ISSN 2085-3262 Pendahuluan Seminar Nasional Riset Terapan Administrasi Bisnis dan MICE VIII bertujuan sebagai forum penyebarluasan hasil-hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat melalui media yang terbuka untuk publik. Lebih jauh, forum ini diharapkan pula dapat menjadi ajang diskusi akademik dan praktis yang melibatkan berbagai stakeholder terutama dari kalangan akademisi, praktisi dan pemerintah. Mempertimbangkan hal tersebut, para pembicara utama (keynote speakers) yang diundang dalam kegiatan ini juga dilakukan dengan mempertimbangkan kompisisi tersebut - selain bidang keilmuan yang dimiliki. Hasil dari proses dialektika antar sudut pandang para stakeholder yang berbeda ini diharapkan akan dapat menjadi sarana untuk menghasilkan rekomendasi dan langkah-langkah yang tepat untuk mempercepat dan meningkatkan proses akumulasi dan adopsi teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang administrasi bisnis dan MICE. Untuk mencapai maksud tersebut, Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) mengundang berbagai pihak untuk menyampaikan pengalaman dan hasil-hasil pengkajian dalam bidang sebagai berikut: 1. Pemasaran destinasi 2. Public relations 3. Tourism 4. Hukum bisnis dan administrasi bisnis 5. MICE 6. Special event 7. SDM 8. Keuangan dan logistik Output dari kegiatan seminar ini, sebagian besar akan dipublikasikan dalam prosiding ini dan juga tentunya jurnal terakreditasi. Segenap panitia mengucapkan banyak terima kasih kepada, Direktur Politeknik Negeri Jakarta dan jajarannya, Ketua jurusan, Narasumber, dan peserta dari perguruan tinggi dan politeknik yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Serta tidak lupa penghargaan kepada panitia yang telah bekerja keras sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Kritik dan saran diharapkan demi terwujudnya perbaikan di tahun mendatang. Agustus, 2019 Panitia Seminar Nasional Riset Terapan ISSN 2085-3262 STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA Penanggung Jawab : Abdillah, S.E., M.Si Dr. sc. H. Zainal Nur Arifin, Dipl-Ing. HTL, M.T Titik Purwinarti, S.Sos., M.Pd Steering Committee : Dr. Iis Mariam Dr. Nining Latianingsih Dr. Christina L Rudatin Rimsky K Judisseno, Ph.D Organizing Committee : Ketua Panitia: Imam Syafganti, S.Sos., M.Si Wakil Ketua: Firmansyah, S.P., M.M Sekretaris: Taufik Akbar, SE., M.M Bendahara: Endah Wartiningsih, SE., M.M ISSN 2085-3262 RUNDOWN PROGRAM Seminar Nasional Riset Terapan VIII Administrasi Bisnis dan MICE 2019 “ADOPSI INOVASI MANAJEMEN DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DALAM BIDANG ADMINISTRASI BISNIS DAN MICE DI ERA INDUSTRI 4.0” 30 Agustus 2019 Waktu 07.00 – 08.00 08.00 – 08.45 09.00 – 11.45 11.30 – 13.30 13.30 – 14.50 14.50 – 15.05 15.05 – 17.00 Jumat, 30 Agustus 2019 Aktivitas Registrasi Opening ceremony - Opening MC - Lagu kebangsaan - Sambutan panitia - Sambutan Jurusan - Pembukaan resmi (Direktur PNJ) - Prosesi opening & photo session Plenary session + QnA session 1. I Dewa Gede Sugihamre (Perwakilan Direktur Industri, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bappenas) 2. Jim Oklahoma (Chief Executive Officer iGrow) 3. Hendra Noor Saleh (Presiden Diektur Dyandra Promosindo) Break and Lunch Parallel session 1 Coffee break Parallel session 2 Venue Area registrasi (Hotel Savero) Ballroom Ballroom Breakout rooms Breakout rooms ISSN 2085-3262 Pengaruh Stres Kerja dan Lingkungan Kerja Fisik terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Di PT Kusumaputra Santosa Karanganyar Retno Nugraheini 1, Cicilia Dyah Sulistyaningrum Indrawati 2, Anton Subarno 3 1 Pendidikan Admnistrasi Perkantoran -- Universitas Sebelas Maret, [email protected] Admnistrasi Perkantoran -- Universitas Sebelas Maret, [email protected] 3 Pendidikan Admnistrasi Perkantoran -- Universitas Sebelas Maret, [email protected] 2 Pendidikan ABSTRACT The current study is aimed to determine of: (1) the effect of job stress on employees’ productivity, (2) the effect of physical work environment on employees’ productivity, and (3) the effect of job stress and physical work environment on employees’ productivity. This study used quantitative corelational research. The research population was 320 employees of production division at PT Kusumaputra Santosa Karanganyar. The sample of this research was taken with proportional random sampling technique with 81 respondents are 32 male dan 49 female in 42 years old. The data are collected by using observation, documentation, and questionnaire. The data are analyzed by using multiple linier regression with SPSS program 25. Based on the analysis, the study found that: (1) there was a significant effect of job stress on employees’ productivity at PT Kusumaputra Santosa Karanganyar (ttable > tcount or 3,72 > 1,99), (2) there was a significant effect of physical work environment on employees productivity at PT Kusumaputra Santosa Karanganyar (ttable > tcount or 2,16 > 1,99), (3) there was a significant effect of job stress and physical work environment on employees’ productivity at PT Kusumaputra Santosa Karanganyar (Ftable > Fcount or 20,41 > 3,11). The regression similarity Ŷ=40,69+0,08X1+0,04X2. Relative contribution of job stress was 66,6%. Relative contribution of physical work environment was 33,4%. Effective contribution of job stress was 22,9%. Effective contribution of physical work environment was 11,5%. Keyword: fabric production, noisy, under pressure ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya: (1) pengaruh stres kerja terhadap produktivitas kerja, (2) pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja, dan (3) pengaruh stres kerja dan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah 320 karyawan bagian produksi di PT Kusumaputra Sentosa Karanganyar. Sampel diambil menggunakan teknik sampel proposional acak dengan jumlah sampel 81 responden yang terdiri dari 32 laki-laki dan 49 perempuan, rata-rata umur responden 42 tahun. Metode pengumpulan data dengan menggunakan observasi, dokumentasi dan angket. Data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dengan program SPSS 25. Berdasarkan analisis, ditemukan bahwa: (1) Terdapat pengaruh signifikan stres kerja terhadap produktivitas kerja di PT Kusumaputra Santosa Karanganyar (ttable > tcount atau 3,72 > 1,99), (2) Terdapat pengaruh signifikan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja di PT Kusumaputra Santosa Karanganyar (ttable > tcount or 2,16 > 1,99), (3) Terdapat pengaruh signifikan stres kerja dan lingkungan kerja fisik secara bersama-sama terhadap produktivitas kerja (Ftable > Fcount or 20,41 > 3,11). Persamaan regresi Ŷ=40,69+0,08X1+0,04X2. Sumbangan relatif stres kerja sebesar 66,6%. Sumbangan relatif lingkungan kerja fisik sebesar 33,4%. Sumbangan efektif stres kerja sebesar 22,9%. Sumbangan efektif lingkungan kerja sebesar 11,5%. Kata Kunci: bising, produksi kain, target kerja ISSN 2085-3262 PENDAHULUAN Stres kerja dan lingkungan kerja fisik merupakan dua variabel yang penting dalam meningkatkan produktiviatas kerja. Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja adalah stres kerja (Tanjung, 2018). Stres kerja merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik seseorang. Jika karyawan mengalami stres kerja maka dapat berdampak pada kinerja karyawan (Fatikhin, 2017). Hal tersebut tentu dapat menghambat produktivitas kerja karyawan untuk perusahaan. Selain stres kerja, faktor lain yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja adalah lingkungan kerja fisik. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi lingkungan kerja fisik adalah tempat kerja karyawan, kondisi penerangan, kondisi ventilasi, kondisi keriuhan suara, segi-segi berbahaya dan tidak sehat (As’ad, 2011). PT Kusumaputra Santosa merupakan perusahaan yang bergerak dibidang textile yang memiliki karyawan sebanyak 320 terdiri dari 7 bagian. Dari hasil observasi awal dan wawancara yang dilakukan peneliti dengan karyawan di PT Kusumaputra Santosa, karyawan PT Kusumaputra Santosa mengalami masalah stres kerja dan kenyamanan dalam lingkungan kerja fisik serta permasalahan hasil produksi yang tidak stabil. PT Kusumaputra Santosa memiliki target produksi sebanyak 70 ball setiap harinya, total sebanyak 2.100 ball per bulan. Namun, hasil produksi PT Kusumaputra Santosa pada tahun 2018 tidak stabil dan mengalami penurunan pada bulan-bulan tertentu. Dalam menjalankan pekerjaannya karyawan dapat mengalami stres kerja. Hal ini disebabkan karena adanya desakan waktu dalam penyelesaian tugas, adanya hubungan yang kurang mendukung antara atasan dan bawahan karena karyawan bekerja di bawah pengawasan yang tinggi, selain itu karyawan belum mengerti akan pekerjaan yang diberikan karena adanya perpindahan-perpindahan mendadak pada bagian kerja karyawan, misalnya dari bagian bowling (pemisahan serat kapas) dipindahkan ke bagian carding (membuat silver). Sehingga karyawan tidak dapat belajar terlebih dahulu dan belajar secara otodidak. Ketika karyawan sudah mengalami stres kerja yang lama, karyawan melakukan tindakan mangkir kerja dan mencuri waktu untuk beristirahat disela jam kerja dan membolos. Kondisi lingkungan kerja fisik juga mempengaruhi karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Lingkungan kerja fisik yang kurang nyaman karena banyaknya kapas-kapas halus yang bertebaran di ruang produksi kurang terkontrol. Suhu ruangan ditempat kerja akan terasa panas saat semua mesin dihidupkan, bau yang menyengat muncul pada proses produksi bagian bowling dapat membuat karyawan kurang nyaman dan mengurangi konsentrasi, serta getaran ditempat kerja cukup mengganggu karyawan dalam melakukan pekerjaan. Kebisingan juga mengharuskan karyawan untuk berbicara dengan keras. Berdasarkan data yang diambil, tingkat kebisingan di PT Kusumaputra Santosa dengan nilai intensitas terendah 95,35 dB dan nilai intensitas tertinggi 98,21 dB dengan lama paparan 8 jam per hari. Berdasarkan hasil nilai terendah dan nilai tertinggi dari pengukuran kebisingan tersebut maka intensitas kebisingan di PT Kusumaputra Santosa telah melebihi NAB yang telah ditentukan yaitu sebesar 85 dB yang diatur dalam Permankertrans RI No. PER. 13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja. Berdasarkan permasalahan stres kerja dan lingkungan kerja fisik tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang seberapa besar Pengaruh Stres Kerja dan Lingkungan Kerja Fisik terhadap Produktivitas Kerja Karyawan di PT Kusumaputra Santosa Karanganyar. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di PT Kusumaputra Santosa yang beralamat di Jaten KM.9, Jaten, Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif korelarional, yaitu penelitian yang pengumpulan datanya menggunakan instrumen penelitian analisis data bersifat kuantitatif. ISSN 2085-3262 Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan bagian produksi PT Kusumaputra Santosa Karanganyar sebanyak 7 grup produksi dengan jumlah populasi sebanyak 320 karyawan. Penentuan sampel menggunakan proportional random sampling, didapatkan sampel untuk penelitian ini sebanyak 81 karyawan bagian produksi PT Kusumaputra Santosa Karanganyar. Data variabel bebas diambil dengan angket penelitian. Data variabel terikat diambil dari jumlah hasil produktivitas karyawan bulan Februari dan Maret yang dibagi dengan banyaknya hasil kerja. Angket yang digunakan yaitu angket tertutup dalam bentuk check list menggunakan skala likert modern yang telah di modifikasi dengan skala 4. Dokumen digunakan untuk memperoleh data hasil produktivitas kerja karyawan selama bulan Februari dan Maret. Untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan uji coba (try out) angket pada 15 responden di PT Kusumaputra Santosa di luar sampel penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan uji prasyarat analisis dan Uji Hipotesis. Uji Prasyarat analisis meliputi uji normalitas menggunakan kolmogorov serminov dengan unstandardized residual, uji linieritas menggunakan test for linearity, dan uji multikolineritas. Uji Hipotesis meliputi analisis regresi linier berganda, uji t menggunakan rumus t parsial, uji F, analisis koefisien determinasi dan sumbangan relatif & sumbangan efektif. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Temuan Penelitian ini membahas pengaruh dua variabel bebas yaitu stres kerja (X1) dan lingkungan kerja fisik (X2) terhadap satu variabel terikat yaitu produktivitas kerja (Y). Data variabel bebas diperoleh melalui angket, sedangkan data produktivitas kerja diperoleh dengan menggunakan dokumen perusahaan PT Kusumaputra Santosa Karanganyar. Dokumen lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah karyawan yang menjadi objek penelitian. Data hasil produktivitas kerja, stres kerja, dan lingkungan kerja fisik selanjutnya di diskripsikan sebagai berikut: Tabel 1.Deskripsi Data Jml Data Nilai Terend ah Y 81 42,66 X1 81 28,00 X2 81 30,00 Umur Respon den 81 Jenis Kela min Nilai Tertin ggi Rata -rata 45,6 6 45,0 0 48,0 0 3601 ,45 2859 ,00 2970 ,00 44,4 6 35,2 9 36,6 7 20 53 - 42,1 1 L 32 20 53 - P 49 22 52 - 38,9 3 44,1 8 SD 0,71 4,43 4,43 10,2 12,0 8,4 sumber : hasil data olahan Hasil uji F yang dilakukan dengan program SPSS 25 diperoleh hasil nilai F hitung sebesar 20,41 dibandingkan Ftabel dengan derajat kebebasan (dk) pembilang 2 dan derajat kebebasan penyebut 78 dan taraf signifikansi 0,05 sebesar 3,11. Dengan demikian diketahui Fhitung > Ftabel atau 20,41 > 3,11, H0 ditolak dan Ha diterima maka ada pengaruh signifikan secara bersama-sama stres kerja dan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja karyawan PT Kusumaputra Santosa Karanganyar. Nilai koefisien determinasi dalam penelitian ini sebesar 0,344 atau 34,4% produktivitas kerja karyawan PT Kusumaputra Santosa Karanganyar dipengaruhi oleh stres kerja dan lingkungan kerja fisik, dan 65.6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil analisis regresi linier berganda yang dilakukan dengan program SPSS 25 diperoleh data Ŷ=40,69+0,08X1+0,04X2. Koefisien regresi menunjukkan bahwa setiap terjadi peningkatan satu variabel bebas maka akan menaikkan produktivitas kerja karyawan sebesar nilai. Untuk mengetahui adanya pengaruh dan berapa besar pengaruh variabel stres kerja terhadap produktivitas kerja karyawan menggunakan uji t pada regresi berganda. Pada hasil pengolahan uji t dengan SPSS 25 didapatkan nilai thitung sebesar 3,72, ttabel pada N = 81 dan taraf signifikansi 0,05 (0,025:78) sebesar 1,99. Dengan demikian diketahui thitung ISSN 2085-3262 > ttabel atau 3,72 > 1,99, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Besar pengaruh stres kerja terhadap produktivitas kerja dapat dilihat dari sumbangan efektif stres kerja yaitu sebesar 22,9%. Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan stres kerja terhadap produktivitas kerja karyawan PT Kusumaputra Santosa sebesar 22,9%. Untuk mengetahui adanya pengaruh dan berapa besar pengaruh variabel lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja karyawan menggunakan uji t pada regresi berganda. Pada hasil pengolahan uji t dengan SPSS 25 didapatkan nilai thitung sebesar 2,16, ttabel pada N = 81 dan taraf signifikansi 0,05 (0,025:78) sebesar 1,99. Diperoleh t hitung > ttabel atau 2,16 > 1,99, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Besar pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja dapat dilihat dari sumbangan efektif lingkungan kerja fisik yaitu sebesar 11,5%. Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja karyawan PT Kusumaputra Santosa sebesar 11,5%. Pembahasan Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang manajemen sumber daya manusia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu masukkan bagi pimpinan PT. Kusumaputra Santosa dalam usaha untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Perusahaan perlu memperhatikan faktorfaktor yang dapat mempengaruhi karyawan saat bekerja agar kinerja karyawan menjadi baik dan produktivitas kerja dapat stabil dan meningkat. Data hasil produktivitas kerja di PT Kusumaputra Santosa menunjukkan bahwa PT Kusumaputra Santosa mengalami ketidakstabilan pada hasil produktivitas karyawannya, banyak karyawan yang tidak dapat mencapai target produksi yang mengakibatkan angka produktivitas kerja menjadi tidak stabil. Pengolahan stres kerja yang baik dapat membantu perusahaan meningkatkan produktivitas kerja karyawannya. Dengan tingkat stres yang rendah dan adanya tantangan untuk bekerja dengan lebih baik maka kinerja karyawan akan meningkat dan tentunya produktivitas kerja juga akan mengalami peningkatan. Lingkungan kerja fisik yang nyaman dapat memberikan rasa yang nyaman pula saat karyawan bekerja. Dengan lingkungan kerja yang nyaman karyawan tidak mengalami kegelisahan dan pemusatkan pikiran karyawan dapat terfokus pada pekerjaannya. Maka kinerja karyawan akan meningkat dan produktivitas kerja karyawan akan dapat meningkat pula. Hasil penelitian didukung oleh penelitian yang dilakukan Cardindo (2013), yang menyatakan bahwa lingkungan kerja fisik dan stres kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan. Stres kerja dan lingkungan kerja fisik merupakan dua variabel yang penting dalam meningkatkan produktiviatas kerja. Stres kerja dapat merusak atau membantu produktivitas kerja, hal tersebut tergantung pada tingkat stres yang dialami dan cara karyawan menghadapi stres saat bekerja. Dengan adanya stres kerja maka dapat tercipta sebuah tantangan yang dapat memotivasi karyawan untuk bekerja lebih giat. Namun jika karyawan mengalami stres kerja yang tinggi dan menghadapinya dengan kecenderungan yang negatif seperti mangkir atau membolos saat bekerja maka produktivitas akan mengalami penurunan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Wirawan (2010:160) menyebutkan jenis-jenis stres yang dapat menciptakan suatu reaksi pada individu, baik reaksi yang positif maupun negatif. Pendapat tersebut didukung penelitian Tanjung (2018) yang hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tingkat stres kerja yang dialami karyawan dapat mempengaruhi produktivitas kerja, yang mengakibatkan produktivitas kerja mengalami penurunan. Stres kerja dapat ditimbulkan karena ketidakmengertian karyawan akan keterbatasannya dan hubungan karyawan dengan individu lainnya dalam perusahaan. Karyawan dapat dengan mudah merasakan gerah, kebisingan, dan getaran pada tempat produksi, hal ini tentunya dalam mempengaruhi karyawan saat bekerja. Jika suhu ruangan terlalu panas dibanding suhu tubuh, maka tubuh akan menerima panas akibat konveksi dan radiasi yang berlebih, sehingga suhu tubuh akan ikut naik. Suhu ISSN 2085-3262 tubuh yang tinggi menyebabkan tubuh mudah cepat lelah dan cenderung menyebabkan kesalahan saat bekerja. Selain itu, banyaknya volume kapas-kapas halus yang berterbangan di ruang produksi dan masuk ke dalam mata karyawan tentunya dapat mengganggu jalannya produktivitas kerja karyawan. Intensitas kebisingan yang melebihi NAB dan terus menerus dapat menganggu produktivitas kerja karyawan karena suara kebisingan menyebabkan kesulitan dalam merumuskan pikiran yang mengakibatkan karyawan sulit untuk melaksanakan pekerjaan. Hal tersebut tentunya dapat mempengaruhi karyawan saat bekerja, yang menyebabkan turunnya kinerja karyawan dan menimbulkan turunnya produktivitas karyawan. Sesuai penelitian Desmonda (2016), bahwa lingkungan kerja fisik yang terdiri dari penerangan, udara, dan kebisingan dapat mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Kebisingan dapat menganggu saat bekerja karena kebisingan mengakibatkan kesulitan dalam memusatkan pikiran, udara di ruangan produksi perlu diperhatikan karena karyawan menghabiskan banyak waktu di ruang produksi, dengan udara yang baik maka produktivitas kerja menjadi lebih tinggi. Penelitian lain yang dilakukan Handayani (2018), menyebutkan bahwa lingkungan kerja fisik yang terdiri dari temperatur, kebisingan, sirkulasi udara dan getaran dapat mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Temperatur ruangan yang panas dapat mempengaruhi temperatur tubuh menjadi panas, dan kebisingan yang tinggi dapat menyebabkan karyawan sulit untuk memusatkan pikiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi lingkungan kerja fisik karyawan perlu diperhatikan oleh perusahaan. Dengan lingkungan yang nyaman maka karyawan akan dapat bekerja dengan nyaman pula. KESIMPULAN Kesimpulan dalam penelitian ini adalah 1) terdapat pengaruh yang signifikan stres kerja terhadap produktivitas kerja karyawan di PT Kusumaaputra Santosa Karanganyar, 2) terdapat pengaruh yang signifikan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja karyawan di PT Kusumaaputra Santosa Karangnayar, 3) terdapat pengaruh yang signifikan stres kerja dan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja karyawan di PT Kusumaputra Santosa Karanganyar. SARAN 1. Karyawan disarankan untuk lebih menjaga kebersihan bersama ditempat kerja agar akan tercipta kenyamanan bersama ditempat kerja. Selain kebersihan, karyawan disarankan menanggapi tantangan kerja dengan lebih positif dan terbuka sebagai gambaran persaingan dalam kerja. Maka karyawan dapat meningkatkan kualitas kerjanya. Karyawan juga disarankan untuk menjaga komunikasi yang baik dengan pengawas. 2. Pengawas PT Kusumaputra Santosa Karangayar disarankan untuk menjaga komunikasi yang baik dengan karyawan produksi. Dengan menjaga komunikasi yang baik diharapkan karyawan dapat mengurangi rasa takut terhadap atasan. Maka dengan turunnya rasa takut maka karyawan akan dapat bekerja dengan lebih nyaman dan rileks. Pengawas juga disarankan untuk menempatkan karyawan pada bagian kerja yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki karyawan. Dengan penempatan kerja yang baik, diharapkan karyawan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat karena telah menguasai prosedur dalam penyelesaian tugas. 3. Manajer Pabrik PT Kusumaputra Santosa Karanganyar disarankan untuk memberikan pelatihan terlebih dahulu kepada karyawan yang akan di pindah tugaskan pada bagian yang sekiranya karyawan belum mengetahui prosedur tugasnya. Sehingga karyawan tidak perlu belajar sendiri. Perusahaan juga disarankan melakukan usaha mengurangi intensitas kebisingan di tempat kerja dengan menambah peredam mesin ataupun peredam pada tembok dan lantai. Dan sebaiknya perusahaan melakukan penilaian dan pemeliharaan secara rutin terhadap lingkungan kerja fisik, termasuk kebisingan, getaran, ventilasi dan AC yang ada ditempat kerja. Dengan berkurangnya getaran mesin yang berlebihan, diharapkan rasa was-was karyawan saat bekerja dapat berkurang pula. ISSN 2085-3262 Selain itu, diharapkan dengan berkurangnya panas ruangan karena tercukupnya udara dan pengaturan temperatur udara yang baik karyawan dapat nyaman dalam bekerja dan meningkatkan kinerjanya. DAFTAR PUSTAKA As’ad, M. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty; 2011 Cardindo, G. Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik Dan Stres Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan: Studi Kasus PT. Bank Bukopin TBK, Kantor Pusat. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. 2013;1(1). Available from URL: http://eprints.binus.ac.id Desmonda, A.A. Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Pada PT Federal International Finance Cabang Samarinda. Jurnal Administrasi Bisnis. 2016;4(4):1179-1193. Available from URL: ejournal.adbisnis.fisipunmul.ac.id Fatikhin, F., Djamur H., & M. Djudi M. Pengaruh Konflik Kerja Dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan: Studi Pada Karyawan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Cabang Seokarno Hatta Malang. Jurnal Administrasi Bisnis. 2017;47(1). Available from URL: administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id Halkos, G. & Dimitrios B. The Effect Of Stress And Satisfaction On Productivity. International Journal of Productivity and Performance Management. 2010;59(5):415-431. Available from URL: emeraldinsight.com ISSN 2085-3262 Strategi Humas dalam Membangun Citra Sekolah (Studi Kasus SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar) Enggar Ayuningtyas 1, Anton Subarno 2, Subroto Rapih 3 1Pendidikan Administrasi Perkantoran - Universitas Sebelas Maret Surakarta, [email protected] Administrasi Perkantoran - Universitas Sebelas Maret Surakarta, [email protected] 3 Pendidikan Administrasi Perkantoran - Universitas Sebelas Maret Surakarta, [email protected] 2 Pendidikan ABSTRACT This study aims to know; 1) the public relation strategy in creating the reputation of Muhammadiyah 2 Vocational Senior High School Karanganyar, 2) the problems are faced by public relations in creating the reputation of Muhammadiyah 2 Vocational Senior High School Karanganyar, 3) the solution in solving those problems at Muhammadiyah 2 Vocational Senior High School Karanganyar. This qualitative study is embedded single case study using purposive sampling and snowball sampling methods, Vice Principal of Public Relation Devision of Muhammadiyah 2 Vocational Senior High School Karanganyar as the key informant. The techniques of collecting data in this study were the interview, observation, and documentation; the data validation used the triangulation of data types and triangulation of data collection methods. The technique of data analysis used data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The results show: 1) the strategy of public relations in creating the reputation of Muhammadiyah 2 Vocational Senior High School Karanganyar done based on formulating strategies, determining strategies, implementing strategies, and evaluating strategies of public relation; 2) the problems of Muhammadiyah 2 Vocational Senior High School Karanganyar are limited time in public relation performance, the lack of management communication, the passive cooperation between the school and the world of business and industry, and the students have not uphold the school reputation ; 3) the solution to solve the problems are distributing task and building coordination between the teacher and staff, providing the quality of work with media management training, increasing the cooperation between school with the relevant world of business and industry with MoU, and providing a good guidance and supervision to the students. Keyword: school image, challenges of public relation, school performance ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) strategi humas dalam membangun citra SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar, 2) hambatan-hambatan yang dihadapi humas dalam membangun citra SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar, 3) cara mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi humas dalam membangun citra SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal terpancang. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling dan snowball sampling dengan Wakil Kepala Sekolah bidang Humas SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar sebagai informan kunci. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Uji validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan metode. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) strategi humas dalam membangun citra SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar melalui beberapa tahap yakni, perumusan strategi humas, penentuan strategi humas, implementasi strategi humas, dan evaluasi strategi humas; 2) hambatan yang dihadapi humas dalam membangun citra SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar yakni keterbatasan waktu dalam menjalankan kinerja Humas, guru dan karyawan kurang berkompeten dalam pengelolaan media komunikasi, kerja sama dengan DU/DI dalam menyerap tenaga kerja yang relevan dengan keahlian lulusan masih bersifat pasif, dan perilaku peserta didik belum menjunjung tinggi reputasi sekolah; 3) cara mengatasi hambatan yang dihadapi humas dalam membangun citra SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar yaitu pembagian tugas dan koordinasi yang baik antar guru dan karyawan, meningkatkan kualitas kerja dengan pelatihan pengelolaan media, memperluas informasi dan meningkatkan kerja sama DU/DI melalui MoU, serta pemberian pembinaan dan pengawasan kepada peserta didik dengan baik. Kata Kunci: reputasi sekolah, tantangan Humas, kinerja sekolah. PENDAHULUAN Pendidikan memandang bahwa SMK merupakan sekolah berkaitan erat dengan yang dinomor duakan setelah SMA, dengan seluruh sektor kehidupan manusia artinya tidak pengertian ada satu sendi kehidupan manusia yang tidak dibandingkan SMK. Terdapat citra buruk lainnya terpengaruhi oleh pendidikan. Pandangan dan yaitu sikap masyarakat yang kritis dan realistis dalam kenakalan remaja dan sekolah didominasi oleh memilih lembaga pendidikan menuntut untuk peserta meningkatkan citra lembaganya agar terwujud intelegensi sebuah bentuk persepsi, realitas dan opini sehingga peserta didik yang tidak diterima di publik yang seiring berjalannya waktu mampu sekolah favorit akan memilih melanjutkan ke membangun reputasi sekolah yang positif. SMK. Pengaruh pandangan negatif masyarakat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah terhadap citra sekolah diperkuat dengan adanya suatu penurunan jumlah pendaftar peserta didik untuk pendidikan formal yang bahwa sering SMA lebih terdengarnya didik yang rendah kasus-kasus mempunyai serta prestasi melanjutkan jenjang pendidikan menengah sebagai sekolah Karanganyar untuk tiga tahun terakhir yaitu: lanjutan dari SMP/MTs sesuai dengan bakat, tahun minat dan kemampuan. sebanyak 1450, dan tahun 2018 sebanyak SMK secara umum memiliki diantaranya adalah sebanyak Muhammadiyah 1664, tahun 2 2017 1120. permasalahan yang masih melekat di tengah masyarakat, 2016 SMK minim tingkat menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada Citra ke unggul Melihat adanya penurunan jumlah banyaknya pendaftar mengharuskan SMK Muhammadiyah lulusan yang menganggur dan belum terserap di 2 Karanganyar lebih keras dalam menentukan dunia kerja sesuai dengan bidang kompetensi strategi Humas dalam membangun citra sekolah yang dimiliki lulusan. Badan Pusat Statistik kepada seluruh publik. Minat masyarakat dalam (BPS) menyebutkan bahwa pada tahun 2017 memilih penyumbang terbesar angka pengangguran di dikarenakan terdapat dua faktor, yaitu faktor Indonesia berasal dari lulusan SMK dengan internal dan eksternal (Djaali, 2012: 99-100). jumlah presentase 11,41%. SMK yang memiliki Faktor internal, diantaranya adalah anggapan tujuan mencetak lulusan yang siap kerja justru masyarakat bahwa SMK Muhammadiyah 2 tidak selaras dengan yang diharapkan. Karanganyar kurang diminati karena ditentukan sekolah SMK khususnya swasta SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar oleh sikap atau perilaku peserta didik yang merupakan salah satu SMK swasta yang berada sebagian besar dicap kurang baik dimata publik, di Karanganyar yang memiliki permasalahan dan faktor lain adalah prestasi dan tingkat berkaitan adanya intelegensi yang minim sehingga mempengaruhi pandangan kurang baik dimata masyarakat. peserta didik dalam menentukan sekolah SMK Berbagai pandangan-pandangan negatif yang Muhammadiyah 2 Karanganyar. Selain itu, masih sangat melekat dalam benak publik faktor eksternal yang mempengaruhi adalah diantaranya adalah persepsi masyarakat yang kondisi status ekonomi orang tua, ekonomi yang dengan citra, yakni minim akan lebih condong menganjurkan dan METODE PENELITIAN mengarahkan anaknya untuk melanjutkan studi Peneliti mengunakan metode deskriptif ke SMK agar lebih cepat kerja dan membantu kualitatif dan pendekatan studi kasus tunggal perekonomian keluarga. terpancang karena variabel permasalahan Adanya berbagai pandangan negatif sudah ditentukan terlebih dahulu yaitu strategi dari masyarakat apabila tidak diperbaiki maka dan peran humas, serta hanya satu lokasi yaitu akan mempengaruhi reputasi sekolah, sehingga SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar. Penelitian dibutuhkan strategi Humas yang baik dalam dimulai pada bulan November 2018 sampai proses dengan Juli 2019. penyelenggaraan pendidikan. Pembentukan strategi yang tepat di lembaga Data peneliti berasal dari data primer pendidikan, diperlukan Humas sebagai mediator dan sekunder. Data primer diperoleh secara yang berada di antara pimpinan sekolah dengan langsung dari sumber data melalui wawancara publiknya, dan mengelola komunikasi antara dengan informan dan melakukan pengamatan sekolah dengan masyarakat. Hubungan yang dengan situasi yang melibatkan tempat, pelaku, harmonis dan tersebut, akan membantu serta aktivitas di SMK Muhammadiyah 2 memperoleh dukungan, kepercayaan dan kesan Karanganyar, sedangkan data sekunder berasal yang baik dari publik dalam menyiapkan lulusan- dari dokumen, catatan-catatan arsip, lampiran lulusan data disertai hasil penelitian yang relevan untuk SMK yang memiliki kemampuan profesional sesuai dengan kebutuhan yang siap dijadikan sebagai data penunjang penelitian. bersaing memasuki dunia kerja. Pentingnya Humas Teknik memang harus purposive sampling sampling menggunakan yakni wakasek humas disadari tidak hanya pimpinan organisasi atau sebagai key informan serta informan lain yang pihak dalam mendukung terkumpulnya data yang diperlukan menangani hal itu saja, akan tetapi juga harus dalam penelitian. Teknik pengambilan data disadari oleh semua unit yang ada dalam dilakukan dengan snowball sampling, teknik lembaga itu sendiri. Uraian di atas menunjukkan pengambilan bahwa strategi Humas dirasa cukup penting mewawancarai informan kunci (key informan) untuk dijadikan media dalam membangun citra secara mendalam dari satu informan bergulir ke positif SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar informan lain yang memenuhi kriteria sampai dalam data yang terkumpul melengkapi keakuratan yang mempunyai merubah mengetahui wewenang pandangan hambatan serta publik, upaya dan untuk data dilakukan dengan dalam menjawab pertanyaan penelitian. mengatasi permasalahan dari Humas dalam Validitas data dilakukan dengan rangka membangun citra SMK Muhammadiyah triangulasi sumber dan metode. Triangulasi 2 Karanganyar. sumber dengan melakukan wawancara ke Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah bidang Humas, ketua PPDB, guru dan peserta didik di SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar. Triangulasi metode menggunakan metode ketenagaan) yang tersusun program observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data diantaranya adalah meluluskan 100% peserta dikategorikan terdapat didik dan 50% diterima di DU/DI yang relevan kesesuaian informasi antara subjek penelitian dengan bidang kompetensi sekolah, memiliki yang satu dengan subjek penelitian yang lain 10% dan Muhammadiyah, berprestasi dengan menjuarai absah kesesuaian apabila informasi antara hasil wawancara, observasi, dan juga dokumentasi. LKS lulusan (Lomba Kabupaten TEMUAN DAN PEMBAHASAN manajemen Temuan akreditasi Strategi Humas di sekolah adalah upaya menjadi Kompetensi dan Provinsi, islami A kader dan inti ortom Siswa) tingkat memiliki sistem dengan membuka bersertifikat program/paket keahlian baru yaitu keperawatan. untuk membentuk persepsi, realitas, dan opini Strategi Humas melalui kegiatan atau positif yang sasarannya adalah publik internal program sekolah untuk membangun citra SMK dan eksternal. Strategi yang dibentuk oleh tidak terlepas dari terbentuknya visi dan misi lembaga pendidikan adalah dengan membentuk lembaga pendidikan. Berdasarkan hasil studi kerangka suatu rencana secara sistematis dan dokumen program kerja Wakil Kepala Sekolah terpadu, yaitu suatu tujuan yang hendak ingin bidang dicapai sesuai dengan perencanaan yang telah pengamatan yang dilakukan peneliti bahwa diperhitungkan dengan baik oleh pihak-pihak strategi Humas dalam membangun citra sekolah yang SMK terlibat dalam manajemen sekolah. Humas tahun Muhammadiyah 2018/2019 2 dan Karanganyar Penyajian data mengenai strategi Humas dalam diwujudkan melalui sasaran publik internal dan membangun eksternal. citra Karanganyar SMK 2 perumusan strategi strategi Humas, merupakan tahap dimana rencana program implementasi strategi Humas dan evaluasi Humas di SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar strategi Humas. yang telah ditetapkan dan dilaksanakan ke Humas, meliputi Muhammadiyah menentukan Implementasi strategi Humas Perumusan strategi humas di SMK dalam suatu bentuk program aksi sebagai Muhammadiyah 2 Karanganyar diawali dengan langkah nyata. Pelaksanaan program Humas menyelaraskan antara visi, misi dan tujuan SMK sekolah. Tahap selanjutnya adalah melakukan diperankan oleh Wakil Kepala Sekolah bidang evaluasi dari faktor-faktor internal dan eksternal. Humas dan selama proses penyelenggaraan Pengambilan keputusan dari berbagai fakta kegiatan kehumasan di lembaga pendidikan yang telah dikumpulkan, selanjutnya dibentuk dibantu oleh tim Pogja (Kelompok Kerja) yang rencana kerja yang membutuhkan keterlibatan terbentuk sesuai tugas dan tanggungjawab peran seorang kepala sekolah dan enam wakil masing-masing. Bentuk implementasi strategi kepala sekolah (bidang kurikulum, kesiswaan, internal Humas diantaranya adalah menciptakan ismuba, suasana yang nyaman, membina hubungan humas, sarana prasarana, dan Muhammadiyah 2 Karanganyar dengan guru dan karyawan, membina hubungan Setiap pelaksanaan kegiatan tidak dengan peserta didik, dan optimalisasi media mungkin selalu berjalan mulus dikarenakan online internal. Kemudian bentuk implementasi adanya suatu hambatan. Begitu juga dengan strategi eksternal meliputi promosi sekolah, Humas dalam menjalankan perannya di SMK menginformasikan Muhammadiyah program/keahlian baru 2 Karanganyar, dimana kepada publik, sosialisasi manajemen islami hambatan yang dihadapi diharapkan dapat sekolah, alumni, diatasi dengan baik demi tercapainya sebuah membina tujuan sekolah. Adapun cara menyelesaikan hubungan sekolah dengan DU/DI, pemerintah, hambatan-hambatan Humas adalah dengan dan masyarakat, serta optimalisasi media online pembagian tugas dan koordinasi dengan baik, eksternal. meningkatkan kualitas kinerja dengan pelatihan mengkoordinir mengadakan rapat keluarga wali murid, Bentuk evaluasi program kerja Humas pengelolaan media, memperluas informasi dan SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar dilakukan meningkatkan kerja sama DU/DI melalui MoU, melalui dua bentuk, yakni meliputi monitoring dan pemberian pembinaan dan pengawasan saat kegiatan berlangsung dan rapat akhir tahun dengan baik. pelajaran berupa laporan. Monitoring pada saat program kerja atau kegiatan berlangsung Pembahasan dilakukan untuk mengetahui dan memastikan Strategi yang dilakukan Humas dalam bahwa kegiatan tersebut berlangsung sesuai membangun rencana atau tidak. Selain itu pengawasan perumusan strategi yakni strategi tidak terlepas tersebut juga berguna sebagai acuan untuk dari terbentuknya visi dan misi sekolah, karena melakukan tindakan-tindakan perbaikan apabila merupakan cerminan eksistensi sekolah di masa terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana depan, menentukan strategi Humas dengan awal. Evaluasi kegiatan dilaksanakan guna sasaran mengukur ketercapaian tujuan implementasi strategi Humas, dan terakhir kegiatan yang dalam adalah evaluasi strategi Humas. telah target atau ditetapkan perumusan strategi. strategi publik sekolah internal adalah dan dengan eksternal, Hal ini berkaitan dengan pendapat David dkk (2010: Humas dalam menjalankan peran dan menentukan citra sebagai untuk dari pada keputusan manajerial dan kegiatan- membangun citra sekolah tidak luput dari kegiatan yang menentuan keberhasilan lembaga hambatan atau masalah yang dihadapi. Adapun dalam jangka panjang. Kegiatan tersebut terdiri hambatan-hambatan dari yang upaya 105), manajemen strategi adalah serangkaian terjadi adalah keterbatasan waktu dalam menjalankan kinerja Humas, kurangnya pengelolaan perumusan/perencanaan strategi, pelaksanaan/implementasi dan evaluasi. media Perumusan strategi yang diterapkan komunikasi, kerjasama dengan DU/DI yang oleh SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar masih pasif, dan kurangnya kontribusi peserta mengacu pada visi, misi dan tujuan sekolah didik. sebagai cerminan kondisi internal lembaga pendidikan dan sekolah memiliki kemampuan pihak-pihak menganalisis kepentingan peluang-peluang yang ada. yang memiliki yang sama, karakteristik yakni orang tua Kinerja Humas terdapat kesesuaian dengan peserta didik, alumni, DU/DI, pemerintah, dan teori Culip dan Center (Ruslan, 2016) yang masyarakat. Selaras dengan Kiriago (2013) menyatakan bahwa lingkungan eksternal mengacu pada program bahwa kerja diantaranya, proses melalui yakni: mendengarkan, empat 1) dalam perencanaan tahapan penelitian tahap ini dan humas menerima informasi dari berbagai opini, sikap kelompok-kelompok organisasi, individu dan kekuatan yang ditemukan di luar organisasi pendidikan yang memiliki dampak pada efektivitas atau kelangsungan hidup sekolah. dan reaksi berbagai publik, setelah itu baru Strategi Humas dalam menciptakan fakta-fakta, dan human relations sudah menciptakan upaya kerja berikutnya; 2) sama antar elemen publik internal dalam satu perencanaan dan mengambil keputusan, dalam tim kerja, dan penggunaan media komunikasi tahap ini sikap, opini, ide-ide dan reaksi yang melalui whatsapp untuk memudahkan dalam berkaitan dengan serta menjalin interaksi. Pandangan Ruslan (2016) penetapan program yang mengenai human relation disini kunci seorang dilakukan pengevaluasian menentukan keputusan kebijaksanaan kerja organisasi sejalan dengan kepentingan atau keinginan- Humas keinginan pihak yang berkepentingan mulai berkomunikasi tersebut mampu menimbulkan diberikan. motivasi yang berkaitan dengan kooperatif, Arikunto dan Yuliana (2011) adalah kedisiplinan, bagaimana etos kerja, metode dalam produktivitas, dan bahwasanya strategi dalam menjalin hubungan kepuasan bagi seluruh elemen sekolah. Namun, dengan masyarakat meliputi hubungan antar ada beberapa unsur yang belum sepenuhnya warga sendiri (internal public) dan menjalin terlaksana dengan baik. Mengingat definisi hubungan dengan masyarakat luar (external lingkungan public). Publik internal memiliki sasaran seluruh sekolah, tetapi bentuk kegiatan Humas sebagai warga sekolah, terdiri guru, karyawan dan pembina hubungan lebih memfokuskan ikatan peserta didik. Sesuai dengan hasil penelitian antara Rivero (2014) yakni hubungan masyarakat di kurangnya sikap saling pengertian, kepercayaan lingkungan internal diarahkan untuk seluruh dan dukungan yang diberikan peserta didik organisasi dan masing-masing unit. Komunikasi terhadap persepsi sekolah sebagai lembaga internal dan saluran komunikasi internal yang pembelajaran, dikelola daya bagaimana kontribusi peserta didik yang masih manusianya, secara efektif dapat merampingkan pasif terhadap kegiatan-kegiatan sekolah. Tentu pengembangan dapat saja hal tersebut tidak sesuai dengan hasil dan temuan Kiriago (2013) bahwasnya sekolah dengan mempromosikan baik oleh organisasi sumber yang perubahan internal guru dan hal organisasi adalah karyawan, tersebut ada seluruh serta dapat dalam warga masih dilihat pengembangan perencanaan dalam organisasi. sebagai lingkungan Selain itu, publik eksternal memiliki sasaran internal maupun eksternal. Lingkungan internal mencakup struktur, teknologi, dan orang-orang sekolah. yang ditemukan dalam organisasi, sedangkan keselarasan dengan hasil penelitian Kiriago lingkungan eksternal mengacu pada kelompok- (2013) kelompok organisasi, individu dan kekuatan digunakan yang ditemukan di luar organisasi pendidikan termasuk pertemuan tatap muka, media cetak yang atau siaran, dan teknologi komunikasi elektronik berdampak kelangsungan pada hidup efektivitas pendidikan. dan Kiriago Realita yang seperti tersebut menyatakan untuk internet. kurang saluran komunikasi Maka adanya dalam dapat eksternal, pelaksanaan menambahkan kembali bahwa semua anggota strategi komunikasi diperlukan pengembangan sekolah harus berkontribusi dalam membangun media untuk menciptakan reputasi yang baik. persepsi sekolah sebagai lembaga pendidikan Bentuk evaluasi program kerja Humas yang kompetitif, dan membantu menumbuhkan SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar dilakukan kepercayaan sekolah, melalui dua bentuk, yakni meliputi monitoring mengembangkan kerja sama dan ciptakan saat kegiatan berlangsung dan rapat akhir tahun hubungan pelajaran berupa laporan. Monitoring pada saat pada yang warga baik dengan lingkungan sekolah. program Pelaksanaan membentuk citra strategi dalam kegiatan berlangsung dilakukan untuk mengetahui dan memastikan bahwa kegiatan tersebut berlangsung sesuai Karanganyar tidak terlepas dari media online rencana atau tidak. Selain itu pengawasan sebagai publik tersebut juga berguna sebagai acuan untuk eksternal dalam pelaksanaan kegiatan Humas. melakukan tindakan-tindakan perbaikan apabila Media online yang digunakan Humas SMK terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana Muhammadiyah 2 Karanganyar kepada publik awal. eksternal diantaranya adalah email, website, dilaksanakan guna facebook dan whatsapp. Mengingat bahwa target tujuan Humas secara kontinu harus selalu melakukan ditetapkan dalam perumusan strategi. Selain itu, publikasi adanya evaluasi juga menjadi tempat bagi seluruh guru peningkatan dan karyawan untuk terlibat menyampaikan pengelolaan dari segi kuantitas dan kualitas. Hal kritik dan saran terkait program kerja yang telah ini dikarenakan media memiliki peran kuat dalan diselenggarakan. Hal tersebut sesuai dengan membentuk pandangan publik terhadap hal-hal teori yang disampaikan oleh sekolah. Kurangnya menyebutkan bahwa salah satu langkah dalam pengembangan dan pengelolaan media online penyelenggaraan kegiatan dalam suatu kantor dapat dilihat dari isi website yang tidak memuat maupun organisasi adalah monitor and evaluate berita terkini dari sekolah dan infromasi yang the diberikan kurang jelas dan tidak lengkap, serta penilaian program. Diperkuat teori Boddy (2008: di sekolah tidak terdapat media cetak seperti 600) majalah yang dapat meningkatkan nilai prestise pengawasan merupakan kegiatan umum yang komunikasi sekolah pengembangan Muhammadiyah atau 2 sarana SMK Humas kerja maka media kepada perlu serta Sedangkan atau Koontz, program yang et atau evaluasi mengukur kegiatan al (2015: mengawasi menyebutkan kegiatan ketercapaian yang 201) telah yang melakukan bahwa proses menetapkan standar kinerja, pengukuran guru dan karyawan, meningkatkan kualitas kerja terhadap kinerja terkini, pembandingan kinerja dengan terkini pengambilan memperluas informasi dan meningkatkan kerja penyimpangan sama DU/DI melalui MoU, serta pemberian dengan tindakan standar, untuk dan memperbaiki kinerja atau perubahan terhadap standar. pelatihan pengelolaan media, pembinaan dan pengawasan kepada peserta didik dengan baik. KESIMPULAN Strategi Humas dalam membangun citra SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar melalui: 1) SARAN Saran yang disampaikan peneliti perumusan strategi humas, diawali dengan berdasarkan simpulan hasil penelitian yang penyelarasan visi, misi dan tujuan sekolah dan telah diperoleh adalah sebagai berikut: menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal a. Diharapkan kepala sekolah meningkatkan sekolah; 2) strategi humas, yakni menentukan pengawasan secara rutin berkaitan dengan program-program sekolah dengan melibatkan manajemen Humas sekolah melalui rapat publik yang diadakan setiap bulan. internal dan eksternal sekolah; 3) implementasi strategi humas, diperankan Wakil b. Diharapkan kepala sekolah dapat Kepala Sekolah bidang Humas dengan bantuan memberikan tim kelompok kerja sesuai uraian tugas Humas reward bagi guru, karyawan atau peserta yang sudah direncanakan; 4) evaluasi strategi didik yang berprestasi di setiap akhir tahun, humas, serta pemberian punishment yang bersifat melalui kegiatan monitoring saat motivasi pelaksanaan kegiatan dan evaluasi di akhir mendidik tahun ajaran. meningkatkan Hambatan yang dihadapi Humas dalam membangun citra SMK Muhammadiyah bagi melalui peserta motivasi pemberian didik dalam untuk rangka menjaga reputasi sekolah. 2 c. Diharapkan Wakil Kepala Sekolah bidang Karanganyar yakni keterbatasan waktu dalam Humas dapat meningkatkan komitmen dalam menjalankan kinerja Humas karena banyaknya menjalankan manajemen Humas sekolah. agenda yang dijalankan, guru dan karyawan d. Diharapkan Wakil Kepala Sekolah bidang kurang berkompeten dalam pengelolaan media Humas perlu meningkatkan upaya untuk komunikasi, kerja sama dengan DU/DI dalam membangun citra SMK Muhammadiyah 2 menyerap tenaga kerja yang relevan dengan Karanganyar dengan cara menjalin kerja keahlian lulusan masih bersifat pasif, dan sama dengan media dan pers. perilaku peserta didik belum menjunjung tinggi reputasi sekolah. Cara e. Diharapkan praktisi Muhammadiyah mengatasi 2 SMK Karanganyar yang meningkatkan kemampuan pembuatan dan dihadapi Humas dalam membangun citra SMK penulisan produk-produk publikasi, informasi Muhammadiyah dan berita dalam bentuk press release, 2 hambatan Humas Karanganyar yakni pembagian tugas dan koordinasi yang baik antar majalah atau koran. f. Diharapkan Wakil Kepala Sekolah bidang 278333/bps-lulusan-smk-banyak- Humas SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar menganggur-sepanjang-2017. membentuk program kerja yang lebih variatif yang mana kegiatan tersebut sasarannya Djaali. (2012). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. adalah seluruh warga sekolah dan para stakeholder agar dapat meningkatkan reputasi positif. David, H. J. & Thomas, L. W. (2010). Manajemen Strategis. Yogyakarta: Andi g. Diharapkan praktisi Humas dapat Offset memfungsikan dan mengembangkan media sosial secara optimal sebagai media komunikasi kepada publik. dan Media Komunikasi (Konsep dan h. Diharapkan Wakil Kepala Sekolah bidang Humas lebih Ruslan, R. (2016). Manajemen Publik Relation mengkoordinir BKK untuk Aplikasi). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. melakukan pendataan secara berkala terkait memperluas Arikunto, S. & Lia, Y. (2011). Manajemen hubungan kerja bersama DU/DI yang relevan Pendidikan. Yogyakarta: Adita Media dengan program keahlian secara intensif. Yogyakarta. penelusuran i. Diharapkan alumni guru dan dapat memberdayakan peserta didik melalui metode dan teknik pembelajaran yang berbasis pada kurikulum pendidikan berbasis masyarakat. j. Sebaiknya guru secara intensif melakukan pendekatan kepada peserta didik agar memiliki kepribadian dan budi pekerti yang baik serta peserta didik lebih Rivero, O. & John, T. (2014). The Importance of Public Relations Sustainability. in Corporate Global Journal of Management and Business Research: B Economics and Commerce, 14(4), 3. Kiriago, A. N. (2013). External Communication terpacu and Its Influence on Secondary Schools memberikan kontribusi kepada sekolah yang Corporate Image: A Case Study of kaitannya Kitale membangun Muhammadiyah 2 citra Karanganyar SMK menjadi sekolah yang bereputasi positif. Secondary Journal in Business of School. Academic and Social Sciemces, 3 (8), 2-3. Ratnasari, E. D. (2018, 26 Februari). BPS: SMK Sepanjang International Research DAFTAR PUSTAKA Lulusan Academy Banyak 2017. Menganggur CNN Indonesia. Koontz., Harold. & Heinz, W. (2015). Manajemen: Sebuah Perspektif Global. Bandung: Alfabeta. Diperoleh pada 2 Oktober 2018, dari https://www.cnnindonesia.com/gayahidup/20180223141505-282- Boddy, D. (2008). Management: an Introduction (4th ed). Harlow: Pearson Education Limited. Melindungi Konsumen Melalui Peraturan Pelabelan Produk Pangan di Indonesia Yuyut Prayuti Fakultas Hukum Universitas Islam Nusantara Jln. Soekarno Hatta no 530 Bandung [email protected] Abstrak Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa adalah salah satu hak konsumen menurut UUPK No 8/1999. Masih banyak ditemukan pelanggaran peraturan pelabelan pangan yang sangat merugikan masyarakat, bahkan dapat mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Saat ini pelaku usaha berada pada kedudukan yang lebih kuat, baik secara ekonomi maupun segi kekuasaan dibandingkan dengan konsumen, karena itu konsumen perlu mendapat perlindungan hukum atas hak-haknya. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Tulisan ini mengkaji bagaimana melindungi konsumen melalui peraturan pelabelan produk pangan di Indonesia menurut Undang Undang No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen agar dapat dilaksanakan secara efektif dan bermanfaat bagi masyarakat, Negara, pelaku usaha dan lingkungan. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan perundang undangan, analisis data melalui kajian kepustakaan yang didukung dengan kajian lapangan kemudian dipaparkan dalam bentuk deskriptif analitis dan disimpulkan secara kualitatif, tanpa menggunakan statistik dan rumus matematik serta angka angka. Kesimpulan menunjukan bahwa Model Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Akibat Pelanggaran Pelabelan Produk Pangan Di Indonesia masih belum maksimal melindungi hak hak konsumen dan belum memenuhi asas manfaat, keadilan, keseimbangan, keselamatan dan kepastian hukum. Aturan label yang hanya ditempelkan pada kemasan pangan mudah untuk dilanggar karena label tempelan mudah diganti atau dihapus. Konsumen yang dirugikan berhak menuntut tanggung jawab kepada pelaku usaha melalui jalur litigasi dan non litigasi. Kata Kunci : Perlindungan Konsumen, Label Pangan Pendahuluan Banyak masalah mengenai pangan terjadi di Indonesia. Perdagangan pangan yang kedaluwarsa, seperti kasus pelanggaran label kadaluarsa di Tambora, atau perbuatan perbuatan lain yang akibatnya sangat merugikan masyarakat, bahkan dapat mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa manusia terutama bagi anak anak pada umumnya dilakukan melalui penipuan pada label pangan. Di dalam Pasal 1 (3) dari PP No. 69 Tahun 1999 ditentukan bahwa yang dimaksud dengan label pangan adalah : Setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada atau merupakan bagian kemasan pangan, yang selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah ini disebut Label. Lebih lanjut di dalam Pasal 2 PP No. 69 Tahun 1999 ditentukan bahwa: (1) Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label pada, di dalam, dan atau di kemasan pangan. (2) Pencantuman Label sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kemasannya, tidak mudah luntur atau rusak, serta terletak pada bagian kemasan pangan yang mudah untuk dilihat dan dibaca. Kemudian di dalam Pasal 3 dari PP No. 69 Tahun 1999 tersebut ditentukan bahwa : (1) Label sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 (2) a. b. c. d. e. ayat (1) berisikan keterangan mengenai pangan yang bersangkutan. Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya : nama produk; daftar bahan yang digunakan; berat bersih atau isi bersih; nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia. tanggal, bulan, dan tahun kedaluwarsa. Pasal 1 ayat (3) dari Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan menentukan bahwa yang dimaksud dengan label pangan adalah: setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada atau merupakan bagian kemasan pangan. Dari pengertian label di atas menunjukkan bahwa di dalam label itu termuat informasi. Ketiadaan informasi yang benar, jelas dan jujur yang seharusnya tercantum dalam label bias menyesatkan konsumen dan tentunya berakibat hukum pada pelaku usaha untuk bertanggungjawab apabila merugikan konsumen. Pelaku usaha bidang pangan sering beritikad tidak baik. Penjelasan tentang konsep itikad tidak baik dijelaskan dalam beberapa yurisprudensi yaitu Putusan No. 1269 L/Pdt/1984 tanggal 15 Januari 1986, Putusan No. 220 PK/Perd/1981 Tanggal 16 Desember 1986 dan putusan No.1272 K/Pdt/1984 tanggal 15 Januari 1987.1 Secara umum jangkauan pengertian itikad tidak baik meliputi perbuatan “penipuan” (fraud), “rangkaian” (misleading) orang lain, serta tingkah laku yang mengabaikan kewajiban hukum untuk mendapat keuntungan. Bisa juga diartikan sebagai perilaku yang tidak dibenarkan secara sadar untuk mencapai suatu tujuan yang Mukti Fajar, “Itikad Tidak Baik Dalam Pendaftaran Dan Model Penegakan Hukum Merk di Indonesia”, JH Ius Quia Iustum, Vol.25 No.2 Tahun 2018, hlm 224 1 tidak jujur (dishonesty purpose).2 Akan tetapi dalam perkembangannya terutama di bidang hukum bisnis, asas itikad tidak baik juga dikaitkan dengan disloyalty atau ketidaksetiaan dan ketidakpatuhan.3 Salah satu kasus label pangan yang terjadi di Indonesia adalah pelaku usaha mengganti label tanggal yang sudah kadaluarsa seperti diberitakan Kompas.com tanggal 20 Maret 2018 bahwa polisi telah menangkap pelaku penjualan makanan kadaluarsa di Tambora, Jakarta, pelaku usaha tertangkap tangan sedang mengganti 96.060 produk dengan label tanggal yang sudah kadaluarsa di gudang milik PT.PRS. Produk tersebut terdiri dari mayonnaise, susu bayi, selai, kue kering, kacang-kacangan, dan lain-lain. Menurut polisi akibat perbuatan tersebut pelaku usaha dijerat Pasal 62 ayat (1) jo Pasal 8 ayat (1) dan (3) Undang Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Pasal 143 jo Pasal 99 Undang Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan.4 Indonesia sudah mengatur tentang pelabelan pada setiap makanan dan minuman yaitu pada Pasal 1, 2, dan 3 Peraturan BPOM Nomor HK. 03. 1. 23. 06. 10. 5166 tentang Pencatuman Informasi Asal Bahan Tertentu, Kandungan Alkohol dan Batas Kedaluwarsa pada Penandaan/Label Obat, Obat Tradisional, Suplemen Makanan dan Pangan. Juga tercantum dalam Permenkes No. 180/Menkes/1985, ada 13 jenis makanan dan minuman yang diharuskan mencantumkan tanggal kadaluwarsa seperti roti, makanan rendah kalori, nutrisi suplemen, coklat, kelapa dan hasil olahannya, minyak goreng, margarine, produk kacang, telur, saus dan kecap, minuman ringan tak berkarbonat, sari buah dan susu. Menurut hasil kajian BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Nasional) ada 4 (empat) masalah utama yang terkait dengan 2 Agus Mardianto, “Penghapusan Merk Berdasarkan Gugatan Pihak Ketiga”, Jurnal Dinamika Hukum, Unsoed Purwokerto, Vol.10 No.1 2010, hlm. 47 3 David Pozen, “Constitunional Bad Faith”, Harvard Law Review, Volume.129 No.4 Tahun 2016, hlm. 892,893 4 “Ganti Label Makanan Kedaluwarsa lalu Dijual Lagi, Tiga Orang Ditangkap di Tambora”, https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/20/19 114261/ganti-label-makanan-kedaluwarsa-laludijual-lagi-tiga-orang-ditangkap-di, diakses 20 Juli 2019. keamanan konsumen terhadap makanan yang dikonsumsinya, yaitu:5 (1) Keracunan makanan yang terjadi karena makanan rusak dan terkontaminasi atau tercampur dengan bahan berbahaya. (2) Penggunaan bahan terlarang yang mencakup: bahan pengawet, bahan pewarna, bahan pemanis dan bahan-bahan tambahan lainnya. (3) Ketentuan label bagi produk-produk industri makanan dan minuman yang tidak sesuai dengan ketentuan label dan iklan pangan (PP 69 Tahun 1999) beserta Permenkes. (4) Produk-produk industri makanan dan minuman yang kedaluarsa. Menyangkut penyimpangan terhadap peraturan pelabelan yang paling banyak ditemui adalah6: Penggunaan label tidak berbahasa Indonesia dan tidak menggunakan huruf latin, terutama produk impor. Label yang ditempel tidak menyatu dengan kemasan. Tidak mencantumkan waktu kedaluarsa. Tidak mencantumkan keterangan komposisi dan berat bersih Tidak ada kode barang MD, ML atau P-IRT dan acuan kecukupan gizi yang tidak konsisten. Tidak mencantumkan alamat produsen/importir (bagi produknya). Pelanggaran mengenai label pangan tersebut merupakan masalah yang sangat merugikan konsumen dari sisi keamanan, kenyamanan, dan kesehatan, bahkan membahayakan keselamatan jiwa konsumen. “Hasil Kajian BPKN di Bidang Pangan Terkait Perlindungan Konsumen”, : https://www.kemendag.go.id/files/pdf/2007/03/30/hasilkajian-badan-perlindungan-konsumen-nasional-bpkn-id11353754131.pdf, diakses 12 Juli 2019, jam 21.22 WIB. 6 Ibid. 5 Rumusan Masalah Bagaimana melindungi konsumen melalui peraturan pelabelan produk pangan di Indonesia ? Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, memahami, dan menganalisis secara mendalam upaya melindungi konsumen melalui peraturan pelabelan produk pangan di Indonesia. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian dengan menggunakan data sekunder atau data kepustakaan7 dan bersifat dekriptif analitis, yaitu menyampaikan gambaran mengenai fakta-fakta yang ada ditunjang dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dan diterapkan.8 Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach) yaitu dengan mengkaji dan menganalisis norma atau materi muatan dalam peraturan perundang-undangan untuk menganalisis permasalahan dalam penelitian. 9 Sebagai data penunjang dilakukan wawancara dengan pihak terkait. Kemudian data yang deiperoleh dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif.10 Hasil Penelitian dan Pembahasan Melindungi konsumen melalui peraturan pelabelan produk pangan di Indonesia Menurut Pasal 1 Angka 1 Undang Undang No. 8 Tahun 1999, Perlindungan Konsumen merupakan upaya untuk menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Berkaitan dengan label pangan maka masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar, jelas, dan lengkap, baik 7 Ronny Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Juritmetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hlm.10 8 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Pers, Jakarta, 1986, hlm. 86. 9 Elis Herlina, “Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Pada Perjanjian Pembiayaan dengan Fidusia Tidak Terdaftar”, JH Ius Quia Iustum, Vol.25 No.2 Tahun 2018, hlm 281 10 Maria Sumardjono, Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian, Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, 1989, hlm.24-25. mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain yang diperlukannya mengenai pangan yang beredar di pasar. Perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab bukan sematamata untuk melindungi kepentingan masyarakat yang mengkonsumsi pangan. Melalui pengaturan yang tepat berikut sanksi-sanksi hukum yang berat, diharapkan setiap orang yang memproduksi pangan atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dapat memperoleh perlindungan dan jaminan kepastian hukum.11 Pasal 8 UUPK menyatakan tentang perbuatan-perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha yaitu sebagai berikut. (1) Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang: a) tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan; b) tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut; c) tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam hitungan menurut ukuran yang sebenarnya; d) tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut; e) tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya, mode, atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label 11 Gusti Ayu Sri Agung Arimas, I Nengah Suharta, “Perlindungan Konsumen dalam Pelabelan Produk Pangan”, Jurnal Kertha Semana Vol. 2 No. 2 Februari 2014, hlm 3 atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut; f) tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut; g) tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu; h) tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan "halal" yang dicantumkan dalam label; i) tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus dipasang/dibuat; j) tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari peredaran. Perbuatan pelaku usaha yang menimbulkan kerugian kepada konsumen akan berpengaruh terhadap pembangunan perekonomian secara umum. Pelaku usaha12 dalam menghasilkan produk barang tertentu harus jujur dalam memberikan informasi melalui label dari produknya kepada konsumen, pelaku usaha harus mengontrol sebelum produk barang tersebut diedarkan, sehingga konsumen mendapatkan produk terbaik dari produk barang yang dipilihnya. Dalam bisnis yang sehat, praktik bisnis yang tidak jujur (unfair trade practice) sangat dilarang.13 Faktanya tetap saja konsumen dalam kedudukan dan posisi tawar yang lemah, seperti pelaku usaha membohongi konsumen melalui iklan,14 yang dapat terjadi dalam bentuk pernyataan yang salah, pernyataan yang menyesatkan ataupun adanya iklan yang berlebihan,15 sedangkan konsumen iklan memegang peran penting yang penting untuk memperoleh informasi produk pelaku usaha. Akibatnya, kerugian yang dialami konsumen tidak hanya kerugian finansial, akan tetapi juga dapat merugikan kesehatan atau keselamatan hidup konsumen itu sendiri. Inipun norma etik, hukum dan tanggung jawab dalam periklanan bukanlah hal yang mudah.16 Pelaku usaha dituntut untuk meningkatkan pelayanan, termasuk dalam hal ini adalah hak konsumen untuk mendapatkan ganti kerugian yang dialami konsumen setelah mempergunakan produk barang pelaku usaha yang tidak sebagaimana mestinya. Sesuai dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia, konsumen yang dirugikan akibat dari 12 (2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud. (3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak, cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar. (4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang memperdagangkan Johanes Gunawan, Product Liablility, Hukum Bisnis Indonesia, Jurnal Hukum Pro Justitia, Vol.12 No.2 Tahun 1994 hlm 7 13 Ari Purwadi, “Implikasi Iklan yang Tidak Benar dan Tidak Bertanggungjawab Timbulnya Sengketa Konsumen”, Jurnal Yustika, Vol.7 No.1 Tahun 2004 hlm 232 14 Janus Sidabalok, “Analisis Terhadap Iklan dan Praktek Periklanan menurut Hukum”, Jurnal Hukum Atmajaya, Vol.12 No.2 Tahun 1999 hlm. 101 15 Ari Purwadi, “Perlindungan Hukum Konsumen dari Sudut Periklanan”, Majalah Hukum, Vol.21 No.21 tahun 1996. Hlm 8 16 Yusuf Shofie, Sistem Tanggung Jawab Periklanan, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol.26 No.2 Tahun 1996 hlm.136 menggunakan produk barang dapat menggugat pihak yang menimbulkan kerugian dan pelaku usaha diharuskan untuk bertanggung jawab atas produk barang yang dihasilkan atau diperdagangkan kepada konsumen,17 terdapat beberapa manfaat yang diperoleh konsumen dari adanya kewajiban pelaku usaha untuk memberikan penggantian kerugian.18 Namun, karena kedudukan pelaku usaha yang berada pada kedudukan yang lebih kuat, baik secara ekonomis maupun segi kekuasaan (bargaining power, bargaining position) dibandingkan dengan konsumen, sehingga konsumen sangat memerlukan bantuan advokasi, perlindungan, serta upaya penyelesaian sengketa secara patut atas hak-hak konsumen. Terdapat beberapa manfaat yang diperoleh konsumen dari adanya kewajiban pelaku usaha untuk memberikan penggantian kerugian. Permasalahan timbul ketika perlindungan konsumen diterapkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia adalah sikap pemerintah yang cenderung melindungi kepentingan industri sebagai faktor esensial dalam pembangunan negara yang sedang berkembang. Hal senada juga disampaikan oleh Purba, bahwa, perlindungan hukum bagi konsumen sebagai satu konsep terpadu merupakan hal baru, yang perkembangannya dimulai dari negara-negara maju. Namun, demikian, saat sekarang konsep ini sudah tersebar ke bagian lain,19 dan pembahasan konsumen akan selalu aktual dan selalu penting untuk dikaji ulang.20 Sebagai konsekuensi hukum dari pelanggaran yang diberikan oleh undangundang tentang perlindungan konsumen dan sifat perdata dari hubungan hukum antara pelaku usaha dan konsumen maka setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha yang merugikan konsumen memberikan hak kepada konsumen yang dirugikan tersebut untuk 17 Yusuf Shofie, Product Liability dalam Institusi Hukum Ekonomi Suatu Kajian Ius Constituendum, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol.29 No.3 Tahun 1999, Hlm.253 18 Ari Purwadi, Model Penyelesaian Sengketa Konsumen di Indonesia, Jurnal Yustika, Vol.4 No.2 Tahun 2001, Hlm.225 19 Zen Purba, “Perlindungan Konsumen: Sendi-sendi Pokok Pengaturan”, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol.22 Tahun 1992, hlm.393 20 Sri Hartono, “Perlindungan Konsumen di Indonesia (Tinjauan Makro),” Jurnal Mimbar Hukum, No.39/X/2001, Hlm.147 meminta pertanggungjawaban dari pelaku usaha yang merugikan serta menuntut ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh konsumen yang dirugikan tersebut untuk meminta pertanggungjawaban dari pelaku usaha yang merugikan serta menuntut ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh konsumen.21 Pasal 45 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, menyatakan: a. Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum; b. Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa; c. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2); tidak menghilangkan tanggungjawab pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang; d. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut bersengketa; Penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud pada Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini, tidak menutup kemungkinan dilakukannya penyelesaian secara damai oleh para pihak yang bersengketa. Pada umumnya dalam setiap proses penyelesaian sengketa, selalu diupayakan untuk menyelesaikannya secara 21 Gunawan Widjaja, Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, hlm. 3. damai di antara kedua belah pihak yang bersengketa. Penyelesaian sengketa damai adalah penyelesaian yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang bersengketa (pelaku usaha dan konsumen) tanpa melalui pengadilan atau badan penyelesaian sengketa konsumen, dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Ketentuan hukum mengenai pelabelan tersebar dalam berbagai peraturan perundangundangan, diantaranya Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan, PP No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, Permendag No.22/M-DAG/PER/5/2010 tentang Kewajiban Pencantuman Label pada Barang, UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Keputusan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/SK/VIII/1996 tentang Pnecantuman Tulisan “Halal” pada Label Makanan, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 180/Menkes/Per/IV/1985 tentang Makanan Daluwarsa yang telah dirubah dengan Keputusan Dirjen POM No. 02591/B/SK/VIII/91. Masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar, jelas, dan lengkap, baik mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain yang diperlukannya mengenai pangan yang beredar di pasar. Label itu ibarat jendela, konsumen yang jeli bisa mengintip suatu produk dari labelnya.22 Dari informasi pada label, konsumen secara tepat dapat menentukan pilihan sebelum membeli dan atau mengkonsumsi pangan. Tanpa adanya informasi yang jelas maka kecurangan-kecurangan dapat terjadi.23 Banyak masalah mengenai pangan terjadi di Indonesia. Perdagangan pangan yang kedaluwarsa, seperti kasus pelanggaran label kadaluarsa di Tambora di atas, atau perbuatan perbuatan lain yang akibatnya sangat merugikan masyarakat, bahkan dapat mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa manusia terutama bagi anak anak pada umumnya dilakukan melalui penipuan pada label pangan. 22 Purwiyatno Hariyadi, “Mencermati Label dan Iklan Pangan “, http://www.republika.co.id/detail.asp?katakunci=purwiyatn o%20%20hariyadi&id=66926 . 2009, diakses 05 Januari 2018, jam 20.55 WIB. 23 Yusuf Shofie, Perlindungan Konsumen dan Instrumen-Instrumen Hukumnya, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hlm. 15. Label pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada atau merupakan bagian kemasan pangan, yang selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah ini disebut Label. Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label pada, di dalam, dan atau di kemasan pangan. Pencantuman Label sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kemasannya, tidak mudah luntur atau rusak, serta terletak pada bagian kemasan pangan yang mudah untuk dilihat dan dibaca. Label sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat (1) berisikan keterangan mengenai pangan yang bersangkutan. Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya nama produk; daftar bahan yang digunakan; berat bersih atau isi bersih; nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia. tanggal, bulan, dan tahun kedaluwarsa. Konsekuensi akibat pelanggaran hukum sebagaimana yang diatur oleh Undang Undang tentang Perlindungan Konsumen dan sifat perdata dari hubungan hukum antara pelaku usaha dan konsumen. Menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen Pasal 23 yaitu: “Setiap pelanggaran yang dilakukan pelaku usaha yang merugikan konsumen dengan menolak dan/atau tidak memberi tanggapan dan/atau tidak memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen, akan memberikan hak kepada konsumen yang dirugikan tersebut untuk meminta pertanggungjawaban dari pelaku usaha yang merugikannya serta menuntut ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh konsumen tersebut dengan mengajukan gugatan melalui Badan Penyelesaian Sengketa atau mengajukan ke badan peradilan tempat kedudukan konsumen.” Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. Di dalam UUPK Pasal 45 ayat 2 disebutkan bahwa “Sengketa konsumen terbatas pada sengketa perdata, artinya suatu sengketa/perkara konsumen yang diajukan pengadilan, bukanlah dikarenakan keyakinan sang hakim, melainkan karena inisiatif dari pihak-pihak yang bersengketa. Hal ini bisa dilakukan oleh produsen maupun konsumen. Pengadilan mempunyai kewajiban untuk memberikan pemecahan berdasarkan hukum perdata yang bekerja diantara para pihak secara sukarela. Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela pihak yang bersengketa.” Pasal 62 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tersebut diatur bahwa pelaku usaha yang memproduksi atau memperdagangkan barang yang tidak sesuai dengan berat, jumlah, ukuran, takaran, jaminan, keistimewaan, kemanjuran, komposisi, mutu sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau keterangan tentang barang tersebut (Pasal 8 ayat 1), pelaku usaha yang tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa (Pasal 8 ayat 1), memperdagangkan barang rusak, cacat, atau tercemar (Pasal 8 ayat 2) pelaku usaha yang mencantumkan klausula baku bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen di dalam dokumen dan/atau perjanjian (Pasal 18 ayat 1 huruf b) dapat dihukum dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,- (Dua Milyar Rupiah). Penutup / Kesimpulan Pemerintah berusaha mellindungi konsumen melalui pengaturan pelabelan produk pangan di Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan PP No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, tetapi peraturan peraturan tersebut masih belum secara maksimal melindungi hak-hak konsumen dan belum memenuhi asas-asas perlindungan konsumen yaitu asas manfaat, asas keadilan, asas keseimbangan, asas keselamatan, dan asas kepastian hukum. Aturan mengenai label pangan yang hanya ditempelkan pada kemasan pangan sangat mudah untuk dilanggar oleh pelaku usaha karena label tempelan tersebut sangat mudah dihapus atau dilepas dan diganti dengan tanggal kedaluwarsa yang baru seperti yang dilakukan pelaku usaha di Tambora, Jakarta. Konsumen berhak meminta pertanggungjawaban pelaku usaha yang merugikannya dan berhak menuntut ganti kerugian dengan alasan wanprestasi atau perbuatan melawan hukum, dengan mengajukan gugatan melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) atau yang disebut melalui jalur non-litigasi, juga bias mengajukan gugatan melalui badan peradilan tempat kedudukan konsumen atau disebut jalur Litigasi, seperti yang diatur dalam Pasal 45 Ayat (1) dan (2) Undang Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Daftar Pustaka Buku : Rajagukguk, Erman, Hukum Perlindungan Konsumen, Mandar Maju, Bandung, 2000. Shofie, Yusuf, Perlindungan Konsumen dan Instrumen-Instrumen Hukumnya, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000. Sidabalok, Janus, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, Paulinus Josua, Medan, 1999. _______, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006. Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Pers, Jakarta, 1986, Hlm. 86. Soemitro, Ronny, Metodologi Penelitian Hukum dan Juritmetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hlm.10 Sumardjono, Maria, Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian, Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, 1989, hlm.24-25. Makalah/Jurnal/Penelitian Arimas, Gusti Ayu Sri Agung, I Nengah Suharta, “Perlindungan Konsumen dalam Pelabelan Produk Pangan”, Kertha Semana Vol. 2 No. 2 Februari 2014. Fajar, Mukti, “Itikad Tidak Baik Dalam Pendaftaran Dan Model Penegakan Hukum Merk di Indonesia”, JH Ius Quia Iustum, Vol.25 No.2 Tahun 2018. Hartono, Sri, “Perlindungan Konsumen di Indonesia (Tinjauan Makro)”, Jurnal Mimbar Hukum, No.39/X/2001. Herlina, Elis, “Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Pada Perjanjian Pembiayaan dengan Fidusia Tidak Terdaftar”, JH Ius Quia Iustum, Vol.25 No.2 Tahun 2018. Johanes Gunawan, “Product Liablility, Hukum Bisnis Indonesia”, Jurnal Hukum Pro Justitia, Vol.12 No.2 Tahun 1994. Mardianto, Agus, “Penghapusan Merk Berdasarkan Gugatan Pihak Ketiga”, Jurnal Dinamika Hukum, Unsoed Purwokerto, Vol.10 No.1 2010. Pozen, David, “Constitunional Bad Faith”, Harvard Law Review, Volume.129 No.4 Tahun 2016. Purba, Zen, “Perlindungan Konsumen: Sendi-sendi Pokok Pengaturan”, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol.22 Tahun 1992. Hlm.393 Purwadi, Ari, “Model Penyelesaian Sengketa Konsumen di Indonesia”, Jurnal Yustika, Vol.4 No.2 Tahun 2001. _______, “Implikasi Iklan yang Tidak Benar dan Tidak Bertanggungjawab Timbulnya Sengketa Konsumen”, Jurnal Yustika, Vol.7 No.1 Tahun 2004. _______, “Perlindungan Hukum Konsumen dari Sudut Periklanan”, Majalah Hukum, Vol.21 No.21 Tahun 1996. Shofie, Yusuf, “Sistem Tanggung Jawab Periklanan”, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol.26 No.2 Tahun 1996. _______, “Product Liability dalam Institusi Hukum Ekonomi Suatu Kajian Ius Constituendum”, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol.29 No.3 Tahun 1999. Sidabalok, Janus, “Analisis Terhadap Iklan dan Praktek Periklanan Menurut Hukum”, Jurnal Hukum Atmajaya, Vol. 12 No.2 Tahun 1999. Susantri, Yulia, “Pencantuman Informasi pada Label Produk Kosmetik Oleh Pelaku Usaha Dikaitkan Dengan Hak Konsumen”, Syiah Kuala Law Journal, Vol. 2 No.1 Tahun 2018. Peraturan Perundang-undangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3821). Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5360). Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label Dan Iklan Pangan (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3867). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK. 03. 1. 23. 06. 10. 5166 tentang Pencatuman Informasi Asal Bahan Tertentu, Kandungan Alkohol dan Batas Kedaluwarsa pada Penandaan/Label Obat, Obat Tradisional, Suplemen Makanan dan Pangan (Berita Negara Republika Indonesia Tahun 2010 Nomor 328). Peraturan Menteri Kesehatan No. 180/Menkes/1985 tentang Makanan Daluwarsa. Putusan Pengadilan Putusan No. 1269 L/Pdt/1984 tanggal 15 Januari 1986. Putusan No. 220 PK/Perd/1981 Tanggal 16 Desember 1986. Putusan No.1272 K/Pdt/1984 tanggal 15 Januari 1987 Sumber Lain “Hasil Kajian BPKN di Bidang Pangan Terkait Perlindungan Konsumen” https://www.kemendag.go.id/files/pd f/2007/03/30/hasil-kajian-badanperlindungan-konsumen-nasionalbpkn-id1-1353754131.pdf, diakses 12 Juli 2019, jam 21.22 WIB Purwiyatno Hariyadi, “Mencermati Label dan Iklan Pangan“, http://www.republika.co.id/detail.as p?katakunci=purwiyatno%20%20ha riyadi&id=6692.2009, diakses 05 Januari 2018, jam 20.55 WIB. “Ganti Label Makanan Kedaluwarsa lalu Dijual Lagi, Tiga Orang Ditangkap di Tambora”, https://megapolitan.kompas.com/read/2 018/03/20/19114261/ganti-labelmakanan-kedaluwarsa-lalu-dijual-lagitiga-orang-ditangkap-di Akibat Hukum Debitur Wanprestasi pada Perjanjian Pembiayaan Konsumen dengan Jaminan Fidusia yang tidak terdaftar Elis Herlina [email protected] Universitas Islam Nusantara Bandung Abstrak Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia menentukan bahwa objek jaminan fidusia harus didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia supaya mempunyai kekuatan eksekutorial. Dalam praktek masih terdapat fenomena objek jaminan fidusia tersebut tidak didaftarkan, namun saat debitur wanprestasi tetap dilakukan eksekusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana akibat hukum debitur wanprestasi pada perjanjian pembiayaan konsumen dengan jaminan fidusia yang tidak terdaftar. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan metode pendekatan yuridis normatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada saat debitur wanprestasi, maka kreditur tidak mempunyai hak eksekusi terhadap jaminan fidusia, debitur dilindungi dengan ketentuan Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 10/PMK.010/2012. Jika kreditur mengambil jaminan fidusia secara paksa, maka dapat dilaporkan ke pihak kepolisian atas tindak pidana perampasan yang diancam dengan Pasal 368 KUH Perdata, juga termasuk katagori perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata. Kreditur tidak mempunyai hak mendahului, sehingga kedudukannya sebagai kreditur konkuren dan perlindungan hukum bagi kreditur hanya berupa jaminan umum Pasal 1131 KUH Perdata. Oleh karena itu, jaminan fidusia harus selalu didaftarkan dan masih perlu sosialisasi tentang Undan-Undang Jaminan Fidusia. Kata Kunci : wanprestasi, perjanjian pembiyaan konsumen, jaminan fidusia Jenis paper : hasil penelitian Pendahuluan Jasa lembaga keuangan bukan Bank yaitu pembiayaan konsumen saat ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, misalnya pembelian kendaraan bermotor yang dilakukan secara kredit Dalam transaksi pembiayaan konsumen ada tiga pihak yang terlibat, yaitu pihak perusahaan pembiayaan konsumen (pemberi dana pembiayaan atau kreditur), pihak konsumen (penerima dana pembiayaan atau debitur) dan pihak supplier (penjual atau penyedia barang)24. Antara pihak kreditur dengan debitur terdapat hubungan kontraktual, yaitu dengan membuat kontrak pembiayaan konsumen. Pihak kreditur, dalam hal ini perusahaan pembiayaan konsumen memberikan pinjaman dana untuk pembelian suatu barang, pihak konsumen menerima dana tersebut untuk pembelian barang tertentu, kemudian utangnya dibayar secara angsuran kepada perusahaan pembiayaan konsumen, barang tersebut disediakan oleh penjual (supplier) dan perusahaan pembiayaan konsumen melunasi barang tersebut. Jika debitur tidak memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan, maka debitur dianggap wanprestasi. Untuk kepastian dan keamanan kreditur dalam hal pengembalian pinjaman jika di kemudian hari terjadi sesuatu hal yang tidak sesuai dengan yang diperjanjikan, maka perusahaan pembiayaan konsumen membutuhkan suatu jaminan dari debitur atau konsumen. Oleh karena itu, barang yang dibeli dijadikan jaminan secara fidusia, artinya, debitur sebagai pemberi Fidusia dan kreditur sebagai penerima fidusia. Pembebanan dengan jaminan fidusia sangat membantu debitur atau konsumen, karena debitur dapat tetap menguasai objek jaminan fidusia dan yang dipegang oleh perusahaan pembiayaan hanya dokumen kepemilikan barang tersebut sampai pinjaman tersebut lunas. Saat ini fidusia diatur dalam UndangUndang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (UUJF). Jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi. Pembebanan benda dengan jaminan Fidusia harus dibuat dengan akta notaris dan disebut sebagai Akta Jaminan Fidusia 24 Muhammad Chidir, (1993), Badan Hukum, Alumni, Bandung, hlm.166. sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 5 ayat (1) UUJF. Pasal 11 ayat (1) jo. Pasal 12 ayat (1) UUJF menentukan bahwa objek jaminan fidusia harus didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia. Selanjutnya akan dikeluarkan Sertifikat Jaminan Fidusia oleh Kantor Pendaftaran Fidusia yang mengandung irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” yang mempunyai kekuatan eksekutorial sama seperti suatu keputusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.25 Pada prakteknya terdapat perjanjian pembiayaan dengan jaminan fidusia yang tidak dibuat dengan akta notaris dan jaminan fidusia tidak didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia, namun apabila debitur wanprestasi, pihak perusahaan pembiayaan tetap mengambil objek jaminan fidusia, bahkan kadangkala diambil secara paksa. Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang akan dibahas adalah bagaimana akibat hukum debitur wanprestasi pada perjanjian pembiayaan konsumen dengan jaminan fidusia yang tidak terdaftar. Metodologi Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, yaitu penelitian dengan menggunakan data sekunder atau data kepustakaan26 dan bersifat deskriptif analitis, yaitu menyampaikan gambaran mengenai fakta-fakta yang ada ditunjang dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dan diterapkan.27 Teknik pengumpulan data dilakukan dengan penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan mengumpulkan data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Sebagai data penunjang dilakukan wawancara dengan pihak yang terkait. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif.28 25 J. Satrio,(2007), Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm 198. 26 Ronny Hanitijo Soemitro, (1990), Metodologi Penelitian Hukum dan Juritmetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, hlm. 10 27 Soerjono Soekanto, (1986), Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Pers, Jakarta, hlm. 86. 28 Maria S.W. Sumardjono, (1989), Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian, Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, hlm. 24-25. Hasil dan Pembahasan Lembaga pembiayaan merupakan lembaga keuangan bukan bank yang muncul sebagai suatu bentuk penyediaan dana atau barang modal kepada masyarakat, yang tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat. Perusahaan pembiayaan konsumen sebagai salah satu bentuk usaha dari lembaga pembiayaan pada dasarnya tidak menekankan pada aspek jaminan (collateral), karena dalam pembiayaan konsumen barang yang dibeli dijadikan sebagai jaminan dengan pengikatan secara fidusia, tetapi karena pembiayaan konsumen merupakan lembaga bisnis, maka dalam kegiatannya tidak terlepas dari unsur resiko.29 Menurut Perpres Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Lembaga Pembiayaan, pembiayaan konsumen adalah pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran.30 Bila seseorang menginginkan suatu barang untuk kebutuhan sehari-harinya, akan tetapi pengahasilannya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya secara tunai dan lunas, maka dapat menggunakan alternatif pembiayaan melalui sistem pembiayaan konsumen dengan tujuan untuk memberikan kemudahan melebihi kemudahan yang 31 diberikan oleh bank. Pembiayaan konsumen merupakan model pembiayaan yang dilakukan oleh perusahaan finansial dalam bentuk pemberian bantuan dana untuk pembelian produk-produk tertentu. Bantuan dana diartikan sebagai pemberian kredit yang bukan pemberian uang secara tunai untuk pembelian suatu barang dan nasabah hanya akan menerima barang tersebut, pembiayaan konsumen ini di sale credit, karena konsumen tidak menerima uang tunai, tapi hanya menerima barang yang dibeli dari kredit tersebut.32 29 Achmad Yusuf Sutarjo, Djuwityastuti, (2018),Akibat Hukum Debitur Wanprestasi Pada Perjanjian Pembiayaan Konsumen Dengan Obyek Jaminan Fidusia Yang Disita Pihak Ketiga, Privat Law, No. 1, Vol 6. 30 Perpres Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Lembaga Pembiayaan 31 Yanuar Kukuh Prabowo, op.cit, hlm.363 32 Munir Fuady, (2002), Hukum Tentang Pembiayaan Konsumen, PT, Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 205. Pembiayaan konsumen sebagai salah satu bentuk bisnis pembiayaan bersumber dari berbagai ketentuan hukum, baik perjanjian maupun undang-undang.33 Perjanjian pembiayaan konsumen dibuat berdasarkan asas kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 KUH Perdata yang di dalamnya memuat rumusan kehendak berupa hak dan kewajiban dari perusahaan pembiayaan konsumen sebagai kreditur dan konsumen sebagai debitur, jika dalam pelaksanaannya seorang debitur tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana yang tertuang di dalam perjanjian, maka debitur dianggap wanprestasi.34 Wanprestasi meliputi bentuk-bentuk sebagai berikut : 35 1. Tidak melaksanakan prestasi sama sekali; 2. Melaksanakan prestasi, tetapi tidak sebagaimana mestinya; 3. Melaksanakan prestasi, tetapi tidak tepat pada waktunya; 4. Melaksanakan perbuatan yang dilarang dalam perjanjian Pada pelaksanaan perjanjian pembiayaan konsumen, pihak konsumen membayar harga barang kepada perusahaan pembiayaan konsumen secara angsuran sampai lunas. Sebelum pembayara lunas, maka semua dokumen kepemilikan atas barang dikuasai oleh perusahaan pembiayaan konsumen sebagai jaminan secara fidusia. Jika konsumen melakukan wanprestasi dalam arti tidak mampu atau lalai dalam membayar angsuran yang menjadi kewajibannya, maka perusahaan pembiayaan konsumen dapat melakukan eksekusi terhadap benda yang menjadi obyek jaminan fidusia untuk menjualnya guna mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan.36 Fidusia merupakan pengembangan dari lembaga Gadai, oleh karena itu yang menjadi objek jaminannya yaitu barang bergerak, baik 33 Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati, (2000), Segi Hukum Lembaga Keuangan dan Pembiayaan, Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 214. 34 Yanuar Kukuh Prabowo, (2018), Perjanjian Pembiayaan Konsumen Berdasarkan Akta Di Bawah Tangan, Jurist-Diction, No. 1, Vol. 1, September 2018, hlm. 378. 35 Muhammad Syaifuddin, (2012), Hukum Kontrak Memahami Kontrak dalam Perspektif Filsafat, Teori, Dogmatik dan Praktik Hukum (Seri Pengayaan Hukum Perikatan), Mandar Maju, Bandung, hlm 338. 36 Achman Yusuf Sutarjo, op.cit, hlm. 94. yang berwujud maupun yang tidak berwujud, dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani Hak Tanggungan37. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia menyebutkan bahwa Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda. Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia menyebutkan bahwa: Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan Pemberi Fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada Penerima Fidusia terhadap kreditur lainnya. Dari definisi Fidusia dan Jaminan Fidusia yang diberikan tersebut jelas bahwa Fidusia dibedakan dari Jaminan Fidusia. Dimana Fidusia merupakan suatu “proses pengalihan hak kepemilikan” dan Jaminan Fidusia adalah “jaminan yang diberikan dalam bentuk Fidusia”38. Jaminan Fidusia itu sebagaimana halnya pada gadai merupakan perjanjian yang accesoir, merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang berupa perjanjian pinjam meminjam uang (Pasal 4 UndangUndang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia). Jadi adanya dan hapusnya tergantung pada perjanjian pokok. Jaminan Fidusia mempunyai sifat zaaksgevolg yakni tetap mengikuti benda yang menjadi obyek jaminan Fidusia dalam tangan siapapun benda tersebut berada kecuali pengalihan atas benda persediaan yang menjadi obyek jaminan Fidusia (Pasal 20 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia). Piutang yang dijamin dengan Fidusia merupakan piutang preferen yaitu lebih didahulukan pemenuhannya dari piutang yang lain (Pasal 27 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 37 Iswi Hariyani, (2010), Bebas Jeratan Utang Piutang, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, hlm 87. 38 Henny Tanuwidjaja, (2012), Pranata Hukum Jaminan Utang dan Sejarah Lembaga Hukum Notariat, PT Refika Aditama, Bandung, hlm 58. tentang Jaminan Fidusia). Jaminan Fidusia hanya berisi hak untuk pelunasan utang saja dan tidak hak untuk memiliki bendanya. Setiap janji yang memberi kewenangan kepada penerima Fidusia untuk memiliki benda yang menjadi obyek jaminan Fidusia apabila debitur wanprestasi adalah batal demi hukum (Pasal 33 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia)39. Debitur sebagai pemberi fidusia berkewajiban memenuhi prestasi sesuai dengan apa yang telah diperjanjikan dalam perjanjian pembiayaan konsumen. Pasal 11-15 Undang-Undang Jaminan Fidusia menentukan bahwa objek jaminan fidusia harus didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia dan Kantor Pendaftaran Fidusia akan mengeluarkan Sertifikat Jaminan Fidusia yang mencantumkan kata-kata “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” yang mempunyai kekuatan eksekutorial sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Apabila debitur cidera janji atau wanprestasi, maka penerima fidusia berhak menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaannya sendiri. Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Jaminan Fidusia menyebutkan bahwa apabila debitur atau pemberi fidusia cidera janji, eksekusi terhadap benda yang menjadi obyek jaminan fidusia dapat dilakukan dengan cara : a. Pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) oleh penerima fidusia; b. Penjualan benda yang menjadi yang menjadi obyek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan; c. Penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan pemberi dan penerima fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan para pihak. Sertifikat fidusia dengan irah-irah seperti tersebut di atas merupakan simbol bahwa suatu dokumen memiliki kekuatan untuk dilaksanakan secara paksa oleh kekuatan aparatur Negara dan memberikan wewenang kepada pemegangnya untuk melakukan upaya pelunasan secara paksa, baik dengan bantuan pengadilan maupun 39 Komariah, (2005), Hukum Perdata, UMM Press, Malang, Cetakan Keempat, hlm 123. lembaga kepolisian sesuai dengan Peraturan Kepala Kepolisian (Perkap) Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Pengamanan Eksekusi Jaminan Fidusia dengan cara melakukan pelelangan atas barang jaminan. Hal ini sesuai dengan Penjelasan Pasal 30 Undang-Undang Jaminan Fidusia.40 Perkap Nomor 8 Tahun 2011 dikeluarkan dengan tujuan terselenggaranya pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia secara aman, tertib, lancar dan dapat dipertanggungjawabkan juga melindungi keselamatan dan keamanan debitur dari perbuatan yang menimbulkan kerugian harta benda atau keselamatan jiwa.41 Pengajuan permohonan eksekusi dapat dilakukan oleh perusahaan pembiayaan konsumen yang telah memegang Serifikat Jaminan Fidusia, dengan kata lain yang telah mendaftarkan jaminan fidusia kepada Kantor Pendaftaran Fidusia. Dalam perjanjian yang dibuat oleh para pihak, hak eksekutorial tidak akan lahir dan tidak dapat dilaksanakan bila dalam proses pembuatannya tidak sesuai dengan Pasal 5 dan Pasal 11 Undang-Undang Jaminan Fidusia, karena hak eksekutorial lahir setelah terbitnya Sertifikat Jaminan Fidusia. Sertifikat tersebut tidak akan diterbitkan jika penerima fidusia tidak mendaftarkan objek jaminan fidusia, sehingga bila hanya dibuat dengan perjanjian di bawah tangan oleh para pihak, maka hak eksekutorial tidak akan lahir dan kreditur tidak berhak melaksanakan eksekusinya sebagaimana diatur dalam Pasal 29 Undang-Undang Jaminan Fidusia.42 Jika kreditur tetap melaksanakan eksekusi riil terhadap objek jaminan fidusia dan kreditur tidak memegang Sertifikat Jaminan Fidusia, maka kreditur telah melanggar Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.010/2012 Tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Yang Melakukan Pembiayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor Dengan Pembebanan Jaminan Jaminan Fidusia yang menyatakan bahwa perusahaan pembiayaan konsumen dilarang melakukan penarikan benda jaminan fidusia berupa kendaraan bermotor apabila Kantor Pendaftaran Fidusia belum menerbitkan 40 Henry Donald Lbn. Toruan, (2018), Problematik Implementasi Pembiayaan Dengan Perjanjian Jaminan Fidusia (The Problems of Financing with Agreement of Fiduciary Transfer of Security), Jurnal Penelitian HUkum DE JURE, Vol. 18 No. 2 Juni 2018, hlm. 199. 41 Yanuar Kukuh Prabowo, op.cit, hlm 368. 42 Ibid, hlm. 370 sertifikat jaminan fidusia dan menyerahkan kepada perusahaan pembiayaan dan perbuatannya termasuk dalam katagori tindak pidana perampasan sebagaimana diatur dalam Pasal 368 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.43 Demikian pula jika debitur sudah melaksanakan sebagian kewajiban dari perjanjian yang dilakukan, maka dapat dikatakan bahwa di atas barang tersebut sudah ada sebagian hak milik debitur dan sebagian milik kreditur. Apalagi eksekusi tersebut tidak melalui badan penilai harga yang resmi atau badan pelelangan umum, sehingga tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum yang diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan dapat digugat ganti kerugian. Apabila benda jaminan dibebankan fidusia dengan akta di bawah tanga, maka kreditur penerima fidusia merupakan kreditur biasa atau biasa disebut kreditur konkuren, sehingga jika debitur wanprestasi, maka kreditur tersebut harus membuktikan dulu bahwa telah terjadi perjanjian utang piutang (pengakuan hutang), perjanjian jaminan fidusia dengan akta di bawah tangan tidak dapat menjadi dasar menuntut hak preferentnya.44 Dengan demikian kreditur hanya mendapat perlindungan hukum secara umum sebagaimana diatur dalam Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa segala kebendaan si berhutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru aka nada di kemudian hari menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan. Dengan demikian, perjanjian pembiayaan konsumen dengan jaminan fidusia yang tidak terdaftar jika terjadi wanprestasi oleh debitur menimbulkan akibat hukum yang merugikan kedua belah pihak, terutama pihak kreditur sebagai penerima fidusia. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa akibat hukum debitur wanprestasi pada perjanjian pembiayaan konsumen dengan jaminan fidusia yang tidak 43 Ibid, hlm 375 Muhammad Moerdiono Muhtar, (2013), Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Pada Perjanjian Fidusia Dalam Praktek, Lex Privatum, Vol.I/No.2/Apr-Jun/2013, hlm. 15. 44 terdaftar adalah bahwa kreditur tidak mempunyai hak eksekusi terhadap jaminan fidusia, debitur dilindungi dengan ketentuan Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 130/PMK.010/2012. Jika kreditur mengambil jaminan fidusia secara paksa, maka dapat dilaporkan ke pihak kepolisian atas tindak pidana perampasan yang diancam dengan Pasal 368 KUHP, juga termasuk katagori perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata. Kreditur tidak mempunyai hak mendahului, sehingga kedudukannya sebagai kreditur konkuren dan perlindungan hukum bagi kreditur hanya berupa jaminan umum Pasal 1131 KUH Perdata. Oleh karena itu, jaminan fidusia harus selalu didaftarkan dan masih perlu sosialisasi tentang UndangUndang Jaminan Fidusia. Ucapan Terimakasih Penelitian ini didanai oleh Kementrian Ristek, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Daftar Pustaka Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati, (2000), Segi Hukum Lembaga Keuangan dan Pembiayaan, Citra Aditya Bakti, Bandung. Achmad Yusuf Sutarjo, Djuwityastuti, (2018), Akibat Hukum Debitur Wanprestasi Pada Perjanjian Pembiayaan Konsumen Dengan Obyek Jaminan Fidusia Yang Disita Pihak Ketiga, Privat Law, No. 1, Vol 6. Komariah, Hukum Perdata, (2005), UMM Press, Malang, Cetakan Keempat. Maria S.W. Sumardjono, (1989), Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian, Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta. Muhammad Chidir, (1993), Badan Hukum, Alumni, Bandung. Muhammad Syaifuddin, (2012), Hukum Kontrak Memahami Kontrak dalam Perspektif Filsafat, Teori, Dogmatik dan Praktik Hukum (Seri Pengayaan Hukum Perikatan), Mandar Maju, Bandung. Muhammad Moerdiono Muhtar, (2013), Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Pada Perjanjian Fidusia Dalam Praktek, Lex Privatum, Vol.I/No.2/Apr-Jun/2013. Munir Fuady, (2002), Hukum Tentang Pembiayaan Konsumen, PT, Citra Aditya Bakti, Bandung. Ronny Hanitijo Soemitro, (1999), Metodologi Penelitian Hukum dan Juritmetri, Ghalia Indonesia, Jakarta. Soerjono Soekanto, (1986), Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Pers, Jakarta. Yanuar Kukuh Prabowo, (2018), Perjanjian Pembiayaan Konsumen Berdasarkan Akta Di Bawah Tangan, Jurist-Diction, No. 1, Vol. 1, September 2018. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Henny Tanuwidjaja, (2012), Pranata Hukum Jaminan Utang dan Sejarah Lembaga Hukum Notariat, PT Refika Aditama, Bandung. Henry Donald Lbn. Toruan, (2018), Problematik Implementasi Pembiayaan Dengan Perjanjian Jaminan Fidusia (The Problems of Financing with Agreement of Fiduciary Transfer of Security), Jurnal Penelitian HUkum DE JURE, Vol. 18 No. 2 Iswi Hariyani, (2010), Bebas Jeratan Utang Piutang, Pustaka Yustisia, Yogyakarta. J. Satrio, (2007), Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia Perpres Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Lembaga Pembiayaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.010/2012 Tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia Peraturan Kepala Kepolisian (Perkap) Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Pengamanan Eksekusi Jaminan Fidusia Pengaruh Jabatan dan Masa Kerja Crew Kapal terhadap Efektivitas Implementasi Observation Card di PT. Alfa Trans Raya (ATR) Rahmi Anggraini 1, Nining Latianingsih 2, Azwar 3 1 2 3 Politeknik Negeri Jakarta – Administrasi Niaga, [email protected] ABSTRACT The result of this research aim to analyze influence simultaneously and partial between position variable and working period variable of ship crew on the effectiveness implementation of observation card at PT. Alfa Trans Raya (ATR). The research method used in this research was quantitave research method. The collecting data method used primare and secondary. While the data analysis method used multiple linear regression including T test, F test and Determination Coefficient test (R 2). The selection sample used probability sampling technique and saturated sampling which amounted to 30 respondents. The result of testing of partial position variable influence significant to effectiveness implementation of observation card variable as evidenced by t count (3,329) > ttable (2,052) and the value significance 0,002 < 0,05. The result of working period variable influence to effectiveness implementation of observation card variable as evidenced by t count (2,313) > ttable (2,052) and the value significance 0,038 < 0,05. The result of testing simultaneously position variable and working period variable has a significant influence on the employee performance as evidenced by F count > Ftable (66,007 > 3,35) and the results of simultaneously test with value significance t<α 0,000 < 0,05. Keyword: Position, Working Period, Effectiveness Implementation of Observation Card ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh secara simultan dan parsial antara variabel jabatan dan masa kerja crew kapal terhadap efektivitas implementasi observation card di PT Alfa Trans Raya (ATR). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan data primer dan sekunder. Sedangkan metode analisis data menggunakan teknik analisis regresi linear berganda yang mencakup uji T, uji F dan uji Koefisien Determinasi (R2). Pemilihan sampel menggunakan teknik nonprobability sampling dengan metode sampel jenuh sebanyak 30 responden. Hasil pengujian secara parsial variabel jabatan berpengaruh signifikansi terhadap variabel efektivitas implementasi observation card yang dibuktikan dengan diperolehnya thitung (3,329) > ttabel (2,052) dan tingkat signifikansi 0,002 < 0,05. Hasil pengujian secara parsial variabel masa kerja berpengaruh signifikansi terhadap variabel efektivitas implementasi observation card yang dibuktikan dengan diperolehnya thitung (2,313) > ttabel (2,052) dan tingkat signifikansi 0,038 < 0,05. Hasil pengujian secara simultan variabel jabatan dan masa kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel efektivitas implementasi observation card yang dibuktikan berdasarkan hasil uji simultan dengan diperolehnya Fhitung > Ftabel (66,007 > 3,35) dan tingkat signifikansinya 0,000 < 0,05. Kata Kunci: Jabatan, Masa Kerja, Efektivitas Observation Card. PENDAHULUAN Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hak fundamental yang dimiliki oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Pemahaman dan pelaksanaan K3 di perusahaan sangat diperlukan terutama dalam penerapan budaya K3 dikalangan pekerja. Sebagaimana tercantum dalam UU No.1 tahun 1970 mengenai K3 yang berkaitan dengan perlindungan tenaga kerja terhadap kecelakaan kerja, bahaya akibat kerja dan resiko penyakit akibat kerja. Untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja, diperlukan pemahaman dan pelaksanaan K3 secara baik dan benar. Kecelakaan kerja merupakan permasalahan yang kerap dialami oleh tenaga kerja baik karena kelalaian (human error) maupun kondisi pekerjaan yang tidak aman (unsafe condition). Pada tahun 2018, ILO (International Labour Organization) dalam peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menerangkan bahwa lebih dari 1,8 juta kematian akibat kecelakaan kerja terjadi setiap tahunnya dikawasan Asia dan Pasifik. Dua pertiga kematian akibat kecelakaan kerja didunia terjadi di Asia. Di tingkat global lebih dari 2,78 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Latar belakang Resiko kecelakaan kerja dapat pula terjadi di Industri Pelayaran, mengingat tingkat kesulitan dan bahaya kerja yang tinggi membuat tindakan tidak aman (unsafe action) maupun kondisi tidak aman (unsafe condition) rentan terjadi. Hal ini diperkuat oleh laporan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi Republik Indonesia (KNKT-RI, 2018:2) mengenai kasus terbaliknya Kapal Anugrah Express (GT 6 No.028 KLU-3) diperairan Sungai Kayan, Kalimantan Utara tahun 2018 yang disebabkan oleh tubrukan kapal dengan kayu berukuran ± 2 m. Kejadian kecelakaan dikapal dapat dikontrol melalui berbagai cara pendekatan budaya keselamatan dan kesehatan kerja. Salah satu cara untuk mengembangkan perilaku selamat pada pekerja adalah dengan menerapkan Safety and Hazard Observation Card (SHOC). SHOC atau yang biasa disebut observation card merupakan kartu keselamatan yang berguna untuk mengobservasi tindakan aman atau tidak aman yang dilakukan pekerja. Hal ini digunakan untuk membangun budaya keselamatan dan kesehatan kerja. Beberapa perusahaan atau lembaga di Indonesia telah menerapkan observation card, salah satunya yaitu kapal Alfa Trans Raya (ATR). Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti dalam penerapan observation card dikapal ATR belum dapat dikatakan efektif, pasalnya sering ditemukan beberapa kendala penerapan observation card, seperti: kurangnya pemahaman dan kesadaran crew terhadap pentingnya pengisian observation card, keakuratan isi laporan observation card terhadap kejadian yang terjadi dikapal serta kendala lainnya. Menurut Suryatno (2015:55) hal tersebut berkaitan dengan proses pembentukan dan perubahan perilaku manusia, adapun faktorfaktor yang berpengaruh diantaranya faktor jabatan, lama kerja, pendidikan, umur, sikap, reward and punishment, safety promotions dan standard operating procedure (SOP). Faktor jabatan merupakan faktor utama seseorang mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, karena dalam pemilihan jabatan perusahaan mengukur berdasarkan kemampuan karyawan, pendidikan, umur dan sikap karyawan tersebut. Sedangkan dalam faktor masa kerja merupakan faktor yang berbanding lurus dengan pengalaman yang dimiliki seorang karyawan, karena semakin lama masa kerja seseorang maka semakin ia berpengalaman terhadap pekerjaan atau bidang yang ia tekuni. Hal ini diperkuat oleh penelitian menurut Hermanto (2012.56) bahwa masa kerja memberikan pengalaman kerja, pengetahuan dan keterampilan kerja seorang karyawan. Berdasarkan alasan tersebut, peneliti memilih faktor jabatan dan masa kerja sebagai variabel yang akan diteliti, mengingat faktor – faktor lainnya dapat diwakilkan oleh kedua faktor tersebut dan pada kapal ATR tidak tersedia penerapan faktor reward atau punishment dan safety promotions. Menurut laporan dari divisi HSE, sampai saat ini belum ada analisa ilmiah yang dilakukan oleh divisi HSE terkait tentang faktor jabatan dan masa kerja terhadap permasalahan efektivitas implementasi observation card dikapal ATR. Melihat permasalahan yang terjadi dalam penerapan observation card sehingga mempengaruhi efektivitasnya sebagai alat ukur penerapan K3 dikapal, penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian “Pengaruh Jabatan dan Masa Kerja Crew Kapal Terhadap Efektivitas Implementasi AOC di PT. Alfa Trans Raya (ATR)”. Tujuan a. Menganalisis dan menguji pengaruh jabatan crew kapal terhadap efektivitas implementasi observation card. b. Menganalisis dan menguji pengaruh lama masa kerja crew kapal terhadap efektivitas implementasi observation card. c. Menganalisis dan menguji pengaruh jabatan dan masa kerja crew kapal terhadap efektivitas implementasi observation card. Permasalahan a. Bagaimana pengaruh jabatan crew kapal terhadap efektivitas implementasi observation card? b. Bagaimana pengaruh lama masa kerja crew kapal terhadap efektivitas implementasi observation card? c. Seberapa besar pengaruh jabatan dan masa kerja crew kapal terhadap efektivitas implementasi observation card? METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dilantai 2 Gedung Tiara Marga Trakindo (TMT), Cilandak, Jakarta Selatan. Pemilihan lokasi penelitian tersebut mempertimbangan kemudahan akses berkomunikasi dengan crew kapal Alfa Trans Raya. Hal ini selaras dengan objek penelitian yang diambil peneliti yaitu seluruh crew kapal ATR. Penelitian ini dilaksanakan pada semester VIII tepatnya pada bulan Maret 2019 hingga Juli 2019. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Didapat sampеl sebanyak 30 crew kapal ATR dengan mengunakan teknik sampling jenuh dan pеngumpulan data mеnggunakan kuеsionеr yang dianalisis dengan analisis rеgrеsi liniеr berganda. Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan software SPSS 22 for windows. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Temuan Untuk melakukan uji hipotesis dan regresi, data yang dimiliki harus valid dan reliabel untuk digunakan dalam mencari pengaruh antar variabelnya. Tabel 4.1 Hasil Pre-test Uji Validitas Variabel Jabatan (X1) Varia bel R Indikator No. hitun g R Ketera tabel ngan 1 0,870 0,306 Valid 2 0,834 0,306 Valid 3 0,920 0,306 Valid 4 0,676 0,306 Valid 5 0,406 0,306 Valid 6 0,837 0,306 Valid 7 0,788 0,306 Valid 8 0,449 0,306 Valid 9 0,734 0,306 Valid 10 0,762 0,306 Valid 11 0,888 0,306 Valid Pengalaman 12 0,854 0,306 Valid atau 13 0,796 0,306 Valid Pengetahuan 14 0,824 0,306 Valid 15 0,884 0,306 Valid Tugas atau Wewenang Jabat Tanggungja an wab Sumber : Data diolah, 2019 Tabel 4.2 Hasil Pre-test Uji Validitas Variabel Masa Kerja (X2) Vari abel R Indikator hitun g Lama Kerja Percoba an Mas a Kerja No. Lama Bergabu ng di ATR Lama R tabel Keter anga n 16 0,535 0,306 Valid 17 0,722 0,306 Valid 18 0,675 0,306 Valid 19 0,765 0,306 Valid 20 0,860 0,306 Valid 21 0,877 0,306 Valid 22 0,894 0,306 Valid 23 0,837 0,306 Valid 24 0,898 0,306 Valid 25 0,874 0,306 Valid 26 0,870 0,306 Valid Bekerja pada Posisi Saat Ini 27 0,804 0,306 Valid 28 0,940 0,306 Valid 29 0,806 0,306 Valid 30 0,884 0,306 Valid Sumber : Data diolah, 2019 Tabel 4.3 Hasil Pre-test Uji Validitas Variabel Efektivitas Implementasi Observation Card (Y) Varia bel Indikator No . R hitun g R tabel Keter anga n Ketepata 31 0,823 0,306 Valid n 32 0,569 0,306 Valid Sasaran 33 0,644 0,306 Valid Observat 34 0,806 0,306 Valid ion Card 35 0,810 0,306 Valid 36 0,861 0,306 Valid 37 0,797 0,306 Valid 38 0,853 0,306 Valid 39 0,654 0,306 Valid Imple 40 0,859 0,306 Valid ment 41 0,871 0,306 Valid Sosialisa si Efekti vitas Observat ion Card asi Tujuan 42 0,525 0,306 Valid AOC Observat 43 0,823 0,306 Valid ion Card 44 0,813 0,306 Valid 45 0,499 0,306 Valid 46 0,772 0,306 Valid 47 0,775 0,306 Valid 48 0,772 0,306 Valid 49 0,890 0,306 Valid 50 0,747 0,306 Valid Pemanta uan Observat berarti nilai tersebut termasuk dalam kategori tinggi dan dapat diterima untuk dilanjutkan pada penelitian lapangan. Tabel 4.5 Hasil Pre-test Uji Reablilitas Variabel Masa Kerja (X2) Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardiz Alpha ed Items .757 .769 N of Items 14 Sumber: Data diolah, 2019 Untuk tabel 4.5 uji reliabilitas variabel X2 dilakukan dengan rumus Croanbach’s Alpha. Hasil perhitungan alpha sebesar 0,757 yang berarti nilai tersebut termasuk dalam kategori tinggi dan dapat diterima untuk dilanjutkan pada penelitian lapangan. Tabel 4.6 Hasil Pre-test Uji Reablilitas Variabel Efektivitas Implementasi Observation Card (Y) Reliability Statistics Cronbach' s Alpha Based on Cronbach' Standardiz s Alpha ed Items .795 .834 N of Items 18 Sumber: Data diolah, 2019 Untuk tabel 4.6 uji reliabilitas item soal Y dilakukan dengan rumus Croanbach’s Alpha. Sumber : Data diolah, 2019 Hasil perhitungan alpha sebesar 0,795 yang berarti nilai tersebut termasuk dalam kategori Tabel 4.4 sangat tinggi dan dapat diterima untuk Hasil Pre-test Uji Reablilitas Variabel Jabatan (X1) dilanjutkan pada penelitian lapangan. Reliability Statistics Tabel 4.10 Cronbach's Uji Normalitas One-Sample KolmogorovAlpha Smirnov Test Based on One-Sample Kolmogorov-Smirnov Cronbach's Standardize N of Test Alpha d Items Items Unstanda ion Card .754 .758 13 rdized Residual Sumber: Data diolah, 2019 Untuk tabel 4.4 uji reliabilitas variabel X1 dilakukan dengan rumus Croanbach’s Alpha. Hasil perhitungan alpha sebesar 0,754 yang N Normal Parametersa,b Mean Std. Deviation 30 .0000000 5.090546 49 Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. (2-tailed) .123 .123 -.077 .123 .200c,d a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. Sumber : Data diolah, 2019 Berdasarkan tabel 4.10 hasil pengujian normalitas berdasarkan Kolmogorov Smirnov menunjukkan hasil siginifikansi (Sig) sebesar 0,200 (lebih besar dari a = 0,05) maka data tersebut sudah berdistribusi normal. Stand ardize Unstandardiz d ed Coeffi Coefficients cients Model 1 B Std. Error Beta (Con 8.823 4.220 stant) Collinearit y Statistics T Toler Sig. ance VIF 2.09 .046 1 Jabat an .687 .206 .554 3.32 4.40 .003 .227 9 5 Masa Kerja .470 .203 .385 2.31 4.40 .029 .227 3 5 a. Dependent Variable: Efektivitas Observation Card Sumber : Data diolah, 2019 Berdasarkan tabel 4.11 hasil pengujian multikolinieritas menunjukkan nilai VIF masingmasing variabel bebas lebih kecil dari 10 dan nilai tolerance diatas 0,1. Hal ini berarti variabel-variabel bebas dalam penelitian ini tidak menunjukkan gejala multikolinieritas dalam model regresi. Gambar 4.5 Grafik Histogram Sumber : Data diolah, 2019 Gambar 4.7 Grafik Scatter-plots Sumber : Data diolah, 2019 Gambar 4.6 Uji Normalitas Probability Plot Sumber : data diolah,2019 Tabel 4.11 Hasil Uji Multikolinieritas Coefficientsa Berdasarkan gambar 4.7 hasil pengujian heterokedastisitas menggunakan grafik scatter-plots titik-titik menyebar dibawah ataupun diatas titik origin (angka 0) pada sumbu Y. Hal ini berarti bahwa variabelvariabel dalam penelitian tidak terjadi heterokedastisitas. Sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi efektivitas observation card berdasarkan masukan variabel jabatan dan masa kerja crew kapal ATR. Tabel 4.12 Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Coefficientsa Stand ardize Unstandardi d zed Coeffi Coefficients cients Model 1 B Std. Error Model Beta (Con 8.823 4.220 stant) Jabat an Masa Kerja .687 .470 Standar dized Unstandardized Coeffici Coefficients ents T Sig. 1 2.09 .046 1 .206 3.32 .554 .003 9 .203 2.31 .385 .029 3 B Std. Error Beta T Sig. (Const ant) 8.823 4.220 2.09 .046 1 Jabata n .687 .206 .554 3.32 .003 9 Masa Kerja .470 .203 .385 2.31 .029 3 a. Dependent Variable: Efektivitas Observation a. Dependent Variable: Efektivitas Card Observation Card Sumber : Data diolah, 2019 Sumber : Data diolah, 2019 Berdasarkan tabel 4.15 dapat disimpulkan sebagai berikut: Model persamaan regresi yang dapat 1. Variabel Jabatan (X1) memiliki nilai thitung dituliskan dari hasil tabel 4.8 tersebut dalam (3,329) > ttabel (2,052) dan tingkat bentuk persamaan regresi sebagai berikut: signifikansi 0,003 < 0,05, maka H1 Y = 8.823 + 0,687 X1 + 0,470 X2 diterima. Oleh karena itu, dapat Tabel 4.13 disimpulkan bahwa secara parsial terdapat Koefisien Determinasi pengaruh yang signifikan dari Jabatan (X 1) Model Summary terhadap Efektivitas Observation Card (Y). Std. Error 2. Variabel Masa Kerja (X2) memiliki nilai thitung (2,313) > ttabel (2,052) dan tingkat Mod R Adjusted of the signifikansi 0,029 < 0,05, maka H2 el R Square R Square Estimate diterima. Oleh karena itu, dapat a 1 .911 .830 .818 5.27572 disimpulkan bahwa secara parsial terdapat a. Predictors: (Constant), Masa Kerja, Jabatan pengaruh yang signifikan dari Masa Kerja (X2) terhadap Efektivitas Observation Card Sumber : Data diolah, 2019 (Y). KD = x 100% = x 100% Tabel 4.16 Hasil Analisis Signifikansi F ANOVAa = 83,0% Tabel 4.14 Hasil Korelasi Secara Parsial Model 1 Sum of Square s Regre 3674.37 ssion 0 Residu 751.496 al Total Sumber : Data diolah, 2019 Tabel 4.15 Hasil Analisis Signifikansi T Coefficientsa 4425.86 7 Mean Square Df 2 F Sig. 1837.1 66.0 .000b 85 07 27 27.833 29 a. Dependent Variable: Efektivitas Observation Card b. Predictors: (Constant), Masa Kerja, Jabatan Sumber : Data diolah, 2019 Pada Tabel Uji F dapat dilihat bahwa F hitung sebesar 66.007 dengan tingkat signifikansi 0,000. Oleh karena itu, kedua perhitungan, yaitu Fhitung > Ftabel (66,007 > 3,35) dan tingkat signifikansinya 0,000 < 0,05, menunjukkan bahwa H3 diterima, artinya Variabel Independen yang terdiri dari Jabatan dan Masa Kerja secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Efektivitas Observation Card. c. Pembahasan Secara umum hasil dari penelitian ini baik. Hasil tanggapan responden menunjukkan bahwa sebagian besar berpendapat setuju terhadap variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, untuk meneliti permasalahan mengenai faktor penyebab efektivitas observation card dinilai kurang baik oleh pihak manajemen ATR, peneliti menganalisis berdasarkan item pernyataan dari deskripsi tanggapan responden. Terdapat 3 item penyataan yang memiliki persentase terkecil dari masing – masing variabel, yaitu pernyataan nomor 8, 16 dan 32, berikut merupakan pembahasannya : a. Pernyataan nomor 8 dari indikator tanggung jawab pada variabel jabatan memiliki bobot terkecil dari 14 pernyataan lainnya, yaitu sebesar 53% dengan bunyi pernyataan “Keselamatan diarea kerja bukan menjadi tanggung jawab Nakhoda saja”, sebanyak 9 crew kapal menyatakan setuju sedangkan 21 orang lainnya tidak setuju. Hal ini membuktikan bahwa sebagian besar crew kapal masih beranggapan bahwa usaha keselamatan kerja (observation card) sepenuhnya tanggung jawab Nakhoda, artinya kurang kesadaran dan pencerdasan crew kapal mengenai penerapan observation card dapat efektif jika semua crew ikut berpartisipasi. Perlu adanya familiarisasi atau pelatihan mengenai pencerdasan observation card secara berkala. b. Pernyataan nomor 16 dari indikator lama kerja pada variabel masa kerja memiliki bobot terkecil dari 14 pernyataan lainnya, yaitu sebesar 58% dengan bunyi pernyataan “Sebelum saya menempati jabatan saya saat ini, saya harus mempunyai pengalaman menjadi cadet terlebih dahulu”, sebanyak 11 crew kapal setuju sedangkan 19 crew lainnya tidak setuju. Hal ini membuktikan bahwa sebagian besar crew kapal belum mempunyai pengalaman menjadi cadet terlebih dahulu sebelum bekerja di ATR, hal tersebut berpengaruh terhadap pengetahuan mengenai budaya K3 salah satunya penerapan observation card yang baik dan benar. Diperlukan masa percobaan (cadet) untuk crew kapal baru. Pernyataan nomor 32 dari indikator ketepatan sasaran pada variabel efektivitas implementasi observation card memiliki bobot terkecil dari 19 pernyataan lainnya, yaitu sebesar 59% dengan bunyi pernyataan “Bila crew melakukan perilaku tidak aman perlu diberikan teguran/punishment”, sebanyak 12 crew kapal setuju sedangkan 18 crew lainnya tidak setuju. Hal ini membuktikan bahwa rendahnya tingkat punishment atau hukuman memberikan peluang crew kapal untuk tidak mengikuti SOP yang ada, termasuk menerapkan observation card dengan benar. Perlu adanya peraturan yang tegas mengenai punishment atau hukuman jika crew tidak mentaati peraturan kapal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh jabatan dan masa kerja crew kapal terhadap efektivitas implementasi observation card (Studi di kapal Alfa Trans Raya), maka terdapat kesimpulan sebagai berikut: a. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua variabel yaitu jabatan (X1) dan masa kerja (X2) secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap efektivitas implementasi observation card. Berdasarkan hasil analisis, faktor jabatan dan masa kerja memiliki pengaruh besar terhadap efektivitas implementasi observation card yang dibuktikan dengan hasil persentase sebesar 83%. Oleh karena itu hipotesis ketiga (H3) dalam penelitian ini diterima. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ada faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini, yaitu sebesar 17% presentase yang dipengaruhi oleh variabel lain. b. Berdasarkan uji korelasi parsial, ditemukan terdapat hubungan antara jabatan dan masa kerja setelah dimasukkan variabel kontrol yaitu sebesar positif 0,457 dengan nilai signifikansi 0,013 < 0,05 artinya adanya hubungan kuat antara jabatan dan masa kerja setelah dimasukkannya variabel kontrol (signifikansi nyata). c. Berdasarkan uji signifikansi t, dapat disimpulkan bahwa secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan dari jabatan (X1) terhadap efektivitas observation card (Y) yaitu nilai thitung (3,329) > ttabel (2,052) dan tingkat signifikansi 0,003 < 0,05 maka H1 diterima. Sedangkan pada masa kerja (X 2) memiliki nilai thitung (2,313) > ttabel (2,052) dan tingkat signifikansi 0,029 < 0,05, maka H2 diterima. d. Berdasarkan uji signifikansi f, dapat disimpulkan bahwa variabel jabatan dan masa kerja secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas observation card. Fhitung > Ftabel (66,007 > 3,35) dan tingkat signifikansinya 0,000 < 0,05, menunjukkan bahwa H3 diterima. SARAN a. PT Alfa Trans Raya agar lebih meningkatkan efektivitas implementasi observation card diatas kapal yang sudah dinyatakan baik menurut tanggapan crew kapal sehingga ke depannya dapat memperbaiki penanganan dari hasil observation card agar dapat menjadi sangat baik. Peningkatan tersebut bisa dilakukan dengan cara mengganti system manual penanganan observation card menjadi system elektronik dengan memanfaatkan teknologi yang ada, seperti aplikasi khusus observation card sehingga hasilnya dapat diketahui dengan cepat (up to date) tanpa menunggu terlebih dahulu pengiriman laporan bulanan kapal. Hal tersebut membantu mempercepat evaluasi dari pihak managemen perusahaan. b. PT Alfa Trans Raya agar tetap mempertahankan faktor jabatan atau kualitas seorang Nakhoda kapal untuk membantu mendisiplinkan observation card agar lebih efektif lagi. Salah satu caranya yaitu dengan mengefektifkan komunikasi dengan para crew kapal terutama Nakhoda kapal sehingga dapat meminimalisasi kejadian miss understanding antara pihak manajemen kantor dengan crew kapal. Hal tersebut dapat berpengaruh positif terhadap hasil kinerja kedua belah pihak. c. PT Alfa Trans Raya agar lebih meningkatkan faktor masa kerja crew kapal baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya sehingga ke depannya dapat tergolong dalam kategori sangat baik. Selamjutnya, dapat pula memerhatikan faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. d. Penelitian ini hanya meneliti tentang “Pengaruh Jabatan dan Masa Kerja Crew Kapal Terhadap Efektivitas Implementasi Observation Card di PT. Alfa Trans Raya (ATR)”, sehingga untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian terhadap faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi efektivitas implementasi observation card selain faktor jabatan dan masa kerja crew kapal, contohnya : faktor pendidikan, umur, sikap, reward and punishment, safety promotions dan standard operating procedure (SOP) sehingga hasil penelitian lebih beragam. DAFTAR PUSTAKA Agusyana, Yus. 2011. Olah Data Skripsi & Penelitian. Jakarta : Elex Media Komputindo. Buntarto, dkk. C. 2015. Panduan Praktis Keselalmatan & Kesehatan Kerja untuk Industri. Yogyakarta : Pustaka Baru Press. Gumilar, Muhammad Akbar. 2018 “Pengaruh Gaji dan Masa Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Infomedia Nusantara di Bandung”. Dalam Skripsi, Bandung. Hardiningtyas, Dewi. 2018 “#5 Workplace Safety and Health Program”. Dalam Driving Excellence In Safety & Health At Workplace, Jakarta. Ilfani, Grisma. 2013 “Analisis Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan.” Dalam Skripsi, Semarang. Jauhariah. 2014 “Pengaruh Faktor Penempatan Jabatan Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bengkulu”. Dalam Skripsi, Bengkulu. Marettia, Argihta. 2011 “Analisis Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Pelaksanaan Program STOP di PT. X Indonesia tahun 2011”. Dalam Skripsi, Depok. Septiana, Vidya Arty dkk. 2018 “Pengaruh Faktor Masa Kerja, Kompensasi dan Pendidikan Terhadap Motivasi Kerja Pegawai Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah Dengan Produktivitas Kerja Sebagai Variabel Intervening”. Dalam Jurnal, Semarang. Silaban, Gerry dkk. 2015 “Penerapan Program Behavior Based Safety (BBS) & Kecelakaan Kerja di PT Inalum Kuala Tanjung Tahun 2014”. Dalam Jurnal, Medan. Siregar, Syofian. 2012. Statistika Deskriptif untuk Penelitian. Jakarta : Rajawali Press. Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Administrasi dilengkapi dengan Metode R&D. Bandung : Alfabeta. Suharjo, Bambang. 2008. Analisis Regresi Terapan dengan SPSS. Jakarta : Graha Ilmu. Tjahjono, Soerjanto. 2018 “Laporan Investigasi Kecelakaan Pelayaran Terbaliknya Anugrah Express (GT 6 No. 028 KLU-3) Di Perairan Sungai Kayan, Kalimantan Utara”. Dalam Majalah KNKT, Jakarta. Yuliani, Kartika Febri. 2017 “Efektivitas Program Pelayanan Kesehatan Gratis (P2KM) di Kota Bandar Lampung”. Dalam Skripsi, Bandar Lampung. Analisis Model Bisnis Waralaba untuk Meningkatkan Pengembangan Usaha dengan Analisis SWOT pada Sabana Fried Chicken di Depok. Dimas Pamadyo Utomo D4 Administrasi Bisnis Terapan , [email protected] Jurusan Administrasi Niaga – Politeknik Negeri Jakarta, [email protected] ABSTRACT The purpose of this study is to analyze the development of internal and external factor franchise business models using a SWOT analysis conducted by Sabana Fried Chicken. This research is a descriptive qualitative research by collecting, processing, and presenting data obtained in the form of complete and correct information. Data collection techniques used in this study were the interview, documentation, and questionnaire filling methods to the informants. Analysis of the data used is the analysis of the model developed by Miles and Huberman. Measurement of the validity of the data using triangulation. Based on the analysis using IFAS-EFAS matrix and Cartesian SWOT diagram, information can be obtained that the main strategy in Sabana Fried Chicken is the strategy that is in quadrant I, SO strategy (strengths-opportunities) by maintaining the franchise system, maintaining good relations with the partners and also increase marketing through social media. Keyword: Franchise model business,Business Development, IFAS-EFAS matrix, SWOT matrix.. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengembangan model bisnis franchise faktor internal dan eksternal dengan menggunakan analisis SWOT yang dilakukan oleh Sabana Fried Chicken. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yaitu dengan cara mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data yang diperoleh berupa keterangan yang lengkap dan benar. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode wawancara, dokumentasi, dan pengisian kuisioner kepada informan. Analisis data yang digunakan yaitu dengan analisis model yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Pengukuran keabsahan data menggunakan triangulasi. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan matriks IFAS-EFAS dan diagram cartesius SWOT, dapat diperoleh informasi bahwa strategi utama pada Sabana Fried Chicken yaitu strategi yang berada pada kuadran I, strategi SO (strengths-opportunities) dengan mempertahankan sistem franchise, menjaga hubungan baik dengan para mitradan dan juga meningkatkan pemasaran melalui media sosial. Kata Kunci: Fasilitas, Kepuasan Konsumen, Kualitas Pelayanan. PENDAHULUAN Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki kinerja ekonomi yang baik. Tahun 2015 lalu, tercatat bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 4,79%, lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan hanya mencapai 2,4%. Kenaikan persentase yang positif ini tentunya menjadi momen yang tepat bagi pemerintah untuk mengokohkan pondasi perekonomian, terutama pada sektor riil. Salah satu sektor riil yang sangat layak menjadi prioritas adalah subsektor kuliner. Di Depok sendiri bisnis kuliner memiliki angka yang cukup besar dengan jumlah pekerja yang besar pula.Tercatat dalam buku Profil Angkatan Kerja Depok Agustus 2018 bahwa jumlah pekerja di bidang kuliner berjumlah 89.976 terdiri dari 54.896 laki–laki dan 34.871 perempuan. Tabel 1.1 Jumlah Lapangan usaha akomodasi makan minum Lapangan Laki - Usaha laki Perempuan L+P 34.871 89.976 Penyediaan Akomodasi Makan 54.869 Minum Masalah yang sering dihadapi oleh pelaku usaha adalah ketidakmampuannya dalam menghadapi persaingan di pasar, karena mereka hanya fokus pada faktor lingkungan dan perubahan. Perusahaan tersebut acapkali menjiplak model bisnis dari perusahaan lain tanpa melakukan penyesuaian terlebih dahulu. Padahal setiap bisnis memiliki ciri khas atau keunikan sehingga membutuhkan model bisnis tersediri. Karena itu agar sebuah perusahaan mampu bersaing, maka perusahaan tersebut harus memperhatikan proses desain model bisnisnya. Konsep model bisnis juga banyak digunakan untuk menggambarkan atau menjelaskan tentang kredibilitas perusahaan. Menurut buku Business Model Generation model bisnis digunakan untuk menggambarkan dasar pemikiran tentang bagaimana organisasi membuat, memberikan dan menangkap hal-hal penting sebagai modal peluang bisnis. Model bisnis yang saat ini banyak digunakan oleh pelaku bisnis adalah waralaba atau juga disebut Franchise. Karena dengan waralaba, usaha akan cepat berkembang tanpa harus mengeluarkan modal yang besar. Waralaba, jika dalam bahasa Inggris disebut franchising dan dalam bahasa Perancis disebut franchise. Menurut Asosiasi Franchise Indonesia, waralaba adalah suatu sistem pendistribusian barang/jasa kepada pelanggan akhir dengan pengwaralaba (franchisor) yang memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur, dan cara–cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu. Mengelola usaha waralaba memang menawarkan berbagai kemudahan. Namun pengusaha terbaik adalah mereka yang siap dengan berbagai kemungkinan, apakah menjalankan bisnis melalui waralaba atau tidak. Meniti usaha kecil sebagai franchisee menuntut pelaku usaha untuk mempersiapkan usahanya agar dapat mewakili image perusahaan induk dan menghadirkan produk atau jasa yang sama dengan perusahaan induk. Selain itu pengusaha juga harus jeli dalam memilih perusahaan induk yang memiliki nilai jual yang tinggi dan dikenal luas. Sabana Fried Chicken adalah salah satu waralaba yang cukup terkenal di kota Depok membidik pasar di semua kalangan, dengan meningkatkan kualitas rasa, penyesuaian potongan dan harga, serta tampilan yang lebih menarik dalam konsep mini resto. Dengan menu yang beragam ayam goreng krispi, tetapi juga burger dan produk pelengkap seperti french fries, dan beberapa minuman. Tampilan yang khas dan lebih eye catching, brand Sabana Fried Chicken telah hadir menjadi nama yang cukup diperhitungkan di tengah persaingan bisnis kuliner di wilayah Jabodetabek. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk mengangkat judul “Analisis Model Bisnis Waralaba untuk Meningkatkan Pengembangan Usaha Pada Sabana Fried Chicken di Depok” Sumber : data diolah, 2019 Tabel 1.3 Rekapitulasi Rating Faktor Internal Sabana Fried Chicken METODE PENELITIAN Sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti dan tujuan penelitian yang sudah ditetapkan sebelumnya, maka penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2019 yaitu antara bulan Maret 2019 sampai dengan Agustus 2019 Populasi yang diteliti peneliti adalah model bisnis waralaba yaitu gerai Sabana Fried Chicken di Depok yang berjumlah 150 gerai. Teknik penentuan sampel yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah Nonprobability sampling dan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis yang dipakai penulis adalah Matriks Faktor Internal dan Eksternal, Analisis SWOT , dan Diagram Cartesius. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Temuan 1.2 Rekapitulasi Bobot Sabana Fried Chicken Faktor Internal Sumber : Data diolah, 2019 Tabel 1.4 Matriks Faktor Internal Sabana Fried Chicken Sumber : Data diolah, 2019 Tabel 1.6 Rekapitulasi Rating Eksternal Sabana Fried Chicken Faktor Sumber : Data diolah, 2019 Tabel 1.5 Rekapitulasi Bobot Eksternal Sabana Fried Chicken Faktor Sumber : Data diolah, 2019 Tabel 1.7 Matriks Faktor Eksternal Sabana Fried Chicken Sabana Fried Chicken diharapkan terus bertahan dengan sistem franchise yang berkualitas dan menguntungkan dengan harga yang terjangkau. Hal ini merupakan situasi yang baik karena Sabana Fried Chicken memiliki beberapa kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Kekuatan dan peluang yang dimiliki oleh Sabana Fried Chicken akan lebih baik jika dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mempersempit kelemahan dan ancaman yang ada. Sumber : Data diolah, 2019 Gambar 1.1 Matriks Diagram SWOT Sabana Fried Chicken Cartesius Sumber : Data diolah, 2019 Berdasarkan pada gambar 4.1 tersebut pada sumbu x terdapat faktor internal perusahaan berupa kekuatan dan kelemahan dan pada sumbu y terdapat faktor eksternal perusahaan berupa peluang dan ancaman. Faktor kekuatan dan peluang berada diposisi yang positif sedangkan kelemahan dan ancaman berada di posisi yang negatif. Dapat dilihat secara jelas bahwa Sabana Fried Chicken menempati posisi pada kuadran I dengan nilai kekuatannya yaitu +2,14 dan nilai peluangnya yaitu +1,75. Dapat dikatakan bahwa perusahaan sedang bertumbuh dalam artian yaitu Sabana Fried Chicken mendukung strategi agresif dalam waralaba. Berdasarkan analisis tersebut menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dapat ditentukan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Matriks SWOT dapat menghasilkan empat set strategi yang dapat dilakukan oleh Sabana Fried Chicken a. Strategi SO (Strengths-Opportunities) Strategi SO ini merupakan strategi yang digunakan untuk menangkap dan memanfaatkan peluang yang ada dengan memaksimalkan kekuatan internal yang dimiliki oleh perusahaan. Maka strategi yang ditempuh oleh Sabana Fried Chicken adalah: 1) Mempertahankan harga franchise dan harga produk yang terjangkau. Dengan kekuatan harga yang dimiliki oleh Sabana Fried Chicken dapat membuka peluang dari segmen pelanggan yang besar. Dengan harga franchise yang stabil juga membuka peluang besar bertambahnya mitra-mitra baru dalam Sabana Fried Chicken. 2) Dengan peluang segmen pasar yang besar dapat dijangkau dengan bahan baku yang berkualitas yang membuat produk Sabana Fried Chicken berkualitas dari segi rasa. Produk Sabana Fried Chicken yang berkualitas tersebut juga di jual dengan harga produk yang terjangkau oleh masyarakat. b. Strategi ST (Strengths-Threats) Strategi ST ini merupakan strategi yang digunakan untuk mengurangi dan meminimalisir ancaman dan memanfaatkan kekuatan internal perusahaan. Maka strategi yang ditempuh oleh Sabana Fried Chicken adalah: 1) Dengan bahan baku berkualitas yang dimiliki Sabana Fried Chicken dapat mengatasi pesaing-pesaing baru. Karena dengan adanya bahan baku berkualitas dapat menunjang kualitas produk yang dihasilkan. 2) Melibatkan mitra dalam inovasi produk Sabana Fried Chicken agar dari pihak perusahaan dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh konsumen perlu adanya koneksi Sabana Fried Chicken dengan mitra agar dapat menjawab permasalahan tersebut. 3) Dengan adanya koneksi dengan mitra yang baik maka pengontrolan produksi mitra demi standar kualitas produk dapat terjaga. c. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities) Strategi WO ini merupakan strategi yang digunakan untuk memperbaiki atau membenahi kelemahan yang dimiliki perusahaan agar dapat memanfaatkan dan mengambil peluang yang ada. Maka strategi yang ditempuh oleh Sabana Fried Chicken adalah: 1) Menjamin harga franchise yang stabil walaupun penentuan lokasi yang sulit di Depok 2) Mempergunakan segmen dan harga produk yang murah sebagai solusi dari promosi yang kurang dari Sabana Fried Chicken. d. Strategi WT (Weaknesses-Threats) Strategi WT ini merupakan strategi yang digunakan untuk memperbaiki kelemahan yang ada untuk meminimalisir adanya ancaman dari luar perusahaan. Maka strategi yang ditempuh oleh Sabana Fried Chicken adalah: 1) Melibatkan mitra dan karyawan dalam pengembangan usaha Sabana Fried Chicken. KESIMPULAN Maka langkah strategi yang digunakan adalah strategi SO (Strengths-Opportunities) adapun langkah-langkahnya yaitu: 1) Mempertahankan harga franchise dan harga produk yang terjangkau. 2)Menjangkau pelanggan dengan kekuatan merek dan koneksi dengan kualitas bahan baku yang baik. SARAN Mempertahankan sistem franchise dan harga waralaba yang murah. Saat ini Sabana Fried Chicken sudah memiliki kualitas waralaba yang baik dengan adanya berbagai penghargaan dan juga diakui oleh dinas kesehatan sebagai perusahaan yang sehat maka Sabana Fried Chicken diharapkan dapat terus bertahan dengan kualitasnya yang sudah baik serta mempertahankan kemitraan yang murah harganya demi perkembangan ekonomi masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Buku : Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2009. Studi Industri Kreatif Indonesia 2009. Jakarta : Derpartemen Perdagangan Republik Indonesia Gassmann, Oliver. dkk. 2016. Business Model Navigator 55 Model Bisnis Unggulan yang Akan Mengubah Bisnis Anda. Jakarta : PT Elex Media Komputindo Magdalena, Elyn. dkk. 2018. Profil Angkatan Kerja di Kota Depok Agustus 2018. Depok : Badan Pusat Statistik Kota Depok Osterwalder, Alexander dan Yves Pigneur. 2010. Business Model Generation. Jakarta : PT Elex Media Komputindo. Rangkuti, Freddy. 2009. Anasisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Cetakan Enam Belas. Jakarta: Gramedia Pustaka. Rangkuti, Freddy. 2011. SWOT Balanced Scorecard Teknik Menyusun Strategi Korporat yang Efektif plus Cara Mengelola Kinerja dan Resiko. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung : Alfabeta Jurnal : Kosasi, Velicia Magdalena. 2015. Analisis dan Evaluasi Model Bisnis pada Pantai Seafood Restaurant Dengan Pendekatan Business Model Canvas. Dalam Jurnal Universitas Kristen Petra .Surabaya. Pradana, Mahir. 2015. Klasifikasi Bisnis ECommerence di Indonesia. Dalam Jurnal Universitas Telkom. Bandung Salim, Berta.2014. Transformasi Model Bisnis Go-Jek Untuk Keunggulan-Kompetitif Dalam Perkembangan Ekonomi-Berbagi Dari Sudut Pandang Pelanggan. Dalam Jurnal Universitas Bunda Mulia. Jakarta. Schaltegger, Stefan. dkk. 2016. Business Model for Sustainability: Origins, Present Research, and Future Avenues. Leuphana University. Lüneburg Slamet, Sri Rejeki. 2011. Waralaba (Franchise) di Indonesia. Jakarta. Aspek Hukum Terhadap Penelantaran Tanah dan Upaya Penertibannya Dikaitkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar Oleh : Ida Kurniasih ABSTRAK Tanah terlantar atau ditelantarkan kebanyakan merupakan Tanah Hak Guna Usaha (HGU) dimiliki oleh Perusahaan BUMN atau Perusahaan swasta, dalam praktek tanah-tanah HGU ini banyak yang terlantar atau ditelantarkan sehingga banyak Masyarakat yang menempatinya baik dengan izin atau tanpa izin dari pemilik HGU tersebut,Dampak lain penelantaran tanah juga menjadi terhambatnya pencapaian berbagai tujuan program pembangunan, rentannya ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi nasional, tertutupnya akses sosial ekonomi masya-rakat khususnya petani pada tanah, serta ter-usiknya rasa keadilan dan harmoni sosial, Pemegang Hak dilarang menelantarkan tanahnya, dan jika PemegangHak menelantarkan tanahnya maka UUPA (Undang Undang No 5 Th 1960) telah mengatur akibat hukumnya yaitu hapusnya hak atas tanah yang bersangkutan dan pemutusan hubungan hukum serta ditegaskan sebagai tanah yang dikuasai langsung oleh Negara.Berdasarkan Latar belakang tersebut Peneliti akan membahas pokok-pokok masalah sebagai berikut:Bagaimana Aspek Hukum hak atas tanah yang sudahdiberikan hak oleh Negara namun tidak diusahakan dan/atau tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya.? Bagaimana Upaya Penertiban dan Pendayagunaan tanah terlantar di tinjau dari Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan tanah terlantar. ABSTRACT Most abandoned or abandoned land is a land for business use rights owned by state-owned companies or private companies. In practice, many lands are abandoned or abandoned so that many people occupy it either with permission or without permission from the owner. Other land abandonment also hampered the achievement of various development program objectives, vulnerability to food security and national economic resilience, the closed social economic access of the community, especially farmers to land, and the nagging sense of justice and social harmony, Rights Holders are prohibited from abandoning their land, and if The Right Holder abandoned his land so that the (Law No. 5 Th 1960) has regulated the legal consequences of the abolition of the land rights in question and the termination of legal relations and confirmed as land directly controlled by the State. Based on this background, the researcher will discuss the main issues as follows: What are the Legal Aspects of land rights that have been granted rights by the State but are not attempted and / or not used, or not utilized in accordance with the circumstances or the nature and purpose of giving rights or basic tenure? How the efforts to control and utilize abandoned land are reviewed from Government Regulation Number 11 of 2010 concerning Control and Utilization of abandoned land A. PENDAHULUAN diundangkan pada tanggal 24 September 1960, 1. Latar belakang UUPA tidak memberikan pengertian tentang Tanah adalah karunia Tuhan Yang agraria, hanya memberikan ruang lingkup Maha Esa bagi rakyat, bangsa dan Negara agrairia sebagaimana yang tercantum dalam Indonesia, konsiderans, yang dimanfaatkan, harus dan diusahakan, di-pergunakan pasal-pasal maupun untuk penjelasannya. Rauang lingkup agraria menurut sebesar-besarnya kemakmur-an rakyat. Saat ini UUPA meliputi : Bumi, Air, Ruang Angkasa dan tanah yang telah dikuasai dan/atau dimiliki baik Kekayaan alam yang terkandung didalamnya. yang sudah ada hak atas tanahnya maupun yang baru berdasar di masalah tanah dan semua yang ada di dalam beberapa tempat masih banyak dalam keadaan dan diatasnya, Soebekti dan R. Tjitrosoedibio terlantar, atau ditelantarkan oleh pemiliknya hukum yang kebanyakan merupakan Tanah Hak Guna ketentuan-ketentuan Usaha yang dimiliki Perusahaan Swasta atau perdata maupun hukum tata negara yang BUMN untuk mengatur hubungan-hubungan antara orang meningkatkan kemakmuran rakyat tidak optimal. termasuk badan hukum dengan bumi, air dan Oleh karena itu, perlu dilakukan penataan ruang angkasa dalam seluruh wilayah negara kembali untuk mewujudkan tanah se-bagai dan mengatur pula wewenang-wewenang yang sumber me- bersumber wujudkan kehidupan yang lebih berkeadilan, tersebut.46 sehingga peroleh-an cita-cita kesejahteraan rakyat, tanah Menurut Andi Hamzah, agraria adalah luhur untuk agraria adalah pada keseluruhan hukum, baik dari hukum hubungan-hubungan menjamin keberlanjutan sistem kemasyarakat- Tujuan diundangkan UUPA sebagai an dan kebangsaan Indonesia, serta memper- tujuan hukum agraria nasional dimuat dalam kuat harmoni sosial.45 penjelasan umum UUPA, yaitu :47 optimalisasi pengusahaan, penggunaan, a. Meletakan dasar-dasar bagi penyusunan dan pemanfaatan semua tanah di wilayah Hukum Indonesia merupakan kualitas diperlukan lingkungan untuk alat nasional untuk yang akan membawakan mengurangi kemakmuran, kebahagiaan, dan keadilan kemiskinan dan menciptakan la-pangan kerja, bagi negara dan rakyat, terutama rakyat serta untuk meningkatkan ke-tahanan pangan tani dalam rangka masyarakat yang adil dan energi. dan makmur. Undang-Undang hidup, meningkatkan Agraria No.5 Tahun 1960 b. Meletakan dasar-dasar untuk mengadakan Tentang peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum LNRI Tahun 1960 No. 104 – TLNRI No.2043 pertanahan. 45 Supriyanto, kriteria tanah terlantar dalam peraturan perundangan indonesia, Jurnal Dinamika hukum, Vol. 10 No. 1 Januari 2010 , Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, di unduh pada tanggal 19 April 2019 46 Urip santoso, Hukum Agraria kajian komprehensif, kencana, Cet ke-6, Surabaya, 2017, hlm. 2-5 47 Urip santoso, Op Cit, hlm. 51-53 c. Meletakan dasar-dasar untuk memberikan menyebabkan timbulnya kesenjangan sosial dan kepastian hukum mengenai hak-hak atas ekonomi serta menurunkan kualitas lingkungan tanah bagi rakyat seluruhnya. itu sendiri, sehingga penelantaran tanah ini Ruang Lingkup bumi menurut UUPA adalah permukaan bumi, dan tubuh bumi di harus dicegah, disebut tanah. Tanah yang dimaksudkan di sini bukan mengatur tanah dalam segala aspeknya, melainkan hanya mengatur salah satu aspeknya, yaitu tanah dalam pengertian yuridis yang disebut hak penguasaan atas tanah. Tanah dalam pengertian yuridis adalah permukaan bumi. Sedangkan terlantar adalah tidak terpelihara, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar pokok-Pokok Agraria menyebut tanah sebagai berikut :48 sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersamaorang-orang lain serta badan-badan hukum. kepada perseorangan atau badan hukum digunakan/dimanfaatkan tidak mudah menetapkan tanah sebagai tanah terlantar, sesuai pemberian hak atau dasar penguasaannya. Kenyataannya banyak tanah yang tidak diusahakan/dipergunakan sebagaimana mestinya, sehingga berpotensi menjadi tanah terlantar, penelantaran tanah akan berdampak program 48 hal tersebut dikarenakan untuk melihat beberapa aspek sebagai berikut : 1. Subjeknya apakah perorangan atau badan hukum 3. Adanya kesenjangan dari subjek atau tidak 4. Jangka waktu yang harus dilewati untuk dapat disebut sebagai tanah terlantar. Tanah terlantar menurut Affan Mukti terbagi dalam dua arti yaitu dalam arti sempit dan arti luas. Tanah terlantar dalam arti sempit yaitu tanah yang tidak dimanfaatkan baik tanah terlantar bukan hanya tanah saja tetapi bangunan-bangunan, pencapaian pembangunan yang berbagai dapat Petunjuk Teknis Potensi Tanah Terlantar Tahun 2018 dll, yang tidak dimanfaatkan.49 dengan keadaannya atau sifat dan tujuan terhambatnya tidak disengaja atau tidak. Sedangkan dalam arti luas, 2. Hak atas tanah yang diberikan oleh Negara pada dan terurus. Maria S.W. Sumardjono mengatakan permukaan bumi, yang disebut tanah, yang harus terawat, 2. Tanah pertanian atau bangunan 1. Atas Dasar hak menguasai dari Negara dengan tidak menetapkan tanah sebagai tanah terlantar harus Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) dan (2) sama dan didayagunakannya kembali. bawahnya serta yang berada di bawah air. Permukaan bumi sebagai bagian dari bumi juga ditertibkan Penelantaran tanah atau tanah yang dengan sengaja ditelantarkan di pedesaan dan per-kotaan, selain merupakan tindakan yang tidak bijaksana, tidak peluang untuk ekonomis (hilangnya mewujudnyatakan potensi ekonomi tanah), dan tidak berkeadilan, serta juga merupakan kewajiban 49 yang pelanggaran harus terhadap dijalankan para Affan Mukti, Pokok-Pokok Bahasan Hukum Agraria, Medan : USUPress, 2006, hlm. 155 Pemegang Hak atau pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan tanah. Tanah kebanyakan terlantar atau merupakan atau badan hukum selalu diiringi kewajiban- ditelantarkan Tanah Hak ketika Negara memberikan hak kepada orang Guna kewajiban dalam surat keputusan pemberian haknya. Usaha (HGU) yang di mohonkan dan dimiliki oleh Perusahaan BUMN atau Perusahaan Pemegang Hak dilarang menelantarkan tanahnya, dan jika Pemegang Hak swasta, dalam praktek lapangan tanah-tanah menelantarkan tanahnya maka UUPA (Undang HGU atau Undang No 5 Th 1960) telah mengatur akibat ditelantarkan sehingga banyak Masyarakat yang hukumnya yaitu hapusnya hak atas tanah yang menempatinya baik dengan izin atau tanpa izin bersangkutan dan pemutusan hubungan hukum dari pemilik HGU tersebut, mereka dengan serta ditegaskan sebagai tanah yang dikuasai sengaja menggarap atau menduduki tanah langsung oleh Negara. ini banyak yang terlantar terlantar tersebut sehingga apabila HGU dari lahan sendirinya Berdasarkan latar belakang tersebut masyarakat yang menempati tanah tersebut diatas, maka peneliti akan membahas pokok- dengan leluasa mengajukan permohonan ke pokok masalah sebagai berikut : dirjen tersebut Badan habis, dengan 2. Identifikasi Masalah. Pertanahan Nasionaluntuk 1. Bagaimana Aspek Hukum hak atas diterbitkannya HGU atau Hak lainnya sehingga tanah yang sudah diberikan hak oleh munculah Sertifikat Tanah tersebut, sehingga Negara secara hukum masyarakat tadi yang menjadi dan/atau tidak dipergunakan, atau tidak pemilik dari HGU selanjutnya. dimanfaatkan keadaannya Dampak lain penelantaran tanah juga program pembangunan, 2. Bagaimana atau hak sifat dengan dan atau tujuan dasar Upaya Penertiban dan Pendayagunaan tanah terlantar di tinjau nasional, tertutupnya akses sosial ekonomi dari Peraturan Pemerintah Nomor 11 masya-rakat khususnya petani pada tanah, Tahun 2010 Tentang Penertiban dan serta ter-usiknya rasa keadilan dan harmoni Pendayagunaan tanah terlantar.? sosial. Pada dasarnya Negara memberikan hak atas tanah atau Hak Pengelolaan kepada Pemegang Hak dipergunakan, dipelihara dan dengan untuk dimanfaatkan baik ditujukan untuk B. Metode Penelitian Metode penelitian dalam penulisan diusahakan, selain serta untuk kesejahteraan bagi Pemegang Hak nya juga harus diusahakan penguasaannya.? rentannya ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi tidak sesuai pemberian menjadi terhambatnya pencapaian berbagai tujuan namun kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Tentu saja Artikel ini bersipat Deskriptif Analitis, yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan menggambarkan suatu keadaan sekelompok orang atau lembaga tertentu berdasarkan fakta- fakta yang ada.50 Undangan (law in books) atau hukum di Meliputi hal-hal sebagai berikut : konsepkan sebagai kaidah atau norma 1. Spesifikasi Penelitian yang merupakan patokan berperilaku yang di anggap pantas. 52 Sifat penelitian dalam penulisan hukum manusia yang Tataran penelitian hukum normatif, yang berbentuk Artikel ini bersifat deskriftif analitis, Roni Hanitijo Soemitro menggunakan mengatakan bahwa Deskriftif analitis, yuridis normatif (doctrinal) ini dalam ilmu yaitu hukum menggambarkan berbagai metode pendekatan merupakan penelitian peraturan per Undang-Undangan yang kepustakaan, yaitu penelitian terhadap berlaku data dikaitkan dengan teori-teori sekunder.53Data sekunder :54 hukum dan praktek pelaksanaan hukum dimaksud mencakup positif a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan- yang terkait dengan permasalahan yang diteliti.51 bahan Penelitian yang bersipat deskriftif ini perundang-undangan, dimaksudkan berkaitan untuk menggambarkan hukum berupa peraturan yang dengan semua data yang di peroleh yang Ketenagakerjaan berkaitan dengan judul penelitian secara negara, antara lain : UUD 1945, UU jelas guna Nomor yang ada. Pokok-Pokok ini ingin peraturan kemudian menjawab Peneliti di analisis permasalahan dalam penelitian 5 dan hukum Tahun administrasi 1960 Dasar Tentang Agraria pemerintah nomor dan 11 memperoleh gambaran yang lengkap tahun 2010 tentang penertiban dan dan jelas tentang Penelantaran tanah di pendayagunaan tanah terlantar. Jawa Barat dikaitkan dengan peraturan pemerintah nomor 11 tahun b. Bahan 2010 Hukum bahan-bahan Sekunder, yaitu hukum yang tentang penertiban dan pendayagunaan memberikan penjelasan mengenai tanah terlantar Rancangan Undang-Undang, hasilhasil Penelitian, artikel ilmiah, jurnal, 2. Metode Pendekatan hasil karya dari kalangan hukum Metode pendekatan yang digunakan dalam penulisan Artikel c. Bahan Hukum tertier, yaitu bahan ini, adalah yang yuridis normatif (doctrinal), yaitu hukum petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum yang di konsepkan sebagai apa yang primer dan sekunder, contoh nya tertulis dalam peraturan per Undang- 50 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta, 1986, hal. 9-10 51 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum Jurimetri, Cet ke-4 Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hal. 97-98. memberikan 52 MuslanAbdurrahman,Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, UMM Press, Malang, 2009, hlm.94 53 Ronny Hanitijo Soemitro, Loc.Cit, hlm 11 54 Ibid, hlm. 13 adalah kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif, dan seterusnya.55 telah bahan acuan pokok dalam penulisan Penelitian dilakukan melalui satu tahap, yaitu : penelitian kepustakaan (Library adalah penelusuran yang disebutkan di atas, yang merupakan 3. Tahap Penelitian research), perundang-undangan penelitian melalui Artikel. 5. Analisis Data Data primer dan data sekunder perundang-undangan sebagaimana hal nya dalam penelitian nasional, referensi hukum, hasil karya yang bersipat deskriftif analitis dengan tulis, kamus, ensiklopedi dan berbagai pendekatan artikel di media cetak atau internet, yang analisi data dilakukan secara kualitatif. sesuai dengan masalah yang di teliti Yuridis normatif, karena penelitian ini dan dilengkapi dengan data pendukung bertitik tolak pada peraturan perundang- lainnya. undangan yang ada sebagai hukum 4. Teknik Pengumpulan Data Teknik yang di positif. pergunakan dalam yuridis normatif, Kualitatif, maka karena dalam penelitian ini bermaksud memperoleh pengumpulan data di peroleh melalui berbagai informasi studi dokumen atau kepustakaan, yaitu gunakan untuk melakukan terhadap memahami aspek-aspek tertentu dari berkaitan pakar hukum Agraria dan hasil analisis penelitian dokumen-dokumen yang dengan masalah yang sedang dibahas dalam tesis ini dan kemudian di lakukan studi penelusuran menganalisis di dan ini di sajikan dalam bentuk Artikel. 6. Lokasi Penelitian Untuk mendapatkan data yang berupa pustaka berupa buku-buku literatur yang bahan hukum primer, bahan hukum ada keterkaitan dengan masalah yang sekunder, dan bahan hukum tersier, dibahas. maka penelitian ini dilakukan pada : inventarisasi dari dapat bahan Adapun data yang data dalam penelitian ini, pada dasarnya adalah data yang diinventarisir yang paling dominan sebagai bahan penulisan dalam Artikel ini adalah data sekunder 1. Perpustakaan Fakultas Hukum Uninus 2. Perpustakaan dan bagian arsip Kanwil Badan Pertanahan Nasional Prov Jawa Barat. yaitu data dari bahan pustaka berupa buku-buku literatur. Data sekunder tersebut di samping merupakan data dari berbagai literatur termasuk di dalamnya adalah bahanbahan hukum primer berupa peraturan 55 Ibid, C. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS 1. Aspek Hukum hak atas tanah yang sudah diberikan hak oleh Negara namun tidak diusahakan dan/atau tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan pemberian hak penguasaannya. atau dasar A.P. Parlindungan menyatakan tanah terlantar adalah tanah yang tidak dipergunakan Badan secara optimal sesuai dengan kemampuan Pertanahan Nasional adalah tanah yang sudah tanah tersebut. Masalah tanah terlantar juga diberikan hak oleh negara berupa Hak Milik, merupakan suatu hal yang sangat mengganggu HGU, HGB, Hak Pakai, Hak Pengelolaan, atau dalam penguasaan atas tanah. Tanah yang dasar penguasaan atas diberikan Tanah terlantar menurut tanah yang tidak dasar penguasaan haknya telah diusahakan, tidak dipergunakan, atau tidak berubah bentuk fisiknya akibat ditelantarkan dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau dalam waktu tertentu, sehingga haknya gugur sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar dan tanah tersebut kembali kepada penguasaan penguasaannya. hak ulayat masyarakat adat.58 Dalam hukum Adat yang dimaksud Maria S.W. Sumardjono mengatakan tanah terlantar adalah tanah yang pernah tidak mudah menetapkan tanah sebagai tanah dibuka, dikerjakan oleh pemilik/penggarapnya terlantar, sampai 1 kali atau 2 kali panen, kemudian di- menetapkan tanah sebagai tanah terlantar harus tinggalkan oleh pemiliknya dalam waktu ter- melihat beberapa aspek sebagai berikut : tentu sampai menjadi hutan kembali. Secara 1. Subjeknya apakah perorangan atau badan yuridis kemudian tanah ini kembali pada hak hukum ulayatnya.56 2. Tanah pertanian atau bangunan Pasal 5 UUPA, selain Hukum Agraria hal tersebut dikarenakan untuk 3. Adanya kesenjangan dari subjek atau tidak mendasarkan diri pada Hukum Adat juga harus 4. Jangka waktu yang harus dilewati untuk dapat mengindahkan disebut sebagai tanah terlantar. unsur-unsur yang bersandar pada Hukum Agama. Menurut Hukum Islam Dasar Hukum ketentuan hak-hak atas tanah terlantar dalam Islam dikenal dengan tanah diatur dalam pasal 4 ayat 1 UUPA, yaitu : tanah mati atau ihya al-mawat. Al-Mawat secara atas dasar hak menguasai dari negara atas etimologi berarti yang mati atau lawan dari tanah sebagai yang dimaksud dalam pasal 2 hidup. Al-mawat memiliki arti yaitu sesuatu yang ditentukan adanya macam-macam hak atas tidak mempunyai roh atau tanah yang tidak permukaan bumi, yang disebut tanah, yang berpenghuni dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh atau tidak seorangpun memanfaatkannya. Al-Mawat berarti sesuatu orang-orang lain seta badan-badan hukum.59 yang tidak mempunyai roh dan tanah tidak Macam-macam hak atas tanah di muat berpenghuni atau berarti sesuatu yang tidak dalam Pasal 16 dan Pasal 53 UUPA, yang mempunyai roh, juga berarti tanah yang tidak dikelompokan menjadi 3 bidang, yaitu:60 dimiliki serta tidak dimanfaatkan.57 56 Suhariningsih, Tanah Terlantar, Prestasi Pustaka Raya, Jakarta, 2009 hlm. 14 57 Supriyanto, Op Cit, hlm. 54 58 A.P. Parlindungan, Landreform Di Indonesia Strategi Dan Sasarannya, Mandar Maju, Bandung 1991, hlm. 85 59 Urip Santoso, Op Cit, hlm. 90-134 60 Ibid. 1. Hak atas tanah yang bersifat tetap, yaitu mengerti dan menjaga agar tidak terjadi tanah hak atas tanah ini akan tetap ada selama terlantar. Beberapa ketentuan dalam UUPA UUPA masih berlaku atau belum dicabut yang berkaitan dengan tanah terlantar adalah dengan Undang-Undang baru. Jenis-jenis sebagai berikut : atas tanah ini adalah Hak Milik, Hak Guna 1. Pasal 2 ayat (2) huruf b, menyatakan Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai, bahwa negara Hak Membuka Tanah, Hak Sewa untuk kekuasaan Bangunan, dan Hak Memunggut Hasil menentukan Hutan. hubungan sebagai organisasi tertinggi berwenang dan mengatur hukum antara hubunganorang-orang 2. Hak atas tanah yang akan ditetapkan dengan bumi, air dan ruang angkasa. dengan Undang-Undang, yaitu hak tas Berdasarkan ketentuan tersebut, negara tanah yang akan lahir kemudian, yang berwenang memutus hubungan ditetapkan dengan undang-undang, Hak antara manusia yang mempunyai hak atas atas tanah ini jenisnya belum ada. tanah 3. Hak atas Tanah yang bersipat sementara, yaitu hak atas tanah ini sifatnya sementara, apabila manusia hukum tersebut menelantarkan tanahnya. 2. Pasal 6 menyatakan, semua hak atas tanah dalam waktu yang singkat akan dihapuskan mempunyai fungsi dikarenakan akan mengandung sifat-sifat Penjelasan Umum pemerasan, mengandung sifat feodal dan dinyatakan bahwa hak atas tanah apapun bertentangan jiwa UUPA. Macam-macam yang ada pasa seseorang tidaklah dapat hak atas tanah ini diantaranya adalah Hak dibenarkan Gadai (Gadai Tanah), Hak Usaha Bagi dipergunakan (atau tidak dipergunakan) Hasil Hak semata-mata untuk kepentingan pribadinya, Tanah apalagi kalau hal itu menimbulkan kerugian (Perjanjian Menumpang, bagi dan Hak hasil), sewa Pertanian. pasal tanahnya Dalam tersebut itu akan bagi masyarakat. Penggunaan tanah harus Hukum Agraria Nasional mempunyai ciri pengelolaan bahwa sosial. sumber untuk dari pada haknya, hingga bermanfaat baik kesejahteraan rakyat. Alasan filosofisnya ialah bagi kesejahteraan dan kebahagiaan yang bahwa tanah itu adalah karunia Tuhan kepada mempunyainya maupun bermanfaat pula umat untuk bagi masyarakat dan negara. Berdasarkan memenuhi penjelasan pasal 6 tersebut diamanatkan kebutuhannya agar tercapai kesejahteraan atau bahwa hak-hak atas tanah bukan hanya kemakmuran berisikan wewenang melainkan sekaligus kewajiban untuk manusia diusahakan, daya (rakyat dikelola bersama tanah disesuaikan dengan keadaannya dan sifat Indonesia) guna rakyat seluruhnya dengan berkeadilan. Hukum Agraria Nasional (UUPA) mengusahakan, dan juga memakai, memanfaatkannya, tersebut, menyebutkan bahwa semua pihak sehingga membiarkan terutama para pemegang hak atas tanah, perlu terlantar artinya tanah tanah tersebut tersebut dalam keadaan tidak diusahakan, tidak penjelasannya dinyatakan bahwa tanah dimanfaatkan berarti menyalahi amanat ditelantarkan kalau dengan sengaja tidak pasal 6 UUPA. dipergunakan sesuai dengan keadaannya 3. Pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa setiap atau sifat dan tujuan daripada haknya. orang atau badan hukum yang mempunyai 6. Pasal 34 huruf e, menyatakan bahwa Hak suatu hak atas tanah pertanian pada Guna Usaha hapus karena ditelantarkan. asasnya diwajibkan mengerjakan atau 7. Pasal 40 huruf e, menyatakan bahwa Hak mengusahakannya sendiri secara aktif, Guna dengan mencegah cara-cara pemerasan. ditelantarkan. Pasal ini memberi pengertian bahwa Bangunan hapus karena Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun seseorang yang mempunyai suatu hak atas 2010 diterbitkan tanah pada asasnya wajib mengerjakan utama. Pertama, bahwa kondisi penelantaran sendiri tanahnya secara aktif dan tidak tanah diperkenankan sama sekali untuk tidak sosial, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat serta mengusahakan atau menelantarkan tanah menurunkan sesuai dengan peruntukkannya. instrumen regulasi berupa peraturan perundang- semakin berdasarkan menimbulkan kualitas pertimbangan kesenjangan lingkungan. Kedua, 4. Pasal 15 menyatakan bahwa memelihara undangan yang telah ada yaitu PP Nomor 36 tanah, termasuk menambah kesuburannya Tahun 1998 beserta peraturan pelaksanaannya serta tidak dapat lagi dijadikan acuan penyelesaian mencegah kerusakannya adalah kewajiban tiap-tiap orang, badan hukum penertiban atau instansi yang mempunyai hubungan terlantar.61 hukum dengan memperhatikan tanah pihak lemah. Penelantaran salah satu itu, yang tanah tindakan dengan ekonomis merupakan yang dapat dan Potensi pendayagunaan tanah terlantar tanah atau ditelantarkan di Provinsi Jawa Barat menurut data yang pertanahan dikeluarkan Nasional) oleh Provinsi BPN jawa (badan barat menurunkan kesuburan tanah sehingga berdasarkan hasil penelitian Peneliti sebagai berdampak pada kualitas lingkungan, hal berikut :62 tersebut bertentangan dengan amanat pasal 15 UUPA yang menyatakan bahwa menjadi sebuah kewajiban bagi pihak yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah untuk memelihara serta menambah kesuburan tanah. 5. Pasal 27 huruf a angka 3, menyatakan bahwa Hak Milik atas tanah hapus bila tanahnya jatuh kepada negara karena ditelantarkan. Kemudian dalam 61 Kajian Yuridis Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar Serta Pengenaan Jenis dan Tarif PNBP Yang Berlaku Pada BPN Dalam Upaya Pelaksanaan Kewenangan Daerah Di Bidang Pertanahan, Oleh Sarjita, S.H., M. Hum., http://kppd.slemankab.go.id/wpcontent/uploads/2011/02/Kajian-Yuridis-Penertibandan-Pendayagunaan-Tanah-Terlantar-SertaPengenaan.pdf, hlm 6, Diakses Pada Tanggal 3 Mei 2019 62 Data Rekapitulasi Jumlah Hak Atas Tanah Provinsi Jawa Barat, BPN Kanwil Jawa Barat. N o Jenis Hak 1 2 Hak GunaUsaha HGB 197 3 Hak Pakai 2 4 HakPengelol aan Ijin Lokasi 1 5 Jumlah Bidang 85 54 Jumlah 339 Luas Hak (Ha) 27.519. 1764 31.468. 0424 120.21 51 9.7000 LuasTanahTerin dikasi Terlantar (Ha) 23.682.3503 9.477.2 200 68.594. 3539 3.889.9100 23.069.1399 Kriteria tanah terlantar dapat ditemukan dengan cara mensistemasi unsur-unsur yang ada dalam tanah terlantar. Adapun unsur-unsur yang ada pada tanah terlantar yaitu :64 120.2151 1. Adanya pemilik atau pemegang hak atas 8.9000 tanah (subjek). 2. Adanya tanah hak yang diusahakan atau tidak (objek). 50.770.5153 3. Adanya tanah yang teridentifikasi telah menjadi hutan kembali atau kesuburannya Penguasaan tanah yang melampaui tidak terjaga. batas, penguasaan tanah secara absentee, penguasaan tanah yang terpecah-pecah, 4. Adanya jangka waktu tertentu dimana tanah menjadi tidak produktif. spekulasi tanah dapat mengakibatkan terjadinya tanah-tanah terlantar, Terjadinya tanah terlantar 5. menggunakan tanah. dapat disebabkan antara lain sebagai berikut :63 1. Pemilikan tanah yang terlampau luas, atau 6. mampu pemegang untuk hak tidak membangun dan mengetahui unsur-unsur esensial terjadinya tanah terlantar maka kriteria atau ukuran yang dapat dipakai untuk menetapkan sebidang tanah adalah terlantar memanfaatkan tanahnya. 2. Adanya resesi ekonomi yang menimbulkan dengan cara kembali menjelaskan dengan perubahan struktur pemasaran atau sebab- melakukan sebab unsur yang ada, dengan fokus terhadap tujuan lain, merasa sehingga tidak pemegang akan hak memperoleh tanahnya. tanahnya hak sesuai sulit mengusahakan dengan sifat dan tujuannya, karena adanya penggarapan liar. 4. Spekulasi terhadap 2. Upaya Penertiban dan Pendayagunaan tanah terlantar di tinjau dari Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan tanah terlantar. dan memutuskan untuk tidak mengolah Pemegang penafsiran-penafsiran pemberian hak atas tanah. keuntungan untuk melanjutkan usahanya 3. Status tanah kembali kepada negara. Dengan pemilikan tanah secara absentee yang mengakibatkan Adanya perbuatan yang sengaja tidak Berkaitan dengan tanah-tanah yang tidak difungsikan, tidak diolah, tidak diusahakan, tanah yang mengharapkan keuntungan secara tidak wajar. tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan haknya atau dasar penguasaannya, maka Pemerintah kemudian 63 Chadidjah Dalimunthe, Pelaksanaan Landreform Di Indonesia Dan Permasalahannya, Cetakan Ketiga, Penerbit Universitas Sumatera Utara, Medan, 2005, hlm. 117-119 Luh Putu Suryani, Tesis : “Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar Dalam Rangka Penatagunaan Tanah Di Kota Denpasar” (Denpasar: Universitas Udayana, 2011), hlm 69. 64 mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa : Identifikasi Tahun dan penelitian sebagaimana dimaksud dalam 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar. pasal 5 ayat (1) dilaksanakan: Peraturan ini diundangkan di Jakarta a. Terhitung mulai 3 (tiga) tahun sejak pada 22 Januari 2010 mulai berlaku pada diterbitkan Hak Milik, Hak Guna Usaha, tanggal Hak Guna Bangunan, Hak Pakai; atau diundangkannya. dikeluarkannya PP tersebut Maksud adalah untuk b. Sejak berakhirnya izin/keputusan/surat memaksimalkan penggunaan tanah menjadi dasar penguasaan atas acuan pejabat yang berwenang. untuk penyelesaian penertiban dan pendayagunaan tanah terlantar. tanah dari Dalam Pasal 1 ayat (5) Peraturan Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor Peme-rintah No 36 Th 1998 dinyatakan bahwa 11 Tahun 2010 menentukan bahwa : “Objek Tanah penertiban tanah terlantar meliputi tanah yang diterlantarkan oleh pemegang hak atas tanah, sudah diberikan hak oleh Negara berupa Hak pemegang hak pe-ngelolaan atau pihak yang Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, telah memperoleh dasar Hak Pakai, dan Hak Pengelolaan, atau dasar tanah, tetapi belum memperoleh hak atas tanah penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan, sesuai tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan undangan yang berlaku. sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya”. Pasal 3 menyatakan bahwa : “Tidak termasuk objek penertiban tanah terlantar sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 adalah: a. Tanah Hak atau ketentuan tanah yang penguasaan atas peraturan perundang- Ketentuan hal ini sebetulnya juga telah ditentukan dalamUUPA Pasal 27, 34 dan 40 UUPA yaitu bahwa Hak Milik, HGU, HGB dapat dinyatakan sebagai tanah terlantar dan jatuh menjadi tanah negara apabila tanah tersebut dengan sengaja tidak dipergunakan oleh peme- Bangunan, atas nama perseorangan gang haknya sesuai dengan keadaannya atau yang sifat dan tujuan haknya atau tidak dipelihara tidak Hak adalah Guna secara Milik terlantar sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan dengan baik. atau sifat dan tujuan pemberian haknya Pengertian tanah terlantar dalam PP No b. Tanah yang dikuasai pemerintah baik 10 Tahun 2010 sebagaimana produk peraturan secara langsung maupun tidak langsung lainnya dapat dilihat pada Pasal 2, menentukan dan sudah berstatus maupun belum Obyek penertiban tanah terlantar meli-puti tanah berstatus Barang Milik Negara/Daerah yang sudah diberikan hak oleh Negara berupa yang tidak sengaja tidak dipergunakan Hak sesuai dengan keadaan atau sifat dan Bangunan, Hak Pakai, dan Hak Pengelolaan, tujuan pemberian haknya. atau dasar pe-nguasaan atas tanah yang tidak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna diusaha-kan, tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar barat, salah satu langkah-langkahnya sebagai penguasaannya. berikut :65 Pasal 3, menyatakan : Tidak termasuk 1. kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan obyek penertiban tanah terlantar sebagaimana Nasional bertanggung jawab melaksanakan dimaksud dalam Pasal 2 adalah: kegiatan a. tanah Hak Milik atau Hak Guna Bangunan atas nama perseorangan yang secara tidak sengaja tidak tanah terindikasi terlantar di lingkungan wilayah kerjanya. 2. Kepala Bidang penanganan masalah dan pengendalian pertanahan Cq Seksi dipergunakan sesuai dengan keadaan pengendalian pertanahan melaksanakan atau sifat dan tujuan pemberian haknya; inventarisasi dan pada kantor wilayah Badan Pertanahan b. tanah yang dikuasai pemerintah baik secara langsung maupun tidak lang- tanah terindikasi terlantar Nasional Provinsi. 3. Dalam hal petugas yang melaksanakan sung dan sudah berstatus maupun be- inventarisasi lum berstatus Barang Milik Negara/ masalah dan pengendalian pertanahan Cq Daerah yang tidak sengaja tidak di- Seksi pergunakan sesuai dengan keadaan mencukupi, kepala kantor wilayah Badan atau sifat dan tujuan pemberian hak- Pertanahan Nasional menunjuk pelaksana nya. lain dilingkungan kantor Wilayah Badan Keberadaan PP No.11 Tahun 2010 Pertanahan dinilai sa-ngat penting dalam merestrukturisasi pemilikan dan penguasaan tanah lebih adil bagi rakyat. inventarisasi Tanah terlantar penanganan Pertanahan Nasional/kantor tidak pertanahan setempat. Kegiatan inventarisasi tanah terindikasi terlantar oleh Kantor Wilayah Badan Pertanahan masyarakat dalam rangka reformasi agraria, Nasional meliputi tahapan sebagai berikut : untuk dan Pengumpulan data pisik, rapat koordinasi yang pemerintah di an-taranya untuk ketahanan dihadiri oleh pelaksana dari kantor Pertanahan, pangan, ketahanan energi dan pengembangan pemegang hak atau pihak-pihak lain yang terkait perumahan rakyat. berkenaan dengan hasil kegiatan inventarisasi strategi lain pengendalian bidang untuk kepen-tingan antara pada negara Upaya Penertiban dan pengendalian tanah terindikasi terlantar, Input/entry data hasil tanah terlantar atau ditelantarkan berdasarkan kegiatan inventarisasi tanah terindikasi terlantar petunjuk tertulis yang di gunakan oleh Badan kedalam aplikasi sistem informasi tanah telantar Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Wilayah (SI-TANTE), membuat laporan tertulis hasil Provinsi Jawa Barat dan beberapa tempat kegiatan inventarisasi tanah terindikasi terlantar dilakukan oleh BPN Kota/Kabupaten di jawa kepada menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala 65 Data Rekapitulasi Jumlah Hak Atas Tanah Provinsi Jawa Barat, BPN Kanwil Jawa Barat, Op Cit, hlm 5-15 Badan Pertanahan Nasional Cq Direktur 3. Laporan disampaikan kepada Menteri Jenderal Pengendalian Pemanfaatan Ruang Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Cq dan Penguasaan Tanah, Biaya inventarisasi Dirjen Pengendalian Pemanfaatan Ruang mengacu kepada Standar Keluaran (SBK) tahun dan Penguasaan tanah dan softcopy dikirim berjalan.66 melalui Langkah selanjutnya yang digunakan email dengan alamat: [email protected] oleh BPN dalam rangka Pengendalian dan Berikut data rekapitulasi pengendalian dan tahapan Penertiban Tanah Terlantar yaitu Pemutakhiran penertiban, pemanfaatan Data Tanah Terindikasi Terlantar, terhadap data tanah terlantar di Wilayah Provinsi jawa barat, tanah yang terindikasi terlantar dapat dilakukan sebagai berikut :70 pemutakhiran data dengan cara :67 No Tahapan Jumlah Bidang Luas (Ha) Hak Belum Penertiban Dan Belum berakhir Hak Belum Penertiban dan sudah berakhir haknya Sudahpenertiban,belum dilanjutkan ke tahap berikutnya Sudah usulan penetapan tanah terlantar (status Quo) Sudah di tetapkan sebagai tanah terlantar Optimalisasi Jumlah 123 19,260.2967 LuasTanah Terindikasi Terlantar (Ha) 14,001.5076 83 14,909.3976 10,3537523 79 20,796.2720 14,266.7883 24 5,421.0828 4,179.5983 0 0,0000 0,0000 8,207.3048 68,594.3539 7,968.8688 50,770.5153 1. Penyesuaian 2. Penghapusan. 1 Langkah Informasi berikutnya Tanah yaitu Telantar Sistem (SI-TANTE) 2 3 merupakan suatu aplikasi yang dirancang dan dibuat khusus dan digunakan sebagai database untuk mengelola data-data tanah terlantar secara sistematis dan dapat di update setiap saat, sebagai sarana penyedia 4 data informasi mengenai tanah terlantar dan 5 6 30 339 secara D. PENUTUP valid.68 Langkah terakhir yaitu Pelaporan, 1. Kesimpulan kantor wilayah Badan Pertanahan Nasional a. Aspek Hukum mengenai ketentuan hak- Provinsi wajib membuat dan menyampaikan hak atas tanah diatur dalam pasal 4 laporan potensi tanah terlantar kepada Mentri ayat 1 UUPA, Pasal 2 ayat (2) huruf b, Agraria Badan Pasal 6, Pasal 10 ayat 1, Pasal 15, Pertanahan Nasional Cq Direktur Jenderal Pasal 27 huruf a angka (3), Pasal 34 Pengendalian dan Penguasaan Tanah, isinya huruf e, Pasal 40 huruf e, Hukum meliputi :69 Agraria dan tata Ruang/Kepala Nasional (UUPA) 1. Realisasi fisik dan keuangan. menyebutkan 2. Uraian hasil kegiatan penyusunan data terutama para pemegang hak atas potensi tanah terlantar. bahwa tersebut, semua pihak tanah, perlu mengerti dan menjaga agar tidak terjadi tanah terlantar dan Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 66 Ibid. Ibid. 68 Ibid. 69 Ibid. 67 70 Data Rekapitulasi Tahapan Pengendalian/Penertiban Tanah Terlantar BPN Kanwil Jawa barat, Tahun 2018 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar. atau pengambil alihan tanah tersebut dengan melawan hukum. b. Upaya Penertiban dan Pendayagunaan b. Terhadap Tanah terlantar atau tanah terlantar di tinjau dari Peraturan diterlantarkan perlu penanganan yang Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 serius Tentang dan Pemerintah Pendayagunaan tanah terlantar yang Pertanahan dilakukan Tata Menggandeng Masyarakat yang tingal dengan atau mengetahui tentang keberadaan Penertiban oleh Ruang/Kepala Kementrian BPN yaitu melakukan Kegiatan inventarisasi tanah dan Komprehensif dalam hal ini Nasional oleh Badan dengan tanah terlantar tersebut. terindikasi terlantar oleh Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional, DAFTAR PUSTAKA Pemutakhiran Data Tanah Terindikasi Terlantar, Sistem Informasi Tanah Telantar (SI-TANTE) merupakan suatu aplikasi yang dirancang dan dibuat khusus dan digunakan sebagai database untuk mengelola data-data tanah terlantar secara sistematis dan dapat di update setiap saat dan yang terakhir Pelaporan, kantor wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi wajib membuat dan menyampaikan laporan potensi tanah terlantar kepada Mentri Agraria dan tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Cq Direktur Jenderal Pengendalian dan Penguasaan Tanah. 2. Saran. a. Perlunnya ketegasan dari Pemerintah dalam melakukan Penertiban terhadap A. BUKU Affan Mukti, Pokok-Pokok Bahasan Hukum Agraria, Medan: USUPress, 2006 A.P. Parlindungan, Landreform Di Indonesia Strategi Dan Sasarannya, Mandar Maju, Bandung 1991, Chadidjah Dalimunthe, Pelaksanaan Landreform Di Indonesia Dan Permasalahannya, Cetakan Ketiga, Penerbit Universitas Sumatera Utara, Medan, 2005 Muslan Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, UMM Press, Malang, 2009 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum Jurimetri, Cet ke-4 Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990 Suhariningsih, Tanah Terlantar, Prestasi Pustaka Raya, Jakarta, 2009 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta, 1986 Urip santoso, Hukum Agraria kajian komprehensif, kencana, Cet ke-6, Surabaya, 2017 tanah yang diindikasikan sebagai tanah terlantar atau ditelantarkan oleh Pemilik B. ARTIKEL, JURNAL, INTERNET HGU nya supaya tidak ada penguasaan Kajian Yuridis Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar Serta Pengenaan Jenis dan Tarif PNBP Yang Berlaku Pada BPN Dalam Upaya Pelaksanaan Kewenangan Daerah Di Bidang Pertanahan, Oleh Sarjita, S.H., M. Hum., http://kppd.slemankab.go.id/wpcontent/uploads/2011/02/Kajian-YuridisPenertiban-dan-Pendayagunaan-TanahTerlantar-Serta-Pengenaan.pdf, hlm 6, Luh Putu Suryani, Tesis: “Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar Dalam Rangka Penatagunaan Tanah Di Kota Denpasar” (Denpasar: Universitas Udayana, 2011) Supriyanto, kriteria tanah terlantar dalam peraturan perundangan Indonesia, Jurnal Dinamika hukum, Vol. 10 No. 1 Januari 2010, Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Juknis Potensi Tanah Terlantar Tahun 2018, BPN Kanwil Jawa barat.