MAKALAH KEPERAWATAN KRITIS “Klien Masalah Kritis Muskuloskeletal (Osteosarkoma)” Kelompok 4 1. Ahmad Alfadli 6. Nazzuan Jesica E. 2. Dany Hendra P 7. Ria Devi Najibuloh 3. Esty Fibri Setyakasih 8. Roisul Islam 4. Khusnul Khofifah 9. Tri Astuti Wahyu M 5. Maulana Harviantanto 10. Yusuf Wiyono S1 KEPERAWATAN TINGKAT 3A STIKES PEMKAB JOMBANG Tahun Ajaran 2018/2019 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Keperawatan Kritis. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat kerjasama dari satu kelompok, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu mengenai Klien Masalah Kritis Muskuloskeletal. Namun dengan penuh kesabaran, terutama pertolongan dari Allah SWT akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada Ibu Ratna Puji P, S.Kep, M.s. selaku dosen Keperawatan Kritis, kami meminta masukannya demi kesempurnaan tugas makalah ini, juga mengharapkan kritik dan saran dari Ibu. Jombang, 8 Meit 2019 Kelompok IV ii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 2 1.3 Tujuan Masalah ................................................................................................ 2 BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 3 2.1 Definisi Muskuluskeletal, Penyakit Kritis Dan Fraktur ................................... 3 2.2 Konsep Kegawatdaruratan Pada Pasien Dengan Trauma Muskuloskeletal .... 3 BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 14 3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 14 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 15 iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Trauma sistem muskuloskeletal sering ditemukan pada zaman kendaraan berkecepatan tinggi seperti sekarang ini. Selain ltu insidensi trauma muskuloskeletal meningkat, sebagian besar disebabkan adanya peningkatan latihan fisik secara rutin pada masyarakat seperti joging, lari dan aktivitas olah raga lainnya. Trauma bisa akut akibat kejadian traumatik tunggal atau bisa kronis akibat efek kumulatif episode trauma ringan berulang. Trauma musculoskeletal bermacam-macam, dari tekanan ringan pada otot sampai fraktur dengan kerusakan jaringan. Sekitar 80 persen praktek umum ortopedi diakibatkan oleh trauma sistem muskuloskeletal. Proses penuaan juga mempunyai kontribusi yang cukup tinggi terhadap insidensi fraktur. Peningkatan umur menyebabkan penurunan masa tulang atau tulang menjadi rapuh. Tulang yang rapuh akan mudah patah ketika jatuh. Fraktur adalah putusnya kesinambungan suatu tulang, akan tetapi trauma yang cukup untuk menyebabkan fraktur hampir tak dapat dielakkan juga menyebabkan trauma pada jaringan lunak sehingga fraktur juga bisa diartikan sebagai rupturnya jaringan ikat atau jaringan kulit dan merupakan lebih dari sekedar patahnya tulang (Sobiston & David C, 1994) Dalam ilmu ergonomi, gangguan atau keluhan yang berhubungan dengan sistem otot dan tulang belakang disebut dengan musculoskeletal disorders (MSDs). Tarwaka (2004), menjelaskan bahwa musculoskeletal disorders (MSDs) yaitu keluhan yang terjadi pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari adanya keluhan yang sangat ringan sampai keluhan sangat sakit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa MSDs dapat terjadi karena kombinasi berbagai faktor. Menurut Kuntodi (2008) dalam Bukhori (2010), menyimpulkan bahwa gangguan MSDs dapat terjadi oleh beberapa faktor risiko yang dapat memberikan kontribusi, dan dikategorikan dalam tiga kategori yaitu faktor individu yaitu umur, jenis kelamin, lama bekerja, dan antropometri, factor pekerjaan yaitu faktor yang berasal dari pekerjaan itu sendiri termasuk postur kerja, gerakan repetitive, penggunaan tenaga, dan 1 karakteristik objek, dan faktor lingkungan kerja terdiri dari vibrasi makroklimat dan pencahayaan. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa Definisi Muskuluskeletal, Penyakit Kritis Dan Fraktur ? 2. Apa Konsep Kegawatdaruratan Pada Pasien Dengan Trauma Muskuloskeletal ? 1.3 Tujuan 1. Untuk Mengetahui Definisi Muskuluskeletal, Penyakit Kritis Dan Fraktur 2. Untuk Mengetahui Konsep Kegawatdaruratan Pada Pasien Dengan Trauma Muskuloskeletal 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Osteosarkoma di sebut juga osteogenik sarkoma adalah tumor maligna yang berada pada tulang dan merupakan tumor tulang primer maligna yang paling sering dan paling fatal. Osteosarkoma atau osteogenik sarkoma ini dipergunakan bukan karena tumor membentuk tulang, tetapi karena pembentukan tumor ini berasal dari sel osteoblastik dari sel-sel mesenkim primitif. Tumor ini merupakan tumor yang sangat ganas, menyebar secara cepat pada periosteum dan jaringan ikat di luarnya. Osteosarkoma biasanya terdapat pada metafisis tulang panjang di mana lempeng pertumbuhannya (epiphyseal growthplate) yang sangat aktif yaitu pada distal femur, proksimal tibia dan fibula, proksimal humerus, dan pelvis. Pada orang tua dengan umur di atas 50 tahun, osteosarkoma dapat terjadi akibat degenerasi ganas dari penyakit Paget dengan prognosis sangat jelek (Price-Wilson, S, L. 2002). 2.2 Etiologi Etiologi dari osteosarkoma adalah : a. Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi Radioaktif adalah setiap zat yang memancarkan radiasi pengion dengan aktifitas jenis lebih besar dari 70 kilo Becquerel per kilogram atau 2 nanocurie per gram. Angka 70 kBq/kg atau 2 nCi/g tersebut merupakan patokan dasar untuk suatu zat dapat disebut zat radioaktif pada umumnya. Jadi untuk radioaktif dengan aktifitas lebih kecil dapat dianggap sebagai radiasi latar belakang. b. Keturunan ( genetik ) lmu yang mempelajari bagaimana sifat keturunan ( hereditas ) c. Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya yang disebabkan oleh penyakit. Tumor kanker bisa tumbuh dalam tulang (kanker utama) tapi kelainan ini lebih sering muncul pada dibagian tubuh lain menyebar ke tulang(kanker sekunder) 3 d. Pertumbuhan tulang yang terlalu cepat. Penyerapan kalsium melalui makanan dan suplemen lebih efektif saat hamil dibandingkan saat tidak hamil. Peningkatan produksi estrogen selama kehamilan membantu melindungi tulang ibu dari pengeroposan. 2.3 Sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti: makanan dengan zat pengawet, o Contoh : salmun, mie instan, roti. Tanda dan Gejala 1. Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit) 2. Fraktur patologik 3. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas (Gale, 1999) 4. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena 5. Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun dan malaise. 2.4 Klasifikasi 1. Tumor Tulang Benigna a. Kondrogenik : 1) Osteokondorma - Patofisiologi/Etiologi : Tumor tulang yang paling umum ditemukan adalah osteokondroma. Meskipun awitannya biasanya dimulai pada masa anak, tumor ini berkembang sampai maturitas skeletal dan mungkin tidak terdiagnosa sampai masa dewasa. Tumor ini mungkin tumbuh tunggal ataupun multiple dan dapat terjadi pada tulang manapun. Femur dan tibia adalah yang paling sering terkena. 4 Pada tampilan makro, tumor mempunyai tudung kartilagenus dengan tunas tulang menembus dari tulang. Seiring perkembangan tudung, tumor menulang dan mungkin menjadi maligna. Kira-kira 10% osteokondroma berkembang menjadi sarkoma. - Insidens/Prevalensi : Osteokondroma terjadi kira-klira 40% dari semua tumor benigna dan cenderung terjadi pada pria. 2) Kondroma - Patofisiologi/Prevalensi : Kondroma atau endokondroma, secara histologis sangat erat kaitannya dengan presentasi osteokondroma. Kondroma adalah lesi pada kartilago hialin matur yang terutama mengenai tangan dan kaki. Iga, sternum, spinal, dan tulang panjang juga mungkin terkena. Kondroma lambat berkembang dan sering mengakibatkan fraktur patologis setelah cedera ringan. - Insiden/Prevalensi : Kondroma ditemukan pada semua usia, terjadi pada pria dan wanita serta dapat mengnai semua tualng. b. Osteogenik : 1. Osteoid Osteoma - Patofisiologi/Etiologi : Osteoid osteoma dibedakan melalui tampilannya yang bergranular bersemu merah jambu, yang dihasilkan dari proliferasi osteoblas. Tidak seperti tumor lainnya, lesi tunggalnya berdiameter kurang dari 0,4 inci (1 cm). Setiap tulang dapat terkena, tapi femur dan tibia adalah yang paling sering. Bila osteoid osteoma terjadi pada kolumna spinalis dan sakrum, manisfestasi klinis yang muncul menyerupai sindrom diskus lumbalis. Klien mengeluhkan nyeri yang terputus-putus, mungkin disertai oleh peningkatan kadar prostaglandin yang diasosiasikan dengan tumor. - Insidens/Prevalensi : Kira-kira 10% dari semua tumor benigna adalah osteoid osteoma. Lesi terjadi pada anak dan dewasa muda dengan predominan pada pria 5 2. Osteoblastoma - Patofisiologi/Etiologi Sering disebut juga osteoid osteoma raksasa, osteoblastoma yang menyerang vertebra dan tulang panjang. Tumor ini lebih besar daripada osteoid osteoma dan terletak pada tulang berongga. Tumor ini berwarna kemerahan, dan tampakan yang granular memfasilitasi diagnosis. - Insidens/Prevalensi Lesi yang terjadi kurang dari 1% dan menyerang remaja pria serta dewasa muda pada kedua jenis kelamin. 3. Tumor Sel Raksasa - Patofisiologi/Prevalensi : Asal tumor sel raksasa masih belum bisa ditentukan. Lesi ini agresif dan dapat meluas. Pada pemeriksaan makro lesi tampak kelabu sampai coklat kemerahan dan mungkin melibatkan jaringan lunak sekiarnya. Meskipun diklasifikasikan sebagai tumor benigna, tumor ini dapat bermetastasis ke jaringan paru. - Insiden/Prevalensi : Tidak seperti kembanyakan tumor benigna lainnya, tumor ini menyerang wanita yang berumur lebih dari 20 tahun dengan puncak insiden pada klien usia 30-an. Kira-kir 18% dari seluruh tumor benigna adalah tumor ini. 2. Tumor Tulang Maligna a. Kondrogenik : 1) Kondrosarkoma - Patofisiologi/Etiologi : Kebalikan dari ostosarkoma, klien dengan kondrosarkoma mengalami nyeri tumpul dan pembengkakan dalam waktu yang lama. Tumor umumnya menyerang pelvis dan femur proksimal dekat diafisis. Timbul dari jaringan kartilago, lesi ini merusak tulang dan sering mengkalsifikasinya. Klien dengan kondrosarkoma mempunyai prognosis yang lebih baik dar pada sarkoma osteogenik. - Insidens/Prevalensi : 6 Kondrosarkoma terjadi pada usia paruh baya dan usia yang lebih tua, dengan predominansi ringan pada pria dan terjadi kurang dari 10% dari seluruh tumor tulang maligna. b. Osteogenik : 1) Osteosarkoma - Patofisiologi/Etiologi : Osteosarkoma atau osteogenik sarkoma adalah tipe tumor maligna primer yang paling banyak ditemukan. Lebih dari 50% terjadi pada femur distal dan disusul oleh tibia proksimal dan humerus. Tulang pipih dan tulang panjang mempunyai insiden yang hampir sama pada usia lebih dari 25 tahun. Osteosarkoma adalah lesi yang relatif besar, menyebabkan nyeri dan pembengkakan dalam durasi singkat. Area yang terkena biasanya hangat karena vaskularisasi pada area tersebut meningkat. Bagian pusat massa berupa sklerotik meningkatkan aktivitas osteoblastik; bagian perifernya lembut, meluas melalui korteks tulang dengan tampakan seperti sinar matahari yang klasik, yang diasosiasikan dengn neoplasma. Ekpansi ke dalam kanalis medularis juga umum terjadi. Osteosarkoma mungkin osteoblastik, kondroblastik, atau fibroblastik, tergantung asal jaringannya. Apapun sumbernya lesinya biasanya bermetastasi ke perifer paru dalam 2 tahun setelah tindakan, dan biasanya berakhir dengan kematian. - Insidens/Prevalensi : Osteosarkoma terjadi lebih sering pada pria dibandingkan wanita (2:1), antara usai 10-30 tahun. Dan pada usia yang lebih tua pada klien dengan penyakit Paget. Klien yang menerima radiasi untuk kanker jenis lain atau klien yang mempunyai lesi benigna juga mempunyai resiko yang tinggi. c. Fibrogenik : 1) Fibrosarkoma - Patofisiologi/Etiologi : Muncul dari jaringa fibrosa, fibrosakoma dapat dibagi menjadi beberapa subtipe. Subtipe yang paling maligna adalah histiositoma fibrosa maligna (MFH). Kebanyakan presentasi klinisnya rendah dan 7 insidious, tanpa manifestasi spesifik. Nyeri lokal, dengan atau tanpa masa teraba, terjadi pada tulang panjang ekstremitas bawah. Seperti kanker tulang lainnya, lesi dapat bermetastasis ke paru. - Insidens/Prevalensi : Meskipun MFH menyerang pada semua usia, umumnya terjadi pada pria usia paruh baya. Untungnya lesi ini tidak umum. d. Tidak jelas asalnya : 1) Sarcoma Ewing - Patofisiologi/Etiologi : Meskipun sarkoma Ewing tidak seumum tumor tulang lainnya, tumor ini yang paling maligna. Seperti tumor lainnya, tumor ini juga menyebabkan nyeri dan pembengkakan. Sebagi tambahan manifestasi klinis; demam derajat rendah tertentu, leukositosis, dan anemia; membeikan karakter pada lesi ini. Pelvis dan ektremitas bawah adaah yang paling sering diserang. Serangan pada pelvis memberikan tanda prognosa yang buruk. Pada tingkat selular tumor ini serupa dengan limfoma tulang. Pada hasil Rontgen karakteistiknya berbintik pola destruktif dan tampakan kulit bawang pada permukaan tulang membedakan neoplasma sarkoma Ewing. Seperti tumor maligna lainnya tumor ini juga tidak mempunyai tudung dan sering meluas ke jaringan lunak. Kematian terjadi karena metastasis ke paru atau tulang lainnya. - Insidens/Prevalensi : 5% dari seluruh tumor tulang maligna adalah sarkoma Ewing. Meskipun tumor ini dapat dilihat pada klien berbagai usia, biasanya terjadi pada anak dan dewasa muda pada usia 20-an. Pria mempunyai kecenderungan yang lebih besar. Tumor tulang maligna dapat berupa tumor primer atau sekunder (yang berasal dari jaringan lain dan bermetastasis ke tulang). Tumor primer terjadi lebih sering pada usia 10-30 tahun. Seperti juga kanker tulang lainnya, penyebab pasti tidak diketahui. Lesi metastatik paling sering terjadi pada usia yang lebih lanjut dan terjadi pada kebanyakan kanker tulang. 3. Penyakit Tulang Metastatik 8 Tumor primer pada prostat, payudara, ginjal, tiroid dan paru disebut sebagai kanker ‘pencari tulang’ karena bermetastasi ke tulang lebih sering daripada tumor lain. Vertebra, pelvis, femur dan iga adalah lokasi yang umum diserang. Secara sederhana, tumor primer dibawa melalui aliran darah. Hampir semua lesi metastastatik berasal dari epitel dan berawal dari sumsusm tulang. Fraktur patologis yang terjadi dalam 10-15% kasus, merupakan pertimbangan utama dalam penatalaksanaan. Area yang paling seing terserang adalah asetabulum dan femur proksimal. Insidens/Prevalensi. Penyakit ini terutama menyerang orang yang berusia lebih dari 40 tahun. Pada klien dengan wiwayat kanker dan nyeri lokal, perlu diduga adanya metastasis. Insiden metastasis tulang berentang dari 20-70% tergantung dari sumber laporan statistik. Diduga insiden yang dilaporkan jauh dibawah nilai yang sebenarnya. Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal dengan respons osteolitik (destruksi tulang) atau osteoblastik (pembentukan tulang). Beberapa tumor tulang sering terjadi dan lainnya justru sangat jarang. Beberapa tidak menimbulkan masalah besar, sedangkan yang lainnya segera mengancam jiwa. Pasien dengan tumor tulang daang dengan masalah yang berhubungan dengan tumor tulang yang sangat bervariasi. Dapat tanpa gejala atau dapat juga nyeri (ringan dan kadang sampai konstan dan berat), kecacatan yang bervariasi, dan mungkin adanya pertumbuhan tulang yang jelas terlihat. Kehilangan berat badan, malaise, dan demam dapat terjadi. Tumor kadang baru terdiagnosis saat terjadi patah tulang patoogik. Bila terjadi kompresi korda spinalis, dapat berkembang lambat atau cepat. Defisit neurologik (misalnya nyeri progresif, kelemahan, parasetesia, paraplegia, retensi urin) harus diidentifiaksi awal dan ditangani dengan laminektomi dekompresi untuk mencegah cedera korda spinalis permanen 2.3 Stadium Suatu sistem yang dikenal sebagai sistem AJCC (American Joint Commision on Cancer) kerap digunakan dalam penentuan tingkatan tumor tulang. Dalam sistem ini dikenal simbol: T : fitur atau ukuran tumor 9 N : indikasi penyebaran ke node kelenjar getah bening M : indikasi penyebaran ke organ lain yang jauh dari tempat asal tumor G : tingkatan tumor Kombinasi dari keempat informasi tentang tumor, node kelenjar getah bening, metastasis,dan tingkatan digunakan dalam proses pengelompokan yang biasanya menggunakan angka Romawi. 2.4 Tingkatan Osteosarcoma secara Klinis Keterangan: G1-G2 : tingkat rendah G3-G4 : tingkat tinggi T0 : tidak ada bukti tumor T1 : tumor <= 8 cm (sekitar 3 inch) T2 : tumor > 8 cm T3 : tumor telah berpindah ke tempat lain atau pada tulang yang sama N0 : tidak ada penyebaran regional ke (dekat) node-node kelenjar getah bening N1 : tumor telah menyebar ke node-node kelenjar getah bening terdekat M0 : tidak terjadi metastasis jauh M1 : metastasis jauh (penyebaran tumor ke tissue atau organ-organ yang berada jauh dari lokasi asal tumor tulang) M1a: tumor telah menyebar ke paru M1b: tumor telah menyebar ke tempat lain IA : tumor terbatas pada tulang, dan kurang dari 8 cm, masih dalam tingkat rendah IB : tumor terbatas pada tulang, dan lebih dari 8 cm, masih dalam tingkat rendah IIA : tumor terbatas pada tulang, dan kurang dari 8 cm, termasuk tingkat tinggi IIB : tumor terbatas pada tulang, dan lebih dari 8 cm, termasuk tingkat tinggi III : tumor pada tulang, tetapi telah melompat ke tempat lain pada tulang IVA : tumor telah menyebar ke paru IVB : tumor telah menyebar ke node-node kelenjar getah bening dan jauh dari asal tumor, atau tumor telah menyebar ke tempat yang lebih jauh dari paru 10 2.5 Faktor Presipitasi Dan Predisposisi a. Factor presipitasi : Masih belum diketahui b. Factor predisposisi : 1) Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi 2) Genetic 3) Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya yang disebabkan oleh penyakit 4) Pertumbuhan tulang yang terlalu cepat 5) Sering mengonsumsi zat-zat toksik, seperti makanan dengan zat pengawet, merokok. 2.6 Patofisiologi Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. Penyebab osteosarkoma belum jelas diketahui, adanya hubungan kekeluargaan menjadi suatu predisposisi. Begitu pula adanya hereditery. Dikatakan beberapa virus onkogenik dapat menimbulkan osteosarkoma pada hewan percobaan. Radiasi ion dikatakan menjadi 3% penyebab langsung osteosarkoma. Akhir-akhir ini dikatakan ada 2 tumor suppressor gene yang berperan secara signifikan terhadap tumorigenesis pada osteosarkoma yaitu protein P53 ( kromosom 17) dan Rb (kromosom 13). Lokasi tumor dan usia penderita pada pertumbuhan pesat dari tulang memunculkan perkiraan adanya pengaruh dalam patogenesis osteosarkoma. Mulai tumbuh bisa didalam tulang atau pada permukaan tulang dan berlanjut sampai pada jaringan lunak sekitar tulang epifisis dan tulang rawan sendi bertindak sebagai barier pertumbuhan tumor kedalam sendi. Osteosarkoma mengadakan metastase secara hematogen paling sering keparu atau pada tulang lainnya dan didapatkan sekitar 15%-20% telah mengalami metastase pada saat diagnosis ditegakkan (Salter, robert : 2006). Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal dengan respons osteolitik (destruksi tulang) atau respons osteoblastik (pembentukan tulang). Beberapa tumor tulang sering terjadi dan lainnya jarang terjadi, beberapa tidak menimbulkan masalah, sementara lainnya ada yang sangat berbahaya dan mengancam jiwa. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang panjang dan biasa ditemukan pada ujung bawah femur, ujung atas humerus dan ujung atas tibia. Secara histolgik, tumor terdiri dari massa sel-sel kumparan atau bulat yang berdifferensiasi jelek dan sring dengan elemen 11 jaringan lunak seperti jaringan fibrosa atau miksomatosa atau kartilaginosa yang berselang seling dengan ruangan darah sinusoid. Sementara tumor ini memecah melalui dinding periosteum dan menyebar ke jaringan lunak sekitarnya, garis epifisis membentuk terhadap gambarannya di dalam tulang Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi destruksi tulang lokal. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif. 2.7 Manifestasi Klinik Osteosarkoma sering terdapat di daerah lutut pada anak-anak dan dewasa muda, terbanyak pada distal dari femur. Sangat jarang di temukan pada tulang-tulang kecil di kakin maupun di tangan, begitu juga pada kolumna vertebralis. Apabila terdapat pada kaki biasanya mengenai tulang besar pada kaki bagian tulang belakang yaitu pada tulang talus dan kalkaneus, dengan proknosis yang jelek. Sering di dapatkan adanya riwayat fraktur patologis. Pada anamnesis, keluhan utama yang sering muncul adalah nyeri, deformitas, dan hambatan mobilitas fisik. Kondisi dari keluhan di rasakan secara perlahan- lahan di sertai adanya nyeri pada sekitar lesi dan kesulitan dalam mengerakkan ekstremitas yang terlibat. Keluhan nyeri makin lama makin berat sampai klien terbangun saat tidur karena adanya nyeri. Keluhan biasanya sudah ada 3 bulan sebelumnya dan sering kali di hubungkan dengan trauma. Terdapat benjolan pada dekatb sendi yang sering kali sangat besar, nyeri tekan dan tampak pelebaran pembuluh darah pada kulit di permukaannya. Tidak jarang menimbulkan efusi pada sendi yang berdekatan. Sering juga di temukan adanya patah tulang patologis. Pada pengkajian regional biasanya akan di dapatkan tanda dan keluhan seperti berikut ini: − Look : Terlihat adanya nyeri ( kesakitan), pembesaran jaringan dan tanda-tanda peradangan. Adanya nyeri menujukkan tanda ekspansi tumor yang cepat dan penekan ke jaringan sekitarnya, pendarahan , atau di generasi pembesaran penting untuk di periksa letak pembesaran, jumlah benjolan atau pembesaran jaringan, dan seberapa diameter ukuran dari benjolan atau pembesaran jaringan tersebut. 12 Tanda- tanda peradangan seperti kemerahan pada sisi lesi, pembengkakan atau benjolan dTanda- tanda peradangan seperti kemerahan pada sisi lesi, pembengkakan atau benjolan dengan sisi lesi yang tidak jelas dan tidak mudah berengan sisi lesi yang tidak jelas dan tidak mudah bergerak, palpasi hangat pada pusat lesi secara lokal, keluhan nyeri dan penurunan fungsi pergerakan ekstremitas yang terlibat baik bagian distal maupun proksimal. Pembentukan neofaskularisasi pada kulit atas lesi tumor dengan tanda terlihatnya gambaran vena- vena pada permukaan dari masa. − Feel : keluhan nyeri tekan, jaringan tumor mudah bergerak atau masih bisa di gerakkan dan tumor ganas jaringan biasanya tidak mudah di gerakkan atau bersifat kaku dan tidak bergerak. − Move : Keterbatasan pergerakan dan kelemahan fisik. Keterbatasan pergerakkan berhubungan dengan penurunan rentang gerak. Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri dan makin besarnya benjolan atau pembengkakan pada klien. − 2.8 Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaa Laboratorium - Darah : MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit Rata-rata (VER), yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit yang dinyatakan dengan femtoliter (fl) MCV = Hematokrit x 10 - Eritrosit Nilai normal = 82-92 fl MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) atau Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata (HER), yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram (pg) MCH = Hemoglobin x 10 - Eritrosit Nilai normal = 27-31 pg MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) atau Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapt per eritrosit, dinyatakan dengan persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah “gr/dl”) 13 MCHC = Hemoglobin x 100 - Hematokrit Nilai normal = 32-37 % - Urine : Sebelum menilai hasil analisa urine, perlu diketahui tentang proses pembentukan urine. Urine merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urin per menit. - Feses : Jumlah : Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per hari. Warna : Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya Urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan, kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang dimakan. Warna kuning dapat disebabkan karena susu,jagung, lemak dan obat santonin. Bau : Indol, Skatol dan Asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu Darah : Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda,coklat atau hitam. Darah itu mungkin terdapat di bagian luar tinja atau bercampur baur dengan tinja Lendir : Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan alkaline phosphatase dan lactic dehydrogenase, yang mana ini dihubungkan dengan kepastian diagnosis dan proknosis dan osteosarkoma tersebut. Pemeriksaan Radiodiagnosis CT Scan CT dapat berguna secara lokal ketika gambaran foto polos membingungkan, terutama pada area dengan anatomi yang kompleks (contohnya pada perubahan di mandibula 14 dan maksila pada osteosarkoma gnathic dan pada pelvis yang berhubungan dengan osteosarkoma sekunder). MRI MRI merupakan modalitas untuk mengevaluasi penyebaran lokal dari tumor karena kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak. MRI merupakan tehnik pencitraan yang paling akurat untuk menentuan stadium dari osteosarkoma dan membantu dalam menentukan manajemen pembedahan yang tepat. Ultrasound Ultrasonography tidak secara rutin digunakan untuk menentukan stadium dari lesi. Ultrasonography berguna sebagai panduan dalam melakukan percutaneous biopsi. Pada pasien dengan implant prostetik, Ultrasonography mungkin merupakan modalitas pencitraan satu satunya yang dapat menemukan rekurensi dini secara lokal, karena penggunaan CT atau MRI dapat menimbulkan artefak pada bahan metal. Nuclear Medicine Osteosarcoma secara umum menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop pada bone scan yang menggunakan technetium-99m methylene diphosphonate (MDP). Bone scan sangat berguna untuk mengeksklusikan penyakit multifokal. skip lesion dan metastase paru-paru dapat juga dideteksi, namun skip lesion paling konsisten jika menggunakan MRI. Biasanya gambaran radiogram dapat membantu untuk menentukan keganasan relatif dari tumor tulang. Gambaran tepi lesi yang tidak tegas menandakan bahwa ada proses infasi tumor ke jaringan tulang yang berada di sekitarnya. Pada foto polos menunjukan lesi yang agresif pada daerah metafise tulang panjang. Rusaknya gambaran trabekule tulang dengan batas yang tidak tegas tanpa reaksi enddosteal. Tampak juga campuran area radioofak radolusen, oleh karena adanya proses destruksi tulang ( bone destruction ) dan proses pembentukan tulang ( bone formation ). CT scan dan MRI di lakukan unutk mendeteksi adanya ekstensi dari tumor ke jaringan sekitarnya, termasuk juga pada jaringan neurovaskular atau infansinya pada jaringan otot. Pemeriksaan Biopsi 15 Biopsi tertutup dengan menggunakan jarum halus ( fine needle aspiration atau FNA ) dengan melakukan sitodiaknosis, merupak salah satu biopsai untuk melakukan diagnosis pada tumor. Biopsi terbuka adalah metode biopsi melalui tindakan operatif. KOMPLIKASI PADA OSTEOSARKOMA 1. Nekrosis jaringan Salah satu akibat dari lanjutan proses keganasan adalah terjadinya jaringan nekrosis. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan neoplasma yang terlalu cepat sehingga jaringan yang terletak di sebelah sentral dari tumaor tersebut tidak mendapat vaskularisasi yang cukup. Jaringan nekrosis ini, selain menimbulkan bau yang mengganggu bagi penderita maupun sekelilingnya, juga akan mengakibatkan nyeri. Nyeri akan diperberat apabila jaringan ini terinfeksi oleh kuman-kuman. Keadaan ini sering terjadi pada keganasan yang terjadi di daerah mulut, lidah atau gusi, kavum nasi, orofaring, juga terkadang pada payudara. 2. Meningkatnya angka mortalitas Penyakit osteosarkoma merupakan penyakit yang cukup serius. Apabila tidak segera ditangani akan sangat memungkinkan terjadinya kematian. Apabila sel kanker yg terdapat pada tulang itu sudah di ambil (amputasi) bukan berarti sel kanker itu hilang semuanya, karena sel kanker memiliki sifat residif (dapat muncul kembali). 3. Menyebarnya sel kanker Masyarakat sering mengganggap kanker tulang hal yang sepele, misalnya penderita yang mengeluh benjolan di paha atau patah tulang spontan yang disebabkan benturan ringan yang sebelumnya penderita memang sudah memiliki tumor terlebih dahulu dibawa ke pengobatan alternatif. Jika dalam kondisi seperti ini dilakukan pengurutan bisa mengakibatkan tumor tadi pecah dan menyebar, maka tindakan mengurut itu sangat berbahaya. Akibat langsung : Patah tulang. Akibat tidak langsung: Penurunan berat badan, anemia, penurunan kekebalan tubuh. Akibat pengobatan: Gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah, kebotakan pada kemoterapi. 16 PENATALAKSANAAN MEDIS Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Penatalaksanaan meliputi pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau terapi kombinasi. Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi. Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal intravena, diurelika, mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid. Konservatif Penanganan kanker tulang metastasis adalah paliatif, dan sasaran terapeutiknya adalah mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan klien sebanyak mungkin. Terapi tambahan disesuaikan dengan metode yang di gunakan untuk menangani kanker asal. Fiksasi interna fraktur patologi yang mengurangi kecacatan dan nyeri yang timbul. Bila perlu tulang besar dengan lesi metastasis dapat di perkuat dengan fiksasi interna profilaksis. Pembedahan dapat di indikasikan pada fraktur tulang panjang. Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan yang di lakukan meliputi hidrasi dengan pembersihan cairan salin normal intravena, diuretik, mobilisasi, dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin, atau kartikosteroid. Kemoterapi Kemoterapi merupakan suatu penatalaksanaan tambahan pada tumor ganas tulang dan jaringan lunak. Obat-obatan yang diperlukan adalah metotreksat, adriamisin, siklofosfamid, vinkristin, dan sisplatinum. Pemberian kemoterapi biasanya dilakukan pada pre atau pasca operasi. Cara/indikasi kemoterapi : 17 Obat-obatan kemotrapi bekerja dengan cara memberikan pertumbuhan dan pembelahan sel, mengenali sel kankerr dengan mendeteksi kecepatan pertunbuhannya sel kanker bertumbuh dan membelah diri dengan sangat cepat. Tujuan kemotrapi : 1. Menyembuhkan.kemoterapi di berikan untuk menghancurkan semua sel kanker yang ada pada tubuh sehingga kanker tidak ada lagi dan tidak akan muncul lagi. 2. Mengontrol sel kanker. Kemoterapi bertujuan untuk mencegah sel kanker semakin meluas dan menyebar kebagian tubuh lainnya 3. Mengurangi gejala yang timbul akibat. kemoterapi diharapkan dapat memperkecil ukuran tumor dan mengurangi gejala nyeri akibat penekanan tumor. Penatalaksanaan Nonbedah Sebagai tambahan selain pemberian analgesik untuk mengurangi nyeri lokal, agen kemoterapi dan radioterapi diberikan dalam usaha untuk mengecilkan tumor. Pada klien dengan metastatik vertebral, pembelatan dan imobilisasi dengan traksi servikal akan membantu mengurangi nyeri pungung. Terapi Medikasi Dokter mungkin memberikan kemoterapi tunggal atau kombinasi dengan radiasi atau pembedahan. Tumor proliferatif seperti sarkoma Ewing sensitif pada agen sitotoksik. Sementara tumor lainnya seperti kondrosarkoma seringkali kebal-obat. Kelihatannya kemoterapi memberikan hasil terbaik pada lesi metastasik kecil dan mungkin diberikan sebelum atau sesudah pembedahan.Pada kebanayakan tumor, dokter memberikan agen kombinasi. Saat ini tidak ada protocol yang diteima secara universal mengenai agen kemoetrapi. Obat terpilih ditentukansebagian oleh sumber kanker primer. Misalnya bila metastasis terjadi karena kanker payudara, maka estrogen dan progesterone umum diberikan. Kanker tiroid metastasik sensitive trehadap doksorubisin (adriamisin). Perhatikan efek samping dan efek toksik masing-masing obat serta awasi hasil tes lab dengancermat. Terapi Radiasi. Radiasi digunakan pada tumor-tumor maligna tertentu. Pada klien dengan sarkoma Ewing dan osteosarkoma dini, radiasi mungkin merupakan terapi pilihan untuk mengecilkan ukuran tumor dan tentunya juga rasa nyeri.Pada klien dengan tumor metastatik, radiasi diberikan terutama sebagai terapi paliatif. Terapi diarahkan lokasi 18 yang nyeri dan diusahakan untuk membrikan rentang waktu yang nyaman bagi klien. Dengan perencanaan yang tepat terapi radiasi dapat digunakan dengan komplikasi yang minimal. Radiasi dengan energi tinggi merupakan suatu cara untuk eradikasi tumor-tumor ganas yang radiosensitif dan dapat juga sebagai penatalaksanaan awal sebelum tindakan operasi dilakukan. Kombinasi radioterapi dapat pula diberikan bersama-sama dengan kemoterapi. Radioterapi dilakukan pada keadaan-keadaan yang dapat di operasi, misalnya adanya metastasis atau keadaan lokal yang tidak memungkinkan untuk tindakan operasi. Penatalaksanaan Bedah Tindakan bagi tumor tulang primer adalah pembedahan, sering dikombinasikan dengan radiasi maupun kemoterapi. Oleh karena adanya bahaya metastasis pada tumor maligna, maka kombinasi kemoterapi dimulai sebelum dan dilanjutkan setelah pembedahan sebagai usaha mengeradikasi lesi mikrometastasis. Harapannnya adalah kombinasi kemoterapi mempunyai efek yang tinggi dengan tingkat toksisitas yang rendah sambil menurunkan kemungkinan resistensi terhadap otot. Operasi radikal Operasi radikal dilakukan seperti pada eksisi luas dan di tambah dengan pengeluaran seluruh tulang, serta nadi dan jaringan sebagai satu bagian yang utuh. Cara ini biasanya berupa amputasi anggota gerak di atasnya dan disertai pengeluaran sendi diatasnya TINDAKAN KEPERAWATAN Manajemen nyeri Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ). SKALA KETERANGAN NYERI 10 Sangat dan tidak dapat dikontrol oleh klien. 9, 8, 7 Sangat nyeri tetapi masih dapat dikontrol oleh klien dengan aktifitas yang bisa dilakukan. 19 6 Nyeri seperti terbakar atau ditusuk-tusuk 5 Nyeri seperti tertekan atau bergerak. 4 Nyeri seperti kram atau kaku. 3 Nyeri seperti perih atau mules. 2 Nyeri seperti meliiti atau terpukul. 1 Nyeri seperti gatal, tersetrum atau nyut-nyutan 0 Tidak ada nyeri. Tipe Nyeri SKALA KETERANGAN 10 Tipe nyeri sangat berat. 7-9 Tipe nyeri berat. 4-6 Tipe nyeri sedang. 1-3 Tipe nyeri ringan. Mengajarkan mekanisme koping yang efektif Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan. Memberikan nutrisi yang adekuat Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek samping kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter. Pendidikan kesehatan Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di rumah. 20 Pendidikan Kesehatan Pasca amputasi : Melatih Berjalan Pasien dengan amputasi kaki unilateral biasanya dapat mulai berjalan sebelum prostetik di fitted dengan menyeimbangkan satu kaki dengan penyokong lengan bawah atau underarm crutches. Pasien dengan amputasi bilateral dilatih untuk melakukan transfers dengan kursi roda. Latihan melakukan partial weight bearing dapat dilakukan pada parallel bars dengan atau tanpa alat bantu. Saat luka telah sembuh, pasien mempunyai puntung yang cukup kuat disokong oleh compression socks atau bandage dan latihan berjalan pun dapat dilakukan pada parallel bars. Tergantung stabilitasnya, pasien kemudian dapt meningkatkan latihannya dengan mempergunakan alat bantu frame atau crutches. Bentuk mobilisasi ini bermanfaat untuk pasien agar dapat bergerak di sekitar rumah karena lebih mudah dan lebih cepat daripada mempergunakan prostetik, selain itu pula tidak seluruh ruangan dapat dicapai bila pasien mempergunakan kursi roda. Dimulai sejak hari pertama paska operasi dengan dorongan agar pasien melakukan bridging dengan puntung pada posisi ekstensi dan berguling secara bersamaan untuk mobilisasi di tempat tidur. Pasien diajarkan untuk bergerak ke atas dan ke arah bawah tempat tidur dengan menekan pada telapak kaki yang tidak diamputasi, dimana pada amputasi yang disebabkan oleh karena penyakit vaskuler maka kaki tersebut memerlukan perlindungan sebuah sepatu boot terbuat dari kulit sapi. Duduk dari berbaring dengan mendorong tangan ke arah bawah dapat dimulai saat drips diangkat. Rotasi batang tubuh yang baik akan membuat fungsi ini lebih mudah. Bila pasien sudah dapat melakukan kegiatan diatas, latihan fungsional dilakukan 4-6 hari paska operasi di bagian rehabilitasi. Pasien diajarkan untuk memakai baju sendiri setiap hari dan menggerakkan kursi rodanya sendiri menuju ruang terapi. Setelah itu program latihan dapat berbentuk resisted pulley work, mat exercise, slow reversal dan repeated contractions otot-otot batang tubuh dan alat gerak, spring resistance. Selama waktu tersebut okupasi terapis membantu pasien bila terdapat kesulitan dalam hal berpakaian, mengajarkannya untuk melakukan bath transfer dan melatihnya memasak. Pasien harus didorong untuk menjadi semandiri mungkin baik untuk mobilisasi ataupun untuk merawat diri serta dalam aktivitas hidup sehari-harinya sejauh yang pasien dapat lakukan. Latihan Alat Gerak Bawah di Sisi yang Tidak Diamputasi 21 Foot and Leg Exercises Alat gerak yang tersisa dilatih untuk berfungsi sebagai bagian yang dominan. Latihan harus mencakup latihan kekuatan dan koordinasi otot-otot kaki, lutut dan panggul. Untuk mengontrol keseimbangan, weightbearing, akselerasi dan ground clearance selama swing phase, kaki harus mampu melakukan kontrol saat plantar fleksi, dorsifleksi, eversi dan inversi. Seluruh pergerakan kaki dan alat gerak bawah harus diuji dan dilatih secara individual dan jika intak, harus dipusatkan pada aktivitas berdiri secepat mungkin, sehingga otot-otot kaki dapat berkerja secara fungsional. Latihan harus mempersiapkan alat gerak bawah untuk berfungsi sehingga dapat terlibat dalam transfers, berdiri dan berjalan secepat mungkin. Stabilitas awal dapat dilatih dengan menggunakan parallel bars, walking frame, dan crutches. Dengan adanya penyakit vaskular setiap peresepan untuk meningkatkan toleransi berdiri pasien harus ditingkatkan secara berhati-hati dan aktivitas sebaiknya diseimbangkan dengan adanya periode istirahat yang cukup. Latihan dimulai pada hari pertama paska operasi dan secara bertahap ditingkatkan dengan menambahkan tahanan secara manual atau meningkatkan tahanan dari spring. Knee dan Hip Exercises Latihan dimulai dari tingkat yang sederhana kemudian ditingkatkan secaraprogresif sesuai k ebutuhan. Tahan setiap latihan sebanyak lima hitungan lambat.Sebaiknya dikerjak an setiap beberapa jam dengan pengulangan sebanyak 10 kali. Latihan mobilitas batang tubuh Mobilitas batang tubuh (ekstensi, fleksi, fleksi ke satu sisi dan rotasi) memberikan kontribusi pada keseimbangan tubuh dan kontrol postural dengan mempertahankan pusat gravitasi diatas dasar penyokong individual saat duduk, berdiri atau berjalan. Mobilitas batang tubuh juga mempengaruhi ritme gait dengan mengakomodasikan pergerakan sebaliknya dari tangan dan kaki.Kondisi mental bermotivasi baik dan tidak tampak bingung. Dinilai pula penyesuaian psikologis terhadap amputasinya. Hal ini penting karena pasien harus belajar untuk memakai prosthesis dan mempelajari pola jalan yang sedikit berbeda dari biasanya. MASALAH PSIKOLOGIS Penerimaan atau Penolakan Prosthese 22 Penerimaan dan penggunaan prosthesis menggambarkan evaluasi pasien akan keuntungan dan kerugiannya. Keuntungan dari kaki : memperbaiki penampilan dan body image pasien, bebas dari crutches dan transfer mudah, berdiri dan ambulasi. Prosthetic gait lebih lambat daripada sebagian besar crutch gaits dan bahkan dapat lebih memerlukan energy expenditure. Ambulasi dengan AK prosthesis lebih lambat dan lebih banyak usaha daripada mendorong kursi roda. Kemampuan tim rehabilitasi untuk meminimalisir kerugian dan memaksimalkan keuntungan prosthesis akan menentukan penerimaan pasien. Pasien akan mengevaluasi alat gerak dengan pertimbangan : keuntungan yang berkelanjutan. Pertimbangan itu meliputi ekonomi, kenyamanan, wakut yang hilang dari pekerjaan dan bermain, penampilan dan selanjutnya. Tim sebaiknya mempergunakan pasien yang telah menjalani rehabilitasi secara berhasil sebagai koselor pasien volunter untuk membantu mengatasi masalahnya. Jangan pernah memberikan kepercayaan pada pasien bahwa mereka akan menjadi hampir nomral dengan fitting dan latihan dengan artificial limb.· Manajemen aspek tingkah laku dari pasien Karena perubahan besar dari tubuh pasien, self image dan cara hidup, seluruh mekanisme pertahanan fisik mengalami tekanan. Pasien sangat rentan pada saat ini, tetapi juga berharap dapat mengontrol perubahan fisik. Perasaan bersalah dan malu sering menyertai amputasi, baik didapat atau kongenital. Waktu, kedalaman dan urutan reaksi emosional bervariasi dari satu individu ke individu lainnya. Alat gerak artifisial akan menutupi amputasi dan “dosa” yang “ sebabkan” terjadinya amputasi dan juga hilangnya fungsi. Pemahaman faktor psikososial penting pada peresepan prosthesis, karena prostesis memberikan fungsi psikologis dan sosial sebaik kebutuhan fungsionalnya. Bahkan prosthesis AGB memberikan juga fungsi kosmetis. Pasien tampak berlawanan jika mereka mempunyai deformitas fisik yang jelas dibandingkan jika mereka tidak mempunyainya. Apa yang diberikan oleh alat gerak penting secara vokasional karena lebih mudah untuk pasien dengan kaki artifisial untuk mendapatkan pekerjaan daripada orang yang menggunakan crutches. Rasa marah dan frustasi merupakan hal sangat umum tampak. 23 Kemarahan pada awalnya self-directed (diri sendiri), dan selanjutnya ditujukan kepada orang-orang yang mempunyai kontribusi atas terjadinya kehilangan alat gerak, atau ke staff medis. Reaksi staff dapat menghambat proses rehabilitasi jika mereka tidak memahaminya. Traumatic amputees mempunyai suau emosional shock yang mendadak tanpa persiapan. Pasien dengan penyakit kronik occlusive arterial disease atau keganasan akan menyesuaikan diri dengan cara yang berbeda dan menghadapi suatu kondisi amputasi dengan lebih baik. Seluruh amputees hidup dalam ketakutan suatu penyakit atau cedera mengenai alat gerak yang lainnya. Kekhawatiran tentang keterbatasan fungsi, walaupun tampak sangat umum, tetapi mungkin merupakan reaksi psikologis yang terkecil. Terapi terbaik : uji realitas. Dari sejumlah mekanisme pertahanan psikologis paling sering dipergunakan oleh amputee : wihtdrawal, obliterasi, kompensasi, dan substitusi, tergantung dengan bagaimana kepribadian sebelum amputasinya. Penyesuaian psikologis terhadap prosthesis tergantung pada realisasi bahwa prosthesis merupakan suatu alat untuk melakukan sejumlah aktivitas. Kegunaan dari alat tersebut tergantung pada kesesuaian dengan pekerjaan dan keterampilan yang diperlukan. Dalam rehabilitasi, pasien bekerja; tim memberikan saran dan arahan. Penerimaan saran tergantung pada relasi interpersonal, dan hal tersebut merupakan alasan mengapa saran dari terapis dapat diberikan oleh physiatrist. Pasien biasanya mempunyai kontak yang lebih dengan physiatrist dan menyenangi serta lebih mempercayai mereka. Sama pentingnya dengan dorongan / sokongan, amputee juga harus diberikan kepercayaan. Pasien harus diberi tahu bahwa seluruh prostheses mempunyai defisiensi dalam perkembangan. Prosthesis mempunyai perlekatan yang tidak stabil yang membuatnya terasa lebih berat daripada alat gerak asli yang digantikannya, bahkan walaupun dibuat cukup ringan. Instabilitas sebabkan iritasi kulit yang dipicu oleh perpirasi. 24 Friksi harness juga mengiritasi. Gait dengan prosthesis selalu abnormal walaupun dalam kondisi yang terbaik, dan kosmetis tidak akan pernah sebaik keinginan kita. Kebutuhan dan persepsi dari seorang pasien dengan amputasi Rehabilitasi amputasi, harus mempertimbangkan kebutuhan pasien yang tampak ataupun tidak tampak. Dokter harus mempertimbangkan pengalaman amputasi dalam terminologi pasien dan menghubungkannya dengan pengalamannya dengan lingkungan pasien. Jika tujugan rehabilitasi membantu pasien untuk menjadikan orang yang berguna dalam ‘dunia orang normal’, maka perawatan medis harus meliputi pemulihan fungsi yang bermanfaat, pemulihan penampilan yang normal, dan pengurangan nyeri. Tetapi menolong pasien untuk mencapai maximum vocasional, avokasional, serta potensial ekonomi juga membantu untuk mengembalikan kepercayaan diri dan harga diri. Fase penyesuaian terhadap amputasi Fase penyesuaian terhadap amputasi sering meliputi shock, perlakuan defensif, pemahaman dan adaptasi. Reaksi awal terhadap amputasi paling sering adalah shock, yang akan sebabkan pasien merasa suatu ketidakmampuan. Shock semakin tampak pada pasien amputasi karena trauma, yang tidak mempunyai persiapan psikologis untu kehilangan alat gerak. Saat pasien mulai mobilisasi, fase defensif tampak dengan adanya kebutuhan untuk pengurangan kecemasan dan akan tercapai dengan mempergunakan mekanisme penghindaran seperti fantasi, denial, dan pikiran yang magis atau rigid. Selama periode pemahaman, pasien berpikir secara realistik dengan perubahan pada tubuhnya. Hal ini sering menimbulkan suatu periode stress yang ditandai dengan depresi dan menggerutu. Proses adapatasi ini melibatkan reorganisasi dimana pasien akan mengembangkan suatu perasaan yang telah perbaharui tentang self-respect, produktivitas dan penerimaan sosial. Tidak semua pasien akan mengalami urutan fase-fase diatas. Fitting dini dari prosthesis dengan pemulihan fungsi dapat membantu untuk mengurangi shock pada fase awal dan mengurangi proses pemahaman dan adaptasi. Reaksi pasien dengan amputasi 25 biasanya merefelksikan pola lain dari reaksi terhadap krisis hidup sebelumnya. Jarang terdapat suatu hubungan langsung antara banyaknya kehilangan fisik dan kesulitan pasien secara psikologis. Kesulitan ini tergantung lebih pada kepribadian pasien daripada tipe amputasinya. Banyak pasien menganggap amputasi sebagai suatu hukuman, yang akan menimbulkan perasaan bersalah dan malu. Introversi (tertutup), mengkasihani diri sendiri, perasaan inferior, dan isolasi sosial dapat terjadi. Adaptasi difasilitasi dengan terapi kombinasi baik terapi individual ataupun kelompok untuk mengedukasi dan memberikan sokongan. Terapi individual terdiri dari sokongan emosional oleh seorang psikologis, pekerja sosial atau tenaga kesehatan lain untuk bekerja mengatasi perasaan kehilangan, marah dan kesedihan. Latihan relaksasi dan assertivenes (pemahaman/pengenalan) dapat juga membantu. Terapi kelompok sebaiknya dibatasi 5 hingga 10 pasien rawat inap dan rawat jalan. Pada terapi ini difokuskan pada cara mengatasi perasaan ketidakmampuan, isolasi dan depresi. Kelompok ini juga merupakan suatu cara yang efektif untuk memberikan edukasi pada pasien tentang hal-hal yang dapat dibicarakan bersama oleh mereka semua, termasuk; (1) Perawatan puntung (2) Latihan di rumah dan kebugaran (3) Pemilihan prosthetic dan operasinya (4) Pencegahan amputasi lebih lanjut (5) Alat bantu untuk ADL (6) Program bantuan dari pemerintah Sebagai tambahan, sebuah pertemuan keluarga dapat bermanfaat selama fase preprosthetic dan pada saat pulang. Keluarga harus diyakinkan kembali bahwa pasien dengan kecemasan merupakan suatu keadaan yang normal saat pulang. Kenyataannya, sering pada pasien dengan amputasi akan mengalami penurunan tingkat fungsionalnya saat pertama kali followup setelah pulang. Sokongan dari lingkungannya sebelum pulang akan membantu meminimalisir kecemasan dan tingkah laku regresif 26 BAB III TEORI ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian 1. Data biografi : Data biografi biasanya mencakup nama, umur, alamat, pekerjaan, No. MR, agama dan lain-lain yang dianggap perlu. 2. Riwayat kesehatan sekarang : Klien mengatakan nyeri pada ekstremitas, sering berkeringat pada malam hari, nafsu makan berkurang dan sakit kepala. 3. Riwayat kesehatan dahulu Perjalanan dari rumah sampai ke ruang ICU diceritakan oleh pasien atau keluarga pasien Kemungkinan pernah terpapar sering dengan radiasi sinar radio aktif dosis tinggi. Kemungkinan pernah mengalami fraktur. Kemungkinan sering mengkonsumsi kalsium dengan batas normal. Kemungkinan sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan dengan zat pengawet, merokok dan lain-lain. 4. Riwayat kesehatan keluarga : Kemungkinan ada salah seorang keluarga yang pernah menderita kanker. Pemeriksaan primer A = Jalan nafas paten, tidak ada cuping hidung B= C= D= E= Pemeriksaan skunder 1. A V P U 2. KEBUTUHAN DASAR MANUSIA ( ADL ) 3. TINGKAT KEMANDIRIAN INDIVIDU ( INDEKS BARTHEL ATAU YANG LAIN ) 27 Pemeriksaan fisik Kepala : Inspeksi Atur posisi klien duduk atau berdiri. Anjurkan untuk melepas penutup kepala, kaca mata, dll. Lakukan inspeksi mengamati bentuk kepala, kesimetrisan dan keadaan kulit kepala. Inspeksi penyebaran, ketebalan, kebesihan dan tekstur, warna rambut. Ukuran, bentuk dan posisi kepala terhadap tubuh, Normal kepala tegak lurus dan digaris tengah tubuh. Tulang kepala umumnya bulat dengan tonjolan frontal dibagian anterior dan oksipital dibagian posterior. Palpasi Atur posisi duduk atau berdiri. Anjurkan untuk melepas penutup kepala, kaca mata. Pakai sarung tangan (terutama jika terdapat luka/lesi dikepala). Lakukan palpasi dengan gerakan memutar yang lembut menggunakan ujung jari, lakukan mulai dari depan turun kebawah melalui garis tengah kemudian palpasi setiap sudut garis kepala. Rasakan apakah terdapat benjolan / massa, tanda bekas luka dikepala, pembengkakan, nyeri tekan. Jika hal itu ditemukan perhatikan berapa besrnya / luasnya, bagaimana konsistensinya, dan dimana kedudukannya, apakah didalam kulit, pada tulang atau dibawah kulit terlepas dari tulang. DADA INSPEKSI : Bentuk dada Normal : diameter Anterior Posterior – transversal = 1:2 Pigeont Chest / dada burung : sternum menonjol kedepan, diameter Anterior Posterior > transversal Barrel Chest / dada tong : Anterior Posterior : transversal = 1:1 Funnel Chest : anterior Posterior mengecil, sternum menonjol ke dalam Ekspansi : simestris / tidak Sifat pernafasan : pernafasan dada dan perut 28 Frekuensi pernafasan : 16 – 18 x/menit 18 – 20 x/menit >20x/menit : tachypnea <16x/menit : bradipnea Apnea : tidak terdapatnya pernapasan (mungkin secara periodik) Ritme pernafasan Eupnea : irama normal Kusmaul : cepat dan dalam Hiperventilasi : pernafasan dalam, kecepatan normal Biot’S : Cepat dan dalam, berhenti tiba2, kedalaman sama (kerusakan saraf) Cheyne stoke : bertahap dangkal – lebih cepat dan dalam – lambat –apnea (kerusakan saraf) Retraksi interkosta : kemungkinan retraksi pada obstruksi jalan nafas Orthopnea : sesak pada waktu posisi berbaring Suara batuk : produktif / tidak PALPASI Nyeri dada tekan, kemungkinan fraktur iga Kesimetrisan ekspansi dada PERKUSI Suara perkusi : Paru normal : sonor/resonan Pneumothoraks : hipersonor Jaringan padat (jantung, hati) : pekak/datar Daerah yang berongga : tympani Batas organ Sisi dada kiri : dari atas ke bawah ditemukan sonor/resonan- tympani : ICS 7/8 (Parulambung) Sisi dada kanan : ICS 4/5 (paru-Hati) 29 Dinding posterior :-Supraskapularis (3-4jari di pundak) batas atas paru-Setinggi vertebratorakal 10 garis skapula batas bawah paru AUSKULTASI Suara / bunyi nafas vesikuler terdengar disemua lapang paru normal. Bersifat halus, nada rendah. Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi Bronchovesikuler Ruang interkostal pertama dan kedua area interskapula Nada sedang, lebih kasar dari vesikuler Inspirasi sama dengan ekspirasi Bronchial Terdengar di atas manubarium, Bersifat kasar, nada tinggi Inspirasi lebih pendek dari ekspirasi Suara ucapan Anjurkan penderita mengucapkan tujuh-tujuh berulang2 secara berisik sesudah inspirasi Lakukan dengan intonasi yang sama kuat sambil mendengarkan secara sistematik disemua lapang paru dengan menggunakan stetoskop Bandingkan bagian kiri dan kanan Suara tambahan Ronchi (ronchi kering) Suara yang tidak terputus, akibat adanya getaran dalam lumen saluran pernafasan karena penyempitan : ada sekret kental/lengket Rales (ronchi basah) Suara yang terputus, akibat aliran udara melewati cairan dan terdengar pada saat inspirasi Wheezes – wheezing Suara terdengar akibat obstruksi jalan napas, terjadi penyempitan sehingga ekspirasi dan inspirasi terganggu, sangat jelas terdengar saat ekspirasi Pemeriksaan jantung : Gejala umum yang perlu diperhatikan 30 Nyeri dada Palpitasi Napas pendek, dispnea, ortopnea, Edema INSPEKSI Bentuk dada Normal : simetris Menonjol : pembesaran jantung, efusi pleura, tumor Denyut jantung Kekuatan denyutan : amati Apeks atau PMI (ICS 5 Midklavikula kiri) Denyutan susah nampak bila payudara besar, dinding torak tebal, gemuk PALPASI Denyut apeks ( letak dan kekuatan ), meningkat bila curah jantung besar, hipertrofi jantung PERKUSI untuk menegtahui ukuran bentuk jantung secara kasar (foto rontgen), lokasi jantung akan terdengar redup AUSKULTASI BJ I (S1) : penutupan katub mitral dan trikuspidalis = LUB BJ II (S2) : penutupan katub Aorta dan Pulmonal = DUB Jarak S1 – S2 : 1 detik atau kurang, S1 lebih keras dari S2 Tempat mendengarkan BJ : Mitral : linea midklavikula kiri ICS 5 Trikuspidalis : linea sternal kiri ICS 4 Aorta : linea sternal kanan ICS 2 Pulmonalis : linea sternal kiri ICS 2 BJ Tambahan 31 Murmur :getaran yang terjadi dalam jantung atau pembuluh darah besar yang diakibatkan oleh bertambahnya turbulensi darah / cairan BJ3 &BJ4 Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri yang berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan. 2. Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan, persepsi tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat. 3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker. 4. Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran ( Doenges, 1999-1000 ). 5. Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak ( Wong, 2003: 617 ) Intervensi Keperawatan Diagnosa : Nyeri yang berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan Tujuan: klien mengalami pengurangan nyeri. KH : · · Mengikuti aturan farmakologi yang ditentukan. Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai indikasi situasi individu. Intervensi : 1. Kaji status nyeri (lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas nyeri). 2. Memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi intervensi yang diberikan. 3. Berikan lingkungan yang nyaman, dan aktivitas hiburan ( misalnya : musik, televise. 4. Meningkatkan relaksasi klien. 5. Ajarkan teknik manajemen nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi. 32 6. Meningkatkan relaksasi yang dapat menurunkan rasa nyeri klien ( Doenges. 1999: 1005 ) Diagnosa : Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan, persepsi tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat. Tujuan: Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam aturan pengobatan. KH : · Pasien tampak rileks · Melaporkan berkurangnya ansietas · Mengungkapkan perasaan mengenai perubahan yang terjadi pada diri klien Intervensi : 1. Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan. 2. Memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa takut serta kesalahan konsep tentang diagnosis. 3. Berikan lingkungan yang nyaman dimana pasien dan keluarga merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk berbicara. 4. Membina hubungan saling percaya dan membantu pasien untuk merasa diterima dengan kondisi apa adanya. 5. Pertahankan kontak sering dengan pasien dan bicara dengan menyentuh pasien. 6. Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak. 7. Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis 8. Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan atau pilihan sesuai realita ( Doenges. 1999: 1000 ). 33 Diagnosa : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker Tujuan : mengalami peningkatan asupan nutrisi yang adekuat KH: · Penambahan berat badan. · Bebas tanda malnutrisi. · Nilai albumin dalam batas normal ( 3,5 – 5,5 g% ) Intervensi : 1. Catat asupan makanan setiap hari. 2. Mengidentifikasi kekuatan atau defisiensi nutrisi. 3. Ukur tinggi, berat badan, ketebalan kulit trisep setiap hari. 4. Mengidentifikasi keadaan malnutrisi protein kalori khususnya bila berat badan dan pengukuran antropometrik kurang dari normal. 5. Berikan diet TKTP dan asupan cairan adekuat. Diagnosa : Memenuhi kebutuhan metabolik jaringan. Asupan cairan adekuat untuk menghilangkan produk sisa Doenges (1999: 1006 ). Tujuan : Mengungkapan perubahan pemahaman dalam gaya hidup tentang tubuh, perasaan tidak berdaya, putus asa dan tidak mampu. KH : · Mulai mengembangkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif. Intervensi : 1. Diskusikan dengan orang terdekat pengaruh diagnosis dan pengobatan terhadap kehidupan pribadi pasien dan keluarga. 2. Membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah. 3. Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang efek kanker atau pengobatan. 4. Membantu dalam pemecahan masalah. 34 5. Pertahankan kontak mata selama interaksi dengan pasien dan keluarga dan bicara dengan menyentuh pasien. Diagnosa : Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak. ( Wong. 2003: 617 ) Tujuan : Keluarga dan klien siap menghadapi kemungkinan kehilangan anggota gerak. KH : · Pasien menyesuaikan diri terhadap kehilangan anggota gerak. · Mengalami peninggkatan mobilitas Intervensi : 1. Lakukan pendekatan langsung dengan klien 2. Meningkatkan rasa percaya dengan klien. 3. Diskusikan kurangnya alternatif pengobatan. 4. Memberikan dukungan moril kepada klien untuk menerima pembedahan. 5. Ajarkan penggunaan alat bantu seperti kursi roda atau kruk sesegera mungkin sesuai dengan kemampuan pasien. 6. Membantu dalam melakukan mobilitas dan meningkatkan kemandirian pasien. 7. Motivasi dan libatkan pasien dalam aktifitas bermain ( Wong. 2003: 617). Implementasi keperawatan 1. Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri. 2. Mengurangi nyeri dan spasme otot ( Doenges. 1999: 1005 ) 3. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi Membantu mengidentifikasi derajat malnutrisi ( Doenges. 1999: 1006 ). 4. Menunjukkan rasa empati dan menjaga hubungan saling percaya dengan pasien dan keluarga. ( Doenges. 1999: 1004 ) 5. Secara tidak langgsung memberikan latihan mobilisasi ( Wong. 2003: 617). 35 Evaluasi keperawatan 1. Pasien mampu mengontrol nyeri a. Melakukan teknik manajemen nyeri. b. Patuh dalam pemakaian obat yang diresepkan. c. Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama menjalankan aktifitas hidup sehari-hari 2. Masukan nutrisi yang adekuat a. Mengalami peningkatan berat badan. b. Menghabiskan makanan satu porsi setiap makan. c. Tidak ada tanda – tanda kekurangan nutrisi. 3. Memperlihatkan pola penyelesaian masalah yang efektif. a. Mengemukakan perasaanya dengan kata-kata. b. Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien. c. Keluarga mampu membuat keputusan tentang pengobatan pasien. 4. Memperlihatkan konsep diri yang positif a. Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuan yang dimiliki pasien. b. Memperlihatkan penerimaan perubahan citra diri. 5. Klien dan keluarga siap menghadapi amputasi 36 BAB III PENUTUP 1.1 Kesimpulan 1.2 Saran Perawat sebagai bagian dari tenaga kesehatan juga harus meningkatkan profesionalisme dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Perawat juga dituntut untuk melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan standart profesinya. Profesi perawat sangat penting dalam penanganan pertolongan pertama dalam kecelakaan, seperti yang diketahui bahwa peran perawat salah satunya adalah sebagai care giver yaitu perawat memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan diagnosis keperawatan sehingga dapat menentukan perencanaan dan evaluasi dari masalah tersebut (Manurung, 2009). DAFTAR PUSTAKA https://nersfarly.blogspot.com/2019/02/bab-i-pendahuluan-1.html?m=1 http://ajeng23try-osteosarkoma.blogspot.com/2017/05/askep-osteosarkoma-tumor-tulangcontoh.html?m=1 https://www.academia.edu/37498031/LP_ASKEP_OSTEOSARKOMA.docx 37