Uploaded by recomahera2

REFARAT ANAK

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ambiguous genetalia adalah suatu kelainan perkembangan seks yang
atipikal secara kromosomal, gonadal, dan anatomis yang umumnya ditandai
dengan adanya organ genitalia eksterna yang tidak jelas laki-laki atau
perempuan, atau mempunyai gambaran kedua jenis kelamin. Bayi yang lahir
dengan abnormalitas perkembangan genitalia cukup sulit didiagnosis dan
dirawat oleh dokter pediatric saat perawatan awal kelahiran. Ambiguous
genetalia adalah kedaruratan neonates. Sangat penting untuk menegakkan
diagnosis secepat mungkin sehingga penatalaksanaan yang tepat dapat segera
dilakukan untuk meminimalisasi komplikasi medis, psikologis, dan sosial.
Jenis kelamin bayi biasanya tanpa kesulitan dapat diketahui dengan pasti,
laki-laki atau perempuan, sesaat setelah dilahirkan. Bahkan dengan
ultrasonography (USG), maka jenis kelamin sudah dapat dikenali sejak bayi
masih berada di dalam kandungan. Jenis kelamin pada umumnya juga tidak
akan berubah selamanya, dan menjadi salah satu identitas personal sejak
lahir.(Polk, 2006)
Tidak selamanya jenis kelamin bayi mudah untuk dibedakan, kadangkadang ada bayi dengan bentuk alat kelamin luar yang tidak secara jelas
menunjukkan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Keadaan ini disebut
ambiguous genetalia, dan dapat terjadi pada satu dari 4500 kelahiran.
(Sultana, 2011) Tetapi karena alasan tertentu, penolong bersama orang tua
kerap memaksakan diri untuk menetapkan jenis kelamin sang bayi, dan
menjadikannya sebagai identitas bagi bayi tersebut.
Penetapan yang tergesa-gesa ini sangat rawan terjadi kesalahan. Kesalahan
dapat diketahui ketika anak masih kecil atau bahkan, pada beberapa kasus
ketika sudah mencapai usia pubertas, ketika tubuh dan alat genital anak
tersebut mulai mengalami perkembangan ke arah jenis kelamin yang
1
semestinya, muncul sifat, sikap, atau perilaku yang cenderung tidak sesuai
dengan jenis kelamin yang telah ditetapkan baginya. Pada anak “perempuan”
mungkin tidak tumbuh payudara dan tidak menstruasi, dan lain sebagainya.
(Sultana, 2011).
Kesalahan dalam menetapkan jenis kelamin dapat berdampak terhadap
segala aspek kehidupan anak, terhadap orang tua, lingkungan, dan juga
hukum karena terkait dengan data pada dokumen kependudukan. Anak telah
menjadi “korban kesalahan” pola asih, asuh dan asah orang tua dan
lingkungan di masa lalu, yang tentunya cenderung disesuaikan dengan jenis
kelamin. Anak laki-laki diberi pakaian dan mainan yang berbeda dari anak
perempuan, demikian pula dengan cara mengasuh dan mendidiknya. Dalam
hal bersosialisasi, menjalani pendidikan, bermasyarakat dan lain sebagainya
juga terdapat perbedaan berdasarkan gender. Hal-hal tersebut akan
mempengaruhi sikap, perilaku, mental dan psikologis anak. Pada anak yang
masih kecil mungkin belum terjadi masalah psikososial, tetapi pada anak
yang lebih besar dapat terjadi suatu krisis identitas. Orang tua penderita
kelainan ini pasti juga akan merasakan keresahan, kesedihan dan
kebingungan.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI AMBIGUOUS GENETALIA
Ambiguous genitalia atau sex ambiguity adalah suatu kelainan di mana
penderita memiliki ciri-ciri genetik, anatomik dan atau fisiologik meragukan
antara laki-laki dan perempuan. Dalam bahasa Indonesia hal ini disebut dengan
jenis kelamin meragukan atau membingungkan. Disebut pula dengan kelamin
ganda karena kadang-kadang klitoris sangat besar sehingga tampak seperti ada
dua kelamin (Rudi, 2010).
Kelainan ini dikenal juga dalam istilah ilmiah yang lain sebagai interseksual,
istilah yang mengacu pada pengertian bahwa jenis kelamin terbagi menjadi dua
kutub, laki-laki atau perempuan, jadi bentuk kelamin yang meragukan berada di
antara dua kutub tersebut. Namun pada perkembangannya, saat ini para ahli
endokrinologi lebih sering menggunakan istilah Disorders of Sexual Development
(DSD) (Sultana, 2011). Ambiguous genetalia atau intersex tidak sama dengan
transexual atau transgender. Transexual merupakan suatu kelainan psikologis,
bentuk alat kelamin pada penderita transexual sangat jelas, laki-laki atau
perempuan, tetapi perasaan yang dimiliki tidak sesuai / berlawanan dengan jenis
kelaminnya itu sehingga bersikap dan bertingkah laku menurut perasaannya,
bahkan beberapa di antaranya berupaya untuk merubah bentuk anatominya (ganti
kelamin) agar sesuai dengan perasaan dan keinginannya itu (Sultana,2011).
Gambar 1. Pasien dengan Ambiguous Genetalia
3
Terdapat tiga tahapan dalam pembentukan alat kelamin setiap individu, yaitu
tahap penentuan jenis kelamin genetic (kromosomal), tahap pembentukan alat
kelamin gonadal, dan tahap pembentukan alat kelamin fenotip. Bilamana terjadi
kelainan atau gangguan pada salah satu tahapan maka ambiguous genetalia dapat
terjadi (Sultana,2011). Setiap manusia normal mempunyai 46 kromosom (diploid,
23 pasang kromosom). Dua puluh dua pasang kromosom adalah kromosom
autosom yang mengkode karakteristik manusia secara umum serta sifat-sifat
spesifik, misalnya warna mata, bentuk rambut, dan lain sebagainya dan satu
pasang kromosom adalah kromosom seks, yang terdiri dari dua jenis yang berbeda
secara genetis. Laki-laki secara genetic memiliki satu kromosom X dan satu Y
(46,XY), perempuan secara genetik memiliki dua kromosom X, (46,XX). Akibat
meiosis selama gametosis, semua pasangan kromosom terpisah sehingga setiap sel
anak hanya memiliki satu anggota dari setiap pasangan, termasuk pasangan
kromosom seks. Setiap sperma atau ovum menerima hanya satu anggota dari tiaptiap pasangan kromosom. Apabila pasangan kromosom seks XY berpisah selama
pembentukan sperma akan menerima kromosom X dan separuh lainnya
kromosom Y. Sebaliknya, selama oogenesis, setiap ovum menerima sebuah
kromosom X karena pemisahan kromosom XX hanya menghasilkan kromosom
X. Jenis kelamin individu ditentukan oleh kombinasi kromosom seks. Saat
pembuahan, kombinasi sperma yang mengandung X dengan ovum yang
mengandung X menghasilkan perempuan genetik, XX, sementara penyatuan
sperma yang membawa kromosom Y dengan ovum pembawa kromosom X
menghasilkan laki-laki genetik, XY. Dengan demikian penentuan jenis kelamin
(sex determination) secara genetik ditentukan pada saat konsepsi dan bergantung
pada jenis kromosom seks apa yang terkandung di dalam sperma yang membuahi.
4
B. KLASIFIKASI AMBIGUOUS GENETALIA
The Lawson Wilkins Pediatric Endocrine Society (LWPES) danThe
European Society for Paediatric Endocrinology (ESPE) telah mengumumkan
usulan perubahan nama dan definisi berdasarkan gangguan perkembangan
kromosam, gonad, atau fenotip yang bersifat atipik (Hutcheson et all, 2012).
Istilah Disorders of Sexual Development (DSD) pun diusulkan untuk merujuk
kondisi kongenital tersebut (Houk et all, 2012)
Tabel 1. Istilah yang digunakan sebelumnya dan penamaan hasil revisi dari
Disorders of Sexual Development (DSD)
(Hutcheson, 2012)
1. Hermaprodit Semu Perempuan (Female Pseudohermaphroditism)
Merupakan kelainan ambiguous genetalia pada individu yang memiliki
kromosom 46XX (kromosom perempuan), indung telur dan derivate mulleri
normal. Ambiguous terbatas pada penampakan alat kelamin bagian luar akibat
paparan androgen in utero. Sebab-sebab paling umum dari kelainan ini adalah
Congenital adrenal hyperplasia (CAH) yang menyebabkan defisiensi salah
satu dari lima gen yang dibutuhkan untuk sintesis kortisol. Gen dan enzim
tersebut adalah:
- CYP 21 (P450c21), 21α-hidroksilase,
- CYP11 (P450c11), 11β-hidroksilase, 18- hydroksilase dan 18-oksidase,
- CYP17 (P450c17), 17α-hidroxilase dan 17,20-lyase,
- 3b2HSD, 3β-hydroksysteroid dehydrogenase, dan
- StAR yang merupakan enzim pembelah rantai samping.
CAH merupakan penyakit yang diturunkan dari orang tua secara
autosomal resesif. Pada janin perempuan, terjadi maskulinisasi karena
5
androgen adrenal dan prekursornya yang diproduksi berlebihan, sedangkan
janin laki-laki tidak tampak.11 CAH digolongkan menjadi tipe yang klasik
dan non klasik. Tipe yang klasik timbul sejak dalam kandungan dan sering
meninggal pada bulan pertama setelah lahir.
Pada perempuan disertai gejala maskulinisasi dan pada laki-laki dengan
gejala pubertas dini tanpa disertai gejala keraguan alat kelamin sehingga lakilaki jarang dilaporkan. Penderita perempuan menunjukkan gejala pembesaran
(klitoris) yang mirip penis sejak lahir atau pada yang lebih ringan akan muncul
setelah lahir. Anak-anak penderita CAH akan tumbuh cepat tapi kemudian
berhenti lebih awal, sehingga pada keadaan dewasa mereka lebih pendek dari
ukuran normal. Pada tipe yang non klasik gejala muncul setelah umur 5-6
tahun dengan maskulinisasi yang lebih ringan, pembesaran klitoris akan
muncul belakangan.
Maskulinisasi pada penderita CAH dengan genetik perempuan hanya
mungkin terjadi akibat adanya hormon androgen ekstragonad (dari luar gonad)
yang dapat berasal dari endogen mau pun eksogen, karena pada penderita ini
tidak ditemukan testis yang merupakan penghasil utama hormon androgen.
Manifestasi klinik dari hormon androgen yang berlebihan ini terbatas pada alat
genital bagian luar dan derajat berat-ringannya kelainan tergantung pada tahap
pertumbuhan seksual saat terjadinya paparan hormon androgen tersebut. Pada
penderita kelainan ini tidak akan ditemukan organ laki-laki bagian dalam.
Pada keadaan ringan sering munculnya pembesaran klitoris (menjadi
seperti penis) pada perempuan setelah lahir, sehingga masyarakat menganggap
alat kelaminnya berubah dari perempuan menjadi laki-laki. Penyakit ini bisa
diobati, untuk menghindari gejala yang lebih berat pengobatan harus
dilakukan sedini mungkin dan seumur hidup. Penapisan pada bayi baru lahir
seharusnya dilakukan di Indonesia karena prevalensi penyakit ini cukup
tinggi. Paparan hormon androgen eksogen bisa disebabkan bahan hormonal
yang bersifat androgenik yang dikonsumsi ibu saat mengandung janin
perempuan, misalnya preparat hormonal yang mengandung progestogen,
testosteron atau danazol. Berat ringannya kelainan alat genital janin
6
tergantung dari usia kehamilan, potensi, dosis serta lama pemakaian obat.
Paparan hormon androgen dan progestogen saat usia kehamilan 6-10 minggu
dapat berakibat perlekatan pada bagian belakang vagina, skrotalisasi labia dan
pembesaran klitoris. Kelainan organ genitalia yang disebabkan oleh paparan
hormone androgen eksogen mempunyai ciri khas yaitu proses maskulinisasi
tidak berjalan progresif dan tidak didapatkan kelainan biokimiawi (Sultana,
2011).
2. Hermaprodit semu laki-laki (Male Pseudohermaphroditism )
Adalah individu yang memiliki kromosom Y (kromosom laki-laki) namun
organ genitalia luarnya gagal bertumbuh menjadi alat genital laki-laki normal.
Ada beberapa jenis cacat hormon laki-laki yang menimbulkan gejala
hermaprodit semu laki-laki, yang paling sering adalah Sindrom Resistensi
Androgen atau Androgen Insensitivity Syndrome (AIS) atau Testicular
Feminization Syndrome. AIS merupakan kelompok kelainan yang sangat
heterogen yang disebabkan tidak atau kurang tanggapnya reseptor androgen
atau sel target terhadap rangsangan hormon testosteron. AIS dapat terjadi
dalam bentuk complete (CAIS/Complete Androgen Insensitivity Syndrome)
atau incomplete/partial (PAIS/Partial Androgen Insensitivity Syndrome).
Penderita PAIS adalah laki-laki dengan kelainan alat kelamin luar yang sangat
bervariasi, bahkan kadang-kadang terdapat pada laki-laki normal yang tidak
subur. Penderita PAIS mempunyai penis yang kecil yang tampak seperti
pembesaran clítoris, disertai dengan hipospadia berat (uretra tidak melewati
penis), yang membelah skrotum sehingga tampak seperti lubang vagina.
Skrotum kadang tidak 2 menggantung, testis umumnya berukuran normal
tetapi terletak pada abdomen, selakangan atau sudah turun kedalam skrotum.
Pada usia dewasa sering tumbuh payudara dan keluarnya jakun, walaupun
tidak disertai perubahan suara. Pada CAIS, penderita dengan penampilan
seperti perempuan normal, dengan alat kelamin luar seperti perempuan,
mempunyai vagina yang lebih pendek dari normal, dan payudara akan tumbuh
mulai masa prepubertas dengan hasil pemeriksaan kromosom menunjukkan
46XY (sesuai kromosom pada laki-laki) dan kadar hormon testosteron normal
7
atau sedikit meningkat. Pada pemeriksaan fisik dan USG akan teraba atau
tampak dua testis yang umumnya tidak berkembang dan terletak dalam rongga
perut atau selakangan, tanpa struktur alat genital dalam perempuan. Individu
dengan CAIS sering menunjukkan gejala seperti hernia inguinalis (hernia pada
selakangan), oleh karena itu pada anak perempuan prapubertas yang
mengalami hernia inguinalis (benjolan pada selakangan) dan gejala tidak
menstruasi sejak lahir, perlu pemeriksaan kromosom (Sultana, 2011).
3. Hermaprodit Sebenarnya (True Hermaphroditism)
Merupakan
kelainan
yang
jarang
dijumpai.
Diagnosis
True
Hermaphroditism ditegakkan apabila pada pemeriksaan jaringan secara
mikroskopis ditemukan gonad yang terdiri dari jaringan ovarium (perempuan)
dan testis (laki-laki). Kedua jaringan gonad tersebut masingmasing dapat
terpisah tetapi lebih sering ditemukan bersatu membentuk jaringan ovotestis.
Pada analisis kromosom 70% dari kasus yang dilaporkan dijumpai 46XX,
sisanya dengan 46XY, campuran kromosom laki dan perempuan dengan
kombinasi 46XX/46XY, 45X/46XY, 46XX/47XXY atau 46XY/47XXY.
Manifestasi klinik dan profil hormonal tergantung pada jumlah jaringan gonad
yang berfungsi. Jaringan ovarium sering kali berfungsi normal namun
sebagian besar infertil. Sekitar 2/3 dari total kasus true hermaphrodite
dibesarkan sebagai laki-laki. Meski pun demikian alat genital luar pada
penderita kelainan ini biasanya ambigus atau predominan perempuan dan
disertai pertumbuhan payudara saat pubertas. Jaringan Gonad dapat ditemukan
pada rongga perut, selakangan atau lebih ke bawah pada daerah bibir
kemaluan atau skrotum. Jaringan testis atau ovotestis lebih sering tampak di
sebelah kanan. Spermatozoa biasanya tidak ditemukan. Sebaliknya oosit
normal biasanya ada, bahkan pada ovotestis.
Jika pasien memilih jenis kelamin laki-laki, rekontruksi genital dan
pemotongan gonad selektif menjadi indikasi. Jika jenis kelamin perempuan
yang dipilih, tindakan bedah yang dilakukan akan menjadi lebih sederhana.
(Sultana, 2011).
8
4. Dysgenesis Gonad
Dysgenesis Gonad adalah suatu keadaan yang ditandai dengan tidak
adanya oosit maupun ovarium, atau gonad terlihat seperti garis (streaky).
Penderita secara fenotip adalah perempuan tetapi dapat memiliki beragam
komplemen kromosom termasuk XY (laki-laki). Penderita dengan komplemen
XY ini tidak menghasilkan testosterone. Pada kebanyakan kasus penderita
mempunyai karyotipe 45,X dengan ciri sidroma turner, seperti badan pendek,
lengkung palatum tinggi, leher bersayap, dada perisai, anomaly jantung, dll.
Tidak adanya oosit pada kasus 45,X adalah akibat meningkatnya kehilangan
oosit dan bukan karena kelainan sel benih.
Dysgenesis gonad campuran ditandai dengan adanya gonad garis (streaky)
dan satu testis yang tidak sempurna. Penderita secara genetic mosaic dengan
karyotipe 45,X dan 46,XY dengan alat kelamin ganda dan beberapa bekas
duktus mulleri, serta mempunyai uterus. Dysgenesis campuran adalah
kelompok ambiguous nomor dua terbanyak setelah CAH. (Langman, 2010)
C. EPIDEMIOLOGI AMBIGUOUS GENETALIA
Ambigus genitalia merupakan ketidaksesuaian karakteristik yang menentukan
jenis kelamin seseorang, secara umum tingkat kejadiannya untuk mendapatkan
penyakit ini adalah 1: 2000 (Mirani, 2010). Data mengenai insidens dan
prevalensi penyakit ambiguous genitalia sangat terbatas (Chavhan et all, 2008).
Meskipun tidak ada jumlah pasti prevalensi penyakit ambiguous genitalia,
pada akhir tahun 2006, di Jerman telah ditemukan 2 kasus dari 10.000 kelahiran
(Thyen et all, 2006). Kasus DSD secara umum dapat dialami baik laki-laki,
maupun perempuan dan biasanya didiagnosis pada kelahiran bayi dengan
ambiguous genitalia Hutcheson et all, 2012).
9
D. ETIOLOGI AMBIGUOUS GENETALIA
Ketika genitalia eksternal tidak mempunyai penampakan anatomik yang
sesuai dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan secara normal, maka dikenal
sebagai ambiguous genitalia. Keadaan ini dapat disebabkan oleh berbagai DSD.
Akan tetapi, tidak semua DSD berupa ambigus genitalia eksternal, beberapa DSD
memiliki genital ekterna yang normal (seperti Turner sydrome [45,XO] dengan
fenotip wanita, Klinefelter syndrome [47,XXY] dengan fenotip pria (Chavhan et
all, 2008).
Penyebab terjadinya amibigous genitalia pada laki-laki, di antaranya adalah:
1. Gangguan perkembangan testis. Perkembangan testis pada janin lakilaki dapat terganggu oleh faktor-faktor tertentu, seperti kelainan genetik
atau penyebab lain yang tidak diketahui.
2. Kekurangan enzim 5A-Reduktase. Enzim 5A-reduktase berperan dalam
pembentukan hormon androgen yang mendorong perkembangan organ
kelamin laki-laki. Kekurangan enzim tersebut dapat menyebabkan
produksi hormon seksual laki-laki menjadi terganggu dan menyebabkan
organ kelamin laki-laki tidak berkembang dengan baik.
3. Sindrom insensitivitas terhadap androgen. Kondisi ini disebabkan oleh
respons organ kelamin janin laki-laki yang tidak sensitif terhadap hormon
androgen. Meskipun produksi hormon androgen di testis tidak terganggu,
namun akibat insensitivitas terhadap androgen, perkembangan organ
kelaminnya bisa terganggu.
4. Kelainan pada testis dan testosteron. Testis dan organ kelamin laki-laki
lainnya dapat terganggu oleh berbagai faktor, baik berupa gangguan
struktur organ, gangguan produksi hormon, maupun gangguan reseptor
hormon tersebut.
Penyebab terjadinya amibigous genitalia pada perempuan, di antaranya
adalah:
1. Konsumsi obat yang mengandung hormon androgen oleh ibu hamil.
Beberapa obat-obatan ada yang mengandung hormon androgen sehingga
jika dikonsumsi oleh ibu hamil dapat menyebabkan janin perempuan yang
10
sedang dikandung terpapar hormon androgen. Kondisi ini menyebabkan
organ kelamin perempuan janin yang sedang berkembang akan
mengandung ciri-ciri kelamin laki-laki. Selain itu, ketidakseimbangan
hormonal ibu hamil juga dapat menyebabkan janin perempuan terkena
hormon yang memicu terjadinya amibigous genitalia.
2. Tumor. Tumor pada ibu hamil yang menghasilkan hormon seksual lakilaki dapat memengaruhi perkembangan organ kelamin perempuan.
3. Hiperplasia
adrenal
kongenital.
Hiperplasia
adrenal
kongenital
merupakan kondisi genetik kongenital yang muncul pada ibu hamil.
Hiperplasia adrenal menyebabkan ibu memproduksi hormon androgen
yang berlebih sehingga menyebabkan kelainan perkembagan seksual pada
janin perempuan.
E. PATOFISIOLOGI AMBIGUOUS GENETALIA
Untuk mengetahui patofisiologi ambiguous genitalia, harus memahami
diferensiasi seksual normal dan abnormal yang merupakan pengertian dasar pada
kelainan.
1. Embriologi diferensiasi seksual
Penentuan fenotip seks dimulai dari seks genetik yang kemudian diikuti
oleh kaskade: kromosom seks menentukan seks gonad, akhirnya menentukan
fenotip seks. Tipe gonad menentukan diferensiasi/regresi duktus internal
(mulleri dan wolfili). Identitas gender tidak hanya ditentukan oleh fenotip
individu, tetapi juga oleh perkembangan otak prenatal dan postnatal (Taswim,
2012).
2. Diferensiasi gonad
Dalam bulan kedua kehidupan fetus, gonad indeferen dipandu menjadi
testes oleh informasi genetik yang ada pada lengan pendek kromosom Y
disebut Testes Determining Factor (TDF), merupakan rangkaian 35-kbp
dalam subband 11.3, area ini disebut daerah penentu seks pada kromosom Y
11
(SRY). Bilamana daerah ini tidak ada atau berubah, maka gonad indeferen
menjadi ovarium. Gen lain yang penting dalam perkembangan testes antara
lain DAX 1 pada kromosom X, SF1 pada 9q33, WT1 pada 11p13, SOX9
pada 17q24-q25, dan AMH pada 19q13.3 (Taswim, 2012).
3. Diferensiasi duktus internal
Perkembangan duktus internal akibat efek parakrin gonad ipsilateral.
Penelitian klasik Jost pada tahun 1942 dengan kelinci menjelaskan dengan
sangat baik peran gonad dalam mengendalikan perkembangan duktus internal
dan fenotip genitalia eksterna. Bila ada jaringan testes, maka ada dua
substansi produk untuk perkembangan duktus internal laki-laki dan fenotip
laki-laki, yaitu testosteron dan substansi penghambat mulleri (MIS) atau
hormon anti-mulleri (AMH) (Taswim, 2012).
Testosteron diproduksi sel Leydig testes, merangsang duktus wolfii
menjadi epididimis, vas deferens dan vesikula seminalis. Struktur wolfii
terletak paling dekat dengan sumber testosteron, duktus wolfii tidak
berkembang seperti yang diharapkan bila testes atau gonad disgenetik
sehingga tidak memproduksi testosteron. Kadar testosteron lokal yang tinggi
penting untuk diferensiasi duktus wolfii namun pada fetus perempuan
androgen ibu saja yang tinggi tidak menyebabkan diferensiasi duktus internal
alki-laki, hal ini jug atidak terjadi pada bayi perempuan dengan Congenital
Adrenal Hyperplasia (CAH) (Taswim, 2012).
MIS diproduksi oleh sel Sertoli testes, penting untuk perkembangan
duktus internal laki-laki normal, merupakan suatu protein dengan berat
molekul 15.000, yang disekresi mulai minggu ke delapan. Peran utamanya
adalah represi perkembangan pasif duktus mulleri (tuba falopii, uterus, vagina
atas). Testosteron dan estrogen tidak mempengaruhi peran MIS (Taswim,
2012).
4. Diferensiasi genitalia eksterna
Genitalia eksterna kedua jenis kelamin masih identik sampai 7 minggu
pertama
masa
gestasi.
Tanpa
hormon
androgen
(testosteron
dan
dihidrotestosteron-DHT), genitalia eksterna secara fenotip perempun. Bila
12
ada gonad laki-laki, diferensiasi terjadi secara aktif setelah minggu ke-8
menjadi fenotip laki-laki. Diferensiasi ini dipengaruhi oleh testosteron, yang
berubah menjadi DHT karena pengaruh enzim 5-alfa reduktase dalam
sitoplasma sel genitalia eksterna dan sinus urogenital. DHT berikatan dengan
reseptor androgen dalam sitoplasma kemudian ditranspor ke nukleus,
menyebabkan
translasi
dan
transkripsi
material
genetik,
akhirnya
menyebabkan perkembangan genitalia eksterna laki-laki normal, bagian
primordial membentuk scrotum , dari pembengkakan genital membentuk
batang penis, dari lipatan tuberkel membentuk glans penis, dari sinus
urogenitalis menjadi prostat. Maskulinisasi tidak sempurna bila testosteron
gagal berubah menjadi DHT atau DHT gagal bekerja dalam sitoplasma atau
nukleus sel genitalia eksterna dan sinus urogenital. Kadar testosteron tetap
tinggi sampai minggu ke-14. Setelah minggu ke-14, kadar testosteron fetus
menetap pada kadar yang lebih rendah dan dipertahankan oleh stimulasi
human chorionic gonadotrophin (hCG) maternal daripada oleh LH.
Kemudian pada fase gestasi selanjutnya testosteron bertanggung jawab
terhadap pertumbuhan falus yang responsif terhadap testosteron dan DHT
(Taswim, 2012).
F. GAMBARAN KLINIS AMBIGUOUS GENETALIA
Gejala dari kelamin ganda (ambigous genitalia), pada bayi yang secara
genetika seorang perempuan (kedua chromosome XX), maka :
1. Terlihat clitoris yang membesar yang sering dikira sebagai penis
2. Bibir bawah yang tertutup atau seperti lipatan hingga dikira sebagai
scrotum
3. Benjolan dibawah kelamin yang dikira sebagai testis. Pada bayi yang
secara genetis adalah laki laki, maka gejalanya adalah:
a. Saluran kencing tidak sampai ke depan penis (berhenti dan keluar
ditengah atau dipangkal penis)
b. Penis sangat kecil dengan lubang saluran kencing dekat dari scrotum
c. Testis tidak ada atau hanya ada satu buah (Taswim, 2012).
13
Gambar 2. Ambiguous genitalia, diantaranya adalah true hermaphrodite (A)
dan congenital virilizing adrenal hyperplasia (B-E)
G. PENEGAKAN DIAGNOSIS AMBIGUOUS GENETALIA
Untuk menentukan penyebab terjadinya interseksualitas atau ambiguous
genitalia tidak mudah, diperlukan kerja sama interdisipliner/intradisipliner,
tersedianya sarana diagnostik dan sarana perawatan. Pada pemeriksaan medis
perlu perhatian khusus kepada hal-hal tertentu (Siregar, 2000).
1. Anamnesis
Pada ananmnesis perlu diperhatikan mengenai:
a. Riwayat kehamilan; adakah pemakian obat-obatan seperti hormonal atau
alkohol, terutama pada trimester I kehamilan.
b. Riwayat keluarga; adakah anggota keluarga dengan kelainan jenis
kelamin. Riwayat kematian neonatal dini
c. Riwayat infertilitas dan polikistik ovarii pada saudara sekandung orangtua
penderita.
d. Perhatikan penampilan ibu; akne, hirsustisme, suara kelaki-lakian.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Khusus terhadap genitalia eksterna/status lokalis: tentukan apakah testes
teraba keduanya, atau hanya satu, atau tidak teraba. Bila teraba di mana
lokasinya, apakah di kantong skrotum, di inguinal atau di labia mayora.
Tentukan apakah klitoromegali atau mikropenis, hipospadia atau muara
uretra luar. Bagaimana bentuk vulva dan adakah hiperpigmentasi.
b. Tentukan apakah ada anomali kongenital yang lain.
14
c. Tentukan adakah tanda-tanda renjatan.
d. Bagi anak-anak periksalah status pubertas, tentukan apakah ada gagal
tumbuh atau tidak.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
1) Analisis kromosom
2) Pemeriksaan hormonal disesuaikan dengan keperluannya seperti
testosteron, uji HCG, 17-OH progesteron.
3) Pemeriksaan elektrolit seperti natrium dan kalium.
b. Pencitraan
1) USG pelvis; untuk memeriksa keadaan genital intern
2) Genitografi; untuk menetukan apakah saluran genital interna
perempuan ada atau tidak. Jika ada, lengkap atau tidak.
Jadi pencitraan ini ditujukan terutama untuk menentukan ada/tidaknya
organ yang berasal dari saluran Muller.
H. PENATALAKSANAAN AMBIGUOUS GENETALIA
1. Pengobatan endokrin
Bila pasien menjadi laki-laki, maka tujuan pengobatan endokrin adalah
mendorong perkembangan maskulisasi dan menekan berkembangnya
tanda-tanda
seks
feminisasi
(membesarkan
ukuran
penis,
menyempurnakan distribusi rambut dan massa tubuh) dengan memberikan
testosterone (Susanto, 2006).
Bila pasien menjadi perempuan, maka tujuan pengobatan adalah
mendorong secara simultan perkembangan karakteristik seksual ke arah
feminin dan menekan perkembangan maskulin (perkembangan payudara
dan menstruasi yang dapat timbul pada beberapa individu setelah
pengobatan estrogen) (Susanto,2006).
Pada CAH diberikan glukokortikoid dan hormon untuk retensi garam.
Glukokortikoid dapat membantu pasien mempertahankan reaksi bila
15
terjadi stres fisik dan menekan perkembangan maskulinisasi pada pasien
perempuan (Susanto,2006).
Pengobatan dengan hormon seks biasanya mulai diberikan pada saat
pubertas dan glukokortikoid dapat diberikan lebih awal bila dibutuhkan,
biasanya dimulai pada saat diagnosis ditegakkan. Bilamana pasien
diberikan hormon seks laki-laki, hormon seks perempuan atau
glukokortikoid, maka pengobatan harus dilanjutkan selama hidup.
Misalnya, hormon seks laki-laki dibutuhkan pada saat dewasa untuk
mempertahankan karakteristik maskulin, hormon seks perempuan untuk
mencegah osteoporosis dan penyakit kardiovaskuler, dan glukokortikoid
untuk mencegah hipoglikemia, dan penyakit-penyakit yang menyebabkan
stress (Susanto,2006).
2. Pengobatan pembedahan
Tujuan pembedahan rekonstruksi pada genitalia perempuan adalah agar
mempunyai genitalia eksterna feminin, sedapat mungkin seperti normal
dan mengkoreksi agar fungsi seksualnya normal. Tahap pertama adalah
mengurangi ukuran klitoris yang membesar dengan tetap mempertahankan
persarafan pada klitoris dan menempatkannya tidak terlihat seperti posisi
pada wanita normal. Tahap kedua menempatkan vagina keluar agar berada
di luar badan di daerah bawah klitoris (Susanto,2006).
Tahap pertama biasanya dilakukan pada awal kehidupan. Sedangkan tahap
kedua mungkin lebih berhasil bilamana dilakukan pada saat pasien siap
memulai kehidupan seksual (Susanto,2006).
Pada laki-laki, tujuan pembedahan rekonstruksi adalah meluruskan penis
dan merubah letak urethra yang tidak berada di tempat normal ke ujung
penis. Hal ini dapat dilakukan dalam satu tahapan saja. Namun demikian,
pada banyak kasus, hal ini harus dilakukan lebih dari satu tahapan,
khususnya bilamana jumlah jaringan kulit yang digunakan terbatas,
lekukan pada penis terlalu berat dan semua keadaan-keadaan tersebut
bersamaan sehingga mempersulit teknik operasi (Susanto,2006).
16
Bilamana pengasuhan seks sudah jelas ke arah laki-laki, maka dapat
dilakukan operasi rekonstruksi antara usia 6 bulan sampai 11,5 tahun.
Secara umum, sebaiknya operasi sudah selesai sebelum anak berusia dua
dua tahun , jangan sampai ditunda sampai usia pubertas (Susanto,2006).
Bilamana pengasuhan seks sudah jelas ke arah perempuan, bilamana
pembukaan vagina mudah dilakukan dan klitoris tidak terlalu besar, maka
rekonstruksi vagina dapat dilakukan pada awal kehidupan tanpa koreksi
klitoris. Bilamana maskulinisasi membuat klitoris sangat besar dan vagina
tertutup (atau lokasi vagina sangat tinggi dan sangat posterior), maka
dianjurkan untuk menunda rekonstruksi vagina sampai usia remaja.
Namun hal ini masih merupakan perdebatan, beberapa ahli menganjurkan
agar rekonstruksi dilakukan seawal mungkin atau setidaknya sebelum usia
dua tahun, namun ahli yang lain menganjurkan ditunda sampai usia
pubertas agar kadar estrogennya tinggi sehingga vagina dapat ditarik ke
bawah lebih mudah (Susanto,2006).
3. Pengobatan psikologis
Sebaiknya, semua pasien interseks dan anggota keluarganya harus
dipertimbangkan untuk diberikan konseling. Konseling dapat diberikan
oleh ahli endokrin anak, psikolog, ahli psikiatri, ahli agama (ustadz,
pastur, atau pendeta), konselor genetik atau orang lain dimana anggota
keluarga lebih dapat berbicara terbuka. Yang sangat penting adalah bahwa
yang memberikan konseling harus sangat familier dengan hal-hal yang
berhubungan dengan diagnosis dan pengelolaan interseks. Sebagai
tambahan, sangat membantu bilamana konselor mempunyai latar belakang
terapi seks atau konseling seks. Topik yang harus diberikan selama
konseling adalah pengetahuan tentang keadaan anak dan pengobatannya,
infertilitas, orientasi seks, fungsi seksual dan konseling genetik. Bilamana
pada suatu saat di sepanjang hidupnya, pasien dan orangtuanya
mempunyai masalah dengan topik tersebut, maka dianjurkan untuk
berkonsultasi (Susanto,2006).
17
I. KOMPLIKASI AMBIGUOUS GENETALIA
1. Infertilitas: Orang dengan kondisi ambiguous genital tetap dapat punya
anak bergantung pada spesifik diagnostik. Sebagai contoh, perempuan
genetik dengan hiperplasia adrenal kongenital biasanya bisa hamil jika
mereka memilih demikian.
2. Peningkatan resiko kanker tertentu: Beberapa gangguan perkembangan
jenis kelamin berhubungan dengan peningkatan risiko beberapa jenis
kanker.
18
BAB III
KESIMPULAN
Ambiguous genitalia atau sex ambiguity adalah suatu kelainan di mana
penderita memiliki ciri-ciri genetik, anatomik dan atau fisiologik meragukan
antara laki-laki dan perempuan. Dalam bahasa Indonesia hal ini disebut dengan
jenis kelamin meragukan atau membingungkan. Disebut pula dengan kelamin
ganda karena kadang-kadang klitoris sangat besar sehingga tampak seperti ada
dua kelamin (Rudi, 2010).
Kasus Ambiguous genetalia bisa ditemukan dalam praktek sehari-hari,
oleh sebab itu pendekatan diagnostic cukup layak untuk lebih dipahami. Dalam
menentukan jenis kelamin seseorang diperlukan minimal 7 sifat, yaitu : susunan
kromosom, jenis gonad, morfologi genital interna, morfologi genital eksterna,
hormone seks, pengasuhan, serta peranan dan orientasi.
Ambiguous genetalia dapat diklasifikasikan dalam 4 kelompok secara
umum, yaitu : gangguan pada gonad dan atau kromosom, maskulinisasi pada
genetic perempuan, maskulinisasi tak lengkap pada genetik laki-laki, dan
gangguan pada embryogenesis yang tidak melibatkan gonad ataupun kromosom.
Untuk
menentukan
penyebab
terjadinya
diperlukan
kerjasama
interdisipliner/intradisipliner, tersedianya sarana diagnostik dan sarana perawatan.
Petunjuk pada kecurigaan terhadap adanya ambiguous genetalia :
1. Genetalia eskterna yang bersifat 2 atau tak lengkap
2. Genetalia eksterna laki-laki ; skrotum kosong, testes ada tapi kecil,
hipospadia, penis kecil.
3. Genetalia eksterna perempuan ; klitoris membesar, bentuk vulva tak
sempurna, benjolan-benjolan di inguinal atau labia mayora, dan
berperawakan pendek.
4. Pada riwayat keluarga, ada keluarga dengan kelainan jenis kelamin
5. Riwayat ibu sewaktu hamil memperoleh obat androgen/progesterone.
19
DAFTAR PUSTAKA
Chavhan, Govind B, et al. Imaging of Ambiguous Genitalia: Calssification and
Diagnostic approach. [Online] 2008. [Dikutip 24 Agustus 2019].
Available from: http://radiographics.rsna.org/content/28/7/1891.full
Houk, Cristopher P, et al. Summary of Consesus Statement on Intersex Disorders
and Their Management. [Online]. 2012 [Dikutip 25 Agustus 2019].
from:http://pediatrics.aappublications.org/content/106/1/138.full
Hutcheson, Joel, et al. Journal of Ambiguous Genitalia and Intersexuality.
[Online]. 2012 [dikutip pada tanngal 25 Agustus 2019]from:
www.emedicine.medscape.com/article/1015520-overview.htm#showall
Mirani, erna. Pengaruh Konseling Genetik pada Tingkat Kecemasan dan Depresi
Terhadap Penentuan Gender Ambigus Genitalia. [Online]. 2010
[Dikutip
pada
tanggal
24
Agustus
2019].
Available
from:
http://eprints.undip.ac.id/17421/
Siregar, Charles Darwin. Pendekatan Diagnostik Interseksualitas pada Anak .
Dalam Cermin Dunia Kedokteran No. 126. Jakarta; 2000. P. 32-6.
Sultana. Mh Faradz, (2011) Http://Www.Fk.Undip.Ac.Id/Artikel- Lepas/KelaminGanda-Penyakit-Atau- Penyimpangan-Gender-.Html, [Dikutip pada 25
Agustus 2019]
Susanto, Rudi. Ambiguous Genitalia pada Bayi Baru Lahir . [Online].2006.
[Dikutip 24 Agustus 2019].
U, Thyen, et al. Epidemiology and Initial Management of Ambiguous Genitalia at
Birth in Germany. [Online]. 2006 [Dikutip 24 Agustus 2019]. Available
from:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16877870
Download