OPTIK MODERN MEDIA BERLAPIS PERIODIK 1-D Disusun Oleh: 1. A. AMALIA PUTRI (191050801019) 2. SUBHAN JAELANI (191050801020) 3. RIFA’ATUL MAHMUDAH H.WATA (191050801021) 4. SUCI FATHUL ISMI (191050801022) 5. TRIYA AZMARITA (191050801023) 6. ELYNA WAHYUNITA (191050801024) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2020/2021 i KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia – Nya lah sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Sejarah ini sesuai waktunya. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Optik Modern. Kami berusaha menyusun makalah ini sedemikian rupa dengan harapan dapat membantu pembaca dalam memahami materi Media Berlapis Periodek 1-Dimensi yang merupakan judul dari makalah kami. Kami berharap agar makalah ini dapat dijadikan bekal pengetahuan. Kami menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Makassar, 20 Maret 2020 Penyusun ii DAFTAR ISI JUDUL i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii BAB I. PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 2 C. Tujuam 2 BAB II. PEMBAHASAN 3 A. Pengertian Kristal Fotonik 3 B. Gelombang Bloch Dan Struktur Pita 6 C. Reflektor Bragg 9 a. Reflektor Bragg dengan Reflektansi tinggi 11 b. Reflektor Bragg Sinusoida Homogen 11 c. Reflektor Bragg sinusoida dengan apodisasi 16 d. Reflektor Bragg sinusoida dengan chirp 18 e. Reflektor Bragg dengan chirp dan apodisasi 21 DAFTAR PUSTAKA 22 iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Telekomunikasi data-data ditransmisikan dengan menggunakan serat optik. Serat optik dapat mengirimkan data dengan lebar pita (bandwidth) yang sangat bedar dan kecepatan tinggi. Namun, pemrosesan dan pengaturan (switching) data masih menggunakan rangkaian elektronik, sehingga diperlukan konversi data elektronik/optik (E/O) and optik/elektronik. Dengan demikian kecepatan seluruh sistem dibatasi oleh kecepatan rangkaian elektronik. Karena itu, sangat penting untuk dikembangkan divais-divais switching optik yang terintegrasi (all-optical switching devices) untuk mempercepat pemrosesan data. Kristal fotonik merupakan bahan optik baru yang memiliki karakteristik unik, yaitu dapat memanipulasi pergerakan cahaya seperti halnya kristal zat padat mempengaruhi penjalaran berkas elektron. Di dalam kristal zat padat, periodisitas potensial dapat menyebabkan munculnya energi gap, dimana berkas elektron yang memiliki energi tertentu tidak bisa berada di dalam kristal tersebut. Hal serupa terjadi di dalam kristal fotonik, yang merupakan susunan material dielektrik dengan indeks bias berbeda dan berulang secara periodik. Di dalam struktur kristal fotonik akan muncul bandgap optik. Keberadaan bandgap optik akan mempengaruhi karakteristik penjalaran cahaya di dalam kristal. Cahaya yang memiliki arah dan frekuensi tertentu yang sesuai bandgap, tidak dapat melewati struktur kristal fotonik. Selanjutnya, dengan menambahkan rekayasa cacat di dalam kristal, dapat dilakukan kontrol terhadap sifat-sifat penjalaran cahaya. Dengan kemampuan tersebut, kristal fotonik memiliki potensi aplikasi yang luas meliputi aplikasi pada bidang optik linier, optik nonlinier, dan optik kuantum. Salah satu aplikasi dari kristal fotonik dalam bidang optik linier adalah sebagai mikro-kavitas. Divais mikro-kavitas berfungsi untuk melokalisasikan cahaya pada suatu daerah frekuensi tertentu. Cahaya yang terlokalisasi akan berinteraksi secara kuat dengan lingkungan sekitarnya. Pola emisi cahaya dari iv divais mikro-kavitas, akan menggambarkan jenis material yang ada di sekelilingnya. Dengan demikian, kristal fotonik dalam bentuk mikro-kavitas memiliki potensi untuk diaplikasikan sebagai divais biosensor. Fabrikasi divais mikro-kavitas yang meng- gunakan bahan aktif kromofor, sebelumnya dilakukan dengan cara melapisi kristal fotonik dengan bahan aktif secara terpisah (Notomi, et al., 2001; Meier, et al., 1999). Lapisan kromofor tersebut sangat rapuh sehingga sangat mudah mengalami kerusakan. Baru-baru ini, kristal fotonik telah banyak menarik perhatian peneliti, baik secara teoritis maupun secara eksperimen. Kristal fotonik adalah struktur periodik dari material dielektrik yang memiliki indeks bias yang berbeda, sehingga memiliki celah pita fotonik (photonic band gaps, PBG): yaitu suatu rentang frekuensi dimana cahaya tidak dapat merambat melalui struktur krital fotonik. Secara umum, kristal fotonik dikelompokkan kedalam tiga kategori berdasarkan dimesi dari susunan periodik material dielektriknya: satu -dimensi (1D), duadimensi (2D) dan tigadimensi (3D). Struktur kristal fotonik diharapkan merupakan suatu kunci untuk divais optik/fotonik dimasa depan. Berbagai divais telah dibuat dengan menggunakan struktur kristal fotonik, seperti laser tanpa ambang (thresholdless laser), diode optik nonlinier. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah: 1. Bagaimana struktur Kristal fotonik 1 dimensi 2. Bagaimana bentuk gelombang Bloch dan struktur pita 3. Bagaimana indeks bias reflector Bragg C. Tujuan Tujuan dari makalah ini adalah: 1. Untuk menganalisis Kristal Fotonik 1 dimensi 2. Untuk menganalisis gelombang Bloch dan struktur pita 3. Untuk menganalisis reflektor Bragg 2 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian kristal Fotonik Kristal fotonik (photonic crystal, PhC) atau material photonic bandgap (PBG) adalah struktur periodik dari material dielektrik dengan permitivitas (e) atau indeks bias (n) yang berbeda, sehingga dapat menghambat perambatan gelombang dengan frekuensi dan arah tertentu. Indeks bias suatu bahan dielektrik dapat dimodulasi secara priodik, baik 1-dimensi, 2dimensi maupun 3dimensi.Keperiodikan indeks bias itu menciptakan daerah frekuensi di mana foton-fotoncahaya tidak memiliki energi di dalam bahan itu.Daerah frekuensi itu disebutbandgap frekuensi. Keadaan itu mirip dengan kisi atom yang tersusun periodik di dalam kristal zat padat di mana elektron-elektron memiliki bandgap energi.Itu sebabnya bahan dielektrik dengan indeks bias yang dimodulasi secara priodik disebut kristal fotonik. Kelakuan foton-foton di dalam kristal fotonik mirip dengan kelakuan elektron dan lubang (hole) di dalam kisi atom (Yablonovich, 1987; 1989; 1991). Dari segi teoretik, penentuan fungsi-fungsi eigen di dalam kristal fotonik sangat mirip dengan perhitungan fungsi-fungsi gelombang elektron dalam zat padat. Kemiripan itu dimanfaatkan untuk menentukan struktur pita kristal fotonik (Joannopoulos,1995, 2008). Dalam kemiripan itu ada pula perbedaan yang mendasar antara keduanya. Perbedaan utama terletak pada distribusi energi. Elektron-elektron mematuhi distribusi Fermi-Dirac, sedangkan foton-foton mematuhi distribusi Bose-Einstein. Selain itu, elektron-elektron di dalam zat padat dipengaruhi oleh medan intrakristalin yang harus diperhitungkan. Foton-foton tidak dipengaruhi oleh medan intra-kristalin. Oleh sebab itu, perhitungan distribusi medan optik atau struktur pita fotonik menjadi lebih mudah. Sifat paling utama yang menyebabkan pentingnya fotonik kristal adalah kehadiran bandgapnya (Joannopoulos,1995 dan 2008). Bandgap fotonik adalah daerah energi atau frekuensi di mana cahaya tidak bisa menjalar di dalam kristal fotonik. Cahaya dengan frekuensi di dalam bandgap akan dipantulkan sepenuhnya. Namun, jika di dalam kristal itu diberikan cacat, akan muncul fungsikeadaan baru di dalam bandgap yang berkaitan dengan frekuensi-eigen dari cacat itu. Jadi, gelombang cahaya dengan frekuensi itu akan terperangkap atau bisa menjalar di dalam kristal. 3 1-D 2-D 3-D periodic in one directio n periodic in two directions periodic in three di rection s Jika gelombang elektromagnetik menjalar ke dalam struktur kristal fotonik, maka ia akan dihamburkan akibat perbedaan indeks bias didalam struktur. Jika panjang gelombang jauh lebih besar dari pada konstanta kiri dari kristal fotonik, struktur berperilaku seperti medium efektif, namun jika panjang gelombang sebanding atau lebih kecil daripada konstanta Phc, maka akan terjadi refleksi Bragg sehingga membentuk PBG. 𝑛(𝑥) = 𝑛 (𝑥 + Ʌ); Ʌ = 𝑑1 + 𝑑2 = 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑎 Solusi persamaan gelombang: 𝐸 = 𝐸(𝑥)𝑒 𝑖(𝜔𝑡−𝛽𝑧) 𝑛𝑖 𝜔 𝐸(𝑥) = √( 𝑐 ) − 𝛽2 = 𝑛𝑖 𝜔 𝑐 𝑎𝑛−1 𝑐𝑛 −1 ̃ −1 ̃ ( 𝑏 ) = 𝐷̃ 1 𝐷2 𝑃2 (𝑑 ) 𝑛−1 𝑛 cos 𝜃𝑖 ; 𝑖 = 1,2 (2.1) 𝑐𝑛 𝑎𝑛 −1 ̃ −1 ̃ (𝑑 )=𝐷̃ 2 𝐷1 𝑃1 ( 𝑏 ) 𝑛 (2.2) 𝑛 4 𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 𝑃1 = (𝑒 0 0 𝑒 −𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 𝑃2 = (𝑒 ) 𝑖𝑘2𝑥 𝑑2 0 0 ) 𝑒 −𝑖𝑘2𝑥 𝑑2 (2.3) ̂1 dan 𝐷 ̂2 masing masing matriks dinamis dalam lapisan Dimana 𝐷 berindeks dan 𝑃1 dan 𝑃2 adalah matriks propagasi dalam lapisan lapisan bersangkutan. Untuk gelombang-s : 𝑒 𝑖𝑘2 𝑑2 𝑎𝑛−1 1 (𝑏 ) = 2 ( 𝑛−1 𝑒 𝑖𝑘2 𝑑2 𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 𝑒 𝑐𝑛 1 (𝑑 ) = 2 ( 𝑛 𝑒 𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 𝑘2𝑥 (1 + (1 − (1 + (1 − ) 𝑒 −𝑖𝑘2 𝑑2 (1 − 𝑘1𝑥 𝑘2𝑥 𝑘1𝑥 𝑘1𝑥 ) 𝑒 −𝑖𝑘2 𝑑2 (1 + ) 𝑒 −𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 (1 + 𝑘2𝑥 𝑘1𝑥 𝑘2𝑥 ) 𝑒 −𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 (1 − 𝑘2𝑥 ) 𝑘1𝑥 𝑘2𝑥 𝑘1𝑥 𝑘1𝑥 ) ) 𝑘2𝑥 𝑘1𝑥 𝑘2𝑥 ) 𝑐𝑛 ) (𝑑 ) (2.4) 𝑎𝑛 ) (𝑏 ) (2.4) 𝑛 𝑛 Dari kedua persamaan (2.4) di atas diperoleh matriks translasi antara dua unit sel bertetangga, yaitu: 𝑎𝑛−1 𝐴 (𝑏 ) = ( 𝐶 𝑛−1 𝐵 𝑎𝑛 )( ) 𝐷 𝑏𝑛 𝑎𝑛−1 𝐴 (𝑏 ) = ( 𝐶 𝑛−1 𝐵 𝑎𝑛 )( ) 𝐷 𝑏𝑛 (2.5) ( 𝐴 𝐶 𝐵 ) disebut matriks translasi unit sel 𝐷 Adapun elemen-elemen matriks translasi tersebut adalah: A= 𝑒 𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 [𝑐𝑜𝑠𝑘2𝑥 𝑑2 + 1 𝑘 B= 𝑒 −𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 [ 2 𝑖 (𝑘2𝑥 − 1𝑥 1 1 𝑘 𝑖 (𝑘2𝑥 + 2 1𝑥 𝑘1𝑥 𝑘2𝑥 𝑘 𝑘2𝑥 ) sin 𝑘2𝑥 𝑑2 ]; ) sin 𝑘2𝑥 𝑑2 ]; C= 𝑒 𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 [− 2 𝑖 (𝑘2𝑥 − 𝑘1𝑥 D= 𝑒 −𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 [𝑐𝑜𝑠𝑘2𝑥 𝑑2 − 1 1𝑥 𝑘1𝑥 𝑘2𝑥 2 (2.6) ) sin 𝑘2𝑥 𝑑2 ]; 𝑘 𝑖 (𝑘2𝑥 + 1𝑥 𝑘1𝑥 𝑘2𝑥 ) sin 𝑘2𝑥 𝑑2 ]; Matriks translasi itu menghubungkan medan-medan dan dua lapisan yang sama maka AD-BC = 1 5 Untuk gelombang-p A= 𝑒 𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 [𝑐𝑜𝑠𝑘2𝑥 𝑑2 + 1 𝑖 (𝑛1 2 𝑘2𝑥 + 2 2 𝑛 2𝑘 1 𝑛2 2 𝑘1𝑥 2𝑥 𝑛 2𝑘 C= 𝑒 𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 [− 2 𝑖 (𝑛2 2 𝑘1𝑥 − 1 2𝑥 D= 𝑒 −𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 [𝑐𝑜𝑠𝑘2𝑥 𝑑2 − 1𝑥 𝑛1 2 𝑘2𝑥 B= 𝑒 −𝑖𝑘1𝑥 𝑑1 [ 2 𝑖 (𝑛2 2 𝑘1𝑥 − 1 𝑛 2𝑘 1 1 2 𝑛2 2 𝑘1𝑥 ) sin 𝑘2𝑥 𝑑2 ]; (2.7) ) sin 𝑘2𝑥 𝑑2 ]; 𝑛1 2 𝑘2𝑥 𝑛2 𝑛1 2 𝑘2𝑥 ) sin 𝑘2𝑥 𝑑2 ]; 𝑛1 2 𝑘2𝑥 𝑖 ( 𝑛2 2 𝑘1𝑥 2𝑘 1𝑥 + 𝑛2 2 𝑘1𝑥 𝑛1 2 𝑘2𝑥 ) sin 𝑘2𝑥 𝑑2 ]; Kembali pada persamaan (2.5) persamaan tersebut menunjukan bahwa jika amplitudo amplitudo 𝑎𝑛 dan 𝑏𝑛 di unit sel ke-n telah diketahui, maka amplitudo-amplitudo 𝑎𝑛−1 dan 𝑏𝑛−1 di uni sel ke-(n-1) dapat ditentukan dengan menggunakan matriks translasi. Seperti berikut ini. 𝑎𝑛−1 𝐴 (𝑏 ) = ( 𝐶 𝑛−1 𝐵 𝑎𝑛 )( ) 𝐷 𝑏𝑛 (2.8) Persamaan di atas dapat dikembangkan sampai ke unit sel ke-0 𝑎0 𝐴 (𝑏 ) = ( 𝐶 0 𝐵 𝑎1 )( ) 𝐷 𝑏1 𝑎1 𝐴 (𝑏 ) = ( 𝐶 1 𝐵 𝑎2 )( ) 𝐷 𝑏2 𝑎2 𝐴 (𝑏 )= ( 𝐶 2 𝑎𝑁 𝐴 (𝑏 ) = ( 𝐶 𝑁 𝑎0 𝐴 (𝑏 ) = ( 𝐶 0 𝐵 2 𝑎2 ) (𝑏 ) 𝐷 2 (2.9) 𝐵 2 𝑎0 ) (𝑏 ) 𝐷 0 𝐵 −𝑁 𝑎0 𝐴 ) (𝑏 ) = ( 𝐷 −𝐶 0 −𝐵 𝑁 𝑎0 ) (𝑏 ) 𝐷 0 Jadi, jika amplitudo-amplitudo unit sel ke-0 sudah diketahui, maka amplitudo-amplitudo unit sel ke-n dapat ditentukan. Persaman (2.9) tersebut yang disebut metode matriks transfer. B. Gelombang Bloch Dan Struktur Pita Gelombang Bloch juga disebut status Bloch atau fungsi Bloch atau fungsi gelombang Bloch, dinamai sesuai dengan ahli fisika Swiss Felix Bloch, adalah sejenis fungsi gelombang yang dapat ditulis sebagai gelombang bidang yang dimodulasi oleh fungsi periodik. Menurut defenisi, jika gelombang adalah gelombang Bloch. 6 Mengambil konsep zat padat, medium periodik ekivalen dengan kisi 1dimensi yang invariant terhadap translasi kisi. n(ꭓ ) = n(ꭓ + λ), λ = perioda Berdasarkan teorema Floquet, solusi persamaan gelombang untuk medium berlapis periodik adalah: EK (ꭓ ,z) = EK(ꭓ )e-iβz e-iKx Dimana EK(ꭓ ) adalah fungsi periodik λ yaitu: EK (ꭓ + λ) = EK (ꭓ ) Indeks K menyatakan fungsi EK (ꭓ ) bergantung pada K. Konstanta K disebut bilangan gelombang Bloch Menentukan K dan EK (ꭓ ) EK (ꭓ ,z) = EK (ꭓ )e-iβz e-iKx (2.10) EK (ꭓ + λ,z) = EK (ꭓ + λ) e-iβz e-iK(x+λ) (2.11) = EK (ꭓ ) e-iβz e-iK(x+λ) = EK (ꭓ ) e-iβz e-iK(x+λ) e-iKλ = EK (ꭓ ,z)e-iKλ (2.12) Oleh sebab itu, jika dikaitkan dengan medan periodik dalam persamaan 2.1 Maka berlaku hubungan antara amplitudo-amplitudo dalam 2 unit sel bertetangga, yaitu: 𝑎𝑛 𝑎𝑛−1 𝑎𝑛−1 𝑎𝑛 (𝑏 ) = 𝑒 −iKλ (𝑏 ) 𝑎𝑡𝑎𝑢 (𝑏 ) 𝑒 −iKλ (𝑏 ) 𝑛 𝑛−1 𝑛−1 𝑛 (2.13) Atau 𝑎𝑛−1 𝐴 (𝑏 ) = ( 𝐶 𝑛−1 𝐴 𝐶 ( 𝐵 𝑎𝑛 )( ) 𝐷 𝑏𝑛 𝑎𝑛 𝐵 𝑎𝑛 ) ( 𝑏 ) = 𝑒 iKλ (𝑏 ) 𝐷 𝑛 𝑛 Jadi, gelombang Bloch adalah: 𝐸𝐾 (ꭓ)e−iKx = a𝑛 𝑒 −𝑖𝐾𝑙(ꭓ−nλ) + 𝑏𝑛 𝑒 −𝑖𝐾𝑙(ꭓ−nλ) = (a0 𝑒 −𝑖𝐾𝑙(ꭓ−nλ) + 𝑏0 𝑒 −𝑖𝐾𝑙(ꭓ−nλ) )𝑒 −𝑖𝑛𝐾λ 7 Atau 𝐸𝐾 (ꭓ)e−iKx = (a0 𝑒 −𝑖𝐾𝑙(ꭓ−nλ) + 𝑏0 𝑒 −𝑖𝐾𝑙(ꭓ−nλ) = (𝑒 −𝑖𝐾(ꭓ−nλ) 𝑒 −𝑖𝐾ꭓ (2.14) Persamaan 2.14 di atas adalah ungkapan lain dari persamaan 2.5 Maka diperoleh persamaan eigen: 𝐴 𝐶 ( 𝑎𝑛 𝐵 𝑎𝑛 ) ( 𝑏 ) = 𝑒 iKλ (𝑏 ) 𝐷 𝑛 𝑛 (2.15) Dengan vektor eigen: 𝑎𝑛 (𝑏 ) = ( 𝑛 𝐵 𝑒 𝑖𝐾λ −𝐴 ) (2.16) Selanjutnya dalam persamaan 2.15 𝑒 iKλ dapat dinyatakan sebagai nilai eigen dari 𝑎𝑛 operator matriks translasi dengan vector eigen (𝑏 ). Oleh sebab itu, 𝑛 𝐼𝐾λ 𝐵 |𝐴 − 𝑒 |=0 𝐷 − 𝑒 𝑖𝐾λ 𝐶 Dari sifat unimodular matriks translasi dalam persamaan 2.15 maka diperoleh 1 1 𝑒 𝑖𝐾λ = 2 (𝐴 + 𝐷) ± √4 (𝐴 + 𝐷)2 − 1 (2.17) 1 Dalam persamaan 2.17, √4 (𝐴 + 𝐷)2 − 1 adalah imajiner, sehingga komponen rill 1 dari persamaan itu adalah cos Kλ= 2 (𝐴 + 𝐵) atau 1 1 𝐾 = 𝑐𝑜𝑠 −1 [ (𝐴 + 𝐷)] λ 2 Berdasarkan persamaan 2.6 Atau 2.7 Dan 2.1 , A dan D merupakan fungsi 𝜔 dan 𝛽, maka dituliskan: 1 1 𝐾(𝛽, 𝜔) = 𝜆 𝑐𝑜𝑠 −1 [2 (𝐴 + 𝐷)] (2.18) Subtitusi masing-masing persamaan 2. Dan 2. Diperoleh: 1 𝑘 𝑘 cos 𝐾 λ = cos𝑘1𝑥 𝑑1 𝑐𝑜𝑠𝑘2𝑥 𝑑2 − 2 (𝑘2𝑥 + 𝑘1𝑥 ) sin 𝑘1𝑥 𝑑1 sin 𝑘2𝑥 𝑑2 1𝑥 1 𝑛2 𝑘 2𝑥 𝑛2 𝑘 cos 𝐾 λ = cos𝑘1 𝑑1 𝑐𝑜𝑠𝑘2 𝑑2 − 2 (𝑛12 𝑘2 + 𝑛22 𝑘1 ) sin 𝑘1 𝑑1 sin 𝑘2 𝑑2 2 1 1 2 (S) (P) 8 (2.19) Persamaan 2.19 merupakan hubungan disperse antara 𝛽 𝑑𝑎𝑛 𝜔 untuk suatu bilangan gelombang Bloch K. Berdasarkan hubungan dispersi itu terlihat bahwa dalam daerah cos cos 𝐾 λ ≤ 1 nilai K adalah rill, artinya di dalam daerah itu gelombang Bloch dapat menjalar melalui medium berlapis, berbeda halnya daerah cos 𝐾 λ ≥ 1 nilai K merupakan kompleks sehingga gelombang mengalami evanscen artinya gelombang Bloch tak dapat melalui medium berlapis atau disebut pita terlarang atau bandgap fotonik. Berikut simulasi gelombang Bloch Cahaya bisa lewat Cahaya tudak bisa lewat (band gap) C. Reflektor Bragg Medium berlapis dari N buah unit sel. bo ……………………. aN a0 N buah unit sel 9 Jika gelombang Bloch jatuh dalam band gap, gelombang iitu terevanesen dan tak bisa menjalar dalam medium.Jadi gelombang itu terpantul, medium bersifat sebagai reflector yang disebut reflector bragg. Kristal fotonik 1D dengan jumlah lapisan terhingga disebut reflekto Bragg lapisan periodic. Misalkan N adalah jumlah unit sel, koefisien refleksi adalah (Yarivetal.1984,Yeh 1988,Yarivet al.2007). 𝑏 𝑟𝑁 = (𝑎0 ) 0 𝑏𝑁=0 Mengingat persamaan (2.9) 𝐵 𝑁 𝑎𝑁 ) (𝑏 ) 𝐷 𝑁 𝑎0 𝐴 (𝑏 ) = ( 𝐶 0 Dalam Apendiks diturunkan bahwa ( 𝐴 𝐶 𝐴𝑢𝑁−1 − 𝑈𝑁−2 𝐵 𝑁 ) =( 𝐶𝑢𝑁−1 𝐷 𝐵𝑢𝑁−1 ) 𝐷𝑢𝑁−1 − 𝑈𝑁−2 Dengan 𝑢𝑁 = sin(𝑁 + 1)𝐾𝑎 sin 𝐾𝑎 Dengan itu maka diperoleh 𝑎0 = 𝑎𝑁 𝐴𝑢𝑁−1 − 𝑈𝑁−1 + 𝑏𝑁 𝑈𝑁−1 𝑏0 = 𝑎𝑁 𝐶𝑢𝑁−1 + 𝑏𝑁 𝐷𝑢𝑁−1 − 𝑈𝑁−2 Jadi koefisien refleksi dalam persamaan diatas adalah 𝐶 𝑟𝑁 = ( ) 𝐴 − 𝑈𝑁−2 𝑈𝑁−1 Reflektansi adalah ℜ𝑁= |𝑟𝑁 |2 dengan persamaan-persamaan diperoleh reaktans ℜ 𝑁= |𝐶|2 |𝐶|2 +( 𝑆𝑖𝑛 𝐾𝑎/ 𝑆𝑖𝑛𝑁𝐾𝑎)2 Nilai |𝑐| dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut. Mislakan N = 1, sehingga ℜ1= |𝐶|2 / 𝑐|𝑐|2 + 1. Jadi ℜ |𝐶|2 = 1 1− ℜ 1 Nilai ℜ1 dapat ditentukan dengan persamaan dan itu sangat kecil sehingga prsktis |𝐶|2 = ℜ1 10 a. Reflektor Bragg dengan Reflektansi tinggi Cermin dengan reflektans tinggi diperlukan dalam berbagai aplikasi. Cermin dengan bahan logam bisa memiliki reflektans 99 % dan yang 1 % diabsorp. Jika cermin dipakai untuk laser daya tinggi, cermin logam menjadi panas. Untuk mengatasinya, gunakan refektor Bragg dari bahan dielektrik, misalnya dengan lapisan-lapisan n1d1 = n2d2 = 𝜆0 /4 𝑘1𝑥 𝑑1 = 𝑘0𝑛1 𝑑1 = (2𝜋/𝜆)(𝜆/4) = 90° → exp(𝑖𝑘1𝑥𝑑1) = 𝑖 𝑘2𝑥 𝑑2 = 𝑘0𝑛2 𝑑2 = (2𝜋/𝜆)(𝜆/4) = 90° → cos 𝑘2𝑥𝑑2 = Ae ik1 x d1 n12 k 2 x n22 k1x 1 2 cos k 2 x d 2 2 i 2 n2 k1x n1 k 2 x n2k n2k sin k 2 x d 2 1 2 12 2 x 22 1x n k 2 1x n1 k 2 x n2k n2k C eik1 x d1 1 2 i 22 1x 12 2 x sin k 2 x d 2 n1 k 2 x n2 k1x 1 2 n22 k1x n12 k 2 x 2 2 n1 k 2 x n2 k1x b 1 n4k 2 n4k 2 Cu N 1 C rN o 2 4 2 2 1x 4 1 2 2 x 1 ao bN 0 Au N 1 u N 2 A u N 2 / u N 1 2 n1 k 2 x n2 k1x 1 1 0.9 n1=1.5 0.8 0.7 Reflektans n2=2.5 o=0,6 um 0.6 0.5 0.4 0.3 N=30 0.2 0.1 0 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 Lamda (um) b. Reflektor Bragg Sinusoida Homogen A(0) A(L) A2(L)=0 B(0) z=0 z=L n( z ) no n1 cos Gz; G 2 ; n1 no 11 1 E ( z, t ) A( z )e iz B( z )eiz eit Persamaan Gelombang d 2 E n 2 ( z ) 2 E 0 dz 2 c2 d 2 A i z d 2 B dA dB 2 2 i A 2i 2 B e i z e 2 2 dz dz dz dz 2 c n 2 2 o 2no n1 cos(Gz) Ae i z Be i z 0 Asumsikan amplitudo gelombang berubah pelan-pelan (SVA): d2A dA ; 2 dz dz d 2B dB 2 dz dz i z dA 2 2 dB 2 2 2 2 i ( n ) A e 2 i 2 (no 2 ) B e i z o 2 dz dz c c 2 c 2 2no n1 cos(Gz) Ae i z Be i z 0 Kalikan dengan exp(iz) dA 2 2 dB 2 2 2 2 no A 2i 2 no 2 B e i 2 z 2i dz c dz c 2 c 2 2no n1 cos(Gz) A Be i 2 z 0 12 Lakukan perata-rataan spasial: e 2i z 0; cos(Gz) 0, cos(Gz)e i 2 z 1 2 e i ( 2 G ) z e i ( 2 G ) z 1 2 e i ( 2 G ) z 2i A 2 2 2 2 no 2 A 2 no n1Be i ( 2 G ) z 0 z c c 2i dA 2 2 2 2 no 2 A 2 no n1Be i ( 2 G ) z 0 dz c c Dengan cara yang sama diperoleh: dB 2 (no2 2 / c 2 2 ) B no n1 2 A ei ( 2 G ) z 0 dz c 2i Misalkanlah =G/2=noωB/c; maka dengan cukup kecil diperoleh no2 2 / c 2 2 (no / c )( no / c ) no ( B ) 2 2 c B Go c c 2no n o B disebut frekuensi Bragg, dan disebut frecuency detuning. B no n1 2 / c 2 2 c B 2no dA iA iB dz n1 G 2no Parameter kopling Panjang gelombang Bragg Disebut persamaan terkopel 13 dB iB iA dz Cara penyelesaian persamaan terkopel: a( z ) A( z ) ei z ; b( z ) B( z ) e i z dA iA iBe i ( 2 G ) z 0 dz da i b ei 2 z ; dz db i a e i 2 z dz d 2a da i 2 2a 0 2 dz dz a (C1 cosh sz C2 sinh sz )ei z ; b i i e i 2 z s 2 2 0 da dz C1 s sinh sz C 2 s cosh sz C1 cosh sz C 2 sinh sz e i z A( z) (C1 cosh sz C2 sinh sz ) B( z ) i C1s sinh sz C2 s cosh sz C1 cosh sz C2 sinh sz Dengan menerapkan syarat batas A (0)=Ao, dan B(L)=0, A( z ) Ao s cosh s ( L z ) i sinh s ( L z ) s cosh sL i sinh sL B( z ) Ao i sinh s ( L z ) s cosh sL i sinh sL r B(0) i sinh sL A(0) s cosh sL i sinh sL 14 R r 2 2 sinh 2 sL s 2 cosh 2 sL 2 sinh 2 sL L 6 1.2 1 0.8 R 0.6 Band gap 0.4 0.2 0 -15 -10 -5 0 L 5 10 15 15 Misalkan 𝑛0 = 3, 𝑛1 = 0,1, 𝐴 = 3 μm B 2no 1,2μm; f B 25 0 THz n1 G 0,5 μm1 ; L 12 μm 2no -1 =-1,25 sd 1,25 m L=-15 sd 15 Lebar Pita no c 1,25 μm-1 x3x108 ms 1 ( B ) B 1,25 x1014 s -1 c no 3 f f B 20 THz f 2x20 THz 40THz ; f B 250 THz f c f 2 ; c 40 x1012 s 1x(1,2 μm) 2 0,19 μm; B 1,2 μm 3x108 ms 1 c. Reflektor Bragg sinusoida dengan apodisasi Side lobe = Refleksi yang bervariasi di luar band gap. Side lobe itu dapat dihilangkan dengan cara apodisasi. ( z) 2 Go n1 ( z ) o e ( z / L ) 2no no n1 2 / c 2 n1 G 2no da i ( z ) b ei 2 z ; dz db i ( z ) a e i 2 z dz Misalkan: r ( z, ) B( z ) b( z ) ei 2 z A( z ) a( z ) dr d d i 2 z i 2 e i 2 z e i 2 r dz dz dz dr i 2 r i (1 r 2 ) dz r ( z, ) ( z )ei 2 z 16 d i ( z ) e i 2 z , dz r 2 1 L (0, ) i dz ( z ) e i 2 z 0 L r (0, ) i dz ( z ) e i 2 z 0 R(0, ) r (0, 2 L 2 o dz e 2 ( z / L ) 2 e i 2 z o2 ( p 2 q 2 ) 0 17 L p e ( z / L ) cos( 2 z )dz 2 0 L q e ( z / L ) sin( 2 z )dz 2 0 d. Reflektor Bragg sinusoida dengan chirp Reflektor Bragg yang memiliki lebar pita yang besar. Reflektror ini merupakan deretan sejumlah reflektror Bragg yang tersusun mulai dari yang berperioda besar dan diakhiri dengan perioda kecil. 1 2 3 4 5 1 > 2 > 3 > 4 > 5 B 2no n( z ) no n1 cos [G( z ) z ]; n1 no 2i dA 2 2 2 2 no 2 A 2 no n1Be i ( 2 G ) z 0 dz c c 2i dB no2 2 2 2 2 B no n1 2 A e i ( 2 G ) z 0 dz c c 2 Go ( z ) G( z ) Go z 18 dA iA iB e i ( z ) dz dB iB iAei ( z ) dz b( z ) B( z ) e i z a( z ) A( z ) ei z da i b ei[ 2 z ( z )] dz db i a e i[ 2 z ( z )] dz Untuk linier Chirp G ( z ) Go F F z ( z) 2 z 2 2 L L F disebut parameter chirp Keadaan phase match terjadi jika 2 z-(z)=0. z ( ) B 2 L2 no 2 L2 B F Fc Go c c 2no n o r ( z, ) Jadi, cahaya berfrekuensi tinggi memerlukan jarak resonansi lebih besar. B( z ) i ( z ) b( z ) i ( 2z ) e e A( z ) a( z ) dr d 2 i 2 r i (1 r ) dz dz r ( z, ) ( z )e i ( 2z ) dr d d i (2 )r ei ( 2z ) dz dz dz 19 d i e i ( 2z ( z )) dz ( L / 2, ) i L/2 dz e i ( 2z ( z )) L / 2 r ( L / 2, ) i ei[ 2 L / 2 ( L / 2)] dz e i[( 2 z ( z )] R( L / 2, ) r ( L / 2, 2 2 L/2 2 dz e i ( 2 z ( z )) 2 ( p2 q2 ) L / 2 L/2 p cos(2 z ( z))dz; L/2 q L / 2 sin( 2 z ( z))dz L / 2 0.8 0.7 Reflektans 0.6 L=10 m 0.5 =0,5 m 0.4 -1 0.3 F=40 0.2 0.1 0 -10 -8 -6 -4 -2 0 Delta 2 4 6 8 10 0.7 0.6 Reflektans 0.5 L=10 m 0.4 =0,5 m 0.3 0.2 F=50 0.1 0 -10 -8 -6 -4 -2 0 Delta 2 4 6 8 10 20 -1 e. Reflektor Bragg dengan chirp dan apodisasi ( L / 2, ) i o L/2 dz e ( / L2 ) z 2 e i ( 2 z ( z )) L / 2 / r ( L / 2, ) i o ei[ 2 L / 2 ( L / 2)] dz e( / L ) z ei[( 2 z ( z )] 2 R( L / 2, ) r ( L / 2, 2 L/2 2 o dz e 2 2 ( / L2 ) z 2 e i ( 2 z ( z )) o2 ( p 2 q 2 ) L / 2 L/2 e ( / L ) z cos( 2 z ( z )) dz; 2 2 L/2 q L / 2 e ( / L ) z sin( 2 z ( z ))dz 2 2 L / 2 0.5 0.45 0.4 L=10 m 0.35 Reflektans p =0.5 m 0.3 0.25 =8; 0.2 F=40 0.15 0.1 0.05 0 -10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 10 Delta 21 -1 DAFTAR PUSTAKA Bahtiar, A. (2007). Kristal Fotonik Nonlinier Untuk Aplikasi All-Optical Switching. Bandung: UNPAD. Hidayat, S. dan Safriani, L. (2O13). “Fabrikasi Dan Karakterisasi Kristal Fotonik Satu Dimensi Untuk Aplikasi Biosensor Optik”. Jurnal Ilmu Hayati dan Fisik. 15, (1), 24-28. Notomi, M., Suzuki, H., dan Tamamura, T.. (2001). Dimensional Organic Photonic Crystal Lasers at Several Photonic Band gap. Applied Physics Letters, Vol. 78, No. 10, 1325-1327. Siregar, R.E. (2016). Rambat Gelombang Optik dalam Medium Berlapis. Bandung: UNPAD press 22