Uploaded by common.user152324

Analisis Kerusakan dan Perencanaan Pemeliharaan Jalan: Studi Kasus Jl. Mohammad Van Gobel

advertisement
TUGAS MANDIRI BERBASIS OBE
ANALISIS KERUSAKAN DAN PERENCANAAN PEMELIHARAAN
Jl. MOHAMMAD VAN GOBEL
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah Program Studi Teknik Sipil
OLEH:
NURUL AFIFAH SIDEN
NIM 511422079
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2026
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat-Nya tugas ini dapat diselesaikan. Tugas ini disusun sebagai salah satu syarat
untuk memenuhi Ujian Akhir Semester (UAS) pada mata kuliah Manajemen
Operasi dan Pemeliharaan di Program Studi Teknik Sipil.
Selama penyusunan tugas ini, penulis mencoba menyusun materi
berdasarkan pemahaman dari perkuliahan serta referensi yang diperoleh. Meskipun
demikian, penulis menyadari bahwa isi tugas ini masih memiliki kekurangan dan
belum sepenuhnya sempurna.
Penulis berharap tugas ini dapat memberikan gambaran dan menambah
wawasan bagi pembaca terkait topik yang dibahas. Saran dan kritik sangat
diharapkan untuk meningkatkan kualitas laporan di masa mendatang.
Gorontalo,
April 2026
Penulis
ii
Pendahuluan
Perkerasan jalan adalah struktur lapisan yang dibangun di atas tanah dasar
(subgrade) untuk menyalurkan beban lalu lintas dari kendaraan ke tanah dasar
secara aman dan efisien. Tujuan utama dari perkerasan jalan adalah untuk
mendukung beban lalu lintas, memberikan kenyamanan berkendara, serta
memastikan umur layanan jalan yang panjang tanpa kerusakan yang signifikan.
A. Klasifikasi Jalan
Klasifikasi jalan merupakan aspek penting yang pertama kali harus
diidentifikasi sebelum melakukan perencanaan jalan, karena kriteria desain suatu
jalan ditentukan oleh klasifikasi jalan rencana.
1. Klasifikasi Jalan Berdasarkan Sistem
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang
Jalan, menyebutkan bahwa berdasarkan sistem jaringan, jalan dikelompokkan
menjadi jalan dalam sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan
sekunder.
a.
Sistem jaringan jalan primer adalah sistem jaringan jalan dengan peranan
pelayanan sebagai prasarana distribusi barang dan/atau jasa untuk
pengembangan semua wilayah di tingkat nasional.
b.
Sistem jaringan jalan sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan
peranan pelayanan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa untuk
masyarakat di dalam kawasan perkotaan.
2. Klasifikasi Jalan Berdasarkan Fungsinya
Berdasarkan fungsinya, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34
Tahun 2006 Tentang Jalan, mengelompokkan jalan menjadi:
a.
Jalan arteri adalah jalan umum sesuai dengan fungsinya sebagai sarana
angkutan utama dengan bercirikan sebagai prasarana pelayanan lalu lintas
dengan asal- tujuan berjarak jauh, berkecepatan rata-rata tinggi, serta jalan
masuk dibatasi secara berdaya guna.
b.
Jalan kolektor adalah jalan umum dengan fungsinya sebagai sarana angkutan
1
umum yang bercirikan sebagai prasarana pelayanan lalu-lintas dengan asal
tujuan yang berjarak sedang, berkecepatan rata-rata sedang, serta jalan masuk
dibatasi.
c.
Jalan lokal adalah jalan sesuai dengan fungsinya sebagai prasarana angkutan
lokal yang dengan bercirikan sebagai pelayanan lalu lintas dengan asal-tujuan
yang berjarak dekat, dan berkecepatan rata-rata rendah, serta dengan jalan
masuk tidak dibatasi.
d.
Jalan lingkungan adalah jalan sesuai dengan fungsinya sebagai prasarana
angkutan lingkungan yang bercirikan dengan pelayanan lalu lintas dengan
asal tujuan yang berjarak dekat, dan berkecepatan rata-rata rendah.
3. Klasifikasi Jalan Berdasarkan Statusnya
Pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006
Tentang Jalan berdasarkan statusnya, jalan dikelompokkan menjadi jalan
nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota dan jalan desa.
a.
Jalan nasional adalah jalan yang dikelola oleh pemerintah pusat berdasarkan
fungsinya meliputi jalan arteri atau jalan kolektor dari sistem jaringan jalan
primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi dan bisa juga berupa
jalan strategis nasional dan/atau jalan tol.
b.
Jalan provinsi adalah jalan yang dikelola oleh pemerintah provinsi yang
sesuai dengan fungsinya meliputi jalan kolektor dari sistem jaringan jalan
primer
yang
menghubungkan
ibukota
provinsi
dengan
ibukota
kabupaten/kota atau antar ibukota kabupaten/kota dan bisa juga berupa jalan
strategis provinsi.
c.
Jalan kabupaten adalah jalan yang dikelola oleh pemerintah kabupaten yang
sesuai fungsinya meliputi jalan lokal dari sistem jaringan jalan primer yang
menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar ibukota
kecamatan, atau bisa juga jalan yang menghubungkan ibukota kabupaten
dengan pusat kegiatan lokal sebagai jalan strategis kabupaten.
d.
Jalan kota adalah jalan yang dikelola oleh pemerintah kota dalam sistem
jaringan jalan sekunder dengan fungsi menghubungkan antar pusat pelayanan
2
dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan
antar persil, dan menghubungkan antar pusat permukiman dalam kota.
e.
Jalan desa adalah jalan yang menghubungkan kawasan dan/atau antar
permukiman di dalam kecamatan, serta jalan lingkungan.
B. Metode SDI
Surface Distress Index (SDI) merupakan skala kerusakan jalan berdasarkan
pengamatan visual kerusakan jalan yang sebenarnya di lapangan. Keadaan retak
pada permukaan jalan ditentukan oleh luas dan lebar retakan pada jalan tersebut.
Nilai SDI dihitung dari beberapa data yang diperoleh dalam survei. Salah satu
yang menjadi latar belakang dari penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap
nilai SDI terkait sumber perolehan data, sistem pengolahan data serta hasil yang
diperoleh.
Menurut RCS atau SKJ untuk menghitung besaran nilai SDI, hanya
diperlukan 4 unsur yang untuk dipergunakan sebagai dukungan yaitu: % luas retak,
rata-rata lebar retak, jumlah lubang/km, dan rata-rata kedalaman rutting bekas roda.
Namun, dalam pelaksanaan Road Condition Survei atau Survei Kondisi Jalan
menggunakan metode SDI, terdapat empat parameter yang digunakan sebagai
dasar perhitungan dalam menilai kondisi jalan. Parameter tersebut meliputi:
1.
Lebar Retak (Crack Width),
2.
Luas Retak (Total Area of Creacks),
3.
Jumlah Lubang (Total No. Of Potholes),
4.
Kedalaman Alur Ban (Tire Groove Depth)
Tabel B.1 Penilaian Luas Retak
No
Kategori Luas Retak
Nilai SDIa
1
Tidak Ada
-
2
< 10%
5
3
10% – 30%
20
4
> 30%
40
(Sumber : Bina Marga, 2011)
3
Tabel 1 merupakan tabel penilaian luas retak, dimana luasan retak dihitung
dalam persen terhadap luas jalan dalam interval 100 m. Misalnya luasan retak >
30% maka nilai SDIa adalah 40.
Tabel B.2 Penilaian Lebar Retak
No
Kategori Lebar Retak
Nilai SDIb
1
Tidak Ada
-
2
Halus < 1 mm
-
3
Sedang 1 mm – 3 mm
-
4
Lebar > 3 mm
Nilai SDIa x 2
(Sumber : Bina Marga, 2011)
Pada tabel 2 yang dinilai adalah lebar retak masing-masing kerusakan. Ini
lebih ditekankan pada kerusakan retak rambut, retak buaya dan retak pinggir.
Misalnya lebar retakan > 3 mm maka nilai SDIb adalah nilai SDIa x 2.
Tabel B.3 Penilaian Jumlah Lubang
No
Kategori Jumlah Lubang
Nilai SDIc
1
Tidak Ada
-
2
< 10/100 m
Hasil SDIb + 15
3
10/100 m – 50/100 m
Hasil SDIb + 75
4
> 50/100 m
Hasil SDIb + 225
(Sumber : Bina Marga, 2011)
Tabel 3 merupakan tabel penilaian jumlah lubang, dimana jumlah lubang
dihitung pada interval 100 m. Misalnya jumlah lubang dalam 100 m adalah 9
maka nilai SDIc adalah nilai SDIb + 15.
4
Tabel B.4 Penilaian Bekas Roda
No
Kategori Bekas Roda
Nilai SDId
1
Tidak Ada
-
2
< 1 cm dalam
Hasil SDIc + 5 x 0,5
3
1 cm dalam – 3 cm dalam
Hasil SDIc + 5 x 2
4
> 3 cm dalam
Hasil SDIc + 5 x 4
(Sumber : Bina Marga, 2011)
Pada tabel 4 yang dinilai adalah penilaian bekas roda. Ini lebih ditekankan
pada kedalaman kerusakan akibat bekas roda kendaraan. Misalnya lebar retakan
> 3 cm maka nilai SDId adalah nilai SDIc + 5 x 4.
C. Jenis-jenis Kerusakan Jalan
Menurut Direktur Bina Marga (2011), terdapat sejumlah jenis kerusakan jalan,
seperti retak, alur, lubang, tambalan, pengelupasan, pelepasan butir, kekurusan,
kegemukan, permukaan rapat, dan amblas.
1. Retak (Cracks)
Retak adalah suatu gejala kerusakan/ pecahnya permukaan perkerasan sehingga
akan menyebabkan air pada permukaan perkerasan masuk ke lapisan dibawahnya
dan hal ini merupakan salah satu faktor yang akan memperluas/menambah parah
suatu kerusakan. Berdasarkan bentuknya retak dibagi menjadi : meander, garis,
blok, kulit buaya dan parabola.
Gambar C.1 Retak
Sumber: Google LLC.
5
2. Lubang (Potholes)
Kerusakan ini berbentuk seperti mangkuk yang dapat menampung dan
meresapkan air pada bahu jalan.Kerusakan ini terkadang terjadi di dekat retakan
atau di daerah yang drainase nya kurang baik sehingga perkerasan tergenang oleh
air.
Gambar C.2 Lubang
Sumber: Google LLC.
3. Alur Bekas Roda (Rutting)
Bentuk kerusakan ini terjadi pada lintasan roda sejajar dengan as jalan dan
berbentuk alur. Kerusakan ini disebabkan oleh beban kendaraan yang berlebih
sehingga menimbulkan bekas roda kendaraan.
Gambar C.3 Alur Bekas Roda
Sumber: Google LLC
6
D. Klasifikasi Pemeliharaan Jalan
Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor
13/Prt/M/2011 Tentang Tata Cara Pemeliharaan Dan Penilikan Jalan Pasal 5,
yaitu dampak bencana alam. Pemeliharaan jalan itu mencangkupi:
1. Pemeliharaan Rutin Jalan
Pemeliharaan rutin jalan dilakukan di ruas jalan atau sisi ruas jalan, dan bangunan
pelengkap yang mempunyai beberapa standar.
2. Pemeliharaan Berkala Jalan
Pemeliharaan berkala jalan dilakukan di ruas jalan atau sisi ruas jalan, dan
bangunan pelengkap yang mempunyai beberapa standar.
3. Rehabilitasi Jalan
Rehabilitasi jalan dilakukan di ruas jalan atau sisi ruas jalan, dan bangunan
pelengkap yang mempunyai beberapa standar.
4. Rekonstruksi Jalan
Rekonstruksi jalan dilakukan di ruas jalan atau sisi jalan yang berada pada
kondisirusak berat.
Penentuan jenis penanganan jalan dari nilai kerusakan jalan menggunakan
metode Surface Distress Index (SDI), dilihat pada tabel berikut:
Tabel D.1 Jenis Penanganan Jalan
No
Penanganan
Nilai SDI
1
Pemeliharaan Rutin
< 50
2
Pemeliharaan Berkala
50 – 100
3
Rehabilitasi
100 – 150
4
Rekonstruksi
> 150
(Sumber: Bina Marga, 2011)
7
IDENTIFIKASI OBJEK
Menurut fungsinya, Jl. Mohamad Van Gobel termasuk dalam jalan lokal yang
berada di desa Poowo, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Jalan ini
termasuk jalan yang sering digunakan masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari.
Jalan ini memiliki lebar 3,5 m dan panjang 210 m. Panjang jalan yang ditinjau 200
m dengan membaginya menjadi 4 segmen dimana setiap segmen sepanjang 50 m.
Titik lokasi ditunjukkan pada gambar berikut.
Gambar 1 Lokasi Tinjauan
8
ANALISIS KERUSAKAN
Dari hasil pengamatan, diketahui jenis kerusakan yang terjadi yaitu retak, lubang, dan
aspal yang terkelupas. Penyebab kerusakan jalan, seperti cuaca (hujan deras), lalu lintas
yang intens dan desain yang kurang baik. Tingkat kerusakan dihiting menggunakan metode
SDI. Berikut perhitungan tingkat kerusakan dengan metode SDI pada Jl. Mohamad Van
Gobel:
Dimensi Jalan
Nama
Panjang
Segmen
Jalan (m)
Segmen 1
0,5
0,5
Segmen 2
0,5
Segmen 3
0,5
Segmen 4
Total Panjang Jalan (m)
Dimensi Jalan
Lebar
Jalan (m)
3,5
3,5
3,5
3,5
Luas
Jalan (m²)
1,75
1,75
1,75
1,75
200
Data kerusakan Jalan
Data Kerusakan
Kerusakan 1
Segmen 1
Kerusakan 2
Kerusakan 3
Kerusakan 4
Segmen 2
Kerusakan 5
Kerusakan 6
Kerusakan 7
Segmen 3 Kerusakan 8
Kerusakan 9
Kerusakan 10
Segmen 4
Kerusakan 11
Lebar (m)
0,48
0,37
0,43
1,2
0,52
0,52
0,14
0,51
0,25
0,27
0,32
Panjang (m)
0,88
0,74
0,8
0,38
0,18
0,37
1,7
0,72
0,42
0,44
2,7
Jumlah lubang persegmen
Nama
Segmen
Segmen 1
Segmen 2
Segmen 3
Segmen 4
Jumlah
Lubang
2
3
2
1
Kategori
< 10 / 100m
< 10 / 100m
< 10 / 100m
< 10 / 100m
Setelah diperoleh data kerusakan jalan dari survei secara visual di lapangan,
selanjutnya dilakukan perhitungan angka kerusakan jalan yang terjadi pada setiap segmen
9
untuk mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi
pada
permukaan
perkerasan
berdasarkan nilai SDI yang telah dihitung. Nilai persentase kerusakan dihitung dengan
persamaan berikut:
%r = (Ar / At )*100 Keterangan:
Ar = Luas rusak Jalan (m²) At =
Luas total jalan (m)
Persentase total kerusakan per segmen
Data Seg1
Kerusakan 1
Kerusakan 2
total
Persentase
Lebar
0,48
0,37
0,85
Panjang
0,88
0,74
1,62
Kategori
0
0
Luas
0,4224
0,2738
0,696
39,7829%
Data Seg2
Kerusakan 3
Kerusakan 4
Kerusakan 5
Kerusakan 6
Total
Persentase
Lebar
0,43
1,2
0,52
0,52
2,67
Panjang
0,8
0,38
0,18
0,37
1,73
Kategori
0
0
0
0
Luas
0,344
0,456
0,0936
0,1924
1,086
62%
Data Seg3
Kerusakan 7
Kerusakan 8
Kerusakan 9
Total
Persentase
Lebar
0,14
0,51
0,25
0,9
Panjang
1,7
0,72
0,42
2,84
Kategori
0
0
0
Luas
0,238
0,3672
0,105
0,7102
41%
Data Seg4
Kerusakan 10
Kerusakan 11
Total
Persentase
Lebar
0,27
0,32
2,2
Panjang
0,44
2,7
5,2
Kategori
0
0
Luas
0,1188
0,864
5,66
0%
Luas Retak :41 % Lebar
Retak : 0,9 m Lubang : 2
Bekas Roda : 0
Perhitungan nilai SDI sebagai berikut:
1. SDI1 , Luas retak = 41 % , Maka masuk dalam kategori >30% Nilai SDI
40”
2. SDI2, Lebar Retak = 0,9 m, maka masuk dalam kategori “Lebar > 3 mm, Nilai
SDI1 x 2”
10
11
SDI2 = SDI1 × 2
= 40 × 2
= 80
3. SDI3, Jumlah Lubang = 2, maka masuk dalam kategori “< 10/100 m,
Hasil SDI2 + 15”
SDI3 = SDI2 + 15
= 80 + 15
= 95
4. SDI4, Bekas Roda = 0, maka masuk kategori “ Tidak ada”
SDI4 = SDI3 + 0
=0+0
=0
Berikut hasil perhitungan nilai SDI untuk setiap segmen:
Segemen 1
Segemen 2
Segemen 3
Segemen 4
Luas Retak
40
40
40
20
Perhitungan Nilai SDI per Segmen (100 m)
Lebar Retak Jumlah Lubang Bekas Roda
80
95
0
80
95
0
80
95
0
40
55
0
Beriku hasil penilai untuk setiap segmen:
Nama
Segmen
Segmen 1
Segmen 2
Segmen 3
Segmen 4
Nilai
SDI
95
95
95
55
Kondisi
Jalan
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Nilai SDI
95
95
95
55
Kondisi
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
12
Dokumentasi:
13
EVALUASI KEBUTUHAN PEMELIHARAN
Jenis penanganan jalan berdasarkan nilai SDI dapat dilihat pada tabel berikut:
Nama
Segmen
Segmen 1
Segmen 2
Segmen 3
Segmen 4
Nilai
SDI
95
95
95
55
Kondisi
Jalan
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Penanganan
Pemeliharaan Berkala
Pemeliharaan Berkala
Pemeliharaan Berkala
Pemeliharaan Berkala
Berdasarkan dari nilai SDI pada setiap segmen per-0,50 m yang telah
dihitung sebelumnya, maka dapat ditentukan jenis penanganan berdasarkan
kerusakan yang ditinjau di lapangan. Jenis program penanganan pada Jl.
Mohamad Van Gobel berupa pemeliharaan berkala. Adapun jenis Pemeliharaan
berkala dilakukan dengan cara penambalan di seluruh lokasi lubang.
14
PERENCANAAN PEMELIHARAAN
1. Metode perbaikan
Metode pemeliharaan pada jalan Jl. Mohamad Van Gobel dilakukan secara
bertahap dengan lebih mengutamakan perbaikan pada bagian yang paling
mempengaruhi kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan. penanganan
difokuskan pada pekerjaan tambal sulam (patching) dan penutupan retak, kemudian
dapat dilanjutkan dengan pelapisan ulang apabila kondisi permukaan sudah relatif
merata.
a. Survey
Tahap awal dilakukan dengan pengecekan langsung di lapangan untuk
mengetahui lokasi dan jenis kerusakan yang ada. Lubang maupun retakan yang
ditemukan kemudian diberi tanda agar memudahkan saat proses perbaikan
berlangsung.
b. Pembersihan area
Bagian jalan yang akan diperbaiki dibersihkan terlebih dahulu dari debu, air,
maupun material lepas menggunakan alat sederhana atau kompresor. Tujuannya
agar bahan perbaikan dapat melekat dengan baik pada permukaan jalan.
c. Perbaikan lubang (patching)
Area yang rusak dipotong dengan bentuk yang lebih teratur, kemudian
dibersihkan dan diberi lapisan perekat. Setelah itu, lubang diisi dengan campuran
aspal panas dan dipadatkan hingga permukaannya sejajar dengan jalan di
sekitarnya. Mengingat jumlah lubang cukup banyak dan ukurannya besar,
pekerjaan ini menjadi fokus utama.
d. Perbaikan retak (Crack sealing)
Retakan kecil ditangani dengan cara menutupnya menggunakan aspal cair atau
bahan sealant.
15
2. Jadwal pemeliharaan
NO
1
2
3
4
Kegiatan
Inspeksi kondisi jalan
Pembersihan drainase
Perbaikan lubang (patching)
Perbaikan retak kecil
Waktu Pelaksanaan
1 bulan sekali
1-3 bulan sekali
Dilakukan segera
Setiap 6 bulan sekali
3. Estimasi biaya (RAB)
No
Uraian Pekerjaan
1 Pembersihan permukaan
2 Perbaikan retak
3 Tambal sulam (patching)
Volume
700
200
70
Satuan
m2
m
m2
Harga Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
Rp
3.520,00 Rp 2.464.000,00
Rp
5.555,00 Rp 1.111.000,00
Rp
118.910,00 Rp 8.323.700,00
Subtotal
Rp 11.898.700,00
OHP 10%
Rp 1.189.870,00
TOTAL
Rp 13.088.570,00
Harga satuan mengacu pada kisaran AHSP yang disesuaikan dengan kondisi
lapangan.
4. Sumber daya
No
1
2
3
Kategori
Tenaga
Kerja
Tenaga
Kerja
Tenaga
Kerja
4
Peralatan
5
Peralatan
Jenis Sumber
Daya
Jumlah
Satuan
Keterangan
Mengawasi
Mandor
1
Orang
pekerjaan di
lapangan
Operator
1
Orang
Mengoperasikan
alat pemadat
Pembersihan,
Pekerja
3-5
Orang
patching,
finishing
Asphalt cutter
Compressor /
blower
1
Unit
1
Unit
Memotong area
lubang
Membersihkan
area kerja
16
6
Peralatan
7
Material
8
Material
Baby roller /
1
Unit
Aspal hotmix
70
m²
Sealant
200
m
stamper
Pemadatan
tambalan
Tambal sulam
lubang
Penutup retak
17
ANALISIS EFEKTIFITAS
Analisis efektivitas dilakukan untuk melihat seberapa jauh metode
pemeliharaan yang diterapkan mampu memberikan hasil yang sesuai dengan
kondisi di lapangan. Penilaian ini tidak hanya dilihat dari biaya yang dikeluarkan,
tetapi juga dari pengaruhnya terhadap umur layanan jalan serta aspek keberlanjutan.
1. Efisiensi biaya
Dari segi biaya, metode tambal sulam dan perbaikan retak bisa dibilang cukup
efisien. Hal ini karena pekerjaan hanya difokuskan pada bagian jalan yang rusak
saja, sehingga penggunaan material dan tenaga kerja tidak terlalu besar.
Dibandingkan dengan overlay atau perbaikan menyeluruh, cara ini jelas lebih hemat
dan lebih cocok untuk kondisi jalan yang kerusakannya belum terlalu parah.
2. Dampak umur bangunan
Perbaikan yang dilakukan, terutama pada lubang dan retakan, cukup membantu
dalam memperlambat kerusakan yang lebih lanjut. Dengan ditutupnya retakan, air
tidak mudah masuk ke dalam lapisan jalan, sehingga struktur di bawahnya tetap
terjaga. Walaupun begitu, perlu dipahami bahwa metode ini sifatnya masih
sementara, jadi dalam jangka waktu tertentu tetap dibutuhkan penanganan lanjutan
agar kondisi jalan tetap optimal.
3. Keberlanjutan
Dilihat dari sisi keberlanjutan, metode ini cukup baik karena tidak
membutuhkan pembongkaran besar. Material yang digunakan juga tidak terlalu
banyak, sehingga lebih hemat sumber daya. Selain itu, pekerjaan bisa dilakukan
bertahap, jadi tidak terlalu mengganggu aktivitas lalu lintas. Hal ini membuat
metode pemeliharaan ini lebih praktis untuk diterapkan di jalan lokal.
18
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil perencanaan dan analisis, pemeliharaan berkala pada jalan
Jl. Mohamad Van Gobel dapat dilakukan dengan metode tambal sulam dan
penutupan retak karena lebih fokus pada bagian yang rusak sehingga
pelaksanaannya lebih sederhana dan biaya yang dibutuhkan relatif lebih efisien.
Penilaian kondisi jalan dengan metode SDI juga membantu dalam menentukan
tingkat kerusakan serta jenis penanganan yang sesuai, sehingga pekerjaan yang
dilakukan menjadi lebih tepat sasaran. Secara umum, metode ini cukup efektif
dalam menjaga kondisi jalan dan memperlambat kerusakan lebih lanjut, meskipun
sifatnya masih sementara sehingga tetap diperlukan pemeliharaan berkala untuk
menentukan penanganan lanjutan seperti pelapisan ulang agar umur layanan jalan
dapat dipertahankan.
Download