REVIEW PRESENTASI KELOMPOK SOSIOLOGI EKONOMI

advertisement
REVIEW PRESENTASI KELOMPOK
SOSIOLOGI EKONOMI
‘MENGUATKAN ETIKA DIDALAM TINDAKAN
KOOPERATIF DALAM BISNIS AGRIKULTUR’
B.Chikita Rosemarie
Mohana Pridayati
Ambar Arbaatun
Aulia Kusuma W.
Deamira Fathia S.
Kiki Amalia T.
Rahardian
Tangkas Saputra
Alma Karimah
Mega Indah Cinderakasih
Ratih Anggun A.
Etika Protestan kerja dan komitmen untuk bekerja telah memberikan dampak budaya
yang penting. Etos kerja berakar pada keyakinan bahwa bekerja keras, menabung, hemat, dan
kepercayaan pada Tuhan adalah bukti dari baik moral karakter. Banyak yang percaya standar
etika dan prinsip-prinsip moral telah menurun dalam beberapa tahun terakhir di Amerika
pedesaan. Beberapa faktor yang dapat menjelaskan persepsi yang etika pedesaan telah berubah.
Ini mungkin memang benar bahwa standar etika telah menurun. Beberapa juga berpendapat
bahwa standar etika tidak menurun, dan harapan sosial telah meningkat.
Pada tahun1980-an telah ditandai oleh banyak orang sebagai dekade keserakahan di mana
broker Wall Street, financial tycoons, dan leveraged buyouts sebagai ikon saat itu. Etika
merupakan hal yang lebih penting karena berada di dalam peran kehidupan masyarakat seharihari semua orang. Berbeda pandangan tentang apa yang etis, apa yang dimaksud dengan etika
perilaku, dan bagaimana etika dan moral berbeda menyarankan perhatian lebih harus dicurahkan
untuk memahami apa yang merupakan perilaku bisnis yang etis dalam dan antara koperasi.
Paradigma dalam membimbing proyek ini adalah dengan:
Ethic -> trust -> cooperation
Trust terletak di jantung kerjasama. Tanpa kepercayaan, orang tidak berkomunikasi dan,
sebagai hasilnya, kerjasama tidak mungkin dapat terjadi. Orang-orang yang bekerja sama harus
tahu dan saling percaya. Hal ini sangat sulit bagi orang untuk percaya satu sama lain kecuali
mereka berbagi komitmen prinsip-prinsip etika. Unsur penting dalam membangun kepercayaan
di antara dan antara anggota dan mereka organisasi koperasi adalah praktik bisnis yang etis.
Trust tidak terjadi begitu saja. Ini hasil dari sadar keputusan dan upaya untuk meningkatkan
hubungan manusia. Membangun kepercayaan di antara kelompok manapun adalah jangka
panjang dan usaha yang memakan waktu.
Meskipun telah ada minat banyak keberhasilan sistem manajemen Jepang di bidang
manufaktur, tetap membuat seperti lingkaran kualitas dan Total Kualitas Manajemen, dimana
banyak dari ini diandalkan bangunan kerjasama antar pekerja. Banyak penekanan ini telah atas
tim membangun melalui penciptaan kepercayaan dan loyalitas di tempat kerja.
Koperasi Loyalitas
Premis dari proyek ini adalah bahwa keanggotaan loyalitas harus dilihat sebagai hasil
atau produk dari etika bisnis yang sehat yang menciptakan iklim kepercayaan dalam koperasi.
Keanggotaan loyalitas dan partisipasi rendah dimana kepercayaan tidak ada atau di mana etika
standar belum ditetapkan atau diberlakukan. Sebaliknya, tingkat loyalitas dan partisipasi lebih
tinggi mana standar etika dan kepercayaan yang telah ditekankan.
Koperasi kekhasan
Koperasi belum sukses dalam membuat dirinya unik dan berbeda dari bentuk lain dari
organisasi bisnis atau dari satu sama lain.
Masalah Etis ditimbulkan kepada Koperasi
Anggota Koperasi sering mengungkapkan keprihatinan tentang etika dan perilaku
pengambilan keputusan di tingkat lokal, regional, dan nasional. Namun, mereka merasa tidak
mampu untuk menawarkan solusi. Dilema etis seringkali jelas dalam harga kebijakan dan
praktek, promosi penjualan, disposisi insentif penjualan, transaksi bisnis dengan kerabat dan
teman, dan kepemimpinan diabaikan dan keanggotaan tanggung jawab. Banyak dari keputusan
ini memegang penting implikasi etis atas kepercayaan keanggotaan dan loyalitas.
Koperasi, seperti usaha kecil, perusahaan besar, lembaga-lembaga sosial, dan lembaga
pemerintah, adalah berjuang dengan cara-cara untuk menciptakan lingkungan etika dan
mengembalikan keadilan, kepercayaan, dan kepercayaan. Perhatian terhadap etika bisnis telah
memainkan utama peran dalam koperasi petani membedakan dari yang lain jenis usaha dan, di
masa depan, etika akan memainkan lebih menonjol peran dalam penguatan koperasi. Loyalitas
keanggotaan akan menjadi lebih penting bagi koperasi untuk mempertahankan anggota mereka
dan untuk mempertahankan pangsa pasar di lingkungan yang semakin kompetitif.
Seiring dengan peningkatan koordinasi melalui formal kontrak atau integrasi vertikal di
bidang pertanian, sebuah kunci perhatian harus mengidentifikasi apa koperasi dapat lakukan
untuk mempertajam atau sorot komitmen mereka untuk lebih tinggi standar etika untuk
meningkatkan loyalitas keanggotaan dan meningkatkan patronase.
ETIKA DIDALAM BISNIS
Untuk melihat perilaku etika yang berkooperasi dengan perilaku bisnis sangat sulit.apa
yang disebut etika sangat bergantung pada banyak hal,diantaranya motif,metode,dan antisipasi
resiko dari keputusan yang dipilih (Henderson,1992).selain itu juga tergantung darisudut
pandang mana hal yang disebut etika itu.sangat jarang sekali terjadi kesepakatan apa yang
disebut etik dan tidak etik dalam sebuah perilaku legal,sehingga saat terjadi tindakan ‘tidak etis’
seringkali disebut sebagai tindakan tidak legal.kesepakatan mengenai apa yang disebut sebagi
tindakan etik dengan apa yang disebut tindakan tidak etik ,merupakan perubahan sudut pandang
untuk melihat suatu tindakan yang general menjadi tindakan yang spesifik (Dunn,1998).
Seringkali apa yang disebut dengan perilaku etik didalam sebuah tindakan bisnis sangat
bergantung dengan apa situasi apa yang terjadi ditengah pengambilan keputusan dan tindakan
yang menyertainya.
Mungkin seorang pemimpin yang baik didalam bisnis merupakan dia yang dapat
mengkategorikan tindakan mana yang sisebut etik atau tidak etik ,karena stiap tindakan yang
dikategotikan etik tidak hanya akan berimplikasi pada si pembuat keputusan tapi juga pada
keseluruhan anggota didalam tindakan bisnis tersebut.bukan perihal kooperatif dari yang dinilai
etis atau tidak etis tapi merupakan tindakan individu yang bersedia berasosiasi dengan keputusan
yang telah dibuat,karena keputusan bisnis yang paling kooperatif sekalipun didalamnya terdapat
pilihan tindakan yang tidak etik dari tiap individu.oleh karena itu seorang pembua keputusan
harus memiliki dasar perngertian mengenai etika bisnis dan menghindari situasi yang
menyebabkan mereka bisa mengambil keputusan terlebih dulu sehingga mereka mencegahnya
dengan terlebih dulu memahami perihal etika dari keputusan yang akan dibuat.memahami dasar
etika bisnis dan berperilaku didalam tindakan bisnis membuat seorang pengambil keputusan
lebih dapat memahami situasi kerja yang ada sehingga dapat membuat keputusan yang dapat
diterima oleh semua orang dan dikerjakan oleh semua orang.
Pemimpin bisnis memiliki posisi dan kekuatan untuk mengambil keputusan
.keputusannnya bisa dilihat sebagai etika dari para pekerjanya dan juga etika pada siapa si
pemimpin ini bekerja.oleh karena itu,seorang pengambil keputusan yang biasnaya merupakan
seorang pemimpin ,harus memilii dasar etika yangbaik mengenai dirinya secara indivisu dan
juga dasar etika mengenai bisnis yang dia kelola
KOOPERASI AGRIKULTUR DAN ETIKA BISNIS
Desa Ogata di Perfektur Akitamemiliki spesialisasi yang sangat baik dalam hal produksi
beras. Dengan produksi yang besar itu, maka Desa Ogata mempromosikan kebijakan dirinya
untuk memproduksi dan mengkonsumsi produknya sendiri. Hal ini merupakan sebuah inovasi
dalam pedesaan di Akita, yang merupakan wilayah yang paling sedikit memiliki bidang ekonomi
perdagangan, dan dianggap sebagai salah satu yang terendah tingkat ekonomi perdagangannya di
dunia, merujuk kepada laporan Global Enterpreneurship Monitor.
Perkembangan agrikultur di Ogata merrupakan hal yang unik. Pertama, desa tersebut
memiliki rancangan, dan bisa berkembang, dan menarikpetani dari bagian negara lain untuk
datang. Kedua, pembuatan desa ini merupakan proyek nasional. Pemerintah nasional
menginisiasi untuk melakukan reklamasi dan pembangunan lahan untuk membuat sawah-sawah
dan meningkatkan produksi beras, dan mereka membangun infrastruktur seperti irigasi dan jalan
sebelum membuka desa Ogata. Ketiga, agrikultur di desa Ogata lebih besar daripada kota
manapun yang ada di Jepang. Diperkirakan, sekitar 77% tenaga kerja mereka bekerja pada sektor
agrikultur. Produksi beras dari Ogata menyumbang 90% dari keseluruhan produksi di Jepang.
Terakhir,perubahan yang terjadi pada kebijakan agrikultural nasional menyebabkan enterpreneur
lokalmengembangkan pendekatan pasarnya sendiri. Secara statistik, Desa Ogata memiliki
perkembangan ekonomi yang baik. Produk kotor kota mereka pada tahun 2003 adalah sebesar
19.178 yen atau sebesar 166.765.000 US Dolar.
MENINGKATKAN PERILAKU ETIKA DALAM TINDAKAN KOPERATIF
Etika yang baik itu harus direncanakan, dan itu membutuhkan kerja sama dari
perusahaan, organisasi, managemen, maupun pekerja. Pertama, perusahaan harus bisa
mengidentifikasi tindakan yang beretika dan tidak beretika dalam kegiatan-kegiatannya. Kedua,
mereka harus memikirkan bagaimana dapat memperbaiki kondisi etikanya (manajemen etika,
identifikasi isu, klarifikasi nilai, pengambilan keputusan, dukungan organisasi, dan
commitment). Ketiga, perusahaan melakukan management etika, melalui komunikasi,
pembuatan kebijakan, dan sosialisasi. Keempat, tekankan pada para anggota tiga etika utama
yang harus selalu dipegang, yakni dapat diandalkan dan dipercayai; tidak melakukan apapun
yang membahayakan organisasi (seperti melanggar hukum); dan baik terhadap para konsumen.
Terakhir, setelah mengetahui etika-etika yang harus dilakukan, maka tugas dari perusahaan
adalah untuk membangun rasa commitment dari para anggota supaya dapat mempertahankan
etika-etika ini.
Sumber :
RBS Research Report. 1997.Strengthening ethics within agricultural cooperatives. Iowa State
University.
Download