peran tenaga kesehatan masyarakat dalam

advertisement
PERAN TENAGA KESEHATAN MASYARAKAT DALAM
MENGATASI TANTANGAN DAN PEMBERANTASAN
VEKTOR DI INDONESIA
Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM, M.Kes, Msc.Ph
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Univ. RespatiYogjakarta . PlatinumHotel Jogyakarta 23 April 2017;
Email: [email protected]
Mobile: 08164384965
OUTLINE
Latar Belakang
Ancaman Kesehatan Masyarakat
Ancaman Penyakit Menular
Rintangan dan Hambatan
Peran Ento/Epidemiolog dalam IHR
Tuntutan Program
Pengembangan Kapasitas
Ringkasan
8 TUJUAN MDGs
TUJUAN 1 : MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN
TUJUAN 2 : MENCAPAI PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUA
TUJUAN 3 : MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN
PEREMPUAN
TUJUAN 4 : MENURUNKAN KEMATIAN ANAK  SALAH SATUNYA DENGAN IMUNISASI
TUJUAN 5 : MENINGKATKAN KESEHATAN IBU
TUJUAN 6 : MENGENDALIKAN HIV DAN AIDS, MALARIA DAN PENYAKIT MENULAR LAINNYA
(TB)
TUJUAN 7 : MENJAMIN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP
TUJUAN 8 : MENGEMBANGKAN KEMITRAAN PEMBANGUNAN DI TINGKAT GLOBAL
4
TARGET SDGs SEKTOR KESEHATAN
GOAL 2
Mengakhiri kelaparan, meningkatkan status gizi dan mendorong pertanian berkelanjutan
GOAL 3
2.2. MENGAKHIRI SEGALA BENTUK MALNUTRISI, MENCAPAI TARGET GIZI INTERNASIONAL PADA TAHUN 2025
Menjamin kehidupan yang sehat dan baik untuk semua orang di segala usia
GOAL 5
3.1 MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU MENJADI 70/100.000 KH
3.2 MENGAKHIRI KEMATIAN BAYI BARU LAHIR DAN BALITA YANG DAPAT DICEGAH
3.3 MENGAKHIRI AIDS, TB, MALARIA DAN PENYAKIT TROPIS YANG MASIH TERABAIKAN, MEMERANGI HEPATITIS, PENYAKIT
BERSUMBER AIR, DAN PENYAKIT MENULAR LAINNYA
3.4 MENGURANGI SEPERTIGA KEMATIAN DINI AKIBAT PENYAKIT TIDAK MENULAR
3.7 MENJAMIN AKSES SEMESTA UNTUK YANKES SEKSUAL DAN REPRODUKSI
3.8 MENJAMIN KESEHATAN RAKYAT SEMESTA (UNIVERSAL HEALTH COVERAGE)
3.9 MENGURANGI ANGKA KEMATIAN DAN KESAKITAN AKIBAT SENYAWA BERBAHAYA DAN KONTAMINASI
3.B MENDUKUNG PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN OBAT DAN VAKSIN
3.C MENINGKATKAN PEMBIAYAAN KESEHATAN DAN PENGEMBANGAN SDM KESEHATAN
3.D MEMPERKUAT KAPASITAS PERINGATAN DINI, PENURUNAN RISIKO, DAN MANAJEMEN RISIKO KESEHATAN NASIONAL DAN
GLOBAL
Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan seluruh wanita dan perempuan
5.3 MENGHILANGKAN SEGALA PRAKTIK BERBAHAYA, SEMISAL SUNAT PEREMPUAN
5.6 MENJAMIN AKSES TERHADAP HAK KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI
5
INSIDENSI DAN PREVALENSI MALARIA MENURUT PROVINSI, 2013
KECENDERUNGAN INSIDEN MALARIA*) MENURUT PROVINSI 2007-2013
*) Kejadian malaria ≤ 1 bulan
1.36
0.75
0.68
0.67
0.54
0.50
0.49
0.48
0.46
0.46
0.36
0.31
0.29
0.25
0.16
0.09
0.09
0.08
0.08
0.07
0.06
0.04
0.02
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
Sulawesi Utara
Kalimantan Selatan
Sulawesi Tengah
Lampung
Gorontalo
Jambi
NTB
Sulawesi Tenggara
Kalimantan Tengah
Kepulauan Riau
Sumatera Utara
Sumatera Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Barat
Aceh
Kalimantan Barat
Sulawesi Selatan
Riau
Sumatera Barat
Jateng
Kalimantan Utara
DIY
Jawa Barat
Jawa Timur
DKI
Bali
Banten
2.06
Bangka Belitung
Bengkulu
Maluku Utara
5.83
0.00
Maluku
3.12
5.00
6.89
10.00
NTT
Papua Barat
0.82
27.74
28.44
30.00
Papua
INDONESIA
SITUASI MALARIA DI INDONESIA TH 2015
25.00
API Nasional 0,82 per 1000 Penduduk
20.00
15.00
PETA ENDEMISITAS MALARIA DI INDONESIA
TAHUN 2010- 2015
Populasi
No
Kabupaten/Kota
Kategori
#
%
#
%
1
Bebas Malaria
189,352,023
74.0 %
232
45.4 %
2
Endemis Rendah
39,149,810
15.3 %
147
28.8 %
3
Endemis Menengah
21,749,895
8.5 %
87
17.0 %
4
Endemis Tinggi
5,629,384
2.2 %
45
8.8 %
255,881,112
100.0 %
511
100.0 %
Total
Ancaman kesehatan masyarakat meningkat secara signifikan baik frekuensi maupun
ukuran
• New-emerging and re-emerging
disease berulang kali
berdampak pada manusia
International
Travel
2
Global
Trade
Environmental
Degradation
1
Global
Public
Health
Threat
5
• Wabah mencakup daerah yang
lebih geografis
3
Food
Safety
• Jarak waktu wabah per area
semakin pendek
• Lebih banyak populasi yang
terdampak
4 Climate
Change
• Dampaknya bukan hanya pada
kesehatan, tetapi juga sosial dan
ekonomi
ANCAMAN PENYAKIT MENULAR
Vector & rodent borne diseases
Multi drug resistance
Associated diseases
Zoonotic
diseases
Air borne diseases
Food borne
diseases
Health care associated
diseases
Sexually transmitted
diseases
WasteWater borne
diseases
Vaccine preventable
diseases
Water borne
diseases
IHR (2005)
- Mengurangi risiko penyebaran intenasional penyakit
- Mencegah, mendeteksi, menganalisis, memverifikasi,
melaporkan, dan merespon public health emergency
Outbreak
Pelabuhan
Border
crossing
Nasional
Outbreak
Bandara
Pelabuhan
Outbreak
Internasional
PERATURAN
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 374/MENKES/PER/III/2010
TENTANG
PENGENDALIAN VEKTOR
1. Vektor adalah artropoda yang dapat menularkan,memindahkah dan/atau menjadi sumber penular penyakit terhadap
manusia.
2. Pengendalian vektor adalah semua kegiatan atau tindakan yang ditujukan untuk menurunkan populasi vektor serendah
mungkin sehingga keberadaannya tidak lagi berisiko untuk terjadinya penularan penyakit tular vektor di suatu wilayah
atau menghindari kontak masyarakat dengan vektor sehingga penularan penyakit tular vektor dapat dicegah.
3. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) merupakan pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metode
pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan azas keamanan, rasionalitas dan efektifitas pelaksanaannya serta
dengan mempertimbangkan kelestarian keberhasilannya.
4. Surveilans vektor adalah pengamatan vektor secara sistematis dan terus menerus dalam hal kemampuannya sebagai
penular penyakit yang bertujuan sebagai dasar untuk memahami dinamika penularan penyakit dan upaya
pengendaliannya.
5. Dinamika Penularan Penyakit adalah perjalanan alamiah penyakit yang ditularkan vektor dan faktor-faktor yang
mempengaruhi penularan penyakit meliputi : inang (host) termasuk perilaku masyarakat, agent, dan lingkungan
TUJUAN PENGENDALIAN VEKTOR
Terselenggaranya pengendalian vektor secara terpadu untuk mengurangi
habitat perkembangbiakan vektor, menurunkan kepadatan vektor,
menghambat proses penularan penyakit, mengurangi kontak manusia
dengan vektor sehingga penularan penyakit tular vektor dapat dikendalikan
secara lebih rasional, efektif dan efisien
ISSUE UTAMA PENGENDALIAN VEKTOR
Menurunnya
efektifitas
pengendalian
vector
Meningkatnya
tingkat resistensi
insektisida
Dampak
perubahan
Lingkungan
terhadap
perubahan
perilaku vector
Pemetaan
penyebaran
vektor
Pemenuhan Kebutuhan
Tenaga Fungsional
Entomolog Kesehatan
sesuai Kompetensinya
PROGRAM PENGENDALIAN VEKTOR
MENCAKUP UPAYA-UPAYA
PENINGKATAN KETERPADUAN PROGRAM
PENGGALANGAN KEMITRAAN
PENGEMBANGAN KAJIAN IPTEK DAN OPERASIONAL PENGENDALIAN VEKTOR
PENINGKATAN DUKUNGAN PERATURAN DAN PERUNDANGAN (PERMENKES)
PENINGKATAN SUMBER DAYA (TENAGA, BIAYA DAN PERALATAN)
KEBIJAKAN PENGENDALIAN VEKTOR
PENGENDALIAN VEKTOR TERPADU (IVM) :
- Keterpaduan berbagai cara teknis pengendalian & manajerial sesuai kondisi lingkungan dan sosial masyarakat setempat
- Keterpaduan antar program dan lintas sektor
- Melibatkan peran aktif masyarakat
PENGENDALIAN VEKTOR didasarkan pada data Epidemiologi, Entomologi dan Perilaku Penduduk Setempat
Pengendalian vektor dilaksanakan sesuai dengan PROTAP
PENGGUNAAN INSEKTISIDA HARUS SESUAI KRITERIA
Penggunaan insektisida yang dilaksanakan
daerah dengan kondisi :
• Epidemi / KLB
• Intensitas penularan tinggi (HIGH
TRANSMISSITION)
• Penularan banyak terjadi di dalam rumah (malaria)
Insektisida yang digunakan harus memenuhi syarat :
• Rekomendasi WHO
• Terdaftar di KOMPES
• Mengacu pada pedoman/informasi teknis insektisida yang
diterbitkan oleh DEPKES
• Sesuai pedoman manajemen resistensi
LANGKAH-LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENGENDALIAN VEKTOR
MENGENALI SITUASI PENYAKIT
• Endemis Penyakit P2B2
• Riwayat Penyakit P2B2/Receptivitas
INDIKATOR
PREVALENSI
P2B2
Identifikasi Vektor &
Lingkungan
IDENTIFIKASI
Breeding
Feeding
Resting Places
TINGKAT
KEPADATAN
VEKTOR
REVIEW BERBAGAI CARA VEKTOR CONTROL P2B2
ALTERNATIF PILIHAN METODE VEKTOR CONTROL :
1. Manajemen Lingkungan
2. Mencegah Kontak dengan Vektor (Individu & Keluarga)
3. Biological Control
4. Chemical Control
PERENCANAAN PROGRAM
MONITORING PROGRAM
EVALUASI PENCAPAIAN INDIKATOR
TUJUAN PENURUNAN POPULASI VEKTOR & TRANSMISI P2B2 DICAPAI
TINGKAT
KERENTANAN
VEKTOR
International Health Regulation (2005) bertujuan :
untuk mencegah penyebaran
internasional penyakit tanpa adanya
gangguan pada perdagangan dan
travel
untuk mengatur langkah-langkah efektif dan
untuk menghindari intervensi yang tidak
perlu
Negara harus memiliki kegiatan prioritas
Menganalisis ukuran potensi ancaman
Kuantifikasi besarnya penyakit
Memberikan informasi untuk dasar
pengambilan keputusan kesehatan
masyarakat
• Mengerti mode penularan penyakit
•
•
•
•
Untuk melakukan tindakan yang telah disebutkan di atas, negara-negara harus memiliki sumber daya yang memadai
serta tenaga epidemiolog dengan jumlah dan kemampuan yang sesuai
TANTANGAN DALAM MENGHADAPI WABAH
Vaksin dan Obat yang selalu kurang setiap terjadi Wabah Penyakit Baru
Banyaknya data dan variabel akan membingungkan jika tidak berfokus pada pengaturan prioritas
Laboratorium untuk mengidentifikasi agen penyebab lebih menantang
Epidemiolog dan Dokter harus berkomunikasi lebih baik
Data elektronik lebih berguna untuk manajemen dan penyimpanan
Terbatasnya Sumber Daya Manusia (Entomologi/Epidemiolog)
KESENJANGAN DALAM PUBLIC HEALTH, KEMAMPUAN EPIDEMIOLOG DALAM
MEMPERKUAT KAPASITAS INTI IHR NASIONAL DAN AREA TEKNIKAL DALAM GHSA
(GLOBAL HEALTH SECURITY AGENDA)
 Pelatihan terbatas di bidang epidemiologi
 Kurangnya fasilitas untuk informasi dan akses pengetahuan terutama untuk ento& epidemiolog
di distrik terpencil
 High staff turn over in local government
 Fungsi terbatas dari organisasi profesi
 Keberadaan program untuk berbagi pengalaman dan jaringan antara negara-negara dalam
mendukung kebutuhan daerah dari MC dan sumber daya eksternal
Peran Public Health; Entomolog & Epidemiolog:
Untuk mendukung aktivitas program dalam area kapasitas inti IHR (2005) dan paket aksi GHSA
Target aktivitas program tersebut tersusun dalam road map
EPIDEMIOLOG DALAM IMPLEMENTASI IHR (2005)
Skill
Epidemiologi
Kompilasi
Analisis
Interpretasi
Annex 2 of IHR (2005)
Aksi yang
Sesuai
Verifikasi dan Notifikasi
untuk PotensialPHEIC
(Public Health
Emergency of
International Concern)
Ketepatan dan
Kualitas
Investigasi
Coordinate
Response
Kefektivan
Pengukuran
Indonesia menetapkan Target 5 tahun untuk Surveilans
Real Time untuk Memperkuat IHR (2005) & GHSA
Memperkuat indikator foundational dan sistem surveilans event-based yang dapat mendeteksi kejadian-kejadian signifikan dalam
kesehatan masyarakat, kesehatan hewan dan kesehatan security
Meningkatkan komunikasi dan kolaborasi lintas sektor dan antar provinsi, otoritas level nasional dan internasional mengenai
surveilans kejadian-kejadian signifikan dalam kesehatan masyarakat
Meningkatkan kapasitas negara dan regional untuk menganalisis dan menghubungkan data yang slaing menguatkan, sistem
surveilans real-time, termasuk interoperable, sistem pelaporan elektronik interconnected.
Meningkatkan epidemiologikal, klinikal, laboratorium, pengujian lingkungan, kualitas dan keamanan produk, dan data bioinformatik,
dan kemajuan dalam memenuhi kebutuhan kapasitas inti untuk surveilans yang sesuia dengan IHR dan standar OIC
Epidemiolog & entomolog pada setiap level (nasional, provinsi dan kabupaten) harus memiliki skill dan
kemampuan untuk mensupport dan mencapai target tersebut
DIMANA Entomolog & EPIDEMIOLOGI BERDIRI?
Mengumpulkan data distribusi dan determinan daerah, kejadian dan
populasi yang berhubungan dengan kesehatan.
Menyediakan deskripsi, trend, dan distribusi penyakit di populasi
Perubahan deteksi pada trend dan distribusi
Menginisiasi investigasi pada saat outbreak
Rekomendasi pengukuran kontrol
Mengidentifikasi karakteristik partikulat penyakit, penularan,
keterpaparan dan kejadian dalam populasi
Untuk menyediakan data dalam evaluasi program intervensi penyakit
 Merespon penyakit menular yang tersebar dalam negeri
(mapping outbreak)
TUNTUTAN
PROGRAM
EPIDEMIOLOGI &
Ento
 Profil Sistem Kesehatan Pemerintah, menuntut Sumber Daya
Epidemiolog
 Dinas Kesehatan Daerah : 512 dalam >9.321 Pusat Kesehatan
 Dinas Kesehatan Provinsi : 34
 Kementerian Kesehatan dan Unit Teknis
 Kolaborasi dan Jaringan harus ada (lingkup nasional, provinsi,
dan kabupaten)
 Terjadi kesenjangan dikarenakan terbatasnya pelatihan tiap
tahun
PERKEMBANGAN KAPASITAS
Negara-negara perlu
mengembangkan
kemampuan
epidemiolog & Ento
Perencanaan,
perkembangan,
implementasi, dan
mempertahankan
efektivitas kegiatan
berhubungan
dengan area teknis
IHR (2005) dan
GHSA
Memperkuat skill,
Mencapai
keberlanjutan
program terkait,
Menciptakan
pemimpin masa
depan khususnya
sebagai program
manajer penyakit
menular;
Framework CDC dalam Mencegah Penyakit Infeksi
Mempertahankan Hal-hal yang Penting dan Berinovasi bagi Masa Depan
Menyediakan roadmap untuk meningkatkan kemampuan kita
dalam mencegah penyakit menular melalui penguatan, sistem
kesehatan masyarakat yang multifungsi dan dapat diadaptasi
Untuk membimbing tindakan kesehatan masyarakat kolektif
apabila terjadi keterbatasan sumberdaya, dan memajukan
peluang untuk meningkatkan kesehatan nasional melalui :
Ide baru
Partnership
Inovasi
Teknis
Alat
Tervalidasi
3 ELEMEN CDC’s ID FRAMEWORK
Element 1
Menyediakan roadmap
untuk meningkatkan
kemampuan kita dalam
mencegah penyakit
menular melalui
penguatan, sistem
kesehatan masyarakat
yang multifungsi dan
dapat diadaptasi
Element 2
Identifikasi dan
implementasi
intervensi kesehatan
masyarakat high
impact untuk
mengurangi penyakit
menular
Element 3
Mengembangkan dan
memajukan kebijakan
untuk mencegah,
mendeteksi dan kontrol
penyakit menular
Contoh Aktivitas Kunci untuk Memenuhi Prioritas Elemen 1
Modernisasi Surveilans Penyakit Infeksi
• Meningkatkan koleksi dan komunikasi menurut waktu, akurat, dan surveilans data
lengkap
• Memajukan penggunaan bermakna pencatatan kesehatan elektronik
• Memajukan partnership, kebijakan dan insentif serta training untuk menambah
kapasitas laboratorium klinis untuk menguji mikroba masalah kesehatan
masyarakat
• Mengintensifkan surveilans untuk kejadian kesehatan langkah
• Menggunakan alat kesehatan IT berkembang untuk menyediakan feedback dan
peringatan cepat bagi RS, klinik, pasien dan pelayanan kesehatan masyarakat
– Menyediakan feedback untuk administrasi RS dan Dinas Kesehatan bersifat efektif (dan
cost-effectiveness) dalam praktek pencegahan penyakit menular
CONTOH AKTIVITAS KUNCI UNTUK MEMENUHI
PRIORITAS ELEMEN 1
Memperluas deteksi laboratorium dan pelaporan
• Mengembangkan, memvalidasi, dan diseminasi inovasi diagnostik
• Multi-pathogen dan tes point-of-care
• Alat dan assay baru untuk mendeteksi dan mengkarakteristikkan ancaman yang muncul
• Alat dan teknik untuk menganalisis data protein atau asam nukleat dalam jumlah besar
• Meningkatkan informasi yang berkembang antara klinisi, lab klinis, lab kesehatan masyarakat,
dan CDC
• melakukan perencanaan jangka panjang untuk memastikan Kapasitas berkelanjutan CDC sebagai
pusat referensu nasional dan global untuk semua penyakit menular
• Mengembangkan hal-hal baru dan advance dalam standar dan protokol yang telah ada mengenai
keamanan dan kecepatan transfer specimen pasien pada laboratorium klinis dan kesehatan
masyarakat
CONTOH AKTIVITAS KUNCI UNTUK MEMENUHI
PRIORITAS ELEMEN 1
Meningkatkan investigasi epidemiologi dan respon kesehatan masyarakat
Mengembangkan alat inovasi untuk investigasi wabah – memadukan teknologi baru seperti bioinformatik, alat digital portable, dan komputasi kinerja tinggi untuk meningkatkan pertukaran informasi
antar yurisdikdi
Mengembangkan pengukuran performa investigasi pre-event dan protocol (cth : protocol dalam
pengumpulan data faktor risiko, keparahan penyakit, dan informasi klinis lainnya)
Menggunakan ilmu yang didapatkan dari respon outbreak untuk memperkuat persiapan secara
keseluruhan, termasuk distribusi dan penggunaan penanggulangan emergensi medis dan pengembangan
diagnostik
Koordinasi antar CDC dan partner external untuk upaya memfasilitasi kolaborasi respon cepat untuk
outbreak penyakit menular dengan etiologi yang tidak diketahui
Prioritas untuk Elemen 2
Element 2
Identifikasi dan
implementasi
intervensi kesehatan
masyarakat high
impact untuk
mengurangi penyakit
menular
• Identifikasi dan validasi alat high-impact untuk
mengurangi penyakit
• Menggunakan alat yang telah terbukti dan
intervensi untuk menurunkan beban tinggi
penyakit menular
Perhatian Khusus Isu Penyakit Menular :
• Resisten Antimicrobial
• Chronic Viral Hepatitis
• Keamanan Makanan
• Infeksi Nosokomial
• HIV/AIDS
• Infeksi Pernafasan
• Air yang Aman
• Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Vaksin
• Zoonotic dan Penyakit Akibat Vektor
PRIORITAS UNTUK ELEMEN 3
Element 3
Mengembangkan
dan memajukan
kebijakan untuk
mencegah,
mendeteksi dan
kontrol penyakit
menular
Memastikan ketersediaan data ilmiah
untuk menunjang perkembangan
kebijakan berdasarkan bukti dan
kebijakan cost-effective
Memajukan kebijakan untuk
meningkatkan pencegahan,
deteksi dan kontrol penyakit
infeksi
Contoh Aktivitas Kunci untuk Memenuhi Prioritas Elemen 3
Memastikan ketersediaan data ilmiah untuk menunjang perkembangan
kebijakan berdasarkan bukti dan kebijakan cost-effective
Menilai beban nasional kematian tinggi akibat penyakit infeksi
Mengidentifikasi kegiatan public health dengan pengembalian investasi yang tinggi
Mengembangkan strategi untuk mendukung dan memperluas kolaborasi privat ato public dalam meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan
Menciptakan model prediktif untuk emergensi penyakit, penyebaran penyakit, respon wabah dan eliminasi penyakit
Monitoring angka dan faktor risiko untuk penyakit akibat makanan dan menginformasikan kebijakan keamanan makanan dan tindakan
pengaturan
Monitoring efektivitas strategi untuk menurunkan perilaku yang dapat meningkatkan risiko individual tehadap penyakit infeksi
CONTOH AKTIVITAS KUNCI UNTUK MEMENUHI
PRIORITAS ELEMEN 3
Kebijakan lanjut untuk meningkatkan pencegahan, deteksi dan kontrol penyakit infeksi
Kegiatan yang dapat membantu pembuatan standar dalam pencegahan penyakit,
bagian rutin dalam pelayanan kesehatan, termasuk kebijakan yang dirancang untuk
meningkatkan
• Pemberian pelayanan kesehatan dalam mendorong deteksi dini penyakit dan
pengobatan
• Praktik pelayanan kesehatan untuk mencegah infeksi nosocomial dan kejadian
merugikan lainnya akibat pelayanan kesehatan
• Pertukaran informasi kesehatan yang aman
• Proteksi terhadap pasien dan petugas pelayanan kesehatan
• Insentif bagi pelayanan dan praktek preventif
CONTOH AKTIVITAS KUNCI UNTUK MEMENUHI
PRIORITAS ELEMEN 3
Kebijakan lanjut untuk meningkatkan pencegahan, deteksi dan kontrol penyakit infeksi
Usaha untuk meningkatkan aksi komunitas/individual dalam mencegah penyakit infeksi, termasuk kebijakan
dan desain inisiatif untuk peningkatan
• Ketersediaan Informasi Kesehatan Masyarakat melalui saluran komunikasi baru
• Daya tahan komunitas selama wabah dan kejadian kesehatan masyarakat yang tidak biasa
• Memberikan layanan preventif untuk populasi berisiko dan terpinggirkan
• Pemanfaatan pelayanan klinis dan preventif bagi orang-orang yang berisiko penyakit infeksi
• Bijaksana dalam penggunaan antibiotic melalui pesan untuk pasien, orang tua, dan pelayanan kesehatan
• Mengerti kegunaan vaksin dan risiko serta bahaya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin
• Literatur Kesehatan dan pemahaman akan praktis sosial dan perilaku yang menyebabkan atau mencegah
penyebaran penyakit
RINGKASAN
• Meningkatkan dan mempertahankan skil epidemiologi adalah
hal yang esensial
• Kursus dan training yang perlu dikembangkan untuk
Epidemiolog (PH) :
– Kemampuan deskriptif dan analisis
– Kegiatan Surveilans
– Persiapan epidemik
– Investigasi Outbreak
ENAM TANGGUNG JAWAB PUBLIC HEALTH
Pencegahan epidemik & Penyebaran penyakit
Perlindungan masyarakat dari bahaya lingkungan
Pencegahan Kecelakaan
Promosi & Mendorong perubahan perilaku sehat
Respon cepat terhadap bencana & membantu masyarakat dalam tahap
pemulihan
Memastikan ketersediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau,
mudah diakses.
Download