Uploaded by User87459

ASKEP WAHAM revisi (intervensi)

advertisement
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
“WAHAM”
Dosen Pengajar :
Kristina Pae, S.Kep.,Ns.,M.Kep
Oleh Kelompok 2 :
1. Oktaviani Celvin
(9103018020) 9. Ellisa Eka F
(9103018034)
2. Widya Ayu
(9103018021) 10. Fransiska Jalus
(9103018035)
3. Claudia Wiwin
(9103018022) 11. Kristtina Novianti (9103018036)
4. Sabrina Noya
(9103018023) 12. Lidya Constansa (9103018038)
5. Aurelya Dheborih
(9103018029) 13. Inka Bella
6. Reka Candra M
(9103018031)
7. Amelia Puspita
(9103018032)
8. Peter Gaudensius
(9103018033)
(9103018039)
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA
2020
BAB I
KONSEP TEORI
1.1 Pengertian waham
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat atau
terus menerus, tapi tidak sesuai dengan kenyataan. Dan termasuk gangguan isi
pikiran (Yusuf dkk, 2015). Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang di
pertahankan secara kuat/terus menerus tetapi tidak sesuai dengan kenyataan
(Keliat, 2006).
Waham adalah keyakinan yang salah yang didasarkan oleh kesimpulan yang
salah tentang realita ekternal dan dipertahankan dengan kuat (Keliat dkk, 2010 &
SDKI, 2016).
Waham merupakan gangguan dimana penderitanya memiliki rasa realita yang
berkurang atau terdistorsi dan tidak dapat membedakan yang nyata dan yang tidak
nyata (Videbeck, 2011).
1.2 Rentang Respon Waham
Adaktif

Berpikir logis

Persepsi akurat

Emosi yang konsisten
dengan pengalaman

Tingkah laku yang
sesuai

Maladaktif



Ilusi

Emosi berlebihan

Tingkah laku yang
tidak biasa
Hubungan sosial
harmonis

proses
pikir : Waham
Kadang proses pikir
terganggu
Gangguan

Gangguan
persepsi
sensori : halusinasi

Perubahan
proses
emosi

Tingkah laku yang
tidak terorganisasi
Menarik diri

Isolasi sosial
1. Respon Adaptif
a.
Pikiran logis berupa pendapat atau pertimbangan yang dapat di terima akal.
Contoh: ketika seseorang menjawab pertanyaan, harus sesuai dengan fakta,
bukti dan rasional yang jelas.
b.
Persepsi akurat adalah pandangan dari seseorang tentang sesuatau peristiwa
secara cermat dan tepat sesuai perhitungan.
c.
Emosi konsisten dengan pengalaman adalah perasaan jiwa yang timbul sesuai
dengan peristiwa yang pernah di alami. Contoh: ketika seseorang merasa sedih
dan kecewa dia akan menangis, tetapi tidak berlebihan.
d.
Tingkah laku sesuai dengan kegiatan individu atau sesuatu yang berkaitan
dengan individu tersebut di wujudkan dalam bentuk gerak atau ucapan yang
tidak bertentangan dengan moral. Contoh: berbicara yang sopan terhadap orang
yang lebih tua atau tidak menggunakan bahasa yang tidak sopan kepada orang
tua, teman atau tetangga.
e.
Hubungan sosial dapat di ketahui melalui hubungan seseorang dengan orang
lain dalam pergaulan di tengah masyarakat. Contoh: apakah memiliki
hubungan yang baik antar tetangga atau teman kuliah.
2. Respon Malaadaktif
a.
Proses pikir terganggu adalah pikiran yang menimbulkan gangguan.
b.
Ilusi adalah penilaian yang salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi
(objek nyata). Contohnya: Seorang dengan perasaan yang takut atau cemas,
dapat meng-interpretasikan sebuah pohon sebagai manusia yang sedang
memandanginnya
c.
Emosi yang berlebihan adalah perasaan yang meluap-luap yang tidak dapat di
kendalikan. Contoh: seseorang akan mudah tersinggung atau marah dengan
hal-hal kecil yang dialami
d.
Tingkah laku yang tidak biasa adalah perilaku yang melebihi batas wajar.
Contoh: seseorang yang menjadikan batu sebagai makanan.
e.
Menarik diri adalah menemukan kesulitan dalam berinteraksi dengan orang
lain. Contohny: menghindari berinteraksi dan melakukan percakapan dengan
orang lain atau kelompok
f.
Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh di pertahankan walaupun
tidak di yakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial.
g.
Halusinasi merupakan gangguan yang timbul berupa persepsi yang salah
terhadap rangsangan. Contoh: melihat seseorang badannya menjadi dua
h.
Perubahan proses emosi adalah ketidakmampuan untuk mengontrol persaaan
senang, sedih, ketakutan dan cemasan. Contoh: Seseorang yang awalnya
merasa senang, 5 menit kemudian dia menangis.
i.
Tingkah laku yang tidak terorganisasi adalah ketidakselarasan antara perilaku
dan gerakan yang di timbulkan. Contoh: Seseorang mengatakan mau
mengerjakan tugas tetapi dia malah main game
j.
Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang di alami oleh individu karna
orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam. Contoh: korban
bullying.
1.3 Etiologi (faktor pedisposisi dan presipitasi)
1.3.1 Faktor Predisposisi
1.
Biologis
Pola keterlibatan keluarga relative kuat yang muncul di kaitkan
dengan delusi atau waham. Dimana individu dari anggota keluarga yang
di manifestasikan dengan gangguan ini berada pada resiko lebih tinggi
untuk mengalaminya di bandingkan dengan populasi umum.Studi pada
manusia kembar juga menunjukan bahwa ada keterlibatan factor genetic
(Amin,2016).
2.
Teori Psikososial
a.
System Keluarga
Dikemukakan oleh Bowen (1978) dimana perkembangan
skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga.Konflik
diantara suami istri mempengaruhi anak. Bayaknya masalah dalam
keluarga akan mempengaruhi perkembangan anak dimana anak tidak
mampu memenuhi tugas perkembangan dimasa dewasanya.
Beberapa ahli teori menyakini bahwa individu paranoid memiliki
orang tua yang dingin, perfeksionis, sering menimbulkan kemarahan,
perasaan mementingkan diri sendiri yang berlebihan dan tidak percaya
pada individu. Klien menjadi orang dewasa yang rentan karena
pengalaman awal ini.
3.
Teori Interpersonal
Dikemukakan oleh Sullivan (1953) di mana orang yang mengalami
psikosis akan menghasilkan suatu hubungan orang tua-anak yang penuh dengan
ansietas tinggi.Hal ini jika di pertahankan maka konsep diri anak akan
mengalami ambivalen.
4.
Psikodinamika
Perkembangan emosi terhambat karena kurangnya rangsangan atau
perhatian ibu,dengan ini seorang bayi mengalami penyimpangan rasa aman dan
gagal untuk membangun rasa percayanya sehingga menyebabkan munculnya
ego yang rapuh karena kerusakan harga diri yang parah,perasaan kehilangan
kendali,takut dan ansietas berat.Sikap curiga kepada seseorang di manifestasikan
dan dapat berlanjut di sepanjang kehidupan.Proyeksi merupakan mekanisme
koping paling umum yang di gunakan sebagai pertahanan melawan perasaan
(Amin,2016).
Menurut Amin (2016), faktor - faktor yang mempengaruhi terjadinya
waham adalah:
1.
Gagal melalui tahapan perkembangan dengan sehat.
2.
Disingkirkan oleh orang lain dan merasa kesepian
3.
Hubungan yang tidak harmonis dengan orang lain
4.
Perpisahan dengan orang yang di cintainya
5.
Kegagalan yang sering di alami
6.
Keturunan,paling sering pada kembar satu telur
7.
Menggunakan penyelesaian masalah yang tidak sehat misalnya
menyalahkan orang lain.
1.3.2
Faktor Presipitasi
1.
Biologi
Stress
biologi
yang
berhubungan
neurologik yang maladaptif termasuk:
dengan
respon
a)
Gangguan dalam putaran umpan balik otak yang
mengatur proses informasi
b)
Abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak
yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara
selektif menanggapi rangsangan.
2.
Stres lingkungan
Stres biologi menetapkan ambang toleransi terhadap
stress yang berinteraksi
dengan stressor lingkungan untuk
menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3.
Pemicu gejala
Pemicu merupakan prekursor dan stimulus yang yang
sering menunjukkan episode baru suatu penyakit. Pemicu yang
biasa terdapat pada respon neurobiologik yang maladaptif
berhubungan dengan kesehatan. Lingkungan, sikap dan perilaku
individu (Direja, 2011).
1.4 Patofisiologi

Fase kebutuhan manusia rendah (kurangnya kebutuhan manusia)
Waham diawali dengan terbatasnya berbagai kebutuhan pasien baik secara fisik
maupun psikis. Secara fisik, pasien dengan waham dapat terjadi pada orang
dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas.
Biasanya pasien sangat
miskin dan menderita. Pelayanan ia untuk memenuhi kebutuhan kehidupan
mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Hal itu terjadi karena
adanya pertanda antara (reality), yaitu tidak memiliki finansial yang cukup
dengan ideal diri (self ideal) yang sangat ingin memiliki berbagai kebutuhan,
seperti mobil, rumah, atau telepon genggam.

Fase kepercayaan diri rendah (kurangnya harga diri)
Kesenjangan antara ideal diri dengan pembebasan serta kebutuhan yang tidak
terpenuhi menyebabkan pasien mengalami perasaan menderita, malu, dan tidak
berharga.

Fase pengendalian internal dan eksternal (pengendalian internal dan eksternal)
Pada tahapan ini, pasien mencoba berpikir rasional bahwa apa yang ia yakini
atau apa yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan, dan tidak
sesuai dengan kebutuhan. Namun, tanggap bagi pasien adalah sesuatu yang
sangat berat, karena kebutuhannya untuk menjawab, pernyataan penting, dan
lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, sebab kebutuhan tersebut belum
terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar pasien memberikan
koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan pasien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak
dilakukan secara adekuat karena toleransi dan keinginan menjadi perasaan.
Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif
berkepanjangan dengan alasan pengakuan pasien tidak merugikan orang lain.

Dukungan lingkungan (environment support)
Dukungan lingkungan sekitar yang mempercayai (keyakinan) pasien dalam
lingkungannya menyebabkan pasien merasa didukung, lama-kelamaan pasien
menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena
seringnya diulang-ulang.
Oleh '' start '' kerusakan kontrol diri dan tidak
berfungsinya norma (superego) yang dihitung dengan tidak ada lagi perasaan
dosa saat ini.

Fase comfortable (comforting)
Pasien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap
bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya.
Keyakinan sering mengalami halusinasi pada saat pasien menyendiri dari
lingkungannya. Selanjutnya, pasien lebih sering menyendiri dan berinteraksi
sosial (isolasi sosial).

Fase peningkatan (improvement)
Apabila tidak ada adanya konfrontasi dan berbagai upaya koreksi, keyakinan
yang salah pada pasien akan meningkat. Jenis waham sering berkaitan dengan
kejadian traumatik masa lalu atau berbagai kebutuhan yang tidak terpenuhi
(rantai yang hilang). Waham menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham
dapat mengancam diri sendiri dan orang lain.
1.5 Manifestasi klinis (DS, DO, Mekanisme koping)
1. Waham Kebesaran
• DS : Klien mengatakan bahwa ia adalah presiden, Nabi, Wali, artis dan lainnya
yang tidak sesuai dengan kenyataan dirinya.
• DO : - Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
- Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )
- Klien mudah marah
- Klien mudah tersinggung
2. Waham Curiga
• DS : - Klien curiga dan waspada berlebih pada orang tertentu
- Klien mengatakan merasa diintai dan akan membahayakan dirinya.
• DO : - Klien tampak waspada
- Klien tampak menarik diri
- Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
- Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )
3. Waham Agama
• DS : Klien yakin terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulangulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
• DO : - Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
- Klien tampak bingung karena harus melakukan isi wahamnya
- Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )
4. Waham Somatik
• DS : - Klien mengatakan merasa yakin menderita penyakit fisik
- Klien mengatakan merasa khawatir sampai panik
• DO : - Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
- Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )
- Klien tampak bingung
- Klien mengalami perubahan pola tidur
- Klien kehilangan selera makan
5. Waham Nihilistik
• DS : Klien mengatakan bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan
berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
• DO : - Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
- Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )
- Klien tampak bingung
- Klien mengalami perubahan pola tidur
- Klien kehilangan selera makan
6. Waham Bizzare
a. Sisip Pikir :
• DS : - Klien mengatakan ada ide pikir orang lain yang disisipkan dalam
pikirannya yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan
kenyataan.
- Klien mengatakan tidak dapat mengambil keputusan
• DO : - Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
- Klien tampak bingung
- Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )
- Klien mengalami perubahan pola tidur
b. Siar Pikir
• DS : - Klien mengatakan bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan
yang dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
- Klien mengatakan merasa khawatir sampai panik
- Klien tidak mampu mengambil keputusan
• DO : - Klien tampak bingung
- Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
- Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )
- Klien tampak waspada
- Klien kehilangan selera makan
C. Kontrol Pikir
• DS : - Klien mengatakan pikirannya dikontrol dari luar
- Klien tidak mampu mengambil keputusan
• DO : - Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
- Klien tampak bingung
- Klien tampak menarik diri
- Klien mudah tersinggung
- Klien mudah marah
- Klien tampak tidak bisa mengontrol diri sendiri
- Klien mengalami perubahan pola tidur
- Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )

Mekanisme koping
Menurut Direka (2011), prilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri
sendiri dari pengalaman berhubungan dengan respon neurobiologi:
1. Progersi berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk
menanggulangi ansietas, hanya mempunyai sedikit energi yang tertunggak
untuk aktifitas hidup sehari-hari
2. Projeksi sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi
3. Menarik diri
1.6 Klasifikasi
1. Waham kebesaran
Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, serta
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, “Saya ini
direktur sebuah bank swasta lho..” atau “Saya punya beberapa perusahaan
multinasional”.
2. Waham curiga
Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan/mencederai dirinya, serta diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai
kenyataan. Misalnya, “Saya tahu..kalian semua memasukkan racun ke dalam
makanan saya”.
3. Waham agama
Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, serta
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, “Kalau saya
mau masuk surga saya harus membagikan uang kepada semua orang.”
4. Waham somatik
Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu/terserang
penyakit, serta diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya,
“Saya sakit menderita penyakit menular ganas”, setelah pemeriksaan
laboratorium tidak ditemukan tandatanda kanker, tetapi pasien terus mengatakan
bahwa ia terserang kanker.
5. Waham nihilistik
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal, serta
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, “Ini kan alam
kubur ya, semua yang ada di sini adalah roh-roh”.
6. Waham bizarre
Merupakan waham yang aneh, yang termasuk dalam waham bizarre, antara
lain
a) Sisip pikir : Penderita yakin ada ide pikir orang lain yang disisipkan dalam
pikirannya yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan
kenyataan
b) Siar pikir : Penderita yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia
pikirkan yang dinyatakan secara berulangdan tidak sesuai dengan kenyataan.
c) Kontrol pikir : Penderita yakin pikirannya dikontrol dari luar. Misalnya
melakukan percobaan bunuh diri atau ingin membunuh orang lain karena
ada yang menyuruh.
1.7 Komplikasi








Depresi.
Datangnya pikiran kuat pengidap untuk bunuh diri.
Kecenderungan tinggi untuk melakukan bunuh diri.
Malnutrisi.
Kehilangan kepedulian terhadap diri sendiri.
Perilaku tidak wajar dan negatif yang berujung pada tindak kriminal dan asusila.
Ketidakmampuan diri untuk belajar atau melakukan pekerjaan.
Munculnya penyakit lain yang berhubungan erat dengan kesalahan gaya hidup
yang tidak terkendali, seperti misalnya penyakit akibat merokok atau
penyalahgunaan narkotika.
1.8 Penatalaksanaan
Menurut (Yulliana dkk, 2011)
1. Penatalaksanaan Medis
Penanganan pasien gangguan jiwa waham antara lain:
1. Psikofarmalogi
a.
Litium Karbonat
Jenis litium yang paling sering digunakan untuk mengatasi
gangguan bipolar, menyusul kemudian litium sitial. Litium masih efektif
dalam menstabilkan suasana hati pasien dengan gangguan bipolar.
Gejala hilang dalam jangka waktu 1-3 minggu setelah minum obat juga
digunakan untuk mencegah atau mengurangi intensitas serangan ulang
pasien bipolar dengan riwayat mania.
b.
Haloperidol
Obat antipsikotik (mayor tranquiliner) pertama dari turunan
butirofenon. Mekanisme kerja yang tidak diketahui. Haloperidol efektif
untuk pengobatan kelainan tingkah laku berat pada anak-anak yang
sering membangkang dan eksplosif.
Haloperidol juga efektif untuk
pengobatan jangka pendek, pada anak yang hiperaktif juga melibatkan
aktivitas motorik berlebih memiliki kelainan tingkah laku seperti:
Impulsif, sulit memusatkan perhatian, agresif, suasana hati yang labil dan
tidak tahan frustasi.
c.
Karbamazepin
Karbamazepin terbukti efektif, dalam pengobatan kejang
psikomotor, dan neuralgia trigeminal.
Karbamazepin secara kimiawi
tidak berhubungan dengan obat antikonvulsan lain atau obat lain yang
digunakan untuk mengobati nyeri pada neuralgia trigeminal.
2. Pasien hiperaktif atau agitasi anti psikotik potensi rendah Penatalaksanaan ini
berarti mengurangi dan menghentikan agitasi untuk pengamanan pasien. Hal ini
menggunakan penggunaan obat anti psikotik untuk pasien waham.
a.
Antipsikosis atipikal (olanzapin, risperidone). Pilihan awal Risperidone
tablet 1mg, 2mg, 3mg atau Clozapine tablet 25mg, 100mg. Keuntungan
b.
Tipikal (klorpromazin, haloperidol), klorpromazin 25-100mg. Efektif
untuk menghilangkan gejala positif.
3. Penarikan diri selama potensi tinggi seseorang mengalami waham. Dia
cenderung menarik diri dari pergaulan dengan orang lain dan cenderung asyik
dengan dunianya sendiri (khayalan dan pikirannya sendiri). Oleh karena itu, salah
satu penatalaksanaan pasien waham adalah penarikan diri yang potensial, Hal ini
berarti penatalaksanaannya penekanankan pada gejala dari waham itu sendiri, yaitu
gejala penarikan diri yang berkaitan dengan kecanduan morfin biasanya sewaktuwaktu sebelum waktu yang berikutnya, penarikan diri dari lingkungan sosial
4. ECT tipe katatonik Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah sebuah prosedur
dimana arus listrik melewati otak untuk pelatihan kejang singkat.
Hal ini
menyebabkan perubahan dalam kimiawi otak yang dapat mengurangi penyakit
mental tertentu, seperti skizofrenia katatonik. ECT bisa menjadi pilihan jika gejala
yang parah atau jika obat-obatan tidak membantu meredakan episode katatonik.
5. Psikoterapi Walaupun obat-obatan penting untuk mengatasi pasien waham,
namun psikoterapi juga penting. Psikoterapi mungkin tidak sesuai untuk semua
orang, terutama jika gejala terlalu berat untuk terlibat dalam proses terapi yang
memerlukan komunikasi dua arah. Yang termasuk dalam psikoterapi adalah terapi
perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif.
2.
Penatalaksanaan Keperawatan
a.
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
Model terapi aktivitas kelompok ada 4 yaitu :
a. Focal Conflic Model
Di kembangkan berdasarkan konflik yang tidak di
sadari dan berfokus pada kelompok individu. Tugas
leader adalah membantu kelompok memahami konflik
dan membantu penyelesaian masalah.
Misal : adanya perbedaan pendapat antar anggota,
bagaimana masalah di tanggapi anggota dan leader
menggairahkan alternatif penyelesaian masalah.
b.
Model Komunikasi
Dikembangkan berdasarkan teori dan prinsip
komunikasi, bahwa tidak efektifnya komunikasi akan
membawa
kelompok
menjadi
tidak
puas.
Tujuan
membantu meningkatkan keterampilan interpersonal dan
social
anggota
kelompok.
Tugas
leader
adalah
memfasilitasi komunikasi yang efektif antar anggota dan
mengajarkan pada kelompok bahwa perlu adanya
komunikasi dalam kelompok, anggota bertanggung jawab
terhadap apa yang diucapkan. Komunikasi pada semua
jenis : Verbal, non verbal, terbuka dan tertutup, serta
pesan yang disampaikan harus dipahami orang lain
c.
Model Interpersonal
Tingkah laku (pikiran, perasaan, dan
tindakan)
digambarkan
melalui
hubungan
interpersonal dalam kelompok. Pada model ini
juga menggambarkan sebab akibat tingkah laku
anggota dan terapist. Melalui proses ini, tingkah
laku atau kesalahan dapat di koreksi dan di
pelajari.
d.
Model Psikodrama
Dengan model ini dapat memotivasi
anggota kelompok untuk berakting sesuai dengan
peristiwa yang baru terjadi atau peristiwa yang
lalu, sesuai peran yang diperagakan. Anggota
diharapkan
dapat
memainkan
peran
sesuai
peristiwa yang pernah dialami.
b.
Orientasi Realitas
Adalah memberikan terapi aktivitas kelompok yang
mengalami gangguan orientasi terhadap orang, waktu dan tempat.
Tujuan adalah klien mampu mengidentifikasi stimulus internal
(pikiran, perasaan, sensasi somatic) dan stimulus eksternal (iklim,
bunyi, situasi alam sekitar), klien dapat membedakan antara
lamunan dan kenyataan, pembicaraan klien sesuai realitas. Klien
mampu mengenal diri sendiri dan klien mampu mengenal orang
lain, waktu, dan tempat. Karakteristik klien : gangguan orientasi
realita (GOR), halusinasi, waham, ilusi dan depresonalisasi yang
sudah dapat berinteraksi dengan orang lain, klien kooperatif dapat
berkomunikasi verbal dengan baik, dan kondisi fisik dalam
keadaan fisik dalam keadaan sehat.
c.
Sosialisasi
Adalah memfasilitasi psikoterapist untuk memantau dan
meningkatkan
hubungan
interpersonal,
memberi
tanggapan
terhadap orang lain, mengekspresikan ide dan tukar persepsi dan
menerima stimulus eksternal yang berasal dari lingkungan. Tujuan
meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok,
berkomunikasi, saling memperhatikan, memberikan tanggapan
terhadap orang lain, mengekspresikan ide serta menerima stimulus
eksternal.
Karakteristik klien : kurang berminat atau tidak ada inisiatif
untuk mengikuti kegiatan ruangan, sering berada di tempat tidur,
menarik diri, kontak sosial kurang, harga diri rendah, gelisah,
curiga, takut dan cemas, tidak ada inisiatif memulai pembicaraan
menjawab seperlunya, jawaban sesuai pertanyaan, dan dapat
membina trauma , mau berinteraksi dan sehat fisik.
d.
Stimulasi Persepsi
Adalah membantu klien yang mengalami kemunduran
orientasi, stimulusi persepsi dalam upaya memotivasi proses pikir
dan efektif serta mengurangi perilaku mal adaptif. Tujuan
meningkatkan kemampuan orientasi realita, memusatkan perhatian,
intelektual, mengemukakan pendapat dan menerima pendapat orang
lain dan mengemukaka perasaannya.
Karakteristik klien : gangguan persepsi yang berhubungan
dengan nilai-nilai, menarik diri dari realita, inisiatif atau ide-ide
yang negatif, kondisi fisik, sehat, dapat berkomunikasi verbal,
kooperatif dan mengikuti kegiatan.
e.
Stimulasi Sensori
Adalah menstimulasi sensori pada klien yang mengalami
kemunduran sensori. Tujuan : meningkatkan kemampuan sensori,
memusatkan perhatian, kesegaran jasmani, dan mengekspresikan
perasaan.
f.
Penyaluran Energi
Adalah untuk menyalurkan energi secara konstruktif. Tujuan :
menyalurkan
energi
dari
destruktif
menjadi
konstruktif,
mengekspresikan perasaan dan meningkatkan hubungan interpersonal.
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.1 Pengkajian

DS :
a. Klien mengatakan bahwa ia adalah artis, nabi, presiden,wali, dan lainnya
yang tidak sesuai dengan kenyataan
b. Klien curiga dan waspada berlebih pada orang tertentu
c. Klien mengatakan merasa di intai dan akan membahayakan dirinya
d. Klien mengatakan merasa yakin menderita penyakit fisik
e. Klien mengatakan tidak mampu mengambil keputusan
f. Klien mengatakan merasa khawatir sampai panik

DO :
a. Klien mudah tersinggung
b. Klien mudah marah
c. Klien tampak waspada
d. Klien tampak menarik diri
e. Inkoheren
f. Prilaku klien tampak seperti isi waham nya
g. Klien tampak bingung
h. Klien mengalami perubahan pola tidur
i. Klien kehilangan selera makan
2.2 Pohon masalah
Koping Keluarga tidak efektif,kegagalan,genetic,disingkirkan ( CAUSA )
Harga diri rendah
Perubahan Proses berfikir ( WAHAM )
Koping Tidak efektif
Gangguan identitas diri
Ketidakberdayaan
2.3 Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan proses berfikir: waham berhubungan dengan stress
2. Gangguan identitas diri berhubungan dengan gangguan neurologis
3. Koping tidak efektif berhubungan dengan ketidakpastian
4. Ketidakberdayaan berhubungan dengan waham
2.4 Intervensi
PERENCANAAN
NO
1.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
INTERVENSI
KRITERIA
EVALUASI
Setelah
3x24 Bina hubungan saling percaya
Gangguan
proses TUM :
Dapat
interaksi klien :
dengan klien:
pikir :waham
mengontrol
TUK 1 :
1. beri salam
wahamnya
- expresi wajah
2. perkenalkan
diri,
TUK 1 :
cerah,terseny
tanyakan nama serta
- Pasien
um
nama panggilan yang
dapat
- mau
disukai
membina
berkenalan
3. jelaskan tujan interaksi
hubunga
- ada kontak
4. yakinkan klien dalam
n saling
mata
keadaan
aman
dan
percaya
- bersedia
perawat siap menolong
menceritakan
dan mendampinginya
TUK 2 :
perasaannya
5. yakinkan
bahwa
- pasien
- bersedia
kerahasian klien akan
dapat
mengungkap
tetap terjaga
mengide
kan
masalah
6.
tunjukan sikap terbuka
ntifikasi
dan jujur
perasaan Setelah
3x24
7. perhatikan
kebutuhan
yang
interkasi klien :
dasar
dan
beri
bantuan
muncul
TUK 2 :
untuk memenuhinya
secara
- klien
berulang
menceritakan Bantu
klien
untuk
dalam
ide-ide dan mengungkapkan perasaan dan
pikiran
perasaan
pikirannya
klien
1. diskusikan dengan klien
yang muncul
TUJUAN
secara
TUK 3 :
berulang
- klien
dalam
dapat
pikirannya
menggid
entifikasi Setelah 3x24 jam
interaksi klien:
stressor/
TUK 3 :
pencetus
- dapat
wahamn
menyebutkan
ya
kejadian(Triggers
kejadian
Factor)
sesuai
dengan
TUK 4 :
urutan waktu
- klien
serta harapan
dapat
/ kebutuhan
mengden
dasar
yang
tifikasi
tidak
wahamn
terpenuhi
ya
seperti:
TUK 5 :
Harga diri,
- klien
rasa
aman
dapat
dsb
menident
- dapat
ifikasi
menyebutkan
konsekue
hubungan
nsi dari
antara
wahamy
kejadian
pengalaman
yang
dialami
seama
ini
termasuk
hubungan
dengan
orang
yang
berarti, lingkungan kerja,
sekolah, dsb
2. dengarkan
pernyataan
klien dengan empati
tanpa mendukung /
menentang pernyataan
wahamnya
3. katakan perawat dapat
memahami apa yang
diceritakan klien
Bantu
klien
untuk
mengidntifikasi kebutuhan yang
tidak terpenuhi serta kejadian
yang menjadi faktor penetus
wahamnya.
1. Diskusikan dengan klien
tentang
kejadiankejadian traumetik yang
menimbulkan rasa takut,
ansietas
maupun
perasaan tidak dihargai
2. Diskusikan
kebutuhan/harapan yang
belum terpenuhi
a
traumatis/keb
utuhan tidak
terpenuhi
dengan
wahamnya
Setelah
3x24
interkasi klien:
TUK 4 :
- menyebutkan
perbedaan
pengalaman
nyata dengan
pengalaman
wahamnya
Setelah
3x24
interaksi klien:
TUK 5 :
- klien
menjelaskan
gangguan
fungsi hidup
sehari-hari
yang
diakibatkan
ide-ide/
fikirannya
yang
tidak
3. Diskusikan dengan klien
cara-cara
mengatasi
kebutuhan yang tidak
terpenuhi dan kejadian
yang traumatis
4. Diskusikan dengan klien
apakah ada halusinasi
yang
meningkatkan
pikiran/perasaan
yang
terkait wahamnya
5. Diskusikan dengan klien
antara kejadian-kejadian
tersebut
dengan
wahamnya
Bantu klien mengidenttifikasi
keyakinannya
yang
salah
tentang situasi yang nyata (bila
klien sudah siap)
1. Diskusikan dengan klien
pengalaman wahamnya
tanpa beragumentasi
2. Katakan kepada klien
akan keraguan perawat
terhadap
pernyataan
klien
3. Diskusikan dengan klien
respon perasaan terhadap
wahamnya
sesuai
dengan
kenyataan
seperti :
1. hubungan
dengan
keluarga
2. huungan
dengan
orang lain
3. aktivitas
seharihari
4. pekerjaan
5. sekolah
6. prestasi,d
sb
4. Diskusikan
frekuesi,
intensitas dan durasi
terjadinya waham
5. Bantu
klien
membedakan
situasi
nyata dengan situasi yan
dipersepsikan salah oleh
klien
Diskusikan
dengan
klien
pengalaman-pengalaman yang
tidak menguntungkan sebagai
akibat dari wahamnya seperti :
1. Hambatan
dalam
berinteraksi
dengan
keluarga
2. Hambatan
dalam
berinteraksi
dengan
orang lain
3. Hambatan
dalam
melakukan
aktivitas
sehari-hari
4. Perubahan
dalam
prestasi kerja/sekolah
Ajak klien melihat bahwa
waham tersebut adalah masalah
yang memutuhkan bantuan dari
orang lain
Diskusikan
dengan
klien
orang/tempat ia tingal sekarang
bersama kelarganya
2.5 Implementasi sesuai SP
Standar Pelaksanaan Komunikasi (SP1) dengan Klien Waham
1. Orientasi
1.1 Salam
“Selamat pagi dik, perkenalkan saya perawat Budi, perawat puskesmas
Mulya. Nama adik siapa? Senang dipanggil apa? Oh baik, kalua begitu saya
memanggilnya dengan Tini ya”.
1.2 Evaluasi
“Apa yang Tini rasakan saat ini?”
“Oo jadi menganggap diri Tini adalah nabi?” Sudah berapa lama Tini
berpikir sebagai seorang nabi? Pada saat Tini berpikir seperti itu, apa yang
Tini rasakan?”
1.3 Validasi
“Apa yang telah Tini lakukan untuk mengatasi perasaan tersebut? Lalu,
bagaimana manfaatnya?”
1.4 Kontrak
1.4.1 Tindakan dan tujuan
“Baik Tini, bagaimana kalau saya periksa dulu tentang pikiran Tini sebagai
seorang nabi dan kita belajar cara mengatasinya. Tujuannya supaya Tini
mengetahui kebutuhan Tini yang belum terpenuhi, mengetahui kemampuan
Tini untuk memenuhi kebutuham tersebut dan Tini mampu melakukannya.
Bagaimana apakah Tini setuju?”
1.4.2 Waktu
“Baik kita akan berdiskusinya selama 30 menit ya,”.Tini”.
1.4.3 Tempat
“ Jika kita berbicara di sini aja, apakah Tini merasa nyaman?
2. Kerja
2.1 Pengkajian
Siapa nama lengkap Tini? Apa perkerjaan Tini? Apakah perkerjaan Tini?
Apakah pengalaman yang tidak menyenangkan selama hidup Tini pada
masa kanak-kanak atau remaja? Bagaimana Tini menghadapi masalah
tersebut? Siapa yang membantu jika ada masalah? Apaka Tini biasa
menceitakan masalah kepada orang lain? Bagaimana hubungan Tini dengan
tetanggga di sekitar rumah?”
“Coba Tini ceritakan berada di mana sekarang? Tini bisa mnyebutkan nama
orang tua secara lengkap ? Sekara g tanggal berapa ya Tini?
“Apa yang Tini rasakan berada di sini” bagaimana makan Tini? Apakah
Tini melakukan mandi, gosok gigi setiap hari? Apakah rutin melakukan
potong kuku setiap seminggu selalu.?
“Apakah Tini kenal dengan teman-teman disekitar sini?” Bisa Tini sebutkan
satu jam nama temannya?”
“Jika klien membicarakan wahamnya , dengarkan tanpa mendukung atau
meyangkalnya sampai klien berhenti berbicara.”
2.2 Diagnosis
“Baik Tini, tadi saya sudah dengarkan ceritanya. Tini merasa sebagai
seoarang nabi, masih ada yang belum kenal dan enggan bertemu orang
lian?”
2.3 Tindakan
“Baiklah bagaimana kalua kita latihan tentang situasi lingkungan, memenuhi
kebutuhan, kemampuan yang dimiliki dan mencapai kenyamanan”
2.3.1 Latihan Orientasi
“Tini bagaimana kalau belajar mengenal diri , orang , tempat dan waktu”
2.3.1.1“Siapa nama lengkap Tini? Nama panggilan, sekolah SD di mana,
sekolah SMP di mana?”
2.3.1.2 “Siapa saja ynag tinggal serumah
“Ayo kita tulis nama dan panggilannya”
“Ayo kita tulis panggilannya ayah.”
“Ayo kita tulis panggilannya ibu.”
2.3.1.3 Siapa saja tetangganya
“Ato kita tulis namanya dan panggilannya”
2.3.1.4 Orientasi tempat
“Ayo kita tulis nama tempat yag serin dikunjungi.”
“Ayo kita tulis tempat dan cara mencapainya”.
2.3.1.5 Orientasi waktu
“Ayo kita belajar mengenal waktu. Hari ini hari apa? Besok hari apa?
Kemarin hari apa? Bagus sekali sekarang bulan apa? Bulan depan bulan
apa? Bulan lalu bulan apa? Bagus sekali, sekarang jam berapa? Coba kita
belajar jam (latihan menebak jam dengan gambar).
2.3.2 Mendiskusikan dan latihan mengenal lingkungan
* “Siapa saja keluarga dan sahabat yang paling dekat dengan Tini (buat
daftarnya). Mari latihan berinteraksi dengan mereka.”
* “Mari kita belajar bersama tentang jam, tanggal, hari, bulan, dan tahun.”
 “Ayo kita lihat sekarang jam berapa, jam 9 jarum pendek di angka
berapa dan jarum panjnag di angka berapa? Bagus”.
 “Nah, sekarang kita lihat hari ini hari apa? Besok? Bagus, ayo kita
belajar senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dan minngu”
 “Nah,sekarang bulan apa? Betul Nopember, bulan depan apa? Ayo kita
belajar januari, februari dan seterusnya bagus.”
* “Mari kita mengenal tempat. Coba sebutkan alamat rumah ini. Ayo
sebutkan alamat rumah beberapa sahabat , keluarga. Bagus.”
2.3.3 Mendiskusikan kebutuhan dan latihan memenuhinya
* “Apa saja kegiatan Tini sehari-hari? Apa saja kebutuhan Tini? Mari kita
tulis. Apa saja yang belum terpenuhi?”
* “Dari kebutuhan yang belum terpenuuhi mari kita diskusikan cara
memenuhinya. Satu-satu ya? Nah, apa kira-kira kemampuan Tini untuk
memenuhinya? Bagus sekali. Mari kita diskusikan yang lain.”
* “Latihan kegiatan sehari-hari dan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan.
Mari kita masukkan jadwal untuk melatihnya .”
* “Evaluasi kegiatan sehari-hari dan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan.
Mari kita masukkan jadwal untuk melatihnya.
* “Evaluasi hasil latihan dan perasaan Tini setelah melakukannya.
3. Terminasi
3.1 Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan Tini setelah latihan tadi?”
3.2 Evaluasi objektif
“Apa saja latihan kita tadi (situasi lingkungan, waktu dan tempat)? Benar
sekali.”
3.3 Rencana tindak lanjut klien
“Baiklah bagaimana kalua Tini latihan tentang situasi lingkungan yaituorang
disekitar Tini, mengenal waktu dan tempat disekitar Tini, juga kebutuhan dan
cara memenuhinya ( masukkan dalam jadwal kegiatan Tini).”
3.4 Rencana tindak lanjut perawat
“Bagaimana kalua rabu minggu depan kita bertemu lagi di sini (Puskesmas),
memeriksa kondisi Tini dan latihan yang dilakukan .”
3.5 Salam
“Semoga Tini lekas sembuh”.
Standar Pelaksanaan Komunikasi (SP) dengan Keluarga SP1 Keluarga
1. Orientasi
1.1 Salam
Selamat pagi ibu, saya budi dari Puskesmas Mulya, Nama Ibu Siapa?
Panggilannya apa?
1.2 Evaluasi
Bagaimana kesehatan anggota keluarga ibu? Apakah ada yang sakit ?
1.3 Validasi
Apakah sudah dibawa ke puskesmas atau sudah berobat ke tempat yang
lain? Bagaimana hasilnya?
1.4 Kontrak
1.4.1 Tindakan dan tujuan
Baiklah saya akan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap keluarga
ibu, agar dapat membantu meningkatkannya.
1.4.2 Waktu
Waktunya 30 menit ya ibu,apakah ibu setuju?
1.4.3 Tempat
Kita lakukan disini saja ya,Bu?
2. Kerja
2.1 Pengkajian
2.1.1 Identitas Keluarga
Saya akan mendata siapa saja yang tinggal serumah dengan Ibu.Di rumah ini
Ibu tinggal bersama siapa aja?Oh,bersama Bapak dan anak ya.Kita mulai
dengan Bapak dulu ya Bu.Bapak nama lengkapnya siapa ?Berapa usia saat
ini?Pendidikan Bapak apa?Bapak bekerja di mana ?Bagaimana kondisi
kesehatan Bapak saat ini?
Sekarang saya akan mendata Ibu sendiri.Nama lengkap Ibu?Berapa usia ibu
saat ini?Pendidikan ibu apa?Apakah Ibu bekerja ?Dimana ? Bagaimana kondisi
kesehatan ibu saat ini
Nah,sekarang saya akan mendata anak ibu.Nama lengkap anak?Berapa usianya
saat ini?Pendidikan apa?Apakah anak Ibu bekerja?Di mana?Bagaimana
kondisi kesehatan anak Ibu saat ini?Oh,jadi anak ibu sudah setahun ini tidak
keluar rumah dan banyak diam dikamar ya,Bu?
2.1.2 Pengkajian Indikator Keluarga Sehat( IKS )
“Bu saya akan cek dulu kesehatan keluarga Ibu dengan indicator keluarga sehat
(IKS)
“IKS merupakan program pemerintah agar seluruh keluarga sehar.Ibu akan
menjawab pertanyaan IKS dengan ya atau tidak.Mari kita Mulai !”

Apakah keluarga ibu mengikuti program keluarga berencana?

Apakah ibu melahirkan di fasilitas kesehatan?

Apakah anak ibu mendapatkan imunisasi dasar lengkap?

Apakah anank ibu mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan ?

Apakah
balita
mendapatkan
pemantauan
pertumbuhan
dan
perkembangan?

Apakah anggota keluarga tidak ada yang merokok?

Apakah anggota keluarga Ibu menjadi anggota JKN/BPJS?

Apakah anggota keluarga ibu memiliki akses sarana air bersih?

Apakah keluarga ibu memiliki akses jamban sehat?

Apakah anggota keluarga ibu ada yang menderita TBC?
Jika ya,apakah sudah mendapatkan perawatan dan pengobatan standar dari
pelayanan kesehatan ?

Apakah ada anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa ?Jika
ya,apakah sudah mendapatkan perawatan dan pengobatan standar dari
pelayanan kesehatan ?

Apakah ada anggota keluarga yang menderita diabetes mellitus ?Jika
ya,apakah sudah mendapatkan perawatan dan pengobatan
pelayanan kesehatan ?
standar dari

Apakah ada anggota keluarga yang menderita hipertensi ? Jika ya,apakh
sudah mendapatkan perawatan dan pengobatan standar dari pelayanan
kesehatan ?

Apakah ada yang menderita kanker ? Jika ya,apakah sudah mendapatkan
perawatan dan pengobatan standar dari pelayanan ksehatan ?
Kesimpulan :
‘Baik Bu,berdasarkan beberapa pertanyaan tadi,sebagian besar
sudah
bagus,tetapi ternyata ada anggota keluarga Ibu yang mengalami masalah
kesehatan jiwa yaitu banyak bicara,masih menganggap dirinya nabi,perilaku
sulit diarahkan,dan cenderung berbuat sesuai kemauan sendiri,ini disebut
dengan waham.”
“Baiklah Bu,setelah bicara dengan Ibu,saya akan bercakap –cakap dengan anak
Ibu.”
2.1.3 Pengkajian Self report question ( SRQ )
“Selanjutnya saya akan memeriksa kesehatan ibu ada beberapa pertanyaan.saya
mulai ya Bu,kondisi yang ibu rasakan dalam 30 hari terakhir ya Bu.”

Apakah Ibu sering menderita sakit kepala ?

Apakah Ibu kehilangan nafsu makan ?

Apakah tidur ibu tidak lelap ?

Apakah ibu mudah menjadi takut ?

Apakah ibu merasa cemas,tegang,dan khawatir ?

Apakah tangan ibu gemetar ?

Apakah ibu mengalami gangguan percernaan ?

Apakah ibu merasa sulit berpikir jernih ?

Apakah ibu merasa tidak bahagia ?

Apakah ibu lebih senag menangis ?

Apakah ibu merasa sulit untuk menikmati aktivitas sehari-hari ?

Apakah ibu mengalami kesulitan untuk mrngambil keputusan ?

Apakah aktivitas atau tugas sehari-hari ibu terbengkalai ?

Apakah ibu merasa tidak mampu berperan dalam kehidupan ini ?

Apakah ibu kehilangan minat terhadap banyak hal ?

Apakah ibu merasa tidak bahagia ?

Apakah ibu merasa tidak berharga ?

Apakah ibu mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup ini ?

Apakah ibu merasa lelah sepanjang waktu ?

Apakah ibu merasa tidak enak di perut ?

Apakah ibu mulai lelah ?

Apakah ibu minum alcohol lebih banyak dari biasanya atau apakah ibu
menggunakan narkoba ?

Apakah ibu yakin bahwa seseorang mencoba mencelakai ibu dengan cara
tertentu ?

Apakah ada yang mengganggu atau hal yang tidak biasa dalam pikiran ?

Apakah ibu pernah mendengar suara tanpa tahu sumbernya atau orang
lain tidak dapat mendengar ?

Apakah
ibu
mengalami
mimpi
mengganggu
tentang
suatu
bencana/musibah atau adakah saat-saat ibu seolah mengalami kembali kejadian
bencana itu ?

Apakah ibu menghindari kegiatan,tempat,orang atau pikiran yang
mengingatkan ibu akan bencana tersebut ?

Apakah minat ibu terhadap teman dan kegiatan yang biasa ibu lekukan
bencana itu ?

Apakah ibu kesulitan memahami atau mengekspresikan perasaan ibu
Kesimpulan :
“jadi,berdasarkan jawaban dari pertanyaan di atas Ibu mengalami kecemasan,Ibu
mengalami 7 gajala.”
2.2 Diagnosis
“ Baiklah Bu,dari hasil pemeriksaan yang kita lakukan maka ada beberapa
kondisi kesehatan dalam keluarga .”

Ibu sendiri mengalami kecemasan

Anak ibu mengalami masalah kesehatan jiwa

Anggota keluarga lain tidak ada masalah ,mereka sehat.
2.3 Tindakan keperawatan
“Baiklah,saya akan bantu ibu dulu mengatasi kecemasannya,dan sesudah itu
kita ke anak ibu.”
2.3.1 Tindakan keperawatan pada keluarga
Untuk mengatasi kecemasan ibu ada beberapa cara :
2.3.1.1 Latih teknik relaksasi : tarik napas dalam
 Contohkan : “Tarik napas dalam dari hidung tahan sebentar dan keluarkan
dari mulut sambil mengembuskan kecemasan ibu.”
 Dampingi : “Nah,sekarang ayo kita coba ,ibu tarik napas dalam,tahan
keluarkan dari mulut seperti mengembuskan kesusahannya.ya,benar
seperti itu ,bu.”
 Mandiri : Nah ,sekarang coba lakukan sendiri,wah bagus sekali bu,benar
sekali
2.3.1.2 Latihan distraksi
“Bu apa saja hobi atau kebiasaan ibu ? Membaca,mendengar music,dan
lain-lain,jadi ibu isi waktu kosong dengan kegiatan ini,misalnya saat ada
yang
bertamu
ajak
bercakap-cakap
tentang
pengalaman
yang
menyenangkan ,upayakan waktunya terisi dengan kegiatan “
2.3.1.3 Latihan hipnotik lima jari
“Mari kita latihan focus pada semua hal positif yang ibu miliki “
 Tarik napas dalam,tutup mata dan kosong kan pikiran
 Satukan jempol dengan telunjuk : ingat saat badan sehat,itu saja yang
dibayangkan,jangan yang lain
 Satukan jempol dan jari tengah :ingat semua orang yang peduli,perhatian
dan saying pada ibu,itu saja yang dibayangkan jangan yang lain
 Satukan jempol dan jari manis : ingat saat ibu mendapatkan
pujian,hadiah ,prestasi,dan ibu sangat senang,itu saja yang dibayangkan
janganyang lain
 Satukan jempol dan kelingking :ingat tempat yang paling indah yang
pernah dikunjungi bayangkan ibu ada disana dan senang sekali itu saja yang
dibayangkan
“Lalu buat jadwal ya bu,untuk semua kegiatan yang dlakukan .baik
bu,sebelum saya menjelaskan cara merawal anak ibu,mari kita menemui
anak ibu terlebih, dahulu.”
2.6 Evaluasi
No.
1.
Dx Keperawatan
Waham : stress
Tujuan Keperawatan
TUM :
Evaluasi Keperawatan
S: Klien mengatakan:
Klien
mampu - Selamat pagi, namanya Tini
berkomunikasi
sesuai - Klien sudah menikah dan
realitas
mempunyai 3 anak.
Tindakan Keperawatan - Tinggal dirumah dengan
untuk pasien
anak
TUK 1 :
- Dulu bekerja di kantor,
-
Pasien
dapat kemudian
–
tiba
tiba
membina
mengatakan bahwa dirinya
hubungan
adalah seorang nabi
saling percaya
- Klien senang menjadi nabi
TUK 2 :
-
pasien
dapat O : -Klien mau menerima
kehadiran
berorientasi
perawat
di
kepada realitas sampingnya
secara bertahap
tanda–tanda curiga
TUK 3 :
-
pasien
dapat - Klien mengijinkan perawat
memenuhi
duduk disampingnya
kebutuhan
- Klien menceritakan ide– ide
dasar
dan perasaanya yang muncul
secara
TUK 4 :
-
berulang
dalam
pasien mampu pikirannya (seorang nabi)
berinteraksi
dengan
lain
keluarga
TUK 5 :
-
- Klien tidak menunjukan
pasien
-
Klien
belum
orang menyebutkan
dapat
kejadian-
dan kejadian sesuai dengan urutan
waktu
serta
harapan/kebutuhan
dasar
yang tidak terpenuhi seperti
menggunakan
obat
harga siri, rasa aman, dsb
dengan -
prinsip 5 benar
Klien
tidak
dapat
menyebutkan
perbedaan
antara
traumatis/
kejadian
kebutuhan
tidak
terpenuhi
dengan wahamnya
-
Klien
belum
bisa
menyebutkan
pengalaman
nyata
pengalaman
dengan
wahamnya
-
Klien
belum
bisa
menjelaskan gangguan fungsi
hidup
sehari–
hari
yang
diakibatkan oleh ide–ide atau
pemikiran yang tidak sesuai
dengan kenyataan
- Klien belum bisa melakukan
aktivitas
yang
konstruktif
sesuai dengan minatnya yang
dapat
mengalihkan
focus
terhadap wahamnya
A : - Secara Kognitif
Klien
belum
bisa
menyebutkan pengertian dan
penyebab waham
- Secara Afektif Klien belum
menyadari wahamnya
- Secara Psikomotor Klien
belum mempraktekan teknik
distraksi
sebagai
cara
menghentikan pikiran yang
terpusat pada wahamnya
P : - Untuk klien:
- Untuk perawat:
Ulangi
SP
1
tentang
mengidentifikasi
perasaan
yang muncul secara berulang
dalam
pikiran
klien,
mengidentifikasi
stressor/
pencetus
waham,
menegidentifikasi
waham,
mengidentifikasi
kosekuensi
dari waham, teknik distraksi
sebagai cara menghentikan
pikiran yang terpusat pada
waham klien
2.
Gangguan iddentitas
TUM :
S: Klien mengatakan:
diri: gangguan
Mampu
- Masih sebagai nabi.
neurologis
mempetahankan
- Senang menjadi nabi.
keutuhan
persepsi - Teman-temannya
terhadap identitas diri
yang percaya.
TUK 1 :
-
-
Pasien
membina
Hubungan
banyak
dengan
dapat keluargnya tetap seperti
hubungan yang dulu
saling percaya
TUK 2 :
-
O: - Klien menceritakan ide-
Pasien mampu ide dan perasaan yang muncul
merubah persepsi diri
secara
TUK 3 :
pikirannya.
-
Pasien mampu -
berprilaku
dengan
berulang
Klien
sesuai menyebutkan
belum
dalam
dapat
kejadian-
identitas kejadian sesuai dengan urutan
dirinya
waktu,
serta
harapan/kebutuhan
dasar
yang tidak terpenuhi.
-
Klien
belum
mampu
menyebutkan
hubungan
antara
kejadian
traumatis/kebutuhan
tidak
terpenuhi dengan wahamnya.
-
Klien
belum
menyebutkan
pengalaman
bisa
perbedaan
nyata
dengan
pengalaman wahamnya.
-
Klien
belum
bisa
menjelaskan gangguan fungsi
hidup
sehari-hari
diakibatkan
yang
oleh
ide-
ide/pikiran yang tidak sesuai
dengan kenyataan.
- Klien belum bisa melakukan
aktivitas
yang
konstruktif
sesuai dengan minatnya yang
dapat
mengalihkan
fokus
klien dari wahamnya.
A : - Secara kognitif: Klien
belum
bisa
pengertian
menyebutkan
waham,
penyebab, tanda waham.
- Secara afektif: Klien belum
dapat menyadari wahamnya.
-Secara psikomotor: Klien
belum
bisa
mempraktekan
tekhnik
distraksi
relaksasi
sebagai cara menghentikan
pikiran yang terpusat pada
wahamnya.
P: - Untuk klien:
“coba ingat kembali
alasan ibu dibawa
kesini”
- Untuk Perawat:
Ulangi
SP
1
mengidentifikasi
yang
tentang
perasaan
muncul
secara
berulangdalam pikiran klien,
mengidentifikasi
stressor/pencetus
waham
(Triggers
Factor),
mengidentifikasi
waham
klien,
mengidentifikasi
konsekwensi waham klien,
mengidentifikasi
tekhnik
distraksi
sebagai
relaksasi
cara menghentikan pikiran
yang terpusat pada waham
klien.
3.
Koping tidak
TUM :
efektif:
Klien mampu menilai - Masih sebagai nabi.
ketidakpastian
dan merespons stressor - Senang menjadi nabi.
dan
S: Klien mengatakan:
atau - Teman-temannya
ketidakmampuan
banyak
yang percaya.
menggunakan sumbersumber yang ada untuk O: - Klien menceritakan ide-
mengatasi masalah
ide atau pikiran dan perasaan
TUK 1 :
yang muncul secara berulang
-
Pasien
membina
dapat dalam pikirannya
hubungan -
Klien
belum
dapat
saling percaya
menyebutkan
hubungan
TUK 2 :
antara
traumatis/
-
Klien
memenuhi
kejadian
mampu kebutuhan
tidak
kebutuhan dengan wahamnya
dasar
-
TUK 3 :
menyebutkan
-
Klien
menggunakan
mekanisme
yang sesuai
terpenuhi
Klien
belum
mampu pengalaman
bisa
perbedaan
nyata
dengan
pengalaman wahamnya
koping -
Klien
belum
bisa
menjelaskan gangguan fungsi
hidup
sehari-hari
diakibatkan
ide-ide
yang
atau
pikirannya yang tidak sesuai
dengan kenyataan
- Klien belum bisa melakukan
aktivitas
yang
konstruktif
sesuai dengan miniatnya yang
dapat
mengalihkan
fokus
klien dari wahamnya
A: Secara kognitif : - Klien
belum
bisa
menyebutkan
pengertian waham
Secara afektif : - Klien belum
bisa menyadari wahamnya
- Secara psikomotor : Klien
belum bisa mempraktekkan
teknik distraksi sebagai cara
menghentikan pikiran yang
terpusat pada wahamnya
P: - Untuk klien:
“ Coba ingat kembali
alasan ibu dibawa
kesini”
- Untuk Perawat : Ulangi
SP1 tentang mengidentifikasi
perasaan yang muncul secara
berulang dalam pikiran klien,
mengidentifikasi
stressor/pencetus
waham,
mengidentifikasi
waham,
mengidentifikasi konsekuensi
waham
klien,
melakukan
teknik distraksi sebagai cara
menghentikan pikiran yang
terpusat pada wahamnya.
4.
Ketidakberdayaan:
TUM :
waham
Klien
S: Klien mengatakan:
mampu - Masih sebagai nabi.
mempengaruhi
hasil - Senang menjadi nabi.
secara signifikan
- Teman-temannya
TUK 1 :
yang percaya.
-
Pasien
membina
dapat
-
Hubungannya
banyak
dengan
hubungan tetangga nya baik-baik saja
saling percaya
- Klien jadi jauh dengan
TUK 2 :
keluarga dan temannya, suka
-
Klien
mampu tidur, lihat televisi, menyapu,
menyatakan
frustasi yang paling klien sukai yaitu
atau
mampu memimpin olahraga.
melaksanakan aktivitas
sebelunya
O : -Klien menceritakan ide-
TUK 3 :
ide
-
Klien
yang
muncul
secara
mampu berulang dalam pikirannya
menyatakan rasa malu
- Klien dapat menyebutkan
kejadian-kejadian
sesuai
dengan urutan waktu serta
harapan/
kebutuhan
dasar
yang tidak terpenuhi seperti :
harga diri, rasa aman.
- Klien dapat menyebutkan
hubungan
antara
kejadian
traumatis / kebutuhan tidak
terpenuhi dengan wahamnya
-
Klien
menyebutkan
perbedaan pengalaman nyata
dengan
pengalaman
usahanya - Klien menjelaskan
gangguan fungsi hidup seharihari yang di akibatkan ide-ide
/
pikirannya yang tidak
sesuai dengan kenyataan.
- Klien melakukan aktivitas
yang
konstruktif
sesuai
dengan minatnya yang dapat
mengalihkan fokus klien dari
wahamnya.
A : - Secara kognitif : klien
mengetahui
pengetian
waham - Secara afektif : klien
menyadari wahamnya
- Secara psikomotor : klien
bisa mempraktekkan menjadi
pemimpin olahraga
P : - Untuk klien:
“coba diingat apa
saja hobi atau aktivitas fisik
yang ibu sukai”
- Untuk perawat: Lanjutkan
SP
2
aktivitas
tentang
melakukan
yang
konstruktif
sesuai dengan minatnya yang
dapat
mengalihkan
fokus
klien dari wahamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Keliat, B. A. And Jesika Pasaribu (2016). Prinsip dan Praktik Keperawatan Jiwa Stuart,
1st Indonesia edition. Singapore: Elsevier.
Prastika, Yemilia. all. (2014). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada pasien Waham Kebsaran
dengan Diagnosa Medis Skizofrenia Hebefrenik di Ruang Flamboyan RS Jiwa
Menur Surabaya. Universitas Muhammadiyah Surabaya
Ramadahani, Nurul. (2019). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Halusinasi Dengan
Penerapan
Terapi Okupasi Aktivitas Menggambar Di Instalasi Kesehatan
Jiwa RSUD Banyumas. Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Yusuf, Ah., dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika
Priasmoro, Dian Oka dan Indarti.
kesehatan RS dr. Soepraoen
2018. Keperawatan Jiwa. Malang. Politeknik
Download