Uploaded by common.user77751

Tinjauan Pustaka: Dukungan Suami dan Kehamilan

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Konsep Dukungan Suami
2.1.1. Definisi Dukungan Suami
Dukungan suami adalah komunikasi verbal dan non-verbal, saran, bantuan
yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh suami terhadap ibu hamil didalam
likungan sosialnya (Friedman, 2010). Dukungan suami merupakan suatu bentuk
wujud dari sikap perhatian dan kasih sayang. Dukungan dapat diberikan baik fisik
maupun psikis. Suami memiliki andil yang cukup besar dalam menentukan status
kesehatan ibu. Dukungan suami yang baik dapat memberikan motivasi yang baik
pada ibu untuk memeriksakan kehamilannya (Eko, 2008).
2.1.2. Fungsi Dukungan Suami
Friedman (2008) mengatakan bahwa suami memiliki beberapa fungsi
dukungan yaitu :
a. Dukungan Emosional
Dukungan emosional adalah tingkah laku yang berhubungan dengan rasa
tenang, senang, rasa memiliki, kasih sayang pada anggota keluarga, baik
pada anak maupun orang tua. Dukungan emosional mencangkup
ungkapan empati, kepedulian, dan perhatian terhadap orang yang
bersangkutan. Suami sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat
dan pemulihan serta mambantu pengeuasaan terhadap emosi. Aspekaspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan
dalam bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan, dan
di dengarkan.
b. Dukungan Informasional
Dukungan informasional adalah tingkah laku yang berhuhubungan
dengan pemberian informasi dan nasehat. Dukungan informasional yaitu
memberikan penjelasan tentang situasi dan gejala sesuatu yang
berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi oleh individu.
Dukungan ini mencangkup; pemberian nasiha, saran, pengetahuan, dan
informasi serta petunjuk. Maka suami berfungsi sebagai sebuah kolektor
dan disseminator (penyebar) informasi tentan dunia. Memberitahu saran
dan sugesti, informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu
masalah. Manfaat dari dukuangan ini ialah dapat menekan munculnya
suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat menyumbangkan
aksi sugesti yang terkhusus pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan
ini ialah nasehat, usulan, kritik, saran, petunjuk dan pemberian informasi.
c. Dukungan Instrumental
Dukuangan instrumental adalah dukungan yang bersifat nyata dan dalam
bentuk materi dan waktu yang bertujuan untuk meringankan beban bagi
individu yang membutuhkan orang lain untuk memenuhinya. Suaminya
harus mengetahui jika istri dapat bergantung padanya jika istri
memerlukan bantuan. Bantuan mencangkup memberikan bantuan yang
nyata dan pelayanan yang diberikan secara langsung bisa membantu
seseorang yang membutuhkan. Bentuk dukungan ini juga dapat berupa
pemeriksaan kesehatan secara rutin bagi ibu serta mengurangi atau
menghindari perasaan cemas dan stress.
d. Dukungan Penghargaan
Dukungan penghargaan yaitu dukungan yang terjadi lewat ungkapan
hormat atau penghargaan positif untuk orang lain, dorongan maju atau
persetujuan dengan gagasan atau perasaan seseorang, dan perbandingan
positif antara orang tersebut dengan orang lain yang bertujuan
meningkatkan penghargaan diri orang tersebut. Suami bertindak sebagai
sebuah bimbingan umpan balik, membimbing,
dan menengahi
pemecahan masalah, sebagai sumber dan validator identitas anggota
suami diantaranya memberikan support, penghargaan, dan perhatian.
2.1.3. Sumber Dukungan Suami
Sumber- sumber dukungan banyak didapatkan seseorang dari lingkungan dan
sekitarnya, oleh karena itu perlu diketahui seberapa banyak sumber dukungan suami
ini efektif bagi individu yang membutuhkanya. Sumber dukungan suami merupakan
aspek yang penying untuk meningkatkan kesehatan reproduksi maka perlu diketahui
dan dipahami. Dengan pengetahuan dan pemahaman itu, individu akan tahu kepada
siapa dan seberapa besar ia akan mendapatkan dukungan suami dengan situasi dan
keinginan yang spesifik, sehingga dukungan tersebut dapat bermakna (Friedman,
2008). Menurut Sarason (2009) dukungan suami ialah keberadaan, kesediaan,
kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita.
Dukungan suami mencangkup dua hal yaitu: (1) jumlah sumber dukungan suami
yang tersedia merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat
diandalkan saat individu membutuhkan bantuan (pendekatan berdasarkan kuantitas);
(2) tingkat kepuasan akan dukungan suami yang diterima berkaitan dengan persepsi
seseorang bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan kualitas).
2.1.4. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Suami
Menurut Bobak (2010), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dukungan
suami dapat dijelaskan di bawah ini :
a. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi wawasan dan pengetahuan
suami sebagai kepala rumah tangga semakin rendah pengetahuan suami
maka akses terhadap informasi kesehatab istrinya akan berkurang
sehingga suami akan kesulitan mengambil keputusan secara cepat dan
efektif. Akhirnya pandangan baru yang perlu diperkenalkan dan
disosialisasikan kembali untuk memberdayakan kaum suami berdasarkan
pada pngertian bahwa suami memainkan peranan yang sangat penting,
terutama dalam pengambilan keputusan berkenan dengan kesehatan
pasanganya.
b. Pendapatan
Pada masyarakat kebanyakan 75%-100% pengahasilanya digunakan untuk
membiayai keperluan hidupnya bahkan banyak keluarga rendah yang
setiap bulan bersaldo rendah sehingga pada akhirnya ibu hamil tidak
diperiksakan ke pelayanan kesehatan karen tidak mempunyai kemampuan
unuk membiayai. Atas dasar faktor tersebut diatas maka diprioritaskan
kegiatan GSI ditingkat keluarga dalam pemberdayaan suami tidak hanya
terbatas pada kegiatan yang bersifat anjuran saja seperti yang selama ini
akan tetapi akan bersifat holistik. Secara kongkrit dapat dikemukakan
bahwa pemberdayaan suami perlu dikaitkan dengan pemberdayaan
ekonomi keluarga sehingga kepala keluarga tidak mempunyai alasan untuk
tidak memperhatikan kesehatan karena masalah finansial.
c. Budaya
Diberbagai wilayah Indonesia terutama di dalam masyarakat yang masih
tradisional menganggap istri adalah konco wingking, yang artinya bahwa
kaum wanita tidak sederajat dengan kaum pria, dan wanita hanyalah
bertugas untuk melayani kebutuhan dan keinginan suami saja. Anggapan
seperti ini mempengaruhi perlakuan suami terhadap kesehatan reproduksi
istri, misalnya kualitas dan kuantitas makanan suami yang lebih baik, baik
disbanding istri maupun anak karena menganggap suamilah yang mencari
nafkah dan sebagai kepala rumah tangga sehingga asupan zat gizi mikro
untuk istri berkurang, suami tidak empati dan peduli dengan keadaan ibu.
d. Status Perkawinan
Pasangan dengan status perkawinan yang tidak sah akan berkurang
bentuk dukunganya terhadap pasangannya, dibanding dengan pasangan
yang status perkawinan yang sah.
e. Status Sosial Ekonomi
Suami yang mempunyai status sosial ekonomi yang baik akan lebih
mampu berperan dalam memberikan dukungan pada istrinya.
Dukungan suami merupakan salah satu faktor yang turut berperan
penting
dalam menentukan suatu kesehatan ibu. Dalam hal ini partisipasi laki-laki atau
suami terhadap kesehatan reproduksi dalam dekade terakhir ini sudah muali
dipromosikan sebagai strategi baru yang menjanjikan dalam meningkatkan
kesehatan ibu. Keluarga, terkhususnya suami, seringkali bertindak sebagai ‘gate
keeper’ bagi upaya pencarian dan penggunaan pelayanan kesehatan bagi istri dan
keluarganya. Sedangkan pemberian dukungan oleh suami dipengaruhi oleh faktor
internal dan eksternal yang keduannya saling berhubungan (Rahayu, 2009).
1. Faktor Internal
Faktor internal berasal dari individu itu sendiri meliputi faktor tahap
perkembangan yaitu pemahaman dan respon terhadap perubahan
kesehatan yang berbeda-beda pada setiap rentang usia (bayi-lansia).
a. Faktor pendidikan atau tingkat pengetahuan
Dalam hal ini kemampuan kognitif yang membentuk pola berfikir
individu termasuk kemampuan untuk memahami faktor-faktor yang
berhubungan dengan penyakit dalam upaya menjaga kesehatan
dirinya.
b. Faktor emosi
Faktor emosi mempengaruhi keyakin terhadap adanya dukungan dan
cara melaksanakan sesuatu. Respon emosi yang baik akan
memberikan antisipasi penanganan yang baik terhadap berbagai tanda
sakit namun jika respon emosinya buruk kemungkinan besar akan
terjadi penyangkalan terhadap gejala penyakit yang ada.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri
dan terdiri dari tiga hal.
a. Praktik
Praktik di keluarga yaitu cara keluarga memberikan dukungan yang
mempengaruhi penderita dalam melaksankan kesehatanya secara
optimal. Tindakan dapat berupa pencegahan yang
dicontohkan
keluarga kepada anggota keluarganya.
b. Faktor sosio ekonomi
Variable faktor social dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit,
mempengaruhi cara seseorang mengidentifikasi serta bereaksi
terhadap penyakitnya. Sementara itu faktor ekonomi menjelaskan
bahwa semakin tinggi tingkat ekonomi individu biasanya ia akan lebih
cepat tanggap terhadap gejala penyakit yang dirasakan sehingga ia
akan segera mencari bantuan ketika merasa adanya gangguan
kesehatan.
c. Faktor latar belakang budaya
Faktor latar belakang budaya akan mempengaruhi keyakinan, nilai,
dan kebiasaan seseorang dalam memberikan dukungannya termasuk
cara pelaksanaan kesehatan pribadi.
2.2
Konsep Kehamilan
2.2.1
Definisi Kehamilan
Kehamilan merupakan adanya janin di dalam rahim dimana dimulai dari masa
konsepsi sampai masa persalinan. Menurut (Nurul Kamariyah, 2014) proses
kehamilan dimulai dengan terjadinya konsepsi. Konsepsi adalah bersatunya sel telur
(ovum) dan sperma. Proses kehamilan (gestasi) berlangsung selama 40 minggu atau
280 hari dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir. Usia kehamilan sendiri adalah
38 minggu, karena dihitung mulai dari tanggal konsepsi yang terjadinya dua minggu
setelahnya. Menurut (Prawiroharjdo, 2008 dalam Kumalasari 2015) kehamilan
didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum serta
dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilasi hingga bayi
lahir, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan
lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional.
2.2.2
Tanda-tanda Kehamilan
Tanda-tanda kehamilan merupakan sekumpulan tanda atau gejala yang timbul
pada wanita hamil dan terjadi akibat adanya perubahan psikologi pada masa
kehamilan.
Menurut (Jannah, 2012) ada 3 tanda-tanda kehamilan sebagai berikut:
1.
Tanda-tanda presumtif/tanda tidak pasti
Tanda presumtif atau tanda tidak pasti adalah perubahan-perubahan yang
dirasakan oleh ibu (subyektif) yang timbul selama kehamilan.
a.
Amenorhoe (tidak dapat haid)
Pada wanita sehat dengan haid yang teratur, amenorhoe menandakan
kemungkinan kehamilan. Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita
hamil tidak dapat haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid
terakhir, supaya dapat ditentukan tuanya kehamilan dan tafsiran tanggal
persalinan dengan memakai rumus dari Naegele.
b.
Nausea (mual) dan emesis (muntah)
Mual terjadi umumnya pada bulan-bula pertama kehamilan sampai akhir
triwulan pertama disertai kadang-kadang oleh muntah. Sering terjadi pada
pagi hari, tetapi tidak selalu. Keadaan ini biasa disebut dengan morning
sickness. Akan tetapi apabila keadaan ini terlampau sering dapat
mengakibatkan gangguan kesehatan yang disebut dengan hiperemesis
gravidarum.
c.
Mengidam (menginginkan makanan atau minuman tertentu
Sering terjdi pada bulan-bulan pertama dan bisa mengilang dengan makin
tuanya usia kehamilan.
d.
Payudara menjadi tegang dan membesar
Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh estrogen dan progesteron yang
merangsang duktus dan alveoli pada payudara, sehingga glandula montglomery
tampak menjadi jelas.
e.
Anoreksia (tidak nafsu makan)
Terjadi pada bulan-bulan pertama tetapi setelah itu nafsu makan akan
timbul lagi. Hendaknya dijaga jangan sampai salah pengertian makan untuk
dua orang sehingga kenaikan berat badan tidak sesuai dengan tuanya
kehamilan.
f.
Sering kencing
Terjadi karena kandung kencing pada bulan-buan pertama kehamilan
tertekan olehuterus yang mulai membesar. Pada trisemester kedua
umumnya keluhan ini hilang oleh karena uterus yang membesar keluar dari
rongga panggul. Pada akhir trisemester ketiga gejala bisa timbul kembali
karena janin mulai masuk ke rongga panggul dan menekan kembali kandung
kemih.
g.
Obstipasi atau konstipasi
Terjadi karen tonus otot menurun yang disebabkan oleh pengaruh hormon
steroid, sehingga menyebabkan kesulitan untuk buang air besar.
h.
Pigmentasi kulit
Terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas. Pada pipi, hidung, dahi kadangkadang tampak deposit pigmen yang berlebuhan, dikenal dengan kloasma
gravidarum (topeng kehamilan). Areola mamae juga menjadi lebih hitam
karena didapatkan deposit pigmen yang berlebihan. Daerah leher menjadi
lebih hitam dan linea alba. Hal ini karena pengaruh hormon kortiko steroid
plasenta yang merangsang melanofor dan kulit.
i.
Epulis merupakan Suatu hipertrofi papillla ginggivae. Sering terjadi pada
triwulan pertama.
j.
Varises (penekanan vena-vena)
Sering dijumpai pada trisemester akhir. Didapat pada daerah genetalia
eksterna, fossa poplitae, kaki, dan betis. Pada multigravida kadang-kadang
varises ditemukan pada kehamilan yang terdahulu, kemudian timbul kembali
pada trisemester pertama. Kadang-kadang timbulnya caises merupakan
gejala pertama kehamilan muda.
2.
Tanda kemungkinan hamil
Tanda kemungkinan hamil merupakan perubahan-perubahan yang diobservasi
oleh pemeriksa (bersifat obyektif), namun berupa dugaan kehamilan saja.
a.
Uterus membesar
Terjadi perubahan bentuk, besar dan konsistensi rahim. Pada pemeriksaan
dalam dapat diraba bahwa uterus membesar dn makin lama makin bundar
bentuknya.
b.
Tanda hegar
Konsistensi rahim dalam kehamilan berubah menjadi lunak, terutama
daerah ismus. Pada minggu-minggu pertama ismus uteri mengalami
hipertrofi seperti korpus uteri. Hipertrofi ismus pada trisemester pertama
mengakibatkan ismus menjadi panjang dan lebih lunak.
c.
Tanda chadwick
Adanya hipervaskularasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih
merah, agak kebiru-biruan (livide). Warna porsiopun tampak livide. Hal ini
disebabkan oleh hormon estrogen.
d.
Tanda piscaseck
Uterus mengalami pembesaran. Kadang-kadang pembesaran tidak rata
tetapi di daerah telur bernidasi lebih cepat tumbuhnya. Hal ini menyebabkan
uterus membesar ke salah satu jurusan pembesaran tersebut.
e.
Tanda braxton hicks
Bila uterus dirangsang akan mudah berkontraksi. Waktu palpasi atau
pemeriksaan dalam uterus yang tadinya lunak akan menjadi keras karena
berkontraksi. Tanda ini khas untuk uterus dalam masa kehamilan.
f.
Goodel sign
Di luar kehamilan konsistensi serviks keras, kerasnya seperti kita merasa
ujung hidung, dalam kehamilan serviks menjadi lunak pada perabaan
selunak vivir atau ujung bawah daun telinga.
g.
Reaksi kehamilan positif
Cara khas yang dipakai dengan menentukan adanya human chorionic
gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing pertama pada pagi
hari. Dengan tes ini dapat membantu menentukan diagnosa kehamilan
sedini mungkin.
3. Tanda pasti
Tanda pasti adalah tanda-tanda obyektif yang didapatkan oleh pemeriksa yang
dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa pada kehamilan.
a.
Terasa gerakan janin
Gerakan janin pada primigravida dapat dirasakan oleh ibunya pada
kehamilan 18 minggu. Sedangkan pada multigravida pada kehamilan 16
minggu karena telah berpengalaman dari kehamilan terdahulu. Pada bulan
ke empat dan ke lima janin itu kecil jika dibandingkan dengan banyaknya air
ketuban, maka kalau rahim didorong atau digoyangkan, maka anak akan
melenting di dalam rahim.
b.
Teraba bagian-bagian janin
Bagian-bagian janin secara obyektif dapat diketahui oleh pemeriksa dengan
cara palpasi menurut leopold pada akhir trisemester kedua.
c.
Denyut jantung janin
Denyut jantung janin secara obyektif dapat diketahui oleh pemeriksa dengan
menggunakan fetal elektrocardiograph pada kehamilan 12 minggu, sistem
doppler pada kehamilan 12 minggu, stetoskop laenec pada kehamilan 18-20
minggu.
d.
Terlihat kerangka janin pada pemeriksaan sinar rontgen
e.
Dengan menggunakan USG dapat terlihat gambaran janin berupa ukuran
kantong janin, panjangnya janin, dan diameter biparetalis hingga dapat
diperkirakan tuanya kehamilan.
2.2.3
Perubahan pada Kehamilan
Kehamilan merupakan saat yang sangat menakjubkan dalam kehidupan
seorang wanita. Sekali kehamilan terjadi, berbagai macam efek terjadi dalam tubuh
wanita, baik efek terjadi pada fisik wanita, efek perubahan hormon, maupun kondisi
emosional. Menurut (Sunarsih, 2011) pada kehamilan, terjadi perubahan pada seluruh
tubuh wanita, khususnya pada alat genitalia eksterna dan interna, serta payudara. Hal
ini disebabkan oleh hormon somatomamotropin, estrogen, dan progesteron dalam
kehamilan. Selain perubahan fisik, wanita hamil juga akan mengalami perubahan
psikologis, yang juga dipengaruhi oleh perubahan-perubahan hormon. Perubahan
tersebut berinteraksi dengan faktor interna yang memengaruhi masa transisi wanita
hamil menjadi seorang ibu.
1.
Perubahan Fisik pada Ibu Hamil
Menurut (Sunarsih, 2011) perubahan fisik pada ibu hamil, yaitu:
a.
Trimester I (1-3 bulan)
Tanda fisik pertama yang dapat dilihat pada beberapa ibu adalah perdarahan atau
spoting sekitar 11 hari setelah konsepsi pada saat embrio melekat pada lapisan
uterus. Setelah terlambat satu periode menstruasi, perubahan fisik berikutnya
biasanya adalah nyeri dan pembesaran payudara diikuti oleh rasa kelelahan yang
kronis/menetap dan sering BAK. Ibu akan mengalami dua gejala yang berakhir
selama tiga bulan berikutnya. Mual dan muntah biasanya 8-12 minggu. Pada usia
kehamilan 12 minggu, pertumbuhan uterus di atas simfisis pubis dapat teraba.
Ibu akan mengalami kenaikan berat bedan sekitar 1-2 minggu selama trisemester
pertama.
b.
Trimester II (4-6 bulan)
Uterus akan tumbuh. Pada usia kehamilan 16 minggu, uterus biasanya berada
pada pertengahan antara simfisis pubis dan pusat. Penambahan berat badan
sekitar 0,4-0,5 kg/mg. Ibu mungkin akan merasa banyak energi. Pada usia
kehamilan 20 minggu, fundus berada dekat dengan pusat. Payudara mulai
mengeluarkan kolostrum. Ibu dapat merasakan gerakan bayinya dan juga
mengalami perubahan yang normal pada kulit, meliputi adanya cloasma, linea
nigra, dan striae gravidarum.
c.
Trimester III (7-9 bulan)
Pada usia kehamilan 28 minggu, fundus berada pada pertengahan antara pusat
dan sifoideus. Pada usia kehamilan 32-36 minggu fundus mencapai prosesus
sifoideus. Payudara penuh dan nyeri tekan. Sering BAK kembali terjadi. Sekita
usia khamilan 38 minggu bayi masuk atau turun ke dalam panggul. Sakit
punggung dan sering BAK meningkat. Ibu kemungkinan akan sulit tidur, dan
kontraksi braxton hicks meningkat.
2.
Perubahan Psikologis pada Ibu Hamil
Selama kehamilan tidak hanya terjadi perubahan fisik, akan tetapi kehamilan
akan menimbulkan perubahan psikologi dan emosional. Menurut (Pusdiknakes,
2008 dalam Sunarsih 2011) sering kali kebanyakan seorang wanita akan merasa
bahagia karna menjadi seorang ibu. Namun, tidak jarang juga banyak wanita yang
merasa khawatir kalau terjadi masalah dalam kehamilannya.
Menurut (Sunarsih, 2011) perubahan psikologi yang terjadi selama kehamilan:
a.
Trimester I (1-3 bulan)
Setelah terjadinya konsepsi, kadar hormon progesteron dan estrogen akan
meningkat. Hal ini akan menyebabkan timbulnya mual dan muntah pada pagi
hari, lemas, lemah dan membesarnya payudara. Ibu merasa tidak sehat dan sering
kali membenci kehamilannya. Banyak ibu yang merasakan kekecewaan,
penolakan, kecemasan, dan kesedihan. Sering kali ibu pada awal kehamilannya
berharap untuk tidak hamil. Pada saat inilah tugas psikologis pertama sebagai
calon ibu untuk dapat menerima kehamilannya. Keadaan ini menciptakan
kebutuhan untuk berkomunikasi secara terbuk dengan suami (Kumalasari, 2015).
b.
Trimester II (4-6 bulan)
Trimester kedua adalah keadaan saat ibu merasa sehat. Tubuh ibu sudah biasa
terbiasa dengan kadar hormon yang lebih tinggi dan rasa tidak nyaman karena
hamil sudah berkurang. Ibu sudah menerima kehamilannya dan mulai dapat
menggunakan energi dan pikirannya secara lebih konstruktif (Pusdiknakes, 2003
dalam Sunarsih 2011).
c.
Trimester III
Trisemester ketiga sering kali disebut periode menunggu dan waspada. Periode
ini wanita menanti kehadiran bayinya sebagai dari dirinya, dia menjadi tidak sabar
untuk segera melihat bayinya. Trimester tiga adalah waktu untuk mempersiapkan
kelahiran dan kedudukan sebagai orang tua, seperti terpuasnya perhatian pada
kehadiran bayi. Sejumlah ketakutan terlihat selama trimester ketiga. Wanita
mungkin khawatir terhadap hidup dan bayinya karena dia tidak akan tahu kapan
dia akan melahirkan (Kusmiyati, dkk, 2009 dalam Kumalasari 2015).
2.2.4
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehamilan
Sunarsih (2011) mengatakan kehamilan merupakan suatu proses dari
kehidupan seorang wanita, dimana dengan adanya proses ini akan menyebabkan
perubahan pada ibu tersebut, yang meliputi perubahan fisik, mental, dan sosial.
Dalam perubahan-perubahan tersebut tentunya tak lepas dari adanya faktor-faktor
yang mempengaruhinya, yaitu faktor fisik, psikologis, lingkungan, sosial budaya, dan
ekonomi. Setiap faktor tersebut saling berpengaruh karena mereka saling terkait satu
sama lain dan merupakan suatu hubungan sebab akibat.
Menurut (Jannah, 2012) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan
sebagai berikut:
1.
Faktor Fisik
a.
Status Kesehatan
Selama kehamilan seorang wanita mengalami perubahan secara fisik seperti
uterus akan membesar karena di dalamnya telah tumbuh janin, tentunya dengan
adanya perubahan tersebut keadaan kesehatan ibu akan berubah pula, karena
tubuh ibu diperssiapkan untuk mendukung perkembangan dari kehidupan yang
baru dan untuk menyiapkan janin hidup di luar kandungan. Keadaan ini dapat
diperberat dengan adanya status yang buruk atau penyakit yang diderita ibu
hamil. Status kesehatan dapat diketahui dengan memeriksakan kehamilannya ke
pelayanan kesehatan (Sunarsih, 2011).
b.
Status Gizi
Status gizi merupakan hal yang penting diperhatikan pada masa kehamilan,
karena faktor gizi sangat berpegaruh terhadap status kesehatan ibu selama hamil
serta guna pertumbuhan dan perkembangan janin. Hubungan antara gizi ibu
hamil dn kesejahteraan janin merupakan hal yang sangat penting diperhatikan.
Keterbatasan gizi selama kehamilan sering berhubungan dengan faktor ekonomi,
pendidikan, sosial, atau keadaan lain yang meningkatkan kebutuhan gizi ibu
hamil dengan penyakit infeksi tertentu termasuk pula persiapan fisik untuk
persalinan. (Jannah, 2012)
c.
Gaya Hidup
Cara hidup yang serba sibik dn terburu-buru yang dapat menyebabkan suatu
gejalan yang tidak enak pada masa kehamilan. Menurut (Jannah, 2012) contoh
gaya hidup seperti, mitos atau kepercayaan tertentu, kebiasaan minum jamu,
aktivitas sehari-hari yang beresiko, aktivitas seksual.
d.
Subtance Abuse
Subtance abuse adalah perilaku yang merugikan dan membahayakan bagi ibu
hamil termasuk penyalahgunaan atau penggunaan obat atau zat-zat tertentu yang
membahayakan ibu hamil.
e.
Hamil diluar nikah/hamil yang tidak diinginkan
f.
Jika kehamilan tidak diharapkan, maka secara otomatis ibu akan sangat
membenci kehamilannya, sehingga tidak ada keinginan dari ubu untuk
melakukan hal-hal positif yang dapat meningkatkan kesehatan bayinya.
2.
Faktor Psikologi
a.
Stressor Internal
Pemicu stressor internal adalah karena faktor dari ibu sendiri. Adanya beban
psikologis yang ditanggung ibu dapat menyebabkan gangguan perkembangan
bayi. Stressor internal meliputu kecemasan, ketegangan, ketakutan, penyakit
cacat, tidak percaya diri, perubahan penampilan, perubahan peran, sikap ibu
terhadap kehamilan, takut, persalinan, kehilangan pekerjaan.
b.
Stressor Ekternal
Pemicunya berasal dari luar diri ibu seperti: status sosial, mal adaptasi, relationship,
kasih sayang, support mental, broken home, respon negatif dari lingkungan.
c.
Dukungan Keluarga
Setiap usia kehamilan usia kehamilan, ibu akan mengalami banyak perubahan
baik bersifat fisik atau psikologi. Ibu harus melakukan adaptasi pada setiap
perubahan. Dalam menjalani proses tersebut, ibu hamil sangat membutuhkan
dukungan yang intensif dari keluarga dengan cara menunjukan perhatian dan
kasih sayang.
d.
Kekerasan yang dilakukan oleh pasangan
Bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan harus selalu diwaspadai jangan
sampai kekerasan yang terjadi dapat membahayakan ibu dan bayinya. Efek
psikologis yang muncul adalah gangguan rasa nyaman pada ibu hamil.
3.
Faktor Lingkungan, Sosial Budaya, dan Ekonomi
a.
Kebiasaan Adat Istiadat
Ada beberapa kebiasaan adat istiadat yang merugikan kesehatan ibu hamil.
Terbentuknya janin dan kelahiran merupakan suatu fenomena yang wajar dalam
kelangsungan kehidupan manusia. Namun, berbagai kelompok masyarakat
dengan kebudayaan di seluruh dunia memiliki bermacam persepsi tentang
kehamilan.
b.
Fasilitas Kesehatan
Adanya fasilitas kesehatan yang memadai akan sangat menentukan kualitas
pelayanan kepada ibu hamil. Deteksi dini terhadap kemungkinan adanya penyulit
akan lebih tepat, sehingga langkah antisipasif akan cepat. Fasilitas kesehatan ini
sangat menentukan atau berpengaruh terhadap upaya penurunan angka
kesehatan ibu dan anak (AKI dan AKB).
c.
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan ibu hamil sangat berperan dalam kualitas perawatan bayi.
Penguasaan pengetahuan erat kaitannya dengan tingkat pendidikan.
d.
Ekonomi
Tingkat sosial ekonomi terbukti sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan
fisik dan psikologis ibu hamil. Ibu hamil yang lebih tinggi sosial ekonominya
akan lebih fokus mempersiapkan fisik dan mentalnya. Ibu hamil yang lebih
rendah ekonominya akan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan primer.
e.
Pekerjaan
Pekerjaan seorang ibu akan menggambarkan aktivitas dan tingkat kesejahteraan
ekonomi. Ibu hamil yang bekerja mempunyai tingkat pengetahuan yang lebih
baik dari ibu hamil yang tidak bekerja. Pada ibu hamil yang bekerja lebih
memiliki kesempatan berinteraksi dengan orang lain sehingga lebih mempunyai
banyak peluang untuk mendapatkan informasi.
2.3.
Konsep Perilaku
2.3.1. Definisi Perilaku
Perilaku yaitu suatu respon seseorang yang dikarenakan adanya suatu stimulus
atau rangsangan dari luar (Notoatmodjo, 2010). Kesehatan tidaklah terlepas dari
perilaku, perilaku kesehatan preventif adalah aktifitas dilakukan seseorang yang yakin
bahwa dirinya sehat, untuk tujuan dari pencegahan atau mendeteksi penyakit dan
status gejala (Glanz, Barbara, & Viswanath,2015).
2.3.2. Bentuk-Bentuk Perilaku
Bentuk-bentuk perilaku menurut Natoatmodjo (2010) sebagai berikut:
a. Perilaku tertutup (covert behavior)
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup
(covert). Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian,
persepsi pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang
menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas orang lain,
misalnya : seseorang ibu hamil tahu pentingnya periksa kehamilan.
b. Perilaku terbuka (overt behavior)
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata dan terbuka.
Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau
praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain,
misalnya : seorang ibu memeriksakan kehamilannya atau membawa anaknya ke
puskesmas untuk diimunisasi.
2.3.3. Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang terhadap stimulus atau
objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan dan minuman serta lingkungan. Perilaku kesehatan diklasifikasikan
menjadi tiga kelompok menurut Natoatmodjo (2010) sebagai berikut:
a. Perilaku pemeliharaan kesehatan (Health maintanance) adalah perilaku atau usahausaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan
usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
b. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau
sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior) perilaku
ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita
penyakit dan atau kecelakaan.
c. Perilaku kesehatan lingkungan bagaimana seseorang merespons lingkungan, baik
lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan
tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya.
2.3.4 Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
Menurut Teori Lawrence Grenn dalam Natoatmodjo (2010) perilaku
dipengaruhi oleh tiga faktor, sebagai berikut :
a. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam pengetahuan,
sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, tradisi dan sebagainya.
b. Faktor-faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik,
tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan,
misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya.
c. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan
perilaku petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi
dari perilaku masyarakat.
2.3.4. Indikator Perilaku Kesehatan
Pengamatan dengan cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui du
acara, secara langsung maupun tidak langsung. Pengukuran perilaku yang baik ialah
secara langsung dengan pengamatan (observasi), yaitu mengamati tindakan individu
dalam rangka memliharaan kesehataanya contoh : Untuk mengetahui perilaku
antenatal care (ANC), dapat menanyakan apakah pada kehamilan terakhir melakukan
pemeriksaan kehamilan, berapa kali dimana, dan sebagainya, sedangkan secara ridak
langsung dapat menanyakan kembali (recall). Metode ini dilakukan melalui
pertanyaan-pertanyaan terhadap individu tentang apa yang telah dilakukan
berhubungan dengan status kesehatan (Notoatmodjo, 2010).
2.4.
Konsep Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
(P4K)
2.4.1. Definisi P4K
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K),
merupakan suatu kegiatan yang difasilitasi oleh Bidan di desa dalam rangka
peningkatan peran aktif suami, keluarga dan masyarakat dalam merencanakan
persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi bagi ibu hamil, termasuk
perencanaan penggunaan KB pasca persalinan dengan menggunakan stiker sebagai
media notifikasi sasaran dalam rangka meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan
kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir (Depkes, 2009).
2.4.2. Tujuan P4K
1. Tujuan umum
Meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan bayi
baru lahir melalui peningkatan peran aktif keluarga dan masyarakat dalam
merencanakan persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi dan
tanda bahaya kebidanan bagi ibu sehingga melahirkan bayi yang sehat.
2. Tujuan Khusus
a. Terdatanya status ibu hamil dan terpasangnya Stiker P4K di setiap rumah ibu
hamil yang memuat informasi tentang: Lokasi tempat tinggal ibu hamil,
Identitas ibu hamil, Taksiran persalinan, Penolong persalinan, pendamping
persalinan dan fasilitas tempat persalinan, Calon donor darah, transfortasi yang
akan digunakan serta pembiayaan
b. Adanya perencanaan persalinan, termasuk pemakian metode KB pasca
persalinan yang sesuai dan disepakati ibu hamil, suami, keluarga dan bidan.
c. Terlaksananya pengambilan keputusan yang cepat dan tepat bila terjadi
komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan nifas.
d. Meningkatkan keterlibatan tokoh masyarakat baik formal maupun non formal,
dukun/pendamping persalinan dan kelompok masyarakat dalam perencanaan
persalinan dan pencegahan komplikasi dengan stiker, dan KB pasca salin sesuai
dengan perannya masing-masing (Depkes RI, 2009).
2.4.3
Manfaat P4K
Menurut Depkes (2009) manfaat P4K sebagai berikut: a. mempercepat
berfungsinya Desa Siaga, b. Meningkatkan cakupan pelayanan ANC sesuai
standar, c. Meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan
terampil, d. Meningkatkan kemitraan Bidan dan Dukun, e. Tertanganinya
kejadian komplikasi secara dini, f. Meningkatkan peserta KB pasca
persalinan, g. Terpantaunya kesakitan dan kematian ibu dan bayi, h.
Menurunnya kejadian kesakitan dan kematian ibu dan bayi.
2.4.4.
Sasaran P4K
Menururt Depkes (2009) sasaran P4K antara lain: a. Penanggung jawab
dan pengelola program KIA Provinsi dan Kab/Kota, b. Bidan
Koordinator, c. Kepala Puskesmas, d. Dokter, e. Perawat, f. Bidan, g.
Kader, h. Forum Peduli KIA (Forum P4K/Pokja Posyandu, dll).
2.4.5.
Indikator Program P4K
Menururt Depkes (2009) indikator program P4K antara lain: a. Persentase
Desa melaksanakan P4K dengan Stiker, b. Persentase Ibu Hamil
mendapat stiker, c. Persentase Ibu Hamil berstiker mendapat pelayanan
antenatal sesuai standar, d. Persentase Ibu Hamil berstiker bersalin di
tenaga kesehatan, e. Persentase Ibu Hamil, bersalin dan nifas berstiker
yang mengalami komplikasi tertangani, f. Persentase penggunaan metode
KB pasca persalinan, g. Persentase Ibu bersalin di nakes mendapat
pelayanan nifas.
2.4.6.
Tahap Kegiatan P4K
a. Orientasi P4K dengan Stiker
Orientasi ditunjukan untuk pengelola program dan stakholders terkait di tingkat
Provinsi, Kab/Kota, Puskesmas. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan
sosialisasi tentang tujuan, manfaat, mekanisme pelaksaan, sistem pencatatan dan
pelaporan serta dukungan apa saja yang disiapkan dan diperlukan agar P4K
dengan stiker dapat terlaksana di lapangan.
b. Sosialisasi
Sosialisasi ditunjukan kepada kepala desa/lurah, bidan, dukun, tokoh agama,
tokoh masyarakat, organisasi perempuan, PKK serta lintas sektor di tingkat
desa/kelurahan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi tentang
tujuan; manfaat dan mekanisme pelaksanaan agar mendapat dukungan dari
seluruh lapisan masyarakat dalam pelaksanaannya di lapangan.
c. Operasionalisasi P4K dengan Stiker di Tingkat Desa antara lain: 1. Memanfaatkan
pertemuan bulanan tingkat desa/kelurahan, 2. Mengaktifkan Forum Peduli KIA,
3. Kontak dengan ibu hamil dan keluarga dalam pengisian stiker, 4. Pemasangan
stiker di rumah ibu hamil, 5. Pendataan jumlah ibu hamil di wilayah desa, 6.
Pengelolaan donor darah dan sarana transportasi/ambulan desa, 7. Penggunaan,
pengelolaan
dan
pengawasan
Penandatanganan Amanat Persalinan.
Tabulin/Dasolin,
8.
Pembuatan
dan
2.5.
Konsep Antenatal Care (ANC)
2.5.1. Definisi Antenatal Care (ANC)
Antenatal
Care
(ANC)
merupakan
pemeriksaan
kehamilan
untuk
mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Dengan demikian ibu hamil,
mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberian ASI, dan kembalinya
kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998 dalam Kumalasari, 2015).
Menurut Hutahaen (2013) Antenatal care adalah asuhan yang diberikan oleh perawat
atau tenaga medis mulai dari konsepsi sampai persalinan. Asuhan diberikan
berdasarkan keadaan fisik, emosional, dan sosial ibu, janin, pasangan, serta anggota
keluarga. Asuhan perawatan pada ibu hamil sangat diperlukan untuk menjamin
kesehatan ibu dan janin.
2.5.2
Tujuan Antenatal Care (ANC)
Mansjoer (2005) dalam Kumalasari (2015), mengatakan tujuan dari ANC ialah
sebagai berikut:
a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang bayi.
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu serta
bayi.
c. Mendeteksi secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang mungkin
terjadi delama kehamilan, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan
pembedahan.
d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun
bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat
tumbuh kembang secara normal.
2.5.3. Kriteria Keteraturan Antenatal Care (ANC)
Menurut Kumalasari (2015) Keteraturan dalam pemeriksaan kehamilan
dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya
terlambat satu bulan.
b. Periksa ulang satu kali sebelum sampai kehamilan tujuh bulan.
c. Periksa ulang dua kali sebelum sampai kehamilan sembilan bulan.
d. Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan sembilan bulan.
e. Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan.
2.5.4. Jadwal Pemeriksaan Antenatal Care (ANC)
Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa mengancam
jiwanya. Oleh karena itu, wanita hamil memerlurkan sedikitnya empat kali kunjungan
selama periode antenatal, yaitu sebagai berikut:
a. Satu kali kunjungan selama trimester satu (<14 minggu).
b. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-28).
c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36 ) dan sesudah
minggu ke-36).
d. Perlu segera memeriksakan kehamilan bila dirasakan ada gangguan atau bila janin
tidak bergerak lebih dari 12 jam (Pusdiknakes, 2003 dalam Kumalasari, 2015).
Adapun pada setiap kunjungan antenatal, perlu didapatkan informasi yang sangat
penting meliputi:
1. Satu kali pada terimester pertama, yaitu sebagai berikut:
a. Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu sehingga suatu mata
rantai penyelamatan jiwa telah terbina jika diperlukan.
b. Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum menjadi bersifat mengancam
jiwa.
c. Mencegah masalah, seperti tetanus neonatarum, anemia defisiensi zat besi,
penggunaan praktik tradisional yang merugikan.
d. Memulai persiapan persalinan dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.
e. Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi, latihan, dan kebersihan, istirahat serta
sebagainya).
2. Satu kali pada trimester kedua (sebelum minggu ke-28), yaitu sebagai berikut:
a. Sama seperti kunjungan trimester pertama.
b. Perlu kewaspadaan khusus mengenai preklamsia, pantauan tekanan darah,
periksa protein urine, dan gejala yang lainnya.
3. Dua kali pada trimester ketiga, yaitu sebagai berikut:
a. Sama seperti kunjungan sebelumnya.
b. Perlu adanya palpasi abdomen untuk mendeteksi adanya kehamilan ganda.
c. Deteksi kelainan letak atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran dirumah
sakit. Perlu segera memeriksakan kehamilan bila dirasakan ada gangguan atau
bila janin tidak bergerak lebih dari 12 jam (Pusdiknakes 2003, dalam
Kumalasari, 2015).
2.5.5. Jenis Pemeriksaan Antenatal Care (ANC)
Menurut Kumalasari (2015) komponen pemeriksaan Antenatal Care pada ibu
hamil adalah sebagai berikut:
1. Anamnesis (Tanya Jawab)
Tujuan dari anamnesis adalah untuk mendeteksi komplikasi-komplikasi dan
menyiapkan untuk persalinan dengan mempelajari keadaan kehamilan ibu
sekarang, kehamilan dan kelahiran terdahulu, kesehatan secara umum serta kondisi
sosial ekonomi. Setelah informasi dikumpulkan, bidan/perawat dapat menentukan
apakah kehamilan ini normal atau apakah ibu mempunyai kebutuhan khusus.
Anamnesis (tanya jawab) meliputi sebagai berikut:
a. Anamnesis biodata
Meliputi nama ibu hamil, umur, pekerjaan, nama suami, pekerjaan suami,
agama, kebangsaan dan alamat.
b. Anamnesis sosial ekonomi
Pada umumnya anamnesis sosial memberikan gambaran mengenai latar
belakang sosial pasien seperti status perkawinan, taraf hidup, respons orangtua
dan keluarga terhadap kehamilan ini, dukungan keluarga, keadaan rumah
tangga, pengambilan keputusan dalam keluarga, status sosial ekonomi,
kebiasaan makanan dan gizi yang dikomsumsi dengan fokus pada vitamin A
dan zat besi, kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merokok, minum obat
atau alkohol, beban kerja dan kegiatan sehari-hari, tempat melahirkan dan
potongan persalinan, serta adat istiadat.
c. Anamnesis keluarga
Anamnesis keluarga diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyakit menurun atau adanya kehamilan kembar.
d. Anamnesis medik
a) Dilakukan untuk mengetahui adanya kemungkinan penyakit-penyakit yang
menyertai dan yang memengaruhi kehamilan ibu di antaranya sebagai
berikut:
1) Masalah-masalah kardiovaskuler
Penyakit jantung akan mengalami komplikasi yang serius dengan adanya
kehamilan. Penyebabnya bisa berupa penyakit jantung kongenital seperti
atrial atau Hipertensi
2) Hipertensi yang diinduksi kehamilan dapat mengakibatkan penurunan
fungsi plasenta, IUGR, fetal compromise, serta kemungkinan timbulnya
perdarahan antepartum.
3) Diabetes melitus
Diabetes melitus merupakan suatu kondisi yakni terhadap penurunan
secara total/relatif pada produksi insulin oleh pankreas yang sangat
diperlukan oleh jaringan. Diabetes gestasional merupakan kondisi pada
wanita hamil yang mengalami hiperglikemia dengan toleransi kadar
glukosa yang kurang.
4) Malaria
5) Penyakit Menular Seksual
Meliputi infeksi trichomonas, sifilis, gonorrhea, herpes genital, kondiloma
akuminata, infeksi Chlamydia trachomatis, hepatitis, dan HIV/AIDS.
b) Untuk mengetahui keluhan-keluhan yang dirasakan selama kehamilan.
Keluhan-keluhan lazim pada kehamilan diantaranya mual dan muntah. Sakit
kepala, saliva yang berlebihan, keletihan, napas pendek, nyeri punggung
bagian bawah, mengidam makanan, varises, nyeri selama berhubungan seks,
gusi berdarah, sering kencing juga pada malam hari, rasa panas dalam perut,
hiperpigmentasi pada wajah dan payudara, sering buang angin, kesemutan
pada jari-jari kaki, konstipasi, hemoroid, keram pada kaki, serta kaki
bengkak.
c) Untuk mengetahui masalah atau tanda-tanda bahaya pada saat kehamilan di
antaranya perdarahan pervaginam, sakit kepala yang hebat, masalah visual
(misalnya pandangan kabur), bengkak pada muka dan tangan, nyeri
abdominal yang hebat, dan bayi kurang bergerak seperti biasa.
d) Anamnesis Haid
Ditanyakan kapan datang haid pertama kali (menarche), berapa banyak
jumlahnya, lama dan siklusnya, periode menstruasi terakhir, ada tidaknya
dismenore, dan lain-lain. Hal tersebut dibutuhkan untuk mengetahui
keadaan alat kandungan. Pada wanita dengan haid terlambat dan diduga
hamil, ditanyakan hari pertama haid terakhir (HPHT). Taksiran partus dapat
ditentukan bila HPHT diketahui dan siklus haidnya teratur ± 28 hari dengan
menggunakan rumus Naegele yaitu hari + 7, bulan -3 dan tahun + 1.
e) Anamnesis Kebidanan
Tanyakan riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya meliputi
jumlah kehamilan, anak yang lahir hidup, berat bayi sebelumnya < 2.500
gram atau > 4.000 gram, persalinan preterm, persalinan prematur,
keguguran atau kegagalan kehamilan, persalinan dengan tindakan (dengan
forceps, vakum, operasi sectio caesarea), serta riwayat perdarahan pada
kehamilan, atau nifas sebelumnya.
2. Pemeriksaan Umum
Tuhuan pemeriksaan umum adalah untuk mengetahui secara umum keadaan
kesehatan ibu hamil. Pada ibu hamil yang datang pertama kali, lakukan penilian
keadaan umumnya dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dari ujung rambut
sampai ke ujung kaki (head to head ). Pemeriksaan umum mencakup hal-hal brikut:
a. Pemeriksaan tinggi badan, berat badan, dan lingkar lengan atas (LILA).
Pemeriksaan tinggi badan hanya dilakukan pada kunjungan pertama ibu hamil, ibu
yang memiliki tinggi badan kurang dari 145 cm akan beresiko mengalami kesulitan
saat persalinan dikarenakan kemungkinan memiliki panggul yang sempit. Untuk
pengukuran berat badan, dilakukan setiap kali kunjungan, agar diketahui
penambahan berat badan ibu selama kehamilan.
b. Pengukuran tanda-tanda vital. Meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, pernafasan,
dan suhu tubuh. Pada saat pemeriksaan pastikan ibu sudah istirahat 30 menit
setelah kedatangan atau sebelum dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. Hal ini
bertujuan agar hasil yang didapatkan sesuai dengan kondisi ibu yang sebenarnya.
c. Pemeriksaan kemungkinan adanya kelainan/penyakit. Kelainan jantung sperti
sesak nafas, jantung berdebar, kelainan/penyakit paru-paru seperti asma, sesak
napas, batuk menahun dan kelainan/penyakit pada orang lainya.
d. Pemeriksaan refleks lutut (patela). Dengan menggunakan hammer, minta ibu
duduk dengan tungkai yang tergantung besas, rabalah tendon pada lutut bagian
depan. Tungkai bawah akan begerak sedikit ketika tendon diketuk. Bila refleks
negatif kemungkinan ibu mengalami kekurangan vitamin B1 dan bila geraknya
berlebihan dan cepat, maka hal ini kemungkinan preeklamsia.
e. Pemeriksaan edema. Edema pada tungkai dapat dikenal dengan menekan daerah
pretibia dan daerah mata kaki dengan jari. Bila pada tekanan terjadi cekungan yang
tidak lekas pulih kembali, maka ini suatu tanda adanya edema, bila didapat edema
pada tungkai, kemungkinan timbulnya preeklamsia pada ibu hamil.
f. Pemeriksaan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
3. Pemeriksaan Padang (Inspeksi)
Pemeriksaan pandang dimulai semenjak bertemu dengan pasien. Perhatikan
bagaimana sikap tubuh, keadaan punggung dan cara berjalannya. Apakah cenderung
membungkuk, terdapat lordosis, kifosis, skiolosis, atau pincang, dan sebagainya. Lihat
dan nilai kekuatan ibu ketika berjalan, apakah ia tampak nyaman dan gembira, apakah
ibu tampak lemah serta keadaan umum lainnya yang menunjang pemeriksaan dari
ujung rambut sampai ke ujung kaki.
4. Pemeriksaan Raba (Palpasi)
Sebelum pemeriksaan kosongkan kandung kemih, kemudian ibu diminta
berbaring telentang dan pemeriksaan dilakukan di sisi kanan ibu. Lihat apakah uterus
berkontraksi atau tidak. Bila berkontraksi, harus ditunggu sampai dinding perut lemas
agar dapat diperiksa dengan teliti. Agar tidak terjadi kontraksi dinding perut akibat
perbedaan suhu dengan tangan pemeriksa, sebelum palpasi kedua tangan pemeriksa
digosokkan dahulu.
5. Pemeriksaan Dengar (Auskultasi)
Periksa dengar dilakukan setiap ibu hamil memeriksakan kehamilannya. Hal yang
dapat didengarkan pada saat pemeriksaan dengar (auskultasi) adalah sebagai berikut:
1. Suara yang berasal dari ibu yaitu sebagai berikut
a) Bising aorta, cepatnya sama dengan denyut nadi ibu.
b) Bising rahim, suaranya terdengar seperti tiupan angin, cepatnya sama dengan
denyut nadi ibu.s
c) Peristaltik usus.
2. Suara yang berasal dari janin yaitu sebagai berikut:
a) Denyut jantung janin yang terdengar pada minggu ke 18-20 dengan menggunakan
stetoskop monoaural dan minggu ke-12 dengan menggunakan Doppler elektrik.
Terdengarnya denyut jantung janin (DJJ) menunjukkan status kesehatan dan posisi
janin terhadap ibu.
b) Gerakan janin, yaitu suara gerakan janin seperti bunyi pukulan.
c) Bising tali pusat, suara yang terdengar seperti tiupan, cepatnya sama dengan
denyut jantung janin. Bising tali pusat dapat timbul karena tali pusat tertekan oleh
suatu sebab.
6. Pemeriksaan Dalam
Siapkan ibu dalam posisi litotomi lalu bersihkan daerah vulva dan perineum
dengan larutan antiseptik. Infeksi vulva dan vagina apakah terdapat luka, varises,
radang, atau tumor. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan inspekulo. melihat ukuran
dan warna porsio, dinding, dan skret vagina. Lakukan pemeriksaan colok vagina
dengan memasukan telunjuk dan jari tengah. Raba adanya tumor atau pembesaran
kelenjar diliang vagina. Periksa adanya massa dianessa dan parimetrium.
Perhatikan letak, bentuk, ukuran uterus serta periksa konsistensi, arah, panjang
porsio, dan pembukaan serviks. Pemeriksaan dalam ini harus dilakukan dengan
cara palpasi bimanual.
7. Pemeriksaan Panggul
Pemeriksaan panggul pada ibu hamil terutama pada primigravida perlu dilakukan
untuk menilai keadaan dan bentuk panggul apakah terdapat kelainan atau keadaan
yang dapat menimbulkan penyulit persalinan.
8. Pemeriksaan Laboratorium
Ibu hamil sebaiknya dilakukan pemeriksaan laboratorium sekurang-kurangnya dua
kali selama kehamilan, yaitu pada permulaan kehamilan dan pada akhir kehamilan.
Pada kunjungan pertama diperiksa kadar hemoglobin darah, hematokrit, dan hitung
leukosit. Dari urine diperiksa beta-hCG, protein, dan glukosa.
2.6
Hubungan Dukungan Suami Terhadap
Program Perencanaan
Persalinan Dan Pencegahan Komplikasi (P4K) Dengan Perilaku Antenatal
Care (ANC)
Dukungan suami memiliki peranan yang sangat vital dalam proses persalinan
ibu hamil tanpa dukungan suami yang memadai istri dapat menemui hambatan
selama kehamilan, suami dapat memberikan informasi berupa saran, petunjuk,
pemberi nasehat, mencari informasi lain yang bersumber dari media cetak/elektronik,
dan juga tenaga kesehtan; bidan dan dokter. Dukungan emosional adalah kepedulian
dan empati yang diberikan oleh suami yang dapat meyakinkan ibu hamil bahwa
dirinya diperhatikan (Kunjtoro, 2012 dalam Septiana 2016)
Program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K)
merupakan salah satu upaya kesehatan untuk menurunkan kasus komplikasi dan
kematian akibat komplikasi pada ibu hamil, dan dalam hal ini ibu hamil dan bidan
diharapkan dapat membuat perencanaan persalinan disetiap pemeriksaan kehamilan
atau antenatal care ibu hamil. Untuk merencanakan persalinan yang baik seorang ibu
hamil harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kehamilan dan persalinan
(Laksmono, 2008 dalam Liyani, 2015).
Antenatal Care (ANC) atau pelayanan asuhan antenatal care adalah
pemeriksaan kehamilan yang di berikan oleh bidan atau dokter kepada ibu selama
masa kehamilan untuk mengoptimalisasikan kesehatan mental dan fisik ibu hamil,
sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, persiapan membrikan ASI, dan
kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar. Salah satu fungsi terpenting dari
perawatan antenatal adalah untuk memberikan saran dan informasi pada seorang
wanita mengenai tempat kelahiran yang tepat sesuai dengan kondisi atau status
kesehatannya. Perawatan antenatal juga merupakan suatu kesempatan untuk
menginformasikan kepada para wanita mengenai tanda-tanda bahaya dan gejala yang
memerlukan bantuan segera dari petugas kesehatan (Aliyanto et al, 2014).
Download