Uploaded by ayuadi233

RESIKO DALAM PELAKSAAN PROYEK

advertisement
RESIKO DALAM PELAKSAAN PROYEK
Resiko
yang
dapat
terjadi
dalam
pelaksanaan
proyek
Yang dimaksud dengan kegagalan bangunan adalah keadaan bangunan yang tidak
berfungsi, baik secara keseluruhan maupun sebagian dari segi teknis, manfaat
keselamatan dan kesehatan kerja, dan atau keselamatan umum sebagai akibat
kesalahan penyedia jasa dan atau pengguna jasa setelah penyerahan akhir pekerjaan
konstruksi. Kegagalan Bangunan bisa terjadi dan disebabkan oleh berbagai pihak
antara lain dalam Perencanaan, pelaksanaan ataupun dalam pengawasan, dan masing
masing penyebab itu akan mendapatkan sangsi sesuai dengan peraturan perundang
undangan
yang
berlaku.Sedangkan
Kegagalan
pembangunan
adalah
tidak
berfungsinya manfaat bangunan sesuai dengan yang direncanakan baik mulai dari
tahap study kelayakanya, perencanaan, pelaksanaan, pengadaan barang sampai
dengan operasional dan pemeliharaan. Kegagalan pembangunan biasanya lebih
ditekankan pada fungsi atau manfaat yang tidak ada kesesuaiannya dengan bangunan
yang direncanakan bukan pada keadaan fisik bangunan.Adapun resiko yang terjadi
adalah sebagai berikut :
1.
Kesalahan dalam membuat SOP drawing
2.
Kurangnya mobilisasi tenaga kerja
3.
Kualitas kerja tidak memadahi
4.
Konsultan pengawas sangat strict
5.
Supervisi kurang berjalan baik
6.
Gangguan cuaca / alam
7.
Gejolak sosial
8.
Pemogokan tenaga kerja
9.
Penjadwalan proyek kurang baik
10.
Kecelakaan kerja
11.
Tenaga inti kurang menguasai
12.
Produktivitas kerja rendah
13.
Keterlambatan sub kontraktor
14.
Kerusakan alat,
Cara pengendalian nya adalah sebagai berikut :
Teknik pelaksanaan diperlukan untuk mengendalikan dan menekan resiko
kegagalan ke tingkat yang serendah mungkin. Untuk ini diperlukan penguasaan di
mana saja adanya resiko, dalam bentuk apa dan bagaimana tingkat kemungkinan
terjadinya. Juga perlu dimengerti resiko mana banyak menurunkan kapasitas dan pada
tingkat mana bisa menimbulkan akibat yang fatal. Dengan mengenal karakter resiko,
langkah konkrit pencegahan kegagalan dapat diusahakan sedini mungkin, dan
berlangsung berkesinambungan di semua tahapannya.Dari pertimbangan semua segi
(segi waktu, segi biaya, segi reputasi, segi kepercayaan dan segi kerja sama),
pencegahan lebih baik dari pada penanggulangannya. Ini sejalan dengan pencegahan
datangnya dispute, datangnya claim, dan counter-claim antara pemilik proyek,
konsultan kontraktor utama, kontraktor spesialis dan biro asuransi.
Cara Peningkatan Kualitas dan Daya Saing
Dalam kaitanya dengan peningkatan kualitas dan daya saing konstruksi
nasional, yang sangat terpenting adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia
dengan menciptakan tenaga yang profesional, UU No. 18 tersebut telah
mengisyaratkan bahwa penataan serta sertifikasi tenaga profesional ini yang telah
diserahkan pada Lembaga cq. Asosiasi profesi yang bernaung dibawahnya. Tanggung
jawab profesional, sesuai dengan UUJK, haruslah dilandasi oleh prinsip prinsip
keahlian sesuai dengan kaidah keilmuan dan kejujuran intlektual, berdasarkan kode
etik asosiasinya. Tanggung jawa profesianl dan keterkaitan antara pengakuan
profesional ini secara hukum dengan tanggung jawab hukum semuanya berkaitan
dengan pasal pasal dalam UUJK.Klasifikasi dan kualifikasi sangat diperlukan untuk
dapat menghasilkan peningkatan kualitas kususnya yang berkaitan dengan
keselamatan konstruksi, layanan tenaga profesional pada dasarnya erat kaitanya
dengan “Job Specification” yang umum yaitu dalam bidang perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan atau supervisi. Peningkatan kualitas melalui kualifikasi
tenaga profesional pada dasar nya ditentukan oleh 3(tiga) factor utama yaitu :

Pendidikan (Education)

Pengalaman (Experience)

Pencapaian karya (Achievement)
Karenanya keahlian/pengetahuan tambahan merupakan perkayaan atas ilmu dasar
yang dimiliki oleh tenaga profesi bidang konstruksi yang memungkinkan seseorang
untuk mendapatkan kualifikasi yang lebih tinggi.
Download