Uploaded by User64383

literasi digital

advertisement
HALAMAN JUDUL
PENGARUH PENERAPAN LITERASI DIGITAL TERHADAP
PEMBANGUNAN DESA PADA ERA DIGITAL DI KECAMATAN
KARANGANOM, KABUPATEN KLATEN
Proposal Skripsi
Diajukan kepada:
Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
Oleh:
Mohamad Triaji
H 0416040
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2020
i
HALAMAN PENGESAHAN
PENGARUH PENERAPAN LITERASI DIGITAL TERHADAP
PEMBANGUNAN DESA PADA ERA DIGITAL DI KECAMATAN
KARANGANOM, KABUPATEN KLATEN
Proposal Skripsi
Oleh:
Mohamad Triaji
H0416040
Telah disetujui
Pembimbing Utama
tanggal: ...............................
Dr. Dwiningtyas Padmaningrum, S.P., M.Si.
NIP. 197712262005011002
Pembimbing Pendamping
tanggal: ...............................
Arip Wijianto, S.P., M.Si.
NIP. 197712262005011002
Mengesahkan,
Kepala Program Studi
Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
Dr. Suminah, M.Si.
NIP. 196610012000032001
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. v
DAFTAR TABEL ................................................................................................ vi
I.
PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
II. LANDASAN TEORI ..................................................................................... 7
1. Literasi................................................................................................ 10
2. Literasi Digital ................................................................................... 11
3. Pembangunan Desa ............................................................................ 13
4. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ..................................... 15
1. Variabel Penelitian ............................................................................. 16
2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ................................. 17
III. METODE PENELITIAN ............................................................................ 24
1. Populasi .............................................................................................. 25
2. Sampel ................................................................................................ 25
1. Data Primer ........................................................................................ 25
2. Data Sekunder .................................................................................... 25
iii
1. Interview (wawancara) ....................................................................... 26
2. Kuisioner (angket) .............................................................................. 26
3. Observasi (pengamatan) ..................................................................... 26
4. Dokumentasi ...................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 28
LAMPIRAN ......................................................................................................... 31
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Hasil Survei Nasional Penetrasi Pengguna Internet di Indonesia oleh
APJII Tahun 2018 ................................................................................................... 1
Gambar 2. Hasil Survei Nasional Profil Perilaku Pengguna Internet di Indonesia
oleh APJII Tahun 2018 ........................................................................................... 2
Gambar 3. Tingkatan Literasi Digital ................................................................... 12
Gambar 4. The Digital Competence Framework for Citizens 2.0......................... 18
Gambar 5. Kerangka Pemikiran Penelitian ........................................................... 22
v
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Penelitian Terdahulu ................................................................................. 7
Tabel 2. Klasifikasi Literasi Digital ...................................................................... 13
vi
BAB I
I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan jumlah masyarakat pengguna
internet terbesar di dunia. Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Tahun 2018, dari total populasi
penduduk Indonesia yaitu sebanyak 264 juta jiwa, ada sebanyak 171,71 juta
jiwa atau sekitar 64,8 persen yang sudah terhubung ke internet. Perkembangan
dunia digital ini dapat menimbulkan dua sisi yang berlawanan dalam kaitannya
dengan pengembangan literasi digital di Indonesia.
Gambar 1. Hasil Survei Nasional Penetrasi Pengguna Internet di Indonesia
oleh APJII Tahun 2018
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mitchell Kapoor menunjukkan
bahwa masyarakat yang memiliki keahlian dalam menggunakan media digital,
saat ini belum bisa memaksimalkan kemampuannya dalam menggunakan
media digital untuk memperoleh informasi dan pengembangan diri
(Self-development). Hasil penelitian tersebut didukung oleh hasil survei
nasional profil perilaku pengguna internet di Indonesia yang dilakukan oleh
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Tahun 2018 yang
menyebutkan bahwa persentase terbesar alasan paling utama masyarakat
1
dalam menggunakan internet adalah komunikasi lewat pesan sebanyak 24,7%;
diikuti sosial media 18,9%; dan mencari informasi terkait pekerjaan sebanyak
11,5%. Perkembangan media digital saat ini juga dapat memberikan peluang
lain seperti peluang bisnis e-commerce, peluang lapangan kerja baru yang
berbasis media digital, dan pengembangan kemampuan literasi digital.
Perkembangan pesat dunia digital di Indonesia yang dapat dimanfaatkan oleh
masyarakat adalah berkembangnya sektor ekonomi kreatif dan usaha-usaha
baru untuk menciptakan lapangan pekerjaan (Asosiasi Penyelenggara Jasa
Pengguna Internet Indonesia, 2018)
Gambar 2. Hasil Survei Nasional Profil Perilaku Pengguna Internet di
Indonesia oleh APJII Tahun 2018
Rektor IPB University yaitu Prof. Dr. Arif Satria S.P., M.Si dalam
kesempatannya di acara Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia atau Food
and Agriculture Organization (FAO) Roma menyampaikan pokok-pokok
pikirannya tentang “Digital Agriculture: Challenges to be Addressed”. Rektor
IPB University menyampaikan empat strategi pertanian era digital untuk
negara-negara berkembang. Pertama, masyarakat pedesaan disiapkan untuk
dapat memanfaatkan inovasi digital dengan sebaik mungkin. Kedua, membuat
peta jalan riset Agro-Maritim 4.0 untuk hasil riset lebih terarah dan terukur
serta bermanfaat untuk masyarakat secara konkret. Ketiga, membuat kerangka
implementasi konsep Agro-Maritim 4.0 untuk seluruh pelaku usaha dari
2
berbagai lapisan sosial yang mampu menerapkan model pertanian era digital.
Syarat pembangunan desa jika menggunakan literasi digital salah satunya
adalah apakah desa tersebut sudah memiliki akses internet. Desa yang belum
memiliki akses internet akan sulit untuk menerapkan konsep literasi digital.
Literasi digital untuk pembangunan desa merupakan salah satu solusi dalam
menghadapi era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Desa memiliki salah
satu potensi yaitu sumber daya manusia (SDM) sebagai pengelola sumber daya
alam, budaya, dan modal sosial yang harus dipersiapkan untuk menghadapi
persaingan sektor ekonomi. Oleh karena itu, hal tersebut adalah tantangan bagi
Indonesia saat ini.
Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat pada kominfo.go.id (2019)
mengatakan bahwa Desa Digital bertujuan untuk menyediakan akses internet
di desa yang sebelumnya tidak memiliki koneksi internet sama sekali. Program
Desa Digital bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat
pada berbagai bidang seperti pendidikan dengan memanfaatkan teknologi
media digital. Selain itu, harapannya setiap desa mampu memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi yang ada, seperti media sosial Instagram
dan WhatsApp Group untuk dapat berkomunikasi dengan perangkat desa serta
dapat mempromosikan potensi desa. Program Desa Digital memberikan
peluang untuk dapat membuka akses informasi, pendidikan, serta
meningkatkan produktivitas masyarakat dalam memasarkan produk-produk
lokal yang menjadi salah satu potensi desa. Akses internet yang ada pada Desa
nantinya akan mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam
mempromosikan produk-produk lokal menggunakan saluran e-commerce atau
market place.
Desa digital merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat
yang dilakukan melalui pemanfaatan teknologi media digital dalam
pembangunan potensi desa, pemasaran, pelayanan desa, dan percepatan akses
informasi. Saat ini. sudah ada beberapa desa di Indonesia yang menerapkan
literasi digital dalam memanfaatkan teknologi digital serta dapat memberikan
hasil yang positif untuk kemajuan pembangunan desa. Salah satu desa di
3
Kecamatan Karanganom yaitu Desa Blanceran, Kabupaten Klaten, Jawa
Tengah telah mengembangkan produk situs web desa yang menampung
banyak data tentang warga desa, termasuk data kependudukan, pelayanan
untuk pembuatan surat menyurat serta potensi produk-produk lokal Desa
Blanceran. Pengembangan website yang dilakukan Desa Blanceran ini dalam
rangka menuju Desa Digital terutama dalam meningkatkan pelayanan
masyarakat. Harapannya dengan adanya program desa digital ini, warga Desa
Blanceran paham akan dunia sosial media serta melek digital. Hal ini perlu
mengingat bahwa saat ini kita sudah memasuki era digital. Seluruh akses
pelayanan untuk masyarakat desa melalui teknologi digital yang terkoneksi
dengan jaringan nirkabel dan memiliki command center. Desa Blanceran juga
memiliki akun media sosial untuk promosi dan menyalurkan informasi berita.
Bambang Heri Novianto sebagai Kepala Desa menerangkan bahwa kegunaan
aplikasi selain untuk pengurusan surat juga digunakan untuk promosi
mengunggah hasil produk UMKM dan wisata Desa Blanceran. Program Desa
Digital ini bekerja sama dengan Diskominfo Klaten dengan menyiapkan
penyajian data secara digital dari seluruh desa yang ada. Aplikasi Desa Digital
yang dimiliki Desa Blanceran menyajikan beberapa fitur seperti data
kependudukan, sistem informasi layanan publik, peta desa dalam bentuk
bidang tanah, sistem informasi keuangan desa dan lain-lain.
4
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang akan dikaji
dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana tingkat literasi digital masyarakat Desa di Kecamatan
Karanganom, Kabupaten Klaten?
2. Bagaimana tingkat pembangunan desa pada era digital di masyarakat Desa
di Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten?
3. Bagaimana pengaruh penerapan literasi digital terhadap pembangunan desa
pada era digital di masyarakat Desa di Kecamatan Karanganom, Kabupaten
Klaten?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian mengungkapkan tujuan yang akan dicapai dengan
melakukan penelitian tersebut. Tujuan penelitian ini adalah :
1. Menganalisis tingkat literasi digital masyarakat Desa di Kecamatan
Karanganom, Kabupaten Klaten.
2. Menganalisis tingkat pembangunan desa yang terjadi setelah adanya
penerapan literasi digital.
3. Menganalisis pengaruh penerapan literasi digital terhadap pembangunan
desa pada era digital di masyarakat Desa Blanceran, Kecamatan
Karanganom, Kabupaten Klaten.
Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan yang diraih dari penelitian yang akan dilakukan adalah
sebagai berikut:
1.
Bagi peneliti, penelitian ini dapat memberikan tambahan pengetahuan dan
dapat menjadi sarana mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah
didapatkan selama perkuliahan terutama mengenai topik literasi digital.
2.
Bagi instansi terkait, penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan
dalam pengambilan kebijakan selanjutnya, dan atau untuk bahan evaluasi
dalam pengadaan program-program yang berkaitan.
5
3.
Bagi pihak lain, penelitian ini dapat menjadi bahan informasi dan
pertimbangan dalam melakukan penelitian selanjutnya.
6
BAB II
II. LANDASAN TEORI
Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan acuan penulis dalam melakukan
penelitian sehingga penulis dapat menambah wawasan teori yang berkaitan
dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian terdahulu yang akan
digunakan merupakan skripsi, tesis, maupun hasil penelitian lain yang
berkaitan dengan penelitian yang penulis akan lakukan baik dari segi tema,
topik, serta metode yang akan digunakan. Pada penelitian terdahulu ini,
penulis menggunakan lima penelitian sebagai referensi yang dapat dilihat pada
tabel di halaman selanjutnya.
7
Tabel 1. Penelitian Terdahulu
No.
1
2
Nama
Peneliti
Adityar
(2017)
Bella Elpira
(2018)
Judul Penelitian
Pengaruh Literasi
Digital Terhadap
Perilaku Internet
Berisiko di
Kalangan Siswa
SMA dan MA Kota
Makassar
Pengaruh Penerapan
Literasi Digital
Terhadap
Peningkatan
Pembelajaran Siswa
di SMP Negeri 6
Banda Aceh
Hasil dan Aspek
Penelitian
Literasi Digital
berpengaruh secara
signifikan terhadap
Perilaku Internet Berisiko
di kalangan siswa SMA dan
MA Kota Makassar.
Literasi informasi
memberikan pengaruh
terhadap kemampuan
mengajar guru sebesar
75%, sedangkan sisanya
25% dipengaruhi oleh
faktor lain.
Penerapan Literasi Digital
berpengaruh signifikan
terhadap peningkatan
pembelajaran siswa di SMP
Negeri 6 Banda Aceh.
Literasi Digital
memberikan pengaruh
terhadap peningkatan
pembelajaran siswa sebesar
44%, sedangkan sisanya
56% dipengaruhi oleh
faktor lain.
7
Perbedaan
Penelitian Dulu
Penelitian Ini
Penelitian menggunakan Penelitian menggunakan
variabel Y Perilaku
Variabel Y Tingkat
Internet Berisiko
Pembangunan Desa
Penelitian ini
menggunakan 4
kompetensi inti Literasi
Digital yang
dikemukakan oleh Paul
Gilster (1997), yaitu:
Internet Searching,
Hypertext Navigation,
Content Evaluation, dan
Knowledge Assembly
Penelitian ini
menggunakan
kompetensi Literasi
Digital yang
dikembangkan oleh
European Comission
yaitu DigComp 2.0
No.
3
4
Nama
Peneliti
Ervina
Nurjanah,
Agus
Rusmana,
dan Andri
Yanto
(2017)
Hasil dan Aspek
Penelitian
Hubungan Literasi
Literasi digital memiliki
Digital dengan
hubungan yang signifikan
Kualitas Penggunaan dengan kualitas
e-Resources
penggunaan e-resources,
dengan kategori very high
correlation, artinya literasi
digital menjadi faktor yang
sangat menentukan
terhadap tingginya kualitas
penggunaan
e-resources
Mulyanto
(2014)
Indikator dan
Karakteristik
Pembangunan Desa
sebagai Basis
Implementasi atas
Undang-Undang
Desa
Judul Penelitian
Hasil penelitian ditemukan
bahwa dari 9 indikator
penentu Indeks
Pembangunan Desa
(IPDesa), Indikator
Kesejahteraan Masyarakat
(IJAHMAS) mempunyai
peran yang penting dalam
pembentukan IPDesa.
8
Perbedaan
Penelitian Dulu
Penelitian Ini
Penelitian ini
Penelitian ini
menggunakan
menggunakan
konseptualisasi literasi
kompetensi Literasi
digital yang
Digital yang
dikemukakan oleh
dikembangkan oleh
Bawden (2008) yang
European Comission
terdiri dari 4 dimensi
yaitu DigComp 2.0
utama yaitu kemampuan
dasar, latar belakang
pengetahuan informasi,
kompetensi utama
literasi digital, serta
sikap dan perspektif.
Penelitian ini adalah
Penelitian ini untuk
model pengembangan
mengetahui pengaruh
untuk menyusun Indeks literasi digital terhadap
Pembangunan Desa.
pembangunan desa.
No.
5
6
Nama
Judul Penelitian
Peneliti
Syafliansyah Pengaruh Partisipasi
(2007)
Masyarakat
Terhadap
Pembangunan Desa
Maluhu di
Kecamatan
Tenggarong
Anis
Pengaruh Peran serta
Triyono
Masyarakat dan
(2019)
Pembangunan Desa
Terhadap
Kesejahteraan
Masyarakat di Desa
Petaling Jaya
Kecamatan Batang
Cenaku Kabupaten
Indragiri Hulu
Hasil dan Aspek
Penelitian
Partisipasi masyarakat
mempunyai korelasi atau
hubungan positif dengan
pembangunan desa.
Perbedaan
Penelitian Dulu
Penelitian Ini
Penelitian ini
Penelitian ini
menggunakan Variabel
menggunakan Variabel
X yaitu Partisipasi
X yaitu Literasi Digital
Masyarakat dan
dan Variabel Y yaitu
Variabel Y yaitu
Pembangunan Desa
Pembangunan Desa
Partisipasi Masyarakat dan
Pembangunan Desa
mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap
kesejahteraan masyarakat.
Partisipasi Masyarakat dan
Pembangunan Desa
memberikan pengaruh
terhadap Kesejahteraan
Masyarakat sebesar 84,7%,
sedangkan sisanya 15,3%
dipengaruhi oleh faktor
lain.
Penelitian ini
menggunakan indikator
pembangunan yang
dikemukakan oleh
Santosa (2006) yaitu
Perencanaan, Perubahan,
Peningkatan Taraf
Hidup Masyarakat,
Peningkatan
Kesejahteraan,
Peningkatan Kualitas
Manusia.
9
Penelitian ini
menggunakan indikator
dari 9 indikator penentu
Indeks Pembangunan
Desa (IPDesa) yang
dikembangkan oleh
Mulyanto (2014)
Tinjauan Pustaka
1.
Literasi
Literasi atau yang kita sebut dengan Literacy berasal dari bahasa latin
yaitu Littera (huruf). Literasi dapat dimaknai sebagai kemampuan
seseorang untuk membaca dan menulis. Biasanya, orang yang memiliki
kemampuan untuk membaca dan menulis disebut literat, sedangkan orang
yang tidak memiliki kemampuan tersebut disebut iliterat atau buta aksara.
Menurut Kern (2000) mendefinisikan literasi sebagai berikut:
“Literasi adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial dan historis,
serta kultural dalam menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui
teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap
tentang hubungan-hubungan antara konvensi-konvensi tekstual dan
konteks penggunaannya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi
secara kritis tentang hubungan-hubungan itu. Literasi memerlukan
serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan,
pengetahuan tentang genre, dan pengetahuan kultural.” Dari pernyataan
tersebut dapat diambil kesimpulan literasi adalah keterampilan individu
seseorang dalam memahami informasi khususnya ketrampilan kognitif
seseorang dalam membaca dan menulis yang dipengaruhi oleh
kompetensi individu seseorang tersebut seperti bidang akademik, nilainilai budaya, dan pengalaman.
Literasi tidak hanya berhubungan dengan membaca dan menulis teks
saja. Teks pada era digital saat ini telah memiliki makna yang luas
sehingga mencakup teks dalam bentuk visual dan audiovisual. Dalam era
digital dan teknologi saat ini, masyarakat intelektual suatu masyarakat
dapat dinilai berbudaya literasi ketika masyarakat tersebut dapat
memanfaatkan informasi yang mereka dapat untuk dapat berkomunikasi
sosial dengan tanggung jawab. Oleh karena itu, literasi tidak terbatas
dengan aktivitas membaca dan menulis saja melainkan juga mencakup
bagaimana individu berkomunikasi dalam masyarakat sosial.
10
2.
Literasi Digital
Paul Gilster (1997) menyebutkan bahwa literasi digital merupakan
kemampuan seseorang untuk mencari dan memahami informasi yang
diakses melalui sumber perangkat TIK dalam berbagai bentuk. Sehingga,
dapat diartikan juga sebagai kecakapan seseorang dalam menggunakan
media digital untuk mendapatkan informasi dan berkomunikasi dengan
beretika dan dapat dipertanggungjawabkan.
Literasi Digital berakar pada literasi komputer dan literasi informasi.
Literasi komputer dipergunakan masyarakat pada tahun 1980-an ketika
komputer mikro semakin luas beredar. Namun, literasi informasi
dipergunakan masyarakat baru pada tahun 1990-an ketika informasi
semakin mudah untuk diakses dan disebarkan melalui teknologi informasi
dan komunikasi (TIK). Dengan demikian, literasi digital sangat berkaitan
dengan
keterampilan
seseorang
dalam
mengakses,
merangkai,
memahami, dan menyebarluaskan informasi (Bawden, 2008).
Konsep literasi digital berdasarkan penelitian UNESCO (2011)
mendefinisikan literasi digital sebagai kecakapan (life skills) yang tidak
harus mengenai kemampuan dalam menggunakan perangkat teknologi
melainkan kecakapan (life skills) seseorang dalam bersosialisasi,
pembelajaran, sikap, etika, berpikir kritis, serta kreatif sebagai orang yang
berkompeten secara digital. Berkompeten secara digital berarti
menggunakan teknologi digital dengan cara yang baik dan aman untuk
berbagai keperluan seperti halnya bekerja, mendapatkan pekerjaan,
belajar, belanja online, mencari informasi, hiburan, dll.
Menurut Listiana (2017) menyebutkan bahwa literasi digital adalah
kemampuan untuk dapat mengakses dan secara kritis dapat mengevaluasi
dan menyebarluaskan informasi melalui teknologi digital. Literasi digital
adalah kemampuan untuk menghargai dan membuat informasi
menggunakan berbagai teknologi digital secara efektif dan kritis.
Penelitian terkait literasi digital selalu berkaitan dengan aspek-aspek
pembelajaran bagaimana cara efektif untuk menemukan, menggunakan,
11
mengevaluasi, membuat, dan menyebarluaskan informasi menggunakan
teknologi digital.
Gambar 3. Tingkatan Literasi Digital
Martin (2008) menjelaskan bahwa terdapat tingkatan dalam literasi
digital. Pertama, kompetensi digital (Digital Competence) yang berada di
tingkat paling dasar yaitu meliputi keterampilan, konsep, pendekatan dan
perilaku. Kedua, penggunaan media digital (digital usage) yaitu meliputi
pengaplikasian
kompetensi
meningkatkan
produktivitas
digital
dan
yang
bisa
lingkup
digunakan
profesional
untuk
seperti
menggunakan media digital untuk bisnis, pembelajaran, dan kampanye
sosial. Ketiga, transformasi digital (digital transformation) yang berada
pada tingkat paling atas yaitu dapat menggunakan media digital untuk
membuat inovasi dan kreativitas yang dapat digunakan masyarakat luas.
Martin (2008) menunjukkan bahwa literasi digital bersifat
multidimensi. Seseorang dapat menguasai literasi digital secara bertahap
dari tingkat satu menuju tingkat selanjutnya yang lebih tinggi. Riel et al
(2012) sependapat bahwa literasi digital bersifat multidimensi. Literasi
digital memiliki klasifikasi yang dijelaskan pada tabel ini.
12
Tabel 2. Klasifikasi Literasi Digital
Konteks
Sejarah
Budaya
Kewargaan
Digital
Alat dan
Sistem
Informasi dan
Data
Berbagi dan
Kreasi
Dasar
Komputer
Representasi
Berpikir
Kreatif
Perangkat
Keras
Komputer
Pencarian
Dokumen
(Teks)
Keragaman
Aplikasi
Komputer
Perikatan
Multimedia
Hak Intelektual
Jaringan
Analisis dan
Penilaian
Komunikasi
Privasi dan
Identitas
Desain
Pengambilan
Kesimpulan
Pencitraan
Karakter di
Dunia Maya
Agenda yang
terprogram
Pengayaan
Penyimpanan
Produktivitas
Dampak
Teknologi
Navigasi
Kolaborasi
Sumber: (Riel, Christian, & Hinson, 2012)
Konsep, dimensi, dan klasifikasi yang dikemukakan oleh Riel et al
(2012) mengandung teknologis, psikologis, dan sosial. Oleh karena itu,
literasi digital adalah bentuk keterampilan yang harus dimiliki manusia
saat berhadapan dengan era digital saat ini. Interaksi yang ada di media
digital tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis untuk dapat
mengakses teknologi tetapi juga untuk memahami konten lebih dalam
sehingga membawa konsekuensi terhadap keamanan diri dan privasi
seseorang. Klasifikasi literasi digital yang disampaikan oleh Riel et al
(2012) menghadirkan logika komunikasi yang sangat interaktif dan
berbeda dengan media konvensional seperti media cetak dan penyiaran.
3.
Pembangunan Desa
Pembangunan menurut Santosa (2006) merupakan proses atau
tahapan yang dilakukan secara terkoordinasi dalam melakukan perubahan
dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, kesejahteraan,
dan kualitas hidup. Selanjutnya disebutkan bahwa indikator pembangunan
13
antara lain sebagai berikut: Perencanaan, Perubahan, Peningkatan taraf
hidup masyarakat, Peningkatan kesejahteraan, dan Peningkatan kualitas
manusia (Santosa, 2006).
Desa adalah satuan pemerintahan terkecil dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Desa berada di bawah pimpinan desa yang dipilih dan
ditetapkan
sendiri
dengan
serangkaian
peraturan-peraturan
yang
ditetapkan sendiri. Desa menurut UU Nomor 6 Tahun 2014 adalah suatu
wilayah yang ditempati oleh kesatuan masyarakat yang didalamnya
terdapat pemerintahan terendah di bawah camat dan berhak untuk
menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Irawan (2014) menyebutkan bahwa pembangunan adalah
perubahan sosial yang dikehendaki atau dengan kata lain interested social
change yang mana hasil akhir yang diinginkan dari perubahan sosial
tersebut dimaknai sebagai visi pembangunan desa. Pembangunan dapat
dikatakan suatu proses yang dilakukan secara bertahap serta berorientasi
pada pertumbuhan dan perubahan yang lebih baik. Pembangunan harus
mencakup seluruh aspek kehidupan baik lahir maupun batin.
Pengertian pembangunan desa menurut Adisasmita (2006) adalah
suatu proses kegiatan pembangunan yang berlangsung di desa dan
mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pembangunan desa
dilaksanakan secara terpadu dan gotong royong. Tujuan dari pembangunan
desa adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa sesuai
kemampuan dan potensi sumber daya alam (SDA) melalui program seperti
peningkatan kualitas hidup, maupun keterampilan masyarakat. Dimana
prinsip-prinsip pembangunan pedesaan meliputi: transparansi, partisipatif,
dapat dinikmati masyarakat, akuntabilitas, dan berkelanjutan.
Sitompul (2009) menjelaskan bahwa pembangunan pedesaan selalu
melibatkan berbagai faktor-faktor sosial, ekonomi, budaya dan teknologi.
Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dalam proses pembangunan.
Pembangunan akan menuju pada perubahan yang dampaknya terhadap
14
satu wilayah akan berbeda dengan wilayah lain sesuai dengan karakteristik
wilayah masing-masing.
Pelaksanaan pembangunan pedesaan pada era digital membutuhkan
media digital/TIK dan internet. Tujuannya adalah mempercepat proses
pembangunan dan meningkatkan partisipasi dari pihak lain. Sebab proses
pembangunan
harus
melibatkan
berbagai
elemen
masyarakat.
Pembangunan di daerah pedesaan perlu melibatkan kolaborasi antara
pemerintah dan partisipasi masyarakat. Bahkan pada hakikatnya
pembangunan desa dilakukan oleh masyarakat sendiri. Pemerintah
seharusnya hanya memberikan bimbingan dan pengawasan yang terarah
sehingga mewujudkan masyarakat desa yang sejahtera.
4.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan bagian dari
ilmu pengetahuan dan teknologi. TIK mencakup semua teknologi yang
berhubungan
dengan
pengambilan,
pengumpulan,
penyimpanan,
penyebaran, dan penyebarluasan informasi. Teknologi ini merupakan
hasil kolaborasi antara komputer untuk data digital, dan komunikasi untuk
suara (Kemeneg Ristek RI, 2006)
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat
digunakan sebagai fasilitas penyampaian informasi dari masyarakat
kepada pemerintah desa, maupun sebaliknya. Perkembangan ini dapat
meningkatkan kemudahan, dan efisiensi di berbagai bidang (Alas, 2018).
Pemanfaatan media TIK secara luas dapat mendukung proses
pembangunan
pedesaan
yang
ketertinggalan
dalam
penggunaan
teknologi. Burman (2013) menyatakan bahwa TIK sangat membantu
proses pembangunan pedesaan terutama untuk mendorong partisipasi dan
sharing pengetahuan dan ketrampilan.
Dinamika pembangunan pedesaan mendorong negara maju dan
berkembang untuk memberikan perhatian yang lebih pada Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) melalui kegiatan penyuluhan pertanian
dan pedesaan (Subejo, 2013). Analisis pemanfaatan media digital dan TIK
15
untuk pembangunan pedesaan telah diteliti oleh Yadav (2015) yang
menunjukkan bahwa terdapat beberapa media yang berpengaruh pada
pembangunan pedesaan yaitu diantaranya Televisi, Radio, Internet dan
Smart phone.
World Bank (2003) menyatakan bahwa Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) mempunyai pengaruh dalam strategi pembangunan
dan dapat meningkatkan akses terhadap pasar, meningkatkan efisiensi
serta akses terhadap pendidikan. Pemanfaatan TIK tidak hanya
dimanfaatkan oleh pemerintah, tetapi dapat dilakukan melalui inisiatif
masyarakat sebagai bentuk dari pemberdayaan masyaraat dalam
pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan
kualitas hidup masyarakat.
Keberadaan serta pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK) yang maksimal akan memunculkan profesi baru di desa.
Sebagaimana yang telah diteliti oleh Mulyana (2017) mengenai
pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan TIK di Desa Kaliabu ini
mengungkapkan bahwa telah terjadi pemberdayaan individu dan
kelompok melalui pemanfaatan TIK. Sementara itu, Swartiningsih (2016)
mengungkapkan dalam penelitiannya ada perubahan ekonomi dari segi
peningkatan
pendapatan
dan
perubahan
sosial
setelah
adanya
pemanfaatan TIK untuk pekerjaan.
Ruang Lingkup Penelitian
1.
Variabel Penelitian
Variabel Penelitian adalah atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek
atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti
untuk
dipelajari
dan
kemudian
ditarik
kesimpulannya
(Sugiyono, 2013). Variabel dalam desain penelitian ini terdiri dari 2 jenis
yaitu:
a) Variabel Independen atau Variabel Bebas merupakan variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
16
variabel dependen (terikat). Variabel Bebas pada penelitian ini adalah
penerapan literasi digital.
b) Variabel Dependen atau Variabel Terikat merupakan variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pembangunan desa.
2.
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Adapun definisi operasional dari masing-masing variabel adalah
sebagai berikut:
a) Literasi Digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi
dan
komunikasi
(TIK),
untuk
menemukan,
mengevaluasi,
memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi,
dengan kecakapan kognitif maupun teknikal. Lebih lanjut, literasi
ekonomi juga merupakan ketertarikan, sikap, dan kemampuan individu
dalam menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi seperti
smartphone, tablet, laptop, dan PC desktop untuk mengakses,
mengelola,
mengintegrasikan,
menganalisis
dan
mengevaluasi
informasi, membangun pengetahuan baru, membuat dan berkomunikasi
dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam
masyarakat.
b) Pembangunan Desa adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan
kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.
Pembangunan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat yang
dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong
royong yang diarahkan untuk memanfaatkan sumber daya alam,
mengembangkan keterampilan, prakarsa, dengan mendapatkan bantuan
dan bimbingan dari pemerintah. pembangunan desa tidak terlepas dari
konteks manajemen pembangunan daerah baik di tingkat kabupaten
maupun tingkat provinsi karena kedudukan desa dalam konteks yang
lebih luas (sosial, ekonomi, akses pasar, dan politik) harus melihat
keterkaitan antardesa, desa dalam kecamatan, antarkecamatan dan
kabupaten dan antar kabupaten. Pembangunan desa memiliki sebuah
17
peran yang cukup penting dalam proyek pembangunan nasional.
Karena pembangunan desa ini cakupannya sangat luas karena
merupakan dasar dari sebuah pembangunan. Pembangunan desa
ditujukan untuk sebuah peningkatan kualitas hidup dan kehidupan
masyarakat desa. Banyak hal yang harus dilaksanakan dalam hal
pembangunan desa itu. Dalam pelaksanaan pembangunan desa
seharusnya mengacu pada pencapaian tujuan dari pembangunan yaitu
mewujudkan kehidupan masyarakat pedesaan yang mandiri, maju,
sejahtera, dan berkeadilan.
Gambar 4. The Digital Competence Framework for Citizens 2.0
Pengukuran variabel literasi digital, peneliti mengadopsi The Digital
Competence Framework for citizens (DigComp) yang dikembangkan oleh
European Comission mengetahui kompetensi literasi digital masyarakat
yang terdiri atas kompetensi informasi, kompetensi komunikasi,
kompetensi kreasi konten digital, kompetensi keamanan, dan kompetensi
pemecahan masalah (Carretero, Vuorikari, & Punie, 2017). Penjelasan
lebih detail tercantum dalam lampiran kompetensi DigComp 2.0.
a) Kompetensi Informasi, mencakup kompetensi masyarakat desa dalam
mencari informasi melalui internet, menilai kebenaran informasi, dan
penggunaan informasi tersebut secara bertanggung jawab.
18
b) Kompetensi komunikasi, mencakup kompetensi masyarakat desa untuk
berpartisipasi dalam forum diskusi dan menggunakan berbagai fitur
media sosial untuk berkomunikasi.
c) Kompetensi kreasi konten, mencakup kompetensi masyarakat desa
menciptakan dan mengirimkan berbagai konten dan dokumen
d) Kompetensi keamanan, mencakup kompetensi masyarakat desa untuk
menjaga keamanan data dan privasi melalui internet
e) Kompetensi pemecahan masalah, mencakup kompetensi masyarakat
desa dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan menyelesaikan
masalah konseptual dan situasi masalah di lingkungan digital.
Pengukuran variabel pembangunan desa, peneliti menggunakan
model yang dikembangkan oleh Mulyanto dalam penelitiannya berjudul
The Model of Index for Measuring the Progress of Rural Development at
Autonomy Era in Indonesia: A Pilot Project in Klaten Regency, Central
Java. Pembangunan desa diukur menggunakan 9 indikator, yaitu
Kapasitas Aparatur dan Jangkauan Pelayanan Publik, Kekayaan dan
Keuangan Desa, Sarana Perekonomian Desa, Sarana Transportasi dan
Telekomunikasi, Kelembagaan dan Partisipasi Masyarakat Desa,
Kesejahteraan
Masyarakat,
Pendidikan
Masyarakat,
Kesehatan
Masyarakat, dan Kesejahteraan Keluarga (Mulyanto, 2013). Secara
operasional, ke-9 indikator tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
a) Kapasitas Aparatur dan Jangkauan Pelayanan Publik
(1) Rasio jumlah aparatur pemerintah desa terhadap jumlah penduduk
dikali 1.000
(2) Rasio jumlah aparatur pemerintah desa terhadap jumlah rumah
tangga dikali 1.000
(3) Rasio jumlah aparatur pemerintah desa terhadap luas wilayah
(4) Proporsi aparatur pemerintah desa yang lulus SMA ke atas
terhadap keseluruhan jumlah aparatur dikali 100
b) Kekayaan dan Keuangan Desa
(1) Rasio Alokasi Dana Desa (ADD) terhadap jumlah rumah tangga
19
(2) Rasio Pajak Bumi dan Bangunan terhadap jumlah rumah tangga.
(3) Rasio Pendapatan Desa dalam APBD terhadap jumlah rumah
tangga
(4) Rasio Pendapatan Asli Desa dalam APBD terhadap jumlah rumah
tangga
(5) Rasio Tanah Kas Desa terhadap jumlah rumah tangga dikali 1000
c) Sarana Perekonomian Desa
(1) Rasio jumlah fasilitas perdagangan dan lembaga keuangan
terhadap jumlah penduduk dikali 1.000
(2) Rasio jumlah industri (Mikro, Kecil dan Menengah) terhadap
jumlah penduduk dikali 1.000
(3) Persentase jumlah pekerja di sektor pertanian terhadap total pekerja
(4) Persentase jumlah pekerja di sektor Industri terhadap total pekerja
d) Sarana Transportasi dan Telekomunikasi
(1) Jumlah alat transportasi bermesin terhadap jumlah rumah tangga
dikali 100
(2) Rasio panjang jalan beraspal terhadap keseluruhan panjang jalan
dikali 100 di suatu desa
(3) Rasio keseluruhan panjang jalan terhadap luas wilayah di suatu
desa
(4) Rasio jumlah sarana telekomunikasi terhadap jumlah rumah tangga
dikali 100
e) Kelembagaan dan Partisipasi Masyarakat Desa
(1) Jumlah kelembagaan Rukun Warga (RW) terhadap penduduk
dikali 1.000
(2) Jumlah kelembagaan Rukun Tetangga (RT) terhadap penduduk
dikali 1.000
(3) Rasio jumlah sarana ibadah terhadap penduduk dikali 1.000
(4) Jumlah organisasi kelompok tani yang ada di suatu desa
(5) Jumlah organisasi kelompok Dasa Wisma yang ada di suatu desa
f) Kesejahteraan Masyarakat
20
(1) Rasio produksi padi terhadap jumlah penduduk
(2) Rasio penduduk miskin terhadap jumlah rumah tangga (kepala
keluarga) dikali 100%
(3) Jumlah penyandang cacat
(4) Jumlah peristiwa perceraian yang terjadi selama satu tahun
(5) Rasio jumlah ternak terhadap rumah tangga
(6) Rasio jumlah unggas terhadap rumah tangga
g) Pendidikan Masyarakat
(1) Rasio jumlah gedung Sekolah Dasar (SD) terhadap jumlah murid
SD dikali 100
(2) Rasio jumlah murid terhadap guru jenjang pendidikan SD
(3) Rasio siswa SD terhadap jumlah penduduk usia 7-12 tahun dikali
100
(4) Persentase penduduk lulusan SLTA dan AK/PT terhadap
penduduk usia 5 tahun ke atas.
h) Kesehatan Masyarakat
(1) Rasio jumlah sarana kesehatan terhadap penduduk dikali 1.000
(2) Rasio jumlah tenaga medis terhadap jumlah penduduk dikali 1.000
(3) Jumlah posyandu.
(4) Rasio jamban keluarga terhadap jumlah rumah tangga kali 100%
(5) Tingkat kematian bayi per 1.000 jumlah penduduk pertengahan
tahun.
(6) Tingkat kelahiran bayi per 1.000 jumlah penduduk pertengahan
tahun.
i) Kesejahteraan Keluarga
(1) Jumlah penduduk dibagi jumlah rumah tangga
(2) Jumlah penduduk usia belum produktif dan usia tidak produktif
dibagi penduduk usia produktif dikali 100
(3) Rasio rumah permanen terhadap keseluruhan rumah dikali 100%.
(4) Rasio peserta Keluarga Berencana (KB) aktif terhadap Pasangan
Usia Subur (PUS) dikali 100%
21
(5) Rasio rumah tangga pelanggan listrik terhadap jumlah tangga
keseluruhan dikali 100%
Sebelum diagregasi dalam suatu indikator sebagai penentu kemajuan
pembangunan desa, variabel tertentu yang membentuk suatu indikator
akan ditransformasikan terlebih dahulu ke satu nilai atau besaran dengan
sistem indeks. Penilaian dalam sistem indeks mempunyai standar nilai 0
atau artinya tingkat pembangunan paling rendah atau paling buruk sampai
dengan standar nilai 10 atau artinya tingkat pembangunan paling tinggi
atau paling baik (Mulyanto, 2014).
Kerangka Pemikiran
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis signifikansi pengaruh literasi
digital terhadap pembangunan desa. Dengan mengukur tingkat literasi digital,
peneliti diharapkan mampu memprediksi pembangunan desa setelah adanya
penerapan literasi digital yang dilihat berdasarkan 9 indikator penentu
kemajuan pembangunan desa.
Pembangunan Desa (Y)
1. Kapasitas Aparatur dan
Jangkauan Pelayanan Publik
2. Kekayaan dan Keuangan
Desa
3. Sarana Perekonomian Desa
4. Sarana Transportasi dan
Telekomunikasi
5. Kelembagaan dan Partisipasi
Masyarakat Desa
6. Kesejahteraan Masyarakat
7. Pendidikan Masyarakat
8. Kesehatan Masyarakat
9. Kesejahteraan Keluarga
Tingkat Literasi Digital
Masyarakat Desa (X)
1.
2.
3.
4.
5.
Kompetensi Informasi
Kompetensi Komunikasi
Kreasi Konten
Kompetensi Keamanan
Kompetensi Pemecahan
Masalah
Gambar 5. Kerangka Pemikiran Penelitian
Keterangan:
: berpengaruh
22
Hipotesis
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh literasi digital
terhadap pembangunan desa. Pengujian hipotesis yang akan dilakukan
menggunakan tingkat kepercayaan 95% (nilai α=0,05):
1.
Ho diterima (apabila nilai signifikansi > nilai α) yang berarti tidak terdapat
pengaruh yang signifikan oleh literasi digital terhadap pembangunan desa
2.
Ha diterima (apabila nilai signifikansi < nilai α) yang berarti terdapat
pengaruh yang signifikan oleh literasi digital terhadap pembangunan desa
23
BAB III
III. METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Metode
kuantitatif yaitu suatu metode untuk menguji teori-teori tertentu dengan cara
meneliti hubungan antar variabel. Variabel-variabel yang diukur biasanya
dengan menggunakan instrumen penelitian sehingga data yang terdiri dari
angka-angka dapat dianalisis berdasarkan prosedur statistik. Penelitian ini
terdiri dari dua variabel, yaitu penerapan literasi digital (X) sebagai variabel
bebas dan pembangunan desa (Y) sebagai variabel terikat. Alasan penggunaan
kuantitatif dalam penelitian ini karena dilihat dari rumusan masalah yang
memerlukan data kuantitatif (Juliansyah, 2013).
Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan regresi linier
sederhana. Regresi linier sederhana adalah penelitian untuk memprediksikan
seberapa jauh perubahan nilai variabel dependen, apabila nilai variabel
independen dimanipulasi atau dinaikturunkan. Regresi linier sederhana
didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel independen
dengan satu variabel dependen. Adapun persamaan umum regresi linier
sederhana adalah: Y= a+bX (Sugiyono, 2013).
Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian ini bertempat di Desa Blanceran, Kecamatan
Karanganom. Desa ini merupakan salah satu desa yang telah mengaplikasikan
desa digital. Desa Blanceran menjadi desa yang sudah siap dan menjadi
percontohan untuk menampilkan program Desa Digital dalam pameran
Festival Dana Desa dan Desa Digital di Kecamatan Karanganom, Klaten, Jawa
Tengah. Oleh karena itu, peneliti memilih Desa Blanceran menjadi lokasi
untuk penelitian.
24
Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
1.
Populasi
Menurut Sugiyono (2013) Populasi wilayah generalisasi yang terdiri
atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Populasi dalam desain penelitian ini adalah individu atau
masyarakat yang ada di wilayah Desa Blanceran, Kecamatan
Karanganom, Kabupaten Klaten.
2.
Sampel
Menurut Sugiyono (2013) sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Senada dengan pendapat
tersebut, Darmadi (2014) menyatakan bahwa sampel adalah sebagian dari
populasi yang dijadikan objek/subjek penelitian. Cara penarikan sampel
dalam penelitian ini yaitu dengan purposive, yakni mereka (masyarakat)
yang pernah dan sedang menggunakan layanan TIK seperti komputer
ataupun telepon genggam.
Jenis Data
1.
Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber pertama baik dari
individu maupun perwakilan kelompok. Data ini berupa hasil dari
pengisian kuesioner mengenai lima kompetensi literasi digital yang diisi
oleh masyarakat di Desa Blanceran, Kecamatan Karanganom, Kabupaten
Klaten.
2.
Data Sekunder
Data sekunder digunakan untuk melengkapi data yang dibutuhkan.
Data sekunder penelitian ini berupa profil desa, monografi desa terkait
jumlah aparatur pemerintah desa, dana desa, sarana perekonomian desa,
sarana transportasi dan telekomunikasi desa, kelembagaan desa,
kesejahteraan masyarakat, pendidikan masyarakat, kesehatan masyarakat,
25
dan kesejahteraan keluarga pada masyarakat Desa Blanceran, Kecamatan
Karanganom, Kabupaten Klaten.
Metode Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2013) metode pengumpulan data merupakan langkah
yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama penelitian adalah
mendapatkan data. Dalam desain penelitian ini, penulis menggunakan teknik
pengumpulan data sebagai berikut:
1.
Interview (wawancara)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila
peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan
permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin
mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah
respondennya sedikit/kecil (Sugiyono, 2013).
2.
Kuesioner (angket)
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada
responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2013).
3.
Observasi (pengamatan)
Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang
tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis (Sugiyono, 2013).
4.
Dokumentasi
Dokumentasi yaitu kegiatan mengumpulkan data dengan cara
penelusuran dan pencatatan data, dokumen, arsip, maupun referensi yang
relevan di instansi yang ada kaitannya dengan penelitian.
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif
dengan teknik analisis regresi linier sederhana. Analisis ini digunakan untuk
mencari hubungan literasi digital terhadap pembangunan desa di Desa
Blanceran yang dinyatakan dalam bentuk persamaan matematik yaitu regresi
linier sederhana. Langkah dalam menentukan persamaan regresi linier
26
sederhana ini dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
𝑌𝑌 = 𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏
Y = Subjek dalam variabel dependen yang diprediksi
a = Harga Y bila X bernilai 0 (konstan)
b = Angka arah/koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan (+)
atau penurunan (-) variabel kriterium yang didasarkan pada variabel prediktor
X = Subjek pada variabel prediktor yang mempunyai nilai tertentu.
(Gunawan, 2013)
27
DAFTAR PUSTAKA
Adityar. 2017. Pengaruh Literasi Digital Terhadap Perilaku Internet Berisiko Di
Kalangan Siswa SMA dan MA di Kota Makassar. Tesis. Makassar:
Universitas Hasanuddin.
Alas, S. 2018. Analisis Tingkat Literasi Masyarakat Desa Dalam Pemanfaatan
Teknologi Informasi & Komunikasi. Konferensi Nasional Sistem Informasi,
894-899.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Pengguna Internet Indonesia. 2018. Hasil Survei
Nasional Penetrasi Pengguna Internet. Jakarta: Polling Indonesia.
Bawden, D. 2008. Origins and concepts of digital literacy, in: Digital Literacies:
Concepts, Policies and Practices. New York: Peter Lang Publishing.
Buckingham, D. (2007). Digital Media Literacies: Rethinking Media Education in
the Age of the Internet. Journal Research in Comparative and International
Education, 2(1): 43-55. doi:10.2304/rcie.2007.2.1.43
Burman, R. (2013). Information Dynamics for Designing Cyber Extension Model
for Agricultural Development. Journal of Community Mobilization and
Sustainable Development, 8(2): 182-185.
Carretero, S., Vuorikari, R., & Punie, Y. (2017). DigComp 2.1: The Digital
Competence Framework for Citizens with eight proficiency levels and
examples of use. Luxembourg: European Union. doi:10.2760/38842
Cristensen, C., Raynor, M., & Mcdonald, R. (2015). What is Disruptive Innovation?
Cambridge: Harvard Business Review.
Darmadi, H. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Sosial. Bandung: Alfabeta.
Elpira, B. (2018). Pengaruh Penerapan Literasi Digital Terhadap Peningkatan
Pembelajaran Siswa di SMP Negeri 6 Banda Aceh. Skripsi. Banda Aceh:
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.
Gilster, P. (1997). Digital Literacy. New York: Wiley Computer Pub.
Gunawan, I. (2013). Statistika untuk Kependidikan Sekolah Dasar. Yogyakarta:
Ombak.
Irawan. (2014). Indeks Kemandirian Desa : Metode, Hasil, dan Alokasi
Pembangunan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Juliansyah, N. (2013). Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Karya
Ilmiah. Jakarta: Kencana.
Kemeneg Ristek RI. (2006). Buku Putih Bidang Teknologi Informasi dan
Komunikasi. Jakarta: Kemeneg Ristek RI.
Kern, R. (2000). Literacy & Language Teaching. Oxford: Oxford University.
KOMINFO. (2019, April 14). Luncurkan Desa Digital, Menkominfo: Semua Harus
Bisa Rasakan Internet! Retrieved from Website Kementerian Komunikasi
dan Informatika Republik Indonesia: http://www.kominfo.go.id
Listiana, H. (2017). Hate Speech and Digital Literacy. International Conference on
Education. Yogyakarta: State Islamic University Sunan Kalijaga.
Martin, A. (2008). Digital Literacy and the "Digital Society". In C. L. (Eds.), Digital
Literacies: Concepts,Policies and Practices (pp. 151-176). New York:
Peter Lang.
Mulyana, N. (2017). Pemberdayaan komunitas melalui pemanfaatan Teknologi
Informasi dan Komunikasi (studi kasus pada komunitas rewo-rewo di Desa
Kaliabu). Depok: Universitas Indonesia.
Mulyanto. (2013). The Model of Index for Measuring the Progress of Rural
Development at Autonomy Era in Indonesia: A Pilot Project in Klaten
Regency, Central Java. Paper presented in the 38th Conference of the
Federation of ASEAN Economic Associations (FAEA), Singapore, 27-29th
November.
Mulyanto. (2014). Indikator dan Karakteristik Pembangunan Desa Sebagai Basis
Implementasi Atas Undang-Undang Desa. Paper dipresentasikan dalam
Kegiatan Sidang Pleno ISEI XVII, Ternate, 3-5 September.
Nurjanah, E., Rusmana, A., & Yanto, A. (2017). Hubungan Literasi Digital dengan
Kualitas Penggunaan e-Resources. Lentera Pustaka: Jurnal Kajian Ilmu
Perpustakaan, Informasi dan Kearsipan, 3(2), 117-140.
Riel, J., Christian, S., & Hinson, B. (2012). Charting digital literacy: A framework
for information technology and digital skills education in the community
college. Available at SSRN 2781161.
Santosa, A. (2006). Beberapa Pengertian Dibidang Pedesaan. Jakarta: Balai
Aksara.
Santosa, A. (2006). Beberapa Pengertian Dibidang Pembangunan Desa. Jakarta:
Balai Aksara.
Sitompul. (2009). Merancang Model Pengembangan Masyarakat pedesaan dengan
Pendekatan System Dynamics. Jakarta: LIPI Press.
Subejo. (2013). Cyber Extension: a New Hope for Agriculture and Rural Extension.
Jakara: Jakarta Post.
Subejo. (2019). Desain Model Pemanfaatan Informasi dan Komunikasi Digital
dalam Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. Suluh Pembangunan:
Journal of Extension and Development, 1(1): 32-40.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Swartiningsih, N. (2016). Kampung desain dan perubahan sosial ekonomi di Desa
Kaliabu, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Yogyakarta: UIN
Kalijaga.
Syafliansyah. (2007). Pengaruh Partisipasi Masyarakat Terhadap Pembangunan
DESA Maluhu Di Kecamatan Tenggarong. Jurnal Ekonomi dan
Manajemen Indonesia, Vol 7 No 1.
Triyono, A. (2019). Pengaruh Peran serta Masyarakat dan Pembangunan Desa
Terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Desa Petaling Jaya Kecamatan
Batang Kabupaten Indragiri Hulu. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 10(2): 171180.
UNESCO. (2011). Digital literacy in education. Retrieved from UNESDOC Digital
Library: http://iite.unesco.org/ publications/3214688/
World Bank. (2003). ICT and MDGs: a world bank group perspective. Washington
DC: World Bank.
LAMPIRAN
Download
Random flashcards
Rekening Agen Resmi De Nature Indonesia

9 Cards denaturerumahsehat

sport and healty

2 Cards Nova Aulia Rahman

Nomor Rekening Asli Agen De Nature Indonesia

2 Cards denaturerumahsehat

Secuplik Kuliner Sepanjang Danau Babakan

2 Cards oauth2_google_2e219703-8a29-4353-9cf2-b8dae956302e

Create flashcards