.
Salah
satu
media
yang
digunakan oleh peneliti yaitu topeng
karakter. Topeng secara bahasa indonesia
diartikan sebagai penutup muka. Menurut
Suardana (2008:4) “topeng merupakan
karya seni yang berwujud muka manusia
atau binatang sebagai penutup muka.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
karakter memiliki arti sebagai sifat-sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dari yang lainnya.
Masing-masing individu memiliki karakter
yang
berbeda-beda.
Menurut
ditjen
Mandikdasmen-Kementrian
Pendidikan
nasional, “karakter adalah cara berpikir dan
berperilaku yang menajdi cirri khas tiap
individu untuk hidup dan bekerjasama baik
dalam lingkup keluarga, masyarakat,
bangsa dan Negara.
Jadi, topeng karakter merupakan
bentuk penutup wajah yang berisi
karakter/ekspresi wajah seperti senang,
gembira, sedih, marah, bosan dan
sebagainya.
Hipotesis adalah untuk mencapai
tujuan pembelajaran guru menggunakan
beberapa cara untuk mencapai tujuan
tersebut,
salah
satu
cara
dengan
menggunakan metode bermain kooperatif
berbantuan media topeng karakter untuk
peningkatan kemampuan sosial anak.
Jika metode bermain kooperatif
berbantuan
media
topeng
karakter
diterapkan, maka kemampuan sosial pada
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 4. No. 2 - Tahun 2016)
anak kelompok B di TK Kemala
Bhayangkari I Denpasar meningkat.
METODE
Jenis
penelitian
ini
tergolong
penelitian tindakan kelas. Penelitian ini
tergolong penelitian tindakan kelas (PTK).
Pada hakikatnya PTK merupakan penelitian
yang bertujuan untuk melakukan perbaikan
terhadap proses pembelajaran. Terkait
dengan hal tersebut, Agung (2014:56)
menyatakan bahwa “Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) merupakan penelitian yang
bersifat reflektif yang dilakukan berulang
atau bersiklus yang bertujan untuk
memperbaiki
praktik
atau
proses
pembelajaran yang sedang berjalan.
Sedangkan Burn (dalam Sanjaya, 2010:25)
menyatakan bahwa “penelitian tindakan
adalah penerapan berbagai fakta yang
ditemukan untuk memecahkan masalah
dalam situasi sosial untuk meningkatkan
kualitas tindakan yang dilakukan dengan
melibatkan kolaborasi dan kerjasama para
peneliti dan praktisi”. Arikunto (2012:3)
menyimpulkan bahwa “penelitian tindakan
kelas (PTK) adalah suatu pencermatan
terhadap kegiatan belajar berupa sebuah
tindakan, yang sengaja dimunculkan dan
terjadi dalam sebuah kelas secara
bersama”.
Dalam
penelitian
ini,
metode
observasi merupakan cara memperoleh
data yang lebih dominan menggunakan
indera penglihatan (mata) dalam proses
pengukuran terhadap suatu objek tertentu
sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam
penelitian ini, metode observasi digunakan
untuk mengumpulkan data kemampuan
sosial pada anak.
Instrumen pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
lembar observasi. Observasi dilakukan
terhadap kegiatan peneliti dan siswa dalam
menerapkan metode bermain kooperatif
dengan berbantuan media topeng karakter.
Setiap kegiatan yang diobservasikan
dikategorikan ke dalam kualitas yang sesuai
yaitu anak belum berkembang dengan
tanda bintang satu («), anak mulai
berkembang dengan tanda bintang dua
(««), anak berkembang sesuai harapan
dengan tanda bintang tiga («««), anak
berkembang sangat baik dengan tanda
bintang empat (««««).
Setelah data dalam penelitian ini
terkumpul maka selanjutnya dilakukan
analisis
data.
Dalam
penelitian
ini
menggunakan metode analisis statistik
deskriptif dan metode analisis statistik
deskriptif kuantitatif. Kedua jenis metode
analisis data tersebut dijelaskan sebagai
berikut. Metode analisis Statistik Deskriptif
cara pengolahan data yang dilakukan
dengan menerapkan teknik dan rumusrumus statistik deskriptif seperti distribusi
frekuensi, grafik, angka rata-rata (Mean),
nilai tengah (Me) dan nilai paling tinggi (Mo)
untuk menggambarkan keadaan objek
tertentu sehingga diperoleh kesimpulan
umum, Agung (2014:110).
Dalam penerapan metode analisis
statistik deskripif, data yang diperoleh dari
hasil penelitian disajikan ke dalam tabel
distribusi frekuensi, menghitung angka ratarata atau mean (M), menghitung modus
(Mo), menghitung median (Me), menyajikan
ke dalam grafik polygon.
Menurut
Agung
(2014:110)
”metode analisis deskriptif kuantitatif adalah
suatu cara pengolahan data yang di
lakukan dengan jalan menyusun secara
sistematis dalam bentuk angka-angka dan
atau persentase mengenai keadaan suatu
objek yang di teliti, sehingga diperoleh
kesimpulan umum”.
Tabel 01. Pedoman Konversi PAP Skala
Lima
tentang
Tingkatan
Perkembangan
Kemampuan
Sosial
Persentase
Kemampuan
Sosial
90 −100
80 − 89
65 − 74
55 − 64
0 − 54
Kriteria
Kemampuan
Sosial
Sangat Tinggi
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
Metode
analisis
deskriptif
kuantitatif ini digunakan untuk menentukan
tinggi rendah data kemampuan sosial anak
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 4. No. 2 - Tahun 2016)
yang di tentukan dengan menggunakan
pedoman
konversi
Penilaian
Acuan
Patokan (PAP) skala lima. Tingkat
kemampuan sosial yang diperoleh anak
hasilnya dikonversikan dengan cara,
membandingkan angka rata-rata persen
dengan kriteria penilaian acuan patokan
(PAP) skala 5 pada tabel 01.
Kriteria keberhasilan pada penelitian
ini adalah adanya peningkatan dalam
kemampuan sosial pada anak kelompok B3
TK Kemala Bhayangkari I Denpasar.
Penelitian ini dinyatakan berhasil jika terjadi
perubahan positif skor rata-rata dari siklus I
ke siklus berikutnya dan jika dikonversikan
pada pedoman PAP Skala lima tentang
tingkat kemampuan sosial berada pada
rentang 80-89 dengan kriteria tinggi.
Apabila terjadi peningkatan skor rata-rata
dari siklus berikutnya dan mampu mencapai
kriteria tinggi maka dapat disimpulkan
bahwa
penerapan
metode
bermain
kooperatif berbantuan
media
topeng
karakter berjalan dengan efesien dan
efektif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian kelas ini dilaksakan pada
bulan April 2016 di kelompok B3 TK Kemala
Bhayangkari I Denpasar Tahun Pelajaran
2015/2016 dengan jumlah subjek sebanyak
14 anak. Tema yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Tanah Airku.
Siklus I terdiri dari lima kali
pertemuan, dimana empat kali untuk
pembelajaran dan satu kali untuk evaluasi
diakhir siklus dengan metode observasi.
Begitupula dengan siklus II terdiri dari enam
kali
pertemuan,
empat
kali
untuk
pembelajaran dan satu kali untuk evaluasi
akhir.
Tabel
02.
Stasistik
Deskriptif
pengembangan
kemampuan
sosial
anak
siklus I dan Siklus II
Siklus I
Siklus II
Mean
Median
Modus
M%
13,07
13,00
12,00
65,35%
16,07
16,00
17,00
80,35%
Penyajian hasil penelitian di atas
memberikan gambaran bahwa dengan
penerapan metode bermain kooperatif
berbantuan media topeng karakter dapat
meningkatkan kemampuan sosial anak. hal
ini dapat dilihat dari analisis mengenai
kemampuan sosial anak dapat diuraikan
sebagai berikut.
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah
dilaksanakan
di
TK
Kemala
Bhayangkari I Denpasar pada anak
kelompok B3 semester II tahun pelajaran
2015/2016 selama dua siklus menunjukkan
terjadinya peningkatan sosial setelah
penerapan metode bermain kooperatif
dengan berbantuan media topeng karakter.
Sebelum diberikan tindakan persentase
tingkat kemampuan sosial pada anak
kelompok B3 di TK Kemala Bhayangkari I
Denpasar tergolong rendah. Sedangkan
penelitian dikatakan berhasil apabila anak
mengalami tingkat kemampuan sosial yang
tinggi.
Berdasarkan
perbaikan
serta
menciptakan kegiatan pembelajaran yang
dipaparkan pada refleksi siklus I, maka
siklus II diperoleh adanya peningkatan
terhadap
anak
yang
mengalami
kemampuan sosial yaitu dari 65,35% pada
siklus I meningkat menjadi 80,35 pada
siklus II yang tergolong tinggi, yang berada
pada tingkat penguasaan 80-89%. Dengan
demikian, pada siklus II kemampuan sosial
anak dikatakan berhasil meningkat sesuai
dengan kriteria yang diharapkan. Terjadinya
peningkatan kemampuan sosial anak dalam
penelitian tindakan kelas ini, disebabkan
oleh rasa tertarik anak pada kegiatan
bermain kooperatif dengan berbantuan
media topeng, kemampuan sosial anak
semakin
meningkat
dan
kegiatan
pembelajaran
mencapai
hasil
yang
diinginkan.
Menurut Hurlock (dalam Djaali,
2013:49), “kemampuan sosial merupakan
kemampuan seseorang dalam bersikap
atau
tata
cara
perilakunya
dalam
berinteraksi dengan unsur sosialisasi di
masyarakat”. Pendapat lain dari Wijana
(2008:2.13) “kemampuan bersosial adalah
satu kemampuan lain yang harus dikuasai
anak karena anak akan berinteraksi dengan
orang lain. Kemampuan sosial secara
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 4. No. 2 - Tahun 2016)
spesifik difokuskan pada kemampuan
pembentukan social self (pribadi dalam
masyarakat). Komunikasi merupakan salah
satu cara pengembangan sosial pada anak,
karena
dengan
berbicara
atau
berkomunikasi anak dapat memahami apa
maksud lawan bicaranya. Dalam penelitian
ini, peneliti mengembangkan kemampuan
sosial anak dengan menerapkan metode
bermain kooperatif berbantuan media
topeng karakter.
Metode
bermain
kooperatif
berbantuan media topeng karakter untuk
meningkatkan
kemampuan
sosial
merupakan suatu metode bermain dimana
anak-anak
terlibat
langsung
dalam
permainan tersebut dengan menggunakan
media topeng karakter yang dimana anak
dapat
menunjukkan
karakter-karakter
terntentu seperti senang, gembira, sedih
atau marah sehingga anak diharapkan
dapat mengembangkan serta meningkatkan
hubungan sosialnya dengan teman-teman
atau kelompok bermainnya.
Kemampuan
sosial
merupakan
proses kemampuan belajar dan tingkah
laku yang berhubungan dengan individu
untuk
hidup
sebagai
bagian
dari
kelompoknya. yang terjadi secara internal di
dalam pusat susunan syaraf pada waktu
manusia sedang berpikir. Kemampuan
sosial anak berkembang secara bertahap,
sejalan dengan perkembangan fisik dan
syaraf-syaraf yang berada di pusat susunan
syaraf.
Hasil temuan dari dari penelitian ini
sejalan dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Dewi Khoiriyah (2010)
Penelitian menunjukkan bahwa terdapat
peningkatan terhadap metode bermain
kooperatif
pada anak dari bintang 2
menjadi bintang 3 saat penerapan metode
bermain kooperatif di RA Nurul Islam
Ngadimulyo Sukerejo Pasuruan.
Penerapan
metode
bermain
kooperatif dengan berbantuan media
topeng
karakter
dapat
memberikan
pengaruh terhadap kemampuan sosial
anak. berdasarkan hasil penelitian dan
uraian tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa
penerapan
metode
bermain
kooperatif berbantuan
media
topeng
karakter dapat meningkatkan kemampuan
sosial terhadap anak kelompok B3 di TK
Kemala Bhayangkari I Denpasar Semester
Genap Tahun Pelajaran 2015/2016.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data
tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut. Terdapat peningkatan
kemampuan sosial pada anak kelompok B
TK Kemala Bhayangkari I Denpasar
setelah diterapkan metode bermain
kooperatif berbantuan media topeng
karakter sebesar 15%. Ini terlihat
peningkatan
rata-rata
persentase
kemampuan sosial pada siklus I sebesar
65,35% yang berada pada kategori sedang
menjadi sebesar 80,35% pada siklus II
yang berada pada kategori tinggi.
Berdasarkan simpulan diatas, dapat
diajukan saran-saran sebagai berikut.
Kepada
anak
diharapkan
mampu
mengembangkan
kemampuan
sosial
dengan menumbuhkan minat belajar agar
kemampuan sosial
dapat ditingkatkan.
Kepada guru TK Kemala Bhayangkari I
Denpasar khususnya agar secara terus
menerus
mampu
berinovasi
dalam
mengelola pembelajaran khususnya dalam
memberikan
kegiatan
bermain
berkelompok dengan menyediakan mediamedia
yang
lebih
menarik
dan
menumbuhkan rasa tantangan dalam diri
anak. Kepada Kepala TK, disarankan agar
lebih memberikan dorongan atau motivasi
terhadap guru-guru untuk menerapkan
metode dan media pembelajaran yang
nantinya
mampu
meningkatkan
kemampuan sosial anak. Kepada peneliti
yang lain yang ingin melakukan lebih lanjut
mengenai metode bermain kooperatif
berbantuan media topeng karakter dalam
lingkupnya yang lebih luas, dengan
menggunakan variasi bentuk dan gambar
yang menarik, sehingga dapat membuat
anak-anak belajar lebih menarik, sehingga
dapat anak-anak belajar blebih senang
dalam belajar di TK. Disarankan juga
kepada
peneliti
lain
untuk
mengembangkan media topeng karakter
tidak
hanya
untuk
meningkatkan
kemampuan sosial anak, namun dapat
meningkatkan kemampuan lain pada anakanak TK.
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 4. No. 2 - Tahun 2016)
DAFTAR PUSTAKA
Agung, A. A. Gede. 2014. Metodologi
Penelitian
Pendidikan.
Malang:
Aditya Publishing
Anggoro, M. Toha, dkk. 2008. Metode
Penelitian.
Jakarta:
Universitas
Terbuka.
Arikunto, Suharsimi. 2012. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi
Aksara
Djaali. 2013. Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara
Gunarti, Winda, dkk. 2010. Metode
Pengembangan
Perilakudan
Kemampuan Dasar Anak Usia Dini.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Khasanah,
dkk.
2011.
Permainan
Tradisional sebagai Media Stimulasi
Aspek Perkembangan Anak Usia
Dini. Volume 1, Nomor 1 (hlm. 91103)
Khoiriyah,
Dewi.
2010.
Peningkatan
Kecerdasan Interpersonal melalui
Bermain
Kooperatif
Ikan
dan
Nelayan pada Anak Kelompok A di
RA
Nurul
Islam
Ngadimulyo
Sukorejo
Pasuruan.
(tidak
diterbitkan).
Koyan, I Wayan. 2012. Statistik Pendidikan.
Singaraja: Universitas Pendidikan
Ganesha.
Kusnandar.
2008.
Langkah
Mudah
Penelitian Tindakan Kelas sebagai
Pengembangan
Profesi
Guru.
Jakarta: Rajawali Pers
Kustiawan, U. 1966. Topeng sebagai
Bentuk Seni Rupa dalam Kesenian
Tradisional
Cirebon.
(tidak
diterbitkan)
Montolalu, B.E.F, dkk. 2007. Bermain dan
Permainan. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Nugraha, Ali dan Yeni Rachmawati. 2006.
Metode
Pengembangan
Pengembangan Sosial Emosional.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Pamadi, Hajar dan Evan Sukardi. 2008.
Seni Keterampilan Anak Berbagai.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Poerwadarminta, WJS. 1997. Kamus
Umum Bahassa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka
Prayuanti, Endah. 2014. Peningkatan
Kemampuan Kerjasama melalui
Metode Bermain pada Kelompok B
di
TK
PKK
54
Pucung
PendowoharjoSewon Bantul. (tidak
diterbitkan)
Raga, Gede. 2013. Media dan Sumber
Belajar
PAUD.
Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha
Rochmawati, Ika. 2013. Mengembangkan
Kemampuan Bekerjasama Anak
melalui Bermain Kooperatif pada
Kelompok
B
di
TK
Pertiwi
Karanganyar Plupuh SragenTahun
Ajaran 2012/2013. (tidak diterbitkan)
Rofiah,
Siti
Wahyuni
Mei.
2015.
Meningkatkan Kemampuan Sosial
dalam
Bekerjasama
melalui
Kegiatan Bermain Peran pada Anak
Kelompok A TK Dewi Sartika
Kecamatan Mojoroto Kota Kediri
Tahun Pelajaran 2014/2015. (tidak
diterbitkan)
Sanjaya, Wina. 2010. Penelitian Tindakan
Kelas. Jakarta: Prenada Media
Group
Sanaky,
Hujair
AH.
2009.
Media
Pembelajaran.
Yogyakarta:
SafiriaInsania Press
Santrock, John W. 2007. Perkembangan
Anak. Jakarta: Erlangga.
Suardana, I Wayan. 2008. Struktur Rupa
Topeng Bali Klasik. Volume 4,
Nomor 1 (hlm. 4)
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 4. No. 2 - Tahun 2016)
Suharsimi, Arikunto. 2012. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi
Aksara
Sujiono, Yuliani Nurani. 2011. Konsep
Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
Jakarta: PT Indeks
Sulistyowati, Sri. 2012.
Penggunaan
Metode Bermain Kooperatif dalam
Upaya
Meningkatkan
Perkembangan Sosial Emosi pada
Kelompok B di TK Aiyiyah Alastuwo
Kebakkramat
tahun
Ajaran
2012/2013. (tidak diterbitkan)
Suratno. 2005. Pengembangan Kreativitas
Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas
Suyadi, 2010. Psikologi Belajar PAUD.
Yogyakarta: Pedagogia.
Syaodih, Ernawulandan Agustin, Mubiar.
2010. Bimbingan Konseling untuk
Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Wardhani, IGAK. 2009.Penelitian Tindakan
Kelas.Jakarta: Universitas Terbuka
Wijana, Widarmi D., dkk. 2009. Kurikulum
Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Yus, Anita. 2011. Penilaian Perkembangan
Belajar Anak Taman Kanak-kanak.
Jakarta: Kencana Prenada Media
Group
Zaman, Badru, dkk. 2008. Media dan
Sumber
Belajar
TK.
Jakarta:
Universitas Terbuka.
Download