Uploaded by michael22006

Peraturan Daerah RTRW Lombok Tengah 2011-2031

advertisement
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
TAHUN 2011 NOMOR 7
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR 7 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH
KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN 2011-2031
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI LOMBOK TENGAH,
Menimbang :
Mengingat
a.
bahwa untuk mengarahkan pembangunan di Kabupaten Lombok
Tengah dengan memanfaatkan ruang wilayah secara berdaya guna,
berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan
keamanan, perlu disusun rencana tata ruang wilayah;
b. bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antar
sektor, daerah, dan masyarakat maka rencana tata ruang wilayah
merupakan arahan lokasi investasi pembangunan yang dilaksanakan
pemerintah, masyarakat, dan/atau dunia usaha;
c. bahwa dengan ditetapkannya Undang Undang No. 26 tahun 2007
tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, maka perlu penjabaran
ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a,
b, dan c, perlu menetapkan Peraturan daerah tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011-2031;
: 1. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan DaerahDaerah Tingkat II Dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa
Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 1649);
2. Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok
Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043);
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
(Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3209);
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274);
2
5. Undang-Undang
Nomor
15
Tahun
1985
tentang
Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1985 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3317);
6. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 75,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3317);
7. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3419);
8. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3469);
9. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar
Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3470);
10. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya
Tanaman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1992 Nomor 3478);
11. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996
tentang Pangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 99,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3656);
12. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881);
13. Undang-Undang
Nomor
15
Tahun
1997
tentang
Ketransmigrasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1997 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3682);
14. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888
)sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19
tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan
menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Repubublik
Indondesia tahun 2004 Nomor 86, tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4412) ;
15. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4168);
16. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002
Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
1469);
17. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002
Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4247);
18. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 115,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4327);
3
19. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433);
20. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377);
21. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 84);
22. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433);
23. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 104);
24. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437).
Sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008;
25. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4444);
26. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4723.);
27. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
28. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4739);
29. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4849);
30. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4956);
31. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4959);
32. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4966);
33. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5015);
34. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 5025);
4
35. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5059);
36. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 149, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5068);
37. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3373);
38. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi
Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3373);
39. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 44,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3445);
40. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 1992 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1962 Nomor 129, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3510);
41. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Benda
Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993
Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3516);
42. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang
Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman
Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Wisata Alam (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 25, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3550);
43. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang
Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peran
Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3660);
44. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan
Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3776);
45. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Transmigrasi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3800);
46. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3838);
47. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat
Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3934 );
48. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 153);
5
49. Peraturan
Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4385);
50. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang
Perencanaan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 146, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4452);
51. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang
Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 147, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4453 );
52. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4593);
53. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 46,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4624);
54. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 86,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4655);
55. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan
dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan
Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4696) sebagaimana telah diubah dengan peraturan pemerintah
nomor 3 tahun 2008 (lembaran Negara Republik Indonesia tahun
2008 nomor 16, tambahan lembaran Negara Republik Indonesia
nomor 4814);
56. Peraturan pemerintah nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah
Provinsi, Dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kota (lembaran
Negara Republik Indonesia tahun 2007 nomor 82, tambahan
Negara Republik Indonesia nomor 4737)
57. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Kerjasama Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4761);
58. Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan
Usaha Panas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4777);
59. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4833).
60. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sumberdaya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4858);
61. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 83,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4859).
6
62. Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5103);
63. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010
tentang Wilayah Pertambangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 28);
64. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010
tentang Pelaksanaan Usaha Kegiatan Pertambangan Mineral dan
Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 29);
65. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2010
tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Khusus (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 59)
66. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan
Kawasan Suaka Alam Dan Kawasan Pelestarian Alam (tambahan
lembaran Negara Republik Indonesia nomor 5217);
67. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 2 Tahun
2008 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
(Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 31, Tambahan Lembaran
Daerah Nomor 31);
68. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 5 Tahun
2007 tentang Perlindungan Hutan, Flora dan Fauna Kabupaten
Nusa Tenggara Barat;
69. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 3 Tahun
2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nusa
Tenggara Barat Tahun 2009-2029;
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
dan
BUPATI LOMBOK TENGAH
Menetapkan :
MEMUTUSKAN :
PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH
KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN 2011-2031.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Kabupaten adalah Kabupaten Lombok Tengah.
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.
3. Bupati adalah Bupati Lombok Tengah
7
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lombok Tengah.
Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah, yang selanjutnya disebut BKPRD, adalah
badan bersifat ad-hoc yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan Undangundang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang di Kabupaten Lombok
Tengah dan mempunyai fungsi membantu pelaksanaan tugas Bupati dalam
koordinasi penataan ruang di daerah.
Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara
termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan
makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan
kehidupannya.
Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi
peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi
budidaya.
Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi
masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional.
Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten yang selanjutnya disingkat RTRW
Kabupaten adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah
daerah yang menjadi acuan bagi penataan wilayah yang merupakan dasar dalam
penyusunan program pembangunan.
Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan /
atau aspek fungsional.
Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung dan budidaya.
Kawasan Perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian
termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai
tempat permukiman pedesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan
kegiatan ekonomi.
Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan,
pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan
kegiatan ekonomi.
Rencana Sistem Perkotaan di wilayah Kabupaten adalah rencana susunan kawasan
perkotaan sebagai pusat kegiatan di dalam wilayah Kabupaten yang menunjukkan
keterkaitan saat ini maupun rencana yang membentuk hirarki pelayanan dengan
cakupan dan dominasi fungsi tertentu dalam wilayah Kabupaten.
Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau
beberapa kabupaten.
Pusat Kegiatan Strategis Nasional yang selanjutnya disebut PKSN adalah kawasan
perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan
negara.
Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten atau beberapa
kabupaten/kota.
8
21. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan perkotaan yang
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten atau beberapa kabupaten/kota.
Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) adalah Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang
dipromosikan untuk kemudian hari dapat ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal
(PKL).
Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disebut PPK adalah kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa.
Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disebut PPL adalah pusat
permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa.
Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah Kabupaten adalah rencana jaringan
prasarana wilayah yang dikembangkan untuk mengintegrasikan wilayah
kabupaten dan untuk melayani kegiatan yang memiliki cakupan wilayah layanan
prasarana skala kabupaten.
Kawasan Lindung Kabupaten adalah kawasan yang secara ekologis merupakan satu
ekosistem yang terletak pada wilayah kabupaten, kawasan lindung yang
memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya yang terletak di
wilayah kabupaten, dan kawasan-kawasan lindung lain yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan pengelolaannya merupakan kewenangan
pemerintah daerah kabupaten.
Lingkungan Hidup adalah Kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan
dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi
alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lain.
Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh
menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas
dan produktivitas lingkungan hidup.
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya
alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya,
yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh
pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
Hutan Negara adalah hutan yang berada atas tanah yang tidak dibebani hak atas
tanah.
Hutan Lindung adalah hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan
penyangga sistem kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan.
Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya
Pemanfaatan hutan adalah kegiatan untuk memanfaatkan kawasan hutan,
memanfaatkan jasa lingkungan, memanfaatkan hasil hutan kayu dan bukan kayu
serta memungut hasil hutan kayu dan bukan kayu secara optimal dan adil untuk
kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestariannya.
Pemanfaatan kawasan adalah kegiatan untuk memanfaatkan ruang tumbuh
sehingga diperoleh manfaat lingkungan, manfaat sosial dan manfaat ekonomi
secara optimal dengan tidak mengurangi fungsi utamanya;
Pemanfaatan jasa lingkungan adalah kegiatan untuk memanfaatkan potensi jasa
lingkungan dengan tidak merusak lingkungan dan mengurangi fungsi utamanya
9
38. Kawasan Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam darat maupun
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
perairan yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata;
Kawasan Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air,
mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara
kesuburan tanah.
Taman Hutan Raya (TAHURA) adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan
koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau
bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan,
pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi.
Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) adalah wilayah pengelolaan hutan sesuai fungsi
pokok dan peruntukannya, yang dapat dikelola secara efisien dan lestari.
Kawasan Resapan Air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk
meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer)
yang berguna sebagai sumber air.
Kawasan Sempadan Pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya
proporsional dengan bentuk dan kondisi pantai.
Kawasan Sempadan Sungai adalah kawasan di sekitar daerah aliran sungai yang
berfungsi untuk melindungi sungai dari kegiatan yang dapat mengganggu atau
merusak bantaran, tanggul sungai, kualitas air sungai, dasar sungai, mengamankan
aliran sungai dan mencegah terjadinya bahaya banjir.
Kawasan Sekitar Mata Air adalah kawasan sekeliling mata air yang mempunyai
manfaat penting untuk kelestarian fungsi mata air.
Ruang Terbuka Hijau Kabupaten yang selanjutnya disingkat RTHK adalah area
memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat
terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang
sengaja ditanam.
Kawasan Suaka Alam adalah kawasan yang mewakili ekosistem khas yang
merupakan habitat alami yang memberikan perlindungan bagi perkembangan
flora dan fauna yang khas dan beraneka ragam.
Kawasan Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan
sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan,
pariwisata, rekreasi, dan pendidikan.
Kawasan Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam darat maupun
perairan yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.
Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan adalah tempat serta ruang di sekitar
bangunan bernilai budaya tinggi dan sebagai tempat serta ruang di sekitar situs
purbakala dan kawasan yang memiliki bentukan geologi alami yang khas.
Kawasan Pesisir adalah kawasan yang merupakan peralihan antara darat dan laut
yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan di laut.
Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2000 km2
beserta kesatuan ekosistimnya.
Kawasan Rawan Bencana Alam adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi
mengalami bencana alam.
Kawasan Budidaya Kabupaten adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi
utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam,
sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
Kawasan Agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat
kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan
pengelolaan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan
10
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem
agrobisnis.
Kawasan Minapolitan adalah kawasan yang membentuk kota perikanan, yang
memudahkan masyarakat untuk bisa mengembangkan perikanan, dengan
kemudahan memperoleh peralatan tangkap, benih melalui unit perbenihan rakyat,
pengolahan ikan, pasar ikan dan mudah mendapatkan pakan ikan, yang dikelola
oleh salah satu kelompok yang dipercaya oleh pemerintah.
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang
ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna
menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dankedaulatan pangan
nasional
Pertanian yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan
peternakan yang selanjutnya disebut pertanian adalah seluruh kegiatan yang
meliputi usaha hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang
pengelolaan sumber daya alam hayati dalam agroekosistem yang sesuai dan
berkelanjutan, dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan manajemen
untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat.
Kawasan Peruntukan Perikanan adalah kawasan yang diperuntukkan bagi
budidaya perikanan, baik berupa pertambakan, atau kolam dan perairan darat
lainnya serta perikanan laut.
Kawasan Peruntukan Hutan Produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai
fungsi pokok memproduksi hasil hutan.
Kawasan Pelestarian Alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai
pokok perlindungnan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman
jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya.
Kawasan Peruntukan Pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang
dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.
Kawasan Peruntukan Pertambangan adalah kawasan yang diperuntukkan bagi
pertambangan.
Kawasan Peruntukan Industri adalah bentangan lahan yang diperuntukkan bagi
kegiatan industri berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah yang ditetapkan sesuai
dengan ketentuan perudang-undangan.
Kawasan Peruntukan Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar
kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang
berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat
kegiatan yang mendukung perikehidupan penghidupan.
Kawasan Pertahanan Negara adalah wilayah yang ditetapkan secara nasional yang
digunakan untuk kepentingan pertahanan
Cekungan Air Tanah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat
semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan
termasuk bangunan di dalamnya.
Wilayah Sungai adalah kesatuan wilayah tata pengairan sebagai hasil
pengembangan satu atau lebih daerah pengaliran sungai.
Daerah Irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi.
Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten adalah arahan pengembangan
wilayah untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang wilayah kabupaten
sesuai dengan RTRW kabupaten melalui penyusunan dan pelaksanaan program
penataan/pengembangan kabupaten beserta pembiayaannya, dalam suatu indikasi
program utama jangka menengah lima tahunan kabupaten yang berisi rencana
program utama, sumber pendanaan, instansi pelaksana, dan waktu pelaksanaan.
11
71. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten adalah ketentuan-
72.
73.
74.
75.
76.
77.
ketentuan yang dibuat atau disusun dalam upaya mengendalikan pemanfaatan
ruang wilayah kabupaten agar sesuai dengan RTRW kabupaten yang berbentuk
ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif dan
disinsentif, serta arahan sanksi untuk wilayah kabupaten.
Ketentuan umum peraturan zonasi sistem kabupaten adalah ketentuan umum yang
mengatur pemanfaatan ruang/penataan kabupaten dan unsur-unsur pengendalian
pemanfaatan ruang yang disusun untuk setiap klasifikasi peruntukan/fungsi ruang
sesuai dengan RTRW kabupaten.
Ketentuan perizinan adalah ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah
daerah kabupaten sesuai kewenangannya yang harus dipenuhi oleh setiap pihak
sebelum pemanfaatan ruang, yang digunakan sebagai alat dalam melaksanakan
pembangunan keruangan yang tertib sesuai dengan rencana tata ruang yang telah
disusun dan ditetapkan.
Ketentuan insentif dan disinsentif adalah perangkat atau upaya untuk memberikan
imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang
dan juga perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi
kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang.
Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan
pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Arahan sanksi adalah arahan untuk memberikan sanksi bagi siapa saja yang
melakukan pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata
ruang yang berlaku.
Peran Serta Masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat, yang timbul atas
kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat, untuk berminat dan
bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang.
BAB II
BATAS WILAYAH DAN RUANG LINGKUP KABUPATEN
Pasal 2
Batas wilayah perencanaan Kabupaten adalah :
a. sebelah utara
: Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok
Timur;
b. sebelah selatan
: Samudera Hindia;
c. sebelah barat
: Kabupaten Lombok Barat; dan
d. sebelah timur
: Kabupaten Lombok Timur.
Pasal 3
(1) Luas wilayah Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten adalah daerah dengan batas
yang ditentukan berdasarkan aspek administratif meliputi wilayah daratan seluas
kurang lebih 120.839 (seratus dua puluh ribu delapan ratus tiga puluh Sembilan)
hektar , wilayah laut sejauh 4 (empat) mil laut dari garis pantai seluas kurang lebih
67.000 (enam puluh tuju ribu) hektar, serta wilayah udara.
(2) Luas wilayah perencanaan daratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibagi
dalam 12 Kecamatan meliputi:
12
a. Kecamatan Batukliang Utara seluas kurang lebih 18.196 (delapan belas ribu
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
seratus sembilan puluh enam ) hektar;
Kecamatan Batukliang seluas kurang lebih 5.037 (lima ribu tiga puluh tujuh)
hektar;
Kecamatan Pringgarata seluas kurang lebih 5.278 (lima ribu dua ratus tujuh
puluh delapan) hektar;
Kecamatan Jonggat seluas kurang lebih 7.155 (tujuh ribu seratus lima puluh
lima) hektar;
Kecamatan Praya Tengah seluas kurang lebih 6.592 (enam ribu lima ratus
sembilan puluh dua) hektar;
Kecamatan Praya seluas kurang lebih 6.126 (enam ribu seratus dua puluh
enam) hektar;
Kecamatan Kopang seluas kurang lebih 6.166 (enam ribu seratus enam puluh
enam) hektar;
Kecamatan Janapria seluas kurang lebih 6.905 (enam ribu sembilan ratus lima)
hektar;
Kecamatan Praya Timur seluas kurang lebih 8.257 (delapan ribu dua ratus lima
puluh tujuh) hektar;
Kecamatan Pujut seluas kurang lebih 23.355 (dua puluh tiga ribu tiga ratus
lima puluh lima) hektar;
Kecamatan Praya Barat seluas kurang lebih 15.275 (lima belas ribu dua ratus
tujuh puluh lima) hektar; dan
Kecamatan Praya Barat Daya seluas kurang lebih 12.497 (dua belas ribu empat
ratus Sembilan puluh tujuh) hektar.
BAB III
TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG
Bagian Kesatu
Tujuan Penataan Ruang
Pasal 4
Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten adalah untuk mewujudkan ruang wilayah
Kabupaten yang aman, nyaman, produktif dalam rangka mewujudkan Kabupaten
Lombok Tengah sebagai pusat dan pintu masuk pariwisata Pulau Lombok yang
didukung oleh budaya lokal, pertanian, kelautan dan perikanan dengan tetap
memperhatikan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
melalui penyelenggaraan pemerintahan yang baik.
Bagian Kedua
Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten
Pasal 5
Agar tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
tercapai maka perlu disusun kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten.
13
Pasal 6
Kebijakan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 meliputi :
a. pengembangan dan pemantapan wilayah-wilayah yang berbasis utama pariwisata;
b. pengembangan wilayah-wilayah yang berbasis pertanian dan perikanan disertai
pengelolaan hasil dan peningkatan peran dalam mendukung agrowisata/ekowisata;
c. Pengembangan dan pemantapan kawasan pantai dan laut untuk mendukung
investasi, transportasi dan penyelamatan lingkungan;
d. penataan pusat-pusat pertumbuhan wilayah dan ekonomi perkotaan menunjang
sistem pemasaran pariwisata, produksi pertanian, dan perikanan;
e. pengembangan kelengkapan prasarana wilayah dan prasarana lingkungan dalam
mendukung pengembangan pariwisata, sentra produksi pertanian, kelautan dan
perikanan, pusat permukiman secara terpadu dan efisien;
f. pemeliharaan perwujudan kelestarian lingkungan hidup dan pencegahan dampak
negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup
dan pemulihan kerusakan lingkungan hidup serta menetapkan mitigasi dan
adaptasi kawasan rawan bencana;
g. pengembangan kawasan budidaya untuk mendukung pengembangan dan
pemantapan pariwisata, sistem agropolitan dan minapolitan;
h. pengembangan pemanfaatan ruang pada kawasan strategis baik untuk fungsi
pengembangan wilayah maupun guna perlindungan kawasan sesuai fungsi utama
kawasan; dan
i.
Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.
Bagian Ketiga
Strategi Penataan Ruang Wilayah Kabupaten
Pasal 7
Untuk melaksanakan kebijakan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ditetapkan strategi penataan ruang wilayah kabupaten.
Pasal 8
(1) Strategi pengembangan dan pemantapan wilayah-wilayah yang berbasis utama
pariwisata, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a meliputi:
a. mengembangkan kawasan pariwisata di Kawasan Pariwisata Kuta, Teluk
Awang, Bumbang dan sekitarnya, Dusun Sade dan sekitarnya, Selong Belanak
dan sekitarnya serta obyek-obyek wisata unggulan yang tersebar di Kabupaten;
b. mengelola, mengembangkan dan melestarikan peninggalan sejarah/budaya;
c. merevitalisasi nilai-nilai budaya, situs/cagar budaya yang bernilai historis;
d. mengembangkan sektor kepariwisataan yang berlandaskan kebudayaan lokal
setempat, diarahkan pada kepariwisataan berbasis masyarakat melalui
pengembangan wisata perdesaan (desa wisata), wisata agro, eko wisata, wisata
bahari, wisata budaya, wisata spiritual dengan penyediaan kelengkapan sarana
dan prasarana daya tarik pariwisata yang tetap memperhatikan kelestarian
lingkungan dan daya dukung dan pengembangan ekonomi kerakyatan; dan
e. mengembangkan kawasan pesisir dan laut secara terpadu sebagai aset utama
kepariwisataan, kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.
f. menyediakan, memelihara dan meningkatkan aksesibilitas menuju kawasan
wisata, pertanian dan perikanan
14
(2) Strategi pengembangan wilayah-wilayah yang berbasis pertanian, kelautan dan
perikanan disertai pengelolaan hasil dan peningkatan peran dalam mendukung
agrowisata/ekowisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b meliputi:
a. mengembangkan wilayah-wilayah dengan potensi unggulan pertanian dan
perikanan sebagai daerah produksi;
b. mengembangkan kawasan sesuai potensinya yang dihubungkan dengan pusat
kegiatan untuk mendukung agropolitan dan minapolitan;
c. meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana penunjang
produksi;
d. menekan pengurangan luasan lahan sawah beririgasi teknis;
e. menetapkan kawasan pertanian lahan pangan berkelanjutan;
f. mengoptimalkan pemanfaatan kawasan pertanian lahan kering; dan
g. meningkatkan sarana dan prasarana pengembangan perikanan tangkap,
budidaya laut dan tawar, pengolahan hasil ikan dan pemasarannya.
(3) Strategi Pengembangan dan pemantapan kawasan pantai dan laut untuk
mendukung investasi, transportasi dan penyelamatan lingkungan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 huruf c meliputi meliputi;
a. mengembangkan kawasan potensial pantai dan laut dengan tetap
memperhatikan kelestarian alam;
b. mengembangkan jaringan sarana dan prasarana guna mendukung investasi;
c. memantapkan fungsi-fungsi kawasan pantai dan laut.
(4) Strategi penataan pusat-pusat pertumbuhan wilayah dan ekonomi perkotaan serta
menunjang sistem pemasaran pariwisata, produksi pertanian, dan perikanan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d meliputi:
a. menetapkan hierarki simpul-simpul pertumbuhan ekonomi wilayah terutama
yang berfungsi sebagai pusat pariwisata, agropolitan dan minapolitan;
b. memantapkan fungsi simpul-simpul wilayah;
c. memantapkan keterkaitan antar simpul-simpul wilayah dan interaksi antara
simpul wilayah dengan kawasan perdesaan sebagai hinterlandnya;
d. mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum terlayani
oleh pusat pertumbuhan; dan
e. mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif
dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya.
(5) Strategi pengembangan kelengkapan prasarana wilayah dan prasarana lingkungan
dalam mendukung pengembangan pariwisata, sentra produksi pertanian, kelautan
dan perikanan, pusat permukiman secara terpadu dan efisien sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 huruf e meliputi:
a. mengembangkan sistem transportasi secara intermoda sampai ke pusat
pelayanan pariwisata, produksi pertanian, dan perikanan;
b. mendayagunakan sumber daya air dan pemeliharaan jaringan untuk
pemenuhan kebutuhan air baku dan sarana dan prasarana pengairan kawasan
pertanian;
c. meningkatkan jumlah, mutu dan jangkauan pelayanan komunikasi serta
kemudahan mendapatkannya yang diprioritaskan untuk mendukung
pengembangan pariwisata dan pertanian;
d. meningkatkan jaringan energi dan kelistrikan dengan memanfaatkan energi
terbarukan dan tak terbarukan secara optimal serta mewujudkan keterpaduan
sistem penyediaan tenaga listrik; dan
e. mengoptimalkan tingkat penanganan persampahan dan limbah guna
menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih.
(6) Strategi pemeliharaan perwujudan kelestarian lingkungan hidup dan pencegahan
dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan
hidup dan pemulihan kerusakan lingkungan hidup serta menetapkan mitigasi dan
15
adaptasi kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf f
meliputi:
a. melestarikan kawasan lindung di ruang darat, ruang laut, dan ruang udara
termasuk ruang di dalam bumi;
b. memadukan arahan kawasan lindung nasional dan provinsi dalam kawasan
lindung Kabupaten;
c. mewujudkan kawasan berfungsi lindung dengan luas paling sedikit 30 (tiga
puluh) persen dari luas wilayah;
d. menetapkan kawasan hutan dan vegetasi tutupan lahan permanen paling
sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas DAS yang berada di wilayah Lombok
Tengah;
e. melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau
dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu
mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;
f. mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau tidak langsung
menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang mengakibatkan
lingkungan hidup tidak berfungsi dalam menunjang pembangunan yang
berkelanjutan;
g. mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana
di kawasan rawan bencana;
h. mengendalikan kegiatan budidaya yang terdapat di dalam kawasan lindung
melalui konversi atau rehabilitasi lahan, pembatasan kegiatan, serta
pemindahan kegiatan permukiman penduduk atau kegiatan budidaya
terbangun yang mengganggu, secara bertahap ke luar kawasan lindung;
i. mengembalikan dan meningkatkan fungsi lingkungan hidup yang telah
menurun;
j. mengendalikan pemanfaatan ruang untuk kawasan budidaya terbangun di
kawasan rawan bencana;
k. mengembangkan kawasan budidaya yang sesuai pada kawasan rawan bencana
untuk mengurangi dampak bencana dan mengendalikan kegiatan budidaya di
sekitar kawasan rawan bencana;
l. memantapkan dan mengembangkan jalur-jalur evakuasi untuk mengurangi
risiko gangguan dan ancaman langsung maupun tidak langsung dari
terjadinya bencana;
m. menyelenggarakan tindakan preventif dalam penanganan bencana alam
berdasarkan siklus bencana melalui upaya mitigasi dan adaptasi bencana,
pengawasan terhadap pelaksanaan rencana tata ruang, tanggap darurat,
pemulihan, dan pembangunan kembali pasca bencana; dan
n. menetapkan alokasi ruang kawasan rawan bencana dengan mengacu pada
peta rawan bencana.
(7) Strategi pengembangan kawasan budidaya untuk mendukung pengembangan dan
pemantapan pariwisata, sistem agropolitan dan minapolitan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 huruf g meliputi:
a. meningkatkan pengembangan pariwisata berbasis ekowisata dengan tetap
memperhatikan kelestarian lingkungan, pelestarian budaya dan melibatkan
peran serta masyarakat;
b. mengembangkan kawasan hutan produksi guna meningkatkan produktivitas
lahan dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan;
c. mengamankan lahan pertanian berkelanjutan dan menjaga suplai pangan;
d. meningkatkan produk dan nilai tambah perikanan baik perikanan tangkap
maupun perikanan budidaya melalui sentra pengolah hasil ikan;
e. meningkatkan kawasan permukiman perkotaan secara sinergis dengan
permukiman perdesaan;
16
f.
mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit 30% (tiga
puluh persen) dari luas kawasan perkotaan; dan
g. mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin pemanfaatannya
secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbarukan untuk menjamin
kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan
kualitas nilai serta keanekaragamannya.
(8) Strategi pengembangan pemanfaatan ruang pada kawasan strategis baik untuk
fungsi pengembangan wilayah maupun guna perlindungan kawasan sesuai fungsi
utama kawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 huruf h meliputi:
a. meningkatkan dan memantapkan fungsi dan peran kawasan strategis
pertumbuhan ekonomi;
b. meningkatkan dan memantapkan fungsi dan peran kawasan strategis sosial
dan budaya; dan
c. meningkatkan dan memantapkan fungsi dan peran kawasan strategis
perlindungan ekosistem dan lingkungan hidup.
(9) Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf i meliputi:
a. mendukung penetapan kawasan strategi nasional dengan fungsi khusus
pertahanan dan keamanan;
b. mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif di dalam dan di sekitar
kawasan dengan fungsi khusus pertahanan untuk menjaga fungsi
peruntukannya;
c. mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya tidak
terbangun di sekitar kawasan dengan fungsi khusus pertahanan, sebagai zona
penyangga yang memisahkan kawasan strategis nasional dengan kawasan
budidaya terbangun
d. turut menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan / TNI
BAB IV
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 9
(1) Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten meliputi :
a. pusat-pusat kegiatan;
b. sistem jaringan prasarana utama; dan
c. sistem jaringan prasarana lainnya.
(2) Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian minimal 1 : 50.000
sebagaimana tercantum dalam Lampiran I.1 yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Pusat-pusat Kegiatan
Pasal 10
Pusat-pusat kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a meliputi:
a.
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) di Praya
17
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
Pusat Kegiatan Lokal (PKL) terletak di Kopang, Sengkol dan Mujur.
Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp) terletak di Puyung, Mantang, Janapria, dan
Selong Belanak.
Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) terletak di Teratak, Ubung, dan Pringgarata.
Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) terletak di Desa Barabali, Selebung, Sukadana,
Pengembur, Pengengat, Selebung Rembiga dan Langko, Saba, Bakan, Bonder,
Mangkung, Mekarsari, Ganti, Sukaraja, Kidang, Aik Bukak, Lantan, Tanak Beak, Aik
Berik, Dasan Baru, Bebuak, Muncan, Ungga, Batu Jangkih, Pelambik, Bonjeruk,
Pengenjek, Jelantik, Labulia, Sepakek, Sintung dan Bagu, dan Montong Terep.
Rincian PKW, PKL, PKLp dan PPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a, b,
c dan d tercantum sebagai lampiran II.1 yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini; dan
Rincian PPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf e tercantum sebagai
lampiran II.2 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
Pusat-pusat kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, dan c diatur lebih
lanjut melalui rencana detail dengan Peraturan Daerah.
Bagian Ketiga
Sistem Jaringan Prasarana Utama
Pasal 11
Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana utama sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 huruf b meliputi:
a. sistem jaringan transportasi darat;
b. sistem jaringan transportasi laut; dan
c. sistem jaringan transportasi udara.
Paragraf 1
Sistem Transportasi Darat
Pasal 12
(1) Sistem jaringan transportasi darat Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal
11 huruf a terdiri atas:
a. jaringan jalan; dan
b. jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).
(2) Jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. jaringan jalan arteri primer meliputi:
1. Ruas Jalan Mantang – Kopang; dan
2. Ruas Jalan Kopang- Masbagik.
b. jaringan jalan kolektor primer (K-1) meliputi:
1. Ruas Jalan Kopang-Batas Kota Praya;
2. Ruas Jalan Jl. TGH Lopan (Praya); dan
3. Ruas Jalan Jl. Sudirman (Praya).
c. jaringan jalan kolektor primer (K-2) meliputi:
1. Ruas Jalan Praya-Sp. Penujak;
2. Ruas Jalan Jl. Mandalika (Praya);
3. Ruas Jalan Sp. Penujak-Tanah Awu;
4. Ruas Jalan Tanah Awu-Sengkol;
5. Ruas Jalan Sengkol-Kuta;
18
6. Ruas Jalan Sulin-Sp. Penujak;
7. Ruas Jalan Kediri-Praya;
8. Ruas Jalan Jl. Gajah Mada;
9. Ruas Jalan Praya – Keruak;
10.Ruas Jalan Jl. Pejanggik;
11.Ruas Jalan Sp. Pengantap – Mt. Ajan – Kuta;dan
12.Ruas Jalan Kuta – Keruak.
d. jaringan jalan kolektor primer (K-3) meliputi:
1. Ruas Jalan Mantang-Praya;
2. Ruas Jalan Wakul-Ketejer;
3. Ruas Jalan Ketejer-Jontlak;
4. Ruas Jalan Jl. Basuki Rahmat (Praya); dan
5. Ruas Jalan Mt. Ajan-Penujak.
e. jaringan jalan lokal primer;
f. jaringan jalan lokal sekunder;
g. rencana peningkatan jaringan jalan desa ke jalan Kabupaten, jalan Kabupaten
ke jalan provinsi, dan jalan provinsi ke jalan nasional diarahkan di seluruh
kecamatan secara proporsional.
h. rincian jaringan jalan tercantum dalam lampiran II.3 yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari Peraturan daerah ini.
(3) Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b terdiri atas:
a. jalur angkutan; dan
b. terminal
(4) Jalur angkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Bupati:
(5) terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b terdiri atas:
a. terminal penumpang tipe B yang terletak di Kota Praya;
b. terminal penumpang tipe C yang terletak di Kopang, Sengkol, dan Mujur;
Paragraf 2
Sistem Jaringan Transportasi Laut
Pasal 13
(1) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 huruf b
terdiri atas:
a. tatanan kepelabuhanan; dan
b. alur pelayaran.
(2) Tatanan kepelabuhanan di Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
terdiri dari:
a. rencana pengembangan sistem jaringan transportasi laut meliputi
pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Awang di Kecamatan
Pujut menjadi Pelabuhan Nasional; dan
b. rencana pembangunan dermaga pelabuhan penunjang pariwisata di
Kecamatan Pujut dan Praya Barat.
(3) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas rencana
pengembangan alur pelayaran dari dan ke pelabuhan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf a.
19
(4) Rincian sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum dalam Lampiran II.4 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 3
Sistem Transportasi Udara
Pasal 14
(1) Sistem jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf c
terdiri atas:
a. tatanan kebandarudaraan; dan
b. ruang udara untuk penerbangan.
(2) Tatanan kebandarudaraan di kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a terdiri atas bandar udara pengumpul skala pelayanan sekunder yang
meliputi Bandara Internasional Lombok (BIL) di Kecamatan Praya Barat
(3) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
diatur lebih lanjut dalam rencana induk bandar udara.
(4) Rincian sistem jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum dalam Lampiran II.5 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Keempat
Sistem Jaringan Prasarana Lainnya
Pasal 15
Sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf
cterdiri atas:
a. sistem jaringan energi;
b. sistem jaringan telekomunikasi;
c. sistem jaringan sumber daya air; dan
d. sistem prasarana pengelolaan lingkungan.
Paragraf 4
Sistem Jaringan Energi
Pasal 16
(1) Sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a terdiri atas:
a. pembangkit listrik; dan
b. jaringan prasarana energi.
(2) Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), terdapat di Kecamatan
Pringgarata, Batukliang, dan Batukliang Utara;
b. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), terdapat di Kecamatan Praya Timur,
Pujut, Praya Barat Daya, Praya Barat, Pringgarata;
c. Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Bio Energi (PLTBE), terdapat
di Kecamatan Praya Barat Daya, Pringgarata;
20
d. Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), terdapat di
Kecamatan Praya Barat Daya, Praya Barat, Pujut, Praya Timur;
e. Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL),
terdapat di Kecamatan Praya Barat Daya, Praya Barat, Pujut, Praya Timur; dan
f. Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL), terdapat
di Kecamatan Praya Barat Daya, Praya Barat, Pujut, Praya Timur.
(3) Jaringan prasarana energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri
atas:
a. jaringan pipa minyak dan gas bumi terdiri atas:
1. Depo gas, terdapat di Praya, Puyung, Batujai, Jontlak, Mujur, Kopang, dan
Aik Darek dan pengembangan depo gas di seluruh kecamatan;
2. Pengembangan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji di Kecamatan Batukliang; dan
3. Pengembangan pengolahan migas (kilang) di Kecamatan Pujut.
b. jaringan transmisi tenaga listrik terdiri atas:
1. gardu induk, terdapat di Sengkol, Kuta; dan
2. jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) yaitu menghubungkan
Jerangjang dengan Sengkol; Sengkol dengan Selong; dan Sengkol dengan
Kuta.
(4) Rincian sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum
dalam Lampiran II.6 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
Paragraf 5
Sistem Jaringan Telekomunikasi
Pasal 17
(1) Sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b
terdiri atas:
a. sistem jaringan kabel; dan
b. sistem jaringan satelit.
(2) Sistem jaringan kabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf ameliputi
jaringan mikro digital di Batukliang-Tampaksiring sepanjang 3 kilometer;
Batukliang Utara ke masing-masing: Aik Berik 3 kilometer, Aik Bukaq 2 kilometer,
Karang Sidemen 3 kilometer, Lantan 2 kilometer, Mas-mas 3 kilometer dan Setiling
93,5 kilometer; Janapria-Selebung Rembiga sepanjang 6 kilometer, KopangLendangare sepanjang 4 kilometer, Praya ke masing-masing : Mertak Tombok 6
kilometer dan Semayan 3 kilometer; Praya Barat-Banyu Urip sepanjang 3 kilometer,
Praya Barat Daya ke masing-masing : Kabul 3 kilometer dan Montong Sapah 3,5
kilometer; Praya Tengah ke masing-masing : Beraim 6 kilometer, Gerantung 7
kilometer, Lajut 3 kilometer, Pejanggik 2 kilometer, dan Sasake 2,5 kilometer,
Pringgarata ke masing-masing : Murbaya 2 kilometer, dan Sepakek 2,5 kilometer,
Pujut ke masing-masing : Ketara 3 kilometer, Pengembur 4 kilometer, dan Prabu 2
kilometer;
(3) Sistem jaringan satelit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi
Menara telekomunikasi yang tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten.
(4) Pengembangan menara telekomunikasi diarahkan menjadi menara bersama
telekomunikasi.
(5) Lokasi menara telekomunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) selanjutnya
akan diatur sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
21
Paragraf 6
Sistem Jaringan Sumber Daya Air
Pasal 18
(1) Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c
terdiri atas:
a. sistem wilayah sungai (WS);
b. sistem cekungan air tanah (CAT);
c. sistem jaringan irigasi;
d. sistem jaringan air baku untuk air minum;
e. sistem jaringan air minum ke kelompok pengguna;
f. sistem pengendalian banjir; dan
g. sistem dan pengendali erosi dan longsor.
(2) Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) meliputi aspek konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber
daya air, dan pengendalian daya rusak air dengan memperhatikan arahan pola dan
rencana pengelolaan sumber daya air WS Lombok yang ditetapkan oleh pemerintah.
(3) Sistem wilayah sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas WS
Lombok yang merupakan WS Strategis Nasional.
(4) Sistem jaringan sumber daya air lintas Kabupaten terdiri atas:
a. saluran high level diversion (HDL) Jangkok - Babak; dan
b. saluran high level diversion (HLD) Babak – Renggung – Rutus.
(5) Cekungan air tanah (CAT) yang berada di Kabupaten sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b adalah CAT Mataram-Selong dan CAT Tanjung-Sambelie yang
merupakan CAT lintas Kabupaten/kota.
(6) Sistem jaringan Irigasi yang berada pada Kabupaten sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf c terdiri atas:
a. daerah Irigasi (DI) kewenangan pemerintah pusat dengan luasan di atas 3.000
(tiga ribu) hektar yang meliputi Jurang Sate Hilir, Jurang Sate Hulu, Mujur II,
Batujai, Surabaya, Jurang Batu dan Pengga; dan
b. daerah irigasi (DI) kewenangan pemerintah provinsi dengan luasan antara
1.000 (seribu) hektar dan 3.000 (tiga ribu) hektar yang meliputi Bisok Bokah,
Gede Bongoh, Katon, Kulem, Parung, Renggung, Rutus dan Tibu Nangka;
c. daerah irigasi (DI) dengan luasan dibawah 1.000 (seribu) hektar yang meliputi:
1. daerah irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah Kabupaten sejumlah
50 (lima puluh) daerah irigasi seluas kurang lebih 11.610 (sebelas ribu
enam ratus sepuluh) hektar;
2. saluran Irigasi Primer sepanjang kurang lebih 149.004 (seratus empat puluh
sembilan ribu empat) meter di beberapa kecamatan yang meliputi Kecamatan
Jonggat, Pringgarata, Batukliang, Kopang, Janapria, Praya Timur, Praya Barat,
Praya Barat Daya, dan Praya;
3. saluran irigasi sekunder Kabupaten sepanjang kurang lebih 428.037 (empat
ratus dua puluh delapan ribu tiga puluh tujuh) meter di beberapa kecamatan
yang meliputi Kecamatan Jonggat, Pringgarata, Batukliang, Kopang, Janapria,
Praya Timur, Praya Barat, Praya Barat Daya, dan Praya; dan
4. embung di Kecamatan Janapria, Praya Barat, Praya Timur, Praya, dan Praya
Barat Daya.
d. rencana pembangunan Bendungan Mujur di Kecamatan Praya Timur;
e. rehabilitasi, pemeliharaan, dan peningkatan jaringan irigasi yang ada;
22
f. pendayagunaan potensi jaringan sumber daya air antar DAS untuk mendukung
ketersediaan air baku untuk irigasi;
g. pengembangan jaringan irigasi yang ditujukan untuk mendukung ketahanan
pangan dan pengelolaan lahan pertanian berkelanjutan;
h. rincian rencana pengembangan sistem jaringan sumberdaya air Kabupaten
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II.7 yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(7) Sistem jaringan air baku untuk air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf d terdiri atas:
a. pembangunan dan pengembangan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM)
untuk memenuhi kebutuhan air terutama untuk kawasan permukiman, fasilitas
umum, perdagangan, industri dan jasa, dan
b. tempat penampung air di Montong Dao di Kecamatan Batukliang Utara, Tampak
Siring di Batukliang, Lendang Gocek, Gerunung, Dongak Langit, Penujak, Ketare,
Sengkol, Kuta, Batunyala, Dusun Jangkih, Montong Gamang, Bilepenandak,
Rembitan dan Kopang.
(8) Sistem jaringan air minum ke kelompok pengguna sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf f meliputi seluruh kecamatan di Kabupaten.
(9) Sistem pengendalian banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dilakukan
dengan:
a. pelestarian dan pengelolaan aliran sungai secara lintas wilayah;
b. mengoptimalkan fungsi kawasan lindung dan kawasan resapan air;
c. normalisasi prasarana drainase sebagai pengendali bajir; dan
d. pembangunan sarana dan prasarana pengendali banjur.
(10) Sistem pengendalian erosi dan longsor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
g dilakukan dengan:
a. penyelidikan geologi teknik, analisa kestabilan lereng dan daya dukung tanah;
b. pengaturan sistem drainase;
c. perkuatan lereng;
d. mengosongkan lereng dari kegiatan manusia; dan
e. penanaman vegetasi dengan jenis dan pola tanam yang tepat.
Paragraf 7
Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan
Pasal 19
(1) Sistem prasarana pengelolaan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15
huruf d terdiri atas:
a. sistem jaringan persampahan;
b. sistem jaringan air minum;
c. sistem jaringan drainase;
d. sistem jaringan sanitasi dan pengelolaan limbah; dan
e. jalur evakuasi bencana;
(2) Sistem jaringan persampahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri
atas:
a. sistem pengangkutan sampah dari rumah tangga sampai ke Tempat Pemrosesan
Akhir (TPA);
b. tempat penampungan sementara (TPS) tersebar di seluruh kecamatan;
c. tempat pemrosesan akhir (TPA) terletak di Desa Lajut Kecamatan Praya Tengah;
23
d. pengembangan lokasi TPA diarahkan di Desa Kabul Kecamatan Praya Barat Daya
dan atau di Desa Pengengat Kecamatan Pujut;
e. pengembangan TPA dilakukan dengan sistem sanitary landfill; dan
f. Pengembangan prasarana dan sarana persampahan dilakukan dengan
peningkatan peran serta masyarakat dan dunia usaha, penerapan tekonologi
tepat guna yang ramah lingkungan, serta penerapan konsep 3R (Recycle, Reduce,
dan Reuse).\
(3) sistem jaringan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas:
a. Aik Bone, Benang Stokel, Tibu Nangklok I, Tibu Nangklok II di Kecamatan
Batukliang Utara;
b. Nyeredep di Kecamatan Kopang;
c. Water Treament Plant (WTP) Penujak di Kecamatan Praya Barat; dan
d. Rencnana pengembangan WTP Dam Pengga dan Dam Mujur.
(4) sistem jaringan drainase sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi
drainase perkotaan di Kota Praya, masing – masing Ibu Kota Kecamatan.
(5) sistem jaringan sanitasi dan pengelolaan limbah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf d terdiri atas:
a. penerapan teknologi tepat guna dalam pengolahan air limbah dengan peran
aktif masyarakat dan swasta, sehingga air limbah yang dihasilkan dapat dikelola
secara mandiri tanpa mencemari lingkungan; dan
b. pengembangan instalasi pengolahan kecil/terbatas/tertentu pada sumbersumber limbah terutama yang berada di sekitar Bandar Udara, Kawasan
Pariwisata dan Kawasan Perkotaan untuk mengurangi jumlah limbah yang harus
dibuang.
c. pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) untuk mencegah dan
menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan
yang sudah tercemar sehingga sesuai fungsinya kembali.
(6) jalur evakuasi bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi :
a. memanfaatkan daerah/kawasan yang berada disekitar lokasi rawan bencana
dengan topografi yang lebih tinggi dari lokasi rawan bencana;
b. memanfaatkan bangunan publik sebagai posko – posko evakuasi bencana
meliputi : lapangan umum, Kantor Kecamatan, Kantor Kelurahan/Desa, maupun
ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau;
c. evakuasi diarahkan ke utara (menjauhi kawasan pesisir untuk kawasan rawan
abrasi pantai dan gelombang pasang); dan
d. Pengembangan sistem peringatan dini (early warning system) bencana.
BAB V
RENCANA POLA RUANG WILAYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 20
(1) Rencana pola ruang wilayah Kabupaten meliputi:
a. kawasan lindung; dan
b. kawasan budidaya.
(2) Rencana pola ruang wilayah Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian minimal 1:50.000 sebagaimana
24
tercantum dalam Lampiran I.2 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Kawasan Lindung
Pasal 21
(1) Kawasan Lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf a terdiri
atas :
a. kawasan hutan lindung;
b. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya
meliputi kawasan resapan air.
c. kawasan perlindungan setempat;
d. kawasan pelestarian alam, dan kawasan cagar budaya; dan
e. kawasan rawan bencana alam.
(2) Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a seluas
9.596,85 (sembilan ribu lima ratus sembilan puluh enam koma delapan puluh
lima) hektar yang terdiri dari:
a. Kelompok Hutan Gunung Rinjani (RTK.1) seluas 8.082,41 (delapan ribu delapan
puluh dua koma empat puluh satu) hektar di Kecamatan Batukliang Utara dan
Pringgarata.
b. Kelompok Hutan Mareje Bonga (RTK.13) seluas 727,44 (tujuh ratus dua puluh
tujuh koma empat puluh empat) hektar di Kecamatan Pujut dan Praya Barat
Daya
c. Kelompok Hutan Gunung Pepe (RTK.13) seluas kurang lebih 404 (empat ratus
empat) hektar di Kecamatan Pujut; dan
d. Kelompok Hutan Pelangan (RTK.7) seluas 383 (tiga ratus delapan puluh tiga)
hektar di Kecamatan Praya Barat Daya.
(3) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi kawasan resapan air yang
secara khusus diarahkan pada kawasan Gunung Rinjani dan sekitarnya.
(4) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
terdiri atas:
a. Kawasan Sempadan Pantai membentang dari timur ke barat mulai dari Pantai
Ujung Kelor di Teluk Awang yang berbatasan dengan Lombok Timur sampai
Pantai Pengantap di Lombok Barat yang meliputi : Pantai Teluk Awang di
Kecamatan Praya Timur, Pantai Teluk Bumbang, Pantai Gerupuk, Pantai Aan,
Pantai Bunut, Pantai Seger, Pantai Mawun, di Kecamatan Pujut; Pantai Selong
Belanak, Pantai Tomang-Omang, Pantai Tampah, Pantai Mawi, dan Pantai
Rowok Pantai Serangan di Kecamatan Praya Barat; dan Pantai Torok Aik Belek di
Kecamatan Praya Barat Daya sepanjang tepian pantai sejauh 35-250 (tiga puluh
lima sampai dengan dua ratus lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi
secara proporsional sesuai dengan bentuk, letak, kebutuhan ekonomi dan
budaya dan kondisi fisik pantai.
b. Penetapan batas Sempadan Pantai sebagaimana dimaksud huruf a mengikuti
ketentuan:
a. perlindungan terhadap dampak perubahan iklim, gempa dan/atau tsunami;
b. perlindungan pantai dari erosi atau abrasi, dan dampak-dampak perubahan
iklim;
25
c.
perlindungan sumber daya buatan di pesisir dari badai, banjir, dan bencana
alam lainnya;
d. perlindungan terhadap ekosistem pesisir, seperti lahan basah, mangrove,
terumbu karang, padang lamun, gumuk pasir, estuaria, dan delta;
e. pengaturan akses publik; dan
f. pengaturan untuk saluran air dan limbah.
c. Kawasan sempadan sungai diarahkan pada sungai yang terdapat di Kabupaten;
d. Kawasan sempadan sungai sebagaimana dimaksud huruf c meliputi :
1. sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan minimal 5 (lima)
meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul;
2. sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan minimal 3 (tiga)
meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul;
3. sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan;
a. pada sungai besar (sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai
seluas 500 (lima ratus) km² atau lebih ) minimal 100 (seratus) meter
dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.
b. pada sungai kecil (yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai
seluas kurang dari 500 (lima ratus) km2) minimal 50 (lima puluh) meter
dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.
4. sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan
a. pada sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 2 (dua) meter,
garis sempadan sungai minimal 10 (sepuluh) meter dihintung dari tepi
sungai pada waktu ditetapkan.
b. pada sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 2 (dua) meter sampai
dengan 20 (dua puluh) meter, garis sempadan sungai ditetapkan minimal
15 (lima belas) meter dihintung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.
c. pada sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 (dua puluh) meter,
garis sempadan sungai ditetapkan minimal 30 (tiga puluh) meter
dihintung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.
5. penetapan garis sempadan sungai pada sungai besar tidak bertanggul diluar
kawasan perkotaan dilakukan ruas per ruas dengan mempertimbangkan luas
daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan;
6. garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah
tepi bahu jalan yang bersangkutan, dengan kontruksi dan penggunaan jalan
harus menjamin bagi kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan
sungai.
7. untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut, garis sempadan
ditetapkan minimal 100 (seratus) meter dari tepi sungai dan berfungsi
sebagai jalur hijau.
e. Pengaturan sempadan kawasan perlindungan setempat ditetapkan dengan
Peraturan Bupati
f. Kawasan sekitar waduk atau danau mencakup Waduk Batujai yang berlokasi di
sebagian Kecamatan Praya, Praya Tengah dan Praya Barat serta Waduk Pengga
yang terdapat di Kecamatan Praya Barat Daya;
g. Kawasan sekitar danau atau waduk sebagaimana dimaksud huruf f meliputi
daerah sekitar danau atau waduk dengan lebar 50-100 (lima puluh sampai
dengan seratus) meter dari titik pasang tertinggi kearah darat.
h. Kawasan sekitar mata air di 121 (seratus dua puluh satu) buah mata air yang
tersebar di wilayah Kabupaten.
i. Kawasan sekitar mata air sebagaimana dimaksud huruf h meliputi kawasan
minimal 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air.
26
j. Kawasan perlindungan setempat lainnya diarahkan pada ruas jalan yang
menghubungkan Sulin-Bandara Internasional Lombok (BIL) yaitu :
1. Ruas jalan no. 032 Sp. Penujak-Tanak Awu; dan
2. Ruas jalan no. 037 Sulin-Sp. Penujak,
dengan ketentuan:
a. Sempadan bangunan sejauh 30 (tiga puluh) meter dari meridian jalan
atau 24 (dua puluh empat) meter dari as jalan; dan
b. Sempadan pagar sejauh 12,5 (dua belas koma lima) meter dari as jalan
atau 2,5 (dua koma lima) meter dari pinggir saluran drainase jalan.
(5) Kawasan pelestarian alam, dan kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf d terdiri dari beberapa kawasan yang terdiri atas:
a. Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) yang terdapat di Kabupaten seluas 3080,69
(tiga ribu delapan puluh koma enam puluh sembilan) hektar yang terdiri dari:
1. Kelompok TWA Tanjung Tampa dengan luas 931,40 (sembilan ratus tiga
puluh satu koma empat puluh) hektar yang meliputi hutan Gunung Meresek
(RTK.18) seluas 62,70 (enam puluh dua koma tujuh puluh) hektar, Hutan
Pantai Terawas (RTK.19) seluas 35,90 (tiga puluh lima koma sembilan
puluh) hektar, Gunung Glepak Balen Kenculit (RTK.20) seluas 149,20
(seratus empat puluh sembilan koma dua puluh) hektar, Gunung Margejek
(RTK.21) seluas 87 (delapan puluh tujuh) hektar di Kecamatan Praya Barat,
Gunung Pengolon (RTK.22) seluas 132,60 (seratus tiga puluh dua koma
enam puluh) hektar, dan Gunung Prabu Dundang (RTK.23) seluas 464
(empat ratus enam puluh empat) hektar di Kecamatan Pujut; dan
2. TWA Gunung Tunak meliputi kelompok hutan Gunung Tunak (RTK.24)
seluas 1.217,89 (seribu dua ratus tujuh belas koma delapan puluh sembilan)
hektar.
b. Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) terdapat pada kelompok hutan gunung
rinjani (RTK.1) seluas 329.29 (tiga ratus dua puluh sembilan koma dua puluh
sembilan) hektar
c. Kawasan Taman Nasional meliputi kawasan Gunung Rinjani (RTK.1) seluas
3.675 (tiga ribu enam ratus tujuh puluh lima) hektar yang terletak di Kecamatan
Batukliang Utara dan Kecamatan Kopang;
d. Cagar budaya dan ilmu pengetahuan yang terdapat di Kabupaten meliputi:
1. Makam Serewe, Makam Rangga Tapon, dan Makam Pejanggik di Kecamatan
Praya Tengah; Makam Nyatoq, Makam Baloq Tui, Makam Betare Guru,
Makam Tirangge, Makam Kayangan, Makam Sile Dendeng, dan Makam
Sempane di Kecamatan Pujut; Makam Bila Tawah, Makam Langko, dan
Makam Patih Raja Langko di Kecamatan Janapria; Makam Ketaq (Datok
Lopan), Makam Istana, dan Makam Subaikah/Sumbik di Kecamatan Kopang;
Makam Datu Benue di Kecamatan Batukliang; Makam Embung Puntiq,
Kemalik Lebe Sane, Kemalik Dusun Matek Maling dan Makam Raja Marong
di Kecamatan Praya Timur; Makam Lamak Sura, Makam Tuan Guru Bangkol,
Makam Tuan Guru Makmun dan Makam Tiwu Asem di Kecamatan Praya;
Makam Peresak, Makam Sekunyit dan Makam Semelong di Kecamatan Praya
Barat; Makam Raden Mustira, Makam Merebat, Makam datu kerekok,
Makam Keliang, dan Makam Salam di Kecamatan Praya Barat Daya.
2. Situs Batu Rijang, dan Situs Gunung Sawung di Kecamatan Praya Barat; Situs
Gua Saong, dan Situs Goang Gue di Kecamatan Praya Barat Daya; Situs Gua
Saong Batu di Kecamatan Pujut, Situs Memelak di Kecamatan Praya;
3. Masjid Jami’ Praya di Kecamatan Praya; Masjid Kuno Gunung Pujut dan
Masjid Kuno Rambitan di Kecamatan Pujut;
27
4. Dusun Tradisional Sade dan Dusun Tradisional Nde di Kecamatan Pujut, dan;
5. Kawasan perkantoran antara Masjid Jami’ Praya dan Rumah Jabatan Bupati.
e. Kawasan Konservasi Perairan meliputi:
1. kawasan konservasi laut daerah (KLD) diarahkan di Teluk Bumbang
Kecamatan Pujut; dan
2. kawasan mangrove terletak di Kecamatan Praya Timur meliputi Desa
Bilelando dan Kidang, Kecamatan Pujut meliputi Desa mertak dan Sengkol,
serta Kecamatan Praya Barat di Desa Selong Belanak .
(6) Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e di
Kabupaten meliputi:
a. Kawasan rawan bencana gunung berapi di Kecamatan Batukliang dan
Kecamatan Kopang;
b. Kawasan rawan banjir meliputi kawasan sekitar sungai besar melewati
Kecamatan Batukliang Utara dan Kopang;
c. Kawasan rawan gempa bumi mencakup seluruh wilayah kecamatan;
d. Kawasan rawan gerakan tanah dan longsor mencakup Kecamatan Batukliang
Utara, Kecamatan Jonggat, Kecamatan Praya Barat Daya, Kecamatan Praya Barat,
Kecamatan Pujut, Kecamatan Pringgarata dan Kecamatan Kopang; dan
e. Kawasan rawan gelombang pasang mencakup daerah sepanjang pesisir pantai
selatan Pulau Lombok yang ada di wilayah Kabupaten yaitu Kecamatan Praya
Barat Daya, Praya Barat, Pujut dan Praya Timur.
(7) Rincian sebaran dan luasan Kawasan Lindung sebagaima dimaksud dalam Pasal 20
ayat (1) tercantum sebagai lampiran II.8 yang merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 22
Bahwa kawasan hutan di Kabupaten dikelola dalam bentuk KPH (kesatuan pengelolaan
hutan) Lindung Seluas 17.781,01 (tujuh belas ribu tujuh ratus delapan puluh satu koma
nol satu) hektar, penyebarannya terletak di KPHL Mareje-Aik Bukak yang terdiri dari:
a. Kel. Hutan pelangan (RTK.7) seluas 383 (tiga ratus delapan puluh tiga)hektar;
b. Kel. Hutan Mareje Bonga (RTK.13) seluas 5.311,31 (lima ribu tiga ratus sebelas
koma tiga puluh satu) hektar; dan
c. Kel Hutan Rinjani (RTK.1) seluas 12.086,7 (dua belas ribu delapan puluh enam
koma tujuh) hektar.
Pasal 23
(1) Rencana pengelolaan kawasan lindung di dalam kawasan hutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf a meliputi:
a. perencanaan rehabilitasi dan pemulihan hutan yang termasuk di dalam kriteria
kawasan lindung dengan melakukan penanaman pohon lindung yang dapat
digunakan sebagai perlindungan kawasan bawahannya yang dapat diambil
hasil hutan non-kayu;
b. membuka jalur wisata jelajah/pendakian untuk menanamkan rasa mencintai
alam, serta pemanfaatan kawasan lindung untuk sarana pendidikan penelitian
dan pengembangan kecintaan terhadap alam;
c. percepatan rehabilitasi dan pemulihan hutan pada fungsi hutan lindung
dengan tanaman endemik dan atau tanaman unggulan lokal sesuai dengan
fungsi lindung;
28
d. pelestarian ekosistem yang merupakan ciri khas kawasan melalui tindakan
pencegahan perusakan dan upaya pengembalian pada rona awal sesuai
ekosistem yang pernah ada;
e. peningkatan kualitas lingkungan sekitar taman nasional dan taman wisata alam
laut melalui upaya pencegahan kegiatan yang mempunyai potensi
menimbulkan pencemaran;
f. pemanfaatan kawasan pada hutan lindung dilakukan, antara lain, melalui
kegiatan usaha budidaya tanaman obat, budidaya tanaman hias, budidaya
jamur, budidaya lebah, penangkaran satwa liar, rehabilitasi satwa; atau
budidaya hijauan makanan ternak;
g. pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan lindung melalui kegiatan usaha:
pemanfaatan jasa aliran air; pemanfaatan air; wisata alam; perlindungan
keanekaragaman hayati; penyelamatan dan perlindungan lingkungan; atau
penyerapan dan/atau penyimpanan karbon;
h. pengusahaan pariwisata alam taman nasional bertujuan untuk meningkatkan
pemanfaatan keunikan, kekhasan, keindahan alam dan/atau keindahan jenis
atau keanekaragaman jenis satwa liar dan/atau jenis tumbuhan yang terdapat
di kawasan taman nasionaldan taman wisata alam laut;
i. pengawasan dan pemantauan untuk pelestarian kawasan konservasi dan hutan
lindung; dan
j. perlindungan hutan dan pengendalian kebakaran hutan.
(2) Rencana pengelolaan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan
bawahannya sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat (1) huruf b dilakukan
dengan cara:
a. peningkatan fungsi lindung pada area yang telah mengalami alih fungsi melalui
pengembangan vegetasi yang mampu memberikan perlindungan terhadap
permukaan tanah dan mampu meresapkan air ke dalam tanah; dan
b. percepatan rehabilitasi lahan yang mengalami kerusakan.
(3) Rencana Pengelolaan Kawasan Perlindungan Setempat sebagaimana dimaksud
dalam pasal 21 ayat (1) huruf c terdiri dari
a. rencana pengelolaan kawasan sempadan pantai meliputi:
1. perlindungan kawasan sempadan pantai dengan tidak mengalih fungsi
lindung yang dapat menyebabkan kerusakan kualitas pantai;
2. pada sempadan pantai dan sebagian kawasan pantai yang merupakan pesisir
terdapat ekosistem bakau, terumbu karang, padang lamun, dan estuaria
harus dilindungi dari kerusakan;
3. penghijauan (reboisasi) terhadap hutan bakau yang telah rusak dan
mempertahankan keberadaannya;
4. pengembangan pada kawasan sepanjang pantai perlu dilakukan sesuai
dengan peruntukan lahan yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang
kawasan pesisir;
5. menjaga kelestarian kawasan lindung setempat (pesisir) untuk menunjang
kelestarian kawasan pantai;
6. bangunan yang memanfaatkan kawasan pantai diusahakan diusahakan
diletakkan diluar di luar sempadan pantai, kecuali bangunan yang harus ada
di sempadan pantai seperti: dermaga dan tower penjaga keselamatan
pengunjung pantai; dan
7. menjadikan kawasan sempadan pantai sebagai obyek penelitian.
b. rencana pengelolaan sempadan pantai ditetapkan sesuai dengan Peraturan
Perundangan di bidang kelautan dan perikanan
c. rencana pengelolaan sempadan sungai meliputi:
29
1. pengaturan erositas dan pemeliharaan hutan;
2. pengaturan tanah pertanian, sehingga tidak merambah kawasan hutan
lindung;
3. pengembangan dan peningkatan jaringan irigasi sebagai upaya menjamin
terjaganya daya dukung pangan;
4. pengembangan drainase; dan
5. pengembangan sarana dan prasarana pengembangan sumber daya air
(pengendalian banjir, pengendalian sedimen, pengembangan suplai air
bersih perkotaan, pencegahan pencemaran, peningkatan kualitas air baku).
d. rencana pengelolaan sekitar waduk atau danau meliputi:
1. perlindungan sekitar danau untuk kegiatan yang menyebabkan alih fungsi
lindung dan menyebabkan kerusakan kualitas sumber air;
2. pengembangan tanaman perdu dan penutup tanah atau ground cover untuk
melindungi pencemaran dan erosi terhadap air; dan
3. membatasi dan tidak boleh menggunakan lahan secara langsung untuk
bangunan yang tidak berhubungan dengan konservasi.
e. rencana pengelolaan kawasan sekitar mata air meliputi:
1. perlindungan sekitar mata air untuk kegiatan yang menyebabkan alih fungsi
lindung dan menyebabkan kerusakan kualitas sumber air;
2. pembuatan sistem saluran untuk dimanfaatkan sebagai sumber air minum
atau irigasi;
3. pengembangan tanaman perdu, tanaman tegakan tinggi, dan penutup tanah
atau ground cover untuk melindungi pencemaran dan erosi terhadap air;
dan
4. membatasi dan tidak boleh menggunakan lahan secara langsung untuk
bangunan yang tidak berhubungan dengan konservasi mata air.
f. rencana pengelolaan kawasan perlindungan setempat lainnya dilakukan
dengan memperhatikan fungsi utama kawasan tersebut.
(4) rencana pengelolaan kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam pasal
21 ayat (1) huruf d dilakukan secara kolaborasi yang meliputi:
a. penataan kawasan hutan dalam rangka pemeliharaan batas;
b. penataan zonasi;
c. penyusunan rencana pengelolaan kawasan pelestarian alam;
d. pembinaan daya dukung kawasan, antara lain inventarisasi/monitoring flora
fauna dan ekosistem, pembinaan dan monitoring populasi dan habitatnya;
e. rehabilitasi kawasan di luar areal kawasan cagar alam;
f. pemanfaatan kawasan, meliputi:
1. pariwisata alam dan jasa lingkungan (studi potensi dan obyek wisata alam
dan jasa lingkungan serta perencanaan aktivitas pariwisata alam); dan
2. pendidikan bina cinta alam dan interpretasi (menyusun program
interpretasi).
g. penelitian dan pengembangan, meliputi:
1. pengembangan program dan penelitian flora, fauna dan ekosistemnya; dan
2. identifikasi/inventarisasi sosial budaya masyarakat.
h. perlindungan dan pengamanan potensi kawasan, meliputi:
1. penguatan pelaksanaan perlindungan dan pengamanan; dan
2. penguatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan.
i. pengembangan sumberdaya manusia dalam rangka mendukung pengelolaan
kawasan pelestarian alam, meliputi pendidikan dan pelatihan terhadap petugas
dan masyarakat setempat;
30
j.
pembangunan sarana dan prasarana dalam rangka menunjang pelaksanaan
kolaborasi, meliputi sarana pengelolaan dan saran pemanfaatan; dan
k. pembinaan partisipasi masyarakat, meliputi program peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan kesadaran masyarakat.
(5) rencana pengelolaan kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 21
ayat (1) huruf d terdiri dari :
a. perlindungan kekayaan budaya berupa peninggalan-peninggalan sejarah,
bangunan arkeologi, monumen nasional, dan keragaman bentuk geologi;
dan
b. pengembangan kegiatan konservasi dan rehabilitasi yang berguna untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dari ancaman kepunahan yang
disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia.
(6) Rencana pengelolaan kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud dalam pasal
21 ayat (1) huruf e terdiri dari:
a. rencana pengelolaan kawasan rawan bencana gunung berapi meliputi:
1. penetapan zona bahaya Penetapan zona bahaya dan zona aman sebagai
dasar wilayah pemanfaatan baik untuk pariwisata maupun budidaya yang
lain;
2. pada zona bahaya tidak diarahkan untuk dilakukan kegiatan budidaya
seperti kegiatan permukiman dan kegiatan lainnya yang dapat mengancam
keselamatan
kecuali
kegiatan
yang
mendukung
langsung
perencanaan/pengawasan/pengendalian kejadian bencana gempa bumi;
3. pengelolaan kawasan rawan bencana gunung berapi juga menyangkut
pelatihan kepada masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana untuk
mengetahui tanda-tanda alam terjadinya letusan; dan
4. strategi mitigasi yang dilakukan adalah mencegah dan menghindari yang
dekat dengan lereng-lereng gunung berapi digunakan untuk aktivitas
penting, penghindaran terhadap kemungkinan kanal-kanal aliran lava,
pengembangan bangunan yang tahan api dan rekayasa bangunan untuk
menahan beban tambahan endapan abu.
b. rencana pengelolaan kawasan rawan banjir meliputi:
1. pelestarian dan pengelolaan aliran sungai secara lintas wilayah;
2. pembuatan
tanggul/embung/bendung/kawasan
resapan/saluran
pembuang khusus/bangunan air lain pada kawasan-kawasan aliran sungai
ataupun yang terkena dampak dengan prioritas pada kawasan rawan banjir
dan upaya pengurangan/pengendalian debit air pada kondisi tertentu yang
mengkhawatirkan;
3. mengoptimalkan fungsi kawasan lindung dan kawasan resapan air;
4. mengoptimalkan sempadan-sempadan sungai, dan saluran yang ada sesuai
fungsinya secara bertahap guna kesinambungan hasil penanganan banjir
yang optimal;
5. penyiapan kawasan aman sebagai tempat pengungsian dan evakuasi warga;
6. normalisasi prasarana drainase sebagai pengendali banjir;
7. melakukan eliminasi terhadap faktor-faktor yang menghalangi pengaliran
air permukaan;
8. melakukan koordinasi untuk pengelolaan dan pengembangan drainase
dengan wilayah lain; dan
9. membuat saluran pembuangan yang terkoneksi dengan baik pada jaringan
primer, sekunder maupun tersier, serta tidak menyatukan fungsi irigasi
untuk drainase, dengan melakukan koordinasi dan sinkronisasi program dan
hasil antara Pemerintah Provinsi dan Daerah dalam penanganan dan
31
pengendalian bencana banjir, serta menyusun review masterplan
penanganan dan pengendalian banjir secara terpadu baik menyangkut
sarana maupun prasarananya.
c. rencana pengelolaan kawasan rawan gempa bumi meliputi:
1. memetakan arah patahan dengan lebih teliti, khususnya di suatu daerah
yang ada indikasi patahan;
2. menghindari membangun bangunan tidak memotong atau dibangun di atas
jalur patahan; dan
3. mewajibkan merekonstruksi bangunan gedung dengan bangunan yang
tahan gempa, dan dibuat dari bahan yang ringan pada lokasi yang
teridentifikasi rawan patahan melalui perijinan yang berlaku dan diawasi
oleh instansi terkait di Pemerintah Daerah.
d. rencana pengelolaan kawasan rawan gerakan tanah dan longsor meliputi:
1. melakukan rekayasa teknik bangunan untuk memperkecil resiko akibat
getaran, dengan memperkuat struktur bangunan pada kawasan kawasan
rawan dimaksud;
2. memindahkan penduduk pada areal rawan longsor, pada daerah di bawah
tebing terjal (kemiringan >40%), jika terjadi tanda-tanda akan terjadi
longsor;
3. membatasi perkembangan penduduk pada kawasan rawan terutama pada
wilayah dengan kemiringan 40% yang diketahui dapat mengakibatkan
bahaya longsor; dan
4. stabilitasi lereng melalui pola terasiring dan reboisasi dengan tanaman
keras.
e. rencana pengelolaan kawasan rawan gelombang pasang meliputi:
1. pemeliharaan dan penanaman mangrove di sekitar pantai secara berkala;
2. pengendalian pemanfaatan lahan di sempadan pantai; dan
3. pemeliharaan saluran drainase yang menuju ke laut.
Bagian Ketiga
Kawasan Budidaya
Pasal 24
(1) Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf b terdiri
atas:
a. kawasan peruntukan hutan produksi;
b. kawasan peruntukan pertanian;
c. kawasan peruntukan perikanan;
d. kawasan peruntukan pertambangan;
e. kawasan peruntukan industri;
f. kawasan peruntukan pariwisata;
g. kawasan peruntukan permukiman;
h. kawasan peruntukan perdagangan dan jasa; dan
i. kawasan peruntukan lainnya.
(2) Rencana pengelolaan kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b sampai
dengan huruf i diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Pasal 25
(1) Kawasan peruntukan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat
(1) huruf a merupakan kawasan hutan produksi tetap yang terdapat di kelompok
32
Hutan Mareje Bonga (RTK 13) seluas 4.583,87 (empat ribu delapan ratus delapan
puluh sembilan) hektar di Kecamatan Pujut, Praya Barat dan Praya Barat Daya.
(2) Pengelolaan Hutan Produksi Tetap sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), sebagai
berikut :
a. pengelolaan budidaya hutan, hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu serta
jasa lingkungan yang ditujukan untuk kesinambungan produksi dengan
memperhatikan kualitas lingkungan melalui pencegahan kerusakan tanah dan
penurunan kesuburan tanah, mempertahankan bentang alam serta menjaga
ketersediaan air;
b. pengembangan kegiatan budidaya hutan yang dapat mendorong
terwujudnya kegiatan industri pengolahan hasil hutan, dengan pengembangan
jenis tanaman hutan industri melalui pembangunan Hutan Tanaman Industri
(HTI), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan
Tanaman Hasil Rehabilitasi (HTHR), Hutan Adat, Restorasi Ekosistem (RE) dan
program lainnya;
c. Pemanfaatan dan Pemungutan Hasil Hutan Kayu dan Hasil Hutan Bukan Kayu;
d. Penggunaan kawasan hutan untuk budidaya tanaman obat, budidaya tanaman
hias, jamur, lebah, penangkaran satwa, budidaya sarang burung walet serta
silvo pastura
e. penggunaan kawasan hutan produksi untuk kegiatan di luar budidaya hutan
dan hasil hutan yang penggunaannya untuk kepentingan umum dan bersifat
strategis, dilakukan dengan memperhatikan asas konservasi tanah dan air serta
mempertimbangkan luas dan jangka waktu; dan
f. percepatan rehabilitasi kawasan hutan produksi yang mempunyai tingkat
kerapatan tegakan rendah.
Pasal 26
(1) Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1)
huruf b terdiri atas :
a. kawasan pertanian tanaman pangan;
b. tanaman hortikultura;
c. Perkebunan; dan
d. peternakan.
(2) Kawasan pertanian tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebar
di seluruh kecamatan dengan luas kurang lebih 53.453 (lima puluh tiga ribu empat
ratus lima pulu tiga) hektar yang terdiri atas :
a. irigasi teknis seluas kurang lebih 24.282 (dua puluh empat ribu dua ratus
delapan puluh dua) hektar;
b. irigasi setengah teknis seluas kurang lebih 14.666 (empat belas ribu enam ratus
enam puluh enam) hektar;
c. irigasi sederhana PU seluas kurang lebih 3.115 (tiga ribu seratus lima belas)
hektar;
d. irigasi non PU seluas kurang lebih 40 (empat puluh) hektar; dan
e. tadah hujan seluas kurang lebih 11.350 (sebelas ribu tiga ratus lima puluh)
hektar.
(3) Kawasan pertanian hortikultura sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebar di
seluruh kecamatan dengan tanaman unggulan mangga, manggis, durian, sawo,
rambutan, semangka dan melon dengan luas kurang lebih 20.280 (dua puluh ribu
dua ratus delapan puluh) hektar;
(4) Kawasan peruntukan perkebunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tersebar
di seluruh kecamatan dengan tanaman unggulan kelapa, kopi, jambu mete, jarak
33
pagar serta tembakau dengan luas wilayah kurang lebih 40.970 (empat puluh ribu
sembilan ratus tujuh puluh) hektar;
(5) Kawasan peruntukan peternakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebar di
seluruh kecamatan dengan komoditi unggulan sapi;
(6) Penetapan kawasan peruntukan lahan pertanian sebagai lahan pertanian pangan
berkelanjutan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati;
(7) Rincian dan lokasi peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum sebagai lampiran II.9 yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
Pasal 27
(1) Kawasan peruntukan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1)
huruf c meliputi:
a. perikanan tangkap;
b. perikanan budidaya; dan
c. pengolahan hasil perikanan.
(2) Kawasan perikanan tangkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri
atas:
a. potensi perikanan tangkap di laut yang memanfaatkan potensi perairan di
sepanjang pantai Kecamatan Praya Barat Daya, Kecamatan Praya Barat,
Kecamatan Pujut dan Kecamatan Praya Timur sejauh 4 (empat) mil laut dari
garis pantai dengan tetap memperhatikan zona kawasan lindung serta zona
kawasan pariwisata;
b. potensi perikanan tangkap di perairan umum yang memanfaatkan potensi
waduk, sungai dan embung tersebar di seluruh kecamatan seluas kurang lebih
4.203 (empat ribu dua ratus tiga) hektar.
(3) Kawasan perikanan budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri
atas:
a. potensi perikanan budidaya air tawar terletak di seluruh kecamatan seluas
kurang lebih 8.819 (delapan ribu delapan ratus sembilan belas) hektar terdiri
dari kolam, mina padi dan karamba; dan
b. potensi perikanan budidaya air payau seluas kurang lebih 900 (sembilan ratus)
hektar terletak di Kecamatan Praya Timur meliputi Desa Bilelando dan Desa
Kidang, Kecamatan Praya Barat meliputi Desa Mekar Sari dan Desa Selong
Belanak, Kecamatan Praya Barat Daya meliputi Desa Montong Ajan dan
Kecamatan Pujut meliputi Desa Teruai, Desa Bangkat, Desa Pengengat dan Desa
Mertak dengan tetap memperhatikan zona kawasan lindung serta zona kawasan
pariwisata.
c. potensi perikanan budidaya laut seluas kurang lebih 2.620 (dua ribu enam ratus
dua puluh) hektar terletak Kecamatan Praya Timur, Kecamatan Praya Barat,
Kecamatan Praya Barat Daya dan Kecamatan Pujut terdiri dari budidaya rumput
laut, budidaya mutiara, budidaya kerang darah, budidaya teripang dan budidaya
ikan;
d. balai benih ikan (BBI) teletak di kelurahan Gerunung Kecamatan Praya, Desa
Pemepek Kecamatan Pringgarata, Desa Aik Bukak Kecamatan Batukliang Utara
dan Desa Bonjeruk Kecamatan Jonggat; dan
e. unit pembenihan rakyat (UPR) tersebar di Kecamatan Batukliang Utara,
Kecamatan Batukliang, Kecamatan Kopang, Kecamatan Pringgarata, Kecamatan
Jonggat dan Kecamatan Praya.
(4) Kawasan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf c terdiri atas:
a. kawasan pengolahan hasil perikanan skala mikro dan kecil tersebar di seluruh
kecamatan;
34
b. kawasan pengolahan hasil perikanan skala menengah dan besar diarahkan di
kawasan minapolitan Gerupuk dan Awang di Kecamatan Pujut;
c. kawasan pemasaran hasil perikanan teridiri atas pasar ikan yang tersebar di
pasar tradisional yang terdapat di seluruh kecamatan;
d. tempat pelelangan ikan (TPI) terletak di Desa Mertak Kecamatan Pujut;
e. pengembangan tempat pelelangan ikan (TPI) diarahkan di Kecamatan Praya
Barat Daya, Praya Barat, Pujut dan Praya Timur.
f. pelabuhan perikanan nusantara (PPN) Awang terletak di Desa Mertak
Kecamatan Pujut.
(5) Rincian dan lokasi peruntukan perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum sebagai lampiran II.10 yang merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 28
(1) Kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat
(1) huruf d terdiri atas mineral bukan logam dan batuan.
(2) Potensi pertambangan mineral logam, mineral bukan logam dan batuan di
Kabupaten tersebar di sebagian Kecamatan Praya Barat Daya, sebagian Kecamatan
Praya Barat, sebagian Kecamatan Pujut dan sebagian Kecamatan Praya Timur;
(3) Pertambangan mineral bukan logam dan batuan eksisting sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tersebar di sebagian Kecamatan Praya Barat, sebagian Kecamatan
Pujut, sebagian Kecamatan Praya Timur, sebagian Kecamatan Praya Barat Daya,
sebagian Kecamatan Batukliang Utara, sebagian Kecamatan Pringgarata dan
sebagian Kecamatan Kopang;
(4) Pertambangan mineral bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan setelah ditetapkannya Wilayah Pertambangan (WP) berdasarkan
usulan penetapan WP;
(5) Usulan penetapan WP sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan Bupati
kepada Pemerintah Provinsi berdasarkan pertimbangan Badan Koordinasi Penataan
Ruang Daerah (BKPRD) kabupaten;
(6) Usulan penetapan WP sebagaimana dimaksud pada ayat (5) untuk mineral bukan
logam dan batuan disusun melalui kajian dengan mematuhi ketentuan peraturan
perundangan dan harus berada di luar kawasan lindung, kawasan permukiman,
kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan, dan kawasan pariwisata sampai
batas tidak adanya dampak negatif secara teknis, ekonomi, dan lingkungan yang
ditimbulkan akibat usaha pertambangan;
(7) Ijin pertambangan mineral bukan logam dan batuan yang telah diterbitkan dan
masih berlaku, tetap diakui sampai masa berlakunya habis dan perpanjangannya
menyesuaikan dengan ketentuan peraturan daerah ini; dan
(8) Tata cara dan mekanisme penyusunan usulan WP sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Pasal 29
(1) Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) huruf
e terdiri atas kawasan industri mikro, kecil, menengah dan besar.
(2) Kawasan industri mikro dan kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)meliputi
kawasan agroindustri dan kerajinan rumah tangga yang terdapat di seluruh
kecamatan
(3) Pengembangan Kawasan industri menengah dan besar diarahkan di Kecamatan
Praya Tengah, Kecamatan Praya Timur, Kecamatan Pujut dan Kecamatan Janapria.
Pasal 30
(1) Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1)
huruf f meliputi :
35
a. kawasan objek wisata alam;
b. kawasan objek wisata sejarah;
c. kawasan objek wisata budaya; dan
d. kawasan objek wisata buatan.
(2) Kawasan objek wisata alam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a meliputi
wisata alam hutan dan/perairan pedalaman di Kecamatan Batukliang Utara, Pujut,
dan Praya Barat; wisata alam bahari di Kecamatan Pujut, Praya Barat dan dan Praya
Barat Daya; dan wisata alam geologi dan/ vulkanologi di Kecamatan Batukliang
Utara, Kopang, Pujut dan Praya Barat;
(3) Kawasan objek wisata sejarah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b
meliputi perkampungan tradisional di Kecamatan Pujut, masjid kuno di Kecamaan
Pujut dan makam bersejarah di Kecamatan Kopang, Praya Tengah, Pujut; Janapria,
Batukliang, Praya Timur, dan Praya.
(4) Kawasan objek wisata budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c
meliputi kerajinan gerabah di Kecamatan Praya Barat, kerajinan tenun di
Kecamatan Jonggat dan kerajinan anyaman di Kecamatan Praya Timur dan
Janapria;
(5) Kawasan objek wisata buatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d
meliputi festival khusus yang tersebar di seluruh kecamatan dan wisata agro di
Kecamatan Batukliang Utara.
(6) Rincian Kawasan objek wisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum
dalam lampiran II.11 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
Pasal 31
(1) Kawasan peruntukan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1)
huruf g meliputi permukiman perkotaan dan permukiman perdesaan yang
tersebar di seluruh kecamatan.
(2) Pengembangan kawasan permukiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan pada daerah datar sampai bergelombang dengan kelerengan lahan 0% 25%, bukan kawasan lindung, bukan kawasan rawan bencana, aksesibilitas baik
dan tersedia air bersih yang cukup.
(3) Kawasan permukiman skala besar diarahkan di Kawasan Perkotaan Praya dan
sekitarnya.
Pasal 32
Kawasan peruntukan jasa dan perdagangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24
ayat (1) huruf h skala Kabupaten diarahkan di Kawasan Perkotaan Praya dan skala
kecamatan diarahkan di masing-masing ibukota kecamatan.
Pasal 33
(1) Kawasan peruntukan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) huruf
i terdiri atas :
a. kawasan pusat pemerintahan;
b. kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
c. kawasan pertahanan dan keamanan negara.
(2) Kawasan pusat pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
diarahkan di Kawasan Perkotaan Praya.
(3) Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b meliputi : kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang terdapat di Kecamatan
Praya Barat, Kecamatan Praya Timur dan Kecamatan Pujut.
(4) Rincian pulau-pulau kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam
lampiran II.12 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah
ini.
36
(5) Kawasan pertahanan keamanan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
c meliputi:
a. kodim Lombok Tengah di Kecamatan Praya;
b. koramil terletak di kecamatan praya, kopang, pringgarata, pujut, dan janapria;
c. posramil terletak di kecamatan jonggat, praya tengah, praya timur, batukliang,
batukliang utara, dan praya barat daya;
d. pos angkatan laut terletak di Kecamatan Praya Timur, Pujut, Praya Barat dan
Praya Barat Daya.
e. rencana pengembangan kawasan pertahanan dan keamanan darat, laut dan
udara dilakukan sesuai dengan kebijakan nasional dan peraturan perundangan.
BAB VI
PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 34
(1) Kawasan Strategis merupakan kawasan yang didalamnya berlangsung kegiatan
yang mempunyai pengaruh besar terhadap :
a. tata ruang di wilayah sekitarnya;
b. kegiatan lain dibidang yang sejenis dan kegiatan di bidang lainnya; dan/atau
c. peningkatan kesejahteraan masyarakat.
(2) Kawasan Strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : Kawasan
Strategis dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi, Sosial Budaya,
Pendayagunaan Sumberdaya Alam dan/atau Teknologi Tinggi dan Fungsi dan Daya
Dukung Lingkungan Hidup.
(3) Nilai strategis kawasan tingkat nasional, provinsi dan kabupaten sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diukur berdasarkan aspek eksternalitas, akuntabilitas dan
efisiensi penanganan kawasan.
(4) Kawasan strategis wilayah Kabupaten meliputi :
a. kawasan strategis nasional (KSN) yang berlokasi di Kabupaten;
b. kawasan strategis provinsi (KSP) yang berlokasi di Kabupaten; dan
c. kawasan strategis Kabupaten (KSK).
Pasal 35
(1) Kawasan strategis Nasional (KSN) yang berlokasi di Kabupaten sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 34 ayat (4) huruf a meliputi : kawasan strategis dari
kepentingan Daya Dukung Lingkungan Hidup yaitu Kawasan Taman Nasional
Gunung Rinjani seluas 3.675 (tiga ribu enam ratus tujuh puluh lima) hektar yang
terletak di Kecamatan Batukliang Utara dan Kecamatan Kopang.
(2) Kawasan Strategis Provinsi (KSP) yang berlokasi di Kabupaten sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 34 ayat (4) huruf b meliputi : kawasan strategis dari
kepentingan pertumbuhan ekonomi yaitu Kawasan Kuta dan sekitarnya.
Bagian Kedua
Kawasan Strategis Kabupaten
37
Pasal 36
(1) Rencana pengembangan kawasan strategis Kabupaten (KSK) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 34 ayat (4) huruf c meliputi :
a. kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi;
b. kawasan strategis dari sudut kepentingan daya dukung lingkungan hidup; dan
c. kawasan strategis dari sudut kepentingan sosial budaya.
(2) Kawasan strategis Kabupaten dari sudut Kepentingan Pertumbuhan Ekonomi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. kawasan Kuta dan sekitarnya di Kecamatan Pujut dengan sektor unggulan
pariwisata dan industri;
b. kawasan Selong Belanak dan sekitarnya di Kecamatan Praya Barat dan
Kecamatan Praya Barat Daya dengan sektor unggulan pariwisata dan industri;
c. kawasan Sade dan sekitarnya di Kecamatan Pujut dengan sektor unggulan
pariwisata;
d. kawasan Perkotaan Praya yang meliputi sebagian Kecamatan Praya, sebagian
Kecamatan Praya Tengah, sebagaian Kecamatan Praya Barat, sebagian
Kecamatan Praya Barat Daya, dan sebagian Kecamatan Pujut dengan sektor
unggulan perdagangan-jasa, industri, pendidikan, dan pariwisata;
e. kawasan Agropolitan Aik Meneng yang meliputi Kecamatan Batukliang Utara,
Kecamatan Kopang dan Kecamatan Janapria dengan sektor unggulan
agroindustri, pariwisata serta konservasi; dan
f. kawasan Minapolitan di Kawasan Gerupuk dan Awang dengan sektor unggulan
perikanan dan industri.
(3) Kawasan strategis Kabupaten dari sudut Kepentingan Daya Dukung Lingkungan
Hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. kawasan Benang Stokel dan Benang Kelambu di Kecamatan Batukliang Utara;
b. taman nasional Gunung Rinjani di Kecamatan Batukliang Utara, Kecamatan
Kopang; dan
c. kawasan bendungan Batujai dan kawasan preservasinya di Kecamatan Praya,
Praya Tengah dan Praya Barat dan
d. kawasan bendungan Pengga yang termasuk Kawasan Gunung Pupuh, Gunung
Lengungsi, dan Gunung Ngabok di Kecamatan Praya Barat Daya.
(4) Kawasan strategis dari sudut Kepentingan Sosial Budaya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. situs Batu Rijang dan sekitarnya di Kecamatan Praya Barat;
b. makam Srewe dan sekitarnya di Kecamatan Praya Tengah; dan
c. makam Ketak dan sekitarnya di Kecamatan Kopang
d. situs Langko dan sekitarnya di Kecamatan Kopang dan Janapria.
(5) Rincian rencana pengembangan kawasan strategis Kabupaten (KSK) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tercantum sebagai Lampiran II.12 yang merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(6) Kawasan strategis kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan
dalam peta dengan ukuran kertas A3 sebagai Lampiran I.3 yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(7) Kawasan Strategis Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih
lanjut melalui Rencana Detail dengan Peraturan Daerah.
BAB VII
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG
38
Pasal 37
(1) Pemanfaatan ruang wilayah kabupaten mengacu pada rencana struktur ruang, dan
pola ruang wilayah Kabupaten.
(2) Pemanfaatan ruang wilayah kabupaten dilaksanakan melalui penyusunan dan
pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta perkiraan pendanaannya.
(3) Perkiraan pendanaan program pemanfaatan ruang disusun sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 38
(1) Program pemanfaatan ruang wilayah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal
37 ayat (2) disusun berdasarkan indikasi program utama lima tahunan selama 20
(dua puluh) tahun dengan Indikasi Program Utama tahunan pada lima tahun
pertama.
(2) Pendanaan program pemanfaatan ruang wilayah kabupaten bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja kabupaten, Anggaran Pendapatan dan Belanja
Provinsi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, investasi swasta dan/atau
kerjasama pendanaan.
(3) Kerjasama pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Rincian Indikasi Program Utama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum
sebagai Lampiran III yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
BAB VIII
PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 39
(1) Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten digunakan sebagai
acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten.
(2) Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas:
a. ketentuan umum peraturan zonasi;
b. ketentuan perizinan;
c. ketentuan insentif dan disinsentif; dan
d. arahan sanksi.
Bagian Kedua
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Pasal 40
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (2)
huruf a, digunakan sebagai acuan bagi penyusunan peraturan zonasi oleh
Pemerintah Daerah.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem nasional;
39
b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem provinsi; dan
c. ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem Kabupaten.
(3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem nasional sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a mengikuti ketentuan umum peraturan zonasi yang ditetapkan
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional seperti yang tercantum pada Peraturan
Pemerintah.
(4) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem provinsi sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b mengikuti ketentuan umum peraturan zonasi yang ditetapkan
di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
(5) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem Kabupaten sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf c meliputi :
a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem perkotaan Kabupaten;
b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan Kabupaten;
c. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung; dan
d. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budidaya.
Paragraf 1
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Untuk Sistem Perkotaan Kabupaten
Pasal 41
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem perkotaan Kabupaten sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5) huruf (a) terdiri atas:
a. peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Wilayah (PKW);
b. peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal (PKL);
c. peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp);
d. peraturan zonasi untuk Pusat Pelayanan Kawasan (PPK); dan
e. peraturan zonasi untuk Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL).
(2) Peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) disusun sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan pemanfaatan untuk kegiatan
ekonomi perkotaan berskala provinsi dan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat
permukiman dapat dibangun dan dikembangkan di Kawasan Perkotaan Praya.
(3) Peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal (PKL) disusun dengan memperhatikan
pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala Kabupaten yang didukung
dengan pembangunan fasilitas dan infrastruktur perkotaan dilaksanakan di wilayah
Kopang di Kecamatan Kopang, Sengkol di Kecamatan Pujut, dan Mujur di
Kecamatan Praya Timur.
(4) Peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp) disusun dengan
memperhatikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kabupaten
yang didukung dengan pembangunan fasilitas dan infrastruktur perkotaan
dilaksanakan di wilayah Puyung di Kecamatan Jonggat, Mantang di Kecamatan
Batukliang, Janapria di Kecamatan Janapria dan Selong Belanak di Kecamatan Praya
Barat.
(5) Peraturan zonasi untuk Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) disusun dengan
memperhatikan pemanfaatan ruang untuk melayani kegiatan berskala kecamatan
atau beberapa desa yang didukung dengan pembangunan fasilitas dan infrastruktur
kecamatan yang di laksanakan di wilayah Teratak di Kecamatan Batukliang Utara,
Ubung di Kecamatan Jonggat, dan Pringgarata di Kecamatan Pringgarata.
(6) Peraturan zonasi untuk Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) disusun dengan
memperhatikan pemanfaatan ruang untuk melayani kegiatan berskala desa atau
beberapa lingkungan yang didukung dengan pembangunan fasilitas dan
infrastruktur lingkungan yang dilaksanakan di wilayah Barabali, Selebung,
40
Sukadana, Pengembur, Pengengat, Selebung Rembiga dan Langko, Saba, Bakan,
Bonder, Mangkung, Mekarsari, Ganti, Sukaraja, Kidang, Aik Bukak, Lantan, Tanak
Beak, Aik Berik, Dasan Baru, Bebuak, Muncan, Ungga, Batu Jangkih, Pelambik,
Bonjeruk, Pengenjek, Jelantik, Labulia, Sepakek, Sintung dan Bagu, dan Montong
Terep.
Paragraf 2
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Sistem Jaringan Kabupaten
Pasal 42
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan kabupaten sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5) huruf (b) :
(1) sistem jaringan prasarana utama; dan
(2) sistem jaringan prasarana lainnya.
Pasal 43
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Sistem Jaringan Prasarana Utama
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) meliputi : peraturan zonasi untuk
sistem jaringan transportasi darat, sistem jaringan transportasi laut, dan sistem
jaringan transportasi udara.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan transportasi darat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. ketentuan peraturan zonasi jaringan jalan; dan
b. ketentuan peraturan zonasi terminal.
(3) Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan jalan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a mencakup :
a. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan nasional, jalan provinsi dan jalan
kabupaten ditentukan berdasarkan arahan rencana pola ruang;
b. lebar minimal ruang manfaat jalan (rumaja), ruang milik jalan (rumija), ruang
pengawasan jalan (ruwasja) dan garis sempadan bangunan (GSB) untuk tiap
ruas jalan ditetapkan sesuai ketentuan yang berlaku berdasakan status, fungsi
dan kondisi setiap ruas jaringan jalan di lapangan;
c. pelarangan kegiatan dan pemanfaatan ruang pada rumaja, rumija dan ruwasja
yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan;
d. pengaturan persimpangan sebidang baik dengan bundaran, Alat Pengaturan
Isyarat Lampu Lalulintas (APILL) maupun non APILL;
e. pengaturan persimpangan tidak sebidang baik dengan jalan layang (overpass)
dan jalan melintang dibawah jalan lain (underpass) pada kawasan padat lalu
lintas yang sudah tidak dapat lagi diatasi dengan manajemen lalu lintas, setelah
melalui kajian ekonomi, teknis dan budaya;
f. kewajiban melakukan Analisis Dampak Lalu Lintas (ANDALALIN) sebagai
persyaratan izin mendirikan bangunan tertentu bagi pemanfaatan ruang di
sepanjang sisi jalan yang berpotensi mengganggu arus lalu lintas; dan
g. bangunan tertentu sebagaimana dimaksud huruf f diatur dalam Peraturan
Bupati.
(4) Ketentuan umum peraturan zonasi terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf b terdiri atas:
a. penyediaan fasilitas pendukung terminal seperti tempat parkir, tempat antri
penumpang, tempat tunggu penumpang, fasilitas kesehatan, fasilitas makan
minum, fasilitas peribadatan dan lainnya;
41
b. memenuhi ketentuan peraturan sektor yang berlaku; dan
c. berada pada jaringan jalan provinsi atau kabupaten.
(5) Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan transportasi laut sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas :
a. ketentuan peraturan zonasi pelabuhan laut; dan
b. ketentuan peraturan zonasi alur pelayaran.
(6) Ketentuan umum peraturan zonasi pelabuhan laut sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) huruf a terdiri atas:
a. pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional dan pengembangan kawasan
pelabuhan;
b. pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas badan air yang berdampak
pada keberadaan jalur transportasi laut; dan
c. pembatasan pemanfaatan ruang di dalam Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan
dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
(7) Ketentuan umum peraturan zonasi alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) huruf b terdiri atas:
a. pemanfaatan ruang pada badan air di sepanjang alur pelayaran dibatasi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan; dan
b. pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitar
badan air di sepanjang alur pelayaran dilakukan dengan tidak mengganggu
aktivitas pelayaran.
(8) Ketentuan umum peraturan zonasi sistem jaringan transportasi udara dimaksud
pada ayat (1) terdiri atas:
a. ketentuan peraturan zonasi bandar udara umum; dan
b. ketentuan peraturan zonasi ruang udara untuk penerbangan.
(9) Ketentuan umum peraturan zonasi bandar udara umum sebagaimana dimaksud
pada ayat (8) huruf a diarahkan dalam rangka pengembangan Bandara
Internasional Lombok (BIL) terdiri atas:
a. pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional bandar udara;
b. pemanfaatan ruang di sekitar bandar udara sesuai dengan kebutuhan
pengembangan bandar udara berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan; dan
c. batas-batas Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) dan batas-batas
kawasan kebisingan.
(10) Ketentuan umum peraturan zonasi ruang udara untuk penerbangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (8) huruf b terdiri atas:
a. disusun dengan memperhatikan pembatasan pemanfaatan ruang udara agar
tidak menggangu sistem operasional penerbangan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
b. arahan peraturan ketinggian penerbangan diatas permukaan tanah mencakup
ketinggian serendah-rendahnya 1000 (seribu) feet; dan
c. batasan ketinggian penerbangan terendah sebagaimana dimaksud pada huruf b,
tidak berlaku untuk kegiatan penerbangan yang terkait dengan upaya-upaya
penyelamatan, keadaan darurat, dan keamanan negara.
Pasal 44
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Sistem Jaringan Prasarana lainnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) meliputi sistem jaringan transportasi
Kabupaten, sistem jaringan energi Kabupaten, sistem jaringan telekomunikasi
Kabupaten, sistem pengelolaan jaringan sumberdaya air Kabupaten, sistem jaringan
42
prasarana persampahan, dan sistem jaringan prasarana sanitasi dan pengelolaan
limbah.
Pasal 45
(1) Ketentuan
umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan energi kabupaten
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 adalah sistem jaringan energi yang tidak
disambungkan ke sistem jaringan energi nasional maupun sistem jaringan energi
dan kelistrikan provinsi.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan energi kabupaten
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. keberadaan pembangkit listrik disusun dengan memperhatikan pemanfaatan
ruang di sekitar pembangkit listrik dengan memperhatikan jarak aman dari
kegiatan lain;
b. ketentuan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga listrik disusun dengan
memperhatikan ketentuan pelanggaran pemanfaatan ruang bebas di sepanjang
jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. pengelolaan prasarana terutama pembangunan saluran udara tegangan tinggi
harus mempertimbangkan dampak negatif terhadap lingkungan dengan
melakukan penelitian sebelumnya;
d. penggunaan sumber energi lainnya sebagai energi alternatif untuk listrik
dengan memanfaatkan sumberdaya antara lain angin, arus laut, dan lainnya
dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan alam dan sosial budaya
setempat serta didahului dengan pengkajian yang mendalam.
Pasal 46
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan telekomunikasi
Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 meliputi peraturan zonasi untuk
sistem jaringan telekomunikasi kabupaten.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan telekomunikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. pemerataan dan penyediaan pelayanan bagi kawasan yang belum terlayani;
b. penyediaan fasilitas telepon untuk seluruh kecamatan dan untuk desa-desa
potensial;
c. untuk menjamin kelancaran dan keamanan arus penerbangan dimasa
mendatang diperlukan pengaturan penggunaan frekuensi bagi pemancar radio
di Kabupaten sehingga tidak mengganggu komunikasi;
d. peningkatan koordinasi sistem jaringan baik pemanfaatan ruang daratan
maupun ruang udara untuk meningkatkan pelayanan telepon sehingga merata
keseluruh wilayah;
e. pengembangan sarana prasarana untuk daerah terisolir dengan sistem tanpa
kabel atau dengan sistem tersendiri;
f. pengembangan jaringan bawah tanah untuk menjaga dan meningkatkan
kualitas ruang di perkotaan; dan
g. meningkatkan pelayanan pusat jaringan terpadu sampai dengan tingkat
desa/kelurahan serta memberikan akses bagi masyarakat umum dalam
penggunaan sistem jaringan terpadu tersebut.
Pasal 47
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Sistem Pengelolaan Jaringan Sumberdaya
Air kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 meliputi peraturan zonasi
untuk sistem jaringan irigasi dan sistem jaringan air bersih kabupaten.
43
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan irigasi kabupaten
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. pengembangan Bendungan Batujai dan Bendungan Pengga didukung rencana
detail tata ruang untuk menjamin keberlanjutan dan kelestarian lingkungan
sekitar bendungan tersebut.
b. penyempurnaan sistem irigasi yang ada.
c. untuk pengembangan daerah irigasi baru pada daerah kritis air dilakukan
dengan transfer air dari daerah yang surplus air disamping mengembangkan
irigasi air tanah.
d. peningkatan koordinasi baik antar sektor maupun antar kecamatan dalam
pemanfaatan air baku untuk air irigasi.
(3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Sistem Jaringan Sumber Air Bersih
kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. pengembangan jaringan air bersih di wilayah Kabupaten diprioritaskan pada
wilayah yang belum terjangkau Perusahaan Daerah Air Minum;
b. pengembangan sumber mata air baku berupa mata air, air bawah tanah, dan
pengolaan air permukaan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan;
c. peningkatan kualitas air bersih dengan standar kesehatan; dan
d. koordinasi antara sektor dalam pemanfaatan air baku.
Pasal 48
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Sistem Jaringan Prasarana Persampahan
kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 meliputi :
a. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah tidak diperkenankan terletak berdekatan
dengan kawasan permukiman;
b. lokasi Tempat Pemrosesan Akhir sampah harus didukung oleh studi Analisa
Mengenai Dampak Lingkungan yang telah disepakati oleh instansi yang berwenang;
c. pengelolaan sampah dalam Tempat Pemrosesan Akhir sampah dilakukan dengan
sistem pembuangan tertutup sesuai ketentuan peraturan yang berlaku; dan
d. dalam lingkungan Tempat Pemrosesan Akhir sampah disediakan prasarana
penunjang pengelolaan sampah.
e. Pengolahan dilaksanakan dengan teknologi ramah lingkungan susuai dengan kaidah
teknis dan dengan konsep 3R (Recycle, Reduce dan Reuse)
Pasal 49
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Sistem Jaringan Prasarana Sanitasi dan
pengelolaan limbah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 meliputi :
a. pelayanan minimal sistem pembuangan air limbah berupa unit pengolahan kotoran
manusia dilakukan dengan menggunakan sistem setempat atau sistem terpusat agar
tidak mencemari daerah tangkapan air;
b. pembuatan pengolahan Air Limbah Domestik dengan sistem komunal terutama di
kawasan permukiman;
c. sistem pengolahan limbah domestik dan non domestik pada kawasan dapat berupa
Instalasi Pengolahan Air Limbah sistem konvensional atau ilmiah dan pada
bangunan tinggi berupa Instalasi Pengolahan Air Limbah dengan teknologi modern;
d. Pengelolaan limbah B3 dapat dilakukan oleh penghasil limbah B3 dan atau
pemerintah sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi sumber daya alam dan
lingkungan hidup serta petunjuk peraturan perundang-undangan yang berlaku,
Jika tidak mampu dapat menyerahkan kepada pihak lain yang memiliki teknologi
untuk itu; dan
44
e. Pengelola limbah B3 wajib mendapatkan izin pengelolaan limbah B3 dari
pemerintah, pemerintah provinsi atau pemerintah daerah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Paragraf 3
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Untuk Kawasan Lindung Kabupaten
Pasal 50
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung Kabupaten sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5) huruf c meliputi :
a. kawasan hutan lindung;
b. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;
c. kawasan perlindungan setempat;
d. kawasan pelestarian alam dan cagar budaya;
e. kawasan rawan bencana.
Pasal 51
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan hutan lindung sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 huruf a ditetapkan sebagai berikut :
a. dalam hutan lindung masih diperkenankan dilakukan kegiatan yang tidak
bertentangan dengan fungsi hutan lindung;
b. pembangunan prasarana wilayah yang harus melintasi hutan lindung dapat
diperkenankan dengan ketentuan :
1. tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang di sepanjang
jaringan prasarana tersebut; dan
2. mengikuti ketentuan peraturan perundang – undangan yang berlaku.
Pasal 52
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan yang memberikan perlindungan
terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud Pasal 50 ayat b yaitu kawasan
resapan air adalah :
a. dalam kawasan resapan air tidak diperkenankan adanya kegiatan budidaya;
b. permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan resapan air sebelum
ditetapkan sebagai kawasan lindung masih diperkenankan namun harus memenuhi
syarat :
1. tingkat kerapatan bangunan rendah Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
maksimum 20 (dua puluh) persen
2. perkerasan permukaan menggunakan bahan yang memiliki daya serap air
tinggi; dan
3. dalam kawasan resapan air wajib dibangun sumur-sumur resapan sesuai
ketentuan yang berlaku.
Pasal 53
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Perlindungan Setempat
sebagaimana dimaksud Pasal 50 huruf c meliputi peraturan zonasi untuk
Sempadan Pantai, Sempadan Sungai, Sekitar mata air dan Sekitar danau atau
waduk.
45
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sempadan pantai sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. dalam kawasan sempadan pantai yang termasuk dalam zona inti wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil tidak diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya kecuali
kegiatan penelitian dan pendidikan; pengembangan struktur alami dan struktur
kegiatan untuk mencegah bencana pesisir; pertahanan dan keamanan,
kepentingan adat dan kearifan lokal yang mencakup upacara adat, hak dan
kewajiban masyarakat adat, serta tradisi dan kebiasaan; perhubungan; dan
komunikasi;
b. dalam kawasan sempadan pantai yang termasuk zona pemanfaatan terbatas
dalam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil diperkenankan dilakukan kegiatan
budidaya pesisir, ekowisata, rekreasi, wisata bahari dan perikanan tradisional,
dengan syarat tidak termasuk untuk pendirian bangunan permanen dan/atau
hotel;
c. dalam kawasan sempadan pantai yang termasuk zona lain dalam wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya sesuai
peruntukan kawasan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d. pantai-pantai terbuka bagi masyarakat untuk tujuan non komersil;
e. jalan menuju pantai harus diizinkan untuk dilalui masyarakat.
(3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sempadan sungai sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. pemanfaatan lahan di daerah sempadan dapat dilakukan oleh masyarakat untuk
kegiatan-kegiatan tertentu sebagai berikut :
1. untuk budidaya pertanian dengan jenis tanaman yang diijinkan;
2. untuk pemasangan papan reklame, papan penyuluhan dan peringatan, serta
rambu-rambu pekerjaan;
3. untuk pemasangan rentangan kabel listrik, kabel telepon dan pipa air minum;
4. untuk pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan;
5. untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan masyarakat
yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan
fungsi serta fisik sungai; dan
6. untuk pembangunan prasarana lalu lintas air dan bangunan pengambilan
dan pembuangan air.
b. pada daerah sempadan dilarang :
1. membuang sampah, limbah padat dan atau cair; dan
2. mendirikan bangunan permanen untuk hunian dan tempat usaha.
c. pemanfaatan sempadan sungai dapat dilakukan kegiatan budidaya, namun tetap
memperhatikan aspek kelestarian lingkungan;
d. pada masing-masing sempadan sungai diarahkan untuk menyediakan lahan
yang dimanfaatkan sebagai taman minimal 10% dari lebar sempadan.
(4) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar mata air sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. pemanfaatan kawasan sekitar mata air yaitu hanya untuk kegiatan budidaya
tertentu yang dapat dilakukan;
b. setiap kegiatan pemanfaatan di kawasan sekitar mata air harus
mempertimbangkan aspek lingkungan terutama pelestarian dari kawasan
tersebut;
c. pencegahan kegiatan budidaya yang dapat mengganggu fungsi mata air
terutama sebagai sumber air baku dan air bersih; dan
d. rehabilitasi vegetasi disekitar mata air.
(5) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar danau atau waduk
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
46
a. pencegahan kegiatan budidaya sekitar danau atau waduk yang dapat
mengganggu fungsi danau atau waduk (terutama sebagai sumber air dan
sumber energi listrik); dan
b. pengendalian kegiatan yang telah ada di sekitar danau atau waduk.
Pasal 54
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Cagar Budaya sebagaimana dimaksud
Pasal 50 huruf d meliputi peraturan zonasi untuk Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu
Pengetahuan dan Kawasan Konservasi Perairan Lainnya.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu
pengetahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. melarang aktivitas yang dapat merusak atau terganggunya kondisi dan
karakteristik kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan (termasuk kawasan
cagar budaya terbangun), dan mengatur pengelolaannya;
b. pengamanan dan menjaga pelestarian dari berbagai bentuk ancaman baik oleh
kegiatan manusia maupun alam; dan
c. pemerintah daerah mengumumkan kepada seluruh pelaku pembangunan
tentang lokasi dan luas kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.
(3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Konservasi Perairan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan bahwa dalam zona ini tidak
diperkenankan kegiatan pembangunan kecuali penelitian dan pendidikan serta
aktivitas-aktivitas yang bersifat apresiatif seperti wisata alam dengan batasanbatasan antara lain tidak diperkenankan melakukan konstruksi, pemungutan biota
dan aktivitas yang bersifat ekstraktif lainnya.
Pasal 55
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Rawan Bencana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 ayat e meliputi : peraturan zonasi untuk Kawasan Rawan
Bencana Banjir, Kawasan Rawan Gempa Bumi, Kawasan Rawan Bencana Tanah
Longsor, Kawasan Rawan Bencana Gelombang Pasang, Kawasan Rawan Bencana
Gunung Merapi.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Rawan Banjir sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. penetapan batas luasan genangan banjir;
b. ketersediaan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk;
c. kesesuaian struktur bangunan dengan kondisi fisik wilayah;
d. pengaturan daerah sempadan sungai, danau dan waduk;
e. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bagi kegiatan permukiman dan
fasilitas umum penting lainnya; dan
f. sistem jaringan drainase dan daerah resapan air.
(3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Rawan Gempa Bumi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. mengembangkan bangunan dengan menggunakan bahan-bahan serta disain
tahan gempa; dan
b. pengembangan manajemen informasi atau deteksi dini bencana sebagai upaya
pencegahan bencana.
(4) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Rawan Tanah Longsor
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah dan
tingkat kerawanan;
b. ketersediaan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk;
47
c. kaedah-kaedah pendirian bangunan disesuaikan dengan kondisi fisik wilayah;
dan
d. penetapan batas luasan kawasan yang rawan bencana longsor.
(5) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Rawan Gelombang Pasang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. pemantapan kawasan sempadan pantai; dan
b. pengembangan manajemen informasi atau deteksi dini bencana sebagai upaya
pencegahan bencana.
(6) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Rawan Gunung Berapi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. penetapan kawasan rawan letusan gunung berapi di lereng Gunung Rinjani
Kecamatan Batukliang Utara;
b. pemantauan aktivitas gunung berapi;
c. pemetaan kawasan rawan letusan gunung berapi;
d. pembangunan dan pemeliharaan bangunan pengendali sedimen yang ramah
lingkungan; dan
e. pengendalian kegiatan budi daya di dalam kawasan rawan letusan gunung
berapi.
Paragraf 4
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi untuk Kawasan Budidaya Kabupaten
Pasal 56
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budidaya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 40 pada ayat (5) huruf d meliputi :
a. kawasan peruntukan hutan produksi;
b. kawasan peruntukan pertanian;
c. kawasan peruntukan perikanan;
d. kawasan peruntukan pertambangan;
e. kawasan peruntukan industri;
f. kawasan peruntukan pariwisata;
g. kawasan peruntukan permukiman;
h. kawasan peruntukan perdagangan dan jasa; dan
i.
kawasan peruntukan lainnya.
Pasal 57
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 56 huruf a meliputi :
a. dalam kawasan hutan produksi diperuntukan bagi kegiatan budidaya kehutanan
dan kegiatan budidaya diluar kehutanan sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku;
b. kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu dalam kawasan hutan produksi tidak
diperkenankan dari hutan alam;
c. sebelum kegiatan pengelolaan hutan produksi dilakukan wajib dilakukan studi
kelayakan dan studi amdal yang hasilnya disetujui oleh tim dari lembaga yang
berwenang;
d. kegiatan yang diizinkan, meliputi :
1. kegiatan pengembangan/pembangunan hasil hutan kayu dan hasil hutan
bukan kayu serta jasa lingkungan;
48
2. rehabilitasi hutan produksi;
3. pengembangan fungsi penyangga pada kawasan hutan produksi yang
berbatasan dengan hutan lindung dan hutan konservasi;
4. kegiatan penataan sempadan sungai, danau dan mata air;
5. kegiatan pemanfaatan hutan produksi tetap dan hutan produksi terbatas;
6. kegiatan pemanfaatan ruang lainnya yang dapat meningkatkan fungsi hutan
produksi.
e.
kegiatan yang diizinkan terbatas, meliputi :
1. kegiatan pemungutan hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu;
2. kegiatan pengembangan jasa lingkungan.
f.
kegiatan yang diizinkan bersyarat, meliputi :
g.
1. kegiatan budidaya peternakan;
2. kegiatan transmisi, relay dan distribusi listrik, telekomunikasi dan energi.
kegiatan yang dilarang pada kawasan hutan produksi adalah semua pemanfaatan
dan penggunaan ruang kecuali yang dikategorikan diizinkan, diizinkan terbatas
dan diizinkan bersyarat.
Pasal 58
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Peruntukan Pertanian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 huruf b meliputi : ketentuan peraturan
zonasi kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan, tanaman hortikultura,
perkebunan dan peternakan.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukan pertanian tanaman
pangan dan tanaman hortikultura sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :
a. kegiatan budidaya pertanian tanaman pangan dan tanaman hortikultura tidak
diperkenankan menggunakan lahan yang dikelola dengan mengabaikan
kelestarian lingkungan, misalnya penggunaan pupuk yang menimbulkan
dampak negatif terhadap lingkungan, dan pengolahan tanah yang tidak
memperhatikan aspek konservasi;
b. dalam pengelolaan pertanian tanaman pangan tidak diperkenankan pemborosan
penggunaan sumber air;
c. peruntukan budidaya pertanian tanaman pangan dan tanaman hortikultura
tidak diperkenankan untuk dialihfungsikan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
d. pada kawasan budidaya pertanian diperkenankan adanya bangunan prasarana
wilayah dan bangunan yang bersifat mendukung kegiatan pertanian;
e. dalam kawasan pertanian masih diperkenankan dilakukan kegiatan wisata alam
secara terbatas, penelitian dan pendidikan;
f. kegiatan pertanian tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan lindung.
(3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perkebunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :
a. dalam kawasan perkebunan dan perkebunan rakyat tidak diperkenankan
penanaman jenis tanaman perkebunan yang bersifat menyerap air dalam jumlah
banyak, terutama kawasan perkebunan yang berlokasi di daerah hulu/kawasan
resapan air;
b. bagi perkebunan besar harus mengajukan permohonan apabila ingin merubah
jenis tanamannya;
49
c. dalam kawasan perkebunan besar dan perkebunan rakyat diperkenankan
adanya bangunan yang bersifat mendukung kegiatan perkebunan dan jaringan
prasarana wilayah;
d. alih fungsi kawasan perkebunan menjadi fungsi lainnya dapat dilakukan
sepanjang sesuai dan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
e. sebelum kegiatan perkebunan besar dilakukan diwajibkan untuk dilakukan studi
kelayakan dan studi AMDAL yang hasilnya disetujui oleh tim evaluasi dari
lembaga yang berwenang;
f. kegiatan perkebunan tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan lindung.
(4) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peternakan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) adalah :
a. pengembangan kegiatan peternakan, dengan arahan kegiatan sebagai berikut :
1. diusahakan secara individual di sekitar permukiman penduduk dengan sistem
kandang, sedangkan untuk peternakan bebas dapat diusahakan pula pada
ladang di luar kawasan permukiman;
2. penyediaan suplai bahan makanan ternak dengan pemanfaatan lahan kritis
untuk pengembangan rumput, leguminosa, semak dan jenis pohon yang
sesuai untuk makanan ternak.
b. pengendalian limbah ternak agar tidak mencemari lingkungan dan aliran
sungai, oleh sebab itu dalam pengembangannya perlu dilengkapi dengan sistem
pengelolaan limbah ternak tersebut.
Pasal 59
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perikanan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 56 huruf c meliputi :
a. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Perikanan Tangkap :
1. wilayah perairan laut untuk penangkapan sejauh 4 mil laut;
2. penggunaan alat tangkap pada wilayah sejauh 4 mil laut dibatasi untuk alat
tangkap tradisional;
3. pelarangan alat tangkap yang teridiri atas bahan peledak dan bahan racun
berbahaya, alat tangkap berarus listrik dan pukat harimau;
4. peraturan rinci mengenai zonasi kawasan perikanan tangkap diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Bupati.
b. pengembangan kegiatan perikanan, dengan arahan kegiatan :
1. peningkatan produktifitas perikanan yang sudah berjalan;
2. meningkatkan sarana dan prasarana perikanan;
3. pengembangan budidaya perikanan laut dan darat melalui budidaya di sawah
dan kolam air;
4. pengembangan kegiatan perikanan tradisonal penunjang pariwisata;
5. pengembangan kegiatan perikanan skala menengah/besar.
c. pemanfaatan wilayah perairan laut, yaitu : perairan pantai, lepas pantai dalam
batas kewenangan Kabupaten bagi peningkatan produktifitas perikanan laut;
d. pengawasan dan pengendalian kerusakan ekosistem dan biota laut dalam wilayah
pengelolaan perikanan dengan mengedepankan peran serta masyarakat dan
kearifan lokal.
50
Pasal 60
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Peruntukan Pertambangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 huruf d meliputi :
a. kegiatan usaha pertambangan sepenuhnya harus mengikuti ketentuan yang
berlaku di bidang pertambangan;
b. kawasan pasca tambang wajib dilakukan rehabilitasi (reklamasi dan/atau
revitalisasi) sehingga dapat digunakan kembali untuk kegiatan lain seperti
pertanian, kehutanan, dan pariwisata;
c. pada kawasan pertambangan diperkenankan adanya kegiatan lain yang bersifat
mendukung kegiatan pertambangan;
d. kegiatan permukiman diperkenankan secara terbatas untuk menunjang kegiatan
pertambangan dengan tetap memperhatikan aspek-aspek keselamatan; dan
e. sebelum kegiatan pertambangan dilakukan wajib dilakukan studi kelayakan dan
studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang hasilnya disetujui oleh tim
evaluasi dari lembaga yang berwenang.
Pasal 61
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Peruntukan Industri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 56 huruf e meliputi :
a. mengarahkan setiap pengusaha dalam melaksanakan kegiatan agar sesuai dengan
kawasan yang telah ditentukan;
b. pembentukan sistem informasi dalam mengarahkan investasi menurut lokasi, jenis
dan klasifikasi industri yang konsisten dengan rencana kawasan budidaya industri;
dan
c. pembuangan limbah kegiatan industri baik ke udara, darat maupun perairan harus
memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang.
d. Ketentuan lebih lanjut mengenai peraturan zonasi kawasan peruntukan industri
akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati
Pasal 62
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Peruntukan Pariwisata sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 56 huruf f meliputi :
a. pada kawasan pariwisata alam tidak diperkenankan dilakukan kegiatan yang dapat
menyebabkan rusaknya kondisi alam terutama yang menjadi obyek wisata alam;
b. dalam kawasan pariwisata dilarang dibangun permukiman dan industri yang tidak
terkait dengan kegiatan pariwisata;
c. dalam kawasan pariwisata diperkenankan adanya sarana dan prasarana yang
mendukung kegiatan pariwisata dan sistem prasarana wilayah sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
d. pada kawasan pariwisata diperkenankan dilakukan penelitian dan pendidikan;
e. pada kawasan pariwisata alam tidak diperkenankan adanya bangunan lain kecuali
bangunan pendukung kegiatan wisata alam; dan
f. pengembangan pariwisata harus dilengkapi dengan upaya pengelolaan lingkungan
dan upaya pemantauan lingkungan serta studi Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan.
51
Pasal 63
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Peruntukan Permukiman
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 huruf g meliputi :
a. tujuan pengelolaan kawasan permukiman adalah menyediakan tempat bermukim
yang sehat dan aman dari bencana alam, dapat memberikan lingkungan yang
sesuai dengan pengembangan yang mendorong keterpaduan sosial dan menjamin
kualitas sosial dan umum, daya dukung lingkungan, yang mendorong keterpaduan
sosial yang menjamin kualitas hidup yang berkelanjutan;
b. pengembangan pada lahan yang sesuai dengan kriteria fisik meliputi: kemiringan
lereng, ketersediaan dan mutu sumber air bersih, bebas dari potensi
banjir/genangan;
c. membentuk klaster-klaster permukiman untuk menghindari penumpukan dan
penyatuan antar kawasan permukiman, dan diantara klaster permukiman
disediakan ruang terbuka hijau (RTH);
d. prioritas pengembangan pada permukiman orde rendah dengan peningkatan
pelayanan fasilitas permukiman dan perdagangan;
e. pengembangan permukiman ditunjang dengan pengembangan fasilitas pendukung
unit permukiman seperti : fasilitas perdagangan, jasa dan hiburan, pemerintahan,
pelayanan sosial (pendidikan, kesehatan dan peribadatan);
f. peningkatan peran pemerintah dalam mengoptimalisasi pemanfaatan lahan-lahan
tidur yang sementara tidak diusahakan;
g. pengendalian
pengembangan kegiatan terbangun dengan pembatasan
perkembangan kawasan terbangun yang berada atau berbatasan dengan kawasan
lindung;
h. beberapa program pengembangan perumahan dilaksanakan melalui kegiatan :
1. penataan lingkungan permukiman di perkotaan dan di perdesaan;
2. pengembangan perumahan layak huni pada daerah kumuh; dan
3. pengembangan perumahan bersubsidi bagi masyarakat kurang mampu berupa
Rumah Sederhana Sehat dan lain sebagainya.
Pasal 64
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Kawasan Peruntukan Jasa dan Perdagangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 huruf h meliputi :
a. penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan;
b. tidak terletak pada kawasan lindung dan kawasan bencana alam;
c. lokasi strategis dan kemudahan pencapaian dari seluruh penjuru kota, dapat
dilengkapi dengan sarana penunjang kegiatan komersil dan kegiatan pengunjung;
dan
d. peletakan bangunan dan ketersediaan sarana dan prasarana pendukung
disesuaikan dengan sasaran konsumen yang akan dilayani.
Pasal 65
(1) Ketentuan
umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan lainnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 huruf i meliputi : ketentuan peraturan
zonasi kawasan pusat pemerintahan, kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dan
kawasan pertahanan dan keamanan.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan pusat pemerintah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) adalah :
52
a. penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan; dan
b. tidak terletak pada kawasan lindung dan kawasan bencana alam.
(3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :
a. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan
ancaman bencana;
b. penetapan zona preservasi, konservasi, penyangga dan zona pemanfaatan; dan
c. tinjauan terhadap daya dukung lingkungan mengingat rentannya kawasan ini
terhadap kemungkinan perusakan lingkungan akibat kegiatan yang berlangsung
diatasnya.
(4) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan pertahanan dan keamanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :
a. penetapan zona penyangga yang memisahkan kawasan pertahanan dan
keamanan dengan kawasan budidaya terbangun; dan
b. penetapan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan
untuk menjaga fungsi pertahanan keamanan.
Pasal 66
Peraturan zona peruntukan di perairan pesisir dan pulau-pulau kecil diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Daerah.
Bagian Ketiga
Ketentuan Perizinan
Paragraf 1
Umum
Pasal 67
Ketentuan Perizinan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 39 ayat (2) huruf b
merupakan proses administrasi dan teknis yang harus dipenuhi sebelum kegiatan
pemanfaatan ruang dilaksanakan, untuk menjamin kesesuaian pemanfaatan ruang
dengan rencana tata ruang, mencakup izin prinsip, izin alih fungsi lahan, izin lokasi,
izin penggunaan pemanfaatan tanah (IPPT), izin mendirikan bangunan, dan izin
lainnya.
Pasal 68
(1) Segala bentuk kegiatan dan pembangunan prasarana harus memperoleh
ijin
pemanfaatan ruang yang mengacu pada Peraturan Daerah Tentang RTRW
kabupaten.
(2) Setiap orang atau badan hukum yang memerlukan tanah dalam rangka penanaman
modal wajib memperoleh ijin pemanfaatan ruang dari Bupati.
(3) Pelaksanaan prosedur izin pemanfaatan ruang dilaksanakan oleh instansi yang
berwenang dengan mempertimbangkan rekomendasi BKPRD.
Paragraf 2
Izin Prinsip
53
Pasal 69
(1) Izin prinsip sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 adalah persetujuan
pendahuluan yang diberikan kepada orang atau badan hukum untuk menanamkan
modal atau mengembangkan kegiatan atau pembangunan di wilayah Kabupaten,
yang sesuai dengan arahan kebijakan dan alokasi penataan ruang wilayah.
(2) Izin prinsip dipakai sebagai kelengkapan persyaratan teknis permohonan izin
lainnya, yaitu izin lokasi, izin penggunaan pemanfaatan tanah, izin mendirikan
bangunan, dan izin lainnya.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai izin prinsip diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Bupati
Paragraf 3
Izin Alih Fungsi Lahan
Pasal 70
(1) Izin alih fungsi lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 adalah ijin yang
diberikan kepada orang atau badan hukum untuk mengubah peruntukan lahan
dari budidaya non terbangun menjadi budidaya terbangun sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
(2) alih fungsi lahan diperlukan pada lokasi yang belum memiliki rencana tata ruang
rinci dan peraturan zonasi, dan dilakukan sebelum atau bersamaan dengan proses
izin lokasi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai alih fungsi lahan diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Bupati.
Paragraf 4
Izin Lokasi
Pasal 71
(1) Izin lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 adalah ijin yang diberikan
kepada orang atau badan hukum untuk memperoleh tanah/pemindahan hak atas
tanah/menggunakan tanah yang diperlukan dalam rangka penanaman modal.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai izin lokasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Bupati.
Paragraf 5
Izin Penggunaan Pemanfaatan Tanah
Pasal 72
(1) Izin Penggunaan Pemanfaatan Tanah (IPPT) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67
adalah izin yang diberikan kepada pengusaha untuk kegiatan pemanfaatan ruang
dengan kriteria batasan luasan tanah lebih dari 5.000 (lima ribu) m2.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai izin penggunaan pemanfaatan tanah diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Bupati.
Paragraf 6
Izin Mendirikan Bangunan
Pasal 73
(1) Izin Mendirikan Bangunan Gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 adalah
54
izin yang diberikan kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru,
mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan gedung sesuai
dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai izin mendirikan bangunan diatur lebih lanjut
Peraturan Bupati.
Paragraf 7
Izin Lainnya
Pasal 74
(1) Izin lainnya terkait pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67
adalah ketentuan izin usaha pertambangan, perkebunan, pariwisata, industri,
perdagangan dan pengembangan sektoral lainnya, yang disyaratkan sesuai
peraturan perundangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai izin usaha pengembangan sektoral akan
ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
Bagian Keempat
Ketentuan Insentif dan Disinsentif
Pasal 75
(1) Ketentuan pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal
39 ayat (2) huruf c merupakan acuan bagi Pemerintah Daerah dalam pemberian
insentif dan pengenaan disinsentif;
(2) Ketentuan insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana
struktur ruang, rencana pola ruang, dan ketentuan umum peraturan zonasi yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan; dan Ketentuan disinsentif dikenakan
terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah, dibatasi, atau dikurangi
keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan;
(3) Ketentuan pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam pemanfaatan ruang
wilayah Kabupaten dilakukan oleh pemerintah daerah kepada pengembang
kawasan dan kepada masyarakat ;
(4) ketentuan pemberian insentif dan pengenaan disinsentif di Kabupaten, dilakukan
oleh bupati yang teknis pelaksanaannya melalui satuan kerja perangkat daerah
Kabupaten yang membidangi penataan ruang.
Pasal 76
(1) Ketentuan disinsentif Pemerintah Daerah kepada pengembang kawasan, diberikan
dalam bentuk:
a. pembatasan penyediaan infrastruktur;
b. pengenaan kompensasi;
c. penalti; dan
d. pembatasan administrasi pertanahan.
(2) Disinsentif dari Pemerintah Daerah kepada masyarakat, dikenakan dalam bentuk:
a. pengenaan pajak;
b. pembatasan penyediaan infrastruktur;
c. pengenaan kompensasi;
d. penalti; dan
e. pembatasan administrasi pertanahan.
55
Pasal 77
(1) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal
39 huruf c dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara pemberian insentif dan disinsentif diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kelima
Arahan Sanksi
Pasal 78
Ketentuan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (2) huruf d meliputi :
sanksi administratif dan/atau sanksi pidana.
Pasal 79
(1) Bentuk pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 diberikan terhadap:
a. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Struktur Ruang Dan Pola
Ruang wilayah Kabupaten;
b. pelanggaran ketentuan umum peraturan zonasi kawasan lindung, kawasan
budidaya, sistem nasional dan provinsi;
c. pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan
RTRW Kabupaten;
d. pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang
diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten;
e. pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan
ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW kabupaten;
f. pemanfataan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh
peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum; dan/atau
g. pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak
benar dan/atau tidak sah.
(2) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, b, d, e, f dan
huruf g dikenakan sanksi administrasi berupa :
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pencabutan izin;
f. pembatalan izin;
g. pembongkaran bangunan;
h. pemulihan fungsi ruang; dan/atau
i. denda administratif.
(3) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dikenakan
sanksi administrasi berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pembongkaran bangunan;
f. pemulihan fungsi ruang; dan/atau
g. denda administratif.
56
(4) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada pasal 78 yang dikenakan
terhadap bentuk pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Bupati;
(5) Sanksi pidana sebagaimana dimaksud pada dalam 78 yang dikenakan terhadap
bentuk pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.
Pasal 80
Pengenaan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB IX
PERAN MASYARAKAT DAN KELEMBAGAAN
Bagian Kesatu
Hak, Kewajiban dan Peran Masyarakat
Paragraf 1
Hak Masyarakat
Pasal 81
Dalam kegiatan mewujudkan penataan ruang wilayah, masyarakat berhak :
a. mengetahui rencana tata ruang;
b. menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang;
c. memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan
kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang;
d. mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang terhadap pembangunan yang
tidak sesuai dengan rencana tata ruang di wilayahnya;
e. mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak
sesuai dengan rencana tata ruang kepada pejabat berwenang; dan
f. mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah dan/atau pemegang izin
apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
menimbulkan kerugian
Paragraf 2
Kewajiban Masyarakat
Pasal 82
Dalam pemanfaatan ruang, setiap orang wajib:
a. menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
b. memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang
berwenang;
c. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang;
dan
d. memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundangundangan dinyatakan sebagai milik umum
Pasal 83
(1) Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud
pada Pasal 82 dilaksanakan dengan mematuhi dan menerapkan kriteria, kaidah,
57
baku mutu, dan aturan-aturan penataan ruang yang ditetapkan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(2) Kaidah dan aturan pemanfaatan ruang yang dilakukan masyarakat secara turun
temurun dapat diterapkan sepanjang memperhatikan faktor-faktor daya dukung
lingkungan, estetika lingkungan, lokasi, dan struktur pemanfaatan ruang serta
dapat menjamin pemanfaatan ruang yang serasi, selaras, dan seimbang.
Paragraf 3
Peran Masyarakat
Pasal 84
Peran masyarakat dalam penataan ruang di Daerah dilakukan antara lain melalui:
a. partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang;
b. partisipasi dalam pemanfaatan ruang; dan
c. partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang.
Pasal 85
Bentuk peran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf a pada tahap
perencanaan tata ruang dapat berupa :
a. memberikan masukan mengenai :
1. persiapan penyusunan rencana tata ruang;
2. penentuan arah pengembangan wilayah atau kawasan;
3. pengidentifikasian potensi dan masalah wilayah atau kawasan;
4. perumusan konsepsi rencana tata ruang; dan/atau
5. penetapan rencana tata ruang.
a. melakukan kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau sesama
unsur masyarakat dalam perencanaan tata ruang.
Pasal 86
Bentuk peran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf b dalam
pemanfaatan ruang dapat berupa:
a. masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang;
b. kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesama unsur
masyarakat dalam pemanfaatan ruang;
c. kegiatan memanfaatkan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal dan rencana tata
ruang yang telah ditetapkan;
d. peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfaatan ruang darat,
ruang laut, ruang udara, dan ruang di dalam bumi dengan memperhatikan kearifan
lokal serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
e. kegiatan menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan serta memelihara dan
meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam; dan
f. kegiatan investasi dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 87
Bentuk peran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf c dalam
pengendalian pemanfaatan ruang dapat berupa:
a. masukan terkait arahan dan/atau peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif
dan disinsentif serta pengenaan sanksi;
b. keikutsertaan dalam memantau dan mengawasi
58
c. pelaksanaan rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
d. pelaporan kepada instansi dan/atau pejabat yang berwenang dalam hal
menemukan dugaan penyimpangan atau pelanggaran kegiatan pemanfaatan ruang
yang melanggar rencana tata ruang yang telah ditetapkan; dan
e. pengajuan keberatan terhadap keputusan pejabat yang berwenang terhadap
pembangunan yang dianggap tidak sesuai dengan rencana tata ruang
Pasal 88
(1) Peran masyarakat di bidang penataan ruang dapat disampaikan secara langsung
dan/atau tertulis.
(2) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disampaikan kepada
bupati.
(3) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga dapat disampaikan
melalui unit kerja terkait yang ditunjuk oleh Bupati.
Pasal 89
Dalam rangka meningkatkan peran masyarakat, pemerintah daerah membangun sistem
informasi dan dokumentasi penataan ruang yang dapat diakses dengan mudah oleh
masyarakat.
Pasal 90
Pelaksanaan tata cara peran masyarakat dalam penataan ruang dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Kelembagaan
(1) Dalam rangka mengoordinasikan penyelenggaraan penataan ruang dan kerjasama
antarsektor atau antardaerah bidang penataan ruang dibentuk Badan Koordinasi
Penataan Ruang Daerah;
(2) Tugas, susunan organisasi, dan tata kerja Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Bupati.
BAB X
PENYIDIKAN
Pasal 91
(1) Selain oleh Penyidik Umum, Penyidikan atas pelanggaran dalam Peraturan Daerah
ini dilaksanakan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Daerah;
(2) PPNS di lingkungan pemerintah daerah pengangkatannya dilakukan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(3) Ketentuan penyidikan diatur seseuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
59
BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 92
(1) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka semua peraturan yang berkaitan
dengan penataan ruang Daerah yang telah ada dinyatakan berlaku sepanjang tidak
bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Daerah ini.
(2) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka :
a. Izin pemanfaatan ruang yang telah diterbitkan dan telah sesuai dengan
ketentuan Peraturan Daerah ini tetap berlaku sesuai dengan masa berlakunya;
b. Izin pemanfaatan ruang yang telah diterbitkan tetapi tidak sesuai dengan
ketentuan Peraturan Daerah ini berlaku ketentuan :
1. Untuk izin yang belum dilaksankan pembangunannya, izin tersebut
disesuaikan dengan fungsi kawasan berdasarkan Paraturan Daerah ini;
2. Untuk izin yang sudah dilaksanakan pembangunannya, dilakukan
penyesuaian dengan masa transisi berdasarkan ketentuan perundang –
undangan; dan
3. Untuk izin yang sudah dilaksankan pembangunannya dan dapat dibuktikan
bahwa izin tersebut diperoleh sesui dengan prosedur yang benar serta tidak
memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian dengan fungsi kawasan
berdasarkan Peraturan Daerah ini, izin yang telah diterbitkan dapat
dibatalkan dan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin
tersebut dapat diberikan penggantian yang layak;
c. Pemanfaatan ruang di Daerah yang diselenggarakan tanpa izin dan
bertentangan dengan ketentuan Peratiran Daerah ini, akan ditertibkan dan
disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini;
d. Pemanfaatan ruang yang sesuai dengan ketenuan Peraturan Daerah ini, agar
dipercepat untuk mendapatkan izin yang diperlukan.
Pasal 93
(1) Kawasan lindung yang difungsikan untuk kegiatan budidaya secara bertahap
dikembalikan fungsinya sebagai kawasan lindung setelah ijin kegiatan budidaya habis
masa berlakunya.
(2) Perubahan status dan/atau fungsi kawasan hutan, kawasan lahan pertanian pangan
berkelanjutan harus mematuhi ketentuan peraturan perundangan.
BAB XII
KETENTUAN LAIN - LAIN
Pasal 94
(1) Jangka waktu RTRW Kabupaten adalah 20 (dua puluh) tahun dan dapat ditinjau
kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
(2) Dalam kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam
skala besar, perubahan batas teritorial negara, dan /atau perubahan batas wilayah
yang ditetapkan dengan undang – undang, Rencana Tata Ruang Wilayah Lombok
Tengah dapat ditinjau kembali lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
61
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR 7 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH
KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN 2011-2031
I.
UMUM
1. Ruang Wilayah Kabupaten Lombok Tengah sebagai bagian dari wilayah
Provinsi Nusa Tenggara barat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, pada
hakikatnya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus
dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal agar dapat
menjadi wadah bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya secara
berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas.
Pancasila merupakan dasar negara dan falsafah negara, yang memberikan
keyakinan bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas
keselarasan, keserasian dan keseimbangan, baik dalam hubungannya dengan
kehidupan pribadi, hubungan manusia dengan manusia lain, hubungan
manusia dengan alam sekitarnya maupun hubungan manusia dengan Tuhan
Yang Maha Esa. Sedangkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan
konstitusional mewajibkan agar sumberdaya alam dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kemakmuran tersebut haruslah dapat
dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.
2. Ruang sebagai sumberdaya alam tidaklah mengenal batas wilayah, karena
ruang pada dasarnya merupakan wadah atau tempat bagi manusia dan
makhluk hidup lainnya untuk hidup dan melakukan kegiatannya; akan tetapi
jika ruang dikaitkan dengan pengaturannya, haruslah mengenal batas dan
sistemnya. Dalam kaitan tersebut, ruang wilayah Lombok Tengah meliputi tiga
matra, yakni ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara.
Ruang wilayah Lombok Tengah sebagai unsur lingkungan hidup, terdiri dari
berbagai ruang wilayah yang masing-masing sebagai sub sistem yang meliputi
aspek alamiah (fisik), ekonomi, sosial budaya dengan corak ragam dan daya
dukung yang berbeda satu dengan lainnya. Pengaturan pemanfaatan ruang
wilayah yang didasarkan pada corak dan daya dukungnya akan meningkatkan
keselarasan, keseimbangan sub sistem, yang berarti juga meningkatkan daya
tampungnya. Pengelolaan sub-sistem yang satu akan berpengaruh kepada
kepada sub-sistem yang lain, yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem
ruang secara keseluruhan. Oleh karena itu, pengaturan ruang menuntut
dikembangkan suatu sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya.
Ada pengaruh timbal balik antara ruang dan kegiatan manusia. Karakteristik
ruang menentukan macam dan tingkat kegiatan manusia, sebaliknya kegiatan
62
manusia dapat merubah, membentuk dan mewujudkan ruang dengan segala
unsurnya. Kecepatan perkembangan manusia seringkali tidak segera
tertampung dalam wujud pemanfaatan ruang, hal ini disebabkan karena
hubungan fungsional antar ruang tidak segera terwujud secepat
perkembangan manusia. Oleh karena itu, rencana tata ruang wilayah yang
disusun, haruslah dapat menampung segala kemungkian perkembangan
selama kurun waktu tertentu.
3. Ruang wilayah Lombok Tengah, mencakup wilayah Kota dan Desa yang
merupakan satu kesatuan ruang wilayah yang terdiri dari satuan-satuan ruang
yang disebut dengan kawasan. Dalam berbagai kawasan terdapat macam dan
budaya manusia yang berbeda, sehingga diantara berbagai kawasan tersebut
seringkali terjadi tingkat pemanfaatan dan perkembangan yang berbeda-beda.
Perbedaan ini apabila tidak ditata, dapat mendorong terjadinya
ketidakseimbangan pembangunan wilayah. Oleh karena itu, rencana tata
ruang wilayah, secara teknis harus mempertimbangkan : (i) keseimbangan
antara kemampuan ruang dan kegiatan manusia dalam memanfaatkan serta
meningkatkan kemampuan ruang; (ii) keseimbangan, keserasian dan
keselarasan dalam pemanfaatan antar kawasan dalam rangka meningkatkan
kapasitas produktivitas masyarakat dalam arti luas.
4. Meningkatnya kegiatan pembangunan yang memerlukan lahan, baik tempat
untuk memperoleh sumber daya alam mineral atau lahan pertanian maupun
lokasi kegiatan ekonomi lainnya, seperti industri, pariwisata, pemukiman dan
administrasi pemerintahan, potensial meningkatkan terjadinya kasus-kasus
konflik pemanfaatan ruang dan pengaruh buruk dari suatu kegiatan terhadap
kegiatan lainnya. Berkenaan dengan hal tersebut, diperlukan perencanaan tata
ruang yang baik dan akurat, agar perkembangan tuntutan berbagai kegiatan
pemanfaatan ruang dan sumberdaya yang terdapat di dalamnya dapat
berfungsi secara optimal, terkendali, selaras dengan arah pembangunan
Daerah Lombok Tengah.
5. Kendatipun perencanaan tata ruang sepenuhnya merupakan tindak
pemerintahan atau sikap tindak administrasi negara, dalam proses penyusunan
sampai pada penetapannya perlu melibatkan peran serta masyarakat. Peran
serta masyarakat dalam perencanaan tata ruang menjadi penting dalam
kerangka menjadikan sebuah tata ruang sebagai hal yang responsif (responsive
planning), artinya sebuah perencanaan yang tanggap terhadap preferensi serta
kebutuhan dari masyarakat yang potensial terkena dampak apabila
perencanaan tersebut diimplementasikan. Tegasnya, dalam konteks
perencanaan tata ruang, sebenarnya ada dua hal yang harus diperhatikan.
Pertama, kewajiban Pemerintah untuk memberikan informasi, Kedua, hak
masyarakat untuk di dengar (the right to be heard). Dalam praktek, pada
dasarnya dua aspek ini saling berkaitan karena penerapannya menunjukkan
adanya jalur komunikasi dua arah. Dengan kewajiban pemerintah untuk
memberi informasi yang menyangkut rencana kegiatan/ perbuatan
administrasi, dan adanya hak bagi yang terkena (langsung maupun tidak
langsung) oleh kegiatan/perbuatan pemerintah, mengandung makna bahwa
mekanisme itu telah melibatkan masyarakat dalam prosedur administrasi
negara, di pihak lain dapat menunjang pemerintahan yang baik dan efektif,
karena dengan mekanisme seperti itu pemerintah dapat memperoleh informasi
yang layak sebelum mengambil keputusan. Mekanisme seperti itu dapat
menumbuhkan suasana saling percaya antara pemerintah dan rakyat sehingga
63
dapat mencegah sengketa yang mungkin terjadi serta memungkinkan
terjadinya penyelesaian melalui jalur musyawarah.
6. Secara normatif, perencanaan tata ruang dimaksud perlu diberi status dan
bentuk hukum agar dapat ditegakkan, dipertahankan dan ditaati oleh pihakpihak yang bersangkutan. Hanya rencana yang memenuhi syarat-syarat
hukumlah yang dapat melindungi hak warga masyarakat dan memberi
kepastian hukum, baik bagi warga maupun bagi aparatur pemerintah
termasuk didalamnya administrasi negara yang bertugas melaksanakan dan
mempertahankan rencana, yang sejak perencanaannya sampai penetapannya
memenuhi ketentuan hukum yang berlaku. Apabila suatu rencana telah diberi
bentuk dan status hukum, maka rencana itu terdiri dari atas susunan
peraturan-peraturan yang pragmatis, artinya segala tindakan yang didasarkan
kepada rencana itu akan mempunyai akibat hukum.
II.
PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas
Pasal 2
Cukup jelas
Pasal 3
Cukup jelas
Pasal 4
Cukup jelas
Pasal 5
Yang dimaksud dengan ”kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten”
adalah arah tindakan yang harus ditetapkan untuk mencapai tujuan penataan
ruang wilayah kabupaten.
Pasal 6
Cukup jelas
Pasal 7
Yang dimaksud dengan ”strategi penataan ruang wilayah kabupaten” adalah
penjabaran kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten ke dalam langkahlangkah operasional untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
64
Ayat (7)
Cukup jelas
Ayat (8)
Cukup jelas
Ayat (9)
Cukup jelas
Pasal 9
Ayat (1)
Ayat (2)
Yang dimaksud “rencana struktur ruang” adalah kerangka tata ruang
wilayah kabupaten yang tersusun atas konstelasi pusat-pusat kegiatan
yang berhierarki satu sama lain yang dihubungkan oleh sistem
jaringan prasarana wilayah kabupaten terutama jaringan
transportasi.
Cukup jelas
Pasal 10
Huruf a
Huruf b
Huruf c
Huruf d
PKW ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008
tentang RTRWN dan Perda No. 3 Tahun 2010 tentang RTRW Provinsi
Nusa Tenggara Barat.
PKL ditetapkan dalam Perda No. 3 Tahun 2010 tentang RTRW
Provinsi Nusa Tenggara Barat.
PKLp adalah pusat kegiatan lokal di Kabupaten Lombok Tengah yang
belum dikelompokkan sebagai PKL dalam Perda No. 3 Tahun 2010
tentang RTRW Provinsi Nusa Tenggara Barat.
PPK ditetapkan oleh pemerintah kabupaten yang didasarkan pada
kriteria yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini.
Konsultasi dengan Gubernur dalam proses penetapan PPK oleh
pemerintah kabupaten diperlukan karena penetapan tersebut
memiliki konsekuensi dalam pengembangan jaringan prasarana yang
menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten. Adanya kesepakatan antara pemerintah
provinsi dengan pemerintah kabupaten dalam penetapan PPK akan
menjamin dukungan sistem jaringan prasarana yang dikembangkan.
Huruf e
Huruf f
Huruf g
Huruf h
PPL ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten didasarkan pada kriteria
yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini.
Cukup jelas
Cukup jelas
Cukup jelas
Pasal 11
Cukup jelas
Pasal 12
Cukup jelas
65
Pasal 13
Cukup jelas
Pasal 14
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Yang dimaksud dengan “ruang udara untuk penerbangan”
adalah :
a. wilayah daratan dan/atau perairan dan ruang udara di
sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk kegiatan
operasi
penerbangan
dalam rangka
menjamin
keselamatan penerbangan sesuai dengan definisi Obstacle
Free Zone/OFZ berdasarkan ICAO ANNEX 14;
b. wilayah daratan dan/atau perairan yang dipergunakan
secara langsung untuk kegiatan bandar udara; dan
wilayah daratan dan/atau perairan yang termasuk dalam
batas-batas kawasan kebisingan
Pasal 15
Cukup jelas
Pasal 16
Huruf a
Yang dimaksud “pembangkit listrik” adalah fasilitas untuk kegiatan
memproduksi tenaga listrik.
Huruf b
Cukup jelas
Pasal 17
Cukup jelas
Pasal 18
Cukup jelas
Pasal 19
Ayat (5)
Huruf c
Yang dimaksud dengan limbah bahan berbahaya dan beracun
(B3) adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang
mengandung zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena
sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau
merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup
manusia dan makhluk hidup lain.
Pasal 20
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “rencana pola ruang” adalah rencana
distribusi peruntukan ruang dalam wilayah kabupaten yang meliputi
rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan rencana
peruntukan ruang untuk fungsi budidaya
Ayat (2)
Cukup jelas
66
Pasal 21
Ayat (4)
Huruf J
Yang dimaksud dengan meridian jalan adalah garis tengah di
antara dua jalur jalan Sulin-Bandara Internasional Lombok
(BIL), sedangkan yang dimaksud as jalan adalah garis tengah
pada masing-masing jalur jalan Sulin-Bandara Internasional
Lombok (BIL)
Pasal 22
Cukup jelas
Pasal 23
Cukup jelas
Pasal 24
Cukup jelas
Pasal 25
Cukup jelas
Pasal 26
Cukup jelas
Pasal 27
Cukup jelas
Pasal 28
Cukup jelas
Pasal 29
Cukup jelas
Pasal 30
Cukup jelas
Pasal 31
Cukup jelas
Pasal 32
Cukup jelas
Pasal 33
Cukup jelas
Pasal 34
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Yang dimaksud dengan “kawasan strategis kabupaten ” adalah
bagian wilayah kabupaten yang penataan ruangnya
67
diprioritaskan, karena mempunyai pengaruh sangat penting
dalam lingkup kabupaten terhadap ekonomi, sosial budaya,
dan/atau lingkungan. Penentuan kawasan strategis kabupaten
lebih bersifat indikatif. Batasan fisik kawasan strategis
kabupaten akan ditetapkan lebih lanjut di dalam rencana tata
ruang kawasan strategis
Pasal 35
Cukup jelas
Pasal 36
Cukup jelas
Pasal 37
Cukup jelas
Pasal 38
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “ indikasi program utama jangka menengah
lima tahunan” adalah petunjuk yang memuat usulan program utama,
lokasi, besaran, waktu pelaksanaan, sumber dana, dan instansi
pelaksana dalam rangka mewujudkan ruang kabupaten yang sesuai
dengan rencana tata ruang.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 39
Cukup jelas
Pasal 40
Cukup jelas
Pasal 41
Cukup jelas
Pasal 42
Cukup jelas
Pasal 43
Cukup jelas
Pasal 44
Cukup jelas
Pasal 45
Cukup jelas
Pasal 46
Cukup jelas
Pasal 47
Cukup jelas
68
Pasal 48
Cukup jelas
Pasal 49
Cukup jelas
Pasal 50
Ketentuan peraturan zonasi untuk kawasan hutan lindung diatur dalam
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 50 Tahun 2006.
Pasal 51
Cukup jelas
Pasal 52
Cukup jelas
Pasal 53
Ayat (1)
Cukup Jelas
Ayat (2)
Cukup Jelas
Ayat (3)
Ketentuan untuk pemanfaatan lahan di daerah sempadan sungai diatur
dalam Peraturan Menteri PU No. 63/PRT/1993.
Ayat (4)
Ketentuan mengenai pemanfaatan kawasan sekitar mata air diatur dalam
Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung,
dimana hanya kegiatan budidaya tertentu yang dapat dilakukan.
Ayat (5)
Cukup Jelas
Pasal 54
Cukup jelas
Pasal 55
Cukup jelas
Pasal 56
Cukup jelas
Pasal 57
Cukup jelas
Pasal 58
Cukup jelas
Pasal 59
Cukup jelas
Pasal 60
Cukup jelas
Pasal 61
Cukup jelas
Pasal 62
Cukup jelas
Pasal 63
Cukup jelas
69
Pasal 64
Cukup jelas
Pasal 65
Cukup jelas
Pasal 66
Cukup jelas
Pasal 67
Cukup jelas
Pasal 68
Cukup jelas
Pasal 69
Cukup jelas
Pasal 70
Cukup jelas
Pasal 71
Cukup jelas
Pasal 72
Cukup jelas
Pasal 73
Cukup jelas
Pasal 74
Cukup jelas
Pasal 75
Cukup jelas
Pasal 76
Cukup jelas
Pasal 77
Cukup jelas
Pasal 78
Cukup jelas
Pasal 79
Cukup jelas
Pasal 80
Cukup jelas
Pasal 81
Cukup jelas
Pasal 82
Cukup jelas
Pasal 83
Cukup jelas
Pasal 84
Cukup jelas
70
Pasal 85
Cukup jelas
Pasal 86
Cukup jelas
Pasal 87
Cukup jelas
Pasal 88
Cukup jelas
Pasal 89
Cukup jelas
Pasal 90
Cukup jelas
Pasal 91
Cukup jelas
Pasal 92
Cukup jelas
Pasal 93
Cukup jelas
Pasal 94
Cukup jelas
Pasal 95
Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN 2011
NOMOR
LAMPIRAN I
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR 7 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH
KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN 2011-2031
71
72
73
LAMPIRAN II
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR 7 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH
KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN 2011-2031
74
LAMPIRAN II. 1. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN SISTEM PERKOTAAN
1. RINCIAN PUSAT KEGIATAN WILAYAH (PKW)
No.
1.
Nama PKW
Kota Praya
Fungsi
Nama Kecamatan
Cakupan Wilayah :
1. Kelurahan Praya
2. Kelurahan Panjisari
3. Kelurahan Leneng
4. Kelurahan Renteng
5. Kelurahan Prapen
6. Kelurahan Tiwugalih
7. Kelurahan Semayan
8. Kelurahan Gerunung
9. Kelurahan Gonjak
10. Kelurahan Sesake
11. Kelurahan Batunyala
12. Kelurahan Gerantung
13. Kelurahan Jontlak
14. Desa Bunut Baok
15. Desa Jurang Jaler
16. Desa Pengadang
17. Desa Lajut
18. Desa Sukarara
19. Desa Kawo
20. Desa Segala Anyar
21. Desa Ketara
22. Desa Batujai
23. Desa Penujak
24. Desa Tanak Awu
25. Desa Darek





Pusat kegiatan transportasi
regional wilayah kabupaten;
Pusat pemerintahan
kabupaten;
Pusat perekonomian, jasa
dan perdagangan wilayah
kabupaten;
Pusat pendidikan dan
budaya skala kabupaten;
Pusat Permukiman
2. RINCIAN PUSAT KEGIATAN LOKAL (PKL)
No.
Nama PKL
Nama Kecamatan
Fungsi



1.
Kopang
Kecamatan Kopang




2.
Sengkol
Kecamatan Pujut

Cakupan Wilayah :
1. Desa Sengkol
2. Desa Kuta
3. Desa Rembitan


Pusat kegiatan transportasi
kecamatan;
Pusat kegiatan perdagagan
dan jasa skala kecamatan;
Pusat pemerintahan
kecamatan;
Pusat kesehatan skala
kecamatan;
Pusat pendidikan skala
kecamatan;
Pusat pengembangan
permukiman; dan
Pusat kegiatan industri
mikro dan kecil
Pusat pengembangan
permukiman;
Pusat pelayanan pendukung
pariwisata;
Pusat kegiatan perdagagan
75
No.
Nama PKL
Nama Kecamatan
Fungsi



3.
Mujur
Kecamatan Praya Timur







dan jasa skala kecamatan;
Pusat kegiatan industri
mikro dan kecil;
Pusat kegiatan perikanan
skala kabupaten; dan
Pusat pengembangan
kegiatan pertanian.
Pusat kegiatan transportasi
kecamatan;
Pusat kegiatan perdagagan
dan jasa skala kecamatan;
Pusat pemerintahan
kecamatan;
Pusat kesehatan skala
kecamatan;
Pusat pendidikan skala
kecamatan;
Pusat pengembangan
permukiman; dan
Pusat kegiatan industri
mikro dan kecil.
3. RINCIAN RENCANA PENGEMBANGAN PUSAT KEGIATAN LOKAL PROMOSI (PKLp)
No.
1.
Nama PKLp
Puyung
Nama Kecamatan
Kecamatan Jonggat
Fungsi






2.
Mantang
Kecamatan Batukliang

Cakupan Wilayah :

1.
2.
3.
4.
3.
Janapria
Desa Mantang
Desa Aik Darek
Desa Bujak
Desa Peresak
Kecamatan Janapria





4.
Selong Blanak
Kecamatan Praya Barat


Pusat pengembangan
permukiman;
Pusat kegiatan perdagagan
dan jasa skala kecamatan;
Pusat kegiatan industri mikro
dan kecil;
Pusat pengembangan
pendidikan;
Pusat pelayanan fasilitas
pendukung pariwisata;
Pusat pengembangan
kegiatan pertanian.
Pusat pengembangan
permukiman;
Pusat kegiatan perdagagan
dan jasa skala kecamatan;
Pusat kegiatan industri mikro
dan kecil; dan
Pusat pengembangan
kegiatan pertanian.
Pusat pengembangan
permukiman;
Pusat kegiatan perdagagan
dan jasa skala kecamatan;dan
Pusat kegiatan industri kecil
dan rumah tangga.
Pusat pengembangan
permukiman; dan
Pusat pelayanan fasilitas
pendukung pariwisata.
76
4. RINCIAN RENCANA PENGEMBANGAN PUSAT PELAYANAN KAWASAN (PPK)
No.
Nama PPK
Nama Kecamatan
1.
Teratak
Kecamatan Batukliang Utara
2.
Ubung
Kecamatan Jonggat
3.
Pringgarata
Kecamatan Pringgarata
Fungsi







Pusat kegiatan transportasi
kecamatan;
Pusat kegiatan perdagagan
dan jasa skala kecamatan;
Pusat pemerintahan
kecamatan;
Pusat kesehatan skala
kecamatan;
Pusat pendidikan skala
kecamatan;
Pusat pengembangan
permukiman;
Pusat kegiatan industri mikro
dan kecil.
77
LAMPIRAN II. 2. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN SISTEM PERDESAAN
RINCIAN RENCANA PENGEMBANGAN PUSAT PELAYANAN LINGKUNGAN (PPL)
No.
Nama PPL
Nama Kecamatan
1.
PPL Montong Terep
Kecamatan Praya



2.
PPL Barabali
Kecamatan Batukliang

Fungsi

Kecamatan Batukliang
3.
PPL Selebung
4.
PPL Sukadana
Kecamatan Pujut
5.
PPL Pengembur
Kecamatan Pujut
6.
PPL Pengengat
Kecamatan Pujut
7.
PPL Selebung
Rembiga dan Langko
Kecamatan Janapria
8.
PPL Saba
Kecamatan Janapria
9.
PPL Bakan
Kecamatan Janapria
10.
PPL Bonder
Kecamatan Praya Barat
11.
PPL Mangkung
Kecamatan Praya Barat
12.
PPL Mekarsari
Kecamatan Praya Barat
Pusat permukiman desa;
Pusat pemerintahan desa;
Pusat kegiatan perdagangan
dan jasa beberapa desa;
Pusat kegiatan pendidikan dan
kesehatan beberapa desa;
Pusat kegiatan transportasi
antar beberapa desa.
78
13.
PPL Ganti
Kecamatan Praya Timur



13.
PPL Sukaraja
Kecamatan Praya Timur


15.
PPL Kidang
Kecamatan Praya Timur
15.
PPL Aik Bukak
Kecamatan Batukliang Utara
16.
PPL Lantan
Kecamatan Batukliang Utara
17.
PPL Tanak Beak
Kecamatan Batukliang Utara
18.
PPL Aik Berik
Kecamatan Batukliang Utara
19.
PPL Dasan Baru
Kecamatan Kopang
20.
PPL Bebuak
Kecamatan Kopang
21.
PPL Muncan
Kecamatan Kopang
22.
PPL Ganti
Kecamatan Praya Tengah
23.
PPL Ungga
Kecamatan Praya Barat Daya
24.
PPL Batu Jangkih
Kecamatan Praya Barat Daya
25.
PPL Pelambik
Kecamatan Praya Barat Daya
26.
PPL Bonjeruk
Kecamatan Jonggat
27.
PPL Pengenjek
Kecamatan Jonggat
28.
PPL Jelantik
Kecamatan Jonggat
29.
PPL Labulia
Kecamatan Jonggat
30.
PPL Sintung dan
Kecamatan Pringgarata
Bagu
31.
PPL Sepakek
Kecamatan Pringgarata




Pusat permukiman desa;
Pusat pemerintahan desa;
Pusat kegiatan perdagangan
dan jasa beberapa desa;
Pusat kegiatan pendidikan dan
kesehatan beberapa desa;
Pusat kegiatan transportasi
antar beberapa desa.
Pusat permukiman desa;
Pusat pemerintahan desa;
Pusat kegiatan perdagangan
dan jasa beberapa desa;
Pusat kegiatan pendidikan dan
kesehatan beberapa desa;
Pusat kegiatan transportasi
antar beberapa desa.
79
LAMPIRAN II. 3. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RUAS-RUAS JALAN DI KABUPATEN
1. RUAS-RUAS JALAN NASIONAL
No
1
2
3
4
5
No Ruas
011
012
030
030 11 K
030 12 K
Ruas Jalan
Mantang – Kopang
Kopang- Masbagik
Kopang-Batas Kota Praya
Jl. TGH Lopan (Praya)
Jl. Sudirman (Praya)
Panjang
( Km )
4.092
11.910
9.956
2.493
1.234
29.685
Sistem Jaringan Nasional
Arteri Primer
4.092
11.910
Kolektor Sekunder
(K1)
9.956
2.493
1.234
2. RUAS-RUAS JALAN PROVINSI
No
No Ruas
Ruas Jalan
1
031
Praya-Sp. Penujak
2
031 11.K
3
Sistem Jaringan Jalan
Sekunder Provinsi
Panjang ( Km )
K-3P
K-2P (Km)
(Km)
4.03
4.03
Jl. Mandalika
1.21
1.21
032
Sp. Penujak-Tanah Awu
7.17
7.17
4
033
Tanah Awu-Sengkol
6.97
6.97
5
034
Sengkol-Kuta
11.74
11.74
6
037
Sulin-Sp. Penujak
10.50
10.50
7
082
Kediri-Praya
10.06
10.06
8
082 11.K
Jl. Gajah Mada
2.95
2.95
9
083
Praya-Keruak
16.40
16.40
10
083 11.K
Jl. Pejanggik
0.75
0.75
11
089
36.44
36.44
12
090
Sp. Pengantap-Mt.
Ajan-Kuta
Kuta-Keruak
21
21
13
094
Mantang-Praya
11.27
11.27
14
095 11.K
Wakul-Ketejer
3.53
3.53
15
095 12.K
Ketejer-Jontlak
2.93
2.93
16
096 11.K
Jl. Basuki Rahmat
1.00
1.00
17
097
Mt. Ajan-Penujak
23.00
23.00
170.95
3. RUAS-RUAS JALAN KABUPATEN
No
No
Ruas
Ruas Jalan
Panjang
( Km )
Sistem Jaringan jalan
lokal
Lokal
Primer
(Km)
1
001
Kumbung-Medas
5.10
5.10
2
002
Medas-Sintung
1.90
1.90
3
003
Sintung-Pringgarata
3.70
3.70
Lokal
Sekunder
(Km)
80
No
No
Ruas
Ruas Jalan
Panjang
( Km )
Sistem Jaringan jalan
lokal
Lokal
Primer
(Km)
4
004
Pemepek-Pringgarata
2.90
2.90
5
005
Pemepek-Persil
10.50
10.50
6
006
Kelebut-Repok Sintung
4.20
4.20
7
007
Bonjeruk-Pringgarata
4.60
4.60
8
008
Puyung-Bonjeruk
4.80
4.80
9
009
Ubung-Bonjeruk
3.80
3.80
10
010
Pagutan-Pringgarata
4.40
4.40
11
011
Barabali-Pagutan
2.60
2.60
12
012
Wakul-Pagutan
9.40
9.40
13
013
Bonjeruk-Sintung
4.00
4.00
14
014
Bonjeruk-Kerembeng
5.30
5.30
15
015
Kumbung-Bonjeruk
4.20
4.20
16
016
Jelantik-Bunkate
2.20
2.20
17
017
Bodak-Semparu
5.10
5.10
18
018
Praya-Penaban
7.23
7.23
19
019
Pancordao-Seganteng
6.30
6.30
20
020
Mantang-Seganteng
5.00
5.00
21
021
Seganteng-Aikbukak
1.60
1.60
22
022
Seganteng-Wajageseng
1.70
1.70
23
023
Wajageseng-Pengkores
2.60
2.60
24
024
Wajageseng-Peseng
1.00
1.00
25
025
Kopang-Wajageseng
6.40
6.40
26
026
Repok Bijang-Peseng
3.10
3.10
27
027
Peseng-Nyeredep
5.00
5.00
28
028
Montong Dao-Selewat
3.00
3.00
29
029
Aik Bukak-Sekedek
5.20
5.20
30
030
Mt Gamang-Gerie
3.80
3.80
31
031
Jelojok-Dasan Baru
4.80
4.80
32
032
Teratak-Pemotoh
5.00
5.00
33
033
Kopang-Bakan
5.20
5.20
34
034
Bakan Langko
7.40
7.40
35
035
Semparu-Beson
4.40
4.40
36
036
Darmaji-Bakan
1.70
1.70
37
037
Darmaji-Repok Tengah
4.70
4.70
38
038
Mt Gamang-Janapria
9.10
9.10
39
039
Janapria-Ganti
40
040
Janapria-Langku
5.30
5.30
41
041
Beleke-Lingkok Buak
8.70
8.70
42
042
Jembe-Langko
5.00
5.00
43
043
Pengadang-Beraim
3.10
3.10
44
044
Bagek Tenten-Beraim
4.70
4.70
45
045
Jurang Jaler-Beraim
3.25
3.25
46
046
Janapria-Rarang
2.40
2.40
9.00
9.00
Lokal
Sekunder
(Km)
81
No
No
Ruas
Ruas Jalan
Panjang
( Km )
Sistem Jaringan jalan
lokal
Lokal
Primer
(Km)
47
047
Ganti-Semoyang
5.80
5.80
48
048
Mujur – Truwai
8.50
8.50
49
049
Sengkol-Truwai
4.70
4.70
50
050
Ketangan-Kelekuh
11.10
11.10
51
051
Batunyale-Sengkol
9.00
9.00
52
052
Pongos-Grupuk
4.00
4.00
53
053
Kute-Pongos
5.10
5.10
54
054
Rambitan-Prabu
9.30
9.30
55
055
Praya-Lajut
5.80
5.80
56
056
Penujak-Mangkung
6.70
6.70
57
057
Sngkol-Mangkung
8.10
8.10
58
058
Tanak Awu-Pengembur
4.10
4.10
59
059
Pengembur-Mawun
11.10
11.10
60
060
Ketare-Bunmas
5.30
5.30
61
061
Selawang-Bunmas
2.20
2.20
62
062
Mangkung-Sl. Blanak
12.00
12.00
63
063
Keling-Batujangkih
7.47
7.47
64
064
Kabol-Petetek
3.80
3.80
65
065
Darek-Pelambik
2.30
2.30
66
066
Embung Ajan-Darek
3.21
3.21
67
067
Pelambik-Ranggagata
3.00
3.00
68
068
Darek-Ungga
2.25
2.25
69
069
Ranggarata-Batu Bolong
3.70
3.70
70
070
Sukarara-Tandek
4.20
4.20
71
071
Sukarara-Batu Beduk
3.37
3.37
72
072
Puyung-Sukarara
1.90
1.90
73
073
Nyerot-Batu Tulis
2.60
2.60
74
074
Jelantik-batu Tulis
3.00
3.00
75
075
Bagu-Bile Bante
2.50
2.50
76
076
Mujur-Peras
12.00
12.00
77
077
Kelebuh-Pejanggik
1.40
1.40
78
078
Kelekuh-Bumbang
3.00
3.00
79
079
Jembe-Sukarara
3.00
3.00
80
080
Leneng-Tenganan
5.40
5.40
81
081
Gerunung-Mertak Tombok
3.45
3.45
82
082
Ubung-Tandek
4.20
4.20
83
083
Kidang-Semoyang
3.20
3.20
84
084
Bujak-Gelogor
3.70
3.70
85
085
Janapria-Kenyalu
3.50
3.50
86
086
Sintung-Selakan
1.00
1.00
87
087
Bunut Baok-Bt. Menek
2.90
2.90
88
088
Gerunung-Kwang Rundun
1.60
1.60
89
089
Muncan-Bage
2.00
2.00
Lokal
Sekunder
(Km)
82
No
No
Ruas
Ruas Jalan
Panjang
( Km )
Sistem Jaringan jalan
lokal
Lokal
Primer
(Km)
90
090
Repok Puyng-Beber
5.00
5.00
91
091
Lekor-Sepit
1.35
1.35
92
092
Bilelando-Kelongkong
5.20
5.20
93
093
Kawo-Truwai
5.70
5.70
94
094
Pengkores-Ds. Tinggi
4.00
4.00
95
095
Batu Totok- Tebuak
2.50
2.50
96
096
Ranggagata-Berobot
1.52
1.52
97
097
Buncalang-Dasan Baru
2.52
2.52
98
098
Waker-Wage
5.00
5.00
99
099
Sengkerang-Kidang
5.70
5.70
100
100
Mujur-Langko
4.50
4.50
101
101
Aik Mual-Telaga Waru
2.60
2.60
102
102
Kateng-Jangkih Jawe
8.70
8.70
103
103
Jenuju-Lelong
5.30
5.30
104
104
Penaban-Jago
2.70
2.70
105
105
Pengkores-Bebuak
2.25
2.25
106
106
Jelojok-Goak
2.50
2.50
107
107
Tanak Embang-Persil
6.00
6.00
108
108
Sukarara-Lekor
2.50
2.50
109
109
Durian-Juring
4.20
4.20
110
110
Barabali-Bangak
3.70
3.70
111
111
Bujak-Muncan
3.00
3.00
112
112
Mertak-Langko
2.50
2.50
113
113
Pemepek-Repok Pidendang
5.60
5.60
114
114
Pengadang-Selebung
2.50
2.50
115
115
Puyung-Jago
3.50
3.50
116
116
Juring-Aik Jaa
4.50
4.50
117
117
Truwai-Pasung
7.10
7.10
118
118
Penujak-Mt Beliak
2.60
2.60
119
119
Rembitan-Kedaron
4.70
4.70
120
120
Bonder-Kelebuh
3.40
3.40
121
121
Bunkate-Perine
1.50
1.50
122
122
Barejulat-Bunsalak
2.20
2.20
123
123
Ranggagata-Gerunung
2.40
2.40
124
124
Kadek-Pance
5.00
5.00
125
125
Pejanggik-Lajut
2.50
2.50
126
126
Praya-Semayan
0.40
0.40
127
127
Kalisade-Bunut Baok
3.50
3.50
128
128
Wage-Ngolak
6.50
6.50
129
129
Kelebuh-Jeruju
3.50
3.50
130
130
Tiwu Galih-Abiantubuh
6.00
6.00
131
131
Monggas-Bunut Baok
1.50
1.50
132
132
Bunut Baok-Montong Terep
3.00
3.00
Lokal
Sekunder
(Km)
83
No
No
Ruas
Ruas Jalan
Panjang
( Km )
Sistem Jaringan jalan
lokal
Lokal
Primer
(Km)
Lokal
Sekunder
(Km)
133
133
Jurang Jaler-Lingkok Eyat
2.70
2.70
134
134
Pekat-Lajut
3.00
3.00
135
135
Barabali-Bujak
3.75
3.75
136
136
Aik Darek-Selebung
4.00
4.00
137
137
Peseng-Lendang Are
2.70
2.70
138
138
Dasan Baru-Retot
139
139
Bore-Enjer
3.00
3.00
140
140
Stiling-Lingkok Lime
1.20
1.20
141
141
Lingkok Lime-Bual
2.85
2.85
142
142
Benjor-Stiling
3.00
3.00
143
143
Penimpoh-Batas Lotim
2.00
2.00
144
144
Beson-Krembong
3.00
3.00
145
145
Perako-Beleke
3.00
3.00
146
146
Pesaot-Balen Gagak
2.40
2.40
147
147
Semoyang-Mt. Lisung
3.70
3.70
148
148
Peras(Pasung)-Kelekuh
9.00
9.00
149
149
Open-Emboan
5.15
5.15
150
150
Pelambik-Mt.Sapah
12.00
12.00
151
151
Darek-Mt. Buwuh
3.50
3.50
152
152
Esot-Pidendang
4.50
4.50
153
153
Bagu-Sisik
3.80
3.80
154
154
Gerunung-Tiwu Asem
2.00
2.00
155
155
Bundua-Batu Ngulik
1.50
1.50
156
156
Praya-Pengendong
1.50
1.50
157
157
Pengenjek-Ld. Gocek
3.70
3.70
158
158
Gelondong-Tampah
4.00
4.00
159
159
Pertamina-Penerangan
0.40
0.40
160
160
Jl. Kalimutu
2.00
2.00
161
161
Jl. Singkarak
2.15
2.15
162
162
Jl. Agus Salim
0.20
0.20
163
163
Jl. Diponegoro
1.90
1.90
164
164
Jl. Bromo
0.30
0.30
165
165
Jl. Kerinci
0.30
0.30
166
166
Jl. Lombok
0.90
0.90
167
167
Jl. Kalimantan
0.50
0.50
168
168
Jl. Sumatra
0.70
0.70
169
169
Jl. Rinjani
1.90
1.90
170
170
Jl. Yos Sudarso
0.80
0.80
171
171
Jl. Nangka
0.40
0.40
172
172
Jl. Kedondong
0.30
0.30
173
173
Jl. Mangga
0.30
0.30
174
174
Jl. Guru Bangkol
0.20
0.20
175
175
Jl. Delima
0.20
0.20
1.14
1.14
84
No
No
Ruas
Ruas Jalan
Panjang
( Km )
Sistem Jaringan jalan
lokal
Lokal
Primer
(Km)
Lokal
Sekunder
(Km)
176
176
Jl. Imam Bonjol
0.25
0.25
177
177
Jl. Segara Anak
0.50
0.50
178
178
Jl. Untung Suropati
0.50
0.50
179
179
Jl. Pengsong
0.60
0.60
180
180
Jl. Slawing
0.20
0.20
181
181
Jl. Kahuripan
0.20
0.20
182
182
Jl. Mareje
0.20
0.20
183
183
Jl. Merapi
0.50
0.50
184
184
Jl. Belitung
0.20
0.20
185
185
Jl. Bangka
0.20
0.20
186
186
Jl. Flores
0.20
0.20
187
187
Jl. Maluku
0.40
0.40
188
188
Jl. Ahmad Yani
0.90
0.90
189
189
Jl. Melur
0.20
0.20
190
190
Jl. Mawar
0.20
0.20
191
191
Jl. Melati
0.20
0.20
192
192
Jl. Anggrek
0.50
0.50
193
193
Jl. Angsoka
0.40
0.40
194
194
Jl. S. Parman
0.80
0.80
195
195
Jl. Sulawesi
0.60
0.60
196
196
Jl. Anyelir
0.50
0.50
197
197
Jl. Pepaya
0.20
0.20
Jl. Rambutan
0.20
0.20
198
198
199
199
Jl. Pisang
0.20
0.20
200
200
Jl. Kepundung
0.20
0.20
201
201
Jl. Belimbing
0.20
0.20
202
202
Jl. Dahlia
0.43
0.43
203
203
Pengadaian – Sabirin
0.50
0.50
204
204
Leneng – Kemulah
0.60
0.60
205
205
Sabirin – Menteng
0.80
0.80
206
206
Jl. Durian
0.30
0.30
207
207
Lingkungan Meteng
0.40
0.40
208
208
Jl. Arya Banjar Getas
0.20
0.20
209
209
Pos Polisi – Pengendong
0.60
0.60
210
210
Karang Bulayak – Mantung
1.10
1.10
211
211
Leneng – Amen
0.60
0.60
212
212
Jl. M. Yamin
0.55
0.55
213
213
Dolog – Semayan
0.70
0.70
214
214
Dlm Kota Kec. Praya Barat
2.00
2.00
215
215
Dlm Kota Kec. Pujut
2.00
2.00
216
216
Dlm Kota Kec. Praya Timur
2.00
2.00
217
217
Dlm Kota Kec. Jongat
2.00
2.00
218
218
Dlm Kota Kec. Pringgarata
2.00
2.00
85
No
No
Ruas
Ruas Jalan
Panjang
( Km )
Sistem Jaringan jalan
lokal
Lokal
Primer
(Km)
Lokal
Sekunder
(Km)
219
219
Dlm Kota Kec. Batulikang
2.00
2.00
220
220
Dlm Kota Kec. Kopang
2.00
2.00
221
221
Dlm Kota Kec. Janapria
2.00
2.00
222
222
Jl. Alamanda
0.75
0.75
223
223
Jl. Lingk. BTN Tampar
3.00
3.00
224
224
Jl. Lingk. BTN Bermis
2.00
2.00
225
225
Jl. Lingk. BTN Leneng
2.00
2.00
226
226
Jl. Lingk. BTN Amen
1.00
1.00
227
227
Jl. Lingk. BTN Bogak
1.00
1.00
228
228
Jontlak-Gerantung
2.25
2.25
229
229
Gerantung-Semayan
2.00
2.00
230
230
Wakul-Gelondong
4.50
4.50
231
231
Sultan Hasanudin
1.70
1.70
739.44
4. RENCANA PENINGKATAN STATUS RUAS JALAN DESA
No
Ruas Jalan
Panjang (Km )
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
Kateng-Banyu Urip
Kateng-Keramat Pengembur
8.5
5
Mekar Sari-Banyu Urip
Pesaut-Lingkuk Sayang
Mujur-Pengembuk
Lowong-Sisik Rungkang
Lendang Are-Loang Kase
Selebung-Bun Nyiuh
Langko-Jeruju
Gelung-Lengkok Bunut-Tangun
Goak-Tampak Siring
Berebali-Bujak-Muncan
Berebali-Sumbek
Repuk Puyung-Beber
Paok Kuning-Dasan Baru Pringgarata
Kelebuh-Dasan Baru
Pejanggik-Lajut
Bebuak-Pengkores
Layari-Persak Bebuak
Embung Puntik-Kemalik Asem
Bangket Parak-Kidang
Kidang-Bilelando
Mujur-Gapura
Bangket Parak-Pasung
Pelambik-Serage
Pelambik-Teduh
3.5
3
3.5
3.5
1.5
2
10
4
4
9
4
4
9
5
7
2.5
5
6
4
5
3
8
4
2
673.76
65.68
86
LAMPIRAN II. 4. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN LOKASI DAN RUTE PELAYARAN
1. LOKASI PELABUHAN
2.
No.
Nama Pelabuhan
1. Rencana Pengembangan
Pelabuhan Perikanan Nusantara
Lokasi
Kecamatan Pujut
Fungsi/Status
Pelabuhan
Nasional
2.
Kute dan Selong
Belanak
Penunjang
Pariwisata
Rencana Pembangunan dermaga pelabuhan
Rencana Pengembangan alur Pelayaran
No.
Alur Pelayaran
1.
PPN Awang – Labangka (Kab. Sumbawa)
2.
PPN Awang – Benete (Kab. Sumbawa Barat)
3.
PPN Awang – Cempi (Kab. Dompu)
4.
PPN Awang – Calabai (Kab. Dompu)
5.
PPN Awang – Kempo (Kab. Dompu)
6.
PPN Awang – Waworada (Kab. Bima)
7.
PPN Awang – Sape (Kab. Bima)
87
LAMPIRAN II. 5. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN LOKASI DAN RUTE PENERBANGAN
3. LOKASI BANDARA
No.
Nama Bandara
Fungsi/Status
1.
Bandara Internasional Lombok (BIL)
Pusat Pengumpul Sekunder
4. RUTE PENERBANGAN INTERNASIONAL
No.
Nama Rute Penerbangan Internasional
1.
Selaparang /BIL – Changi (Singapura)
5. RUTE PENERBANGAN NASIONAL
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Nama Rute Penerbangan Nasional
Selaparang /BIL – Soekarno Hatta (Prov. Banten)
Selaparang/BIL - Juanda (Prov. Jawa Timur)
Selaparang/BIL – I Gusti Ngurah Rai (Prov. Bali)
Rencana Pengembangan Rute Selaparang/BIL – Eltari (Prov. NTT)
Rencana Pengembangan Rute Selaparang/BIL – Adi Sucipto (Prov. Yogyakarta)
Rencana Pengembangan Rute Selaparang/BIL – Hasanuddin (Prov. Sulawesi Selatan)
Rencana Pengembangan Rute Selaparang/BIL – Banjarmasin ( Prov. Kalimantan Selatan)
Rencana Pengembangan Rute Selaparang/BIL – Sepinggan (Prov. Kalimantan Timur)
6. RUTE PENERBANGAN PROVINSI
No.
Nama Rute Penerbangan Provinsi
1.
Selaparang/BIL – Brangbiji (Kab. Sumbawa)
2.
Selaparang/BIL – Sekongkang (Kab.Sumbawa Barat)
3.
Selaparang/BIL – M. Salahuddin (Kab. Bima)
88
LAMPIRAN II. 6. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN SISTEM JARINGAN ENERGI
A. PEMBANGKIT LISTRIK
LOKASI
NO.
1
JENIS KEGIATAN
PLTMH Sedau
KECAMATAN
DESA
Pringgarata
Pemepek
Praya Timur
Ganti
Pujut
Pengembur
PLTS
Praya Barat Daya
Pandan Indah
PLTS
Praya Barat Daya
Mt.Ajan
PLTS
Serage
Praya Barat
Kateng
Banyu Urip
Praya Timur
Bilelando
Pujut
Teruwai
PLTS
PLTS
Mertak
Praya Timur
Ganti
Pujut
Pengembur
Tumpak
Kateng
PLTS
Praya Barat Daya
Selong Blanak
Mekarsari
Mangkung
PLTS
Praya Barat Daya
Batu jangkih
Pujut
Mertak
Praya Timur
Semoyang
PLTS
Praya Timur
Kidang
PLTS
Praya Barat Daya
Mt. Sapah
PLTS
Pujut
Mertak
Pengaman Bangunan PLTMH
BKU
Lantan
PLTS
Praya Barat Daya
Kabul
Batu Jangkih
Pandan Indah
Montong Ajan
Montong Sapah
Praya Barat
Banyu Urip
Mangkung
89
LOKASI
NO.
JENIS KEGIATAN
KECAMATAN
DESA
Mekarsari
Selong Belanak
Kateng
Pujut
Mertak
Tumpak
Pengembur
Pengengat
Praya Timur
Sengkerang
Ganti
Sukaraja
Landah
Beleke
Semoyang
Bilelando
Janapria
Sabe
Pendem
Selebung Rembige
Kerembong
Durian
PLTMH Aik Berik
Batukliang Utara
Aik Berik
PLTS (LPE)
Praya Barat Daya
Serage
PLTS (PDT)
Praya Timur
Semoyang
Pujut
Truwai
Pujut
Truwai
Kidang
PLTS (UNRAM)
Mertak
PLTS (APBD II)
2
Pringgarata
Pemepek
Praya Timur
Bilelando
Praya Barat
Kateng
Praya Barat Daya
Montong Ajan
Pujut
Mertak
PLTS (LPE)
Praya Barat Daya
Bt. Jangkih
PLTS (PDT)
Pujut
Pengengat
Kompor Jarak
Praya Barat Daya
Kabul
Biogas
Pringgarata
Praya Barat Daya
3
Rencana pengembangan
PLTBE
Rencana pengembangan
PLTB
Praya Barat Daya
Pringgarata
Praya Barat Daya
Praya Barat
Pujut
Praya Timur
90
LOKASI
NO.
JENIS KEGIATAN
KECAMATAN
Rencana pengembangan
PLTGL
DESA
Praya Barat Daya
Praya Barat
Pujut
Praya Timur
Rencana pengembangan
PLTAL
Praya Barat Daya
Praya Barat
Pujut
Praya Timur
B. JARINGAN TRANSMISI
No.
Jaringan Transmisi
1.
Jaringan
transmisi
tegangan tinggi
2.
Gardu Induk
Sistem
Nama Kecamatan

SUTT Jeranjang – Sengkol

SUTT Sengkol– Selong

SUTT Sengkol - Kuta
Kecamatan Paraya Barat
Daya, Praya Barat dan Pujut
Kecamatan Pujut, Praya
Timur, dan Janapria
Kecamatan Pujut


GI Sengkol
GI Kuta
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
C. DEPO MINYAK DAN GAS
No.
Jenis
lokasi







Praya
Puyung
Penujak
Tampar-ampar
Sengkerang
Kopang
Pancor Dao
Nama Kecamatan
1.
Depo gas
2.
Pengembangan Depo
Gas
Seluruh Kecamatan
3
Pengembangan
Stasiun Pengisian
Bulk Elpiji
Kecamatan Batukliang
5
Pengembangan
pengolahan migas
(kilang)
Pujut
Kecamatan Praya
Kecamatan Jonggat
Kecamatan Praya Barat
Kecamatan Praya Tengah
Kecamatan Praya Timur
Kecamatan Kopang
Kecamatan Batukliang
Kecamatan Pujut
91
LAMPIRAN II. 7. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
SISTEM JARINGAN SUMBER DAYA AIR
1. DAERAH IRIGASI YANG MENJADI KEWENANGAN
PEMERINTAH PUSAT
No.
Nama DI
Lintas Kabupaten (Ha)
1
Jurang Sate Hulu
4229
2
Jurang Sate Hilir
6584
3
Mujur II
3508
4
Batu Jai
3765
5
Surabaya
3250
6
Jurang Batu
3500
7
Pengga
4224
Total
28.101
2. DAERAH IRIGASI YANG MENJADI KEWENANGAN
PEMERINTAH PROVINSI
No.
Nama DI
Utuh Kabupaten (Ha)
1
Bisok Bokah
1255
2
Gede Bongoh
2644
3
Katon
1885
4
Kulem
1135
5
Parung
1270
6
Renggung
1717
7
Rutus
1743
8
Tibu Nangka
2284
Total
13.933
3. DAERAH IRIGASI YANG MENJADI KEWENANGAN
PEMERINTAH KABUPATEN
No.
Nama DI
Utuh Kabupaten (Ha)
1
Benjor
223
2
Bile Kere
383
3
Brambang
268
4
E. Bengak
157
5
E. Brenge
350
6
E. Dana Sari
210
7
E. Gabak
250
8
E. Goa
82
9
E. Jebak
99
92
No.
Nama DI
Utuh Kabupaten (Ha)
10
E. Kuang Sampi
91
11
E. Ld. telaga
136
12
E. Loang Make
100
13
E. Pare
600
14
E. Paskar
96
15
E. Pajeruk
63
16
E. Pendem
138
17
E. Pengkemit
300
18
E. Penyabuk
94
19
E. Sepit
175
20
E. Tantih
200
21
E. Batu Bokah
305
22
E. Batu Jangkih
100
23
E. Batu Ngapah
583
24
E. Bombas
206
25
E. Dao
400
26
E. Jangkih Jawa
320
27
E. Orong Gendang
132
28
E. Pancor
120
29
E. Pejanggik
135
30
Gule Liat
210
31
Jengguar
116
32
Meriak Paok
115
33
Mesone Wareng
285
34
Mujur I
718
35
Muncan
318
36
Nyeredep
222
37
Otak Desa
299
38
Peok Dengkol
300
39
Peok Rengga
416
40
Pelapak
621
41
Sidemen
688
42
Simbe
116
43
Tain Petuk
364
44
Telaga
316
45
E. Tasik Asik
25
46
E. Gusi
45
47
E. Jungkor
15
48
E. Melat I
35
49
E. Melat II
25
50
E. Perok
35
Total
11610
93
4. RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN IRIGASI KABUPATEN
No.
Nama DI
Utuh Kabupaten (Ha)
1
E. Inen Ratu
15
2
E. Dao
400
3
E. Sade
470
4
E. Sefit
5
E. Berenge
6
Bumbang
200
7
Mapasam
225
8
Lantan
300
9
Sekedek
125
10
Bual
150
94
LAMPIRAN II. 8. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN DAN LUASAN KAWASAN LINDUNG
1. RINCIAN KAWASAN HUTAN LINDUNG
No.
Lokasi
Luas (Ha)
Nama Kecamatan
1.
Kelompok Hutan Gunung Rinjani
(RTK.1)
Kelompok Hutan Mareje Bonga
(RTK.13)
Kelompok Hutan Gunung Pepe
(RTK.13)
Kelompk Hutan Pelangan (RTK.7)
8.082.41 Ha
Kecamatan Batukliang
Utara dan Pringgarata
Kecamatan Pujut dan
Praya Barat Daya
Kecamatan Pujut
Luas
9.596,85 Ha
2.
3.
4.
727,44 Ha
404 Ha
383 Ha
Kecamatan Praya Barat
Daya
2. RINCIAN KAWASAN YANG MEMBERIKAN PERLINDUNGAN
KAWASAN BAWAHANNYA
No.
1.
Kawasan Perlindungan
Kawasan Resapan Air
Lokasi
1. Kawasan Gunung Rinjani dan
sekitarnya
2. Diarahkan pada masing-masing
kecamatan
3. RINCIAN KAWASAN PERLINDUNGAN SETEMPAT
No.
Kawasan
Perlindungan
1.
Sempadan Pantai
2.
Sempadan Sungai
3.
Sekitar waduk/danau
Lokasi
Nama Kecamatan
Teluk Awang
Teluk Bumbang
Pantai Gerupuk
Pantai Aan
Pantai Bunut
Pantai Seger
Pantai Mawun
Pantai Tampah
Pantai Mawi
Pantai Rowoh
Pantai Selong Belanak
Pantai Tomang Omang
Pantai Serangan
Pantai Torok Aik Belek
Sungai
yang
ada
di
Kabupaten Lombok Tengah
Waduk Batujai
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
Kecamatan Praya Barat
Kecamatan Praya Barat
Kecamatan Praya Barat
Kecamatan Praya Barat Daya
Waduk Pengga
Tersebar disetiap kecamatan
Kecamatan Praya, Praya
Tengah, dan Praya Barat
Kecamatan Praya Barat
95
Kawasan
Perlindungan
No.
4.
3.1.
No
Sekitar mata air
Lokasi
Mata air
Kabupaten
yang
Nama Kecamatan
ada
Daya
di Tersebar di kecamatan
Rincian Lokasi Sumber Mata Air
Nama Mata Air
1
2
Jumlah
Mata
Air
Desa/
Kecamatan
Daerah
Aliran
Sungai
(DAS)
3
4
5
1
Lengkok Lekong
3
Dodokan
2
Lengkok Bunut
12
3
Lengkok Embung
6
4
Penokasih I
3
5
Embulan Goak
3
6
Pesongkah
4
7
Rerantek
6
8
Simbe
3
9
Salak / Dao
3
10
Tibu Nangklok
8
11
Eyat Pemasir
6
12
Pekasih II
3
13
Selojan
1
14
Gerantungan
6
15
Tengggaluk
1
16
Aik Bone I
1
17
Pancor Dendeng I
1
18
Pancor Dendeng I
1
19
Benang Stokel
1
20
Benang Kelambu
1
21
1
22
Pengenem D aya
I,II
Pengenem D aya III
23
Pengenem D aya IV
1
24
Pengenem D aya V
1
25
Pengenem D aya VI
1
26
Pemotoh Tengak II
1
27
Pemotoh Tengak II
1
28
Janggot
1
29
Kluncing
1
Aik Darek /
Batukliang
Beber /
Batukliang
Beber /
Batukliang
Mas-mas /
Batukliang Utara
Mas-mas /
Batukliang Utara
Mas-mas /
Batukliang Utara
Lantan /
Batukliang
Utara
Lantan /
Batukliang Utara
Aik Berik /
Batukliang Utara
Aik Berik /
Batukliang Utara
Lantan /
Batukliang Utara
Mas-mas /
Batukliang Utara
Karang Sidemen
/ Batukliang
Utara
Beber /
Batukliang
Tanak Beak /
Batukliang Utara
Aik Bukak /
Batukliang Utara
Aik Bukak /
Batukliang Utara
Aik Bukak /
Batukliang Utara
Aik Berik /
Batukliang Utara
Aik Berik /
Batukliang Utara
Stiling /
Batukliang Utara
Stiling /
Batukliang Utara
Stiling /
Batukliang Utara
Stiling /
Batukliang Utara
Stiling /
Batukliang Utara
Aik Berik /
Batukliang Utara
Aik Berik /
Batukliang Utara
Aik Berik /
Batukliang Utara
Aik Berik /
Batukliang Utara
1
Koordinat
LS
BT
6
7
DPL
Debit
(L/det)
Catch
Area
(Ha)
8
9
10
112,2
0,5
25
Dodokan
08 36 561
116 17 536
114,5
5
50
Dodokan
08 36 811
116 36 538
112,6
2
50
Dodokan
08 35 575
116 21 191
137,9
4
40
Dodokan
08 35 355
116 21 101
142,7
3
25
Dodokan
08 33 229
116 19 419
150,1
2
100
Dodokan
08 52 935
116 19 803
161,4
2
30
Dodokan
08 32 644
116 18 434
160,3
5
50
Dodokan
08 32 252
116 20 675
185,6
10
25
Dodokan
08 33 581
116 20 801
182
21
80
Dodokan
08 32 682
116 20 575
159,2
5
50
Dodokan
08 35 575
116 21 191
137,9
4
40
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
08 34 953
116 17 245
-
4,8
-
Dodokan
08 34 490
116 20 797
-
17,8
-
Dodokan
08 34 256
116 20 795
-
34,9
-
Dodokan
08 34 289
116 20 836
-
16,7
-
Dodokan
08 31 993
166 20 482
-
135,8
-
Dodokan
08 31 970
116 20 190
-
632,8
-
Dodokan
08 33 478
116 20 462
-
103
-
Dodokan
08 33 478
116 20 462
-
12,6
-
Dodokan
08 33 485
116 20 472
-
13,5
-
Dodokan
08 33 749
116 20 563
-
41,6
-
Dodokan
08 33 673
116 20 478
-
17
-
Dodokan
08 32 713
116 20 424
-
40,5
-
Dodokan
08 32 718
116 20 407
-
67,7
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
08 32 418
116 20 747
-
25,1
-
96
No
Nama Mata Air
Jumlah
Mata
Air
30
Wakul I
1
31
Wakul II
1
32
Goak
1
33
1
37
Gula Liat (Aik
Lenenng)
Kumbak Luah (Tibu
Bare)
Embulan
Duren/Sekedek
Pancor
Gerobak/Pengenem
Lauk
Batu Ngerenseng
38
Aik Leneng/ Petikus
1
39
Nyeredep
1
40
Merobot
1
34
35
36
1
1
Aik Berik /
Batukliang Utara
Aik Berik /
Batukliang Utara
Aik Berik /
Batukliang Utara
Stiling /
Batukliang Utara
Stiling /
Batukliang Utara
Stiling /
Batukliang Utara
1
1
41
Eyat Melak
1
42
Gb. Makam
1
43
Sempur
1
44
Lantan Daye
1
45
Jurang Terep
1
46
Malah
1
47
Eyat Pakis
1
48
Eyat Peji
1
49
Sintung Timur
1
50
Embulan Melati
1
51
Gubuk Jati
1
52
Rangkap
1
53
Sintung Barat
1
54
Sengkol II
1
55
1
57
Antak - antak / Gb.
Bangsal
Gentungan / Gb.
Bangsal
Gn. Kedul
58
Repuk Prine
1
59
Presak I
1
60
Presak II
1
61
Lembuk
1
56
Desa/
Kecamatan
1
1
Aik Bukak /
Batukliang Utara
Aik Bukak /
Batukliang Utara
Aik Bukak /
Batukliang Utara
Lantan /
Batukliang
Utara
Lantan /
Batukliang
Utara
Lantan /
Batukliang Utara
Lantan /
Batukliang Utara
Lantan /
Batukliang Utara
Lantan /
Batukliang
Utara
Lantan /
Batukliang Utara
Lantan /
Batukliang Utara
Lantan /
Batukliang Utara
Lantan /
Batukliang Utara
Karang Sidemen
/ Batukliang
Utara
Karang Sidemen
/ Batukliang
Utara
Karang Sidemen
/ Batukliang
Utara
Karang Sidemen
/ Batukliang
Utara
Karang Sidemen
/ Batukliang
Utara
Aik Darek /
Batukliang
Aik Darek /
Batukliang
Aik Darek /
Batukliang
Beber /
Batukliang
Beber /
Batukliang
Presak /
Batukliang
Presak /
Batukliang
Teratak /
Batukliang
Daerah
Aliran
Sungai
(DAS)
Dodokan
LS
BT
DPL
08 32 012
116 20 278
Dodokan
08 32 003
Dodokan
Koordinat
Debit
(L/det)
Catch
Area
(Ha)
-
219,9
-
116 20 304
-
92,2
-
08 32 379
116 20 602
-
39,3
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
97
No
Nama Mata Air
Jumlah
Mata
Air
62
Selewat
1
63
Jengguar
1
64
Tanak Embang
1
65
Tanak Beak
1
66
Mandok
1
67
Selusuh
1
68
Keranji
1
Desa/
Kecamatan
Pagutan /
Batukliang
Teratak /
Batukliang
Selebung /
Batukliang Utara
Tanak Beak /
Batukliang Utara
Tanak Beak /
Batukliang Utara
Mas-mas /
Batukliang Utara
Mas-mas /
Batukliang Utara
Daerah
Aliran
Sungai
(DAS)
Dodokan
Koordinat
Debit
(L/det)
Catch
Area
(Ha)
LS
BT
DPL
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
Dodokan
-
-
-
-
-
4. RINCIAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN CAGAR BUDAYA
No.
1.
Kawasan
Perlindungan
Kawasan Taman
Wisata Alam
Kelompok
Kawasan
Taman Wisata Alam
Gunung Tampa
Lokasi
Nama Kecamatan
Taman Wisata Alam Gunung Kecamatan Pujut
Tunak (RTK.24) seluas 1.217,89
Ha
hutan Gunung Meresek (RTK. Kecamatan Praya Barat
18) seluas 62,70 Ha
hutan Pantai Terawas (RTK. 19)
seluas 35,90 Ha
hutan Gunung Glepak Balen
kenculit (RTK. 20) seluas 149,20
Ha
hutan Gunung Margejek (RTK.
21) seluas 87,00 Ha
hutan Gunung Pengolon (RTK.
22)seluas 132,60 Ha
hutan Prabu Dundang (RTK. 23)
seluas 464,00 Ha
Kecamatan Praya Barat
Kecamatan Praya Barat
Kecamatan Praya Barat
Kecamatan Pujut
Kecamatan Pujut
2.
Taman Hutan Raya
(Tahura)
Kelompok
Hutan
Gunung Kecamatan Batukliang
Utara
Rinjani (RTK.1) seluas 329.29
3.
Taman Nasional
Taman Nasional Gunung Rinjani Kecamatan Batuklaing
Utara dan Kopang
(RTK.1) seluas 3.675 Ha
Luas
4.
Kawasan Cagar budaya
dan Ilmu Pengetahuan
6.153,58 Ha
 Makam Datu Benue;
 Makam Bila Tawah;
 Batukliang
 Janapria
 Makam Langko;
 Makam Patih Raja Langko;
 Makam Istana;
 Makam Subaikah/Sumbik;
 Janapria
 Janapria
 Kopang
 Kopang
 Makam Ketaq (Datok Lopan);
 Makam Lamak Sura;
 Makam Tiwu Asem;
 Situs Memelak;
 Kopang
 Praya
 Praya
 Praya
98
No.
Kawasan
Perlindungan
Lokasi
Nama Kecamatan
 Makam Tuan Guru Bangkol;
 Makam Tuang Guru Makmun
 Praya
 Praya
 Situs Batu Rijang;
 Situs Gunung Sawung;
 Praya Barat
 Praya Barat
 Makam Peresak;
 Makam Sekunyit;
 Praya Barat
 Praya Barat
 Makam Semelong;
 Situs Gua Saong;
 Praya Barat
 Praya Barat Daya
 Situs Goang Gue;
 Makam Raden Mustira;
 Praya Barat Daya
 Praya Barat Daya
 Makam Merebet;
 Makam Salam;
 Praya Barat Daya
 Praya Barat Daya
 Makam Datu Kerekok;
 Makam Keliang;
 Praya Barat Daya
 Praya Barat Daya
 Makam Srewe;
 Makam Rangga Tapon;
 Praya Tengah
 Praya Tengah
 Makam Pejanggik;
 Makam Embung Puntiq;
 Praya Tengah
 Praya Timur
 Kemalik Lebe Sane;
 Kemalik Dusun Matek Maling
 Praya Timur
 Praya Timur
 Makam Raja Marong;
 Makam Naytoq;
 Praya Timur
 Pujut
 Makam Baloq Tui;
 Makam Sile Dendeng
 Makam Tirangge
 Makam Betare Guru
 Makan Kayangan
 Pujut
 Pujut
 Pujut
 Pujut
 Pujut
 Situs Gua Saong Batu
 Pujut
 Masjid Jami’ Praya;
 Masjid Kuno Gunung Pujut;
dan
 Masjid Kuno Rembitan
 Praya
 Pujut
 Pujut
 Dusun Tradisional Sade dan  Kecamatan Pujut
Dusun Tradisional Nde
Kawasan perkantoran antara Kecamatan Praya
Masjid Jami’ Praya dan Rumah
Jabatan Bupati
5.
Kawasan Konservasi
Perairan
Kecamatan Pujut
Teluk Bumbang
5. RINCIAN KAWASAN RAWAN BENCANA ALAM
No
1.
2.
Kawasan Rawan
Bencana
Rawan
Bencana
Gunung Berapi
Rawan Bencana Banjir
Lokasi
Gunung Rinjani di Kecamatan Batukliang utara dan
Kecamatan Kopang.
Kawasan sekitar sungai besar melewati Kecamatan
Batukliang Utara dan Kecamatan Kopang.
99
No
3.
4.
Kawasan Rawan
Bencana
Kawasan gerakan tanah
dan longsor
Kawasan
rawan
gelombang pasang dan
tsunami
Lokasi
Kawasan rawan bencana gerakan tanah dan longsor
meliputi Kecamatan Batukliang Utara, Kecamatan
Jonggat, Kecamatan Praya Barat Daya, Kecamatan
Praya Barat, Kecamatan Pujut, Kecamatan Pringgarata
dan Kecamatan Kopang.
Kawasan rawan gelombang pasang dan tsunami
mencakup daerah sepanjang pesisir pantai selatan
Pulau Lombok yang ada di Lombok Tengah yaitu
Kecamatan Praya Barat Daya, Kecamatan Praya Barat,
Kecamatan Pujut dan Kecamatan Praya Timur.
100
LAMPIRAN II. 9. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN DAN LOKASI PERUNTUKAN PERTANIAN
1. LUAS
KAWASAN
PERUNTUKAN
PERTANIAN
TANAMAN
PANGAN
DAN
HORTIKULTURA
NO
Jumlah
(Ha)
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
Lahan Basah
6376
5010
6700
7018
5248
2876
3461
4678
5334
2395
2403
1954
53453
a. Irigasi Teknis
337
2585
-
5637
233
2048
2519
1306
5249
2395
716
1257
24282
b. Irigasi 1/2 Teknis
I
LAHAN PERTANIAN
1.1
1.2
KECAMATAN (Ha)
PENGGUNAAN
LAHAN
3576
373
1485
1183
1846
474
872
3372
85
-
1075
325
14666
c. Irigasi Sederhana PU
-
79
-
-
2373
314
32
-
-
-
117
200
3115
d. Irigasi Non PU
-
-
-
-
-
40
-
-
-
-
-
-
40
e. Tadah Hujan
2463
1973
5215
198
796
-
38
-
-
-
495
172
11350
Lahan Kering
1216
2196
7300
200
124
1307
306
353
691
2178
1970
2439
20280
a. Tegal
1216
2196
7300
200
124
1307
306
353
691
2178
1970
2439
20280
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
7592
6983
14000
7218
5372
4183
3767
5031
4573
4373
4393
73733
b. Ladang/Huma
Jumlah Lahan
Pertanian
6025
2. LUAS KAWASAN PERUNTUKAN PERKEBUNAN
NO
PENGGUNAAN
LAHAN
KECAMATAN (Ha)
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
1765
1876
1943
765
884
1547
905
627
1636
1503
1843
1595
16889
217
830.2
1181.2
5
10
1769.2
590.4
170
11818
1
kelapa
2
kopi
3
jambu mete
520
2409
2355
4
jarak
425
147.2
1174
5
tembakau
275.3
4.1
419.2
6
lain-lain (kakau, kemiri,
pinang, vanili, kapuk,
lada, aren dan asam)
134
804
111
6199
2
3377
3403
1918
80
6
1552
21
8
Tersebar di Kecamatan
3113.8
Jumlah lahan perkebunan
Keterangan :
A
Jumlah
(Ha)
Praya Barat
G
Praya
B
Praya Barat Daya
H
Praya Tengah
C
Pujut
I
Jonggat
D
Praya Timur
J
Pringgarata
E
Janapria
K
Batukliang
F
Kopang
L
Batukliang Utara
40970
101
LAMPIRAN II. 10. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN DAN LOKASI PERUNTUKAN PERIKANAN
1. POTENSI PERIKANAN BUDIDAYA
NO
1
2.
JENIS BUDIDAYA
KECAMATAN
DESA
Budidaya Air Tawar
-
Kolam
Semua Kecamatan
-
Mina padi
Semua Kecamatan
-
Karamba
Semua Kecamatan
Budidaya Air Payau
- Praya Timur
- Bilelando
- Kidang
- Praya Barat
- Mekar Sari
- Selong Belanak
- Praya Barat Daya
- Montong Ajan
- Pujut
- Teruai
- Bangkat Parak
- Pengengat
- Mertak
3.
Budidaya Air Laut
-
Rumput Laut
- Praya Timur
- Bilelando
- Praya Barat
- Mekar Sari
- Selong Belanak
- Praya Barat Daya
- Montong Ajan
- Pujut
- Mertak
- Sengkol
- Kuta
- Prabu
- Tumpak
-
-
-
-
Mutiara
Kerang darah
Teripang
Ikan
- Praya Barat
- Montong Ajan
- Praya Barat Daya
- Selong Belanak
- Pujut
- Mertak
- Praya Timur
- Bilelando
- Praya Barat
- Selong Belanak
- Pujut
- Mertak
- Praya Timur
- Bilelando
- Pujut
- Mertak
- Praya Timur
- Bilelando
- Pujut
- Mertak
102
LAMPIRAN II. 11 . PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN DAN LOKASI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA
1.
OBJEK WISATA ALAM (HUTAN/PERAIRAN PEDALAMAN)
No.
Nama Objek
Daya Tarik
1.
Benang Stokel
2.
Benang Kelambu
3.
Aik Bukak
4.
Taman Wisata Alam Gunung
Tunak
5.
Kelompok hutan
Gunung Meresek
Kelompok hutan
Pantai Terawas
Taman
Wisata
Alam
Tanjung
Tampa
Kelompok hutan
Gunung Glepak
Balinkeculit
Kelompok hutan
Gunung Margejek
Kelompol hutan
Gunung Pengolon
Kelompok hutan
Prabu Dundang
2.
- Air Terjun
- Outbond Area
- Air Terjun
- Outbond Area
- Kolam Renang dan
Keindahan alam
- Outbond Area
- Jungle Tracking
- Pantai
- Wisata ilmiah
- Jungle Tracking
- Pantai
- Wisata ilmiah
- Jungle Tracking
- Pantai
- Wisata ilmiah
- Jungle Tracking
- Pantai
- Wisata ilmiah
- Jungle Tracking
- Pantai
- Wisata ilmiah
- Jungle Tracking
- Pantai
- Wisata ilmiah
- Jungle Tracking
- Pantai
- Wisata ilmiah
Nama
Kecamatan
Batukliang Utara
Batukliang Utara
Batukliang Utara
Pujut
Praya Barat
Praya Barat
Praya Barat
Praya Barat
Pujut
Pujut
OBJEK WISATA ALAM (BAHARI)
No.
Nama Objek
1
Pantai Gerupuk
2
Pantai Awang
3
Pantai A’an
4
Pantai Seger
Daya Tarik
- Perbukitan
- Ombak untuk surfing
- Sunset
- Pasir Putih
- Perkampungan nelayan
- Budi Daya ikan kerapu
- Budi Daya rumput laut
- Perbukitan
- Pasir Putih
- Perkampungan nelayan
- Budi Daya ikan kerapu
- Budi Daya rumput laut
- Pasir Putih
- Terumbu Karang
- Sunset
- Ombak untuk surfing
- Perbukitan
- Pasir Putih
- Sunset
- Perbukitan
Nama
Kecamatan
Pujut
Pujut
Pujut
Pujut
103
No.
3.
4.
Nama Objek
Daya Tarik
5
Pantai Kuta
6
Pantai Selong Belanak
7
Pantai Mawi
8
Pantai Tomang-omang
9
Pantai Are Guing
10
Pantai Pengatap
11
Pantai Rowok
12
Pantai Torok Aik Beleq
13
Pantai Mawun
- Terumbu Karang
- Perbukitan
- Pasir Putih
- Perkampungan nelayan
- Terumbu Karang
- Sunset
- Pasir Putih
- Sunset
- Perbukitan
- Perkampungan nelayan
- Pasir Putih
- Sunset
- Perbukitan
- Rusa Liar
- Pasir Putih
- Sunset
- Perbukitan
- Perbukitan
- Ombak untuk surfing
- Sunset
- Pasir Putih
- Perkampungan nelayan
- Terumbu Karang
- Sunset
- Pasir Putih
- Perbukitan
- Pasir Putih
- Sunset
- Perbukitan
- Perkampungan nelayan
- Pasir Putih
- Sunset
- Perbukitan
- Perkampungan nelayan
- Perbukitan
- Ombak untuk surfing
- Sunset
- Pasir Putih
Nama
Kecamatan
Pujut
Praya Barat
Praya Barat
Praya Barat
Praya Barat
Praya Barat Daya
Praya Barat
Praya Barat Daya
Pujut
OBJEK WISATA ALAM (GEOLOGI DAN VULKANOLOGI)
No.
Nama Objek
Daya Tarik
1
2
3
Goa Bengkang
Goa Pengembur
Gunung Rinjani
4
Batu Rijang
- Goa ALam
- Goa Alam
- Alam
- Wisata ilmiah
- Eko wisata
- Situs Geologi
Nama
Kecamatan
Pujut
Pujut
Batukliang Utara
dan Kopang
Praya Barat
OBJEK WISATA BUDAYA (PENINGGALAN SEJARAH)
No.
1
Nama Objek
Dusun Sade
2
Dusun Nde
Daya Tarik
- Rumah Tradisional
- Kampung Tradisional
- Tipologi Permukiman Suku Sasak
- Kesenian Daerah
- Upacara adat
- Rumah Tradisional
- Kampung Tradisional
- Tipologi Permukiman Suku Sasak
Nama Kecamatan
Pujut
Pujut
104
5.
3
Masjid Kuno
Rembitan
4
5
6
Masjid Kuno
Gunung Pujut
Makam Nyatok
Makam Ketak
7
8
Makam Srewe
Makam Sumbek
Pujut
Pujut
Pujut
Kopang
Praya Tengah
Kopang
OBJEK WISATA BUDAYA (KEHIDUPAN MASYARAKAT)
No.
Nama Objek
1
Kerajinan Gerabah
Penujak
Kerajinan Tenun
Tradisional Sukarara
Kerajinan Anyaman
Rotan/Ketak Beleke
2
3
6.
- Kesenian Daerah
- Upacara adat
- Masjid Kuno
- Tipolgi Permukiman Suku Sasak
- Upacara Agama
- Masjid Kuno
- Upacara Agama
- Upacara Agama
- Upacara Agama
- Makam Tokoh agama Islam di
Desa Muncan, Kec Kopang
- Makam Raja Pejanggik
- Masjid Kuno
- Upacara Agama
Daya Tarik
- Produk Gabah
- Kampung tradisional
- Produk tenunan
- Kampung tradisional
- Produk Handycraft
- Kampung tradisional
Nama
Kecamatan
Praya Barat
Jonggat
Praya Timur
OBJEK WISATA BUATAN (FESTIVAL KHUSUS)
No.
1
Presean
Permainan Presen
Nama
Kecamatan
Semua Kecamatan
2
Rudat
Pagelaran Rudat
Jonggat
3
Oncer
Pagelaran Oncer
Pringgarata
4
Gandrung
Pagelaran Gandrung
5
Teate Amaq Abir
Pagelaran Amaq Abir
Praya Timur
6
Bau Nyale
Festival Bau Nyale
Pujut
7
Gendang Belek
Pagelaran Gendang Belek
Semua Kecamatan
8
Cilokak
Pagelaran Cilokaq
Praya, Jonggat
9
Legong Sasak
Pagelaran Legong Sasak
10
Menting Lelakaq
Pagelaran Menting Lelakaq
11
Zikir Madani
Pagelaran Zikir Madani
12
Jangger
Pagelaran Jangger
Ngorek
Pagelaran Ngorek
14
Jaran Kamput
Pagelaran Jejaranan
15
Tambur
Pagelaran Tambur
16
Genggong
Pagelaran Genggong
17
Cupak Gerantang
Pagelaran Cupak Geranteng
Pringgarata
18
Wayang Kulit
Pagelaran Wayang Kulit
Jonggat, Janapria
19
Mecapat
Pagelaran Mecapat
20
Gansing
Permainan Gansing
Semua Kecamatan
21
Selodor
Permainan Selodor
Semua Kecamatan
22
Engrang
Permainan Engrang
Semua Kecamatan
23
Pencak
Permainan Pencak
Semua Kecamatan
24
Layang-layang
13
Nama Objek
Daya Tarik
Permainan Layang-layang
Jonggat
Praya Timur,
Jonggat
Semua Kecamatan
105
No.
7.
Nama Objek
Daya Tarik
25
Main Karet
Permainan Main Karet
Nama
Kecamatan
Semua Kecamatan
26
Pepaosan
Pagelaran Pepaosan
Jonggat
27
Seni Tari
Pagelaran Seni Tari
Semua Kecamatan
28
Tembang
Pagelaran Tembang
Praya Barat Daya
29
Bencingah
Pagelaran Bencingah
Praya Tengah
30
Besunat
Pagelaran Besunat
Semua Kecamatan
31
Kemalik Lebe Sane
Pagelaran Kemalik Lebe Sane
Praya Timur
32
Nede/Minta Hujan
Pagelaran Nede/Minta Hujan
Praya Timur
32
33
Nyongkolan
Pagelaran Nyongkolan
Semua Kecamatan
Perang Timbung
Pagelaran Perang Timbung
Praya Tengah
OBJEK WISATA BUATAN (WISATA AGRO)
No.
1.
Nama Objek
Sekedek
Daya Tarik
Budaya tanaman jeruk
Nama Kecamatan
Batukliang Utara
106
LAMPIRAN II. 12. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN DAN LOKASI PULAU-PULAU KECIL
No
Kecamatan
No
1
Praya Barat
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
Anak Ewok
Bali Samar
Batu Payung
Kebango
Gili Wayang
Bulu Sadang
Batutiung
Penginang
Batu Berang
Selak
Anak Anjan
Perigi
Anakewok
Sayaq
Nyepak
Medas
Gantung
Ngebor
Nusa
Luas Pulau
(Ha)
1,70
0,10
0,64
0,10
0,20
0,10
0,10
1,86
0,20
0,20
2,91
8,60
1,10
0,25
1,50
0,10
1,25
0,20
8,15
20
21
22
Gili Gulung
0,10
Gili Mas
Praya Timur
Ujungbatu
Luas Total
0,20
0,20
29,76
2
3
Pujut
Nama Pulau
Potensi Pemanfaatan
Perikanan Tangkap, Konservasi
Konservasi
Ladang Perkebunan Rakyat
Ladang Perkebunan Rakyat
Ladang Perkebunan Rakyat
Wisata Bahari
Wisata Bahari
Perkebunan, Wisata Bahari
Ladang Perkebunan Rakyat
Wisata Bahari
Ladang Perkebunan Rakyat
Ladang Perkebunan Rakyat
Ladang Perkebunan Rakyat
Ladang Perkebunan Rakyat
Wisata Bahari
Ladang Perkebunan Rakyat
Wisata Bahari
Konservasi Laut
Konservasi Laut, Perkebunan
Rakyat
Ladang Perkebunan Rakyat
Ladang Perkebunan Rakyat
Konservasi Laut
107
LAMPIRAN II. 13. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR : 7 TAHUN 2011
TANGGAL : 31 DESEMBER 2011
TENTANG : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2011-2031
RINCIAN RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS
1.
RINCIAN RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PERTUMBUHAN EKONOMI
No.
2.
Nama KSK
Nama Kecamatan
Tahapan
1.
Kawasan Kuta dan sekitarnya
Kecamatan Pujut
I/A/2
2.
Kecamatan Praya Barat
dan Praya Barat Daya
Kecamatan Pujut
I/A/2
3.
Kawasan Selong Belanak dan
sekitarnya
Kawasan Sade dan sekitarnya
4.
Kawasan Perkotaan Praya
I/A/1
5.
Kawasan Agropolitan Aik
Meneng
6.
Kawasan Minapolitan Gerupuk
dan Awang
Kecamatan Praya, Praya
Tengah, Praya Barat,
Praya Barat Daya, dan
Pujut
Kecamatan Batukliang
Utara,
Kopang
dan
Janapria.
Kecamatan Pujut dan
Praya Timur
I/A/2
I/A/2
I/A/2
RINCIAN RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN FUNGSI DAN DAYA DUKUNG
LINGKUNGAN HIDUP
No.
Nama KSK
Nama Kecamatan
Tahapan
1.
Kawasan Benang Stokel dan
Benang Kelambu
Taman Nasional Gunung Rinjani
Kecamatan Batukliang
Utara
Kecamatan Batukliang
Utara, Kopang
Bendungan Batujai di
Kecamatan Praya, Praya
Tengah, Praya Barat
I/B/1
2.
Kawasan Bendungan Batujai dan
Pengga
3.
I/B/1
I/B/1
Bendungan Pengga di
Kecamatan Praya Barat
Daya
3.
RINCIAN RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN SOSIAL BUDAYA
No.
Nama KSK
Nama Kecamatan
Tahapan
1.
Situs Batu Rijang dan sekitarnya
Kecamatan Praya Barat
I/C/2
2.
Makam Srewe dan sekitarnya
Kecamatan Praya
Tengah
I/C/2
3.
Makam Ketak dan sekitarnya
4
Situs Langko dan Sekitarnya
Kecamatan Kopang
Kecamatan Kopang dan
Janapria
I/C/2
I/C/2
Keterangan :
I – IV
A
B
: Tahapan Pengembangan
: Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis dengan Sudut Kepentingan
Ekonomi
A/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan
A/2 : Pengembangan/Peningkatan Kualitas Kawasan
: Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis dengan Sudut Kepentingan
Lingkungan Hidup
B/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan
B/2 : Pengembangan/Peningkatan Kualitas Kawasan
108
C
: Rehabilitasi dan Pengembangan Kawasan Strategis dengan Sudut Kepentingan Sosial
Budaya
A/1 : Rehabilitasi/Revitalisasi Kawasan
A/2 : Pengembangan/Peningkatan Kualitas Kawasan
BUPATI LOMBOK TENGAH
ttd
H. MOH SUHAILI, FT
LAMPIRAN III
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR 7 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH
KABUPATEN LOMBOK TENGAH TAHUN 2011-2031
LAMPIRAN III
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH
NOMOR 7 TAHUN 2011
TANGGAL 31 DESEMBER 2011
TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KAB. LOTENG 2011-2031
Indikasi Program Utama
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lombok Tengah
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM – 1
Pelaksana
2011
A.
PERWUJUDAN STRUKTUR RUANG KABUPATEN
1.
Perwujudan Pusat Kegiatan
1.1. Pemantapan
kota
fungsi
kota-
Kawasan perkotaan
di Kabupaten Lombok
Tengah
APBN
APBDP
APBD Kab.
di
PKW Praya
PKL Kopang,
Sengkol, Mujur
APBN
APBDP
APBD Kab.
1.3. Pemantapan Fungsi PKW
dan PKL
PKW Praya
PKL Kopang,
Sengkol, Mujur
APBN
APBDP
APBD Kab.
1.4. Pengembangan
pemantapan fungsi
menjadi PKL
PKLp Puyung, PKLp
Mantang, dan PKLp
Selong Belanak
APBD Kab.
Lombok
Tengah
1.5. Pengembangan
pusat
kegiatan perkotaan melalui :
a. Pengembangan
Pusat
Pemerintahan
b. Pemantapan funsi RSU
Daerah Kabupaten
PKW Praya
APBN
APBDP
APBD Kab.
Dinas PU
Bappeda
Dikes
1.6. Penyusunan Rencana Detail
kawasan Perkotaan
PKW, PKL dan PKLP
APBN
APBDP
APBD Kab.
Dinas PU
Bappeda
1.2. Penambahan fasilitas
kota PKW dan PKL
dan
PKLp
Bappeda
Dinas PU
Kab. Lombok
Tengah
Bappeda
Dinas PU
Kab. Lombok
Tengah
Bappeda
Dinas PU
Kab. Lombok
Tengah
Bappeda
Dinas PU
Kab. Lombok
Tengah
109
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM – 1
Pelaksana
2011
2.
Perwujudan Sistem Prasarana
2.1. Transportasi
a. Peningkatan
lokal
jalan-jalan
Seluruh kecamatan
b. Menyiapkan
rencana
lokasi,
pembangunanpengembanganpengelolaanpemeliharaan
fisik
tempat
parkir
dan
jembatan
Seluruh kecamatan
c. Penentuan daerah bebas
bangunan
di
sekitar
bandara udara sesuai
dengan ketentuan dan
peraturan dari instansi
yang terkait.
Kawasan BIL
d. Pengembangan
akses
dan fasilitas angkutan
penumpang
khusus
barang dan penumpang
bandara
Kawasan BIL
e. Pengembangan jaringan
angkutan dan terminal
f. Pengembanan
sarana
dan
prasarana
transportasi laut
Seluruh kecamatan
Kecamatan Pujut,
Prabar, Prabarda,
dan Pratim
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dishubkominfo
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dishubkominfo
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dishubkominfo
Swasta
PT. Angkasa
Pura
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dishubkominfo
APBD Kab.
Lombok
Tengah
APBD Kab.
Lombok
Tengah,
suasta
Dishubkominfo
Bappeda, DPU
Dinas PU
Dinas PU
Bappeda
Bappeda
Dishubkominfo
Bappeda,
DPU, DKP
110
2012
2013
2014
2011
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2012
2013
2014
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM – 1
Pelaksana
2011
2.2. Sistem Prasarana
Telekomunikasi
a.
Peningkatan kapasitas
Seluruh kecamatan
sentral (STO)
b.
Studi/rencana
Seluruh kecamatan
penyebaran menara
pemancar/penerima
c.
Pengawasan,
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dishubkominfo
Swasta
Dis PU
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dishubkominfo
Bappeda
Bappeda
Dis PU
Swasta
Seluruh kecamatan
pembinaan dan
pengendalian
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dishubkominfo
Bappeda
Dis PU
Swasta
pembangunan menara
telekomunikasi
d.
Pengembangan sarana
dan prasana
telekomunikasi pada
Seluruh kecamatan
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dishubkominfo
Bappeda
Dis PU
Swasta
daerah-daerah yang
terisolir
111
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2015-2020
2021 - 2025
2026 – 2030
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
2.3. Sistem Prasarana Listrik
a.
Peningkatan daya listrik
Seluruh kecamatan
Dis PU
APBD Kab.
Lombok
Tengah
PLN
Swasta
b.
Peningkatan jaringan
listrik sampai ke tingkat
lingkungan
Seluruh kecamatan
Dis PU
APBD Kab.
Lombok
Tengah
PLN
Swasta
c.
Studi
kelayakan
pengembangan
pembangkit baru (air,
matahari, uap, dll)
Seluruh kecamatan
Dis PU
APBD Kab.
Lombok
Tengah
PLN
Swasta
2.4. Sistem Prasarana Air Bersih
a.
b.
Memperluas pelayanan
jaringan
air
bersih
sampai
ke
tingkat
lingkungan
Seluruh kecamatan
Melestarikan
sumber
daya
guna
keberlanjutan
ketersediaan air
Seluruh kecamatan
Dis PU
APBD Kab.
Lombok
Tengah
PDAM
Swasta
Dis PU
APBD Kab.
Lombok
Tengah
PDAM
Swasta
`
112
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
c.
d.
Studi tentang cara atau
sistem pemantauan dan
pengendalian
pemakaian air tanah
dalam
Seluruh kecamatan
Studi dan peningkatan
sumber air baku
Seluruh kecamatan
Dis PU
APBD Kab.
Lombok
Tengah
PDAM
Swasta
Dis PU
APBD Kab.
Lombok
Tengah
PDAM
Swasta
2.5. Sistem Prasarana Irigasi
a.
Peningkatan
fungsi
waduk/bendung/
embung
untuk
mendukung
kegiatan
pertanian,
perikanan,
dan wisata tirta
Seluruh kecamatan
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dis PU
b.
Perbaikan
peningkatan
irigasi
dan
jaringan
Seluruh kecamatan
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dis PU
Pemilahan
teknologi
pengelolaan
dan
pengolahan sampah
Seluruh kecamatan
APBD Kab.
Lombok
Tengah
KLH
Pengembangan sistem
terpusat, pada daerah
perkotaan
tingkat
kepadatan tinggi
Seluruh kecamatan
APBD Kab.
Lombok
Tengah
KLH
2.6. Sistem Pengelolaan
Persampahan
a.
b.
Dis PU
Dis PU
113
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
c.
d.
Pengembangan sistem
individual
atau
pengelolaan setempat
pada daerah terpencil
tingkat
kepadatan
rendah
Seluruh kecamatan
Penerapan
program
pengelolaan
sampah
terpadu dengan metode
3R
Seluruh kecamatan
APBD Kab.
Lombok
Tengah
KLH
APBD Kab.
Lombok
Tengah
KLH
APBD Kab.
Lombok
Tengah
KLH
Dis PU
Dis PU
2.7. Sistem Pengelolaan Air
Limbah
a.
Identifikasi jenis limbah
Seluruh kecamatan
Dis PU
Swasta
b.
c.
Pengembangan
teknologi pengelolaan
dan pengolahan air
limbah
Seluruh kecamatan
Pengembangan sarana
dan
prasarana
pengolahan air limbah
Seluruh kecamatan
KLH
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dis PU
Swasta
KLH
APBD Kab.
Lombok
Tengah
Dis PU
Swasta
114
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
B.
PERWUJUDAN POLA RUANG
1.
Perwujudan Sektor Kehutanan
1.1. Kawasan Hutan di
Kabupaten Lombok Tengah
a.
b.
Pemantapan Kawasan
Hutan
Rehabilitasi Hutan
Peningkatan Daya
Dukung DAS
Kawasan hutan di
Kab. Lombok Tengah
-sda-
APBN
Dishutbun
APBDP
BKSDA
APBDK
Bappeda
APBN
Dishutbun
APBDP
c.
Pengamanan Hutan dan
Pengendalian Kebakaran
Hutan
-sda-
d.
Konservasi
Keanekaragaman Hayati
-sda-
e.
Revitaslisasi
Pemanfaatan Hutan dan
Industri Kehutanan
-sda-
f.
Pemberdayaan
Masyarakat di Sektor
Hutan
-sda-
APBDK
APBN
APBDP
APBDK
Dishutbun
APBN
APBDP
APBDK
APBN
APBDP
APBDK
Dishutbun
BKSDA
Dishutbun
APBN
APBDP
APBDK
Dishutbun
115
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
1.2. Kawasan Resapan Air
a.
b.
Pemantapan fungsi
kawasan konservasi
dan resapan air
Penertiban terhadap
kegiatan budidaya yang
merusak fungsi
konservasi
Kawasan Gunung
Rinjani dan
sekitarnya dan secara
umum diarahkan
pada masing-masing
kecamatan
APBN
Dishutbun
APBDP
BKSDA
-sda-
APBN
Dishutbun
APBDP
BKSDA
APBDK
APBDK
1.3. Kawasan Perlindungan
Setempat
a.
Kawasan Sempadan
Pantai
a.1. Menetapkan batas
sempadan per
segmen pantai
dalam Rencana
Detail Tata Ruang
Teluk Awang dan
Bumbang, Pantai
Gerupuk, Aan, Burut,
Seger, Mawun,
Tampah, Mawi,
Rowoh, Selong
Belanak, Tomang
Omang, Serangan,
Torok Aik Belek
APBDP
APBDK
Dis PU
a.2. Pemberlakuan
status quo bagi
bangunan yang
telah ada di
kawasan
sempadan pantai
-sda-
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
Bappeda
116
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
a.3. Pencegahan
kegiatan budidaya
yang dapat
mengganggu
kelestarian fungsi
pantai
b.
c.
-sda-
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
Kawasan Sempadan
Sungai
b.1. Menetapkan batas
sempadan sungai
dalam rencana
detail tata ruang
Sungai yang terdapat
di Kabupaten Lombok
Tengah
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
b.2. Mencegah kegiatan
budidaya yang
dapat
mengganggu/
merusak kualitas
air sungai
-sda-
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
b.3. Mencegah
pembangunan di
sekitar DAS yang
melebihi batas
ketentuan yang
berlaku
-sda-
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
Kawasan Sekitar Mata
Air
c.1. Mencegah
kegiatan budidaya
yang dapat
mengganggu
fungsi kawasan
sekitar mata air
Seluruh mata air yang
tersebar di bagian
utara wilayah
Kabupaten Lombok
Tengah
117
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
c.2. Rehabilitasi
vegetasi disekitar
mata air
d.
-sda-
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
Kawasan Ruang
Terbuka Hijau Kota
d.1. Penertiban
kegiatan budidaya
disekitar BIL
Ruang terbuka/ruang
bebas sekitar
Bandara Udara
Lombok (BIL)
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
d.2. Pengendalian
ketinggian
bangunan di sekitar
BIL
-sda-
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
d.3. Pengembangan
RTHK berupa
ruang terbuka
untuk aktifivitas
olahraga dan
rekreasi sekaligus
berfungsi sebagai
ruang terbuka hijau
-sda-
KLH
KLH
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
KLH
118
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
1.4. Pelestarian Alam dan Cagar
Budaya
a.
Pelestarian alam
Taman Wisata Alam
(TWA)
a.1. Melindungi
kelestarian fauna
dan flora serta
lingkungan
a.2. Mengatur
pengelolaan di
kawasan di Taman
Wisata Alam
b.
APBN
APBDP
TWA Gunung
Meresek, Hutan
Pantai Terawas,
Gunung Glepak
Balinkeculit, Gunung
Margejek, Gunung
Pengolon, Gunung
Prabu Dundang,
Gunung Tunak
APBDK
-sda-
APBN
Dishutbun
Dinas Budpar
BKSDA
Dishutbun
Dinas Budpar
APBDP
BKSDA
APBDK
Cagar Budaya
b.1. Melindungi
kelestarian
kawasan cagar
budaya
Makam Srewe,
Nyatoq, Bila Tawah,
Ketaq, Baloq Tui,
Benue, Embung
Puntiq, Istana Raja
Kopang, Lamak Sura,
Raja Langko, Raja
Marong, Patih Raja
Langko, Rangga
Tapon, Pejanggik,
Subaikah/Sumbek,
APBDP
Dinas Budpar
APBDK
Bappeda
119
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 – 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
dan Makam Montong
Sari; Situs Batu
Rijang; Masjid Jami’
Praya, Masjid Kuno
Gunung Pujut dan
Rembitan; Dusun
Tradisional Sade dan
Nde; Kawasan
Memelak dan
Pejanggik
b.2. Menentukan dan
menetapkan
batasan kawasan
cagar budaya
-sda-
b.3. Sosialisasi lokasi
dan luasan
kawasan cagar
budaya
-sda-
b.4. Mengatur
pengelolaan
kawasan cagar
budaya
-sda-
b.5. Pengamanan
kawasan cagar
budaya dari
berbagai bentuk
ancaman baik oleh
kegiatan manusia
maupun alam
-sda-
APBDP
Dinas Budpar
APBDK
Bappeda
APBDP
Dinas Budpar
APBDK
Bappeda
APBDP
Dinas Budpar
APBDK
Bappeda
APBDP
Dinas Budpar
APBDK
Bappeda
120
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 – 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
c.
Taman Nasional
Mengembangkan zonazona pemanfaatan
ruang untuk
pengembangan ilmu
pengetahuan,
pariwisata dan rekreasi,
dan pendidikan.
d.
e.
Kawasan Taman
Nasional Gunung
Rinjani
APBN
Dishutbun
APBDP
Bappeda
APBDK
Kawasan Suaka Alam
Laut dan Perairan
Lainnya
d.1. Melindungi
kelestarian hutan
mangrove dan
terumbu karang
Kawasan pesisir
pantai selatan
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
d.2. Mengatur
pengelolaan
kawasan suaka
margasatwa
-sda-
APBDP
Dishutbun
APBDK
Bappeda
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
Dinas Kelautan
& Perikanan
Kawasan Suaka Alam
Laut dan Perairan
Lainnya
e.1. Melindungi
kelestarian hutan
mangrove dan
terumbu karang
Kawasan pesisir
pantai selatan
Kabupaten Lombok
Tengah
Dinas Kelautan
& Perikanan
121
`
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 – 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
e.2. Pengamanan
terhadap kegiatan
konstruksi,
pemungutan biota
dan aktivitas yang
bersifat ekstraktif
lainnya.
-sda-
APBDP
Dis PU
APBDK
Bappeda
Dinas Kelautan
& Perikanan
1.5. Kawasan Rawan Bencana
a.
Inventarisasi kawasan
rawan bencana
Seluruh wilayah
kecamatan
APBN
Dis PU
APBDP
Bappeda
APBDK
b.
Mencegah kegiatan
budidaya pada
kawasan rawan
bencana
 Kawasan rawan
bencana gunung
berapi meliputi :
Gunung Rinjani di
Kec. Batukliang
utara dan Kopang
APBN
Dis PU
APBDP
Bappeda
APBDK
 Kawasan rawan
bencana banjir
yaitu kawasan
sekitar sungai
besar melewati
Kec. Batukliang
Utara dan Kopang
122
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 – 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
 Kawasan rawan
bencana gerakan
tanah dan longsor
meliputi Kec.
Batukliang Utara,
Jonggat, Praya
Barat Daya, Praya
Barat, Pujut,
Pringgarata dan
Kopang
 Kawasan rawan
gelombang
pasang dan
tsunami
mencakup daerah
sepanjang pesisir
pantai selatan
Pulau Lombok
yang ada di
Lombok Tengah
yaitu Kecamatan
Praya Barat Daya,
Praya Barat, Pujut
dan Praya Timur
c.
Pengembangan
manajemen informasi
atau deteksi dini
bencana sebagai upaya
pencegahan bencana.
-sda-
APBN
Dis PU
APBDP
Bappeda
APBDK
123
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 – 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
d.
e.
2.
Penegasan batas garis
sempadan pantai untuk
pantai-pantai rawan
bencana
Daerah
sepanjang
pesisir pantai selatan
Pulau Lombok yang
ada
di
Lombok
Tengah
yaitu
Kecamatan
Praya
Barat Daya, Praya
Barat,
Pujut
dan
Praya Timur
Menanggulangi dan
mengembalikan fungsi
pantai akibat abrasi
pantai
-sda-
Dis PU
APBDP
Bappeda
APBDK
APBDP
APBDK
Dis PU
Bappeda
Perwujudan Kawasan Budidaya
2.1. Kawasan Peruntukan Hutan
Produksi
a.
Pengembangan
produksi komoditas
andalan/unggulan
daerah
Kawasan
Hutan
Mareje Bonga (RTK
13)
b.
Peningkatan
produktifitas hutan
produksi
-sda-
APBN
APBDP
APBDK
Dishutbun
APBN
APBDP
APBDK
Dishutbun
124
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 – 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
2.2. Kawasan Peruntukan
Pertanian
a.
Pertanian lahan basah
a.1. Memetakan lahan
sawah yang
beririgasi teknis
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan,
Dinas PU
a.2. Evaluasi tingkat
kesuburan lahan
-sda-
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan,
Dinas PU
a.3. Evaluasi
kesesuaian lahan
-sda-
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan,
Dinas PU
a.4. Mencegah dan
membatasi alih
fungsi lahan sawah
menjadi kegiatan
budidaya lainnya
-sda-
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan,
a.5. Pembinaan dan
peningkatan
produksi komoditas
andalan/unggulan
daerah
-sda-
a.6. Peningkatan
produktifitas lahan
sawah
-sda-
Dinas PU
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
Dinas PU
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
Dinas PU
125
`
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 – 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
a.7. Pengembangan
kegiatan
agroindustri
-sda-
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
Dinas PU
a.8. Pemeliharaan dan
peningkatan
prasarana
pengairan
b.
-sda-
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
Dinas PU
Pertanian Lahan Kering
b.1. Pengembangan
kegiatan
pada
lahan-lahan yang
memiliki
potensi/kesesuaian
lahan
pertanian
tanaman pertanian
lahan kering secara
optimal
-sda-
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
b.2. Pembinaan dan
peningkatan
produksi komoditas
andalan/unggulan
daerah
-sda-
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
b.3. Peningkatan
produktifitas
tanaman lahan
kering
-sda-
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
Dinas PU
126
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 – 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
c.
Perkebunan
c.1. Pengembangan
agroindustri dan
penyiapan saranaprasarana
pendukung
-sda-
c.2. Pengembangan
kegiatan
agrowisata pada
kawasan yang
potensial
-sda-
c.3. Pengembangan
luas areal pada
lahan-lahan yang
memiliki
potensi/kesesuaian
lahan
-sda-
c.4. Pengembangan
produksi komoditas
andalan/unggulan
daerah
-sda-
c.5. Meminimalkan alih
fungsi lahan
perkebunan
terutama pada
tingkat sangat
sesuai
-sda-
APBDK
Dinas
Kehutanan dan
Perkebunan
Dinas PU
APBDK
Dinas
Kehutanan dan
Perkebunan
Dinas PU
APBDK
Dinas
Kehutanan dan
Perkebunan
Dinas PU
APBDK
Dinas
Kehutanan dan
Perkebunan
Dinas PU
APBDK
Dinas
Kehutanan dan
Perkebunan
Dinas PU
127
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
d.
Perikanan
d.1. Meningkatkan
produksi perikanan
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
Dinas Kelautan
dan Perikanan
Dinas PU
d.2. Meningkatkan
sarana dan
prasarana
perikanan
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
Dinas Kelautan
dan Perikanan
Dinas PU
d.3. Menyusun usulan
pengembangan
tata ruang kelautan
dan perikanan
Daerah sepanjang
pesisir pantai selatan
Pulau Lombok yang
ada di Lombok
Tengah yaitu
Kecamatan Praya
Barat Daya, Praya
Barat, Pujut dan
Praya Timur
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
Dnas Kelautan
dan Perikanan
Dinas PU
d.4. Pengembangan
budidaya perikanan
darat
Kecamatan
Batukliang,
Pringgarata, Jonggat,
sebagian kecil di
Kopang, Praya dan
Praya Barat
128
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
e.
Peternakan
e.1. Meningkatkan
produksi hasil
ternak
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
Dinas PU
e.2. Pengendalian
limbah ternak agar
tidak mencemari
lingkungan dan
aliran sungai
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Dinas
Pertanian dan
Peternakan
Dinas PU
2.3. Kawasan Peruntukan
Pariwisata
a.
b.
c.
d.
Peningkatan promosi
pariwisata
Kawasan pariwisata
dan obyek-obyek
wisata di Kabupaten
Lombok Tengah
APBDK
Pengembangan
kegiatan agrowisata
Kawasan pariwisata
dan obyek-obyek
wisata di Kabupaten
Lombok Tengah
APBDK
Memantapkan
pengelolaan Kawasan
Pariwisata Kuta
Kawasan Pariwisata
Pantai Kuta
APBN,
APBDP,
APBDP
Dinas Budpar
Pemantapan dan
pengembangan obyekobyek wisata dengan
peningkatan kualitas
dengan penyediaan
sarana dan prasarana
penunjang
Kawasan pariwisata
dan obyek-obyek
wisata di Kabupaten
Lombok Tengah
APBDK
Dinas Budpar
Dinas Budpar
Bappeda
Dinas Budpar
Bappeda
Bappeda
Bappeda
129
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
e.
f.
g.
Pengembangan obyekobyek wisata potensial
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Evaluasi kebutuhan
akomodasi pariwisata
Kawasan pariwisata
dan obyek-obyek
wisata di Kabupaten
Lombok Tengah
APBDK
Mengarahkan perijinan
pemanfaatan ruang di
kawasan wisata
Kawasan pariwisata
dan obyek-obyek
wisata di Kabupaten
Lombok Tengah
APBDK
Inventarisasi potensi
geologi mineral
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Pengawasan kegiatan
eksploitasi bahan
tambang non logam
Desa Wajageseng,
Tanak Beak, Lantan,
Aik Berik, Teratak,
Karang Sidemen,
Beber, Aik Darek,
Pagutan, Bujak,
Sepakek, Bagu,
Labulia, Barejulat,
Perina, Ubung,
Gemel, Ranggagata,
Plambik, Serage,
Montong Sapah,
Montong Ajan, Batu
Jangkih, Pandan
Indah, Selong Blanak,
Kateng, Mekar Sari,
Penujak, Bonder,
APBDK
Dinas Budpar
Bappeda
Dinas Budpar
Bappeda
Dinas Budpar
Bappeda
2.4. Kawasan Peruntukan
Pertambangan
a.
b.
Dinas ESDM
Dinas PU
Dinas ESDM
Dinas PU
130
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
Ketara, Pengembur,
Tumpak, Prabu,
Rembitan, Sengkol,
Sukadana, Mertak,
Teruwai, Gapura,
Kidang, Bilelando,
Semoyang, Saba,
dan Loang Maka
c.
d.
e.
Pengawasan secara
ketat terhadap kegiatan
penggalian tambang
non logam dan
pengeboran air bawah
tanah
-sda-
APBDK
Reklamasi lahan-lahan
bekas galian
-sda-
Evaluasi/studi
kelayakan
pengembangan
kegiatan pertambangan
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Seluruh kecamatan
APBDK
Dinas ESDM
Dinas PU
APBDK
Dinas ESDM
Dinas PU
Dinas ESDM
Dinas PU
2.5. Kawasan Peruntukan
industri
a.
Pengembangan
kawasan industri mikro
dan kecil
Dinas
Perindustrian
dan
perdagangan
Bappeda
131
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
b.
Pengembangan
kawasan industri
menengah dan besar
Kecamatan Praya
Tengah, Praya Timur,
Pujut dan Janapria
APBDK
Dinas
Perindustrian
dan
perdagangan
Bappeda
2.6. Kawasan Peruntukan
Permukiman
a.
Menyusun daftar
terlarang untuk
pengembangan
kawasan perumahan
dan permukiman
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Menyusun peraturan
daerah khusus
permukiman
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
c.
Identifikasi pola-pola
permukiman perkotaan
dan perdesaan
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Bappeda
d.
Menyusun pola tata
bangunan perumahan
dan permukiman kota
dan desa
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Bappeda
e.
Menyediakan lahan
yang sesuai dengan
kriteria kesesuaian
lahan permukiman
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
Dinas PU
Pengembangan fasilitas
pendukung permukiman
Seluruh kecamatan di
Kabupaten Lombok
Tengah
APBDK
b.
f.
Dinas PU
Bappeda
Dinas PU
Bappeda
Bappeda
Dinas PU
132
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
B.
PERWUJUDAN PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS
1.
Pengelolaan kawasan strategis
dari sudut kepentingan
pertumbuhan ekonomi
1.1. Pengembangan Kawasan
Pariwisata
a.
b.
c.
d.
Promosi pariwisata
Kawasan Kuta dan
sekitarnya, Kawasan
Selong Belanak dan
sekitarnya, Kawasan
Sade dan sekitarnya
APBDP
Disbudpar
APBDK
Bappeda
Pembangunan kawasan
dan prasarana
pendukungnya
-sda-
APBDP
Disbudpar
APBDK
Bappeda
Pengelolaan kawasan
dan pengendalian tata
ruang
-sda-
APBDP
Disbudpar
APBDK
Bappeda
Penyusunan RDTR
pengembangan
kawasan
Kawasan Selong
Belanak dan
sekitarnya, Kawasan
Sade dan sekitarnya
APBDP
Disbudpar
APBDK
Bappeda
Kawasan Perkotaan
Praya
APBN,
APBDP,
Dinas PU
1.2. Pengembangan Kawasan
Perkotaan Praya dan
penyusunan RDTR
pengembangan kawasan
Bappeda
APBDK
1.3. Pengembangan Kawasan
Agropolitan Aik Meneng
a.
Penyusunan RDTR
pengembangan
kawasan
Kecamatan
Batukliang Utara,
Kopang dan Janapria
APBDP
Dinas PU
APBDK
Bappeda
133
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM - 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 - 2031
Waktu Pelaksanaan
No
Program Utama
Lokasi
Besaran
Sumber Dana
Instansi
PJM - 1
Pelaksana
2011
b.
c.
Dinas PU
APBDK
Bappeda
APBDP
Dinas PU
APBDK
Bappeda
APBN,
APBDP,
Dinas PU
APBDK
Diskanlut
Kawasan air terjun
Benang Kelambu dan
Benang Stokel di
Desa Aik Berik
Kecamatan
Batukliang Utara,
Taman Nasional
Gunung Rinjani serta
Kawasan Bendungan
Batujai dan Pengga
APBN,
Dishutbun
APBDP
Disbudpar
APBDK
Dinas PU
-sda-
APBDP
Dishutbun
APBDK
Disbudpar
-sda-
Pengelolaan kawasan
dan pengendalian tata
ruang
-sda-
1.4. Pengembanban kawasan
Minapolitan dan
penyusunan RDTR
pengembangan kawasan
2.
APBDP
Pembangunan
kawasan dan prasarana
pendukungnya
Kawasan Gerupuk
dan Awang
Bappeda
Pengelolaan kawasan strategis
dari sudut kepentingan daya
dukung lingkungan
2.1. Penyusunan RDTR
pengembangan kawasan
2.2. Perlindungan dan
rehabilitasi ekosistem
2.3. Pengelolaan kawasan dan
pengendalian tata ruang
Bappeda
Dinas PU
3.
Pengelolaan kawasan strategis
dari sudut kepentingan sosial
budaya
Situs Batu Rijan dan
sekitarnya, Makam
Srewe dan
APBDP
Disbudpar
APBDK
Bappeda
134
2012
2013
2014
2015
PJM - 2
PJM - 3
PJM – 4
2016-2021
2022 - 2026
2027 – 2031
3.1. Penyusunan RDTR
pengembangan kawasan
3.2. Perlindungan dan
pengelolaan kawasan
sekitarnya, Makam
Ketak dan sekitarnya,
situs langko dan
sekitarnya.
BUPATI LOMBOK TENGAH
ttd
H. MOH SUHAILI, FT
135
Download