BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Dukungan Suami 2.1.1. Definisi Dukungan Suami Dukungan suami adalah komunikasi verbal dan non-verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh suami terhadap ibu hamil didalam likungan sosialnya (Friedman, 2010). Dukungan suami merupakan suatu bentuk wujud dari sikap perhatian dan kasih sayang. Dukungan dapat diberikan baik fisik maupun psikis. Suami memiliki andil yang cukup besar dalam menentukan status kesehatan ibu. Dukungan suami yang baik dapat memberikan motivasi yang baik pada ibu untuk memeriksakan kehamilannya (Eko, 2008). 2.1.2. Fungsi Dukungan Suami Friedman (2008) mengatakan bahwa suami memiliki beberapa fungsi dukungan yaitu : a. Dukungan Emosional Dukungan emosional adalah tingkah laku yang berhubungan dengan rasa tenang, senang, rasa memiliki, kasih sayang pada anggota keluarga, baik pada anak maupun orang tua. Dukungan emosional mencangkup ungkapan empati, kepedulian, dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan. Suami sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta mambantu pengeuasaan terhadap emosi. Aspekaspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan, dan di dengarkan. b. Dukungan Informasional Dukungan informasional adalah tingkah laku yang berhuhubungan dengan pemberian informasi dan nasehat. Dukungan informasional yaitu memberikan penjelasan tentang situasi dan gejala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi oleh individu. Dukungan ini mencangkup; pemberian nasiha, saran, pengetahuan, dan informasi serta petunjuk. Maka suami berfungsi sebagai sebuah kolektor dan disseminator (penyebar) informasi tentan dunia. Memberitahu saran dan sugesti, informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu masalah. Manfaat dari dukuangan ini ialah dapat menekan munculnya suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang terkhusus pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan ini ialah nasehat, usulan, kritik, saran, petunjuk dan pemberian informasi. c. Dukungan Instrumental Dukuangan instrumental adalah dukungan yang bersifat nyata dan dalam bentuk materi dan waktu yang bertujuan untuk meringankan beban bagi individu yang membutuhkan orang lain untuk memenuhinya. Suaminya harus mengetahui jika istri dapat bergantung padanya jika istri memerlukan bantuan. Bantuan mencangkup memberikan bantuan yang nyata dan pelayanan yang diberikan secara langsung bisa membantu seseorang yang membutuhkan. Bentuk dukungan ini juga dapat berupa pemeriksaan kesehatan secara rutin bagi ibu serta mengurangi atau menghindari perasaan cemas dan stress. d. Dukungan Penghargaan Dukungan penghargaan yaitu dukungan yang terjadi lewat ungkapan hormat atau penghargaan positif untuk orang lain, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan seseorang, dan perbandingan positif antara orang tersebut dengan orang lain yang bertujuan meningkatkan penghargaan diri orang tersebut. Suami bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik, membimbing, dan menengahi pemecahan masalah, sebagai sumber dan validator identitas anggota suami diantaranya memberikan support, penghargaan, dan perhatian. 2.1.3. Sumber Dukungan Suami Sumber- sumber dukungan banyak didapatkan seseorang dari lingkungan dan sekitarnya, oleh karena itu perlu diketahui seberapa banyak sumber dukungan suami ini efektif bagi individu yang membutuhkanya. Sumber dukungan suami merupakan aspek yang penying untuk meningkatkan kesehatan reproduksi maka perlu diketahui dan dipahami. Dengan pengetahuan dan pemahaman itu, individu akan tahu kepada siapa dan seberapa besar ia akan mendapatkan dukungan suami dengan situasi dan keinginan yang spesifik, sehingga dukungan tersebut dapat bermakna (Friedman, 2008). Menurut Sarason (2009) dukungan suami ialah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita. Dukungan suami mencangkup dua hal yaitu: (1) jumlah sumber dukungan suami yang tersedia merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan saat individu membutuhkan bantuan (pendekatan berdasarkan kuantitas); (2) tingkat kepuasan akan dukungan suami yang diterima berkaitan dengan persepsi seseorang bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan kualitas). 2.1.4. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Suami Menurut Bobak (2010), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dukungan suami dapat dijelaskan di bawah ini : a. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan akan mempengaruhi wawasan dan pengetahuan suami sebagai kepala rumah tangga semakin rendah pengetahuan suami maka akses terhadap informasi kesehatab istrinya akan berkurang sehingga suami akan kesulitan mengambil keputusan secara cepat dan efektif. Akhirnya pandangan baru yang perlu diperkenalkan dan disosialisasikan kembali untuk memberdayakan kaum suami berdasarkan pada pngertian bahwa suami memainkan peranan yang sangat penting, terutama dalam pengambilan keputusan berkenan dengan kesehatan pasanganya. b. Pendapatan Pada masyarakat kebanyakan 75%-100% pengahasilanya digunakan untuk membiayai keperluan hidupnya bahkan banyak keluarga rendah yang setiap bulan bersaldo rendah sehingga pada akhirnya ibu hamil tidak diperiksakan ke pelayanan kesehatan karen tidak mempunyai kemampuan unuk membiayai. Atas dasar faktor tersebut diatas maka diprioritaskan kegiatan GSI ditingkat keluarga dalam pemberdayaan suami tidak hanya terbatas pada kegiatan yang bersifat anjuran saja seperti yang selama ini akan tetapi akan bersifat holistik. Secara kongkrit dapat dikemukakan bahwa pemberdayaan suami perlu dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi keluarga sehingga kepala keluarga tidak mempunyai alasan untuk tidak memperhatikan kesehatan karena masalah finansial. c. Budaya Diberbagai wilayah Indonesia terutama di dalam masyarakat yang masih tradisional menganggap istri adalah konco wingking, yang artinya bahwa kaum wanita tidak sederajat dengan kaum pria, dan wanita hanyalah bertugas untuk melayani kebutuhan dan keinginan suami saja. Anggapan seperti ini mempengaruhi perlakuan suami terhadap kesehatan reproduksi istri, misalnya kualitas dan kuantitas makanan suami yang lebih baik, baik disbanding istri maupun anak karena menganggap suamilah yang mencari nafkah dan sebagai kepala rumah tangga sehingga asupan zat gizi mikro untuk istri berkurang, suami tidak empati dan peduli dengan keadaan ibu. d. Status Perkawinan Pasangan dengan status perkawinan yang tidak sah akan berkurang bentuk dukunganya terhadap pasangannya, dibanding dengan pasangan yang status perkawinan yang sah. e. Status Sosial Ekonomi Suami yang mempunyai status sosial ekonomi yang baik akan lebih mampu berperan dalam memberikan dukungan pada istrinya. Dukungan suami merupakan salah satu faktor yang turut berperan penting dalam menentukan suatu kesehatan ibu. Dalam hal ini partisipasi laki-laki atau suami terhadap kesehatan reproduksi dalam dekade terakhir ini sudah muali dipromosikan sebagai strategi baru yang menjanjikan dalam meningkatkan kesehatan ibu. Keluarga, terkhususnya suami, seringkali bertindak sebagai ‘gate keeper’ bagi upaya pencarian dan penggunaan pelayanan kesehatan bagi istri dan keluarganya. Sedangkan pemberian dukungan oleh suami dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang keduannya saling berhubungan (Rahayu, 2009). 1. Faktor Internal Faktor internal berasal dari individu itu sendiri meliputi faktor tahap perkembangan yaitu pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan yang berbeda-beda pada setiap rentang usia (bayi-lansia). a. Faktor pendidikan atau tingkat pengetahuan Dalam hal ini kemampuan kognitif yang membentuk pola berfikir individu termasuk kemampuan untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dalam upaya menjaga kesehatan dirinya. b. Faktor emosi Faktor emosi mempengaruhi keyakin terhadap adanya dukungan dan cara melaksanakan sesuatu. Respon emosi yang baik akan memberikan antisipasi penanganan yang baik terhadap berbagai tanda sakit namun jika respon emosinya buruk kemungkinan besar akan terjadi penyangkalan terhadap gejala penyakit yang ada. 2. Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri dan terdiri dari tiga hal. a. Praktik Praktik di keluarga yaitu cara keluarga memberikan dukungan yang mempengaruhi penderita dalam melaksankan kesehatanya secara optimal. Tindakan dapat berupa pencegahan yang dicontohkan keluarga kepada anggota keluarganya. b. Faktor sosio ekonomi Variable faktor social dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit, mempengaruhi cara seseorang mengidentifikasi serta bereaksi terhadap penyakitnya. Sementara itu faktor ekonomi menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat ekonomi individu biasanya ia akan lebih cepat tanggap terhadap gejala penyakit yang dirasakan sehingga ia akan segera mencari bantuan ketika merasa adanya gangguan kesehatan. c. Faktor latar belakang budaya Faktor latar belakang budaya akan mempengaruhi keyakinan, nilai, dan kebiasaan seseorang dalam memberikan dukungannya termasuk cara pelaksanaan kesehatan pribadi. 2.2 Konsep Kehamilan 2.2.1 Definisi Kehamilan Kehamilan merupakan adanya janin di dalam rahim dimana dimulai dari masa konsepsi sampai masa persalinan. Menurut (Nurul Kamariyah, 2014) proses kehamilan dimulai dengan terjadinya konsepsi. Konsepsi adalah bersatunya sel telur (ovum) dan sperma. Proses kehamilan (gestasi) berlangsung selama 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir. Usia kehamilan sendiri adalah 38 minggu, karena dihitung mulai dari tanggal konsepsi yang terjadinya dua minggu setelahnya. Menurut (Prawiroharjdo, 2008 dalam Kumalasari 2015) kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum serta dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilasi hingga bayi lahir, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. 2.2.2 Tanda-tanda Kehamilan Tanda-tanda kehamilan merupakan sekumpulan tanda atau gejala yang timbul pada wanita hamil dan terjadi akibat adanya perubahan psikologi pada masa kehamilan. Menurut (Jannah, 2012) ada 3 tanda-tanda kehamilan sebagai berikut: 1. Tanda-tanda presumtif/tanda tidak pasti Tanda presumtif atau tanda tidak pasti adalah perubahan-perubahan yang dirasakan oleh ibu (subyektif) yang timbul selama kehamilan. a. Amenorhoe (tidak dapat haid) Pada wanita sehat dengan haid yang teratur, amenorhoe menandakan kemungkinan kehamilan. Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat ditentukan tuanya kehamilan dan tafsiran tanggal persalinan dengan memakai rumus dari Naegele. b. Nausea (mual) dan emesis (muntah) Mual terjadi umumnya pada bulan-bula pertama kehamilan sampai akhir triwulan pertama disertai kadang-kadang oleh muntah. Sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak selalu. Keadaan ini biasa disebut dengan morning sickness. Akan tetapi apabila keadaan ini terlampau sering dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang disebut dengan hiperemesis gravidarum. c. Mengidam (menginginkan makanan atau minuman tertentu Sering terjdi pada bulan-bulan pertama dan bisa mengilang dengan makin tuanya usia kehamilan. d. Payudara menjadi tegang dan membesar Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli pada payudara, sehingga glandula montglomery tampak menjadi jelas. e. Anoreksia (tidak nafsu makan) Terjadi pada bulan-bulan pertama tetapi setelah itu nafsu makan akan timbul lagi. Hendaknya dijaga jangan sampai salah pengertian makan untuk dua orang sehingga kenaikan berat badan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. f. Sering kencing Terjadi karena kandung kencing pada bulan-buan pertama kehamilan tertekan olehuterus yang mulai membesar. Pada trisemester kedua umumnya keluhan ini hilang oleh karena uterus yang membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir trisemester ketiga gejala bisa timbul kembali karena janin mulai masuk ke rongga panggul dan menekan kembali kandung kemih. g. Obstipasi atau konstipasi Terjadi karen tonus otot menurun yang disebabkan oleh pengaruh hormon steroid, sehingga menyebabkan kesulitan untuk buang air besar. h. Pigmentasi kulit Terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas. Pada pipi, hidung, dahi kadangkadang tampak deposit pigmen yang berlebuhan, dikenal dengan kloasma gravidarum (topeng kehamilan). Areola mamae juga menjadi lebih hitam karena didapatkan deposit pigmen yang berlebihan. Daerah leher menjadi lebih hitam dan linea alba. Hal ini karena pengaruh hormon kortiko steroid plasenta yang merangsang melanofor dan kulit. i. Epulis merupakan Suatu hipertrofi papillla ginggivae. Sering terjadi pada triwulan pertama. j. Varises (penekanan vena-vena) Sering dijumpai pada trisemester akhir. Didapat pada daerah genetalia eksterna, fossa poplitae, kaki, dan betis. Pada multigravida kadang-kadang varises ditemukan pada kehamilan yang terdahulu, kemudian timbul kembali pada trisemester pertama. Kadang-kadang timbulnya caises merupakan gejala pertama kehamilan muda. 2. Tanda kemungkinan hamil Tanda kemungkinan hamil merupakan perubahan-perubahan yang diobservasi oleh pemeriksa (bersifat obyektif), namun berupa dugaan kehamilan saja. a. Uterus membesar Terjadi perubahan bentuk, besar dan konsistensi rahim. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba bahwa uterus membesar dn makin lama makin bundar bentuknya. b. Tanda hegar Konsistensi rahim dalam kehamilan berubah menjadi lunak, terutama daerah ismus. Pada minggu-minggu pertama ismus uteri mengalami hipertrofi seperti korpus uteri. Hipertrofi ismus pada trisemester pertama mengakibatkan ismus menjadi panjang dan lebih lunak. c. Tanda chadwick Adanya hipervaskularasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide). Warna porsiopun tampak livide. Hal ini disebabkan oleh hormon estrogen. d. Tanda piscaseck Uterus mengalami pembesaran. Kadang-kadang pembesaran tidak rata tetapi di daerah telur bernidasi lebih cepat tumbuhnya. Hal ini menyebabkan uterus membesar ke salah satu jurusan pembesaran tersebut. e. Tanda braxton hicks Bila uterus dirangsang akan mudah berkontraksi. Waktu palpasi atau pemeriksaan dalam uterus yang tadinya lunak akan menjadi keras karena berkontraksi. Tanda ini khas untuk uterus dalam masa kehamilan. f. Goodel sign Di luar kehamilan konsistensi serviks keras, kerasnya seperti kita merasa ujung hidung, dalam kehamilan serviks menjadi lunak pada perabaan selunak vivir atau ujung bawah daun telinga. g. Reaksi kehamilan positif Cara khas yang dipakai dengan menentukan adanya human chorionic gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing pertama pada pagi hari. Dengan tes ini dapat membantu menentukan diagnosa kehamilan sedini mungkin. 3. Tanda pasti Tanda pasti adalah tanda-tanda obyektif yang didapatkan oleh pemeriksa yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa pada kehamilan. a. Terasa gerakan janin Gerakan janin pada primigravida dapat dirasakan oleh ibunya pada kehamilan 18 minggu. Sedangkan pada multigravida pada kehamilan 16 minggu karena telah berpengalaman dari kehamilan terdahulu. Pada bulan ke empat dan ke lima janin itu kecil jika dibandingkan dengan banyaknya air ketuban, maka kalau rahim didorong atau digoyangkan, maka anak akan melenting di dalam rahim. b. Teraba bagian-bagian janin Bagian-bagian janin secara obyektif dapat diketahui oleh pemeriksa dengan cara palpasi menurut leopold pada akhir trisemester kedua. c. Denyut jantung janin Denyut jantung janin secara obyektif dapat diketahui oleh pemeriksa dengan menggunakan fetal elektrocardiograph pada kehamilan 12 minggu, sistem doppler pada kehamilan 12 minggu, stetoskop laenec pada kehamilan 18-20 minggu. d. Terlihat kerangka janin pada pemeriksaan sinar rontgen e. Dengan menggunakan USG dapat terlihat gambaran janin berupa ukuran kantong janin, panjangnya janin, dan diameter biparetalis hingga dapat diperkirakan tuanya kehamilan. 2.2.3 Perubahan pada Kehamilan Kehamilan merupakan saat yang sangat menakjubkan dalam kehidupan seorang wanita. Sekali kehamilan terjadi, berbagai macam efek terjadi dalam tubuh wanita, baik efek terjadi pada fisik wanita, efek perubahan hormon, maupun kondisi emosional. Menurut (Sunarsih, 2011) pada kehamilan, terjadi perubahan pada seluruh tubuh wanita, khususnya pada alat genitalia eksterna dan interna, serta payudara. Hal ini disebabkan oleh hormon somatomamotropin, estrogen, dan progesteron dalam kehamilan. Selain perubahan fisik, wanita hamil juga akan mengalami perubahan psikologis, yang juga dipengaruhi oleh perubahan-perubahan hormon. Perubahan tersebut berinteraksi dengan faktor interna yang memengaruhi masa transisi wanita hamil menjadi seorang ibu. 1. Perubahan Fisik pada Ibu Hamil Menurut (Sunarsih, 2011) perubahan fisik pada ibu hamil, yaitu: a. Trimester I (1-3 bulan) Tanda fisik pertama yang dapat dilihat pada beberapa ibu adalah perdarahan atau spoting sekitar 11 hari setelah konsepsi pada saat embrio melekat pada lapisan uterus. Setelah terlambat satu periode menstruasi, perubahan fisik berikutnya biasanya adalah nyeri dan pembesaran payudara diikuti oleh rasa kelelahan yang kronis/menetap dan sering BAK. Ibu akan mengalami dua gejala yang berakhir selama tiga bulan berikutnya. Mual dan muntah biasanya 8-12 minggu. Pada usia kehamilan 12 minggu, pertumbuhan uterus di atas simfisis pubis dapat teraba. Ibu akan mengalami kenaikan berat bedan sekitar 1-2 minggu selama trisemester pertama. b. Trimester II (4-6 bulan) Uterus akan tumbuh. Pada usia kehamilan 16 minggu, uterus biasanya berada pada pertengahan antara simfisis pubis dan pusat. Penambahan berat badan sekitar 0,4-0,5 kg/mg. Ibu mungkin akan merasa banyak energi. Pada usia kehamilan 20 minggu, fundus berada dekat dengan pusat. Payudara mulai mengeluarkan kolostrum. Ibu dapat merasakan gerakan bayinya dan juga mengalami perubahan yang normal pada kulit, meliputi adanya cloasma, linea nigra, dan striae gravidarum. c. Trimester III (7-9 bulan) Pada usia kehamilan 28 minggu, fundus berada pada pertengahan antara pusat dan sifoideus. Pada usia kehamilan 32-36 minggu fundus mencapai prosesus sifoideus. Payudara penuh dan nyeri tekan. Sering BAK kembali terjadi. Sekita usia khamilan 38 minggu bayi masuk atau turun ke dalam panggul. Sakit punggung dan sering BAK meningkat. Ibu kemungkinan akan sulit tidur, dan kontraksi braxton hicks meningkat. 2. Perubahan Psikologis pada Ibu Hamil Selama kehamilan tidak hanya terjadi perubahan fisik, akan tetapi kehamilan akan menimbulkan perubahan psikologi dan emosional. Menurut (Pusdiknakes, 2008 dalam Sunarsih 2011) sering kali kebanyakan seorang wanita akan merasa bahagia karna menjadi seorang ibu. Namun, tidak jarang juga banyak wanita yang merasa khawatir kalau terjadi masalah dalam kehamilannya. Menurut (Sunarsih, 2011) perubahan psikologi yang terjadi selama kehamilan: a. Trimester I (1-3 bulan) Setelah terjadinya konsepsi, kadar hormon progesteron dan estrogen akan meningkat. Hal ini akan menyebabkan timbulnya mual dan muntah pada pagi hari, lemas, lemah dan membesarnya payudara. Ibu merasa tidak sehat dan sering kali membenci kehamilannya. Banyak ibu yang merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan, dan kesedihan. Sering kali ibu pada awal kehamilannya berharap untuk tidak hamil. Pada saat inilah tugas psikologis pertama sebagai calon ibu untuk dapat menerima kehamilannya. Keadaan ini menciptakan kebutuhan untuk berkomunikasi secara terbuk dengan suami (Kumalasari, 2015). b. Trimester II (4-6 bulan) Trimester kedua adalah keadaan saat ibu merasa sehat. Tubuh ibu sudah biasa terbiasa dengan kadar hormon yang lebih tinggi dan rasa tidak nyaman karena hamil sudah berkurang. Ibu sudah menerima kehamilannya dan mulai dapat menggunakan energi dan pikirannya secara lebih konstruktif (Pusdiknakes, 2003 dalam Sunarsih 2011). c. Trimester III Trisemester ketiga sering kali disebut periode menunggu dan waspada. Periode ini wanita menanti kehadiran bayinya sebagai dari dirinya, dia menjadi tidak sabar untuk segera melihat bayinya. Trimester tiga adalah waktu untuk mempersiapkan kelahiran dan kedudukan sebagai orang tua, seperti terpuasnya perhatian pada kehadiran bayi. Sejumlah ketakutan terlihat selama trimester ketiga. Wanita mungkin khawatir terhadap hidup dan bayinya karena dia tidak akan tahu kapan dia akan melahirkan (Kusmiyati, dkk, 2009 dalam Kumalasari 2015). 2.2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehamilan Sunarsih (2011) mengatakan kehamilan merupakan suatu proses dari kehidupan seorang wanita, dimana dengan adanya proses ini akan menyebabkan perubahan pada ibu tersebut, yang meliputi perubahan fisik, mental, dan sosial. Dalam perubahan-perubahan tersebut tentunya tak lepas dari adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor fisik, psikologis, lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi. Setiap faktor tersebut saling berpengaruh karena mereka saling terkait satu sama lain dan merupakan suatu hubungan sebab akibat. Menurut (Jannah, 2012) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan sebagai berikut: 1. Faktor Fisik a. Status Kesehatan Selama kehamilan seorang wanita mengalami perubahan secara fisik seperti uterus akan membesar karena di dalamnya telah tumbuh janin, tentunya dengan adanya perubahan tersebut keadaan kesehatan ibu akan berubah pula, karena tubuh ibu diperssiapkan untuk mendukung perkembangan dari kehidupan yang baru dan untuk menyiapkan janin hidup di luar kandungan. Keadaan ini dapat diperberat dengan adanya status yang buruk atau penyakit yang diderita ibu hamil. Status kesehatan dapat diketahui dengan memeriksakan kehamilannya ke pelayanan kesehatan (Sunarsih, 2011). b. Status Gizi Status gizi merupakan hal yang penting diperhatikan pada masa kehamilan, karena faktor gizi sangat berpegaruh terhadap status kesehatan ibu selama hamil serta guna pertumbuhan dan perkembangan janin. Hubungan antara gizi ibu hamil dn kesejahteraan janin merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. Keterbatasan gizi selama kehamilan sering berhubungan dengan faktor ekonomi, pendidikan, sosial, atau keadaan lain yang meningkatkan kebutuhan gizi ibu hamil dengan penyakit infeksi tertentu termasuk pula persiapan fisik untuk persalinan. (Jannah, 2012) c. Gaya Hidup Cara hidup yang serba sibik dn terburu-buru yang dapat menyebabkan suatu gejalan yang tidak enak pada masa kehamilan. Menurut (Jannah, 2012) contoh gaya hidup seperti, mitos atau kepercayaan tertentu, kebiasaan minum jamu, aktivitas sehari-hari yang beresiko, aktivitas seksual. d. Subtance Abuse Subtance abuse adalah perilaku yang merugikan dan membahayakan bagi ibu hamil termasuk penyalahgunaan atau penggunaan obat atau zat-zat tertentu yang membahayakan ibu hamil. e. Hamil diluar nikah/hamil yang tidak diinginkan f. Jika kehamilan tidak diharapkan, maka secara otomatis ibu akan sangat membenci kehamilannya, sehingga tidak ada keinginan dari ubu untuk melakukan hal-hal positif yang dapat meningkatkan kesehatan bayinya. 2. Faktor Psikologi a. Stressor Internal Pemicu stressor internal adalah karena faktor dari ibu sendiri. Adanya beban psikologis yang ditanggung ibu dapat menyebabkan gangguan perkembangan bayi. Stressor internal meliputu kecemasan, ketegangan, ketakutan, penyakit cacat, tidak percaya diri, perubahan penampilan, perubahan peran, sikap ibu terhadap kehamilan, takut, persalinan, kehilangan pekerjaan. b. Stressor Ekternal Pemicunya berasal dari luar diri ibu seperti: status sosial, mal adaptasi, relationship, kasih sayang, support mental, broken home, respon negatif dari lingkungan. c. Dukungan Keluarga Setiap usia kehamilan usia kehamilan, ibu akan mengalami banyak perubahan baik bersifat fisik atau psikologi. Ibu harus melakukan adaptasi pada setiap perubahan. Dalam menjalani proses tersebut, ibu hamil sangat membutuhkan dukungan yang intensif dari keluarga dengan cara menunjukan perhatian dan kasih sayang. d. Kekerasan yang dilakukan oleh pasangan Bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan harus selalu diwaspadai jangan sampai kekerasan yang terjadi dapat membahayakan ibu dan bayinya. Efek psikologis yang muncul adalah gangguan rasa nyaman pada ibu hamil. 3. Faktor Lingkungan, Sosial Budaya, dan Ekonomi a. Kebiasaan Adat Istiadat Ada beberapa kebiasaan adat istiadat yang merugikan kesehatan ibu hamil. Terbentuknya janin dan kelahiran merupakan suatu fenomena yang wajar dalam kelangsungan kehidupan manusia. Namun, berbagai kelompok masyarakat dengan kebudayaan di seluruh dunia memiliki bermacam persepsi tentang kehamilan. b. Fasilitas Kesehatan Adanya fasilitas kesehatan yang memadai akan sangat menentukan kualitas pelayanan kepada ibu hamil. Deteksi dini terhadap kemungkinan adanya penyulit akan lebih tepat, sehingga langkah antisipasif akan cepat. Fasilitas kesehatan ini sangat menentukan atau berpengaruh terhadap upaya penurunan angka kesehatan ibu dan anak (AKI dan AKB). c. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan ibu hamil sangat berperan dalam kualitas perawatan bayi. Penguasaan pengetahuan erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. d. Ekonomi Tingkat sosial ekonomi terbukti sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisik dan psikologis ibu hamil. Ibu hamil yang lebih tinggi sosial ekonominya akan lebih fokus mempersiapkan fisik dan mentalnya. Ibu hamil yang lebih rendah ekonominya akan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan primer. e. Pekerjaan Pekerjaan seorang ibu akan menggambarkan aktivitas dan tingkat kesejahteraan ekonomi. Ibu hamil yang bekerja mempunyai tingkat pengetahuan yang lebih baik dari ibu hamil yang tidak bekerja. Pada ibu hamil yang bekerja lebih memiliki kesempatan berinteraksi dengan orang lain sehingga lebih mempunyai banyak peluang untuk mendapatkan informasi. 2.3. Konsep Perilaku 2.3.1. Definisi Perilaku Perilaku yaitu suatu respon seseorang yang dikarenakan adanya suatu stimulus atau rangsangan dari luar (Notoatmodjo, 2010). Kesehatan tidaklah terlepas dari perilaku, perilaku kesehatan preventif adalah aktifitas dilakukan seseorang yang yakin bahwa dirinya sehat, untuk tujuan dari pencegahan atau mendeteksi penyakit dan status gejala (Glanz, Barbara, & Viswanath,2015). 2.3.2. Bentuk-Bentuk Perilaku Bentuk-bentuk perilaku menurut Natoatmodjo (2010) sebagai berikut: a. Perilaku tertutup (covert behavior) Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas orang lain, misalnya : seseorang ibu hamil tahu pentingnya periksa kehamilan. b. Perilaku terbuka (overt behavior) Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata dan terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain, misalnya : seorang ibu memeriksakan kehamilannya atau membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi. 2.3.3. Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Perilaku kesehatan diklasifikasikan menjadi tiga kelompok menurut Natoatmodjo (2010) sebagai berikut: a. Perilaku pemeliharaan kesehatan (Health maintanance) adalah perilaku atau usahausaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. b. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior) perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. c. Perilaku kesehatan lingkungan bagaimana seseorang merespons lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. 2.3.4 Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Menurut Teori Lawrence Grenn dalam Natoatmodjo (2010) perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor, sebagai berikut : a. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, tradisi dan sebagainya. b. Faktor-faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya. c. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. 2.3.4. Indikator Perilaku Kesehatan Pengamatan dengan cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui du acara, secara langsung maupun tidak langsung. Pengukuran perilaku yang baik ialah secara langsung dengan pengamatan (observasi), yaitu mengamati tindakan individu dalam rangka memliharaan kesehataanya contoh : Untuk mengetahui perilaku antenatal care (ANC), dapat menanyakan apakah pada kehamilan terakhir melakukan pemeriksaan kehamilan, berapa kali dimana, dan sebagainya, sedangkan secara ridak langsung dapat menanyakan kembali (recall). Metode ini dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap individu tentang apa yang telah dilakukan berhubungan dengan status kesehatan (Notoatmodjo, 2010). 2.4. Konsep Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) 2.4.1. Definisi P4K Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), merupakan suatu kegiatan yang difasilitasi oleh Bidan di desa dalam rangka peningkatan peran aktif suami, keluarga dan masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi bagi ibu hamil, termasuk perencanaan penggunaan KB pasca persalinan dengan menggunakan stiker sebagai media notifikasi sasaran dalam rangka meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir (Depkes, 2009). 2.4.2. Tujuan P4K 1. Tujuan umum Meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan bayi baru lahir melalui peningkatan peran aktif keluarga dan masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi dan tanda bahaya kebidanan bagi ibu sehingga melahirkan bayi yang sehat. 2. Tujuan Khusus a. Terdatanya status ibu hamil dan terpasangnya Stiker P4K di setiap rumah ibu hamil yang memuat informasi tentang: Lokasi tempat tinggal ibu hamil, Identitas ibu hamil, Taksiran persalinan, Penolong persalinan, pendamping persalinan dan fasilitas tempat persalinan, Calon donor darah, transfortasi yang akan digunakan serta pembiayaan b. Adanya perencanaan persalinan, termasuk pemakian metode KB pasca persalinan yang sesuai dan disepakati ibu hamil, suami, keluarga dan bidan. c. Terlaksananya pengambilan keputusan yang cepat dan tepat bila terjadi komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan nifas. d. Meningkatkan keterlibatan tokoh masyarakat baik formal maupun non formal, dukun/pendamping persalinan dan kelompok masyarakat dalam perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi dengan stiker, dan KB pasca salin sesuai dengan perannya masing-masing (Depkes RI, 2009). 2.4.3 Manfaat P4K Menurut Depkes (2009) manfaat P4K sebagai berikut: a. mempercepat berfungsinya Desa Siaga, b. Meningkatkan cakupan pelayanan ANC sesuai standar, c. Meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan terampil, d. Meningkatkan kemitraan Bidan dan Dukun, e. Tertanganinya kejadian komplikasi secara dini, f. Meningkatkan peserta KB pasca persalinan, g. Terpantaunya kesakitan dan kematian ibu dan bayi, h. Menurunnya kejadian kesakitan dan kematian ibu dan bayi. 2.4.4. Sasaran P4K Menururt Depkes (2009) sasaran P4K antara lain: a. Penanggung jawab dan pengelola program KIA Provinsi dan Kab/Kota, b. Bidan Koordinator, c. Kepala Puskesmas, d. Dokter, e. Perawat, f. Bidan, g. Kader, h. Forum Peduli KIA (Forum P4K/Pokja Posyandu, dll). 2.4.5. Indikator Program P4K Menururt Depkes (2009) indikator program P4K antara lain: a. Persentase Desa melaksanakan P4K dengan Stiker, b. Persentase Ibu Hamil mendapat stiker, c. Persentase Ibu Hamil berstiker mendapat pelayanan antenatal sesuai standar, d. Persentase Ibu Hamil berstiker bersalin di tenaga kesehatan, e. Persentase Ibu Hamil, bersalin dan nifas berstiker yang mengalami komplikasi tertangani, f. Persentase penggunaan metode KB pasca persalinan, g. Persentase Ibu bersalin di nakes mendapat pelayanan nifas. 2.4.6. Tahap Kegiatan P4K a. Orientasi P4K dengan Stiker Orientasi ditunjukan untuk pengelola program dan stakholders terkait di tingkat Provinsi, Kab/Kota, Puskesmas. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi tentang tujuan, manfaat, mekanisme pelaksaan, sistem pencatatan dan pelaporan serta dukungan apa saja yang disiapkan dan diperlukan agar P4K dengan stiker dapat terlaksana di lapangan. b. Sosialisasi Sosialisasi ditunjukan kepada kepala desa/lurah, bidan, dukun, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi perempuan, PKK serta lintas sektor di tingkat desa/kelurahan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi tentang tujuan; manfaat dan mekanisme pelaksanaan agar mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat dalam pelaksanaannya di lapangan. c. Operasionalisasi P4K dengan Stiker di Tingkat Desa antara lain: 1. Memanfaatkan pertemuan bulanan tingkat desa/kelurahan, 2. Mengaktifkan Forum Peduli KIA, 3. Kontak dengan ibu hamil dan keluarga dalam pengisian stiker, 4. Pemasangan stiker di rumah ibu hamil, 5. Pendataan jumlah ibu hamil di wilayah desa, 6. Pengelolaan donor darah dan sarana transportasi/ambulan desa, 7. Penggunaan, pengelolaan dan pengawasan Penandatanganan Amanat Persalinan. Tabulin/Dasolin, 8. Pembuatan dan 2.5. Konsep Antenatal Care (ANC) 2.5.1. Definisi Antenatal Care (ANC) Antenatal Care (ANC) merupakan pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Dengan demikian ibu hamil, mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberian ASI, dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998 dalam Kumalasari, 2015). Menurut Hutahaen (2013) Antenatal care adalah asuhan yang diberikan oleh perawat atau tenaga medis mulai dari konsepsi sampai persalinan. Asuhan diberikan berdasarkan keadaan fisik, emosional, dan sosial ibu, janin, pasangan, serta anggota keluarga. Asuhan perawatan pada ibu hamil sangat diperlukan untuk menjamin kesehatan ibu dan janin. 2.5.2 Tujuan Antenatal Care (ANC) Mansjoer (2005) dalam Kumalasari (2015), mengatakan tujuan dari ANC ialah sebagai berikut: a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu serta bayi. c. Mendeteksi secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang mungkin terjadi delama kehamilan, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan. d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin. e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif. f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. 2.5.3. Kriteria Keteraturan Antenatal Care (ANC) Menurut Kumalasari (2015) Keteraturan dalam pemeriksaan kehamilan dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat satu bulan. b. Periksa ulang satu kali sebelum sampai kehamilan tujuh bulan. c. Periksa ulang dua kali sebelum sampai kehamilan sembilan bulan. d. Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan sembilan bulan. e. Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan. 2.5.4. Jadwal Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, wanita hamil memerlurkan sedikitnya empat kali kunjungan selama periode antenatal, yaitu sebagai berikut: a. Satu kali kunjungan selama trimester satu (<14 minggu). b. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14-28). c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36 ) dan sesudah minggu ke-36). d. Perlu segera memeriksakan kehamilan bila dirasakan ada gangguan atau bila janin tidak bergerak lebih dari 12 jam (Pusdiknakes, 2003 dalam Kumalasari, 2015). Adapun pada setiap kunjungan antenatal, perlu didapatkan informasi yang sangat penting meliputi: 1. Satu kali pada terimester pertama, yaitu sebagai berikut: a. Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu sehingga suatu mata rantai penyelamatan jiwa telah terbina jika diperlukan. b. Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum menjadi bersifat mengancam jiwa. c. Mencegah masalah, seperti tetanus neonatarum, anemia defisiensi zat besi, penggunaan praktik tradisional yang merugikan. d. Memulai persiapan persalinan dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi. e. Mendorong perilaku yang sehat (nutrisi, latihan, dan kebersihan, istirahat serta sebagainya). 2. Satu kali pada trimester kedua (sebelum minggu ke-28), yaitu sebagai berikut: a. Sama seperti kunjungan trimester pertama. b. Perlu kewaspadaan khusus mengenai preklamsia, pantauan tekanan darah, periksa protein urine, dan gejala yang lainnya. 3. Dua kali pada trimester ketiga, yaitu sebagai berikut: a. Sama seperti kunjungan sebelumnya. b. Perlu adanya palpasi abdomen untuk mendeteksi adanya kehamilan ganda. c. Deteksi kelainan letak atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran dirumah sakit. Perlu segera memeriksakan kehamilan bila dirasakan ada gangguan atau bila janin tidak bergerak lebih dari 12 jam (Pusdiknakes 2003, dalam Kumalasari, 2015). 2.5.5. Jenis Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) Menurut Kumalasari (2015) komponen pemeriksaan Antenatal Care pada ibu hamil adalah sebagai berikut: 1. Anamnesis (Tanya Jawab) Tujuan dari anamnesis adalah untuk mendeteksi komplikasi-komplikasi dan menyiapkan untuk persalinan dengan mempelajari keadaan kehamilan ibu sekarang, kehamilan dan kelahiran terdahulu, kesehatan secara umum serta kondisi sosial ekonomi. Setelah informasi dikumpulkan, bidan/perawat dapat menentukan apakah kehamilan ini normal atau apakah ibu mempunyai kebutuhan khusus. Anamnesis (tanya jawab) meliputi sebagai berikut: a. Anamnesis biodata Meliputi nama ibu hamil, umur, pekerjaan, nama suami, pekerjaan suami, agama, kebangsaan dan alamat. b. Anamnesis sosial ekonomi Pada umumnya anamnesis sosial memberikan gambaran mengenai latar belakang sosial pasien seperti status perkawinan, taraf hidup, respons orangtua dan keluarga terhadap kehamilan ini, dukungan keluarga, keadaan rumah tangga, pengambilan keputusan dalam keluarga, status sosial ekonomi, kebiasaan makanan dan gizi yang dikomsumsi dengan fokus pada vitamin A dan zat besi, kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merokok, minum obat atau alkohol, beban kerja dan kegiatan sehari-hari, tempat melahirkan dan potongan persalinan, serta adat istiadat. c. Anamnesis keluarga Anamnesis keluarga diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit menurun atau adanya kehamilan kembar. d. Anamnesis medik a) Dilakukan untuk mengetahui adanya kemungkinan penyakit-penyakit yang menyertai dan yang memengaruhi kehamilan ibu di antaranya sebagai berikut: 1) Masalah-masalah kardiovaskuler Penyakit jantung akan mengalami komplikasi yang serius dengan adanya kehamilan. Penyebabnya bisa berupa penyakit jantung kongenital seperti atrial atau Hipertensi 2) Hipertensi yang diinduksi kehamilan dapat mengakibatkan penurunan fungsi plasenta, IUGR, fetal compromise, serta kemungkinan timbulnya perdarahan antepartum. 3) Diabetes melitus Diabetes melitus merupakan suatu kondisi yakni terhadap penurunan secara total/relatif pada produksi insulin oleh pankreas yang sangat diperlukan oleh jaringan. Diabetes gestasional merupakan kondisi pada wanita hamil yang mengalami hiperglikemia dengan toleransi kadar glukosa yang kurang. 4) Malaria 5) Penyakit Menular Seksual Meliputi infeksi trichomonas, sifilis, gonorrhea, herpes genital, kondiloma akuminata, infeksi Chlamydia trachomatis, hepatitis, dan HIV/AIDS. b) Untuk mengetahui keluhan-keluhan yang dirasakan selama kehamilan. Keluhan-keluhan lazim pada kehamilan diantaranya mual dan muntah. Sakit kepala, saliva yang berlebihan, keletihan, napas pendek, nyeri punggung bagian bawah, mengidam makanan, varises, nyeri selama berhubungan seks, gusi berdarah, sering kencing juga pada malam hari, rasa panas dalam perut, hiperpigmentasi pada wajah dan payudara, sering buang angin, kesemutan pada jari-jari kaki, konstipasi, hemoroid, keram pada kaki, serta kaki bengkak. c) Untuk mengetahui masalah atau tanda-tanda bahaya pada saat kehamilan di antaranya perdarahan pervaginam, sakit kepala yang hebat, masalah visual (misalnya pandangan kabur), bengkak pada muka dan tangan, nyeri abdominal yang hebat, dan bayi kurang bergerak seperti biasa. d) Anamnesis Haid Ditanyakan kapan datang haid pertama kali (menarche), berapa banyak jumlahnya, lama dan siklusnya, periode menstruasi terakhir, ada tidaknya dismenore, dan lain-lain. Hal tersebut dibutuhkan untuk mengetahui keadaan alat kandungan. Pada wanita dengan haid terlambat dan diduga hamil, ditanyakan hari pertama haid terakhir (HPHT). Taksiran partus dapat ditentukan bila HPHT diketahui dan siklus haidnya teratur ± 28 hari dengan menggunakan rumus Naegele yaitu hari + 7, bulan -3 dan tahun + 1. e) Anamnesis Kebidanan Tanyakan riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya meliputi jumlah kehamilan, anak yang lahir hidup, berat bayi sebelumnya < 2.500 gram atau > 4.000 gram, persalinan preterm, persalinan prematur, keguguran atau kegagalan kehamilan, persalinan dengan tindakan (dengan forceps, vakum, operasi sectio caesarea), serta riwayat perdarahan pada kehamilan, atau nifas sebelumnya. 2. Pemeriksaan Umum Tuhuan pemeriksaan umum adalah untuk mengetahui secara umum keadaan kesehatan ibu hamil. Pada ibu hamil yang datang pertama kali, lakukan penilian keadaan umumnya dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dari ujung rambut sampai ke ujung kaki (head to head ). Pemeriksaan umum mencakup hal-hal brikut: a. Pemeriksaan tinggi badan, berat badan, dan lingkar lengan atas (LILA). Pemeriksaan tinggi badan hanya dilakukan pada kunjungan pertama ibu hamil, ibu yang memiliki tinggi badan kurang dari 145 cm akan beresiko mengalami kesulitan saat persalinan dikarenakan kemungkinan memiliki panggul yang sempit. Untuk pengukuran berat badan, dilakukan setiap kali kunjungan, agar diketahui penambahan berat badan ibu selama kehamilan. b. Pengukuran tanda-tanda vital. Meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, pernafasan, dan suhu tubuh. Pada saat pemeriksaan pastikan ibu sudah istirahat 30 menit setelah kedatangan atau sebelum dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. Hal ini bertujuan agar hasil yang didapatkan sesuai dengan kondisi ibu yang sebenarnya. c. Pemeriksaan kemungkinan adanya kelainan/penyakit. Kelainan jantung sperti sesak nafas, jantung berdebar, kelainan/penyakit paru-paru seperti asma, sesak napas, batuk menahun dan kelainan/penyakit pada orang lainya. d. Pemeriksaan refleks lutut (patela). Dengan menggunakan hammer, minta ibu duduk dengan tungkai yang tergantung besas, rabalah tendon pada lutut bagian depan. Tungkai bawah akan begerak sedikit ketika tendon diketuk. Bila refleks negatif kemungkinan ibu mengalami kekurangan vitamin B1 dan bila geraknya berlebihan dan cepat, maka hal ini kemungkinan preeklamsia. e. Pemeriksaan edema. Edema pada tungkai dapat dikenal dengan menekan daerah pretibia dan daerah mata kaki dengan jari. Bila pada tekanan terjadi cekungan yang tidak lekas pulih kembali, maka ini suatu tanda adanya edema, bila didapat edema pada tungkai, kemungkinan timbulnya preeklamsia pada ibu hamil. f. Pemeriksaan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. 3. Pemeriksaan Padang (Inspeksi) Pemeriksaan pandang dimulai semenjak bertemu dengan pasien. Perhatikan bagaimana sikap tubuh, keadaan punggung dan cara berjalannya. Apakah cenderung membungkuk, terdapat lordosis, kifosis, skiolosis, atau pincang, dan sebagainya. Lihat dan nilai kekuatan ibu ketika berjalan, apakah ia tampak nyaman dan gembira, apakah ibu tampak lemah serta keadaan umum lainnya yang menunjang pemeriksaan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. 4. Pemeriksaan Raba (Palpasi) Sebelum pemeriksaan kosongkan kandung kemih, kemudian ibu diminta berbaring telentang dan pemeriksaan dilakukan di sisi kanan ibu. Lihat apakah uterus berkontraksi atau tidak. Bila berkontraksi, harus ditunggu sampai dinding perut lemas agar dapat diperiksa dengan teliti. Agar tidak terjadi kontraksi dinding perut akibat perbedaan suhu dengan tangan pemeriksa, sebelum palpasi kedua tangan pemeriksa digosokkan dahulu. 5. Pemeriksaan Dengar (Auskultasi) Periksa dengar dilakukan setiap ibu hamil memeriksakan kehamilannya. Hal yang dapat didengarkan pada saat pemeriksaan dengar (auskultasi) adalah sebagai berikut: 1. Suara yang berasal dari ibu yaitu sebagai berikut a) Bising aorta, cepatnya sama dengan denyut nadi ibu. b) Bising rahim, suaranya terdengar seperti tiupan angin, cepatnya sama dengan denyut nadi ibu.s c) Peristaltik usus. 2. Suara yang berasal dari janin yaitu sebagai berikut: a) Denyut jantung janin yang terdengar pada minggu ke 18-20 dengan menggunakan stetoskop monoaural dan minggu ke-12 dengan menggunakan Doppler elektrik. Terdengarnya denyut jantung janin (DJJ) menunjukkan status kesehatan dan posisi janin terhadap ibu. b) Gerakan janin, yaitu suara gerakan janin seperti bunyi pukulan. c) Bising tali pusat, suara yang terdengar seperti tiupan, cepatnya sama dengan denyut jantung janin. Bising tali pusat dapat timbul karena tali pusat tertekan oleh suatu sebab. 6. Pemeriksaan Dalam Siapkan ibu dalam posisi litotomi lalu bersihkan daerah vulva dan perineum dengan larutan antiseptik. Infeksi vulva dan vagina apakah terdapat luka, varises, radang, atau tumor. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan inspekulo. melihat ukuran dan warna porsio, dinding, dan skret vagina. Lakukan pemeriksaan colok vagina dengan memasukan telunjuk dan jari tengah. Raba adanya tumor atau pembesaran kelenjar diliang vagina. Periksa adanya massa dianessa dan parimetrium. Perhatikan letak, bentuk, ukuran uterus serta periksa konsistensi, arah, panjang porsio, dan pembukaan serviks. Pemeriksaan dalam ini harus dilakukan dengan cara palpasi bimanual. 7. Pemeriksaan Panggul Pemeriksaan panggul pada ibu hamil terutama pada primigravida perlu dilakukan untuk menilai keadaan dan bentuk panggul apakah terdapat kelainan atau keadaan yang dapat menimbulkan penyulit persalinan. 8. Pemeriksaan Laboratorium Ibu hamil sebaiknya dilakukan pemeriksaan laboratorium sekurang-kurangnya dua kali selama kehamilan, yaitu pada permulaan kehamilan dan pada akhir kehamilan. Pada kunjungan pertama diperiksa kadar hemoglobin darah, hematokrit, dan hitung leukosit. Dari urine diperiksa beta-hCG, protein, dan glukosa. 2.6 Hubungan Dukungan Suami Terhadap Program Perencanaan Persalinan Dan Pencegahan Komplikasi (P4K) Dengan Perilaku Antenatal Care (ANC) Dukungan suami memiliki peranan yang sangat vital dalam proses persalinan ibu hamil tanpa dukungan suami yang memadai istri dapat menemui hambatan selama kehamilan, suami dapat memberikan informasi berupa saran, petunjuk, pemberi nasehat, mencari informasi lain yang bersumber dari media cetak/elektronik, dan juga tenaga kesehtan; bidan dan dokter. Dukungan emosional adalah kepedulian dan empati yang diberikan oleh suami yang dapat meyakinkan ibu hamil bahwa dirinya diperhatikan (Kunjtoro, 2012 dalam Septiana 2016) Program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) merupakan salah satu upaya kesehatan untuk menurunkan kasus komplikasi dan kematian akibat komplikasi pada ibu hamil, dan dalam hal ini ibu hamil dan bidan diharapkan dapat membuat perencanaan persalinan disetiap pemeriksaan kehamilan atau antenatal care ibu hamil. Untuk merencanakan persalinan yang baik seorang ibu hamil harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kehamilan dan persalinan (Laksmono, 2008 dalam Liyani, 2015). Antenatal Care (ANC) atau pelayanan asuhan antenatal care adalah pemeriksaan kehamilan yang di berikan oleh bidan atau dokter kepada ibu selama masa kehamilan untuk mengoptimalisasikan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, persiapan membrikan ASI, dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar. Salah satu fungsi terpenting dari perawatan antenatal adalah untuk memberikan saran dan informasi pada seorang wanita mengenai tempat kelahiran yang tepat sesuai dengan kondisi atau status kesehatannya. Perawatan antenatal juga merupakan suatu kesempatan untuk menginformasikan kepada para wanita mengenai tanda-tanda bahaya dan gejala yang memerlukan bantuan segera dari petugas kesehatan (Aliyanto et al, 2014).