Uploaded by User73577

LANDASAN TEORI PRAKTIKUM FISIKA

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Sistem Satuan
Setiap pengukuran besaran fisis umumnya selalu menemui batas ketelitian
dan kesalahan pengukuran (salah baca, parallax, dsb). Setiap alat ukur mempunyai
batas ketelitian dan batas maksimum kemampuan mengukur (batas ukur). Sebagai
contoh alat-alat ukur untuk besaran fisis (panjang, lebar, tebal, jarak, dalam dan
sebagainya) adalah :
-
Mistar biasa, mempunyai ketelitian 1mm atau kurang
-
Jangka sorong mempunyai ketelitian 0.1 mm atau kurang
-
Mikrometer sekrup, mempunyai ketelitian 0.01mm atau kurang
Ini artinya jika suatu bahan pada akrilik diukur panjangnya dengan mistar
diperoleh 3.9 cm, maka :
Dengan jangka sorong dapat diperoleh 3.91 cm, dengan
micrometer sekrup dapat diperoleh 3.913 cm,
Volume zat pada umumnya tidak dapat diukur dengan langsung tetapi
dengan jalan tidak langsung misal :
-
Mula-mula diukur panjang, lebar, tebal, atau rusuk-rusuknya dari benda tersebut,
jika bentuknya teratur (balok, prisma, limas, silender, dsb). - Dengan menggunakan
hukum Fisika yang telah dikenal seperti hukum Archimedes (untuk semua benda
baik teratur maupun tidak teratur).
Cara pertama dikenal sebagai cara statis dan cara kedua sebagai cara
dinamis. Akibat cara tidak langsung tersebut ketelitian dan kesalahan pengukuran
volume tergantung pada kesalahan dan ketelitian pengukuran rusuk-rusuknya dan
pengukuran massa.
Pengukuran massa benda dilakukan dengan alat yang disebut neraca dan
tiap-tiap alat mempunyai ketelitian masing-masing. Pada umumnya pengukuran
1
massa dilakukan secara perbandingan dan dalam laboratorium dikenal neraca teknis
dan neraca analitis sebagai alat untuk menetapkan massa suatu benda.
Seperti yang telah diketahui bahwa dalam bidang telekomunikasi kegiatan ini
sangat penting sekali seperti halnya yang ditemui pada : Pembuatan fiber, Pipa
acrylic, Acrylik sheet, Aquaruim Acrylik, Lukisan/Gambar dinding, Acrylik
Cabinet, Huruf Acrylik, Buffet Acrylik, Box acrylic, dan masih banyak yang
lainnya. Membending adalah proses menyatukan akrilik.
Dalam menbending yang patut diperhatikan adalah bagaimana cara
menyatukan benda (akrilik) sehingga sisi-sisi akrilik yang disatukan tidak ditemui
(licin). Sebab kerapaian dalam membending mempunyai nilai harga tinggi dalam
kerapian dan ketelatenan dalam bekerja.
2.2
Alat Ukur
Untuk memepermudah kita dalam pengukuran serta sudut benda kerja
dengan tepat ukurannya maka kita mempergunakan alat yang dikenal dengan alat
ukur. Beberapa peralatan yang termasuk dalam alat ukur adalah sebagai berikut :
2.2.1
Penggaris / Mistar Baja
Penggaris atau mistar memang tidak seakurat jangka sorong, dikarenakan
adanya kekilafan / kesalahan pandangan mata. Akan tetapi penggunaan mistar
dalam pengukuran memang lebih mudah dan cepat serta lebih praktis. Selain itu
mistar atau penggaris juga berguna menghubungkan titik-titik sehingga membentuk
garis atau dalam menghubungkan garis yan;g sama panjang.
Contoh Mistar Baja:
2
Peraturan baja, juga disebut penguasa, sangat penting dalam setiap toko
ketika masalah akurasi. Peraturan baja secara inheren lebih akurat daripada aturan
lipat karena mereka dibuat dalam satu potongan dan begitu menghindari
ketidakakuratan, betapapun kecilnya, yang melekat pada aturan-aturan lipat karena
mereka bermain di engsel. Persyaratan untuk ketepatan dalam peraturan baja sangat
bervariasi, namun, dan kisaran produk yang bervariasi juga.
Walaupun tujuan utama adalah pengukuran akurat, mereka juga dapat
digunakan sebagai panduan untuk menguraikan garis, dan jika cukup kaku, untuk
memotong. Yang lebih tipis, lebih fleksibel aturan juga dapat digunakan untuk
mengukur bulat atau melengkung dalam bekerja.
Perbedaan dalam aturan harga hasil dari berbagai metode produksi, yang
juga menentukan keakuratan dan keterbacaan, kebanyakan peraturan dibuat dengan
memotong panjang yang diperlukan dari gulungan pegas band baja, dengan terukir
wisuda. Aturan yang dibuat oleh metode ini sudah cukup untuk kebanyakan aplikasi
dan cukup murah. Aturan harga tinggi dipotong, tidak dicap, dari pelat baja
(stamping akan menyebabkan bahan melengkung), dan ujungujungnya adalah
tanah. Wisuda adalah mesin, lebih dalam daripada terukir wisuda, lagi-tahan lama,
dan lebih mudah untuk dibaca di cahaya miskin.
Steel Aturan yang dibuat di Jerman:
Peraturan baja yang dibuat di Jerman yang terbuat dari baja stainless musim
semi, menurut Komisi Eropa keakuratan kelas II, yang membutuhkan akurasi dari
3
+ -0,5 mm per 1 m; + -0,7 mm per 2 m; + -0,9 mm per 3 m; + -- 1,3 mm per 5 m.
Foto-terukir (tergores) tanda-tanda di permukaan satin memberikan bebas silau
membaca.
1.
Baja aturan yang dibuat di Jerman, untuk membaca dari kiri ke
kanan(standar); mm-kelulusan di kedua sisi, bagian belakang polos,
fleksibel.
2.
Untuk membaca dari kanan ke kiri (untuk menggunakan lefthanders atau
khusus); mm-kelulusan di kedua sisi, bagian belakang polos, fleksibel.
3.
Untuk membaca dari kiri ke kanan (standar); inci-wisuda di tepi pertama,
mm-wisuda di tepi kedua, pantatnya sederhana, fleksibel.
4.
untuk membaca dari kiri ke kanan (standar); mm-kelulusan di kedua sisi,
bagian belakang polos, fleksibel.
Aturan baja ini adalah laser terukir, Ini tersedia dengan Bersertifikat
Kalibrasi dalam bahasa Jerman EC menurut Kelas II. Sertifikat ini harus diurutkan
secara terpisah.
2.2.2
Jangka Sorong
Jangka sorong adalah suatu alat ukur panjang yang dapat dipergunakan
untuk mengukur panjang suatu benda dengan ketelitian hingga 0,1 mm.
keuntungan penggunaan jangka sorong adalah dapat dipergunakan untuk mengukur
diameter sebuah kelereng, diameter dalam sebuah tabung atau cincin, maupun
kedalam sebuah tabung.
Kegunaan jangka sorong adalah:
☻ Untuk
mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit;
☻ Untuk
mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang
(pada pipa, maupun lainnya) dengan cara diulur;
4
☻
Untuk mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara
"menancapkan/menusukkan" bagian pengukur. Bagian pengukur tidak
terlihat pada gambar karena berada di sisi pemegang.
Secara umum, jangka sorong terdiri atas 2 bagian yaitu rahang tetap dan
rahang geser. Jangka sorong juga terdiri atas 2 bagian yaitu skala utama yang
terdapat pada rahang tetap dan skala nonius (vernier) yang terdapat pada rahang
geser.
Ketelitian dari jangka sorong adalah setengah dari skala terkecil. Jadi
ketelitian jangka sorong adalah : Dx = ½ x 0,01 cm = 0,005 cm. Dengan ketelitian
0,005 cm, maka jangka sorong dapat dipergunakan untuk mengukur diameter
sebuah kelereng atau cincin dengan lebih teliti (akurat).
1. Mengukur diameter luar
Untuk mengukur diameter luar sebuah benda (misalnya kelereng) dapat
dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
•
Geserlah rahang geser jangka sorong kekanan sehingga benda yang diukur
dapat masuk diantara kedua rahang (antara rahang geser dan rahang tetap)
•
Letakkan benda yang akan diukur diantara kedua rahang.
•
Geserlah rahang geser kekiri sedemikian sehingga benda yang diukur
terjepit oleh kedua rahang.
•
Catatlah hasil pengukuran anda
2. Mengukur diameter dalam
Untuk mengukur diameter dalam sebuah benda (misalnya diameter dalam
sebuah cincin) dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
5
•
Geserlah rahang geser jangka sorong sedikit kekanan.
•
Letakkan benda/cincin yang akan diukur sedemikian sehingga kedua
rahang jangka sorong masuk ke dalam benda/cincin tersebut
•
Geserlah rahang geser kekanan sedemikian sehingga kedua rahang
jangka sorong menyentuh kedua dinding dalam benda/cincin yang
diukur
•
Catatlah hasil pengukuran anda
3. Mengukur kedalaman
Untuk mengukur kedalaman sebuah benda/tabung dapat dilakukan dengan
langkah sebagai berikut:
•
Mengukur dengan bagian luar dari rahang pengukuran ditambah tebal
dari rahang-rahang itu sendiri. Jadi ukurannya adalah pembacaan tambah
10 mm
•
Lubang yang kira-kira lebih dari 10 mm diukur dengan rahang silang
•
Untuk mengukur kedalaman maka kita menggunakan batang kedalaman
dengan posisi jangka yang tegak lurus, bukan dalam keadaan miring
karena keadaan tersebut akan mempengaruhi hasil pengukuran.
Untuk membaca hasil pengukuran menggunakan jangka sorong dapat
dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
1. Bacalah skala utama yang berimpit atau skala terdekat tepat didepan titik nol
skala nonis.
2. Bacalah skala nonius yang tepat berimpit dengan skala utama.
3. Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan :
Hasil = Skala Utama + (skala nonius yang berimpit x skala terkecil jangka
sorong) = Skala Utama + (skala nonius yang berimpit x 0,01 cm)
6
Jangka sorong terdiri dari beberapa bagian penting yaitu :
Rahang bergerak (Sliding Jaw) dan skala nonius.
Bagian ini dapat digerakkan sepanjang bingkai. Pada rahang bergerak ini
juga terdapat sekrup pengencang untuk menjaga ketepatan ukuran.
Rahang tetap (Fixed Jaw)
Rahang tetap atau fixed jaw, sepanjang bingkainya terdapat pembagian skala
yang sangat teliti sekali dan dibuat dengan diagriver.
Skala utama dibagi atas 10 mm dan diberi nomor, sedangkan skala nonius
biasanya dibagi 49 mm panjangnya dan dibagi kedalam 50 bagian yang sama.
Adapun panjang tiap-tiap bagian adalah 0.98 mm panjangnya. Bearti skala nosius
lebih pendek 0.02 mm dari skala utamanya.
Siku-siku dan Radius pada jangka sorong
Siku-siku digunakan untuk menentukan kedataran suatu bidang dan juga
dapat menentukan apakah suatu bidang sudah membentuk bidang siku (90derajat).
Radius terdiri dari berbagai macam ukuran sehingga memudahkan pratikan dalam
bekerja ketika ia membutuhkan suatu ukuran dan ia dapat menggunakan radius
secara praktis. Radius berguna untuk pengukuran atau membuat jari-jari sesuai
ukuran yang diinginkan.
Ada 2 Jenis jangka sorong:
1. Jangka sorong digital
dengan ketelitian 0.01
mm
7
2. Jangka sorong
manual
8
2.2.3
Micrometer Sekrup
Skala utama micrometer sekrup pada selubung kecil dan skala nonius
padaselubung luar yang berputar maju dan mundur. 1 putaran lengkap skala utama
maju/mundur 0,5 mm karena selubung luar terdiri 50 skala maka 1 skala selubung
luar = 0,5 mm/50 = 0,01 mm sebagai skala terkecilnya.
Jadi ketelitian atau ketidakpastian micrometer sekrup adalah
( ½ x 0,01
mm ) = 0,005 mm atau 0,0005 cm.
1. Skala Utama, terdiri dari skala : 1, 2, 3, 4, 5 mm, dan seterusnya. Dan nilai
tengah : 1,5; 2,5; 3,5; 4,5; 5,5 mm, dan seterusnya.
2. Skala Putar terdiri dari skala 1 sampai 50
Setiap skala putar berputar mundur 1 putaran maka skala utama bertambah
0,5 mm. Sehingga 1 skala putar = 1/100 mm = 0,01 mm
Mikrometer adalah alat ukur yang dapat melihat dan mengukur benda
dengan satuan ukur yang memiliki 0.01 mm. Mikrometer memiliki 3 jenis umum
pengelompokan yang didasarkan pada aplikasi berikut :
9
1. Mikrometer Luar Mikrometer luar digunakan untuk ukuran memasang
kawat, lapisan-lapisan, blok-blok dan batang-batang.
2. Mikrometer dalam Mikrometer dalam digunakan untuk menguukur garis
tengah dari lubang suatu benda.
3. Mikrometer kedalaman Mikrometer
kedalaman
digunakan
untuk
mengukur kerendahan dari langkah-langkah dan slot-slot.
Dalam melakukan pengukuran pasti terdapat kesalahan, baik kesalah alat
maupun kesalahan si pengukur. Dengan kata lain pasti akan ada ketidakpasitian
dalam pengukuran. Kesalahan adalah penyimpangan nilai ukur dari nilai benar.
Kesalahan pengukuran ada tiga macam:
Kesalahan Sistematis
1.
a. Kesalahan Kalibrasi (Faktor alat)
Penyesuaian kembali perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran dari
standar akurasi semula.
b. Kesalahan Titik Nol (0)
Hal ini terjadi karena titik nol skala tidak berimpit dengan titik nol jarum
penunjuk.
c. Kelelahan Alat
Dikarenakan alat sering dipakai terus menerus sehingga alat tidak akurat
lagi. Contoh: pegas yang mulai mengendur; jarum penunjuk pada
voltmeter bergesekan dengan garis skala.
d. Kesalahan Paralaks/Paralax (Sudut Pandang)
10
Ketika membaca nilai skala, pembaca berpindah tempat / tidak tepat
melihatnya / obyek yang dilihat berbeda dengan obyek pertama yang
diamati.
e. Kondisi Lingkungan
Ketika melakukan pengukuran, kondisi lingkungan berubah sehingga
tidak bisa dilakukan pengukuran seperti biasa.
2.
Kesalahan Rambang (Kesalahan yang Tidak Dapat Dikendalikan)
Disebabkan karena adanya sedikit fluktuasi pada kondisi-kondisi
pengukuran contoh fluktuasi tegangan listrik; gerak brown molekul udara; landasan
obyek bergetar.
3.
Keteledoran Pengamat
Keterbatasan pengamat dalam membaca hasil pengukuran.
Komponen Mikrometer Sekrup
Mikrometer memiliki ketelitian sepuluh kali lebih teliti daripada jangka
sorong. Ketelitiannya sampai 0,01 mm. Mikrometer sekrup biasa digunakan untuk
11
mengukur ketebalan suatu benda. Misalnya tebal kertas. Selain mengukur ketebalan
kertas, mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur diameter kawat yang kecil.
Mikrometer terdiri dari:
1. Poros tetap
2. Poros geser / putar
3. Skala utama
4. Skala nonius
5. Pemutar
3
1
2
4
5
6
6. Pengunci
Cara Menggunakan
Mikrometer Sekrup:
1. Pastikan pengunci dalam keadaan terbuka
2. Buka rahang dengan cara memutar ke kiri pada skala putar hingga benda
dapat masuk ke rahang.
3. Letakkan benda yang diukur pada rahang, dan putar kembali sampai tepat.
4. Putarlah pengunci sampai skala putar tidak dapat digerakkan dan terdengar
bunyi 'klik'.
12
NERACA
1. Neraca Ohauss 2610 gram
Pada neraca ini terdapat 3 (tiga) lengan dengan batas ukur yang berbeda-beda.
Pada ujung lengan dapat digandeng 2 buah beban yang nilainya masing-masing 1000
gram dan 1000 gram. Sehingga kemampuan atau batas ukur alat ini menjadi 2610
gram. Untuk pengukuran dibawah 610 gram, cukup menggunakan semua lengan
neraca dan diatas 610 gram sampai 2610 gram ditambah dengan beban gantung. Hasil
pengukuran dapat ditentukan dengan menjumlah penunjukan beban gantung dengan
semua penunjukan lengan-lengan neraca.
2. Neraca Ohauss 311 gram
Neraca ini mempunyai 4 lengan dengan nilai skala yang berbedabeda, masingmasing lengan mempunya batas ukur dan nilai skala yang berbada-beda. Untuk
mengggunakan neraca ini terlebih dahulu tentukan nilai skala masing-masing lengan
NST dari Neraca Ohauss 311 gram, diambil dari NST dari empat lengannya. Hasil
pengukuran ditentukan dengan menjumlahkan penunjukan semua lengan neraca yang
digunakan.
3. Neraca Ohauss 310 gram
Neraca ini mempunyai 2 lengan dengan nilai skala yang berbedabeda dan
dilengkapi dengan sebuah Skala Putar (skala utama) dan skala nonius. NST neraca
Ohauss 310 gram dapat ditentukan dengan cara yang sama dengan jangka sorong.
Hasil pengukuran ditentukan dengan menjumlahkan penunjukan semua lengan
neraca ditambahkan dengan nilai pengukuran dari skala putar dan noniusnya
SUMBER : https://www.scribd.com/doc/27034056/Landasan-Teori
RABU ,16 OKTOBER 2019 23.15
13
TEORI KETIDAKPASTIAN
BAB I KETIDAKPASTIAN PADA PENGUKURAN
1.1. Pengukuran
Pengukuran merupakan pengamatan kuantitatif dari suatu besaran fisika. Besaran
fisika yang diukur dapat merupakan besaran dasar ataupun besaran turunan.
Sedangkan pengamatan kuantitatif dapat diartikan bahwa nilai kuantitatif dari
besaran tersebut harus jelas dan dapat dimengerti oleh semua orang. Pengukuran
juga dapat diartikan sebagai kegiatan membandingkan besaran fisika tersebut
terhadap suatu besaran dasar. Besaran dasar ini harus mudah diperoleh kembali dan
tidak boleh berubah. Seringkali kita membandingkan besaran yang diukur dengan
besaran dasar secara tidak langsung, misalnya pengukuran jarak ke Great Nebula
di Galaxi Andromeda, pengukuran tinggi badan orang atau pengukuran jarak intiinti atom H2. teknik pengukurannya sangat berbeda dan alat ukurnya pun berbeda.
Di dalam melakukan praktikum kita akan sering mengukur besaran-besaran fisika.
Hasil pengukuran ini merupakan data yang harus kita olah, sebab itu ketepatan dan
kebenaran dalam melakukan pengukuran sangat penting. Selain itu cara penulisan
dan pemakaian satuan dalam nilai hasil pengukuran tidak boleh dilupakan.
1.2. Ketidakpastian pada suatu pengukuran
Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang sebaik-baiknya, kita harus
menggunakan alat ukur yang tepat dan sesuai, juga dapat dilakukan pengukuran
berulang kali. Sekalipun demikian tidaklah dijamin bahwa hasil pengukuran itu
mutlak benar, jika saja kita mempunyai alat ukur yang lebih teliti dan cara
pengukuran yang lebih baik mungkin hasil pengukuran itu tidak sama. Dengan kata
lain hasil-hasil dari suatu pengukuran, bagaimanapun baiknya cara dan alat ukur
kita selalu dihinggapi keraguraguan dan tidakpastian.
14
Tidak ada satupun cara atau alat yang dapat menghilangkan ketidakpastian ini, yang
mungkin kita lakukan adalah memperkecil ketidakpastian tersebut dan mengetahui
batas-batas dari ketidakpastian tersebut.
Pada pasal-pasal berikutnya kita akan membahas bagaimana menuliskan suatu nilai hasil
pengukuran agar dapat diketahui batas-batas ketidakpastiannya (II.2).
1.3. Beberapa jenis ketidakpastian
Berikut ini adalah beberapa jenis ketidakpastian yang biasa kita jumpai:
A. Ketidakpastian bersistem
1. Kesalahan kalibrasi
2. Kesalahan titik nol
3. Kelelahan komponen alat
4. gesekan
5. paralak
6. Keadaan saat bekerja
Kesalahan bersistem menyebabkan hasil yang diperoleh menyimpang dari hasil
sebenarnya dan simpangan ini mempunyai arah tertentu.
B. Ketidakpastian rambang
Beberapa diantara ketidakpastian rambang (tidak teratur) ialah:
1. gerak Brown molekul udara
2. Fluktuasi pada tegangan jarum listrik
3. Landasan yang bergetar
4. Bising
5. Radiasi latar belakang
Jelas terlihat kesalahan rambang bersumber pada gejala yang tidak mungkin
dikendalikan atau diatasi semuanya sekaligus. Ia berupa perubahan yang berlangsung
sangat cepat hingga pengaturan dan pengontrolannya di luar kemampuan kita.
15
Ketidakpastian rambang ini menyebabkan hasil pengukuran kita jatuh agak di sebelah
kanan dan kiri nilai benar.
1.4. Pengukuran Tunggal
Adapun sebab pengukuran tidak diulang, mungkin karena tidak dapat diulang.
Misalkan kita mengukur curah hujan suatu hari atau kita mengukur kecepatan mobil
yang lewat, sukar sekali meminta si pengendara mengulang putarannya. Ada lagi
suatu sebab mengapa pengukuran tidak diulang. Misal: apabila tebal buku kita ukur
dengan menggunakan mistar biasa (panjang 30 cm), meskipun diulang, akan
memperoleh hasil yang sama, karena alat ukurnya terlalu kasar. Dalam hal ini
sebagai pengganti Xo kita hanya dapat mengajukan hasil pengukuran tunggal itu,
yakni X.
Tapi bagaimana dengan ketidakpastiannya?
Dalam hal ini orang berpendapat, ketidakpastian ditentukan oleh skala alat ukur
yang dipakai.
Setiap alat ukur memiliki skala berupa panjang atau busur dan pada skala itu
terdapat gores panjang dan pendek sebagai pembagi yang dibubuhi nilai tertentu.
Nyata sekali memiliki hitungan terkecil, yakni nilai antara dua gores bertetangga
(least count), atau disebut nilai skala terkecil (nat).
Dalam hal pengukuran tunggal, biasanya diambil:
X=
1
nst
2
Contoh:
Pengukuran waktu dengan stopwatch yang ketelitiannya (skala terkecil) adalah 0,1
detik, maka X = 0,05 detik. Misal hasil yang diperoleh X = 3,50 detik, maka hasil
pengukuran adalah: X = (3,50
0,05) detik.
P.1.Tentukan net dan ketidakpastian dari Mistar plastik dan Thermometer?
16
P.2.
Kertas grafik harus juga dilihat sebagai alat ukur. Berapa nst dan
ketidakpastiannya?
P.3.Bagaimana menentukan nst dan ketidakpastian alat ukur digital?
NONIUS
Banyak alat mempunyai suatu tambahan pada skalanya, dinamai nonius, yang
membuat alat itu berkemampuan lebih besar. Menambah kemampuan disini berarti
menambah ketepatan pengukurannya, seolah-olah jarak antara dua garis skala
bertetangga menjadi lebih kecil.
Biasanya: 9 bagian skala alat ujur = 10 bagian skala nonius
Secara umum: Hitungan terkecil dengan nonius =
1
n
x hitungan terkecil
tanpa nonius.
n adalah jumlah bagian yang ada pada skala nonius.
P.4. Perhatikan nonius pada jangka sorong dan Micrometer skrup. Tentukan nst dan
ketidakpastian alat itu tanpa nonius dan dengan nonius?
1.5. Pengukuran Berulang
Dari hal-hal di atas tadi, kita dapat berkesimpulan bahwa:
a. Pengukuran tunggal memberi hasil yang patut diragukan. Nampaknya pengukuran
tunggal tidak seberapa dapat dipercaya dan juga tidak seberapa gunanya.
17
b. Semakin banyak pengukuran kita lakukan, semakin besar kepercayaan kita akan
hasilnya. Secara intuisi kita merasa bahwa dengan pengulangan, kita mendapat
informasi tentang nilai benar Xo, hingga kita dapat mendekati nilai itu dengan lebih
teliti.
Berarti untuk itu kita harus melakukan pengukuran yang tak terbilang banyaknya.
Dan hal ini tak mungkin diadakan, peralatan sudah rusak dan aus sebelum percobaan
itu selesai.
Hal ini harus kita terima sebagai suatu kenyataan hidup, suatu realitas. Jadi dengan
kata lain, kita tdak dapat memperoleh hasil secara tepat sekali melainkan hanya
berusaha mendekatinya.
Ilmu statistik menyatakan:
1.
Hasil n kali pengukuran x1 ; x2 ; ………….. xn
Merupakan suatu sampel dari populasi besaran x
2.
Nilai terbaik yang mendekati xo yang dapat diambil dari sampel adalah nilai ratarata sampel.
x
x
3.
1
x
.........x
2
x
n
n
i
n
Karena x bukan Xo, maka padanya terdapat suatu ketidakpastian/ penyimpangan.
Ketidakpastian pada nilai rata-rata sampel ini adalah deviasi standard nilai ratarata sampel:
2
sx =
( x)
1 n. x
i
i
n
n 1
2
Besaran inilah yang dipakai sebagai X pada pengukuran berulang.
18
Contoh:
Diameter sekeping uang diukur 5 kali, menggunakan jangka sorong dan
diperoleh hasil sebagai berikut:
i
xi
xi2
1
11,8
139,24
2
11,9
141,61
3
12,0
144,00
4
12,1
146,41
5
12,2
148,84
60,0
720,10
x=
= 12,00
X
= 1 n. xi2
= 1
5
( xi )2 n
5.720,10
n 1
(60)2
5 1
= 0,07
Maka X = (12,00
0,07) satuan
P.5. Hitunglah A dengan ketidakpastiannya, bila diperoleh data-data
sebagai berikut, dimana berturut-turut; 10,2; 10,2; 10,0; 10,0; 9,8 a. Buat tabel
seperti di atas?
b. Hitung A ?
c. Hitung A?
d. Tuliskan A = ( A
A) satuan
19
Dalam praktek satuan diisi dengan satuan yang besar.
Perhatian: Bedakan Xi dengan (Xi)
BAB II KETIDAKPASTIAN PADA HASIL PERCOBAAN
2.1. Ketidakpastian mutlak dan relatif, ketepatan dan ketelitian
Disini diutarakan adanya ketidakpastian tertentu pada setiap pengukuran, baik
pengukuran tunggal maupun pengukuran berulang.
Dari:
X=X
X
Maka;
X dinamai ketidakpastian mutlak, dan satuannya sama dengan besaran X.
Makin kecil ketidakpastian mutlak yang tercapai, makin tepat pengukuran
tersebut.
Cara lain menyatakan ketidakpastian suatu besaran ialah dengan menyebut
ketidakpastian relatifnya, yakni:
ΔX
.100%
X
Makin kecil ketidakpastian relatif, makin tinggi ketelitian pengukuran tersebut.
Maka: ketelitian pengukuran = 100% - ketidakpastian relatif Contoh:
Diketahui pengukuran panjang L = (6.40
0,05) mm
20
Maka:
Ketidakpastian mutlak
Ketidakpastian relatif =
= 0,05 mm
. 100% = 0,78%
Ketelitian pengukuran = 100% - 0,78%
= 99,22%
P.6. Jarak terdekat antara dua gores skala jangka adalah 1 mm berapa ketidakpastian
mutlak setiap pengukuran dengan alat ini?
P.7. Thermometer (pembagian skala sampai 0,5 C) dipakai mengukur titik didih air (pada
1 atmosfer) yaitu 100 C.
Berapakah ketidakpastian mutlak pada pengukuran ini?
Berapakah ketidakpastian relatifnya dan ketelitian dipakai pada pengukuran ini?
2.2. Angka Berarti (A.B)
Cara menulis X dan X mestilah sesuai dalam arti sebagai berikut:
Misalkan suatu pengukuran menghasilkan nilai yaitu x =
= …………, berapa
angka desimalkah harus dilaporkan?
Ini bergantung pada ketepatan yang tercapai dalam pengukuran itu, yakni pada
ketidakpastian X (karena X tertentu).
Kalai misalnya X diketahui atau ditemukan 0,01, maka X harus dilaporkan juga
dengan dua angka desimal, jadi ditulis: X = (3,14
ketidakpastian
0,01); sebab dengan
X = 0,01 diartikan angka-angka desimal kedua harus diragukan
(yakni angka 4).
Semua angka didepan angka yang diragukan, diketahui dengan tepat. Kita katakan
besaran X diketahui dengan 3 angka berarti (sering juga disebut angka penting).
21
Jadi angka berarti adalah: mencakup semua angka yang diketahui dengan pasti dan
angka pertama yang diragukan. Angka selanjutnya yang diragukan tidak
dicantumkan dalam pelaporan.
Makin tinggi ketepatan pengukuran, makin besar jumlah angka berarti yang boleh
diikutsertakan dalam pelaporan.
ATURAN PRAKTIS
Ketelitian Pengukuran
1.
Jumlah A.B. yang dipakai
Sekitar 10%
2
Sekitar
Sekitar 1%
0,1%
Contoh:
34
Bila diketahui x = 1404
1%, berarti (1404
pengukuran ini harus ditulis: X = (1,40
2.
Jika x= 1404
3.
Untuk x = 1404
0,1%, menjadi x = (1,404
x = (1,4
14,04). Dengan 3 A.B, maka hasil
0,01) . 103
0,001)103
10%, ditulis menjadi;
0,1) . 103 P.8.
Tidak usah dibuat !
2.3. Ketidakpastian pada fungsi satu perubah
Jarang sekali terjadi besaran yang hendak dicari adalah besaran yang dapat diukur
dengan langsung. Lebih sering didapat besaran itu baru diketahui setelah besaran
lain diukur, karena besaran yang dicari itu merupakan fungsi dari besaran yang
diukur.
Misalnya: kalau kita ingin mengetahui volume dari kubus. Kita jarang sekali
menentukan V secara langsung, melainkan mengukur panjang sisi X, sedangkan V
dihitung dengan rumus V = X3.
22
Karena X mengandung ketidakpastian, maka V juga mengandung ketidakpastian.
Persoalan kita sekarang, bagaimana hubungan V dengan X?
Disini berlaku: V =
dv
. X
dx
Secara umum, bila Y = f (X) = f ( X
X).
Bila diuraikan menjadi deret Taylor disekitar nilai X = X , menjadi:
Y = f (X
X) = f ( X )
dx
X+
X
2
dx 2
X
df
( X)2
1
d2f
………….
Dapat diabaikan
Maka bila nilai terbaik Y = f ( X ), maka ;
df
Y = Y
dx
dxdf
X
X
. X , sehingga;
Y= Y Y
X
Contoh:
Diameter kawat dengan penampang berbentuk silinder mempunyai data-data: d =
(2,00
0,05) mm.
Hitunglah luas penampangnya dan berapa ketidakpastian pada penampang
tersebut?
.d2
23
A=
4
. (2,00)2
=
4
=
= 3,14 mm2
A
=
dA
d
=
.( d)
.d2
. d
4
d(d)
= 2.
.d. d
4
= 2.
. 2,00 . 0,05
= 0,217 mm2
A = (3,141
0,217) mm2
P.9.Dari pengukuran sebuah poros, diperoleh data untuk diameter adalah:
D = (50,80
0,04) mm
Berapa ketidakpastian pada penampangnya?
24
2.4. Ketidakpastian pada fungsi dua perubah atau lebih
Perhatikan Z = Z (X . Y), dimana;
X=X
X dan Y = Y
Y
Adalah hasil pengukuran langsung (perubah bebas), dan Z adalah besaran yang
dicari (perubah tidak bebas). Dimana X dan Y adalah ketidakpastian pada X dan
Y, maka Z juga akan mempunyai ketidakpastian tertentu.
Sekarang perlu dibedakan 3 kasus, yaitu: a.
X dan Y, keduanya berupa ½ nst
b.
X dan Y, keduanya berupa deviasi standard rata-rata sampel
c.
X dan Y, keduanya berupa ½ nst
X dan Y, keduanya berupa ½ nst
a.
Z
=
Z
X
. X
XO, YO
Z
X
. Y
XO, YO
Jika lebih dari dua perubah, maka berlaku rumus:
Z
Contoh:
=
Z
X i
Xi ,
dengan i = 1, 2…
Percepatan gravitasi setempat hendak ditentukan dengan percobaan Bandul
matematik dengan periode bandul;
T = 2 Lg
25
Pengukuran panjang bandul dengan mistar menghasilkan L = (100
cm dan pengukuran perio T = (2,0
0,1)
0,05) detik.
Tentukan g beserta ketidakpastiannya menurut pengukuran ini?
Jawab:
g=4
2
. L . T-2, maka gg
= 1000,1
= LL
2
T
T
2 02,05,0
= 0,1% + 5% ~ 5%
Kita telah mengabaikan ketidakpastian pada L terhadap ketidakpastian pada
T.
g=
= 987,216 …
g = 5% . 987,216 …
= 49,36 …
Mengingat ketelitian percobaan yang 5% itu, kita laporkan g = (9,9
0,5) .
101 cm/s2 (yang memang memiliki ketelitian sekitar 5%).
Kalau g ingin diketahui dengan ketelitian yang lebih baik, T harus diukur
dengan stopwatch yang lebih teliti atau diukur berulang kali.
P.10. Hambatan sepotong penghantar ditentukan menurut Hukum Ohm. Hasil yang
diperoleh V = (1,0
0,05) Volt dan Arus listriknya sebesar I = (5,0
0,05)
miliampere.
Berapakah R
1
.
R?
Z mempunyai arti statistik sebagai berikut:
26
D = (50,80
0,04) mm
Berapa ketidakpastian pada penampangnya?
b.
X dan Y, keduanya berupa deviasi standard rata-rata sampel Disini berlaku:
Z
X
Z = SZ
2
.( X )
2
Z
Y
2
.( Y )
2
Catatan:
1.
Ternyata SZ memenuhi penjumlahan vektor siku-siku
SZ
Z
.( Y )
Y
T
Z
.( X)
Y
Untuk fungsi dengan perubah > 2, maka:
Z=
Z
x
2
.
x
2
Z
y
2
.
y
2
Z
w
2
.
w
2
...
Contoh :
p = (10,00
0,06) Cm l = ( 5,00
0,01) Cm
27
Luas = p . l
L
= f (p . l) maka L = f ( p . l )
= 10,00 . 5,00
= 50,00 cm2
L
L
L
p
=
2
=
l
=
5 , 00
.
2
.
p
2
p
2
25 . 0 , 0036
=
0 , 09
2
p
. 0 , 06
=
2
L
l
2
2
.
.
l
2
l
2
2
10 , 00
. 0 , 01
2
100 . 0 , 0001
=
0 , 01
0 ,1
= 0,316 cm2
0,316) cm2
Maka: L = (50,00
P.11. Pengukuran massa menghasilkan m = (24,32
V = (10,2
0,04) gram, dan pengukuran Volume
0,02) cm3
Berapakah Massa jenis dan ketidakpastian dari benda tersebut?
c.
X merupakan ½ nst, Y merupakan deviasi standar rata-rata
Disini makna statistik kedua ketidakpastian ini tidak sama, untuk itu harus disamakan
dahulu supaya dapat dipakai dan berlaku:
Z
= SZ =
Z
X
2
.
2
. X
3
2
Z
Y
2
. Y
2
Contoh:
Misalkan besaran Z ingin diketahui dengan mengukur besaran X dan Y,
28
X sedangkan Z =
. Misalkan X diukur sekali dengan hasil X = (5,0
Y
0,05), sedangkan Y diukur berulang kali dengan hasil Y = (1,00
0,02).
Maka:
X=
0,03 dan Y = 0,02
.0,05
= Y1 = 1,100 = 1,00
XZ
X
Z
5,0
Y = Y 2 = (1,00)2 = -5,00 Maka:
Z
=
(1,00)2.(0,03)2
( 5,00)2.(0,02)2
= 0,1044
X 5,00
Z
= Y = 1,00 = 5,000 …, maka
Z
= (5,000
0,104)
P.12.
Dari suatu Pengukuran Tunggal diperoleh data untuk Waktu, yaitu:
t = (2,00
0,05) detik, dan pada pengukuran Berulang didapat
V = (5,20
0,15) meter/detik
Hitung jarak yang ditempuh X = V . t beserta ketidakpastiannya?
29
BAB III. CARA MENENTUKAN GARIS LURUS MELALUI SEJULAH
TITIK PERCOBAAN
Misalkan suatu hukum Fisika atau rumus sudah diluruskan hingga berbentuk:
Y = mx + n
Dimana:
m
= Koefisien arah x =
perubah n = konstanta
Kita mencari suatu persamaan garis yang baru berdasarkan data hasil percobaan:
Dimana dengan menggunakan rumus-rumus sebagai berikut:
Yi
N (X i .Yi )
m=
X i.
2
N X1
( X i )2
2
X i . Yi. X i . (X i ,Yi ) n = N X
i2
( X i )2
Contoh:
30
Dari suatu pengukuran besar Tahanan suatu benda diperoleh fungsi besaran
Ti2. Ri
n
= N Ti2
Ti . Ti .Ri
( T i )2
=
= 11,918
Jadi persamaan yang baru adalah:
R
= 4,988 . 10-2 T + 11,918 Catatan:
T adalah sumbu datar R adalah
sumbu tegak
Maka:
R1’
= 4,988 . 10-2 T1 + 11,918
= 4,988 . 10-2 (10) + 11,918 = ……………………..
R2’
= 4,988 . 10-2 (20) + 11,918 = ……………………..
Tahanan terhadap waktu (lihat tabel)
Yang diperoleh dari percobaan
i
R (ohm)
T ( C)
1
2
3
4
5
6
7
8
N=8
m
=
10
20
30
40
50
60
70
80
360
Ti
N (Ti .Ri )
N Ti
2
Ti . Ri
( Ti ) 2
12,3
12,9
13,6
13,8
14,5
15,1
15,2
15,9
113,3
Ri
=
Yang Dihitung
Ti
T.R
2
100
400
900
1600
2500
3600
4900
6400
20,400
Ti2
123
258
408
552
725
906
1064
1272
5308
Ti . Ri
8 . 5308
360 . 113 , 3
8 . 20400
( 360 ) 2
= 4,988 . 10-2
31
R3’
= 4,988 . 10-2 (30) + 11,918 = ……………………..
..
R8’
= 4,988 . 10-2 (80) + 11,918 = ……………………..
Tempat kedudukan titik yang dilalui grafik adalah:
(T1 ; R1’) ; (T2 ; R2’) ; (T3 ; R3’) ; (T4 ; R4’) ; (T5 ; R5’) ; (T6 ; R6’) ; (T7 ; R7’) ;
(T8 ; R8’) ;
Catatan:
a. Grafik harus dibuat pada kertas Milimeter
b. Grafik harus dibuat kemas, artinya garis lurus harus mengisi seluruh kertas.
c. Cara ini hanya berlaku untuk fungsi garis lurus.
P.13. Pada suatu proses pendinginan percobaan Kalori – motor diperoleh
32
data-data sebagai berikut:
i
T (detik)
T ( C)
1
30
33
2
60
32,6
3
90
32
4
120
31,4
5
150
30,9
6
180
30,5
7
210
30
Buatlah grafik dengan methode kuadrat terkecil antara T ( C) dengan t (detik)?
SUMBER : https://www.scribd.com/doc/250225730/TEORI-KETIDAKPASTIAN
KAMIS ,17 OKTOBER 2019 JAM 00.35
33
Besaran pokok
Besaran pokok adalah besaran yang satuannya telah ditetapkan terlebih dahulu dan
tidak diturunkan dari besaran lain.
Besaran pokok dalam Sistem Internasional
Nama
Simbol
rumus
dalam Simbol
dimensi
Satuan
SI
Simbol
satuan
Panjang
l, x, r, dll.
[L]
meter
m
Waktu
t
[T]
detik
(sekon)
s
Massa
m
[M]
kilogram
kg
Arus listrik
I, i
[I]
ampere
A
Suhu
T
[θ]
kelvin
K
Jumlah molekul
n
[N]
Mol
mol
Intensitas
cahaya
Iv
[J]
Kandela
Cd
Keterangan dari macam-macam besaran pokok itu adalah:
34
Panjang
Satuan panjang adalah "meter".
Definisi
Satu meter adalah jarak yang ditempuh cahaya (dalam vakum) dalam selang waktu
1/299 792 458 sekon.
Massa
Massa zat merupakan kuantitas yang terkandung dalam suatu zat. Satuan massa
adalah "kilogram" (disingkat kg)
Definisi :
Satu kilogram adalah massa sebuah kilogram standar yang disimpan di lembaga
Timbangan dan Ukuran Internasional (CGPM ke-1, 1899)
Waktu
Satuan waktu adalah "sekon" (disingkat s)
(detik) Definisi :
Satu
sekon adalah selang waktu yang
diperlukan
oleh atom sesium-
133 untuk melakukan getaran sebanyak 9 192 631 770 kali dalam transisi antara
dua tingkat energi di tingkat energi dasarnya (CGPM ke-13; 1967)
35
Kuat arus listrik
Satuan kuat arus listrik adalah "Ampere"
(disingkat A) Definisi :
Satu Ampere adalah kuat arus tetap yang jika dialirkan melalui dua buah kawat yang
sejajar dan sangat panjang,
diletakkan
dengan tebal yang
dapat diabaikan
dan
pada jarak pisah 1 meterdalam vakum, menghasilkan gaya 2 X
10-7 newton pada setiap meter kawat.
Suhu
Satuan
suhu
adalah
"kelvin"
(disingkat K) Definisi :
Satu Kelvin adalah 1/273,16 kali suhu termodinamika titik tripel air (CGPM ke-13,
1967).
Dengan demikian, suhu termodinamika titik tripel air adalah 273,16 K. Titik tripel
air adalah suhu dimana air murni berada dalam keadaan seimbang dengan es dan
uap jenuhnya.
Jumlah molekul
Satuan jumlah molekul adalah "mol".
Intensitas cahaya
Satuan intensitas cahaya adalah "kandela" (disingkat Cd).
Definisi :
36
Satu kandela adalah intensitas cahaya suatu sumber cahaya yang memancarkan
radiasi monokromatik pada frekuensi 540 X 1012 hertz dengan intensitas radiasi
sebesar
1/683 watt persteradian dalam arah tersebut (CGPM ke-16, 1979)
SUMBER
:
https://www.scribd.com/document/203115962/Definisi-besaran-pokok
KAMIS ,17 OKTOBER 2019 JAM 00.57
37
Download