Uploaded by jesica.elvira

Makalah Keperawatan Kritis: Osteosarkoma dalam Perawatan Muskuloskeletal

advertisement
MAKALAH
KEPERAWATAN KRITIS
“Klien Masalah Kritis Muskuloskeletal
(Osteosarkoma)”
Kelompok 4
1. Ahmad Alfadli
6. Nazzuan Jesica E.
2. Dany Hendra P
7. Ria Devi Najibuloh
3. Esty Fibri Setyakasih
8. Roisul Islam
4. Khusnul Khofifah
9. Tri Astuti Wahyu M
5. Maulana Harviantanto
10. Yusuf Wiyono
S1 KEPERAWATAN TINGKAT 3A
STIKES PEMKAB JOMBANG
Tahun Ajaran 2018/2019
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Keperawatan Kritis.
Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini
tidak lain berkat kerjasama dari satu kelompok, sehingga kendala-kendala yang
kami hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu mengenai
Klien Masalah Kritis Muskuloskeletal. Namun dengan penuh kesabaran, terutama
pertolongan dari Allah SWT akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna. Untuk itu, kepada Ibu Ratna Puji P, S.Kep, M.s. selaku dosen
Keperawatan Kritis, kami meminta masukannya demi kesempurnaan tugas
makalah ini, juga mengharapkan kritik dan saran dari Ibu.
Jombang, 8 Meit 2019
Kelompok IV
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................................
i
KATA PENGANTAR ..................................................................................................
ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................
1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................
2
1.3 Tujuan Masalah ................................................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN ..............................................................................................
3
2.1 Definisi Muskuluskeletal, Penyakit Kritis Dan Fraktur ...................................
3
2.2 Konsep Kegawatdaruratan Pada Pasien Dengan Trauma Muskuloskeletal ....
3
BAB III PENUTUP ......................................................................................................
14
3.1 Kesimpulan .....................................................................................................
14
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................
15
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Trauma sistem muskuloskeletal sering ditemukan pada zaman kendaraan
berkecepatan tinggi seperti sekarang ini. Selain ltu insidensi trauma muskuloskeletal
meningkat, sebagian besar disebabkan adanya peningkatan latihan fisik secara rutin
pada masyarakat seperti joging, lari dan aktivitas olah raga lainnya. Trauma bisa akut
akibat kejadian traumatik tunggal atau bisa kronis akibat efek kumulatif episode trauma
ringan berulang. Trauma musculoskeletal bermacam-macam, dari tekanan ringan pada
otot sampai fraktur dengan kerusakan jaringan. Sekitar 80 persen praktek umum
ortopedi diakibatkan oleh trauma sistem muskuloskeletal. Proses penuaan juga
mempunyai kontribusi yang cukup tinggi terhadap insidensi fraktur. Peningkatan umur
menyebabkan penurunan masa tulang atau tulang menjadi rapuh. Tulang yang rapuh
akan mudah patah ketika jatuh. Fraktur adalah putusnya kesinambungan suatu tulang,
akan tetapi trauma yang cukup untuk menyebabkan fraktur hampir tak dapat dielakkan
juga menyebabkan trauma pada jaringan lunak sehingga fraktur juga bisa diartikan
sebagai rupturnya jaringan ikat atau jaringan kulit dan merupakan lebih dari sekedar
patahnya tulang (Sobiston & David C, 1994)
Dalam ilmu ergonomi, gangguan atau keluhan yang berhubungan dengan sistem
otot dan tulang belakang disebut dengan musculoskeletal disorders (MSDs). Tarwaka
(2004), menjelaskan bahwa musculoskeletal disorders (MSDs) yaitu keluhan yang
terjadi pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari
adanya keluhan yang sangat ringan sampai keluhan sangat sakit.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa MSDs dapat terjadi karena kombinasi
berbagai faktor. Menurut Kuntodi (2008) dalam Bukhori (2010), menyimpulkan bahwa
gangguan MSDs dapat terjadi oleh beberapa faktor risiko yang dapat memberikan
kontribusi, dan dikategorikan dalam tiga kategori yaitu faktor individu yaitu umur, jenis
kelamin, lama bekerja, dan antropometri, factor pekerjaan yaitu faktor yang berasal dari
pekerjaan itu sendiri termasuk postur kerja, gerakan repetitive, penggunaan tenaga, dan
1
karakteristik objek, dan faktor lingkungan kerja terdiri dari vibrasi makroklimat dan
pencahayaan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Muskuluskeletal, Penyakit Kritis Dan Fraktur ?
2. Apa Konsep Kegawatdaruratan Pada Pasien Dengan Trauma Muskuloskeletal ?
1.3 Tujuan
1. Untuk Mengetahui Definisi Muskuluskeletal, Penyakit Kritis Dan Fraktur
2. Untuk Mengetahui Konsep Kegawatdaruratan Pada Pasien Dengan Trauma
Muskuloskeletal
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Definisi
Osteosarkoma di sebut juga osteogenik sarkoma adalah tumor maligna yang
berada pada tulang dan merupakan tumor tulang primer maligna yang paling sering
dan paling fatal. Osteosarkoma atau osteogenik sarkoma ini dipergunakan bukan karena
tumor membentuk tulang, tetapi karena pembentukan tumor ini berasal dari sel
osteoblastik dari sel-sel mesenkim primitif. Tumor ini merupakan tumor yang sangat
ganas, menyebar secara cepat pada periosteum dan jaringan ikat di luarnya.
Osteosarkoma biasanya terdapat pada metafisis tulang panjang di mana lempeng
pertumbuhannya (epiphyseal growthplate) yang sangat aktif yaitu pada distal femur,
proksimal tibia dan fibula, proksimal humerus, dan pelvis. Pada orang tua dengan umur
di atas 50 tahun, osteosarkoma dapat terjadi akibat degenerasi ganas dari penyakit Paget
dengan prognosis sangat jelek (Price-Wilson, S, L. 2002).
2.2
Etiologi
Etiologi dari osteosarkoma adalah :
a.
Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
Radioaktif adalah setiap zat yang memancarkan radiasi pengion dengan aktifitas
jenis lebih besar dari 70 kilo Becquerel per kilogram atau 2 nanocurie per gram.
Angka 70 kBq/kg atau 2 nCi/g tersebut merupakan patokan dasar untuk suatu zat
dapat disebut zat radioaktif pada umumnya. Jadi untuk radioaktif dengan aktifitas
lebih kecil dapat dianggap sebagai radiasi latar belakang.
b.
Keturunan ( genetik )
lmu yang mempelajari bagaimana sifat keturunan ( hereditas )
c.
Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya yang disebabkan oleh penyakit.
Tumor kanker bisa tumbuh dalam tulang (kanker utama) tapi kelainan ini lebih
sering muncul pada dibagian tubuh lain menyebar ke tulang(kanker sekunder)
3
d.
Pertumbuhan tulang yang terlalu cepat.

Penyerapan kalsium melalui makanan dan suplemen lebih efektif saat hamil
dibandingkan saat tidak hamil.

Peningkatan produksi estrogen selama kehamilan membantu melindungi
tulang ibu dari pengeroposan.
2.3

Sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti: makanan dengan zat pengawet,
o
Contoh : salmun, mie instan, roti.
Tanda dan Gejala
1.
Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi
semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas
penyakit)
2.
Fraktur patologik
3.
Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang
terbatas (Gale, 1999)
4.
Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya
pelebaran vena
5.
Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan
menurun dan malaise.
2.4
Klasifikasi
1.
Tumor Tulang Benigna
a.
Kondrogenik :
1) Osteokondorma
-
Patofisiologi/Etiologi :
Tumor
tulang
yang
paling
umum
ditemukan
adalah
osteokondroma. Meskipun awitannya biasanya dimulai pada masa
anak, tumor ini berkembang sampai maturitas skeletal dan mungkin
tidak terdiagnosa sampai masa dewasa. Tumor ini mungkin tumbuh
tunggal ataupun multiple dan dapat terjadi pada tulang manapun.
Femur dan tibia adalah yang paling sering terkena.
4
Pada tampilan makro, tumor mempunyai tudung kartilagenus
dengan tunas tulang menembus dari tulang. Seiring perkembangan
tudung, tumor menulang dan mungkin menjadi maligna. Kira-kira
10% osteokondroma berkembang menjadi sarkoma.
-
Insidens/Prevalensi :
Osteokondroma terjadi kira-klira 40% dari semua tumor benigna
dan cenderung terjadi pada pria.
2) Kondroma
-
Patofisiologi/Prevalensi :
Kondroma atau endokondroma, secara histologis sangat erat
kaitannya dengan presentasi osteokondroma. Kondroma adalah lesi
pada kartilago hialin matur yang terutama mengenai tangan dan kaki.
Iga, sternum, spinal, dan tulang panjang juga mungkin terkena.
Kondroma lambat berkembang dan sering mengakibatkan fraktur
patologis setelah cedera ringan.
-
Insiden/Prevalensi :
Kondroma ditemukan pada semua usia, terjadi pada pria dan
wanita serta dapat mengnai semua tualng.
b.
Osteogenik :
1.
Osteoid Osteoma
-
Patofisiologi/Etiologi :
Osteoid
osteoma
dibedakan
melalui
tampilannya
yang
bergranular bersemu merah jambu, yang dihasilkan dari proliferasi
osteoblas. Tidak seperti tumor lainnya, lesi tunggalnya berdiameter
kurang dari 0,4 inci (1 cm). Setiap tulang dapat terkena, tapi femur
dan tibia adalah yang paling sering. Bila osteoid osteoma terjadi pada
kolumna spinalis dan sakrum, manisfestasi klinis yang muncul
menyerupai sindrom diskus lumbalis. Klien mengeluhkan nyeri yang
terputus-putus,
mungkin
disertai
oleh
peningkatan
kadar
prostaglandin yang diasosiasikan dengan tumor.
-
Insidens/Prevalensi :
Kira-kira 10% dari semua tumor benigna adalah osteoid osteoma.
Lesi terjadi pada anak dan dewasa muda dengan predominan pada
pria
5
2.
Osteoblastoma
-
Patofisiologi/Etiologi
Sering disebut juga osteoid osteoma raksasa, osteoblastoma yang
menyerang vertebra dan tulang panjang. Tumor ini lebih besar
daripada osteoid osteoma dan terletak pada tulang berongga. Tumor
ini berwarna kemerahan, dan tampakan yang granular memfasilitasi
diagnosis.
-
Insidens/Prevalensi
Lesi yang terjadi kurang dari 1% dan menyerang remaja pria
serta dewasa muda pada kedua jenis kelamin.
3.
Tumor Sel Raksasa
-
Patofisiologi/Prevalensi :
Asal tumor sel raksasa masih belum bisa ditentukan. Lesi ini
agresif dan dapat meluas. Pada pemeriksaan makro lesi tampak
kelabu sampai coklat kemerahan dan mungkin melibatkan jaringan
lunak sekiarnya. Meskipun diklasifikasikan sebagai tumor benigna,
tumor ini dapat bermetastasis ke jaringan paru.
-
Insiden/Prevalensi :
Tidak seperti kembanyakan tumor benigna lainnya, tumor ini
menyerang wanita yang berumur lebih dari 20 tahun dengan puncak
insiden pada klien usia 30-an. Kira-kir 18% dari seluruh tumor
benigna adalah tumor ini.
2.
Tumor Tulang Maligna
a.
Kondrogenik :
1) Kondrosarkoma
-
Patofisiologi/Etiologi :
Kebalikan dari ostosarkoma, klien dengan kondrosarkoma
mengalami nyeri tumpul dan pembengkakan dalam waktu yang lama.
Tumor umumnya menyerang pelvis dan femur proksimal dekat
diafisis. Timbul dari jaringan kartilago, lesi ini merusak tulang dan
sering mengkalsifikasinya. Klien dengan kondrosarkoma mempunyai
prognosis yang lebih baik dar pada sarkoma osteogenik.
-
Insidens/Prevalensi :
6
Kondrosarkoma terjadi pada usia paruh baya dan usia yang lebih
tua, dengan predominansi ringan pada pria dan terjadi kurang dari
10% dari seluruh tumor tulang maligna.
b.
Osteogenik :
1) Osteosarkoma
-
Patofisiologi/Etiologi :
Osteosarkoma atau osteogenik sarkoma adalah tipe tumor
maligna primer yang paling banyak ditemukan. Lebih dari 50%
terjadi pada femur distal dan disusul oleh tibia proksimal dan
humerus. Tulang pipih dan tulang panjang mempunyai insiden yang
hampir sama pada usia lebih dari 25 tahun. Osteosarkoma adalah lesi
yang relatif besar, menyebabkan nyeri dan pembengkakan dalam
durasi singkat. Area
yang terkena biasanya hangat karena
vaskularisasi pada area tersebut meningkat. Bagian pusat massa
berupa
sklerotik
meningkatkan
aktivitas
osteoblastik;
bagian
perifernya lembut, meluas melalui korteks tulang dengan tampakan
seperti sinar matahari yang klasik, yang diasosiasikan dengn
neoplasma. Ekpansi ke dalam kanalis medularis juga umum terjadi.
Osteosarkoma mungkin osteoblastik, kondroblastik, atau fibroblastik,
tergantung asal jaringannya. Apapun sumbernya lesinya biasanya
bermetastasi ke perifer paru dalam 2 tahun setelah tindakan, dan
biasanya berakhir dengan kematian.
-
Insidens/Prevalensi :
Osteosarkoma terjadi lebih sering pada pria dibandingkan wanita
(2:1), antara usai 10-30 tahun. Dan pada usia yang lebih tua pada
klien dengan penyakit Paget. Klien yang menerima radiasi untuk
kanker jenis lain atau klien yang mempunyai lesi benigna juga
mempunyai resiko yang tinggi.
c.
Fibrogenik :
1) Fibrosarkoma
-
Patofisiologi/Etiologi :
Muncul dari jaringa fibrosa, fibrosakoma dapat dibagi menjadi
beberapa subtipe. Subtipe yang paling maligna adalah histiositoma
fibrosa maligna (MFH). Kebanyakan presentasi klinisnya rendah dan
7
insidious, tanpa manifestasi spesifik. Nyeri lokal, dengan atau tanpa
masa teraba, terjadi pada tulang panjang ekstremitas bawah. Seperti
kanker tulang lainnya, lesi dapat bermetastasis ke paru.
-
Insidens/Prevalensi :
Meskipun MFH menyerang pada semua usia, umumnya terjadi
pada pria usia paruh baya. Untungnya lesi ini tidak umum.
d.
Tidak jelas asalnya :
1) Sarcoma Ewing
-
Patofisiologi/Etiologi :
Meskipun sarkoma Ewing tidak seumum tumor tulang lainnya,
tumor ini yang paling maligna. Seperti tumor lainnya, tumor ini juga
menyebabkan nyeri dan pembengkakan. Sebagi tambahan manifestasi
klinis; demam derajat rendah tertentu, leukositosis, dan anemia;
membeikan karakter pada lesi ini. Pelvis dan ektremitas bawah adaah
yang paling sering diserang. Serangan pada pelvis memberikan tanda
prognosa yang buruk.
Pada tingkat selular tumor ini serupa dengan limfoma tulang.
Pada hasil Rontgen karakteistiknya berbintik pola destruktif dan
tampakan kulit bawang pada permukaan tulang membedakan
neoplasma sarkoma Ewing. Seperti tumor maligna lainnya tumor ini
juga tidak mempunyai tudung dan sering meluas ke jaringan lunak.
Kematian terjadi karena metastasis ke paru atau tulang lainnya.
-
Insidens/Prevalensi :
5% dari seluruh tumor tulang maligna adalah sarkoma Ewing.
Meskipun tumor ini dapat dilihat pada klien berbagai usia, biasanya
terjadi pada anak dan dewasa muda pada usia 20-an. Pria mempunyai
kecenderungan yang lebih besar.
Tumor tulang maligna dapat berupa tumor primer atau sekunder
(yang berasal dari jaringan lain dan bermetastasis ke tulang). Tumor
primer terjadi lebih sering pada usia 10-30 tahun. Seperti juga kanker
tulang lainnya, penyebab pasti tidak diketahui. Lesi metastatik paling
sering terjadi pada usia yang lebih lanjut dan terjadi pada kebanyakan
kanker tulang.
3.
Penyakit Tulang Metastatik
8
Tumor primer pada prostat, payudara, ginjal, tiroid dan paru disebut sebagai
kanker ‘pencari tulang’ karena bermetastasi ke tulang lebih sering daripada tumor
lain. Vertebra, pelvis, femur dan iga adalah lokasi yang umum diserang. Secara
sederhana, tumor primer dibawa melalui aliran darah. Hampir semua lesi
metastastatik berasal dari epitel dan berawal dari sumsusm tulang.
Fraktur patologis yang terjadi dalam 10-15% kasus, merupakan pertimbangan
utama dalam penatalaksanaan. Area yang paling seing terserang adalah asetabulum
dan femur proksimal.
Insidens/Prevalensi. Penyakit ini terutama menyerang orang yang berusia
lebih dari 40 tahun. Pada klien dengan wiwayat kanker dan nyeri lokal, perlu
diduga adanya metastasis. Insiden metastasis tulang berentang dari 20-70%
tergantung dari sumber laporan statistik. Diduga insiden yang dilaporkan jauh
dibawah nilai yang sebenarnya.
Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal dengan respons
osteolitik (destruksi tulang) atau osteoblastik (pembentukan tulang). Beberapa
tumor tulang sering terjadi dan lainnya justru sangat jarang. Beberapa tidak
menimbulkan masalah besar, sedangkan yang lainnya segera mengancam jiwa.
Pasien dengan tumor tulang daang dengan masalah yang berhubungan dengan
tumor tulang yang sangat bervariasi. Dapat tanpa gejala atau dapat juga nyeri
(ringan dan kadang sampai konstan dan berat), kecacatan yang bervariasi, dan
mungkin adanya pertumbuhan tulang yang jelas terlihat. Kehilangan berat badan,
malaise, dan demam dapat terjadi. Tumor kadang baru terdiagnosis saat terjadi
patah tulang patoogik.
Bila terjadi kompresi korda spinalis, dapat berkembang lambat atau cepat.
Defisit neurologik (misalnya nyeri progresif, kelemahan, parasetesia, paraplegia,
retensi urin) harus diidentifiaksi awal dan ditangani dengan laminektomi
dekompresi untuk mencegah cedera korda spinalis permanen
2.3
Stadium
Suatu sistem yang dikenal sebagai sistem AJCC (American Joint Commision on
Cancer) kerap digunakan dalam penentuan tingkatan tumor tulang. Dalam sistem ini
dikenal simbol:

T : fitur atau ukuran tumor
9

N : indikasi penyebaran ke node kelenjar getah bening

M : indikasi penyebaran ke organ lain yang jauh dari tempat asal tumor

G : tingkatan tumor
Kombinasi dari keempat informasi tentang tumor, node kelenjar getah bening,
metastasis,dan tingkatan digunakan dalam proses pengelompokan yang biasanya
menggunakan angka Romawi.
2.4
Tingkatan Osteosarcoma secara Klinis
Keterangan:

G1-G2 : tingkat rendah

G3-G4 : tingkat tinggi

T0 : tidak ada bukti tumor

T1 : tumor <= 8 cm (sekitar 3 inch)

T2 : tumor > 8 cm

T3 : tumor telah berpindah ke tempat lain atau pada tulang yang sama

N0 : tidak ada penyebaran regional ke (dekat) node-node kelenjar getah bening

N1 : tumor telah menyebar ke node-node kelenjar getah bening terdekat

M0 : tidak terjadi metastasis jauh

M1 : metastasis jauh (penyebaran tumor ke tissue atau organ-organ yang berada
jauh dari

lokasi asal tumor tulang)

M1a: tumor telah menyebar ke paru

M1b: tumor telah menyebar ke tempat lain

IA : tumor terbatas pada tulang, dan kurang dari 8 cm, masih dalam tingkat rendah

IB : tumor terbatas pada tulang, dan lebih dari 8 cm, masih dalam tingkat rendah

IIA : tumor terbatas pada tulang, dan kurang dari 8 cm, termasuk tingkat tinggi

IIB : tumor terbatas pada tulang, dan lebih dari 8 cm, termasuk tingkat tinggi

III : tumor pada tulang, tetapi telah melompat ke tempat lain pada tulang

IVA : tumor telah menyebar ke paru

IVB : tumor telah menyebar ke node-node kelenjar getah bening dan jauh dari asal
tumor,

atau tumor telah menyebar ke tempat yang lebih jauh dari paru
10
2.5
Faktor Presipitasi Dan Predisposisi
a.
Factor presipitasi : Masih belum diketahui
b.
Factor predisposisi :
1) Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
2) Genetic
3) Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya yang disebabkan oleh penyakit
4) Pertumbuhan tulang yang terlalu cepat
5) Sering mengonsumsi zat-zat toksik, seperti makanan dengan zat pengawet,
merokok.
2.6
Patofisiologi
Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang
sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering
terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. Penyebab
osteosarkoma belum jelas diketahui, adanya hubungan kekeluargaan menjadi suatu
predisposisi. Begitu pula adanya hereditery. Dikatakan beberapa virus onkogenik dapat
menimbulkan osteosarkoma pada hewan percobaan. Radiasi ion dikatakan menjadi 3%
penyebab langsung osteosarkoma. Akhir-akhir ini dikatakan ada 2 tumor suppressor
gene yang berperan secara signifikan terhadap tumorigenesis pada osteosarkoma yaitu
protein P53 ( kromosom 17) dan Rb (kromosom 13).
Lokasi tumor dan usia penderita pada pertumbuhan pesat dari tulang memunculkan
perkiraan adanya pengaruh dalam patogenesis osteosarkoma. Mulai tumbuh bisa
didalam tulang atau pada permukaan tulang dan berlanjut sampai pada jaringan lunak
sekitar tulang epifisis dan tulang rawan sendi bertindak sebagai barier pertumbuhan
tumor kedalam sendi. Osteosarkoma mengadakan metastase secara hematogen paling
sering keparu atau pada tulang lainnya dan didapatkan sekitar 15%-20% telah
mengalami metastase pada saat diagnosis ditegakkan (Salter, robert : 2006).
Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal dengan respons
osteolitik (destruksi tulang) atau respons osteoblastik (pembentukan tulang). Beberapa
tumor tulang sering terjadi dan lainnya jarang terjadi, beberapa tidak menimbulkan
masalah, sementara lainnya ada yang sangat berbahaya dan mengancam jiwa. Tumor
ini tumbuh di bagian metafisis tulang panjang dan biasa ditemukan pada ujung bawah
femur, ujung atas humerus dan ujung atas tibia. Secara histolgik, tumor terdiri dari
massa sel-sel kumparan atau bulat yang berdifferensiasi jelek dan sring dengan elemen
11
jaringan lunak seperti jaringan fibrosa atau miksomatosa atau kartilaginosa yang
berselang seling dengan ruangan darah sinusoid. Sementara tumor ini memecah melalui
dinding periosteum dan menyebar ke jaringan lunak sekitarnya, garis epifisis
membentuk terhadap gambarannya di dalam tulang
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor.
Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau
penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi
destruksi tulang lokal. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi
penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi
pertumbuhan tulang yang abortif.
2.7
Manifestasi Klinik
Osteosarkoma sering terdapat di daerah lutut pada anak-anak dan dewasa muda,
terbanyak pada distal dari femur. Sangat jarang di temukan pada tulang-tulang kecil di
kakin maupun di tangan, begitu juga pada kolumna vertebralis. Apabila terdapat pada
kaki biasanya mengenai tulang besar pada kaki bagian tulang belakang yaitu pada
tulang talus dan kalkaneus, dengan proknosis yang jelek. Sering di dapatkan adanya
riwayat fraktur patologis. Pada anamnesis, keluhan utama yang sering muncul adalah
nyeri, deformitas, dan hambatan mobilitas fisik. Kondisi dari keluhan di rasakan secara
perlahan- lahan di sertai adanya nyeri pada sekitar lesi dan kesulitan dalam
mengerakkan ekstremitas yang terlibat. Keluhan nyeri makin lama makin berat sampai
klien terbangun saat tidur karena adanya nyeri.
Keluhan biasanya sudah ada 3 bulan sebelumnya dan sering kali di hubungkan
dengan trauma. Terdapat benjolan pada dekatb sendi yang sering kali sangat besar,
nyeri tekan dan tampak pelebaran pembuluh darah pada kulit di permukaannya. Tidak
jarang menimbulkan efusi pada sendi yang berdekatan. Sering juga di temukan adanya
patah tulang patologis. Pada pengkajian regional biasanya akan di dapatkan tanda dan
keluhan seperti berikut ini:
−
Look : Terlihat adanya nyeri ( kesakitan), pembesaran jaringan dan tanda-tanda
peradangan. Adanya nyeri menujukkan tanda ekspansi tumor yang cepat dan
penekan ke jaringan sekitarnya, pendarahan , atau di generasi pembesaran penting
untuk di periksa letak pembesaran, jumlah benjolan atau pembesaran jaringan, dan
seberapa diameter ukuran dari benjolan atau pembesaran jaringan tersebut.
12
Tanda- tanda peradangan seperti kemerahan pada sisi lesi, pembengkakan atau
benjolan dTanda- tanda peradangan
seperti
kemerahan pada sisi
lesi,
pembengkakan atau benjolan dengan sisi lesi yang tidak jelas dan tidak mudah
berengan sisi lesi yang tidak jelas dan tidak mudah bergerak, palpasi hangat pada
pusat lesi secara lokal, keluhan nyeri dan penurunan fungsi pergerakan ekstremitas
yang terlibat baik bagian distal maupun proksimal. Pembentukan neofaskularisasi
pada kulit atas lesi tumor dengan tanda terlihatnya gambaran vena- vena pada
permukaan dari masa.
−
Feel
: keluhan nyeri tekan, jaringan tumor mudah bergerak atau masih bisa di
gerakkan dan tumor ganas jaringan biasanya tidak mudah di gerakkan atau bersifat
kaku dan tidak bergerak.
−
Move : Keterbatasan pergerakan dan kelemahan fisik. Keterbatasan pergerakkan
berhubungan dengan penurunan rentang gerak. Gangguan ini biasanya semakin
bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri dan
makin besarnya benjolan atau pembengkakan pada klien.
−
2.8
Pemeriksaan Penunjang
a.
Pemeriksaa Laboratorium
-
Darah : MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit Rata-rata
(VER), yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit yang dinyatakan dengan
femtoliter (fl)
MCV = Hematokrit x 10
-
Eritrosit
Nilai normal = 82-92 fl
MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) atau Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata
(HER), yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram
(pg)
MCH = Hemoglobin x 10
-
Eritrosit
Nilai normal = 27-31 pg
MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) atau Konsentrasi
Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapt
per eritrosit, dinyatakan dengan persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah
“gr/dl”)
13
MCHC = Hemoglobin x 100
-
Hematokrit
Nilai normal = 32-37 %
-
Urine : Sebelum menilai hasil analisa urine, perlu diketahui tentang proses
pembentukan urine. Urine merupakan hasil metabolisme tubuh yang
dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli
permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut akan
mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya
terbentuk 1 ml urin per menit.
-
Feses :
Jumlah : Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per
hari.
Warna : Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih
tua dengan terbentuknya Urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinja
dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan, kelainan dalam saluran pencernaan
dan obat yang dimakan. Warna kuning dapat disebabkan karena susu,jagung,
lemak dan obat santonin.
Bau : Indol, Skatol dan Asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. Bau
busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak
dicerna dan dirombak oleh kuman. Reaksi tinja menjadi lindi oleh
pembusukan semacam itu
Darah : Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda,coklat atau
hitam. Darah itu mungkin terdapat di bagian luar tinja atau bercampur baur
dengan tinja
Lendir : Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan alkaline phosphatase
dan lactic dehydrogenase, yang mana ini dihubungkan dengan kepastian diagnosis
dan proknosis dan osteosarkoma tersebut.
Pemeriksaan Radiodiagnosis

CT Scan
CT dapat berguna secara lokal ketika gambaran foto polos membingungkan, terutama
pada area dengan anatomi yang kompleks (contohnya pada perubahan di mandibula
14
dan maksila pada osteosarkoma gnathic dan pada pelvis yang berhubungan dengan
osteosarkoma sekunder).

MRI
MRI merupakan modalitas untuk mengevaluasi penyebaran lokal dari tumor karena
kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak. MRI
merupakan tehnik pencitraan yang paling akurat untuk menentuan stadium dari
osteosarkoma dan membantu dalam menentukan manajemen pembedahan yang tepat.

Ultrasound
Ultrasonography tidak secara rutin digunakan untuk menentukan stadium dari lesi.
Ultrasonography berguna sebagai panduan dalam melakukan percutaneous biopsi.
Pada pasien dengan implant prostetik, Ultrasonography mungkin merupakan
modalitas pencitraan satu satunya yang dapat menemukan rekurensi dini secara lokal,
karena penggunaan CT atau MRI dapat menimbulkan artefak pada bahan metal.

Nuclear Medicine
Osteosarcoma secara umum menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop pada
bone scan yang menggunakan technetium-99m methylene diphosphonate (MDP).
Bone scan sangat berguna untuk mengeksklusikan penyakit multifokal. skip lesion
dan metastase paru-paru dapat juga dideteksi, namun skip lesion paling konsisten jika
menggunakan MRI.
Biasanya gambaran radiogram dapat membantu untuk menentukan keganasan relatif dari
tumor tulang. Gambaran tepi lesi yang tidak tegas menandakan bahwa ada proses infasi
tumor ke jaringan tulang yang berada di sekitarnya. Pada foto polos menunjukan lesi yang
agresif pada daerah metafise tulang panjang. Rusaknya gambaran trabekule tulang dengan
batas yang tidak tegas tanpa reaksi enddosteal. Tampak juga campuran area radioofak
radolusen, oleh karena adanya proses destruksi tulang ( bone destruction ) dan proses
pembentukan tulang ( bone formation ). CT scan dan MRI di lakukan unutk mendeteksi
adanya ekstensi dari tumor ke jaringan sekitarnya, termasuk juga pada jaringan neurovaskular
atau infansinya pada jaringan otot.
Pemeriksaan Biopsi
15
Biopsi tertutup dengan menggunakan jarum halus ( fine needle aspiration atau FNA ) dengan
melakukan sitodiaknosis, merupak salah satu biopsai untuk melakukan diagnosis pada tumor.
Biopsi terbuka adalah metode biopsi melalui tindakan operatif.
KOMPLIKASI PADA OSTEOSARKOMA
1.
Nekrosis jaringan
Salah satu akibat dari lanjutan proses keganasan adalah terjadinya jaringan nekrosis. Hal ini
disebabkan karena pertumbuhan neoplasma yang terlalu cepat sehingga jaringan yang terletak
di sebelah sentral dari tumaor tersebut tidak mendapat vaskularisasi yang cukup.
Jaringan nekrosis ini, selain menimbulkan bau yang mengganggu bagi penderita maupun
sekelilingnya, juga akan mengakibatkan nyeri. Nyeri akan diperberat apabila jaringan ini
terinfeksi oleh kuman-kuman. Keadaan ini sering terjadi pada keganasan yang terjadi di
daerah mulut, lidah atau gusi, kavum nasi, orofaring, juga terkadang pada payudara.
2.
Meningkatnya angka mortalitas
Penyakit osteosarkoma merupakan penyakit yang cukup serius. Apabila tidak segera
ditangani akan sangat memungkinkan terjadinya kematian. Apabila sel kanker yg terdapat
pada tulang itu sudah di ambil (amputasi) bukan berarti sel kanker itu hilang semuanya,
karena sel kanker memiliki sifat residif (dapat muncul kembali).
3.
Menyebarnya sel kanker
Masyarakat sering mengganggap kanker tulang hal yang sepele, misalnya penderita yang
mengeluh benjolan di paha atau patah tulang spontan yang disebabkan benturan ringan yang
sebelumnya penderita memang sudah memiliki tumor terlebih dahulu dibawa ke pengobatan
alternatif. Jika dalam kondisi seperti ini dilakukan pengurutan bisa mengakibatkan tumor tadi
pecah dan menyebar, maka tindakan mengurut itu sangat berbahaya.
Akibat langsung : Patah tulang.
Akibat tidak langsung: Penurunan berat badan, anemia, penurunan kekebalan tubuh.
Akibat pengobatan: Gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah, kebotakan pada
kemoterapi.
16
PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. Tujuan
penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika
memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau
ekstremitas yang sakit. Penatalaksanaan meliputi pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau
terapi kombinasi.
Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi.
Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan
dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen
ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi.
Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal
intravena, diurelika, mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau
kortikosteroid.

Konservatif
Penanganan kanker tulang metastasis adalah paliatif, dan sasaran terapeutiknya adalah
mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan klien sebanyak mungkin. Terapi tambahan
disesuaikan dengan metode yang di gunakan untuk menangani kanker asal. Fiksasi
interna fraktur patologi yang mengurangi kecacatan dan nyeri yang timbul. Bila perlu
tulang besar dengan lesi metastasis dapat di perkuat dengan fiksasi interna profilaksis.
Pembedahan dapat di indikasikan pada fraktur tulang panjang. Bila terdapat
hiperkalsemia, penanganan yang di lakukan meliputi hidrasi dengan pembersihan
cairan salin normal intravena, diuretik, mobilisasi, dan obat-obatan seperti fosfat,
mitramisin, kalsitonin, atau kartikosteroid.

Kemoterapi
Kemoterapi merupakan suatu penatalaksanaan tambahan pada tumor ganas tulang dan
jaringan lunak. Obat-obatan yang diperlukan adalah metotreksat, adriamisin,
siklofosfamid, vinkristin, dan sisplatinum. Pemberian kemoterapi biasanya dilakukan
pada pre atau pasca operasi.
Cara/indikasi kemoterapi :
17
Obat-obatan kemotrapi bekerja dengan cara memberikan pertumbuhan dan
pembelahan sel, mengenali sel kankerr dengan mendeteksi kecepatan pertunbuhannya
sel kanker bertumbuh dan membelah diri dengan sangat cepat.
Tujuan kemotrapi :
1.
Menyembuhkan.kemoterapi di berikan untuk menghancurkan semua sel kanker
yang ada pada tubuh sehingga kanker tidak ada lagi dan tidak akan muncul lagi.
2.
Mengontrol sel kanker. Kemoterapi bertujuan untuk mencegah sel kanker
semakin meluas dan menyebar kebagian tubuh lainnya
3.
Mengurangi gejala yang timbul akibat. kemoterapi diharapkan dapat
memperkecil ukuran tumor dan mengurangi gejala nyeri akibat penekanan tumor.

Penatalaksanaan Nonbedah
Sebagai tambahan selain pemberian analgesik untuk mengurangi nyeri lokal, agen
kemoterapi dan radioterapi diberikan dalam usaha untuk mengecilkan tumor. Pada
klien dengan metastatik vertebral, pembelatan dan imobilisasi dengan traksi servikal
akan membantu mengurangi nyeri pungung.

Terapi Medikasi
Dokter mungkin memberikan kemoterapi tunggal atau kombinasi dengan radiasi atau
pembedahan. Tumor proliferatif seperti sarkoma Ewing sensitif pada agen sitotoksik.
Sementara tumor lainnya seperti kondrosarkoma seringkali kebal-obat. Kelihatannya
kemoterapi memberikan hasil terbaik pada lesi metastasik kecil dan mungkin
diberikan sebelum atau sesudah pembedahan.Pada kebanayakan tumor, dokter
memberikan agen kombinasi. Saat ini tidak ada protocol yang diteima secara
universal mengenai agen kemoetrapi. Obat terpilih ditentukansebagian oleh sumber
kanker primer. Misalnya bila metastasis terjadi karena kanker payudara, maka
estrogen dan progesterone umum diberikan. Kanker tiroid metastasik sensitive
trehadap doksorubisin (adriamisin).
Perhatikan efek samping dan efek toksik masing-masing obat serta awasi hasil tes lab
dengancermat.

Terapi Radiasi.
Radiasi digunakan pada tumor-tumor maligna tertentu. Pada klien dengan sarkoma
Ewing dan osteosarkoma dini, radiasi mungkin merupakan terapi pilihan untuk
mengecilkan ukuran tumor dan tentunya juga rasa nyeri.Pada klien dengan tumor
metastatik, radiasi diberikan terutama sebagai terapi paliatif. Terapi diarahkan lokasi
18
yang nyeri dan diusahakan untuk membrikan rentang waktu yang nyaman bagi klien.
Dengan perencanaan yang tepat terapi radiasi dapat digunakan dengan komplikasi
yang minimal. Radiasi dengan energi tinggi merupakan suatu cara untuk eradikasi
tumor-tumor ganas yang radiosensitif dan dapat juga sebagai penatalaksanaan awal
sebelum tindakan operasi dilakukan. Kombinasi radioterapi dapat pula diberikan
bersama-sama dengan kemoterapi. Radioterapi dilakukan pada keadaan-keadaan yang
dapat di operasi, misalnya adanya metastasis atau keadaan lokal yang tidak
memungkinkan untuk tindakan operasi.

Penatalaksanaan Bedah
Tindakan bagi tumor tulang primer adalah pembedahan, sering dikombinasikan
dengan radiasi maupun kemoterapi. Oleh karena adanya bahaya metastasis pada
tumor maligna, maka kombinasi kemoterapi dimulai sebelum dan dilanjutkan setelah
pembedahan sebagai usaha mengeradikasi lesi mikrometastasis. Harapannnya adalah
kombinasi kemoterapi mempunyai efek yang tinggi dengan tingkat toksisitas yang
rendah sambil menurunkan kemungkinan resistensi terhadap otot.

Operasi radikal
Operasi radikal dilakukan seperti pada eksisi luas dan di tambah dengan pengeluaran
seluruh tulang, serta nadi dan jaringan sebagai satu bagian yang utuh. Cara ini
biasanya berupa amputasi anggota gerak di atasnya dan disertai pengeluaran sendi
diatasnya
TINDAKAN KEPERAWATAN
Manajemen nyeri
Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan
bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ).
SKALA KETERANGAN NYERI
10
Sangat dan tidak dapat dikontrol oleh klien.
9, 8, 7 Sangat nyeri tetapi masih dapat dikontrol oleh klien dengan aktifitas yang bisa
dilakukan.
19
6
Nyeri seperti terbakar atau ditusuk-tusuk
5
Nyeri seperti tertekan atau bergerak.
4
Nyeri seperti kram atau kaku.
3
Nyeri seperti perih atau mules.
2
Nyeri seperti meliiti atau terpukul.
1
Nyeri seperti gatal, tersetrum atau nyut-nyutan
0
Tidak ada nyeri.
Tipe Nyeri
SKALA KETERANGAN
10
Tipe nyeri sangat berat.
7-9
Tipe nyeri berat.
4-6
Tipe nyeri sedang.
1-3
Tipe nyeri ringan.

Mengajarkan mekanisme koping yang efektif
Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan
dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi
atau rohaniawan.

Memberikan nutrisi yang adekuat
Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek samping
kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat. Antiemetika
dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Pemberian nutrisi
parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter.

Pendidikan kesehatan

Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya
komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di rumah.
20
Pendidikan Kesehatan Pasca amputasi :
Melatih Berjalan
Pasien dengan amputasi kaki unilateral biasanya dapat mulai berjalan sebelum prostetik di
fitted dengan menyeimbangkan satu kaki dengan penyokong lengan bawah atau underarm
crutches. Pasien dengan amputasi bilateral dilatih untuk melakukan transfers dengan kursi
roda. Latihan melakukan partial weight bearing dapat dilakukan pada parallel bars dengan
atau tanpa alat bantu. Saat luka telah sembuh, pasien mempunyai puntung yang cukup kuat
disokong oleh compression socks atau bandage dan latihan berjalan pun dapat dilakukan pada
parallel bars. Tergantung stabilitasnya, pasien kemudian dapt meningkatkan latihannya
dengan mempergunakan alat bantu frame atau crutches. Bentuk mobilisasi ini bermanfaat
untuk pasien agar dapat bergerak di sekitar rumah karena lebih mudah dan lebih cepat
daripada mempergunakan prostetik, selain itu pula tidak seluruh ruangan dapat dicapai bila
pasien mempergunakan kursi roda. Dimulai sejak hari pertama paska operasi dengan
dorongan agar pasien melakukan bridging dengan puntung pada posisi ekstensi dan berguling
secara bersamaan untuk mobilisasi di tempat tidur. Pasien diajarkan untuk bergerak ke atas
dan ke arah bawah tempat tidur dengan menekan pada telapak kaki yang tidak diamputasi,
dimana pada amputasi yang disebabkan oleh karena penyakit vaskuler maka kaki tersebut
memerlukan perlindungan sebuah sepatu boot terbuat dari kulit sapi. Duduk dari berbaring
dengan mendorong tangan ke arah bawah dapat dimulai saat drips diangkat. Rotasi batang
tubuh yang baik akan membuat fungsi ini lebih mudah. Bila pasien sudah dapat melakukan
kegiatan diatas, latihan fungsional dilakukan 4-6 hari paska operasi di bagian rehabilitasi.
Pasien diajarkan untuk memakai baju sendiri setiap hari dan menggerakkan kursi rodanya
sendiri menuju ruang terapi. Setelah itu program latihan dapat berbentuk resisted pulley
work, mat exercise, slow reversal dan repeated contractions otot-otot batang tubuh dan alat
gerak, spring resistance. Selama waktu tersebut okupasi terapis membantu pasien bila
terdapat kesulitan dalam hal berpakaian, mengajarkannya untuk melakukan bath transfer dan
melatihnya memasak. Pasien harus didorong untuk menjadi semandiri mungkin baik untuk
mobilisasi ataupun untuk merawat diri serta dalam aktivitas hidup sehari-harinya sejauh yang
pasien dapat lakukan.
Latihan Alat Gerak Bawah di Sisi yang Tidak Diamputasi
21

Foot and Leg Exercises
Alat gerak yang tersisa dilatih untuk berfungsi sebagai bagian yang dominan. Latihan
harus mencakup latihan kekuatan dan koordinasi otot-otot kaki, lutut dan panggul.
Untuk mengontrol keseimbangan, weightbearing, akselerasi dan ground clearance
selama swing phase, kaki harus mampu melakukan kontrol saat plantar fleksi,
dorsifleksi, eversi dan inversi. Seluruh pergerakan kaki dan alat gerak bawah harus
diuji dan dilatih secara individual dan jika intak, harus dipusatkan pada aktivitas
berdiri secepat mungkin, sehingga otot-otot kaki dapat berkerja secara fungsional.
Latihan harus mempersiapkan alat gerak bawah untuk berfungsi sehingga dapat
terlibat dalam transfers, berdiri dan berjalan secepat mungkin. Stabilitas awal dapat
dilatih dengan menggunakan parallel bars, walking frame, dan crutches. Dengan
adanya penyakit vaskular setiap peresepan untuk meningkatkan toleransi berdiri
pasien harus ditingkatkan secara berhati-hati dan aktivitas sebaiknya diseimbangkan
dengan adanya periode istirahat yang cukup. Latihan dimulai pada hari pertama paska
operasi dan secara bertahap ditingkatkan dengan menambahkan tahanan secara
manual atau meningkatkan tahanan dari spring.

Knee dan Hip Exercises
Latihan dimulai dari tingkat yang sederhana kemudian ditingkatkan secaraprogresif
sesuai k ebutuhan. Tahan setiap latihan sebanyak lima hitungan lambat.Sebaiknya
dikerjak an setiap beberapa jam dengan pengulangan sebanyak 10 kali.

Latihan mobilitas batang tubuh
Mobilitas batang tubuh (ekstensi, fleksi, fleksi ke satu sisi dan rotasi) memberikan
kontribusi pada keseimbangan tubuh dan kontrol postural dengan mempertahankan
pusat gravitasi diatas dasar penyokong individual saat duduk, berdiri atau berjalan.
Mobilitas batang tubuh juga mempengaruhi ritme gait dengan mengakomodasikan
pergerakan sebaliknya dari tangan dan kaki.Kondisi mental bermotivasi baik dan
tidak tampak bingung. Dinilai pula penyesuaian psikologis terhadap amputasinya. Hal
ini penting karena pasien harus belajar untuk memakai prosthesis dan mempelajari
pola jalan yang sedikit berbeda dari biasanya.
MASALAH PSIKOLOGIS
Penerimaan atau Penolakan Prosthese
22

Penerimaan dan penggunaan prosthesis menggambarkan evaluasi pasien akan
keuntungan dan kerugiannya. Keuntungan dari kaki : memperbaiki penampilan dan
body image pasien, bebas dari crutches dan transfer mudah, berdiri dan ambulasi.

Prosthetic gait lebih lambat daripada sebagian besar crutch gaits dan bahkan dapat
lebih memerlukan energy expenditure.

Ambulasi dengan AK prosthesis lebih lambat dan lebih banyak usaha daripada
mendorong kursi roda.

Kemampuan tim rehabilitasi untuk meminimalisir kerugian dan memaksimalkan
keuntungan prosthesis akan menentukan penerimaan pasien.

Pasien akan mengevaluasi alat gerak dengan pertimbangan : keuntungan yang
berkelanjutan. Pertimbangan itu meliputi ekonomi, kenyamanan, wakut yang hilang
dari pekerjaan dan bermain, penampilan dan selanjutnya.

Tim sebaiknya mempergunakan pasien yang telah menjalani rehabilitasi secara
berhasil sebagai koselor pasien volunter untuk membantu mengatasi masalahnya.

Jangan pernah memberikan kepercayaan pada pasien bahwa mereka akan menjadi
hampir nomral dengan fitting dan latihan dengan artificial limb.· Manajemen aspek
tingkah laku dari pasien Karena perubahan besar dari tubuh pasien, self image dan
cara hidup, seluruh mekanisme pertahanan fisik mengalami tekanan. Pasien sangat
rentan pada saat ini, tetapi juga berharap dapat mengontrol perubahan fisik. Perasaan
bersalah dan malu sering menyertai amputasi, baik didapat atau kongenital.

Waktu, kedalaman dan urutan reaksi emosional bervariasi dari satu individu ke
individu lainnya.

Alat gerak artifisial akan menutupi amputasi dan “dosa” yang “ sebabkan” terjadinya
amputasi dan juga hilangnya fungsi.

Pemahaman faktor psikososial penting pada peresepan prosthesis, karena prostesis
memberikan fungsi psikologis dan sosial sebaik kebutuhan fungsionalnya. Bahkan
prosthesis AGB memberikan juga fungsi kosmetis.

Pasien tampak berlawanan jika mereka mempunyai deformitas fisik yang jelas
dibandingkan jika mereka tidak mempunyainya.

Apa yang diberikan oleh alat gerak penting secara vokasional karena lebih mudah
untuk pasien dengan kaki artifisial untuk mendapatkan pekerjaan daripada orang yang
menggunakan crutches.

Rasa marah dan frustasi merupakan hal sangat umum tampak.
23

Kemarahan pada awalnya self-directed (diri sendiri), dan selanjutnya ditujukan
kepada orang-orang yang mempunyai kontribusi atas terjadinya kehilangan alat gerak,
atau ke staff medis.

Reaksi staff dapat menghambat proses rehabilitasi jika mereka tidak memahaminya.

Traumatic amputees mempunyai suau emosional shock yang mendadak tanpa
persiapan.

Pasien dengan penyakit kronik occlusive arterial disease atau keganasan akan
menyesuaikan diri dengan cara yang berbeda dan menghadapi suatu kondisi amputasi
dengan lebih baik.

Seluruh amputees hidup dalam ketakutan suatu penyakit atau cedera mengenai alat
gerak yang lainnya.

Kekhawatiran tentang keterbatasan fungsi, walaupun tampak sangat umum, tetapi
mungkin merupakan reaksi psikologis yang terkecil. Terapi terbaik : uji realitas. Dari
sejumlah mekanisme pertahanan psikologis paling sering dipergunakan oleh amputee
: wihtdrawal, obliterasi, kompensasi, dan substitusi, tergantung dengan bagaimana
kepribadian sebelum amputasinya.

Penyesuaian psikologis terhadap prosthesis tergantung pada realisasi bahwa prosthesis
merupakan suatu alat untuk melakukan sejumlah aktivitas. Kegunaan dari alat
tersebut tergantung pada kesesuaian dengan pekerjaan dan keterampilan yang
diperlukan.

Dalam rehabilitasi, pasien bekerja; tim memberikan saran dan arahan.

Penerimaan saran tergantung pada relasi interpersonal, dan hal tersebut merupakan
alasan mengapa saran dari terapis dapat diberikan oleh physiatrist.

Pasien biasanya mempunyai kontak yang lebih dengan physiatrist dan menyenangi
serta lebih mempercayai mereka.

Sama pentingnya dengan dorongan / sokongan, amputee juga harus diberikan
kepercayaan.

Pasien harus diberi tahu bahwa seluruh prostheses mempunyai defisiensi dalam
perkembangan.

Prosthesis mempunyai perlekatan yang tidak stabil yang membuatnya terasa lebih
berat daripada alat gerak asli yang digantikannya, bahkan walaupun dibuat cukup
ringan.

Instabilitas sebabkan iritasi kulit yang dipicu oleh perpirasi.
24

Friksi harness juga mengiritasi.

Gait dengan prosthesis selalu abnormal walaupun dalam kondisi yang terbaik, dan
kosmetis tidak akan pernah sebaik keinginan kita.
Kebutuhan dan persepsi dari seorang pasien dengan amputasi
Rehabilitasi amputasi, harus mempertimbangkan kebutuhan pasien yang tampak ataupun
tidak tampak. Dokter harus mempertimbangkan pengalaman amputasi dalam terminologi
pasien dan menghubungkannya dengan pengalamannya dengan lingkungan pasien. Jika
tujugan rehabilitasi membantu pasien untuk menjadikan orang yang berguna dalam ‘dunia
orang normal’, maka perawatan medis harus meliputi pemulihan fungsi yang bermanfaat,
pemulihan penampilan yang normal, dan pengurangan nyeri. Tetapi menolong pasien untuk
mencapai maximum vocasional, avokasional, serta potensial ekonomi juga membantu untuk
mengembalikan kepercayaan diri dan harga diri.
Fase penyesuaian terhadap amputasi
Fase penyesuaian terhadap amputasi sering meliputi shock, perlakuan defensif, pemahaman
dan adaptasi. Reaksi awal terhadap amputasi paling sering adalah shock, yang akan sebabkan
pasien merasa suatu ketidakmampuan. Shock semakin tampak pada pasien amputasi karena
trauma, yang tidak mempunyai persiapan psikologis untu kehilangan alat gerak. Saat pasien
mulai mobilisasi, fase defensif tampak dengan adanya kebutuhan untuk pengurangan
kecemasan dan akan tercapai dengan mempergunakan mekanisme penghindaran seperti
fantasi, denial, dan pikiran yang magis atau rigid.
Selama periode pemahaman, pasien berpikir secara realistik dengan perubahan pada
tubuhnya. Hal ini sering menimbulkan suatu periode stress yang ditandai dengan depresi dan
menggerutu.
Proses
adapatasi
ini
melibatkan
reorganisasi
dimana
pasien
akan
mengembangkan suatu perasaan yang telah perbaharui tentang self-respect, produktivitas dan
penerimaan sosial. Tidak semua pasien akan mengalami urutan fase-fase diatas. Fitting dini
dari prosthesis dengan pemulihan fungsi dapat membantu untuk mengurangi shock pada fase
awal dan mengurangi proses pemahaman dan adaptasi. Reaksi pasien dengan amputasi
25
biasanya merefelksikan pola lain dari reaksi terhadap krisis hidup sebelumnya. Jarang
terdapat suatu hubungan langsung antara banyaknya kehilangan fisik dan kesulitan pasien
secara psikologis. Kesulitan ini tergantung lebih pada kepribadian pasien daripada tipe
amputasinya. Banyak pasien menganggap amputasi sebagai suatu hukuman, yang akan
menimbulkan perasaan bersalah dan malu. Introversi (tertutup), mengkasihani diri sendiri,
perasaan inferior, dan isolasi sosial dapat terjadi.
Adaptasi difasilitasi dengan terapi kombinasi baik terapi individual ataupun kelompok untuk
mengedukasi dan memberikan sokongan. Terapi individual terdiri dari sokongan emosional
oleh seorang psikologis, pekerja sosial atau tenaga kesehatan lain untuk bekerja mengatasi
perasaan
kehilangan,
marah
dan
kesedihan.
Latihan
relaksasi
dan
assertivenes
(pemahaman/pengenalan) dapat juga membantu. Terapi kelompok sebaiknya dibatasi 5
hingga 10 pasien rawat inap dan rawat jalan. Pada terapi ini difokuskan pada cara mengatasi
perasaan ketidakmampuan, isolasi dan depresi.
Kelompok ini juga merupakan suatu cara yang efektif untuk memberikan edukasi pada pasien
tentang hal-hal yang dapat dibicarakan bersama oleh mereka semua, termasuk;
(1) Perawatan puntung
(2) Latihan di rumah dan kebugaran
(3) Pemilihan prosthetic dan operasinya
(4) Pencegahan amputasi lebih lanjut
(5) Alat bantu untuk ADL
(6) Program bantuan dari pemerintah
Sebagai tambahan, sebuah pertemuan keluarga dapat bermanfaat selama fase preprosthetic
dan pada saat pulang. Keluarga harus diyakinkan kembali bahwa pasien dengan kecemasan
merupakan suatu keadaan yang normal saat pulang. Kenyataannya, sering pada pasien
dengan amputasi akan mengalami penurunan tingkat fungsionalnya saat pertama kali followup setelah pulang. Sokongan dari lingkungannya sebelum pulang akan membantu
meminimalisir kecemasan dan tingkah laku regresif
26
BAB III
TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
1. Data biografi : Data biografi biasanya mencakup nama, umur, alamat, pekerjaan, No. MR,
agama dan lain-lain yang dianggap perlu.
2. Riwayat kesehatan sekarang : Klien mengatakan nyeri pada ekstremitas, sering
berkeringat pada malam hari, nafsu makan berkurang dan sakit kepala.
3. Riwayat kesehatan dahulu

Perjalanan dari rumah sampai ke ruang ICU diceritakan oleh pasien atau
keluarga pasien

Kemungkinan pernah terpapar sering dengan radiasi sinar radio aktif dosis
tinggi.

Kemungkinan pernah mengalami fraktur.

Kemungkinan sering mengkonsumsi kalsium dengan batas normal.

Kemungkinan sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan dengan zat
pengawet, merokok dan lain-lain.
4.
Riwayat kesehatan keluarga : Kemungkinan ada salah seorang keluarga yang pernah
menderita kanker.
Pemeriksaan primer
A = Jalan nafas paten, tidak ada cuping hidung
B=
C=
D=
E=
Pemeriksaan skunder
1. A V P U
2. KEBUTUHAN DASAR MANUSIA ( ADL )
3. TINGKAT KEMANDIRIAN INDIVIDU ( INDEKS BARTHEL ATAU YANG
LAIN )
27
Pemeriksaan fisik
Kepala :
Inspeksi

Atur posisi klien duduk atau berdiri.

Anjurkan untuk melepas penutup kepala, kaca mata, dll.

Lakukan inspeksi mengamati bentuk kepala, kesimetrisan dan keadaan kulit kepala.

Inspeksi penyebaran, ketebalan, kebesihan dan tekstur, warna rambut.

Ukuran, bentuk dan posisi kepala terhadap tubuh, Normal kepala tegak lurus dan
digaris tengah tubuh. Tulang kepala umumnya bulat dengan tonjolan frontal dibagian
anterior dan oksipital dibagian posterior.
Palpasi

Atur posisi duduk atau berdiri.

Anjurkan untuk melepas penutup kepala, kaca mata.

Pakai sarung tangan (terutama jika terdapat luka/lesi dikepala).

Lakukan palpasi dengan gerakan memutar yang lembut menggunakan ujung jari,
lakukan mulai dari depan turun kebawah melalui garis tengah kemudian palpasi setiap
sudut garis kepala.

Rasakan apakah terdapat benjolan / massa, tanda bekas luka dikepala, pembengkakan,
nyeri tekan. Jika hal itu ditemukan perhatikan berapa besrnya / luasnya, bagaimana
konsistensinya, dan dimana kedudukannya, apakah didalam kulit, pada tulang atau
dibawah kulit terlepas dari tulang.
DADA
INSPEKSI : Bentuk dada

Normal : diameter Anterior Posterior – transversal = 1:2

Pigeont Chest
/ dada burung : sternum menonjol kedepan, diameter Anterior
Posterior > transversal

Barrel Chest / dada tong : Anterior Posterior : transversal = 1:1

Funnel Chest : anterior Posterior mengecil, sternum menonjol ke dalam

Ekspansi : simestris / tidak

Sifat pernafasan : pernafasan dada dan perut
28

Frekuensi pernafasan : 16 – 18 x/menit

18 – 20 x/menit

>20x/menit : tachypnea

<16x/menit : bradipnea

Apnea : tidak terdapatnya pernapasan (mungkin secara periodik)

Ritme pernafasan

Eupnea : irama normal

Kusmaul : cepat dan dalam

Hiperventilasi : pernafasan dalam, kecepatan normal

Biot’S : Cepat dan dalam, berhenti tiba2, kedalaman sama (kerusakan saraf)

Cheyne stoke : bertahap dangkal – lebih cepat dan dalam – lambat –apnea (kerusakan
saraf)

Retraksi interkosta : kemungkinan retraksi pada obstruksi jalan nafas

Orthopnea : sesak pada waktu posisi berbaring

Suara batuk : produktif / tidak
PALPASI

Nyeri dada tekan, kemungkinan fraktur iga

Kesimetrisan ekspansi dada
PERKUSI

Suara perkusi :

Paru normal : sonor/resonan

Pneumothoraks : hipersonor

Jaringan padat (jantung, hati) : pekak/datar

Daerah yang berongga : tympani

Batas organ
Sisi dada kiri : dari atas ke bawah ditemukan sonor/resonan- tympani : ICS 7/8 (Parulambung)
Sisi dada kanan : ICS 4/5 (paru-Hati)
29
Dinding posterior
:-Supraskapularis (3-4jari di pundak) batas atas paru-Setinggi
vertebratorakal 10 garis skapula batas bawah
paru
AUSKULTASI

Suara / bunyi nafas vesikuler terdengar disemua lapang paru normal. Bersifat halus,
nada rendah. Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi

Bronchovesikuler
Ruang interkostal pertama dan kedua area interskapula
Nada sedang, lebih kasar dari vesikuler
Inspirasi sama dengan ekspirasi

Bronchial
Terdengar di atas manubarium,
Bersifat kasar, nada tinggi
Inspirasi lebih pendek dari ekspirasi

Suara ucapan
Anjurkan penderita mengucapkan tujuh-tujuh berulang2 secara berisik sesudah
inspirasi
Lakukan dengan intonasi yang sama kuat sambil mendengarkan secara sistematik
disemua lapang paru dengan menggunakan stetoskop
Bandingkan bagian kiri dan kanan

Suara tambahan
Ronchi (ronchi kering) Suara yang tidak terputus, akibat adanya getaran dalam lumen
saluran pernafasan karena penyempitan : ada sekret kental/lengket
Rales (ronchi basah) Suara yang terputus, akibat aliran udara melewati cairan dan
terdengar pada saat inspirasi
Wheezes – wheezing Suara terdengar akibat obstruksi jalan napas, terjadi
penyempitan sehingga ekspirasi dan inspirasi terganggu, sangat jelas terdengar saat
ekspirasi
Pemeriksaan jantung :
Gejala umum yang perlu diperhatikan
30

Nyeri dada

Palpitasi

Napas pendek, dispnea, ortopnea,

Edema
INSPEKSI

Bentuk dada
Normal : simetris
Menonjol : pembesaran jantung, efusi pleura, tumor

Denyut jantung
Kekuatan denyutan : amati Apeks atau PMI (ICS 5 Midklavikula kiri)
Denyutan susah nampak bila payudara besar, dinding torak tebal, gemuk
PALPASI
Denyut apeks ( letak dan kekuatan ), meningkat bila curah jantung besar, hipertrofi
jantung
PERKUSI
untuk menegtahui ukuran bentuk jantung secara kasar (foto rontgen), lokasi jantung
akan terdengar redup
AUSKULTASI

BJ I (S1) : penutupan katub mitral dan trikuspidalis = LUB

BJ II (S2) : penutupan katub Aorta dan Pulmonal = DUB

Jarak S1 – S2 : 1 detik atau kurang, S1 lebih keras dari S2

Tempat mendengarkan BJ :

Mitral : linea midklavikula kiri ICS 5

Trikuspidalis : linea sternal kiri ICS 4

Aorta : linea sternal kanan ICS 2

Pulmonalis : linea sternal kiri ICS 2

BJ Tambahan
31

Murmur :getaran yang terjadi dalam jantung atau pembuluh darah besar yang
diakibatkan oleh bertambahnya turbulensi darah / cairan

BJ3 &BJ4
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan.
2. Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan, persepsi
tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik
berkenaan dengan kanker.
4. Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran (
Doenges, 1999-1000 ).
5. Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak ( Wong, 2003: 617 )
Intervensi Keperawatan
Diagnosa : Nyeri yang berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan
Tujuan: klien mengalami pengurangan nyeri.
KH :
·
·
Mengikuti aturan farmakologi yang ditentukan.
Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai
indikasi situasi individu.
Intervensi :
1. Kaji status nyeri (lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas nyeri).
2. Memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi intervensi yang diberikan.
3. Berikan lingkungan yang nyaman, dan aktivitas hiburan ( misalnya : musik, televise.
4. Meningkatkan relaksasi klien.
5. Ajarkan teknik manajemen nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan
bimbingan imajinasi.
32
6. Meningkatkan relaksasi yang dapat menurunkan rasa nyeri klien
( Doenges. 1999: 1005
)
Diagnosa : Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak
tahuan, persepsi tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat.
Tujuan: Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif
dalam aturan pengobatan.
KH :
·
Pasien tampak rileks
·
Melaporkan berkurangnya ansietas
·
Mengungkapkan perasaan mengenai perubahan yang terjadi pada diri klien
Intervensi :
1. Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan.
2. Memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa takut serta kesalahan
konsep tentang diagnosis.
3. Berikan lingkungan yang nyaman dimana pasien dan keluarga merasa aman untuk
mendiskusikan perasaan atau menolak untuk berbicara.
4. Membina hubungan saling percaya dan membantu pasien untuk merasa diterima dengan
kondisi apa adanya.
5. Pertahankan kontak sering dengan pasien dan bicara dengan menyentuh pasien.
6. Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak.
7. Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis
8. Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan atau pilihan
sesuai realita ( Doenges. 1999: 1000 ).
33
Diagnosa : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status
hipermetabolik berkenaan dengan kanker
Tujuan : mengalami peningkatan asupan nutrisi yang adekuat
KH:
·
Penambahan berat badan.
·
Bebas tanda malnutrisi.
·
Nilai albumin dalam batas normal ( 3,5 – 5,5 g% )
Intervensi :
1. Catat asupan makanan setiap hari.
2. Mengidentifikasi kekuatan atau defisiensi nutrisi.
3. Ukur tinggi, berat badan, ketebalan kulit trisep setiap hari.
4. Mengidentifikasi keadaan malnutrisi protein kalori khususnya bila berat badan dan
pengukuran antropometrik kurang dari normal.
5. Berikan diet TKTP dan asupan cairan adekuat.
Diagnosa : Memenuhi kebutuhan metabolik jaringan. Asupan cairan adekuat untuk
menghilangkan produk sisa Doenges (1999: 1006 ).
Tujuan : Mengungkapan perubahan pemahaman dalam gaya hidup tentang tubuh, perasaan
tidak berdaya, putus asa dan tidak mampu.
KH :
·
Mulai mengembangkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif.
Intervensi :
1. Diskusikan dengan orang terdekat pengaruh diagnosis dan pengobatan terhadap
kehidupan pribadi pasien dan keluarga.
2. Membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah.
3.
Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang efek kanker atau
pengobatan.
4. Membantu dalam pemecahan masalah.
34
5. Pertahankan kontak mata selama interaksi dengan pasien dan keluarga dan bicara dengan
menyentuh pasien.
Diagnosa : Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak. ( Wong.
2003: 617 )
Tujuan : Keluarga dan klien siap menghadapi kemungkinan kehilangan anggota gerak.
KH :
·
Pasien menyesuaikan diri terhadap kehilangan anggota gerak.
·
Mengalami peninggkatan mobilitas
Intervensi :
1. Lakukan pendekatan langsung dengan klien
2. Meningkatkan rasa percaya dengan klien.
3. Diskusikan kurangnya alternatif pengobatan.
4. Memberikan dukungan moril kepada klien untuk menerima pembedahan.
5. Ajarkan penggunaan alat bantu seperti kursi roda atau kruk sesegera mungkin sesuai
dengan kemampuan pasien.
6. Membantu dalam melakukan mobilitas dan meningkatkan kemandirian pasien.
7. Motivasi dan libatkan pasien dalam aktifitas bermain ( Wong. 2003: 617).
Implementasi keperawatan
1. Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri.
2. Mengurangi nyeri dan spasme otot ( Doenges. 1999: 1005 )
3. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi Membantu mengidentifikasi
derajat malnutrisi ( Doenges. 1999: 1006 ).
4. Menunjukkan rasa empati dan menjaga hubungan saling percaya dengan pasien dan
keluarga. ( Doenges. 1999: 1004 )
5. Secara tidak langgsung memberikan latihan mobilisasi ( Wong. 2003: 617).
35
Evaluasi keperawatan
1.
Pasien mampu mengontrol nyeri
a.
Melakukan teknik manajemen nyeri.
b.
Patuh dalam pemakaian obat yang diresepkan.
c.
Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama
menjalankan aktifitas hidup sehari-hari
2.
Masukan nutrisi yang adekuat
a.
Mengalami peningkatan berat badan.
b.
Menghabiskan makanan satu porsi setiap makan.
c.
Tidak ada tanda – tanda kekurangan nutrisi.
3.
Memperlihatkan pola penyelesaian masalah yang efektif.
a.
Mengemukakan perasaanya dengan kata-kata.
b.
Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien.
c.
Keluarga mampu membuat keputusan tentang pengobatan pasien.
4.
Memperlihatkan konsep diri yang positif
a.
Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuan yang dimiliki pasien.
b.
Memperlihatkan penerimaan perubahan citra diri.
5.
Klien dan keluarga siap menghadapi amputasi
36
BAB III
PENUTUP
1.1
Kesimpulan
1.2
Saran
Perawat sebagai bagian dari tenaga kesehatan juga harus meningkatkan
profesionalisme dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Perawat juga dituntut untuk
melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan standart profesinya. Profesi perawat
sangat penting dalam penanganan pertolongan pertama dalam kecelakaan, seperti yang
diketahui bahwa peran perawat salah satunya adalah sebagai care giver yaitu perawat
memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan diagnosis keperawatan sehingga dapat
menentukan perencanaan dan evaluasi dari masalah tersebut (Manurung, 2009).
DAFTAR PUSTAKA
https://nersfarly.blogspot.com/2019/02/bab-i-pendahuluan-1.html?m=1
http://ajeng23try-osteosarkoma.blogspot.com/2017/05/askep-osteosarkoma-tumor-tulangcontoh.html?m=1
https://www.academia.edu/37498031/LP_ASKEP_OSTEOSARKOMA.docx
37
Download