Uploaded by User83061

materi kel 6 manajemen krisis

advertisement
Materi 1 : file:///C:/Users/user/Downloads/buku_pedoman_teknis_pkk_ab.pdf
Pelayanan Kesehatan Di Pengungsian
4.1. Pelayanan Kesehatan Dasar di Pengungsian
Pola pengungsian di Indonesia sangat beragam mengikuti
jenis bencana, lama pengungsian dan upaya persiapannya.
Pengungsian pola sisipan yaitu pengungsi menumpang di
rumah sanak keluarga. Pengungsian yang terkonsentrasi di
tempat-tempat umum atau di barak-barak yang telah
disiapkan. Pola lain pengungsian yaitu di tenda-tenda
darurat disamping kanan kiri rumah mereka yang rusak
akibat bencana.
Apapun pola pengungsian yang ada akibat bencana tetap
menimbulkan masalah kesehatan. Masalah kesehatan
berawal dari kurangnya air bersih yang berakibat pada
buruknya kebersihan diri dan sanitasi lingkungan yang
menyebabkan perkembangan beberapa penyakit menular.
Persediaan pangan yang tidak mencukupi juga
memengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi seseorang serta
akan memperberat proses terjadinya penurunan daya tahan
tubuh terhadap berbagai penyakit.
Dalam pemberian pelayanan kesehatan di pengungsian
sering tidak memadai akibat dari tidak memadainya fasilitas
kesehatan, jumlah dan jenis obat serta alat kesehatan,
terbatasnya tenaga kesehatan. Kondisi ini makin
memperburuk masalah kesehatan yang akan timbul.
Penanggulangan masalah kesehatan di pengungsian
merupakan kegiatan yang harus dilakukan secara
menyeluruh dan terpadu serta terkoordinasi baik secara
lintasprogram maupun lintas-sektor.
Dalam penanganan masalah kesehatan di pengungsian
diperlukan standar minimal yang sesuai dengan kondisi
keadaan di lapangan sebagai pegangan untuk
merencanakan, memberikan bantuan dan mengevaluasi apa
yang telah dilakukan oleh instansi pemerintah maupun LSM
dan swasta lainnya.
Pelayanan kesehatan dasar yang diperlukan pengungsi
meliputi:
1. Pelayanan pengobatan
Bila pola pengungsian terkonsentrasi di barak-barak
atau tempat-tempat umum, pelayanan pengobatan
dilakukan di lokasi pengungsian dengan membuat pos
pengobatan. Pelayanan pengobatan dilakukan di
Puskesmas bila fasilitas kesehatan tersebut masih
berfungsi dan pola pengungsianya tersebar berada di
tenda-tenda kanan kiri rumah pengungsi.
2. Pelayanan imunisasi
Bagi pengungsi khususnya anak-anak, dilakukan
vaksinasi campak tanpa memandang status imunisasi
sebelumnya. Adapun kegiatan vaksinasi lainnya tetap
dilakukan sesuai program untuk melindungi kelompokkelompok rentan dalam pengungsian.
3. Pelayanan kesehatan ibu dan anak
Kegiatan yang harus dilaksanakan adalah:
▪ Kesehatan Ibu dan Anak (pelayanan kehamilan,
persalinan, nifas dan pasca-keguguran)
▪ Keluarga berencana (KB)
72
▪ Deteksi dini dan penanggulangan IMS dan HIV/AIDS
▪ Kesehatan reproduksi remaja
4. Pelayanan gizi
Tujuannya meningkatkan status gizi bagi ibu hamil dan
balita melalui pemberian makanan optimal. Setelah
dilakukan identifikasi terhadap kelompok bumil dan
balita, petugas kesehatan menentukan strategi
intervensi berdasarkan analisis status gizi.Pada bayi
tidak diperkenan diberikan susu formula, kecuali bayi
piatu, bayi terpisah dari ibunya, ibu bayi dalam keadaan
sakit berat.
5. Pemberantasan penyakit menular dan
pengendalian vektor
Beberapa jenis penyakit yang sering timbul di
pengungsian dan memerlukan tindakan pencegahan
karena berpotensi menjadi KLB antara lain: campak,
diare, cacar, malaria, varicella, ISPA, tetanus.
Pelaksanaan pengendalian vektor yang perlu
mendapatkan perhatian di lokasi pengungsi adalah
pengelolaan lingkungan, pengendalian dengan insektisida,
serta pengawasan makanan dan minuman.
Pada pelaksanaan kegiatan surveilans bila menemukan
kasus penyakit menular, semua pihak termasuk LSM
kemanusiaan di pengungsian harus melaporkan kepada
Puskesmas/Pos Yankes di bawah koordinasi Dinas
Kesehatan Kabupaten sebagai penanggung jawab
pemantauan dan pengendalian.
6. Pelayanan kesehatan jiwa
Pelayanan kesehatan jiwa di pos kesehatan diperlukan
bagi korban bencana, umumnya dimulai pada hari ke-2
setelah kejadian bencana. Bagi korban bencana yang
memerlukan pertolongan pelayanan kesehatan jiwa
dapat dilayani di pos kesehatan untuk kasus kejiwaan
ringan. Sedangkan untuk kasus berat harus dirujuk ke
Rumah Sakit terdekat yang melayani kesehatan jiwa.
7. Pelayanan promosi kesehatan
Kegiatan promosi kesehatan bagi para pengungsi
diarahkan untuk membiasakan perilaku hidup bersih dan
sehat. Kegiatan ini mencakup:
▪ Kebersihan diri
▪ Pengolahan makanan
▪ Pengolahan air minum bersih dan aman
▪ Perawatan kesehatan ibu hamil (pemeriksaan rutin,
imunisasi)
Kegiatan promosi kesehatan dilakukan melekat pada
kegiatan kesehatan lainnya.
Standar minimal mencakup:
1. Pelayanan kesehatan
▪ Pelayanan kesehatan masyarakat
Berfungsi untuk mencegah pertambahan
(menurunkan) tingkat kematian dan jatuhnya korban
akibat penyakit
a. Menggunakan standar pelayanan puskesmas
b. 1 (satu) Pusat Kesehatan Pengungsi untuk
20.000 orang
c. 1 (satu) Rumah Sakit untuk 200.000 orang
▪ Kesehatan reproduksi
Kegiatan yang harus dilaksanakan mencakup:
a. Keluarga Berencana (KB)
b. Kesehatan Ibu dan Anak: pelayanan kehamilan,
persalinan, nifas dan pasca keguguran
c. Deteksi dini dan penanggulangan IMS dan
HIV/AIDS
d. Kesehatan reproduksi remaja
▪ Kesehatan jiwa
Bentuk kegiatan berupa penyuluhan, bimbingan dan
konseling yang dilakukan pada kelompok besar (>20
orang), kelompok kecil (5-20 orang) dan Konseling
perorangan.
Materi 2 : https://slideplayer.info/slide/11924496/
PELAYANAN KESEHATAN DI PENGUNGSIAN
MARDIANA MUSTAFAPELAYANAN KESEHATAN DI PENGUNGSIAN
2 PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI PENGUNGSIAN
Pelayanan kesehatan dasar yang diperlukan pengungsi meliputi:Pelayanan pengobatanBila pola
pengungsian terkonsentrasi di barak-barak atau tempat-tempat umum, pelayanan pengobatan
dilakukan di lokasi pengungsian dengan membuat pos pengobatan. Pelayanan pengobatan
dilakukan di Puskesmas bila fasilitas kesehatan tersebut masih berfungsi dan pola pengungsiannya
tersebar berada di tenda-tenda kanan kiri rumah pengungsi.Pelayanan imunisasiBagi pengungsi
khususnya anak-anak, dilakukan vaksinasi campak tanpa memandang status imunisasi
sebelumnya. Adapun kegiatan vaksinasi lainnya tetap dilakukan sesuai program untuk melindungi
kelompok kelompok rentan dalam pengungsian.Pelayanan kesehatan ibu dan anakKegiatan yang
harus dilaksanakan adalah:Kesehatan Ibu dan Anak (pelayanan kehamilan, persalinan, nifas dan
pasca-keguguran)Keluarga berencana (KB)Deteksi dini dan penanggulangan IMS dan
HIV/AIDSKesehatan reproduksi remaja
3 Lanjutan…. Pelayanan gizi
Tujuannya meningkatkan status gizi bagi ibu hamil dan balita melalui pemberian makanan optimal.
Setelah dilakukan identifikasi terhadap kelompok bumil dan balita, petugas kesehatan menentukan
strategi intervensi berdasarkan analisis status gizi.Pada bayi tidak diperkenan diberikan susu
formula, kecuali bayi piatu, bayi terpisah dari ibunya, ibu bayi dalam keadaan sakit
berat.Pemberantasan penyakit menular dan Pengendalian vektorBeberapa jenis penyakit yang
sering timbul di pengungsian dan memerlukan tindakan pencegahan karena berpotensi menjadi KLB
antara lain: campak, diare, cacar, malaria, varicella, ISPA, tetanus. Pelaksanaan pengendalian
vektor yang perlu mendapatkan perhatian di lokasi pengungsi adalah pengelolaan lingkungan,
pengendalian dengan insektisida, serta pengawasan makanan dan minuman. Pada pelaksanaan
kegiatan surveilans bila menemukan kasus penyakit menular, semua pihak termasuk LSM
kemanusiaan di pengungsian harus melaporkan kepada Puskesmas/Pos Yankes di bawah
koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten sebagai penanggung jawab pemantauan dan
pengendalian.Pelayanan kesehatan jiwaPelayanan kesehatan jiwa di pos kesehatan diperlukan bagi
korban bencana, umumnya dimulai pada hari ke-2 setelah kejadian bencana. Bagi korban bencana
yang memerlukan pertolongan pelayanan kesehatan jiwa dapat dilayani di pos kesehatan untuk
kasus kejiwaan ringan. sedangkan untuk kasus berat harus dirujuk ke Rumah Sakit terdekat yang
melayani kesehatan jiwa.
4 Lanjutan… Pelayanan promosi kesehatan
Kegiatan promosi kesehatan bagi para pengungsi diarahkan untuk membiasakan perilaku hidup
bersih dan sehat. Kegiatan ini mencakup:▪ Kebersihan diri▪ Pengolahan makanan▪ Pengolahan air
minum bersih dan aman▪ Perawatan kesehatan ibu hamil (pemeriksaan rutin, imunisasi)
5 Lanjutan… ▪ Pelayanan kesehatan masyarakat
Berfungsi untuk mencegah pertambahan (menurunkan) tingkat kematian dan jatuhnya korban akibat
penyakitMenggunakan standar pelayanan puskesmas1 (satu) Pusat Kesehatan Pengungsi untuk
orang1 (satu) Rumah Sakit untuk orang▪ Kesehatan reproduksiKegiatan yang harus dilaksanakan
mencakup:Keluarga Berencana (KB)Kesehatan Ibu dan Anak: pelayanan kehamilan, persalinan,
nifas dan pasca keguguranDeteksi dini dan penanggulangan IMS dan HIV/AIDSKesehatan
reproduksi remaja▪ Kesehatan jiwaBentuk kegiatan berupa penyuluhan, bimbingan dan konseling
yang dilakukan pada kelompok besar (>20 orang), kelompok kecil (5-20 orang) dan Konseling
perorangan.
6 PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR
▪ Vaksinasi Sebagai prioritas pada situasi pengungsian, bagi semua anak usia 6 bulan – 15 tahun
menerima vaksin campak dan vitamin A dengan dosis yang tepat. ▪ Masalah umum kesehatan di
pengungsian Beberapa jenis penyakit yang sering timbul di pengungsian memerlukan tindakan
pencegahan. Contoh penyakit tersebut antara lain, diare, cacar, penyakit pernafasan, malaria,
meningitis, tuberkulosa, tifoid, cacingan, scabies, xeropthal-mia, anemia, tetanus, hepatitis,
IMS/HIV-AIDS ▪ Manajemen kasus Semua anak yang terkena penyakit menular selayaknya dirawat
agar terhindar dari risiko penularan termasuk kematian. ▪ Surveilans Dilakukan terhadap beberapa
penyakit menular dan bila menemukan kasus penyakit menular, semua pihak termasuk LSM
kemanusiaan di pengungsian, harus melaporkan kepada Puskesmas dibawah koordinasi Dinas
Kesehatan Kabupaten sebagai penanggung jawab pemantauan dan pengendalian
7 MENJAMIN PELAYANAN KESEHATAN BAGI PENGUNGSI
Pelayanan kesehatan dapat disediakan dengan menugaskan relawan dan pekerja kesehatan
pemerintah yang berada di pengungsian atau meluaskan kapasitas dari fasilitas pelayanan
kesehatan terdekat.Fokus dari pelayanan kesehatan harus tertuju kepada pencegahan penyakit
menular yang spesifik dan pengadaan sistem informasi kesehatan.Apabila pengungsi dalam jumlah
besar dikondisikan untuk tetap tinggal di penampungan sementara untuk jangka panjang, terutama
di daerah yang tidak terlayani dengan baik oleh fasilitas kesehatan yang ada, maka pengaturan
khusus harus diadakan.
8 PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT
9 AIR BERSIH DAN SANITASI
LINGKUP :Penyediaan air bersihPembuangan kotoranPembuangan sampahPembuangan
limbahPemberantasan vektorSanitasi makananPenyuluhan kebersihan lingk.
10 LANJUTAN…Tujuan utama perbaikan dan pengawasan kualitas air adalah untuk mencegah
timbulnya risiko kesehatan akibat penggunaan air yang tidak memenuhi persyaratan.Sumber air
bersih:berasal dari sumber air permukaan (sungai, danau, laut, dan lain-lain), sumur gali, sumur bor,
mata air dan sebagainya, perlu segera dilakukan pengamanan terhadap sumber-sumber air tersebut
dari kemungkinan terjadinya pencemaran,Bila sumber yg jauh dari pengungsian harus dilakukan
pengangkutan dgn mobil tangkiPengolahan dapat dilakukan dgn penyulingan (water purifier/water
treatment plant)Standar minimum kebutuhan air bersihPrioritas pada hari pertama/awal kejadian
bencana atau pengungsian kebutuhan air bersih yang harus disediakan bagi pengungsi adalah 5
liter/orang/hari.Pada hari kedua dan seterusnya harus segeradiupayakan untuk meningkatkan
volume air sampai sekurang kurangnya 15–20 liter/orang/ hari.Bagi fasilitas pelayanan kesehatan
dalam rangka melayani korban bencana dan pengungsian, volume air bersih yang perlu disediakan
di Puskesmas atau rumah sakit: 50 liter/org/hari.
11 Water treatment Germany Army
13 Water treatment designed by BPPT-Indonesia
14 PENGAWASAN DAN PERBAIKAN KUALITAS AIR
Langkah yang perlu dilakukan :Buang atau singkirkan sumber-sumber atau bahan
pencemar.Desinfeksi sarana air bersih yang ada : sumur/mata air/ air di mobil tangki, di tangki
penampungan air, dan system distribusinyaPeriksa kadar sisa klor bilamana air dari dikirim dari
PDAM.Lakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala pada titik-titik distribusi.
15 Perbaikan Kualitas Air
Penjernihan Air CepatAluminium Sulfat (Tawas)Poly Aluminium Chlorida (PAC)Desinfeksi AirKaporit
(Ca(OCL)2)Aquatabs (aqua tablet)
18 Pengawasan kualitas air bersih
Titik pengawasan :Pada awal distribusi air :Titik pada jalur distribusi airPada akhir
distribusi,Pemeriksaan kualitas air yang secara berkala perludilakukan:Sisa klor :Kekeruhan dan pH
:Bakteri coli tinja :
19 SARANA PEMBUANGAN KOTORAN / JAMBAN / SARANA SANITASI : Pengelolaan
pembuangan tinja merupakan upaya pencegahan penyakit, terutama Diare Tiap jamban harus
dilengkapi dengan penyediaan air. Penggunaan jamban : 1 buah untuk 20 orang.
22 PEMBUANGAN SAMPAH:Sampah harus dikelola dengan baik, karena merupakan tempat
perindukan lalat dan tikus.Di tempat penampungan pengungsi harus disediakan tempat sampah,
berupa:bak sampah (kapasita L) untuk org/hrkantong sampah : 1 lembar untuk 1 keluarga (3 hr)
23 PEMBERANTASAN VEKTOR (1)
Vector merupakan binatang / serangga penularpenyakit.Contoh : lalat, nyamuk dan
tikus.Keberadaan vektor tersebut, antara lain terkaitDengan pemilihan lokasi penampungan
pengungsi(contoh : dekat dengan breeding places nyamuk)
25 PEMBERANTASAN VEKTOR (2)
LALAT :- Perbaikan pegelolaan pembuangan sampah.- Penyemprotan insektisida pada tempat
pengumpulan sampah.NYAMUK:- Penyemprotan insektisidaMemodifikasi breeding
places.Menggunakan kelambu.
26 PENGELOLAAN MAKANAN Pengawasan ketat perlu diberikan pada dapur
umum yang menyediakan makanan bagi pengungsi.Pengawasan diarahkan untuk:Kualitas dan
keamanan bahan makanan.Kebersihan peralatan /perabotanKebersihan penjamah
makanan.Tempat pengolahan dan penyimpanan makanan.Ketersediaan air bersih
27 PEMBUANGAN AIR LIMBAH. Risiko kesehatan : tercemarnya air bersih
PEMBUANGAN AIR LIMBAH. Risiko kesehatan : tercemarnya air bersih. Harus dibuang/ disalurkan
ke tempat tertentu,misal dengan membuat sumur peresapan dengan jarak > 30 meter dari tenda
dan sumber air bersih.
31 SURVEILANS PENYAKIT DAN FAKTOR RISIKO
Pengumpulan dataData kesakitan dan kematian dan data denominatorSumber dataJenis
formPengolahan dan Penyajian dataPenyajian data meliputi deskripsi dan grafik tentang angka
kesakitan berdasarkan umur dan data kematian berdasarkan penyebab.Analisis dan
interpretasiMenentukan prioritas masalahMerumuskan pemecahan masalahMenetapkan
rekomendasi sebagai tindakan korektifPenyebarluasan informasi
32
SURVEILENSG I Z IDI DAERAH PENGUNGSIAN
33 Tujuan Surveilens Gizi Darurat
Menyediakan informasi yang diperlukan bagi perencanaan pengadaan bahan makanan bagi
pengungsiMenyediakan informasi yang diperlukan bagi penentuan dan perencanaan intervensi
sesuai dengan kondisi pengungsiMemberikan informasi tentang perkem- bangan keadaan gizi dan
pertumbuhan balita dari waktu ke waktu secara teraturMemberikan informasi yang diperlukan untuk
evaluasi efektivitas intervensi dan masih perlu atau tidaknya program intervensi dilanjutkanTujuan
Surveilens Gizi Darurat
34 Surveilens Gizi dan Pangan Darurat
PenyelamatanTanggap daruratRehabilitasiRegistrasi:KK, Jml. Aggota KK, Jenis kelamin,
Umur,(Balita,Bumil, Buteki, Usila),PersediaanPangan KeluargaPenilaian status gizi balita (BB/TB)
Data dasarSkrining bila diperlukanKebutuhan bahan makananPenentuan jenis Inter- vensiSiapa
yang perlu inter- vensiPerkembangan Status Gizi : Apakah intervensi perlu dilanjutkan atau distop,
atau perlu diubah jenisnya?Data dasar status penyakitSurveilens PenyakitMonitoring ketersediaan
pangan keluarga dan Status Gizi balita dgn indikator BB/TB, monitoring pertumbuhan balita (KMS),
dan Evaluasi perkembangan keadaan gizi
35 Surveilens Gizi Darurat
Registrasi pengungsiUntuk mengetahui jml KK, jiwa, sex, umur, bumil, buteki, usilaUntuk
mengetahui luas wilayah, jumlah camp, sarana air bersihRegistrasi dapat dilakukan sendiri atau
menggunakan data SatkorlakData tersebut dpt digunakan untuk menghitung kebutuhan bahan
makanan pada tahap penyelamatan dan merencanakan tahapan surveilens berikutnyaSurveilens
Gizi DaruratTahapan
36 Surveilens Gizi Darurat
TahapanSurveilens Gizi DaruratPengumpulan data dasar giziData antropometri, BB, TB, umur
dengan metrodologi survei cepatData penjang: diare, ISPA/pneumonia, campak, malaria, kematian
kasar dan kematian balitaData tersebut digunakan untuk menentukan kedaruratan gizi dan jenis
intervensi yang diperlukan
37 Surveilens Gizi Darurat
TahapanSurveilens Gizi DaruratPenapisanPenapisan dilakukan apabila diperlukan intervensi PMT
darurat terbatasPengukuran antropometri (BB/TB)Kelompok rentan lainnya penapisan dilakukan
dengan pengukuran LILA
38 Surveilens Gizi Darurat
TahapanSurveilens Gizi DaruratPemantauan dan EvaluasiPemantauan pertumbuhan balita setiap
bulanPenilaian keadaan gizi seluruh balita setelah periode tertentu (3 bulan) untuk dibandingkan
dengan data dasar
39 Surveilens Gizi Darurat
PersiapanSurveilens Gizi DaruratPetugas pelaksana adalah tenaga gizi (minimal ada 3 orang) agar
surveilens dapat segera terlaksana yang berkerja secara tim dengan surveilens penyakit dan tenaga
lainnyaAlat identifikasi, pengumpulan data, pemantauan dan evaluasi (Formulir, alat ukur
antropometri, KMS, jika memungkinkan adanya software)Melakukan kajian data surveilens gizi dgn
mengintegrasikannya dengan informasi dari surveilens lainnya
40 PENANGANAN GIZI DARURAT
41 PELAYANAN LOGISTIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN
Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan untuk situasi darurat merupakan salah satu unsur
penunjang yang sangat vital, oleh karena itu diperlukan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan
dengan baik, dalam situasi normal maupun darurat.Pengelolaan logistik dan perbekalan kesehatan
merupakan rangkaian kegiatan secara terpadu yang meliputi:perencanaan
kebutuhanPengadaanPenyimpananPendistribusianPenggunaanPencatatan dan
pelaporanPenghapusan.
42 Perencanaan kebutuhan
Jenis BencanaLuas bencana dan jumlah korbanStok obat yang dimiliki
43 Pendistribusian…Persyaratan pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan adalah adanya
permintaan dari daerah bencana.Apabila obat dan perbekalan kesehatan tidak tersedia, di provinsi
yang mengalami bencana maka diusahakan dari Depkes atau provinsi terdekat.Provinsi terdekat
wajib membantu daerah tetangga yang terkena bencana.Adanya estimasi Tingkat keparahan
bencanaPerlu dianggarkan biaya distribusi dari Kabupaten/Kota agar jika terjadi bencana tidak
mengalami kesulitan dalam mendistribusikan obat dan perbekalan kesehatan.Kerjasama lintas
sektor dan lintas program mutlak dilakukan.
44 Penyediaan…Yang utama adalah menggunakan persediaan obat dan perbekalan kesehatan
yang ada di Dinkes Provinsi/ Kabupaten/ Kota.Jika tidak cukup dapat meminta kepada institusi yang
lebih tinggi (buffer stock provinsi, nasional)Bantuan donasi dari organisasi internasional, LSM,
ormas, dan sebagainya adalah pilihan terakhir.
45 Persyaratan obat bantuan
Jenis obat sesuai kebutuhan (sesuai dengan pola penyakit)Dosis sesuai dengan kondisi di
Indonesia/biasa digunakanBerasal dari/dibuat oleh sumber yang jelasWaktu kadaluarsa sekurangkurangnya 2 (dua) tahun pada saat diterimaPenandaan/label dan kemasan yang lazim dikenakan di
IndonesiaMencantumkan nama generikBahasa yang dikenalBila menerima bantuan dari donor,
biayapengiriman, gudang harus ditanggung oleh pihak donor
46 Penyimpanan obat &perbekalan kesehatan
Untuk menjaga mutu obat maka penyimpanan obat dan perbekalan kesehatan harus dilakukan pada
tempat yang memenuhi persyaratan (suhu 25◦ C, tidak lembab) dan dilengkapi dengan petugas
yang terampil (kompeten)
47 Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dilokasi bencana berupa pencatatan pemasukan dan pencatatan pengeluaran
obatPencatatan dilokasi Posko Bencana Kab/Kota/ProvinsiMenggunakan format laporan
penggunaan dan laporan permintaan obat (LPLPO)Waktu pelaporan sesuai dengan kebutuhan
harian, mingguan dan bulanan
48 Pemusnahan Obat-obatan
Mengacu pada Prosedur Tetap pemusnahan obat-obatandengan mempertimbangkan dampak
lingkunganProses Pemusnahan obat:Memilah, memisahkan dan menyusun daftar obat yg akan
dimusnahkanMenentukan cara pemusnahanMenyiapkan pelaksanaan pemusnahanMenetapkan
lokasi pemusnahanMembuat berita acara pemusnahanMelaporkan kepada Gubernur/Bupati/
WalikotaTatacara pemusnahan obat dan perbekalan kesehatan mengacu kepada standar yang
diterbitkan oleh Dit BOPPK.
Download