Uploaded by User81616

Tugas Makalah Metalurgi 2

advertisement
MAKALAH
METALURGI FISIK
Diajukannya sebagai persyaratan dalam menyelesaikan Tugas mata kuliah
Metalurgi Fisik Jurusan Teknin Mesin S1 Fakultas Teknik
Universitas Singaperbangsa Karawang
Dosen Pengampuh :
Ratna Dewi Anjani, ST, M.T.
Disusun oleh:
TAUFAN PUTRA WAHYU HIDAYAT
1910631150046
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
2020
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kesempatan untuk menyusun Makalah Metalurgi Fisik yang
dibuat oleh mahasiswa Program Studi Teknik Mesin S1 Fakultas Teknik
Universitas Singaperbangsa Karawang.
Makalah ini merupakan hasil pengerjaan kami untuk menyelesaikan Tugas
mata kuliah Metalurgi Fisik pada Studi Teknik Mesin S1. Oleh karena itu
kami berharap Makalah ini dapat diterima dan bermanfaat. Adapun pihakpihak tersebut antara lain:
1. Bapak Ir. Oleh.,ST.,MT. selaku kepala program studi Teknik
Mesin.
2. Ibu Ratna Dewi Anjani, S.T., M.T. selaku dosen pengampu
mata Kuliah Metalurgi Fisik.
3. Orang Tua yang sudah memberikan motivasi dan doa dalam
setiap kegiatan kami.
Demikian Makalah ini Kami buat. Disadari atau tidak, mungkin dalam
Pengerjaan Makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Kami
mohon maaf apabila masih ada banyak kekurangan.Semoga Makalah ini
yang Kami susun ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Khususnya juga
bermanfaat bagi diri kami sendiri.
Penyusun
Taufan Putra Wahyu Hidayat
ii
DAFTAR ISI
COVER ....................................................................................... i
KATA PENGANTAR .............................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2 Tujuan........................................................................................ 1
BAB II LANDASAN TEORI ................................................... 3
2.1 Perlakuan Panas ........................................................................ 3
2.2 Macam-macam perlakuan panas .............................................. 7
BAB III PENUTUP.................................................................15
3.1 Kesimpulan............................................................................. .15
3.2 Saran………………………………………………………
iii
15
BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang
Mekanisme penguatan pada material logam merupakan hubungan antar
pergerakan dislokasi dan sifat mekanik dari logam. Kemampuan suatu
material logam untuk diubah secara plastis tergantung pada kemampuan
dislokasi untuk dapat bergerak. Dengan mengurangi pergerakan dislokasi,
kekuatan mekanik dapat di tingkatkan, dimana di sebabkan energi mekanik
yang di butuhkan untuk membuat deformasi plastis akan semakin besar.
Sebaliknya apabila pergerakan dislokasi tidak ada yang menahan, logam akan
lebih mudah untuk terdeformasi. Secara umum mekanisme penguatan yang di
gunakan pada material logam adalah melalui pengerasan regang, penguatan
larutan padat, penguatan presipitasi, dan penguatan batas butir. Mekanisme
penguatan memiliki 3 metode yaitu pengerasan tegangan (strain hardening),
penguatan larutan padat (solid-solution strengthening), penghalusan butir
(grain-size reduction).
Gambar 1.1 Mekanisme penguatan pada logam dalam skala mikroskopik.
Macam-macam mekanisme penguatan logam ;
1. Pengerasan regangan
1
2. Penguatan oleh atom-atom asing yang larut padat
3. Penguatan oleh fasa kedua
4. Pengutan oleh disperse
5. Penguatan dengan penghalusan butir
6. Pengerasan dengan tranformasi mantensit (pada baja)
7. Penguatan dengan tekstur
BAB II
2
PEMBAHASAN
2.1 Pengerasan Tegangan
Strain hardening (pengerasan regangan) adalah penguatan logam untuk
deformasi plastik (perubahan bentuk secara permanen atau tidak dapat
kembali seperti semula). Penguatan ini terjadi karena dislokasi gerakan
dalam struktur kristal dari material. Deformasi bahan disebabkan oleh slip
(pergeseran) pada bidang kristal tertentu. Jika gaya yang menyebabkan slip
ditentukan dengan pengandaian bahwa seluruh atom pada bidang slip kristal
serempak bergeser, maka gaya tersebut akan besar sekali. Dalam kristal
terdapat cacat kisi yang dinamakan dislokasi. Dengan pergerakan dislokasi
pada bidang slip yang menyebabkan deformasi dengan memerlukan tegangan
yang sangat kecil.
Kalau kristal dipotong menjadi pelat tipis dan dipoles secara elektrolisa, maka
akan terlihat di bawah mikroskop elektron, sejumlah cacat yang disebut
dislokasi. Dislokasi merupakan cacat kisi yang menentukan kekuatan bahan
berkristal. Karena adanya tegangan dari luars, dislokasi akan bergerak
kepermukaan luar, sehingga terjadi deformasi. Selama bergerak dislokasi
bereaksi satu sama lain. Hasil reaksi ada yang mudah bergerak dan ada yang
sulit bergerak. Yang sulit bergerak berfungsi sebagai sumber dislokasi baru
(multiplikasi dislokasi). Sehingga kerapatan dislokasi semakin tinggi.
Semakin tinggi kerapatan dislokasi, maka semakin sulit dislokasi bergerak
sehingga kekuatan logam akan naik.
Strain hardening (pengerasan regangan) terjadi selama pengujian tarik. Pada
proses uji tarik regangan akan bertambah sehingga kekuatan tarik, kekuatan
mulur dan kekerasannya akan meningkat pula sedangkan massa jenis dan
hantaran listriknya menurun. Hal ini juga mengakibatkan menurunnya
keuletan.
Kristal logam mempunyai kekhasan dalam keliatan yang lebih besar dan
pengerasan yang luar biasa. Sebagai contoh, kekuatan mulur baja lunak
3
sekitar 180 MPa dan dapat ditingkatkan sampai kira – kira 900 MPa oleh
pengerasan regangan (Surdia Tata : 1984). Inilah yang melatarbelakangi
mengapa mekanisme pengerasan logam merupakan sesuatu yang berguna.
Tegangan di daerah elastis sampai sekitar titik mulur didapat dengan jalan
membagi beban oleh luas penampang asal batang uji, biasanya dipakai pada
perencanaan mesin – mesin. Tegangan ini dinamakan tegangan teknis atau
tegangan nominal. Ketika deformasi bertambah, maka luas penampang
batang uji menjadi lebih kecil sehingga tegangan dapat dinyatakan dalam
tegangan sebenarnya. Kekuatan tarik atau kekuatan maksimum yang
dinyatakan dalam tegangan teknis atau tegangan nominal sering dipakai
dalam bidang teknik,yaitu tegangan dalam ordinat
fasa gambar 1.2
dinyatakan dalam tegangan nominal. Kalau tegangan dinyatakan dalam
tegangan sebenarnya σ’ dan regangan dalam regangan sebenarnya ε’
ε’ = ln ( l / lo )
dan dengan regangan teknik ε
ε’ = ln ( 1 + ε )
Hubungan antara tegangan sebenarnya dan regangan sebenarnya didekati oleh
persamaan
σ’ = K ε’ n
dengan
n = eksponen pengerasan regangan (sebagai ukuran pengerasan)
1 = koefisien kekuatan
K = konstanta
n = konstanta
K dan n adalah konstanta yang ditentukan oleh jenis bahan dan keadaan
deformasi tertentu. Diatas menyatakan perbandingan antara kurva tegangan –
regangan teknis dan kurva tegangan – regangan sebenarnya. Dan
persamaannya dapat dirumuskan
log σ’ = log K + n ε’
Jadi kalau tegangan sebenarnya dan tegangan sebenarnya diplot pada kertas
grafik logaritma, daerah deformasi plastis merupakan garis lurus, sedangkan
gradiennya merupakan harga n. Kalau keadaan deformasi tertentu
diperhitungkan, regangan sebenarnya sama dengan perubahan regangan
4
memanjang dan melintang, atau regangan dari tarikan dan tekanan.
Selanjutnya regangan
ε’neck pada permulaan pengecilan setempat dari
pengujian tarik sama dengan harga n.
Berikut adalah nilai K dan n
Hubungan antara elastisitas dan strain hardening
Ø Pada daerah elastic bahan mengikuti Hukum Hook
( E = σ / ε)
Kemudian setelah melewati titik luluh Y akan mengalami deformasi plastis.
Seperti yang telah dijelaskan, deformasi berlanjut jika tegangan bertambah
sehingga K lebih besar dari Y dan n lebih dari 0. Flow curve biasanya
dinyatakan dalam sebagai fungsi linier dengan sumbu logaritma. Kebanyakan
logam ulet (ductile) bersifat seperti ini
1. Factor yg mempengaruhi
2. Dengan dislokasi
3. Dengan perlakuan panas
4. Contoh pengerjaannya d roll atau yak opo
5. Data yang mendukung contohnya material apa,kekuatannya brp,dll
Penguatan Regangan (Strain Hardening) merupakan fenomena dimana logam
ulet berubah sifatnya menjadi lebih keras dan lebih kuat. Penguatan regangan
juga disebut dengan istilah ‘cold working’, dikarenakan proses hardening
dilakukan pada temperature kamar yang relatif lebih rendah dibanding
temperatur leburnya yang tinggi.
Pada gambar dibawah juga dijelaskan bagaimana baja, kuningan, dan
tembaga memiliki nilai tegangan yield yang besar. Lalu, mengapa logam yang
telah mengalami proses reduksi luasan dapat semakin keras dan kuat?
Jawabannya karena hal ini disebabkan oleh interaksi antara daerah- daerah
regangan yang mengalami dislokasi. Saat benda mengalami yang namanya
penguatan regangan, otomatis benda akan mengalami dua dislokasi yaitu
dislokasi yang terjadi dalam unit sel dan dislokasi yang disebabkan oleh
reduksi luasan tadi. Akibatnya, kepadatan dislokasi akan menjadi semakin
5
besar. Nah, karena saking padatnya dislokasi tadi, ketika suatu bagian hendak
mengalami dislokasi ia akan diganjal oleh dislokasi lainnya. Dislokasi
keduanya samakat dan tidak terjadi pergerakan yang artinya dislokasi menjadi
semakin kecil. Karena dislokasi jadi semakin kecil, otomatis deformasi plastis
juga semakin kecil dan hal inilah yang menaikkan tingkat kekerasan dan
kekuatan dari logam tadi.
Gambar 2.1 Nilai Tegangan Yield Baja, Kuningan dan Tembaga.
2.2 Penguatan Larutan Padat
Mekanisme lainnya dari penguatan material adalah dengan menggunakan
atom lain yang disisipkan atau mengganti salah satu atom dalam unit sel.
Berdasarkan keterangan diatas, logam dalam keadaan murninya memiliki
sifat yang lemah dan lebih lembut. Dengan ditambahkannya atom lain yang
disisipkan atau digantikan, maka kekuatan dan kekerasan dari suatu material
akan lebih besar dibanding dalam keadaan murninya. Hal ini dikarenakan,
atom sisipan tadi akan mengalami dislokasi. Ukuran atom yang kecil dan
besar yang terlarut akan menurunkan energi regangan. Atom sisipan yang
6
berukuran kecil akan menurunkan energi regangan tekan sedangkan atom
sisipan berukuran besar akan menurunkan energi regangan tarik. Semakin
banyak terdapat atom sisipan tadi, maka energi regangan lama kelamaan akan
hilang dan dislokasi juga semakin kecil hingga hilang.
Gambar 2.2 Variasi Komposisi Nikel Terhadap Yield Strength, Tensile Strength,
dan Elongasi
Gambar 2.3 dan 2.4 Representasi dari kehadiran atom lain yang berukuran besar
dan kecil terhadap sifat mekanis logam.
7
2.3 Penghalusan Butir
Ukuran dari suatu butiran atau diameter dari butir mempengaruhi kekuatan
dari suatu material. Kita tahu bahwa masing- masing butir akan memiliki
orientasi gerak yang berbeda- beda antara satu dengan yang lain. Selama
deformasi plastis, dislokasi tadi akan menabrak bagian yang disebut batas
butir. Nah, pada mekanisme ini, batas butir tadi lah yang akan menjadi
penghalang dari terjadinya dislokasi.
Sebagai contoh, pada gambar diatas antara butir A dengan butir B memiliki
orientasi pergerakan yang berbeda. Jika dislokasi bergerak searah dengan
pergerakan butir A, maka ketika dislokasi tadi bergerak kearah butir B, maka
ia akan terlebih dahulu menabrak bagian batas butir untuk kemudian
mengubah arah orientasinya mengikuti butir B. Oleh karena itu, batas butir
disini dapat diartikan sebagai barrier (penghalang). oleh Karena itu, semakin
kecil ukuran dari butir atau semakin kecil diameternya maka akan semakin
banyak terdapat daerah batas butir yang akan menjadi penghalang dari
terjadinya dislokasi. Dengan demikian, material dengan butir yang baik (Butir
kecil) akan memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibanding material yang
memiliki butir kasar (Butir besar) karena memiliki lebih banyak batas butir.
Gambar 2.4 Gerakan Dislokasi terhalang dari Batas Butir.
8
Gambar 2.5 Diagram yang Menunjukkan Pengaruh Ukuran Butir Terhadap Yield
Strength Material.
2.4 Macam-Macam Mekanisme Penguatan Logam
1. Pengerasan Regangan
Untuk masing masing kenaikan regangan plastis, Untuk masing masing
kenaikan regangan plastis, dibutuhkan tegangan yang lebih besar untuk
tuhkan tegangan yang lebih besar untuk menggerakkan dislokasi
dibandingkan sebelumya karena dislokasi telah a dislokasi telah banyak
yang sampai banyak yang sampai kebatas butir. Ini berarti logam
bertambah kekerasan dan kekuatan.
2. Penguatan Atom-atom yang Larut Padat
Pada penguatan ini dimana logam murni bersifat sangat lunak.
Penambahan atom asing yang larut padat akan menaikan kekuatannya,
Penguatan ini disebut solid solution strengthening, Memasukan atom larut
sebagai larutan padat dalam kisi atom pelarut, selalu menghasilkan paduan
yang lebih kuat dari pada logam murni.
Karbon, Nitrigen, Oksigen, Hidrogen dan Boron elemen yang biasanya
membentuk larutan pada sisipan atau intersisi (interstitial solid solition).
Logam yang tidak memiliki gaya gabung kimia yang kuat atau satu sama
lainya cenderung membentuk laruan padat, sedang logam yang terpisah
jauh dalam seri elektromotif cenderung membentuk senyawa antar logam
(intermetallic compound)
9
3. Penguatan Fasa Kedua
Penguatan fasa kedua terjadi ketika penambahan unsur paduan
menghasilkan fasa kedua ( second phase) atau fasa sekunder.
Fasa kedua Fasa kedua bersifat keras (kuat) dan getas. Kekeras bersifat
keras (kuat) dan getas. Kekerasan (kekuata an (kekuatan) material
meningkat dengan n) material meningkat dengan bertambahnya jumlah
(fraksi berat) fasa kedua. Contoh paduan y toh paduan yang menghasilkan
ang menghasilkan (memiliki) fasa kedua:
Ø Baja (Steel )
Besi (Fe) yang dipadu (Fe) yang dipadu dengan karbon (C dengan karbon
(C) menghasilkan fasa kedua ) menghasilkan fasa kedua senyawa Fe
senyawa Fe3C (sementit) disamping fasa utama ferrit (α) larut padat dalam
(Fe) . Fasa ferrit bersifat lebih lunak dan ulet sedangkan sementit sangat
keras tapi rapuh.
4. Penguatan Disperse
Penguatan dispersi terjadi pada peroses metalurgi serbuk/powder metalurgi
dimana proses komposisi yang diikuti oleh proses sintering dilakukan pada
pencampuran serbuk kertas kepada serbuk matriks yang bersifat ulet.
Akibatnya partikel keras tadi akan memicu gerakan dislokasi dan
menghambat gerakannya. Akibatnya terjadi dislokasi dan terjadilah
perbanyakan dislokasi sehingga kekerasan dan kekuatannya meningkat.
Logam paduan bisa ditingkatkan kekerasannya dengan penambahan
partikel penambahan partikel oksida yang oksida yang akan menghalangi
pergerakan dari dislokasi. Partikel oksida tidak larut dalam matriknya pada
suhu tinggi. Penambahan partikel Al2O3 pada produk SAP pada produk
SAP ( sintered aluminium product ) akan memberikan kekuatan yang
memberikan kekuatan
yang lebih tinggi dibanding lebih tinggi
dibandingkan padual Al kan padual Al biasa pada suhu tingg biasa pada
suhu tinggi.
5. Penguatan Penghalus Butir
10
Batas butir adalah penghalang dislokasi atau disebut juga penghalang
terjadinya slip. Kemampuan menghalangi bertambah dengan peningkatan
sudut mis-orientasi butir (angle of misorientation). Butir halus mempunyai
batas ). Butir halus mempunyai batas butir lebih banyak s butir lebih
banyak sehingga penghalang ehingga penghalang dislokasi lebih banyak
dan lebih susah terjadinya slip akhirnya material menjadi lebih kuat.
Makin halus ukuran butir maka bidang slip akan semakin pendek sehingga
dislokasi akan cepat sampai ke batas butir. Semakin halus ukuran butir
maka material akan semakin kuat.
6. Penguatan Tranformasi Martensit
Martensit memiliki susunan atom BCT sehingga dislokasi menjadi susah
untuk bergerak. Baja dipanaskan sampai fasa austenit lalu dilakukan
pendinginan cepat sehingga atom-atom karbon pada austenit tidak sempat
berdifusi
keluar,
akibatnya
austenit
ak akibatnya
austenit
akan
bertransformasi an bertransformasi menjadi martensit yang memiliki sel sa
menjadi martensit yang memiliki sel satuan BCT. Kek tuan BCT.
Kekerasan martensit akan semakin tinggi erasan martensit akan semakin
tinggi dengan semakin banyaknya atom karbon yang larut didalamnya.
7. Penguatan Tekstur
Orientasi-orientasi butirnya tidak acak lagi, melainkan mengrah pada
orientasi tertentu. Logam yang orientasi kristal-kristalnya mengarah
dikatakan memiliki tekstur kristalografi. logam yang pernah mengalami
deformasi atau seperti dirol atau ketika penarikan kawat, akan
mengembangkan
oreantasi
pilihan
atau
tekstur,
dimana
bidang
kristalografis tertentu cenderung mengoreintasikan dirinya dengan cara
yang diutamakannya terhadap arah regangan maksimum.
11
BAB III
PENUTUP
12
Download