socio legal research

advertisement
SOCIO LEGAL
RESEARCH
Heru Susetyo, SH. LL.M. M.Si.
Metode Penelitian Hukum
April 2012
Penelitian Hukum
(Soetandyo Wignyosoebroto)
1. Metode dalam kajian2 hukum yang dikonsepkan sebagai
asas keadilan dalam sistem moral.
2. Metode doktrinal dalam kajian2 hukum positif
3. Kajian hukum dengan metode doktrinal dalam sistem hukum
Anglo Saxon (the Common Law System)
4. Metode dalam penelitian hukum menurut konsep sosiologis
– Socio legal method
Wacana Penelitian Hukum
(Soetandyo Wignyosoebroto)
1. Studi tentang hukum sebagai suatu model institusi
a. Kaidah sosial, kaidah hukum dan kaidah hukum negara.
b. Sosialisasi hukum sebagai proses kontrol sosial
c. Ancaman dan penerapan sanksi sebagai proses kontrol sosial
d. Lembaga pembuat, penegak dan penerapan hukum dan
tempat serta peranannya dalam sistem politik
e. Profesi hukum dan pendidikan hukum
2. Studi tentang hukum sebagai proses konflik yang dinamis
a. Ketaatan dan keefektifan hukum
b. Stratifikasi dan keefektifan sanksi hukum
c. Proses legislasi : antara regulasi dan deregulasi
d. Proses peradilan dan perilaku yudisial dalam kerangka upaya
penyelesaian konflik
e. Hukum dan revolusi
f. HAM dan konstitusionalisme dalam kehidupan hukum dan
politik
Peter M. Marzuki (2008)
• Socio Legal Research bukan Penelitian
Hukum
• Penelitian yang bersifat socio legal hanya menempatkan
hukum sebagai gejala sosial.
• Hukum dipandang dari luar saja
• Selalu mengaitkan dengan masalah sosial
• Penelitian yang menitikberatkan perilaku individu atau
masyarakat dalam kaitannya dengan hukum.
• Hukum diterapkan sebagai variabel terikat dan faktor2 non
hukum yang mempengaruhi hukum dipandang sebagai
variabel bebas.
• Menggunakan metode penelitian sosial
Penelitian
Hukum
Penelitian
Sosial
Peter M. Marzuki (2008)
• Berbeda dengan penelitian yang bersifat sosio legal yang
memandang hukum dari luar sebagai gejala sosial sematamata dan mengaitkannya dengan masalah2 sosial, di dalam
penelitian hukum yang diteliti adalah kondisi hukum secara
intrinsik, yaitu hukum sebagai sistem nilai dan hukum sebagai
norma sosial.
• Hasil yang hendak dicapai oleh penelitian hukum bukan
mencari jawaban atas efektifitas suatu hukum, pengaruh
faktor-faktor non hukum terhadap peraturan hukum.
Peter M. Marzuki (2008)
• Oleh karena itu dalam penelitian hukum tidak dikenal istilah
hipotesis, variable bebas dan terikat, data, sample atau
analisis kualitatif dan kuantitatif.
• Penelitian hukum dilakukan untuk memecahkan isu hukum
yang diajukan, Hasil yang hendak dicapai adalah memberikan
preskripsi mengenai apa yang seyogyanya.
(Simarmata, 2007)
• Eugene Ehrlich tidak melihat hukum
sebagai suatu aturan yang berada di
luar anggota-anggota masyarakat,
melainkan diwujudkan dan
diungkapkan dalam kelakuan mereka
sendiri.
• Hukum lahir dari rahim kesadaran
masyarakat akan kebutuhannya
(opinio necessitates).
HUKUM
SOSIAL
SOSIAL
HUKUM
SOSIAL
HUKUM
(Simarmata, 2007)
• Pandangan yang mencoba memisahkan hukum dengan
anasir-anasir non hukum dikembangkan oleh Hans Kelsen
(1881-1973). Menurut Kelsen, hukum harus dibuat murni
dari pengaruh-pengaruh non hukum. Kelsen menyebut
pendapatnya ini dengan Teori Hukum Murni (reine
rechtlehre). Sebelum Kelsen, tokoh aliran positivisme
hukum, adalah John Austin (1790-1859) dan Jeremy
Bentham. Keduanya berkebangsaan Inggris.
• Austin mengemukakan sebuah pernyataan yang sampai
sekarang dianggap sebagai klaim utama para legal
positivist. Pernyataan itu berbunyi: “the existence of law
is one thing, its merit or demerit is another”.
(Simarmata, 2007)
• Menurut Austin, hukum harus didefinisikan tanpa
mengaitkannya dengan moral. Austin mengartikan bahwa the
notion of law as a command of the sovereign. Itu sebabnya
Austin mengatakan hukum dikatakan positif karena
dipositifkan atau diberikan posisi tertentu oleh pihak-pihak
yang memiliki otoritas.
• Semua yang tidak merupakan perintah dari pemegang
kedaulatan bukanlah hukum. Pendapat ini kemudian
mempengaruhi pemikiran mengenai sumber hukum. Hukum
dikatakan hukum, hanya apabila berasal atau dibuat oleh
negara. Ajaran ini selanjutnya berkembang menjadi legisme
yang menganggap hukum hanyalah undang-undang..
(Simarmata, 2007)
• Selain Bentham dan Austin, seorang legal positivist lain
berkebangsaan Inggris adalah L.A. Hart.
• Menurut Hart, ada 5 pandangan positivisme hukum. Empat
diantaranya adalah:
(i) hukum adalah perintah dari pemilik kedaulatan;
(ii) tidak terdapat koneksi antara hukum dengan moral; dan
(iii) analisis atau studi mengenai makna konsep hukum untuk
membedakannya dengan studi sejarah dan sosiologi,
mengenai moral dan cita-cita sosial, dan
(iv) bahwa sistem hukum adalah sistem logika yang tertutup.
(Simarmata, 2007)
• untuk mempertanyakan formulasi pemikiran yang
dikembangkan oleh mashab positivisme hukum (legal
positivism). Bersama dengan Roscoe Pound, pemikir hukum
jebolan Universitas Harvard, Ehrlich menghidupkan kembali
pemikiran hukum yang pernah dikemukakan oleh 3 peletak
dasar ilmu sosiologi hukum, yakni Emile Durkheim, Max Weber
dan Karl Marx.
• Mereka menyangsikan khotbah-khotbah eksponen positivime
hukum yang mengatakan bahwa hukum adalah perangkat
norma yang padu, logis dan otonom dari pengaruh-pengaruh
politik, ekonomi dan buday Sebaliknya, menurut mereka
hukum berada dalam pengaruh tidak henti dari faktor-faktor
non hukum. Itu sebabnya, bagi mereka, hukum yang baik
adalah yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam
masyarakat.
(Simarmata, 2007)
• Dalam perkembanganya, kajian tentang hukum dan
masyarakat (law and society), mengubah labelnya menjadi
kajian sosial tentang hukum atau socio-legal studies.
Mengenai hal ini, Tamanaha (1997) mengemukakan hasil
pengamatannya dengan mengatakan bahwa label atau julukan
socio-legal studies juga ditujukan kepada law and society
studies. Namun, belakangan istilah yang lebih disukai adalah
socio-legal studies. Dengan demikian, istilah socio-legal studies
sinonim dengan istilah law and society studies.
(Simarmata, 2007)
• Baik kajian-kajian sosial mengenai
hukum maupun pemikiran kritis
mengenai hukum sama-sama
berasumsi bahwa hukum tidak
terletak di dalam ruang hampa.
Hukum tidak dapat eksis, dan oleh
karena itu tidak dapat dipelajari,
dalam ruang yang vakum.
(Simarmata, 2007)
• Socio-legal studies melihat hukum sebagai salah satu faktor
dalam sistem sosial yang dapat menentukan dan ditentukan.
• Ada sejumlah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
hal ini, seperti: apply social science to law, social scientific
approaches to law, disciplines that apply social scientific
perspective to study of law. Sedangkan critical legal thought,
mencoba menjelaskan hukum dengan meminjam bantuan dari
ilmu-ilmu sosial.
(Simarmata, 2007)
• Terdapat perbedaan mengenai daftar ilmu-ilmu sosial yang
dimasukkan ke dalam cakupan socio-legal studies. Sekalipun
demikian, ada 5 disiplin ilmu yang selalu masuk ke dalam
daftar tersebut, yakni sosiologi hukum, antropologi hukum,
sejarah hukum, politik hukum (hubungan politik dengan
hukum) dan psikologi hukum.
• Terus berkembangnya minat untuk mengkaji hukum
menyebabkan lahirnya disiplin-disiplin baru yang masuk ke
dalam cakupan socio-legal studies seperti administrasi publik.
Download