Uploaded by User36975

LAPORAN PEMICU 4 BLOK 3

advertisement
LAPORAN PEMICU 4 BLOK 3
KOMUNIKASI DOKTER- PASIEN ANAK- ORANGTUA
Oleh:
Kelompok 5
Dosen Pembimbing:
Essie Octiara, drg., Sp.KGA
Lily Rahmawati, dr., Sp.A
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
Ketua
: Gieska Lailarahma
(170600043)
Sekretaris
: Melli Fiary Panjaitan
(170600207)
Anggota
:
Nadiyah Atika Putri
(170600041)
Khoirunissa
(170600042)
Vidi Putri Kurnia
(170600044)
Amalia Retno Giantyana
(170600046)
Jessica Angelita Claudia Br. Sinulingga
(170600047)
Ummu Mahfuzzah Nur Salam
(170600048)
Ayu Mayang Sari Rangkuti
(170600049)
Nova Sarah Diba
(170600050)
Clarinta Simangunsong
(170600201)
Erick Kho
(170600202)
Ayu Sri Wahyuni Padang
(170600203)
Theresia Octavia Butar-butar
(170600204)
Febby Maulina
(170600205)
Nada Fairuzia Soadi
(170600206)
Nurhalijah
(170600208)
Assajdah Nasution
(170600209)
Sofia Honora Sinaga
(170600210)
Kata Pengantar
Puji dan syukur rahmat Tuhan Yang aha Esa atas berkat dan rahmat-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan tepat waktu. Makalah ini
berjudul “Komunikasi Dokter- Pasien Anak- Orangtua.”
Kami mengucapkan terima kasih kepada fasilitator kami sehingga kami bisa
menemukan titik tengah dari permasalahan kami. Terima kasih juga kepada seluruh
anggota kelompok yang telah membantu supaya makalh ini bisa selesai tepat pada
waktunya.
Makalah ini berisi kesimpulan yang kami dapat selama melakukan simulasi
dalam pemicu 4. Dalam makalah ini, kami memaparkan bagaimana komunikasi yang
baik antara dokter, pasien anak, dan orangtua. Kami berharap makalah ini bisa
bermanfaat bagi para pembaca. Kami yakin makalah ini masih ada banyak
kekurangan maka dari itu kami berharap kritik dan saran pembaca terhadap makalah
kami.
Medan, 11 Desember 2017
Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Komunikasi adalah kunci keberhasilan seorang dokter gigi dalam melakukan
perawatan. Komunikasi diperlukan dokter gigi untuk memperoleh informasi
sebanyak-banyaknya mengenai kondisi pasien sehingga dokter dapat membuat
diagnosis. Selain itu, komunikasi juga membantu pasien bekerja sama dalam proses
penyembuhan. Komunikasi akan efektif dan interaktif jika nasihat diubah menjadi
informasi dengan cara yang mudah dipahami dan sebisa mungkin menghindari
bahasa medis yang tidak dimengerti pasien. Ada dua macam jenis komunikasi, yaitu
komunikais verbal dan non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi melalui
kata-kata yang diucapkan , sedangkan komunikasi non verbal ditunjukkan melalui
isyarat, ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta intonasi suara. Dokter dikatakan
memiliki sikap professional jika dalam melakukan wawancara medis disertai dengan
berbagai macam konsep yang dapat diterapkan seperti gather, teacher, basic
fundamental four, maupun sacred seven.
Dalam berkomunikasi dokter tidak boleh mendominasi percakapan, tetapi
juga harus mendengarkan pasien dengan penuh empati. Saat pengambilan keputusan
mengenai rencana kunjungan selanjutnya, dokter harus melibatkan orangtua dan
paien dan menjelaskan secara detail agenda apa yang akan dilakukan saat kunjungan.
Untuk berkomunisasi dengan anak diperlukan teknik khusus mengingat kemampuan
berkomunikasi mereka masih terbatas sesuai tahap perkembangannya. Selain itu,
anak seringkali stress duluan saat datang ke dokter gigi. Selama wawancara medis
dengan anak, dokter dapat mengorek masalah dan mendeteksi dini penyimpangan
tumbuh-kembang. Dokter gigi memerlukan informasi yang akurat untuk bisa
memberikan perawatan yang efektif sehingga perlu peran orang tua dalam wawancara
medis dengan anak. Hubungan ketiga unsur ini dikenal dengan istilah Triad of
Concern.
1.2.Learning Issue
 Dual Patient / Triad of Concern
 Teknik wawancara dengan orangtua
 Kesulitan dalam komunikasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Skenario
Orangtua mengantar anaknya yang berusia lima tahun ke dokter gigidengan
keluhan sakit gigi dan ngemil.
2.2. Tabel Penilaian
PENILAIAN
No.
1.
Tahap Simulasi
Membina Hubungan:
a. Memberikan salam dan
bersikap menunjukkan
rasa
tertarik
pada
pasien sebagai individu
b. Menggunakan katakata yang
menunjukkan perhatian
terhadap masalah yang
dihadapi pasien selama
wawancara
c. Menggunakan intonasi
suara, jeda waktu,
kontak mata, dan sikap
tubuh yang
menunjukkan suatu
perhatian
2.
Diberikan
Perlu
Tidak
Tidak
dengan baik perbaikan diberikan layak



Membuka diskusi
1. Memberi kesempatan
pada pasien untuk
mengemukakan
keluhannya tanpa
diinterupsi

b. Menanyakan, “ Apa ada
lagi yang mau
disampaikan?” untuk
menyatakan kita memiliki
perhatian penuh

c. Menjelaskan dan/ atau
membuat agenda untuk
kunjungannya
3.

Mengumpulkan informasi
(dapat menggunakan
pedoman wawancara medic
Fundamental Four and
Sacred Seven)

a. Mulai dengan
menggunakan pertanyaan
terbuka pada pasien, “
Ceritakan kepada saya
tentang ………”
b. Melakukan klarifikasi
terhadap hal-hal yang
pelu penjelasan khusus
atau bisa juga dengan
menggunakan pertanyaan
“ya/tidak”

c. Membuat resume dan
memberi pasien
kesempatan untuk
mengkoreksi atau
menambah informasi

d.
Membuat transisi yang
efektif untuk pertanyaan
tambahan(data dasar,skrining

4.
Mengerti harapan pasien
a. Menanyakan tiap
peristiwa dalam
hidupnya, lingkungan,
serta orang lain yang
mungkin
mempengaruhi
kesehatan pasien

b. Menanyakan
kepercayaan pasien,
kepedulian dan harapan
terhadap penyakit dan
pengobatan
c. Merespons secara
eksplisit setiap
peryataan yang
disampaikan pasien
tentang nilai, pendapat
dan perasaannnya
5.


Berbagi informasi
a. Mengetahui pemahaman
si pasien terhadap
penyakitnya dan
keinginannya terhadap
informasi tambahan
b. Menjelaskan dengan
menggunakan kata-kata
yang mudah dimengerti
pasien
c. Mengetahui pemahaman
pasien
terhadap
rencana terapi yang



d. Menanyakan tentang halhal yang masih belum
jelas
6.

Mencapai kesepakatan
a. Melibatkan pasien dalam
memilih dan membuat
keputusan guna untuk
mengetahui sampai
sejauh mana hal yang
diinginkan

b. Menanyakan
kesanggupan pasien
untuk mengikuti rencana
terapi

c. Mengidentifikasi hal-hal
tambahan kalau perlu
7.

Penutup
a. Memberi kesempatan si
pasien untuk bertanya
hal yang kurang jelas
pada kunjungan
berikutnya
b. Membuat kesimpulan
atau menanyakan
rencana pasien pada
kunjungan berikutnya
c. Menjelaskan waktu
kontrol atau bila terjadi
sesuatu, dan orang yang
harus dihubungi



Keterangan:
1. Membina hubungan
a. Diberikan dengan baik
Dokter sudah menyampaikan salam seperti selamat sore dan
memperkenalkan dirinya karena pasien baru pertama kali berkunjung ke
praktek dokter gigi tersebut.
b. Diberikan dengan baik
Dokter sudah memberikan perhatian kepada pasien dengan menanyakan
beberapa hal seperti, “Icha sudah sekolah ya?” atau “Icha ini pasti anak
yang pintar karena sudah berani datang ke dokter gigi”.
c. Diberikan dengan baik
Dokter berbicara menggunakan kontak mata dengan Ibu dan pasien anak.
Selain itu, dokter juga berbicara berbicara dengan intonasi yang lembut
kepada anak, dan memberi jeda waktu saat berkomunikasi.
2. Membuka diskusi
a. Diberikan dengan baik
Dokter sudah memberikan kesempatan kepada pasien dan orangtua untuk
menyampaikan keluhan-keluhannya tanpa adanya interupsi.
b. Diberikan dengan baik
Dokter sudah menanyakan kepada orangtua dan pasien keluhan lainnya
yang dialami oleh si anak seperti “Apa ada lagi keluhan lain Bu yang
ingin disampaikan?”
c. Tidak diberikan
Dokter tidak memberi tahu kepada Ibu dan pasien perawatan atau
pemeriksaan apa yang akan dilakukan pada hari kunjungan tersebut.
Dokter hanya langsung menyuruh anak agar duduk di dental unit untuk
diperiksa. Sebaiknya dokter memberi tahu kepada Ibu dan pasien agar
mereka mengerti apa yang akan dilakukan dokter gigi pada kunjungan hari
itu.
3. Mengumpulkan informasi (dapat menggunakan pedoman wawancara medic
Fundamental Four and Sacred Seven)
a. Perlu perbaikan
Dalam Fundamental Four ada present illness, past health history, faily
health history, dan social history. Dokter sudah memberikan pertanyaan
terbuka kepada orangtua dan anak dengan menanyakan keluhannya saat
ini seperti “Apa keluhan anaknya Bu?”, dokter juga sudah menanyakan
riwayat kesehatan lalu anak dengan bertanya “Apakah Icha sudah pernah
sakit gigi sebelumnya?”,dokter juga sudah menanyakan riwayat pribadi
pasien dengan menanyakan kebiasaan Icha yang suka makan manis, tetapi
dokter tidak menanyakan riwayat penyakit keluarganya. Sedangkan dalam
Sacred Seven ada location, quality, chronology, severity, setting/onset,
modifying factors, dan associated symptomps. Dokter tidak menanyakan 6
komponen sacred seven,yaitu lokasi sakit giginya, bagaimana sifat khas
keluhannya, kronologi penyakit pasien, onset atau kapan timbulnya sakit
gigi, dan keluhan yang meneyertainya. Dokter hanya menanyakan apakah
ada faktor yang memperberat atau meringankan sakit gigi anak seperti ,”
Selain makan es krim Icha suka akan apalagi Bu?”.
b. Tidak diberikan
Dokter memang sudah memberikan pertanyaan ya atau tidak kepada
pasien dan orangtua seperti “Apakah kebiasaan yang dilakukan Icha ini
sudah lama dilakukan?”, “Apakah sebelumnya Icha pernah sakit gigi?”,
atau “Icha suka makan es krim ya?”, tetapi dokter tidak mengklarifikasi
atau mengulang kembali keluhan pasien dan orangtua. Padahal klarifikasi
dibutuhkan guna mendapatkan informasi yang lebih akurat.
c. Tidak diberikan
Dokter mencatat keluhan-keluhan yang diucapkan pasien, tetapi dokter
tidak mengulang kembali catatan yang dokter buat untuk mendapatkan
jawaban yang lebih akurat.
d. Diberikan dengan baik
Dokter memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan pertanyaan
selanjutnya misalnya saat dokter bertanya kepada sang Ibu, “Ibu bisa
ceritakan bagaimana awal timbulnya sakit ini?” lalu Ibu menjawab jika
Icha memiliki kebiasaan tidak menggosok gigi. Kemudian dokter kembali
bertanya, “Apakah kebiasaan ini sudah lama Icha lakukan bu?” dan Ibu
menjawab jika kebiasaan itu sudah dilakukan selama 6 bulan terakhir.
4. Mengerti harapan pasien
a. Perlu perbaikan
Dokter sudah menanyakan kepada orangtua apakah ada peran orangtua
yang memengaruhi kebiasaan Icha seperti “ Apakah Ibu pernah mengajak
Icha menggosok gigi?” Akan tetapi dokter hanya menanyakan pengaruh
orangtua dalam kesehatan pasien, dokter tidak menanyakan faktor lain
seperti lingkungannya atau peristiwa tertentu.
b. Tidak diberikan
Dokter tidak menanyakan kepercayaan dan harapan pasien serta orangtua
terhadap penyakit dan pengobatan yang akan dilakukan. Seharusnya
dokter bertanya sejauh mana harapan orangtua terhadap kesembuhan sakit
gigi anaknya, apakah hanya ingin sakit giginya hilang saja atau dilakukan
perawatan sampai gigi anak benar-benar sembuh.
c. Diberikan dengan baik
Dokter sudah merespon dan menjawab setiap pernyataan pasien secara
eksplisit atau menggunakan kata-kata secara langsung seperti saat Icha
mengeluh mengenai rasa pasta gigi yang tidak enak, “ Odolnya gak enak
dokter, rasanya tidak seperti ice cream” . Kemudian dokter merespon,
“Kalau gitu nanti dokter kasih odol yang enak, tapi dokter periksa gigi
Icha dulu ya. “
5. Berbagi informasi
a. Perlu perbaikan
Dokter belum menanyakan secara jelas kepada pasien dan orangtua
apakah mereka memahami penyakit pasien. Seharusnya dokter bisa
menjelaskan terlebih dahulu penyakit apa yang diderita pasien lalu
bertanya kepada pasien atau orangtua apakah mereka mengerti penyakit
apa yang diderita oleh pasien.
b. Diberikan dengan baik
Dokter sudah menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh Ibu dan
anak dalam berkomunikasi serta tidak menggunakan bahasa medis yang
sering tidak diketahui orang awam seperti saat mengatakan kepada anak
mengenai sakit giginya, “Giginya Icha berlubang nih, boleh dokter
periksa?”
c. Tidak diberikan
Dari awal dokter tidak menjelaskan agenda apa atau kegiatan apa yang
akan dilakukannya saat kunjungan pada hari itu, sehingga otomatis dokter
tidak memberitahu rencana terapi yang dilakukan dan pasien tentu tidak
akan mengerti rencana terapi apa yang akan dilakukan.
d. Diberikan dengan baik
Dokter sudah menanyakan ke orangtua apakah ada yang masih belum
jelas atau belum dengan bertanya, “Apakah masih ada yang ingin ditanya
Bu?”
6. Mencapai kesepakatan
a. Tidak diberikan
Dokter tidak melibatkan pasien dalam membuat keputusan dalam
pengobatan. Dokter langsung manyuruh pasien untuk duduk di dental unit
untuk diperiksa. Seharusnya dokter memberikan pilihan-pilihan
pengobatan kepada orangtua pasien dan orangtua pasien bisa memilih
pengobatan yang diinginkannya sesuai kesanggupannya.
b. Tidak diberikan
Dokter tidak menanyakan kesanggupan orangtua pasien untuk mengikkuti
rencan pengobatan. Dokter hanya menyuruh pasien duduk di dental unit
dan langsung melakukan pemeriksaan. Seharusnya dokter menyakan
apakah pasien dan orangtua sanggup mengikuti rencana pengobatan atau
perawatan karena kesangguapan orangtua dan pasien terutama ekonomi
mereka memengaruhi rencana terapi yang akan dilakuan.
c. Tidak diberikan
Dokter tidak menjelaskan dan mengidentifikasi hal-hal tambahan karena
sejak awal pun dokter tidak mengajak Ibu dan pasien dalam rencana
pengobatan. Seharusnya dokter menjelaskan detail-detail mengenai
rencana pengobatan atau perawatan yang dilakukan.
7. Penutup
a. Diberikan dengan baik
Dokter sudah memberi kesempatan kepada orangtua pasien untuk
menanyakan hal yang belum jelas mengenai hal-hal yang dokter
sampaikan seperti rencana kunjungan, “Apakah ada yang ingin Ibu
tanyakan lagi?”
b. Diberikan dengan baik
Dokter sudah memberikan pernyataan berisi simpulan kalau dokter tidak
bisa melihat reaksi pengobatan yang diberikan karena merupakan
kunjungan pertama Ibu dan Icha, “Baiklah Pak/Bu karena ini merupakan
kunjungan pertama Icha saya belum bisa melihat reaksi pengobatan yang
telah saya berikan pada Icha. Saya harap Bapak dan Ibu bisa membawa
Icha lagi ke klinik saya, agar saya dapat melakukan perawatan
selanjutnya.”
c. Perlu perbaikan
Dokter hanya menjelaskan kapan waktu kontrol selanjutnya saja, tetapi
tidak memberikan nomor orang yang harus dihubungi jika terjadi sesuatu
terhadap si pasien, “ Baiklah Bu, kalau begitu 4 hari lagi saya harap Ibu
dan Icha dating lagi kesini untuk dilakukan kontrol.”
2.3. Dual Patient / Triad of Concern
Dalam perawatan gigi, pasien yang datang tidak hanya orang dewasa tetapi
juga anak-anak. Pada umumnya anak merasa cemas saat dilakukan perawatan oleh
dokter gigi sehingga peran orangtua sangat enting dalam memberikan rasa aman dan
nyaman terhadap anak.
Hubungan yang terjalin antara dokter gigi, anak, dan
orangtua dikenal dengan Triad of Concern. Saat wawancara medis tidak hanya anak
saja yang memberikan informasi tetapi juga orangtuanya sehingga disebut dengan
Dual Patient. Kedudukan anak disini sebagai individu yang sakit sekaligus sebagai
anggota keluarga. Dengan Dual Patient, dokter dapat memperhatikan keduanya
sekaligus. Di kasus tertentu, bisa juga terjadi multi patient, hal ini terjadi saat anak
keluarga memiliki orang tua yang sibuk dan anak diserahkan sepenuhnya kepada
sepupu atau pengasuhnya.
Saat berkomunikasi dengan anak, orangtua memiliki peranan yang penting
karena pada umumnya orangtua lebih mengerti bahasa yang diucapkan anaknya
daripada orang lain. Komunikasi yang efektif antara dokter gigi, anak, dan orangtua
merupakan komponen penting dalam menumbuhkan kepercayaan pasien. Apabila
dokter gigi tanggap terhadap respon anak dan orangtua atas informasi yang
diberikan, anak dan orangtua akan bersikap lebih terbuka terhadap dokter gigi. Hal
ini memudahkan dokter gigi memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dan
menentukan diagnosis atas keluhan pasien.
2.4. Teknik wawancara dengan orangtua
Ada beberapa hal yang perlu ditekankan dalam wawancara dengan orangtua,yaitu:
1. Mendengarkan
Selain memberikan salam dan memeprkenalkan diri, dokter juga harus
menjadi seorang pendengar yang baik. Semua diwujudkan, baik melalui katakata (eksplisit) maupun menggunakan bahasa tubuh (implisit) seperti kontak
mata, menunjukan perhatian, cara kita duduk, dan tanda non verbal lainnya.
Pada wawancara medis dengan ornagtua dan anak, komunikasi non verval
dilakukan sama seperti komunikasi verbal. Tidak dianjurkan wawancara
sambil melakukan pemeriksaan fisik karena dapat menghilangkan kontak
mata. Dokter juga perlu memberi jeda waktu dalam berkomunikasi untuk
memberi orangtua kesempatan menenangkan emosinya dann mengingat
kembali riwayat penyakit anak.
2. Memfasilitasi dialog
Dokter harus menanggapi cerita orangtua dengan penuh empati. Dokter tidak
boleh menginterupsi atau mengubah pokok bahasan atau memberi komentar
yang menghakimi dan juga tidak boleh memberikan diagnosis dini yang dapat
memengaruhi keadaan orangtua. Pada saat wawancara tidak jarang orangtua
bercerita sebanyak-banyaknya, padahal dokter ingin membuat diagnosa
secepatnya. Oleh karena itu, diperlukan strategi dalam melakukan wawamcara
medis dengan orangtua, yaitu:
a. Mengetahui alasan mereka datang ke dokter gigi untuk menemukan
keluhan utamanya. Dokter harus memperhatikan dan menghargai
keluhan yang disampaikan dan menggunakan sesedikit mungkin
istilah medis yang bisa membuat bingung pasien.
b. Mengetahui harapan orangtua. Dokter bisa menanyakan apa yang
orangtua
harapkan
dari
kunjungannya
sehingga
dokter
bisa
mengetahui hal-hal yang diharapkan orangtua. Setelah harapan
diketahui, dokter bisa membuat rencana untuk tindakan selanjutnya
bersama orangtua. Dokter juga dapat menanyakan hal-hal yang terkait
dan melakukan pemeriksaan yang diperlukan.
c. Menuntun dalam melakukan wawancara dan tidak mendominasi.
Dokter harus mampu membimbing dan mengarahkan wawancara agar
tidak keluar dari topik. Dokter juga tidak boleh mendominasi dalam
wawancara, tetapi menjadi pendengar yang baik.
3. Sopan santun
Dokter diharapkan bersikap sopan santun, termasuk bersikap penuh atensi
atau peduli kepadda pasien dan oarnagtua. Orangtua lebih menyukai situasi
yang bersahabat dan profesional daripada kaku dan dokter yang sombong.
4. Bicara dengan anak
Komunikasi dengan anak dapat dilakukan sejak awal pertemuan, biasa dengan
menyalam atau menyapa anak. Dengan adanya kontak awal akan terbina
hubungan dokter-pasien yang baik pula. Selain itu, dokter juga bisa
mendiagnosis suatu penyakit secara tidak langsung.
5. Bila menghadapi penyakit yang akut
Saat menghadapi pasien dengan kasus yang akut, sebaiknya wawancara fokus
pada penyakitnya. Dokter tidak dianjurkan untuk memberi komentar terhadap
tindakan orangtua pada saat awal wawancara. Dokter bisa memberikan
komentar saat orangtua sudah tenang dan diagnosis serta tindakan sudah
dilakukan, yaitu saat melakukan konseling. Dokter bisa memberikan
informasi yang lebih lengkap tentang penyakit anaknya saat rasa khawatir
orangtua sudah reda.
6. Mengarahkan kembali wawancara
Dokter harus mampu mengendalikan wawancara dalam situasi apapun. Jika
terjadi situasi yang tidak terkendali seperti orangtua atau wawancara macet,
dokter harus merencanakan pertemuan berikutnya.
7. Konseling
Orangtua lebih menyukai penjelasan yang mudah diterima mengenai
diagnosis dan tat laksan penyakit anaknya. Dokter wajib memberikan nasihat
dan konseling terkait penyakit pasiennya. Pada pasien yang memiliki
keterbatasan mental, konseling dapat diberikan kepada orangtuanya dan
memberi tahu segala kemungkinan yang terjadi. Konseling tidak dianjurkan
melalui email ataupun telepon karena dokter tidak bisa melihat langsung
kondisi si pasien.
8. Penutup
Dalam wawancara medis dengan orangtua pasien, dokter harus melakukan
hal-hal berikut:
a. Membuat ringkasan semua informasi yang telah diceritakn orangtua.
Setlah itu, masukkan dalam rekam medis anak tersebut.
b. Memberikan edukasi yang terkait sakit anaknya dan menjelaskan
karakteristik anak serta kemungkinan prognosisnya.
c. Menanyakan kepada anak yang sudah besar, orangtua, ataupun
pengasuhnya apakah ada yang masih belum jelas. Jika waktunya
terbatas, dialog dapat dilakkukan di pertemuan selanjutnya. Membuat
rencana kunjungan selanjutnya.
2.5. Kesulitan wawancara dengan orangtua
Tidak setiap saat wawancara dengan orangtua berjalan menyenangkan. Suatu
saat dokter akan mengalami hal yang tidak menyenangkan atau sangat lelah. Ada
beberapa faktor-faktor yang menyulitkan wawancara, yaitu:
1. Hubungan pasien-dokter yang kurang baik
2. Sikap dokter yang ragu-ragu
3. Orangtua yang sangat khawatir
4. Respon pengobatan yang lambat
5. Keterbatasan dokter
6. Kultur yang berbeda
7. Sikap orangtua yang membebankan masalah ke dokter
8. Sikap dokter yang terlalu cepat menilai orang
9. Dokter yang terlalu mudah membuat diagnosis
10. Masalah system yang berlaku di indtitusi kesehatan
11. Waktu yang terbatas
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dalam berkomunikasi dengan pasien dan orangtua, ada beberapa langkah
yang harus diperhatikan dokter seperti saat memberi salam, membuka diskusi,
mengumpulkan informasi, mengerti harapan pasien, berbagi informasi, mencapai
kesepakatan, dan penutup. Namun dalam simulasi yang kelompok kami lakukan
masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Dalam simulasi kami, dokter sudah
memberikan salam, menaruh perhatian kepada pasien dan orangtua,berbicara dengan
anak menggunakan intonasi yang lembut, dan membuka diskusi dengan baik, tetapi
saat proses mengumpulkan informasi dokter tidak melakukannya dengan baik karena
tidak mengikuti pedoman Fundamental Four dan Sacred Seven dalam melakukan
wawancara medis. Dokter juga belum sepenuhnya mengerti dan menanyakan harapan
kesembuhan pasien dan orangtua. Saat menyampaikan informasi sudah dilakukan
dengan cukup baik tetapi tidak menanyakan ke orangtua pasien apakah dia mengerti
perawatan yang akan dilakukan. Namun ketika ingin mengambil keputusan mengenai
rencana perawatan, dokter tidak melibatkan orangtua dan pasien.
3.2. Saran
Komunikasi merupakan hal yang penting bagi seorang dokter untuk
mendapatkan informasi dan membuat diagnosa. Oleh karena itu, dokter sudah
seharusnya menjalin komunikasi dengan pasien. Dokter juga harus menaruh perhatian
dan memberi empati kepada pasien karena itu akan membuat pasien merasa
dimengerti. Dokter sebaiknya tidak bersikap ketus dan selalu melibatkan pasien dan
orangtua atau keluarga dalam membuat keputusan.
Daftar Pustaka
1.
Soetjiningsih, ed. Modul Komunikasi Pasien-Dokter. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2008: 13-4, 80-8.
Download