BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kanker menjadi

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Penyakit kanker menjadi penyebab kematian sekitar 7 juta penduduk
dunia pada tahun 2008 dengan jumlah kasus baru pada tahun yang sama sekitar
12 juta (Boyle dan Levin, 2008).
Selama ini penanganan/pengobatan penyakit kanker dilakukan dengan
penyinaran, kemoterapi, atau kombinasi keduanya, dan pengangkatan jaringan
kanker. Pengobatan dengan penyinaran hingga kini masih belum dapat
memberikan
hasil
yang
memuaskan,
sedangkan
kemoterapi
sering
menimbulkan/menginduksi kanker primer kedua sebagai akibat dari sifat
karsinogenik yang umumnya juga dimiliki oleh senyawa yang digunakan.
Demikian juga pengangkatan jaringan kanker juga masih sering tidak sempurna
(Penn, 1986). Oleh karena itu, usaha untuk menemukan senyawa baru dengan
aktivitas antikanker yang aman dalam penggunaannya dan pengembangan teknik
penanganan penyakit kanker sangat giat dilakukan oleh industri farmasi dan
pusat-pusat riset di seluruh dunia.
Porfirin dan turunannya telah banyak dipelajari sebagai fotosensitizer
untuk terapi fotodinamik sebagai salah satu metode pengobatan kanker maupun
tumor (Bonnet, 2000; Hargus, 2005). Turunan porfirin ini memiliki toksisitas
yang rendah untuk jaringan yang sehat dan kelarutannya juga rendah dalam air
(Kralova et al., 2010). Karena keefektifan porfirin untuk PDT, namun kelarutan
Universitas Sumatera Utara
yang rendah maka beberapa penelitian banyak mensintesis turunan porfirin yang
dimodifikasi strukturnya, bentuk kationiknya serta memformulasinya dengan
suatu pembawa yang dapat meningkatkan kelarutan porfirin dalam air (Kralova
et. al. 2010; Schiavon, et al. 2000; Tjahjono, et. al., 1999, 2000).
Dari penelitian sebelumnya telah disintesis senyawa kationik porfirin
dengan meso-substituen aromatis bercincin lima, yaitu imidazolium dan
pyrazolium (Gambar 1.1).
Gambar 1.1. Struktur kimia senyawa kationik porfirin dengan meso-substituen:
(a) pyridinium, (b) imidazolium dan (c) pyrazolium; M = H 2 , Cu(II), Zn(II),
Ni(II), Mn(III) (Tjahjono, et. al., 1999, 2000).
Senyawa ini dapat memodifikasi struktur dan sifat fisik DNA melalui
interaksi non-kovalen dan sekaligus mampu memotong DNA secara selektif dan
efektif
(Tjahjono, et.al., 1999, 2000, 2001, 2006). Disamping itu senyawa
kationik porfirin telah diketahui dapat berikatan secara selektif dengan sel kanker
dan/atau DNA sel kanker dan mempunyai konstanta ikatan lebih besar dibanding
dengan DNA sel normal (Izbicka, et.al., 1999; Hurley, et.al., 2000).
Senyawa porfirin dapat dimodifikasi struktur kimianya, baik pada mesosubstituennya, atau pada pusat molekulnya dengan ion logam. Oleh karena itu
senyawa ini dengan mudah dilabel dengan radionuklida, baik pemancar γ
maupun pemancar β, sehingga senyawa turunan kationik porfirin dapat
Universitas Sumatera Utara
digunakan sebagai ligan untuk pembuatan kit radiofarmaka untuk diagnosis dan
terapi kanker. Namun demikian, karena radionuklida baik pemancar γ maupun
pemancar β, seperti
99m
Tc dan
188
Re memiliki radius atom yang cukup besar
maka koordinasi radionuklida tersebut dengan keempat inner nitrogen sangat
sulit dilakukan dan membutuhkan waktu yang lama (Tjahjono, dkk., 2006). Oleh
karena itu salah satu alternatif untuk melabel senyawa kationik porfirin adalah
dengan menambahkan atom pendonor pada substituen meso yang dapat
membentuk ikatan koordinasi dengan radionuklida tersebut, seperti struktur yang
sedang dikembangkan saat ini (Gambar I.2)
R
NH
R =
N
N
R1
R1
N
R1 =
R2
HN
OH
R
R2 = -OCH2COOH
Gambar 1.2. Modifikasi struktur senyawa kationik porfirin dengan
meso-substituen piridinium dan karboksilat
Berdasarkan pemaparan di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk
mendesain dan mensintesis senyawa porfirin dengan substituen meso yang
berbeda yang dapat dilabel dengan radionuklida pemancar  sebagai calon ligan
dalam formulasi kit radiofarmaka untuk diagnosis kanker.
Universitas Sumatera Utara
1.2 Kerangka Pikir Penelitian
Variabel bebas
Variabel terikat
Parameter
KLT:
 Harga Rf
Senyawa benzaldehid
karboksilat
Kromatografi Kolom
Rekristalisasi:
 Titik lebur
Senyawa porfirin
Senyawa piridylaldehid
Elusidasi struktur:
 Spektrofotometri
UV-Vis
 Spektrofotometri
IR
 RMI
1.3
Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang yang dijabarkan di atas, maka
rumusan masalah penelitian adalah apakah senyawa porfirin dengan substituen
meso yang memiliki gugus yang dapat dilabel dengan radionuklida dapat
disintesis untuk menjadi calon senyawa ligan yang akan dikembangkan menjadi
kit radiofarmaka untuk diagnosis kanker?
Universitas Sumatera Utara
1.4
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian di atas, maka hipotesis
penelitian adalah senyawa porfirin dengan substituen meso yang memiliki gugus
yang dapat dilabel dengan radionuklida dapat disintesis untuk menjadi calon
senyawa ligan yang akan dikembangkan menjadi kit radiofarmaka untuk
diagnosis kanker.
1.5
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mensintesis senyawa porfirin dengan
substituen meso yang yang memiliki gugus yang dapat dilabel dengan
radionuklida sebagai calon senyawa ligan yang akan dikembangkan menjadi kit
radiofarmaka untuk diagnosis kanker.
1.6
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan memberikan kontribusi yang sangat berarti
bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang
farmasi dan kedokteran, dan dalam jangka panjang diharapkan akan membantu
masyarakat dalam memperoleh kemudahan dan terjangkaunya biaya diagnosis
dan terapi kanker.
Universitas Sumatera Utara
Download