Spiritualitas Ekaristi

advertisement
Spiritualitas Ekaristi
• I. Peranan Kristus dalam Perayaan
Ekaristi
Kehadiran dan tindakan Yesus
•
–
Peristiwa salib sebagai kurban Perjanjian Baru.
Ciri khas kurban Yesus Kristus :
• Yang menjadi Imam Agung atau yang mengurbankan
•
dan yang dikurbankan adalah Yesus sendiri.
Kurban salib Yesus Kristus adalah kurban sekali untuk
selamanya (efapaks). Bandingkan kurban Perjanjian
Lama yang berulangkali untuk menghapus dosa sendiri
dan umat. Pada diri Yesus adalah kurban untuk dosadosa manusia, karena Ia sendiri tidak berdosa.
• Berangkat dari sana mungkin akan timbull
pertanyaan : bagaimana mungkin
peristiwa salib yang defacto suatu
peristiwa eksekusi hukuman mati dapat
disebut sebagai kurban, padahal suatu
tindakan kurban bisa terjadi dalam
konteks kultis atau upacara religius ?
Jawab :
• Inti sari suatu tindakan kurban bukanlah
bentuk kultis, melainkan pada tindakan
penyerahan diri. Dan ini terjadi dalam
peristiwa wafatNya Kristus.
• Perbedaan kurban dalam agama asli dan
kurban Yesus: kurban agama-agama asli
adalah do ut des (karena memberi maka
mendapat), sedangkan kurban Yesus Kristus
adalah tanggapan kasih Allah Dengan
demikian gagasan kurban pada intinya adalah
penyerahan diri.
• Perayaan Ekaristi adalah kurban salib Kristus
secara sakramental
– Kurban salib Kritus adalah kurban berdarah
sedangkan kurban Kristus dalam ekaristi tidak
berdarah. Ini dapat dijelaskan bahwa kurban salib
Kristus dalam ekaristi dalam bentuk simbol atau
sakramental.
– Perayaan ekaristi adalah kurban salib Yesus
Kristus yang dihadirkan bersama Gereja dan
benar-benar kurban Gereja bukan yang
menyaongi, tetapi kurban Gereja sejauh ambil
bagian dalam satu-satunya kurban salib Yesus
Kristus.
• Kehadiran Yesus Kristus dalam rupa roti
dan anggur : Yesus hadir secara nyata
dalam rupa roti dan anggur.
II. Ekaristi dan Kehidupan
Setelah kita sungguh mengerti bahwa
ekaristi memegang peranan penting dalam
kehidupan Gereja kita akan mencoba
menggali sejenak mengenai kaitan ekaristi
dengan kehidupan nyata.
III. Kehidupan Kita
•
Manusia senantiasa bergulat dengan kehidupannya. Ada
peristiwa suka dan peristiwa duka atau pun kerap terjadi
peristiwa kekeringan di mana kita pun kerap bingung apakah ini
peristiwa suka ataukah peristiwa duka. Dalam peristiwaperistiwa itu kerap kita memisahkan antara kehidupan iman
dengan realitas kehidupan. Atau ketika kita mengikuti perayaan
ekaristi kita kerap tidak dapat menyadari buah-buah dari
perayaan yang baru saja dilaksanakan. Tidak jarang terjadi
perkelahian setelah perayaan (misalnya masalah parkir), atau
makan selama perayaan dan pada saat komuni ikut menyambut
komuni dan lain-lain.
•
Berangkat dari sana ada sebuah kesimpulan bahwa
perayaan ekaristi kerap dilepaskan dengan kehidupan konkret
kita. Ekaristi kerap dilaksanakan sekedar sebuah kewajiban dan
tidak menjemput pada pengalaman konkret hidup umat. Oleh
karena itu muncul pertanyaan apa sesungguhnya sayang keliru
di sini ? Mengapa Gereja berpendapat bahwa ekaristi adalah
puncak kehidupan Gereja, sedangkan kenyataannya ada yang
kurang menghayatinya ?
• 1. Belajar dari Teilhard de Chardin
•
Teilhard adalah seorang imam, sekaligus sebagai
seorang arkeolog. Ia bergabung dengan palang
merah internasional saat perang dunia I. Dari sana ia
dapat merasakan betapa besar penderitaan umat
manusia. Setelah perang itu ia kerap berada di
daerah-daerah non katolik untuk penelitianpenelitian arkeologi. Kendati demikian ia memiliki
iman dengan Tuhan yang sangat kuat. Ia
berpendapat bahwa seluruh masalah kehidupan
manusia sesungguhnya adalah masalah iman.
Berkenaan dengan ekaristi ia menghayati bahwa
seluruh penderitaan umat manusia zaman kini
digabungkan dengan penderitaan Kristus. Kristus
telah menebus segala-galanya di dalam diriNya. Hal
itu terjadi dalam persembahan kurban ekaristi. Oleh
karena itu setiap memandang Kristus kita diingatkan
atas cinta kasihNya yang begitu besar kepada
manusia. (Le Cœr de la Matière).
2. Untuk Kita
• Dalam perjalanan hidup selama satu
minggu, setiap orang memiliki suka dan
duka dalam hidup ini. Suka-duka,
kekeringan dalam hidup ini adalah bagian
dari doa. Orang akhirnya harus kembali ke
Dia dalam segala situasi hidup. Ini adalah
suatu kecenderungan dan keterarahan
kodratiah manusia.
Download