Unsur Komunikasi Terapeutik

advertisement
1
KOMUNIKASI DAN KONSELING DALAM PRAKTIK KEBIDANAN
BAB I
KOMUNIKASI
A. PENDAHULUAN
Manusia pada hakekatnya adalah mahkluk sosial, yang dalam kehidupan sehari- hari
tidak bisa lepas dari kegiatan interaksi dan komunikasi. Komunikasi merupakan bagian
kehidupan manusia, apapun statusnya di masyarakat. Sebagai mahkluk sosial,
kegiatansehari- hari selalu berhubungan dengan orang lain dalam upaya pemenuhan
kebutuhan hidup.
B. PENYAJIAN
1. Pengertian Komunikasi
Pengertian komunikasi menurut beberapa ahli :
a. Taylor ( 1993 ) mengemukakan komunikasi adalah proses pertukaran informasi
atau proses yang menimbulkan dan meneruskan makna atau arti, berarti dalam
komunikasi terjadi penambahan pengertian antara pemberi informasi dengan
penerima informasi sehingga mendapatkan pengetahuan.
b. Burgess ( 1988 ) mengemukakan komunikasi adalah proses penyampaian
informasi, makna, dan pemahaman dari pengirim pesan kepada penerima pesan.
Hal ini berarti penerusan informasi dari pengirim pesan kepada penerima pesan
dalam komunikasi.
c.
Yuwono ( 1985 ) mengemukakan komunikasi adalah kegiatan mengajukan
pengertian yang diinginkan dari pengirim informasi kepada penerima informasi
dan menimbulkan tingkah laku yang diinginkan penerima informasi.
d. Kesimpulan dari pengertian di atas adalah komunikasi merupakan seni
penyampaian informasi ( pesan, ide, sikap, atau gagasan ) dari komunikator atau
penyampaian berita, untuk mengubah serta membentuk perilaku komunikan atau
penerima berita ( pola, sikap, pandangan, dan pemahamannya ), ke pola dan
pemahaman yang dikhendaki bersama.
e. Sarah Trenholm dan Arthur Jensen ( 1996:4 ) komunikasi adalah suatu proses
dimana sumber mentransmisikan pesan kepada penerima melalui beragam
saluran).
f. Hoveland
(
1948:371
)
komunikasi
adalah
proses
dimana
individu
mentransmisikan stimulus untuk mengubah perilaku individu yang lain )
g. Gode ( 1969:5 ) komunikasi adalah suatu proses yang membuat kebersamaan bagi
dua atau lebih yang semula monopoli oleh satu atau beberapa orang.
h. Raymond s. Ross ( 1983:8 ) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses
menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol- simbol sedemikian rupa, sehingga
membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang
serupa dengan yang dimaksudkan oleh sang komunikator.
2
i.
Everett M. Rogers dan Lawrence Kincaid ( 1981 : 18 ) menyatakan bahwa
komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau
melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya
terjadi saling pengertian yang mendalam.
j. Bernard Berelsin dan Gary A. Steiner ( 1964 :527 ) komunikasi adalah transmisi
informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan menggunakan
simbol- simbol, dan sebagainya.
k. Shannon dan Weaver ( 1949 ) komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang
saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak disengaja dan tidak
terbatas pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka,
lukisan, seni dan teknologi.
Dari banyak pengertian komunikasi tersebut diatas maka kesimpulan dari pengertian
komunikasi adalah suatu proses interaksi manusia dengan berbagai bentuk/cara untuk
menyampaikan informasi atau untuk tujuan tertentu.
2. Unsur- Unsur
Unsur – unsur komunikasi :
a. Pihak yang mengawali komunikasi/ sumber /komunikator
Pihak yang mengawali komunikasi untuk mengirim pesan disebutsender dan ia
menjadi sumber pesan ( source ). Pengirim yang dimaksud disini adalah orang yang
masuk ke dalam hubungan, baik interpersonal dengan diri sendiri, interpersonal
dengan orang lain dalam kelompok kecil atau dalam kelompok besar.
b. Pesan yang dikomunikasikan / massage/ content/ informatio
Pesan yang dimaksud adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima.
Agar dapat diterima dengan baik pesan hendaknya dirumuskan dalam bentuk yang
tepat, disesuaikan, dipertimbangkan berdasarkan keadaan penerima, hubungan
pengirim dan penerima, dan situasi waktu komunikasi dilakukan.
c.
Media atau saluran yang digunakan untuk komunikasi dan gangguan –
gangguan yang terjadi pada waktu komunikasi dilakukan.
Media merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada
penerima pesan. Setelah dikemas pesan dapat disampaikan melalui saluran ( chanel )
atau media. Media dapat berupa lisan ( oral ), tertulis atau elektronik.
1) Media lisan
Dapat dilakukan dengan menyampaikan sendiri pesan secara lisan (oral ), baik
melalui telepon atau saluran yang lainnya kepada perorangan, kelompok kecil,
kelompok besar, atau masa. Keuntungan dari penyampaian pesan secara lisan ini
adalah si penerima pesan mendengar secara langsung tanggapan atau pertanyaan,
memungkinkan disertai nada atau warna suara, gerak- gerik tubuh atau raut wajah,
dan dapat dilakukan dengan cepat.
2) Media tertulis
Pesan disampaikan secara tertulis melalui surat, memo, hand- out, gambar
dll.keuntungannya adalah ada catatannya sehingga data dan informasi tetap utuh
3
tidak dapat berkurang atau tambah seperti informasi lisan, memberi waktu untuk
dipelajari isinya, cara penyusunannya dan rumusan kata- katanya.
3) Media elektronik
Disampaikan melalui faksimili, email, radio, televisi. Keuntungannya adalah
prosesnya cepat, data bisa disimpan. Penggunaan media dalam penyampaian
pesan tentunya dapat mengalami gangguan atau masalah sehingga dapat
menghambat komunikasi. Gangguan itu dapat berupa hal- hal yang dapat
menggangu panca indera seperti suara terlalu keras atau lemah, udara panas,
faktor pribadi seperti prasangka, persaan tidak cakap dll.
d. Lingkungan/ situasi ketika komunikasi dilakukan
Lingkungan atau situasi ( tenpat, waktu, cuaca, iklim keadaan alam dan psikologis)
ialah faktor- faktor yang dapat mempengaruhi proses komunikasi. Karena itu pada
waktu berkomunikasi dengan orang lain kita perlu memperhatikan situasi. Faktor ini
dapat diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu lingkungan fisik, lingkungan
sosial budaya, lingkungan psikologis dan dimensi waktu.
Lingkungan fisik yang dimaksud contohnya adalah keadaan geografi, ini dapat
menyebabkan kesulitan dalam komunikasi, hal ini bisa disebabkan karena jarak yang
jauh, dimana tidak terdapat fasilitas komunikasi seperti telepon, faksimili, kantor pos
dll. Faktor sosial menunjukkan faktor sosial budaya, ekonomi dan politik bisa menjadi
hambatan untuk komunikasi, misalnya kesamaan bahasa, orang yang punya bahasa
berbeda dan tidak saling memahami bahasa yang digunakan maka dapat menimbulkan
macetnya suatu komunikasi.
e.
Pihak yang menerima pesan
Penerima pesan adalah pihak yang menerima pesan atau menjadi sasaran pesna yang
dikirim oleh sumber. Penerima biasa disebut juga dengan khalayak, sasaran,
komunikan, atau audi- ence/receiver. Penerima pesan adalah elemen penting karena
menjadi sasaran dalam komunikasi. Apabila pesan tidak diterima dengan baik oleh
penerima pesan maka dapat mengakibatkan berbagai masalah yang seringkali
menuntut perubahan, entah pada sumber pesan atau saluran. Penerima pesan ini bisa
perorangan, atau suatu kelompok, organisasi atau negara.
f. Umpan balik ( Feedback )
Umpan balik merupakan tanggapan penerima terhadap pesan yang diterima dari
pengirim. Tetapi ada juga yang beranggapan bahwa umpan balik terjadi sebagai akibat
pengaruh yang berasal dari penerima. Umpan balik ini dapat berupa umpan balik
positif atau negatif. Umpan balik positif bila tanggapan penerima menunjukkan
kesediaan menerima atau mengerti pesan dengan baik, serta memberi tanggapan sesuai
yang diinginkan pengirim. Umpan balik positif ini bisa membuat komunikasi tetap
berlanjut, urusan balik positif ini bisa membuat komunikasi tetap berlanjut, urusan
selesai dan hubungan tetap baik atau bertambah baik.
Umpan balik negatif adalah umpan balik yang menunjukkan penerima pesan tidak
dapat menerima dengan baik pesan yang diterimanya. Umpan balik negatif dapat
benar atau salah. Benar jika cara penyampaiannya dilakukan dengan benar, serta
4
penafsiran pesan juga benar. Salah jika isi dan cara penyampaian pesan dilakukan
secara benar tetapi penafsiran penerima yang salah.
3. Komponen Komunikasi
Komponen dari proses komunikasi meliputi pengirim pesan ( sender ), penerima pesan
( receiver ), pesan ( massage ), serta variable pesan (massage variables ) yang meliputi
komunikasi
verbal
dan
nonverbal,
bunyi
( noise ),
keterampilan
komunikasi
( communication skill ), penempatan (setting ), media, umpan balik ( feed back ), dan
lingkungan (environment ).
a.
Pesan
Adalah informasi yang dikirim oleh pengirim pesan dan diterima oleh penerima
pesan. Pesan yang efektif adalah pesan yang jelas dan teroganisasi serta
diekspresikan oleh pengirim pesan.
b.
Pengirim pesan
Adalah encorder, yaitu seseorang yang mempunyai inisiatif untuk menyampaikan
pesan kepada orang lain di mana pesan tersebut disampaikan secara verbal maupun
nonverbal. Pengirim pesan akan menyampaikan stimulus berupa ide ke dalam bentuk
yang dapat diterima oleh orang lain atau penerima pesan secara tepat.
c.
Variabel Pesan
Meliputi komunikasi verbal dan nonverbal, bunyi, keterampilan komunikasi,
penempatan, media, umpan balik dan lingkungan.
1) Komunikasi verbal. Bahasa merupakan ekspresi ide atau perasaan. Kata- kata
merupakan alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau
perasaan, mengembangkan dan membangkitkan respons emosional, atau
menguraikan objek, observasi, dan ingatan.
2) Komunikasi nonverbal. Merupakan penyampaian pesan tanpa menggunakan
kata- kata. Perilaku nonverbal yang umum adalah menangis, tertawa, berteriak
atau menjerit, dan mengerang. Bentuk lain dari komunikasi ini meliputi ekspresi
wajah, suara atau bunyi, isyarat, sikap tubuh, dan cara berjalan.
3) Suara atau bunyi. Bunyi mengacu pada sistem komunikasi untuk menghindari
penyampaian pesan yang tidak akurat.
4) Keterampilan komunikasi. Meliputi kemampuan pengirim dan penerima pesan
untuk mengobservasi, mendengar, mengklarifikasi, dan memvalidasi arti pesan.
5) Penempatan.
Mengacu pada tempat atau lokasi di mana komunikasi
berlangsung.
6) Media. Merupakan channels sensory yang membawa pesan. Channels sensory
meliputi pendengaran, penglihatan, peraba, perasa, dan penciuman. Sebagai
contoh, bidan melalui channelssensory penglihatan, melihat air mata klien.
Saluran komunikasi itu meliputi:
a) Pendengaran ( lambang berupa suara )
b) Penglihatan ( lambang berupa sinar, pantulan sinar, atau gambar )
c) Penciuman ( lambang yang berupa bau- bauan ),
d) Rabaan ( lambang berupa rangsangan perabaan ).
5
7) Umpan balik. Merupakan proses lanjutan dari pesan yang diterima. Penerima
pesan akan memberikan tanggapan atau pesan kembali kepada pengirim pesan.
Umpan balik ini membantu memberikan kejelasan kepada pengirim pesan bahwa
pesan yang dikirim dapat diterima dengan tepat oleh penerima pesan atau
sebaliknya. Respons verbal atau nonverbal dari penerima pesan memberikan
umpan balik kepada pengirim pesan.
d. Penerima pesan
Adalah decorder, yaitu seseorang yang menerima pesan. Pengiriman dan
penerimaan pesan terjadi secara bersamaan dan merupakan aktivitas dari
pengiriman pesan dan penerima pesan.
4.
Proses Komunikasi
a.
Perspektif psikologis
Ketika komunikator berniat akan menyampaikan pesan, dalam dirinya akan terjadi
proses encoding ( proses mengemas dan membungkus pikiran dengan bahasa yang
dilakukan komunikator ), hasil encoding berupa pesan itu kemudian ditransmisikan
kepada komunikan. Kemudian komunikan terlibat dalam proses komunikasi
intrapesonal. Proses dalam diri komunikan ini disebut decoding
( seolah- olah
membuka kemasan atau bungkus pesan yang diterima dari komunikator ).
b.
Perspektif mekanis
Ini berlangsung saat komunikator mentransfer dengan bibir atau tangan, pesan sampai
tertangkap komunikan. Ini dapat dilakukan dengan indera telinga atau indera lainnya.
Proses komunikasi ini bersifat kompleks karena bergantung situasi.
5.
Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi
Proses komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor ( Potte; & Perry, 1993 ).
a.
Perkembangan
Agar dapat berkomunikasi efektif dengan seseorang, bidan harus mengerti pengaruh
perkembangan usia, baik dari sisi bahasa maupun proses berpikir orang tersebut. Cara
berkomunikasi anak usia remaja berbeda dengan anak usia balita. Kepada remaja,
Anda mungkin perlu belajar bahasa “ gaul “ mereka sehingga remaja yang kita ajak
bicara akan merasa kita mengerti mereka dan komunikasi diharapkan akan lancar.
b.
Persepsi
Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian atau peristiwa.
Persepsi ini dibentuk oleh pengharapan atau pengalaman. Perbedaan persepsi dapat
mengakibatkan terhambatnya komunikasi. Misalnya, kata “ beton “ akan
menimbulkan perbedaan persepsi antara ahli bangunan dengan orang awam.
c.
Nilai
Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku sehingga penting bagi bidan untuk
menyadari
nilai
seseorang.
Bidan
perlu
berusaha
untuk
mengetahui
dan
mengklarifikasi nilai sehingga dapat membuat keputusan dan interaksi yang tepat
dengan klien. Dalam hubungan profesional, bidan diharapkan tidak terpengaruh oleh
nilai pribadi.
6
Perbedaan nilai tersebut dapat dicontohkan sebagai berikut, misalnya klien
memandang abortus tidak sebagai perbuatan dosa, sementara bidan memandang
abortus sebagai tindakan dosa. Hal ini dapat menyebabkan konflik antara bidan
dengan klien.
d.
Latar Belakang Sosial Budaya
Bahasa dan gaya komunikasi akan sangat dipengaruhi oleh faktor- faktor budaya.
Budaya juga akan membatasi cara bertindak dan berkomunikasi. Seorang remaja putri
yang berasal dari daerah lain ingin membeli makanan khas di suatu daerah. Pada saat
membeli makanan tersebut, remaja ini tiba- tiba menjadi pucat ketakutan karena
penjual menanyakan padanya berapa banyak cabai merah yang dibutuhkan untuk
campuran makanan yang akan dibeli. Apa yang terjadi ? remaja tersebut merasa
dimarahi oleh penjual karena cara menanyakan cabai itu seperti membentak, padahal
penjual merasa tidak memarahi remaja tersebut. Hal ini dikarenakan budaya dan logat
bicara penjual yang memang keras dan tegas sehingga terkesan seperti marah bagi
orang dengan latar budaya yang berbeda.
e.
Emosi
Emosi merupakan perasaan subjektif terhadap suatu kejadian. Emosi seperti marah,
sedih, senang akan dapat mempengaruhi bidan dalam berkomunikasi dengan orang
lain. Bidan perlu mengkaji emosi klien dengan tepat. Selain itu, bidan juga perlu
mengevaluasi emosi yang ada dirinya agar dalam melakukan asuhan kebidanan tidak
terpengaruh oleh emosi bawah sadarnya.
f.
Jenis Kelamin
Setiap jenis kelamin mempunyai gaya komunikasi yang berbeda. Tanned
( 1990 )
menyebutkan bahwa wanita dan laki- laki mempunyai perbedaan gaya komunikasi.
Dari usia tiga tahun, wanita bermain dengan teman baiknya atau dalam group kecil,
menggunakan bahasa untuk mencari kejelasan dan meminimalkan perbedaan, serta
membangun dan mendukung keintiman. Laki- laki di lain pihak, menggunakan bahasa
untuk mendapatkan kemandirian aktivitas dalam grup yang lebih besar, dan jika ingin
berteman, mereka melakukannya dengan bermain.
g.
Pengetahuan
Tingkat
pengetahuan
mempengaruhi
komunikasi.
Seseorang
yang
tingkat
pengetahuannya rendah akan sulit merespons pertanyaan yang mengandung bahasa
verbal dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Bidan perlu mengetahui tingkat
pengetahuan klien sehingga dapat berinteraksi dengan baik dan akhirnya dapat
memberi asuhan yang tepat kepada klien.
h. Peran dan Hubungan
Gaya dan komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan antarorang yang
berkomunikasi. Cara komunikasi seorang bidan dengan kolganya, dengan cara
komunikasi seorang bidan pada klien akan berbeda, tergantung peran. Demikian juga
antara orang tua dan anak.
7
i.
Lingkungan
Lingkungan interkasi akan mempengaruhi komunikasi yang efektif. Suasana yang
bising, tidak ada privasi yang tepat, akan menimbulkan keracunan, ketagangan, dan
ketidaknyamanan. Misalnya, berdiskusi di tempat yang ramai tentu tidak nyaman.
Untuk itu bidan perlu menyiapkan lingkungan yang tepat dan nyaman sebelum
interaksi dengan klien.
Begitu juga dengan lingkungan fisik. Tingkah laku manusia berbeda dari satu tempat
ke tempat lain. Misalnya, saat seseorang berkomunikasi dengan sahabatnya akan
berbeda apabila berbicara dengan pimpinannya.
j. Jarak
Jarak dapat mempengaruhi komunukasi. Jarak tertentu akan memberi rasa aman dan
kontrol. Misalnya, individu yang merasa terancam ketika seseorang tidak dikenal tibatiba berada pada jarak yang sangat dekat dengan dirinya. Hal ini juga yang dialami
oleh klien pada saat pertama kali berinterkasi dengan bidan. Untuk itu, bidan perlu
memperhitungkan jarak yang tepat pada saat melakukan hubungan dengan klien.
k. Citra Diri
Manusia mempunyai gambaran tertentu mengenai dirinya, status sosial, kelebihan dan
kekurangannya. Citra diri terungkap dalam komunikasi.
l. Kondisi Fisik
Kondisi fisik mempunyai pengaruh terhadap komunikasi. Artinya, indra pembicaraan
mempunyai andil terhadap kelancaran dalam berkomunikasi.
6. Bentuk Komunikasi
a.
Komunikasi Massa
Komunikasi massa ialah komunikasi melalui media masa modern yang meliputi surat
kabar, siaran radio dan televisi. Komunikasi massa menyiarkan informasi, gagasan,
dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan
media melakukan komunikasi massa ini kebih sukar dibanding komunikasi antar
pribadi.
b.
Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal didefinisikan sebagai komunikasi yang terjadi antara dua
orang atau lebih secara tatap muka ( R. Wayne Pace, 1979 ). Sedangkan menurut
Joseph A. Devito komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan
pesan- pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang – orang dengan
beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika.
1) Menurut sifatnya komunikasi interpersonal dibedakan menjadi dua yaitu:
a) Komunikasi diadik yaitu komunikasi antara dua orang dalam situasi tatap
muka. Dapat dilakukan dalam bentuk percakapan dialog dan wawancara.
Dialog dilakukan bentuk percakapan dialog dan wawancara. Dialog dilakukan
dalam situasi yang lebih intim, akrab, lebih personil, sedang wawancara lebih
serius.
b) Komunikasi triadik yaitu adalah komunikasi antar pribadi yang pelakunya
lebih dari tiga orang yakni seorang komunikator dan dua orang komunikan.
8
Komunikasi
interpersonal
berlangsung
secara
dialogis
sehingga
memungkinkan interkasi dan dianggap sebagai komunikasi yang paling ampuh
dalam mengubah sikap, kepercayaan, opini dan perilaku komunikan, karena
dilakukan secara tatap muka.
2) 3 perilaku dalam komunikasi interpersonal yaitu :
a) Perilaku spontan ( spontaneus behaviour ) adalah perilaku yang dilakukan
berdasar desakan emosi dan dilakukan tanpa sensor serta revisi secara kognisi.
b) Perilaku menurut kebiasaan ( script behaviour ) adalah perilaku berdasarkan
kebiasaan kita. Perilaku itu khas dilakukan pada suatu keadaan misal
mengucapkan selamat pagi dll.
c) Perilaku
sadar (contrived
behaviour )
adalah
perilaku
yang
dipilih
berdasarkan situasi yang ada.
3) Kompetensi dan kecakapan komunikasi interpersonal
Agar berjalan sesuai yang diharapkan diperlukan kemampuan dan kecakapan
dalam melakukan komunikasi interpersonal. Kompetensi komunikasi adalah
tingkat dimana perilaku kita dalam komunikasi interpersonal sesuai dan cocok
dengan situasi dan membantu kita mencapai tujuan komunikasi interpersonal yang
kita lakukan dengan orang lain.
c.
Komunikasi intrapersonal/intrapribadi/intrapersonal communication
Merupakan proses komunikasi yang terjadi pada diri seseorang. Orang tersebut
berperan sebagai komunikator maupun komunikan, orang berbicara sendiri, berdialog
sendiri dan dijawan sendiri. Terjadinya proses komunikasi ini karena seseorang yang
memberi arti terhadap suatu objek yang diamati atau tersirat dalam pikirannya. Dalam
proses pengambilan keputusan biasanya dihadapkan pada jawaban ya atau tidak.
Untuk menjawabnya perlu pemikiran yang bisa dilakukan dengan komunikasi
intrapersonal atau dengan diri sendiri.
d.
Komunikasi kelompok
Komunikasi
kelompok
atau group
communication adalah
komunikasi
yang
berlangsung antara seorang komunikator dengan sekelompok orang jumlahnya lebih
dari dua orang. Sekelompok orang yang menjadi komunikan bisa sedikit atau banyak.
Jika komunikan dalam kelompok kecil maka disebut komunikasi kelompok kecil
(small group communication ), dan jika jumlahnya banyak maka disebut komunikasi
kelompok besar ( large group communication ). Secara teoritis dalam ilmu
komunikasi yang membedakan kelompok kecil atau besar bukan dari jumlahnya
secara matematis tetapi berdasarkan kualitas proses komunikasi.
Adapun karakteristik yang membedakan antara kelompok kecil dan besar adalah :
1) Komunikasi kelompok kecil
Adalah kelompok yang ditunjukkan kepada kogniktif komunikan dan prosesnya
berlangsung secara dialogis ( umpan balik terjadi secara verbal ).
Dalam kelompok kecil komunikator menunjukkan pesannya pada benak
komunikan misalnya kuliah, ceramah, diskusi, rapat dll. Dalam situasi ini logika
berperan penting dan komunikan dapat menilai logis tidaknya uraian komunikator.
9
2) Komunukasi kelompok besar
Komunikasi kelompok besar adalah komunikasi yang ditujukan kepada efeksi
komunikan ( hatinya atau perasaan ) dan proses brlangsung liner. Umumnya
komunikan bersifat heteregon dari jenis kelamin, usia, jenis, pekerjaan, tingkat
pendidikan, agama dll
10
BAB II
KOMUNIKASI EFEKTIF
A.
PENDAHULUAN
Komunikasi efektif menurut Mc. Crosky Larson dan Knapp dalam bukunya An
Introduction to Interpersonal Communication mengatakan bahwa komunikai yang efektif
dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (acurancy ) yang paling tinggi derajatnya
antara komunikator dan komunikan dalam setiap situasi. Komunikasi yang lebih efektif
terjadi apabila komunikator dan komunikan terdapat persamaan dalam pengertian, sikap
dan bahasa. Melakukan komunikasi efektif tidak mudah, beberapa ahli komunikasi
menyatakan bahwa tidak mungkin seseorang melakukan komunikasi yang benar- benar
efektif. Ada banyak hambatan yang dapat merusak komunikasi.
B.
PENYAJIAN
1. Pengertian Komunikasi Efektif
Komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap ( attitude change ) pada orang
yang terlihat dalam komunikasi. Tujuan komunikasi efektif adalah memberi
kemudahan dalam memahami pesan yang disampaikan antara pemberi dan penerima
sehingga bahasa lebih jelas, lengkap, pengiriman dan umpan balik seimbang, dan
melatih penggunaan bahasa nonverbal secara baik.
Komunikasi efektif adalah komunikasi di mana :
a. Pesan diterima dan dimengerti sebagaimana yang dimaksud oleh pengirimnya.
b. Pesan disetujui oleh penerima dan ditindaklanjuti dengan perbuatan yang diamati
oleh pengirim.
c. Tidak ada hambatan untuk melakukan apa yang seharunya dilakukan untuk
menindaklanjuti pesan yang dikirim.
2. Proses Komunikasi Efektif
Suksesnya proses komunikasi sehingga dapat menghasilkan komunikasi yang efektif
tentu saja dipengaruhi oleh banyak faktor baik itu faktor dari komunikator maupun dari
komunikan.
Willbur
Schramm
menampilkan
“ the
condition
of
succsess
communication ” sebagai berikut :
a. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik
perhatian komunikan. Untuk merancang suatu pesan yang dapat menarik perhatian
ini sebaiknya komunikator harus mencari tahu dulu karakteristik orang yang akan
kita beri pesan. Selain itu penyampai pesan yang menarik dan mudah dipahami.
b. Pesan harus menggunakan lambang- lambang tertuju kepada pengalaman yang
sama antara komunikator dan komunikan dengan beberapa metode dan tidak hanya
secara lisan. Pesan yang disampaikan dengan melibatkan beberapa panca indera
misal dapat dilihat, didengar dan diraba akan lebih mudah dimengerti daripada
pesan itu hanya disampaikan secara lisan.
c.
Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikasi dan menyarankan
beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut. Jadi pesan sesuai harapan
11
atau sesuai kebutuhan penerima pesan. Pesan yang disampaikan akan terasa
membosankan dan tidak ada arti bagi penerima pesan apabila pesan itu tidak
dibutuhkan.
d.
Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan, dimana
komunikan digerakkan untuk memberikan tanggapan sesuai yang dikehendaki.
Solusi pemecahan masalah harus dikemukakan untuk dapat membantu klien keluar
dari masalahnya.
3. Unsur- Unsur Dalam Membangun Komunikasi Efektif
Egan mengidentifikasi unsur dalam komunikasi efektif ke dalam lima sikap ( cara )
dan teknik untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi
yang terapeutik sebagai berikut :
a. Berhadapan
Arti dari posisi ini adalah “ saya siap untuk anda” .
b. Mempertahankan kontak mata
Kontak mata pada level yang sama berarti mengahrgai klien dan menyatakan
keinginan untuk tetap berkomunikasi.
c. Membungkuk ke arah klien
Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengarkan sesuatu
d. Mempertahankan sikap terbuka
Dalam arti tidak melipat kaki atau tangan. Menunjukkan keterbukaan untuk
berkomunikasi.
e. Tetap relaks
Sikap relaks dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi
dalam memberi respons pada klien.
f. Isyarat vokal
Yaitu isyarat paralinguistik, termasuk semua kualitas bicara nonverbal. Misalnya
tekanan suara, kualitas suara, tertawa, irama, dan kecepatan bicara.
g. Isyarat tindakan
Yaitu semua gerakan tubuh, termasuk ekspresi wajah dan sikap tubuh.
h.
Isyarat objek
Yaitu objek yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja oleh seseorang
seperti pakaian dan benda pribadi lainnya.
i. Ruang
Memberikan isyarat tentang kedekatan hubungan antara dua orang, hal ini
didasarkan pada norma- norma sosial budaya yang dimiliki.
j. Sentuhan
Yaitu kontak fisik antara dua orang dan merupakan komunikasi nonverbal yang
paling personal. Respons seseorang terhadap tindakan ini sangat dipengaruhi oleh
tatanan dan latar belakang budaya, jenis hubungan, jenis kelamin, usia dan harapan.
Untuk membantu meningkatkan efektifitas komunikasi dapat dilakukan
dengan cara :
a.
Sebagai pengirim
12
1) Menggunakan bahasa yang tepat dan menarik serta dimengerti oleh penerima.
2) Menggunakan empati dengan berusaha menempatkan diri ditempat penerima.
3) Mempertajam persepsi dengan membayangkan bagaimana pesan akan diterima,
dibaca, ditafsir dan ditanggapi oleh penerima.
4) Mengendalikan bentuk tanggapan dengan menggunakan kode atau lambang
yang tepat dan saluran yang sesuai.
5) Bersedia menerima umpan balik positif maupun negatif.
6) Mengembangkan kredibilitas diri sehingga dapat dipercaya karena kualitas
pribadi, mutu hidup dan keahlian profesional.
7) Mempertahankan hubungan baik dengan penerima.
b. Sebagai penerima
1) Meningkatkan kemampuan untuk mendengarkan sampai mampu mendengarkan
dengan empatik.
2) Waspada terhadap prasangka, bias, dan apriori dan sikap tidak terbuka dari kita.
3) Mengembangkan kecakapan menyampaikan umpan balik secara konstruktif.
4) Berusaha berfikir kreatif terhadap pesan yang diterima.
5) Bersikap terbuka tetapi kritis.
6) Benar- benar mengerti pesan komunikasi, jangan malu bertanya apabila pesan
belum kita tangkap atau tidak dimengerti.
7) Saat mengambil keputusan sadar akan tujuannya.
c.
Keefektifan komunikasi antar pribadi dipengaruhi oleh faktor- faktor berikut
:
1) Keterbukaan yaitu kesediaan membuka diri, merasakan pikiran dan perasaan
orang lain, mereaksi pada orang lain.
2) Empati, yaitu mengahayati perasaan orang lain.
3) Mendukung yaitu kesediaan secara spontan untuk menciptakan suasana yang
bersifat mendukung.
4) Positif yaitu menyatakan sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain dan
situasi.
5) Keseimbangan yaitu mengakui bahwa kedua belah pihak mempunyai
kepentingan yang sama, pertukaran informasi secara seimbang.
6) Percaya diri yaitu merasa yakin pada diri sendiri, bebas dari rasa malu.
7) Kesegaran yaitu segera melakukan kontak disertai rasa suka dan berminat.
8) Manajemen interaksi yaitu mengendalikan interaksi untuk memberikan
keputusan kepada kedua belah pihak.
9) Pengungkapan yaitu keterlibatan secara jujur dalam berbicara dan menyimak
baik secara verbal maupun nonverbal.
10) Orientasi kepada orang lain yaitu penuh perhatian, minat dan kepedulian kepada
orang lain.
13
BAB III
HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
C.
PENDAHULUAN
Komunikasi efektif menurut Mc. Crosky Larson dan Knapp dalam bukunya An
Introduction to Interpersonal Communication mengatakan bahwa komunikai yang efektif
dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (acurancy ) yang paling tinggi derajatnya
antara komunikator dan komunikan dalam setiap situasi. Komunikasi yang lebih efektif
terjadi apabila komunikator dan komunikan terdapat persamaan dalam pengertian, sikap
dan bahasa. Melakukan komunikasi efektif tidak mudah, beberapa ahli komunikasi
menyatakan bahwa tidak mungkin seseorang melakukan komunikasi yang benar- benar
efektif. Ada banyak hambatan yang dapat merusak komunikasi.
D.
PENYAJIAN
4. Pengertian Komunikasi Efektif
Komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap ( attitude change ) pada orang
yang terlihat dalam komunikasi. Tujuan komunikasi efektif adalah memberi
kemudahan dalam memahami pesan yang disampaikan antara pemberi dan penerima
sehingga bahasa lebih jelas, lengkap, pengiriman dan umpan balik seimbang, dan
melatih penggunaan bahasa nonverbal secara baik.
Komunikasi efektif adalah komunikasi di mana :
d. Pesan diterima dan dimengerti sebagaimana yang dimaksud oleh pengirimnya.
e. Pesan disetujui oleh penerima dan ditindaklanjuti dengan perbuatan yang diamati
oleh pengirim.
f. Tidak ada hambatan untuk melakukan apa yang seharunya dilakukan untuk
menindaklanjuti pesan yang dikirim.
5. Proses Komunikasi Efektif
Suksesnya proses komunikasi sehingga dapat menghasilkan komunikasi yang efektif
tentu saja dipengaruhi oleh banyak faktor baik itu faktor dari komunikator maupun dari
komunikan.
Willbur
Schramm
menampilkan
“ the
condition
of
succsess
communication ” sebagai berikut :
e. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik
perhatian komunikan. Untuk merancang suatu pesan yang dapat menarik perhatian
ini sebaiknya komunikator harus mencari tahu dulu karakteristik orang yang akan
kita beri pesan. Selain itu penyampai pesan yang menarik dan mudah dipahami.
f. Pesan harus menggunakan lambang- lambang tertuju kepada pengalaman yang
sama antara komunikator dan komunikan dengan beberapa metode dan tidak hanya
secara lisan. Pesan yang disampaikan dengan melibatkan beberapa panca indera
misal dapat dilihat, didengar dan diraba akan lebih mudah dimengerti daripada
pesan itu hanya disampaikan secara lisan.
g.
Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikasi dan menyarankan
beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut. Jadi pesan sesuai harapan
atau sesuai kebutuhan penerima pesan. Pesan yang disampaikan akan terasa
14
membosankan dan tidak ada arti bagi penerima pesan apabila pesan itu tidak
dibutuhkan.
h.
Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan, dimana
komunikan digerakkan untuk memberikan tanggapan sesuai yang dikehendaki.
Solusi pemecahan masalah harus dikemukakan untuk dapat membantu klien keluar
dari masalahnya.
6. Unsur- Unsur Dalam Membangun Komunikasi Efektif
Egan mengidentifikasi unsur dalam komunikasi efektif ke dalam lima sikap ( cara )
dan teknik untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi
yang terapeutik sebagai berikut :
k. Berhadapan
Arti dari posisi ini adalah “ saya siap untuk anda” .
l. Mempertahankan kontak mata
Kontak mata pada level yang sama berarti mengahrgai klien dan menyatakan
keinginan untuk tetap berkomunikasi.
m. Membungkuk ke arah klien
Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengarkan sesuatu
n. Mempertahankan sikap terbuka
Dalam arti tidak melipat kaki atau tangan. Menunjukkan keterbukaan untuk
berkomunikasi.
o. Tetap relaks
Sikap relaks dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi
dalam memberi respons pada klien.
p. Isyarat vokal
Yaitu isyarat paralinguistik, termasuk semua kualitas bicara nonverbal. Misalnya
tekanan suara, kualitas suara, tertawa, irama, dan kecepatan bicara.
q. Isyarat tindakan
Yaitu semua gerakan tubuh, termasuk ekspresi wajah dan sikap tubuh.
r.
Isyarat objek
Yaitu objek yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja oleh seseorang
seperti pakaian dan benda pribadi lainnya.
s. Ruang
Memberikan isyarat tentang kedekatan hubungan antara dua orang, hal ini
didasarkan pada norma- norma sosial budaya yang dimiliki.
t. Sentuhan
Yaitu kontak fisik antara dua orang dan merupakan komunikasi nonverbal yang
paling personal. Respons seseorang terhadap tindakan ini sangat dipengaruhi oleh
tatanan dan latar belakang budaya, jenis hubungan, jenis kelamin, usia dan harapan.
Untuk membantu meningkatkan efektifitas komunikasi dapat dilakukan
dengan cara :
d. Sebagai pengirim
8) Menggunakan bahasa yang tepat dan menarik serta dimengerti oleh penerima.
15
9) Menggunakan empati dengan berusaha menempatkan diri ditempat penerima.
10) Mempertajam persepsi dengan membayangkan bagaimana pesan akan diterima,
dibaca, ditafsir dan ditanggapi oleh penerima.
11) Mengendalikan bentuk tanggapan dengan menggunakan kode atau lambang
yang tepat dan saluran yang sesuai.
12) Bersedia menerima umpan balik positif maupun negatif.
13) Mengembangkan kredibilitas diri sehingga dapat dipercaya karena kualitas
pribadi, mutu hidup dan keahlian profesional.
14) Mempertahankan hubungan baik dengan penerima.
e.
Sebagai penerima
8) Meningkatkan kemampuan untuk mendengarkan sampai mampu mendengarkan
dengan empatik.
9) Waspada terhadap prasangka, bias, dan apriori dan sikap tidak terbuka dari kita.
10) Mengembangkan kecakapan menyampaikan umpan balik secara konstruktif.
11) Berusaha berfikir kreatif terhadap pesan yang diterima.
12) Bersikap terbuka tetapi kritis.
13) Benar- benar mengerti pesan komunikasi, jangan malu bertanya apabila pesan
belum kita tangkap atau tidak dimengerti.
14) Saat mengambil keputusan sadar akan tujuannya.
f.
Keefektifan komunikasi antar pribadi dipengaruhi oleh faktor- faktor berikut
:
11) Keterbukaan yaitu kesediaan membuka diri, merasakan pikiran dan perasaan
orang lain, mereaksi pada orang lain.
12) Empati, yaitu mengahayati perasaan orang lain.
13) Mendukung yaitu kesediaan secara spontan untuk menciptakan suasana yang
bersifat mendukung.
14) Positif yaitu menyatakan sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain dan
situasi.
15) Keseimbangan yaitu mengakui bahwa kedua belah pihak mempunyai
kepentingan yang sama, pertukaran informasi secara seimbang.
16) Percaya diri yaitu merasa yakin pada diri sendiri, bebas dari rasa malu.
17) Kesegaran yaitu segera melakukan kontak disertai rasa suka dan berminat.
18) Manajemen interaksi yaitu mengendalikan interaksi untuk memberikan
keputusan kepada kedua belah pihak.
19) Pengungkapan yaitu keterlibatan secara jujur dalam berbicara dan menyimak
baik secara verbal maupun nonverbal.
20) Orientasi kepada orang lain yaitu penuh perhatian, minat dan kepedulian kepada
orang lain.
A. PENDAHULUAN
16
Hubungan antar manusia mendasari interaksi dan komunikasi antara bidan dengan pasien dalam
pelayanan kebidanan. Ciri hakiki “ Human Relations “ yaitu : proses rohaniah yang tertuju
kepada “ kebahagiaan “ berdasarkan watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap, tingkah laku, dll;
aspek kejiwaan yang terdapat pada diri manusia. Proses rohaniah dengan perasaan bahagia ini
berlangsung pada “ Komunikasi Antar Personal “. Karena sifatnya “ dialogis “, maka masingmasing tahu, sadar, dan merasakan efeknya.
B. PENYAJIAN
1.
Pengertian Hubungan Antar Manusia
Hubungan antar manusia satu sama lain yang bersifat action oriented mengandung unsur
unsur kejiwaan yang mendalam untuk merubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang.
Hubungan antar manusia mempunyai 3 pengertian yakni pengertian menurut ahli, dalam arti
luas dan arti sempit.
a. Pengertian menurut ahli
1) Cabot dan Kahl ( 1967 ): hubungan antar manusia adalah suatu sosiologi konkret
karena meneliti situasi kehidupan, khususnya masalah interaksi dengan pengaruh dan
psikologisnya. Jadi, interkasi mengakibatkan dan menghasilkan penyesuaian diri
secara timbal balik yang mencakup kecakapan dalam penyesuaian dengan situasi
baru.
2) H. Bonner ( 1975 ) : interaksi adalah hubungan antara dua lebih individu manusia
dan perilaku yang satu mempengaruhi, mengubah, dan memperbaiki perilaku
individu lain atau sebaliknya.
3) Keith Davis “ Human Relation “ adalah interkasi antara seseorang dengan orang lain
dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan. Ditinjau dari kepemimpinannya,
yang bertanggung jawab dalam suatu kelompok merupakan interkasi orang- orang
menuju situasi kerja yang memotivasi untuk bekerja sama secara produktif, sehingga
dicapai kepuasan ekonomi, psikologis dan sosial.
4) Ferdinand Tonnies : menyatakan bahwa manusia dalam bermasyarakat mempunyai
dua jenis pergaulan: 1) Gemeinscaft, hal yang dialami oleh orang lain dirasakan
sebagaimana terjadi pada dirinya oleh karena pergaulannya yang sangat akrab.
Sifatnya
statis,
pribadi,
tidak
rasional;
2)
Gessellscaft,
pergaulan
yang
mempertimbangkan untung dan ruginya sehingga anggota bebas keluar masuk dari
kelompok tersebut.
b. Hubungan antar manusia dalam arti luas
HAM dalam arti sempit adalah antara seseorang dengan orang lain dalam segala situasi
di semua bidang kehidupan. Secara kodrat manusia sebagai mahkluk yang berpikir
( homo sapiens ) sehingga membedakan dengan hewan, juga sebagai mahkluk sosial
( homo sosius ) sehingga dalam hidupnya selalu berhubungan dengan masyarakat dan
lingkungannya. Menurut Ferdinand Tonnies manusia hidup bermasyarakat ini
mempunyai dua jenis pergaulan yaituGemeinscaft dan Gesellscaft.
Gemeinscaft adalah seseorang yang bergaul sangat akrab, sehingga yang dialami orang
ini dirasakan pula sebagaimana terjadi pada dirinya. Adapun sifat pergaulan ini adalah
17
statis ( tidak banyak mengalami perubahan dan dinamika ), bersifat pribadi, tidak
rasional ( tidak ada tata cara peraturan yang mengartur pergaulan tersebut ).
Gesellscaft adalah pergaulan yang memperhitungkan untung dan ruginya sehingga
anggota bebas keluar masuk dari kelompok tersebut. Adapun sifatnya adalah dinamis (
hubungan dengan orang banyak secara bergantian ), tidak pribadi, rasional ( mempunyai
aturan- aturan ketat yang mengikat ). Pergulan hidup dalam Gesellscaft bersifat tak
pribadi maka komunikasi acapkali tidak berlangsung mulus disebabkan hambatan
psikologis sosilogis atau antropologis.
c. Hubungan antar manusia dalam arti sempit
Adalah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam situasi kerja dan dalam
organisasi kekaryaan. Dipandang dari kepemimpinannya, bertanggung jawab dalam
suatu kelompok merupakan interaksi orang- orang menuju situasi kerja yang memotivasi
untuk bekerja sama secara produktif, sehingga dicapai kepuasan ekonomis, psikologis
dan sosial ( Keith Davis “ Human Relation at Work “ ).
2. Sifat – sifat hubungan antar manusia
a. Mendalam, ada unsur ikhlas jadi komunikasi melibatkan perasaan, dimana upaya
untuk membantu harus dengan perasaan ikhlas tanpa pamrih.
b. Dialognya mendalam, sampai hal- hal yang bersifat pribadi bisa diutarakan untuk
maksud mengetahui permasalahan dan dapat memecahkan masalah sampai tuntas.
c. Action oriented / berorintasi pada tindakan, jadi kegiatan benar- benar bisa teramati,
bukan suatu niat saja.
d. Aktif dan reaksi, harus ada timbal balik antara komunikator dan klien.
e. Merubah sikap, dengan hubungan dengan orang lain sikap bisa berubah entah
menjadi positif atau negatif.
f. Pendapat dan tanggapan. Hal ini dapat menambah wawasan dan pendewasaan dalam
gaya berpikir.
g. Perilaku bisa diamati, dengan interaksi kita akan bertemu, bergaul memberikan
bantuan pada orang lain, dan kegiatan- kegiatan itu dapat diamati
3. Syarat- syarat hubungan antar manusia
Hubungan antar manusia dapat berjalan selaras apabila ada pemahaman pada diri masingmasing. Berikut ini beberapa syarat agar hubungan antar manusia bisa berjalan lancar
sesuai harapan.
a. Ada unsur simpati dan empati ( diawali saling perhatian, sehingga menjalin interaksi
yang baik dan komunikasi akan berjalan lancar.
b. Paham akan kebutuhan manusia
1) Kebutuhan manusia menurut Maslow ada 5 tingkatan :Kebutuhan yang pertama
adalah kebutuhan dasar manusia meliputi makan, minum, oksigen dan
sebagainya. Hubungan antar manusia tidak etis bila kita mengajak seseorang
untuk berbicara berjam- jam tanpa dikasih minum dan makan. Karena bila hal
tersebut kita lakukan akan mengganggu komunikasi.
2) Kebutuhan yang kedua adalah kebutuhan akan rasa aman. Dalam melakukan
hubungan antar manusia maka rasa aman dan nyaman sangat penting kita
18
perhatikan. Rasa aman tidak hanya dari segi fisik tetapi juga dari segi psikologis
termasuk diantaranya kita perlu menjaga kerahasiaan klien.
3) Kebutuhan yang ketiga adalah rasa sayang atau cinta. Rasa sayang bisa kita
tunjukkan kepada orang lain dalam bentuk simpati dan empati kepada klien.
4. Tujuan Hubungan Antar Manusia
Tujuan hubungan antar manusia adalah:
a. Menemukan diri sendiri
Dengan melakukan hubungan dengan orang lain maka kita dapat menemukan konsep
diri kita, mengetahui apa yang menjadi kelemahan kita, yang tidak bisa kita ketahui
tanpa masukan orang lain. Sehingga dengan masukan itu kita dapat mengetahui siapa
diri kita dan memperbaiki apa yang menjadi kekurangan kita
b. Menemukan dunia luar
Dunia luar yang kita ketahui bisa kita dapatkan dan ketahui dengan bergaul dengan
orang lain, sehingga bisa membuka wawasan kita pada hal- hal dilingkungan luar
kita.
c. Membentuk dan memelihara hubungan yang bermakna dengan orang lain.
Dengan menjalin hubungan antar manusia kita sebagai mahkluk sosial akan semakin
meningkatkan hubungan dan dapat menghindari kesalahfahaman yang mungkin
terjadi karena komunikasi akan selalu terpelihara.
d. Mengubah sikap dan perilaku sendiri dan orang lain
Sikap dan perilaku pada diri sendiri maupun orang lain dapat dirubah dengan adanya
masukan- masukan, kritik- kritik atau meniru dari apa yang kita lihat. Dengan
pergaulan atau komunikasi dengan orang lain bisa memberikan masukan negtaif atau
positif pada diri kita atau orang lain.
e. Bermain dan hiburan
Orang yang tidak pernah melakukan komunikasi dengan orang lain, tentunya
hidupnya atau kesepian. Dengan bergaul maka kita akan mendapatkan hiburan dan
permainan.
f. Memberikan bantuan
Kita tidak bisa hidup sendiri, semua kegiatan perlu bantuan dari orang lain, sehingga
kita perlu membina hubungan baik agar semua kegiatan bisa lancar.
5. Teknik- Teknik Hubungan Antar Manusia
Hubungan manusia dalam kegiatannya terdapat tehnik untuk membantu mengatasi atau
memecahkan masalah yang terjadi pada seseorang. Keberhasilan suatu konsultasi akan
dicapai apabila konselor benar- benar memahami Frame of Reference konseli yang
meliputi pengalaman, pengetahuan, agama, serta pandangan hidup karena diisi aspek
perasaan.
Hubungan manusiawi dapat dilakukan untuk menghilangkan hambatan- hambatan
komunikasi, meniadakan salah pengertian, dan mengembangkan segi konstruktif dari
sifat tabiat manusia ( RF Mailer ). Dalam hubungan manusia dilihat dari cara pendekatan
( approach ) konseling dapat dibagi dalam dua jenis yaitu Directive Counseling (
19
konseling langsung yang terarah ) dan Non Directive Conseling
( konseling tidak
langsung yang terarah ).
a.
Directive Counseling ( konseling langsung yang terarah )/ Conselor Centered
Approach adalah konseling yang pendekatannya terpusat pada konselor, dimana
aktivitas utama terletak pada konselor.
Langkah- langkahnya adalah :
1) Menjalin hubungan yang akrab dengan konseli sehingga tumbuh kepercayaan.
Hubungan yang akrab bisa kita mulai saat awal pertemuan, kita beri salam klien,
kita kenalkan diri kita, bersikap terbuka, dan menghilangkan sikap super.
2) Mencari informasi masalah yang dihadapi konseli dengan pertanyaan. Pertanyaan
yang
diajukan
sebaiknya
pertanyaan
terbuka,
sehingga
konseli
akan
mengeksplorasikan perasaan atau masalahnya.
3) Menganalisa informasi, data yang kita dapat dari konseli kita analisa, terutama
ungkapan – ungkapan pokok dan yang tidak, kejujuran informasi dll.
4) Memahami masalah yang dihadapi konseli dan mendiagnosanya.
5) Menginterpretasikan informasi.
6) Memberikan nasehat dan segesti
b. Non Directive Conseling ( konseling tidak langsung yang terarah )
Adalah pendekatan yang terpusat pada konseli, dapat digunakan oleh konselor yang
tidak begitu berpengetahuan tentang psikologi. Dalam konseling ini aktivitas utama
pada konseli, sehingga konselor hanya membantu agar konseli dapat memimpin
dirinya dan merasa bebas untuk menyatakan isi hatinya tanpa ada unsur paksaan.
Hal-hal yang harus diperhatikan konselor dalam melakukanNon Directive
Conseling :
1) Menyingkirkan sikap super atau merasa lebih.
2) Konselor tidak boleh merasa dirinya lebih pandai dari pada konseli.
3) Masalah ditinjau dari dasar pihak konseli.
4) Masalah yang dihadapi harus dilihat dari kacamata konseli, konselor tidak boleh
memberikan advis atau nasehat- nasehat, tapi membantu konseli menyelesaikan
masalahnya. Berpikirlah seolah- olah berada diposisi klien.
5) Bersikap apatik terhadap masalah konseli
Memberikan konseli yang lebih aktif, konselor menjadi pendengar yang baik, dan
harus
lebih
pasif,
biarkan
konseli
menceritakan
dan
mengungkapkan
permasalahannya dan akhirnya konselor tinggal mengarahkan.
6. Konsep Diri
Konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita yang kita dapat dari informasi
orang lain kepada kita. Konsep diri kita yang paling awal biasa dipengaruhi oleh keluarga
dan orang- orang dekat disekitar kita yang disebut significants others.
Aspek- aspek konsep diri seperti agama, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman, rupa
fisik dll diinternalisasi lewat pernyataan orang lain yang menegaskan aspek-aspek
tersebut kepada kita. Identitas etnik merupakan aspek- aspek tersebut kepada kita.
Identitas etnik merupakan unsur penting dalam konsep diri. George Herbert Mead
20
mengatakan setiap manusia mengembangkan konsep dirinya melalui interaksi dengan
orang lain dalam masyarakat. Dan dilakukan dengan komunikasi. Proses konsep diri
berlangsung sepanjang hidup, dan dapat berubah- ubah dan bergantung pada respon
orang terhadap kita. Kesan orang lain tentang diri kita dan cara mereka bereaksi
dipengaruhi oleh komunikasi kita dengan mereka.
1.
Teori Johary Windows
a.
Mengenal diri sendiri dengan Teori Johary Windows
Mengenal diri merupakan hal penting sebab kita dapat mengetahui kelemahan dan
kelebihan yang ada pada diri kita. Untuk memahami diri sendiri Joseph Luft dan
Harrington Ingham memperkenalkan konsep yang dikenal dengan Johari Windows.
Joseph dari kata Joseph Luft dan Harrington Ingham sedang Windows berarti
jendela. Dalam individu diumpamakan seperti jendela yang terbagi dalam 4 kuadran
yakni wilayah terbuka ( open area ), wilayah buta
tersembunyi ( hidden area ) dan wilayah tak dikenal
Open area
Blind area
Hidden area
Unknown area
( blind area ), wilayah
( unknown area ).
1) Wilayah terbuka
Wilayah ini menunjukkan kegiatan yang dilakukan komunikator disadari sepenuhnya
oleh yang bersangkutan juga oleh orang lain, ini berarti adanya keterbukaan atau tidak
ada disembunyikan pada orang lain. Menurut konsep ini kepribadian, kelemahan dan
kekurangan kita selain diketahui diri kita sendiri juga diketahui orang lain. Dengan
demikian jika kita ingin sukses dalam komunikasi maka kita harus bisa mempertemukan
keinginan kita dengan orang lain. Oleh karena itu semakin lebar atau luas area terbuka
maka komunikasi akan semakin bagus. Sebaliknya semakin sempit area terbuka maka
komunikasi cenderung semakin tertutup.
2) Wilayah buta
Pada wilayah buta ini menggambarkan bahwa perbuatan komunikator diketahui oleh
orang lain tetapi diri sendiri tidak menyadari apa yang dia lakukan. Oleh karena itu
semakin lebar wilayah buta maka akan terjadi kesulitan dalam komunikasi. Menurut
Joseph Luft dan Harrington Ingham wilayah buta ini ada pada setiap manusia dan sulit
dihapuskan sama sekali kecuali menguranginya. Cara yang bisa digunakan untuk
menguranginya adalah dengan bercermin pada nilai, norma, hukum yang diikuti orang
lain.
3) Wilayah tersembunyi
Wilayah tersebunyi adalah kebalikan dari Blind Area yakni apa yang dilakukan
komunikator disadari sepenuhnya oleh dirinya sendiri, tetapi orang lain tidak dapat
mengetahuinya. Ini berarti komunikator bersikap tertutup, dia merasa bahwa apa yang
dilakukannya tidak perlu diketahui orang lain. Ada dua konsep yang megenai wilayah ini
yaitu over
disclose dan under
disclose.Over
disclose ialah
sikap
terlalu
banyak
mengungkapkan sesuatu sehingga hal- hal yang seharusnya disembunyikan juga
21
diutarakan. Misalnya kebiasaan- kebiasaan buruk yang dimiliki diceritakan kepada orang
lain dll. Under disclose adalah sikap terlalu menyembunyikan sesuatu yang seharusnya
dikemukakan. Contohnya adalah riwayat penyakit yang akan bermanfaat untuk
pengobatan dirinya tetapi disembunyikan akan ditutupi. Memiliki wilayah ini ada
keuntungan dan kerugiannya. Keuntungannya kalau dilakukan secara wajar tetapi
kalauunderdisclose akan menyulitkan tercapainya komunikasi yang mengena.
4) Wilayah tak dikenal
Merupakan wilayah yang paling kritis dalam komunikasi, sebab selain diri kita yang
tidak mengenal diri sendiri orang lain juga mengetehui sikap kita. Dalam kehidupan
sehari- hari kesalahpahaman atau kesalahan perlakuan biasa terjadi karena kita tidak
saling mengenal kelabihan, kekurangan tentang diri kita maupun orang lain.
Keempat area diatas merupakan satu kesatuan yang terdapat pada diri seseorang. Dan
kadarnya akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Dngan memperlebar
wilayah terbuka maka orang dapat mencapai kesuksesan.
b. Prinsip berfungsinya 4 kuadran adalah :
1) Perubahan pada satu kuadran akan mempegaruhi / menyebabkan perubahan pada kuadran
lain.
2) Semakin kecil / sempit daerah 1 ( daerah terbuka ) semakin buruk komunikasi yang
terjadi.
3) Meningkatkan komunikasi interpersonal berarti melakukan perubahan diri sehingga
kiadran 1 > besar dan kuadran lain > kecil.
1
2
3
4
Keempat kuadran diatas menunjukkan bahwa individu yang mempunyai sikap kurang
memahami, tingkah lakunya terbatas, perasaan kurang terbuka, kurang jelas cara pandang
dan variasi hidupnya.
1
2
3
4
Keempat kuadran diatas menunjukkan bahwa individu yang terbuka terhadap dunia\
sekelilingnya, potensi diri disadari perasaan dan pikirannya terbuka untuk pengalamanpengalaman hidup yang menyedihkan, menyenagkan pekerjaan dsb. Ia lebih spontan dan
apa adanya.
Untuk mengetahui konsep diri anda dan anda termasuk tipe orang seperti apa maka
identifikasi kelemahan dan kelebihan anda dan juga identifikasi kelebihan dan kelemahan
teman anda. Minta teman anda melakukan hal yang sama kemudian tukar identifikasi
anda dengan teman anda tersebut.
A:
adalah individu yang kurang memahami diri sendiri, tingkah lakunya
terbatas, perasaannya kurang terbuka, kurang luas cara pandang dan versi hidupnya.
22
B : adalah individu yang terbuka terhadap dunia sekelilingnya, potensi diri disadari,
perasaan dan pikirannya terbuka untuk pengalaman- pengalaman hidup yang
menyedihkan, menyenangkan, pekerjaan, dsb. Ia lebih spontan dan bersikap
BAB IV
Komunikasi, menciptakan hubungan antara bidan dengan pasien untuk mengenal kebutuhan dan
menentukan rencana tindakan.
23
Kemampuan komunikasi tidak terlepas dari tingkah laku yang melibatkan aktifitas fisik, mental
dan dipengaruhi oleh latar belakang sosial, pengalaman, usia, pendidikan dan tujuan.
Pengertian Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yg direncanakan secara sadar, bertujuan dan
dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik mengarah pada bentuk
komunikasi interpersonal.

Northouse (1998: 12), komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan bidan
untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis, dan
belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain.

Stuart G.W. (1998), komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpesonal antara
bidan dengan pasien, dalam hubungan ini bidan dan pasien memperoleh pengalaman
belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional pasien.
Tujuan Komunikasi Terapeutik
1. Membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan serta pikiran.
2. Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.
3. Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri.
Menurut Stuart, tujuan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien :
1. Realisasi diri, penerimaan diri dan rasa hormat pada diri sendiri.
2. Identitas diri yang jelas dan integritas diri yang tinggi.
3. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang intim, saling tergantung dan
mencintai.
4. Peningkatan fungsi dan kemampuan yang memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan
personal yang realistis.
Manfaat Komunikasi Terapeutik
1. Mendorong dan menganjurkan kerjasama antara bidan-pasien.
2. Mengidentifikasi, mengungkap perasaan dan mengkaji masalah serta mengevaluasi
tindakan yang dilakukan bidan.
3. Memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien mengatasi masalah
yang dihadapi.
4. Mencegah tindakan yang negatif terhadap pertahanan diri pasien.
Ciri Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Terjadi antara bidan dengan pasien.
2. Mempunyai hubungan akrab dan mempunyai tujuan.
24
3. Berfokus pada pasien yang membutuhkan bantuan.
4. Bidan dengan aktif, mendengarkan dan memberikan respon pada pasien.
Unsur Komunikasi Terapeutik
Adapun komunikasi terapeutik mempunyai unsur sebagai berikut :
1. Ada sumber proses komunikasi.
2. Pesan disampaikan dengan penyandian balik (verbal & non verbal).
3. Ada penerima
4. Lingkungan saat komunikasi berlangsung.
Prinsip Komunikasi Terapeutik (Menurut Carl Rogers)
1. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus mengenal dirinya sendiri,
2. Komunikasi ditandai dengan sikap menerima, percaya dan menghargai,
3. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus paham, menghayati nilai yang dianut pasien,
4. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus sadar pentingnya kebutuhan pasien,
5. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus menciptakan suasana agar pasien berkembang
tanpa rasa takut,
6. Bidan sebagai tenaga kesehatan menciptakan suasana agar pasien punya motivasi
mengubah diri,
7. Bidan sebagai tenaga kesehatan harus menguasai perasaannya sendiri,
8. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan konsisten,
9. Bidan harus paham akan arti empati,
10. Bidan harus jujur dan berkomunikasi secara terbuka,
11. Bidan harus dapat berperan sebagai role model,
12. Mampu mengekspresikan perasaan,
13. Altruisme (panggilan jiwa) untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain,
14. Berpegang pada etika,
15. Tanggung jawab
Teknik Menjalin Hubungan dengan Pasien
Syarat dasar komunikasi menjadi efektif (Stuart, 1998) adalah :
1. Komunikasi ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi dan penerima pesan.
2. Komunikasi dilakukan dengan saling pengertian sebelum memberi saran, informasi dan
masukan.
Jenis Komunikasi Terapeutik
Mendengar dengan penuh perhatian
25
Usaha bidan mengerti pasien dengan cara mendengarkan masalah yang disampaikan pasien.
Sikap bidan : pandangan ke pasien, tidak menyilangkan kaki dan tangan, menghindari gerakan
yang tidak perlu, tubuh condong ke arah pasien.
Menunjukkan penerimaan
Mendukung dan menerima informasi dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan
tidak menilai. Sikap bidan : mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan, memberikan umpan
balik verbal.
Menanyakan pertanyaan yg berkaitan
Tujuan : mendapatkan informasi yang spesifik mengenai masalah yang disampaikan pasien.
Mengulang ucapan pasien dengan kata-kata
Pemberian feedback dilakukan setelah bidan melakukan pengulangan kembali kata kata pasien.
Mengklarifikasi
Tujuan : untuk menyamakan pengertian.
Memfokuskan
Untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan lebih spesifik dan dimengerti.
Menyatakan hasil observasi
Bidan memberikan umpan balik pada pasien dengan menyatakan hasil pengamatannya sehingga
pasien dapat menguraikan apakah pesannya diterima atau tidak.
Menawarkan informasi
Memberi tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk pasien.
Diam
Memberikan kesempatan pada bidan untuk mengorganisasikan pikiran dan memproses
informasi.
Meringkas
Pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Manfaat : membantu,
mengingat topik yang telah dibahas sebelum melanjutkan pembicaraan.
Memberikan penghargaan
Teknik ini tidak digunakan untuk menyatakan hal yang baik dan buruk.
26
Menawarkan diri
Menyediakan diri Anda tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan; Memberi
kesempatan kepada pasien untuk memulai pembicaraan; Memberi kesempatan kepada pasien
untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.
Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan
Hal ini mempunyai tujuan:
1. Memberi kesempatan pasien untuk mengarahkan seluruh pembicaraan, menafsirkan
diskusi, bidan mengikuti apa yg sedang dibicarakan selanjutnya.
2. Menempatkan kejadian dan waktu secara berurutan.
3. Menguraikan kejadian secara teratur akan membantu bidan dan pasien untuk melihat
dalam suatu perspektif.
4. Menemukan pola kesukaran interpersonal klien.
Menganjurkan klien untuk menguraikan persepsi
Bidan harus dapat melihat segala sesuatu dari perpektif pasien.
Perenungan
Memberikan kesempatan untuk mengemukakan dan menerima ide serta perasaannya sebagai
bagian dari dirinya sendiri.
Tahap Interaksi dengan Pasien
Pre interaksi
Tahap Pre interaksi adalah masa persiapan sebelum mengevaluasi dan berkomunikasi dengan
pasien. Pada masa ini bidan perlu membuat rencana interaksi dengan pasien yaitu : melakukan
evaluasi diri, menetapkan tahapan hubungan/ interaksi, merencanakan interaksi.
Perkenalan
Tahap Perkenalan adalah kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu. Hal yang perlu
dilakukan bidan adalah : memberi salam; memperkenalkan diri; menanyakan nama pasien;
menyepakati pertemuan (kontrak); melengkapi kontrak; menyepakati masalah pasien;
mengakhiri perkenalan.
Orientasi
Fase ini dilakukan pada awal setiap pertemuan kedua dst. Tujuan : memvalidasi keakuratan data,
rencana yang telah dibuat dengan keadaan pasien dan mengevaluasi hasil tindakan yg lalu. Hal
yang harus diperhatikan : memberi salam; memvalidasi keadaan psien; mengingatkan kontrak.
27
Fase kerja
Merupakan inti hubungan bidan-klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan
kebidanan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Tujuan tindakan kebidanan :
1. Meningkatkan pengertian dan pengenalan pasien tentang diri, perasaan, pikiran dan
perilakunya (tujuan kognitif).
2. Mengembangkan, mempertahankan,dan meningkatkan kemampuan pasien secara
mandiri menyelesaikan masalah yang dihadapi (tujuan afektif & psikologi).
3. Melaksanakan terapi/ klinis kebidanan.
4. Melaksanakan pendidikan kesehatan.
5. Melaksanakan kolaborasi.
6. Melaksanakan observasi dan pemantauan.
Fase terminasi
Merupakan akhir dari setiap pertemuan bidan dengan pasien. Klasifikasi terminasi :
1. Terminasi sementara : akhir dari tiap pertemuan bidan dengan pasien; terdiri dari tahap
evaluasi hasil, tahap tindak lanjut dan tahap untuk kontrak yang akan datang.
2. Terminasi akhir : terjadi jika pasien akan pulang dari rumah sakit atau bidan selesai
praktik. Isi percakapan antara bidan dengan pasien meliputi tahap evaluasi hasil, isi
percakapan tindak lanjut dan tahap eksplorasi perasaan.
Faktor Penghambat Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik dapat mengalami hambatan diantaranya :
1. Pemahaman berbeda.
2. Penafsiran berbeda.
3. Komunikasi yang terjadi satu arah.
4. Kepentingan berbeda.
5. Pemberian jaminan yang tidak mungkin.
6. Bicara hal-hal yang pribadi.
7. Menuntut bukti, penjelasan dan tantangan.
8. Mengalihkan topik pembicaran.
9. Memberikan kritik mengenai perasaan pasien.
10. Terlalu banyak bicara.
11. Memperlihatkan sifat jemu dan pesimis.
Komunikasi Terapeutik dalam Kebidanan
Komunikasi terapeutik dalam kebidanan meliputi :
28
Pengkajian
Menentukan kemampuan dalam proses informasi; mengevaluasi data tentang status mental
pasien; mengevaluasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi; mengobservasi kejadian yang
terjadi; mengidentifikasi perkembangan pasien; menentukan sikap pasien; mengkaji tingkat
kecemasan pasien.
Rencana tujuan
Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sendiri; membantu pasien menerima pengalaman;
meningkatkan harga diri pasien; memberi support; tenaga kesehatan dan pasien sepakat untuk
berkomunikasi secara terbuka.
Implementasi
Memperkenalkan diri pada pasien; memulai interaksi dengan pasien; membantu pasien
mendapatkan gambaran pengalamannya; menganjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaan;
menggunakan komunikasi untuk meningkatkan harga diri pasien.
Evaluasi
Pasien dapat mengembangkan kemampuan dalam mengkaji dan memenuhi kebutuhan;
komunikasi menjadi lebih jelas, terbuka, dan terfokus pada masalah; membantu menciptakan
lingkungan yang dapat mengurangi kecemasan.
Daftar Pustaka
Uripni, L. 2003. Komunikasi Kebidanan. Jakarta : EGC.
Suparyanti, R. 2008. Handout Komunikasi Terapeutik.
Suryani. 2005. Komunikasi Terapeutik Teori Dan Praktik. Jakarta : EGC.
Image, ehow.com
Sumber tulisan: Komunikasi Terapeutik
Download