Uploaded by KIKI

6. ANALISA KEBUTUHAN PELATIHAN

advertisement
ANALISA KEBUTUHAN DALAM ANDRAGOGI PADA
PEMBELAJARAN ORANG DEWASA
Oleh
Kelompok PIO 2:
- Aldean Widi F S
20170810002
- Ibadatul Fajrun N
20170810008
- Yohana Tri W
20170810026
- Muh. Alfaridzi Reza M 20170810030
- Amelia Amanda D
20170810035
- Aditya Rahmat
20170810037
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA
2020
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 3
1.1 Orang Dewasa ........................................................................................................ 3
1.2 Kebutuhan Orang Dewasa ..................................................................................... 5
1.3 Kebutuhan Masyarakat .......................................................................................... 10
1.4 Teknik Pembelajaran Orang Dewasa ..................................................................... 12
BAB II MODEL PEMBELAJARAN ORANG DEWASA ........................................... 14
2.1 Model pembelajaran dari pengalaman berstruktur dan analisis peranan .............. 14
2.2 Model pembelajaran latihan penyelidikan (Inguiry Training Model) …………. 15
2.3 Model pembelajaran advance organizer ............................................................... 16
2.4 Model pembelajaran pemeroleh konsep pembelajaran model .............................. 17
BAB III METODE-METODE DALAM ANALISA KEBUTUHAN ........................... 19
3.1 Metode dalam analisa kebutuhan.......................................................................... 19
BAB IV STRATEGI PEMBELAJARAN ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) ....... 23
4.1 Strategi pembelajaran orang dewasa .................................................................... 23
BAB V KEBUTUHAN DALAM ANDRAGoGI PADA PEMBELAJARAN ORANG
DEWASA ……………………………………………………………………………… 27
5.1. Pengertian analisis kebutuhan pelatihan……………………………………..… 27
5.2. Tujuan analisis kebutuhan pelaihan (TNA) …………………………………….28
5.3. Manfaat analisis kebutuhan pelatihan (TNA) …………………………………..28
5.4. Tingkatan dalam analisis kebutuhan pelatihan (TNA) …………………………28
5.5. Tahap analisis kebutuhan pelatihan (TNA) …………………………………….29
BAB VI PROSES ANALISIS KEBUTUHAN ………………………………………31
6.1. proses analisa kebutuhan ……………………………………………………….31
6.2. kasus …………………………………………………………………………….32
BAB VII PENUTUP ......................................................................................................... 34
7.1. Kesimpulan ............................................................................................................ 34
7.2. Saran ...................................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 35
2
BAB 1
Pendahuluan
I.1. Orang Dewasa
Orang dewasa adalah orang yang telah memiliki banyak pengalaman, pengetahuan,
kecakapan dan kemampuan mengatasi permasalahan hidup secara mandiri. Orang dewasa
terus berusaha meningkatkan pengalaman hidupnya agar lebih matang dalam melakukan
untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Orang dewasa bukan lagi menjadi obyek
sosialisasi yang dibentuk dan dipengaruhiorang lain untuk menyesuaikan dirinya dengan
keinginan para pemegang otoritas di atas dirinya sendiri, akan tetapi dalam perspektif
pendidikan, orang dewasa lebih mengarahkan dirinya kepada pencapaian pemantapan
identitas dan jati dirinya untuk menjadi dirinya sendiri. Dengan demikian keikutsertaan
orang dewasa dalam belajar memberikan dampak positif dalam melakukan perubahan
hidup kearah yang lebih baik. Pendidikan orang dewasa tidak cukup hanya dengan memberi
tambahan pengetahuan saja, namun harus dibekali dengan rasa percaya yang kuat dalam
dirinya sehingga apa yang akan dilakukan dapat dijalankan dengan baik. Orientasi belajar
berpusat pada kehidupan, dengan demikian orang dewasa belajar tidak hanya untuk
mendapatkan nilai yang bangus akan tetapi orang dewasa belajar untuk meningkatkan
kehidupannya. Dengan belajar orang dewasa akan mendapatkan pengalaman yang lebih
banyak lagi, sehingga belajar bagi orang dewasa lebih fokus pada peningkatan pengalaman
hidup tidak hanya pada pencarian ijazah saja. Pengalaman merupakan sumber terkaya
dalam pembelajaran sehingga orang dewasa semakin kaya
akan pengalaman dan
termotifasi untuk melakukan upaya peningkatan hidup. Sifat belajar orang dewasa bersifat
subyektif dan unik, hal itulah yang membuat orang dewasa untuk semakin berupaya
semaksimal mungkin dalam belajar, sehingga apa yang menjadi harapan dapat tercapai.
Konsep diri orang dewasa tidak lagi bergantung pada orang lain, sehingga memiliki
kemampuan dan pengalaman secara mandiri dalam pengambilan keputusan. Implikasi dari
konsep diri ini, maka dalam pembelajaran hendaknya didesain:
1. iklim belajar yang diciptakan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik warga belajar
melalui kerjasama dalam pembelajaran, Suasana belajar memungkinkan orang dewasa
untuk leluasa bergerak dan berinisiatif dalam belajar.
2. warga belajar ikut dilibatkan
dalam mendiagnosis kebutuhan belajar yang akan
dirumuskan dalam tujuan pembelajaran
3
3. Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan melibatkan partisipasi aktif warga belajar
4. Evaluasi pembelajaran dilakukan lebih banyak menggunakan evaluasi diri. Salah satu
prinsip belajar orang dewasa adalah belajar karena adanya suatu kebutuhan. Hal ini
dilakukan untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya (partisipasinya) dalam
aktivitas sosial dari setiap individu yang bersangkutan.
Seperti yang terlihat dari piramida kebutuhannya teori Maslow tentang
sebagai
berikut. Piramida Kebutuhan menurut Teori Maslow kebutuhan yang paling dasar adalah
kebutuhan fisik atau sandang / pangan. Sebelum seseorang merasakan kebutuhan fisik
berupa sandang, pangan, dan papan, maka setiap individu belum membutuhkan atau
merasakan apa yang dinamakan sebagai harga diri.
Setelah kebutuhan dasar itu terpenuhi, maka seseorang perlu rasa aman jauh dari
rasa takut, kecemasan, dan kekhawatiran. Apabila rasa aman telah terpenuhi, maka setiap
individu butuh penghargaan terhadap hak azasi dirinya yang diakui oleh setiap individu di
luar dirinya. Jika kesemuanya itu terpenuhi barulah individu itu merasakan mempunyai
harga diri. Dalam kaitan ini, tentunya pendidikan orang dewasa yang memiliki harga diri
dan jati dirinya membutuhkan pengakuan, dan itu akan sangat berpengaruh dalam proses
belajarnya. Secara psikologis, dengan mengetahui kebutuhan orang dewasa sebagai peserta
kegiatan pelatihan, maka akan dapat dengan mudah dan dapat ditentukan kondisi belajar
yang harus diciptakan, isi materi apa yang harus diberikan, strategi, teknik serta metode
apa yang cocok digunakan. Yang terpenting dalam pendidikan orang dewasa adalah: Apa
yang dipelajari peserta, bukan apa yang diajarkan pengajar. Artinya, hasil akhir nya adalah
apa yang diperoleh orang dewasa dari suatu pelatihan, bukan apa yang dilakukan pengajar
atau pelatih dalam pelatihan itu.
Pelatihan yang efektif berperan besar dalam pengembangan sumber daya manusia.
Perusahaan membutuhkan pelatiham yang terus-menerus sehinggan dapat mengikuti
perkembangan teknologi dan informasi yang cepat. Pelatihan juga menjadi salah satu
bagian dari strategi yang digunakan untuk tetap mempertahankan daya saingnya
bermodalkan sumber daya manusia yang andal. Bahkan beberapa perusahaan
menginvestasikan dana yang besar untuk keperluan pelatihan bagi sumber daya manusia
yang dimilikinya.
Pelatihan dapat mencapai target yang diharapkan jika pelatihan itu direncanakan
secara sistematis serta dilaksanakan secara berkelanjutan. Proses ini dimuai dengan analisis
kebutuhan dan spesifikasi tujuan pelatihan, kemudian diikuti dengan desain dan
4
implementasi pelatihan yang cermat, selanjutnya berujung pada evaluasi tentang seberapa
efektif pelatihan mencapai tujuan yang diinginkan.
Pelatihan merupakan sebuah subsistem yang tidak dapat berdiri sendiri karena harus
dibarengi dengan system yang lebih besar, yaitu organisasi dan dunia di luarnya. Beberapa
hal penting untuk diperhatikan dalam menyusun program pelatihan, antara lain sebagai
berikut:
1. Evaluasi dan modifikasi terus-menerus. Desain program pelatihan tidak pernah
berhenti. Organisasi secara kontinu melakukan pembaharuan dan revisi sehingga dapat
mencapai tujuan dengan lebih baik.
2. Metode yang berbeda diperlukan untuk menyesuaikan dengan kondisi yang berbeda.
3. Penelitian dilakukan dengan melakukan evaluasi secara ilmiah terhadap program dan
pelatihan dapat dilanjutkan, jika terbukti tujuan program tersebut tercapai.
4. Pelatihan merupakan bagian dari system yang lebih besar. Kriteria yang digunakan
untuk mengevaluasi program pelatihan tidaklah mutlak melainkan ditentukan pula oleh
subsistem lain di organisasi.
Langkah pertama yang sangat penting sebelum membuat program pelatihan adalah
analisis kebutuhan. Analisis ini penting dilakukan untuk efisiensi biaya pelatihan. Analisis
yang cermat berguna untuk menentukan di mana dibutuhkan perubahan (bagian mana yang
memerlukan perubahan) dan apakah pelatihan dapat memenuhi kebutuhan ini.
Semakin besar perbedaan anatar kinerja senyatanya dengan kinerja standar yang
diinginkan maka semakin besar kebutuhan akan pelatihan. Untuk melakukan analisis
kebutuhan pelatihan, informasi harus dikumpulkan dari organisasi, tugas, dan personil yang
melakukan tugas yang dimaksud.
I.2. Kebutuhan Orang Dewasa
Banyak orang yang menyamakan mengenai pengertian antara kebutuhan (needs)
dan keinginan (want). Demikian pula mengenai perbedaan antara keduanya. Tetapi tulisan
ini tidak akan membahasnya, mengenai kedua pengertian diatas, tetapi yang utama adalah
akan perencanaan program belajar. Pengertian kebutuhan dalam pengembangan rogram
pendidikan dapat dibedakan atas kebutuhan dasar dan kebutuhan pendidikan.
a. Kebutuhan Dasar
walaupun para ahli psikologi setuju bahwa ada sesuatu kebutuhan yang bersifat
biologis dan psikologis bagi setiap orang, tetapi mereka belum, apakah kebutuhan itu.
5
Salah satu rumusan dikemukakan oleh Abraham Maslow dengan “kebutuhan yang
bersifat hirarkis”.
Disamping maslow, gardner murphy menggambarkan kebutuhan diatas, 4
kategori, yang terdiri:

Kebutuahn dasar yang berkaitan bagian-bagian penting tubuh misalnya kebutuhan
untuk makan, minum, udara, dan sejenisnya

Kebutuhan akan kegiatan, meliputi kebutuhan “untuk tetap bergerak”.

Kebutuhan sensori meliputi kebutuhan untuk warna, suara, ritme, kebutuhan yang
berorientasi lingkungan dan sejenisnya.

Kebutuhan untuk emnolak sesuatu yang tidak mengenakkan seperti rasa sakit,
ancaman, dan sejenisnya
Selanjutnya knowless membagi kebutuhan dasar manusia atas beberapa macam:
1. Kebutuhan fisik
Kebutuhan ini yang paling mudah dilihat. Dalam hubungan dengan
pendidikan, maka kebutuhan itu meliputi kebutuhan untuk melihat, mendengar,
beristirahat. Jika tulisan terlalu kecil, suara terlalu pelan, jika kursi terlalu keras
orang cenderung tidak merasa senang, sehingga tidak dapat mengkonsentrasikan
dirinya kepada belajar. Kebutuhan fisik merupakan sumber motivasi pada sebagian
tindakan manusia.
2. Kebutuhan berkembang
Menurut para ahli psikologi dan psikiatri kebutuhan untuk berkembang
merupakan kebutuhan yang paling dasar dan universal. Orang dewasa yang merasa
tidak mempunyai masa depan untuk berkembang, kehidupan akan tidak berguna.
Kebutuhan untuk berkembang ini adalah merupakan dorongan yang kuat untuk
pelajar, karena ada dasarnya, pendidikan adalah perkembangan dalam pengetahuan,
pemahaman, keterampilan, sikap dan minat. Belajar sesuatu yang baru akan
memberikan rasa berkembang bagi seseorang.
3. Kebutuhan rasa aman
Kebutuhan rasa aman termasuk kebutuhan baik fisik maupun psikologis.
Oleh karena adanya kebutuhan ini, maka kita merasa aman dalam pekerjaan. Yang
ditata secara teratur dan sistematis. Dengan kebutuhan ini, kita ingin mengetahui
dimana dapat memperoleh sesuatu, apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang.
Demikian biasanya kita akna menolak cara baru walaupun cara lama baik, karena
6
kita ingin lebih aman dengan cara yang pernah kita lakukan. Apabila rasa aman itu
terganggu, maka aka nada cenderungan kita untuk menarik kita dari berpartisipasi
atau kita mencari jalan lain yang berlawanan yaitu dengan cara mencari
perlindungan dalam bentuk diawasi dalam bentuk iawasi atau didominasi oleh
orang lain.
4. Kebutuhan untuk memperoleh pengalaman baru
Berlawanan dengan kebutuhan rasa aman, maka manusia sering melakukan
cara berlawanan, yaitu dengan mencari petualangan atua melakukan sesuatu yang
mengandung resiko. Manusia cenderung merasa bosan dalam terlalu banyak yang
rutin atau terlalu banyak yang rasa aman. Apabila kebutuhan untuk memperoleh
pengalaman baru dihalangi, maka dapat mengakibatkan perbuatan yang acuh,
impulsive dan tersinggung. Adanya kebutuhan untuk mencari pengalaman baru ini,
maka orang didorong untuk mencari kawan baru, minat baru, cara baru, dan gagasan
baru.
5. Kebutuhan afeksi
Setiap orang ingin disenangi walaupun untuk menuju kesana kadangkadang menunjukkan keinginan yang berlawanan. Apabila orang merasa tidak ingin
disukai, atau kebutuhan afeksinya dihalangi, maka mereka akan merespon dalam 2
bentuk perilaku yang ekstrem. Pertama, mereka menarik diri atau bersifat agresif.
Kedua, mereka akan memiliki jalan tengah yaitu dengan perilaku yang berpurapura.
6. Kebutuhan untuk memperoleh perlakuan
Setiap manusia mempunyai kebutuhan untuk dipuji dan dihormati oleh
orang lain. Keinginan ini mendorong orang untuk memperoleh kedudukan dalam
kelompok sosialnya, lembaganya dan masyarakatnya. Dengan kata lain mendorong
orang lain untuk mencari status dari perhatian orang lain. Kebutuhan untuk
memperoleh pengakuan ini apabila dihalangi, maka orang itu merasa tidak punya
harga sehingga ia menarik diri atau ia berusaha untuk memperoleh perhatian.
b. Kebutuhan Pendidikan
Kebutuhan pendidikan, di lain pihak adalah sesuatu yang harus dipelajari oleh
orang itu demi kebaikan bagi dirinya, bagi lembaganya, maupun bagi kebaikan
masyarakatnya. Kebutuhan pendidikan itu adalah merupakan kesenjangan antara
penampilan kemampuannya pada saat ini dengan penampilan kemampuan yang
diinginkannya oleh dirinya, lembaga ataupun oleh masyarakatnya.
7
c. Hakikat Minat
Minat sebagaimana dirumuskan dalam “Encyklopedia of Psychology” adalah
faktor yang ada pada diri seseorang yang menyebabkan ia tertarik atau menolak
terhadap objek orang dan kegiatan dalam lingkungannya. Tetapi dalam hubungannya
dengan apa yang telah dibicarakan terdahulu, “minat pendidikan” dapat dirumuskan
lebih khusus yaitu pilihan diantara beberapa kemungkinan kegiatan yang dipandang
akan memuaskan kebutuhan pendidikannya. Jika kebutuhan dapat diekspresikan
dengan perilaku “want” atau “desire”, maka minat dapat diekspresikan
dengan”liking” atau “preference”.
1. Minat Umum
Hakikat minat adalah adalah sangat bersifat pribadi, dan oleh karenanya
minat sangat berbeda antara orang yang satu dengan orang lainnya, bahkan minat
dalam diri seseorang berbeda dari waktu ke waktu. Tetapi beberapa upaya telah
dikembangkan untuk mengkategorisasikan minat yang akan bermanfaat untuk
tuntunan dalam menemukan minat khusus seseorang
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat
Beberapa generalisasi tentang pengaruh tingkat sosial ekonomi terhadap
minat berdasarkan hasil studi Johnstone adalah:

Makin rendah tingkat status sosial ekonomi seseorang, maka makin kurang
menekankan pentingnya akan pendidikan

Rata-rata warga masyarakat dari tingkat ekonomi yang rendah berminat
terhadap pendidikan sepanjang pendidikan itu mempunyai kegunaan praktis
terhadapnya

Walaupun pendidikan secara luas dipandang sebagai suatu saluran yang tepat
untuk mobilitas sosial, rata-rata warga masyarakat yang berasal dari status
sosial rendah kurang siap dibandingkan dengan mereka yang status sosial
ekonominya tingkat menengah untuk melanjutkan pendidikannya

Rata-rata warga masyarakat dari status sosial ekonomi rendah tidak melihat
pendidikan sebagai upaya pengembangan atau realisasi diri pribadi, dan ini
dapat dijelaskan mengapa mereka kurang siap untuk mengikuti program
pendidikan yang bertujuan rekreasi dari pada yang bertujuan keterampilan.
8
Selanjutnya perlu diketahui pula, bahwa minat untuk melanjutkan pendidikan
berbeda-beda pula karena faktor kelamin, tempat tinggal, kota atau desa, suku
bangsa dan besarnya dan jenis masyarakat.
d. Perubahan Minat dalam Daur Kehidupan
Salah satu faktor penting dalam perencanaan program yang perlu diperhatikan
adalah adanya perubahan minat dalam daur kehidupan seseorang. Walaupun jumlah
minat seseorang dalam daur kehidupannya relative konstan, tetapi isinya cenderung
berubah.
Minat terhadap keterampilan dan kehidupan keluarga cenderung di dominasi
oleh orang yang dewasa muda (18-35 tahun). Hal ini disebabkan karena mereka ingin
mencari kemapanan dalam pekerjaan dan rumah tangga. Mereka berumur dewasa tua
(35-55 tahun) cenderung mempunyai minat terhadap masalah civic, kegiatan sosial, dan
kesehatan. Sedangkan mereka yang mendekati masa tua minatnya menunjukkan pada
aspek kebudayaan termasuk agama.
e. Menilai Kebutuhan dan Minat
Ada tiga sumber kebutuhan dan minat yang harus dipertimbangkan dalam
perencanaan program-program pendidikan. Ketiga sumber tersebut berasal dari:

Individu yang akan diberi pelayanan pendidikan

Organisasi atau lembaga yang akan diberi sponsor

Masyarakat secara keseluruhan
1. Kebutuhan dan Minat Individu
Apa yang harus dipelajari seseorang dapat diperoleh dari sumbersumber seperti berikut:

Dari orang itu. untuk mengetahui kebutuhan belajar orang tersebut dapat
dilakukan dengan melalui wawancara, diskusi kelompok, ataupun
menggunakan kuesioner. Tetapi cara demikian kurang memperoleh jawaban
secara mendalam, serta jawaban yang diberikan mungkin akan dibuat-buat

Dari orang yang mempunyai “peran pembantu” orang lain.

Dari media massa

Dari buku yang bersifat professional

Dari organisasi dan survey masyarakat
2. Kebutuhan Organisasi
9
Suatu organisasi atau lembaga adalah organisasi hidup yang mempunyai
kebutuhan juga. Apabila mengambil hirarki kebutuhan yang dikemukakan
Maslow, maka organisasi itu mempunyai pula kebutuhan untuk hidup,
kebutuuhan rasa aman, kebutuhan untuk dihargai dan kebutuhan untuk
perwujudan diri. Hal tersebut sangat tergantung para personalnya untuk
memenuhi
kebutuhan
tersebut.
Dalam
setiap
kelembagaan
biasanya
memikirkan mengenai kebutuhan latihan, artinya perubahan yang harus dibuat
terhadap para pegawainya dengan menggunakan teknik-teknik pendidikan
untuk menciptakan efisiensi dan pencapaian tujuan dari lembaga itu. dalam
setiap situasi organisasi sering terjadi kebutuhan akan latihan secara berulangulang apabila:

Adanya pegawai baru

Adanya penguasaan pimpinan baru, yang ia belum kenal akan tugasnya

Cara mengerjakan suatu pekerjaan yang terdahulu telah berubah

Adanya alat-alat bantu

Tujuan dan cara kerja telah berubah
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengetahui kebutuhan
latihan adalah:

Wawancara

Angket

Laporan dan catatan manajemen

Test

Analisis masalah kelompok

Analisis pekerjaan yang dikombinasikan dengan penilaian terhadap
penampilan

Teknik insiden kritis

Panel penilaian
1.3.Kebutuhan Masyarakat
Pengertian “masyarakat” sering berbeda-beda antara ppendidik yang satu dengan
pendidik yang lainnya. Bagi lembaga internasional, pengertian masyarakat berarti
masyarakat dunia. Bagi lembaga-lembaga nasional, pengertian masyarakat adalah suatu
negara. Bagi seorang ahli tertentu, pengertian masyarakat berarti orang-orang yang
10
berkecimpung dalam bidang keahlian tertentu itu. bisa pula pengertian masyarakat itu
meliputi satu kota atau seluruh warga masyarakat. Oleh karena itu setiap pendidik
merumuskan sendiri setiap masyarakat yang akan dilayani itu dan selanjutnya
mengidentifikasi kebutuhan belajar masyarakat tersebut. Salah satu teknik untuk
mengidentifikasi kebutuhan belajar suatu masyarakat adalah dengan menggunakan
community survey. Pengertian community survey dapat meliputi dari studi yang paling
sederhana sampai dengan studi yang paling komprehensif. Ada beberapa langkah dalam
melaksanakan survey masyarakat:

Merumuskan tujuan
Setiap kelompok yang ingin melaksanakan survey masyarakat, harus tahu apa
yang penting untuk studi dari masyarakat itu. oleh karena itu, harus dirumuskan dalam
tujuan survey masyarakat.

Membentuk tim pelaksana
Walaupun studi ini sangat terbatas, maka perlu dibentuk suatu tim yang akan
merencanakan dan melaksanakan survey tersebut. Disarankan pula agar dalam tim itu
didudukan wakil-wakil yang berasal unsur-unsur masyarakat dimana data itu akan
diperoleh.

Menentukan ruang lingkup masalah yang akan disurvey.
Masyarakat bagaimanapun kecilnya adalah sangat kompleks. Oleh karena itu
tidak ada seorangpun atau kelompok yang mengharapkan dapat melakukan survey yang
lengkap mengenai masyarakat itu. suatu hal yang menjadi prioritas dalam survey suatu
masyarakat ini adalah merancang pertanyaan-pertanyaan apa yang memerlukan
jawaban. Sebab pada akhirnya, suatu studi adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Langkah pertama dalam survey adalah tim harus memikirkan pertanyaan apa yang
mungkin berguna untuk mendapatkan jawaban, yang selanjutnya disusun dalam suatu
urutan.

Merekrut dan melatih tenaga sukarela
Tergantung pada ruang lingkup masalah yang akan di studi, maka mungkin
studi itu memerlukan beberapa tenanga sukarela. Dalam kenyataannya, ada korelasi
langsung antara tenaga sukarela dalam suatu survey masyarakat dengan nilai hasil
survey itu.

Mengidentifikasi sumber yang diperlukan sumber informasi yang diperlukan dalam
suatu survey masyarakat dapat diperoleh dari :
11
1. Bahan-bahan cetak, seperti laporan (pemerintahan setempat, sensus, organisasi,
buku petunjuk, laporan survey dan sejenisnya)
2. Petugas suatu lembaga, seperti petugas pemerintah, tenaga sukarela, petugas media
massa atau anggota dari suatu organisasi.
3. Orang-orang kunci seperti pimpinan-pimpinan masyarakat, petugas humas,
pendidik, penyunting surat kabar.
4. Warga masyarakat umum, yaitu anggota warga suatu masyarakat.

Mengumpulkan informasi
Barangkali prosedur yang paling efisien dalam mengumpulkan informasi yang
diperlukan adalah mengorganisir tim-tim khusus yang sesuai ruang lingkup survey itu.

Mengorganisisr informasi
Data-data dan informasi yang dikumpulkan harus diorganisir guna dianalisis
dan ditafsirkan. Penafsiran informasi biasanya dilakukan oleh suatu kelompok. Datadata yang dikumpulkan harus segera dipadukan untuk klasifikasi. Beberapa saran untuk
pengorganisasian data itu, dapat dilakukan menggunakan tabel, disusun secara naratif,
peta, bagan, foto dan sejenisnya. Bahan-bahan yang telah disusun/diorganisir ini
apabila untuk dipresentasikan bagi public seyoginya disusun dalam bentuk yang
ringkas, dibandingkan apabila akan dipresentasikan kepada penyelenggara studi.

Menafsirkan informasi
Apabila informasi telah disusun, anda harus menyadari bahwa informasi itu
belum merumuskan kebutuhan pendidikan untuk masyarakat. Suatu proses lagi masih
diperlukan untuk menafsikan informasi tersebut.
1.4.Teknik Pembelajaran Orang Dewasa
Dalam pembelajaran orang dewasa mengacu pada karakteristik yang melekat
sebagai pelajar. Berbagai model pembelajaran yang sesuai untuk digunakan, diantaranya
model pembelejaran: dalam pembelajaran orang dewasa banyak metode yang diterapkan.
Untuk keberhasilan pembelajaran semacam ini, apa pun metode yang diterapkan
seharusnya mempertimbangkan faktor sarana dan prasarana yang tersedia untuk mencapai
tujuan akhir pembelajaran, yaitu agar peserta didik dapat memiliki suatu pengalaman
belajar yang bermutu. Merupakan suatu kekeliruhan besar jika dalam hal ini, pembimbing
secara kurang wajar menetapkan pemanfaatan metode hanya karena faktor pertimbangan
sendiri, yaitu menggunakan metode yang dianggapnya paling mudah, atau hanya
12
disebabkan oleh keinganannya agar dikagumi oleh peserta dikelas itu, ataupun mungkin
ada kecenderungan hanya menguasai satu metode tertentu saja (Supriadi, 2006).
Proses pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan transfer pengetahuan
baru, pengalaman baru, dan keterampilan baru sehingga dapat mendorong masing-masing
individu dewasa guna meraih semaksimal mungkin ilmu pengetahuan yang diinginkan, apa
yang menjadi kebutuhannya, serta keterampilan yang diperluhkan. Contoh: belajar dengan
menggunakan program computer yang dibutuhkan ditempat bekerja.
Agar dapat memberikan pengajaran yang optimal, maka kita perlu memahami
karakter dari peserta didik dewasa seperti yang dijelaskan dibawah ini:

Orang dewasa mempunyai pengalaman yang berbeda-beda

Orang dewasa lebih suka menerima saran daripada digurui

Orang dewasa lebih memberikan perhatian pada hal-hal yang menarik perhatian pada
hal-hal yang menarik bagi mereka dan menjadi kebutuhannya

Orang dewasa lebih suka dihargai daripada diberi hukuman atau disalahkan

Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecenderungan
untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya

Apa yang bisa dilakukan orang dewasa menunjukkan tahap pemahamannya

Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama

Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan itikad yang baik, adil, dan
masuk akal

Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya, oleh karena
itu, mereka lebih cenderung tidak mau bergantung pada orang lain.

Orang dewasa menyukai hal-hal yang praktis

Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalin
hubungan dekat dengan teman baru
BAB II
MODEL PEMBELAJARAN ORANG DEWASA
13
2.1.Model pembelajaran dari pengalaman berstruktur dan analisis peranan
Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan partisipatori andragogi melalui
daur.
pengalaman struktur. Model pembelajaran ini merupakan proses membantu belajar
orang dewasa secara analisis dan partisipasif melalui tahap-tahap:

Pengenalan dan penghayatan terhadap masalah dan kebutuhan peningkatan mutu
program dan kemampuan petugas menurut pandangan peserta.

Pengungkapan masalah/kebutuhan peningkatan mutu program dan kemampuan
petugas menurut pandangan peserta.

Pengolahan masalah dan kebutuhan peningkatan mutu program dan kemampuan
petugas oleh peserta bersama fasilitator atau narasumber.

Penyimpulan cara pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan penigkatan mutu
program dan kemampuan petugas oleh peserta bersama fasilitator.

Penyerapan dan penerapan cara-cara meningkatan mutu program dan kemampuan
petugas dalam penyelenggaraan program.
Merujuk pada model pembelajaran daur pengalaman berstruktur untuk analisis
peran peserta dapat menggunakan metode ATMAP (Arah, Terapan, Masalah, dan Peran).
Pembelajaran dengan metode ATMAP adalah upaya peningkatan kemampuan analisis dan
sekaligus penghayatan peserta terhadap perannya dalam menyelenggarakan program dalam
masyarakat. Aplikasi metode ATMAP dalam daur pengalaman berstruktur adalah sebagai
berikut:
a) Arah program dan arah tugas
Arah program berkenaan antara lain tujuan kegiatan, cara pelaksanaan dan cara
penilaian dari program yang diselenggarakan pada masyarakat. Arah tugas peserta
berkenaan tugas pokok, rincian kegiatannya dan proses pelaksanaannya. Metode
pembelajaran ini antara lain sajian arah, telaah kaus, curah pendapat, ceramah, tanya
jawab, dan metode lain yang sesuai.
b) Terapan program dan tugas
Terapan program dan terapan tugas dikaitkan dengan situasi dan kondisi
wilayah, tempat serta fasilitas pendukungnya. Metode pembelajaran untuk ini antara
lain menggunakan curah pendapat, diskusi, telaah terapan, kerja kelompok dan metode
lain yang sesuai.
c) Masalah terapan program dan terapan tugas
14
Masalah terapann tugas adalah masalah-masalah yang muncul atau yang
diperkirakan akan muncul baik internal maupun eksternal. Masalah terapan tugas
arrtinya masalah kemampuan petugas dalam melaksanakan tugasnya yang berkaitan
dengan terapan program baik yang muncul atau yang diperkirakan akan muncul
(internal maupun eksternal). Metode pembelajaran ini antara lain curah pendapat, telaah
kasus, diskusi kelompok, telaah banding, telaah lapangan, kerja kelompok dan metode
lain yang sesuai.
d) Alternative pemecahan masalah terapan program dan terapan tugas
Alternatif pemecahan masalah terapan program artinya gagasan-gagasan cara
pemecahan maslaah yang telah dianalisis baik untuk sekarang ataupun yang akan
datang terutama terhadap masalah internal. Alternative pemecahan masalah terapan
tugas artinya gagasa-gagasan cara peningkatan kemampuan petugas sesuai dengan
tuntutan terapan program aik untuk sekarang maupun untuk yang akan datang terutama
yang bersifat internal. Metode pembelajaran untuk ini adalah telaah kasus, diskusi,
telaah banding, kerja kelompok dan metode lain yang sesuai.
e) Peran petugas
Peran petugas artinya peran dan kemampuannya melaksanakan program serta
pemecahan masalahnya, untuk sekarang maupun yang akan datang. Metode
pembelajaran untuk itu harus ditekankan kepada belajar, praktek dan bekerja melalui
metode diskusi, kerja kelompok atau individu, simulasi, bermain peran dan metode lain
yang sesuai.
2.2.Model Pembelajaran latihan penyelidikan (Inguiry Training Model)
latihan penyelidikan sebagai salah satu model pembelajaran meliputi lima fase
yaitu:

Menghadapkan peserta belajar untuuk berkonfrontasi dengan situasi teka-teki

Fase operasional pengumpulan data untuk verifikasi, meminta peserta belajar
menanyakan serangakaian pertanyaan untuk di jawab oleh fasilitator dengan “ya” atau
“tidak” dan menyelenggarakan serangkaian eskperimen mengenai lingkungan situasi
masalah.

Operasi pengumpulan data untuk eskperimentasi

Peserta belajar menyadap informasi dari pemgumpulan data mereka dan menjelaskan
masalah sebaik mungkin.
15

Fasilitator dan peserta belajar bekerja sama menganalisis strategi satu sama lain.
Tekanan disini ialah pada membantu peserta belajar lebih terarah dalam mengajukan
pertanyaan dan mengikuti rencana: pengadaan fakta, menentukan apa yang relevan,
menyikapi konsep penjelasan atau hubungan.
2.3.Model Pembelajaran advance organizer
Advance organizer ialah materi pengenalan yang disajikan lebih dahulu dari tugas
pembelajaran yang tingkat abstraksinya lebih tinggi di bandingkan dengan tugas
pembelajaran itu sendiri, tujuannya ialah untuk menjelaskan, mengintegrasikan, dan
mengubungkan materi dalam tugas pemebalajaran dengan materi yang telah pelajari lebih
dahulu, disamping juga untuk membantu peserta belajar membedakan materi baru dari
materi pembelajaran yang telah diberikan, organisasi yang paling efektif adalah materi
yang menggunakan konsep,istilah dan dalil yang telah dikenal oleh warga belajar termasuk
juga ilustrasi dan analogi.
Bahan pembelajaran dapat berupa artikel dalam koran atau majalah dan jurnal,
ceramah bahkan dapat juga film. Tugas pembelajaran bagi peserta belajar ialah untuk
mengahayati informasi, untuk mengingat gagasan sentral dan mungkin juga fakta kunci.
Sebelum memperkenalkan materi pembelajaran kepada peserta belajar hendaknya
fasilitator menyiapkan materi perkenalan dalam bentuk Advance organizer berupa
lampiran yang dapat digunakan untuk mengaitkan data baru yang relevan.
Advance organizer pada umumnya didasarkan pada konsep dan hukum/aturan suatu
disiplin. Sebagai contoh suatu pelajaran atau uraian mengenai sistem kasta di india dapat
di dahului dengan organizer yang didasarkan pada konsep stratifikasi sosial. Biasanya
organizer di kaitkan dengan materi bersifat aktual atau kurang abstrak dibandingkan
dengan yang mendahului. Organizer timbul dari hubungan dapat juga digunkan secara
kreatif untuk menyiapkan perspektif baru. Pembelajaran model Advance Organizer dapat
diterapkan melalui beberapa fase yaitu:

Penyajian Advance Organizer meliputi kegiatan: menjelaskan tujuan satuan pelajaran,
menyajikan organizer, mendorong timbulnya kesadaran akan pengetahuan dan
pengalaman yang relevan dengan latar belakang peserta belajar.

Penyajian materi tugas pembelajaran, menyusun urutan logis materi pelajaran bagi
warga belajar, membina perhatian warga belajar, menyiapkan bahan organiser yang
bersifat eksplisit.
16

Memperkuat organisasi kognitif: menggunakan prinsip-prinsip rekonsiliasi secara
terintegerasi, mengintegrasikan pembelajaran penerimaan aktif, memperoleh pedekatan
kritis pengetahuan yang di pelajari.
2.4.Model pembelajaran pemeroleh konsep pembelajaran model
Pemerolehan model pemerolehan konsep mencakup penganalisisan proses
berfikir dan diskusi mengenai atribut perolehan konsep. Selanjutnya terhadap variasi pada
model dasara yang melibatkan lebih banyak peserta belajar berpartisipasi dan
mengendalikan diskusi serta lebih banyak materi yang kompleks.kelaziman di antara
materi ini merupakan aplikasi dari teori tentang konsep. Inilag yang membedakan antara
model perolehan konsep yang asli dengan perlombaan menebak. Model ini mengandung
nilai aplikasi yang penting dan langsung kepada pembelajaran sebagai berikut:

Dengan memahamu hakikat dari konsep dan kegiatan yang bersifat konseptual
fasilitator dapat menetapkan secara lebih baik apabila peserta belajar memperoleh
pengertian suatu konsep.

Fasilitator dapat mengenal strategi pengkategorisasian yang digunakan warga belajar
dan membantu mereka menggunkan secara lebih efektif.

Fasilitator dapat memperbaiki kualitas pembelajaran untuk mempelajari konsep dengan
menggunakan model pembelajaran tentang hakikat proses perolehan konsep.
Salah satu prinsip belajar orang dewasa
adalah belajar karena adanya suatu
kebutuhan. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya
(partisipasinya) dalam aktivitas sosial dari setiap individu yang bersangkutan. Seperti yang
terlihat dari piramida kebutuhannya teori Maslow tentang
sebagai berikut. Piramida
Kebutuhan menurut Teori Maslow kebutuhan yang paling dasar adalah kebutuhan fisik
atau sandang / pangan. Sebelum seseorang merasakan kebutuhan fisik berupa sandang,
pangan, dan papan, maka setiap individu belum membutuhkan atau merasakan apa yang
dinamakan sebagai harga diri.
Piramida Kebutuhan menurut Teori Maslow
17
Setelah kebutuhan dasar itu terpenuhi, maka seseorang perlu rasa aman jauh dari
rasa takut, kecemasan, dan kekhawatiran. Apabila rasa aman telah terpenuhi, maka setiap
individu butuh penghargaan terhadap hak azasi dirinya yang diakui oleh setiap individu di
luar dirinya. Jika kesemuanya itu terpenuhi barulah individu itu merasakan mempunyai
harga diri. Dalam kaitan ini, tentunya pendidikan orang dewasa yang memiliki harga diri
dan jati dirinya membutuhkan pengakuan, dan itu akan sangat berpengaruh dalam proses
belajarnya. Secara psikologis, dengan mengetahui kebutuhan orang dewasa sebagai peserta
kegiatan pelatihan, maka akan dapat dengan mudah dan dapat ditentukan kondisi belajar
yang harus diciptakan, isi materi apa yang harus diberikan, strategi, teknik serta metode
apa yang cocok digunakan. Yang terpenting dalam pendidikan orang dewasa adalah: Apa
yang dipelajari peserta, bukan apa yang diajarkan pengajar. Artinya, hasil akhir nya adalah
apa yang diperoleh orang dewasa dari suatu pelatihan, bukan apa yang dilakukan pengajar
atau pelatih dalam pelatihan itu.
BAB III
Metode-Metode Dalam Analisa Kebutuhan
18
3.1.Metode dalam analisa kebutuhan
Analisis kebutuhan adalah salah satu langkah pertama dalam menetapkan tujuan
program atau mengembangkan rencana strategis, dan proses analisis kebutuhan akan
mudah bagi para pembaca. Sebuah analisis kebutuhan di definisikan sebagai evaluasi
lingkungan (Szuba et. Al. 2005).
Menurut jurnal dari Erin N, (2016: 3) tujuan dari analisis kebutuhan ada dua:
(1) Untuk memastikan kemampuan yang ada dan untuk menentukan kesenjangan yang ada,
jika ada antara kondisi saat ini dan kondisi akhir yang diinginkan,
(2) Kajian tentang analisis kebutuhan lebih dari sekedar mengidentifikasi kesenjangan,
namun proses juga berfungsi untuk memberikan arahan untuk program, proyek, dan
kegiatan.
1. Sampling
Van Dalen D (1978:78) menyatakan bahwa banyak masalah dalam penelitian
ilmiah yang tidak dapat diselesaikan tanpa menggunakan alat sampling. Karena
sebagian fenomena pendidikan terdiri dari sejumlah besar unit, peneliti tidak bisa selalu
mewawancarai, tes atau mengamati setiap unit dalam kondisi yang terkendali. Alat
sampling pemecahan dilemma ini, karena mereka membantu para peneliti memilih
untuk wakil dari populasi.
Sugiyono (2010:118) bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sejalan dengan pernyataan Ary, Jacobs, &
Sorensen (2010) dalam Punaji (2013: 196) yang menyatakan bahwa sampel dalam
penelitian adalah kelompok dimana informasi diperoleh.
2. Wawancara
Blaxter L, Hughes C, & Tight M (2001:259) berpendapat bahwa metode
wawancara yang melibatkan pengajuan pertanyaan atau pembahasan hal-hal dengan
orang-orang .metode ini dapat menjadi teknik yang bermanfaat dalam mengumpulkan
data yang tidak dapat diakses dengan menggunakan teknik-teknik observasi atau
kuisioner. Hal senada juga diungkapkan oleh Sugiyono (2013:194) wawancara
digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila penelti ingin melakukan studi
pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila
peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah
respondennya sedikit/kecil.
3. Kuisioner (Angket)
19
Angket atau kuisioner menurut Sugiyono (2010:199) merupakan teknik
pengumpulan datayang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau
pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Banyak peneliti yang
menggunakan angket sebagai salah satu metode pengumpulan data dikarenakan angket
mempunyai banyak kebaikan sebagai metode pengumpulan data. Sebuah penelitian
akan memiliki angket atau kuisioner yang baik, apabila cara dan pengadaan angket
atau kuisioner mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam penelitian.
4. Observasi
Nasution (1998) dalam Sugiono menyatakan bahwa, observasi adalah dasar dari
semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta
mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan
sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang
sangat kecil dapat diobservasi dengan jelas.
Winarno (2011:146) menjelaskan dalam menggunakan metode observasi cara
yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format dan blangko pengamatan
sebagai instrument. Selanjutnya, Sprandley dalam Susan Stainhack (1988) membagi
observasi berpartisipasi menjadi empat, yaitu passive participation, dan complete
participation. Untuk memudahkan pemahaman tentang bermacam-macam observasi,
maka dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Macam-Macam Observasi
a. Observasi partisipatif
Menurut Sugiono (2012 : 227) bahwa peneliti terlihat dengan kegiatan
sehari-hari yang sedang diamati atau digunakan sebagai sumber data penelitian.
b. Observasi non partisipasif
Menurut Sugiyono (2012 : 228) dalam observasi non partisipasif peneliti
tidak terlihat dan hanya sebagai pengamat independen.
2. Objek Observasi
Objek penelitian yang diobservasi menurut Sprandley dalam Sugiyono
(2012 : 229) dinamakan situasi social, yang terdiri dari tiga komponen, yaitu : 1)
tempat dimana interaksi dalam situasi social sedang berlangsung, 2) pelaku atau
orang-orang yang sedang memainkan peran tertentu, 3) aktivitas atau kegiatan yang
dilakukan dalam situasi social yang sedang berlangsung.
Selanjutnya Sugiyono (2012 : 229) memperluas tiga elemen utama tersebut
menjadi: 1)Tempat: ruang dalam aspek fisiknya, 2)Pelaku: semua orang yang
20
terlihat dalam situasi, 3)Aktivitas: seperangkat kegiatan yang dilakukan, 4)Objek:
benda-benda yang terdapat di tempat itu, 5)Perbuatan: pwebuatan atau tindakan
tertentu, 6)Rangkaian aktivitas yang dikerjakan orang-orang, 7)Waktu: urutan
kegiatan, 8)Tujuan: tujuan yang ingin dicapai, 9)Emosi yang dirasakan dan
diekspresikan orang-orang.
3. Tahapan Observasi
Sprandley dalam Sugiyono (2012 : 230) juga menjelaskan tentang tahapan
observasi yang terdapat tiga, yaitu:
a. Observasi Deskriptif
Observasi ini dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi social
tertentu sebagai suatu objek penelitian. Pada tahap ini peneliti belum membawa
masalah yang akan diteliti, maka peeliti melakukan penjelajah umum, dan
menyeluruh, mekakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat, didengar, dan
dirasakan. Oleh karena itu hasil observasi ini disimpulkan dalam keadaan yang
belum tertera. Bservasi pada tahap ini sering disebut sebagai grand tour
observation, dan peneliti menghasilkan kesimpulan pertama. Bila dilihat dari
segi analisis maka peneliti melakukan analisis domain, sehingga mampu
mendeskripsikan terhadap semua yang ditemui.
b. Observasi Terfokus
Tahap ini peneliti sdah melakukan mini tour observation, yaitu suatu
observasi yang telah dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu.
Observasi ini juga dinamakan observasi terfokus, karena pada tahap ini peneliti
melakukan taksonomi sehingga menemukan fokus, namun masih berlum
terstruktur.
c. Observasi terseleksi
Tahap observasi ini peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan
sehingga datanya lebih rinci. Dengan melakukan analisis komponensial
terhadap fokus, maka pada tahap ini peneliti menemukan perbedaan dan
kesamaan antar kategori, serta menemukan hubungan antara kategori satu
dengan yang lain. Pada tahap ini diharapkan peneliti telah dapat menemukan
pemahaman yang lebih mendalam atau hipotesis.
21
22
BAB IV
Strategi Pembelajaran Orang Dewasa (Andragogi)
4.1.Strategi pembelajaran orang dewasa
Dalam kegiatan pembelajaran, pendidik dituntut memiliki kemampuan memilih
pendekatan pembelajaran yang tepat. Kemampuan tersebut sebagai sarana serta usaha
dalam memilih dan menentukan pendekatan pembelajaran
untuk menyajikan materi
pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan program pembelajaran. Untuk menentukan atau
memilih pendekatan pembelajaran, hendaknya berangkat dari perumusan tujuan yang
jelas. Setelah tujuan pembelajaran ditentukan, kemudian memilih pendekatan pembelajaran
yang dipandang efisien dan efektif. Pemilihan pendekatan pembelajaran ini hendaknya
memenuhi kriteria efisien dan efektif. Suatu pendekatan pembelajaran dikatakan efektif
dan efisien apabila startegi tersebut dapat mencapai tujuan dengan waktu yang lebih singkat
dari pendekatan yang lain. Kriteria lain yang perlu diperhatikan dalam memilih pendekatan
pembelajaran adalah tingkat keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Strategi
pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih pendidik dalam proses pembelajaran yang
dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada peserta didik menuju tercapainya
tujuan yang telah ditetapkan. Strategi pembelajaran terdiri atas dua kata, strategi dan
pembelajaran. Istilah strategi (strategy) berasal dari kata kerja dalam bahasa Yunani ,
“stratego” yang berarti merencanakan (to plan). Strategi adalah suatu pola yang
direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan.
Strategi mencakup tujuan kegiatan yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses
kegiatan dan sarana penunjang kegiatan. Strategi
yang diterapkan dalam kegiatan
pembelajaran disebut strategi pembelajaran. Pembelajaran adalah upaya sistematis dalam
membantu warga belajar dalam mengembangkan potensinya secara optimal melalui
kegiatan belajar. Strategi pembelajaran mencakup penggunaan pendekatan, metode dan
teknik, bentuk media, sumber belajar, peserta didik, untuk mewujudkan interaksi edukasi
antara pendidik dengan peserta didik dengan lingkungann.Tujuan strategi pembelajaran
adalah untuk mewujudkan efisiensi, efektivutas dan produktifitas kegiatan pembelajaran.
Isi kegiatan pembelajaran adalah bahan/materi pembelajaran yang bersumber dari
kurikulum yang telah disusun dalam program pembelajaran.
Proses kegiatan pembelajaran merupakan langkah-langkah atau tahapan yang harus
dilalui oleh pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran. Sumber pendukung kegiatan
pembelajaran mencakup fasilitas dan alat-alat bantu pembelajaran (Sudjana, 2005)
23
Menurut Dick dan Carey (1990 : 1) strategi pembelajaran adalah suatu pendekatan dalam
mengelola secara sistematis kegiatan pembelajaran sehingga warga belajar dapat mencapai
isi pelajaran atau mencapai tujuan seperti yang diharapkan. Lebih lanjut Dick dan Carey
(1990: 1) menyebutkan lima komponen umum dari strategi instruksional sebagai berikut:
1) kegiatan pra instruksional, 2) penyajian informasi, 3) partisipasi peserta didik, 4) tes,
dan 5) tindak lanjut. Gagne dan Briggs dalam Atwi Suparman (1996: 156) mengemukakan
sembilan urutan kegiatan instruksional, yaitu: 1) memberikan motivasi atau menarik
perhatian, 2) menjelaskan tujuan instruksional kepada peserta didik, 3) mengingatkan
kompetensi prasyarat, 4) memberi stimulus (masalah, topik, dan konsep), 5) memberikan
petunjuk belajar, 6) menentukkan penampilan peserta didik, 7) memberi umpan balik, 8)
menilai penampilan, 9) menyimpulkan. Strategi pembelajaran orang dewasa pada
pendidikan keaksaraan fungsional terdiri dari lima langkah kegiatan, yaitu menulis,
membaca, berhitung, diskusi dan aksi/penerapan. Langkah-langkah tersebut, bukan berarti
langkah yang baku/kaku atau harus berurutan. Tetapi bisa saja dilakukan secara acak,
misalnya dimulai dari diskusi, kemudian belajar membaca, menulis dan seterusnya. Hal ini
tergantung dari situasi dan kondisi serta kesepakatan di dalam kelompok belajar. Namun
demikian, kebiasaan yang ditemui adalah melalui diskusi terlebih dahulu baru dilanjutkan
dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Bisa juga dimulai dari masalah yang ditemui (aksi)
peserta didik, kemudian didiskusikan di kelompok belajar, menulis, membaca dan
seterusnya. Keefektifan kegiatan belajar, sangat bergantung pada kemampuan tutor dalam
mengarahkan, dan membimbing peserta didik di dalam kegiatan belajarnya. Pengalaman
juga menunjukkan bahwa, kegiatan menulis perlu didahulukan dan pada kegiatan
membaca. Karena melalui kegiatan belajar menulis, peserta didik sedikit demi sedikit
langsung belajar membaca. Sebaliknya apabila peserta didik didahulukan belajar membaca,
maka cenderung kurang terampil dalam hal menulis.
Kegiatan
pembelajaran
partisipatif
sebagai
upaya
pembelajaran
yang
mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Sudjana (2005:155)
keikutsertaan peserta didik diwujudkan dalam tiga tahapan kegiatan pembelajaran, yaitu:
perencanaan program pembelajaran,
pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian
pembelajaran. Partisipasi dalam perencanaan merupakan bentuk keterlibatan peserta didik
dalam kegiatan mengidentifikasi
kebutuhan belajar, permasalahan dan menentukan
prioritas masalah, sumber-sumber atau potensi yang tersedia,. Hasil dari identifikasi
digunakan sebagai dasar dalam menentukan tujuan pembelajaran.dan penetapan program
kegiatan pembelajaran. Partisipasi dalam pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik
24
dalam menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Iklim belajar yang kondusif
ditandai dengan 1) kedisiplinan peserta didik, 2) terjadi hubungan antar peserta didik dan
antara peserta didik dengan pendidik yang akrab, terbuka, terarah, saling menghargai,
saling membantu dan saling belajar, 3) Interaksi pembelajar yang sejajar. Kegiatan
pembelajaran lebih ditekankan pada peran peserta didik (student centered). Peserta didik
diberikan kesempatan secara luas dalam kegiatan pembelajaran, peran pendidik membantu
peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Banyak pendekatan pembelajaran
yang dapat diterapkan dalam menciptakan iklim pembelajaran kondusif, misalnya:
pendekatan
tematik,
descoveri-inkuiri,
kontektual,
cooperative
learning,
konstruktrukvistik, meaningfull learning, dsb. Adapun metode pembelajaran yang
diterapkan, misalnya; metode diskusi, tanya jawab, problem solving, discovery-inkuiri,
simulasi, brainstorming, role playing, games, siklus belajar berbasis pengalaman,
demonstrasi, kooperatif, dan sebagainya.
Partisipasi dalam evaluasi pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam
menghimpun informasi mengenai pengelolaan pembelajaran dan perubahan yang dirasakan
selama mengikuti proses pembelajaran. Dalam partisipasi evaluasi pembelajaran ini,
pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memberikan penilaian pada
seluruh komponen pembelajaran (refeksi pembelajaran) dan suasana diri (moood meter)
dalam mengikuti pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan pendidik dalam
menerapkan strategi pembelajaran partisipatif adalah: 1) melakukan asesment kebutuhan
belajar, merumuskan tujuan, mengidentifikasi hambatan, dan menetapkan prioritas yang
akan digunakan untuk mengelola kegiatan pembelajaran. 2) Memilih tema/pokok bahasan
dan/atau tugas yang harus dilakukan dalam pembelajaran dan menentuka indicator
pencapaian tujuan pembelajaran. 3) Mengenai dan mengkaji karakteristik peserta didik
sebagai bahan masukan dalam menyusun rencana pembelajaran 4) Mengidentifikasi
isi/materi atau bahan pelajaran/rincian tugas pembelajaran 5) Merumuskan tujuan
pembelajaran 6) Merancang kegiatan pembelajaran, dengan memilih metode, media
pembelajaran yang digunakan secara tepat dan pengelolaan waktu. 7) Memilih fasilitas
pembelajaran
Mempersiapkan
dan sumber bahan yang mendukung proses pembelajaran. 8)
sistem evaluasi proses dan hasil kegiatan pembelajaran. 9)
Mempersiapkan tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Menurut Tom
Nesbit, Linda Leach & Griff Foley (2004) bahwa ada enam prinsip dalam praktek
pembelajaran orang dewasa agar dapat diterapkan secara efektif, yaitu: 1) adanya
partisipasi secara sukarela, 2) adanya perasaan respek secara timbal balik, 3) Adanya
25
semangat berkolaborasi dan kooperasi, 4) adanya aksi dan refleksi, 5) tersedianya
kesempatan refleksi kritis dan 6) adanya iklim pembelajaran yang kondusif untuk belajar
secara mandiri. Prinsip tersebut sangat berkaitan dengan karakteristik orang dewasa yang
telah memiliki konsep diri dan pengalaman yang cukup banyak. Konsep diri orang dewasa
telah mandiri dan bergantung sepenuhnya kepada orang lain dalam menentukan pilihan
atau keputusan pemecahan masalah. Pengalaman merupakan pembelajaran yang sangat
berharga bagi orang dewasa. Setiap peserta memiliki pengalaman yang bervariasi, tingkat
pendidikan, kematangan dan lingkungan yang berbeda pula. Untuk itu pembelajaran
hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) peserta sebagai sumber belajar, oleh
karena itu teknik pembelajaran yang diterapkan diorientasikan pada upaya penyerapan
pengalaman mereka melalui; diskusi kelompok, curah pendapat, bermain peran, simulasi,
curah pendapat, demonstrasi, fokus broup discussion. 2) penekanan pada aplikasi praktis,
pengetahuan baru, konsep-konsep, dan pengalaman baru dapat dijelaskan melalui
pengalaman praktis yang pernah dialami peserta didik. Hasil dari pembelajaran dapat
dimanfaatkan secara langsung dalam kehidupannya. 3) materi pembelajaran dirancang
berdasarkan pengalaman dan kondisi peserta didik
26
BAB V
Kebutuhan Dalam Andragogi Pada Pembelajaran Orang Dewasa
5.1.Pengertian Analisis Kebutuhan Pelatihan
Analisis Kebutuhan Pelatihan menurut Rosset dan Arwady menyebutkan bahwa
Training Needs Assessment (TNA) adalah suatu istilah yang dipergunakan dalam analisis
untuk memahami permasalahan kinerja atau permasalahan yang berkaitan dengan
penerapan teknologi baru. Menurut Rossett and Sheldon “Training Needs Assessment is the
study done in order to design and develop appropriate instructional and informational
programs and material.” Studi yang dilakukan untuk merancang dan mengembangkan
program pembelajaran dan berbasis informasi yang tepat.
Allison Rossett menuliskan bahwa Training Needs Assessment merupakan sebuah
umbrella term dari beberapa istilah seperti problem analysis, pre-training analysis, frontend analysis, discrepancy analysis digunakan untuk menganalisis, memeriksa dan
memahami kinerja organisasi. Allison Rossett menuliskan bahwa TNA adalah studi yang
digunakan agar pelaksana mengambil keputusan yang tepat dan memberikan rekomendasi
mengenai langkah apa yang seharusnya ditempuh dalam menyelesaikan permasalahan
kinerja organisasi terkait pelatihan dan pengembangan SDM dengan mengumpulkan
informasi berupa data, opini dari berbagai sumber.
TNA adalah suatu langkah yang dilakukan sebelum melakukan pelatihan dan
merupakan bagian terpadu dalam merancang pelatihan untuk memperoleh gambaran
komprehensif tentang materi, alokasi waktu tiap materi, dan strategi pembelajaran yang
sebaiknya diterapkan dalam penyelenggaraan pelatihan agar pelatihan bermanfaat bagi
peserta pelatihan. Dari analisis tersebut dapat ditentukan kebutuhan dan tujuan organisasi
apa yang ingin dicapai dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan dan tujuan organisasi.
TNA dapat didefinisikan untuk menentukan kesenjangan antara apa yang harus mampu
dilakukan oleh karyawan dan apa yang dapat ia lakukan pada saat itu.
Pada Training Needs Assessment (TNA) / Analysys terdapat 5 Prinsip 5W 1H,
yaitu:
 Who
: Siapa orang yang akan diberikan pelatihan?
 Why
: Kenapa pelatihan diperlukan?
 When : Waktunya pelatihan?
 Where : Dimana pelatihannya diberikan?
 What : Jenis pelatihan diberikan?
27
 How
: Bagaimana cara memberikan pelatihannya?
5.2.Tujuan Analisis Kebutuhan Pelatihan (TNA)
Adapun beberapa tujuan dari diadakannya kegiatan training need assessment
(TNA) adalah
1. Memastikan bahwa pelatihan memang merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki
atau meningkatkan kinerja pegawai dan produktivitas organisasi.
2. Memastikan bahwa para peserta pelatihan benar-benar orang yang tepat untuk
mengikuti pelatihan.
3. Memastikan bahwa kompetensi yang diajarkan selama pelatihan benar-benar sesuai
dengan elemen-elemen kerja yang dituntut dalam suatu jabatan tertentu.
4. Mengidentifikasi bahwa jenis pelatihan dan metode yang dipilih sesuai dengan materi
pelatihan.
5. Memastikan bahwa penurunan kinerja atau masalah sejenis memang disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap kerja, bukan oleh alasan-alasan
lain yang tidak bisa diselesaikan melalui pelatihan.
5.3.Manfaat Analisis Kebutuhan Pelatihan (TNA)
Adapun beberapa manfaat yang dapat diambil dari kegiatan training need
assessment (TNA) yaitu
a. Manfaat langsung
1. Menghasilkan program pelatihan yang disusun sesuai dengan kebutuhan organisasi,
jabatan dan individu.
2. Sebagai dasar penyusunan program pelatihan yang tepat.
b. Manfaat tidak langsung
1. Menjaga produktivitas kerja.
2. Meningkatkan produktivitas dalam menghadapi tugas baru.
3. Efisiensi biaya organisasi
5.4.Tingkatan dalam Analisis Kebutuhan Pelatihan (TNA)
Menurut Coetzee (2006), penilaian kebutuhan dapat dilakukan pada tingkat yang
berbeda, seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini:
28
No
Level (Tingkatan)
1
Macro level
Tipe analisis
Sectoral
deskripsi
analysis Mengidentifikasi
(analisis sektoral)
dan
menilai
kekurangan terkait keterampilan
pada sebuah sektor
2
Meso level
Organizational
analysis
Memeriksa berbagai tujuan dan
(analisis masalah
organisasi)
menentukan
perusahaan
dimana
untuk
pelatihan
diperlukan
3
Micro level
Task (job) analysis Memeriksa
pengetahuan,
(analisis
keterampilan, sikap dan perilaku
tugas/pekerjaan)
karyawan
lainnya
untuk
menentukan tugas apa yang harus
dilakukan
karyawan
untuk
mencapai keberhasilan.
Person
analysis Perilaku
(analisis individu)
karyawan
dalam
organisasi
5.5.Tahap Analisis kebutuhan pelatihan (TNA)
Adapun beberapa tahap dari Training need assessment (TNA) yaitu sebagai berikut
1. Organizational Assessment (Penilaian Organisasi)
Penilaian organisasi mengevaluasi kinerja organisasi secara keseluruhan.
Sebuah penilaian atau analisis pada tipe ini menentukan skill, knowledge, and abilities
seperti apa yang dibutuhkan organisasi sehingga menentukan apa yang diperlukan
dalam mengatasi masalah dan kelemahan yang ada pada organisasi agar meningkatkan
kompetensi yang dimiliki oleh organisasi tersebut. Penilaian pada level organisasi
secara internal dapat dilakukan dengan cara mengadakan survei sikap karyawan
terhadap kepuasan kerja, persepsi karyawan, dan sikap karyawan dalam administrasi.
Di samping itu, analisis organisasi dapat menggunakan turn over, absensi, kartu
pelatihan, daftar kemajuan karyawan, dan data perencanaan karyawan. Penilaian
organisasi mempertimbangkan faktor eksternal seperti perubahan demografi, faktor
politik, teknologi, dan ekonomi.
2. Task Analysis (Analisis Tugas)
29
Analisis tugas mengidentifikasi pelatihan apa saja yang harus diberikan kepada
karyawan terkait dengan pekerjaannya dan membantu memastikan bahwa pelatihan
yang dikembangkan relevan dengan content pekerjaan. Tujuan analisis ini adalah
mengetahui tentang tugas yang harus dilakukan karyawan, penentuan standar kinerja
untuk suatu pekerjaan, penentuan pengetahuan, kemampuan dan perilaku yang
diperlukan dalam suatu pekerjaan.
3. Individual Assessment (Penilaian Individu)
Penilaian individu menganalisis bagaimana seorang karyawan dapat melakukan
pekerjaan dengan baik dan menentukan kemampuan individu dalam menyelesaikan
new and different work. Penilaian dalam tahap ini menghasilkan informasi mengenai
training apa yang dibutuhkan oleh karyawan. Pada penilaian level individu mencoba
mencari jawaban ”siapa” di dalam perusahaan yang memerlukan pelatihan dan
pelatihan apa yang dibutuhkannya. Yang harus dilakukan pada cara ini adalah
membandingkan kinerja aktual dari seseorang karyawan atau unit kerja dengan standar
yang ditetapkan atau harapan perusahaan. Kesenjangan yang ditemukan dapat
mengidentifikasikan jenis pelatihan apa yang diperlukan karyawan.
30
BAB VI
Proses Analisis Kebutuhan
6.1.Proses Analisa Kebutuhan
Ada beberapa proses-proses analisa kebutuhan dalam andragogi, yaitu sebagai
berikut:
1. Melakukan asesment kebutuhan belajar, merumuskan tujuan, mengidentifikasi
hambatan, dan menetapkan prioritas yang akan digunakan untuk mengelola kegiatan
pembelajaran.
2. Memilih tema/pokok bahasan dan/atau tugas yang harus dilakukan dalam pembelajaran
dan menentuka indikator pencapaian tujuan pembelajaran.
3. Mengenai dan mengkaji karakteristik peserta didik sebagai bahan masukan dalam
menyusun rencana pembelajaran
4. Mengidentifikasi isi/materi atau bahan pelajaran/rincian tugas pembelajaran
5. Merumuskan tujuan pembelajaran
6. Merancang kegiatan pembelajaran, dengan memilih metode, media pembelajaran yang
digunakan secara tepat dan pengelolaan waktu.
7. Memilih fasilitas pembelajaran dan sumber bahan yang mendukung proses
pembelajaran.
8. Mempersiapkan sistem evaluasi proses dan hasil kegiatan pembelajaran.
9. Mempersiapkan tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
31
6.2.KASUS :
Menengok Pendidikan Komando TNI AL: Latihan Perang Hingga Makan
Ular
Banyuwangi - Sebanyak 193 calon bintara dan perwira Marinir TNI Angkatan
Laut digembleng dalam pendidikan komando. Lima materi pendidikan digelar selama 77 hari,
sebelum nantinya mereka dilantik. Salah satu materi yang paling penting dalam pendidikan
komando yakni survival atau cara bertahan hidup di dalam hutan. Materi survival penting bagi
prajurit untuk tetap bertahan dengan memanfaatkan kemampuan yang dimiliki dan peralatan
yang seadanya. Mereka yang terdiri dari 19 taruna dan 174 siswa bintara Dikmaba 38 dan 37
dilatih di Daerah Latihan Komando 159 Marinir. Yakni di Dusun Selogiri, Desa Ketapang,
Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.
"Saya lihat langsung apa yang dilakukan dengan penuh kebanggaan. Bagaimana
melaksanakan sea survival termasuk jungle survival. Termasuk bagaimana menangkap
binatang buas," kata Direktur Pendidikan dan Latihan Kodiklatal, Laksamana Pertama Deni
Septriana kepada detikcom, Senin (29/4/2019). Menurut Deni, pendidikan komando harus
dijalani semua prajurit marinir. Dari mulai tahap dasar komando sampai ke tahap lintas medan
yakni jalan kaki dari Banyuwangi hingga Surabaya sejauh 400 kilometer. Pada materi jungle
survival, para siswa dan taruna marinir dibekali pengetahuan bagaimana menghadapi hewan
buas yang ada di hutan, dan memasak tanpa alat tapi lebih memanfaatkan alam. Mereka juga
diberi ilmu untuk memanfaatkan tumbuhan yang ada di hutan sebagai makanan dan minuman.
Sehingga mereka bisa tetap bertahan hidup di dalam hutan meski bekal makanan dan minuman
sudah habis.
"Ini adalah tahap hutan. Semua para prajurit siswa melaksanakan. Saya lihat langsung
apa yang dilakukan dengan penuh kebanggaan. Ada latihan tembak lorong, tembak reaksi,
latihan menangkap hewan liar," imbuhnya. "Untuk para prajurit siswa Dikmaba akan dilantik
menjadi Bintara Marinir dan lulusan taruna akan menjadi Perwira Marinir. Ini adalah pasukan
profesional yang punya kebanggaan tinggi," tambahnya. Pendidikan komando yang harus
dilalui siswa dan taruna Marinir ini ada lima tahap. Pertama, Tahap Laut dengan materi latihan
renang sejauh satu kilometer. Kedua, Tahap Dasar Komando yakni siswa harus mampu naik
turun tali mountain ring dari mana dia harus turun di mana dia harus naik dengan menggunakan
tali-talian.
Ketiga adalah Tahap Hutan. Di tahap ini siswa komando harus mampu melaksanakan
perang di hutan dalam kondisi apapun. Keempat Tahap GLG yaitu gerilya lawan gerilya. Pada
32
tahap ini siswa harus dibekali ilmu perang di dalam hutan untuk mengamankan negara.
Terakhir adalah Tahap Lintas Medan. Siswa dan Taruna Marinir harus berjalan kaki dari
Banyuwangi sampai Gunungsari, Surabaya. Mereka harus menempuh berbagai medan mulai
gunung, hutan dan perkampungan. Kelima tahap ini dijalani selama 77 hari dimulai 17 Maret
2019 lalu.
1. Subyek
Anggota TNI AL. Sebanyak 193 calon bintara dan perwira Marinir TNI Angkatan
Laut digembleng dalam pendidikan komando. Mereka yang terdiri dari 19 taruna dan 174
siswa bintara Dikmaba 38 dan 37 dilatih di Daerah Latihan Komando 159 Marinir.
2. Materi
materi yang paling penting dalam pendidikan komando yakni survival atau cara
bertahan hidup di dalam hutan. Materi survival penting bagi prajurit untuk tetap bertahan
dengan memanfaatkan kemampuan yang dimiliki dan peralatan yang seadanya.
3. Metode
Latihan partisipatif
4. Pelaksanaan
Pendidikan komando yang harus dilalui siswa dan taruna Marinir ini ada lima tahap.
Pertama, Tahap Laut dengan materi latihan renang sejauh satu kilometer. Kedua, Tahap
Dasar Komando yakni siswa harus mampu naik turun tali mountain ring dari mana dia
harus turun di mana dia harus naik dengan menggunakan tali-talian.
Ketiga adalah Tahap Hutan. Di tahap ini siswa komando harus mampu
melaksanakan perang di hutan dalam kondisi apapun. Keempat Tahap GLG yaitu gerilya
lawan gerilya. Pada tahap ini siswa harus dibekali ilmu perang di dalam hutan untuk
mengamankan negara.
Terakhir adalah Tahap Lintas Medan. Siswa dan Taruna Marinir harus berjalan kaki
dari Banyuwangi sampai Gunungsari, Surabaya. Mereka harus menempuh berbagai medan
mulai gunung, hutan dan perkampungan. Kelima tahap ini dijalani selama 77 hari dimulai
17 Maret 2019 lalu.
pendidikan komando harus dijalani semua prajurit marinir. Dari mulai tahap dasar
komando sampai ke tahap lintas medan yakni jalan kaki dari Banyuwangi hingga Surabaya
sejauh 400 kilometer.
33
BAB VII
PENUTUP
7.1.Kesimpulan
Dari hasil penelitianyang di lakukan dengan judul penelitian analisa kebutuhan
dalam andragogi pada pembelajaran orang dewasa, peneliti dapat mengambil kesimpulan
bahwa analisa kebutuhan dalam andragogi pada pembelajaran orang dewasa atau Training
Needs Assessment (TNA) adalah suatu istilah yang dipergunakan dalam analisis untuk
memahami permasalahan kinerja atau permasalahan yang berkaitan dengan penerapan
teknologi baru.TNA adalah suatu langkah yang dilakukan sebelum melakukan pelatihan
dan merupakan bagian terpadu dalam merancang pelatihan untuk memperoleh gambaran
komprehensif tentang materi, alokasi waktu tiap materi, dan strategi pembelajaran yang
sebaiknya diterapkan dalam penyelenggaraan pelatihan agar pelatihan bermanfaat bagi
peserta pelatihan.
7.2.Saran
Bedasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan mengenai analisa kenutuhan
dalam andragogi pada pembelajaran orang dewasa, peneliti mengajukan beberapa saran
yang kiranya dapat menjadi pertimbangan bagi tempat pelatihan
1. Bagi perusahaan
Diharapkan untuk rutin melakukan workshop atau pelatihan bagi karyawan
sehingga dengan adanya kegiatan tersebut dapat membuat SDM yang ada pada
perusahaan menjadi lebih berkualitas.
2. Bagi pelatih
Diharapkan untuk terus berinovasi dalam membuat materi workshop sehingga
hal tersbut dapat diterima bagi karyawan/ maupun peserta workshop lainnya
3. Bagi peneliti selanjutnya
Bagi pihak-pihak lain yang tertatik meneliti topik ini secara lebih mendalam,
maka penulis menyarankan agar peneliti selanjutnya dapat menelitilebih dalam lagi dan
perlu di lanjutkan guna pentingnya meningkatkan kenutuhan dalam andragogi pada
pembelajaran orang dewasa
34
DAFTAR PUSTAKA
Manusia, M. S. D. Training and Development, Perencanaan Pelatihan, Training Need
Assessment (TNA).
https://www.slideshare.net/AwalAkbarJamaluddin/metode-melakukan-analisis-kebutuhandalam-penelitian-pengembangan
35
Download