Makalah Kimia Lingkungan

advertisement
PENCEMARAN AIR SUNGAI
MAKALAH
Oleh :
Alfonsina A. A. Torimtubun
115061100111027
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013
1
KATA PENGANTAR
Makalah yang berjudul “Pencemaran Air Sungai” ini disusu
n sebagai pengganti ujian tengah semester mata kuliah Bahasa Indonesia. Selain itu, penulis
ingin mengaplikasikan ilmu yang didapat, khususnya dalam bidang kimia lingkungan
terhadap permasalahan lingkungan yang ada di Indonesia. Makalah ini mengkaji tentang
pencemaran air sungai di Indonesia karena banyaknya masalah pencemaran air sungai yang
terjadi di Indonesia belum teratasi sepenuhnya.
Makalah ini berisi tentang telaah kualitas air sungai, yaitu berbagai parameter fisika,
kimia ataupun biologi yang menyatakan air sungai tersebut tercemar atau tidak. Jenis-jenis
bahan pencemar air sungai. Berbagai penyebab pencemaran air sungai di Indonesia, baik
karena faktor manusia maupun faktor alam. Dampak pencemaran air sungai di Indonesia
terhadap lingkungan dan manusia. Serta, cara mencegah pencemaran air sungai yang terjadi
di Indonesia. Makalah ini disusun berdasar olah pikir penulis dan berdasar tinjauan pustaka
yang telah diperoleh.
Penulis mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas penyertaan-Nya,
makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Selain itu penulis ingin menyampaikan
terimakasih kepada :
1. Ibu Wahyu Winiarsih, S.Pd., MM selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia dengan
dedikasi beliau, beliau telah mengamalkan ilmu kepada saya sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah ini
2. Orangtua saya yang telah mencurahkan tenaga dan segala upaya sehingga saya dapat
menuntut ilmu sampai jenjang perguruan tinggi
3. Teman-teman Teknik Kimia FT-UB yang telah membantu dan memberi semangat
kepada saya sehingga saya mampu menyelesaikan makalah ini
4. Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per-satu yang telah membantu
saya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu kimia lingkungan
dan pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan masih
terdapat kesalahan di dalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
akan penulis terima demi kebaikan bersama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
2
DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah...........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan......................................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan....................................................................................................2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Pencemaran Air..........................................................................................3
2.2 Telaah Kualitas Air Sungai......................................................................................3
2.2.1 Alkalinitas......................................................................................................3
2.2.2 Asiditas...........................................................................................................4
2.2.3 Pembentukan Kompleks.................................................................................4
2.3 Bahan Pencemar Air Sungai... .................................................................................4
2.3.1 Bahan Pencemar Anorganik...........................................................................5
2.3.2 Bahan Pencemar Organik...............................................................................6
BAB III. PEMBAHASAN MASALAH
3.1 Penyebab Pencemaran Air Sungai di Indonesia.......................................................8
3.2 Dampak Pencemaran Air Sungai di Indonesia.......................................................10
3.3 Cara Mencegah Pencemaran Air Sungai di Indonesia...........................................11
BAB IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan.............................................................................................................13
4.2 Saran.......................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................14
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak,
bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar
tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang lain.
Di Indonesia, sungai dapat dijumpai di setiap tempat dengan kelasnya masingmasing.Sungai di manfaatkan untuk memenuhi keperluan sehari-hari, baik transportasi,
mandi, mencuci dan sebagainya bahkan untuk diwilayah tertentu sungai dapat dimanfaatkan
untuk menunjang makan dan minum. Sungai sebagai sumber air, sangat penting fungsinya
dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, sebagai sarana penunjang utama dalam
meningkatkan pembangunan nasional dan sebagai sarana transportasi yang relatif aman untuk
menghubungkan wilayah satu dengan lainnya.Maka sungai sebagaimana dimaksudkan harus
selalu berada pada kondisinya dengan cara (Joko Subagyo : 1992) :
1. Dilindungi dan dijaga kelestariannya.
2. Ditingkatkan fungsi dan kemanfaatannya.
3. Dikendalikan daya rusaknya terhadap lingkungan.
Saat ini, masalah utama yang dihadapai oleh sumber daya air, khususnya air sungai
meliputi kualitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat
dan kualitas air untuk keperluan domestik yang semakin menurun. Kegiatan industri,
domestik, dan kegiatan lain berdampak buruk terhadap sumber daya air, antara lain
menyebabkan penurunan kualitas air sungai. Kondisi ini menimbulkan gangguan, kerusakan,
dan bahaya bagi makhluk hidup yang bergantung pada sumber daya air sungai. Oleh karena
itu, diperlukan pengelolaan dan perlindungan sumber daya air sungai secara seksama.
Untuk menjaga atau mencapai kualitas air sungai sehingga dapat dimanfaatkan secara
berkelanjutan sesuai dengan tingkat mutu air yang diinginkan, maka perlu upaya pelestarian
dan pengendalian. Pelestarian kualitas air sungai merupakan upaya untuk memelihara fungsi
air agar kualitasnya tetap pada kondisi alamiah. Pengelolaan kualitas air sungai dilakukan
dengan upaya pengendalian pencemaran air sungai, yaitu dengan upaya memelihara fungsi
air sungai sehingga kualitas air memenuhi baku mutu.
4
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari pencemaran air secara umum?
2. Bagaimana menelaah kualitas air sungai?
3. Apa saja bahan pencemar air sungai?
4. Apa saja penyebab pencemaran air sungai di Indonesia?
5. Apa dampak yang ditimbulkan akibat pencemaran air sungai di Indonesia?
6. Bagaimana cara mencegah pencemaran air sungai di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui definisi dari pencemaran air secara umum
2. Menelaah kualitas air sungai
3. Mengetahui berbagai bahan pencemar air sungai
4. Memahami penyebab pencemaran air sungai di Indonesia
5. Menganalisa dampak yang ditimbulkan akibat pencemaran air sungai di Indonesia
6. Mengetahui cara mencegah pencemaran air sungai di Indonesia
1.4 Manfaat Penulisan
Hasil penulisan ini diharapkan bermanfaat bagi pembaca khususnya dalam bidang kimia
lingkungan mengenai analisis pencemaran air sungai di Indonesia sehingga masalah
pencemaran air sungai di Indonesia dapat dicegah atau bahkan berkurang.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Pencemaran Air
Definisi pencemaran air menurut Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan
dan Lingkungan Hidup Nomor : KEP-02/MENKLH/I/1988 Tentang Penetapan Baku Mutu
Lingkungan adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau
komponen lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau oleh
proses alam, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air
menjadi kurang atau sudah tidak berfungsi lagi sesuai peruntukannya (pasal 1).
Dalam pasal 2, air pada sumber air menurut kegunaan / peruntukkannya digolongkan
menjadi :
1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa
pengolahan terlebih dahulu.
2. Golongan B, yaitu air yang dapat dipergunakan sebagai air baku untuk diolah sebagai air
minum dan keperluan rumah tangga.
3. Golongan C, yaitu air yang dapat dipergunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan.
4. Golongan D, yaitu air yang dapat dipergunakan untuk keperluan pertanian, dan dapat
dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri, dan listrik negara.
2.2 Telaah Kualitas Air Sungai
Sebagai suatu sistem yang terbuka, perairan mempunyai berbagai variabel input dan
output dari energi dan materi. Maka dari itu gambaran yang tepat dari sifat-sifat kimia
perairan didasarkan pada alkalinitas/asiditas, kelarutan gas dalam air, konstanta pembentukan
kompleks, potensial redoks, dan pH. Dari sifat-sifat kimia ini, dapat diketahui kualitas air
pada badan air, sehingga dapat ditentukan apakah air sungai tersebut tercemar atau tidak.
Berikut akan dibahas beberapa sifat kimia tersebut.
2.2.1 Alkalinitas
Merupakan kapasitas air untuk menerima protein. Alkalinitas penting dalam
perlakuan air seperti pada proses pengolahan air limbah industri atau domestik. Dengan
mengetahui alkalinitas, dapat dihitung jumlah bahan kimia yang harus ditambahkan
dalam pengolahan air limbah. Air yang sangat alkali atau bersifat basa mempunyai pH
6
tinggi dan umumnya mengandung padatan terlarut yang tinggi. Alkalinitas memegang
peranan penting dalam penentuan air untuk mendukung pertumbuhan ganggang dan
kehidupan perairan lainnya. Pada umumnya, komponen utama yang memegang peranan
dalam menentukan alkalinitas perairan adalah ion karbonat, ion bikarbonat dan ion
hidroksil. Karena alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan asam, sehingga
penambahan alkalinitas lebih banyak dibutuhkan untuk mencegah air tidak menjadi
asam. Air dengan alkalinitas tinggi mempunyai konsentrasi karbon organik yang tinggi.
Dalam media dengan pH rendah, ion hidrogen dalam air mengurangi alkalinitas.
2.2.2 Asiditas
Asiditas adalah kapasitas air untuk menetralkan ion OH- atau basa. Penyebab
asiditas adalah asam-asam lemah, protein dan ion-ion logam yang bersifat asam,
terutama Fe3+. Penentuan asiditas lebih sukar dari alkalinitas karena adanya gas CO2 dan
H2S yang keduanya mudah menguap dan mudah hilang dari sampel yang diukur. Pada
pengolahan air limbah, penentuan asiditas menjadi penting untuk memperhitungkan
jumlah kapur atau zat-zat lain yang harus ditambahkan dalam proses penentuan kadar
asiditas dalam air limbah.
2.2.3 Pembentukan Kompleks
Dalam air, ion logam dapat bergabung dengan ion negatif atau senyawa netral
membentuk sebuah kompleks / senyawa koordinasi. Kompleks yang penting adalah
kompleks dengan senyawa pengkelat. Kelat lebih stabil karena mampu berikatan dengan
sebuah ion logam pada lebih dari satu tempat secara stimulan. Dengan terbentuk
senyawa kompleks, senyawa ini mampu mengkomplekskan zat kontaminan dalam air
sungai.
2.3 Bahan Pencemar Air Sungai
Bahan pencemar merupakan zat, materi atau senyawa yang dalam kadar dan
jumlah tertentu tidak dikehendaki berada dalam badan air. Bahan pencemar dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu bahan pencemar anorganik dan organik. Bahan pencemar anorganik
adalah zat atau materi pencemar yang tidak dapat diuraikan oleh mikroba pengurai menjadi
senyawa-senyawa sederhana. Sedangkan bahan pencemar organik adalah zat pencemar yang
dapat diuraikan oleh mikroba pengurai menjadi senyawa yang lebih sederhana.
7
2.3.1 Bahan Pencemar Anorganik
Unsur logam berat merupakan logam yang paling berbahaya dari unsur-unsur zat
pencemar. Seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg). Logam-logam ini
mempunyai afinitas sangat besar terhadap belerang sehingga dapat menyerang ikatanikatan belerang dalam enzim sehingga enzim yang diserang menjadi tidak berfungsi.
Unsur metaloid, yaitu Arsen (As), Selenium (Se), dan Antimon (Sb) juga merupakan zat
pencemar air yang berbahaya.
1) Arsen terdapat pada konsentrasi rata-rata 2-5 ppm dalam kerak bumi. Pembakaran
bahan bakar fosil terutama batu bara, mengeluarkan sejumlah warangan (As2O3) ke
lingkungan, di mana sebagian besar akan masuk ke perairan. Sumber utama dari arsen
adalah hasil akhir pertambangan logam yang terakumulasi sebagai limbah. Sama
seperti merkuri, oleh bakteri beberapa proses dapat terjadi pada arsen sehingga
terbentuk senyawa-senyawa metil yang sangat toksik.
H3AsO4 + 2 H+ + 2 e  H3AsO3 + H2O
H3AsO3
metil kobalamin
CH3AsO (OH)2 (asam metil arsenit)
2) Kadmium dalam air berasal dari pembuangan limbah industri dan limbah
pertambangan. Kadmium digunakan dalam proses pelapisan logam. Keracunan
kadmium di Jepang disebut “hai-hai” dimana sungai Jitusu tercemar kadmium dari
kegiatan pertambangan. Lapisan permukaan air yang bersifat aerobik mengandung
kadmium terlarut dalam konsentrasi relatif tinggi terutama dalam bentuk ion CaCl+.
Di lapisan tengah perairan yang kondisinya anaerob, hanya mengandung sedikit
kadmium karena terjadi proses oleh mikroba yang mereduksi sulfat menjadi sulfida
kemudian mengendapkan CaCl+ menjadi CdS.
3) Timbal terdapat dalam air dengan biloks +II dan dikeluarkan oleh sejumlah industri
dan pertambangan. Daya racun timbal yang akut pada perairan alami menyebabkan
kerusakan pada ginjal, hati, otak bahkan kematian.
4) Merkuri masuk ke perairan berasal dari berbagai sumber yang timbul dari
penggunaan unsur tersebut oleh manusia seperti buangan laboratorium kimia, buangan
farmasi, limbah tambang emas. Toksisida merkuri secara tragis terjadi di Teluk
Minamata Jepang yang disebabkan mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi oleh
merkuri. Merkuri dengan konsentrasi tinggi terdapat pada jaringan ikan yang berasal
dari pembentukan ion monoetil merkuri yang larut, CH3Hg+ dan (CH3)2Hg dan pada
bakteri anaerob di dalam sedimen.
8
5) Ammonia merupakan produk utama dari penguraian (pembusukan) limbah nitrogen.
Kehadiran senyawa nitrogen dalam bentuk amonia memberikan masalah terhadap
kualitas air.
6) Hidrogen Sulfida dihasilkan dari proses pembusukan bahan-bahan organik yang
mengandung belerang oleh bakteri anaerob, dari hasil reduksi dengan kondisi anaerob
terhadap sulfat oleh mikroorganisme dan dari air panas bumi.
7) Karbon dioksida bebas, seringkali terdapat dalam air dalam konsentrasi tinggi
sehubungan terjadinya pembusukan bahan organik. CO2 digunakan untuk
‘melunakkan air’. Kandungan CO2 yang cukup tinggi, akan lebih bersifat korosif dan
akan membahayakan kehidupan biota akuatik
2.3.2 Bahan Pencemar Organik
1) Sabun dan detergen
Limbah domestik kerapkali mengandung sabun dan deterjen. Keduanya merupakan
sumber potensial bagi bahan pencemar organik. Sabun adalah senyawa garam dari
asam lemak tinggi, seperti natrium stearat. Pencucian dengan sabun dihasilkan dari
kekuatan pengemulsi dan kemampuan menurunkan tegangan air. Sabun dapat
mengemulsi dan mensuspensi bahan organik dalam air. Sabun yang masuk ke air
buangan biasanya langsung terendap sebagai garam-garam kalsium dan magnesium.
Pengaruh sabun dalam larutan dapat dihilangkan dengan biodegradasi. Sedangkan
detergen adalah bahan surfaktan atau bahan aktif permukaan yang beraksi dalam
menjadikkan air menjadi lebih basah. Pengaruh detergen dalam air buangan adalah
estetik dan dapat berbahaya pada kehidupan akuatik.
2) Radionuklida dalam air
Inti radioaktif atau radionuklida terbentuk dalam jumlah yang sangat besar,
sebagaiproduk sampah dalam pembangkit tenaga nuklir. Inti radioaktif berbeda
dengan inti lain dalam mengeluarkan radiasi ionisasinya. Bahaya radiasi bagi
organisme hidup disebabkan karena reaksi-reaksi kimia berbahaya di dalam jaringan.
Jaringan ikatan dalam makromolekul yang menyelenggarakan proses kehidupan
dihancurkan.
Radionuklida
Waktu Paruh
9
Reaksi Nuklir, Deskripsi, Sumbere
Alamiah terjadi dari reaksi
Cosmis
Karbon-14
14
5730 tahun
N (n,p) 14C, thermal netron dari Cosmis
atau senjata nuklir yg bereaksi dengan N2.
Silikaon-32
40
300 tahun
Ar (p,x) 32Si, pemecahan inti argon
atmosfir oleh proton dari cahaya Cosmis
0,0119% dari Kalium alam.
1,4 x 109 tahun
Difusi dari sedimen-sedimen, atmosfir
Radium-226
1620 tahun
226
Timbal-210
21 tahun
Kalium-40
Alamiah terjadi dari sesi
238
U
Ra
6 step
210
Pb
238
U
3 step
Thorium-230
75.200 tahun
230
Th
Thorium-234
24 hari
238
U
28 tahun
Berasal dari reaksi fisi radio isotof dan
234
Th
Fisi dari reaktor dan senjata
Stronsium-90
aktivitas biologis
Yodium-131
8 tahun
Berasal dari hasi fisi barium-140 sampai
Cesium-137
30 tahun
krypton-85
Barium-140
13 hari
Zirkonium-95
65 hari
Cerium-141
33 hari
Stronsium-89
51 hari
Dari reaksi nonfisi dalam reaktor
Ruthenium-103
40 hari
Dari reaksi nonfisi netron dalam reaktor
Krypton-85
10,3 tahun
56
Cobalt-60
5,25 tahun
tinggi terhadap besi dalam alat senjata
Mangan-54
310 tahun
Besi-55
2,7 tahun
Plutonium-239
24.300 tahun
Fe (n,2n) 55Fe, dari aksi netron berenergi
238
U (n,y) 239Pu, Penangkapan netron oleh
uranium
10
BAB III
PEMBAHASAN MASALAH
3.1 Penyebab Pencemaran Air Sungai di Indonesia
Secara umum, penyebab terjadinya pencemaran air dikarenakan :
1. Berkembangnya industri-industri di Indonesia
Dewasa ini, industri-industri di Indonesia semakin berkembang, baik jumlah,
teknologi, tingkat produksi maupun limbah yang dihasilkan. Industri-industri
khususnya yang berada di dekat aliran sungai cenderung akan membuang limbahnya
ke dalam sungai yang dapat mencemari ekosistem air, karena pembuangan limbah
industri ke dalam sungai dapat menyebabkan berubahnya susunan kimia, bakteriologi,
serta fisik air. Polutan yang di hasilkan oleh pabrik dapat berupa logam berat (timbal,
tembaga, seng, dsb.) dan panas (air yang memilki suhu tinggi akan sulit menyerap
oksigen sehingga biota air menjadi mati).
2. Belum tertanganinya pengendalian limbah rumah tangga
Limbah rumah tangga yang belum terkendali dapat menyebabkan pencemaran
lingkungan khususnya air sungai. Karena dari limbah rumah tangga dihasilkan
beberapa zat organik dan anorganik yang dibuang dan dialirkan melalui selokanselokan dan akhirnya bermuara ke sungai. Selain dalam bentuk zat organik dan
anorganik, dari limbah rumah tangga bisa juga membawa bibit-bibit penyakit yang
dapat menular pada hewan dan manusia sehingga menimbulkan penyakit epidemik
yang luas di masayarakat.
3. Pembuangan limbah pertanian tanpa melalui proses pengolahan
Limbah pertanian biasanya dibuang ke aliran sungai tanpa melalui proses pengolahan,
sehingga dapat mencemari air sungai karena limbah pertanian mengandung berbagai
macam zat pencemar seperti pupuk dan pestisida.Penggunaan pupuk di daerah
pertanian akan mencemari air yang keluar dari pertanian karena air ini mengandung
bahan makanan bagi ganggang dan tumbuhan air seperti enceng gondok sehingga
ganggang dan tumbuhan air tersebut mengalami pertumbuhan dengan cepat yang
dapat menutupi permukaan air dan berpengaruh buruk pada ikan-ikan dan komponen
ekosistem biotik lainnya.Penggunaan pestisida juga dapat menggagu ekosistem air
11
karena pestisida bersifat toksit dan akan mematikan hewan-hewan air, burung dan
bahkan manusia.
4. Pencemaran air sungai karena proses alam
Proses alam juga berpengaruh pada pencemaran air sungai misalnya terjadinya
gunung meletus, erosi dan iklim.Gunung meletus dan erosi dapat membawa berbagai
bahan pencemaran salah satunya berupa endapan/sediment seperti tanah dan lumpur
yang dapat menyebabkan air menjadi keruh, masuknya sinar matahari berkurang, dan
air kurang mampu mengasimilasi sampah.Iklim juga berpengaruh pada tingkat
pencemaran air sungai misalnya pada musim kemarau volume air pada sungai akan
berkurang, sehingga kemampuan sungai untuk menetralisir bahan pencemaran juga
berkurang.
Dari uraian penyebab pencemaran air di atas, jenis bahan pencemar serta pengaruhnya
dapat diklasifikasikan seperti terlihat dalam tabel berikut :
Jenis Bahan Pencemar
Pengaruhnya
Unsur – unsur renik
Kesehatan, biota akuatik
Senyawa organ logam
Transpor logam
Polutan anorganik
Toksisitas, biota akuatik
Asbestas
Kesehatan manusia
Hara-ganggang
Eutrofikasi
Radionuklida
Toksisitas
Asiditas, Alkalinitas, Salinitas tinggi
Kualitas air, kehidupan akuatik
Zat pencemar organik renik
Toksisitas
Pestisida
Toksisitas, biota akuatik, satwa liar
PCB
Kesehatan manusia
Karsinogen
Penyebab kanker
Limbah minyak
Satwa liar, estetik
Patogen
Kesehatan
Detergen
Introfikasi, estetik
Sedimen
Kualitas air, estetik
Rasa, Bau dan Warna
Estetik
12
3.2 Dampak Pencemaran Air Sungai di Indonesia
Berbagai dampak yang disebabkan oleh pencemaran air sungai di Indonesia, yaitu :
1) Meracuni sumber air minum
Misalnya air yang tercemar oleh logam-logam berat yang masuk ke dalam tubuh
melalui minuman dapat tertimbun dalam organ-organ tubuh seperti ginjal, hati, limpa,
saluran pencernaan lainnya sehingga mengganggu fungsi organ tubuh tersebut.Selain
itu pencemaran yang disebabkan oleh zat radioaktif dapat menyebabkan penyakit
kanker serta merusak sel dan jaringan tubuh lainnya.
2) Mengakibatkan penularan penyakit
Yaitu air yang tercemar oleh virus dan bakteri. Misalnya bakteri coli yang dapat
menyebabkan penyakit saluran pencernaan (disentri, kolera, diare, types) atau
penyakit kulit.
3) Merusak ekosistem air
Rusaknya ekosistem air disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :
a. Disebabkan karena penguraian sampah organik yang dalam penguraiannya
memerlukan banyak oksigen sehingga kandungan oksigen dalam air menjadi
semakin sedikit yang mengakibatkan ikan-ikan dan organisme dalam air
kekurangan oksigen dan akhirnya mengakibatkan kematian.
b. Bahan pencemaran organik yang tidak dapat diuraiakan oleh mikroorganisme
sehingga akan menggunung dan mencemari air sungai yang dapat mengganggu
kehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup di dalamnya.
c. Bahan pencemaran berupa makanan tumbuh-tumbuhan yang dapat menyebabkan
tumbuhnya alga (ganggang) dan tumbuhan air separti enceng gondok dengan
pesat sehingga menutupi permukaan air yang mengakibatkan kadar oksigen dan
sinar matahari berkurang karena terhalang dan tidak dapat masuk ke dalam air
sehingga mengganggu kehidupan akuatik (organisme, ikan, dan tanaman dalam
air).
d. Bahan pencemaran berupa kondisi (misalnya panas) yang menyebabkan suhu air
meningkat sehingga tidak sesuai untuk kehidupan akuatik. Tanaman, ikan dan
organisme yang mati ini akan terurai menjadi senyawa-senyawa organik yang
dalam proses penguraiannya memerlukan banyak oksigen sehingga terjadi
penurunan kadar oksigen dalam air.
13
e. Bahan pencemaran berupa endapan/sedimen yang menyebabkan air menjadi
keruh, masuknya sinar matahari berkurang, air kurang mampu mengasimilasi
sampah sehingga mengganggu kehidupan akuatik.
4) Terjadinya bencana alam
Seperti banjir yang diakibatkan karena tersumbatnya aliran sungai oleh sampah
masyarakat sehingga merugikan kehidupan masyarakat itu sendiri dan makhluk hidup
lain di sekitarnya.
3.3 Cara Mencegah Pencemaran Air Sungai di Indonesia
Untuk mencegah agar tidak terjadi pencemaran air sungai di Indonesia kita perlu
melakukan berbagai langkah diantaranya adalah :
1) Melestarikan tumbuhan di hulu sungai dan membuat sengkedan pada lahan pertanina
yang miring
Agar tidak menimbulkan erosi tanah, di sekitar hulu sungai sebaiknya ditanami
tumbuh-tumbuhan yang dapat menahan terjadinya erosi serta pada lahan pertanian
yang miring dibuat sengkedan agar tidak menimbulkan erosi dan tanah longsor
2) Tidak membuang sampah ke dalam sungai
Sampah seharusnya tidak dibuang ke sungai tetapi sampah dapat dimanfaatkan
menjadi barang yang berguna. Misalnya :
a. Sampah padat dari rumah tangga berupa plastik atau serat sintesis yang tidak
dapat diuraikan oleh mikroorganisme dapat diolah menjadi bahan lain yang
berguna. Misalnya dapat diolah menjadi karet.
b. Sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme dikubur dalam tanah,
kemudian dibiarkan membusuk sehingga dapat digunakan sebagai pupuk.
3) Tidak menggunakan pupuk atau pestisida secara belebihan
Penggunaan pupuk dan pestisida sebagian besar biasanya dilakukan oleh lahan
pertanian yang airnya kemudian dialirkan ke sungai tanpa melalui proses pengolahan.
Maka dari itu, penggunaannya harus seminimal mungkin agar tidak menimbulkan
pencemaran yang serius.
14
a. Mengolah limbah industri menjadi barang yang bermanfaat. Misalnya mengolah
limbah industri gula menjadi tetes (yang dapat digunakan sebagai pupuk) maupun
menjadi micin (yang dapat digunakan sebagai penguat rasa makanan).
b. Memanfaatkan tanaman air seperti enceng gondok yang tumbuh secara tidak
terkendali menjadi barang-barang kerajinan, seperti tas
c. Melestarikan hutan. Yaitu dilakukan agar ketersediaan air yang disimpan oleh
tumbuh-tumbuhan hutan tidak berkurang, sehingga sumber-sumber mata air
sungai tidak berkurang memproduksi air dan volume air sungai tetap stabil.
Selain itu tumbuhan hutan dapat menyerap CO2 dan menghasilkan O2 yang dapat
mencegah terjadinya hujan asam yang dapat merusak ekosistem air sungai
4) Membuat undang-undang mengenai pencemaran air sungai di Indonesia serta
melakukan pengontrolan secara ketat dan sanksi keras pada yang melanggar ketentuan
pemerintah tersebut
5) Menyadarkan masyarakat
Yang paling penting dari pencegahan pencemaran air sungai di Indonesia adalah
menyadarkan masyarakat Indonesia itu sendiri akan pentingnya aliran sungai bagi
kehidupan. Karena dengan kesadaran itu masayarakat akan menjaga dan melestarikan
sungai tanpa paksaan dari pihak manapun sehingga mereka tidak akan membuang
bahan pencemaran ke dalam sungai dan sungai akan terjaga kelestariannya yang akan
membawa kesejahteraan bagi makhluk hidup di sekitarnya.
15
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pencemaran air sungai merupakan masalah penting bagi masyarakat di Indonesia
karena sungai merupakan sumber air yang sangat penting fungsinya dalam pemenuhan
kebutuhan masyarakat. Pencemaran air sungai di Indonesia dapat terjadi karena terdapat
bahan pencemar (polutan) dalam badan air sungai dikarenakan oleh faktor manusia ataupun
alam. Kualitas dan kuantitas air sungai di Indonesia perlu ditelaah secara fisika, kimia
maupun biologi agar air sungai memenuhi standar baku mutu air sungai. Dampak jika terjadi
pencemaran air sungai antara lain meracuni sumber air minum, mengakibatkan penularan
penyakit dan merusak ekosistema air sungai. Maka, sungai harus dilindungi dan dijaga
kelestariannya, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sesuai fungsi dan manfaatnya.
4.2. Saran
Diharapkan bagi pihak pemerintah untuk lebih selalu memantau kualitas air sungai
agar tetap sesuai dengan peruntukannya. Dan lebih memperketat baku mutu tentang
penanganan buangan limbah industri yang semakin berkembang di daerah aliran sungai.
Bagi pihak masyarakat, diharapkan agar menjaga air sungai dengan kesadaran
masing-masing dengan tidak membuang sampah ke sungai agar tidak menyebabkan bencana
alam seperti banjir, penularan penyakit dan rusaknya ekosistem sungai.
16
DAFTAR PUSTAKA
Azwir. 2006. Analisa Pencemaran Air Sungai Tapung Kiri Oleh Limbah Industri Kelapa
Sawit PT. Peputra Masterindo di Kabupaten Kampar. Semarang : Program Pasca
Sarjana Universitas Diponegoro
Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta : Kanisius
Husnul, Muhammad. 2004. Hidrosfer & Pencemaran Air. Bandung : Departemen Biologi
ITB
Putri, Dwi. 2011. Kebijakan Pemerintah dalam Pengendalian Pencemaran Air Sungai Siak.
Riau : Jurnal Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan
Subagyo, Joko. 2002. Hukum Lingkungan, Masalah dan Penanggulangannya. Jakarta : PT.
Rineka Cipta
17
Download