Uploaded by vivilina012

makalah 2

advertisement
TUGAS MAKALAH PROFESI KEPENDIDIKAN
Judul : Prioritas Kerja Profesi Guru
OLEH :
NAMA: MUHAMMAD EFENDI GUNAWAS
NIM
: A1G120055
KELAS : 1A
PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
2021
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
ini. Dalam makalah ini saya menjelaskan mengenai Belajar Memperkenalkan
Fonologi Bagi Anak SD.
Makalah ini saya buat dalam rangka memperdalam matakuliah Profesi
Kependidikan. Saya menyadari, dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan
kekurangan. Hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan, pengetahuan dan
pengalaman yang saya miliki.
Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran. Demi perbaikan dan
kesempurnaan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..........................................................................................
i
DAFTAR ISI
ii
..................................................................................................
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................
1
A.
Latar Belakang ..............................................................................
1
B.
Rumusan Masalah .........................................................................
1
C.
Tujuan ...........................................................................................
1
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................
2
1.
Pengertian Profesi .................................................................
2
2.
Profesional .............................................................................
2
3.
Kode Etik Guru ......................................................................
4
BAB III PENUTUP ...............................................................................................
5
A. Kesimpulan ...................................................................................
5
B.
6
Saran ............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Lagu himne guru menunjukkan betapa pentingnya keberadaan seorang
guru bagi kehidupan seorang manusia dalam mengenal dunia. Tanpa guru, tidak
akan muncul generasi-generasi pintar yang akan membangun bumi ini. Semua
orang pasti akan mengakui berbagai jasa seorang guru bagi dirinya walau hanya di
dalam hati, tetapi mereka hanya mengakui dengan tanpa upaya memberikan suatu
penghargaan yang lebih dibanding kepada profesi lain.
Akibatnya, profesi guru yang dulu merupakan profesi yang paling
bergengsi dan menjadi dambaan bagi generasi muda pada zaman leluhur kita, kini
menjadi profesi yang kurang diminati dan dihargai dibanding dengan profesi
lainnya. Orang tua akan sangat bangga jika anaknya menjadi seorang dokter,
insinyur, tentara, polisi, atau profesi lainnya dibanding menjadi seorang guru.
Pada jaman penjajahan Belanda, status profesi guru memang sangat tinggi. Guru
dipandang sebagai pemimpin masyarakat yang disegani dan mempunyai status
ekonomi yang relatif tinggi. Dalam buku Siti Sahara, Wanita Guru Pertama dari
Mandailing, dalam Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ditulis, pada tahun 1920-an
misalnya, Ibu Guru Siti Sahara mempunyai gaji sebesar 40 gulden sebagai guru
Kepala Sekolah Wanita di Bireum. Suatu jumlah yang amat besar waktu itu,
mengingat ungkapan pada masa kolonial mengatakan bahwa seorang inlander
cukup hidup dengan segobang (2,5) sen sehari.
B.
Rumusan Masalah
Bagaimanakah sebenarnya Prioritas Kesejahteraan Guru
C.
Tujuan
1. Prioritas kerja Profesi Guru.
2. Untuk mengetahui prioritas dsan kesejahteraan guru
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Profesi
Menurut Dra. Ani M.Hasan,M.Pd, Profesi dalam pengertian yang lebih luas
yaitu kegiatan untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keahlian
tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan
berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan
norma-norma sosial dengan baik.
Pada masa penjajahan Jepang, status profesi guru juga masih terhormat. Para
guru diberi julukan Sensei yang dalam kebudayaan Jepang mempunyai kedudukan
sosial yang amat dihormati. Dalam masa awal perjuangan kemerdekaan, para guru
juga dihargai karena mereka bukan saja mengambil peran amat penting dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga ada yang ikut aktif menjadi tentara
rakyat dan berperang mengusir penjajah.
Pasca kemerdekaan sampai tahun 1950-an, citra dan status profesi guru dalam
masyarakat juga masih tinggi. Para guru masih dilihat dan diperlakukan bukan
hanya sebagai pendidik yang pantas digugu dan ditiru di sekolah, tetapi juga
sebagai pemimpin masyarakat yang terhormat. Tingginya citra guru pada zaman
penjajahan dan awal kemerdekaan di Indonesia berkait erat dengan citra
masyarakat memandang profesi guru. Pada masa itu, guru dicitrakan amat bagus
karena berkait erat dengan status sosial (ekonomis, politis dan budaya) pemegang
profesi yang bersangkutan dan kredibilitas professional para guru. Status ekonomi
para guru pada waktu itu memang tinggi. Mereka mendapat imbalan jasa yang
memadai untuk hidup sejahtera bersama keluarga.
B. Profesional
Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatankegiatan kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan
berdasarkan rasa keterpanggilan - serta ikrar (fateri/profiteri) untuk menerima
panggilan tersebut - untuk dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan
2
pertolongan kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan di tengah gelapnya
kehidupan (Wignjosoebroto, 1999).
Dengan demikian seorang profesional jelas harus memiliki profesi tertentu
yang diperoleh melalui sebuah proses pendidikan maupun pelatihan yang khusus,
dan disamping itu pula ada unsur semangat pengabdian (panggilan profesi) di
dalam melaksanakan suatu kegiatan kerja.
Hal ini perlu ditekankan benar untuk membedakannya dengan kerja biasa
(occupation) yang semata bertujuan untuk mencari nafkah dan/ atau kekayaan
materiil-duniawi. Lebih lanjut dijabarkan, profesionalisme dalam tiga watak kerja
yang merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian "jasa profesi" (dan
bukan okupasi).
Pertama, bahwa kerja seorang profesional itu beriktikad untuk merealisasikan
kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya
tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil;
Kedua, bahwa kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis
yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan
yang panjang, eksklusif dan berat.
Ketiga, bahwa kerja seorang profesional - diukur dengan kualitas teknis dan
kualitas moral - harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa
kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi
profesi.
Ketiga watak kerja tersebut mencoba menempatkan kaum profesional
(kelompok sosial berkeahlian) untuk tetap mempertahankan idealisme yang
menyatakan bahwa keahlian profesi yang dikuasai bukanlah komoditas yang
hendak diperjual-belikan sekadar untuk memperoleh nafkah, melainkan suatu
kebajikan
yang
hendak
diabdikan
demi
kesejahteraan
umat
manusia.
Kalau di dalam pengamalan profesi yang diberikan ternyata ada semacam imbalan
(honorarium) yang diterimakan, hal itu semata hanya sekadar "tanda kehormatan"
(honour) demi tegaknya kehormatan profesi, yang jelas akan berbeda nilainya
dengan pemberian upah yang hanya pantas diterimakan bagi para pekerja upahan
saja.
3
C. Kode Etik Guru.
KODE ETIK GURU INDONESIA
1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia
indonesia seutuhnya berjiwa Pancasila
2. Guru memiliki dan melaksanakan kewjujuran professional
3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan
melakukan bimbingan dan pembinaan
4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang
berhasilnya proses belajar mengajar
5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat
sekitarnya untuk membina peran serta dan tanggung jawab bersama
terhadap pendidikan
4
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masih rendahnya tingkat profesionalisme guru saat ini disebabkan oleh
faktor-faktor yang berasal dari internal guru itu sendiri dan faktor lainnya yang
berasal dari luar. Faktor-faktor tersebut antara lain: Penghasilan yang diperoleh
guru belum mampu memenuhi kebutuhan hidup harian keluarga secara
mencukupi. Oleh karena itu, upaya untuk menambah pengetahuan dan informasi
menjadi terhambat karena dana untuk membeli buku, berlangganan koran,
internet, tidak tersedia. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan dapur harus juga
melakukan kerja sampingan lainnya.
Di samping itu, kurangnya minat guru untuk menambah wawasan sebagai
upaya meningkatkan tingkat profesionalisme sebab bertambah atau tidaknya
pengetahuan serta kemampuan dalam melaksanakan tugas rutin tidak berpengaruh
terhadap pendapatan yang diperolehnya. Kalaupun ada, hal itu tidak seimbang
dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan.
Ironis memang, guru yang telah banyak menghasilkan para pemimpin, politisi
dan ilmuwan serta berbagai profesi lainnya, kini dianggap sebagai profesi
"murah" dan menjadi kelompok masyarakat yang terpinggirkan. Hal ini bukanlah
harus dilawan oleh guru secara fisik atau perang kata-kata agar yang lain mau
mengakui dan menerima guru sebagai tenaga yang profesional yang berjasa bagi
pembangunan negeri ini.
J Sudarminta mengatakan, dari sisi guru sendiri rendahnya mutu guru tampak
dari gejala: 1) lemahnya penguasaan bahan yang diajarkan; 2) ketidaksesuaian
antara bidang studi yang dipelajari guru dan yang dalam kenyataan di lapangan
dijabarkan; 3) kurang efektifnya cara pengajaran; 4) kurangnya wibawa guru di
hadapan murid; 5) lemahnya motivasi dan dedikasi untuk menjadi pendidik yang
sungguh-sungguh; semakin banyak yang kebetulan menjadi guru dan tidak betulbetul menjadi guru; 6) kurangnya kematangan emosional, kemandirian berpikir,
dan keteguhan sikap sehingga dari kepribadian mereka sebenarnya tidak siap
5
sebagai pendidik dan 7) relatif rendahnya kapasitas intelektual calon guru dan
para guru.
B.
Saran
Mengangkat citra guru, sebagaimana zaman penjajahan, jelas tidak mungkin.
Namun, jika pemerintah mau sungguh-sungguh, seperti perbaikan insentif
material dan kesejahteraan hidup, maka profesi guru akan membaik. Komitmen
politik Mendiknas mestinya tidak hanya menjadikan guru sebagai profesi tetapi
juga didahului dengan perbaikan kesejahteraan dan kualitas guru.
6
DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/6194359/MAKALAH_Prioritas_Kerja_Profesi_Guru
7
Download