Uploaded by mohghifaryamodeong

Alkalinitas Air Industri

advertisement
ALKALINITAS : ANALISA DAN PERMASALAHANNYA UNTUK
AIR INDUSTRI
KARYA ILMIAH
Oleh :
AQUARINA LIMBONG
052401107
PROGRAM DIPLOMA III KIMIA ANALIS
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
PERSETUJUAN
Judul
: ALKALINITAS :ANALISA DAN
PERMASALAHANNYA
UNTUK AIR INDUSTRI
Kategori
: KARYA ILMIAH
Nama
: AQUARINA LIMBONG
Nomor Induk Mahasiswa : 052401107
Program Studi
: DIPLOMA (D3) KIMIA ANALIS
Departemen
: KIMIA
Fakultas
:MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
(FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Disetujui di
Medan, Juli 2008
Diketahui
Departemen Kimia FMIPA USU
Ketua,
Dosen Pembimbing
(DR. Rumondang Bulan, MS)
NIP. 131 459 466
(Drs. Usman Rasyid)
NIP. 130 422 446
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
PERYATAAN
ALKALINITAS : ANALISA DAN PERMASALAHANNYA
UNTUK AIR INDUSTRI
KARYA ILMIAH
Saya mengakui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali
beberapa kutipan dan ringkasan yang masing – masing disebutkan sumbernya.
Medan, Juli 2008
AQUARINA LIMBONG
052401107
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
PENGHARGAAN
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan baik.
Penulisan karya ilmiah ini merupakan hasil pelaksanaan dari Praktek Kerja
Lapangan (PKL) di PT. Clariant Indonesia Duri dan merupakan salah satu syarat
untuk menyelesaikan program Diploma-3 Kimia Analis FMIPA USU. Adapun judul
yang diambil penulis dalam penulisan karya ilmiah ini adalah :
“ALKALINITAS : ANALISA DAN PERMASALAHANNYA UNTUK AIR
INDUSTRI”.
Selama penulis menyusun karya ilmiah ini, penulis telah banyak mendapatkan
bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Dan oleh sebab itu dengan segala
kerendahan hati, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : secara khusus
dan teristimewa kepada kedua orang tua beserta keluarga tercinta yang telah
memberikan dorongan moril dan material kepada penulis. Terima kasih juga kepada
Bapak Drs. Usman Rasyid, selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan
pengarahan serta saran yang sangat bermanfaat pada penulis sampai selesainya penulis
karya ilmiah ini. Bapak Dr. Eddy Marlianto, M. Sc, selaku Dekan FMIPA USU. Ibu
Dr. Rumondang Bulan, MS, selaku Ketua Jurusan Kimia. Seluruh Dosen dan Staf
Administrasi Jurusan Kimia Analis FMIPA USU yang telah mendidik dan membantu
penulis selama perkuliahan. Pimpinan dan Staf Perusahaan PT. Clariant Indonesia
yang telah memberikan tempat untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan. Buat
teman satu PKL di PT. Clariant Indonesia Clara D Aritonang yang banyak membantu
dan menyelesaikan karya ilmiah ini. Buat teman seperjuangan Kimia Analis ’05, adik
Kimia Analis ’06 dan Kimia Analis ’07. Buat teman – teman satu kost jl. Rebab No
76A. Psr 2.P.Bulan, yang banyak membantu dan memberikan dorongan dalam
penyelesaian karya ilmiah ini.
Dalam pembuatan karya ilmiah ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa
karya ilmiah ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu penulis dengan
senang hati akan menerima saran dan kritik bagi penyempurnaannya.
Akhirnya penulis berharap agar kiranya karya ilmiah ini dapat bermanfaat
bagi penulis dan pembaca, semoga Tuhan Yesus Kristus senantiasa memberkati
kita semua.
Medan, Juli 2008
Penulis,
(Aquarina Limbong)
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR ISI
Halaman
PERSETUJUAN
PERNYATAAN
PENGHARGAAN
ABSTRAK
ABSTRACT
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
i
ii
iii
iv
v
vi
viii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Permasalahan
1.3. Tujuan
1.4. Manfaat
1
1
2
3
3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Air
2.2. Sumber Air
2.3. Sifat Umum Air
2.3.1. Sifat Fisik
2.3.2. Sifat Kimia
2.4. Alkalinitas
2.4.1. Peranan Alkalinitas
2.5. Metode Analisa Alkalinitas
2.5.1. Metode Titrasi Volumetri
2.5.1.1. Metode Indikator Warna
2.5.1.2. Metode Potensiometri
2.5.2. Gangguan Pada Analisa Alkalinitas
4
4
5
7
7
8
8
9
10
10
10
13
14
BAB 3 MENENTUKAN NILAI ALKALINITAS
3.1. Alat-alat yang digunakan
3.2. Bahan – bahan
3.3. Prosedur Percobaan
3.3.1. Penentuan Alkalinitas
3.3.1.1. Pembuatan Reagent
3.2.1.2. Cara Kerja Penentuan Alkalinitas
16
16
16
16
16
16
17
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Data Percobaan
4.2. Analisa Data
4.3. Pembahasan
18
18
19
20
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
21
21
21
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR TABEL
Tabel 1
: Indikator yang digunakan untuk titrasi alkalinitas
12
Tabel 2
: Hasil Pengukuran Alkalinitas pada Sumur
18
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
ABSTRAK
Analisa alkalinitas merupakan salah satu parameter persyaratan untuk
mencegah terjadinya pembentukan kerak pada sumur produksi minyak bumi di PT.
Chevron Pasific Indonesia dilakukan dengan metode titrasi asam – basa dengan
menggunakan larutan standar H2SO4 dan pH meter portable.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh kadar total alkalinitas
sebesar 420 mg/l CaCO3-740 mg/l CaCO3. Hasil yang diperoleh masih dalam standar
ketentuan yang telah ditetapkan oleh PT. Clariant Indonesia.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
ABSTRACT
Analysis of Alkalinity is one of that parameter rules to prohibit event
formation of scale at well oil production in PT. Chevron Pasific Indonesia was done
with method acid – base titration with use sulfat acid (H2SO4) as a standar solution
and pH meter portable
Based on the result of analysis that have been do, obtained the total of
alkalinity value of 420 mg/l CaCO3 - 740 mg/l CaCO3. The result it was obtained still
certainly of standard had been establish by PT. Clariant Indonesia.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam proses penambangan minyak bumi dan minyak yang keluar dari sumur
pengeboran bercampur dengan air, gas, lumpur dan pasir. Di butuhkan beberapa jenis
bahan kimia untuk memisahkan minyak dari bahan – bahan lain tersebut. Bahan kimia
yang dibutuhkan PT. Chevron Fasific Indonesia di pasok oleh PT. Clariant Indonesia.
Dalam hal ini air digunakan untuk pencampuran bahan kimia dan sebagai
pemanas (steam) diperoleh dari air lunak (soft water) yang telah diolah. Dalam hal ini
sebelum penginjekkan
bahan kimia terlebih
dahulu
diinjekkan air
untuk
membersihkan kotoran – kotoran yang terdapat dalam pipa produksi minyak bumi. Air
panas (steam) berguna untuk meningkatkan suhu dan tekanan didalam sumur
produksi.
Air yang keluar bersama minyak dari dalam sumur, umumnya mengandung
padatan terlarut yang dapat membentuk endapan atau kerak yang melekat pada
bahagian sebelah dalam pipa instalasi.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
Senyawa dalam air tersebut yang berperan dalam pembentukan kerak ialah
kalsium karbonat, magnesium karbonat, kalsium sulfat dan barium sulfat. Kalsium
karbonat
dan magnesium karbonat adalah senyawa penyebab kesadahan dan
alkalinitas air.
Salah satu parameter yang menyebabkan pembentukan kerak ialah alkalinitas.
Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan asam. Penyusun alkalinitas ialah
anion bikarbonat (HCO3-), karbonat (CO32-) dan hidroksida(OH-). Pengaruh anion
bikarbonat sangat besar dalam pembentukan kerak.
Sejalan dengan ini maka penulis tertarik untuk mencoba melakukan
pemantauan alkalinitas yang bertujuan untuk mengendalikan atau mencegah
pembentukan kerak pada sumur produksi minyak bumi dan pipa instalasinya. Kisaran
nilai total alkalinitas dalam sumur produksi minyak bumi yang digunakan 420–740
mg/l CaCO3.
1.2. Permasalahan
Sejauh mana kadar total alkalinitas yang terdapat pada air formasi yang
digunakan oleh PT. Clariant Indonesia dan permasalahan yang dihadapi akibat
tingginya alkalinitas sehingga akan membentuk kerak pada pipa instalasi.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
1.3. Tujuan
Untuk mengetahui alkalinitas : analisa dan permasalahannya untuk air industri
khusunya pada air formasi dengan menggunakan metode titrasi asam basa.
1.4. Manfaat
Dengan adanya analisa alkalinitas yang digunakan di dalam air formasi maka
kita dapat mengetahui salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan kerak pada
sumur produksi minyak bumi dan pipa instalasi.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Air
Di dalam industri, air juga memegang peranan penting, misalnya : sebagai pendingin,
pengangkut limbah, sebagai bahan baku untuk produksi uap didalam boiler dan lainlain (Gultom, J, 1993)
Air sangat dibutuhkan didalam industri penambangan minyak bumi sebagai air
pengencer maupun sebagai air umpan untuk steam. Penggunaan air pada
penambangan minyak bumi memiliki persyaratan khusus yang harus menggunakan
perlakuan kimia yang aman. Air digunakan pada proses pengolahan dan air
pengumpan ketel dilperoleh dari air tanah, air sungai dan sumber mata air lainnya.
Pada penambangan minyak bumi ini air yang keluar sangat banyak. Air tersebut
merupakan air tanah. Kualitas air tersebut tidak sama walaupun menggunakan sumber
air sejenis ini dipengaruhi oleh lingkungan asal mata air tersebut. Sumber mata air
umumnya sudah mengalami pencemaran oleh penduduk atau industri, oleh sebab itu
pemurnian harus dilakukan.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
2.2. Sumber Air
Pada prinsipnya, jumlah air dialam ini tetap dan mengikuti suatu aliran yang
dinamakan siklus hidrologi.
a. Air Permukaan
Air permukaan adalah air hujan yang mengalir dipermukaan bumi. Pada
umumnya air permukaan akan mendapat pengotoran selama pengalirannya, misalnya
oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri kota dan sebagainya.
Air permukaan ada 2 macam yakni :
1. Air Sungai
Dalam penggunaannya sebagai air minum, haruslah mengalami suatu
pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya
mempunyai derajat pengotoran yang tinggi sekali. Debit yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan akan air minum pada umumnya dapat mencukupi.
2. Air Rawa/ Danau
Kebanyakan air rawa ini berwarna yang disebabkan oleh zat-zat organik
yang membusuk, misalnya asam humus yang larut dalam air yang
menyebabkan warna kuning coklat. Jadi untuk pengambilan air sebaiknya pada
kedalaman tertentu dan sulit untuk dilakukan.
b. Air Tanah
Air tanah adalah air yang meresap kedalam tanah sehingga telah mengalami
penyaringan oleh tanah maupun oleh batu-batuan. Jika dibandingkan dengan sumber
air yang lain, air tanah lebih baik sehingga air tanah banyak dimanfaatkan sebagai
keperluan rumah tangga (Hadi,1980).
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
Air tanah terbagi dalam beberapa golongan yaitu :
1. Air tanah dangkal
Terjadi karena daya proses penyerapan air pada permukaan tanah. Lumpur
akan tertahan demikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga air tanah akan
jernih tetapi lebih banyak mengandung zat kimia (garam-garam yang terlarut)
karena melalui lapisan tanah yang mempunyai unsur-unsur kimia tertentu
untuk masing-masing lapisan tanah.
Air tanah dangkal ini terdapat dalam kedalaman 15 m. Sebagai sumber
air minum, air tanah dangkal ini ditinjau dari segi kualitas adalah baik tetapi
tergantung pada musim.
2. Air tanah dalam
Terdapat setelah lapisan rapat air pertama. Pengambilan air tanah dalam
tak semudah pada air tanah dangkal.
Kualitas dari air tanah dalam lebih baik daripada air tanah dangkal, karena
pada air tanah dalam penyaringannya lebih sempurna dan bebas bakteri
(Sutrisno, 1996).
3. Mata air
Merupakan air yang mengalami penyaringan menembus kedalaman
lapisan mineral, dan muncul kepermukaan setelah melewati penyaringan
tersebut. Air mengandung logam-logam yang terlarut dan pada umumnya
adalah logam mangan yang akan membentuk endapan kuning kecoklatan pada
saat air muncul dari permukaan. Sejumlah mata air mengandung pasir-pasir
yang menyebabkan kehidupan organisme menjadi sangat rendah. Sebaliknya
karbon dioksida menjadi tinggi dan menghasilkan nilai pH yang rendah.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
Selama proses penyaringan air akan kehilangan bahan-bahan organik dan
keluar kepermukaan tanah dengan jumlah bahan organik dan bakteri yang rendah. Ini
memungkinkan amannya untuk diminum tanpa proses sterilisasi bila dibandingkan
dengan air yang berasal dari sumur dangkal.
Di lain pihak, proses penyaringan ini akan melepaskan material keluar dari
mineral ini menyebabkan
larutnya CO2 (karbon dioksida). Air ini cenderung
mempunyai nilai TDS (Total Dissolved Solid) yang tinggi dan kebanyakan
disebabkan oleh kalsium karbonat.
Dengan kehilangan keasaman, pH akan mendekati alkali (basa). Secara
bersamaan air akan menjadi keras (sadah) yang mendekati kesadahan tetap. Hal ini
membuat kerak pada pipa instalasi menjadi korosi dan akan membentuk kerak yang
serius pada boiler.
Sifat Umum Air
Sifat Fisik
Sifat fisik air diantaranya :
a. Air tidak berwarna
b. Air tidak boleh berasa
c. Air tidak boleh berbau
d. Derajat keasaman (pH) = 7,0-8,5
e. Jernih
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
Sifat Kimia
Baik air laut, air hujan, maupun air tanah/air tawar mengandung mineral.
Macam-macam mineral yang terkandung dalam air tawar bervariasi tergantung
struktur tanah dimana air itu diambil. Sebagai contoh mineral yang terkandung dalam
air itu bukan melalui suatu reaksi kimia melainkan terlarut dari suatu substansi
misalnya dari batu andesit (dari batu vulkanis) (Gabriel, 2001).
2.4. Alkalinitas
Alkalinitas adalah pengukuran kapasitas air untuk menetralkan asam-asam
lemah, meskipun asam lemah atau basa lemah juga dapat sebagai penyebabnya.
Penyusun alkalinitas perairan adalah anion bikarbonat (HCO3-), karbonat (CO3-), dan
hidroksida (OH-). Garam dari asam lemah lain seperti : Borat (H2BO3-), silikat
(HSiO3-), fosfat (HPO42- dan H2PO4-), sulfida (HS-), dan amonia (NH3) juga
memberikan kontribusi terhadap alkalinitas dalam jumlah sedikit.
Meskipun banyak komponen penyebab alkalinitas perairan, penyebab utama
dari alkalinitas tersebut adalah: (1) hidroksida, (2) karbonat, dan (3) bikarbonat.
Pada keadaan tertentu (siang hari) adanya ganggang dan lumut dalam air dapat
menyebabkan turunnya kadar karbondioksida dan bikarbonat. Dalam keadaan seperti
ini kadar karbonat dan hidroksida naik, dan menyebabkan pH larutan naik.
Air leding memerlukan ion alkalinitas tersebut dalam konsentrasi tertentu, jika
kadar alkalinitas tinggi (dibandingkan dengan kadar Ca2+ dan Mg2+ yaitu kadar
kesadahan rendah) air menjadi agresif dan menyebabkan kerak pada pipa, sebaliknya
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
alkalinitas yang rendah dan tidak seimbang dengan kesadahan tinggi maka dapat
menyebabkan kerak CaCO3 pada dinding pipa instalasi yang dapat memperkecil
penampang pipa basah.
2.4.1. Peranan Alkalinitas
Alkalinitas berperan dalam hal-hal sebagai berikut :
a. Sistem Penyangga
Bikarbonat yang terdapat pada perairan dengan nilai alkalinitas total tinggi
berperan sebagai penyangga perairan terhadap perubahan pH yang drastis. Jika
basa kuat ditambahkan kedalam perairan maka basa tersebut akan bereaksi
dengan asam karbonat membentuk garam bikarbonat dan akhirnya menjadi
karbonat. Jika asam ditambahkan kedalam perairan maka asam tersebut akan
digunakan untuk mengonversi karbonat menjadi bikarbonat dan bikarbonat
menjadi asam karbonat. Hal ini dapat menjadikan perairan dengan nilai
alkalinitas total tinggi tidak mengalami perubahan pH secara drastis
(Cole,1988).
b. Koagulasi Bahan Kimia
Bahan kimia yang digunakan dalam proses koagulasi air atau limbah bereaksi
dengan air membentuk endapan hidroksida yang tidak larut. Ion hidrogen yang
dilepaskan bereaksi dengan ion-ion penyusun alkalinitas, sehingga alkalinitas
berperan sebagai penyangga untuk mengetahui kisaran pH yang optimum bagi
penggunaan koagulan. Dalam hal ini nilai alkalinitas sebaiknya berada pada
kisaran optimum untuk mengikat ion hidrogen yang dilepaskan pada proses
koagulasi.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
b. Pelunakan air
Alkalinitas adalah parameter kualitas air yang harus dipertimbangkan dalam
menentukan jumlah soda abu dan kapur yang diperlukan dalam proses
pelunakan dengan metode pengendapan. Pelunakan air bertujuan untuk
menurunkan kesadahan.
c. Pengendalian Korosi
Alkalinitas merupakan parameter yang sangat penting termasuk didalam
pengendalian korosi. Hal itu
harus diketahui disamping itu untuk
pengelompokkan dalam Lengelier Saturasi indeks.
d. Limbah Industri
Banyak para agen yang mencegah pengecekan terhadap campuran limbah
yang disebabkan (hidroksida) alkalinitas untuk penerimaan air. Sebaiknya pH
alkalinitas ialah suatu faktor yang penting didalam penentuan kemampuan dari
limbah untuk pengolahan secara biologi.
2.5. Metode Analisa Alkalinitas
2.5.1.Metode Titrasi Volumetri
2.5.1.1. Metode Indikator Warna
Alkalinitas dapat diukur dengan titrasi volumetri dengan H2SO4 di dalam
satuan CaCO3 dengan menggunakan indikator warna. Dimana untuk sampel dengan
pH diatas 8,3 titrasi dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama titrasi sampai pH
8,2 dengan phenolpthalein sebagai indikator yang ditunjukkan dari perubahan warna
merah menjadi tidak berwarna. Setelah itu titrasi dilanjutkan dengan menambahkan
indikator metil orange sampai pH 4,5 (larutan jadi tidak berwarna).Untuk sampel yang
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
pHnya kurang dari 8,3 hanya dilakukan titrasi satu tahap dengan metil orange sebagai
indikator sampai pH 4,5 (warna berubah dari kuning jadi merah).
Pemilihan pH 8,3 sebagai titik akhir pada titrasi tahap pertama ialah
berdasarkan pada titrasi alkalimetri. Nilai pH 8,3 ini untuk titrasi karbonat menjadi
bikarbonat :
CO32-
+
H+
HCO3-
Penggunaan pH 4,5 untuk titik akhir titrasi pada tahap kedua dari titrasi sesuai
dengan perkiraan untuk titik kesetimbangan untuk konversi dari ion bikarbonat
menjadi asam karbonat :
HCO3-
+ H+
H2CO3
Dalam hal ini tepat pada titik akhir titrasi akan tergantung pada awal konsentrasi ion
bikarbonat didalam sample tersebut. Penggunaan ini dapat digunakan rumus sebagai
berikut :
pH (bikarbonat) = 3,2 – 1/2 log [HCO3-]
dimana
HCO3- 0,01 M sesuai dengan alkalinitas 500 mg/l CaCO3 sebagai titik
kesetimbangan. Dalam hal ini asam karbonat atau karbon dioksida yang dibentuk dari
bikarbonat tidak akan hilang selama titrasi ini berlangsung (Sawyer, 1998).
-Pemilihan indikator yang sesuai
Indikator
adalah suatu zat yang warnanya berbeda-beda sesuai dengan
konsentrasi ion-hidrogen.
Jika asam kuat dititrasi maka perubahan yang besar dalam pH pada titik
ekivalen cukup untuk menjangkau indikator dari metil orange (3,1 sampai 4,4) dan
penolpthalein (8,0 sampai 9,8).
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
Tabel 1 : Indikator yang dapat digunakan untuk titrasi alkalinitas :
Jenis
Pelarut
1.Phenolpthalein 60%
Alkohol
2.Metil Orange
Air
Perubahan
Warna
Konsentrasi
pada
Interval
pH
0,1 %-1 %
8,0 – 9,8
0,1 %
3,1 – 4,4
Warna
Keadaan
Basa
Keadaan
Asam
Merah
lembayung
Tidak
Berwarna
Kuning
orange
Merah
(Santika, 1984)
- Pereaksi Asam yang sesuai
Dalam memilih asam untuk dipakai sebagai larutan standar perlu diperhatikan
faktor-faktor sebagai berikut:
a. Asam harus kuat, yaitu berdisosiasi tinggi
b. Asam tidak boleh mudah menguap
c. Larutan asamnya harus stabil
d. Garam dari asamnya harus larut
e. Asam tidak harus merupakan suatu pereaksi oksidator yang cukup kuat untuk
merusak senyawa-senyawa organik yang digunakan seperti indikator .
Asam klorida dan asam sulfat merupakan yang paling umum digunakan sebagai
larutan standar dalam analisa alkalinitas (Day/ Underwood,1981).
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
2.5.2. Metode Potensiometri
Metoda potensiometri ini menggunakan pH meter dimana dalam mengukur pH
sample memakai elektroda yang bersih. pH meter adalah suatu voltmeter elektronik
dengan resistans input yang tinggi. (Resistans input pH meter yang baik adalah dalam
daerah 1012-1013 Ω). Baik instrument yang memakai katup maupun memakai
transistor banyak dipakai. Alat-alat ini umumnya menggunakan listrik dari jaringan
pusat (110 atau 220 V), dan mengandung rangkaian penyedia tenaga (power supplay)
sendiri berikut sebuah penyearah arus (rectifier).
Instrument-instrument yang lebih kurang mengandung sebuah pengganda
(amplifier) differensial, instrument-instrument yang lebih mahal mengubah isyarat
arus searah yang digandakan, dan komponen arus searah disaring, dan akhirnya
isyarat yang telah digandakan diperlihatkan di atas suatu meteran, yang telah
dikalibrasi dalam satuan pH (dan dalam kebanyakan kasus, juga dalam millivolt).
Jenis ke tiga dari pH meter elektronik juga dikenal pada instrument mutar sebuah
potensiometer, sampai sebuah galvanometer dan rangkaian potensiometer. Pada
instrument-instrumen demikian pH dibaca dari posisi tombol potensiometer
(Letterman,1999).
Untuk titrasi dilakukan dengan asam sulfat dan pada setiap ± 0,5 ml
penambahan asam sulfat kedalam sampel secara perlahan diaduk untuk memberikan
waktu yang cukup bagi kesetombangan elektroda. Nilai pH hasil titrasi dibaca setelah
setiap penambahan H2SO4 tersebut, atau dilakukan dengan pencatatan dengan
rekorder. Dekat titik ekivalensi pH mulai berubah dengan cepat dan volume titran
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
yang ditambah harus sekecil mungkin. Titrasi selesai sampai titik lengkungan yang
keduanya terlihat jelas(Santika,1984).
Pada pengukuran pH yang secara nyata untuk mengetahui titik akhir yang
setimbang didalam penentuan alkalinitas dapat jadi semakin baik dengan
menggunakan tittrasi elektrometris. Pada dasar kenyataannya yang paling penting
didalam air alami dimana total alkalinitas ialah suatu tambahan dari reaksi penyebab
dari garam asam lemah dengan bikarbonatnya saja. Didalam “Standar Metode” hanya
memegang untuk kemurnian yang diutamakan dalam larutan dan tidak harus sesuai
dengan pengelompokkan untuk limbah industri atau peristiwa air alami.
Titik akhir titrasi ini ditentukan oleh :
1. Jenis indikator yang dipilih di mana warnanya berubah-ubah pada pH titik
akhir titrasi.
2. Perubahan nilai pH pada pH meter waktu titrasi asam-basa memperlihatkan
titik akhir titrasi/ekivalen (Santika,1984).
2.5.3. Gangguan pada Analisa Alkalinitas
Gangguan yang dapat terjadi pada saat analisa alkalinitas serta pencegahannya
yaitu :
1. Sabun
(detergen)
dan
Lumpur
dapat
mempengaruhi
elektroda
dan
memperlambat respon pada pH meter. Usahakan titrasi dilakukan dengan
perlahan untuk memberikan waktu yang cukup bagai keseimbangan pH
elektroda.
2. Amoniak, jangan dihilangkan tetapi ikut dianalisa karena merupakan penyebab
alkalinitas juga.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
3. Karbondioksida akan mempengaruhi alkalinitas suatu sample yang terbuka
terhadap udara. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan pengocokan,
pengadukan dan penyaringan.
4. Pengenceran sample tidak diperbolehkan karena air pengenceran mempunyai
alkalinitas yang berbeda.
5. Pemanasan sample tidak diperbolehkan karena mengurangi karbondioksida
terlarut, sehingga alkalinitas berkurang pula (Santika,1984).
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
BAB 3
MENENTUKAN NILAI ALKALINITAS
Dalam menentukan nilai alkalinitas sampel yang akan digunakan berasal dari
air formasi. Air formasi ialah air tanah yang keluar bersama minyak dari sumur.
3.1. Alat – Alat yang digunakan
- Alat – alat gelas
- Neraca Analitis
- pH meter portable
- Kertas saring Whatman 42
3.2. Bahan – bahan
- H2SO 4 0,1 N
3.3. Prosedur Percobaan
3.3.1. Penentuan Alkalinitas
3.3.1.1. Pembuatan Reagen
- Larutan H2SO4 0.1 N
Dipipet 2,77 ml H2SO4(pekat) dimasukkan kedalam labu takar 1000 ml.
Diencerkan hingga garis batas, dihomogenkan.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
- Kalibrasi pH meter
Dicelupkan elektroda kedalam larutan standar pH 7, untuk pengukuran
sample asam, celupkan elektroda kedalam larutan standart pH 4 dan atur
Slope dan untuk sample basa celupkan elektroda kedalam larutan standart
pH 10.
3.3.1.2. Cara Kerja Penentuan Alkalinitas
50 ml sampel air dimasukkan kedalam Erlenmeyer dan diukur pH awalnya
dengan pH meter, kemudian dititrasi dengan H2SO4 0,1 N hingga pH sampel jadi 4,5
dan dicatat volume H2SO4 0,1 N yang terpakai.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Data Percobaan
Pada pengukuran nilai alkalinitas sampel air yang diambil di bulan Januari
pada tanggal 23, 24, 25, 26, 27,28 dan 29 yang berdasarkan metode titrasi asam basa
diperoleh pengukuran sebagai berikut :
Tabel 2. Hasil Pengukuran Total Alkalinitas Sampel Air
dari pada Sumur Produksi Minyak Bumi
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Sumur
4M-64A
4R-46A
Tanggal
Pengambilan
Sampel
23-Jan-08
24-Jan-08
25-Jan-08
26-Jan-08
27-Jan-08
28-Jan-08
29-Jan-08
23-Jan-08
24-Jan-08
25-Jan-08
26-Jan-08
pH
Awal
7,75
7,76
8,12
8,12
8,18
8,43
8,71
7,83
8,1
8,17
8,23
Asam
Pentitrasi
H2SO4
Total
Alkalinitas
(ml)
(mg/l)
7,05
7,05
7,2
7,25
7,3
7,35
7,4
4,2
4,2
4,3
4,35
705
705
720
725
730
735
740
420
420
430
435
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
6V-15A
27-Jan-08
28-Jan-08
29-Jan-08
23-Jan-08
24-Jan-08
25-Jan-08
26-Jan-08
27-Jan-08
28-Jan-08
29-Jan-08
8,25
8,32
8,5
8,03
8,21
8,23
8,51
8,53
8,56
8,75
4,4
4,6
4,6
5,2
5,25
5,4
5,5
5,6
5,6
5,65
4.2.Analisa Data
mg/l CaCO3 = V(H2SO4) x N(H2SO4) x BE CaCO3 x 1000
ml sampel
= V(H2SO4) x 0,1 N x 50 x 1000
ml sample
contoh :
Sumur 4M-64A
Tanggal 23 Januari 2008
mg/l CaCO3 = 7,05 x 0,1 N x 50 x 1000
50 ml
= 705 mg/l
Sumur 4M-64A
Tanggal 24 Januari 2008
mg/l CaCO3 = 7,05 x 0,1 N x 50 x 1000
50 ml
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
440
460
460
520
525
540
550
560
560
565
= 705 mg/l
Sumur 4M-64A
Tanggal 25 Januari 2008
mg/l CaCO3 = 7,20 x 0,1 N x 50 x 1000
50 ml
= 720 mg/l
Dengan cara yang sama maka hasil perhitungan mg/l CaCO3 selengkapnya dapat
dilihat pada tabel 2.
4.3.Pembahasan
Analisa alkalinitas pada air sumur produksi minyak bumi di PT. Chevron
Pasific Indonesia yang dilakukan oleh PT. Clariant Indonesia dilakukan dengan
metode titrimetri dimana H2SO4 0,1 N digunakan sebagai larutan standard dan pH
meter portable digunakan sebagai alat ukur pH sample.
Dari hasil analisa yang dilakukan total alkalinitas berkisar antara 420 mg/l
CaCO3 – 740 mg/l CaCO3 dimana nilai ini masih sesuai dengan yang ditetapkan oleh
PT. Clariant Indonesia dengan kadar maksimum total alkalinitas yang diperbolehkan
yaitu 1000 mg/l. Apabila kadar total alkalinitasnya melampaui batas yang ditetapkan
maka akan mudah terbentuk kerak atau pengendapan. Untuk memastikan agar
endapan yang terbentuk tidak melekat pada dinding bahagian dalam pipa tetapi
bergerak bebas. Untuk itu dibutuhkan analisa alkalinitas air sumur produksi minyak
bumi secara rutin dan kontiniu agar kesalahan dapat diatasi seminimal mungkin.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Dari hasil analisa yang dilakukan pada air sumur produksi minyak bumi
diperoleh kadar total alkalinitas berkisar antara 420-740 mg/l CaCO3.
2. Kadar total alkalinitas yang terdapat pada air sumur produksi minyak bumi
masih dalam standar mutu yang telah ditetapkan oleh PT. Clariant
Indonesia yaitu kadar total alkalinitas < 1000 mg/l CaCO3.
3. Jika semakin tinggi kadar total alkalinitas pada air sumur produksi minyak
bumi maka akan semakin mudah terbentuk kerak pada pipa instalasi.
5.2. Saran
Sebaiknya dilakukan analisa alkalinitas secara rutin dan berkelanjutan, agar
hasil yang diperoleh dapat seminimal mungkin, sehingga dapat mengefisienkan proses
korosi pada sumur produksi minyak bumi dan pipa instalasi yang digunakan, tidak
hanya alkalinitas saja tetapi juga pada parameter yang lain seperti kesadahan, analisa
zat organik dan lain-lain.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR PUSTAKA
Cole. G. A. 1988. Textbook of Limnology. Third edition. Waveland-Press,Inc.USA.
Day. R. A/Underwood. A. L.1981. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi Keempat.
Erlangga.Jakarta.
Effendi. H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Gabriel. J. F. 2001. Fisika Lingkungan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Gultom. J. 1993. Metode dan Teknik Analisis Kualitas Air.USU-Press. Medan.
Hadi, F. 1980. Ilmu Teknik Penyehatan 2. Departemen Pendidikan dan kebudayaan
Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.
Letterman. D. R.1999.Water Quality & Treatment.Fifth Edition. Mc Graw-Hill,Inc.
New York.
Santika. S.S/Alaerts. G. 1984. Metoda Penelitian Air. Penerbit Usaha Nasional.
Surabaya.
Sawyer and Mc Carty. 1998. Chemistry for Environmental Enggineering.Third
Edition. Mc Graw Hill- Kogakusha Ltd. Tokyo.
Sutrisno. C. T. 1996. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Rineka Cipta. Jakarta.
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
Aquarina Limbung : Alkalinitas : Analisa Dan Permasalahannya Untuk Air Industri, 2008.
USU Repository © 2009
Download