UJI FITOKIMIA AKAR BAMBAN

advertisement
UJI FITOKIMIA AKAR (29):24-31
UJI FITOKIMIA AKAR BAMBAN (Donax cannaeformis)
SEBAGAI BAHAN BAKU KERAJINAN ANYAMAN
Oleh/By
LUSYIANI
Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Lambung
Mangkurat Jl. A. Yani KM 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan
ABSTRACT
This Research cover examination of fitokimia to root of Bamban upon which the
crafting/ diligence matting. Result of examination of fitokimia show at root of Bamban
contain active chemical compound in the form of alkaloid, steoid and quinon. Analyse
Activity of Antioksidan root of Bamban show concentration grow on bamban [of] [at] IC
50% compared to a vitamin E.
Key words/Kata kunci : fitokimia
Penulis untuk Korespondensi :
PENDAHULUAN
Perkembangan
ilmu
pengetahuan dan teknologi semakin
berkembang seiring perkembangan
zaman. Penelitian dibidang kesehatan
pun semakin berkembang. Salah
satunya dalam hal pengembangan obat
tradisional untuk pengobatan berbagai
penyakit. Keadaan ini didukung oleh
adanya moto ‘’back to nature’’ yang
semakin berkembang di kalangan
masyarakat khususnya di Indonesia.
Indonesia yang terkenal dengan
keragaman hayatinya telah terbukti
menyimpan banyak tumbuhan yang
berkhasiat sebagai tanaman obat.
Tumbuhan ini banyak yang terdapat
berupa tumbuhan herba, perdu maupun
tumbuhan berkayu, dimana terdapat
bagian-bagian dari tumbuhan tersebut
yang dapat dijadikan sebagai obat dan
ada pula secara keseluruhannya.
Penelitian
terhadap
kandungan
senyawa kimia aktif yang terkandung
dalam berbagai tumbuhan sebagai
senyawa yang dapat bertindak sebagai
obat kini semakin ramai dilakukan.
Pengujian
terhadap
kandungan
senyawa kimia aktif pada tumbuhan
dinamakan uji Fitokimia.
Pemanfaatan
berbagai
tumbuhan terutama jenis herba dan
perdu dibidang kehutanan masih belum
banyak dilakukan. Penelitian terhadap
pemanfaatannya pun masih sedikit.
Pemanfaatan tumbuhan dari jenis
herba maupun perdu masih terbatas
pada pemanfaatan secara sederhana,
misalnya sebagai bahan baku kerajinan
tangan yang dilakukan oleh industri
kecil sampai industri kecil menengah.
Bamban sebagai salah satu
sumber
hayati
telah
banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai
bahan baku kerajinan tangan berupa
kerajinan anyaman. Tumbuhan ini oleh
sedikit masyarakat dinilai mempunyai
khasiat obat terutama pada bagian
akarnya, yaitu sebagai obat diabetes.
Pemanfaatan tumbuhan ini khususnya
sebagai
bahan
baku
kerajinan
anyaman
kini
dirasa
semakin
berkurang. Kegiatan produksi kerajinan
anyaman dengan bahan baku batang
Bamban
dirasa
masih
belum
memanfaatkan
Bamban
secara
maksimal. Pengetahuan pemanfaatan
terhadap
tumbuhan
ini
sendiri
dikalangan masyarakat hanya sebatas
itu saja. Hal ini sangat disayangkan
karena
masih
banyak
terdapat
tumbuhan
Bamban
yang
tidak
dimanfaatkan dan hanya
dibiarkan
Jurnal Hutan Tropis Volume 11 No. 29, Edisi Maret 2010
24
UJI FITOKIMIA AKAR (29):24-31
tumbuh liar begitu saja di pinggirpinggir jalan, di sekitar pekarangan
rumah maupun di bawah tegakan
seperti
tegakan
Karet
(Hevea
brasiliensis).
. Penelitian terhadap kandungan
senyawa kimia aktif melalui uji Fitokimia
terhadap bagian tumbuhan ini (akar)
diharapkan dapat menambah informasi
pemanfaatan
tumbuhan
Bamban
sebagai potensi tumbuhan obat bagi
masyarakat
yang
belum
mengetahuinya.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui ada atau tidaknya senyawa
kimia aktif pada akar Bamban,
mengidentifikasi senyawa kimia aktif
(alkaloid, flavonoid, saponin, steroid,
triterpenoid dan quinon) pada akar
Bamban
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat bermanfaat sebagai informasi
bagi masyarakat tentang pemanfaatan
Bamban
untuk
meningkatkan
pemanfaaatannya
lebih
terpadu.
Penelitian ini juga bermanfaat sebagai
informasi potensi tumbuhan obat yang
ada di lingkungan sekitar masyarakat.
METODE PENELITIAN
Pengujian
fitokimia
akar
Bamban dilaksanakan di Laboratorium
Dasar MIPA Universitas Lambung
Mangkurat
Banjarbaru,.
Waktu
penelitian dilakukan selama ± 6 bulan
yang meliputi persiapan bahan dan
peralatan,
analisis
laboratorium,
pengambilan data untuk perhitungan
rendemen,
pengolahan
data,
penyusunan dan penulisan hasil
penelitian.
Bahan-bahan yang digunakan
dalam pengujian fitokimia akar Bamban
adalah Bagian akar Bamban, Batang
Bamban, Larutan Kloroform (CHCl3),
Asam Asetat Glacial (CH3COOH),
Asam Sulfat (H2SO4) 2 N, Asam Klorida
(HCl) 1%, Pereaksi Mayer, Pereaksi
Dragendorf, Pereaksi Wagner, Asam
Klorida (HCl) Pekat, Etanol (C2H5OH),
Amoniak (NH3), Serbuk Magnesium
(Mg), Natrium Hidroksida (NaOH) 1 N,
Peralatan
yang
digunakan
dalam penelitian adalah tabung reaksi
digunakan untuk mengamati filtrat,
Lumpang porselen digunakan untuk
menghancurkan specimen,Hot plate
digunakan untuk memanaskan air,
Waterbath
digunakan
untuk
memanaskan filtrat dalam tabung
reaksi,
Penjepit
tabung
reaksi
digunakan untuk mengangkat tabung
reaksi, Gelas ukur digunakan untuk
mengukur banyaknya bahan, Labu
erlenmeyer
digunakan
untuk
menampung hasil saringan, Gelas
becker
digunakan
untuk
tempat
aquadest, Pipet tetes digunakan untuk
memindahkan larutan ke dalam tabung
reaksi, Kertas saring digunakan untuk
menyaring filtrat, Corong digunakan
untuk
membantu
dalam
proses
penyaringan, Cawan petri digunakan
untuk
menaruh
bahan,
Crusser/penghancur digunakan untuk
menghaluskan
bahan,
Neraca/timbangan digunakan untuk
menimbang bahan, Parang digunakan
untuk mengambil bahan, Alat tulis
menulis untuk mencatat data yang
didapat,
Kamera
foto
untuk
dokumentasi.
Akar Bamban yang digunakan
dalam penelitian ini diambil dari
tumbuhan Bamban yang memiliki
diameter batang ± 3 cm.
Pembuatan simplisia dari akar
Bamban dilakukan dengan cara
sebagai berikut: akar yang telah diambil
dibersihkan dengan air, kemudian
dikeringkan dan dimasukkan ke dalam
kantong
plastik
untuk
menjaga
kesegarannya.
Sampel tersebut
dipotong
kecil-kecil
kemudian
dihaluskan hingga menjadi serbuk.
Simplisia tumbuhan Bamban
berupa akar kemudian dilakukan uji
komponen kimia aktifnya meliputi
Jurnal Hutan Tropis Volume 11 No. 29, Edisi Maret 2010
25
UJI FITOKIMIA AKAR (29):24-31
terpenoid, saponin, alkaloid, flavonoid,
steroid,
dan
quinon
dengan
menggunakan pereaksi yang sesuai.
Identifikasi senyawa aktif terdiri
dari
1) Identifikasi Terpenoid (Steroid dan
Triterpenoid)
a) Menyiapkan simplisia sebanyak
1 gram, menambahkan 2 ml
kloroform, mengocok kemudian
menyaringnya
b) Menambahkan 2 tetes asam
asetat glacial pada filtrat
c) Menambahkan 2 tetes asam
sulfat pekat dan mengamati
perubahan warna yang terjadi
d) Jika terbentuk warna hijau atau
hijau kebiruan menandakan
adanya
steroid
dan
jika
terbentuk warna merah atau
merah
ungu
menunjukkan
adanya triterpenoid.
2) Identifikasi Alkaloid
a) Menyiapkan 2 gram simplisia
kemudian menambahkan 5 ml
kloroform
b) Menambahkan NH3 sebanyak 5
ml
kemudian
dipanaskan
selama 5 menit, dikocok lalu
disaring
c) Menambahkan 5 ml asam
sulfat, kemudian dikocok
d) Mengambil bagian atas dari
filtrat dan dibagi kemudian
dimasukkan ke dalam 3 buah
tabung reaksi masing-masing
berisi filtrat tersebut
e) Menambahkan 1 – 2 tetes
pereaksi Mayer pada tabung 1,
pereaksi Wagner pada tabung
2 dan pereaksi Dragendorf
pada tabung reaksi 3
f) Adanya
alkaloid
ditandai
dengan terbentuknya endapan
berwarna putih untuk tabung 1,
endapan berwarna coklat pada
tabung
2
dan
endapan
berwarna jingga pada tabung 3.
3) Menyiapkan 1 gram simplisia dan
dimasukkan ke dalam 100 ml air
panas, mendidihkan selama 5
menit, kemudian disaring dan
difiltrat digunakan sebagai larutan
uji untuk identifikasi senyawa
saponin, flavonoid dan quinon.
4) Identifikasi Saponin
a) Memasukkan 10 ml larutan uji
ke dalam tabung reaksi dan
dikocok secara vertikal selama
10 detik
b) Membiarkan selama 10 menit
jika larutan terbentuk busa
dalam
tabung
maka
menunjukkan adanya senyawa
saponin
c) Menambahkan 1 tetes HCl 1%
agar busa tetap stabil.
5) Identifikasi Flavonoid
a) Memasukkan serbuk Mg 5 mg
dan 1 ml HCl pekat ke dalam 5
ml larutan uji
b) Menambahkan etanol lebih
kurang ½ dari larutan
c) Mengocok dengan kuat dan
membiarkan larutan hingga
memisah
d) Mengamati perubahan yang
terjadi
e) Jika terbentuk warna merahorange
dalam
etanol
menandakan adanya flavonoid.
6) Identifikasi Quinon
a) Menambahkan ± 3 tetes larutan
NaOH 1 N ke dalam 5 ml
larutan uji
b) Mengamati perubahan yang
terjadi
c) Jika terbentuk warna merah
maka menunjukkan adanya
senyawa quinon.
Data hasil uji kandungan
senyawa kimia aktif dari simplisia yang
ada dibuat tabulasi. Penulisan data
hasil pengujian yang diamati dilakukan
dengan memberi tanda positif (+) untuk
pengujian yang mengandung senyawa
kimia aktif dan sebaliknya jika senyawa
kimia aktif yang diamati tidak ada maka
ditandai dengan tanda negatif (-).
Jurnal Hutan Tropis Volume 11 No. 29, Edisi Maret 2010
26
UJI FITOKIMIA AKAR (29):24-31
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Fitokimia Akar Bamban
Hasil yang diperoleh dari
penelitian mengenai uji Fitokimia akar
Bamban dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 berisi tentang data hasil
pengamatan uji kualitatif Fitokimia akar
Bamban dengan parameter kandungan
senyawa aktif Fitokimia meliputi
alkaloid,
terpenoid
(steroid
dan
triterpenoid), flavonoid, saponin dan
quinon. Hasil pengamatan uji Fitokimia
secara kualitatif terhadap akar Bamban
dilakukan untuk mengetahui kandungan
senyawa kimia aktif yang terdapat di
dalam tumbuhan ini terutama pada
bagian akarnya. Pengetahuan terhadap
adanya kandungan senyawa kimia aktif
pada tumbuhan ini merupakan suatu
informasi yang menunjukkan bahwa
tumbuhan ini dapat dijadikan sebagai
tumbuhan obat-obatan atau tidak.
Pengamatan adanya senyawa kimia
aktif melalui uji Fitokimia dilakukan
dengan mengamati perubahan warna
dan kelarutannya pada larutan uji
melalui pereaksian dengan pereaksipereaksi yang ada maupun dengan
perlakukan-perlakuan tertentu.
Hasil pengamatan yang tertera
pada Tabel 1 menunjukkan pada
bagian akar Bamban mengandung
senyawa kimia aktif yang dapat
berfungsi
sebagai
bahan
untuk
pengobatan. Senyawa kimia aktif yang
terkandung dalam akar Bamban ini
meliputi senyawa alkaloid, terpenoid
terutama steroid, dan quinon pada akar
dan senyawa saponin dan quinon pada
umbi akar.
Hasil yang telah ada
didapat melalui pengamatan terhadap
larutan
uji
terhadap
perubahanperubahan
yang
terjadi
selama
pereaksian dengan pereaksi-pereaksi
tertentu maupun perlakuan tertentu
seperti adanya perubahan warna,
terdapatnya
endapan,
maupun
timbulnya busa.
Konsentrasi yang
terkandung
terhadap
senyawasenyawa ini sendiri memang belum
diketahui secara lebih pasti begitu pula
terhadap
spesifikasi
kandungan
senyawa–senyawa turunan yang lebih
aktif dari senyawa-senyawa yang ada
di atas mengingat pengujian yang
dilakukan sebatas pada pengujian
kualitatif terhadap senyawa-senyawa ini
melalui
metode
Fitokimia
yang
menyatakan
ada
atau
tidaknya
senyawa aktif pada sampel uji yang
ada.
Tumbuhan
Bamban
telah
dimanfaatkan
oleh
sebagian
masyarakat sebagai tumbuhan obat
terutama pada bagian akarnya yaitu
sebagai obat diabetes. Pemanfaatan
ini tidak berkembang secara baik di
masyarakat luas karena hanya sedikit
orang
yang
mengetahui
dan
menggunakannya.
Kandungan
senyawa kimia aktif berupa alkaloid,
steroid dan quinon diketahui sebagai
senyawa kimia akif yang berkhasiat
sebagai pengobat penyakit diabetes.
Pengujian Fitokimia yang telah
dilakukan terhadap akar Bamban dapat
dijadikan sebagai dasar pemanfaatan
lebih lanjut terhadap akar Bamban
sebagai obat untuk penyakit yang
lainnya. Kandungan senyawa alkaloid
dapat menjadikan akar Bamban
sebagai obat analgesik (penghilang
rasa sakit) atau anastetik, sebagai alat
perangsang
pada
sistem
syaraf
autonom,dan bahan anti kanker
(Supriyadi, 2001). Kandungan senyawa
steroid dapat dijadikan sebagai indikasi
bahwa
pada
akar
Bamban
mengandung vitamin D yang baik untuk
pertumbuhan maupun pembentukan
tulang hal ini didukung adanya
pengetahuan bahwa vitamin D memiliki
dasar struktur steroid (Dinith, 2000).
Kandungan
senyawa
quinon
menunjukkan adanya pigmen berupa
pigmen quinon yang memang biasa
terdapat pada bagian seperti akar.
Derivat atau turunan dari senyawa
quinon
ini
seperti
ubiquinon,
antraquinon, dihidrokuinol dan lainnya
merupakan antioksidan (Suhartono
E,2006).
Jurnal Hutan Tropis Volume 11 No. 29, Edisi Maret 2010
27
UJI FITOKIMIA AKAR (29):24-31
Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Uji Kualitatif Fitokimia Akar Bamban
Bagian Tumbuhan
Parameter Kandungan
No.
Hasil Uji
Sebagai Simplisia
Senyawa Kimia Aktif
Alkaloid
+
1.
2.
Akar
Umbi Akar
Terpenoid
+
Flavonoid
-
Saponin
-
Quinon
+
Alkaloid
-
Terpenoid
-
Flavonoid
-
Saponin
+
Quinon
+
Keterangan:
+ = terdapat senyawa kimia aktif
- = tidak terdapat senyawa kimia aktif.
Hasil pengamatan uji kualitatif Fitokimia simplisia yang diuji sebagai berikut:
1. Akar
a. Alkaloid: terdapat endapan berwarna putih pada larutan uji setelah direaksikan
atau ditambahkan dengan reagen (Pereaksi Wagner, Pereaksi Meyer dan
Pereaksi Dragendorf)
b. Steroid: terjadi perubahan warna menjadi warna hijau pada larutan uji
c. Triterpenoid: tidak terjadi perubahan warna menjadi warna merah pada larutan
uji
d. Flavonoid: tidak terjadi perubahan warna pada larutan uji
e. Saponin: tidak terbentuk busa setelah ditetesi HCl 1%
f. Quinon: terjadi perubahan warna menjadi warna merah pada larutan uji.
2. Umbi akar
a. Alkaloid: tidak terdapat endapan berwarna putih pada larutan uji setelah
direaksikan dengan reagen
b. Steroid: tidak terjadi perubahan warna menjadi warna hijau pada larutan uji
c. Triterpenoid: tidak terjadi perubahan warna menjadi warna merah pada larutan
uji
d. Flavonoid: tidak terjadi perubahan warna pada larutan uji
e. Saponin: terbentuk busa dan stabil setelah ditetesi HCl 1%
f. Quinon: terjadi perubahan warna menjadi warna merah pada larutan uji.
Bagian akar Bamban yang telah
dikeringkan selain dijadikan untuk
bahan
pengujian
Fitokimia
juga
digunakan sebagai bahan untuk
analisis aktivitas antioksidan (AAO)
yang terkandung di dalamnya. Analisis
terhadap AAO vitamin E ditujukan
sebagai pembanding dari hasil analisis
terhadap AAO akar Bamban. Hasil
analisis AAO akar Bamban dan vitamin
E terhadap persen konsentrasi akar
Bamban dan Vitamin E dapat dilihat
pada Tabel 2.
Jurnal Hutan Tropis Volume 11 No. 29, Edisi Maret 2010
28
UJI FITOKIMIA AKAR (29):24-31
Tabel 2. Data Analisis Aktivitas Antioksidan Terhadap Konsentrasi Akar Bamban dan
Vitamin E
Aktivitas Antioksidan
Aktivitas
Konsentrasi Bahan
No.
Akar Bamban
Antioksidan Vitamin
(%)
(%)
E (%)
1.
0.5
6,081
2,924
2.
1
11,377
6,215
3.
2
23,529
8,889
4.
4
39,310
15,517
5.
8
64,881
16,766
Analisis AAO terhadap akar
Bamban ditujukan untuk mengetahui
seberapa besar persentasi AAO
berdasarkan konsentrasi akar Bamban
terhadap radikal bebas terutama radikal
hidroksil.
Pengukuran AAO pada
dasarnya dapat dilakukan dengan tiga
cara yaitu pengukuran AAO terhadap
hidrogen peroksida (H2O2), logam Fe
dan radikal hidroksil (OH) (Suhartono
E, 2006). Pengukuran yang dilakukan
pada analisis yang ada merupakan
pengukuran
AAO
akar
Bamban
terhadap radikal hidroksil.
Berdasarkan hasil yang tertera
pada Tabel 4 menunjukkan bahwa
semakin besar konsentrasi akar
Bamban maka semakin tinggi pula
persentasi AAO akar Bamban dalam
menangkap radikal hidroksil demikian
pula halnya dengan vitamin E. Nilai
AAO akar Bamban jika dibandingkan
dengan nilai AAO vitamin E pada tabel
4, menunjukkan nilai yang lebih besar.
Hubungan antara konsentrasi (%) akar
Bamban dan Vitamin E terhadap
besarnya nilai aktivitas antioksidan (%)
dapat ditunjukkan melalui grafik yang
dapat dilihat pada gambar 1.
Grafik
hubungan
antara
konsentrasi akar Bamban dengan
persen
AAO
akar
Bamban
menunjukkan persamaan linear y =
773,42x + 5,0596 dengan nilai R2 =
0,9848. Persamaan linear yang ada
kemudian dapat menunjukkan bahwa
konsentrasi akar Bamban dalam
menangkap radikal hidroksil sebesar
50% (IC 50%) adalah 5,8106%.
Grafik
hubungan
antara
konsentrasi vitamin E dengan persen
antioksidan Vitamin E menunjukkan
persamaan garis y = 176,59 x + 4,5881
dengan nilai R2 = 0,8178. Nilai IC 50%
untuk vitamin E dari grafik dapat
diketahui sebesar 25,716%, yang
berarti bahwa konsentrasi vitamin E
dalam menangkap radikal hidroksil
sebesar 50% adalah 25,716%.
Efektivitas kerja akar Bamban
sebagai antioksidan dapat diketahui
dengan membandingkan konsentrasi
akar Bamban dengan konsentrasi
vitamin E pada IC 50%. Akar Bamban
dapat dikatakan sebagai antioksidan
yang baik jika pada IC 50% konsentrasi
akar
Bamban
lebih
rendah
dibandingkan konsentrasi Vitamin E
pada IC 50%nya. Hasil pengukuran
yang telah ada di atas telah
memperlihatkan bahwa konsentrasi
akar Bamban pada IC 50% jauh lebih
rendah dibandingkan vitamin E, hal ini
berarti akar Bamban lebih efektif dari
pada vitamin E jika digunakan sebagai
bahan antioksidan.
Pengetahuan
besarnya
dosis
atau
takaran
konsentrasi untuk pemakaian akar
Bamban yang baik bagi tubuh
diperlukan pengujian lanjutan seperti
halnya pengujian klinis terhadap akar
Bamban yang ada.
Radikal bebas dalam ilmu kimia
adalah atom atau molekul yang
mempunyai satu atau lebih elektron tak
berpasangan pada orbital terluarnya,
sedangkan oksidan adalah atom atau
molekul yang bersifat dapat menarik
elektron.
Radikal bebas juga
mempunyai sifat sebagai penarik
elektron, maka radikal bebas juga
bersifat sebagai oksidan. Tidak semua
oksidan adalah radikal bebas, namun
semua radikal bebas adalah oksidan
(Suhartono E, 2006).
Jurnal Hutan Tropis Volume 11 No. 29, Edisi Maret 2010
29
UJI FITOKIMIA AKAR (29):24-31
80
y = 773,42x + 5,0596
2
R = 0,9848
70
AAO(%
60
50
40
y = 176,59x + 4,5881
2
R = 0,8178
30
20
10
0
0%
2%
4%
6%
8%
10%
Konsentrasi Bahan (%)
Gambar 1. Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Akar Bamban (%) dan Vitamin E (%)
dengan Besarnya Nilai AAO (%)
Keterangan:
_____ = akar Bamban
_____ = Vitamin E
Antioksidan merupakan sistem
perlindungan
terhadap
kerusakan
oksidatif yang bekerja untuk melindungi
sel dan jaringan. Peran antioksidan
adalah untuk menanggulangi akibatakibat merusak dari stress oksidatif
terhadap sel, jaringan dan organ yang
terpengaruh. Macam-macam bahan
alam atau senyawa yang dapat
berperan sebagai antioksidan antara
lain vitamin C, vitamin E, β – karoten,
derivat quinon, flavonoid, dan derivat
sulfur (Suhartono E, 2006).
Antioksidan
mempunyai
manfaat yang sangat penting bagi
kehidupan karna berfungsi sebagai
penangkap atau penghambat radikal
bebas yang berbahaya bagi tubuh.
Radikal bebas seperti halnya radikal
hidroksil dapat menyerang sel dan
mengganggu pembentukkan maupun
pertumbuhan sel sehingga dapat
mengganggu perkembangan jaringanjaringan di dalam tubuh sampai pada
penyebab timbulnya sel-sel kanker.
PENUTUP
antioksidan jika dibandingkan dengan
Vitamin E
Kesimpulan
Tumbuhan Bamban terutama
pada bagian akarnya mengandung
senyawa kimia aktif yang ditunjukkan
melalui pengujian Fitokimia. Senyawa
kimia aktif yang terdapat pada akar
Bamban meliputi senyawa alkaloid,
terpenoid (terutama steroid) dan
quinon, sedangkan pada umbi akarnya
mengandung saponin dan quinon.
Akar Bamban mempunyai persen
aktivitas antioksidan terhadap radikal
hidroksil yang semakin tinggi sebanding
dengan konsentrasinya. Akar Bamban
baik
digunakan
sebagai
bahan
Saran
Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan disarankan perlu
adanya sosialisasi mengenai hasil yang
ada terutama pada pemanfaatan akar
Bamban sebagai bahan obat tradisional
dan bahan antioksidan yang baik
kepada masyarakat luas. Penelitian
lanjutan mungkin dapat dilaksanakan
terhadap
limbah
hasil
produksi
kerajinan seperti empulur maupun daun
tumbuhan
Bamban
agar
dapat
diketahui pemanfaatan yang lebih lagi
terhadap
tumbuhan
ini.
Jurnal Hutan Tropis Volume 11 No. 29, Edisi Maret 2010
30
UJI FITOKIMIA AKAR (29):24-31
DAFTAR PUSTAKA
Daintith, john. 2000. Kamus Lengkap
Kimia Edisi Baru.
Erlangga,
Jakarta.
Yayasan Pembina Fakultas
Kehutanan Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta.
Dalimartha, Setiawan dan Agriwidya.
1999. Atlas Tumbuhan Obat
Indonesia Jilid I. IKAPI, Jakarta.
Robinson, Trevor. 1995. Kandungan
Organik Tumbuhan Tinggi Edisi
6. ITB, Bogor.
Hamidah, Siti. 2002. Penanganan
Simplisia (Daun, Kulit, Batang
Dan
Kayu)
Hasil
Panen
Tanaman
Obat
Komersial.
Fakultas
Kehutanan.
Universitas
Lambung
Mangkurat, Banjarbaru.
Sjostrom, Eero. 1995. Kimia Kayu:
Dasar-Dasar Dan Penggunaan
Edisi 2.
Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Harbone, J. B. 1987. Penuntun Cara
Modern Menganalisa Tumbuhan
Terbitan Ke-2. ITB, Bogor.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna
Indonesia I. Yayasan Aksara
Wana Jaya, Jakarta.
Kartasapoetra, G. 1996. Budidaya
Tanaman
Berkhasiat
Obat.
Rineka Cipta, Jakarta.
Steenis, Van, C.G.G.J. 1978. Flora
Untuk Sekolah Di Indonesia.
PT Pradnya Paramita, Jakarta.
Suhartono E, Setiawan B.
2006.
Kapita Selekta Biokimia Radikal
Bebas,
Antioksidan
dan
Penyakit.
Pustaka Banua,
Banjarmasin.
Tjitrosoepomo, Gembong.
Morfologi Tumbuhan.
Mada
University
Yogyakarta.
2001.
Gadjah
Press,
Kasmudjo.
1992.
Dasar-Dasar
Pengolahan Minyak Kayu Putih.
Jurnal Hutan Tropis Volume 11 No. 29, Edisi Maret 2010
31
Download