Uploaded by ruthkristiani97

LP WAHAM

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
Keperawatan Jiwa
Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Kasus
“GANGGUAN PROSES PIKIR : WAHAM”
Disusun Oleh:
RUTH KRISTIANI DOLOK SARIBU
(P0 5120420 029)
Clinical Teacher
(Asmawati, S. Kp., M. Kep)
Mengetahui,
Clinical Instructure
(Ns. Panzilion, S. Kep., MM)
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES BENGKULU JURUSAN KEPERAWATAN
PPROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
T.A. 2020/2021
A. Konsep Dasar Gangguan Proses Pikir: Waham
1. Pengertian
Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan
kenyataan, tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh
orang lain. keyakinan ini berdasar dari pemikiran klien yang sudah
kehilangan kontrol (Depkes RI 2000).
Waham adalah suatu keyakinan yang dipertahankan secara kuat
terus-menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. (Budi Anna Keliat,
2006).
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian
realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya klien (Aziz R, 2003).
Waham adalah keyakinan yang keliru tentang isi pikir yang
dipertahankan secara kuat atau terus menerus namun tidak sesaui dengan
kenyataan (SDKI, 2017).
2. Etiologi
a. Faktor Predisposisi
1) Genetis: diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem
saraf yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif.
2) Neurobiologis : adanya gangguan pada korteks pre frontal dan
korteks limbic
3) Neurotransmitter: abnormalitas pada dopamine, serotonin dan
glutamat.
b. Psikologis: ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.
c. Faktor Presipitasi
1) Proses pengolahan informasi yang berlebihan
2) Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal.
3) Adanya gejala pemicu
3. Rentang Respon
Respon adaptif
Pikiran logis
Respon Maladaptif
Disorientasi Pikiran
Gg.Pikiran/Waham
Persepsi Akurat
Ilusi
Sulit Berespon
Emosi Konsisten
Reaksi Emosi Ber (+/-)
Perilaku Kacau
Prilaku Sesuai
Prilaku Aneh/Tdk Biasa
Isolasi Sosial
Berhubungan Social
Menarik Diri
4. Fase Waham
Proses terjadinya waham dibagi menjadi enam yaitu :
a. Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien
baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik klien dengan waham
dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial dan ekonomi
sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan menderita.
Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya
untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang secara
sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara Reality dengan
self ideal sangat tinggi. Misalnya ia seorang sarjana tetapi
menginginkan dipandang sebagai seorang dianggap sangat cerdas,
sangat berpengalaman dan diperhitungkan dalam kelompoknya.
Waham terjadi karena sangat pentingnya pengakuan bahwa ia eksis di
dunia ini. Dapat dipengaruhi juga oleh rendahnya penghargaan saat
tumbuh kembang (life span history).
b. Fase lack of self esteem
Tidak ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya
kesenjangan antara self ideal dengan self reality (kenyataan dengan
harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan
standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya. Misalnya, saat
lingkungan sudah banyak yang kaya, menggunakan teknologi
komunikasi yang canggih, berpendidikan tinggi serta memiliki
kekuasaan yang luas, seseorang tetap memasang self ideal yang
melebihi lingkungan tersebut. Padahal self reality-nya sangat jauh.
Dari aspek pendidikan klien, materi, pengalaman, pengaruh, support
system semuanya sangat rendah.
c. Fase control internal external
Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apaapa yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan
tidak sesuai dengan kenyataan. Tetapi menghadapi kenyataan bagi
klien adalah sesuatu yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk
diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima lingkungan
menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum
terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar klien
mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu
tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena
besarnya toleransi dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan
hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif
berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan
orang lain.
d. Fase environment support
Adanya
beberapa
orang
yang
mempercayai
klien
dalam
lingkungannya menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan
klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu
kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai
terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma (
Super Ego ) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat
berbohong.
e. Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta
menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan
mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien
menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering
menyendiri dan menghindar interaksi sosial ( Isolasi sosial ).
f. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap
waktu keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham
yang muncul sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau
kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi ( rantai yang hilang ).
Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat
menimbulkan ancaman diri dan orang lain. Penting sekali untuk
mengguncang keyakinan klien dengan cara konfrontatif serta
memperkaya keyakinan relegiusnya bahwa apa-apa yang dilakukan
menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.
5. Jenis Waham
a. Waham kebesaran: individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran
atau kekuasaan khusus yang diucapkan berulang kali, tetapi tidak
sesuai kenyataan. Misalnya, “Saya ini pejabat di separtemen kesehatan
lho!” atau, “Saya punya tambang emas.”
b. Waham curiga: individu meyakini bahwa ada seseorang atau
kelompok
yang
berusaha
merugikan/mencederai
dirinya
dan
siucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh, “Saya
tidak tahu seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup saya
karena mereka iri dengan kesuksesan saya.”
c. Waham agama: individu memiliki keyakinan terhadap terhadap suatu
agama secara berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak
sesuai kenyataan. Contoh, “Kalau saya mau masuk surga, saya harus
menggunakan pakaian putih setiap hari.”
d. Waham somatic: individu meyakini bahwa tubuh atau bagian
tubuhnya terganggu atau terserang penyakit dan diucapkan berulang
kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, “Saya sakit
kanker.” (Kenyataannya pada pemeriksaan laboratorium tidak
ditemukan tanda-tanda kanker, tetapi pasien terus mengatakan bahwa
ia sakit kanker).
e. Waham nihilistik: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di
dunia/meninggal dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai
kenyataan. Misalnya, ”Ini kan alam kubur ya, semua yang ada disini
adalah roh-roh”.
f. Waham sisip pikir : keyakinan klien bahwa ada pikiran orang lain
yang disisipkan ke dalam pikirannya.
g. Waham siar pikir : keyakinan klien bahwa orang lain mengetahui apa
yang dia pikirkan walaupun ia tidak pernah menyatakan pikirannya
kepada orang tersebut
h. Waham kontrol pikir : keyakinan klien bahwa pikirannya dikontrol
oleh kekuatan di luar dirinya.
6. Tanda dan Gejala
a. Tanda dan Gejala Mayor
1) Subjektif: Mengungkapkan isi waham
2) Objektif: menunjukkan perilakusesuai isi waham, isi pikir tidak
sesuai realitas, isi pembicaraan sulit dimengerti
b. Tanda dan Gejala Minor:
1) Subjektif: merasa sulit konsentrasi dan merasa khawatir
2) Objektif:
Curiga
berlebihan,
wasapada
berlebihan,
bicara
berlebihan, sikap menentang atau permusuhan, wajah tegang, pola
tidur berubah, tidak mampu mengambil keputusan, flight of idea,
produktivitas menurun, tidak mampu merawat diri, dan menarik
diri
7.
Pohon Masalah
Resiko Perilaku Kekerasan
Perubahan proses pikir: Waham
Isolasi Sosial: Menarik Diri
B. Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Waham
1. Pengkajian
a. Identifikasi klien
Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak
dengan klien tentang: Nama
klien,
panggilan klien,
Nama
perawat, tujuan, waktu pertemuan, topik pembicaraan.
b. Keluhan utama / alasan masuk
Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien
dan
keluarga datang
dilakukan
ke
keluarga
Rumah
untuk
Sakit,
yang
telah
mengatasi masalah dan
perkembangan yang dicapai.
c. Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa pada
mengalami,
masa
penganiayaan
lalu,
fisik,
pernah
melakukan,
seksual, penolakan dari
lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal.
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin
mengakibatkan terjadinya gangguan:
1) Psikologis
Keluarga,
pengasuh
dan
lingkungan
klien
sangat
mempengaruhi respon psikologis dari klien.
2) Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak
atau
pertumbuhan dan perkembangan individu pada
SSP,
prenatal,
neonatus dan anak-anak.
3) Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial
budaya (peperangan,
kerusuhan, kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress
yang menumpuk.
d. Aspek fisik / biologis
Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi,
suhu,
pernafasan. Ukur
tinggi
badan
dan
berat
kalau perlu kaji fungsi organ kalau ada keluhan
badan,
e. Aspek psikososial
1) Membuat genogram yang
memuat paling
sedikit tiga
generasi yang dapat menggambarkan hubungan klien dan
keluarga,
masalah
yang terkait
dengan komunikasi,
pengambilan keputusan dan pola asuh.
2) Konsep diri
a) Citra
tubuh:
mengenai persepsi
klien
terhadap
tubuhnya, bagian yang disukai dan tidak disukai.
b) Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat,
kepuasan klien terhadap status dan posisinya dan kepuasan
klien sebagai laki- laki / perempuan.
c) Peran:
tugas
kelompok
dalam
yang
diemban dalam
dan masyarakat
dan
keluarga
kemampuan
/
klien
melaksanakan tugas tersebut.
d) Ideal diri: harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas,
lingkungan dan penyakitnya.
e) Harga
diri:
hubungan klien
dengan
orang
lain,
penilaian dan penghargaan orang lain terhadap dirinya,
biasanya
terjadi pengungkapan kekecewaan terhadap
dirinya sebagai wujud harga diri rendah.
3) Hubungan sosial
dengan orang lain yang terdekat dalam
kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat
4) Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.
f. Status mental
Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan
klien, aktivitas motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut,
khawatir), afek
klien,
proses
klien,
pikir,
tingkat konsentasi dan
daya tilik diri.
interaksi selama wawancara, persepsi
isi pikir,
tingkat kesadaran, memori,
berhitung, kemampuan penilaian dan
g. Proses pikir.
Proses pikir dalam berbicara jawaban klien kadang meloncatloncat dari satu topik ke topik lainnya, masih ada hubungan
yang tidak logis dan tidak sampai pada tujuan (flight of ideas)
kadang-kadang klien
mengulang pembicaraan yang sama
(persevere)
Masalah keperawatan : Gangguan Proses Pikir.
h. Isi Pikir
Contoh isi pikir klien saat diwawancara:

Klien
mengatakan bahwa
dirinya banyak mempunyai
pacar, dan pacarnya orang kaya dan bos batu bara
Masalah keperawatan: waham kebesaran.

Klien mengatakan alasan masuk RSJ karena sakit liver.
Masalah keperawatan: waham somatik.
i. Kebutuhan Persiapan Pulang
1) Kemampuan makan
klien, klien mampu menyiapkan dan
membersihkan alat makan
2) Klien
mampu BAB
membersihkan WC
dan
BAK,
menggunakan dan
serta membersihkan dan merapikan
pakaian
3) Mandi klien dengan cara berpakaian, observasi kebersihan
tubuh klien.
4) Istirahat dan tidur klien, aktivitas di dalam dan di luar rumah
5) Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan
setelah minum obat.
j. Masalah psikososial dan lingkungan
Dari data keluarga atau klien mengenai masalah yang dimiliki
klien.
k. Pengetahuan
Data didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian tiap
bagian yang dimiliki klien disimpulkan dalam masalah.
l. Aspek medic
Terapi
yang
diterima oleh
klien:
ECT,
terapi
antara
lain
seperti
terapi psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga,
terapi spiritual, terapi okupasi, terapi
lingkungan. Rehabilitasi
sebagai
dan perkembangan klien
suatu
supaya dapat
refungsionalisasi
melaksanakan sosialisasi secara
kehidupan bermasyarakat.
2. Diagnosa Keperawatan
1) Perubahan proses pikir: Waham
2) Isolasi sosial: menarik diri
3) Risiko perilaku kekerasan
wajar
dalam
3. Perencanaan
DIAGNOSA
TUJUAN
KEPERAWATAN
(TUK/TUM)
Waham
TUM :
KRITERIA EVALUASI
1. Ekspresi
Klien
INTERVENSI
RASIONAL
wajah 1.1 Bina hubungan saling prcaya dengan Hubungan
saling
secara
bersahabat, menunjukkan
mengemukakan prinsip komunikasi merupakan
mampu
rasa senang, ada kontak
terapeutik :
berhubungan
mata,
a. mengucapkan salam terapeutik. selanjutnya akan dilakukan.
dengan realitas atau
tangan,
kenyataan
menyebutkan
bertahap
TUK 1 :
1. Klien
dapat
mau
berjabat
mau
nama,
dasar
percaya
untuk
memperlancar interaksi yang
Sapa klien dengan ramah, baik Tindakan
akan
membina
verbal maupun non verbal.
klien
dalam
menjawab salam, klien
b. berjabat tangan dengan klien
secara
baik
mau duduk berdampingan
c. perkenalkan diri dengan sopan
sehingga
dengan
d. tanyakan nama lengkap klien dan mengungkapkan isi hatinya.
perawat,
mau
membina
mengutarakan
masalah
nama panggilan yang disukai
hubungan
yang dihadapinya, tidak
saling percaya
menunjukkan tanda-tanda
e. jelaskan tujuan pertemuan
kecurigaan,
mau
f. membuat kontrak topik, waktu
menerima bantuan dari
dan tempat setiap kali bertemu
perawat
klien
klien
g. tunjukkan
sikap
empati
menerima klien apa adanya
dan
berinteraksi
dan
klien
benar,
bersedia
h. beri perhatian kepada klien dan
perhatian kebutuhan dasar klien
1.2 Jangan membantah dan mendukung Meningkatkan orientasi klien
waham klien
a. Katakan
terhadap
bahwa
realita
serta
perawat meningkatkan rasa percaya
menerima keyakinan klien
klien kepada perawat
b. Katakan bahwa perawat tidak
mendukung keyakinan klien
1.3 Yakinkan klien bahwa ia dalam Suasana
keadaan aman dan terlindungi
lingkungan
yang
bersahabat turut mendukung
a. “Anda berada di tempat aman komunikasi terapeutik
dan terlindung”
b. Gunakan
keterbukaan
kejujuran
dan
meninggalkan
klien
dan
jangan
dalam
keadaan sendiri
1.4 Observasi
apakah
waham Mengetahui
penyebab
mengganggu aktivitas sehari hari waham curiga dan intervensi
dan perawatan diri klien
yang
selanjutnya
dilakukan oleh klien
akan
TUK 2:
Klien
Kriteria evaluasi :
dapat 1. Klien
2.1 Diskusikan
dapat
mengetahui
keluarga
dengan
tentang
klien
obat,
dan Obat
dosis, waham
dapat
klien
menggunakan obat
manfaat minum obat, kerugian
frekuensi, efek samping obat, dan membantu
dengan benar
tidak minum obat
akibat dari penghentian obat
2. Klien
mengetahui
nama,
warna, dsis, efek samping,
efek terapi
3. Klien
mengontrol
dan
dapat
penyembuhan
klien
2.2 Diskusikan perubahan perasaan klien Mengontrol kegiatan klien
setelah minum obat
minum obat dan mencegah
2.3 Berikan obat dengan prinsip 5 benar klien putus obat
mendemonstrasikan
penggunaan
obat
dan observasi setelah minum obat
dengan
benar
4. Klien
mendemonstrasikan
dapat
akibat
berhenti minum obat tanpa
berkonsultasi pada dokter
5. Klien
dapat
mendemonstrasikan prinsip 5
benar dalam penggunaan obat
TUK 3 :
Klien
Kriteria evaluasi :
dapat
mengidentifikasi
1. Klien dapat mempertahankan
aktivitas sehari-hari
3.1 Berkan pujian pada penampilan dan Penguatan
kemampuan klien yang realistis
reinforcement
positif dapat meningkatkan
3.2 Dsikusikan bersama dnegan klien kemampuan yang dimiliki
kemampuan
yang
dimilikinya
2. Klien
dapat
mengontrol
wahamnya
mengenai
kemampuan
yang oleh klien dan harga dii klien
dimilikinya dahulu dan saat ini
3.3 Tanyakan apa yang bisa dilakukan Klien
(kaitkan dengan hal seputar aktivitas memilih
terdorong
untuk
aktivitas,
seperti
sehari hari dengan perawatan diri sebelumnya tentang aktivitas
klien),
lalu
anjurkan
untuk yang pernah dimiliki oleh
melakukannya saat ini
klien
3.4 Jika klien selalu berbicara tentang Dengan mendengarkan klien
wahamnya,
dengarkan
sampai akan
merasa
lebih
kebutuhan waham tersebut tidak ada diperhatikan, sehingga klien
atau klien berhenti membicarakan akan
wahamnya.
Perawat
mengungkapkan
perlu perasaannya
memperhatikan bahwa klien sangat
penting
TUK 4:
Klien
Kriteria evaluasi :
dapat
mengidentifikasi
kebutuhan
tidak dimiliki
yang
4.1 Observasi kebutuhan klien sehari- Observasi dapat digunakan
1. Kebutuhan klien terpenuhi
2. Klien
dapat
melakukan
aktivitas secara terarah
3. Klien tidak menggunakan atau
membicarakan wahamnya
hari
untuk mengetahui kebutuhan
4.2 Diskusikan kebutuhna klien waham klien
yang tidak terpenuhi selama dirumah
maupun di rumah sakit
4.3 Menghubungkan
kebutuhan
yang Dengan
mengetahui
4. perasaan
marah,
jengkel,
bicara kasar.
tidak terpenuhi dengan timbulnya keutuhan klien yang tidak
waham
terpenuhi,
perawat
dapat
mengetahui kebutuhan yang
akan diperlukan oleh klien
waham
4.4 Tingkatkan
aktivitas
klien
yang Dengan melakukan aktivitas,
dapat memenuhi kebutuhan klien klien
tidak
akan
lagi
serta aktivitas yang memerlukan menggunkan isi atau ide
waktu dan tenaga
wahamnya
4.5 Mengatur situasi agar klien tidak Dengan situasi tertentu, klien
memiliki waktu untuk menggunakan akan
wahamnya
TUk 5 :
Kriteria evaluasi :
Klien
dapat 1. Klien dapat berbicara dengan
berhubungan
dengan
5.1 Berbicara
realitas
realitas 2. Klien
dapat
menyebutkan
perbedaan pengalaman nyata
mampu berorientasi
dan pengalaman wahamnya
realitas 3. Klien
secara bertahap
mengontrol
wahamnya
dengan
klien
dalam Penguatan (reinforcement )
konteks realita (realitas diri, realitas penting untuk meningkatkan
orang lain, serta realitas waktu dan kesadaran klien akan realitas
atau kenyataan atau
dengan
dapat
mengikuti
Terapi
Aktivitas Kelompok (TAK)
tempat)
5.2 Ikut sertakan klien dalam terapi Pujian dapat meningkatkan
aktivitas kelompok dalam kaitannya harga
dengan orientasi realitas
diri
memotivasi
5.3 Berikan pujian pada tiap kegiatan meningkatkan
klien
klien
dan
untuk
kegiatan
TUK 6:
Klien
dukungan
keluarga
Kriteria evaluasi :
dapat 1. Keluarga
dari
hubungan
dapat
dan
pengertian
akan
membantu
percaya
b. Cara merawat
klien dalam mengendalikan
c. Lingkungan keluarga
wahamnya
tand
adan
perawatan
klien
dengan wahamnya
Perhatian
keluarga
2. Keluarga dapat menyebtkan
tindakan
6.1 Diskusikan dengan keluarga tentang:
a. Gejala waham
saling
,
positif nya
membina
dengan perawat
pengertian
positif yang dilakukan oleh klien
d. Follow up dan obat
6.2 Anjurkan keluarga melaksanakannya
dengan bantuan perawat
STRATEGI PELAKSANAAN : GANGGUAN PROSES PIKIR : WAHAM
A.
Kondisi Klien :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, curiga, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi
tidak sesuai dengan kenyataan. Klien tampak tidak mempercayai orang
lain, curiga, bermusuhan. Takut, kadang panik. Tidak tepat menilai
lingkungan / realitas. Ekspresi tegang, mudah tersinggung
B.
Diagnosa Keperawatan
Gangguan proses pikir : waham
C.
Tujuan
 Pasien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap
 Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar
 Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
 Pasien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
D.
Tindakan Keperawatan
1. Bina hubungan saling percaya
Sebelum memulai mengkaji pasien dengan waham, saudara
harus membina hubungan saling percaya terlebih dahulu agar pasien
merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan
yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan saling
percaya adalah:
 Mengucapkan salam terapeutik
 Berjabat tangan
 Menjelaskan tujuan interaksi
 Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali
bertemu pasien.
2. Bantu orientasi realita

Tidak mendukung atau membantah waham pasien

Yakinkan pasien berada dalam keadaan aman

Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari

Jika pasien terus menerus membicarakan wahamnya dengarkan
tanpa memberikan dukungan atau menyangkal sampai pasien
berhenti membicarakannya

Berikan pujian bila penampilan dan orientasi pasien sesuai
dengan realitas.

Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi
sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah.

Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik
dan emosional pasien
E.

Berdikusi tentang kemampuan positif yang dimiliki

Bantu melakukan kemampuan yang dimiliki

Berdiskusi tentang obat yang diminum

Melatih minum obat yang benar
Strategi Tindakan
SP 1 Pasien
: Membina hubungan saling percaya; mengidentifikasi
kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan;
mempraktekkan pemenuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Orientasi:
“Selamat pagi pak, perkenalkan nama saya Agung Nugroho, biasa
dipanggil Agung, saya mahasiswa keperawatan dari Universitas Kristen
Satya Wacana Salatiga yang akan praktek di ruangan ini selama 2 minggu
ke depan. Saya hari ini dinas pagi dari pukul 07.00-14.00, saya yang akan
merawat Bapak pagi ini.”
“Nama Bapak siapa?Senangnya dipanggil apa?”
“Pak K, bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang Pak K rasakan
sekarang?”
“Berapa lama Pak K mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15
menit?”
“Bapak mau kita berbincang-bincang di mana?”
Kerja:
“Saya mengerti Pak K merasa bahwa Pak K adalah seorang…., tapi yang
Bapak rasakan tidak dirasakan oleh orang lain”
“Tampaknya Bapak gelisah
sekali,
bisa Bapak ceritakan
apa
yang Bapak rasakan?”
“O... jadi bang B merasa takut nanti diatur-atur oleh orang lain dan tidak
punya hak untuk mengatur diri abang sendiri?”
“Siapa menurut Bapak yang sering mengatur-atur diri Bapak?”
“Jadi
ibu
yang terlalu
mengatur-ngatur Bapak, juga kakak dan
adik Bapak yang lain?”
“Kalau Bapak sendiri inginnya seperti apa?”
“O... bagus Bapak sudah punya rencana dan jadwal untuk diri sendiri”
“Coba kita bersama-sama tuliskan rencana dan jadwal tersebut”
“Wah..bagus sekali, jadi setiap harinya Bapak ingin ada kegiatan diluar
rumah karena bosan kalau di rumah terus ya”
Terminasi :
“Oya Pak, karena sudak 15 menit, apakah Bapak mau kita berbincangbincang lagi atau sampai disini saja?”
“Bagaimana perasaan Bapak setelah berbincang-bincang dengan saya?”
“Apa saja yang sudah kita bicarakan Pak”
“Bagaimana kalau saya kembali lagi 2 jam lagi”
“Bagaimana kalau besok kita berbincang-bincang mengenai hobi Bapak?”
“Jadi Bapak, hari ini kita sudah berbincang tentang perasaan yang Bapak
rasakan, Bapak ingin seperti apa dan jadwal yang sudah kita buat”
“Kalau begitu saya pamit dulu Pak, Selamat Pagi”
SP 2 Pasien : Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu
mempraktekkannya
Orientasi :
“Selamat Pagi, bagaimana perasaan Bapak saat ini? Bagus!”
“Apakah Bapak sudah
mengingat-ingat
apa
saja
hobi
atau
kegemaran Bapak?”
“Bagaimana kalau kita bicarakan hobi tersebut sekarang?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang hobi Bapak tersebut?”
“Berapa lama Bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20
menit tentang hal tersebut?”
Kerja :
“Apa saja hobi bapak? Saya catat ya Pak, terus apa lagi?”
“Wah.., rupanya Bapak pandai main volley ya, tidak semua orang bisa
bermain volley seperti itu lho Pak”
“Bisa Bapak ceritakan
kepada
saya
kapan
pertama
kali
belajar
main volley, siapa yang dulu mengajarkannya kepada Bapak, dimana?”
“Bisa Bapak peragakan kepada saya bagaimana bermain volley yang
baik itu?”
“Wah..baik sekali permainannya”
“Coba kita buat jadwal untuk kemampuan bapak ini ya, berapa kali
sehari/seminggu Bapak mau bermain volley?”
“Apa yang Bapak harapkan dari kemampuan bermain volley ini?”
“Ada tidak hobi atau kemampuan Bapak yang lain selain bermain volley?”
Terminasi :
“Oya Pak, karena sudah 20 menit, apakah mau kita akhiri percakapan ini
atau mau dilanjutkan?”
“Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap tentang hobi dan
kemampuan Bapak?”
“Setelah ini coba Bapak lakukan latihan volley sesuai dengan jadwal yang
telah kita buat ya?”
“Besok kita ketemu lagi ya bang?”
“Bagaimana kalau nanti sebelum makan siang? Di kamar makan saja, ya
setuju?”
“Nanti kita akan membicarakan tentang obat yang harus Bapak minum,
setuju?”
“Kalau begitu, saya pamit Pak ya..Selamat Pagi”
SP 3 Pasien : Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar
Orientasi :
“Selamat Pagi Pak?.”
“Bagaimana bang sudah dicoba latihan volley? Bagus sekali”
“Sesuai dengan janji kita dua hari yang lalu bagaimana kalau sekarang kita
membicarakan tentang obat yang Bapak minum?”
“Dimana kita mau berbicara? Di kamar makan?”
“Berapa lama Bapak mau kita berbicara? 20 atau 30 menit?
Kerja :
“Bapak berapa macam obat yang diminum per Jam berapa saja obat
diminum?”
“Bapak perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang, tidurnya juga
tenang”
“Obatnya ada tiga macam Pak, yang warnanya oranye namanya CPZ
gunanya agar tenang, yang putih ini namanya THP gunanya agar rileks,
dan yang merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikiran jadi
teratur. Semuanya ini diminum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang, dan
jam 7 malam”.
“Bila nanti setelah minum obat mulut Bapak terasa kering, untuk
membantu mengatasinya abang bisa banyak minum dan mengisap-isap es
batu”.
“Sebelum minum obat ini Bapak dan ibu mengecek dulu label di kotak
obat apakah benar nama B tertulis disitu, berapa dosis atau butir yang
harus diminum, jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama
obatnya sudah benar”
“Obat-obat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus
diminum
dalam
waktu
yang
lama.
Agar
tidak
kambuh
lagi
sebaiknya Bapak tidak menghentikan sendiri obat yang harus diminum
sebelum berkonsultasi dengan dokter”.
Terminasi :
“Oya Pak, karena sudah 30 menit, apakah percakapan ini mau kita akhiri
atau lanjut?”
“Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap tentang obat
yang bang B minum? Apa saja nama obatnya? Jam berapa minum obat?”
“Mari kita masukkan ke jadwal kegiatan Bapak? Jangan lupa minum
obatnya dan nanti saat makan minta sendiri obatnya pada suster”
“Jadwal yang telah kita buat kemarin dilanjutkan ya Pak!”
“Pak, besok kita ketemu lagi untuk melihat jadwal kegiatan yang telah
dilaksanakan. Bagaimana kalau seperti biasa, jam 10 dan di tempat sama?”
“Kalau begitu saya pamit dulu Pak, Selamat Pagi”
DAFTAR PUSTAKA
Keliat, Budi Anna. (2006). Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Jiwa.
Jakarta : FIK, Universitas Indonesia
Aziz R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino
Gondoutomo. 2003
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung,
RSJP Bandung, 2000
Kusumawati dan Hartono . 2010 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta :
Salemba Medika
Stuart dan Sundeen . 2005 . Buku Keperawatan Jiwa . Jakarta : EGC
Download
Random flashcards
Rekening Agen Resmi De Nature Indonesia

9 Cards denaturerumahsehat

Nomor Rekening Asli Agen De Nature Indonesia

2 Cards denaturerumahsehat

Card

2 Cards

Create flashcards