Uploaded by common.user54325

prosiding seminar

advertisement
ISSN 2085-3262
Pendahuluan
Seminar Nasional Riset Terapan Administrasi Bisnis dan MICE VIII bertujuan sebagai forum
penyebarluasan hasil-hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat melalui media
yang terbuka untuk publik. Lebih jauh, forum ini diharapkan pula dapat menjadi ajang diskusi
akademik dan praktis yang melibatkan berbagai stakeholder terutama dari kalangan
akademisi, praktisi dan pemerintah. Mempertimbangkan hal tersebut, para pembicara utama
(keynote
speakers)
yang
diundang
dalam
kegiatan
ini
juga
dilakukan
dengan
mempertimbangkan kompisisi tersebut - selain bidang keilmuan yang dimiliki. Hasil dari
proses dialektika antar sudut pandang para stakeholder yang berbeda ini diharapkan akan
dapat menjadi sarana untuk menghasilkan rekomendasi dan langkah-langkah yang tepat
untuk mempercepat dan meningkatkan proses akumulasi dan adopsi teknologi informasi dan
komunikasi dalam bidang administrasi bisnis dan MICE. Untuk mencapai maksud tersebut,
Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) mengundang berbagai pihak
untuk menyampaikan pengalaman dan hasil-hasil pengkajian dalam bidang sebagai berikut:
1. Pemasaran destinasi
2. Public relations
3. Tourism
4. Hukum bisnis dan administrasi bisnis
5. MICE
6. Special event
7. SDM
8. Keuangan dan logistik
Output dari kegiatan seminar ini, sebagian besar akan dipublikasikan dalam prosiding ini dan
juga tentunya jurnal terakreditasi. Segenap panitia mengucapkan banyak terima kasih
kepada, Direktur Politeknik Negeri Jakarta dan jajarannya, Ketua jurusan, Narasumber, dan
peserta dari perguruan tinggi dan politeknik yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Serta tidak lupa penghargaan kepada panitia yang telah bekerja keras sehingga kegiatan ini
dapat terlaksana dengan baik. Kritik dan saran diharapkan demi terwujudnya perbaikan di
tahun mendatang.
Agustus, 2019
Panitia Seminar Nasional Riset Terapan
ISSN 2085-3262
STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA
Penanggung Jawab : Abdillah, S.E., M.Si
Dr. sc. H. Zainal Nur Arifin, Dipl-Ing. HTL, M.T
Titik Purwinarti, S.Sos., M.Pd
Steering Committee :
Dr. Iis Mariam
Dr. Nining Latianingsih
Dr. Christina L Rudatin
Rimsky K Judisseno, Ph.D
Organizing Committee :
Ketua Panitia: Imam Syafganti, S.Sos., M.Si
Wakil Ketua: Firmansyah, S.P., M.M
Sekretaris: Taufik Akbar, SE., M.M
Bendahara: Endah Wartiningsih, SE., M.M
ISSN 2085-3262
RUNDOWN PROGRAM
Seminar Nasional Riset Terapan VIII
Administrasi Bisnis dan MICE 2019
“ADOPSI INOVASI MANAJEMEN DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI
DALAM BIDANG ADMINISTRASI BISNIS DAN MICE
DI ERA INDUSTRI 4.0”
30 Agustus 2019
Waktu
07.00 – 08.00
08.00 – 08.45
09.00 – 11.45
11.30 – 13.30
13.30 – 14.50
14.50 – 15.05
15.05 – 17.00
Jumat, 30 Agustus 2019
Aktivitas
Registrasi
Opening ceremony
- Opening MC
- Lagu kebangsaan
- Sambutan panitia
- Sambutan Jurusan
- Pembukaan resmi (Direktur PNJ)
- Prosesi opening & photo session
Plenary session + QnA session
1. I Dewa Gede Sugihamre
(Perwakilan
Direktur
Industri,
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Bappenas)
2. Jim Oklahoma (Chief Executive
Officer iGrow)
3. Hendra Noor Saleh (Presiden
Diektur Dyandra Promosindo)
Break and Lunch
Parallel session 1
Coffee break
Parallel session 2
Venue
Area registrasi (Hotel Savero)
Ballroom
Ballroom
Breakout rooms
Breakout rooms
ISSN 2085-3262
Pengaruh Stres Kerja dan Lingkungan Kerja Fisik terhadap
Produktivitas Kerja Karyawan
Di PT Kusumaputra Santosa Karanganyar
Retno Nugraheini 1, Cicilia Dyah Sulistyaningrum Indrawati 2, Anton Subarno 3
1 Pendidikan
Admnistrasi Perkantoran -- Universitas Sebelas Maret, [email protected]
Admnistrasi Perkantoran -- Universitas Sebelas Maret, [email protected]
3 Pendidikan Admnistrasi Perkantoran -- Universitas Sebelas Maret, [email protected]
2 Pendidikan
ABSTRACT
The current study is aimed to determine of: (1) the effect of job stress on employees’ productivity, (2)
the effect of physical work environment on employees’ productivity, and (3) the effect of job stress and
physical work environment on employees’ productivity. This study used quantitative corelational
research. The research population was 320 employees of production division at PT Kusumaputra
Santosa Karanganyar. The sample of this research was taken with proportional random sampling
technique with 81 respondents are 32 male dan 49 female in 42 years old. The data are collected by
using observation, documentation, and questionnaire. The data are analyzed by using multiple linier
regression with SPSS program 25.
Based on the analysis, the study found that: (1) there was a significant effect of job stress on
employees’ productivity at PT Kusumaputra Santosa Karanganyar (ttable > tcount or 3,72 > 1,99), (2)
there was a significant effect of physical work environment on employees productivity at PT
Kusumaputra Santosa Karanganyar (ttable > tcount or 2,16 > 1,99), (3) there was a significant effect of job
stress and physical work environment on employees’ productivity at PT Kusumaputra Santosa
Karanganyar (Ftable > Fcount or 20,41 > 3,11). The regression similarity Ŷ=40,69+0,08X1+0,04X2.
Relative contribution of job stress was 66,6%. Relative contribution of physical work environment was
33,4%. Effective contribution of job stress was 22,9%. Effective contribution of physical work
environment was 11,5%.
Keyword: fabric production, noisy, under pressure
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya: (1) pengaruh stres kerja terhadap
produktivitas kerja, (2) pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja, dan (3) pengaruh
stres kerja dan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja. Penelitian ini merupakan penelitian
kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah 320 karyawan bagian produksi di PT
Kusumaputra Sentosa Karanganyar. Sampel diambil menggunakan teknik sampel proposional acak
dengan jumlah sampel 81 responden yang terdiri dari 32 laki-laki dan 49 perempuan, rata-rata umur
responden 42 tahun. Metode pengumpulan data dengan menggunakan observasi, dokumentasi dan
angket. Data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dengan program SPSS
25.
Berdasarkan analisis, ditemukan bahwa: (1) Terdapat pengaruh signifikan stres kerja
terhadap produktivitas kerja di PT Kusumaputra Santosa Karanganyar (ttable > tcount atau 3,72 > 1,99),
(2) Terdapat pengaruh signifikan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja di PT
Kusumaputra Santosa Karanganyar (ttable > tcount or 2,16 > 1,99), (3) Terdapat pengaruh signifikan stres
kerja dan lingkungan kerja fisik secara bersama-sama terhadap produktivitas kerja (Ftable > Fcount or
20,41 > 3,11). Persamaan regresi Ŷ=40,69+0,08X1+0,04X2. Sumbangan relatif stres kerja sebesar
66,6%. Sumbangan relatif lingkungan kerja fisik sebesar 33,4%. Sumbangan efektif stres kerja
sebesar 22,9%. Sumbangan efektif lingkungan kerja sebesar 11,5%.
Kata Kunci: bising, produksi kain, target kerja
ISSN 2085-3262
PENDAHULUAN
Stres kerja dan lingkungan kerja fisik
merupakan dua variabel yang penting dalam
meningkatkan produktiviatas kerja. Salah satu
faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja
adalah stres kerja (Tanjung, 2018). Stres kerja
merupakan
kondisi
ketegangan
yang
berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran,
dan kondisi fisik seseorang. Jika karyawan
mengalami stres kerja maka dapat berdampak
pada kinerja karyawan (Fatikhin, 2017). Hal
tersebut
tentu
dapat
menghambat
produktivitas
kerja
karyawan
untuk
perusahaan. Selain stres kerja, faktor lain yang
dapat mempengaruhi produktivitas kerja
adalah lingkungan kerja fisik. Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi lingkungan kerja
fisik adalah tempat kerja karyawan, kondisi
penerangan, kondisi ventilasi, kondisi keriuhan
suara, segi-segi berbahaya dan tidak sehat
(As’ad, 2011).
PT Kusumaputra Santosa merupakan
perusahaan yang bergerak dibidang textile
yang memiliki karyawan sebanyak 320 terdiri
dari 7 bagian. Dari hasil observasi awal dan
wawancara yang dilakukan peneliti dengan
karyawan di PT Kusumaputra Santosa,
karyawan
PT
Kusumaputra
Santosa
mengalami
masalah
stres
kerja
dan
kenyamanan dalam lingkungan kerja fisik serta
permasalahan hasil produksi yang tidak stabil.
PT Kusumaputra Santosa memiliki target
produksi sebanyak 70 ball setiap harinya, total
sebanyak 2.100 ball per bulan. Namun, hasil
produksi PT Kusumaputra Santosa pada tahun
2018 tidak stabil dan mengalami penurunan
pada bulan-bulan tertentu.
Dalam
menjalankan
pekerjaannya
karyawan dapat mengalami stres kerja. Hal ini
disebabkan karena adanya desakan waktu
dalam penyelesaian tugas, adanya hubungan
yang kurang mendukung antara atasan dan
bawahan karena karyawan bekerja di bawah
pengawasan yang tinggi, selain itu karyawan
belum mengerti akan pekerjaan yang diberikan
karena
adanya
perpindahan-perpindahan
mendadak pada bagian kerja karyawan,
misalnya dari bagian bowling (pemisahan serat
kapas) dipindahkan ke bagian carding
(membuat silver). Sehingga karyawan tidak
dapat belajar terlebih dahulu dan belajar
secara otodidak. Ketika karyawan sudah
mengalami stres kerja yang lama, karyawan
melakukan tindakan mangkir kerja dan
mencuri waktu untuk beristirahat disela jam
kerja dan membolos.
Kondisi lingkungan kerja fisik juga
mempengaruhi
karyawan
dalam
menyelesaikan pekerjaannya. Lingkungan
kerja fisik yang kurang nyaman karena
banyaknya
kapas-kapas
halus
yang
bertebaran di ruang produksi kurang terkontrol.
Suhu ruangan ditempat kerja akan terasa
panas saat semua mesin dihidupkan, bau
yang menyengat muncul pada proses produksi
bagian bowling dapat membuat karyawan
kurang nyaman dan mengurangi konsentrasi,
serta
getaran
ditempat
kerja
cukup
mengganggu karyawan dalam melakukan
pekerjaan. Kebisingan juga mengharuskan
karyawan untuk berbicara dengan keras.
Berdasarkan data yang diambil, tingkat
kebisingan di PT Kusumaputra Santosa
dengan nilai intensitas terendah 95,35 dB dan
nilai intensitas tertinggi 98,21 dB dengan lama
paparan 8 jam per hari. Berdasarkan hasil nilai
terendah dan nilai tertinggi dari pengukuran
kebisingan
tersebut
maka
intensitas
kebisingan di PT Kusumaputra Santosa telah
melebihi NAB yang telah ditentukan yaitu
sebesar
85
dB
yang
diatur
dalam
Permankertrans RI No. PER. 13/MEN/X/2011
tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan
Faktor Kimia di Tempat Kerja.
Berdasarkan permasalahan stres kerja dan
lingkungan kerja fisik tersebut, penulis tertarik
untuk melakukan penelitian tentang seberapa
besar Pengaruh Stres Kerja dan Lingkungan
Kerja Fisik terhadap Produktivitas Kerja
Karyawan di PT Kusumaputra Santosa
Karanganyar.
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini
dilaksanakan
di
PT
Kusumaputra Santosa yang beralamat di Jaten
KM.9,
Jaten,
Kabupaten
Karanganyar.
Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif
korelarional,
yaitu
penelitian
yang
pengumpulan
datanya
menggunakan
instrumen penelitian analisis data bersifat
kuantitatif.
ISSN 2085-3262
Populasi dalam penelitian ini adalah
karyawan bagian produksi PT Kusumaputra
Santosa Karanganyar sebanyak 7 grup
produksi dengan jumlah populasi sebanyak
320
karyawan.
Penentuan
sampel
menggunakan proportional random sampling,
didapatkan sampel untuk penelitian ini
sebanyak 81 karyawan bagian produksi PT
Kusumaputra Santosa Karanganyar. Data
variabel bebas diambil dengan angket
penelitian. Data variabel terikat diambil dari
jumlah hasil produktivitas karyawan bulan
Februari dan Maret yang dibagi dengan
banyaknya hasil kerja.
Angket yang digunakan yaitu angket
tertutup dalam bentuk check list menggunakan
skala likert modern yang telah di modifikasi
dengan skala 4. Dokumen digunakan untuk
memperoleh data hasil produktivitas kerja
karyawan selama bulan Februari dan Maret.
Untuk menguji validitas dan reliabilitas
instrumen dilakukan uji coba (try out) angket
pada 15 responden di PT Kusumaputra
Santosa di luar sampel penelitian. Teknik
analisis data dalam penelitian ini dengan uji
prasyarat analisis dan Uji Hipotesis. Uji
Prasyarat analisis meliputi uji normalitas
menggunakan kolmogorov serminov dengan
unstandardized
residual,
uji
linieritas
menggunakan test for linearity, dan uji
multikolineritas. Uji Hipotesis meliputi analisis
regresi linier berganda, uji t menggunakan
rumus t parsial, uji F, analisis koefisien
determinasi dan sumbangan relatif &
sumbangan efektif.
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Temuan
Penelitian ini membahas pengaruh dua
variabel bebas yaitu stres kerja (X1) dan
lingkungan kerja fisik (X2) terhadap satu
variabel terikat yaitu produktivitas kerja (Y).
Data variabel bebas diperoleh melalui angket,
sedangkan data produktivitas kerja diperoleh
dengan menggunakan dokumen perusahaan
PT Kusumaputra Santosa Karanganyar.
Dokumen lain yang digunakan dalam
penelitian ini adalah jumlah karyawan yang
menjadi
objek
penelitian.
Data
hasil
produktivitas kerja, stres kerja, dan lingkungan
kerja fisik selanjutnya di diskripsikan sebagai
berikut:
Tabel 1.Deskripsi Data
Jml
Data
Nilai
Terend
ah
Y
81
42,66
X1
81
28,00
X2
81
30,00
Umur
Respon
den
81
Jenis
Kela
min
Nilai
Tertin
ggi

Rata
-rata
45,6
6
45,0
0
48,0
0
3601
,45
2859
,00
2970
,00
44,4
6
35,2
9
36,6
7
20
53
-
42,1
1
L 32
20
53
-
P 49
22
52
-
38,9
3
44,1
8
SD
0,71
4,43
4,43
10,2
12,0
8,4
sumber : hasil data olahan
Hasil uji F yang dilakukan dengan
program SPSS 25 diperoleh hasil nilai F hitung
sebesar 20,41 dibandingkan Ftabel dengan
derajat kebebasan (dk) pembilang 2 dan
derajat kebebasan penyebut 78 dan taraf
signifikansi 0,05 sebesar 3,11. Dengan
demikian diketahui Fhitung > Ftabel atau 20,41 >
3,11, H0 ditolak dan Ha diterima maka ada
pengaruh signifikan secara bersama-sama
stres kerja dan lingkungan kerja fisik terhadap
produktivitas kerja karyawan PT Kusumaputra
Santosa Karanganyar.
Nilai koefisien determinasi dalam penelitian
ini sebesar 0,344 atau 34,4% produktivitas
kerja karyawan PT Kusumaputra Santosa
Karanganyar dipengaruhi oleh stres kerja dan
lingkungan kerja fisik, dan 65.6% dipengaruhi
oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam
penelitian ini.
Hasil analisis regresi linier berganda yang
dilakukan dengan program SPSS 25 diperoleh
data
Ŷ=40,69+0,08X1+0,04X2.
Koefisien
regresi menunjukkan bahwa setiap terjadi
peningkatan satu variabel bebas maka akan
menaikkan produktivitas kerja karyawan
sebesar nilai.
Untuk mengetahui adanya pengaruh dan
berapa besar pengaruh variabel stres kerja
terhadap
produktivitas
kerja
karyawan
menggunakan uji t pada regresi berganda.
Pada hasil pengolahan uji t dengan SPSS 25
didapatkan nilai thitung sebesar 3,72, ttabel pada
N = 81 dan taraf signifikansi 0,05 (0,025:78)
sebesar 1,99. Dengan demikian diketahui thitung
ISSN 2085-3262
> ttabel atau 3,72 > 1,99, maka H0 ditolak dan Ha
diterima. Besar pengaruh stres kerja terhadap
produktivitas
kerja
dapat
dilihat
dari
sumbangan efektif stres kerja yaitu sebesar
22,9%. Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh
positif dan signifikan stres kerja terhadap
produktivitas kerja karyawan PT Kusumaputra
Santosa sebesar 22,9%.
Untuk mengetahui adanya pengaruh dan
berapa besar pengaruh variabel lingkungan
kerja fisik terhadap produktivitas kerja
karyawan menggunakan uji t pada regresi
berganda. Pada hasil pengolahan uji t dengan
SPSS 25 didapatkan nilai thitung sebesar 2,16,
ttabel pada N = 81 dan taraf signifikansi 0,05
(0,025:78) sebesar 1,99. Diperoleh t hitung > ttabel
atau 2,16 > 1,99, maka H0 ditolak dan Ha
diterima. Besar pengaruh lingkungan kerja fisik
terhadap produktivitas kerja dapat dilihat dari
sumbangan efektif lingkungan kerja fisik yaitu
sebesar 11,5%. Disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh positif dan signifikan lingkungan
kerja fisik terhadap produktivitas kerja
karyawan PT Kusumaputra Santosa sebesar
11,5%.
Pembahasan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat
memperkaya khasanah ilmu pengetahuan
khususnya dalam bidang manajemen sumber
daya manusia. Hasil penelitian ini diharapkan
dapat digunakan sebagai salah satu masukkan
bagi pimpinan PT. Kusumaputra Santosa
dalam usaha untuk meningkatkan produktivitas
kerja karyawan.
Perusahaan perlu memperhatikan faktorfaktor yang dapat mempengaruhi karyawan
saat bekerja agar kinerja karyawan menjadi
baik dan produktivitas kerja dapat stabil dan
meningkat. Data hasil produktivitas kerja di PT
Kusumaputra Santosa menunjukkan bahwa
PT
Kusumaputra
Santosa
mengalami
ketidakstabilan pada hasil produktivitas
karyawannya, banyak karyawan yang tidak
dapat mencapai target produksi yang
mengakibatkan angka produktivitas kerja
menjadi tidak stabil.
Pengolahan stres kerja yang baik dapat
membantu
perusahaan
meningkatkan
produktivitas kerja karyawannya. Dengan
tingkat stres yang rendah dan adanya
tantangan untuk bekerja dengan lebih baik
maka kinerja karyawan akan meningkat dan
tentunya produktivitas kerja juga akan
mengalami peningkatan. Lingkungan kerja fisik
yang nyaman dapat memberikan rasa yang
nyaman pula saat karyawan bekerja. Dengan
lingkungan kerja yang nyaman karyawan tidak
mengalami kegelisahan dan pemusatkan
pikiran karyawan dapat terfokus pada
pekerjaannya. Maka kinerja karyawan akan
meningkat dan produktivitas kerja karyawan
akan dapat meningkat pula. Hasil penelitian
didukung oleh penelitian yang dilakukan
Cardindo (2013), yang menyatakan bahwa
lingkungan kerja fisik dan stres kerja
berpengaruh signifikan terhadap produktivitas
kerja karyawan.
Stres kerja dan lingkungan kerja fisik
merupakan dua variabel yang penting dalam
meningkatkan produktiviatas kerja. Stres kerja
dapat merusak atau membantu produktivitas
kerja, hal tersebut tergantung pada tingkat
stres yang dialami dan cara karyawan
menghadapi stres saat bekerja. Dengan
adanya stres kerja maka dapat tercipta sebuah
tantangan yang dapat memotivasi karyawan
untuk bekerja lebih giat. Namun jika karyawan
mengalami stres kerja yang tinggi dan
menghadapinya dengan kecenderungan yang
negatif seperti mangkir atau membolos saat
bekerja maka produktivitas akan mengalami
penurunan.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Wirawan (2010:160) menyebutkan jenis-jenis
stres yang dapat menciptakan suatu reaksi
pada individu, baik reaksi yang positif maupun
negatif. Pendapat tersebut didukung penelitian
Tanjung (2018) yang hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa tingkat stres kerja yang
dialami karyawan dapat mempengaruhi
produktivitas kerja, yang mengakibatkan
produktivitas kerja mengalami penurunan.
Stres kerja dapat ditimbulkan karena
ketidakmengertian
karyawan
akan
keterbatasannya dan hubungan karyawan
dengan individu lainnya dalam perusahaan.
Karyawan
dapat
dengan
mudah
merasakan gerah, kebisingan, dan getaran
pada tempat produksi, hal ini tentunya dalam
mempengaruhi karyawan saat bekerja. Jika
suhu ruangan terlalu panas dibanding suhu
tubuh, maka tubuh akan menerima panas
akibat konveksi dan radiasi yang berlebih,
sehingga suhu tubuh akan ikut naik. Suhu
ISSN 2085-3262
tubuh yang tinggi menyebabkan tubuh mudah
cepat lelah dan cenderung menyebabkan
kesalahan saat bekerja. Selain itu, banyaknya
volume kapas-kapas halus yang berterbangan
di ruang produksi dan masuk ke dalam mata
karyawan tentunya dapat mengganggu
jalannya
produktivitas
kerja
karyawan.
Intensitas kebisingan yang melebihi NAB dan
terus menerus dapat menganggu produktivitas
kerja karyawan karena suara kebisingan
menyebabkan kesulitan dalam merumuskan
pikiran yang mengakibatkan karyawan sulit
untuk melaksanakan pekerjaan. Hal tersebut
tentunya dapat mempengaruhi karyawan saat
bekerja, yang menyebabkan turunnya kinerja
karyawan
dan
menimbulkan
turunnya
produktivitas karyawan.
Sesuai penelitian Desmonda (2016),
bahwa lingkungan kerja fisik yang terdiri dari
penerangan, udara, dan kebisingan dapat
mempengaruhi produktivitas kerja karyawan.
Kebisingan dapat menganggu saat bekerja
karena kebisingan mengakibatkan kesulitan
dalam memusatkan pikiran, udara di ruangan
produksi perlu diperhatikan karena karyawan
menghabiskan banyak waktu di ruang
produksi, dengan udara yang baik maka
produktivitas kerja menjadi lebih tinggi.
Penelitian lain yang dilakukan Handayani
(2018), menyebutkan bahwa lingkungan kerja
fisik yang terdiri dari temperatur, kebisingan,
sirkulasi
udara
dan
getaran
dapat
mempengaruhi produktivitas kerja karyawan.
Temperatur ruangan yang panas dapat
mempengaruhi temperatur tubuh menjadi
panas, dan kebisingan yang tinggi dapat
menyebabkan
karyawan
sulit
untuk
memusatkan
pikiran.
Hasil
penelitian
menunjukkan bahwa kondisi lingkungan kerja
fisik karyawan perlu diperhatikan oleh
perusahaan. Dengan lingkungan yang nyaman
maka karyawan akan dapat bekerja dengan
nyaman pula.
KESIMPULAN
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah 1)
terdapat pengaruh yang signifikan stres kerja
terhadap produktivitas kerja karyawan di PT
Kusumaaputra Santosa Karanganyar, 2)
terdapat pengaruh yang signifikan lingkungan
kerja fisik terhadap produktivitas kerja
karyawan di PT Kusumaaputra Santosa
Karangnayar, 3) terdapat pengaruh yang
signifikan stres kerja dan lingkungan kerja fisik
terhadap produktivitas kerja karyawan di PT
Kusumaputra Santosa Karanganyar.
SARAN
1. Karyawan disarankan untuk lebih menjaga
kebersihan bersama ditempat kerja agar akan
tercipta kenyamanan bersama ditempat kerja.
Selain kebersihan, karyawan disarankan
menanggapi tantangan kerja dengan lebih
positif dan terbuka sebagai gambaran
persaingan dalam kerja. Maka karyawan dapat
meningkatkan kualitas kerjanya. Karyawan
juga disarankan untuk menjaga komunikasi
yang baik dengan pengawas.
2. Pengawas PT Kusumaputra Santosa
Karangayar
disarankan
untuk
menjaga
komunikasi yang baik dengan karyawan
produksi. Dengan menjaga komunikasi yang
baik diharapkan karyawan dapat mengurangi
rasa takut terhadap atasan. Maka dengan
turunnya rasa takut maka karyawan akan
dapat bekerja dengan lebih nyaman dan rileks.
Pengawas
juga
disarankan
untuk
menempatkan karyawan pada bagian kerja
yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
karyawan. Dengan penempatan kerja yang
baik,
diharapkan
karyawan
dapat
menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat
karena telah menguasai prosedur dalam
penyelesaian tugas.
3. Manajer Pabrik PT Kusumaputra Santosa
Karanganyar disarankan untuk memberikan
pelatihan terlebih dahulu kepada karyawan
yang akan di pindah tugaskan pada bagian
yang sekiranya karyawan belum mengetahui
prosedur tugasnya. Sehingga karyawan tidak
perlu belajar sendiri. Perusahaan juga
disarankan melakukan usaha mengurangi
intensitas kebisingan di tempat kerja dengan
menambah peredam mesin ataupun peredam
pada tembok dan lantai. Dan sebaiknya
perusahaan
melakukan
penilaian
dan
pemeliharaan
secara
rutin
terhadap
lingkungan kerja fisik, termasuk kebisingan,
getaran, ventilasi dan AC yang ada ditempat
kerja. Dengan berkurangnya getaran mesin
yang berlebihan, diharapkan rasa was-was
karyawan saat bekerja dapat berkurang pula.
ISSN 2085-3262
Selain itu, diharapkan dengan berkurangnya
panas ruangan karena tercukupnya udara dan
pengaturan temperatur udara yang baik
karyawan dapat nyaman dalam bekerja dan
meningkatkan kinerjanya.
DAFTAR PUSTAKA
As’ad, M. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty;
2011
Cardindo, G. Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik Dan
Stres Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan:
Studi Kasus PT. Bank Bukopin TBK, Kantor Pusat.
Jurnal Ekonomi dan Bisnis. 2013;1(1). Available
from URL: http://eprints.binus.ac.id
Desmonda, A.A. Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik
Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Pada PT
Federal International Finance Cabang Samarinda.
Jurnal Administrasi Bisnis. 2016;4(4):1179-1193.
Available
from
URL:
ejournal.adbisnis.fisipunmul.ac.id
Fatikhin, F., Djamur H., & M. Djudi M. Pengaruh
Konflik Kerja Dan Stres Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan: Studi Pada Karyawan PT. Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Cabang Seokarno Hatta
Malang. Jurnal Administrasi Bisnis. 2017;47(1).
Available
from
URL:
administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id
Halkos, G. & Dimitrios B. The Effect Of Stress And
Satisfaction On Productivity. International Journal of
Productivity
and
Performance
Management.
2010;59(5):415-431.
Available
from
URL:
emeraldinsight.com
ISSN 2085-3262
Strategi Humas dalam Membangun Citra Sekolah
(Studi Kasus SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar)
Enggar Ayuningtyas 1, Anton Subarno 2, Subroto Rapih 3
1Pendidikan
Administrasi Perkantoran - Universitas Sebelas Maret Surakarta, [email protected]
Administrasi Perkantoran - Universitas Sebelas Maret Surakarta, [email protected]
3 Pendidikan Administrasi Perkantoran - Universitas Sebelas Maret Surakarta, [email protected]
2 Pendidikan
ABSTRACT
This study aims to know; 1) the public relation strategy in creating the reputation of Muhammadiyah 2
Vocational Senior High School Karanganyar, 2) the problems are faced by public relations in creating the
reputation of Muhammadiyah 2 Vocational Senior High School Karanganyar, 3) the solution in solving those
problems at Muhammadiyah 2 Vocational Senior High School Karanganyar.
This qualitative study is embedded single case study using purposive sampling and snowball sampling
methods, Vice Principal of Public Relation Devision of Muhammadiyah 2 Vocational Senior High School
Karanganyar as the key informant. The techniques of collecting data in this study were the interview, observation,
and documentation; the data validation used the triangulation of data types and triangulation of data collection
methods. The technique of data analysis used data reduction, data display, and conclusion drawing/verification.
The results show: 1) the strategy of public relations in creating the reputation of Muhammadiyah 2
Vocational Senior High School Karanganyar done based on formulating strategies, determining strategies,
implementing strategies, and evaluating strategies of public relation; 2) the problems of Muhammadiyah 2
Vocational Senior High School Karanganyar are limited time in public relation performance, the lack of
management communication, the passive cooperation between the school and the world of business and
industry, and the students have not uphold the school reputation ; 3) the solution to solve the problems are
distributing task and building coordination between the teacher and staff, providing the quality of work with media
management training, increasing the cooperation between school with the relevant world of business and industry
with MoU, and providing a good guidance and supervision to the students.
Keyword: school image, challenges of public relation, school performance
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) strategi humas dalam membangun citra SMK
Muhammadiyah 2 Karanganyar, 2) hambatan-hambatan yang dihadapi humas dalam membangun citra SMK
Muhammadiyah 2 Karanganyar, 3) cara mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi humas dalam
membangun citra SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar.
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal terpancang.
Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling dan snowball sampling dengan Wakil
Kepala Sekolah bidang Humas SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar sebagai informan kunci. Teknik
pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Uji validitas data yang digunakan adalah
triangulasi sumber dan metode. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan conclusion
drawing/verification.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) strategi humas dalam membangun citra SMK Muhammadiyah 2
Karanganyar melalui beberapa tahap yakni, perumusan strategi humas, penentuan strategi humas, implementasi
strategi humas, dan evaluasi strategi humas; 2) hambatan yang dihadapi humas dalam membangun citra SMK
Muhammadiyah 2 Karanganyar yakni keterbatasan waktu dalam menjalankan kinerja Humas, guru dan karyawan
kurang berkompeten dalam pengelolaan media komunikasi, kerja sama dengan DU/DI dalam menyerap tenaga
kerja yang relevan dengan keahlian lulusan masih bersifat pasif, dan perilaku peserta didik belum menjunjung
tinggi reputasi sekolah; 3) cara mengatasi hambatan yang dihadapi humas dalam membangun citra SMK
Muhammadiyah 2 Karanganyar yaitu pembagian tugas dan koordinasi yang baik antar guru dan karyawan,
meningkatkan kualitas kerja dengan pelatihan pengelolaan media, memperluas informasi dan meningkatkan kerja
sama DU/DI melalui MoU, serta pemberian pembinaan dan pengawasan kepada peserta didik dengan baik.
Kata Kunci: reputasi sekolah, tantangan Humas, kinerja sekolah.
PENDAHULUAN
Pendidikan
memandang bahwa SMK merupakan sekolah
berkaitan
erat
dengan
yang dinomor duakan setelah SMA, dengan
seluruh sektor kehidupan manusia artinya tidak
pengertian
ada satu sendi kehidupan manusia yang tidak
dibandingkan SMK. Terdapat citra buruk lainnya
terpengaruhi oleh pendidikan. Pandangan dan
yaitu
sikap masyarakat yang kritis dan realistis dalam
kenakalan remaja dan sekolah didominasi oleh
memilih lembaga pendidikan menuntut untuk
peserta
meningkatkan citra lembaganya agar terwujud
intelegensi
sebuah bentuk persepsi, realitas dan opini
sehingga peserta didik yang tidak diterima di
publik yang seiring berjalannya waktu mampu
sekolah favorit akan memilih melanjutkan ke
membangun reputasi sekolah
yang positif.
SMK. Pengaruh pandangan negatif masyarakat
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah
terhadap citra sekolah diperkuat dengan adanya
suatu
penurunan jumlah pendaftar peserta didik untuk
pendidikan
formal
yang
bahwa
sering
SMA
lebih
terdengarnya
didik
yang
rendah
kasus-kasus
mempunyai
serta
prestasi
melanjutkan
jenjang pendidikan menengah sebagai sekolah
Karanganyar untuk tiga tahun terakhir yaitu:
lanjutan dari SMP/MTs sesuai dengan bakat,
tahun
minat dan kemampuan.
sebanyak 1450, dan tahun 2018 sebanyak
SMK
secara
umum
memiliki
diantaranya
adalah
sebanyak
Muhammadiyah
1664,
tahun
2
2017
1120.
permasalahan yang masih melekat di tengah
masyarakat,
2016
SMK
minim
tingkat
menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada
Citra
ke
unggul
Melihat
adanya
penurunan
jumlah
banyaknya
pendaftar mengharuskan SMK Muhammadiyah
lulusan yang menganggur dan belum terserap di
2 Karanganyar lebih keras dalam menentukan
dunia kerja sesuai dengan bidang kompetensi
strategi Humas dalam membangun citra sekolah
yang dimiliki lulusan. Badan Pusat Statistik
kepada seluruh publik. Minat masyarakat dalam
(BPS) menyebutkan bahwa pada tahun 2017
memilih
penyumbang terbesar angka pengangguran di
dikarenakan terdapat dua faktor, yaitu faktor
Indonesia berasal dari lulusan SMK dengan
internal dan eksternal (Djaali, 2012: 99-100).
jumlah presentase 11,41%. SMK yang memiliki
Faktor internal, diantaranya adalah anggapan
tujuan mencetak lulusan yang siap kerja justru
masyarakat bahwa SMK Muhammadiyah 2
tidak selaras dengan yang diharapkan.
Karanganyar kurang diminati karena ditentukan
sekolah
SMK
khususnya
swasta
SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar
oleh sikap atau perilaku peserta didik yang
merupakan salah satu SMK swasta yang berada
sebagian besar dicap kurang baik dimata publik,
di Karanganyar yang memiliki permasalahan
dan faktor lain adalah prestasi dan tingkat
berkaitan
adanya
intelegensi yang minim sehingga mempengaruhi
pandangan kurang baik dimata masyarakat.
peserta didik dalam menentukan sekolah SMK
Berbagai pandangan-pandangan negatif yang
Muhammadiyah 2 Karanganyar. Selain itu,
masih sangat melekat dalam benak publik
faktor eksternal yang mempengaruhi adalah
diantaranya adalah persepsi masyarakat yang
kondisi status ekonomi orang tua, ekonomi yang
dengan
citra,
yakni
minim akan lebih condong menganjurkan dan
METODE PENELITIAN
mengarahkan anaknya untuk melanjutkan studi
Peneliti mengunakan metode deskriptif
ke SMK agar lebih cepat kerja dan membantu
kualitatif dan pendekatan studi kasus tunggal
perekonomian keluarga.
terpancang
karena
variabel
permasalahan
Adanya berbagai pandangan negatif
sudah ditentukan terlebih dahulu yaitu strategi
dari masyarakat apabila tidak diperbaiki maka
dan peran humas, serta hanya satu lokasi yaitu
akan mempengaruhi reputasi sekolah, sehingga
SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar. Penelitian
dibutuhkan strategi Humas yang baik dalam
dimulai pada bulan November 2018 sampai
proses
dengan Juli 2019.
penyelenggaraan
pendidikan.
Pembentukan strategi yang tepat di lembaga
Data peneliti berasal dari data primer
pendidikan, diperlukan Humas sebagai mediator
dan sekunder. Data primer diperoleh secara
yang berada di antara pimpinan sekolah dengan
langsung dari sumber data melalui wawancara
publiknya, dan mengelola komunikasi antara
dengan informan dan melakukan pengamatan
sekolah dengan masyarakat. Hubungan yang
dengan situasi yang melibatkan tempat, pelaku,
harmonis
dan
tersebut,
akan
membantu
serta
aktivitas
di
SMK
Muhammadiyah
2
memperoleh dukungan, kepercayaan dan kesan
Karanganyar, sedangkan data sekunder berasal
yang baik dari publik dalam menyiapkan lulusan-
dari dokumen, catatan-catatan arsip, lampiran
lulusan
data disertai hasil penelitian yang relevan untuk
SMK
yang
memiliki
kemampuan
profesional sesuai dengan kebutuhan yang siap
dijadikan sebagai data penunjang penelitian.
bersaing memasuki dunia kerja.
Pentingnya
Humas
Teknik
memang
harus
purposive
sampling
sampling
menggunakan
yakni
wakasek
humas
disadari tidak hanya pimpinan organisasi atau
sebagai key informan serta informan lain yang
pihak
dalam
mendukung terkumpulnya data yang diperlukan
menangani hal itu saja, akan tetapi juga harus
dalam penelitian. Teknik pengambilan data
disadari oleh semua unit yang ada dalam
dilakukan dengan snowball sampling, teknik
lembaga itu sendiri. Uraian di atas menunjukkan
pengambilan
bahwa strategi Humas dirasa cukup penting
mewawancarai informan kunci (key informan)
untuk dijadikan media dalam membangun citra
secara mendalam dari satu informan bergulir ke
positif SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar
informan lain yang memenuhi kriteria sampai
dalam
data yang terkumpul melengkapi keakuratan
yang
mempunyai
merubah
mengetahui
wewenang
pandangan
hambatan
serta
publik,
upaya
dan
untuk
data
dilakukan
dengan
dalam menjawab pertanyaan penelitian.
mengatasi permasalahan dari Humas dalam
Validitas
data
dilakukan
dengan
rangka membangun citra SMK Muhammadiyah
triangulasi sumber dan metode. Triangulasi
2 Karanganyar.
sumber
dengan melakukan wawancara ke
Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah bidang
Humas, ketua PPDB, guru dan peserta didik di
SMK
Muhammadiyah
2
Karanganyar.
Triangulasi
metode
menggunakan
metode
ketenagaan)
yang
tersusun
program
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data
diantaranya adalah meluluskan 100% peserta
dikategorikan
terdapat
didik dan 50% diterima di DU/DI yang relevan
kesesuaian informasi antara subjek penelitian
dengan bidang kompetensi sekolah, memiliki
yang satu dengan subjek penelitian yang lain
10%
dan
Muhammadiyah, berprestasi dengan menjuarai
absah
kesesuaian
apabila
informasi
antara
hasil
wawancara, observasi, dan juga dokumentasi.
LKS
lulusan
(Lomba
Kabupaten
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
manajemen
Temuan
akreditasi
Strategi Humas di sekolah adalah upaya
menjadi
Kompetensi
dan
Provinsi,
islami
A
kader
dan
inti
ortom
Siswa)
tingkat
memiliki
sistem
dengan
membuka
bersertifikat
program/paket
keahlian baru yaitu keperawatan.
untuk membentuk persepsi, realitas, dan opini
Strategi Humas melalui kegiatan atau
positif yang sasarannya adalah publik internal
program sekolah untuk membangun citra SMK
dan eksternal. Strategi yang dibentuk oleh
tidak terlepas dari terbentuknya visi dan misi
lembaga pendidikan adalah dengan membentuk
lembaga pendidikan. Berdasarkan hasil studi
kerangka suatu rencana secara sistematis dan
dokumen program kerja Wakil Kepala Sekolah
terpadu, yaitu suatu tujuan yang hendak ingin
bidang
dicapai sesuai dengan perencanaan yang telah
pengamatan yang dilakukan peneliti bahwa
diperhitungkan dengan baik oleh pihak-pihak
strategi Humas dalam membangun citra sekolah
yang
SMK
terlibat
dalam
manajemen
sekolah.
Humas
tahun
Muhammadiyah
2018/2019
2
dan
Karanganyar
Penyajian data mengenai strategi Humas dalam
diwujudkan melalui sasaran publik internal dan
membangun
eksternal.
citra
Karanganyar
SMK
2
perumusan
strategi
strategi
Humas,
merupakan tahap dimana rencana program
implementasi strategi Humas dan evaluasi
Humas di SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar
strategi Humas.
yang telah ditetapkan dan dilaksanakan ke
Humas,
meliputi
Muhammadiyah
menentukan
Implementasi
strategi
Humas
Perumusan strategi humas di SMK
dalam suatu bentuk program aksi sebagai
Muhammadiyah 2 Karanganyar diawali dengan
langkah nyata. Pelaksanaan program Humas
menyelaraskan antara visi, misi dan tujuan
SMK
sekolah. Tahap selanjutnya adalah melakukan
diperankan oleh Wakil Kepala Sekolah bidang
evaluasi dari faktor-faktor internal dan eksternal.
Humas dan selama proses penyelenggaraan
Pengambilan keputusan dari berbagai fakta
kegiatan kehumasan di lembaga pendidikan
yang telah dikumpulkan, selanjutnya dibentuk
dibantu oleh tim Pogja (Kelompok Kerja) yang
rencana kerja yang membutuhkan keterlibatan
terbentuk sesuai tugas dan tanggungjawab
peran seorang kepala sekolah dan enam wakil
masing-masing. Bentuk implementasi strategi
kepala sekolah (bidang kurikulum, kesiswaan,
internal Humas diantaranya adalah menciptakan
ismuba,
suasana yang nyaman, membina hubungan
humas,
sarana
prasarana,
dan
Muhammadiyah
2
Karanganyar
dengan guru dan karyawan, membina hubungan
Setiap
pelaksanaan
kegiatan
tidak
dengan peserta didik, dan optimalisasi media
mungkin selalu berjalan mulus dikarenakan
online internal. Kemudian bentuk implementasi
adanya suatu hambatan. Begitu juga dengan
strategi eksternal meliputi promosi sekolah,
Humas dalam menjalankan perannya di SMK
menginformasikan
Muhammadiyah
program/keahlian
baru
2
Karanganyar,
dimana
kepada publik, sosialisasi manajemen islami
hambatan yang dihadapi diharapkan dapat
sekolah,
alumni,
diatasi dengan baik demi tercapainya sebuah
membina
tujuan sekolah. Adapun cara menyelesaikan
hubungan sekolah dengan DU/DI, pemerintah,
hambatan-hambatan Humas adalah dengan
dan masyarakat, serta optimalisasi media online
pembagian tugas dan koordinasi dengan baik,
eksternal.
meningkatkan kualitas kinerja dengan pelatihan
mengkoordinir
mengadakan
rapat
keluarga
wali
murid,
Bentuk evaluasi program kerja Humas
pengelolaan media, memperluas informasi dan
SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar dilakukan
meningkatkan kerja sama DU/DI melalui MoU,
melalui dua bentuk, yakni meliputi monitoring
dan pemberian pembinaan dan pengawasan
saat kegiatan berlangsung dan rapat akhir tahun
dengan baik.
pelajaran berupa laporan. Monitoring pada saat
program
kerja
atau
kegiatan
berlangsung
Pembahasan
dilakukan untuk mengetahui dan memastikan
Strategi yang dilakukan Humas dalam
bahwa kegiatan tersebut berlangsung sesuai
membangun
rencana atau tidak. Selain itu pengawasan
perumusan strategi yakni strategi tidak terlepas
tersebut juga berguna sebagai acuan untuk
dari terbentuknya visi dan misi sekolah, karena
melakukan tindakan-tindakan perbaikan apabila
merupakan cerminan eksistensi sekolah di masa
terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana
depan, menentukan strategi Humas dengan
awal. Evaluasi kegiatan dilaksanakan guna
sasaran
mengukur
ketercapaian
tujuan
implementasi strategi Humas, dan terakhir
kegiatan
yang
dalam
adalah evaluasi strategi Humas.
telah
target
atau
ditetapkan
perumusan strategi.
strategi
publik
sekolah
internal
adalah
dan
dengan
eksternal,
Hal ini
berkaitan dengan pendapat David dkk (2010:
Humas dalam menjalankan peran dan
menentukan
citra
sebagai
untuk
dari pada keputusan manajerial dan kegiatan-
membangun citra sekolah tidak luput dari
kegiatan yang menentuan keberhasilan lembaga
hambatan atau masalah yang dihadapi. Adapun
dalam jangka panjang. Kegiatan tersebut terdiri
hambatan-hambatan
dari
yang
upaya
105), manajemen strategi adalah serangkaian
terjadi
adalah
keterbatasan waktu dalam menjalankan kinerja
Humas,
kurangnya
pengelolaan
perumusan/perencanaan
strategi,
pelaksanaan/implementasi dan evaluasi.
media
Perumusan strategi yang diterapkan
komunikasi, kerjasama dengan DU/DI yang
oleh
SMK
Muhammadiyah
2
Karanganyar
masih pasif, dan kurangnya kontribusi peserta
mengacu pada visi, misi dan tujuan sekolah
didik.
sebagai cerminan kondisi internal lembaga
pendidikan dan sekolah memiliki kemampuan
pihak-pihak
menganalisis
kepentingan
peluang-peluang
yang
ada.
yang
memiliki
yang sama,
karakteristik
yakni orang tua
Kinerja Humas terdapat kesesuaian dengan
peserta didik, alumni, DU/DI, pemerintah, dan
teori Culip dan Center (Ruslan, 2016) yang
masyarakat. Selaras dengan Kiriago (2013)
menyatakan
bahwa lingkungan eksternal mengacu pada
program
bahwa
kerja
diantaranya,
proses
melalui
yakni:
mendengarkan,
empat
1)
dalam
perencanaan
tahapan
penelitian
tahap
ini
dan
humas
menerima informasi dari berbagai opini, sikap
kelompok-kelompok organisasi, individu dan
kekuatan yang ditemukan di luar organisasi
pendidikan
yang
memiliki
dampak
pada
efektivitas atau kelangsungan hidup sekolah.
dan reaksi berbagai publik, setelah itu baru
Strategi
Humas
dalam
menciptakan
fakta-fakta,
dan
human relations sudah menciptakan upaya kerja
berikutnya;
2)
sama antar elemen publik internal dalam satu
perencanaan dan mengambil keputusan, dalam
tim kerja, dan penggunaan media komunikasi
tahap ini sikap, opini, ide-ide dan reaksi yang
melalui whatsapp untuk memudahkan dalam
berkaitan
dengan
serta
menjalin interaksi. Pandangan Ruslan (2016)
penetapan
program
yang
mengenai human relation disini kunci seorang
dilakukan
pengevaluasian
menentukan
keputusan
kebijaksanaan
kerja
organisasi
sejalan dengan kepentingan atau keinginan-
Humas
keinginan pihak yang berkepentingan mulai
berkomunikasi tersebut mampu menimbulkan
diberikan.
motivasi yang berkaitan dengan kooperatif,
Arikunto
dan
Yuliana
(2011)
adalah
kedisiplinan,
bagaimana
etos
kerja,
metode
dalam
produktivitas,
dan
bahwasanya strategi dalam menjalin hubungan
kepuasan bagi seluruh elemen sekolah. Namun,
dengan masyarakat meliputi hubungan antar
ada beberapa unsur yang belum sepenuhnya
warga sendiri (internal public) dan menjalin
terlaksana dengan baik. Mengingat definisi
hubungan dengan masyarakat luar (external
lingkungan
public). Publik internal memiliki sasaran seluruh
sekolah, tetapi bentuk kegiatan Humas sebagai
warga sekolah, terdiri guru, karyawan dan
pembina hubungan lebih memfokuskan ikatan
peserta didik. Sesuai dengan hasil penelitian
antara
Rivero (2014) yakni hubungan masyarakat di
kurangnya sikap saling pengertian, kepercayaan
lingkungan internal diarahkan untuk seluruh
dan dukungan yang diberikan peserta didik
organisasi dan masing-masing unit. Komunikasi
terhadap persepsi sekolah sebagai lembaga
internal dan saluran komunikasi internal yang
pembelajaran,
dikelola
daya
bagaimana kontribusi peserta didik yang masih
manusianya, secara efektif dapat merampingkan
pasif terhadap kegiatan-kegiatan sekolah. Tentu
pengembangan
dapat
saja hal tersebut tidak sesuai dengan hasil
dan
temuan Kiriago (2013) bahwasnya sekolah
dengan
mempromosikan
baik
oleh
organisasi
sumber
yang
perubahan
internal
guru
dan
hal
organisasi
adalah
karyawan,
tersebut
ada
seluruh
serta
dapat
dalam
warga
masih
dilihat
pengembangan perencanaan dalam organisasi.
sebagai
lingkungan
Selain itu, publik eksternal memiliki sasaran
internal maupun eksternal. Lingkungan internal
mencakup struktur, teknologi, dan orang-orang
sekolah.
yang ditemukan dalam organisasi, sedangkan
keselarasan dengan hasil penelitian Kiriago
lingkungan eksternal mengacu pada kelompok-
(2013)
kelompok organisasi, individu dan kekuatan
digunakan
yang ditemukan di luar organisasi pendidikan
termasuk pertemuan tatap muka, media cetak
yang
atau siaran, dan teknologi komunikasi elektronik
berdampak
kelangsungan
pada
hidup
efektivitas
pendidikan.
dan
Kiriago
Realita
yang
seperti
tersebut
menyatakan
untuk
internet.
kurang
saluran
komunikasi
Maka
adanya
dalam
dapat
eksternal,
pelaksanaan
menambahkan kembali bahwa semua anggota
strategi komunikasi diperlukan pengembangan
sekolah harus berkontribusi dalam membangun
media untuk menciptakan reputasi yang baik.
persepsi sekolah sebagai lembaga pendidikan
Bentuk evaluasi program kerja Humas
yang kompetitif, dan membantu menumbuhkan
SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar dilakukan
kepercayaan
sekolah,
melalui dua bentuk, yakni meliputi monitoring
mengembangkan kerja sama dan ciptakan
saat kegiatan berlangsung dan rapat akhir tahun
hubungan
pelajaran berupa laporan. Monitoring pada saat
pada
yang
warga
baik
dengan
lingkungan
sekolah.
program
Pelaksanaan
membentuk
citra
strategi
dalam
kegiatan
berlangsung
dilakukan untuk mengetahui dan memastikan
bahwa kegiatan tersebut berlangsung sesuai
Karanganyar tidak terlepas dari media online
rencana atau tidak. Selain itu pengawasan
sebagai
publik
tersebut juga berguna sebagai acuan untuk
eksternal dalam pelaksanaan kegiatan Humas.
melakukan tindakan-tindakan perbaikan apabila
Media online yang digunakan Humas SMK
terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana
Muhammadiyah 2 Karanganyar kepada publik
awal.
eksternal diantaranya adalah email, website,
dilaksanakan
guna
facebook dan whatsapp. Mengingat bahwa
target
tujuan
Humas secara kontinu harus selalu melakukan
ditetapkan dalam perumusan strategi. Selain itu,
publikasi
adanya
evaluasi juga menjadi tempat bagi seluruh guru
peningkatan
dan karyawan untuk terlibat menyampaikan
pengelolaan dari segi kuantitas dan kualitas. Hal
kritik dan saran terkait program kerja yang telah
ini dikarenakan media memiliki peran kuat dalan
diselenggarakan. Hal tersebut sesuai dengan
membentuk pandangan publik terhadap hal-hal
teori
yang disampaikan oleh sekolah. Kurangnya
menyebutkan bahwa salah satu langkah dalam
pengembangan dan pengelolaan media online
penyelenggaraan kegiatan dalam suatu kantor
dapat dilihat dari isi website yang tidak memuat
maupun organisasi adalah monitor and evaluate
berita terkini dari sekolah dan infromasi yang
the
diberikan kurang jelas dan tidak lengkap, serta
penilaian program. Diperkuat teori Boddy (2008:
di sekolah tidak terdapat media cetak seperti
600)
majalah yang dapat meningkatkan nilai prestise
pengawasan merupakan kegiatan umum yang
komunikasi
sekolah
pengembangan
Muhammadiyah
atau
2
sarana
SMK
Humas
kerja
maka
media
kepada
perlu
serta
Sedangkan
atau
Koontz,
program
yang
et
atau
evaluasi
mengukur
kegiatan
al
(2015:
mengawasi
menyebutkan
kegiatan
ketercapaian
yang
201)
telah
yang
melakukan
bahwa
proses
menetapkan
standar
kinerja,
pengukuran
guru dan karyawan, meningkatkan kualitas kerja
terhadap kinerja terkini, pembandingan kinerja
dengan
terkini
pengambilan
memperluas informasi dan meningkatkan kerja
penyimpangan
sama DU/DI melalui MoU, serta pemberian
dengan
tindakan
standar,
untuk
dan
memperbaiki
kinerja atau perubahan terhadap standar.
pelatihan
pengelolaan
media,
pembinaan dan pengawasan kepada peserta
didik dengan baik.
KESIMPULAN
Strategi Humas dalam membangun citra
SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar melalui: 1)
SARAN
Saran
yang
disampaikan
peneliti
perumusan strategi humas, diawali dengan
berdasarkan simpulan hasil penelitian yang
penyelarasan visi, misi dan tujuan sekolah dan
telah diperoleh adalah sebagai berikut:
menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal
a. Diharapkan kepala sekolah meningkatkan
sekolah; 2) strategi humas, yakni menentukan
pengawasan secara rutin berkaitan dengan
program-program sekolah dengan melibatkan
manajemen Humas sekolah melalui rapat
publik
yang diadakan setiap bulan.
internal
dan
eksternal
sekolah;
3)
implementasi strategi humas, diperankan Wakil
b. Diharapkan
kepala
sekolah
dapat
Kepala Sekolah bidang Humas dengan bantuan
memberikan
tim kelompok kerja sesuai uraian tugas Humas
reward bagi guru, karyawan atau peserta
yang sudah direncanakan; 4) evaluasi strategi
didik yang berprestasi di setiap akhir tahun,
humas,
serta pemberian punishment yang bersifat
melalui
kegiatan
monitoring
saat
motivasi
pelaksanaan kegiatan dan evaluasi di akhir
mendidik
tahun ajaran.
meningkatkan
Hambatan yang dihadapi Humas dalam
membangun
citra
SMK
Muhammadiyah
bagi
melalui
peserta
motivasi
pemberian
didik
dalam
untuk
rangka
menjaga reputasi sekolah.
2
c. Diharapkan Wakil Kepala Sekolah bidang
Karanganyar yakni keterbatasan waktu dalam
Humas dapat meningkatkan komitmen dalam
menjalankan kinerja Humas karena banyaknya
menjalankan manajemen Humas sekolah.
agenda yang dijalankan, guru dan karyawan
d. Diharapkan Wakil Kepala Sekolah bidang
kurang berkompeten dalam pengelolaan media
Humas perlu meningkatkan upaya untuk
komunikasi, kerja sama dengan DU/DI dalam
membangun citra SMK Muhammadiyah 2
menyerap tenaga kerja yang relevan dengan
Karanganyar dengan cara menjalin kerja
keahlian lulusan masih bersifat pasif, dan
sama dengan media dan pers.
perilaku peserta didik belum menjunjung tinggi
reputasi sekolah.
Cara
e. Diharapkan
praktisi
Muhammadiyah
mengatasi
2
SMK
Karanganyar
yang
meningkatkan kemampuan pembuatan dan
dihadapi Humas dalam membangun citra SMK
penulisan produk-produk publikasi, informasi
Muhammadiyah
dan berita dalam bentuk press release,
2
hambatan
Humas
Karanganyar
yakni
pembagian tugas dan koordinasi yang baik antar
majalah atau koran.
f. Diharapkan Wakil Kepala Sekolah bidang
278333/bps-lulusan-smk-banyak-
Humas SMK Muhammadiyah 2 Karanganyar
menganggur-sepanjang-2017.
membentuk program kerja yang lebih variatif
yang mana kegiatan tersebut sasarannya
Djaali. (2012). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
adalah seluruh warga sekolah dan para
stakeholder
agar
dapat
meningkatkan
reputasi positif.
David,
H.
J.
&
Thomas,
L.
W.
(2010).
Manajemen Strategis. Yogyakarta: Andi
g. Diharapkan
praktisi
Humas
dapat
Offset
memfungsikan dan mengembangkan media
sosial
secara
optimal
sebagai
media
komunikasi kepada publik.
dan Media Komunikasi (Konsep dan
h. Diharapkan Wakil Kepala Sekolah bidang
Humas
lebih
Ruslan, R. (2016). Manajemen Publik Relation
mengkoordinir
BKK
untuk
Aplikasi). Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
melakukan pendataan secara berkala terkait
memperluas
Arikunto, S. & Lia, Y. (2011). Manajemen
hubungan kerja bersama DU/DI yang relevan
Pendidikan. Yogyakarta: Adita Media
dengan program keahlian secara intensif.
Yogyakarta.
penelusuran
i. Diharapkan
alumni
guru
dan
dapat
memberdayakan
peserta didik melalui metode dan teknik
pembelajaran yang berbasis pada kurikulum
pendidikan berbasis masyarakat.
j. Sebaiknya guru secara intensif melakukan
pendekatan
kepada
peserta
didik
agar
memiliki kepribadian dan budi pekerti yang
baik
serta
peserta
didik
lebih
Rivero, O. & John, T. (2014). The Importance of
Public
Relations
Sustainability.
in
Corporate
Global
Journal
of
Management and Business Research: B
Economics and Commerce, 14(4), 3.
Kiriago, A. N. (2013). External Communication
terpacu
and Its Influence on Secondary Schools
memberikan kontribusi kepada sekolah yang
Corporate Image: A Case Study of
kaitannya
Kitale
membangun
Muhammadiyah
2
citra
Karanganyar
SMK
menjadi
sekolah yang bereputasi positif.
Secondary
Journal
in
Business
of
School.
Academic
and
Social
Sciemces, 3 (8), 2-3.
Ratnasari, E. D. (2018, 26 Februari). BPS:
SMK
Sepanjang
International
Research
DAFTAR PUSTAKA
Lulusan
Academy
Banyak
2017.
Menganggur
CNN
Indonesia.
Koontz.,
Harold.
&
Heinz,
W.
(2015).
Manajemen: Sebuah Perspektif Global.
Bandung: Alfabeta.
Diperoleh pada 2 Oktober 2018, dari
https://www.cnnindonesia.com/gayahidup/20180223141505-282-
Boddy, D. (2008). Management: an Introduction
(4th ed). Harlow: Pearson Education
Limited.
Melindungi Konsumen Melalui Peraturan Pelabelan Produk
Pangan di Indonesia
Yuyut Prayuti
Fakultas Hukum Universitas Islam Nusantara
Jln. Soekarno Hatta no 530 Bandung
[email protected]
Abstrak
Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa
adalah salah satu hak konsumen menurut UUPK No 8/1999. Masih banyak ditemukan pelanggaran
peraturan pelabelan pangan yang sangat merugikan masyarakat, bahkan dapat mengancam kesehatan
dan keselamatan jiwa manusia. Saat ini pelaku usaha berada pada kedudukan yang lebih kuat, baik
secara ekonomi maupun segi kekuasaan dibandingkan dengan konsumen, karena itu konsumen perlu
mendapat perlindungan hukum atas hak-haknya. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang
menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Tulisan ini mengkaji
bagaimana melindungi konsumen melalui peraturan pelabelan produk pangan di Indonesia menurut
Undang Undang No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen agar dapat dilaksanakan secara
efektif dan bermanfaat bagi masyarakat, Negara, pelaku usaha dan lingkungan. Metode yang digunakan
adalah yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan perundang undangan, analisis data melalui
kajian kepustakaan yang didukung dengan kajian lapangan kemudian dipaparkan dalam bentuk deskriptif
analitis dan disimpulkan secara kualitatif, tanpa menggunakan statistik dan rumus matematik serta angka
angka. Kesimpulan menunjukan bahwa Model Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Akibat
Pelanggaran Pelabelan Produk Pangan Di Indonesia masih belum maksimal melindungi hak hak
konsumen dan belum memenuhi asas manfaat, keadilan, keseimbangan, keselamatan dan kepastian
hukum. Aturan label yang hanya ditempelkan pada kemasan pangan mudah untuk dilanggar karena label
tempelan mudah diganti atau dihapus. Konsumen yang dirugikan berhak menuntut tanggung jawab
kepada pelaku usaha melalui jalur litigasi dan non litigasi.
Kata Kunci : Perlindungan Konsumen, Label Pangan
Pendahuluan
Banyak masalah mengenai pangan terjadi di
Indonesia.
Perdagangan
pangan
yang
kedaluwarsa, seperti kasus pelanggaran label
kadaluarsa di Tambora, atau perbuatan
perbuatan lain yang akibatnya sangat merugikan
masyarakat,
bahkan
dapat
mengancam
kesehatan dan keselamatan jiwa manusia
terutama bagi anak anak pada umumnya
dilakukan melalui penipuan pada label pangan.
Di dalam Pasal 1 (3) dari PP No. 69 Tahun
1999 ditentukan bahwa yang dimaksud dengan
label pangan adalah :
Setiap keterangan mengenai pangan yang
berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya
atau bentuk lain yang disertakan pada pangan,
dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada atau
merupakan bagian kemasan pangan, yang
selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah ini
disebut Label.
Lebih lanjut di dalam Pasal 2 PP No. 69
Tahun 1999 ditentukan bahwa:
(1)
Setiap orang yang
memproduksi
atau
memasukkan pangan
yang
dikemas
ke
dalam
wilayah
Indonesia
untuk
diperdagangkan wajib
mencantumkan label
pada, di dalam, dan
atau
di
kemasan
pangan.
(2)
Pencantuman
Label
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(1)
dilakukan
sedemikian
rupa
sehingga tidak mudah
lepas
dari
kemasannya,
tidak
mudah luntur atau
rusak, serta terletak
pada bagian kemasan
pangan yang mudah
untuk
dilihat
dan
dibaca.
Kemudian di dalam Pasal 3 dari PP No. 69
Tahun 1999 tersebut ditentukan bahwa :
(1)
Label
sebagaimana
dimaksud pada Pasal 2
(2)
a.
b.
c.
d.
e.
ayat
(1)
berisikan
keterangan
mengenai
pangan
yang
bersangkutan.
Keterangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
sekurang-kurangnya :
nama produk;
daftar bahan yang digunakan;
berat bersih atau isi bersih;
nama dan alamat pihak yang
memproduksi atau memasukkan
pangan ke dalam wilayah Indonesia.
tanggal,
bulan,
dan
tahun
kedaluwarsa.
Pasal 1 ayat (3) dari Peraturan Pemerintah
Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan
Pangan menentukan bahwa yang dimaksud
dengan label pangan adalah: setiap keterangan
mengenai pangan yang berbentuk gambar,
tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain
yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke
dalam, ditempelkan pada atau merupakan
bagian kemasan pangan. Dari pengertian label
di atas menunjukkan bahwa di dalam label itu
termuat informasi. Ketiadaan informasi yang
benar, jelas dan jujur yang seharusnya
tercantum dalam label bias menyesatkan
konsumen dan tentunya berakibat hukum pada
pelaku usaha untuk bertanggungjawab apabila
merugikan konsumen.
Pelaku usaha bidang pangan sering
beritikad tidak baik. Penjelasan tentang konsep
itikad tidak baik dijelaskan dalam beberapa
yurisprudensi
yaitu
Putusan
No.
1269
L/Pdt/1984 tanggal 15 Januari 1986, Putusan
No. 220 PK/Perd/1981 Tanggal 16 Desember
1986 dan putusan No.1272 K/Pdt/1984 tanggal
15 Januari 1987.1
Secara umum jangkauan pengertian itikad
tidak baik meliputi perbuatan “penipuan” (fraud),
“rangkaian” (misleading) orang lain, serta
tingkah laku yang mengabaikan kewajiban
hukum untuk mendapat keuntungan. Bisa juga
diartikan sebagai perilaku yang tidak dibenarkan
secara sadar untuk mencapai suatu tujuan yang
Mukti Fajar, “Itikad Tidak Baik Dalam
Pendaftaran Dan Model Penegakan Hukum Merk di
Indonesia”, JH Ius Quia Iustum, Vol.25 No.2 Tahun
2018, hlm 224
1
tidak jujur (dishonesty purpose).2 Akan tetapi
dalam perkembangannya terutama di bidang
hukum bisnis, asas itikad tidak baik juga
dikaitkan dengan disloyalty atau ketidaksetiaan
dan ketidakpatuhan.3
Salah satu kasus label pangan yang terjadi
di Indonesia adalah pelaku usaha mengganti
label tanggal yang sudah kadaluarsa seperti
diberitakan Kompas.com tanggal 20 Maret 2018
bahwa polisi telah menangkap pelaku penjualan
makanan kadaluarsa di Tambora, Jakarta,
pelaku usaha tertangkap tangan sedang
mengganti 96.060 produk dengan label tanggal
yang sudah kadaluarsa di gudang milik PT.PRS.
Produk tersebut terdiri dari mayonnaise, susu
bayi, selai, kue kering, kacang-kacangan, dan
lain-lain. Menurut polisi akibat perbuatan
tersebut pelaku usaha dijerat Pasal 62 ayat (1)
jo Pasal 8 ayat (1) dan (3) Undang Undang No.
8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
dan Pasal 143 jo Pasal 99 Undang Undang No.
18 Tahun 2012 tentang Pangan.4
Indonesia
sudah
mengatur
tentang
pelabelan pada setiap makanan dan minuman
yaitu pada Pasal 1, 2, dan 3 Peraturan BPOM
Nomor HK. 03. 1. 23. 06. 10. 5166 tentang
Pencatuman Informasi Asal Bahan Tertentu,
Kandungan Alkohol dan Batas Kedaluwarsa
pada Penandaan/Label Obat, Obat Tradisional,
Suplemen Makanan dan Pangan. Juga
tercantum
dalam
Permenkes
No.
180/Menkes/1985, ada 13 jenis makanan dan
minuman yang diharuskan mencantumkan
tanggal kadaluwarsa seperti roti, makanan
rendah kalori, nutrisi suplemen, coklat, kelapa
dan hasil olahannya, minyak goreng, margarine,
produk kacang, telur, saus dan kecap, minuman
ringan tak berkarbonat, sari buah dan susu.
Menurut hasil kajian BPKN (Badan
Perlindungan Konsumen Nasional) ada 4
(empat) masalah utama yang terkait dengan
2
Agus Mardianto, “Penghapusan Merk
Berdasarkan Gugatan Pihak Ketiga”, Jurnal
Dinamika Hukum, Unsoed Purwokerto, Vol.10 No.1
2010, hlm. 47
3
David Pozen, “Constitunional Bad Faith”,
Harvard Law Review, Volume.129 No.4 Tahun 2016,
hlm. 892,893
4
“Ganti Label Makanan Kedaluwarsa lalu
Dijual Lagi, Tiga Orang Ditangkap di Tambora”,
https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/20/19
114261/ganti-label-makanan-kedaluwarsa-laludijual-lagi-tiga-orang-ditangkap-di, diakses 20 Juli
2019.
keamanan konsumen terhadap makanan yang
dikonsumsinya, yaitu:5
(1)
Keracunan makanan yang
terjadi karena makanan rusak
dan
terkontaminasi
atau
tercampur
dengan
bahan
berbahaya.
(2)
Penggunaan
bahan
terlarang
yang
mencakup:
bahan
pengawet,
bahan
pewarna, bahan pemanis dan
bahan-bahan tambahan lainnya.
(3)
Ketentuan
label
bagi
produk-produk industri makanan
dan minuman yang tidak sesuai
dengan ketentuan label dan
iklan pangan (PP 69 Tahun
1999) beserta Permenkes.
(4)
Produk-produk
industri
makanan dan minuman yang
kedaluarsa.
Menyangkut
penyimpangan
terhadap
peraturan pelabelan yang paling
banyak ditemui adalah6:
 Penggunaan label tidak
berbahasa Indonesia dan
tidak menggunakan huruf
latin,
terutama
produk
impor.
 Label yang ditempel tidak
menyatu dengan kemasan.
 Tidak mencantumkan waktu
kedaluarsa.
 Tidak
mencantumkan
keterangan komposisi dan
berat bersih
 Tidak ada kode barang MD,
ML atau P-IRT dan acuan
kecukupan gizi yang tidak
konsisten.
 Tidak
mencantumkan
alamat
produsen/importir
(bagi produknya).
Pelanggaran mengenai label pangan
tersebut merupakan masalah yang sangat
merugikan konsumen dari sisi keamanan,
kenyamanan,
dan
kesehatan,
bahkan
membahayakan keselamatan jiwa konsumen.
“Hasil Kajian BPKN di Bidang Pangan
Terkait
Perlindungan
Konsumen”,
:
https://www.kemendag.go.id/files/pdf/2007/03/30/hasilkajian-badan-perlindungan-konsumen-nasional-bpkn-id11353754131.pdf, diakses 12 Juli 2019, jam 21.22 WIB.
6 Ibid.
5
Rumusan Masalah
Bagaimana melindungi konsumen melalui
peraturan pelabelan produk pangan di Indonesia
?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui,
memahami, dan menganalisis secara mendalam
upaya melindungi konsumen melalui peraturan
pelabelan produk pangan di Indonesia.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan
yuridis normatif, yaitu penelitian dengan
menggunakan data sekunder atau data
kepustakaan7 dan bersifat dekriptif analitis, yaitu
menyampaikan gambaran mengenai fakta-fakta
yang ada ditunjang dengan ketentuan-ketentuan
yang berlaku dan diterapkan.8 Metode
pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah
pendekatan
perundang-undangan
(statute approach) yaitu dengan mengkaji dan
menganalisis norma atau materi muatan dalam
peraturan
perundang-undangan
untuk
menganalisis permasalahan dalam penelitian. 9
Sebagai data penunjang dilakukan wawancara
dengan pihak terkait. Kemudian data yang
deiperoleh dianalisis dengan menggunakan
metode deskriptif kualitatif.10
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Melindungi konsumen melalui peraturan
pelabelan produk pangan di Indonesia
Menurut Pasal 1 Angka 1 Undang Undang
No. 8 Tahun 1999, Perlindungan Konsumen
merupakan upaya untuk menjamin adanya
kepastian hukum untuk memberi perlindungan
kepada konsumen. Berkaitan dengan label
pangan maka masyarakat perlu memperoleh
informasi yang benar, jelas, dan lengkap, baik
7
Ronny Soemitro,
Metodologi
Penelitian Hukum dan Juritmetri, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 1990, hlm.10
8
Soerjono
Soekanto,
Pengantar
Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Pers,
Jakarta, 1986, hlm. 86.
9
Elis Herlina, “Perlindungan Hukum
Terhadap
Konsumen
Pada
Perjanjian
Pembiayaan dengan Fidusia Tidak Terdaftar”,
JH Ius Quia Iustum, Vol.25 No.2 Tahun 2018,
hlm 281
10
Maria Sumardjono, Pedoman
Pembuatan Usulan Penelitian, Fakultas Hukum
UGM, Yogyakarta, 1989, hlm.24-25.
mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal
lain yang diperlukannya mengenai pangan yang
beredar di pasar. Perdagangan pangan yang
jujur dan bertanggung jawab bukan sematamata untuk melindungi kepentingan masyarakat
yang
mengkonsumsi
pangan.
Melalui
pengaturan yang tepat berikut sanksi-sanksi
hukum yang berat, diharapkan setiap orang
yang memproduksi pangan atau memasukkan
pangan ke dalam wilayah Indonesia untuk
diperdagangkan
dapat
memperoleh
perlindungan dan jaminan kepastian hukum.11
Pasal 8 UUPK menyatakan tentang
perbuatan-perbuatan yang dilarang bagi pelaku
usaha yaitu sebagai berikut.
(1)
Pelaku
usaha
dilarang
memproduksi
dan/atau
memperdagangkan
barang
dan/atau jasa yang:
a) tidak memenuhi atau
tidak
sesuai
dengan
standar
yang
dipersyaratkan
dan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan;
b) tidak sesuai dengan
berat bersih, isi bersih atau
netto, dan jumlah dalam
hitungan
sebagaimana
yang dinyatakan dalam
label atau etiket barang
tersebut;
c) tidak sesuai dengan
ukuran, takaran, timbangan
dan jumlah dalam hitungan
menurut
ukuran
yang
sebenarnya;
d) tidak sesuai dengan
kondisi,
jaminan,
keistimewaan
atau
kemanjuran sebagaimana
dinyatakan dalam label,
etiket atau keterangan
barang
dan/atau
jasa
tersebut;
e) tidak sesuai dengan
mutu, tingkatan, komposisi,
proses pengolahan, gaya,
mode, atau penggunaan
tertentu
sebagaimana
dinyatakan dalam label
11
Gusti Ayu Sri Agung Arimas, I
Nengah Suharta, “Perlindungan Konsumen
dalam Pelabelan Produk Pangan”, Jurnal Kertha
Semana Vol. 2 No. 2 Februari 2014, hlm 3
atau keterangan barang
dan/atau jasa tersebut;
f) tidak sesuai dengan janji
yang dinyatakan dalam
label, etiket, keterangan,
iklan
atau
promosi
penjualan barang dan/atau
jasa tersebut;
g) tidak mencantumkan
tanggal kadaluwarsa atau
jangka
waktu
penggunaan/pemanfaatan
yang paling baik atas
barang tertentu;
h)
tidak
mengikuti
ketentuan
berproduksi
secara halal, sebagaimana
pernyataan "halal" yang
dicantumkan dalam label;
i) tidak memasang label
atau membuat penjelasan
barang yang memuat nama
barang, ukuran, berat/isi
bersih
atau
netto,
komposisi, aturan pakai,
tanggal pembuatan, akibat
sampingan, nama dan
alamat pelaku usaha serta
keterangan
lain
untuk
penggunaan yang menurut
ketentuan
harus
dipasang/dibuat;
j) tidak mencantumkan
informasi
dan/atau
petunjuk
penggunaan
barang
dalam
bahasa
Indonesia sesuai dengan
ketentuan
perundangundangan yang berlaku.
barang dan/atau jasa tersebut serta
wajib menariknya dari peredaran.
Perbuatan
pelaku
usaha
yang
menimbulkan kerugian kepada konsumen akan
berpengaruh
terhadap
pembangunan
perekonomian secara umum. Pelaku usaha12
dalam menghasilkan produk barang tertentu
harus jujur dalam memberikan informasi melalui
label dari produknya kepada konsumen, pelaku
usaha harus mengontrol sebelum produk barang
tersebut
diedarkan,
sehingga
konsumen
mendapatkan produk terbaik dari produk barang
yang dipilihnya. Dalam bisnis yang sehat, praktik
bisnis yang tidak jujur (unfair trade practice)
sangat dilarang.13
Faktanya tetap saja konsumen dalam
kedudukan dan posisi tawar yang lemah, seperti
pelaku usaha membohongi konsumen melalui
iklan,14 yang dapat terjadi dalam bentuk
pernyataan yang salah, pernyataan yang
menyesatkan ataupun adanya iklan yang
berlebihan,15 sedangkan konsumen iklan
memegang peran penting yang penting untuk
memperoleh informasi produk pelaku usaha.
Akibatnya, kerugian yang dialami konsumen
tidak hanya kerugian finansial, akan tetapi juga
dapat merugikan kesehatan atau keselamatan
hidup konsumen itu sendiri. Inipun norma etik,
hukum dan tanggung jawab dalam periklanan
bukanlah hal yang mudah.16
Pelaku usaha dituntut untuk meningkatkan
pelayanan, termasuk dalam hal ini adalah hak
konsumen untuk mendapatkan ganti kerugian
yang
dialami
konsumen
setelah
mempergunakan produk barang pelaku usaha
yang tidak sebagaimana mestinya. Sesuai
dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia,
konsumen
yang
dirugikan
akibat
dari
12
(2)
Pelaku
usaha
dilarang
memperdagangkan barang yang
rusak, cacat atau bekas, dan
tercemar
tanpa
memberikan
informasi secara lengkap dan
benar atas barang dimaksud.
(3)
Pelaku
usaha
dilarang
memperdagangkan
sediaan
farmasi dan pangan yang rusak,
cacat atau bekas dan tercemar,
dengan atau tanpa memberikan
informasi secara lengkap dan
benar.
(4) Pelaku usaha yang melakukan
pelanggaran pada ayat (1) dan ayat
(2) dilarang memperdagangkan
Johanes Gunawan, Product Liablility,
Hukum Bisnis Indonesia, Jurnal Hukum Pro
Justitia, Vol.12 No.2 Tahun 1994 hlm 7
13
Ari Purwadi, “Implikasi Iklan yang
Tidak Benar dan Tidak Bertanggungjawab
Timbulnya Sengketa Konsumen”, Jurnal
Yustika, Vol.7 No.1 Tahun 2004 hlm 232
14
Janus Sidabalok, “Analisis Terhadap
Iklan dan Praktek Periklanan menurut Hukum”,
Jurnal Hukum Atmajaya, Vol.12 No.2 Tahun
1999 hlm. 101
15
Ari Purwadi, “Perlindungan Hukum
Konsumen dari Sudut Periklanan”, Majalah
Hukum, Vol.21 No.21 tahun 1996. Hlm 8
16
Yusuf Shofie, Sistem Tanggung Jawab
Periklanan, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol.26
No.2 Tahun 1996 hlm.136
menggunakan produk barang dapat menggugat
pihak yang menimbulkan kerugian dan pelaku
usaha diharuskan untuk bertanggung jawab atas
produk
barang
yang
dihasilkan
atau
diperdagangkan kepada konsumen,17 terdapat
beberapa manfaat yang diperoleh konsumen
dari adanya kewajiban pelaku usaha untuk
memberikan penggantian kerugian.18 Namun,
karena kedudukan pelaku usaha yang berada
pada kedudukan yang lebih kuat, baik secara
ekonomis maupun segi kekuasaan (bargaining
power, bargaining position) dibandingkan
dengan konsumen, sehingga konsumen sangat
memerlukan bantuan advokasi, perlindungan,
serta upaya penyelesaian sengketa secara patut
atas hak-hak konsumen. Terdapat beberapa
manfaat yang diperoleh konsumen dari adanya
kewajiban pelaku usaha untuk memberikan
penggantian kerugian.
Permasalahan timbul ketika perlindungan
konsumen
diterapkan
di
negara-negara
berkembang termasuk Indonesia adalah sikap
pemerintah
yang
cenderung
melindungi
kepentingan industri sebagai faktor esensial
dalam pembangunan negara yang sedang
berkembang. Hal senada juga disampaikan oleh
Purba, bahwa, perlindungan hukum bagi
konsumen sebagai satu konsep terpadu
merupakan hal baru, yang perkembangannya
dimulai dari negara-negara maju. Namun,
demikian, saat sekarang konsep ini sudah
tersebar ke bagian lain,19 dan pembahasan
konsumen akan selalu aktual dan selalu penting
untuk dikaji ulang.20
Sebagai
konsekuensi
hukum
dari
pelanggaran yang diberikan oleh undangundang tentang perlindungan konsumen dan
sifat perdata dari hubungan hukum antara
pelaku usaha dan konsumen maka setiap
pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha
yang merugikan konsumen memberikan hak
kepada konsumen yang dirugikan tersebut untuk
17
Yusuf Shofie, Product Liability dalam Institusi
Hukum Ekonomi Suatu Kajian Ius Constituendum,
Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol.29 No.3 Tahun
1999, Hlm.253
18
Ari Purwadi, Model Penyelesaian Sengketa
Konsumen di Indonesia, Jurnal Yustika, Vol.4 No.2
Tahun 2001, Hlm.225
19
Zen Purba, “Perlindungan Konsumen:
Sendi-sendi Pokok Pengaturan”, Jurnal Hukum dan
Pembangunan, Vol.22 Tahun 1992, hlm.393
20
Sri Hartono, “Perlindungan Konsumen di
Indonesia (Tinjauan Makro),” Jurnal Mimbar
Hukum, No.39/X/2001, Hlm.147
meminta pertanggungjawaban dari pelaku
usaha yang merugikan serta menuntut ganti rugi
atas kerugian yang diderita oleh konsumen yang
dirugikan
tersebut
untuk
meminta
pertanggungjawaban dari pelaku usaha yang
merugikan serta menuntut ganti rugi atas
kerugian yang diderita oleh konsumen.21
Pasal 45 Undang-Undang No. 8 Tahun
1999
tentang
Perlindungan
Konsumen,
menyatakan:
a. Setiap konsumen yang
dirugikan dapat menggugat
pelaku
usaha
melalui
lembaga yang bertugas
menyelesaikan
sengketa
antara
konsumen
dan
pelaku
atau
melalui
peradilan yang berada di
lingkungan
peradilan
umum;
b. Penyelesaian
sengketa
konsumen dapat ditempuh
melalui pengadilan atau di
luar
pengadilan
berdasarkan
pilihan
sukarela para pihak yang
bersengketa;
c. Penyelesaian sengketa di
luar
pengadilan
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(2);
tidak
menghilangkan
tanggungjawab
pidana
sebagaimana diatur dalam
undang-undang;
d. Apabila telah dipilih upaya
penyelesaian
sengketa
konsumen
di
luar
pengadilan,
gugatan
melalui pengadilan hanya
dapat ditempuh apabila
upaya
tersebut
bersengketa;
Penyelesaian
sengketa
konsumen
sebagaimana dimaksud pada Pasal 45 ayat (2)
Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini,
tidak menutup kemungkinan dilakukannya
penyelesaian secara damai oleh para pihak
yang bersengketa. Pada umumnya dalam setiap
proses
penyelesaian
sengketa,
selalu
diupayakan untuk menyelesaikannya secara
21
Gunawan Widjaja, Ahmad Yani,
Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta, 2008, hlm. 3.
damai di antara kedua belah pihak yang
bersengketa.
Penyelesaian sengketa damai adalah
penyelesaian yang dilakukan oleh kedua belah
pihak yang bersengketa (pelaku usaha dan
konsumen) tanpa melalui pengadilan atau
badan penyelesaian sengketa konsumen, dan
tidak bertentangan dengan Undang-Undang No.
8
Tahun
1999
Tentang
Perlindungan
Konsumen.
Ketentuan hukum mengenai pelabelan
tersebar dalam berbagai peraturan perundangundangan, diantaranya Undang-Undang No. 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,
UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan, PP No.
69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan,
Permendag No.22/M-DAG/PER/5/2010 tentang
Kewajiban Pencantuman Label pada Barang,
UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,
Keputusan
Menteri
Kesehatan
No.
924/Menkes/SK/VIII/1996 tentang Pnecantuman
Tulisan “Halal” pada Label Makanan, Peraturan
Menteri
Kesehatan
RI
No.
180/Menkes/Per/IV/1985
tentang
Makanan
Daluwarsa yang telah dirubah dengan
Keputusan Dirjen POM No. 02591/B/SK/VIII/91.
Masyarakat perlu memperoleh informasi
yang benar, jelas, dan lengkap, baik mengenai
kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain yang
diperlukannya mengenai pangan yang beredar
di pasar. Label itu ibarat jendela, konsumen
yang jeli bisa mengintip suatu produk dari
labelnya.22
Dari informasi pada label, konsumen
secara tepat dapat menentukan pilihan sebelum
membeli dan atau mengkonsumsi pangan.
Tanpa adanya informasi yang jelas maka
kecurangan-kecurangan dapat terjadi.23
Banyak masalah mengenai pangan
terjadi di Indonesia. Perdagangan pangan yang
kedaluwarsa, seperti kasus pelanggaran label
kadaluarsa di Tambora di atas, atau perbuatan
perbuatan lain yang akibatnya sangat merugikan
masyarakat,
bahkan
dapat
mengancam
kesehatan dan keselamatan jiwa manusia
terutama bagi anak anak pada umumnya
dilakukan melalui penipuan pada label pangan.
22 Purwiyatno Hariyadi, “Mencermati Label
dan
Iklan
Pangan
“,
http://www.republika.co.id/detail.asp?katakunci=purwiyatn
o%20%20hariyadi&id=66926 . 2009, diakses 05 Januari
2018, jam 20.55 WIB.
23 Yusuf Shofie, Perlindungan Konsumen
dan Instrumen-Instrumen Hukumnya, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2000, hlm. 15.
Label pangan adalah setiap keterangan
mengenai pangan yang berbentuk gambar,
tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain
yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke
dalam, ditempelkan pada atau merupakan
bagian kemasan pangan, yang selanjutnya
dalam Peraturan Pemerintah ini disebut Label.
Setiap
orang
yang
memproduksi
atau
memasukkan pangan yang dikemas ke dalam
wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib
mencantumkan label pada, di dalam, dan atau di
kemasan
pangan.
Pencantuman
Label
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas
dari kemasannya, tidak mudah luntur atau
rusak, serta terletak pada bagian kemasan
pangan yang mudah untuk dilihat dan dibaca.
Label sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat
(1) berisikan keterangan mengenai pangan yang
bersangkutan.
Keterangan
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya
nama produk; daftar bahan yang digunakan;
berat bersih atau isi bersih; nama dan alamat
pihak yang memproduksi atau memasukkan
pangan ke dalam wilayah Indonesia. tanggal,
bulan, dan tahun kedaluwarsa.
Konsekuensi akibat pelanggaran hukum
sebagaimana yang diatur oleh Undang Undang
tentang Perlindungan Konsumen dan sifat
perdata dari hubungan hukum antara pelaku
usaha dan konsumen. Menurut Undang-Undang
Perlindungan Konsumen Pasal 23 yaitu:
“Setiap pelanggaran yang
dilakukan pelaku usaha
yang
merugikan
konsumen
dengan
menolak dan/atau tidak
memberi
tanggapan
dan/atau tidak memenuhi
ganti rugi atas tuntutan
konsumen,
akan
memberikan hak kepada
konsumen yang dirugikan
tersebut untuk meminta
pertanggungjawaban dari
pelaku
usaha
yang
merugikannya
serta
menuntut ganti rugi atas
kerugian yang diderita
oleh konsumen tersebut
dengan
mengajukan
gugatan melalui Badan
Penyelesaian Sengketa
atau
mengajukan
ke
badan peradilan tempat
kedudukan konsumen.”
Setiap konsumen yang dirugikan dapat
menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang
bertugas menyelesaikan sengketa antara
konsumen dan pelaku usaha atau melalui
peradilan yang berada di lingkungan peradilan
umum. Di dalam UUPK Pasal 45 ayat 2
disebutkan
bahwa
“Sengketa
konsumen
terbatas pada sengketa perdata, artinya suatu
sengketa/perkara konsumen yang diajukan
pengadilan, bukanlah dikarenakan keyakinan
sang hakim, melainkan karena inisiatif dari
pihak-pihak yang bersengketa. Hal ini bisa
dilakukan oleh produsen maupun konsumen.
Pengadilan
mempunyai
kewajiban
untuk
memberikan pemecahan berdasarkan hukum
perdata yang bekerja diantara para pihak secara
sukarela. Penyelesaian sengketa konsumen
dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar
pengadilan berdasarkan pilihan sukarela pihak
yang bersengketa.”
Pasal 62 Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
tersebut diatur bahwa pelaku usaha yang
memproduksi atau memperdagangkan barang
yang tidak sesuai dengan berat, jumlah, ukuran,
takaran, jaminan, keistimewaan, kemanjuran,
komposisi, mutu sebagaimana yang dinyatakan
dalam label atau keterangan tentang barang
tersebut (Pasal 8 ayat 1), pelaku usaha yang
tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa
(Pasal 8 ayat 1), memperdagangkan barang
rusak, cacat, atau tercemar (Pasal 8 ayat 2)
pelaku usaha yang mencantumkan klausula
baku bahwa pelaku usaha berhak menolak
penyerahan kembali barang yang dibeli
konsumen di dalam dokumen dan/atau
perjanjian (Pasal 18 ayat 1 huruf b) dapat
dihukum dengan pidana penjara paling lama 5
tahun atau pidana denda paling banyak Rp
2.000.000.000,- (Dua Milyar Rupiah).
Penutup / Kesimpulan
Pemerintah
berusaha
mellindungi
konsumen melalui pengaturan pelabelan produk
pangan di Indonesia sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen dan PP No. 69 Tahun
1999 tentang Label dan Iklan Pangan, tetapi
peraturan peraturan tersebut masih belum
secara maksimal melindungi hak-hak konsumen
dan belum memenuhi asas-asas perlindungan
konsumen yaitu asas manfaat, asas keadilan,
asas keseimbangan, asas keselamatan, dan
asas kepastian hukum. Aturan mengenai label
pangan yang hanya ditempelkan pada kemasan
pangan sangat mudah untuk dilanggar oleh
pelaku usaha karena label tempelan tersebut
sangat mudah dihapus atau dilepas dan diganti
dengan tanggal kedaluwarsa yang baru seperti
yang dilakukan pelaku usaha di Tambora,
Jakarta.
Konsumen
berhak
meminta
pertanggungjawaban pelaku usaha yang
merugikannya dan berhak menuntut ganti
kerugian dengan alasan wanprestasi atau
perbuatan
melawan
hukum,
dengan
mengajukan
gugatan
melalui
Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) atau
yang disebut melalui jalur non-litigasi, juga bias
mengajukan gugatan melalui badan peradilan
tempat kedudukan konsumen atau disebut jalur
Litigasi, seperti yang diatur dalam Pasal 45 Ayat
(1) dan (2) Undang Undang No.8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen.
Daftar Pustaka
Buku :
Rajagukguk, Erman, Hukum Perlindungan
Konsumen, Mandar Maju, Bandung,
2000.
Shofie, Yusuf, Perlindungan Konsumen dan
Instrumen-Instrumen
Hukumnya,
Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000.
Sidabalok, Janus, Hukum Perlindungan
Konsumen di Indonesia, Paulinus
Josua, Medan, 1999.
_______, Hukum Perlindungan Konsumen
di Indonesia, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2006.
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian
Hukum, Universitas Indonesia Pers,
Jakarta, 1986, Hlm. 86.
Soemitro, Ronny, Metodologi Penelitian
Hukum
dan
Juritmetri,
Ghalia
Indonesia, Jakarta, 1990, hlm.10
Sumardjono, Maria, Pedoman Pembuatan
Usulan Penelitian, Fakultas Hukum
UGM, Yogyakarta, 1989, hlm.24-25.
Makalah/Jurnal/Penelitian
Arimas, Gusti Ayu Sri Agung, I Nengah
Suharta, “Perlindungan Konsumen
dalam Pelabelan Produk Pangan”,
Kertha Semana Vol. 2 No. 2
Februari 2014.
Fajar, Mukti, “Itikad Tidak Baik Dalam
Pendaftaran Dan Model Penegakan
Hukum Merk di Indonesia”, JH Ius
Quia Iustum, Vol.25 No.2 Tahun
2018.
Hartono, Sri, “Perlindungan Konsumen di
Indonesia (Tinjauan Makro)”, Jurnal
Mimbar Hukum, No.39/X/2001.
Herlina,
Elis,
“Perlindungan
Hukum
Terhadap
Konsumen
Pada
Perjanjian Pembiayaan dengan
Fidusia Tidak Terdaftar”, JH Ius
Quia Iustum, Vol.25 No.2 Tahun
2018.
Johanes Gunawan, “Product Liablility,
Hukum Bisnis Indonesia”, Jurnal
Hukum Pro Justitia, Vol.12 No.2
Tahun 1994.
Mardianto, Agus, “Penghapusan Merk
Berdasarkan
Gugatan
Pihak
Ketiga”, Jurnal Dinamika Hukum,
Unsoed Purwokerto, Vol.10 No.1
2010.
Pozen, David, “Constitunional Bad Faith”,
Harvard Law Review, Volume.129
No.4 Tahun 2016.
Purba,
Zen, “Perlindungan Konsumen:
Sendi-sendi Pokok Pengaturan”,
Jurnal Hukum dan Pembangunan,
Vol.22 Tahun 1992. Hlm.393
Purwadi, Ari, “Model Penyelesaian Sengketa
Konsumen di Indonesia”, Jurnal
Yustika, Vol.4 No.2 Tahun 2001.
_______, “Implikasi Iklan yang Tidak Benar
dan
Tidak
Bertanggungjawab
Timbulnya Sengketa Konsumen”,
Jurnal Yustika, Vol.7 No.1 Tahun
2004.
_______, “Perlindungan Hukum Konsumen
dari Sudut Periklanan”, Majalah
Hukum, Vol.21 No.21 Tahun 1996.
Shofie, Yusuf, “Sistem Tanggung Jawab
Periklanan”, Jurnal Hukum dan
Pembangunan, Vol.26 No.2 Tahun
1996.
_______, “Product Liability dalam Institusi
Hukum Ekonomi Suatu Kajian Ius
Constituendum”, Jurnal Hukum dan
Pembangunan, Vol.29 No.3 Tahun
1999.
Sidabalok, Janus, “Analisis Terhadap Iklan
dan Praktek Periklanan Menurut
Hukum”, Jurnal Hukum Atmajaya,
Vol. 12 No.2 Tahun 1999.
Susantri, Yulia, “Pencantuman Informasi
pada Label Produk Kosmetik Oleh
Pelaku Usaha Dikaitkan Dengan
Hak Konsumen”, Syiah Kuala Law
Journal, Vol. 2 No.1 Tahun 2018.
Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen
(Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3821).
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012
Tentang
Pangan
(Tambahan
Lembaran
Negara
Republik
Indonesia Nomor 5360).
Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999
tentang Label Dan Iklan Pangan
(Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3867).
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat
dan Makanan Nomor HK. 03. 1. 23.
06. 10. 5166 tentang Pencatuman
Informasi Asal Bahan Tertentu,
Kandungan Alkohol dan Batas
Kedaluwarsa
pada
Penandaan/Label
Obat,
Obat
Tradisional, Suplemen Makanan
dan Pangan (Berita Negara
Republika Indonesia Tahun 2010
Nomor 328).
Peraturan Menteri Kesehatan No.
180/Menkes/1985 tentang Makanan Daluwarsa.
Putusan Pengadilan
Putusan No. 1269 L/Pdt/1984 tanggal 15
Januari 1986.
Putusan No. 220 PK/Perd/1981 Tanggal 16
Desember 1986.
Putusan No.1272 K/Pdt/1984 tanggal 15
Januari 1987
Sumber Lain
“Hasil Kajian BPKN di Bidang Pangan
Terkait Perlindungan Konsumen”
https://www.kemendag.go.id/files/pd
f/2007/03/30/hasil-kajian-badanperlindungan-konsumen-nasionalbpkn-id1-1353754131.pdf, diakses
12 Juli 2019, jam 21.22 WIB
Purwiyatno Hariyadi, “Mencermati Label dan
Iklan
Pangan“,
http://www.republika.co.id/detail.as
p?katakunci=purwiyatno%20%20ha
riyadi&id=6692.2009, diakses 05
Januari 2018, jam 20.55 WIB.
“Ganti Label Makanan Kedaluwarsa lalu Dijual
Lagi,
Tiga
Orang
Ditangkap
di
Tambora”,
https://megapolitan.kompas.com/read/2
018/03/20/19114261/ganti-labelmakanan-kedaluwarsa-lalu-dijual-lagitiga-orang-ditangkap-di
Akibat Hukum Debitur Wanprestasi pada Perjanjian Pembiayaan
Konsumen dengan Jaminan Fidusia yang tidak terdaftar
Elis Herlina
[email protected]
Universitas Islam Nusantara Bandung
Abstrak
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia menentukan bahwa objek jaminan
fidusia harus didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia supaya mempunyai kekuatan eksekutorial. Dalam
praktek masih terdapat fenomena objek jaminan fidusia tersebut tidak didaftarkan, namun saat debitur
wanprestasi tetap dilakukan eksekusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis
bagaimana akibat hukum debitur wanprestasi pada perjanjian pembiayaan konsumen dengan jaminan
fidusia yang tidak terdaftar. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan metode pendekatan yuridis
normatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada saat debitur wanprestasi, maka kreditur tidak
mempunyai hak eksekusi terhadap jaminan fidusia, debitur dilindungi dengan ketentuan Pasal 3
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 10/PMK.010/2012. Jika kreditur mengambil
jaminan fidusia secara paksa, maka dapat dilaporkan ke pihak kepolisian atas tindak pidana perampasan
yang diancam dengan Pasal 368 KUH Perdata, juga termasuk katagori perbuatan melawan hukum
sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata. Kreditur tidak mempunyai hak mendahului,
sehingga kedudukannya sebagai kreditur konkuren dan perlindungan hukum bagi kreditur hanya berupa
jaminan umum Pasal 1131 KUH Perdata. Oleh karena itu, jaminan fidusia harus selalu didaftarkan dan
masih perlu sosialisasi tentang Undan-Undang Jaminan Fidusia.
Kata Kunci : wanprestasi, perjanjian pembiyaan konsumen, jaminan fidusia
Jenis paper : hasil penelitian
Pendahuluan
Jasa lembaga keuangan bukan Bank
yaitu pembiayaan konsumen saat ini banyak
dimanfaatkan
oleh
masyarakat
untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, misalnya
pembelian kendaraan bermotor yang dilakukan
secara kredit
Dalam
transaksi
pembiayaan
konsumen ada tiga pihak yang terlibat, yaitu
pihak perusahaan pembiayaan konsumen
(pemberi dana pembiayaan atau kreditur),
pihak konsumen (penerima dana pembiayaan
atau debitur) dan pihak supplier (penjual atau
penyedia barang)24.
Antara pihak kreditur dengan debitur
terdapat hubungan kontraktual, yaitu dengan
membuat kontrak pembiayaan konsumen.
Pihak kreditur, dalam hal ini perusahaan
pembiayaan konsumen memberikan pinjaman
dana untuk pembelian suatu barang, pihak
konsumen menerima dana tersebut untuk
pembelian
barang
tertentu,
kemudian
utangnya dibayar secara angsuran kepada
perusahaan pembiayaan konsumen, barang
tersebut disediakan oleh penjual (supplier) dan
perusahaan pembiayaan konsumen melunasi
barang tersebut. Jika debitur tidak memenuhi
kewajibannya
sesuai
dengan
yang
diperjanjikan,
maka
debitur
dianggap
wanprestasi.
Untuk kepastian dan keamanan
kreditur dalam hal pengembalian pinjaman jika
di kemudian hari terjadi sesuatu hal yang tidak
sesuai dengan yang diperjanjikan, maka
perusahaan
pembiayaan
konsumen
membutuhkan suatu jaminan dari debitur atau
konsumen. Oleh karena itu, barang yang dibeli
dijadikan jaminan secara fidusia, artinya,
debitur sebagai pemberi Fidusia dan kreditur
sebagai penerima fidusia.
Pembebanan
dengan jaminan fidusia sangat membantu
debitur atau konsumen, karena debitur dapat
tetap menguasai objek jaminan fidusia dan
yang dipegang oleh perusahaan pembiayaan
hanya dokumen kepemilikan barang tersebut
sampai pinjaman tersebut lunas.
Saat ini fidusia diatur dalam UndangUndang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang
Jaminan Fidusia (UUJF). Jaminan fidusia
merupakan perjanjian ikutan dari suatu
perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban
bagi para pihak untuk memenuhi suatu
prestasi. Pembebanan benda dengan jaminan
Fidusia harus dibuat dengan akta notaris dan
disebut sebagai Akta Jaminan Fidusia
24
Muhammad Chidir, (1993), Badan
Hukum, Alumni, Bandung, hlm.166.
sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 5 ayat
(1) UUJF. Pasal 11 ayat (1) jo. Pasal 12 ayat
(1) UUJF menentukan bahwa objek jaminan
fidusia harus didaftarkan pada Kantor
Pendaftaran
Fidusia.
Selanjutnya
akan
dikeluarkan Sertifikat Jaminan Fidusia oleh
Kantor Pendaftaran Fidusia yang mengandung
irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA”
yang
mempunyai kekuatan eksekutorial sama
seperti suatu keputusan Pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum yang tetap.25
Pada prakteknya terdapat perjanjian
pembiayaan dengan jaminan fidusia yang tidak
dibuat dengan akta notaris dan jaminan fidusia
tidak didaftarkan pada Kantor Pendaftaran
Fidusia, namun apabila debitur wanprestasi,
pihak
perusahaan
pembiayaan
tetap
mengambil objek jaminan fidusia, bahkan
kadangkala diambil secara paksa.
Berdasarkan uraian di atas, maka
permasalahan yang akan dibahas adalah
bagaimana akibat hukum debitur wanprestasi
pada perjanjian pembiayaan konsumen
dengan jaminan fidusia yang tidak terdaftar.
Metodologi
Penelitian ini merupakan penelitian
yuridis normatif, yaitu penelitian dengan
menggunakan data sekunder atau data
kepustakaan26 dan bersifat deskriptif analitis,
yaitu menyampaikan gambaran mengenai
fakta-fakta yang ada ditunjang dengan
ketentuan-ketentuan
yang
berlaku
dan
diterapkan.27 Teknik pengumpulan data
dilakukan dengan penelitian kepustakaan
(library
research),
yaitu
dengan
mengumpulkan data sekunder yang meliputi
bahan hukum primer, sekunder dan tersier.
Sebagai data penunjang dilakukan wawancara
dengan pihak yang terkait. Kemudian data
yang
diperoleh
dianalisis
dengan
menggunakan metode deskriptif kualitatif.28
25
J. Satrio,(2007), Hukum Jaminan Hak
Jaminan Kebendaan, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, hlm 198.
26
Ronny Hanitijo Soemitro, (1990),
Metodologi Penelitian Hukum dan Juritmetri,
Ghalia Indonesia, Jakarta, hlm. 10
27
Soerjono Soekanto, (1986), Pengantar
Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Pers,
Jakarta, hlm. 86.
28
Maria S.W. Sumardjono, (1989),
Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian, Fakultas
Hukum UGM, Yogyakarta, hlm. 24-25.
Hasil dan Pembahasan
Lembaga pembiayaan merupakan
lembaga keuangan bukan bank yang muncul
sebagai suatu bentuk penyediaan dana atau
barang modal kepada masyarakat, yang tidak
menarik
dana
secara
langsung
dari
masyarakat.
Perusahaan
pembiayaan
konsumen sebagai salah satu bentuk usaha
dari lembaga pembiayaan pada dasarnya tidak
menekankan pada aspek jaminan (collateral),
karena dalam pembiayaan konsumen barang
yang dibeli dijadikan sebagai jaminan dengan
pengikatan secara fidusia, tetapi karena
pembiayaan konsumen merupakan lembaga
bisnis, maka dalam kegiatannya tidak terlepas
dari unsur resiko.29
Menurut Perpres Nomor 9 Tahun 2009
Tentang Lembaga Pembiayaan, pembiayaan
konsumen
adalah
pembiayaan
untuk
pengadaan barang berdasarkan kebutuhan
konsumen dengan pembayaran secara
angsuran.30 Bila seseorang menginginkan
suatu barang untuk kebutuhan sehari-harinya,
akan tetapi pengahasilannya tidak mencukupi
untuk memenuhi kebutuhannya secara tunai
dan lunas, maka dapat menggunakan alternatif
pembiayaan melalui sistem pembiayaan
konsumen dengan tujuan untuk memberikan
kemudahan
melebihi
kemudahan
yang
31
diberikan oleh bank.
Pembiayaan konsumen merupakan
model pembiayaan yang dilakukan oleh
perusahaan finansial dalam bentuk pemberian
bantuan dana untuk pembelian produk-produk
tertentu. Bantuan dana diartikan sebagai
pemberian kredit yang bukan pemberian uang
secara tunai untuk pembelian suatu barang
dan nasabah hanya akan menerima barang
tersebut, pembiayaan konsumen ini di sale
credit, karena konsumen tidak menerima uang
tunai, tapi hanya menerima barang yang dibeli
dari kredit tersebut.32
29
Achmad Yusuf Sutarjo, Djuwityastuti,
(2018),Akibat Hukum Debitur Wanprestasi Pada
Perjanjian Pembiayaan Konsumen Dengan Obyek
Jaminan Fidusia Yang Disita Pihak Ketiga, Privat
Law, No. 1, Vol 6.
30
Perpres Nomor 9 Tahun 2009 Tentang
Lembaga Pembiayaan
31
Yanuar Kukuh Prabowo, op.cit, hlm.363
32
Munir Fuady, (2002), Hukum Tentang
Pembiayaan Konsumen, PT, Citra Aditya Bakti,
Bandung, hlm. 205.
Pembiayaan konsumen sebagai salah
satu bentuk bisnis pembiayaan bersumber dari
berbagai ketentuan hukum, baik perjanjian
maupun
undang-undang.33
Perjanjian
pembiayaan konsumen dibuat berdasarkan
asas kebebasan berkontrak sebagaimana
diatur dalam Pasal 1338 KUH Perdata yang di
dalamnya memuat rumusan kehendak berupa
hak
dan
kewajiban
dari
perusahaan
pembiayaan konsumen sebagai kreditur dan
konsumen sebagai debitur, jika dalam
pelaksanaannya
seorang
debitur
tidak
memenuhi kewajibannya sebagaimana yang
tertuang di dalam perjanjian, maka debitur
dianggap wanprestasi.34
Wanprestasi meliputi bentuk-bentuk
sebagai berikut : 35
1. Tidak melaksanakan prestasi sama
sekali;
2. Melaksanakan prestasi, tetapi tidak
sebagaimana mestinya;
3. Melaksanakan prestasi, tetapi tidak
tepat pada waktunya;
4. Melaksanakan
perbuatan
yang
dilarang dalam perjanjian
Pada pelaksanaan perjanjian pembiayaan
konsumen, pihak konsumen membayar harga
barang kepada perusahaan pembiayaan
konsumen secara angsuran sampai lunas.
Sebelum pembayara lunas, maka semua
dokumen kepemilikan atas barang dikuasai
oleh perusahaan pembiayaan konsumen
sebagai jaminan secara fidusia. Jika
konsumen melakukan wanprestasi dalam arti
tidak mampu atau lalai dalam membayar
angsuran yang menjadi kewajibannya, maka
perusahaan pembiayaan konsumen dapat
melakukan eksekusi terhadap benda yang
menjadi obyek jaminan fidusia untuk
menjualnya guna mengambil pelunasan
piutangnya dari hasil penjualan.36
Fidusia merupakan pengembangan dari
lembaga Gadai, oleh karena itu yang menjadi
objek jaminannya yaitu barang bergerak, baik
33
Abdulkadir Muhammad dan Rilda
Murniati, (2000), Segi Hukum Lembaga Keuangan
dan Pembiayaan, Citra Aditya Bakti, Bandung,
hlm. 214.
34
Yanuar Kukuh Prabowo, (2018),
Perjanjian Pembiayaan Konsumen Berdasarkan
Akta Di Bawah Tangan, Jurist-Diction, No. 1, Vol.
1, September 2018, hlm. 378.
35
Muhammad Syaifuddin, (2012), Hukum
Kontrak Memahami Kontrak dalam Perspektif
Filsafat, Teori, Dogmatik dan Praktik Hukum (Seri
Pengayaan Hukum Perikatan), Mandar Maju,
Bandung, hlm 338.
36
Achman Yusuf Sutarjo, op.cit, hlm. 94.
yang berwujud maupun yang tidak berwujud,
dan benda tidak bergerak khususnya
bangunan yang tidak dapat dibebani Hak
Tanggungan37.
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang
Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan
Fidusia menyebutkan bahwa Fidusia adalah
pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas
dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa
benda yang hak kepemilikannya dialihkan
tetap dalam penguasaan pemilik benda.
Pasal 1 angka 2 Undang-Undang
Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan
Fidusia menyebutkan bahwa:
Jaminan Fidusia adalah hak jaminan
atas benda bergerak baik yang berwujud
maupun yang tidak berwujud dan benda tidak
bergerak khususnya bangunan yang tidak
dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana
dimaksud dalam Undang-undang Nomor 4
Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang
tetap berada dalam penguasaan Pemberi
Fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang
tertentu, yang memberikan kedudukan yang
diutamakan
kepada
Penerima
Fidusia
terhadap kreditur lainnya.
Dari definisi Fidusia dan Jaminan
Fidusia yang diberikan tersebut jelas bahwa
Fidusia dibedakan dari Jaminan Fidusia.
Dimana Fidusia merupakan suatu “proses
pengalihan hak kepemilikan” dan Jaminan
Fidusia adalah “jaminan yang diberikan dalam
bentuk Fidusia”38.
Jaminan Fidusia itu sebagaimana
halnya pada gadai merupakan perjanjian yang
accesoir, merupakan perjanjian ikutan dari
suatu perjanjian pokok yang berupa perjanjian
pinjam meminjam uang (Pasal 4 UndangUndang Nomor 42 Tahun 1999 tentang
Jaminan Fidusia). Jadi adanya dan hapusnya
tergantung pada perjanjian pokok. Jaminan
Fidusia mempunyai sifat zaaksgevolg yakni
tetap mengikuti benda yang menjadi obyek
jaminan Fidusia dalam tangan siapapun benda
tersebut berada kecuali pengalihan atas benda
persediaan yang menjadi obyek jaminan
Fidusia (Pasal 20 Undang-Undang Nomor 42
Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia). Piutang
yang dijamin dengan Fidusia merupakan
piutang preferen yaitu lebih didahulukan
pemenuhannya dari piutang yang lain (Pasal
27 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999
37
Iswi Hariyani, (2010), Bebas Jeratan
Utang Piutang, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, hlm
87.
38
Henny Tanuwidjaja, (2012), Pranata
Hukum Jaminan Utang dan Sejarah Lembaga
Hukum Notariat, PT Refika Aditama, Bandung,
hlm 58.
tentang Jaminan Fidusia). Jaminan Fidusia
hanya berisi hak untuk pelunasan utang saja
dan tidak hak untuk memiliki bendanya. Setiap
janji yang memberi kewenangan kepada
penerima Fidusia untuk memiliki benda yang
menjadi obyek jaminan Fidusia apabila debitur
wanprestasi adalah batal demi hukum (Pasal
33 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999
tentang Jaminan Fidusia)39.
Debitur sebagai pemberi fidusia
berkewajiban memenuhi prestasi sesuai
dengan apa yang telah diperjanjikan dalam
perjanjian pembiayaan konsumen.
Pasal 11-15 Undang-Undang Jaminan
Fidusia menentukan bahwa objek jaminan
fidusia harus didaftarkan pada Kantor
Pendaftaran Fidusia dan Kantor Pendaftaran
Fidusia akan mengeluarkan Sertifikat Jaminan
Fidusia yang mencantumkan kata-kata “DEMI
KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN
YANG MAHA ESA” yang mempunyai kekuatan
eksekutorial sama dengan putusan pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum yang
tetap. Apabila debitur cidera janji atau
wanprestasi, maka penerima fidusia berhak
menjual benda yang menjadi objek jaminan
fidusia atas kekuasaannya sendiri.
Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang
Jaminan Fidusia menyebutkan bahwa apabila
debitur atau pemberi fidusia cidera janji,
eksekusi terhadap benda yang menjadi obyek
jaminan fidusia dapat dilakukan dengan cara :
a. Pelaksanaan titel eksekutorial
sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 15 ayat (2) oleh penerima
fidusia;
b. Penjualan benda yang menjadi
yang menjadi obyek jaminan
fidusia atas kekuasaan penerima
fidusia sendiri melalui pelelangan
umum serta mengambil pelunasan
piutangnya dari hasil penjualan;
c. Penjualan di bawah tangan yang
dilakukan
berdasarkan
kesepakatan
pemberi
dan
penerima fidusia jika dengan cara
demikian dapat diperoleh harga
tertinggi yang menguntungkan
para pihak.
Sertifikat fidusia dengan irah-irah
seperti tersebut di atas merupakan simbol
bahwa suatu dokumen memiliki kekuatan
untuk dilaksanakan secara paksa oleh
kekuatan aparatur Negara dan memberikan
wewenang kepada pemegangnya untuk
melakukan upaya pelunasan secara paksa,
baik dengan bantuan pengadilan maupun
39
Komariah, (2005), Hukum Perdata,
UMM Press, Malang, Cetakan Keempat, hlm 123.
lembaga kepolisian sesuai dengan Peraturan
Kepala Kepolisian (Perkap) Nomor 8 Tahun
2011 Tentang Pengamanan Eksekusi Jaminan
Fidusia dengan cara melakukan pelelangan
atas barang jaminan. Hal ini sesuai dengan
Penjelasan Pasal 30 Undang-Undang Jaminan
Fidusia.40 Perkap Nomor 8 Tahun 2011
dikeluarkan dengan tujuan terselenggaranya
pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia secara
aman,
tertib,
lancar
dan
dapat
dipertanggungjawabkan
juga
melindungi
keselamatan dan keamanan debitur dari
perbuatan yang menimbulkan kerugian harta
benda atau keselamatan jiwa.41
Pengajuan
permohonan
eksekusi
dapat dilakukan oleh perusahaan pembiayaan
konsumen yang telah memegang Serifikat
Jaminan Fidusia, dengan kata lain yang telah
mendaftarkan jaminan fidusia kepada Kantor
Pendaftaran Fidusia.
Dalam perjanjian yang dibuat oleh
para pihak, hak eksekutorial tidak akan lahir
dan tidak dapat dilaksanakan bila dalam
proses pembuatannya tidak sesuai dengan
Pasal 5 dan Pasal 11 Undang-Undang
Jaminan Fidusia, karena hak eksekutorial lahir
setelah terbitnya Sertifikat Jaminan Fidusia.
Sertifikat tersebut tidak akan diterbitkan jika
penerima fidusia tidak mendaftarkan objek
jaminan fidusia, sehingga bila hanya dibuat
dengan perjanjian di bawah tangan oleh para
pihak, maka hak eksekutorial tidak akan lahir
dan kreditur tidak berhak melaksanakan
eksekusinya sebagaimana diatur dalam Pasal
29 Undang-Undang Jaminan Fidusia.42 Jika
kreditur tetap melaksanakan eksekusi riil
terhadap objek jaminan fidusia dan kreditur
tidak memegang Sertifikat Jaminan Fidusia,
maka kreditur telah melanggar Pasal 3
Peraturan
Menteri
Keuangan
Nomor
130/PMK.010/2012
Tentang
Pendaftaran
Jaminan
Fidusia
Bagi
Perusahaan
Pembiayaan Yang Melakukan Pembiayaan
Konsumen Untuk
Kendaraan
Bermotor
Dengan Pembebanan Jaminan Jaminan
Fidusia yang menyatakan bahwa perusahaan
pembiayaan konsumen dilarang melakukan
penarikan benda jaminan fidusia berupa
kendaraan
bermotor
apabila
Kantor
Pendaftaran Fidusia belum menerbitkan
40
Henry Donald Lbn. Toruan, (2018),
Problematik Implementasi Pembiayaan Dengan
Perjanjian Jaminan Fidusia (The Problems of
Financing with Agreement of Fiduciary Transfer of
Security), Jurnal Penelitian HUkum DE JURE,
Vol. 18 No. 2 Juni 2018, hlm. 199.
41
Yanuar Kukuh Prabowo, op.cit, hlm
368.
42
Ibid, hlm. 370
sertifikat jaminan fidusia dan menyerahkan
kepada
perusahaan
pembiayaan
dan
perbuatannya termasuk dalam katagori tindak
pidana perampasan sebagaimana diatur
dalam Pasal 368 Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana.43
Demikian pula jika debitur sudah
melaksanakan sebagian kewajiban
dari
perjanjian yang dilakukan, maka dapat
dikatakan bahwa di atas barang tersebut
sudah ada sebagian hak milik debitur dan
sebagian milik kreditur. Apalagi eksekusi
tersebut tidak melalui badan penilai harga
yang resmi atau badan pelelangan umum,
sehingga
tindakan
tersebut
dapat
dikategorikan sebagai perbuatan melawan
hukum yang diatur dalam Pasal 1365 Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata dan dapat
digugat ganti kerugian.
Apabila benda jaminan dibebankan
fidusia dengan akta di bawah tanga, maka
kreditur penerima fidusia merupakan kreditur
biasa atau biasa disebut kreditur konkuren,
sehingga jika debitur wanprestasi, maka
kreditur tersebut harus membuktikan dulu
bahwa telah terjadi perjanjian utang piutang
(pengakuan hutang), perjanjian jaminan fidusia
dengan akta di bawah tangan tidak dapat
menjadi dasar menuntut hak preferentnya.44
Dengan demikian kreditur hanya mendapat
perlindungan
hukum
secara
umum
sebagaimana diatur dalam Pasal 1131 Kitab
Undang-Undang
Hukum
Perdata
yang
menyatakan bahwa segala kebendaan si
berhutang, baik yang bergerak maupun yang
tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun
yang baru aka nada di kemudian hari menjadi
tanggungan
untuk
segala
perikatan
perseorangan.
Dengan
demikian,
perjanjian
pembiayaan konsumen dengan jaminan
fidusia yang tidak terdaftar jika terjadi
wanprestasi oleh debitur menimbulkan akibat
hukum yang merugikan kedua belah pihak,
terutama pihak kreditur sebagai penerima
fidusia.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa akibat hukum debitur
wanprestasi pada perjanjian pembiayaan
konsumen dengan jaminan fidusia yang tidak
43
Ibid, hlm 375
Muhammad Moerdiono Muhtar, (2013),
Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Pada Perjanjian
Fidusia Dalam Praktek, Lex Privatum,
Vol.I/No.2/Apr-Jun/2013, hlm. 15.
44
terdaftar adalah bahwa kreditur tidak
mempunyai hak eksekusi terhadap jaminan
fidusia, debitur dilindungi dengan ketentuan
Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan Republik
Indonesia Nomor 130/PMK.010/2012. Jika
kreditur mengambil jaminan fidusia secara
paksa, maka dapat dilaporkan ke pihak
kepolisian atas tindak pidana perampasan
yang diancam dengan Pasal 368 KUHP, juga
termasuk katagori perbuatan melawan hukum
sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUH
Perdata. Kreditur tidak mempunyai hak
mendahului, sehingga kedudukannya sebagai
kreditur konkuren dan perlindungan hukum
bagi kreditur hanya berupa jaminan umum
Pasal 1131 KUH Perdata. Oleh karena itu,
jaminan fidusia harus selalu didaftarkan dan
masih perlu sosialisasi tentang UndangUndang Jaminan Fidusia.
Ucapan Terimakasih
Penelitian ini didanai oleh Kementrian
Ristek, Teknologi dan Pendidikan Tinggi
Republik Indonesia.
Daftar Pustaka
Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati,
(2000), Segi Hukum Lembaga Keuangan dan
Pembiayaan, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Achmad Yusuf Sutarjo, Djuwityastuti, (2018),
Akibat Hukum Debitur Wanprestasi Pada
Perjanjian Pembiayaan Konsumen Dengan
Obyek Jaminan Fidusia Yang Disita Pihak
Ketiga, Privat Law, No. 1, Vol 6.
Komariah, Hukum Perdata, (2005), UMM
Press, Malang, Cetakan Keempat.
Maria S.W. Sumardjono, (1989), Pedoman
Pembuatan Usulan Penelitian, Fakultas
Hukum UGM, Yogyakarta.
Muhammad Chidir, (1993), Badan Hukum,
Alumni, Bandung.
Muhammad Syaifuddin, (2012), Hukum
Kontrak Memahami Kontrak dalam Perspektif
Filsafat, Teori, Dogmatik dan Praktik Hukum
(Seri Pengayaan Hukum Perikatan), Mandar
Maju, Bandung.
Muhammad Moerdiono Muhtar, (2013),
Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Pada
Perjanjian Fidusia Dalam Praktek, Lex
Privatum, Vol.I/No.2/Apr-Jun/2013.
Munir Fuady, (2002), Hukum Tentang
Pembiayaan Konsumen, PT, Citra Aditya
Bakti, Bandung.
Ronny Hanitijo Soemitro, (1999), Metodologi
Penelitian Hukum dan Juritmetri, Ghalia
Indonesia, Jakarta.
Soerjono Soekanto, (1986), Pengantar
Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Pers,
Jakarta.
Yanuar Kukuh Prabowo, (2018), Perjanjian
Pembiayaan Konsumen Berdasarkan Akta Di
Bawah Tangan, Jurist-Diction, No. 1, Vol. 1,
September 2018.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Henny Tanuwidjaja, (2012), Pranata Hukum
Jaminan Utang dan Sejarah Lembaga Hukum
Notariat, PT Refika Aditama, Bandung.
Henry Donald Lbn. Toruan, (2018),
Problematik Implementasi Pembiayaan
Dengan Perjanjian Jaminan Fidusia (The
Problems of Financing with Agreement of
Fiduciary Transfer of Security), Jurnal
Penelitian HUkum DE JURE, Vol. 18 No. 2
Iswi Hariyani, (2010), Bebas Jeratan Utang
Piutang, Pustaka Yustisia, Yogyakarta.
J. Satrio, (2007), Hukum Jaminan Hak
Jaminan Kebendaan, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung.
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999
Tentang Jaminan Fidusia
Perpres Nomor 9 Tahun 2009 Tentang
Lembaga Pembiayaan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
130/PMK.010/2012 Tentang Pendaftaran
Jaminan Fidusia
Peraturan Kepala Kepolisian (Perkap) Nomor
8 Tahun 2011 Tentang Pengamanan Eksekusi
Jaminan Fidusia
Pengaruh Jabatan dan Masa Kerja Crew Kapal terhadap Efektivitas
Implementasi Observation Card di PT. Alfa Trans Raya (ATR)
Rahmi Anggraini 1, Nining Latianingsih 2, Azwar 3
1 2 3 Politeknik
Negeri Jakarta – Administrasi Niaga, [email protected]
ABSTRACT
The result of this research aim to analyze influence simultaneously and partial between position
variable and working period variable of ship crew on the effectiveness implementation of observation
card at PT. Alfa Trans Raya (ATR). The research method used in this research was quantitave
research method. The collecting data method used primare and secondary. While the data analysis
method used multiple linear regression including T test, F test and Determination Coefficient test (R 2).
The selection sample used probability sampling technique and saturated sampling which amounted to
30 respondents. The result of testing of partial position variable influence significant to effectiveness
implementation of observation card variable as evidenced by t count (3,329) > ttable (2,052) and the value
significance 0,002 < 0,05. The result of working period variable influence to effectiveness
implementation of observation card variable as evidenced by t count (2,313) > ttable (2,052) and the value
significance 0,038 < 0,05. The result of testing simultaneously position variable and working period
variable has a significant influence on the employee performance as evidenced by F count > Ftable
(66,007 > 3,35) and the results of simultaneously test with value significance t<α 0,000 < 0,05.
Keyword: Position, Working Period, Effectiveness Implementation of Observation Card
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh secara simultan dan parsial antara variabel
jabatan dan masa kerja crew kapal terhadap efektivitas implementasi observation card di PT Alfa
Trans Raya (ATR). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan data primer dan sekunder. Sedangkan metode analisis
data menggunakan teknik analisis regresi linear berganda yang mencakup uji T, uji F dan uji Koefisien
Determinasi (R2). Pemilihan sampel menggunakan teknik nonprobability sampling dengan metode
sampel jenuh sebanyak 30 responden. Hasil pengujian secara parsial variabel jabatan berpengaruh
signifikansi terhadap variabel efektivitas implementasi observation card yang dibuktikan dengan
diperolehnya thitung (3,329) > ttabel (2,052) dan tingkat signifikansi 0,002 < 0,05. Hasil pengujian secara
parsial variabel masa kerja berpengaruh signifikansi terhadap variabel efektivitas implementasi
observation card yang dibuktikan dengan diperolehnya thitung (2,313) > ttabel (2,052) dan tingkat
signifikansi 0,038 < 0,05. Hasil pengujian secara simultan variabel jabatan dan masa kerja mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap variabel efektivitas implementasi observation card yang dibuktikan
berdasarkan hasil uji simultan dengan diperolehnya Fhitung > Ftabel (66,007 > 3,35) dan tingkat
signifikansinya 0,000 < 0,05.
Kata Kunci: Jabatan, Masa Kerja, Efektivitas Observation Card.
PENDAHULUAN
Keselamatan
dan
kesehatan
kerja
merupakan hak fundamental yang dimiliki oleh
setiap manusia tanpa terkecuali. Pemahaman
dan pelaksanaan K3 di perusahaan sangat
diperlukan terutama dalam penerapan budaya
K3
dikalangan
pekerja.
Sebagaimana
tercantum dalam UU No.1 tahun 1970
mengenai K3 yang berkaitan dengan
perlindungan
tenaga
kerja
terhadap
kecelakaan kerja, bahaya akibat kerja dan
resiko
penyakit
akibat
kerja.
Untuk
meminimalisasi
kemungkinan
terjadinya
kecelakaan kerja, diperlukan pemahaman dan
pelaksanaan K3 secara baik dan benar.
Kecelakaan kerja merupakan permasalahan
yang kerap dialami oleh tenaga kerja baik
karena kelalaian (human error) maupun kondisi
pekerjaan yang tidak aman (unsafe condition).
Pada tahun 2018, ILO (International Labour
Organization)
dalam
peringatan
Bulan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
menerangkan bahwa lebih dari 1,8 juta
kematian akibat kecelakaan kerja terjadi setiap
tahunnya dikawasan Asia dan Pasifik. Dua
pertiga kematian akibat kecelakaan kerja
didunia terjadi di Asia. Di tingkat global lebih
dari 2,78 juta orang meninggal setiap tahun
akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja.
Latar belakang
Resiko kecelakaan kerja dapat pula terjadi di
Industri Pelayaran, mengingat tingkat kesulitan
dan bahaya kerja yang tinggi membuat
tindakan tidak aman (unsafe action) maupun
kondisi tidak aman (unsafe condition) rentan
terjadi. Hal ini diperkuat oleh laporan dari
Komite Nasional Keselamatan Transportasi
Republik
Indonesia
(KNKT-RI,
2018:2)
mengenai kasus terbaliknya Kapal Anugrah
Express (GT 6 No.028 KLU-3) diperairan
Sungai Kayan, Kalimantan Utara tahun 2018
yang disebabkan oleh tubrukan kapal dengan
kayu berukuran ± 2 m.
Kejadian kecelakaan dikapal dapat dikontrol
melalui berbagai cara pendekatan budaya
keselamatan dan kesehatan kerja. Salah satu
cara untuk mengembangkan perilaku selamat
pada pekerja adalah dengan menerapkan
Safety and Hazard Observation Card (SHOC).
SHOC atau yang biasa disebut observation
card merupakan kartu keselamatan yang
berguna untuk mengobservasi tindakan aman
atau tidak aman yang dilakukan pekerja. Hal ini
digunakan
untuk
membangun
budaya
keselamatan dan kesehatan kerja. Beberapa
perusahaan atau lembaga di Indonesia telah
menerapkan observation card, salah satunya
yaitu kapal Alfa Trans Raya (ATR).
Berdasarkan
survei
pendahuluan
yang
dilakukan oleh peneliti dalam penerapan
observation card dikapal ATR belum dapat
dikatakan efektif, pasalnya sering ditemukan
beberapa kendala penerapan observation
card, seperti: kurangnya pemahaman dan
kesadaran
crew
terhadap
pentingnya
pengisian observation card, keakuratan isi
laporan observation card terhadap kejadian
yang terjadi dikapal serta kendala lainnya.
Menurut Suryatno (2015:55) hal tersebut
berkaitan dengan proses pembentukan dan
perubahan perilaku manusia, adapun faktorfaktor yang berpengaruh diantaranya faktor
jabatan, lama kerja, pendidikan, umur, sikap,
reward and punishment, safety promotions dan
standard operating procedure (SOP).
Faktor jabatan merupakan faktor utama
seseorang mengerjakan suatu tugas atau
pekerjaan yang dibebankan kepadanya,
karena dalam pemilihan jabatan perusahaan
mengukur berdasarkan kemampuan karyawan,
pendidikan, umur dan sikap karyawan tersebut.
Sedangkan
dalam
faktor
masa
kerja
merupakan faktor yang berbanding lurus
dengan pengalaman yang dimiliki seorang
karyawan, karena semakin lama masa kerja
seseorang maka semakin ia berpengalaman
terhadap pekerjaan atau bidang yang ia tekuni.
Hal ini diperkuat oleh penelitian menurut
Hermanto (2012.56) bahwa masa kerja
memberikan pengalaman kerja, pengetahuan
dan keterampilan kerja seorang karyawan.
Berdasarkan alasan tersebut, peneliti memilih
faktor jabatan dan masa kerja sebagai variabel
yang akan diteliti, mengingat faktor – faktor
lainnya dapat diwakilkan oleh kedua faktor
tersebut dan pada kapal ATR tidak tersedia
penerapan faktor reward atau punishment dan
safety promotions.
Menurut laporan dari divisi HSE, sampai saat
ini belum ada analisa ilmiah yang dilakukan
oleh divisi HSE terkait tentang faktor jabatan
dan masa kerja terhadap permasalahan
efektivitas implementasi observation card
dikapal ATR. Melihat permasalahan yang
terjadi dalam penerapan observation card
sehingga
mempengaruhi
efektivitasnya
sebagai alat ukur penerapan K3 dikapal,
penulis tertarik untuk mengambil judul
penelitian “Pengaruh Jabatan dan Masa
Kerja Crew Kapal Terhadap Efektivitas
Implementasi AOC di PT. Alfa Trans Raya
(ATR)”.
Tujuan
a. Menganalisis dan menguji pengaruh
jabatan crew kapal terhadap efektivitas
implementasi observation card.
b. Menganalisis dan menguji pengaruh
lama masa kerja crew kapal terhadap
efektivitas implementasi observation
card.
c. Menganalisis dan menguji pengaruh
jabatan dan masa kerja crew kapal
terhadap
efektivitas
implementasi
observation card.
Permasalahan
a. Bagaimana pengaruh jabatan crew
kapal
terhadap
efektivitas
implementasi observation card?
b. Bagaimana pengaruh lama masa kerja
crew kapal terhadap
efektivitas
implementasi observation card?
c. Seberapa besar pengaruh jabatan dan
masa kerja crew kapal terhadap
efektivitas implementasi observation
card?
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dilantai 2 Gedung Tiara
Marga Trakindo (TMT), Cilandak, Jakarta
Selatan. Pemilihan lokasi penelitian tersebut
mempertimbangan
kemudahan
akses
berkomunikasi dengan crew kapal Alfa Trans
Raya. Hal ini selaras dengan objek penelitian
yang diambil peneliti yaitu seluruh crew kapal
ATR. Penelitian ini dilaksanakan pada
semester VIII tepatnya pada bulan Maret 2019
hingga Juli 2019. Pendekatan dalam penelitian
ini menggunakan penelitian kuantitatif. Didapat
sampеl sebanyak 30 crew kapal ATR dengan
mengunakan teknik sampling jenuh dan
pеngumpulan data mеnggunakan kuеsionеr
yang dianalisis dengan analisis rеgrеsi liniеr
berganda. Pengolahan data dalam penelitian
ini dilakukan dengan menggunakan software
SPSS 22 for windows.
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Temuan
Untuk melakukan uji hipotesis dan regresi,
data yang dimiliki harus valid dan reliabel
untuk digunakan dalam mencari pengaruh
antar variabelnya.
Tabel 4.1
Hasil Pre-test Uji Validitas Variabel Jabatan (X1)
Varia
bel
R
Indikator
No.
hitun
g
R
Ketera
tabel
ngan
1
0,870
0,306
Valid
2
0,834
0,306
Valid
3
0,920
0,306
Valid
4
0,676
0,306
Valid
5
0,406
0,306
Valid
6
0,837
0,306
Valid
7
0,788
0,306
Valid
8
0,449
0,306
Valid
9
0,734
0,306
Valid
10
0,762
0,306
Valid
11
0,888
0,306
Valid
Pengalaman
12
0,854
0,306
Valid
atau
13
0,796
0,306
Valid
Pengetahuan
14
0,824
0,306
Valid
15
0,884
0,306
Valid
Tugas atau
Wewenang
Jabat
Tanggungja
an
wab
Sumber : Data diolah, 2019
Tabel 4.2
Hasil Pre-test Uji Validitas Variabel Masa Kerja (X2)
Vari
abel
R
Indikator
hitun
g
Lama
Kerja
Percoba
an
Mas
a
Kerja
No.
Lama
Bergabu
ng di
ATR
Lama
R
tabel
Keter
anga
n
16
0,535
0,306
Valid
17
0,722
0,306
Valid
18
0,675
0,306
Valid
19
0,765
0,306
Valid
20
0,860
0,306
Valid
21
0,877
0,306
Valid
22
0,894
0,306
Valid
23
0,837
0,306
Valid
24
0,898
0,306
Valid
25
0,874
0,306
Valid
26
0,870
0,306
Valid
Bekerja
pada
Posisi
Saat Ini
27
0,804
0,306
Valid
28
0,940
0,306
Valid
29
0,806
0,306
Valid
30
0,884
0,306
Valid
Sumber : Data diolah, 2019
Tabel 4.3
Hasil Pre-test Uji Validitas Variabel Efektivitas
Implementasi Observation Card (Y)
Varia
bel
Indikator
No
.
R
hitun
g
R
tabel
Keter
anga
n
Ketepata
31
0,823
0,306
Valid
n
32
0,569
0,306
Valid
Sasaran
33
0,644
0,306
Valid
Observat
34
0,806
0,306
Valid
ion Card
35
0,810
0,306
Valid
36
0,861
0,306
Valid
37
0,797
0,306
Valid
38
0,853
0,306
Valid
39
0,654
0,306
Valid
Imple
40
0,859
0,306
Valid
ment
41
0,871
0,306
Valid
Sosialisa
si
Efekti
vitas
Observat
ion Card
asi
Tujuan
42
0,525
0,306
Valid
AOC
Observat
43
0,823
0,306
Valid
ion Card
44
0,813
0,306
Valid
45
0,499
0,306
Valid
46
0,772
0,306
Valid
47
0,775
0,306
Valid
48
0,772
0,306
Valid
49
0,890
0,306
Valid
50
0,747
0,306
Valid
Pemanta
uan
Observat
berarti nilai tersebut termasuk dalam kategori
tinggi dan dapat diterima untuk dilanjutkan
pada penelitian lapangan.
Tabel 4.5
Hasil Pre-test Uji Reablilitas Variabel Masa Kerja
(X2)
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
Based on
Cronbach's Standardiz
Alpha
ed Items
.757
.769
N of
Items
14
Sumber: Data diolah, 2019
Untuk tabel 4.5 uji reliabilitas variabel X2
dilakukan dengan rumus Croanbach’s Alpha.
Hasil perhitungan alpha sebesar 0,757 yang
berarti nilai tersebut termasuk dalam kategori
tinggi dan dapat diterima untuk dilanjutkan
pada penelitian lapangan.
Tabel 4.6
Hasil Pre-test Uji Reablilitas Variabel Efektivitas
Implementasi Observation Card (Y)
Reliability Statistics
Cronbach'
s Alpha
Based on
Cronbach' Standardiz
s Alpha
ed Items
.795
.834
N of
Items
18
Sumber: Data diolah, 2019
Untuk tabel 4.6 uji reliabilitas item soal Y
dilakukan dengan rumus Croanbach’s Alpha.
Sumber : Data diolah, 2019
Hasil perhitungan alpha sebesar 0,795 yang
berarti nilai tersebut termasuk dalam kategori
Tabel 4.4
sangat tinggi dan dapat diterima untuk
Hasil Pre-test Uji Reablilitas Variabel Jabatan (X1) dilanjutkan pada penelitian lapangan.
Reliability Statistics
Tabel 4.10
Cronbach's
Uji Normalitas One-Sample KolmogorovAlpha
Smirnov Test
Based on
One-Sample Kolmogorov-Smirnov
Cronbach's Standardize
N of
Test
Alpha
d Items
Items
Unstanda
ion Card
.754
.758
13
rdized
Residual
Sumber: Data diolah, 2019
Untuk tabel 4.4 uji reliabilitas variabel X1
dilakukan dengan rumus Croanbach’s Alpha.
Hasil perhitungan alpha sebesar 0,754 yang
N
Normal
Parametersa,b
Mean
Std.
Deviation
30
.0000000
5.090546
49
Most Extreme
Differences
Absolute
Positive
Negative
Test Statistic
Asymp. Sig. (2-tailed)
.123
.123
-.077
.123
.200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true
significance.
Sumber : Data diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.10 hasil pengujian
normalitas berdasarkan Kolmogorov Smirnov
menunjukkan hasil siginifikansi (Sig) sebesar
0,200 (lebih besar dari a = 0,05) maka data
tersebut sudah berdistribusi normal.
Stand
ardize
Unstandardiz
d
ed
Coeffi
Coefficients cients
Model
1
B
Std.
Error
Beta
(Con
8.823 4.220
stant)
Collinearit
y
Statistics
T
Toler
Sig. ance VIF
2.09
.046
1
Jabat
an
.687
.206
.554
3.32
4.40
.003 .227
9
5
Masa
Kerja
.470
.203
.385
2.31
4.40
.029 .227
3
5
a. Dependent Variable: Efektivitas Observation Card
Sumber : Data diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.11 hasil pengujian
multikolinieritas menunjukkan nilai VIF masingmasing variabel bebas lebih kecil dari 10 dan
nilai tolerance diatas 0,1. Hal ini berarti
variabel-variabel bebas dalam penelitian ini
tidak menunjukkan gejala multikolinieritas
dalam model regresi.
Gambar 4.5
Grafik Histogram
Sumber : Data diolah, 2019
Gambar 4.7
Grafik Scatter-plots
Sumber : Data diolah, 2019
Gambar 4.6
Uji Normalitas Probability Plot
Sumber : data diolah,2019
Tabel 4.11
Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficientsa
Berdasarkan gambar 4.7 hasil pengujian
heterokedastisitas
menggunakan
grafik
scatter-plots titik-titik menyebar dibawah
ataupun diatas titik origin (angka 0) pada
sumbu Y. Hal ini berarti bahwa variabelvariabel dalam penelitian tidak terjadi
heterokedastisitas. Sehingga model regresi
layak dipakai untuk memprediksi efektivitas
observation card berdasarkan masukan
variabel jabatan dan masa kerja crew kapal
ATR.
Tabel 4.12
Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Stand
ardize
Unstandardi
d
zed
Coeffi
Coefficients cients
Model
1
B
Std.
Error
Model
Beta
(Con
8.823 4.220
stant)
Jabat
an
Masa
Kerja
.687
.470
Standar
dized
Unstandardized Coeffici
Coefficients
ents
T
Sig.
1
2.09
.046
1
.206
3.32
.554
.003
9
.203
2.31
.385
.029
3
B
Std.
Error
Beta
T
Sig.
(Const
ant)
8.823
4.220
2.09
.046
1
Jabata
n
.687
.206
.554
3.32
.003
9
Masa
Kerja
.470
.203
.385
2.31
.029
3
a. Dependent Variable: Efektivitas Observation
a. Dependent Variable: Efektivitas
Card
Observation Card
Sumber : Data diolah, 2019
Sumber : Data diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.15 dapat disimpulkan
sebagai berikut:
Model persamaan regresi yang dapat
1. Variabel Jabatan (X1) memiliki nilai thitung
dituliskan dari hasil tabel 4.8 tersebut dalam
(3,329) > ttabel (2,052) dan tingkat
bentuk persamaan regresi sebagai berikut:
signifikansi 0,003 < 0,05, maka H1
Y = 8.823 + 0,687 X1 + 0,470 X2
diterima.
Oleh
karena
itu,
dapat
Tabel 4.13
disimpulkan bahwa secara parsial terdapat
Koefisien Determinasi
pengaruh yang signifikan dari Jabatan (X 1)
Model Summary
terhadap Efektivitas Observation Card (Y).
Std. Error 2. Variabel Masa Kerja (X2) memiliki nilai
thitung (2,313) > ttabel (2,052) dan tingkat
Mod
R
Adjusted
of the
signifikansi 0,029 < 0,05, maka H2
el
R
Square R Square Estimate
diterima.
Oleh
karena
itu,
dapat
a
1
.911
.830
.818
5.27572
disimpulkan bahwa secara parsial terdapat
a. Predictors: (Constant), Masa Kerja, Jabatan
pengaruh yang signifikan dari Masa Kerja
(X2) terhadap Efektivitas Observation Card
Sumber : Data diolah, 2019
(Y).
KD
=
x 100%
=
x 100%
Tabel 4.16
Hasil Analisis Signifikansi F
ANOVAa
= 83,0%
Tabel 4.14
Hasil Korelasi Secara Parsial
Model
1
Sum of
Square
s
Regre 3674.37
ssion
0
Residu
751.496
al
Total
Sumber : Data diolah, 2019
Tabel 4.15
Hasil Analisis Signifikansi T
Coefficientsa
4425.86
7
Mean
Square
Df
2
F
Sig.
1837.1 66.0
.000b
85
07
27 27.833
29
a. Dependent Variable: Efektivitas Observation
Card
b. Predictors: (Constant), Masa Kerja, Jabatan
Sumber : Data diolah, 2019
Pada Tabel Uji F dapat dilihat bahwa F hitung
sebesar 66.007 dengan tingkat signifikansi
0,000. Oleh karena itu, kedua perhitungan,
yaitu Fhitung > Ftabel (66,007 > 3,35) dan tingkat
signifikansinya 0,000 < 0,05, menunjukkan
bahwa
H3
diterima,
artinya
Variabel
Independen yang terdiri dari Jabatan dan Masa
Kerja secara bersama-sama memiliki pengaruh
yang
signifikan
terhadap
Efektivitas
Observation Card.
c.
Pembahasan
Secara umum hasil dari penelitian ini baik.
Hasil tanggapan responden menunjukkan
bahwa sebagian besar berpendapat setuju
terhadap variabel-variabel yang digunakan
dalam penelitian ini. Oleh karena itu, untuk
meneliti permasalahan mengenai faktor
penyebab efektivitas observation card dinilai
kurang baik oleh pihak manajemen ATR,
peneliti menganalisis
berdasarkan
item
pernyataan
dari
deskripsi
tanggapan
responden. Terdapat 3 item penyataan yang
memiliki persentase terkecil dari masing –
masing variabel, yaitu pernyataan nomor 8, 16
dan 32, berikut merupakan pembahasannya :
a. Pernyataan nomor 8 dari indikator
tanggung jawab pada variabel jabatan
memiliki bobot terkecil dari 14 pernyataan
lainnya, yaitu sebesar 53% dengan bunyi
pernyataan “Keselamatan diarea kerja
bukan
menjadi
tanggung
jawab
Nakhoda saja”, sebanyak 9 crew kapal
menyatakan setuju sedangkan 21 orang
lainnya tidak setuju. Hal ini membuktikan
bahwa sebagian besar crew kapal masih
beranggapan bahwa usaha keselamatan
kerja (observation card) sepenuhnya
tanggung jawab Nakhoda, artinya kurang
kesadaran dan pencerdasan crew kapal
mengenai penerapan observation card
dapat efektif jika semua crew ikut
berpartisipasi. Perlu adanya familiarisasi
atau pelatihan mengenai pencerdasan
observation card secara berkala.
b. Pernyataan nomor 16 dari indikator lama
kerja pada variabel masa kerja memiliki
bobot terkecil dari 14 pernyataan lainnya,
yaitu sebesar 58% dengan bunyi
pernyataan “Sebelum saya menempati
jabatan saya saat ini, saya harus
mempunyai pengalaman menjadi cadet
terlebih dahulu”, sebanyak 11 crew kapal
setuju sedangkan 19 crew lainnya tidak
setuju. Hal ini membuktikan bahwa
sebagian besar crew kapal belum
mempunyai pengalaman menjadi cadet
terlebih dahulu sebelum bekerja di ATR,
hal
tersebut
berpengaruh
terhadap
pengetahuan mengenai budaya K3 salah
satunya penerapan observation card yang
baik dan benar. Diperlukan masa
percobaan (cadet) untuk crew kapal baru.
Pernyataan nomor 32 dari indikator
ketepatan
sasaran
pada
variabel
efektivitas implementasi observation card
memiliki bobot terkecil dari 19 pernyataan
lainnya, yaitu sebesar 59% dengan bunyi
pernyataan “Bila crew melakukan
perilaku tidak aman perlu diberikan
teguran/punishment”, sebanyak 12 crew
kapal setuju sedangkan 18 crew lainnya
tidak setuju. Hal ini membuktikan bahwa
rendahnya tingkat punishment atau
hukuman memberikan peluang crew kapal
untuk tidak mengikuti SOP yang ada,
termasuk menerapkan observation card
dengan benar. Perlu adanya peraturan
yang tegas mengenai punishment atau
hukuman jika crew tidak mentaati
peraturan kapal.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil
penelitian
mengenai
pengaruh jabatan dan masa kerja crew kapal
terhadap efektivitas implementasi observation
card (Studi di kapal Alfa Trans Raya), maka
terdapat kesimpulan sebagai berikut:
a. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kedua variabel yaitu jabatan (X1) dan
masa kerja (X2) secara bersama-sama
memiliki pengaruh terhadap efektivitas
implementasi
observation
card.
Berdasarkan hasil analisis, faktor jabatan
dan masa kerja memiliki pengaruh besar
terhadap
efektivitas
implementasi
observation card yang dibuktikan dengan
hasil persentase sebesar 83%. Oleh
karena itu hipotesis ketiga (H3) dalam
penelitian ini diterima. Hal tersebut
memperlihatkan bahwa ada faktor lain
yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini,
yaitu sebesar 17% presentase yang
dipengaruhi oleh variabel lain.
b. Berdasarkan uji korelasi parsial, ditemukan
terdapat hubungan antara jabatan dan
masa kerja setelah dimasukkan variabel
kontrol yaitu sebesar positif 0,457 dengan
nilai signifikansi 0,013 < 0,05 artinya
adanya hubungan kuat antara jabatan dan
masa kerja setelah dimasukkannya
variabel kontrol (signifikansi nyata).
c. Berdasarkan uji signifikansi t, dapat
disimpulkan bahwa secara parsial terdapat
pengaruh yang signifikan dari jabatan (X1)
terhadap efektivitas observation card (Y)
yaitu nilai thitung (3,329) > ttabel (2,052) dan
tingkat signifikansi 0,003 < 0,05 maka H1
diterima. Sedangkan pada masa kerja (X 2)
memiliki nilai thitung (2,313) > ttabel (2,052)
dan tingkat signifikansi 0,029 < 0,05, maka
H2 diterima.
d. Berdasarkan uji signifikansi f, dapat
disimpulkan bahwa variabel jabatan dan
masa kerja secara bersama-sama memiliki
pengaruh
yang
signifikan
terhadap
efektivitas observation card. Fhitung > Ftabel
(66,007 > 3,35) dan tingkat signifikansinya
0,000 < 0,05, menunjukkan bahwa H3
diterima.
SARAN
a. PT Alfa Trans Raya agar lebih
meningkatkan efektivitas implementasi
observation card diatas kapal yang sudah
dinyatakan baik menurut tanggapan crew
kapal sehingga ke depannya dapat
memperbaiki penanganan dari hasil
observation card agar dapat menjadi
sangat baik. Peningkatan tersebut bisa
dilakukan dengan cara mengganti system
manual penanganan observation card
menjadi
system
elektronik
dengan
memanfaatkan teknologi yang ada, seperti
aplikasi khusus observation card sehingga
hasilnya dapat diketahui dengan cepat (up
to date) tanpa menunggu terlebih dahulu
pengiriman laporan bulanan kapal. Hal
tersebut membantu mempercepat evaluasi
dari pihak managemen perusahaan.
b. PT Alfa Trans Raya agar tetap
mempertahankan faktor jabatan atau
kualitas seorang Nakhoda kapal untuk
membantu mendisiplinkan observation
card agar lebih efektif lagi. Salah satu
caranya yaitu dengan mengefektifkan
komunikasi dengan para crew kapal
terutama Nakhoda kapal sehingga dapat
meminimalisasi
kejadian
miss
understanding antara pihak manajemen
kantor dengan crew kapal. Hal tersebut
dapat berpengaruh positif terhadap hasil
kinerja kedua belah pihak.
c. PT Alfa Trans Raya agar lebih
meningkatkan faktor masa kerja crew
kapal baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya sehingga ke depannya dapat
tergolong dalam kategori sangat baik.
Selamjutnya, dapat pula memerhatikan
faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam
penelitian ini.
d. Penelitian ini hanya meneliti tentang
“Pengaruh Jabatan dan Masa Kerja Crew
Kapal Terhadap Efektivitas Implementasi
Observation Card di PT. Alfa Trans Raya
(ATR)”, sehingga untuk peneliti selanjutnya
disarankan untuk melakukan penelitian
terhadap faktor-faktor lain yang dapat
memengaruhi efektivitas implementasi
observation card selain faktor jabatan dan
masa kerja crew kapal, contohnya : faktor
pendidikan, umur, sikap, reward and
punishment, safety promotions
dan
standard operating procedure (SOP)
sehingga hasil penelitian lebih beragam.
DAFTAR PUSTAKA
Agusyana, Yus. 2011. Olah Data Skripsi &
Penelitian. Jakarta : Elex Media Komputindo.
Buntarto, dkk. C. 2015. Panduan Praktis
Keselalmatan & Kesehatan Kerja untuk
Industri. Yogyakarta : Pustaka Baru Press.
Gumilar, Muhammad Akbar. 2018 “Pengaruh
Gaji dan Masa Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan Pada PT. Infomedia Nusantara di
Bandung”. Dalam Skripsi, Bandung.
Hardiningtyas, Dewi. 2018 “#5 Workplace
Safety and Health Program”. Dalam Driving
Excellence In Safety & Health At Workplace,
Jakarta.
Ilfani, Grisma. 2013 “Analisis Pengaruh
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap
Kinerja Karyawan.” Dalam Skripsi, Semarang.
Jauhariah.
2014
“Pengaruh
Faktor
Penempatan Jabatan Terhadap Kinerja
Pegawai Pada Kantor Dinas Kependudukan
dan Pencatatan Sipil Kota Bengkulu”. Dalam
Skripsi, Bengkulu.
Marettia, Argihta. 2011 “Analisis Faktor –
Faktor
yang
Berhubungan
dengan
Pelaksanaan Program STOP di PT. X
Indonesia tahun 2011”. Dalam Skripsi, Depok.
Septiana, Vidya Arty dkk. 2018 “Pengaruh
Faktor Masa Kerja, Kompensasi dan
Pendidikan Terhadap Motivasi Kerja Pegawai
Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah
Dengan Produktivitas Kerja Sebagai Variabel
Intervening”. Dalam Jurnal, Semarang.
Silaban, Gerry dkk. 2015 “Penerapan Program
Behavior Based Safety (BBS) & Kecelakaan
Kerja di PT Inalum Kuala Tanjung Tahun
2014”. Dalam Jurnal, Medan.
Siregar, Syofian. 2012. Statistika Deskriptif
untuk Penelitian. Jakarta : Rajawali Press.
Sugiyono.
2016.
Metode
Penelitian
Administrasi dilengkapi dengan Metode R&D.
Bandung : Alfabeta.
Suharjo, Bambang. 2008. Analisis Regresi
Terapan dengan SPSS. Jakarta : Graha Ilmu.
Tjahjono, Soerjanto. 2018 “Laporan Investigasi
Kecelakaan Pelayaran Terbaliknya Anugrah
Express (GT 6 No. 028 KLU-3) Di Perairan
Sungai Kayan, Kalimantan Utara”. Dalam
Majalah KNKT, Jakarta.
Yuliani, Kartika Febri. 2017 “Efektivitas
Program Pelayanan Kesehatan Gratis (P2KM)
di Kota Bandar Lampung”. Dalam Skripsi,
Bandar Lampung.
Analisis Model Bisnis Waralaba untuk Meningkatkan
Pengembangan Usaha dengan Analisis SWOT pada Sabana Fried
Chicken di Depok.
Dimas Pamadyo Utomo
D4 Administrasi Bisnis Terapan , [email protected]
Jurusan Administrasi Niaga – Politeknik Negeri Jakarta, [email protected]
ABSTRACT
The purpose of this study is to analyze the development of internal and external factor franchise business models
using a SWOT analysis conducted by Sabana Fried Chicken. This research is a descriptive qualitative research
by collecting, processing, and presenting data obtained in the form of complete and correct information. Data
collection techniques used in this study were the interview, documentation, and questionnaire filling methods to
the informants. Analysis of the data used is the analysis of the model developed by Miles and Huberman.
Measurement of the validity of the data using triangulation. Based on the analysis using IFAS-EFAS matrix and
Cartesian SWOT diagram, information can be obtained that the main strategy in Sabana Fried Chicken is the
strategy that is in quadrant I, SO strategy (strengths-opportunities) by maintaining the franchise system,
maintaining good relations with the partners and also increase marketing through social media.
Keyword: Franchise model business,Business Development, IFAS-EFAS matrix, SWOT matrix..
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengembangan model bisnis franchise faktor internal dan
eksternal dengan menggunakan analisis SWOT yang dilakukan oleh Sabana Fried Chicken. Penelitian ini
merupakan penelitian kualitatif deskriptif yaitu dengan cara mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data yang
diperoleh berupa keterangan yang lengkap dan benar. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan metode wawancara, dokumentasi, dan pengisian kuisioner kepada informan.
Analisis data yang digunakan yaitu dengan analisis model yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman.
Pengukuran keabsahan data menggunakan triangulasi. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan matriks
IFAS-EFAS dan diagram cartesius SWOT, dapat diperoleh informasi bahwa strategi utama pada Sabana Fried
Chicken yaitu strategi yang berada pada kuadran I, strategi SO (strengths-opportunities) dengan
mempertahankan sistem franchise, menjaga hubungan baik dengan para mitradan dan juga meningkatkan
pemasaran melalui media sosial.
Kata Kunci: Fasilitas, Kepuasan Konsumen, Kualitas Pelayanan.
PENDAHULUAN
Indonesia menjadi salah satu negara di dunia
yang memiliki kinerja ekonomi yang baik. Tahun
2015 lalu, tercatat bahwa pertumbuhan Produk
Domestik Bruto (PDB) 4,79%, lebih tinggi
daripada pertumbuhan ekonomi global yang
diperkirakan hanya mencapai 2,4%. Kenaikan
persentase yang positif ini tentunya menjadi
momen yang tepat bagi pemerintah untuk
mengokohkan pondasi perekonomian, terutama
pada sektor riil.
Salah satu sektor riil yang sangat layak menjadi
prioritas adalah subsektor kuliner. Di Depok
sendiri bisnis kuliner memiliki angka yang cukup
besar dengan jumlah pekerja yang besar
pula.Tercatat dalam buku Profil Angkatan Kerja
Depok Agustus 2018 bahwa jumlah pekerja di
bidang kuliner berjumlah 89.976 terdiri dari
54.896 laki–laki dan 34.871 perempuan.
Tabel 1.1 Jumlah Lapangan usaha
akomodasi makan minum
Lapangan
Laki -
Usaha
laki
Perempuan
L+P
34.871
89.976
Penyediaan
Akomodasi
Makan
54.869
Minum
Masalah yang sering dihadapi oleh pelaku
usaha adalah ketidakmampuannya dalam
menghadapi persaingan di pasar, karena
mereka hanya fokus pada faktor lingkungan dan
perubahan. Perusahaan tersebut acapkali
menjiplak model bisnis dari perusahaan lain
tanpa melakukan penyesuaian terlebih dahulu.
Padahal setiap bisnis memiliki ciri khas atau
keunikan sehingga membutuhkan model bisnis
tersediri. Karena itu agar sebuah perusahaan
mampu bersaing, maka perusahaan tersebut
harus memperhatikan proses desain model
bisnisnya. Konsep model bisnis juga banyak
digunakan
untuk
menggambarkan
atau
menjelaskan tentang kredibilitas perusahaan.
Menurut buku Business Model Generation
model bisnis digunakan untuk menggambarkan
dasar pemikiran tentang bagaimana organisasi
membuat, memberikan dan menangkap hal-hal
penting sebagai modal peluang bisnis.
Model bisnis yang saat ini banyak digunakan
oleh pelaku bisnis adalah waralaba atau juga
disebut Franchise. Karena dengan waralaba,
usaha akan cepat berkembang tanpa harus
mengeluarkan modal yang besar. Waralaba, jika
dalam bahasa Inggris disebut franchising dan
dalam bahasa Perancis disebut franchise.
Menurut Asosiasi Franchise Indonesia, waralaba
adalah suatu sistem pendistribusian barang/jasa
kepada pelanggan akhir dengan pengwaralaba
(franchisor) yang memberikan hak kepada
individu atau perusahaan untuk melaksanakan
bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur,
dan
cara–cara
yang
telah
ditetapkan
sebelumnya dalam jangka waktu tertentu
meliputi area tertentu.
Mengelola
usaha
waralaba
memang
menawarkan berbagai kemudahan. Namun
pengusaha terbaik adalah mereka yang siap
dengan
berbagai
kemungkinan,
apakah
menjalankan bisnis melalui waralaba atau tidak.
Meniti usaha kecil sebagai franchisee menuntut
pelaku usaha untuk mempersiapkan usahanya
agar dapat mewakili image perusahaan induk
dan menghadirkan produk atau jasa yang sama
dengan perusahaan induk. Selain itu pengusaha
juga harus jeli dalam memilih perusahaan induk
yang memiliki nilai jual yang tinggi dan dikenal
luas.
Sabana Fried Chicken adalah salah satu
waralaba yang cukup terkenal di kota Depok
membidik pasar di semua kalangan, dengan
meningkatkan kualitas rasa, penyesuaian
potongan dan harga, serta tampilan yang lebih
menarik dalam konsep mini resto. Dengan
menu yang beragam ayam goreng krispi, tetapi
juga burger dan produk pelengkap seperti french
fries, dan beberapa minuman. Tampilan yang
khas dan lebih eye catching, brand Sabana
Fried Chicken telah hadir menjadi nama yang
cukup diperhitungkan di tengah persaingan
bisnis kuliner di wilayah Jabodetabek.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut,
maka penulis tertarik untuk mengangkat judul
“Analisis Model Bisnis Waralaba untuk
Meningkatkan Pengembangan Usaha Pada
Sabana Fried Chicken di Depok”
Sumber : data diolah, 2019
Tabel 1.3 Rekapitulasi Rating Faktor Internal
Sabana Fried Chicken
METODE PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan yang akan
diteliti dan tujuan penelitian yang sudah
ditetapkan sebelumnya, maka penelitian ini
dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan
kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada
semester genap tahun ajaran 2019 yaitu antara
bulan Maret 2019 sampai dengan Agustus 2019
Populasi yang diteliti peneliti adalah model
bisnis waralaba yaitu gerai Sabana Fried
Chicken di Depok yang berjumlah 150 gerai.
Teknik penentuan sampel yang dilakukan
peneliti dalam penelitian ini adalah Nonprobability sampling dan teknik purposive
sampling. Teknik pengumpulan data yang
dipakai adalah wawancara dan dokumentasi.
Teknik analisis yang dipakai penulis adalah
Matriks Faktor Internal dan Eksternal, Analisis
SWOT , dan Diagram Cartesius.
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Temuan
1.2 Rekapitulasi Bobot
Sabana Fried Chicken
Faktor
Internal
Sumber : Data diolah, 2019
Tabel 1.4 Matriks Faktor Internal Sabana
Fried Chicken
Sumber : Data diolah, 2019
Tabel 1.6 Rekapitulasi Rating
Eksternal Sabana Fried Chicken
Faktor
Sumber : Data diolah, 2019
Tabel 1.5 Rekapitulasi Bobot
Eksternal Sabana Fried Chicken
Faktor
Sumber : Data diolah, 2019
Tabel 1.7 Matriks Faktor Eksternal Sabana
Fried Chicken
Sabana Fried Chicken diharapkan terus
bertahan dengan sistem franchise yang
berkualitas dan menguntungkan dengan harga
yang terjangkau. Hal ini merupakan situasi yang
baik karena Sabana Fried Chicken memiliki
beberapa
kekuatan
sehingga
dapat
memanfaatkan peluang yang ada. Kekuatan dan
peluang yang dimiliki oleh Sabana Fried
Chicken akan lebih baik jika dimanfaatkan
sebaik
mungkin
untuk
mempersempit
kelemahan dan ancaman yang ada.
Sumber : Data diolah, 2019
Gambar 1.1 Matriks Diagram
SWOT Sabana Fried Chicken
Cartesius
Sumber : Data diolah, 2019
Berdasarkan pada gambar 4.1 tersebut pada
sumbu x terdapat faktor internal perusahaan
berupa kekuatan dan kelemahan dan pada
sumbu y terdapat faktor eksternal perusahaan
berupa peluang dan ancaman. Faktor kekuatan
dan peluang
berada diposisi yang positif
sedangkan kelemahan dan ancaman berada di
posisi yang negatif. Dapat dilihat secara jelas
bahwa Sabana Fried Chicken menempati posisi
pada kuadran I dengan nilai kekuatannya yaitu
+2,14 dan nilai peluangnya yaitu +1,75. Dapat
dikatakan
bahwa
perusahaan
sedang
bertumbuh dalam artian yaitu Sabana Fried
Chicken mendukung strategi agresif dalam
waralaba.
Berdasarkan analisis tersebut menunjukkan
bahwa kinerja perusahaan dapat ditentukan oleh
kombinasi faktor internal dan eksternal. Matriks
SWOT dapat menghasilkan empat set strategi
yang dapat dilakukan oleh Sabana Fried
Chicken
a. Strategi SO (Strengths-Opportunities)
Strategi SO ini merupakan strategi yang
digunakan
untuk
menangkap
dan
memanfaatkan peluang yang ada dengan
memaksimalkan kekuatan internal yang dimiliki
oleh perusahaan. Maka strategi yang ditempuh
oleh Sabana Fried Chicken adalah:
1) Mempertahankan harga franchise dan harga
produk yang terjangkau. Dengan kekuatan
harga yang dimiliki oleh Sabana Fried
Chicken dapat membuka peluang dari
segmen pelanggan yang besar. Dengan
harga franchise yang stabil juga membuka
peluang besar bertambahnya mitra-mitra
baru dalam Sabana Fried Chicken.
2) Dengan peluang segmen pasar yang besar
dapat dijangkau dengan bahan baku yang
berkualitas yang membuat produk Sabana
Fried Chicken berkualitas dari segi rasa.
Produk Sabana Fried Chicken yang
berkualitas tersebut juga di jual dengan
harga produk yang terjangkau oleh
masyarakat.
b. Strategi ST (Strengths-Threats)
Strategi ST ini merupakan strategi yang
digunakan untuk mengurangi dan meminimalisir
ancaman dan memanfaatkan kekuatan internal
perusahaan. Maka strategi yang ditempuh oleh
Sabana Fried Chicken adalah:
1) Dengan bahan baku berkualitas yang
dimiliki Sabana Fried Chicken dapat
mengatasi pesaing-pesaing baru. Karena
dengan adanya bahan baku berkualitas
dapat menunjang kualitas produk yang
dihasilkan.
2) Melibatkan mitra dalam inovasi produk
Sabana Fried Chicken agar dari pihak
perusahaan dapat mengetahui apa yang
diinginkan oleh konsumen perlu adanya
koneksi Sabana Fried Chicken dengan mitra
agar dapat menjawab permasalahan
tersebut.
3) Dengan adanya koneksi dengan mitra yang
baik maka pengontrolan produksi mitra demi
standar kualitas produk dapat terjaga.
c. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities)
Strategi WO ini merupakan strategi yang
digunakan untuk memperbaiki atau membenahi
kelemahan yang dimiliki perusahaan agar dapat
memanfaatkan dan mengambil peluang yang
ada. Maka strategi yang ditempuh oleh Sabana
Fried Chicken adalah:
1) Menjamin harga franchise yang stabil
walaupun penentuan lokasi yang sulit di
Depok
2) Mempergunakan segmen dan harga produk
yang murah sebagai solusi dari promosi
yang kurang dari Sabana Fried Chicken.
d. Strategi WT (Weaknesses-Threats)
Strategi WT ini merupakan strategi yang
digunakan untuk memperbaiki kelemahan yang
ada untuk meminimalisir adanya ancaman dari
luar perusahaan. Maka strategi yang ditempuh
oleh Sabana Fried Chicken adalah:
1) Melibatkan mitra dan karyawan dalam
pengembangan usaha Sabana Fried
Chicken.
KESIMPULAN
Maka langkah strategi yang digunakan adalah
strategi SO (Strengths-Opportunities) adapun
langkah-langkahnya yaitu: 1) Mempertahankan
harga franchise dan harga produk yang
terjangkau. 2)Menjangkau pelanggan dengan
kekuatan merek dan koneksi dengan kualitas
bahan baku yang baik.
SARAN
Mempertahankan sistem franchise dan harga
waralaba yang murah. Saat ini Sabana Fried
Chicken sudah memiliki kualitas waralaba yang
baik dengan adanya berbagai penghargaan dan
juga diakui oleh dinas kesehatan sebagai
perusahaan yang sehat maka Sabana Fried
Chicken diharapkan dapat terus bertahan
dengan kualitasnya yang sudah baik serta
mempertahankan kemitraan
yang murah
harganya
demi
perkembangan
ekonomi
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2009.
Studi Industri Kreatif Indonesia 2009. Jakarta :
Derpartemen Perdagangan Republik Indonesia
Gassmann, Oliver. dkk. 2016. Business Model
Navigator 55 Model Bisnis Unggulan yang Akan
Mengubah Bisnis Anda. Jakarta : PT Elex Media
Komputindo
Magdalena, Elyn. dkk. 2018. Profil Angkatan Kerja di
Kota Depok Agustus 2018. Depok : Badan Pusat
Statistik Kota Depok
Osterwalder, Alexander dan Yves Pigneur. 2010.
Business Model Generation. Jakarta : PT Elex Media
Komputindo.
Rangkuti, Freddy. 2009. Anasisis SWOT Teknik
Membedah Kasus Bisnis. Cetakan Enam Belas.
Jakarta: Gramedia Pustaka.
Rangkuti, Freddy. 2011. SWOT Balanced Scorecard
Teknik Menyusun Strategi Korporat yang Efektif plus
Cara Mengelola Kinerja dan Resiko. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R & D. Bandung : Alfabeta
Jurnal :
Kosasi, Velicia Magdalena. 2015. Analisis dan
Evaluasi Model Bisnis pada Pantai Seafood
Restaurant Dengan Pendekatan Business Model
Canvas. Dalam Jurnal Universitas Kristen Petra
.Surabaya.
Pradana, Mahir. 2015. Klasifikasi Bisnis ECommerence di Indonesia. Dalam Jurnal Universitas
Telkom. Bandung
Salim, Berta.2014. Transformasi Model Bisnis Go-Jek
Untuk Keunggulan-Kompetitif Dalam Perkembangan
Ekonomi-Berbagi Dari Sudut Pandang Pelanggan.
Dalam Jurnal Universitas Bunda Mulia. Jakarta.
Schaltegger, Stefan. dkk. 2016. Business Model for
Sustainability: Origins, Present Research, and Future
Avenues. Leuphana University. Lüneburg
Slamet, Sri Rejeki. 2011. Waralaba (Franchise) di
Indonesia. Jakarta.
Aspek Hukum Terhadap Penelantaran Tanah dan Upaya Penertibannya Dikaitkan
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan
Pendayagunaan Tanah Terlantar
Oleh :
Ida Kurniasih
ABSTRAK
Tanah terlantar atau ditelantarkan kebanyakan merupakan Tanah Hak Guna Usaha (HGU) dimiliki oleh
Perusahaan BUMN atau Perusahaan swasta, dalam praktek tanah-tanah HGU ini banyak yang terlantar
atau ditelantarkan sehingga banyak Masyarakat yang menempatinya baik dengan izin atau tanpa izin dari
pemilik HGU tersebut,Dampak lain penelantaran tanah juga menjadi terhambatnya pencapaian berbagai
tujuan program pembangunan, rentannya ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi nasional,
tertutupnya akses sosial ekonomi masya-rakat khususnya petani pada tanah, serta ter-usiknya rasa
keadilan dan harmoni sosial, Pemegang Hak dilarang menelantarkan tanahnya, dan jika PemegangHak
menelantarkan tanahnya maka UUPA (Undang Undang No 5 Th 1960) telah mengatur akibat hukumnya
yaitu hapusnya hak atas tanah yang bersangkutan dan pemutusan hubungan hukum serta ditegaskan
sebagai tanah yang dikuasai langsung oleh Negara.Berdasarkan Latar belakang tersebut Peneliti akan
membahas pokok-pokok masalah sebagai berikut:Bagaimana Aspek Hukum hak atas tanah yang
sudahdiberikan hak oleh Negara namun tidak diusahakan dan/atau tidak dipergunakan, atau tidak
dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar
penguasaannya.? Bagaimana Upaya Penertiban dan Pendayagunaan tanah terlantar di tinjau dari
Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan tanah terlantar.
ABSTRACT
Most abandoned or abandoned land is a land for business use rights owned by state-owned companies
or private companies. In practice, many lands are abandoned or abandoned so that many people occupy
it either with permission or without permission from the owner. Other land abandonment also hampered
the achievement of various development program objectives, vulnerability to food security and national
economic resilience, the closed social economic access of the community, especially farmers to land, and
the nagging sense of justice and social harmony, Rights Holders are prohibited from abandoning their
land, and if The Right Holder abandoned his land so that the (Law No. 5 Th 1960) has regulated the legal
consequences of the abolition of the land rights in question and the termination of legal relations and
confirmed as land directly controlled by the State. Based on this background, the researcher will discuss
the main issues as follows: What are the Legal Aspects of land rights that have been granted rights by the
State but are not attempted and / or not used, or not utilized in accordance with the circumstances or the
nature and purpose of giving rights or basic tenure? How the efforts to control and utilize abandoned land
are reviewed from Government Regulation Number 11 of 2010 concerning Control and Utilization of
abandoned land
A. PENDAHULUAN
diundangkan pada tanggal 24 September 1960,
1. Latar belakang
UUPA tidak memberikan pengertian tentang
Tanah adalah karunia Tuhan Yang
agraria,
hanya
memberikan
ruang
lingkup
Maha Esa bagi rakyat, bangsa dan Negara
agrairia sebagaimana yang tercantum dalam
Indonesia,
konsiderans,
yang
dimanfaatkan,
harus
dan
diusahakan,
di-pergunakan
pasal-pasal
maupun
untuk
penjelasannya. Rauang lingkup agraria menurut
sebesar-besarnya kemakmur-an rakyat. Saat ini
UUPA meliputi : Bumi, Air, Ruang Angkasa dan
tanah yang telah dikuasai dan/atau dimiliki baik
Kekayaan alam yang terkandung didalamnya.
yang sudah ada hak atas tanahnya maupun
yang
baru
berdasar
di
masalah tanah dan semua yang ada di dalam
beberapa tempat masih banyak dalam keadaan
dan diatasnya, Soebekti dan R. Tjitrosoedibio
terlantar, atau ditelantarkan oleh pemiliknya
hukum
yang kebanyakan merupakan Tanah Hak Guna
ketentuan-ketentuan
Usaha yang dimiliki Perusahaan Swasta atau
perdata maupun hukum tata negara yang
BUMN
untuk
mengatur hubungan-hubungan antara orang
meningkatkan kemakmuran rakyat tidak optimal.
termasuk badan hukum dengan bumi, air dan
Oleh karena itu, perlu dilakukan penataan
ruang angkasa dalam seluruh wilayah negara
kembali untuk mewujudkan tanah se-bagai
dan mengatur pula wewenang-wewenang yang
sumber
me-
bersumber
wujudkan kehidupan yang lebih berkeadilan,
tersebut.46
sehingga
peroleh-an
cita-cita
kesejahteraan
rakyat,
tanah
Menurut Andi Hamzah, agraria adalah
luhur
untuk
agraria
adalah
pada
keseluruhan
hukum,
baik
dari
hukum
hubungan-hubungan
menjamin keberlanjutan sistem kemasyarakat-
Tujuan diundangkan UUPA sebagai
an dan kebangsaan Indonesia, serta memper-
tujuan hukum agraria nasional dimuat dalam
kuat harmoni sosial.45
penjelasan umum UUPA, yaitu :47
optimalisasi pengusahaan, penggunaan,
a. Meletakan dasar-dasar bagi penyusunan
dan pemanfaatan semua tanah di wilayah
Hukum
Indonesia
merupakan
kualitas
diperlukan
lingkungan
untuk
alat
nasional
untuk
yang
akan
membawakan
mengurangi
kemakmuran, kebahagiaan, dan keadilan
kemiskinan dan menciptakan la-pangan kerja,
bagi negara dan rakyat, terutama rakyat
serta untuk meningkatkan ke-tahanan pangan
tani dalam rangka masyarakat yang adil
dan energi.
dan makmur.
Undang-Undang
hidup,
meningkatkan
Agraria
No.5
Tahun
1960
b. Meletakan dasar-dasar untuk mengadakan
Tentang peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria,
kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum
LNRI Tahun 1960 No. 104 – TLNRI No.2043
pertanahan.
45
Supriyanto, kriteria tanah terlantar
dalam peraturan perundangan indonesia, Jurnal
Dinamika hukum, Vol. 10 No. 1 Januari 2010 ,
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto, di unduh pada tanggal 19 April 2019
46
Urip santoso, Hukum Agraria kajian
komprehensif, kencana, Cet ke-6, Surabaya, 2017,
hlm. 2-5
47
Urip santoso, Op Cit, hlm. 51-53
c.
Meletakan dasar-dasar untuk memberikan
menyebabkan timbulnya kesenjangan sosial dan
kepastian hukum mengenai hak-hak atas
ekonomi serta menurunkan kualitas lingkungan
tanah bagi rakyat seluruhnya.
itu sendiri, sehingga penelantaran tanah ini
Ruang Lingkup bumi menurut UUPA
adalah permukaan bumi, dan tubuh bumi di
harus
dicegah,
disebut tanah. Tanah yang dimaksudkan di sini
bukan mengatur tanah dalam segala aspeknya,
melainkan
hanya
mengatur
salah
satu
aspeknya, yaitu tanah dalam pengertian yuridis
yang disebut hak penguasaan atas tanah.
Tanah dalam pengertian yuridis adalah
permukaan bumi. Sedangkan terlantar adalah
tidak
terpelihara,
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar pokok-Pokok Agraria menyebut
tanah sebagai berikut :48
sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2
ditentukan adanya macam-macam hak atas
dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh
orang-orang, baik sendiri maupun bersamaorang-orang
lain
serta
badan-badan hukum.
kepada perseorangan atau badan hukum
digunakan/dimanfaatkan
tidak mudah menetapkan tanah sebagai tanah
terlantar,
sesuai
pemberian hak atau dasar penguasaannya.
Kenyataannya banyak tanah yang tidak
diusahakan/dipergunakan
sebagaimana
mestinya, sehingga berpotensi menjadi tanah
terlantar, penelantaran tanah akan berdampak
program
48
hal
tersebut
dikarenakan
untuk
melihat beberapa aspek sebagai berikut :
1. Subjeknya apakah perorangan atau badan
hukum
3. Adanya kesenjangan dari subjek atau tidak
4. Jangka waktu yang harus dilewati untuk dapat
disebut sebagai tanah terlantar.
Tanah terlantar menurut Affan Mukti
terbagi dalam dua arti yaitu dalam arti sempit
dan arti luas. Tanah terlantar dalam arti sempit
yaitu tanah yang tidak dimanfaatkan baik
tanah terlantar bukan hanya tanah saja tetapi
bangunan-bangunan,
pencapaian
pembangunan
yang
berbagai
dapat
Petunjuk Teknis Potensi Tanah Terlantar
Tahun 2018
dll,
yang
tidak
dimanfaatkan.49
dengan keadaannya atau sifat dan tujuan
terhambatnya
tidak
disengaja atau tidak. Sedangkan dalam arti luas,
2. Hak atas tanah yang diberikan oleh Negara
pada
dan
terurus. Maria S.W. Sumardjono mengatakan
permukaan bumi, yang disebut tanah, yang
harus
terawat,
2. Tanah pertanian atau bangunan
1. Atas Dasar hak menguasai dari Negara
dengan
tidak
menetapkan tanah sebagai tanah terlantar harus
Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) dan (2)
sama
dan
didayagunakannya kembali.
bawahnya serta yang berada di bawah air.
Permukaan bumi sebagai bagian dari bumi juga
ditertibkan
Penelantaran tanah atau tanah yang
dengan sengaja ditelantarkan di pedesaan dan
per-kotaan, selain merupakan tindakan yang
tidak
bijaksana, tidak
peluang
untuk
ekonomis
(hilangnya
mewujudnyatakan
potensi
ekonomi tanah), dan tidak berkeadilan, serta
juga
merupakan
kewajiban
49
yang
pelanggaran
harus
terhadap
dijalankan
para
Affan Mukti, Pokok-Pokok Bahasan
Hukum Agraria, Medan : USUPress, 2006, hlm. 155
Pemegang
Hak
atau
pihak
yang
telah
memperoleh dasar penguasaan tanah.
Tanah
kebanyakan
terlantar
atau
merupakan
atau badan hukum selalu diiringi kewajiban-
ditelantarkan
Tanah
Hak
ketika Negara memberikan hak kepada orang
Guna
kewajiban dalam surat keputusan pemberian
haknya.
Usaha (HGU) yang di mohonkan dan dimiliki
oleh
Perusahaan
BUMN
atau
Perusahaan
Pemegang Hak dilarang menelantarkan
tanahnya,
dan
jika
Pemegang
Hak
swasta, dalam praktek lapangan tanah-tanah
menelantarkan tanahnya maka UUPA (Undang
HGU
atau
Undang No 5 Th 1960) telah mengatur akibat
ditelantarkan sehingga banyak Masyarakat yang
hukumnya yaitu hapusnya hak atas tanah yang
menempatinya baik dengan izin atau tanpa izin
bersangkutan dan pemutusan hubungan hukum
dari pemilik HGU tersebut, mereka dengan
serta ditegaskan sebagai tanah yang dikuasai
sengaja menggarap atau menduduki tanah
langsung oleh Negara.
ini
banyak
yang
terlantar
terlantar tersebut sehingga apabila HGU dari
lahan
sendirinya
Berdasarkan latar belakang tersebut
masyarakat yang menempati tanah tersebut
diatas, maka peneliti akan membahas pokok-
dengan leluasa mengajukan permohonan ke
pokok masalah sebagai berikut :
dirjen
tersebut
Badan
habis,
dengan
2. Identifikasi Masalah.
Pertanahan
Nasionaluntuk
1. Bagaimana Aspek Hukum hak atas
diterbitkannya HGU atau Hak lainnya sehingga
tanah yang sudah diberikan hak oleh
munculah Sertifikat Tanah tersebut, sehingga
Negara
secara hukum masyarakat tadi yang menjadi
dan/atau tidak dipergunakan, atau tidak
pemilik dari HGU selanjutnya.
dimanfaatkan
keadaannya
Dampak lain penelantaran tanah juga
program
pembangunan,
2. Bagaimana
atau
hak
sifat
dengan
dan
atau
tujuan
dasar
Upaya
Penertiban
dan
Pendayagunaan tanah terlantar di tinjau
nasional, tertutupnya akses sosial ekonomi
dari Peraturan Pemerintah Nomor 11
masya-rakat khususnya petani pada tanah,
Tahun 2010 Tentang Penertiban dan
serta ter-usiknya rasa keadilan dan harmoni
Pendayagunaan tanah terlantar.?
sosial.
Pada dasarnya Negara memberikan hak
atas tanah atau Hak Pengelolaan kepada
Pemegang
Hak
dipergunakan,
dipelihara
dan
dengan
untuk
dimanfaatkan
baik
ditujukan
untuk
B. Metode Penelitian
Metode penelitian dalam penulisan
diusahakan,
selain
serta
untuk
kesejahteraan bagi Pemegang Hak nya juga
harus
diusahakan
penguasaannya.?
rentannya
ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi
tidak
sesuai
pemberian
menjadi terhambatnya pencapaian berbagai
tujuan
namun
kesejahteraan
masyarakat, bangsa dan negara. Tentu saja
Artikel ini bersipat Deskriptif Analitis, yaitu suatu
metode
penelitian
yang
bertujuan
menggambarkan suatu keadaan sekelompok
orang atau lembaga tertentu berdasarkan fakta-
fakta yang ada.50
Undangan (law in books) atau hukum di
Meliputi hal-hal sebagai
berikut :
konsepkan sebagai kaidah atau norma
1. Spesifikasi Penelitian
yang merupakan patokan berperilaku
yang di anggap pantas. 52
Sifat penelitian dalam penulisan hukum
manusia
yang
Tataran penelitian hukum normatif, yang
berbentuk
Artikel
ini
bersifat
deskriftif analitis, Roni Hanitijo Soemitro
menggunakan
mengatakan bahwa Deskriftif analitis,
yuridis normatif (doctrinal) ini dalam ilmu
yaitu
hukum
menggambarkan
berbagai
metode
pendekatan
merupakan
penelitian
peraturan per Undang-Undangan yang
kepustakaan, yaitu penelitian terhadap
berlaku
data
dikaitkan
dengan
teori-teori
sekunder.53Data
sekunder
:54
hukum dan praktek pelaksanaan hukum
dimaksud mencakup
positif
a. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-
yang
terkait
dengan
permasalahan yang diteliti.51
bahan
Penelitian yang bersipat deskriftif ini
perundang-undangan,
dimaksudkan
berkaitan
untuk
menggambarkan
hukum
berupa
peraturan
yang
dengan
semua data yang di peroleh yang
Ketenagakerjaan
berkaitan dengan judul penelitian secara
negara, antara lain : UUD 1945, UU
jelas
guna
Nomor
yang
ada.
Pokok-Pokok
ini
ingin
peraturan
kemudian
menjawab
Peneliti
di
analisis
permasalahan
dalam
penelitian
5
dan
hukum
Tahun
administrasi
1960
Dasar
Tentang
Agraria
pemerintah
nomor
dan
11
memperoleh gambaran yang lengkap
tahun 2010 tentang penertiban dan
dan jelas tentang Penelantaran tanah di
pendayagunaan tanah terlantar.
Jawa Barat dikaitkan dengan peraturan
pemerintah
nomor
11
tahun
b. Bahan
2010
Hukum
bahan-bahan
Sekunder,
yaitu
hukum
yang
tentang penertiban dan pendayagunaan
memberikan penjelasan mengenai
tanah terlantar
Rancangan Undang-Undang, hasilhasil Penelitian, artikel ilmiah, jurnal,
2. Metode Pendekatan
hasil karya dari kalangan hukum
Metode pendekatan yang digunakan
dalam
penulisan
Artikel
c. Bahan Hukum tertier, yaitu bahan
ini, adalah
yang
yuridis normatif (doctrinal), yaitu hukum
petunjuk
atau
penjelasan terhadap bahan hukum
yang di konsepkan sebagai apa yang
primer dan sekunder, contoh nya
tertulis dalam peraturan per Undang-
50
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian
Hukum, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta,
1986, hal. 9-10
51
Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi
Penelitian Hukum Jurimetri, Cet ke-4 Ghalia
Indonesia, Jakarta, 1990, hal. 97-98.
memberikan
52
MuslanAbdurrahman,Sosiologi
dan
Metode Penelitian Hukum, UMM Press,
Malang, 2009, hlm.94
53
Ronny Hanitijo Soemitro, Loc.Cit, hlm
11
54
Ibid, hlm. 13
adalah kamus, ensiklopedia, indeks
kumulatif, dan
seterusnya.55
telah
bahan acuan pokok dalam penulisan
Penelitian dilakukan melalui satu tahap,
yaitu : penelitian kepustakaan (Library
adalah
penelusuran
yang
disebutkan di atas, yang merupakan
3. Tahap Penelitian
research),
perundang-undangan
penelitian
melalui
Artikel.
5. Analisis Data
Data
primer
dan
data
sekunder
perundang-undangan
sebagaimana hal nya dalam penelitian
nasional, referensi hukum, hasil karya
yang bersipat deskriftif analitis dengan
tulis, kamus, ensiklopedi dan berbagai
pendekatan
artikel di media cetak atau internet, yang
analisi data dilakukan secara kualitatif.
sesuai dengan masalah yang di teliti
Yuridis normatif, karena penelitian ini
dan dilengkapi dengan data pendukung
bertitik tolak pada peraturan perundang-
lainnya.
undangan yang ada sebagai hukum
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik
yang
di
positif.
pergunakan
dalam
yuridis
normatif,
Kualitatif,
maka
karena
dalam
penelitian ini bermaksud memperoleh
pengumpulan data di peroleh melalui
berbagai
informasi
studi dokumen atau kepustakaan, yaitu
gunakan
untuk
melakukan
terhadap
memahami aspek-aspek tertentu dari
berkaitan
pakar hukum Agraria dan hasil analisis
penelitian
dokumen-dokumen
yang
dengan masalah yang sedang dibahas
dalam tesis ini dan kemudian di lakukan
studi
penelusuran
menganalisis
di
dan
ini di sajikan dalam bentuk Artikel.
6. Lokasi Penelitian
Untuk mendapatkan data yang berupa
pustaka berupa buku-buku literatur yang
bahan hukum primer, bahan hukum
ada keterkaitan dengan masalah yang
sekunder, dan bahan hukum tersier,
dibahas.
maka penelitian ini dilakukan pada :
inventarisasi
dari
dapat
bahan
Adapun
data
yang
data
dalam
penelitian ini, pada dasarnya adalah
data yang diinventarisir yang paling
dominan
sebagai
bahan
penulisan
dalam Artikel ini adalah data sekunder
1. Perpustakaan
Fakultas
Hukum
Uninus
2. Perpustakaan
dan
bagian
arsip
Kanwil Badan Pertanahan Nasional
Prov Jawa Barat.
yaitu data dari bahan pustaka berupa
buku-buku literatur.
Data sekunder tersebut di samping
merupakan data dari berbagai literatur
termasuk di dalamnya adalah bahanbahan hukum primer berupa peraturan
55
Ibid,
C. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
1. Aspek Hukum hak atas tanah yang
sudah diberikan hak oleh Negara
namun tidak diusahakan dan/atau
tidak
dipergunakan,
atau
tidak
dimanfaatkan
sesuai
dengan
keadaannya atau sifat dan tujuan
pemberian
hak
penguasaannya.
atau
dasar
A.P. Parlindungan menyatakan tanah
terlantar adalah tanah yang tidak dipergunakan
Badan
secara optimal sesuai dengan kemampuan
Pertanahan Nasional adalah tanah yang sudah
tanah tersebut. Masalah tanah terlantar juga
diberikan hak oleh negara berupa Hak Milik,
merupakan suatu hal yang sangat mengganggu
HGU, HGB, Hak Pakai, Hak Pengelolaan, atau
dalam penguasaan atas tanah. Tanah yang
dasar penguasaan atas
diberikan
Tanah
terlantar
menurut
tanah yang tidak
dasar
penguasaan
haknya
telah
diusahakan, tidak dipergunakan, atau tidak
berubah bentuk fisiknya akibat ditelantarkan
dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau
dalam waktu tertentu, sehingga haknya gugur
sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar
dan tanah tersebut kembali kepada penguasaan
penguasaannya.
hak ulayat masyarakat adat.58
Dalam hukum Adat yang dimaksud
Maria S.W. Sumardjono mengatakan
tanah terlantar adalah tanah yang pernah
tidak mudah menetapkan tanah sebagai tanah
dibuka, dikerjakan oleh pemilik/penggarapnya
terlantar,
sampai 1 kali atau 2 kali panen, kemudian di-
menetapkan tanah sebagai tanah terlantar harus
tinggalkan oleh pemiliknya dalam waktu ter-
melihat beberapa aspek sebagai berikut :
tentu sampai menjadi hutan kembali. Secara
1. Subjeknya apakah perorangan atau badan
yuridis kemudian tanah ini kembali pada hak
hukum
ulayatnya.56
2. Tanah pertanian atau bangunan
Pasal 5 UUPA, selain Hukum Agraria
hal
tersebut
dikarenakan
untuk
3. Adanya kesenjangan dari subjek atau tidak
mendasarkan diri pada Hukum Adat juga harus
4. Jangka waktu yang harus dilewati untuk dapat
mengindahkan
disebut sebagai tanah terlantar.
unsur-unsur
yang
bersandar
pada Hukum Agama. Menurut Hukum Islam
Dasar Hukum ketentuan hak-hak atas
tanah terlantar dalam Islam dikenal dengan
tanah diatur dalam pasal 4 ayat 1 UUPA, yaitu :
tanah mati atau ihya al-mawat. Al-Mawat secara
atas dasar hak menguasai dari negara atas
etimologi berarti yang mati atau lawan dari
tanah sebagai yang dimaksud dalam pasal 2
hidup. Al-mawat memiliki arti yaitu sesuatu yang
ditentukan adanya macam-macam hak atas
tidak mempunyai roh atau tanah yang tidak
permukaan bumi, yang disebut tanah, yang
berpenghuni
dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh
atau
tidak
seorangpun
memanfaatkannya. Al-Mawat berarti sesuatu
orang-orang lain seta badan-badan hukum.59
yang tidak mempunyai roh dan tanah tidak
Macam-macam hak atas tanah di muat
berpenghuni atau berarti sesuatu yang tidak
dalam Pasal 16 dan Pasal 53 UUPA, yang
mempunyai roh, juga berarti tanah yang tidak
dikelompokan menjadi 3 bidang, yaitu:60
dimiliki serta tidak dimanfaatkan.57
56
Suhariningsih, Tanah Terlantar, Prestasi
Pustaka Raya, Jakarta, 2009 hlm. 14
57
Supriyanto, Op Cit, hlm. 54
58
A.P. Parlindungan, Landreform Di
Indonesia Strategi Dan Sasarannya, Mandar Maju,
Bandung 1991, hlm. 85
59
Urip Santoso, Op Cit, hlm. 90-134
60
Ibid.
1. Hak atas tanah yang bersifat tetap, yaitu
mengerti dan menjaga agar tidak terjadi tanah
hak atas tanah ini akan tetap ada selama
terlantar. Beberapa ketentuan dalam UUPA
UUPA masih berlaku atau belum dicabut
yang berkaitan dengan tanah terlantar adalah
dengan Undang-Undang baru. Jenis-jenis
sebagai berikut :
atas tanah ini adalah Hak Milik, Hak Guna
1. Pasal 2 ayat (2) huruf b, menyatakan
Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai,
bahwa
negara
Hak Membuka Tanah, Hak Sewa untuk
kekuasaan
Bangunan, dan Hak Memunggut Hasil
menentukan
Hutan.
hubungan
sebagai
organisasi
tertinggi
berwenang
dan
mengatur
hukum
antara
hubunganorang-orang
2. Hak atas tanah yang akan ditetapkan
dengan bumi, air dan ruang angkasa.
dengan Undang-Undang, yaitu hak tas
Berdasarkan ketentuan tersebut, negara
tanah yang akan lahir kemudian, yang
berwenang memutus hubungan
ditetapkan dengan undang-undang, Hak
antara manusia yang mempunyai hak atas
atas tanah ini jenisnya belum ada.
tanah
3. Hak atas Tanah yang bersipat sementara,
yaitu hak atas tanah ini sifatnya sementara,
apabila
manusia
hukum
tersebut
menelantarkan tanahnya.
2. Pasal 6 menyatakan, semua hak atas tanah
dalam waktu yang singkat akan dihapuskan
mempunyai
fungsi
dikarenakan akan mengandung sifat-sifat
Penjelasan
Umum
pemerasan, mengandung sifat feodal dan
dinyatakan bahwa hak atas tanah apapun
bertentangan jiwa UUPA. Macam-macam
yang ada pasa seseorang tidaklah dapat
hak atas tanah ini diantaranya adalah Hak
dibenarkan
Gadai (Gadai Tanah), Hak Usaha Bagi
dipergunakan (atau tidak dipergunakan)
Hasil
Hak
semata-mata untuk kepentingan pribadinya,
Tanah
apalagi kalau hal itu menimbulkan kerugian
(Perjanjian
Menumpang,
bagi
dan
Hak
hasil),
sewa
Pertanian.
pasal
tanahnya
Dalam
tersebut
itu
akan
bagi masyarakat. Penggunaan tanah harus
Hukum Agraria Nasional mempunyai ciri
pengelolaan
bahwa
sosial.
sumber
untuk
dari pada haknya, hingga bermanfaat baik
kesejahteraan rakyat. Alasan filosofisnya ialah
bagi kesejahteraan dan kebahagiaan yang
bahwa tanah itu adalah karunia Tuhan kepada
mempunyainya maupun bermanfaat pula
umat
untuk
bagi masyarakat dan negara. Berdasarkan
memenuhi
penjelasan pasal 6 tersebut diamanatkan
kebutuhannya agar tercapai kesejahteraan atau
bahwa hak-hak atas tanah bukan hanya
kemakmuran
berisikan
wewenang
melainkan
sekaligus
kewajiban
untuk
manusia
diusahakan,
daya
(rakyat
dikelola
bersama
tanah
disesuaikan dengan keadaannya dan sifat
Indonesia)
guna
rakyat
seluruhnya
dengan berkeadilan.
Hukum
Agraria
Nasional
(UUPA)
mengusahakan,
dan
juga
memakai,
memanfaatkannya,
tersebut, menyebutkan bahwa semua pihak
sehingga
membiarkan
terutama para pemegang hak atas tanah, perlu
terlantar
artinya tanah
tanah
tersebut
tersebut dalam
keadaan
tidak
diusahakan,
tidak
penjelasannya dinyatakan bahwa tanah
dimanfaatkan berarti menyalahi amanat
ditelantarkan kalau dengan sengaja tidak
pasal 6 UUPA.
dipergunakan sesuai dengan keadaannya
3. Pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa setiap
atau sifat dan tujuan daripada haknya.
orang atau badan hukum yang mempunyai
6. Pasal 34 huruf e, menyatakan bahwa Hak
suatu hak atas tanah pertanian pada
Guna Usaha hapus karena ditelantarkan.
asasnya
diwajibkan
mengerjakan
atau
7. Pasal 40 huruf e, menyatakan bahwa Hak
mengusahakannya sendiri secara aktif,
Guna
dengan mencegah cara-cara pemerasan.
ditelantarkan.
Pasal
ini
memberi
pengertian
bahwa
Bangunan
hapus
karena
Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun
seseorang yang mempunyai suatu hak atas
2010
diterbitkan
tanah pada asasnya wajib mengerjakan
utama. Pertama, bahwa kondisi penelantaran
sendiri tanahnya secara aktif dan tidak
tanah
diperkenankan sama sekali untuk tidak
sosial, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat serta
mengusahakan atau menelantarkan tanah
menurunkan
sesuai dengan peruntukkannya.
instrumen regulasi berupa peraturan perundang-
semakin
berdasarkan
menimbulkan
kualitas
pertimbangan
kesenjangan
lingkungan.
Kedua,
4. Pasal 15 menyatakan bahwa memelihara
undangan yang telah ada yaitu PP Nomor 36
tanah, termasuk menambah kesuburannya
Tahun 1998 beserta peraturan pelaksanaannya
serta
tidak dapat lagi dijadikan acuan penyelesaian
mencegah
kerusakannya
adalah
kewajiban tiap-tiap orang, badan hukum
penertiban
atau instansi yang mempunyai hubungan
terlantar.61
hukum
dengan
memperhatikan
tanah
pihak
lemah.
Penelantaran
salah
satu
itu,
yang
tanah
tindakan
dengan
ekonomis
merupakan
yang
dapat
dan
Potensi
pendayagunaan
tanah
terlantar
tanah
atau
ditelantarkan di Provinsi Jawa Barat menurut
data
yang
pertanahan
dikeluarkan
Nasional)
oleh
Provinsi
BPN
jawa
(badan
barat
menurunkan kesuburan tanah sehingga
berdasarkan hasil penelitian Peneliti sebagai
berdampak pada kualitas lingkungan, hal
berikut :62
tersebut
bertentangan
dengan
amanat
pasal 15 UUPA yang menyatakan bahwa
menjadi sebuah kewajiban bagi pihak yang
mempunyai
hubungan
hukum
dengan
tanah untuk memelihara serta menambah
kesuburan tanah.
5. Pasal 27 huruf a angka 3, menyatakan
bahwa Hak Milik atas tanah hapus bila
tanahnya jatuh kepada negara karena
ditelantarkan.
Kemudian
dalam
61
Kajian Yuridis Penertiban dan
Pendayagunaan Tanah Terlantar Serta Pengenaan
Jenis dan Tarif PNBP Yang Berlaku Pada BPN
Dalam Upaya Pelaksanaan Kewenangan Daerah Di
Bidang Pertanahan, Oleh Sarjita, S.H., M. Hum.,
http://kppd.slemankab.go.id/wpcontent/uploads/2011/02/Kajian-Yuridis-Penertibandan-Pendayagunaan-Tanah-Terlantar-SertaPengenaan.pdf, hlm 6, Diakses Pada Tanggal 3 Mei
2019
62
Data Rekapitulasi Jumlah Hak Atas Tanah
Provinsi Jawa Barat, BPN Kanwil Jawa Barat.
N
o
Jenis Hak
1
2
Hak
GunaUsaha
HGB
197
3
Hak Pakai
2
4
HakPengelol
aan
Ijin Lokasi
1
5
Jumlah
Bidang
85
54
Jumlah
339
Luas
Hak
(Ha)
27.519.
1764
31.468.
0424
120.21
51
9.7000
LuasTanahTerin
dikasi Terlantar
(Ha)
23.682.3503
9.477.2
200
68.594.
3539
3.889.9100
23.069.1399
Kriteria tanah terlantar dapat ditemukan
dengan cara mensistemasi unsur-unsur yang
ada dalam tanah terlantar. Adapun unsur-unsur
yang ada pada tanah terlantar yaitu :64
120.2151
1. Adanya pemilik atau pemegang hak atas
8.9000
tanah (subjek).
2. Adanya tanah hak yang diusahakan atau
tidak (objek).
50.770.5153
3. Adanya tanah yang teridentifikasi telah
menjadi hutan kembali atau kesuburannya
Penguasaan tanah yang melampaui
tidak terjaga.
batas, penguasaan tanah secara absentee,
penguasaan
tanah
yang
terpecah-pecah,
4. Adanya jangka waktu tertentu dimana
tanah menjadi tidak produktif.
spekulasi tanah dapat mengakibatkan terjadinya
tanah-tanah terlantar, Terjadinya tanah terlantar
5.
menggunakan tanah.
dapat disebabkan antara lain sebagai berikut :63
1. Pemilikan tanah yang terlampau luas, atau
6.
mampu
pemegang
untuk
hak
tidak
membangun
dan
mengetahui
unsur-unsur
esensial terjadinya tanah terlantar maka kriteria
atau
ukuran
yang
dapat
dipakai
untuk
menetapkan sebidang tanah adalah terlantar
memanfaatkan tanahnya.
2. Adanya resesi ekonomi yang menimbulkan
dengan cara kembali menjelaskan dengan
perubahan struktur pemasaran atau sebab-
melakukan
sebab
unsur yang ada, dengan fokus terhadap tujuan
lain,
merasa
sehingga
tidak
pemegang
akan
hak
memperoleh
tanahnya.
tanahnya
hak
sesuai
sulit
mengusahakan
dengan
sifat
dan
tujuannya, karena adanya penggarapan
liar.
4. Spekulasi
terhadap
2. Upaya
Penertiban
dan
Pendayagunaan tanah terlantar di
tinjau dari Peraturan Pemerintah
Nomor 11 Tahun 2010 Tentang
Penertiban
dan
Pendayagunaan
tanah terlantar.
dan memutuskan untuk tidak mengolah
Pemegang
penafsiran-penafsiran
pemberian hak atas tanah.
keuntungan untuk melanjutkan usahanya
3.
Status tanah kembali kepada negara.
Dengan
pemilikan tanah secara absentee yang
mengakibatkan
Adanya perbuatan yang sengaja tidak
Berkaitan dengan tanah-tanah yang
tidak difungsikan, tidak diolah, tidak diusahakan,
tanah
yang
mengharapkan
keuntungan secara tidak wajar.
tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau
sifat
dan
tujuan
haknya
atau
dasar
penguasaannya, maka Pemerintah kemudian
63
Chadidjah Dalimunthe, Pelaksanaan
Landreform Di Indonesia Dan Permasalahannya,
Cetakan Ketiga, Penerbit Universitas Sumatera Utara,
Medan, 2005, hlm. 117-119
Luh Putu Suryani, Tesis : “Penertiban
dan Pendayagunaan Tanah Terlantar Dalam Rangka
Penatagunaan Tanah Di Kota Denpasar” (Denpasar:
Universitas Udayana, 2011), hlm 69.
64
mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 11
Pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa : Identifikasi
Tahun
dan penelitian sebagaimana dimaksud dalam
2010
tentang
Penertiban
dan
Pendayagunaan Tanah Terlantar.
pasal 5 ayat (1) dilaksanakan:
Peraturan ini diundangkan di Jakarta
a. Terhitung mulai 3 (tiga) tahun sejak
pada 22 Januari 2010 mulai berlaku pada
diterbitkan Hak Milik, Hak Guna Usaha,
tanggal
Hak Guna Bangunan, Hak Pakai; atau
diundangkannya.
dikeluarkannya
PP
tersebut
Maksud
adalah
untuk
b.
Sejak berakhirnya izin/keputusan/surat
memaksimalkan penggunaan tanah menjadi
dasar penguasaan atas
acuan
pejabat yang berwenang.
untuk
penyelesaian
penertiban
dan
pendayagunaan tanah terlantar.
tanah dari
Dalam Pasal 1 ayat (5) Peraturan
Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor
Peme-rintah No 36 Th 1998 dinyatakan bahwa
11 Tahun 2010 menentukan bahwa : “Objek
Tanah
penertiban tanah terlantar meliputi tanah yang
diterlantarkan oleh pemegang hak atas tanah,
sudah diberikan hak oleh Negara berupa Hak
pemegang hak pe-ngelolaan atau pihak yang
Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan,
telah memperoleh dasar
Hak Pakai, dan Hak Pengelolaan, atau dasar
tanah, tetapi belum memperoleh hak atas tanah
penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan,
sesuai
tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan
undangan yang berlaku.
sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan
pemberian hak atau dasar penguasaannya”.
Pasal 3 menyatakan bahwa : “Tidak
termasuk
objek
penertiban
tanah
terlantar
sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 adalah:
a. Tanah
Hak
atau
ketentuan
tanah
yang
penguasaan atas
peraturan
perundang-
Ketentuan hal ini sebetulnya juga telah
ditentukan dalamUUPA Pasal 27, 34 dan 40
UUPA yaitu bahwa Hak Milik, HGU, HGB dapat
dinyatakan sebagai tanah terlantar dan jatuh
menjadi tanah negara apabila tanah tersebut
dengan sengaja tidak dipergunakan oleh peme-
Bangunan, atas nama perseorangan
gang haknya sesuai dengan keadaannya atau
yang
sifat dan tujuan haknya atau tidak dipelihara
tidak
Hak
adalah
Guna
secara
Milik
terlantar
sengaja
tidak
dipergunakan sesuai dengan keadaan
dengan baik.
atau sifat dan tujuan pemberian haknya
Pengertian tanah terlantar dalam PP No
b. Tanah yang dikuasai pemerintah baik
10 Tahun 2010 sebagaimana produk peraturan
secara langsung maupun tidak langsung
lainnya dapat dilihat pada Pasal 2, menentukan
dan sudah berstatus maupun belum
Obyek penertiban tanah terlantar meli-puti tanah
berstatus Barang Milik Negara/Daerah
yang sudah diberikan hak oleh Negara berupa
yang tidak sengaja tidak dipergunakan
Hak
sesuai dengan keadaan atau sifat dan
Bangunan, Hak Pakai, dan Hak Pengelolaan,
tujuan pemberian haknya.
atau dasar pe-nguasaan atas tanah yang tidak
Milik, Hak
Guna Usaha, Hak
Guna
diusaha-kan, tidak dipergunakan, atau tidak
dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau
sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar
barat, salah satu langkah-langkahnya sebagai
penguasaannya.
berikut :65
Pasal 3, menyatakan : Tidak termasuk
1. kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
obyek penertiban tanah terlantar sebagaimana
Nasional bertanggung jawab melaksanakan
dimaksud dalam Pasal 2 adalah:
kegiatan
a. tanah
Hak
Milik
atau
Hak
Guna
Bangunan atas nama perseorangan
yang
secara
tidak
sengaja
tidak
tanah
terindikasi
terlantar di lingkungan wilayah kerjanya.
2. Kepala Bidang penanganan masalah dan
pengendalian
pertanahan
Cq
Seksi
dipergunakan sesuai dengan keadaan
pengendalian pertanahan melaksanakan
atau sifat dan tujuan pemberian haknya;
inventarisasi
dan
pada kantor wilayah Badan Pertanahan
b. tanah yang dikuasai pemerintah baik
secara langsung maupun tidak lang-
tanah
terindikasi
terlantar
Nasional Provinsi.
3. Dalam hal petugas yang melaksanakan
sung dan sudah berstatus maupun be-
inventarisasi
lum berstatus Barang Milik Negara/
masalah dan pengendalian pertanahan Cq
Daerah yang tidak sengaja tidak di-
Seksi
pergunakan sesuai dengan keadaan
mencukupi, kepala kantor wilayah Badan
atau sifat dan tujuan pemberian hak-
Pertanahan Nasional menunjuk pelaksana
nya.
lain dilingkungan kantor Wilayah Badan
Keberadaan PP No.11 Tahun 2010
Pertanahan
dinilai sa-ngat penting dalam merestrukturisasi
pemilikan dan penguasaan tanah lebih adil bagi
rakyat.
inventarisasi
Tanah
terlantar
penanganan
Pertanahan
Nasional/kantor
tidak
pertanahan
setempat.
Kegiatan inventarisasi tanah terindikasi
terlantar oleh Kantor Wilayah Badan Pertanahan
masyarakat dalam rangka reformasi agraria,
Nasional meliputi tahapan sebagai berikut :
untuk
dan
Pengumpulan data pisik, rapat koordinasi yang
pemerintah di an-taranya untuk ketahanan
dihadiri oleh pelaksana dari kantor Pertanahan,
pangan, ketahanan energi dan pengembangan
pemegang hak atau pihak-pihak lain yang terkait
perumahan rakyat.
berkenaan dengan hasil kegiatan inventarisasi
strategi
lain
pengendalian
bidang
untuk
kepen-tingan
antara
pada
negara
Upaya Penertiban dan pengendalian
tanah terindikasi terlantar, Input/entry data hasil
tanah terlantar atau ditelantarkan berdasarkan
kegiatan inventarisasi tanah terindikasi terlantar
petunjuk tertulis yang di gunakan oleh Badan
kedalam aplikasi sistem informasi tanah telantar
Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Wilayah
(SI-TANTE), membuat laporan tertulis hasil
Provinsi Jawa Barat dan beberapa tempat
kegiatan inventarisasi tanah terindikasi terlantar
dilakukan oleh BPN Kota/Kabupaten di jawa
kepada menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
65
Data Rekapitulasi Jumlah Hak Atas Tanah
Provinsi Jawa Barat, BPN Kanwil Jawa Barat, Op
Cit, hlm 5-15
Badan
Pertanahan
Nasional
Cq
Direktur
3. Laporan
disampaikan
kepada
Menteri
Jenderal Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Cq
dan Penguasaan Tanah, Biaya inventarisasi
Dirjen Pengendalian Pemanfaatan Ruang
mengacu kepada Standar Keluaran (SBK) tahun
dan Penguasaan tanah dan softcopy dikirim
berjalan.66
melalui
Langkah selanjutnya yang digunakan
email
dengan
alamat:
[email protected]
oleh BPN dalam rangka Pengendalian dan
Berikut
data
rekapitulasi
pengendalian
dan
tahapan
Penertiban Tanah Terlantar yaitu Pemutakhiran
penertiban,
pemanfaatan
Data Tanah Terindikasi Terlantar, terhadap data
tanah terlantar di Wilayah Provinsi jawa barat,
tanah yang terindikasi terlantar dapat dilakukan
sebagai berikut :70
pemutakhiran data dengan cara :67
No
Tahapan
Jumlah
Bidang
Luas
(Ha)
Hak
Belum Penertiban Dan
Belum berakhir Hak
Belum Penertiban dan
sudah berakhir haknya
Sudahpenertiban,belum
dilanjutkan ke tahap
berikutnya
Sudah
usulan
penetapan
tanah
terlantar (status Quo)
Sudah
di
tetapkan
sebagai tanah terlantar
Optimalisasi
Jumlah
123
19,260.2967
LuasTanah
Terindikasi
Terlantar
(Ha)
14,001.5076
83
14,909.3976
10,3537523
79
20,796.2720
14,266.7883
24
5,421.0828
4,179.5983
0
0,0000
0,0000
8,207.3048
68,594.3539
7,968.8688
50,770.5153
1. Penyesuaian
2. Penghapusan.
1
Langkah
Informasi
berikutnya
Tanah
yaitu
Telantar
Sistem
(SI-TANTE)
2
3
merupakan suatu aplikasi yang dirancang dan
dibuat khusus dan digunakan sebagai database
untuk
mengelola
data-data
tanah
terlantar
secara sistematis dan dapat di update setiap
saat,
sebagai
sarana
penyedia
4
data
informasi mengenai tanah terlantar
dan
5
6
30
339
secara
D. PENUTUP
valid.68
Langkah
terakhir
yaitu
Pelaporan,
1. Kesimpulan
kantor wilayah Badan Pertanahan Nasional
a. Aspek Hukum mengenai ketentuan hak-
Provinsi wajib membuat dan menyampaikan
hak atas tanah diatur dalam pasal 4
laporan potensi tanah terlantar kepada Mentri
ayat 1 UUPA, Pasal 2 ayat (2) huruf b,
Agraria
Badan
Pasal 6, Pasal 10 ayat 1, Pasal 15,
Pertanahan Nasional Cq Direktur Jenderal
Pasal 27 huruf a angka (3), Pasal 34
Pengendalian dan Penguasaan Tanah, isinya
huruf e, Pasal 40 huruf e, Hukum
meliputi :69
Agraria
dan
tata
Ruang/Kepala
Nasional
(UUPA)
1. Realisasi fisik dan keuangan.
menyebutkan
2. Uraian hasil kegiatan penyusunan data
terutama para pemegang hak atas
potensi tanah terlantar.
bahwa
tersebut,
semua
pihak
tanah, perlu mengerti dan menjaga agar
tidak
terjadi
tanah
terlantar
dan
Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun
66
Ibid.
Ibid.
68
Ibid.
69
Ibid.
67
70
Data
Rekapitulasi
Tahapan
Pengendalian/Penertiban Tanah Terlantar BPN
Kanwil Jawa barat, Tahun 2018
2010
Tentang
Penertiban
dan
Pendayagunaan Tanah Terlantar.
atau pengambil alihan tanah tersebut
dengan melawan hukum.
b. Upaya Penertiban dan Pendayagunaan
b. Terhadap
Tanah
terlantar
atau
tanah terlantar di tinjau dari Peraturan
diterlantarkan perlu penanganan yang
Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010
serius
Tentang
dan
Pemerintah
Pendayagunaan tanah terlantar yang
Pertanahan
dilakukan
Tata
Menggandeng Masyarakat yang tingal
dengan
atau mengetahui tentang keberadaan
Penertiban
oleh
Ruang/Kepala
Kementrian
BPN
yaitu
melakukan Kegiatan inventarisasi tanah
dan
Komprehensif
dalam
hal
ini
Nasional
oleh
Badan
dengan
tanah terlantar tersebut.
terindikasi terlantar oleh Kantor Wilayah
Badan
Pertanahan
Nasional,
DAFTAR PUSTAKA
Pemutakhiran Data Tanah Terindikasi
Terlantar,
Sistem
Informasi
Tanah
Telantar (SI-TANTE) merupakan suatu
aplikasi yang dirancang dan dibuat
khusus
dan
digunakan
sebagai
database untuk mengelola data-data
tanah terlantar secara sistematis dan
dapat di update setiap saat dan yang
terakhir
Pelaporan,
kantor
wilayah
Badan Pertanahan Nasional Provinsi
wajib
membuat
dan
menyampaikan
laporan potensi tanah terlantar kepada
Mentri Agraria dan tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional Cq Direktur
Jenderal
Pengendalian
dan
Penguasaan Tanah.
2. Saran.
a. Perlunnya ketegasan dari Pemerintah
dalam melakukan Penertiban terhadap
A. BUKU
Affan
Mukti,
Pokok-Pokok
Bahasan Hukum Agraria, Medan:
USUPress, 2006
A.P. Parlindungan, Landreform
Di Indonesia Strategi Dan Sasarannya,
Mandar Maju, Bandung 1991,
Chadidjah
Dalimunthe,
Pelaksanaan Landreform Di Indonesia
Dan Permasalahannya, Cetakan Ketiga,
Penerbit Universitas Sumatera Utara,
Medan, 2005
Muslan Abdurrahman, Sosiologi
dan Metode Penelitian Hukum, UMM
Press, Malang, 2009
Ronny
Hanitijo
Soemitro,
Metodologi Penelitian Hukum Jurimetri,
Cet ke-4 Ghalia Indonesia, Jakarta,
1990
Suhariningsih, Tanah Terlantar,
Prestasi Pustaka Raya, Jakarta, 2009
Soerjono Soekanto, Pengantar
Penelitian Hukum, Universitas Indonesia
(UI-Press), Jakarta, 1986
Urip santoso, Hukum Agraria
kajian komprehensif, kencana, Cet ke-6,
Surabaya, 2017
tanah yang diindikasikan sebagai tanah
terlantar atau ditelantarkan oleh Pemilik
B. ARTIKEL, JURNAL, INTERNET
HGU nya supaya tidak ada penguasaan
Kajian Yuridis Penertiban dan
Pendayagunaan Tanah Terlantar Serta
Pengenaan Jenis dan Tarif PNBP Yang
Berlaku Pada BPN Dalam Upaya
Pelaksanaan Kewenangan Daerah Di
Bidang Pertanahan, Oleh Sarjita, S.H.,
M.
Hum.,
http://kppd.slemankab.go.id/wpcontent/uploads/2011/02/Kajian-YuridisPenertiban-dan-Pendayagunaan-TanahTerlantar-Serta-Pengenaan.pdf, hlm 6,
Luh Putu Suryani, Tesis:
“Penertiban dan Pendayagunaan Tanah
Terlantar Dalam Rangka Penatagunaan
Tanah Di Kota Denpasar” (Denpasar:
Universitas Udayana, 2011)
Supriyanto,
kriteria
tanah
terlantar dalam peraturan perundangan
Indonesia, Jurnal Dinamika hukum, Vol.
10 No. 1 Januari 2010, Fakultas Hukum
Universitas
Jenderal
Soedirman
Purwokerto,
Juknis Potensi Tanah Terlantar
Tahun 2018, BPN Kanwil Jawa barat.
Download