Uploaded by common.user153208

Analisis Pelanggaran Kode Etik Kedokteran Hewan

advertisement
TUGAS MATA KULIAH
PENGENALAN & PENGHAYATAN PROFESI DOKTER HEWAN
“ANALISIS PELANGGARAN KODE ETIK KEDOKTERAN HEWAN:
KASUS DUGAAN MALAPRAKTIK DAN PENGABAIAN INFORMED
CONSENT KLINIK HEWAN TANGERANG”
OLEH:
SYAKIRATUNNAWWARAH SIDIQIYAH
C031261103
KELAS C
PROGRAM STUDI S1 KEDOKTERAN HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2026
Pendahuluan
Profesi dokter hewan merupakan profesi mulia yang berlandaskan pada
sumpah dan kode etik keprofesian yang ketat. Semboyan Manusya Mriga Satwa
Sewaka yang berarti "mengabdi untuk kesejahteraan manusia melalui dunia hewan"
menjadi filosofi dasar bagi setiap praktisi medis veteriner. Dalam menjalankan
tugasnya, hubungan antara dokter hewan dan pemilik hewan (klien) dikategorikan
sebagai perikatan ikhtiar (inspanning verbintenis), di mana dokter hewan
berkewajiban untuk memberikan upaya medis terbaik berdasarkan standar profesi
yang berlaku, namun tidak menjamin kesembuhan atau hasil akhir yang mutlak.
Dalam dinamika praktik klinik, hak otonomi pemilik hewan sangat dijunjung
tinggi melalui mekanisme informed consent atau persetujuan tindakan medik.
Persetujuan ini bukan sekadar formalitas tanda tangan, melainkan proses
komunikasi dua arah yang memberikan pemahaman bagi klien sebelum tindakan
dilakukan. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan
kesejahteraan hewan (animal welfare), frekuensi pengaduan kasus dugaan
malapraktik kepada Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) menunjukkan
tren kenaikan. Fenomena ini menuntut pemahaman yang lebih mendalam mengenai
batasan etika, prosedur operasional standar, dan tanggung jawab hukum praktisi
kedokteran hewan.
Kronologis Kasus
Kasus ini bermula pada Mei 2023 ketika sebuah komunitas pecinta satwa dan
sejumlah pemilik hewan peliharaan melaporkan dugaan pelanggaran etik yang
dilakukan oleh 6 dokter hewan di sebuah klinik hewan di kawasan Tangerang
kepada Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI). Berikut
adalah uraian rincian kejadian tersebut:
●
Penerimaan Pasien: Klien membawa hewan peliharaan ke klinik dengan
keluhan kesehatan tertentu. Namun, pada tahap awal diagnosa, dokter
hewan yang bertugas diduga tidak memberikan penjelasan yang
komprehensif mengenai kondisi klinis hewan maupun kemungkinan
diagnosis banding.
●
Pengabaian Informed Consent: Selama proses rawat inap hingga
pelaksanaan tindakan invasif, pihak klinik diketahui tidak menyediakan
formulir informed consent tertulis. Pemilik hewan tidak diberikan
penjelasan mengenai risiko medis, efek samping obat, maupun biaya yang
mungkin timbul selama perawatan.
●
Penurunan Kondisi Klinis: Selama masa rawat inap, kondisi hewan
justru mengalami perburukan secara signifikan. Diduga terjadi minimnya
pemantauan berkala (monitoring) oleh staf medis yang bertugas di
bangsal perawatan.
●
Transparansi Rekam Medis: Ketika pemilik hewan meminta kejelasan
mengenai perkembangan medis, pihak klinik menunjukkan sikap enggan
untuk memberikan transparansi rekam medis. Akses terhadap informasi
pengobatan dan hasil laboratorium tidak diberikan secara memadai.
●
Kematian Pasien: Kejadian tragis terjadi saat hewan ditemukan mati di
dalam kandang rawat inap tanpa adanya pendampingan atau
pemberitahuan segera kepada pemilik.
●
Eskalasi Konflik: Kecewa dengan pelayanan klinik, pemilik mengunggah
pengalaman mereka di media sosial. Pihak klinik merespons dengan
melakukan tindakan intimidasi berupa pelaporan massal (mass reporting)
terhadap akun pemilik hewan dengan tujuan membungkam kritik, alih-alih
melakukan mediasi secara etis. Hal ini memicu gelombang solidaritas
komunitas yang berakhir pada pelaporan resmi ke PB PDHI.
Etika dan Kode Etik yang Dilanggar
Berdasarkan analisis kronologis, terdapat beberapa butir dalam Kode Etik Dokter
Hewan Indonesia (KEDHI) yang relevan dengan dugaan pelanggaran ini:
1. Pasal 21 Ayat (2) dan Ayat (4) KEDHI: Pasal ini mewajibkan dokter hewan
untuk memberikan penjelasan mengenai risiko medis, diagnosis, dan rencana
terapi. Klinik melanggar prinsip penghargaan terhadap hak otonomi klien
karena gagal mendapatkan informed consent yang valid sebelum tindakan
dilakukan.
2. Pasal 28 KEDHI: Kewajiban pembuatan rekam medik veteriner yang akurat
adalah mutlak. Keengganan memberikan transparansi informasi menunjukkan
kegagalan dalam pemenuhan kewajiban administratif dan ilmiah yang diatur
dalam pasal ini.
3. Etika Kesejawatan dan Masyarakat (Pasal 9): Tindakan intimidasi dan
pembungkaman kritik melalui media sosial melanggar prinsip perilaku etik
profesional. Sebagai praktisi, dokter hewan seharusnya menangani komplain
secara edukatif dan profesional, bukan konfrontatif.
4. Prinsip Kesejahteraan Hewan (Five Freedoms): Kasus ini mengindikasikan
pelanggaran terhadap:
○
Freedom from Pain, Injury, or Disease: Karena penanganan medis
yang tidak optimal.
○
Freedom from Discomfort: Akibat kelalaian dalam pengawasan berkala
di kandang rawat inap.
Pembahasan
Kedudukan Hukum Informed Consent
Informed consent berfungsi sebagai perlindungan ganda: bagi pemilik hewan
untuk menggunakan hak otonominya, dan bagi dokter hewan sebagai bukti bahwa
tindakan medis telah disetujui setelah risiko dijelaskan. Ketiadaan bukti tertulis
dalam kasus ini menempatkan dokter hewan pada posisi hukum yang lemah dalam
menghadapi tuntutan malapraktik.
Vitalitas Rekam Medis (SOAP)
Rekam medis berbasis SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan)
adalah manifestasi dari duty of care. Dalam sengketa medik, rekam medis menjadi
alat bukti utama untuk menentukan apakah dokter telah bertindak sesuai standar
profesi atau melakukan kelalaian (negligence). Ketidakterbukaan rekam medis
menciptakan presumsi adanya hal-hal yang disembunyikan.
Mekanisme Penyelesaian Sengketa
PB PDHI melalui Majelis Kehormatan Dokter Hewan Indonesia (MKDHI)
memiliki wewenang untuk memeriksa pelanggaran etik. Sanksi dapat berkisar dari
teguran lisan hingga pencabutan rekomendasi izin praktik. Namun, jika ditemukan
unsur pidana atau perdata, kasus ini dapat berlanjut ke pengadilan umum sesuai UU
No. 18 Tahun 2009.
Manajemen Risiko di Era Digital
Era digital menuntut dokter hewan memiliki kemampuan komunikasi krisis
yang baik. Menghadapi keluhan di media sosial dengan intimidasi digital hanya akan
memperburuk reputasi profesional dan memicu ekskalasi hukum yang lebih besar.
Penutup
Kesimpulan
Analisis kasus di klinik hewan Tangerang menunjukkan adanya kegagalan
sistemik dalam penerapan etika profesi, mulai dari pengabaian hak otonomi klien
hingga manajemen rekam medis yang buruk. Pelanggaran terhadap KEDHI tidak
hanya merugikan pemilik hewan, tetapi juga mencederai marwah profesi dokter
hewan secara kolektif.
Saran dan Rekomendasi
1. Standardisasi SOP: Setiap klinik hewan wajib memiliki format informed
consent tertulis yang ditandatangani sebelum rawat inap atau pembedahan.
2. Digitalisasi Rekam Medis: Implementasi sistem rekam medis digital yang
terstandar untuk memudahkan pemantauan berkala dan menjamin
akuntabilitas informasi.
3. Pelatihan Komunikasi: Peningkatan kompetensi dokter hewan dalam hal
komunikasi efektif dengan klien serta pemahaman aspek hukum medis
veteriner.
4. Audit Internal: Melakukan evaluasi rutin terhadap kepatuhan staf medis
terhadap standar animal welfare dalam ruang rawat inap.
Daftar Pustaka
Animal Defenders Indonesia. (2023, Mei 9). Diduga Malpraktik, 6 Dokter Hewan
Dilaporkan ke PB PDHI. DetikNews. Diakses dari
https://news.detik.com/berita/d-6710879/diduga-malpraktik-6-dokter-hewandilaporkan-ke-pdhi
KumparanNEWS. (2023, Mei 9). 6 Dokter Hewan Dilaporkan ke PDHI karena
Dugaan Malapraktik dan Kode Etik. Kumparan. Diakses dari
https://kumparan.com/kumparannews/6-dokter-hewan-dilaporkan-ke-pdhikarena-dugaan-malapraktik-dan-kode-etik-20MvydJbdJf
Majelis Kehormatan Profesi Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. (2019). Kode
Etik Dokter Hewan Indonesia dan Petunjuk Pelaksanaannya. Jakarta:
Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI).
Rafly, M., dkk. (2024). Analisis Hubungan Hukum dan Etika Profesi Dokter Hewan
dalam Pelayanan Kesehatan Hewan Kesayangan di Indonesia. Jurnal Ilmu
dan Kesehatan Hewan, 12(1), 45–54.
Seto, R. (2019). Perlindungan Hukum Praktik Dokter Hewan di Indonesia dan Aspek
Perjanjian Terapeutik. Majalah Infovet.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2009 juncto Undang-Undang
Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Download