Uploaded by User97964

ASKEP GNA

advertisement
MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN Glomerulonefritis akut
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
DosenPengampu : , S. Kep., Ns., M. Kep
Disusun oleh :Kelompok 1
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Nama
Yoga Zainul Mustofa
Siska Fitri
Rahmadhani
Novita Sari
Rofiatul Fikria
Jeane
Eka Sri Hartina
NIM
166315
16631548
16631561
16631574
166315
166315
PRODI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
2018
KATA PENGANTAR
Pujisyukurkehadirat
Allah
swt.yangtelahmemberikanrahmat,
taufik,
sertahidayahNyasehinggapenulisdapatmenyelesaikantugaspenyusunanmakalahdenganjudul“Asuh
an Keperawatan Pasien Dengan Glomerulonefritis akut ” sesuaidenganwaktu yang
sudahdisediakan.
Makalahiniditulisuntukmemenuhitugasmatakuliah.
Maka
kami
mengucapkanterimakasihkepada :
1. ,
S. Kep., Ns., M. Kepselakudosenpembimbing kami yang
memberikandorongandanmasukan. serta
2. Orang tuadanteman-teman yang memberikando’adandukungankepada kami.
Kami
menyadaribahwadalammakalahinimasihbanyakkekurangan.
kritikdan
saran
yang
Olehkarenaitu,
bersifatmembangunsangat
harapkan.Semogamakalahinibermanfaatbagisemuapihak.
Ponorogo, 30 Desember 2018
Penulis
kami
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang ............................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 2
C. Tujuan ....................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi ...................................................................................................................... 3
B. .................................................................................................................................... 3
C. .................................................................................................................................... 7
D. .................................................................................................................................... 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................................. 11
B. Saran ........................................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Glomerulonefritis akut merupakan penyakit ginjal noninfeksius yang paling umum
pada masa kanak-kanak, glomerulonefritis akut memengaruhi glomerulus dan laju
filtrasi ginjal, yang menyebabkan retensi natrium dan air, serta hipertensi. Biasanya
disebabkan oleh reaksi terhadap infeksi streptokokus, penyakit ini jarang memiliki efek
jangka panjang pada system ginjal. (Kathhleen, 2008)
Glomerulonefritis akut memengaruhi anak laki-laki lebih sering daripada anak
perempuan, dan biasanya terjadi pada usia sekitar 6 tahun. Terapi yang biasa diberikan
mencakup pemberian antibiotic, antihipertensi, dan diuretic juga restriksi diet.
Komplikasi potensial meliputi hipertensi, gagal jantung kongestif, dan penyakit ginjal
tahap akhir.
Di Indonesia tahun 1980, Glomerulonefritis menempati urutan pertama sebagai
penyebab penyakit ginjal tahap akhir dan meliputi 55% penderita yang mengalami
hemodialisis. (Kathhleen, 2008).
Insidens tidak dapat diketahui dengan tepat, diperkirakan jauh lebih tinggi dari data
statistik yang dilaporkan oleh karena banyaknya pasien yang tidak menunjukkan gejala
sehingga tidak terdeteksi. Kaplan memperkirakan separuh pasien glomerulonefritis
akut pascastreptokok pada suatu epidemi tidak terdeteksi.
Glomerulonefritis akut pascastreptokok terutama menyerang anak pada masa awal usia
sekolah dan jarang menyerang anak di bawah usia 3 tahun. Perbandingan antara anak
laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Hasil penelitian multicentre di Indonesia pada
tahun 1988, melaporkan terdapat 170 pasien yang dirawat di rumah sakit pendidikan
dalam 12 bulan. Pasien terbanyak dirawat di Surabaya (26,5%), kemudian disusul
berturut-turut di Jakarta (24,7%), Bandung (17,6%) dan Palembang (8,2%). Pasien laki-
laki dan perempuan berbanding 1,3:1 dan terbanyak menyerang anak pada usia antara
6-8 tahun (40,6%).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Glomerulonefritis akut ?
2. Bagaimana konsep askep Glomerulonefritis akut ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui maksud dari Glomerulonefritis akut
2. Untuk mengetahui konsep askep Glomerulonefritis akut
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Definisi
Glomerulonefritis akut merupakan penyakit ginjal noninfeksius yang paling
umum pada masa kanak-kanak, glomerulonefritis akut memengaruhi
glomerulus dan laju filtrasi ginjal, yang menyebabkan retensi natrium dan air,
serta hipertensi. Biasanya disebabkan oleh reaksi terhadap infeksi streptokokus,
penyakit ini jarang memiliki efek jangka panjang pada system ginjal.
(Kathhleen, 2008).
Glomerulonefritis akut memengaruhi anak laki-laki lebih sering daripada anak
perempuan, dan biasanya terjadi pada usia sekitar 6 tahun. Terapi yang biasa
diberikan mencakup pemberian antibiotic, antihipertensi, dan diuretic juga
restriksi diet. Komplikasi potensial meliputi hipertensi, gagal jantung kongestif,
dan penyakit ginjal tahap akhir.
GNA adalah suatu reaksi imunnologi pada ginjal terhadap bakteri atau virus
tertentu. Yang sering ialah infeksi karna kuman streptococcus. Data ini sering
ditemukan pada anak berumur antara 3-7 tahun dan lebih sering mengenai anak
pria dibanding anak perempuan. GNA didahului oleh adanya infeksi ekstra
renal terutama di traktus respiratorius bagian atas atau kulit oleh kuman
streptococcus beta hemolyticus golongan A, tipe 12, 4, 16, 25, dan 40.
Hubungan antara GNA dan infeksi streptococcus ini ditemukan pertama kali
oleh Lohlein pada tahun 1907 dengan alasan bahwa:
1. Timbulnya GNA setelah terjadinya infeksi skarlatina
2. Diisolasinya kuman streptococcus beta hemolyticus golongan A
3. Meningkatnya titer anti streptolisin pada serum pasien.
Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah istilah yang secara luas digunakan yang
mengacu pada sekelompok penyakit ginjal dimana inflamasi terjadi di glomerulus.
(Brunner & Suddarth, 2001).
Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah bentuk nefritis yang paling sering pada
masa kanak-kanak dimana yang menjadi penyebab spesifik adalah infeksi
streptokokus. (Sacharin, Rosa M, 1999).
GNA adalah reaksi imunologi pada ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu. Yang
sering terjadi ialah akibat infeksi kuman streptococcus, sering ditemukan pada usia
3-7 tahun. (Kapita Selecta, 2000)
Kesimpulan, Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah suatu reaksi imunologis ginjal
terhadap bakteri / virus tertentu. Yang sering terjadi ialah akibat infeksi kuman
streptococcus, sering ditemukan pada usia 3-7 tahun.
B. Etiologi
Hubungan antara GNA dan infeksi streptococcus ini ditemukan pertama kali oleh
Lohlein pada tahun 1907 dengan alasan bahwa:
1. Timbulnya GNA setelah terjadinya infeksi skarlatina
2. Diisolasinya kuman streptococcus beta hemolyticus golongan A
3. Meningkatnya titer anti streptolisin pada serum pasien.
Antara infeksi bakteri dan timbulnya GNA terdapat masa laten selama lebih kurang
10 hari. Dari tipe-tipe tersebut diatas tipe 12 dan 25 lebih bersifat nefritogen
daripada yang lain. Mengapa tipe yang satu lebih bersifat nefritogen daripada yang
lainnya belum diketahui dengan jelas. Mungkin faktor iklim atau alergi yang
mempengaruhi terjadinya GNA setelah infeksi dengan kuman Streptococcus. GNA
juga dapat disebabkan oleh sifilis, keracunan (timah hitam tridion), penyakit
amiloid, thrombosis vena renalis, purpur anafilaktoid, dan lupus erimatosis.
C. Patofisiologi
Suatu reaksi radang pada glomerulus dengan sebutan lekosit dan proliferasi sel,
serta eksudasi eritrosit, lekosit dan protein plasma dalam ruang Bowman.
Gangguan pada glomerulus ginjal dipertimbangkan sebagai suatu respon imunologi
yang terjadi dengan adanya perlawanan antibodi dengan mikroorganisme yaitu
streptokokus A.
Reaksi antigen dan antibodi tersebut membentuk imun kompleks yang
menimbulkan respon peradangan yang menyebabkan kerusakan dinding kapiler dan
menjadikan lumen pembuluh darah menjadi mengecil yang mana akan menurunkan
filtrasi glomerulus, insuffisiensi renal dan perubahan permeabilitas kapiler sehingga
molekul yang besar seperti protein dieskresikan dalam urine (proteinuria).
a. Pathogenesis
Menurut penyelidikan klinik-imunologis dan percobaan pada binatang
menunjukkan adanya kemungkinan proses imunologis sebagai penyebab.
Beberapa penyelidik menunjukkan hipotesis sebagai berikut:
1) Terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang melekat pada membrane
basalis glomerulus dan kemudian merusaknya
2) Proses autoimun kuman Streptococcus yang nefritogen dalam tubuh
menimbulkan badan autoimun yang merusak glomerulus
3) Streptococcus nefritogen dan membrane basalis glomerulus mempunyai
komponen antigen yang sama sehingga dibentuk zat anti yang
berlangsung merusak membrane basalis ginjal
b. Patologi
Makroskopis ginjal tampak agak membesar, pucat dan terdapat titik-titik
perdarahan pada korteks. Mikroskopik tampak hamper semua glomerulus
terkena sehingga dapat disebut glomerulus difus. Tampak proliferasi sel
endotel glomerulus yang keras sehingga mengakibatkan lumen kapiler dan
ruang simpai Bowman menutup. Disamping itu terdapat pula infiltrasi sel
epitel kapsul, infiltrasi sel polimorfonukleus dan monosit. Pada pemerksaan
mikroskop electron akan tampak membrane basalis menebal tidak teratur.
Terdapat gumpalan humps di subepitelium yang mungkin dibentuk oleh
globulin-gama, komplemenbdan antigen streptokokus.
D. Menifestasi klinis
a. Hematuria (urine berwarna merah kecoklat-coklatan)
b. Proteinuria (protein dalam urine)
c. Oliguria (keluaran urine berkurang)
d. Nyeri panggul
e. Edema, ini cenderung lebih nyata pada wajah dipagi hari, kemudian
menyebar ke abdomen dan ekstremitas di siang hari (edema sedang
mungkin tidak terlihat oleh seorang yang tidak mengenal anak dengan
baik).
f. Suhu badan umumnya tidak seberapa tinggi, tetapi dapat terjadi tinggi
sekali pada hari pertama.
g. Hipertensi terdapat pada 60-70 % anak dengan GNA pada hari pertama
dan akan kembali normal pada akhir minggu pertama juga. Namun jika
terdapat kerusakan jaringan ginjal, tekanan darah akan tetap tinggi selama
beberapa minggu dan menjadi permanen jika keadaan penyakitnya
menjadi kronik.
h. Dapat timbul gejala gastrointestinal seperti muntah, tidak nafsu makan,
dan diare.
i. Bila terdapat ensefalopati hipertensif dapat timbul sakit kepala, kejang dan
kesadaran menurun.
j. Fatigue (keletihan atau kelelahan).
E. Pemeriksaan Diagnostik
a. Laju Endap Darah (LED) meningkat
b. Kadar Hb menurun sebagai akibat hipervolemia (retensi garam dan air)
c. Nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin darah meningkat bila fungsi
ginjal mulai menurun.
d. Jumlah urine berkurang
e. Berat jenis meninggi
f. Hematuria makroskopis ditemukan pada 50 % pasien.
g. Ditemukan pula albumin (+), eritrosit (++), leukosit (+), silinder
leukosit dan hialin.
h. Titer antistreptolisin O (ASO) umumnya meningkat jika ditemukan
infeksi tenggorok, kecuali kalau infeksi streptokokus yang mendahului
hanya mengenai kulit saja.
i. Kultur sampel atau asupan alat pernapasan bagian atas untuk
identifikasi mikroorganisme.
j. Biopsi ginjal dapat diindikasikan jika dilakukan kemungkinan temuan
adalah meningkatnya jumlah sel dalam setiap glomerulus dan tonjolan
subepitel yang mengandung imunoglobulin dan komplemen.
A. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
a. Genitourinaria
1) Urine berwarna coklat keruh
2) Proteinuria
3) Peningkatan berat jenis urine
4) Penurunan haluaran urine
5) Hematuria
b. Kardiovaskular
Hipertensi ringan
c. Neurologis
1) Letargi
2) Iritabilitas
3) Kejang
d. Gastro Intestinal
1) Anoreksia
2) Muntah
3) Diare
e. Mata, Telinga, hidung dan tenggorokan
Edema periorbital sedang
f. Hematologis
1) Anemia sementara
2) Azotemia
3) Hiperkalemia
g. Integumen
1) Pucat
2) Edema menyeluruh
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan serebral yang berhubungan dengan retensi air dan
hipernatremia
b. Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan oliguria
c. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
anoreksia
d. Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan kelelahan
e. Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas dan
edema
f. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan rawat inapo anak dirumah sakit
g. Deficit pengetahuan yang berhubungan dengan pemahaman intruksi perawatan
dirumah
Download