Uploaded by aalya3599

Adsorpsi Zat Warna Remazol Brilliant Blue R dengan Karbon Aktif

advertisement
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Nilai Absorbansi Larutan Standar pada λmaks (594 nm)
Konsentrasi (ppm)
Absorbansi
2
0,035
4
0,059
6
0,090
8
0,120
Tabel 2. Nilai Absorbansi setelah Adsorpsi
Adsorben (g)
Konsentrasi Awal
(ppm)
0,5
2
0,5
4
0,5
6
0,5
8
0,5
10
Tabel 3. Konsentrasi setelah Adsorpsi
Konsentrasi Awal (ppm)
2
4
6
8
10
Tabel 4. Jumlah yang Teradsorpsi
C0 (ppm)
Ce (ppm)
qe (mg/g)
2
6,5
-0,45
4
10,385
-0,6385
6
6,3636
-0,036
8
10,8
-0,28
10
17,937
-0,7937
Absorbansi
0,0975
0,153
0,0955
0,159
0,261
Konsentrasi Akhir (ppm)
6,5
10,385
6,3636
10,8
17,937
Ce/qe (g/L)
-14,44
-16,2647
-175
-38,57
-22,599
Log Ce
0,8129
1,0164
0,804
1,03
1,254
Log qe
0
0
0
0
0
3.2 Grafik
Adsorpsi (nm)
Konsentrasi Vs Adsorpsi
0,14
0,12
0,1
0,08
0,06
0,04
0,02
0
y = 0,0143x + 0,0045
R² = 0,997
0
2
4
6
8
Konsentrasi (ppm)
Grafik 1. Kurva Kalibrasi Deret Standar
Percobaan ini diawali dengan mengencerkan larutan Remazol Brilliant Blue R dari
konsentrasi 100 ppm menjadi konsentrasi 2 ppm,4 ppm, 6 ppm, dan 8 ppm sebagai
larutan standar dengan volume masing-masing larutan adalah 50 mL. Hal ini
dilakukan untuk menentukan konsentrasi sampel setelah adsorpsi. Larutan standar
berfungsi sebagai pembanding adsorbansi dengan larutan contoh. Pengukuran
absorbansi menggunakan alat spektronik 20D+. Berdasarkan Tabel 1, nilai
absorbansi pada larutan standar untuk konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, dan 8 ppm
secara berturut-turut adalah 0,035 nm; 0,059 nm; 0,090 nm; dan 0,120 nm.
Berdasarkan nilai tersebut dapat dilihat bahwa peningkatan konsentrasi berbanding
lurus dengan peningkatan nilai absorbansi. Seiring dengan bertambahnya
konsentrasi, nilai absorbansi yang dihasilkan juga semakin besar. Berdasarkan
Grafik 1, dapat diketahui bahwa kurva yang terbentuk adalah kurva yang bersifat
linear dengan persamaan regresi linear yaitu y = 0,0143x + 0,0045. Nilai koefisien
determinasi atau R2 adalah 0,997 yang menunjukkan adanya hubungan yang valid
antara konsentrasi zat warna.
Absorbansi (nm)
Konsentrasi Vs Absorbansi
setelah Adsorpsi
0,3
0,25
0,2
0,15
0,1
0,05
0
y = 0,0167x + 0,0533
R² = 0,6131
0
2
4
6
Konsentrasi (ppm)
8
10
Grafik 2. Hubungan antara Konsentrasi Awal dan Absorbansi setelah Adsorpsi
Larutan Remazol Brilliant Blue R digunakan dalam percobaan ini sebagai
adsorbat dan karbon aktif sebagai adsorben. Larutan Remazol Brilliant Blue R
diencerkan dari konsentrasi 100 ppm menjadi konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm,
8 ppm dan 10 ppm sebagai larutan yang akan diadsorpsi. Karbon aktif ditimbang
sebanyak 0,5 gram dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Karbon aktif digunakan
karena memiliki permukaan memiliki luas permukaan yang besar dan banyak
pori-pori sehingga mampu mengikat zat warna secara efektif. Magnetic bar
dimasukkan pada masing-masing erlenmeyer yang berisi karbon aktif. Erlenmeyer
ditutup dengan aluminium foil agar larutan tidak terkontaminasi dan tidak ada
percikan yang keluar pada saat pengadukan. Pengadukan dengan multistirrer
dilakukan agar distribusi larutan merata di seluruh larutan sehingga dapat homogen
sempurna. Proses pengadukan dilakukan bersamaan dan waktunya dihitung
menggunakan stopwatch. Hal ini bertujuan agar adsorpsi atau penyerapan warna
dari larutan memerlukan waktu yang sama sehingga daya adsorpsi pada konsentrasi
yang bervariasi dapat dibandingkan. Larutan disaring menggunakan corong Buchner
agar penyaringan larutan dapat dilakukan dengan cepat.
Pengukuran absorbansi dilakukan dengan menggunakan spektronik 20D+
dengan panjang gelombang maksimum yaitu 594 nm. Tahap yang perlu diperhatikan
setiap kali akan memasukkan larutan adalah alat harus dikalibrasi terlebih dahulu.
Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam pembacaan absorbansi. Larutan
dimasukkan ke dalam kuvet secara bergantian yang dimulai dari konsentrasi lebih
rendah terlebih dahulu agar konsentrasi larutan yang lebih besar tidak memengaruhi
konsentrasi larutan yang lebih kecil sesuai dengan prinsip ketelitian. Kuvet
dikeringkan dengan tissue sebelum dimasukkan agar tidak ada zat pengotor atau
cairan yang menempel pada dinding kuvet. Berdasarkan data dari tabel 2, dapat
diketahui bahwa nilai absorbansi awal pada konsentrasi awal 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm,
8 ppm, dan 10 ppm berturut-turut adalah 0,0975 nm; 0,153 nm; 0,0955 nm;
0,159 nm; dan 0,261 nm. Hal ini tidak sesuai dengan teori karena pada konsentrasi
6 ppm, nilai absorbansinya lebih kecil dibandingkan dengan 4 ppm. Berdasarkan
teori dapat diketahui bahwa semakin besar konsentrasi awalnya maka semakin
besar pula nilai absorbansinya. Hal ini kemungkinan terjadi karena kecepatan
pengadukan pada setiap larutan yang tidak sama dan merata sehingga
perbandingan adsorpsi larutan menjadi tidak valid. Grafik hubungan konsentrasi awal
dengan absorbansi setelah adsorpsi menghasilkan persamaan regresi y = 0,0167x
+ 0,0533 dengan R2 = 0,6131. Nilai R2 yang lebih rendah dibandingkan grafik kalibrasi
standar sebelumnya yaitu, R2 = 0,997 menunjukkan adanya ketidakteraturan kecil
dalam proses adsorpsi kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan jumlah
adsorben. Faktor lainnya seperti kualitas kabon aktif yang digunakan juga dapat
dapat mempengaruhi hasil yang diperoleh.
Berdasarkan data yang diperoleh, konsentrasi akhir untuk setiap variasi
konsentrasi awal larutan 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, dan 10 ppm secara
berturut-turut adalah 6,5 ppm ; 10,385; 6,3636; 10,8; dan 17,937 dengan efektivitas
adsorpsi masing-masing yaitu -0,45; -0,6385; -0,036; -0,28; dan -0,7937. Efektifitas
adsorpsi menunjukkan tingkat penyerapan zat warna oleh karbon aktif yang
digunakan. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa nilai konsentrasi akhir lebih
tinggi daripada konsentrasi awal. Hal ini menandakan adanya ketidaksesuaian data
yang kemungkinan disebabkan oleh kesalahan kalibrasi spektrofotometer,
pencampuran larutan yang tidak homogen, adanya kontaminasi pada larutan, atau
ketidaktepatan dalam penambahan adsorben.
Ce Vs Ce/qe
0
Ce/qe (g/L
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
-50
y = 6,5609x - 121,79
R² = 0,1994
-100
-150
-200
Ce (ppm)
Grafik 3. Kurva Isotermal Adsorpsi Langmuir
Berdasarkan kurva isotermal adsorpsi Langmuir, diperoleh nilai slope sebesar
6,5609, nilai intercept sebesar 121,79. Dari nilai slope dan intercept ini didapatkan
nilai kapasitas adsorpsi dan tetapan Langmuir. Nilai kapasitas adsorpsinya 0,1536
mg/g sedangkan nilai tetapan Langmuir yaitu 1 mg/g. Nilai koefisien determinasi (R2)
yang diperoleh adalah 0,1994. Nilai R² yang rendah menunjukkan bahwa model
Langmuir kurang sesuai dalam menggambarkan proses adsorpsi yang terjadi.
Isotermal adsorpsi Langmuir didasarkan atas asumsi bahwa adsorpsi hanya terjadi
pada lapisan tunggal (monolayer), panas adsorpsi tidak tergantung pada penutupan
permukaan dan semua situs dan permukaannya bersifat homogen. Ketidaksesuaian
ini dapat disebabkan oleh adanya interaksi antar molekul adsorbat yang tidak sesuai
dengan asumsi Langmuir.
Log qe Vs Log Ce
1
y=0
R² = #N/A
Log qe
0,8
0,6
0,4
0,2
0
0
0,5
1
Log Ce
Grafik 4. Kurva Isotermal Adsorpsi Freundlich
1,5
Analisis menggunakan model isoterm Freundlich dilakukan melalui grafik Log qe Vs
Log Ce. Persamaan isotermal adsorpsi Freundlich didasarkan atas terbentuknya
lapisan monolayer dari molekul-molekul adsorbat pada permukaan adsorben.
Namun, pada adsorpsi Freundlich keaktifannya pada permukaan adsorben bersifat
heterogen. Berdasarkan grafik 4, persamaan regresi yang dihasilkan adalah y = 0.
Grafik tersebut tidak berbentuk linear karena nilai R² ≠ 1 karena data untuk analisis
tersebut konstan. Hal ini kemungkinan terjadi karena ketidakcapaian kesetimbangan
antara adsorbat pada permukaan adsorben.
Download