Uploaded by dwiwidyahariska94

PORTOFOLIO APP AKUT

advertisement
PORTOFOLIO
Topik: Peritonitis e.c appendicitis perforasi
Tanggal (kasus): 21 November 2018
Presenter: dr. Dwi Widya Hariska
Tangal presentasi:
Narasumber:dr. Mutya Diah. A, Sp.A
Pembimbing: dr. Agus Suprapto, S.H
Tempat presentasi: Ruang diskusi RS. TK.IV Dr. Bratanata Jambi
Obyektif presentasi:
□ Keilmuan
□ Keterampilan
□ Penyegaran
□ Tinjauan pustaka
√
□ Diagnostik □ Manajemen
□ Masalah
□ Istimewa
√
□Neonatus
□ Bayi
√Anak
□ Remaja
□Dewasa
□Lansia
□ Bumil
□ Deskripsi:
An. S (16 tahun) peritonitis e.c appendicitis perforasi
□ Tujuan:
 Mengetahui penegakkan diagnosis, faktor resiko, dan tata laksana appendisitis akut
Bahan bahasan:
□ Tinjauan pustaka
Cara membahas: √ Diskusi
Data pasien:
□ Riset
√ Kasus
□Presentasi dan diskusi
□ E‐mail
Nama: An. S
Nama RS: RS TK.IV Dr. Bratanata
Usia: 16 tahun
□ Audit
□ Pos
No registrasi: 18.11.21
Terdaftar sejak: -
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/ Gambaran Klinis:
An. S 16 tahun datang ke IGD RS dr. Bratanata dengan keluhan nyeri nyeri perut bagian
kanan bawah sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan mual
dan muntah sejak hari ini, frekuensi muntah ± 4 kali. Nafsu makan tidak ada. Perut terasa
kembung. Pasien juga merasa demam sejak 4 hari yang lalu, demam tidak tinggi dan tidak
menggigil. Pasien belum pernah merasakan keluhan yang sama sebelumnya.
2. Riwayat Pengobatan:
(-)
3. Riwayat kesehatan/ Penyakit:
4. Riwayat keluarga :
Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan seperti ini.
Page 1
5. Riwayat Imunisasi
Riwayat imunisasi pasien lengkap
BCG
:+
DPT I/II/III
: +/+/+
Polio
: +/+/+
Hepatitis I/II/III : +/+/+
Campak
:+
Daftar Pustaka:
1. De Jong,.W., Sjamsuhidajat, R., 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. EGC. Jakarta.
2. Anonim, .Ilmu Bedah dan Teknik Operasi. Bratajaya Fakultas Kedokteran UNAIR.
Surabaya.
3. Schwartz, Spencer, S., Fisher, D.G., 1999. Principles of Surgery sevent edition. McGraw Hill a Division of The McGraw-Hill Companies. Enigma an Enigma Electronic
Publication.
4. Kartika, Dina, 2005. Chirurgica. Tosca Enterprise. Yogyakarta.
5. Mansjoer,A., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua.
Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
6. Hugh, A.F.Dudley. 1992. Ilmu Bedah Gawat Darurat edisi kesebelas. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
7. Reksoprodjo, S., dkk.1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf
Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bina Rupa Aksara. Jakarta.
8. Skandalakis JE, Colborn GL, Weidman TA, et al. Editors. Skandalakis’ Surgical
Anatomy. USA: McGrawHill. 2004.
9. Russell RCG, Williams NS, Bulstrode CJK. Editors. Bailey and Love’s Short Practice
of Surgery. 24th Ed. London: Arnold. 2004.
10. Patnalk VG, Singla RK, Bansal VK. Surgical Incisions-Their Anatomical Basis. J
Anat. Soc. India 50(2) 170-178 (2001).
Hasil pembelajaran:
1. Diagnosis Appendisitis perforasi
2. Patofisiologi Appendisitis perforasi
3. Penatalaksanaan Appendisitis perforasi
4. Edukasi tentang perjalanan penyakit dan penatalaksanaan yang tepat
Page 2
Subyektif
An. S 16 tahun datang ke IGD RS dr. Bratanata dengan keluhan nyeri nyeri perut
bagian kanan bawah sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan
mual dan muntah sejak hari ini, frekuensi muntah ± 4 kali. Nafsu makan tidak ada. Perut
terasa kembung. Pasien juga merasa demam sejak 4 hari yang lalu, demam tidak tinggi dan
tidak menggigil. Pasien belum pernah merasakan keluhan yang sama sebelumnya.
Obyektif
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
: tampak sakit sedang
Kesadaran
: composmentis
Tanda vital
TD
:110/70 mmhg
Nadi
: 88 x/menit
RR
:22x/menit
Suhu : 37,80C
SPO2 : 99 %
Berat badan
: 45 kg
Tinggi Badan : 150 cm
Kepala
: normocephali
Mata
: conjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor, palpebra edema (-)
Telinga
: Normotia, sekret (-)
Hidung
: Deviasi septum (-), sekret (-),
Bibir
: sianosis (-)
Leher
: tidak teraba pembesaran tiroid, tidak teraba pembesaran KGB, retraksi supra
sternal (-), JVP meningkat
Thoraks
-
Paru

Inspeksi
: gerakan dinding dada simetris, sikatrik (-), retraksi sela iga (-)

Palpasi
: fremitus kiri = kanan

Perkusi
: sonor pada kedua lapangan paru

Auskultasi
: suara nafas vesikuler
Page 3
-
Jantung

Inspeksi
: ictus cordis terlihat di ICS VII linea axilaris anterior sinistra

Palpasi
: ictus cordis teraba ICS VII linea axilaris anterior sinistra

Perkusi
: batas kanan linea parasternalis dextra, batas atas ICS III lineaa
sternalis sinistra, dan batas kiri jantung ICS VII linea axilaris anterior sinistra

Auskultasi
: S1 S2 reguler, mur-mur (-), gallop (-)
Abdomen : soepel, hepar/lien teraba, bising usus (+) menurun, shifting dulllnes -, nyeri
tekan mc burney +, nyeri lepas + , psoas sign +, defans muscular (+)
Ektremitas : Akral hangat, oedem tungkai (-/-), Sianosis -/-
Diagnosa kerja : peritonitis e.c appendicitis perforasi
Terapi IGD :
-
IVFD RL 20 tpm
-
Inj. Ceftriaxone 2 x 1 g
-
Inj. Ranitidin 2 x 1 amp
-
Co dr. Sp. A di ruangan
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah (21-11-2018)
Pemeriksaan
Hasil
Nilai rujukan
Satuan
Hemoglobin
13.6
11-16
g/dl
Hematokrit
40.8
40-45
%
Leukosit
21.6
4-11
Ribu/ul
Trombosit
209
150-450
Ribu/ul
Eritrosit
4.56
4.5-6
Juta/ul
MCV
87.5
80-100
Fl
MCH
28.5
26.0-34.0
Pg
MCHC
32.6
31-37
g/dl
Hematologi
MCV/MCH/MCHC
Page 4
PDW
16.0
9-17
fl
RDW-SD
44.9
35-56
fl
RDW-CV
12.2
11-16
%
MPV
7.1
7.2-11.2
Fl
PCT
1.9
0.83-2.83
%
Basofil
0.2
0-1
%
Eosinofil
1.4
0.5-5
%
Limfosit
4.0
20-40
%
Monosit
5.3
2-8
%
Netrofil
89.1
50-70
%
Differential
“Assessment”
ANATOMI
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 315cm) dengan diameter 0,5-1 cm dan berpangkal di caecum. Lumennya sempit di bagian
proksimal dan melebar di bagian distal. Basis appendiks terletak pada bagian postero medial
caecum, di bawah katup ileocaecal. Ketiga taenia caecum (taenia libera, taenia colica, dan
taenia omentum) bertemu pada basis appendiks.
Appendiks vermiformis disangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang
bergabung dengan mesenterium usus halus pada daerah ileum terminal. Mesenteriolum berisi
a.appendikularis (cabang a.ileocolica). Orifisiumnya terletak 2,5 cm dari katup ileocaecal.
Mesoappendiks-nya merupakan jaringan lemak yang mempunyai pembuluh appendiceal dan
terkadang juga memiliki limfonodi kecil.
Struktur appendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa,
submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler) dan serosa.
Appendiks mungkin tidak terlihat karena adanya membran Jackson yang merupakan lapisan
peritoneum yang menyebar dari bagian lateral abdomen ke ileum terminal, menutup caecum
dan appendiks.
Page 5
Lapisan submukosa terdiri dari jaringan ikat kendor dan jaringan elastik yang
membentuk jaringan saraf, pembuluh darah dan lymph. Antara Mukosa dan submukosa
terdapat lymphonodes. Mukosa terdiri dari satu lapis collumnar epithelium dan terdiri dari
kantong yang disebut crypta lieberkuhn. Dinding dalam berhubungan dengan caecum (inner
circular layer). Dinding luar (outer longitudinal muscle) dilapisi oleh pertemuan ketiga taenia
colli pada pertemuan caecum dan apendiks. Taenia anterior digunakan sebagai pegangan
untuk mencari appendiks.
Appendiks pertama kali tampak pada saat perkembangan embriologi minggu ke
delapan yaitu pada bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal,
pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi appendiks yang akan berpindah dari
medial menuju katup ileocaecal. Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal
dan menyempit ke arah ujung. Keadaan ini menjadi sebab rendahnya insidensi appendisitis
pada usia tersebut.
Pada appendiks terdapat tiga taenia coli yang menyatu dipersambungan sekum dan
berguna untuk mendeteksi posisi appendiks. Pada posisi yang lazim, appendiks terletak pada
dinding abdomen dibawah titik McBurney. Titik McBurney dicari dengan menarik garis dari
spina iliaka superior kanan ke umbilikus, titik ini terdapat sepertiga dari SIAS.
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri
mesenterica superior dari arteri appendicularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari
nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada appendisitis bermula di sekitar
umbilikus. Appendiks diperdarahi oleh arteri appendikularis yang merupakan cabang dari
bagian bawah arteri ileocolica. Arteri appendiks termasuk end arteri. Bila terjadi
penyumbatan pada arteri ini, maka appendiks mengalami gangren.
Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan
apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks
penggantungnya. Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang
caecum, di belakang colon ascendens, atau di tepi lateral colon ascendens.
Gejala klinis appendisitis ditentukan oleh letak apendiks. Posisi appendiks adalah (1)
retrocaecal (di belakang sekum) 65,28%, (2) pelvic (panggul) 31,01%, (3) subcaecal (di
bawah sekum) 2,26%, (4) perileal (di depan usus halus) 1% dan (5) postileal (di belakang
usus halus) 0,4%.
Page 6
Gambar 1. Letak dan variasi posisi apendiks
Jenis posisi:

Promontorik
: ujung appendiks menunjuk ke arah promontoriun sacrum

Retrocolic
: appendiks berada di belakang kolon ascenden dan biasanya
retroperitoneal

Antecaecal
: appendiks berada di depan caecum

Paracaecal
: appendiks terletak horizontal di belakang caecum

Pelvic descenden : appendiks menggantung ke arah pelvis minor

Retrocaecal
: intraperitoneal atau retroperitoneal; appendiks berputar ke atas
kebelakang caecum
Secara histologis, appendiks mempunyai basis stuktur yang sama seperti usus besar.
Glandula mukosanya terpisahkan dari vascular submucosa oleh mucosa maskularis. Bagian
luar dari submukosa adalah dinding otot yang utama. Appendiks terbungkus oleh tunika
serosa yang terdiri atas vaskularisasi pembuluh darah besar dan bergabung menjadi satu di
mesoappendiks. Jika apendik terletak retroperitoneal, maka appendiks tidak terbungkus oleh
tunika serosa.
Histologis:

Tunika mukosa

Tunika submukosa: banyak folikel lymphoid.

Tunika muskularis : stratum sirculare sebelah dalam dan stratum longitudinale (gabungan
: memiliki kriptus tapi tidak memiliki villus.
tiga tinea coli) sebelah luar.

Tunika serosa
: bila letaknya intraperitoneal asalnya dari peritoneum viscerale.
Page 7
DEFINISI
Appendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis yang merupakan penyebab
akut abdomen yang paling sering. Istilah appendisitis pertama kali diperkenalkan oleh
Reginal Fitz pada tahun 1886 di Boston. Morton pertama kali melakukan operasi
appendektomi pada tahun 1887 di Philadelphia.
EPIDEMIOLOGI
Segala usia dapat terkena appendisitis, akan tetapi apendisitis paling sering mengenai
usia 10–30 tahun. Appendisitis lebih sering terjadi pada pria dengan perbandingan 1,3:1
(terutama pada saat pubertas). Insidensi appendisitis lebih rendah pada masyarakat dengan
pola makan banyak serat.
Kematian karena appendisitis meningkat pada orang tua dengan usia >70 tahun, hal
ini terutama terjadi karena terlambatnya diagnosis dan terapi. Perforasi appendiks lebih
banyak pada usia < 18 tahun atau > 70 tahun diperkirakan karena hal yang sama pula.
ETIOLOGI
Appendisitis dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria
yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus di antaranya hiperplasia jaringan limfe,
fekalith, tumor apendiks dan cacing askaris yang menyumbat. Ulserasi membran mukosa
merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. Namun ada beberapa faktor yang
mempermudah terjadinya radang appendiks, diantaranya:
1. Faktor sumbatan (obstruksi)
Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya appendisitis (90%) yang
diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hiperplasia jaringan limfoid
sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% di
antaranya sumbatan oleh parasit dan cacing. Obstruksi yang disebabkan oleh fekalith
dapat ditemui pada bermacam-macam apendisitis akut di antaranya: fekalith ditemukan
40% pada kasus appendisitis kasus sederhana, 65% pada kasus appendisitis akut
ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus appendisitis akut dengan ruptur.
Page 8
2. Faktor bakteri
Infeksi enterogen merupakan faktor patogenesis primer pada appendisitis akut.
Adanya fekalith dalam lumen appendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan
memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan stagnansi feses dalam lumen appendiks,
pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara bacteriodes fragilis
dan E. coli, lalu Splanchicus, Lactobacillus, Pseudomonas, Bacteroides splanicus.
Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman anaerob sebesar 96% dan
aerob <10%.
Berbagai spesies bakteri yang dapat diisolasi pada pasien apendisitis yaitu:
Bakteri Aerob Fakultatif
Basil Gram Negatif
Bakteri Anaerob
Basil Gram Negatif
Escherichia coli
Bacteroides fragilis
Pseudomonas aeruginosa
Fusobacterium spesies
Klebsiella spesies
Bacteroides lainnya
Kokus Gram Positif
Kokus Gram Positif
Streptococcus anginosus
Peptostreptococcus spesies
Streptococcus spesies lainnya
Enterococcus spesies
Basil Gram Negatif
Clostridium spesies
(dikutip dari Tabel 30-1 Common Organisms Seen in Patients with Acute Appendicitis,
Schwartz’s Principle of Surgery 9ed)
3. Kecenderungan familial
Hal ini dihubungkan dengan terdapatnya malformasi herediter dari organ appendiks
yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang mudah terjadi
appendisitis. Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan dalam keluarga
terutama dengan diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya fekalith dan
mengakibatkan obstruksi lumen.
4. Faktor ras dan diet
Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan sehari-hari. Bangsa
kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih tinggi dari
Page 9
negara yang pola makannya banyak serat. Namun saat sekarang, kejadiaanya terbalik.
Bangsa kulit putih telah merubah pola makan mereka ke pola makan tinggi serat. Justru
negara berkembang yang dulunya memiliki tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah
serat, memiliki resiko appendisitis yang lebih tinggi.
PATOFISIOLOGI
Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia
folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya,
atau neoplasma.
Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada bagian proksimalnya
dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari mukosa appendiks yang distensi.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan.
Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding appendiks mempunyai
keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intralumen. Kapasitas lumen appendiks
normal hanya sekitar 0,1 ml. Jika sekresi sekitar 0,5 ml dapat meningkatkan tekanan
intalumen sekitar 60 cmH20. Manusia merupakan salah satu dari sedikit makhluk hidup yang
dapat mengkompensasi peningkatan sekresi yang cukup tinggi sehingga menjadi gangren
atau terjadi perforasi.
Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami hipoksia,
menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri. Infeksi menyebabkan
pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena terjadi trombosis
pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal
yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36
jam, tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien karena ditentukan banyak faktor.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding.
Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri
didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.
Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti
dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah
rapuh itu pecah, akan terjadi appendisitis perforasi.
Page 10
Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate
appendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
Infiltrat appendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai di
mukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama,
ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup
apendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa
periapendikular. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat
mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa
periapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.
Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang, dinding
appendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih
kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi
karena telah ada gangguan pembuluh darah.
Kecepatan rentetan peristiwa tersebut tergantung pada virulensi mikroorganisme,
daya tahan tubuh, fibrosis pada dinding appendiks, omentum, usus yang lain, peritoneum
parietale dan juga organ lain seperti vesica urinaria, uterus tuba, mencoba membatasi dan
melokalisir proses peradangan ini. Bila proses melokalisir ini belum selesai dan sudah terjadi
perforasi maka akan timbul peritonitis. Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi
masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan dalam cavum abdominalis, oleh
karena itu pendeita harus benar-benar istirahat (bedrest).
Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan
membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya.
Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Pada suatu
ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut.
KLASIFIKASI
Klasifikasi appendisitis berdasarkan klinikopatologis :
o Appendisitis Akut
o Appendisitis Akut Sederhana (Cataral Appendisitis)
Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan submukosa disebabkan oleh obstruksi.
Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi peningkatan tekanan
dalam lumen yang mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema
Page 11
dan kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual, muntah,
anoreksia, malaise dan demam ringan. Pada appendisitis lateral terjadi leukositosis
dan appendiks terlihat normal, hiperemia, edema dan tidak ada eksudat serosa.
o Appendisitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan
terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis.
Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada appendiks. Mikroorganisme yang
ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa
sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan
mesoappendiks terjadi edema, hiperemia dan di dalam lumen terdapat eksudat
fibrinopurulen.
Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas
di titik McBurney, defans muskuler dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan
defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda
peritonitis umum.
o Appendisitis Akut Ganggrenosa
Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu
sehingga terjadi infark dan ganggren. Selain didapatkan tanda-tanda supuratif,
appendiks mengalami ganggren pada bagian tertentu. Dinding appendiks berwarna
ungu, hijau kebauan atau merah kehitaman. Pada appendisitis akut ganggrenosa
terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulen.

Appendisitis Infiltrat
Appendisitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat dibatasi
oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga membentuk gumpakan
massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya.

Appendisitis Abses
Appendisitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus), biasanya di
fossa iliaka kanan, lateral dan sekum, retrocaecal, subcaecal, dan pelvic.
Page 12

Appendisitis Perforasi
Appendisitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren yang
menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum. Pada
dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik.

Appendisitis Kronis
Appendisitis kronis merupakan merupakan lanjutan appendisitis akut supuratif sebagai
proses radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi randah,
khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. Diagnosa appendisitis kronis baru dapat
ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua
minggu, radang kronik appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara
histologis, dinding appendiks menebal, submukosa dan muskularis propia mengalami
fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada submukosa, muskularis
propia dan serosa. Pembuluh darah seros tampak dilatasi.
GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain
1. Nyeri abdominal
Nyeri ini merupakan gejala klasik appendisitis. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar
dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar umbilicus.
Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik Mc
Burney). Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupa nyeri somatik
setempat. Bila terjadi perangsangan peritonium biasanya penderita akan mengeluh nyeri
di perut pada saat berjalan atau batuk.
2. Mual-muntah biasanya pada fase awal.
3. Nafsu makan menurun.
4. Obstipasi dan diare pada anak-anak.
5. Demam
Terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya tubuh belum
panas. Suhu biasanya berkisar 37,5º-38,5º C
Page 13
Gejala appendisitis akut pada anak-anak tidak spesifik. Gejala awalnya sering hanya rewel
dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Karena gejala yang
tidak spesifik ini sering diagnosis appendisitis diketahui setelah terjadi perforasi.
Gejala berdasarkan klasifikasi usus buntu:
1. Apendisitis akut (mendadak)
Pada kondisi ini gejala yang ditimbulkan tubuh akan panas tinggi, mual-muntah, nyeri
perut kanan bawah, buat berjalan jadi sakit sehingga agak terbongkok, namun tidak
semua orang akan menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang, atau
mual-muntah saja.
2. Apendisitis kronik
Pada stadium ini gejala yang timbul sedikit mirip dengan sakit maag dimana terjadi nyeri
samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan terkadang demam yang hilang timbul.
Seringkali disertai dengan rasa mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan
berpindah ke perut kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis akut
yaitu nyeri pd titik Mc Burney (istilah kesehatannya).
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari
apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut
gejala yang timbul :
1. Bila letak appendiks retrocaecal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh
sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan
peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan
gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena
adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
2. Bila appendiks terletak di rongga pelvis

Bila appendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan
rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristaltik meningkat, pengosongan
rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare).

Bila appendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi
peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya.
Page 14
Gejala appendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis,
dan akibatnya appendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru
diketahui setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala appendisitis tidak
jelas dan tidak khas.
1. Pada anak-anak
Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan. Seringkali anak tidak bisa
menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam kemudian akan terjadi muntah- muntah
dan anak menjadi lemah dan letargi. Karena ketidakjelasan gejala ini, sering appendisitis
diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi, 80-90 % appendisitis baru diketahui
setelah terjadi perforasi.
2.Pada orang tua berusia lanjut
Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari separuh penderita baru
dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi.
3. Pada wanita
Gejala appendisitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa
dengan appendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang
panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan
trimester, gejala appendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan
gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan
lanjut, sekum dan appendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan
di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.
Gejala Appendisitis Akut
Frekuensi
(%)
Nyeri perut
100
Anorexia
100
Mual
90
Muntah
75
Nyeri berpindah
50
Page 15
Gejala sisa klasik (nyeri periumbilikal kemudian anorexia/mual/muntah
50
kemudian nyeri berpindah ke RLQ kemudian demam yang tidak terlalu
tinggi)
*-- Onset gejala khas terdapat dalam 24-36 jam
Tabel 1. Gejala Appendisitis Akut
PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi
Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk (Hip Flexion : peningkatan
mempertahankan fleksi paha dengan lutut diatas untuk kenyamanan) dan memegang perut.
Penderita tampak kesakitan (Dunphy sign Peningkatan nyeri perut kanan bawah saat batuk).
Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada
penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada
massa atau abses appendikuler. Pada appendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal
swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut.
Palpasi

Nyeri tekan (+) Mc.Burney
Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc Burney dan
ini merupakan tanda kunci diagnosis.

Nyeri lepas (+)  rangsangan peritoneum
Rebound tenderness (nyeri lepas tekan) adalah rasa nyeri yang hebat (dapat dengan
melihat mimik wajah) di abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba dilepaskan
setelah sebelumnya dilakukan penekanan yang perlahan dan dalam di titik Mc Burney.

Defans musculer (+) rangsangan m.rektus abdominis
Defens muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan
adanya rangsangan peritoneum parietal.

Rovsing sign (+)
Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah, apabila kita melakukan
penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini diakibatkan oleh adanya nyeri lepas
yang dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan. Dan apabila tekanan
Page 16
di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut
tanda Blumberg (Blumberg Sign).

Blumberg Sign (+)
Apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan
bawah.

Psoas sign (+)
Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh peradangan yang
terjadi pada apendiks. Pasien dalam posisi lateral kiri, dengan mengekstesnikan kaki
kanan pada pinggang. Bila nyeri, psoas sign (+). Dasar anatomi dari ter psoas adalah
apendiks yang mengalami peradangan kontak dengan otot psoas yang meregang saat
dilakukan manuver ini.

Obturator Sign (+)
Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan lutut difleksikan kemudian
dirotasikan kearah dalam dan luar secara pasif, hal tersebut menunjukkan peradangan
Page 17
apendiks terletak pada daerah hipogastrium. Dasar anatomi dari tes obturator adalah
peradangan apendiks di pelvis yang kontak dengan otot obturator internus yang meregang
saat dilakukan manuver ini.
Perkusi
Timpani menyebar pada seluruh abdomen, nyeri ketok (+)
Auskultasi
Peristaltik normal, Auskultasi tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis
apendisitis, tetapi kalau sudah terjadi peritonitis maka tidak terdengar bunyi peristaltik usus
Pemeriksaan colok dubur (Rectal Touche)
Pemeriksaan colok dubur akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Pada
appendisitis pelvika akan didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Pada
apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan, maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas
sewaktu dilakukan colok dubur.
Colok dubur pada anak tidak dianjurkan. Colok dubur juga tidak banyak membantu
dalam menegakkan diagnosis apendisitis pada anak kecil karena biasanya menangis terus
menerus.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium rutin umumnya digunakan sebagai sarana untuk menegakkan
diagnosis apendisitis akut dengan menyingkirkan kemungkinan diagnosis banding
lainnya.
Page 18

Pada kasus apendisitis biasanya nilai sel darah putih akan meningkat hingga sekitar
10.000 – 18.000/mm3, terlebih pada kasus komplikasi. Namun pada beberapa tertentu
dapat dijumpai sel darah putih dengan nilai yang normal. Jika sudah terjadi peningkatan
yang lebih dari nilai tersebut, maka kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi.

Pada keadaan tertentu diperlukan juga pemeriksaan rutin lainnya seperti :
o Analisis urin dengan pemeriksaan mikroskopik, tujuan utama dari pemeriksaan ini
adalah untuk menyingkirkan kemungkinan batu uretra (hematuria), infeksi saluran
kemih (piuria, bakteriuria) sebagai penyebab dari nyeri abdomen bagian bawah,
terutama pada pasien lanjut usia yang disertai dengan diabetes. Tidak jarang
ditemukan infeksi saluran kemih bagian bawah pada pasien wanita dengan
apendisitis.
o Pengukuran kadar enzim hati dalam serum dan kadar amylase untuk membantu
menyingkirkan diagnosis inflamasi pada hati, kandung empedu dan pancreas, yaitu
pada pasien dengan keluhan nyeri yang lebih mengarah pada mid-abdomen atau pada
kwadran kanan atas.
o Pengukuran kadar serum β-HCG (human chorionic gonadotropin) pada pasien wanita
usia subur untuk menyingkirkan kemungkinan dari kehamilan.
Pemeriksaan Radiologi

Foto polos abdomen, dikerjakan apabila dari hasil pemeriksaan riwayat sakit dan
pemeriksaan fisik meragukan. Mungkin terlihat adanya fekalit pada abdomen sebelah
kanan bawah yang sesuai dengan lokasi apendiks, gambaran ini ditemukan pada 20%
kasus. Tetapi apabila pada pasien nyeri abdomen akut ditemukan adanya fekalit setelah
dilakukan pemeriksaan foto polos abdomen, maka kemungkinan diagnosis apendisitisnya
adalah 90%. Terdapatnya fekalit, usia (orangtua dan anak kecil), keterlambatan diagnosis
, merupakan faktor yang berperan terhadap terjadinya perforasi apendiks.
Page 19
Apendicolith

Appendicogram, Suatu pemeriksaan x-ray dengan memasukkan barium ke colon melalui
anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendisitis pada
jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding. Appendicogram
memiliki sensitivitas dan tingkat akurasi yang tinggi sebagai metode diagnostik untuk
menegakkan diagnosis appendisitis khronis. Dimana akan tampak pelebaran/penebalan
dinding mukosa appendiks, disertai penyempitan lumen hingga sumbatan usus oleh
fekalit.
o Bisa AP, lateral, oblique
o Tetapi untuk appendisitis akut pemeriksaan barium enema merupakan kontraindikasi
karena dapat menyebabkan ruptur appendiks.
o Gambaran:
-
Akut: Non filling (Tetapi bisa juga karena peristaltic sehingga kontras tidak
terlihat dan berwarna hitam)
-
Kronik: Filling (terisi penuh), filling irregular (dinding tidak rata akibat
peradangan), filling parsial, filling mouse tail

Ultrasonografi, ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada
appendiks. Pemeriksaan dengan Ultrasonografi (USG) pada apendisitis akut, ditemukan
adanya fekalit, udara intralumen, diameter apendiks lebih dari 6 mm, penebalan dinding
apendiks lebih dari 2 mm dan kehilangan lapisan normalnya (Target sign), peningkatan
echogenitas dari jaringan lemak disekitarnya, pengumpulan cairan perisekal dan
gangguan motilitas. Apabila apendiks mengalami ruptur atau perforasi maka akan sulit
untuk dinilai, hanya apabila cukup udara maka abses apendiks dapat diidentifikasi. Tidak
Page 20
terlihatnya apendiks selama ultrasound tidak menyingkirkan adanya appendisitis.
Ultrasound juga berguna pada wanita sebab dapat menyingkirkan adanya kondisi yang
melibatkan ovarium, tuba falopii dan uterus yang gejalanya menyerupai appendisitis.
Gambar Hasil USG pada apendisitis (Target sign)

CT-Scan, ditemukan bagian yang menyilang dengan appendicalith serta perluasan dari
appendiks yang mengalami inflamasi serta
adanya pelebaran dari saekum. Pada
keadaan normal apendiks, jarang tervisualisasi dengan pemeriksaan scanning ini.
Gambaran penebalan diding apendiks dengan jaringan lunak sekitar yang melekat,
mendukung keadaan apendiks yang meradang. CT-Scan mempunyai sensitivitas dan
spesifisitas yang tinggi yaitu 90 – 100%, serta akurasi 94 – 100%.
Laparoskopi
Suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukan dalam
abdomen, appendiks dapat divisualisasikan secara langsung. Tehnik ini dilakukan di bawah
pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada
appendiks maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendiks.
SKOR DIAGNOSTIK
Diagnosis appendisitis akut pada anak tidak mudah ditegakkan hanya berdasarkan
gambaran klinis, hal ini disebabkan sulitnya komunikasi antara anak, orang tua dan dokter.
Anak belum mampu untuk mendiskripsikan keluhan yang dialami, suatu hal yang relatif lebih
mudah pada umur dewasa. Keadaan ini menghasilkan angka appendiktomi negatif sebesar
20% dan angka perforasi sebesar 20-30% (Ramachandran, 1996).
Salah satu upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan medis ialah
membuat diagnosis yang tepat. Telah banyak dikemukakan cara untuk menurunkan insidensi
apendiktomi negatif, salah satunya adalah dengan instrumen skor Alvarado.
Page 21
Skor Alvarado adalah sistem skoring sederhana yang bisa dilakukan dengan mudah,
cepat dan kurang invasif (Seleem; Amri dan Bermansyah, 1997). Alfredo Alvarado tahun
1986 membuat sistem skor yang didasarkan pada tiga gejala , tiga tanda dan dua temuan
laboratorium. Klasifikasi ini berdasarkan pada temuan pra operasi dan untuk menilai derajat
keparahan apendisitis.
Tabel Alvarado Score untuk membantu menegakkan diagnosis
Gejala
Tanda
Laboratorium
Manifestasi
Adanya migrasi nyeri/nyeri berpindah
Skor
1
Anoreksia
Mual/muntah
Nyeri RLQ/fossa iliaka kanan
Nyeri lepas
Febris ( > 37,5oC)
Leukositosis (>10.000)
Observation of hemogram (Shift to the
left (segmen > 72%))
1
1
2
1
1
2
1
Total poin
10
Keterangan Alavarado score :

Dinyatakan appendisitis akut bila > 7 point

Modified Alvarado score (Kalan et al) tanpa observasi of Hemogram :

1–4
: dipertimbangkan appendisitis akut
5–6
: possible appendisitis tidak perlu operasi
7–9
: appendisitis akut perlu pembedahan
Penanganan berdasarkan skor Alvarado :
1–4
: observasi
5–6
: antibiotik
7 – 10 : operasi dini
DIAGNOSIS BANDING
1. Gastroenteritis
Page 22
Pada gastroenteritis, mual-muntah dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih
ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltik sering ditemukan. Panas dan leukositosis
kurang menonjol dibandingkan dengan appendisitis.
2. Limfadenitis mesenterica
Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Ditandai dengan nyeri perut yang
samar-samar terutama disebelah kanan, dan disertai dengan perasaan mual-muntah.
3. Ileitis akut
Berkaitan dengan diare dan sering kali riwayat kronis, tetapi tidak jarang anorexia, mual,
muntah. Jika ditemukan pada laparotomi, appendiktomi insidental diindikasikan utntuk
menghilangkan gejala yang membingungkan.
4. Peradangan pelvis
Tuba fallopi kanan dan ovarium terletak dekat appendiks. Radang kedua organ ini sering
bersamaan sehingga disebut salpingo-ooforitis atau adnecitis. Untuk menegakkan
diagnosis penyakit ini didapatkan riwayat kontak sexual. Suhu biasanya lebih tinggi
daripada appendisitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Biasanya disertai dengan
keputihan. Pada colok vaginal jika uterus diayunkan maka akan terasa nyeri.
DIAGNOSIS
Menentukan diagnosis appendisitis di dapatkan dari hasil anamnesa yang lengkap dan teliti,
pemeriksaan fisik (gejala dan tanda) dan pemeriksaan penunjang (laboratorium, roentgen,
USG, CT-Scan).
PENATALAKSANAAN
Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah appendektomi dan
merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik. Penundaan appendektomi sambil memberikan
antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Insidensi appendiks normal yang
dilakukan pembedahan sekitar 20%. Pada appendisitis akut tanpa komplikasi tidak banyak
masalah.
 Appendiktomi

Appendektomi cito : appendisitis akut, abses dan perforasi.

Appendektomi elektif : appendisitis kronik.

Konservatif kemudian operasi elektif untuk appendisitis infitrat.
Page 23
Massa appendiks terjadi bila terjadi appendisitis gangrenosa atau mikroperforasi
ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. Pada massa
periappendikular yang pendindingannya belum sempurna, dapat terjadi penyebaran pus
keseluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata. Oleh
karena itu, massa periappendikular yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk
mencegah penyulit tersebut.
Selain itu, operasi lebih mudah. Pada anak, dipersiapkan untuk operasi dalam
waktu 2-3 hari saja. Pasien dewasa dengan massa periappendikular yang terpancang
dengan pendindingan sempurna, dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik
sambil diawasi suhu tubuh, ukuran massa, serta luasnya peritonitis. Bila sudah tidak ada
demam, massa periappendikular hilang, dan leukosit normal, penderita boleh pulang dan
appendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat
perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi perforasi, akan terbentuk abses
appendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya
nyeri, dan teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya angka leukosit.
Pada periappendikular infiltrat, dilarang keras membuka perut, tindakan bedah
apabila dilakukan akan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebih-lebih bila massa
appendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut. Pembedahan
dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau pun tanpa peritonitis
umum.
Terapi sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja. Pada anak kecil,
wanita hamil, dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak membaik atau
berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepatnya.
Bila pada waktu membuka perut terdapat periappendikular infiltrat maka luka
operasi ditutup lagi, appendiks dibiarkan saja. Terapi konservatif pada periappendikular
infiltrat :

Total bed rest posisi fowler agar pus terkumpul di cavum douglassi.

Diet lunak bubur saring

Antibiotika parenteral dalam dosis tinggi, antibiotik kombinasi yang aktif terhadap
kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar 6-8 minggu
kemudian, dilakukan apendiktomi. Kalau sudah terjadi abses, dianjurkan drainase saja
Page 24
dan apendiktomi dikerjakan setelah 6-8 minggu kemudian. Jika ternyata tidak ada
keluhan atau gejala apapun, dan pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak
menunjukkan tanda radang atau abses, dapat dipertimbangkan membatalakan
tindakan bedah.

Analgesik diberikan hanya kalau perlu saja. Observasi suhu dan nadi. Biasanya 48
jam gejala akan mereda. Bila gejala menghebat, tandanya terjadi perforasi maka harus
dipertimbangkan appendiktomi.
 Laparoskopi
Sayatan dibuat sekitar 2-4 sayatan. Satu didekat pusar, yang lainnya di seputar perut.
Laparoskopi berbentuk seperti benang halus dengan kamera yang akan dimasukkan
melalui sayatan tersebut. Kamera akan merekam bagian dalam perut kemudian
ditampakkan pada monitor. Gambaran yang dihasilkan akan membantu jalannya operasi
dan peralatan yang diperlukan untuk operasi akan dimasukkan melalui sayatan di tempat
lain. Pada pengangkatan appendiks, pembuluh darah dan bagian dari appendiks yang
mengarah ke usus besar akan diikat.
 Terapi Konservatif

Bed rest total

Diet rendah serat

Antibiotika spektrum luas

Monitor : Infiltrat, tanda2 peritonitis (perforasi), LED, Leukosit

Nutrisi yang baik
KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa perforasi
bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami pendindingan berupa massa
yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan lekuk usus halus.
Perforasi dapat menyebabkan timbulnya abses lokal ataupun suatu peritonitis
generalisata. Tanda-tanda terjadinya suatu perforasi adalah :

Nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri abdomen menyeluruh

Suhu tubuh naik tinggi sekali.

Nadi semakin cepat.
Page 25

Defance Muskular yang menyeluruh

Bising usus berkurang

Perut distended
PROGNOSIS
Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan, tingkat mortalitas dan morbiditas
penyakit ini sangat kecil. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan
mortalitas bila terjadi komplikasi. Serangan berulang dapat terjadi apabila apendiks tidak
diangkat.
Follow Up
Tanggal
22/11/2018
23/11/2018
S
Nyeri perut
O
KU :
Tampak sakit
sedang
Kesadaran:
Composmentis
TD:110/70mmhg
Nadi: 77 x/menit
RR: 17 x/menit
Suhu: 37.60C
NT mcburney (+)
Nyeri seluruh KU :
perut
Tampak sakit
sedang
Kesadaran:
Composmentis
TD:110/70 mmhg
Nadi: 80 x/menit
RR: 24 x/menit,
Suhu: 380C
Defans muskuler
(+)
Peristaltic
menurun
A
P
Appendisitis  RL + ketorolac20 gtt/i
akut
 Paracetamol 4x1 tablet
 USG
 Konsul dr. Willy,
Sp.BA
Peritonitis
 Pro laparotomy
e.c
 Rujuk
ke
RSUD
Appendisitis
Raden Mattaher
perforasi
Page 26
Download