Uploaded by Dwi Yuniarto Putera

portopolio abortus imminens

advertisement
PORTOFOLIO
Topik: Abortus Imminens
Tanggal (kasus)
Presenter
:
: dr.Revina Rinda Mutia
Pembimbing:dr. Jerry Jim Hutagalung
Tangal presentasi :
dr. Linda S
Obyektif presentasi:
□ Keilmuan
√
□ Keterampilan
□ Diagnostik □ Manajemen
√
□Neonatus
□ Bayi
√Penyegaran
□ Masalah
□ Anak
□ Remaja
□ Tinjauan pustaka
□ Istimewa
√ Dewasa
□ Lansia
□ Bumil
□ Deskripsi: Ny. R, 31 tahun dengan keluhan keluar darah dari kemaluan sejak ± 2 jam yang
lalu.
□ Tujuan:
 Mampu menegakkan diagnosa Abortus imminens serta melakukan penanganan awal
Bahan bahasan:
□ Tinjauan pustaka
Cara membahas: √ Diskusi
Data pasien:
□ Riset
√ Kasus
□Presentasi dan diskusi
□ E‐mail
Nama: Ny. R
Nama RS: RSUD H. Hanafie Muara
Usia: 31 tahun
□ Audit
□ Pos
No registrasi:
Terdaftar sejak:
Bungo
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/ Gambaran Klinis:
Keluar darah dari kemaluan, membercaki 1 helai celana dalam sejak 2 jam yang lalu,
berwarna kehitaman, nyeri (-). Keluar jaringan seperti daging (-). Keluar jaringan seperti
mata ikan (-). Tidak haid sejak ± 3 bulan yang lalu. HPHT : 13-11-2018. Ini merupakan
kehamilan ketiga. Riwayat demam (-), trauma (-), keputihan (-). BAB dan BAK biasa.
Riwayat menstruasi : menarche usia 12 tahun, siklus teratur 1x28 hari, lamanya 5-7 hari, 2-3
kali ganti duk/hari, nyeri haid (-)
2. Riwayat Penyakit dahulu:
Pasien tidak pernah menderita penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM dan hipertensi.
Riwayat alergi disangkal
3. RIWAYAT PERKAWINAN : 1 kali pada tahun 2011
Riwayat Kehamilan/Abortus/Persalinan : 3/0/2
1.
2012, BB 3200 gram, laki-laki, cukup bulan, spontan , bidan, hidup
1
2.
2015, BB 3000 gram, perempuan, cukup bulan, spontan, bidan, hidup
3.
Sekarang hamil.
4. Riwayat keluarga :
Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit keturunan, menular dan
kejiwaan.
5. Riwayat Pekerjaan : Ibu rumah tangga
6. Riwayat Kontrasepsi
: (-)
Riwayat Pendidikan
: Tamat SLTA
Riwayat Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Riwayat kebiasaan
: Alkohol (-), narkoba (-), merokok (-)
Daftar Pustaka:
1. Wim de Jong; Sjamsuhidajat.2003. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. EGC. 2003.
2. PB PAPDI. 2006. Panduan pelayanan medik. Interna publishing. Jakarta
Hasil pembelajaran:
-
Menegakkan diagnosa abortus imminens
-
penanganan awal abortus imminens
RANGKUMAN
Subyektif
Keluar darah dari kemaluan sejak 2 jam yang lalu, perdarahan awalnya flek-flek warna
kemerahan, kemudian terdapat gumpalan darah berwarna kehitaman, nyeri pada perut bagian
bawah yang ringan. Keluar jaringan seperti daging (-). Keluar jaringan seperti mata ikan (-).
Tidak haid sejak ± 3 bulan yang lalu. HPHT : 13-11-2018. Ini merupakan kehamilan ketiga.
Riwayat demam (-), trauma (-), keputihan (-). BAB dan BAK biasa. Riwayat menstruasi :
menarche usia 12 tahun, siklus teratur 1x28 hari, lamanya 5-7 hari, 2-3 kali ganti duk/hari,
nyeri haid (-)
Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari kemaluan sejak 2 jam SMRS dan pasien
hamil anak ketiga, tidak haid sejak ± 3 bulan yang lalu. HPHT : 13-11-2018. Pada anamnesis
didapatkan adanya keluhan telat haid yang mendukung pasien sedang hamil. Selain adanya
keluhan perdarahan pervaginam didapatkan juga keluhan nyeri perut bagian bawah.
Berdasarkan data anamnesis tersebut maka dipikirkan adanya kecurigaan terhadap gejala
abortus.
2
Obyektif

Pada pemeriksaan fisik didapatkan :

Keadaan umum
: Sedang

Kesadaran
: compos mentis kooperatif

Tinggi Badan
: 155 cm

BB sebelum hamil
: 55 kg

LILA
: 29 cm

BMI
: 23.2 kg/m2

Status Gizi
: cukup

Vital sign: Tekanan Darah
: 110/70 mmHg
Nadi
: 73 x/menit
Nafas
: 21 x/menit
Temperatur
: 37,4 0C

Mata
: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Leher
: Inspeksi:
JVP 5-2 cmH2O,
Kelenjar tiroid tidak tampak membesar
Palpasi : Kelenjar tiroid tidak teraba membesar
Kelenjar Getah Bening tidak teraba membesar



Thoraks
Jantung
:
Inspeksi
: Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi
: Ictus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi
: Batas jantung normal
Auskultasi
: BJ I-II Reguler, murmur(-), gallop (-)
Pulmo
Inspeksi
Palpasi
: gerak nafas simetris kanan dan kiri
: fremitus taktil kanan = kiri
Perkusi
: sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi
: Vesikuler +/+, Rh-/-, wh-/-

Abdomen
: Status Obstetricus

Genitalia
: Status Obstetricus

Ekstremitas
: Edema -/-, RF +/+, RP -/-
Status Obstetrikus :
3

Abdomen
I
: perut tidak tampak membuncit
Pa
: FUT teraba 2 jari diatas SOP, NT(-), NL(-), DM(-)
Pe
: Timpani
Au
: BU (+) Normal

Genitalia:
Inspeksi
: v/u tenang, PPV (+)
Inspekulo :
Vagina : tumor (-), laserasi (-), fluksus (+) tampak darah menumpuk di fornix
posterior warna merah kehitaman.
Portio : MP, ukuran sebesar jempol kaki dewasa, tumor (-), laserasi (-), fluksus
(-), tidak tampak darah merembes dari kanalis servikalis, OUE tertutup
Pemeriksaan Penunjang :
Laboratorium :
Hemoglobin
: 10,4 gr/dl
Hematokrit
: 33 %
Leukosit
: 7200 /mm3
Trombosit
: 177.000 /mm3
Plano test
: (+)
USG
- Uterus ukuran besar dari normal
- Tampak GS intrauterin
- Fetal echo (+)
Kesan : gravid 11-12 minggu

Pada kasus ini, diagnosis abortus imminens ditegakan dengan:
-
Gejala klinis tidak bisa BAK sejak 1 minggu SMRS, tidak ditemui flatus , nyeri
perut hilang timbul disertai mual dan muntah sejak 3 hari terakhir
4
-
Gambaran radiologis (gambaran dilatasi usus dan step ladder sign)
“Assessment”
Keluhan tidak bisa BAB selama satu minggu disertai tidak ada flatus terjadi akibat
adanya sumbatan usus. Sumbatan diatasi dengan dekompresi bagian yang mengalami
obstruksiuntuk
mencegah
perforasi.Tindakan
operasi
biasanya
selalu
diperlukan.
Menghilangkan penyebab obstruksi adalah tujuan kedua. Pipa lambung harus dipasang untuk
mengurangi muntah, mencegah aspirasi dan mengurangi distensi abdomen (dekompresi).
Pasien dipuasakan, kemudian dilakukan juga resusitasi cairan dan elektrolit untuk perbaikan
keadaan umum. Setelah keadaanoptimum tercapai barulah dilakukan laparatomi
“Plan”
Diagnosis :
Ileus obstruksi, berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan gambaran radiologis
Pengobatan :
Penanganan awal ileus adalahdengan pemasangan NGT, infus,oksigen dan kateter. Dalam
kasus ini diberikan penanganan awal

Oksigen 2-3 l/i

IVFD RL 20gtt/I

NGT dekompresi,

Pemasangan kateter

konsul ahli.
Edukasi :
1. Harus cukup istirahat untuk mencapai pemulihan
2. Penjelasan tentang penyakit pasien
3. Menjelaskan tentang komplikasi dan gejala gejala yang memperbesarkan penyakitnya.
5
4. Edukasi mengenai operasi ileus obstruktif
5. Penjelasan tentang prognosis
Tinjauan Pustaka
Definisi
Ileus adalah gangguan/hambatanpasaseisiususyang merupakantandaadanyaobstruksi usus
akut, membutuhkan pertolongan atau tindakan segera. Ileus ada 2 macam yaitu ileus
obstruktif dan ileus paralitik
Ileus obstruktif atau disebut juga ileus mekanik adalah keadaan dimana isi lumen saluran
cerna tidak bisa disalurkan ke distal atau anus karena adanya sumbatan/hambatan mekanik
yang disebabkan kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar usus yang menekan atau
kelainan vaskularisasi pada suatu segmen usus yang menyebabkan nekrose segmen usus
tersebut
Klasifikasi
Berdasarkan lokasi obstruksinya, ileus obstruktif atau ileus mekanik dibedakan menjadi :
1. Ileusobstrukti letak tinggi: obstruksimengenaiusushalus (dari gastersampaiileum
terminal).
6
2. Ileus obstruktif letak rendah: obstruksi mengenai usus besar (dari ileum
terminalsampairectum).
Selain itu, ileus obstruktif dapat dibedakan menjadi 3 berdasarkan stadiumnya :
1. Obstruksi sebagian (partial obstruction):obstruksi terjadi sebagian sehingga
makananmasih bisa sedikit lewat, dapat flatus dan defekasi sedikit.
2. Obstruksi sederhana ( simpleobstruction): obstruksi/ sumbatanyang tidak disertai
terjepitnya pembuluh darah (tidak disertai gangguan aliran darah).
3. Obstruksi strangulasi (strangulated obstruction): obstruksi disertai dengan
terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir dengan
nekrosis ataugangren.
Etiologi
Menurut (Smeltzer dan Suzzane, 2001 : 1121) etiologi dari obstruksi usus atau ileus
yaitu:
1. Perlengketan
2. Intususepsi yaitu salah satu bagian usus menyusup kedalam bagian lain yang ada
dibawahnya.
3. Volvulus yaitu usus memutar akibatnya lumen usus tersumbat.
4. Hernia yaitu protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus.
5. Tumor
Patogenesis
7
Usus di bagian distal kolaps, sementara bagian proksimal berdilatasi. Usus yang
berdilatasi menyebabkan penumpukan cairan dan gas, distensi yang menyeluruh
menyebabkan pembuluh darah tertekan sehingga suplai darah berkurang (iskemik), dapat
terjadi perforasi. Dilatasi dan dilatasi usus oleh karena obstruksi menyebabkan perubahan
ekologi, kuman tumbuh berlebihan sehingga potensial untuk terjadi translokasi
kuman.Gangguan vaskularisasi menyebabkan mortalitas yang tinggi, air dan elektrolit
dapat lolosdari tubuh karena muntah. Dapat terjadi syok hipovolemik, absorbsi dari toksin
pada usus yang mengalamistrangulasi.
Dinding usus halus kuat dan tebal, karena itu tidak timbul distensi berlebihan atau
ruptur. Dinding usus besar tipis, sehingga mudah distensi. Dinding sekum merupakan
bagian kolon yang paling tipis, karena itu dapat terjadi ruptur bila terlalu tegang. Gejala
dan tanda obstruksi usus halus atau usus besar tergantung kompetensi valvula Bauhini.
Bila terjadi insufisiensi katup,timbul refluks dari kolon ke ileum terminal sehingga ileum
turut membesar.
Gejala awal
8
1.
Gejala awal biasanya berupa nyeri kram yang terasa seperti gelombang dan bersifat
kolik.
2.
Terjadi muntah fekal apabila ada obtruksi di Illeum.
3.
Konstipasi absolut
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dari obstruksi usus atau ileus:
1. Pemeriksaan rontgen dengan enteroklisis.Menggunakan cairan kontras encer berguna
untuk menentukan diagnosis sebab memberikan gambaran ke sepanjang usus halus.
2. Enteroskopi. Yaitu meneropong usus dapat dilakukan sebagai refleksi bagian ligament
treiz, sampai permulaan yeyenum.
3. Sonogram: Berguna untuk menentukan adanya ruang yang mengandung cairan seperti
kista, abses atau cairan bebas didalam rongga perut atau ruang yang berisi jaringan
padat.
Diagnosis
Pada anamnesis obstruksi tinggi sering ditemukan penyebab misalnya berupa
adhesi dalam perut karena pernah dioperasi atau terdapat hernia.Gejala umum berupa
syok, oliguri dan gangguan elektrolit.Selanjutnya ditemukan meteorismus dan kelebihan
cairan diusus, hiperperistaltis berkala berupa kolik yang disertai mual dan muntah.Kolik
tersebut terlihat pada inspeksi perut sebagai gerakan usus atau kejang usus dan pada
auskultasi sewaktu serangan kolik, hiperperistaltis kedengaran jelas sebagai bunyi nada
tinggi.Penderita tampak gelisah dan menggeliat sewaktu kolik dan setelah satu dua kali
defekasi tidak ada lagi flatus atau defekasi.
Pemeriksaan dengan meraba dinding perut bertujuan untuk mencari adanya nyeri
tumpul dan pembengkakan atau massa yang abnormal. Gejala permulaan pada obstruksi
kolon adalah perubahan kebiasaan buang air besar terutama berupa obstipasi dan
kembung yang kadang disertai kolik pada perut bagian bawah.Pada inspeksi diperhatikan
pembesaran perut yang tidak pada tempatnya misalnya pembesaran setempat karena
9
peristaltis yang hebat sehingga terlihat gelombang usus ataupun kontur usus pada dinding
perut.Biasanya distensi terjadi pada sekum dan kolon bagian proksimal karena bagian ini
mudah membesar.
Dengan stetoskop, diperiksa suara normal dari usus yang berfungsi (bising usus).
Pada penyakit ini, bising usus mungkin terdengar sangat keras dan bernada tinggi,atau
tidak terdengar sama sekali.
Nilai
laboratorium
pada
awalnya
normal,
kemudian
akan
terjadi
hemokonsentrasi,leukositosis, dan gangguan elektrolit.
Pada pemeriksaan radiologis, dengan posisi tegak,terlentang dan lateral dekubitus
menunjukkangambaran anak tangga dari usus kecil yang mengalami dilatasi dengan air
fluid level. Pemberian kontras akan menunjukkan adanya obstruksi mekanis dan letaknya.
Diagnosis Banding
Ileus paralitik, pada ileus paralitik nyeri yang ditimbulkan lebih ringan tetapi konstan
dan difus. Pada pemeriksaan fisis didapatklan adanya distensi abdomen, perkusi timpani
dengan bising usus yang lemah dan jarang bahkan tidak dapat terdengar sama sekali. Tidak
ditemukan adanya reaksi peritoneal ( nyeri tekan dan nyeri lepas ).
Pada foto rontgen ketika terjadi obstruksi pada usus, kedua cairan dan udara (gas)
yang terkumpul didalam usus menunjukkan gambaran yang dinamakan “air fluid levels”.
Selain itu dapat juga dilakukan pemeriksaan USG abdomen dan Ct-scan abdomen.
Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami obstruksi
untuk mencegah perforasi.Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan.Menghilangkan
penyebab obstruksi adalah tujuan kedua.Kadang-kadang suatu penyumbatan sembuh
dengansendirinya tanpa pengobatan, terutama jika disebabkan oleh perlengketan.Penderita
penyumbatan usus harus di rawat di rumah sakit.
Dasar pengobatan obstruksi usus adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan
(infus dengan larutan yang mengandung kalium, natrium, dan klorida), menghilangkan
peregangan dan muntah dengan intubasi dan dekompresi, memperbaiki peritonitis dan syok
bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus
kembali normal.
10
Bersama dengan intervensi bedah, penggantian kehilangan cairan dan elektrolit ke
dalam lumen usus maupun dekompresi traktus gastrointestinalis dengan sonde yang
ditempatkan intralumen, merupakan tujuan primer terapi dalam obstruksi usus. Dekompresi
pipa gastrointestinalis diindikasikan untuk dua alasan :
(1) Untuk dekompresi lambung sehingga memperkecil kesempatan asprasi isi usus
(2) Membatasi masuknya udara yang ditelan ke dalam saluran pencernaan, hingga
mengurangi distensi usus yang bisa menyebabkan peningkatan tekanan intralumen
dan kemungkinan ancaman vascular.
1. Persiapan
Pipa lambung harus dipasang untuk mengurangi muntah, mencegah aspirasi dan
mengurangi distensi abdomen (dekompresi).Pasien dipuasakan, kemudian dilakukan juga
resusitasi cairan dan elektrolit untuk perbaikan keadaan umum.Setelah keadaanoptimum
tercapai barulah dilakukan laparatomi.Pada obstruksiparsial atau karsinomatosis abdomen
dengan pemantauan dan konservatif.pengobatankonservatif (dengan pemasangan NGT,
infus,oksigendankateter).
2. Operasi
Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-organ vital berfungsi
secara memuaskan.Tetapi yang paling sering dilakukan adalah pembedahan sesegera
mungkin. Tindakan bedah dilakukan bila :-Strangulasi-Obstruksi lengkap-Hernia inkarserataTidak ada perbaikan denganpengobatankonservatif (dengan pemasangan NGT, infus, oksigen
dan kateter).
Operasi dini setelah dekompresi dengan penggantian cairan dan elektrolit dilakukan untuk
mencegah komplikasi sepsis sekunder terhadap strangulata atau ruptur usus.Sehingga
obstruksi yang dicurigai disertai dengan jenis strangulasi atau gelung tertutup maupun jenis
colon, mempunyai prioritas bedah tinggi. Tindakan yang terlihat dalam terapi bedahnya
masuk kedalam beberapa kategori:
1. lisis pita lekat atau reposisi hernia
2. pintas usus
3. reseksi dengan anastomosis
4. diversi stoma dengan atau tanpa reseksi
11
3. Pasca Bedah
Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan elektrolit.Kita
harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan kalori yang cukup.Perlu
diingat bahwa pasca bedah usus pasien masih dalamkeadaan paralitik.Perawatan pasca
operasi mencakup cairan dan elektrolit rumatan, antibiotik dan dekompresi. Pada ileus
paralitik pasca operasi dapat diberikan sisaprit dan metoklorpramidyang bermanfaat untuk
gastroparesis.
Prognosis
Nonstrangulasi obstruksi mempunyai suatu angka kematian sekitar 2 %, banyak
terjadi pada orang tua.Obstruksi strangulata mempunyai tingkat kematian kira-kira 8 % jika
operasi dilakukan dalam 36 jam setelah gejala timbul dan 2 % jika operasi ditunda lebih dari
36 jam.
12
13
14
15
Download