TUGAS MANDIRI BERBASIS OBE ANALISIS KERUSAKAN DAN PERENCANAAN PEMELIHARAAN Jl. MOHAMMAD VAN GOBEL Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah Program Studi Teknik Sipil OLEH: NURUL AFIFAH SIDEN NIM 511422079 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2026 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat-Nya tugas ini dapat diselesaikan. Tugas ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi Ujian Akhir Semester (UAS) pada mata kuliah Manajemen Operasi dan Pemeliharaan di Program Studi Teknik Sipil. Selama penyusunan tugas ini, penulis mencoba menyusun materi berdasarkan pemahaman dari perkuliahan serta referensi yang diperoleh. Meskipun demikian, penulis menyadari bahwa isi tugas ini masih memiliki kekurangan dan belum sepenuhnya sempurna. Penulis berharap tugas ini dapat memberikan gambaran dan menambah wawasan bagi pembaca terkait topik yang dibahas. Saran dan kritik sangat diharapkan untuk meningkatkan kualitas laporan di masa mendatang. Gorontalo, April 2026 Penulis ii Pendahuluan Perkerasan jalan adalah struktur lapisan yang dibangun di atas tanah dasar (subgrade) untuk menyalurkan beban lalu lintas dari kendaraan ke tanah dasar secara aman dan efisien. Tujuan utama dari perkerasan jalan adalah untuk mendukung beban lalu lintas, memberikan kenyamanan berkendara, serta memastikan umur layanan jalan yang panjang tanpa kerusakan yang signifikan. A. Klasifikasi Jalan Klasifikasi jalan merupakan aspek penting yang pertama kali harus diidentifikasi sebelum melakukan perencanaan jalan, karena kriteria desain suatu jalan ditentukan oleh klasifikasi jalan rencana. 1. Klasifikasi Jalan Berdasarkan Sistem Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan, menyebutkan bahwa berdasarkan sistem jaringan, jalan dikelompokkan menjadi jalan dalam sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder. a. Sistem jaringan jalan primer adalah sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan sebagai prasarana distribusi barang dan/atau jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional. b. Sistem jaringan jalan sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan. 2. Klasifikasi Jalan Berdasarkan Fungsinya Berdasarkan fungsinya, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan, mengelompokkan jalan menjadi: a. Jalan arteri adalah jalan umum sesuai dengan fungsinya sebagai sarana angkutan utama dengan bercirikan sebagai prasarana pelayanan lalu lintas dengan asal- tujuan berjarak jauh, berkecepatan rata-rata tinggi, serta jalan masuk dibatasi secara berdaya guna. b. Jalan kolektor adalah jalan umum dengan fungsinya sebagai sarana angkutan 1 umum yang bercirikan sebagai prasarana pelayanan lalu-lintas dengan asal tujuan yang berjarak sedang, berkecepatan rata-rata sedang, serta jalan masuk dibatasi. c. Jalan lokal adalah jalan sesuai dengan fungsinya sebagai prasarana angkutan lokal yang dengan bercirikan sebagai pelayanan lalu lintas dengan asal-tujuan yang berjarak dekat, dan berkecepatan rata-rata rendah, serta dengan jalan masuk tidak dibatasi. d. Jalan lingkungan adalah jalan sesuai dengan fungsinya sebagai prasarana angkutan lingkungan yang bercirikan dengan pelayanan lalu lintas dengan asal tujuan yang berjarak dekat, dan berkecepatan rata-rata rendah. 3. Klasifikasi Jalan Berdasarkan Statusnya Pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan berdasarkan statusnya, jalan dikelompokkan menjadi jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota dan jalan desa. a. Jalan nasional adalah jalan yang dikelola oleh pemerintah pusat berdasarkan fungsinya meliputi jalan arteri atau jalan kolektor dari sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi dan bisa juga berupa jalan strategis nasional dan/atau jalan tol. b. Jalan provinsi adalah jalan yang dikelola oleh pemerintah provinsi yang sesuai dengan fungsinya meliputi jalan kolektor dari sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota atau antar ibukota kabupaten/kota dan bisa juga berupa jalan strategis provinsi. c. Jalan kabupaten adalah jalan yang dikelola oleh pemerintah kabupaten yang sesuai fungsinya meliputi jalan lokal dari sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, atau bisa juga jalan yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal sebagai jalan strategis kabupaten. d. Jalan kota adalah jalan yang dikelola oleh pemerintah kota dalam sistem jaringan jalan sekunder dengan fungsi menghubungkan antar pusat pelayanan 2 dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antar persil, dan menghubungkan antar pusat permukiman dalam kota. e. Jalan desa adalah jalan yang menghubungkan kawasan dan/atau antar permukiman di dalam kecamatan, serta jalan lingkungan. B. Metode SDI Surface Distress Index (SDI) merupakan skala kerusakan jalan berdasarkan pengamatan visual kerusakan jalan yang sebenarnya di lapangan. Keadaan retak pada permukaan jalan ditentukan oleh luas dan lebar retakan pada jalan tersebut. Nilai SDI dihitung dari beberapa data yang diperoleh dalam survei. Salah satu yang menjadi latar belakang dari penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap nilai SDI terkait sumber perolehan data, sistem pengolahan data serta hasil yang diperoleh. Menurut RCS atau SKJ untuk menghitung besaran nilai SDI, hanya diperlukan 4 unsur yang untuk dipergunakan sebagai dukungan yaitu: % luas retak, rata-rata lebar retak, jumlah lubang/km, dan rata-rata kedalaman rutting bekas roda. Namun, dalam pelaksanaan Road Condition Survei atau Survei Kondisi Jalan menggunakan metode SDI, terdapat empat parameter yang digunakan sebagai dasar perhitungan dalam menilai kondisi jalan. Parameter tersebut meliputi: 1. Lebar Retak (Crack Width), 2. Luas Retak (Total Area of Creacks), 3. Jumlah Lubang (Total No. Of Potholes), 4. Kedalaman Alur Ban (Tire Groove Depth) Tabel B.1 Penilaian Luas Retak No Kategori Luas Retak Nilai SDIa 1 Tidak Ada - 2 < 10% 5 3 10% – 30% 20 4 > 30% 40 (Sumber : Bina Marga, 2011) 3 Tabel 1 merupakan tabel penilaian luas retak, dimana luasan retak dihitung dalam persen terhadap luas jalan dalam interval 100 m. Misalnya luasan retak > 30% maka nilai SDIa adalah 40. Tabel B.2 Penilaian Lebar Retak No Kategori Lebar Retak Nilai SDIb 1 Tidak Ada - 2 Halus < 1 mm - 3 Sedang 1 mm – 3 mm - 4 Lebar > 3 mm Nilai SDIa x 2 (Sumber : Bina Marga, 2011) Pada tabel 2 yang dinilai adalah lebar retak masing-masing kerusakan. Ini lebih ditekankan pada kerusakan retak rambut, retak buaya dan retak pinggir. Misalnya lebar retakan > 3 mm maka nilai SDIb adalah nilai SDIa x 2. Tabel B.3 Penilaian Jumlah Lubang No Kategori Jumlah Lubang Nilai SDIc 1 Tidak Ada - 2 < 10/100 m Hasil SDIb + 15 3 10/100 m – 50/100 m Hasil SDIb + 75 4 > 50/100 m Hasil SDIb + 225 (Sumber : Bina Marga, 2011) Tabel 3 merupakan tabel penilaian jumlah lubang, dimana jumlah lubang dihitung pada interval 100 m. Misalnya jumlah lubang dalam 100 m adalah 9 maka nilai SDIc adalah nilai SDIb + 15. 4 Tabel B.4 Penilaian Bekas Roda No Kategori Bekas Roda Nilai SDId 1 Tidak Ada - 2 < 1 cm dalam Hasil SDIc + 5 x 0,5 3 1 cm dalam – 3 cm dalam Hasil SDIc + 5 x 2 4 > 3 cm dalam Hasil SDIc + 5 x 4 (Sumber : Bina Marga, 2011) Pada tabel 4 yang dinilai adalah penilaian bekas roda. Ini lebih ditekankan pada kedalaman kerusakan akibat bekas roda kendaraan. Misalnya lebar retakan > 3 cm maka nilai SDId adalah nilai SDIc + 5 x 4. C. Jenis-jenis Kerusakan Jalan Menurut Direktur Bina Marga (2011), terdapat sejumlah jenis kerusakan jalan, seperti retak, alur, lubang, tambalan, pengelupasan, pelepasan butir, kekurusan, kegemukan, permukaan rapat, dan amblas. 1. Retak (Cracks) Retak adalah suatu gejala kerusakan/ pecahnya permukaan perkerasan sehingga akan menyebabkan air pada permukaan perkerasan masuk ke lapisan dibawahnya dan hal ini merupakan salah satu faktor yang akan memperluas/menambah parah suatu kerusakan. Berdasarkan bentuknya retak dibagi menjadi : meander, garis, blok, kulit buaya dan parabola. Gambar C.1 Retak Sumber: Google LLC. 5 2. Lubang (Potholes) Kerusakan ini berbentuk seperti mangkuk yang dapat menampung dan meresapkan air pada bahu jalan.Kerusakan ini terkadang terjadi di dekat retakan atau di daerah yang drainase nya kurang baik sehingga perkerasan tergenang oleh air. Gambar C.2 Lubang Sumber: Google LLC. 3. Alur Bekas Roda (Rutting) Bentuk kerusakan ini terjadi pada lintasan roda sejajar dengan as jalan dan berbentuk alur. Kerusakan ini disebabkan oleh beban kendaraan yang berlebih sehingga menimbulkan bekas roda kendaraan. Gambar C.3 Alur Bekas Roda Sumber: Google LLC 6 D. Klasifikasi Pemeliharaan Jalan Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 13/Prt/M/2011 Tentang Tata Cara Pemeliharaan Dan Penilikan Jalan Pasal 5, yaitu dampak bencana alam. Pemeliharaan jalan itu mencangkupi: 1. Pemeliharaan Rutin Jalan Pemeliharaan rutin jalan dilakukan di ruas jalan atau sisi ruas jalan, dan bangunan pelengkap yang mempunyai beberapa standar. 2. Pemeliharaan Berkala Jalan Pemeliharaan berkala jalan dilakukan di ruas jalan atau sisi ruas jalan, dan bangunan pelengkap yang mempunyai beberapa standar. 3. Rehabilitasi Jalan Rehabilitasi jalan dilakukan di ruas jalan atau sisi ruas jalan, dan bangunan pelengkap yang mempunyai beberapa standar. 4. Rekonstruksi Jalan Rekonstruksi jalan dilakukan di ruas jalan atau sisi jalan yang berada pada kondisirusak berat. Penentuan jenis penanganan jalan dari nilai kerusakan jalan menggunakan metode Surface Distress Index (SDI), dilihat pada tabel berikut: Tabel D.1 Jenis Penanganan Jalan No Penanganan Nilai SDI 1 Pemeliharaan Rutin < 50 2 Pemeliharaan Berkala 50 – 100 3 Rehabilitasi 100 – 150 4 Rekonstruksi > 150 (Sumber: Bina Marga, 2011) 7 IDENTIFIKASI OBJEK Menurut fungsinya, Jl. Mohamad Van Gobel termasuk dalam jalan lokal yang berada di desa Poowo, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Jalan ini termasuk jalan yang sering digunakan masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari. Jalan ini memiliki lebar 3,5 m dan panjang 210 m. Panjang jalan yang ditinjau 200 m dengan membaginya menjadi 4 segmen dimana setiap segmen sepanjang 50 m. Titik lokasi ditunjukkan pada gambar berikut. Gambar 1 Lokasi Tinjauan 8 ANALISIS KERUSAKAN Dari hasil pengamatan, diketahui jenis kerusakan yang terjadi yaitu retak, lubang, dan aspal yang terkelupas. Penyebab kerusakan jalan, seperti cuaca (hujan deras), lalu lintas yang intens dan desain yang kurang baik. Tingkat kerusakan dihiting menggunakan metode SDI. Berikut perhitungan tingkat kerusakan dengan metode SDI pada Jl. Mohamad Van Gobel: Dimensi Jalan Nama Panjang Segmen Jalan (m) Segmen 1 0,5 0,5 Segmen 2 0,5 Segmen 3 0,5 Segmen 4 Total Panjang Jalan (m) Dimensi Jalan Lebar Jalan (m) 3,5 3,5 3,5 3,5 Luas Jalan (m²) 1,75 1,75 1,75 1,75 200 Data kerusakan Jalan Data Kerusakan Kerusakan 1 Segmen 1 Kerusakan 2 Kerusakan 3 Kerusakan 4 Segmen 2 Kerusakan 5 Kerusakan 6 Kerusakan 7 Segmen 3 Kerusakan 8 Kerusakan 9 Kerusakan 10 Segmen 4 Kerusakan 11 Lebar (m) 0,48 0,37 0,43 1,2 0,52 0,52 0,14 0,51 0,25 0,27 0,32 Panjang (m) 0,88 0,74 0,8 0,38 0,18 0,37 1,7 0,72 0,42 0,44 2,7 Jumlah lubang persegmen Nama Segmen Segmen 1 Segmen 2 Segmen 3 Segmen 4 Jumlah Lubang 2 3 2 1 Kategori < 10 / 100m < 10 / 100m < 10 / 100m < 10 / 100m Setelah diperoleh data kerusakan jalan dari survei secara visual di lapangan, selanjutnya dilakukan perhitungan angka kerusakan jalan yang terjadi pada setiap segmen 9 untuk mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi pada permukaan perkerasan berdasarkan nilai SDI yang telah dihitung. Nilai persentase kerusakan dihitung dengan persamaan berikut: %r = (Ar / At )*100 Keterangan: Ar = Luas rusak Jalan (m²) At = Luas total jalan (m) Persentase total kerusakan per segmen Data Seg1 Kerusakan 1 Kerusakan 2 total Persentase Lebar 0,48 0,37 0,85 Panjang 0,88 0,74 1,62 Kategori 0 0 Luas 0,4224 0,2738 0,696 39,7829% Data Seg2 Kerusakan 3 Kerusakan 4 Kerusakan 5 Kerusakan 6 Total Persentase Lebar 0,43 1,2 0,52 0,52 2,67 Panjang 0,8 0,38 0,18 0,37 1,73 Kategori 0 0 0 0 Luas 0,344 0,456 0,0936 0,1924 1,086 62% Data Seg3 Kerusakan 7 Kerusakan 8 Kerusakan 9 Total Persentase Lebar 0,14 0,51 0,25 0,9 Panjang 1,7 0,72 0,42 2,84 Kategori 0 0 0 Luas 0,238 0,3672 0,105 0,7102 41% Data Seg4 Kerusakan 10 Kerusakan 11 Total Persentase Lebar 0,27 0,32 2,2 Panjang 0,44 2,7 5,2 Kategori 0 0 Luas 0,1188 0,864 5,66 0% Luas Retak :41 % Lebar Retak : 0,9 m Lubang : 2 Bekas Roda : 0 Perhitungan nilai SDI sebagai berikut: 1. SDI1 , Luas retak = 41 % , Maka masuk dalam kategori >30% Nilai SDI 40” 2. SDI2, Lebar Retak = 0,9 m, maka masuk dalam kategori “Lebar > 3 mm, Nilai SDI1 x 2” 10 11 SDI2 = SDI1 × 2 = 40 × 2 = 80 3. SDI3, Jumlah Lubang = 2, maka masuk dalam kategori “< 10/100 m, Hasil SDI2 + 15” SDI3 = SDI2 + 15 = 80 + 15 = 95 4. SDI4, Bekas Roda = 0, maka masuk kategori “ Tidak ada” SDI4 = SDI3 + 0 =0+0 =0 Berikut hasil perhitungan nilai SDI untuk setiap segmen: Segemen 1 Segemen 2 Segemen 3 Segemen 4 Luas Retak 40 40 40 20 Perhitungan Nilai SDI per Segmen (100 m) Lebar Retak Jumlah Lubang Bekas Roda 80 95 0 80 95 0 80 95 0 40 55 0 Beriku hasil penilai untuk setiap segmen: Nama Segmen Segmen 1 Segmen 2 Segmen 3 Segmen 4 Nilai SDI 95 95 95 55 Kondisi Jalan Sedang Sedang Sedang Sedang Nilai SDI 95 95 95 55 Kondisi Sedang Sedang Sedang Sedang 12 Dokumentasi: 13 EVALUASI KEBUTUHAN PEMELIHARAN Jenis penanganan jalan berdasarkan nilai SDI dapat dilihat pada tabel berikut: Nama Segmen Segmen 1 Segmen 2 Segmen 3 Segmen 4 Nilai SDI 95 95 95 55 Kondisi Jalan Sedang Sedang Sedang Sedang Penanganan Pemeliharaan Berkala Pemeliharaan Berkala Pemeliharaan Berkala Pemeliharaan Berkala Berdasarkan dari nilai SDI pada setiap segmen per-0,50 m yang telah dihitung sebelumnya, maka dapat ditentukan jenis penanganan berdasarkan kerusakan yang ditinjau di lapangan. Jenis program penanganan pada Jl. Mohamad Van Gobel berupa pemeliharaan berkala. Adapun jenis Pemeliharaan berkala dilakukan dengan cara penambalan di seluruh lokasi lubang. 14 PERENCANAAN PEMELIHARAAN 1. Metode perbaikan Metode pemeliharaan pada jalan Jl. Mohamad Van Gobel dilakukan secara bertahap dengan lebih mengutamakan perbaikan pada bagian yang paling mempengaruhi kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan. penanganan difokuskan pada pekerjaan tambal sulam (patching) dan penutupan retak, kemudian dapat dilanjutkan dengan pelapisan ulang apabila kondisi permukaan sudah relatif merata. a. Survey Tahap awal dilakukan dengan pengecekan langsung di lapangan untuk mengetahui lokasi dan jenis kerusakan yang ada. Lubang maupun retakan yang ditemukan kemudian diberi tanda agar memudahkan saat proses perbaikan berlangsung. b. Pembersihan area Bagian jalan yang akan diperbaiki dibersihkan terlebih dahulu dari debu, air, maupun material lepas menggunakan alat sederhana atau kompresor. Tujuannya agar bahan perbaikan dapat melekat dengan baik pada permukaan jalan. c. Perbaikan lubang (patching) Area yang rusak dipotong dengan bentuk yang lebih teratur, kemudian dibersihkan dan diberi lapisan perekat. Setelah itu, lubang diisi dengan campuran aspal panas dan dipadatkan hingga permukaannya sejajar dengan jalan di sekitarnya. Mengingat jumlah lubang cukup banyak dan ukurannya besar, pekerjaan ini menjadi fokus utama. d. Perbaikan retak (Crack sealing) Retakan kecil ditangani dengan cara menutupnya menggunakan aspal cair atau bahan sealant. 15 2. Jadwal pemeliharaan NO 1 2 3 4 Kegiatan Inspeksi kondisi jalan Pembersihan drainase Perbaikan lubang (patching) Perbaikan retak kecil Waktu Pelaksanaan 1 bulan sekali 1-3 bulan sekali Dilakukan segera Setiap 6 bulan sekali 3. Estimasi biaya (RAB) No Uraian Pekerjaan 1 Pembersihan permukaan 2 Perbaikan retak 3 Tambal sulam (patching) Volume 700 200 70 Satuan m2 m m2 Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) Rp 3.520,00 Rp 2.464.000,00 Rp 5.555,00 Rp 1.111.000,00 Rp 118.910,00 Rp 8.323.700,00 Subtotal Rp 11.898.700,00 OHP 10% Rp 1.189.870,00 TOTAL Rp 13.088.570,00 Harga satuan mengacu pada kisaran AHSP yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. 4. Sumber daya No 1 2 3 Kategori Tenaga Kerja Tenaga Kerja Tenaga Kerja 4 Peralatan 5 Peralatan Jenis Sumber Daya Jumlah Satuan Keterangan Mengawasi Mandor 1 Orang pekerjaan di lapangan Operator 1 Orang Mengoperasikan alat pemadat Pembersihan, Pekerja 3-5 Orang patching, finishing Asphalt cutter Compressor / blower 1 Unit 1 Unit Memotong area lubang Membersihkan area kerja 16 6 Peralatan 7 Material 8 Material Baby roller / 1 Unit Aspal hotmix 70 m² Sealant 200 m stamper Pemadatan tambalan Tambal sulam lubang Penutup retak 17 ANALISIS EFEKTIFITAS Analisis efektivitas dilakukan untuk melihat seberapa jauh metode pemeliharaan yang diterapkan mampu memberikan hasil yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Penilaian ini tidak hanya dilihat dari biaya yang dikeluarkan, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap umur layanan jalan serta aspek keberlanjutan. 1. Efisiensi biaya Dari segi biaya, metode tambal sulam dan perbaikan retak bisa dibilang cukup efisien. Hal ini karena pekerjaan hanya difokuskan pada bagian jalan yang rusak saja, sehingga penggunaan material dan tenaga kerja tidak terlalu besar. Dibandingkan dengan overlay atau perbaikan menyeluruh, cara ini jelas lebih hemat dan lebih cocok untuk kondisi jalan yang kerusakannya belum terlalu parah. 2. Dampak umur bangunan Perbaikan yang dilakukan, terutama pada lubang dan retakan, cukup membantu dalam memperlambat kerusakan yang lebih lanjut. Dengan ditutupnya retakan, air tidak mudah masuk ke dalam lapisan jalan, sehingga struktur di bawahnya tetap terjaga. Walaupun begitu, perlu dipahami bahwa metode ini sifatnya masih sementara, jadi dalam jangka waktu tertentu tetap dibutuhkan penanganan lanjutan agar kondisi jalan tetap optimal. 3. Keberlanjutan Dilihat dari sisi keberlanjutan, metode ini cukup baik karena tidak membutuhkan pembongkaran besar. Material yang digunakan juga tidak terlalu banyak, sehingga lebih hemat sumber daya. Selain itu, pekerjaan bisa dilakukan bertahap, jadi tidak terlalu mengganggu aktivitas lalu lintas. Hal ini membuat metode pemeliharaan ini lebih praktis untuk diterapkan di jalan lokal. 18 KESIMPULAN Berdasarkan hasil perencanaan dan analisis, pemeliharaan berkala pada jalan Jl. Mohamad Van Gobel dapat dilakukan dengan metode tambal sulam dan penutupan retak karena lebih fokus pada bagian yang rusak sehingga pelaksanaannya lebih sederhana dan biaya yang dibutuhkan relatif lebih efisien. Penilaian kondisi jalan dengan metode SDI juga membantu dalam menentukan tingkat kerusakan serta jenis penanganan yang sesuai, sehingga pekerjaan yang dilakukan menjadi lebih tepat sasaran. Secara umum, metode ini cukup efektif dalam menjaga kondisi jalan dan memperlambat kerusakan lebih lanjut, meskipun sifatnya masih sementara sehingga tetap diperlukan pemeliharaan berkala untuk menentukan penanganan lanjutan seperti pelapisan ulang agar umur layanan jalan dapat dipertahankan.