PENGELOLAAN PRODUKSI/OPERASI DALAM BISNIS Posted by arlyansah on November 20, 2012 Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar PENGELOLAAN PRODUKSI/OPERASI DALAM BISNIS Produksi Barang dan Jasa 1. Utilitas merupakan kemampuan suatu produk untuk memuaskan keinginan manusia, terdiri dari 4 jenis, yaitu utilitas waktu, tempat, kepemilikan, dan bentuk. 2. Manajemen operasi adalah sebuah proses sistematis yang mentransformasikan atau mengubah sumber daya input menjadi barang jadi atau jasa. Sumber daya input, terdiri dari material, tenaga kerja, energi, teknologi, mesin dan informasi. Output merupakan produk yang dihasilkan terdiri dari barang atau jasa. 3. Tipe-tipe sistem produksi terdiri 2 jenis, yaitu process focused dan product focused. Untuk produksi barang terbagi menjadi proses analitik dan sintetik, sedangkan untuk produksi/operasi jasa terbagi menjadi low contact process dan high contact process. 4. Perbedaan karakteristik jasa dengan barang, yaitu jasa tidak berwujud, konsumsi jasa tidak dapat dipisahkan dari produksinya, jasa tidak dapat disimpan, jasa bervariasi tidak terstandarisasi. 5. Klasifikasi sistem jasa, yaitu stagnant personal, substitute personal, progressive, dan explosive. 6. Perbedaan operasi dan jasa dengan barang, yakni jasa terfokus pada kinerja, sedangkan barang terfokus pada output, jasa terfokus pada proses, dan barang terfokus pada hasil akhir produk. Perencanaan Operasi: Prediksi Output 1. Tahapan dalam perencanaan manajemen operasi meliputi perencanaan bisnis dan prediksi masa depan, perencanaan operasi jangka panjang, penjadwalan operasi, pengawasan operasi, dan output bagi pelanggan. 2. Dalam melakukan perencanaan produksi, kita perlu melakukan prediksi atas output yang kita hasilkan. Hal ini sangat perlu untuk perencanaan kapasitas, penempatan lokasi pabrik dan penentuan layout mesin, serta memilih metode produksinya. 3. Metode forecasting, yakni analisis time series (runtut waktu), regresi (causal-effect relationship) serta metode kualitatif 4. Tiga time frame dalam forecast, yakni short range, medium range, dan long range. 5. Forecast akan mengikuti pola-pola, seperti tren, siklus, dan pola musiman serta pola random. 6. Macam-macam metode time series, yakni moving average, weighted moving average, simple exponential smoothing, serta adjusted exponential smoothing. 7. Ada berbagai metode untuk mengukur forecast error, yakni Mean Absolute Deviation (MAD), Mean Absolute Percentage Deviation (MAPD), Cumulative Error (E), serta Average Error atau Bias ( ). Perencanaan Operasi: Kapasitas, Lokasi, Layout, Kualitas, dan Metode 1. Perencanaan operasi jangka panjang meliputi: perencanaan kapasitas, lokasi, layout, kualitas, dan metode 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan perencanaan jangka panjang, yaitu perkiraan permintaan, biaya, perilaku pesaing, strategi bisnis, dan pengaruh internasional. 3. Perencanaan kapasitas (jumlah produk yang dapat diproduksi pada kondisi normal). Pada produksi barang kapasitas melebihi sedikit dari permintaan, sedangkan pada jasa low contact berdasarkan rata-rata permintaan, high contact berdasarkan permintaan puncak. 4. Perencanaan lokasi, untuk produksi barang berdasarkan pertimbanganpertimbangan: bahan baku, pasar, tenaga kerja, dan biaya transportasi, sedangkan untuk operasi jasa low contact berdasarkan pertimbangan tenaga kerja, pasar atau biaya transportasi, operasi jasa high contact lokasi harus diletakkan dekat dengan pelanggan. 5. Alternatif layout untuk produksi barang adalah process layout, cellular layout, dan product layout. Layout untuk operasi jasa low contact disusun untuk meningkatkan kualitas jasa dan operasi jasa high contact disusun untuk memenuhi keinginan dan harapan pelanggan. 6. Produk yang dihasilkan baik barang maupun jasa harus memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. 7. Operasi barang maupun jasa membutuhkan metode perbaikan yang berkelanjutan, untuk produksi barang menggunakan process flow chart, sedangkan untuk operasi jasa menggunakan service flow chart. Penjadwalan dan Pengawasan Operasi 1. Lima faktor penting dalam manajemen material adalah transportasi, gudang, pembelian, pemilihan suplier, dan pengendalian persediaan. 2. Beberapa alat analisis yang digunakan dalam production process control adalah worker training, Just in Time, Material Requirement Planning, dan Quality Control. 3. Pengawasan operasi terdiri dari material management dan production process control. 4. Penjadwalan untuk operasi jasa, meliputi jadwal kerja dan pekerja. 5. Penjadwalan operasi terkait dengan penempatan waktu perolehan dan penggunaan sumber daya input untuk produksi 6. Penjadwalan untuk produksi barang dalam jangka panjang disusun menjadi master production schedule terkait dengan produk apa yang akan diproduksi, kapan produksi akan dilakukan, dan sumber daya apa yang akan digunakan dalam. Manajemen Kualitas dan Produktivitas 1. Produktivitas adalah pengukuran kinerja perekonomian, yaitu dengan membandingkan jumlah yang kita produksi dengan sumber daya yang kita gunakan untuk memproduksinya. 2. Dalam sudut pandang konsumen, kualitas adalah kecukupan produk dalam memenuhi kegunaannya, sedangkan dari sudut pandang perusahaan (sebagai produsen), kualitas adalah menyakinkan produk yang dibuat sesuai dengan desainnya (disebut sebagai quality of conformance). 3. Statistical process control (SPC) merupakan prosedur statistik yang menggunakan control charts dalam pengecekan proses produksi untuk melihat apakah ada bagian di dalamnya yang tidak berfungsi secara benar, yang mana dapat menyebabkan kualitas yang buruk. 4. Control charts dapat digunakan baik untuk atribut maupun variabel, dan dalam masing-masing kategori terdapat beberapa tipe control charts, 4 control charts yang umum digunakan (dua untuk masing-masing kategori), yakni mean ( ) control charts dan range (R) control charts untuk variabel, p-charts control dan ccharts control untuk atribut. 5. Pendekatan manajemen kualitas melalui keseluruhan sistem produksi dan organisasi produksi dikenal dengan istilah Total Quality Management (TQM). TQM menekankan peranan dominasi manajemen puncak untuk mengarahkan usaha-usaha yang berkualitas (total quality effort), yakni semua karyawan pada semua level harus fokus dan bertanggung jawab atasnya, melakukan peningkatan kualitas secara terus-menerus, dan menyakinkan bahwa kualitas adalah poin utama dari semua fungsi organisasi.