Uploaded by User33788

Makalah Perekonomian Indonesia Paradigma Pembangunan Perekonomian Indonesia Kelompok 5 Lanjutan

advertisement
PARADIGMA PEMBANGUNAN PEREKONOMIAN INDONESIA
Dosen Pengampu : Fivien Muslihatinningsih, S.E., M.Si.
Mata Kuliah/ Kelas : Perekonomian Indonesia/ H
Oleh :
Kelompok 5
Ellya Rahma Puspaning Arum
180810101103
Dimas Agung Budi Sentosa
180810101124
Audri Basudewi Vicidibta
180810101129
Dewi Sri Wahyuni
180810301227
Nike Ayu Fatmawati
180810301228
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JEMBER
2019
i
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah S.W.T yang telah memberikan rahmat, taufiq,
serta hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah Perekonomian
Indonesia kelas H yang berjudul “Paradigma Pembangunan Perekonomian
Indonesia” ini tepat pada waktunya.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah
berkontribusi dalam menyelesaikan pembuatan makalah sehingga bisa disusun
dengan baik dan rapi.
Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para
pembaca. Sebagai manusia biasa, kami sadar bahwa dalam pembuatan makalah
ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami berharap akan adanya
masukan yang membangun sehingga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi diri
sendiri maupun pengguna makalah ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jember, 3 November 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3
2.1 Paradigma Pertumbuhan Ekonomi ............................................................ 3
2.2 Paradigma Pembangunan Sosial ................................................................ 5
2.3 Paradigma Ekonomia-Politik .................................................................... 9
2.4 Paradigma Pembangunan Manusia ............................................................ 15
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 23
3.1 Kesimpulan ............................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 24
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan merupakan suatu usaha atau proses kearah yang lebih baik.
Pembanguan ekonomi artinya suatu usaha dalam memperbaiki perekonomian
negara ke arah yang lebih baik dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Dalam proses pembangunan ekonomi
diperlukan adanya suatu
perencanaan dan strategi dalam melaksanakan pembangunan. Membicarakan
masalah perencanaan pasti membicarakan masalah teori, ide, dan implementasi
pembangunan ekonomi yang tidak bisa lepas dari masalah kemiskinan dan
keterbelakangan. Kemiskinan dan keterbelakangan merupakan masalah yang
sering dihadapi oleh negara-negara sedang berkembang seperti negara Indonesia
saat ini.
Pada
awal
pembangunan
ekonomi
di
Indonesia,
perencanaan
pembangunan ekonomi Indonesia lebih berorientasi pada masalah pertumbuhan.
Pertumbuhan penduduk yang pesat merupakan salah satu faktor
penyebab
kemiskinan di Indonesia. Hal ini bisa dimengerti mengingat penghalang utama
bagi pembangunan di negara sedang berkembang adalah terjadinya pertumbuhan
penduduk yang cukup pesat yang seiring dengan laju pertumbuhan angkatan kerja
yang cepat pula. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor penghambat
pembangunan apabila tidak diimbangi dengan perkembangan kesempatan kerja.
Pembangunan ekonomi dilakukan untuk memulihkan perkonomian dan
mewujudkan landasan pembangunan berkelanjutan yang berdasarkan ekonomi
kerakyatan. Misi utama dari pembangunan ekonomi adalah untuk mengatasi krisis
ekonomi dan masalah-masalah ekonomi beserta dampak yang ditimbulkan agar
kesejahteraam masyarakat dalam negeri bisa merata.
1
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut dapat diketahui rumusan masalah, sebagai berikut:
1. Apa definisi dan masalah pembangunan ?
2. Bagaimana asumsi pembangunan ?
3. Bagaimana perubahan paradigma perekonomian Indonesia ?
4. Bagaimana kecenderungan konsep perekonomian Indonesia ?
5. Bagaimana pembangunan regional dan pembangunan khusus ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang diperoleh, sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui definisi dan masalah pembangunan;
2. Untuk mengetahui asumsi pembangunan;
3. Untuk mengetahui perubahan paradigma perekonomian Indonesia;
4. Untuk mengetahui kecenderungan konsep perekonomian Indonesia;
5. Untuk mengetahui pembangunan regional dan pembangunan khusus.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Paradigma Pertumbuhan Ekonomi
Dalam paradigma pertumbuhan ekonomi dapat dikaitkan dengan teoriteori yang menjadi landasan dalam pertumbuhan ekonomi. Berikut teori-teori oleh
beberapa ahli:
1. Teori Pertumbuhan Adam Smith
Menurut Adam Smith, terdapat dua aspek utama pertumbuhan ekonomi
yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk. Pada pertumbuhan
output total terdapat tiga unsur pokok dari sistem produksi suatu negara ialah
sumber daya alam yang tersedia, sumber daya insani dan stok barang modal yang
ada. Menurut Adam Smith, sumber daya alam yang tersedia merupakan wadah
yang paling mendasar dari kegiatan produksi suatu masyarakat. Jika suatu saat
nanti semua sumber daya alam tersebut telah digunakan secara penuh maka
pertumbuhan output pun akan berhenti. Sedangkan sumber daya insani memiliki
peranan yang pasif dalam proses pertumbuhan output dan stok modal merupakan
unsur produksi yang secara aktif menentukan tingkat output.
Sedangkan pada pertumbuhan penduduk, jumlah penduduk akan
meningkat jika tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari tingkat upah subsisten
yaitu tingkat upah yang pas-pasan untuk hidup. Selain itu, Adam Smith dalam
pemikirannya membagi pertumbuhan ekonomi menjadi 5 tahap dimulai dari masa
perburuan, masa beternak, masa bercocok tanam, masa perdagangan, dan masa
perindustrian.
2. Teori Marx
Karl
Marx
mengemukakan
berdasar
atas
sejarah
perkembangan
masyarakat dimana perkembangan masyarakat itu melalui 5 tahap yaitu
masyarakat komunal, masyarakat perbudakan, masyarakat feodal, masyarakat
kapitalis, dan masyarakat sosialis. Dalam perkembangan perekonomian di
masyarakat, Karl Marx membagi menjadi tiga tahapan yaitu feodalisme,
kapitalisme, dan sosialisme. Marx berpendapat bahwa kemampuan para
3
pengusaha untuk mengakumulasi modal terletak pada kemampuan mereka dalam
memanfaatkan nilai lebih produktivitas buruh yang dipekerjakan.
3. Teori Pertumbuhan Rostow
Rostow membagi proses perkembangan ekonomi suatu negara menjadi lima
tahap; (1) perekonomian tradisional, (2) prakondisi tinggal landas, (3) tinggal
landas, (4) menuju kedewasaan, dan (5) konsumsi massa tinggi (Mudrajad:2003)
(1) Perekonomian Tradisional
Dalam suatu masyarakat tradisional, tingkat produktivitas per pekerja
masih rendah. Oleh karena itu, sebagian besar sumber daya masyarakat
digunakan untuk kegiatan sektor pertanian.
(2) Pra kondisi Tinggal Landas
Tahap prasyarat tinggal landas ini didefinisikan Rostow sebagai suatu
masa transisi dimana masyarakat mempersiapkan dirinya untuk mencapai
pertumbuhan atas kekuatan sendiri (self sustained growth). Ciri-ciri dan
upayanya :
a. Peningkatan investasi di sektor infrastruktur/prasarana terutama
transportasi
b. Revolusi di bidang pertanian untuk memenuhi peningkatan permintaan
penduduk
c. Perluasan impor, termasuk impor modal oleh biaya produksi yang
efisien dan pemasaran sumber alam untuk ekspor.
(3) Tinggal Landas
Tahap tinggal landas sebagai suatu revolusi industri yang berhubungan
dengan revolusi metode produksi dan didefinisikan sebagai tiga kondisi
yang saling berkaitan.
(4) Tahap Menuju Kedewasaan
Tahap menuju kedewasaan ditandai dengan penerapan teknologi modern
secara efektif terhadap sumber daya yang dimiliki. Pada tahap ini terdapat
tiga perubahan yang penting :
a. Tenaga kerja berubah dan tidak terdidik menjadi baik
b. Perubahan watak pengusaha dan pekerja dari keras dan kasar berubah
menjadi manajer efisien yang halus dan sopan.
4
c. Masyarakat
jenuh
terhadap
industrialisasi
dan
menginginkan
perubahan lebih jauh
(5) Tahap Konsumsi Tinggi
Tahap konsumsi tinggi merupakan tahap akhir teori pertumbuhan Rostow.
Pada tahap ini ditandai dengan migrasi besar-besaran masyarakat pusat
perkotaan ke pinggiran kota (urbanisasi), akibat dari pusat kota dijadikan
sebagai tempat kerja.
Adapun pelaksanaan pembangunan di negara berkembang (developing
countries), penekanannya pada upaya peningkatan pendapatan masyarakat dan
pertumbuhan pendapatan nasional. Penerapan paradigma pertumbuhan dalam
pelaksanaan pembangunan berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Dalam
hubungan ini, PBB mencanangkan dasawarsa pembangunan pertama berlangsung
pada dasawarsa 1960-1970 dengan strategi pertumbuhan ekonomi negara
berkembang sebesar 5% pertahun. Pada periode ini ternyata mengabaikan masalah
distribusi
pendapatan
nasional
sehingga
timbul
masalah
kemiskinan,
pengangguran dan kesenjangan pembagian pendapatan, urbanisasi dan kerusakan
lingkungan.
2.2 Paradigma Pembangunan Sosial
Pembangunan sosial merupakan suatu proses perubahan sosial terencana
yang dirancang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, dimana
pembangunan
dilakukan
saling
melengkapi
proses pembangunan
ekonomi. Edi Suharto mengartikan Pembangunan Sosial sebagai pendekatan
pembangunan yang bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan manusia
secara paripurna, yakni memenuhi kebutuhan manusia yang terentang mulai
dari kebutuhan fisik sampai sosial. Secara konseptual, pembangunan dapat
dirumuskan sebagai upaya sistematis dan terencana untuk meningkatkan
kualitas hidup manusia dan masyarakat. Para ahli pembangunan menyarankan
pembangunan harus berpusat pada manusia, dengan menerapkan strategi yang
disebut people-centered development strategies. Karena itu, keseluruhan
upaya pembangunan ekonomi maupun nonekonomi harus ditujukan untuk
5
mengoptimalkan segenap potensi manusia. Pembangunan sosial berpangkal
pada suatu paradigma yang menempatkan manusia sebagai episentrum.
Pembangunan sosial didasari suatu komitmen bahwa manusia dan masyarakat
harus menjadi subjek sekaligus penerima manfaat seluruh program
pembangunan. Pembangunan sosial bertumpu pada beroperasinya institusiinstitusi sosial, antara lain keluarga, perkumpulan masyarakat, kelembagaan
desa/kecamatan, jejaring sosial, dan agen pengawasan, yang berperan
langsung dan berpartisipasi dalam pengelolaan program-program pembangunan. Beberapa program yang menjadi pusat pehatian pembangunan
sosial mencakup pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perumahan, dan
pengentasan kemiskinan.
a. Latar Belakang Munculnya Pembangunan Sosial
Pada awalnya, munculnya konsep pembangunan sosial ini berasal dari
kritik terhadap pembangunan yang terfokus pada kemajuan ekonomi dan
tidak memperhatikan aspek sosial. Konsep yang berkembang pada tahun
1980-an ini menawarkan kesejahteraan di bidang ekonomi serta kesejahteraan
di bidang sosial pada berbagai tingkatan. Pola yang diperkenalkan oleh
pembangunan
sosial
adalah
adanya
upaya
harmonisasi kebijakan
sosial dengan pengukuran yang dirancang untuk memajukan pembangunan
ekonomi. Sebagai salah satu pendekatan dalam pembangunan, pada awal
perkembangannya,
seringkali
ekonomi. Hal
terkait
ini
dipertentangkan
dengan
pemahaman
dengan
orang
pembangunan
banyak
yang
menggunakan istilah pembangunan yang dikonotasikan sebagai perubahan
ekonomi yang diakibatkan oleh industrialisasi.
Pada awal tahun 1980-an, konsep pembangunan sosial mulai populer
dalam lingkup pekerjaan sosial. Kemunculan konsep pembangunan sosial
merupakan
refleksi
atas
ekonomi. Pembangunan
evaluasi
ekonomi
terhadap
dinilai
jalannya
pembangunan
menyisakan distorsi masalah
sosial seperti kemiskinan. Era industrialisasi telah mendorong kemajuan
kapitalisme yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi sehingga aspekaspek sosial terabaikan. Seiring dengan kemajuan kapitalisme, meningkat
pula tekanan masalah sosial, sehingga menyadarkan akan pentingnya konsep
6
pembangunan yang tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hidup
manusia dari aspek fisik, tetapi juga merespon masalah pembangunan yang
terdistorsi. Pembangunan terdistorsi dianggap sebagai residu pembangunan
yang muncul karena paradigma yang salah tentang pembangunan di mana
pembangunan yang terjadi tidak lagi berorientasi pada kesejahteraan manusia.
Oleh karena itu, konsep pembangunan sosial hadir untuk melengkapi proses
pembangunan ekonomi.
b. Tujuan dari Pembangunan Sosial
1. Pembangunan sosial pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan taraf
hidup manusia melalui upaya-upaya untuk mengangkat manusia dari
keterbelakangan menuju kesejahteraan.
2. Pembangunan sosial bertujuan meningkatkan kapasitas perseorangan dan
institusi
mereka,
memobilisasi
dan
mengelola sumber
daya guna
menghasilkan perbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas
hidup sesuai dengan aspirasi mereka sendiri demi mencapai hasil yang
lebih baik dan mencapai keadilan sosial.
Pembangunan
kenyataannya
lebih
ekonomi
yang
berjalan
selama
terfokus
pada
pembangunan
ini
fisik
pada
seperti
pertumbuhan produk nasional bruto (PNB, GNP) dan pembangunan
gedung-gedung,
sementara
pemerataan
penjagaan lingkungan kurang
hasil
diperhatikan,
pembangunan
sehingga
dan
proses
pembangunan justru menciptakan jarak semakin lebar antara yang kaya
dan miskin, serta mengancam keberlangsungan lingkungan. Karena itu,
pembangunan sosial harus dipahami dalam konteks pembangunan
manusia dan pemberdayaan (institusi) masyarakat sebagai modal berharga
pembangunan.
Manusia berperan sentral dalam pembangunan yang tecermin pada
penduduk berkualitas, yang sangat diperlukan untuk meningkatkan
produktivitas. Modal manusia mencakup empat elemen pokok, yaitu:
7

Capacity, mencerminkan kemampuan dan kecakapan penduduk
yang diraih melalui proses pendidikan dan pelatihan berdasarkan
investasi berjangka panjang;

Development, tingkat pendidikan angkatan kerja dengan jenisjenis keterampilan dan kemahiran, yang dikembangkan secara
berkelanjutan sehingga tetap relevan dengan kebutuhan pasar
kerja.

Deployment,
tingkat
keterampilan
dan
kemahiran
yang
terakumulasi berdasarkan pengalaman pendidikan dan pelatihan,
yang dapat diterapkan di lapangan kerja untuk memacu
produktivitas bangsa;

Know-how, penduduk yang memiliki kemahiran dan keterampilan
teknikal dengan spesialisasi tertentu dalam cakupan yang luas dan
mendalam (Global Human Capital Report 2017).
Sumbangan penting pembangunan sosial terletak pada penyediaan
modal manusia yang bermutu sebagai pilar utama pembangunan ekonomi.
c. Contoh Pembangunan Sosial
1. Meningkatkan mutu pendidikan di daerah-daerah terpencil
Bukti nyata untuk saat ini, mutu pendidikan di masing-masing
daerah terpencil masih di bilang sangat kurang mumpuni. Seperti halnya
di daerah timur, seperti Papua, Sulawesi, dan sekitarnya. Walaupun di
daerah-daerah tersebut sudah ada pendidikan, namun menurut saya masih
kurang berkembang. Saya sendiri memperkirakan bahwa hal ini terjadi
karena salah satunya yaitu kurangnya tenaga pendidikan. Tenaga
kependidikan yang sangat minim sekali mengakibatkan pemerataan
menjadi kurang optimal. Salah satu pembangunan sosial yaitu dengan
memperbaiki pendidikan agar tingkat moral dan sosial juga dapat
bertambah, dan hal ini perlu adanya pihak-pihak tertentu yang notabennya
sudah memiliki sifat sosial yang tinggi. Seperti para guru relawan, mereka
bertujuan dan memiliki maksud selain untuk menjadi guru, mereka juga
ingin membantu mengaplikasikan yang namanya pembangunan sosial.
8
Mereka di kirim ke pelosok-pelosok untuk memperbaiki pendidikan
masyarakat setempat secara halus dan perlahan. Karena dari pendidikan
itu, pembangunan sosial akan tercipta.
2.3 Paradigma Ekonomi-Politik
Ekonomi politik adalah (suatu gugusan teori yang didasarkan pada
pemahaman mengenai) saling ketergantungan antara ekonomi dengan politik.
Ekonomi dan politik berinteraksi dengan banyak cara dalam rangka alokasi
sumberdaya, distribusi pendapatan, stabilisasi. Ekonomi dan politik tidak dapat
dipisahkan (Bruno S. Frey, 1994). Para pengambil keputusan (aktor) bidang
ekonomi dan bidang politik tergantung satu sama lain dan keduanya adalah aktor
utama sistem ekonomi politik. Keputusan yang diambil oleh para aktor, dan
karena itu perkembangan dan hasil seluruh sistem, tergantung pada aturan dan
institusi yang membentuk kerangka dasarnya. Perilaku ekonomi, dengan kata lain,
dapat dipengaruhi dengan mengubah aturan dan institusi. Perubahan semacam ini
hanya mungkin terjadi melalui suatu konsensus sosial, dalam suatu situasi di mana
para aktor tidak dapat memastikan apakah kepentingan pokok mereka akan
terpenuhi dengan adanya perubahan aturan dan institusi itu atau tidak.
Ekonomi politik muncul pada abad 18 didorong oleh perubahan dramatik
dalam sistem pemenuhan kebutuhan, baik dalam hal sifat dan jenis kebutuhan
maupun dalam hal cara produksi dan distribusi barang dan jasa untuk
memenuhinya. Perubahan tersebut ditandai oleh pergeseran istilah dari
“economy” menjadi “political economy”. Karena itu, pengertian ekonomi politik
dapat ditelusuri dari sisi ekonomi maupun dari sisi politik (Caporaso dan Levine,
1992).
Substansi Ekonomi Politik antara lain berupa persoalan interdependensi,
dependensi,
keterbelakangan,
pertumbuhan,
perkembangan,
pembangunan
ekonomi sosial, sistem-sistem ekonomi, realisme dan idealisme, linear dan
strukturalis internasional, globalisasi, regionalisme, dan sebagainya. Dalam
pendekatan Ekonomi Politik, masalah yang dihadapi antara lain mencakup
variabel-variabel politik, variabel ekonomi, variabel sosial budaya, sedangkan
9
faktor-faktor yang berpengaruh meliputi (1) intervensi pemerintah, perubahan
kebijakan, tindakan politik ekonomi, (2) kenaikan harga di pasar, (3) kemerosotan
daya beli masyarakat, (4) kelangkaan sumber daya, (5) revolusi sosial,
transformasi industrial, (6) revolusi dan kemajuan ilmu, pengetahuan, teknologi,
komunikasi, dan informasi.
Secara teoritik kajian eknomi politik pembangunan berguna :
1. Untuk mengetahui mengapa dan dengan cara bagaimana kebijakan
pembangunan (termasuk kebijakan ekonomi dan politik) dirumuskan dan
diimplementasikan dalam suatu negara dan siapa saja yang terlibata dalam
pengambilan keputusan dan kebijakan.
2. Untuk memahami kebijakan pembangunan dan dampaknya dengan benar pada
kurun waktu tertentu dengan menelusuri secara cermar perilaku, motivasi dan
preferensi para aktornya. Sehingga diperoleh jawaban siapa, memperoleh apa,
berapa banyak, mengapa dan dengan cara bagaimana.
3. Sebagai alat analisa untul mengkaji berbagai isu social yang menyangkut
persoalan proses kebijakan dan pembangunan pada umumnya (Suryono, 2006:10)
a. Perkembangan Teori Pembangunan Dalam Perspektif Ekonomi

Teori Ekonomi Klasik Adam Smith, aspek utama pertumbuhan ekonomi
dibedakan atas dua yaitu:
1. Pertumbuhan Output Total
5 Unsur pokok dari sistem produksi suatu negara menurut Smith ada tiga
yaitu:
a) sumberdaya alam yang tersedia (atau faktor produksi "tanah")
b) sumberdaya insani (atau jumlah penduduk)
c) stok barang modal yang ada.
2. Pertumbuhan Penduduk
Menurut Adam Smith, jumlah penduduk akan meningkat jika tingkat upah
yang berlaku lebih tinggi dari tingkat upah subsisten yaitu tingkat upah
yang pas-pasan untuk hidup. (Pasaribu, 2012)
Teori Ekonomi Keynesian (Harrod-Domar)
10
Teori Harrod-Domar itu merupakan perluasan dari analisis Keynes mengenai
kegiatan ekonomi secara nasional dan masalah tenaga kerja. Analisis Keynes
dianggap kurang lengkap karena tidak membicarakan masalah-masalah ekonomi
jangka panjang. Sedangkan teori Harrod-Domar ini menganalisis syarat-syarat
yang diperlukan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dalam jangka
panjang. Dengan kata lain, teori ini berusaha menunjukkan syarat yang
dibutuhkan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dengan mantap
(steady growth) (Pasaribu, 2012).
Teori Ekonomi Neo Klasik (Solow-Swan)
Teori pertumbuhan ekonomi Neo Klasik berkembang sejak tahun 1950-an. Teori
ini berkembang berdasarkan analisis-analisis mengenai pertumbuhan ekonomi
menurut pandangan ekonomi Klasik. Ekonomi yang menjadi perintis dalam
mengembangkan teori tersebut adalah Robert Solow (Massachussets Institute of
Technology) dan Trevor Swan (The Australian National University). Solow ini
memenangkan hadiah Nobel Ekonomi tahun 1987 atas karyanya tentang teori
pertumbuhan ekonomi ini. Menurut teori ini, pertumbuhan ekonomi tergantung
kepada pertambahan penyediaan faktorfaktor produksi (penduduk, tenaga kerja,
dan akumulasi modal) dan tingkat kemajuan teknologi. Pandangan ini didasarkan
kepada anggapan yang mendasari analisis Klasik, yaitu perekonomian akan tetap
mengalami tingkat pengerjaan penuh (full employment) dan kapasitas peralatan
modal akan tetap sepenuhnya digunakan sepanjang waktu.
b. Perkembangan Teori Pembangunan Dalam Perspektif Pembangunan
Bangsa
1) Teori Pembangunan Politik
Dalam studi pembangunan politik ada beberapa konsep yang perlu
dipahami sebelum menjelaskan definisi pembangunan politik, yaitu perubahan,
pembangunan dan modernisasi politik. Pembangunan dan modernisasi politik
merupakan perubahan politik, bukan sebaliknya (Ramlan Surbakti dalam Kadir,
2014). Perubahan politik dapat diartikan terjadinya perbedaan karakteristik dari
11
suatu sistem politik pada periode tertentu ke periode lain atau dari sistem politik
yang satu ke sistem politik lain.
Para penulis Indonesia tentang pembangunan politik, seperti Prof. Dr.
Juwono Sudarsono, Dr. Yahya Muhaimin, Dr. Afan Gaffar dan lain-lain, dalam
garis besarnya membahas tentang definisi pembangunan politik. Mereka telah
mengutip atau menerjemahkan definisi pembangunan politik yang telah
dikumpulkan oleh Lucian W. Pye dalam usahanya mengembangkan teori
pembangunan
politik.
(Lucian
W.
Pye
dalam
Kadir,
2014)
berhasil
menginventarisasi sepuluh definisi mengenai pembangunan politik yang disajikan
dalam bukunya yang berjudul “Aspects of Political Development” yang telah
diterjemahkan oleh para penulis Indonesia tersebut di atas sebagai berikut:
a) Pembangunan politik sebagai prasyarat politik bagi pembangunan ekonomi
b) Pembangunan politik sebagai tipe politik masyarakat industry
c) Pembangunan politik sebagai modernisasi politik
d) Pembangunan politik sebagai operasi negara-Bangsa
e) Pembangunan politik sebagai pembangunan Administrasi dan hokum
f) Pembangunan politik sebagai mobilisasi dan Partisipasi massa
g) Pembangunan politik sebagai pembinaan Demokrasi
h) Pembangunan politik sebagai stabilitas dan Perubahan teratur
i) Pembangunan politik sebagai mobilisasi dan Kekuasaan
j) Pembangunan politik sebagai satu aspek proses Perubahan sosial yang
multidimensional
2) Teori Pembangunan Sosial Budaya
Dalam rangka memahami lingkungan sosial, sesuai dengan konsep pembangunan
berkelanjutan, maka titik berat perhatian adalah pada kesinambungan dari
interaksi-interaksi di dalam lingkungan sosial itu sendiri dengan lingkunganlingkungan yang lain. Terkait dengan kesinambungan lingkungan sosial maka
12
setidaknya terdapat enam komponen atau ruang lingkup lingkungan sosial yang
perlu diperhatikan (Sjafari, 2010). Keenam komponen tersebut ialah: addanya
pengelompokan sosial (social grouping), media sosial (social media), pranata
sosial (social institution), pengendalian sosial (social control), penataan sosial
(social alignment), dan kebutuhan sosial (social needs) (Boedhisantoso, dalam
Sjafari, 2010).
3) Teori WW Rostow
Menurut Rostow, proses pembangunan ekonomi bisa dibedakan ke dalam 5 tahap:
a) Masyarakat tradisional (the traditional society),
b) Prasyarat untuk tinggal landas (the preconditions for take-off),
c) Tinggal landas (the take-off)
d) Menuju kekedewasaan (the drive to maturity), dan
e) Masa konsumsi tinggi (the age of high mass-consumption)
Dasar pembedaan tahap pembangunan ekonomi menjadi 5 tahap tersebut adalah:
a) Karakteristik perubahan keadaan ekonomi,
b) sosial, dan
c) politik, yang terjadi.
Menurut Rostow, disamping perubahan seperti itu, pembangunan ekonomi berarti
pula sebagai suatu proses yang menyebabkan antara lain:
a) perubahan orientasi organisasi ekonomi, politik, dan sosial yang pada mulanya
berorientasi kepada suatu daerah menjadi berorientasi ke luar.
b) perubahan pandangan masyarakat mengenai jumlah anak dalam keluarga, yaitu
dari menginginkan banyak anak menjadi keluarga kecil.
c) perubahan kegiatan investasi masyarakat, dari melakukan investasi tidak
produktif (menumpuk emas, membeli rumah, dan sebagainya) menjadi investasi
yang produktif.
13
d) perubahan sikap hidup dan adat istiadat yang terjadi kurang merangsang
pembangunan ekonomi (Pasaribu, 2012)
c. Teori-Teori Yang Berkaitan Dengan Ekonomi Politik
1) Teori Merkantilisme
Merkantilisme mengganggap perekonomian tunduk pada komunitas politik dan
khususnya pemerintah. Aktivitas ekonomi di lihat dalam konteks yang lebih besar
atas peningkatan kekuatan negara. Organisasi yang 14 bertanggung jawab dalam
mempertahankan dan memajukan kepentingan nasional yang di sebut negara,
memerintah di ats kepentingan ekonomi swasta. Kekayaan dan kekuasaan adalah
tujuan yang saling melengkapi bukan saling bertentangan. Ketergantungan
ekonomi pada negara-negara lain seharusnya di hindari sejauh mungkin. Ketika
kepentingan ekonomi dan keamanan pecah, kepentingan keamanan mendapat
prioritas.
2) Liberalisme Ekonomi
Kaum ekonomi liberal berpendapat bahwa perekonomian pasar merupakan
suatu wilayah otonom dari masyarakat yangberjalan menurut hukum ekonominya
sendiri. Pertukaran ekonomi bersifat “positive sum game” dan pasar cenderung
akan nampak memaksimalkan keuntungan bagi semua individu, rumah tangga,
dan perusahaan yang berpartisipasi dalam pertukaran pasar. Perekonomian
merupakan wilayah kerjasama bagi keuntungan timbal balik antar negara dan juga
antar individu. Dengan demikian, perekonomian internasional seharusnya di
dasarkan perdagangan bebas
3) Marxisme
Perekonomian adalah tempat eksploitasi dan perbedaan antar kelas sosial,
khususnya kaum borjuis dan kaum proletar. Politik sebagian besar ditentukan oleh
konteks sosial ekonomi. Kelas ekonomi yang dominan juga dominan secara
politik. Hal itu berarti bahwa dalam perekonomian kapitalis kaum borjuis akan
menjadi kelas berkuasa. Pembangunan kapitalis global bersifat tidak seimbang
bahkan menghasilkan krisis dan kontradiksi, baik antar Negara maupun antar
kelas sosial. Ekonomi Politik marxis selanjutnya hirau pada sejarah tentang
14
perluasan kapitalisme global, perjuangan antar kelas dan Negara yang telah
membangkitkan kebangkitan di seluruh dunia, dan bagaimana transformasi yang
revolusioner dari dunia tersebut mungkin akan muncul.
2.4 Paradigma Pembangunan Manusia
Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Pembangunan
manusia menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, bukan
alat
dari
pembangunan.
Pembangunan
manusia
adalah
sebuah
proses
pembangunan yang bertujuan agar mampu memiliki Iebih banyak pilihan,
khususnya dalam pendapatan, kesehatan dan pendidikan. Pembangunan manusia
sebagai ukuran kinerja pembangunan secara keseluruhan dibentuk melalui
pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan
sehat; pengetahuan dan kehidupan yang layak dan masing-masing dimensi
direpresentasikan oleh indikator. Tujuan utama pembangunan adalah menciptakan
lingkungan yang memungkinkan rakyat untuk menikmati umur panjang, sehat,
dan menjalankan kehidupan yang produktif (United Nation Development
Progamme-UNDP).
Pembangunan
manusia
didefinisikan
sebagai
proses
perluasan pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people's choices).
Pengertian IPM, IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat
mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan,
pendidikan, dan sebagainya. IPM diperkenalkan oleh UNDP pada tahun 1990
dan dipublikasikan
secara berkala dalam
laporan tahunan
Human
Development Report (HDR). Adapun manfaat IPM

IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya
membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/ penduduk).

IPM
dapat
menentukan
peringkat
atau
level
pembangunan
suatu
wilayah/negara.

Bagi Indonesia, IPM merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran
kinerja Pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator
penentuan Dana Alokasi Umum (DAU).
Perubahan metodologi pembangunan manusia
1.
1990 Launching: Komponen IPM yang digunakan AHH, AMH, PDB per
kapita Metode agregasi menggunakan rata-rata aritmatik.
15
2.
1991 Penyempurnaan: Komponen IPM yang digunakan AHH, AMH, RLS,
PDB per kapita.
3.
1995 Penyempurnaan: Komponen IPM yang digunakan AHH, AMH,
Kombinasi APK, dan PDB per kapita.
4.
2010 UNDP merubah metodologi: Komponen IPM yang digunakan AHH,
RLS, HLS, dan PNB per Kapita, Metode agregasi menggunakan rata-rata
geometrik.
5.
2011Penyempurnaan: Mengganti tahun dasar PNB per kapita dari tahun 2008
menjadi 2005.
6.
2014 Penyempurnaan: Mengganti tahun dasar PNB per Kapita dari 2005
menjadi 2011, merubah metode agregasi indeks pendidikan dari rata-rata
geometrik menjadi rata-rata aritmatik
Alasan yang dijadikan dasar perubahan metodologi penghitungan
pembangunan manusia adalah beberapa indikator sudah tidak tepat untuk
digunakan dalam penghitungan IPM. Angka melek huruf sudah tidak relevan
dalam mengukur pendidikan secara utuh karena tidak dapat menggambarkan
kualitas pendidikan. Selain itu, karena angka melek huruf di sebagian besar
daerah sudah tinggi, sehingga tidak dapat membedakan tingkat pendidikan antar
daerah dengan baik dan PDB per kapita tidak dapat menggambarkan pendapatan
masyarakat pada suatu wilayah, serta penggunaan rumus rata-rata aritmatik dalam
penghitungan IPM menggambarkan bahwa capaian yang rendah di suatu dimensi
dapat ditutupi oleh capaian tinggi dari dimensi lain.
a. Kebijakan Pembangunan Manusia
Melalui pemahaman yang mendalam atas konsep pembangunan manusia,
penting kiranya bagi para perencana pembangunan untuk melihat keseluruhan
permasalahan dan kebutuhan pembangunan secara komprehensif, sehingga dapat
merumuskan kebijakan yang tepat untuk menyelenggarakan pembangunan
manusia di daerah. Kebijakan yang tepat dalam pembangunan manusia, dapat
disusun dari mulai proses analisis pembangunan manusia, hingga impliksinya
terhadap strategi intervensi dan kebutuhan program-program yang berwawasan
pembangunan manusia.
16
Sesuai dengan konsep global pembangunan manusia sebagaimana diuraikan di
depan, maka kebijakan pembangunan manusia dapat diuraikan sebagai
berikut: Pertama, kebijakan pembangunan manusia haruslah diupayakan pada
upaya:
1. Meningkatkan
produktivitas.
Setiap
penduduk
harus
ditingkatkan
kemampuannya untuk dapat secara kreatif dan mandiri menciptakan
pekerjaan, dan atau sumber-sumber pendapatan yang memungkinkannya
untuk dapat hidup layak. Pemerintah, dalam hal ini, dapat menciptakan
iklim yang kondusif guna mendukung upaya tersebut. Berkaitan dengan
ini, pendidikan (formal maupun non formal) dan kesehatan menjadi aspek
penting perlu mendapatkan prioritas.
2. Meningkatkan pemerataan. Dalam upaya meningkatkan kemampuan
produktivitas tersebut, setiap penduduk harus memiliki kesempatan yang
sama dan akses terhadap semua sumber daya ekonomi dan sosial yang ada.
Berbagai kebijakan pembangunan yang berwawasan pembangunan
manusia, senantiasa berorientasi pada pemerataan dan hendaknya tidak
diskriminatif. Setiap penduduk, laki-laki ataupun perempuan, dari kota
maupun desa, dan pokoknya siapapun agar diupayakan memperoleh
kesempatan dan akses yang sama secara proporsional. Bebagai kemudahan
(akses) harus diciptakan, baik ekonomi maupun sosial, kepada setiap
penduduk. Dalam hal ini, semua hambatan yang memperkecil kesempatan
untuk memperoleh akses tersebut harus dihapus, sehingga dapat
mengambil manfaat dari kesempatan yang ada dan berpartisipasi dalam
kegiatan yang meningkatkan kualitas hidup.
3. Meningkatkan kesinambungan. Pemberian akses terhadap sumberdaya
ekonomi dan sosial, harus dipastikan tidak hanya untuk generasi-generasi
sekarang, tetapi harus dipikirkan juga untuk generasi-generasi mendatang.
Semua sumberdaya (fisik, manusia, dan lingkungan) jangan sampai habis
atau rusak, namun harus selalu diperbaharui. Kebijakan pembangunan ke
depan, memberikan prioritas pada upaya untuk menerapkan konsep
pembangunan berwawasan lingkungan secara tepat dan meluas.
17
4. Meningkatkan
pemberdayaan.
Penduduk
harus
dilibatkan
dalam
pengambilan keputusan dan proses yang akan menentukan (membentuk)
kehidupan mereka. Penduduk harus diberikan kesempatan dalam
mengambil manfaat dari proses pembangunan. Oleh karena itu,
pembangunan harus “oleh” penduduk dan bukannya hanya “untuk“
penduduk/mereka. Dalam hal ini, kebijakan pembangunan manusia harus
senantiasa diarahkan kepada upaya untuk mendorong dan menemukan dan
mengenali permasalahannya sendiri, mengatasi sendiri dan untuk mereka
sendiri dalam batas kemampuannya. Kebijakan mendatang, dalam
pembangunan manusia, harus diarahkan pada proses pemberdayaan
masyarakat. Berbagai program pemberdayaan masyarakat yang akhir-akhir
ini digulirkan, dengan demikian menjadi sangat relevan.
Kedua, untuk dapat mempromosikan dan mengoperasionalkan pembangunan
manusia dalam langkah nyata di seluruh daerah, Ditjen Bina Pembangunan
Daerah bekerjasama dengan BPS, menetapkan kebijakan sebagai berikut:
1. Melakukan advokasi pembangunan manusia, guna menyebarluaskan
pemahaman mengenai hakekat pembangunan yang terpusat pada manusia.
2. Melakukan simplifikasi dari pembangunan manusia yang berdimensi luas
dengan memunculkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai
ukuran pembangunan, baik untuk keperluan advokasi, evaluasi, maupun
perencanaan dan perumusn kebijakan pembangunan di daerah.
3. Menyiapkan metodologi penyusunan laporan pembangunan manusia
(LPM) dan analisa situasi pembangunan manusia (ASPM) untuk
digunakan daerah, sebagai basis penyusunan kebijakan pembangunan
manusia sesuai dengan permasalahan masing-masing daerah melalui
pendekatan regional. (Untuk ini dapat dibaca buku petunjuk penyusunan
LPM , Ditjen Bangda,1998)
4. Menyiapkan penyusunan IPM level kabupaten/ kota, sebagai alat evaluasi
kinerja pembangunan kabupaten/kota dalam skala nasional.
18
b. Perkembangan pembangunan manusia di Indonesia
Pada 15 April 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis IPM
Indonesia tahun 2018. Secara umum, pembangunan manusia Indonesia terus
mengalami kemajuan selama periode 2010 hingga 2018. IPM Indonesia
meningkat dari 66,53 pada tahun 2010 menjadi 71,39 pada tahun 2018. Selama
periode tersebut, IPM Indonesia rata-rata tumbuh sebesar 0,88 persen per tahun
dan meningkat dari level sedang menjadi tinggi mulai tahun 2016. Adapun pada
periode 2017 - 2018, IPM Indonesia tumbuh 0,82 persen, yakni dari 70,81
menjadi 71,39.
Peningkatan capaian IPM tentu tidak lepas dari peningkatan setiap
komponennya. Selama periode 2010 - 2018, peningkatan IPM didorong oleh
kenaikan setiap komponen pembentuk IPM. Komponen pertama adalah Umur
Harapan Hidup saat lahir (UHH) yang merepresentasikan dimensi umur panjang
dan hidup sehat. Secara umum, UHH di Indonesia terus meningkat dari tahun ke
tahun. Selama periode 2010 hingga 2018, Indonesia telah berhasil meningkatkan
UHH sebesar 1,39 tahun atau tumbuh sebesar 0,25 persen per tahun. Pada tahun
2010, UHH di Indonesia hanya sebesar 69,81 tahun, dan pada tahun 2018 telah
mencapai 71,20 tahun. Hal ini berarti bayi yang lahir pada tahun 2018 memiliki
harapan untuk dapat hidup hingga 71,20 tahun, lebih lama 0,14 tahun
dibandingkan dengan mereka yang lahir tahun sebelumnya. Secara tidak
langsung, peningkatan UHH ini menunjukkan bahwa derajat kesehatan
masyarakat Indonesia semakin baik dalam semua aspek kesehatan.
Komponen kedua pembentuk IPM adalah pengetahuan yang dibentuk oleh
dua indikator, yaitu Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah
penduduk usia 25 tahun ke atas. Kedua indikator ini terus meningkat dari tahun ke
tahun. Selama periode 2010 hingga 2018, Harapan Lama Sekolah di Indonesia
telah meningkat sebesar 1,62 tahun, sementara Rata-rata Lama Sekolah bertambah
0,71 tahun. Selama periode 2010 hingga 2018, Harapan Lama Sekolah secara
rata-rata tumbuh sebesar 1,70 persen per tahun. Meningkatnya Harapan Lama
Sekolah menjadi sinyal positif yakni semakin banyak penduduk Indonesia yang
bersekolah. Pada tahun 2018, Harapan Lama Sekolah di Indonesia telah mencapai
12,91 tahun yang berarti bahwa anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk
19
menamatkan pendidikan mereka hingga lulus SMA atau D1. Sementara itu, Ratarata Lama Sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas di Indonesia tumbuh 1,14
persen per tahun selama periode 2010 hingga 2018. Pertumbuhan yang positif ini
merupakan modal penting dalam membangun kualitas manusia Indonesia yang
lebih baik. Pada tahun 2018, secara rata-rata penduduk Indonesia usia 25 tahun ke
atas mencapai 8,17 tahun, atau telah menyelesaikan pendidikan hingga kelas IX.
Komponen terakhir pembentuk IPM adalah standar hidup layak yang
direpresentasikan oleh pengeluaran per kapita (harga konstan 2012). Pada tahun
2018, pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia mencapai Rp 11,06 juta per
tahun. Selama delapan tahun terakhir, pengeluaran per kapita masyarakat
meningkat sebesar 2,00 persen per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat
kesejahteraan penduduk Indonesia semakin baik.
c. Capaian pembangunan manusia di tingkat provinsi
Arah pembangunan manusia di tingkat provinsi sejalan dengan
perkembangan pembangunan manusia di tingkat nasional. Secara umum,
pembangunan manusia di level provinsi terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada
tahun 2018, seluruh provinsi mengalami peningkatan pembangunan manusia.
Meskipun demikian, peningkatan pembangunan manusia bervariasi antar provinsi.
Pada tahun 2018, IPM tertinggi pada tingkat provinsi masih diraih oleh Provinsi
DKI Jakarta dengan IPM sebesar 80,47 sedangkan capaian terendah ditempati
oleh Provinsi Papua dengan IPM sebesar 60,06. Provinsi DKI Jakarta sudah
menjadi provinsi dengan IPM tertinggi sejak IPM dihitung oleh BPS pada tahun
1996.
Sebagai ibukota negara, Provinsi DKI Jakarta merupakan pusat dari
seluruh kegiatan, baik pendidikan, perekonomian, bisnis, dan lain-lain. Hal ini
mendukung Provinsi DKI Jakarta dalam pencapaian pembangunan manusia.
Sarana dan prasarana Provinsi DKI Jakarta cukup lengkap dan memadai. Akses
untuk mendapatkan pendidikan maupun kesehatan pun sangat mudah. Selain itu,
sebagai provinsi dengan banyak pusat kegiatan, secara tidak langsung menjadikan
Provinsi DKI Jakarta sebagai lumbung sumber daya manusia dengan pendidikan
tinggi.
20
Provinsi Papua justru relatif mengalami banyak kesulitan, seperti sarana prasarana
pendidikan dan kesehatan yang kurang lengkap dan juga akses untuk mencapai
pendidikan dan kesehatan yang sulit. Hal ini sangat bertolak belakang dengan
Provinsi DKI Jakarta. Kondisi geografis Papua yang sangat sulit juga berdampak
langsung terhadap akses masyarakat terhadap kesehatan, pendidikan, dan
ekonomi. Namun, pembangunan infrastruktur yang massif dilakukan di bumi
papua selama empat setengah tahun terakhir oleh pemerintahan Jokowi - JK telah
berhasil mengubah wajah pembangunan manusia di papua. Pada periode 2015 2018, kualitas hidup manusia di Papua meningkat secara siginifikan. Hal ini
tercermin dari peningkatan IPM Provinsi Papua dari 57,25 di tahun 2015 menjadi
60,06 di tahun 2018. Bahkan selama periode 2017 - 2018, Provinsi Papua tercatat
sebagai provinsi dengan kemajuan pembangunan manusia tercepat di Indonesia,
yakni sebesar 1,64 persen. Pada periode tersebut, IPM Provinsi Papua tumbuh dari
59,09 menjadi 60,06. Capaian IPM Provinsi Papua pada tahun 2018 ini sekaligus
mengubah status pembangunan manusia Provinsi Papua, dari level rendah
menjadi sedang.
Perubahan status pembangunan manusia juga terjadi pada tujuh provinsi
lain. Ketujuh provinsi ini berhasil mengubah status pembangunan manusia dari
level sedang ke tinggi. Ketujuh provinsi tersebut adalah Jambi, Bengkulu,
Kepulauan
Bangka
Belitung,
Kalimantan
Tengah,
Kalimantan
Selatan,
Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara. Dengan demikian, sejak tahun 2018,
tidak ada satupun provinsi di Indonesia yang memiliki status pembangunan
manusia level rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa pembangunan di Indonesia
semakin baik dan merata.
Pertumbuhan IPM yang relatif cepat selama periode 2017-2018 juga dirasakan
oleh dua provinsi lain, yaitu Sulawesi Barat sebesar 1,24 persen (dari 64,30
menjadi 65,10) dan Papua Barat sebesar 1,19 persen (dari 62,99 menjadi 63,74).
Berdasarkan komponen pembentuk IPM, kemajuan pembangunan manusia di
Provinsi Papua didorong oleh dimensi pendidikan, di Papua Barat didorong oleh
dimensi standar hidup layak, sementara di Sulawesi Barat lebih dikarenakan
perbaikan dimensi pendidikan dan standar hidup layak.
21
d. Tantangan pembangunan manusia
Peningkatan pembangunan manusia baik di tingkat nasional maupun
provinsi merupakan suatu capaian yang perlu disyukuri dan diapresiasi. Capaian
ini tidak hanya menunjukkan semakin baiknya kualitas hidup masyarakat
Indonesia, tetapi juga semakin meratanya pembangunan di Indonesia.
Pemerataan inilah yang masih akan menjadi tantangan pembangunan
manusia di Indonesia di masa yang akan datang. Perluasan cakupan berbagai
program perlindungan sosial merupakan salah satu upaya untuk menjawab
tantangan tersebut. Berbagai program perlindungan sosial, seperti Program
keluarga Harapan, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Bantuan
Pangan Non Tunai bukan hanya ditingkatkan dari sisi nilainya, tetapi juga harus
diperluas jangkauannya.
Perluasan program perlindungan sosial tentu membutuhkan sinergitas
berbagai pihak. Sinergitas inilah yang tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah
bagi pemerintahan mendatang. Sinergitas bukan hanya memerlukan kerjasama
antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, tetapi juga memerlukan
kesamaan kemauan politik (political will) antar elit/ pimpinan politik di negeri ini.
Political Will kerap menjadi batu sandungan dalam menjalankan program
pembangunan di Indonesia. Setiap elit politik cenderung bersandar pada political
interests masing-masing.
Egoisme kelompok seperti ini sudah saatnya dikesampingkan. Kebisingan
politik selama hampir lima tahun terakhir ini hanya membuahkan kegaduhan.
Ruang-ruang publik penuh dengan cacian, hinaan, dan prasangka yang tak
berkesudahan. Sekarang, saatnya
mengakhiri
segala bentuk
kebisingan,
kegaduhan, dan pertikaian. Saatnya berjabat tangan. Bergandeng tangan, agar
negeri ini mampu memproduksi karya-karya hebat untuk kemajuan bangsa, untuk
perbaikan kualitas hidup manusia. Kecuali jika memang negeri ini hanya ingin
menjadi negeri pemroduksi kebisingan, kegaduhan, dan kebohongan.
22
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan
pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk
dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara
dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara. Dalam pembangunan
ekonomi terdapat asumsi pembangunan, perubahan paradigma perekonomian
Indonesia, kecenderungan konsep perekonomian Indonesia, serta pembangunan
regional dan pembangunan khusus.
Pembangunan perekonomian Indonesia merupakan hal penting dalam
mendorong perekonomian baik dari segi pendapatan nasional maupun
kesejahteraan masyarakatnya. Disamping hal tersebut, dalam pembangunan
perekonomian Indonesia tentunya memiliki hambatan yang dapat menimbulkan
permasalahan dalam mewujudkan pembangunan perekonomian Indonesia yang
sesuai dengan tujuan dari pembangunan tersebut. Oleh karena itu, dengan adanya
asumsi
pembangunan,
perubahan
paradigma
perekonomian
Indonesia,
kecenderungan konsep perekonomian Indonesia, serta pembangunan regional dan
pembangunan khusus dapat menjadi tolok ukur dalam menghadapi permasalahan
pembangunan ekonomi agar tujuan dari pembangunan perekonomian Indonesia
dapat terwujud.
23
DAFTAR PUSTAKA
Da. Styawan. 2019. Pembangunan Manusia Indonesia, Capaian dan Tantangan.
https://www.kompasiana.com/da_styawan/5cc518aacc52833d43362f62/pe
mbangunan-manusia-indonesia-capaian-dan-tantangan?page=all. [Diakses
pada 2 November 2019 Pkl.17.35 WIB]
FISIP-Universitas Airlangga. 2009. Paradigma Pembangunan Sumber Daya
Manusia.
http://www.unair.ac.id/berita_1096.html. [Diakses pada 2
November 2019 Pkl.17.35 WIB]
https://ipm.bps.go.id/page/ipm. [diakses pada 02 November 2019 Pkl. 19.20 WIB]
http://ocw.usu.ac.id/course/download/10580000048-institusi-dan-kebijakanpembangunan-kota/tka_574_slide_paradigma_pembangunan.pdf. [Diakses
pada 2 November 2019 Pkl. 15.32 WIB]
https://www.academia.edu/5940372/Teori_Pertumbuhan_Ekonomi. (Diakses pada
2 November 2019 15.35 WIB)
Tri Drajat, Hanif. Konsep dan Teori Pembangunan. IPEM4542, Modul 1.
Hakiki, Paizon. Sistem Pemerintahan Pada Masa Demokrasi Liberal Tahun 19491959. Phys. Rev., 113, 1379.
Hakim, M. Arif, M.Ag. Industrialisasi di Indonesia: Menuju Kemitraan yang
Islami. Jurnal.
Hanipah, Dita. Pembangunan Ekonomi Era Orde Baru. 2016.
Kadir, G. 2014. Pembangunan Politik.
Universitas
Terbuka
Repository,
1–40.
Retrieved
from
repository.ut.ac.id/4262/1/IPEM4434-M1.pdf. [Diakses Pada 2 November
2019 Pkl. 21.53 WIB]
24
Download