Uploaded by common.user22172

Kegiatan Belajar Midwifery II: Kala III Persalinan

advertisement
Kegiatan Belajar
Midwifery II
 150 Menit
PENDAH ULUAN
Persalinan yaitu proses pengeluaran janin yang dimulai dengan kontraksi
persalinan sejati, di tandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan di akhiri
dengan kelahiran plasenta. Setelah kelahiran plasenta, sejumlah perubahan maternal
terjadi pada saat stress fisik dan emosional akibat persalinan. Pada persalinan di bagi
menjadi 4 fase yaitu kala 1 pembukaan, kala 2 pengeluaran bayi, kala 3 pengeluaran
plasenta dan kala 4 pengawasan.
Kala tiga disebut juga dengan kala uri atau kala pengeluaran plasenta,kala tiga
merupakan lanjutan dari kala satu (kala pembukaan) dan kala dua (kala pengeluaran
bayi). Dengan demikian, berbagai aspek yang akan dihadapi pad akala tiga sangat
berkaitan dengan apa yang telah dikerjakan pada tahap-tahap sebelumnya. Kala tiga
dimulaisetelah bayi lahir dan berakhir dengann lahirnya plasenta dan selaput ketuban.
Manajemen aktif dari persalinan kala tiga terdiri dari intervensi yang
dirancang untuk memfasilitasi pengiriman plasenta dengan meningkatkan kontraksi
uterus dan untuk mencegah perdarahan postpartum primer (PPH) dengan
menghindari atonia uteri. Komponen yang biasa termasuk pemberian agen uterotonik,
traksi tali pusat yang terkontrol, dan pijatan uterus setelah kelahiran plasenta,
sebagaimana mestinya (lihat pernyataan bersama ICM / FIGO). Penjepitan tali pusat
yang
terjadi
dalam
2-3
menit
pemberian
oksitosin.
Tujuan
manajemen aktif kala tiga adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih
efektif sehingga dapat mempersingkat waktu dan mencegah pendarahan. Sebagian
besar kasus kesakitan dan kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh perdarahan
pasca persalinan dimana sebagian besar disebabkan oleh atonia uteris dan retensio
plasenta yang sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan manajemen aktif kala
tiga.
Setelah plasenta lahir, dinding uterus akan berkontraksi dan menekan
semua pembuluh darah
sehingga
melekatnya plasenta. Sebelum
akan
menghentikan perdarahan
dari
tempat
uterus berkontraksi, dapat terjadi kehilangan
darah350-560 cc/menit dari tempat pelekatan plasenta.
TUJUAN MATA KULIAH
A. Tujuan Umum
Untuk mengetahui manfaat Fisiologi Kala III
B. Tujuan Khusus
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.
t.
Untuk mengetahui pengertian persalinan
Untuk mengetahui tahapan persalinan
Untuk mengetahui pengertian Fisiologi Pelepasan Plasenta
Untuk mengetahui Pembagian tahap kala III
Untuk mengetahui mekanisme pelepasan plasenta
Untuk mengetagui tanda-tanda pelepasan plasenta
Untuk mengetagui perubahan fisiologi kala III
Untuk mengetahui pengawasan perdarahan
Untuk mengetahui Pemberian suntikan oksitoxin
Untuk mengetahui peregangan tali pusat terkendali
Untuk mengetahui Rangsangan Taktil (Masase) Fundus Uteri
Untuk mengetahui Memeriksa plasenta, selaput ketuban dan tali pusat
Untuk mengetahui pemantauan kontraksi
Untuk mengetahui robekan jalan lahir dan luka perineum
Untuk mengetahui hygiene
Untuk mengetahui Tanda Vital
Untuk mengetahui Melakukan Inisisasi Menyusui Dini
Untuk mengetahui Perawatan Kala III
Untuk mengetahui Menyusui Bayi
Untuk mengetahui tentang kontraksi uterus
URAIAN MATERI
KONSEP DAN ASUHAN NATURAL BASIC THERAPY PERSALINAN
A. Kompetensi Dasar dan Indikator
NO Kompetensi Dasar
1.
Persalinan
Indikator
1. Menjelaskan
pengertian
persalinan
2. Menjelaksan tahapan persalinan
2.
Kala III
a. Menjelaskan pengertian kala III
b. Menjelaskan
Fisiologi
Pelepasan
Plasenta
c. Menjelaskan Pembagian tahap kala III
d. Menjelaskan
mekanisme pelepasan
plasennta
e. Menjelaskan tanda-tanda pelepasan
plasenta
f. Menjelaskan perubahan fisiologi kala
III
g. Menjelaskan pengawasan perdarahan
3.
Manajemen Aktif Kala III
a. Menjelaskan Pemberian suntikan
oksitoxin
b. Menjelaskan peregangan tali pusat
terkendali
c. Menjelaskan Rangsangan Taktil
(Masase) Fundus Uteri
d. Menjelaskan Memeriksa plasenta,
selaput ketuban dan tali pusat
4
Pemantauan keadaan ibu Kala III
a. Menjelaskan
pemantauan
kontraksi
b. Menjelaskan robekan jalan lahir
dan luka perineum
c. Menjelaskan hygiene
d. Menjelaskan Tanda Vital
5
Kebutuhan Ibu Kala III
a. Menjelaskan Melakukan Inisisasi
Menyusui Dini
b. Menjelaskan Perawatan Kala III
c. Menjelaskan Menyusui Bayi
d. Menjelaskan
uterus
tentang
kontraksi
A. MATERI PERSALINAN
1. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan
plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan
melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa
bantuan (kekutan sendiri) (Manuaba, 2010: 164). Persalinan adalah suatu
proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri) yang dapat hidup ke dunia
luar, dari rahim melalui jalan lahir atau jalan lain (Mochtar, 2011: 69).
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban
keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi
pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai
adanya penyulit. persalinan dimulai (inpartu)sejak uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan
berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap) (Setianingrum
Erna,2013 :17).3.9
2. Tahapan persalinan
Dalam kelangsungan persalinan, dapat dibagi menjadi 4 kala diantaranya:
1. Kala I (kala pembukaan)
Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang
teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hinga serviks
membuka lengkap (10 cm). kala satu persalinan terdiri dari atas dua
fase, yaitu fase laten yaitu pembukaan serviks hingga 4 cm, dan fase
aktif yaitu pembukaan serviks 4 cm sampai dengan 10 cm.
2. Kala II (kala pengeluaran)
Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah
lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi.
3. Kala III (kala uri)
Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir
dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.
4. Kala IV (kala pengawasan)
Kala IV dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah
melahirkan (Gulardi W, 2008:95) 3.9
B. MATERI KALA III
1. Pengertian Kala III Persalinan
Kala tiga disebut juga kala uri atau kala pengeluaran plasenta. Kala
tiga persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya
plasenta dan selaput ketuban. Kala III terjadi setelah anak lahir dan muncul
his berikutnya, his ini dinamakan his pelepasan uri yang melepaskan uri
sehingga terletak pada segmen bawah rahim atau bagian atas vagina.
Lamanya kala uri 5-30 menit dan pelepasan plasenta hanya memakan
waktu 2-3 menit. Pendarahan yang terjadi pada kala uri ± 250 cc, dan
dianggap patologis jika ± 500 cc. 2.3.9
2. Fisiologis Pelepasan Plasenta
Menurut Varney (20207:826), pelepasan plasenta adalah hasil
penurunan mendadak ukuran kavum uterus selama dan setelah pelahiran
bayi, sewaktu uterus berkontraksi mengurangi isi uterus. Pengurangan
ukuran uterus secara bersamaan berarti penurunan area perlekatan plasenta.
Plasenta,
bagaimanapun,
ukurannya
tetap.
Plasenta
pertama
mengakomodasi penurunan ukuran uterus ini dengan cara menebal, tetapi
pada sisi perlekatan tidak mampu menahan tekanan dan melengkung.
Akibatnya, terjadi perlepasan plasenta dari dinding uterus, di lapisan
spongiosa desidua. Pada saat plasenta lepas, hematoma terbentuk antara
plasenta yang lepas dan desidua yang tersisa sebagai akibat perdarahan
dalam ruang intervili. Hal ini dikenal sebagai hematoma retroplasenta dan
ukurannya sangat bervariasi. Walaupun hematoma ini adalah akibat, bukan
penyebab pelepasan plasenta, hematoma memfasilitasi pelepasan plasenta
lengkap. Setelah lepas, plasenta turun ke segmen bawah uterus atau ke
dalam ruang vagina atas. 2.3.9.30
Tempat
implantasi
plasenta
mengalami
pengerutan
akibat
pengosongan kavum uteri dan kontraksi lanjutan sehingga plasenta
dilepaskan dari perlekatannya dan pengumpulan darah pada ruang uteroplasenter akan mendorong plasenta keluar. 2.3.9.30
Otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume
ronnga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan
berkurangnya ukuran tempat perlekatan plasenta karena tempat perlekatan
menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka
plasenta akan terlipat, menebal dan kemudian lepas, plasenta akan turun ke
bagian bawah uterus atau kedalam vagina (Depkes RI 2008). 2.3.9.30
Pada kala III, otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti
penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran
ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlekatan plasenta. Karena
tempat perlekatan menjadi semkin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak
berubah maka pasenta akan terlipat, menebal dan kemudian lepas dari
dinding uterus. Setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus
atau ke dalam vagina. Setelah janin lahir, uterus mengadakan kontraksi
yang mengakibatkan penciutan permukaan kavum uteri, tempat implantassi
plasenta. Akibatnya, plasenta akan lepas dari tempat implantasinya. 2.3.9.30
3. Pembagian Tingkat Kala III
Kala uri dapat dibagi dalam 2 tingkat :
a. Tingkat pelepasan plasenta
Sebab – sebab terlepasnya plasenta :
1) Waktu bayi dilahirkan rahim sangat mengecil.
Karena pengecilan rahim, tempat perlekatan plasenta
juga ikut mengecil maka plasenta akan berlipat-lipat
bahkan ada bagian – bagian yang terlepas dari
dinding rahim atau tempat insersinya, karena tidak
dapat mengikuti pengecilan dari dasarnya. Fundus
uteri terdapat sedikit di bawah pusat. Karena
pengecilan rahim yang sekonyong – konyong ini
tempat
perlekatan
placenta
juga
sangat
mengecil.3.6.9.11
Placenta sendiri harus mengikuti pengecilan ini
hingga
menjadi
2x
setebal
pada
permulaan
persalinan dan karena pengecilan tempat melekatnya
placenta dengan sangat, maka placenta juga berlipatlipat malah ada bagian-bagian yang terlepas dari
dinding rahim karena tak dapat mengikuti pengecilan
dari dasarnya. 3.6.9.11
Pelepasan placenta ini terjadi dalam stratum
spongiosum yang sangat banyak lubang-lubangnya;
memang boleh disamakan dengan lubang-lubang
perangko untuk memudahkan pelepasan perangko
tersebut. 3.6.9.11
Jadi secara singkat, bagian yang paling penting
dalam
pelepasan
plasenta
kontraksi otot – otot rahim.
adalah retraksi
dan
3.6.9.11
2) Di tempat – tempat yang lepas terjadi perdarahan
ialah antara plasenta dan desidua basalis dan karena
hematoma ini membesar, maka seolah – olah
plasenta terangkat dari dasarnya oleh hematoma
tersebut sehingga daerah pelepasan meluas. 3.6.9.11
Placenta biasanya terlepas dalam 4-5 menit
setelah anak lahir, malahan mungkin pelepasan
sudah mulai sewaktu anak lahir. Juga selaput janin
menebal dan berlipat-lipat karena pengecilan dinding
rahim. Oleh kontraksi dan retraksi rahim terlepas dan
sebagian karena tarikan waktu placenta lahir. 3.6.9.11
b. Tingkat pengeluaran plasenta
Sedangkan mekanisme pengeluaran plasenta adalah
Setelah plasenta lepas, maka karena kontraksi dan retraksi otot
rahim, plasenta terdorong ke dalam segmen bawah rahim atau
ke dalam bagian atas dari vagina. Dari tempat ini plasenta
didorong keluar oleh tenaga mengejan. 3.6.9.11
Tetapi ternyata bahwa hanya 20% dari ibu-ibu dapat
melahirkan placenta secara spontan, maka lebih baik, lahirnya
placenta ini dibantu dengan sedikit tekanan oleh si penolong
pada fundus uteri setelah placenta lepas. 3.6.9.11
4. Mekanisme pelepasan plasenta
Pengeluaran plasenta dimulai dengan penurunan plasenta ke
dalam segmen bawah uterus. Segera setelah bayi dan air ketuban
sudah tidak berada di dalam uterus, kontraksi uterus akan terus
berlangsung dan ukuran rongganya akan mengecil. Pengurangan
dalam ukuran ini akan menyebabkan pengurangan dalam ukuran situs
penyambungan plasenta. Oleh karena situs sambungan tersebut
menjadi lebih kecil, plasenta menjadi lebih tebal dan mengkerut serta
memisahkan diri dari dinding uterus. Plasenta kemudian keluar
melewati serviks ke ruang vagina, dari arah plasenta keluar.
Pengeluaran Schultz jauh lebih umum dari kedua mekanisme tersebut,
meskipun keduanya dianggap normal. 3.6.9.11
Permulaan proses pemisahan diri dinding uterus atau pelepasan
plasenta:
a. Menurut Duncan
Pengeluaran plasenta
mekanisme Duncan adalah
pelahiran plasenta dengan presentasi sisi maternal. Presentasi
ini diduga terjadi akibat pelepasan pertama kali terjadi pada
bagian pinggir atau perifer plasenta. Darah keluar di antara
membran dan dinding uterus dan terlihat secara eksternal.
Plasenta turun ke samping dan kantong amnion, oleh karena
itu, tidak terbalik, tetapi tertinggal di belakang plasenta untuk
pelahiran. Darah mengalir keluar antara selaput janin dan
dinding rahim, jadi perdarahan sudah ada sejak plasenta
sebagian lahir atau terlepas sehingga tidak terjadi bekuan
retroplasenta.
Plasenta
keluar
menelusuri
jalan
lahir,
permukaan maternal lahir terlebih dahulu. Pelepasan Duncan
terjadi terutama pada plasenta letak rendah. Proses ini
memerlukan waktu lama dan darah yang keluar lebih banyak,
serta memungkinkan plasenta dan membran tidak keluar secara
komplit. Ketika pelepasan plasenta terjadi, kontraksi uterus
menjadi kuat kemudian plasenta dan membrannya jatuh dalam
segmen bawah rahim, ke dalam vagina, kemudian ekspulsi.
6.9.11.12
Plasenta lepas mulai dari bagian pinggir (marginal)
disertai dengan adanya tanda darah yang keluar dari vagina
apabila plasenta mulai terlepas. 6.9.11.12
b. Menurut Schultz
Pengeluaran plasenta
mekanisme
Schultz
adalah
pelahiran plasenta dengan presentasi sisi janin. Presentasi ini
dianggap ketika pelepasan dimulai dari tengah disertai
pembentukan bekuan retroplasma sentral, yang memengaruhi
berat plasenta sehingga bagian sentral turun terlebih dahulu.
Hal ini menyebabkan membran melepaskan sisa desidua dan
tertinggal di belakang plasenta. Mayoritas perdarahan yang
terjadi dengan mekanisme persalinan ini tidak terlihat sampai
plasenta dan membran lahir, karena membran yang terbalik
menangkap dan menahan darah. disini terjadi hematoma retro
placentair yang selanjutnya mengangkat plasenta dari dasarnya.
Plasenta dengan hematom diatasnya sekarang jatuh ke bawah
dan menarik lepas selaput janin. Bagian plasenta yang nampak
dalam vulva adalah permukaan fetal, sedangkan hematoma
terdapat dalam kantong yang terputar balik. Oleh karena itu
pada pelepasan schultze tidak ada perdarahan sebelum plasenta
lahir atau sekurang-kurangnya terlepas seluruhnya. Baru
setelah plasenta seluruhnya lahir, darah akan mengalir.
Pelepasan schultze ini adalah cara pelepasan plasenta yang
sering dijumpai. 6.9.11.12
Plasenta lepas mulai dari bagian tengah (sentral)
dengan tanda adanya pemanjangan tali pusat yang terlihat di
vagina. 6.9.11.12
c. Terjadi serempak atau kombinasi dari keduanya
Sebagian dari pembuluh-pembuluh darah yang kecil
akan robek saat plasenta terlepas. Situs plasenta akan berdarah
terus sampai uterus seluruhnya berkontraksi. Setelah plasenta
lahir, seluruh dinding uterus akan berkontraksi dan menekan
seluruh pebuluh darah yang akhirnya akan menghentikan
perdarahan dari situs plasenta tersebut. Uterus tidak dapat
sepenuhnya
berkontraksi
hingga
bagian
plasenta
lahir
seluruhnya. 6.9.11.12
Gambar 1 (Cara Pelepasan Plasenta)
5. Tanda-tanda pelepasan plasenta :
a. Semburan darah dengan tiba-tiba
Semburan darah ini disebabkan karena penyumbatan
retroplasenter pecah saat plasenta lepas. Darah yang terkumpul
di belakang plasenta akan membantu mendorong plasenta
keluar di bantu oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah
(retroplacental pooling) dalam ruang di antara dinding uterus
dan
permukaan
dalam
placenta
melebihi
kapasitas
tampunganya maka darah tersembur keluar dari tepi placenta
yang terlepas. 6.9.11.12
b. Pemanjangan tali pusat
Hal ini disebabkan karena pasenta turun ke segmen
uterus yang lebih bawah atau rongga vagina. Sehingga tali
pusat terlihat menjlur keluar melalui vulva (tanda ahfeld)
c. Perubahan bentuk uterus dari diskoid menjadi globular (bulat)
Perubahan bentuk ini disebabkan oleh kontraksi uterus.
d. Perubahan dalam posisi uterus, yaitu uterus didalam abdomen
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sesaat setelah
plasenta lepas TFU akan naik, hal ini disebabkan oleh adanya
pergerakan plasenta ke segmen uterus yang lebih bawah.
Setelah bayi lahir dan sebelum eometrium mulai berkontraksi,
uterus berbentuk bulat penuh dan tunggi fundus iasanya di
bawah pusat. Setelah uterus berkontraksi dan placenta
mendorong kebawah uterus, uterus berbentuk segitiga atau
seperti buah pear atau alpukat dan fundus berada di atas pusat
(sering kali mengarah kesisi kanan). 6.9.11.12
6. Perubahan Fisiologis Kala III
Banyak perubahan fisiologis normal terjadi selama kala satu
dan dua persalinan, yang berakhir ketika plasenta dikeluarkan, dan
tanda-tanda vital wanita kembali ke tingkat sebelum persalinan selama
kala tiga :
a. Tekanan Darah :Tekanan sistolik dan tekanan diastolik mulai
kembali ke tingkat sebelum persalinan.
b. Nadi :Nadi secara bertahap kembali ke tingkat sebelim melahirkan
c. Respirasi : Kembali bernapas normal
d. Aktivitas Gastrointestinal : Jika tidak terpengaruh obat-obatan,
motilitas lambung dan absrobsi kembali mulai ke aktivitas normal.
Wanita mengalami mual dan muntah selama kala tiga adalah tidak
wajar12.16.19
7. Pengawasan Perdarahan
Empat prasat yang dapat dilakukan untuk mengetahui lepasnya
plasenta adalah sebagai berikut :
a. Prasat Kustner
Tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat.
Tangan kiri menekan daerah di atas simfisis. Bila tali pusat ini masuk
kembali ke dalam vagina, berarti plasenta belum lepas dari dinding
uterus. Bila tetap atau tidak masuk kembali ke dalam vagina, berarti
plasenta lepas dari dinding uterus. Prasat ini hendaknya dilakukan
secara hati-hati. Apabila hanya sebagian plasenta terlepas, perdarahan
banyak akan dapat terjadi.
b. Prasat Strassman
Perasat ini dilakukan dengan mengetok-ngetok fundus uterus
dengan tangan kiri dan tangan kanan meregangkan tali pusat sambil
merasakan apakah ada getaran yang ditimbulkan dari gerakan tangan
kiri, jika terasa ada getaran berarti plasenta sudah lepas.
c. Prasat Klien
Untuk melakukan perasat ini, minta pasien untuk meneran, jika
tali pusat tampak turun atau bertambah panjang berarti plasenta telah
lepas, begitu juga sebaliknya.1.28.30.31
d. Prasat Manuaba
Tangan kiri memegang uterus pada segmen bawah rahim,
sedangkan tangan kanan memegang dan mengencangkan tali pusat.
Kedua tangan ditarik berlawan.
e. Crede
Memijat uterus seperti meremas jeruk agar plasenta lepas dari
dinding uterus. 4 jari pada dinding rahim belakang ibu dari di fundus
depan tengah utuk memijat rahim dan mendorong sedikit kebawah.
Lakukan pemijatan sewaktu his. 1.28.30.31
C. Manajemen aktif Kala III
Manajemen aktif dari persalinan ketiga dengan tepat adalah garis
depan untuk mencegah perdarahan pascakelahiran terkait morbiditas ibu dan
kematian. 99% kematian ibu terjadi di negara berkembang. Sebagian besar
penyebab kematian terjadi dalam waktu 4 jam setelah melahirkan karena
perdarahan. Uji klinis menunjukkan bahwa praktik rutin manajemen aktif
tahap ketiga persalinan secara dramatis mengurangi perdarahan sebesar 60%.
Manajemen aktif pada persalinan ketiga dapat membantu menyelamatkan
ribuan wanita dengan biaya rendah (Stanton C, Armbruster D, Knight R,
Ariawan I,Gbangbade.(2009). Penyedia Perawatan ObstetriPengetahuan dan
Praktek menuju Manajemen Aktif Labourat Hawassa City Tahap Ketiga,
SNNPRS, Ethiopia 408).4.5.13
Periode selama plasenta dikeluarkan sepenuhnya oleh traksi kontrol
tali pusat untuk mencegah penderitaan rahim dan perdarahan. Ada dua
pendekatan yang bertentangan dengan manajemen klinis dari tahap ketiga
persalinan : manajemen aktif dan hamil (kadang-kadang disebut sebagai
fisiologis atau pasif). 4.5.13
Manajemen hamil adalah pendekatan non-intervensi. Sebaliknya,
manajemen aktif melibatkan intervensi dokter dalam proses melalui tiga
proses yang saling terkait tetapi independen, pemberian profilaksis dari agen
uterotonik, traksi tali pusat terkontrol untuk membantu pengiriman plasenta
dan pijatan uterus. Tiga intervensi ini mempercepat persalinan plasenta
dengan meningkatkan kontraksi uterus, mengurangi kehilangan darah dan
mencegah perdarahan pascapersalinan dengan menghindari penderitaan
uterus. Manajemen aktif persalinan tahap ketiga saat ini direkomendasikan
sebagai perlindungan terhadap perdarahan pasca persalinan. 4.5.13
Tujuan manajemen aktif kala III adalah untuk menghasilkan kontraksi
uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu setiap kala,
mencegah perdarahan, dan mengurangi kehilangan darah kala III persalinan
jika dibandingkan kala III fisiologis. Sebagian besar kasus kesakitan dan
kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan di
mana sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri dan retensio plasenta yang
sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan manajemen aktif kala III. 3.4.5.13
Keuntungan –keuntungan manajemen aktif kala III adalah sebagai
berikut. 3.4.5.13
1. Persalinan kala III yang lebih singkat
2. Mengurangi jumlah kehilangan darah
3. Mengurangi kejadian retensio plasenta
Manajemen aktif kala III terdiri atas tiga langkah utama, yaitu sebagai
berikut. 3.4.5.13
1. Pemberian agen uterotonik setelah melahirkan bayi
2. Pengusiran plasenta dengan traksi tali pusat yang terkontrol
3. Pijat fundus uterus setelah pengusiran plasenta
1. Pemberian Suntikan Oksitosin
Oksitosin 10 IU secara IM dapat diberikan dalam 1 menit
setelah bayi lahir dan dapat diulangi setelah 15 menit jika plasenta
belum lahir. Berikan oksitosin 10 IU secara IM pada 1/3 bawah paha
kanan bagian luar. Namun dilakukan pengecekan fudus terlebih dahulu
untu mengetahui adanya janin tunggal atau ganda. 7.8.9
2. Penegangan Tali Pusat Terkendali
Tempatkan klem pada ujung tali pusat±5 cm dari vulva,
memegang tali pusat dari jarak dekat untuk mencegah avulsi pada tali
pusat. Saat terjadi kontraksi yang kuat, plasenta dilahirkan dengan
penegangan tali pusat terkendali kemudian tangan pada dinding
abdomen menekan korpus uteri ke bawah dan atas (dorso kranial)
korpus. 7.8.9
Lahirkan plasenta dengan penegangan yang lembut dan
keluarkan plasenta dengan gerakan ke bawah dan ke atas mengikuti
jalan lahir. Ketika plasenta muncul dan keluar dari dalam vulva, kedua
tangan
dapat
memegang
plasenta
searah
jarum
jam
untuk
mengeluarkan selaput ketuban.
a) Berdiri disamping ibu.Pindahkan klem tali pusat sekitar 5 – 20 cm
dari vulva.
b) Letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (beralaskan kain)
tepat diatas simpisis pubis.
c) Bila placenta belum lepas, tunggu hingga uterus berkontraksi
kembali (sekitar 2 atau 3 menit berselang) untuk mengulangi
kembali PTT.
d) Saat mulai berkontraksi (uterus bulat atau tali pusat menjulur)
tegangkan tali pusat kearah bawah, lakukan tekanan dorso
cranial hingga tali pusat makin menjulur dan korpus uteri bergerak
ke atas yang menandakan placenta telah lepas dan dapat
dilahirkan.
e) Tetapi jika langkah kelima diatas tidak berjalan sebagaimana
mestinya dan placenta tidak turun setelah 30 -40 detik dimulainya
penegangan tali
pusat
dan tidak
ada
tanda-tanda
yang
menunjukkkan lepasnya placenta, jangan teruskan penegangan tali
pusat:
1) Pegang klem dan tali pusat dengan lembut dan tunggu sampai
kontraksi berikutnya. Jika perlu, pindahkan klem lebih dekat ke
perineum pada saat tali pusat memanjang.
2) Pada saat kontraksi berikutnya terjadi, ulangi penegangan tali
pusat terkendali dan tekanan dorso cranial pada korpus uteri
secara serentak. Ikuti langkah-langkah tersebut pada setiap
kontraksi hingga terasa placenta terlepas dari dinding uterus.
f) Setelah placenta terlepas, anjurkan ibu untuk meneran agar
placenta terdorong keluar melalui introitus vagina. Tetap
tegangkan tali pusat dengan arah sejajar lantai (mengikuti poros
jalan lahir).
g) Saat placenta terlihat pada introitus vagina, lahirkan placenta
dengan mengangkat tali pusat ke atas dan menopang placenta
dengan
tangan
lainnya
untuk
meletakkan
dalam
wadah
penampung.karena selaput ketubn mudah robek, maka pegang
placenta dengan kedua tangan dan secara lembut putar placenta
dalam satu arah hingga selaput ketuban terpilin menjadi satu.
h) Lakukan penarikan dengan lembut dan perlahan – lahan untuk
melahirkan selaput ketuban.
i) Jika selaput ketuban robek dan tertinggal dijalan lahir saat
melahirkan placenta, dengan hati-hati periksa vagina dan servik
secara seksama. Gunakan jari-jari tangan atau klem DDT atau
forcep untuk mengeluarkan selaput ,ketuban yang teraba7.8.9
3. Rangsangan Taktil (Masase) Fundus Uteri
Segera setelah plasenta dan selaput dilahirkan, dengan perlahan
tetapi kukuh lakukan masase uterus dengan cara menggosok uterus
pada abdomen dengan gerakan melingkar untuk menjaga agar uterus
tetap keras dan berkontraksi dengan baik serta untuk mendorong setiap
gumpalan darah agar keluar. 7.8.9
Sementara tangan kiri melakukan massage uterus, periksalah
plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa kotiledon dan
membrane sudah lengkap (Seluruh lobus di bagian maternal harus ada
dan bersatu/utuh, tidak boleh ada ketidaketeraturan pada bagian
pinggir-pinggirnya, jik hal tersebut ada, berarti menandakan ada
sebagian fragmen plasenta yang tertinggal). 7.8.9
Pijat fundus uterus setelah pengeluaran plasenta memberikan
kontraksi uterus dengan merangsang sekresi prostaglandin endogen.
Metode ini direkomendasikan dalam pedoman WHO 2007, dan
dijelaskan sebagai opsional untuk manajemen aktif tahap ketiga dalam
pedoman 2012 yang diperbarui. Demikian pula, Chen et al. (38)
menerbitkan hasil penelitian terhadap 2.340 kehamilan, yang
menunjukkan bahwa penambahan pijat fundus ke oksitosin tidak
mengurangi PPH.
Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri (masase)
a) Letakkan telapak tangan pada fundus uteri.
b) Jelaskan tindakan kepada ibu, bahwa ibu mungkin merasa
agak tidak nyaman karena tindakan yang diberikan, oleh
karena itu anjurkan ibu untuk menarik nafas dalam dan
perlahan secara rileks.
c) Dengan lembut gerakkan tangan dengan arah memutar pada
fundus uteri supaya uterus berkontraksi. Jika uterus tidak
berkontraksi dalam 15 detik lakukan penatalaksanaan atonia
uteri :
1) Periksa
placenta
dan
selaputnya
memastikan keduannya lengkap dan utuh.
untuk
2) Periksa
placenta
sisi
maternal
untuk
memastikan semua bagian lengkap dan utuh.
3) Pasangkan bagian- bagian placenta yang robek
atau terpisah untuk memastikan tidak ada
bagian yang hilang.
4) Periksa placenta sisi futal untuk memastikan
tidak adanya kemungkinan lobus tambahan
(suksenturiata)
5) Evaluasi
selaput
untuk
memastikan
kelengkapannya.
d) Periksa kembali uterus setelah 1 – 2 menit untuk
memastikan uterus berkontraksi. Jika uterus masih belum
berkontraksi baik, ulangi masase.
e) Periksa kontraksi uterus tiap 15 menit dalam 1 jam PP dan
tiap 30 menit dalam 2 jam PP. 7.8.9
D. Memeriksa plasenta, selaput ketuban dan tali pusat
1. Plasenta
Pemeriksaan kelengkapan plasenta sangatlah penting sebagai
tindakan antisipasiapabila ada sisa plasenta baik bagian kotiledon
ataupun selaputnya. Penolong haruslah memastikan betul plasenta
dan selaputnya betul-betul utuh (lengkap), periksalah sisi maternal
(yang melekat pada dinding uterus) dan sisi fetal (yang
menghadap ke bayi) untuk memastikan apakah ada lobus
tambahan, serta selaput plasenta dengan cara menyatukan kembali
selaputnya. 12.14.15
Pastikan bahwa seluruh plasenta telah lahir lengkap dengan
memeriksa jumlah kotiledonnya (rata-rata 20 kotiledon). Periksa
dengan
seksama
pada
bagian
pinggir
plasenta
apakah
kemungkinan masih ada hubungan dengan plasenta lain (plasenta
suksenturiata. Amati apakah ada bagian tertentu yang seperti
tertinggal atau tidak utuh, jika kemungkinan itu ada maka segera
lakukan eksplorasi untuk membersihkan sisa plasenta. 12.14.15
2. Pemeriksaan Selaput Ketuban
Amnion dan korion terdiri dari selaput janin, yang tampak
menyatu sebenarnya tidak . menarik salah satunya dapat
merusaknya, amnion dapat ditarik kearah tali pusat. Amnion terasa
halus, tembus cahaya dan liat, sedangkan karion lebih tebal, keruh
dan rapuh. Korion mulai terdapat di tepi plasenta dan melebar ke
sekitar desidua. Setelah kelahiran, selaput ketuban akan berlubang
karena dilewati bayi. Bila selaput ketuban tampak tidak rata,
kemungkinana ada bagian yang tertinggal di uterus. Hal ini dapat
mempengaruhi kontraktillitas uterus dan mencetuskan perdarahan
pascapartum.
Hal
mikroorganisme,
ini
yang
juga
menjadi
menjadi
pencetus
media
tumbuhnya
infeksi.
Bekuan
pascapartum yang keluar harus diperiksa untuk adanya selaput
ketuban. 12.14.15
Setelah plasenta lahir, periksa kelengkapan selaput ketuban
untuk memastikan tidak ada bagian yang tertinggal di dalam uterus.
Caranya dengan meletakkan plasenta di atas bagian yang datar dan
pertemukan setiap tepi selaput ketuban sambil mengamati apakah
ada tanda-tanda robekan dari tepi selaput ketuban. Jika ditemukan
kemungkinan ada bagian yang robek, maka segera lakukan
eksplorasi uterus untuk mengeluarkan sisa selaput ketuban karena
sisa selaput ketuban atau bagian plasenta yang tertinggal di dalam
uterus akan menyebabkan perdarahan dan infeksi. 12.14.15
3. Pemeriksaan Tali Pusat
Di sisi lain, kehamilan dengan tali pusat membawa risiko yang
sedikit berkurang untuk beberapa hasil yang merugikan termasuk
malformasi, solusio plasenta, plasenta previa, presentasi noncephalic dan kelahiran sesar
darurat.
Temuan penelitian
berdasarkan populasi ini menunjukkan bahwa perbedaan jenis
kelamin dalam panjang tali pusat terbukti setelah 27 minggu,
bahwa anak laki-laki memiliki kabel yang lebih panjang daripada
anak perempuan, dan risiko yang lebih tinggi pada simpul dan
keterikatan tali pusat. 12.14.15
Setelah
plasenta
lahir,
periksa
mengenai
data
yang
berhubungan dengan tali pusat.
a) Panjang tali pusat
b) Bentuk tali pusat (besar,kecil, atau terpilin-piliin)
c) Insersio tali pusat
d) Jumlah vena dan arteri pada tali pusat
e) Adakah lilitan tali pusat. 12.14.15
E. Pemantauan keadaan ibu Kala III
1. Kontraksi uterus : bentuk uterus, intensitas.
2. Robekan jalan lahir / laserasi, rupture perineum.
3. Tanda vital dan Personal Hygiene
a) Tekanan darah bertambah tinggi dari sebelum persalinan
b) Nadi bertambah cepat
c) Temperatur bertambah tinggi
d) Respirasi berangsur normal
e) Gastrointestinal
muntah10.18.20.22
normal,
pada
awal persalinan mungkin
1. Pemantauan Kontraksi
Setelah plasenta lahir, kontraksi rahim tetap kuat dengan
amplitudo sekitar 60 sampai 80 mm Hg, kekuatan kontraksi ini
tidak diikuti oleh interval pembuluh darah tertutup rapat dan
terjadi pembentukan trombus terjadi penghentian pengeluaran
darh postpartum. Kekuatan his dapat diperkuat dengan memberi
obat uterotonika. Kontraksi diikuti saat menyusui bayi bayi sering
dirasakan oleh ibu postpartum, karena pengeluaran oksitosin oleh
kelenjar hipofisis posterior. 10.18.20.22
Periksalah kembali uterus setelah satu hingga dua menit untuk
memastikan uterus berkontraksi, jika uterus masih belum
berkontraksi dengan baik, ulangi masase fundus uteri. Ajarkan ib
dan keluarganya cara melakukan masase uterus hingga mampu
untuk segera mengetahui jika uterus tidak berkontraksi baik.
Periksa uterus setiap 15 menit pada satu jam pertama
pascapersalinan
dan
setiap
30
menit
pada
jam
kedua
pascapersalinan. 10.18.20.22
Pengeluaran oksitisin sangat penting yang berfungsi:
a) Merangsang otot plos yang terdapat disekitar alveolus
kelenjar mamae, sehingga ASI dapat dikeluarkan.
b) Oksitosin merangsang kontraksi rahim.
c) Oksitosin mempercepat involusi rahim.
d) Kontraksi otot rahim yang disebabkan oksitisin mengurangi
perdarahan
postpartum
Dalam batas yang wajar maka rasa sakit postpartum tidak
memerlukan pengobatan serta dapat dibatasi dengan
sendirinya. 10.18.20.22
2. Robekan Jalan Lahir dan Perinium
Robekan perineal sering terjadi setelah proses persalinan,
khususnya pada wanita primipara. Robekan derajat satu kadang
kala bahkan tidak perlu untuk dijahit, robekan derajat dua
biasanya dapat dijahit dengan mudah dibawah pengaruh analgesia
lokal dan biasanya sembuh tanpa komplikasi. Robekan derajat tiga
dapat mempunyai akibat yang lebih serius dan dimana pun bila
memungkinkan harus dijahit oleh ahli obstetri, dirumah sakit
dengan peralatan yang lengkap, dengan tujuan mencegah
inkontinensia vekal dan atau fistula fekal. 10.18.20.22
Selain itu, hal yang juga penting untuk dilakukan adalah
mengetahui apakah terjadi robekan jalan lahir dan perineum
dengan cara melakukan pemeriksaan dengan menggunakan ibu
jari telunjuk dan tengah tangan kanan yang telah dibalut kasa
untuk memeriksa bagian dalam vagina, bila ada kecurigaan
robekan pada serviks dapat dilakukan pemeriksaan dengan
speculum untuk memastikan lokasi
robekan serviks. Laserasi
perineum dapat diklasifikasikan menjadi empat yaitu sebagi
berikut : 10.18.20.22
a) Derajat satu : mukosa vagina, komisura posterior, dan kulit
b) Derajat dua : derajat satu + otot perineum
c) Derajat tiga : Derajat dua + otot sfingter ani
d) Derajat empat : derajat tiga + dinding depan rectum
Pemberian perawatan yang melakukan episotomi harus mampu
untuk menjahit robekan dan episiotomi secara tepat. Ia harus
dilataih untuk hal tersebut. Episiotomi harus dilakukan dan dijahti
dibawah pengaruh anastese lokal, dengan tindakan pencegahan
yang tepat untuk mencegah infeksi HIV dan hepatitis. 10.18.20.22
Teknik lain yang bertujuan mengurangi trauma pada perineum
ialah memijat perineum selama akhir kala dua persalinan, jadi
mencoba meregangkan jaringan. Teknik tersebut tidak pernah
dievaluasi secara tepat, tetapi ada keraguan tentang keuntungan
memijat jaringan terus – menerus yang vaskularisasinya sudah
banyak dan edema. 10.18.20.22
Manuver lain, yang efektivitasnya belum cukup terbukti, ialah
metode yang bervariasi untuk melahirkan bahu dan perut bayi
setelah kelahiran kepala. Tidak jelas apakah manuver ini selalu
diperlukan dan apakah tepat. Data penelitian tentang masalah ini
tidak tersedia. Namun, National Perinatal Epidemiology Unit di
Oxford baru – baru ini mengadakan uji coba terkontrol acak
tentang ”Perawatan Perineum saat Melahirkan – Menyerah atau
Siap (Hands On Or Poised)”, atau disebut juga studi ”HOOP”,
yang memberikan data mengenai efek pendekatan yang berbeda
untuk melahirkan kepala dan bahu janin pada perineum. 10.18.20.22
Observasi yang lain adalah tanda-tanda vital ibu. Pengawasan
ini juga dilakukan secara ketat untuk mengetahui keadaaan umum
ibu dan tanda-tanda yang patologis (misalnya syok). Tindakan ini
dilakukan tiap 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam
kedua pascapersalinan, demikian halnya dengan kandung kemih
karena kandung kemih yang penuh akan memengaruhi kontraksi
uterus yang juga dapat menyebabkan perdarahan. Kebersihan
vulvadan vagina ibu juga harus jadi perhatian penolong untuk
mencegah terjadinya infeksi. 9.10.18.20
3. Hygiene
Menjaga kebersihan tubuh pasien terutama di daerah genitalia
sangat penting dilakukan untuk mengurangi kemungkinan
kontaminasi terhadap luka robekan jalan lahir dan kemungkinan
infeksi intrauterus. Pada kala III ini kondisi pasien sangat kotor
akibat pengeluaran air ketuban, darah, atau feses saat proses
kelahiran janin.21.22
Selama plasenta lahir lengkap dan dipastikan tidak ada
perndarahan, segera keringkan bagian bawah pasien dari air
ketuban dan darah. Pasang pengalas bokong yang sekaligus
berfungsi sebagai penampung darah (under pad). Jika memang
dipertimbangkan perlu untuk menampung darah yang keluar untuk
kepentingan perhitungan volume darah, maka pasang bengkok
dibawah bokong pasien.23.24
4. Tanda Vital
Banyak perubahan fisiologis normal yang terjadi selama kala
astu dan dua persalinan, yang berakhir ketika plasenta dikeluarkan
dan
tanda-tanda
vital
wanita
kembali
ketingkat
sebelumpersalinan selama kala tiga:
a) Tekanan darah
Tekanan sistolik dan distolik mulai kembali ketingkat
sebelum persalian. Peningkatan atau penurunan tekanan
darah
masing-masing
merupakan
indikasi
gangguan
hipertensi pada kehamilan atau syok. Peningkatan tekanan
sistolik dengan tekanan diastolik dalam batas normal dapat
mengindikasikan ansietas atau nyeri.23..25
b) Nadi
Nadi secara bertahap kembali ketingkat sebelum
melahirkan. Peningkatan denyut nadi dapat menunjukkan
infeksi, syok, ansietas, atau dehidrasi. 23..25
c) Suhu
Suhu tubuh kembali meningkat perlahan. Peningkatan
suhu menunjukkan proses infeksi atau dehidrasi. 23..25
d) Pernapasan
Pernapasan
kembali
normal,
pada
peningkatan
frekuensi pernapasan dapat menunujukan syok atau
ansietas. 23..25
Tekanan darah dan nadi ibu sebaiknya diukur paling tidak
satu kali selama kala tiga dan lebih sering jika pada kala tiga
memanjang daripada rata-rata atau tekanan darah dan nadi berada
pada batas atau dalam kisaran abnormal. Pemantauan ini tidak
hanya dilakukan setelah evaluasi peningkatan sebelumnya, tetapi
penting sebagai sarana penapisan syok pada kejadian perdarahan.
23..25
F. Kebutuhan Ibu Kala III
1. Melakukan Inisisasi Menyusui Dini
Ibu dan bayi baru lahir kontak kulit-ke-kulit (SSC) atau yang
biasa kita kenal dengan inisiasi menyusu dini (IMD) setelah lahir
membawa banyak efek protektif.[1] Hal ini juga diketahui bahwa
SSC setelah lahir dapat mempertahankan suhu bayi, adaptasi
metabolik, dan pemeliharaan tingkat glukosa darah bayi memiliki
kapasitas berkurang untuk menghasilkan panas, yang mengarah ke
penurunan
suhu
yang
cepat.
Inilah
sebabnya
mengapa
pemeliharaan suhu adalah salah satu kebutuhan yang paling
penting dari bayi saat lahir .17.20
Sementara ibu dan bayinya berada dalam keadaan IMD panas
dipindahkan dari ibu ke bayi, di mana ibu suhu tubuh
mengaktifkan saraf sensorik bayi menyebabkan bayi rileks ,
pelebaran pembuluh darah, dan peningkatan suhu. 17.20
Selain untuk menghangatkan bayi baru lahir, IMD ikaitkan
dengan banyak manfaat bagi ibu. Seperti peningkatan oksitosin,
endorfin dan hormon lainnya. [2] Tingat oksitosin itu memperkuat
kontraksi rahim , yang membantu plasenta untuk lepas dan
mengurangi lamanya proses persalinan kala III. Dan oksitosin juga
mencegah perdarahan. 17.20
Cara melakukan IMD yaitu dengan bayi diletakkan di dada ibu
sehingga dada bayi berada di atas perut ibu dan kepala bayi di
bawah kedua payudara ibu kemudian tutup bayi menggunakan
selimut untuk menjaga bayi agar tidak kedinginan. IMD
dilakukan selama 1 jam . 17.20
2. Perawatan Kala III
Perawatan kala III meliputi
a. pemberian obat uterotonika profilaksis seperti oksitosin
b. pengikatan tali pusat 17.20
3. Menyusui Bayi
Selain pemberian uterotonika profilaksis oxitosin untuk
mempertahankan kontraksi uterus, juga bisa dilakukan dengan
alternatif lain yaitu dengan melakukan breast feeding rutin selama
24 jam pertama. Karena stimulasi puting susu atau menyusui
menyebabkan sekresi oksitosin ke dalam darah-aliran setiap 5
sampai 15 menit.26.37
4. Menjelaskan tentang kontraksi uterus
Kelainan tahap ketiga persalinan seperti durasi lama dan
plasenta dapat dikaitkan dengan perdarahan postpartum, yang
merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu[5]. Selama
kehamilan rahim menunjukkan aktivitas yang dinamis yang
berhubungan dengan konsentrasi plasma dari zat-zat yang
mempengaruhi kontraktilitas miometrium, yaitu oksitosin dan
prostaglandin dan reseptor lainnya. 26.27.29
Kontraksi uterus bervariasi dalam intensitas dan karakteristik
selama persalinan, segmen uterus bagian atas menunjukkan sifat
kontraktil, dan segmen proses relaksasi yang lebih rendah untuk
memfasilitasi lewatnya janin 26.27.29
Dan berkaitan dengan intensitas dan durasi kontraksi atau pola
yang berbeda dari kontraktilitas uterus. Durasi rata-rata tahap III
persalinan adalah 8 menit (kisaran 2-39 menit). 26.27.29
Macam-macam tipe pengembalian plasenta ke bentuk semula:
a. ada kenaikan terus menerus dalam ketebalan segmen uterus
bagian atas dan penurunan terus menerus dalam ketebalan
segmen bawah rahim dari waktu ke waktu selama tahap III
persalinan yang mengarah ke persalinan plasenta
b. miometrium berbeda secara signifikan dalam ketebalan dan
menunjukkan tingkat yang lebih lambat dari perubahan pada
wanita dengan durasi yang lebih lama dari tahap III persalinan
c. wanita dengan kelahiran prematur, post-partum perdarahan
dan korioamnionitis klinis menunjukkan pola yang berbeda
dari perubahan ketebalan miometrium selama tahap III
persalinan dibandingkan dengan pasien tanpa komplikasi.
26.27.29
Ibu juga membutuhkan :
1.
Dukungan mental dari bidan dan keluarga atau pendamping.
2.
Penghargaan terhadap proses kelahiran janin yang telah dilalui.
3.
Informasi yang jelas mengenai keadaan pasien sekarang dan
tindakan apa yang akan dilakukan.
4.
Penjelasan mengenai apa yang harus ia lakukan untuk
membantu mempercepat kelahiran plasenta, yaitu kapan saat
meneran dan posisi apa yang mendukung untuk pelepasan dan
kelahiran plasenta.
5.
Bebas dari rasa risih akibat bagian bawah yang basah oleh
darah dan air ketuban.
6.
Hidrasi26.27.29
G. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KALA III
STANDAR
TANGGAL
OPERASIONAL
TERBIT
PROSEDUR
Pengertian
Tujuan
Kebijakan
DI TETAPKAN
Ketua STIKES karyaHusada Semarang
.....................................
Mendampingi klien mulai kelahira bayi dan berakhir dengan pelepasan dan
pengeluaran plasenta
1. Meningkatkan kontraksi fitas uterus
2. Mempertahankan volume caira sirkulasi
3. Meningkatkan keamanan maternal dan bayi baru lahir
4. Mendukung interaksi orang tua-bayi
Direktur Nomor : SK/1298a-WAT/IX/2011tentang Pemberlakuan Standar
Prosedur Operasional (SPO) di RSUD Embung Tatimah Kota Batam.
Prosedur
Persiapan dan alat :
1. Sarung tangan
2. Tensimeter
3. Stetoskop
4. Thermometer
5. Format pengkajian dan alat tulis
6. Kacamata
7. Masker
8. Celemek
9. Sepatu boot
10. Lampu sorot
11. Spuit 3 cc
12. Obat-obatan (oksitosin)
Persiapan klien dan lingkungan :
1. Jaga privasi
2. Beri posisi yang nyaman
3. Fasilitasi inisiasi dini
Pelaksanaan :
1. Lakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta
terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan
arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti poros jalan lahir
(tetap lakukan tekanan dorso-kranial)
2. Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar
5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta
3. Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat: Beri
dosis ulangan oksitosin 10 unit IM
4. Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh
5. Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan
6. Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya
7. Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30 enit setelah bayi lahir
8. Bila terjadi perdarahan, lakukan plasenta manual
9. Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua
tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin
kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah
disediakan
10. Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT atau steril untuk
melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau
klem DTT atau steril untuk mngeluarkan bagian selaput yang tertinggal
11. Rangsangan taktil (masase) uterus
12. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase uterus,
letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan gerakan
melingkar scara lembut hungga uterus berkontraksi (fundus teraba keras)
13. Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah
15 detik melakukan rangsangan taktil/masase
14. Menilai perdarahan
Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan
selaput etuban lengkap dan utuh. Masukan plasenta ke dalam kantung
plastik atau tempat khusus
15. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan
penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
Unit terkait :
1. IGD
2. KAMAR BERSALIN
SKILL LABORATORIUM
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
No
: ................................
Institusi
: ................................
Nama
: .............................
Tanggal
: ................................
LEMBAR CEKLIST
KALA III
Nilai kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai
berikut.
1. Perlu perbaikan : Langkah tidk di kerjakan atau tidak
sesuai dengan yang seharusnya atau urutanya tidak
sesuai (jika harus berurutan). Masih membutuhkan
bantuan pelatih untuk pperbaikan langkah dan cara
mengerjakanx
2. Mampu : Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutanya (jika harus berurutan). Waktu kerja masih masih dalam
batas rata-rata waktu umtuk prosedur terkait
3. Mahir : Langkah di erjakan dengan benar, sesuai urutanya dan
waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilaian menganggap langkah tertentu
tidak perlu diperagakan )
No
KEGIATAN
KASUS
1
A. SIKAP
1
Menyambut klien dengan ramah dan sopan
2
Memperkenalkan diri kepada klien dan percaya diri
3
Menjelaskan tujuan dan prosedur yang dilakukan
4
Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat
5
Menjaga privasi klien
NILAI SIKAP = ∑/5 X 10
B. ISI
1. PEMBERIAN SUNTIKAN OKSITOSIN
6
Siapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk perasat manajemen aktif
kala III.
7
Mengenakan APD (celemek, topi, kacamata, masker dan alas kaki
tertutup)
8
Mencuci tangan dengan sabun
9
Segera berikan bayi yang telah terbungkus kain pada ibu untuk diberi
ASI
10
Palpasi abdomen
Meletakkan kain bersih diatas perut ibu dan meraba abdomen untuk
memastikan bayi tunggal.
11
Beritahukan pada ibu bahwa ia akan disuntik.
12
Selambat-lambatnya dalam 2 menit setelah bayi lahir, segera suntikkan
Oksitosin 10 IU IM pada 1/3 bagian atas paha kanan bagian luar. Teknik
penyuntikan dilakukan dengan tepat yaitu melakukan aspirasi ,dan posisi
jarum 90º
2
3
13
Pindahkan klem kedua yang telah dijepit sewaktu kala II persalinan pada
tali pusat sekitar 5 – 10 cm dari vulva.
14
letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (alasi dengan kain) tepat di
atas tulang pubis.
-
Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dan menahan
uterus pada saat melakukan penegangan tali pusat.
-
Setelah terjadi kontraksi yang kuat, tegangkan tali pusat kearah
bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus keaah belakang-atas
(dorso kranial) secara hati-hati untuk mencegah (inversion uteri). Jika
tidak lahir setelah 30-40 detik. Hentikan hentikan penegangan tali pusat
dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi kembali
prosedur di atas.

Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau
anggota keluarga untuk melakukan stimulasi putting susu.
2. MENGELUARKAN PLACENTA
15
Bila pada penekanan bagian bawah dinding depan uterus kearah dorsal
ternyata diikuti dengan pergeseran tali pusat ke arah distal maka
lanjukan dorongan kea rah kranial hingga plasenta dapat lahir.

Ibu boleh meneran tetapi tali pusat hanya ditegangkan (jangan
ditarik secara kuat terutama jika uterus tak berkontraksi) sesuai
dengan sumbu jalan lahir (kea rah bawah sejajar lantai atas)

Jika talipusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga
berjarak sekitar 5-10 cm dri vulva dan lahirkan pasenta

Jika plasenta tdak lepas selama 15 menit menegangkan tali pusat
1. Ulangi pemberian oksitosin 10 unit IM
2. Lakukan kateterisasi (gunakan teknik aseptik) jika
kandung kemih penuh
3. Minta keluarga untuk menyiapan rujukan
4. Ulangi tekanan dorso-kranial dan penegangan tali pusat
15 menit berikutnya
5. Jika plasenta tak lahir dalam 30 menit sejak bayi lahir
atau terjadi perdarahan maka segera lakukan tindakan
plasenta manual.
16
Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan kedua
tangan. Pegang dan putar plasenta searah jarum jam hingga selaput
ketuban terpilih kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah
yang telah di sediakan
3. RANGSANGAN TAKTIL (MASASE) UTERUS
17
Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase
uterus, letakan telapa tangan di fundus dan lakukan masase dengan
gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi selama 15
detik (fundus teraba keras)

Lakukan tindakan yang diperlukan (Kompresi Bimanual Interna,
Kompresi Aorta Abdominalis, Tampon Kondom-Kateter) jika
uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah rangsangan
taktil atau masase.
4. MENILAI PERDARAHAN
18
Periksa plasenta dan selaputnya untuk memastikan keduanya lengkap
dan utuh :
-
Periksa sisi maternal plasenta untuk memastikan bahwa semuanya
lengkap dan utuh.
-
Pasangkan bagian-bagian plasenta yang robek atau terpisah untuk
memastikan tidak ada bagian yang hilang
- Periksa plasenta bagian fetal untuk memastikan tidak ada kemungkinan
plasenta suksenturiata.
- Evaluasi selaput untuk memastikan kelengkapannya.
19
Periksa uterus setelah satu hingga dua menit untuk memastikan bahwa
uterus berkontraksi dengan baik. Jika uterus masih belum berkontraksi,
ulangi pemijatan fundus uteri. Ajarkan ibu dan keluarganya cara
melakukan pemijatan uterus sehingga segera dapat diketahui jika uterus
tidak berkontraksi dengan baik.
20
Periksa kontraksi uterus setiap 15 menit selama satu jam pertama pasca
persalinan dan setiap 30 menit selama satu jam kedua pasca persalinan.
21
Bersihkan tempat tidur dan buat ibu merasa nyaman. Letakkan
instrumen dan peralatan lainnya ke dalam larutan klorin untuk
dekontaminasi. Kemudian celupkan kedua tangan yang masih memakai
sarung tangan ke dalam larutan klorin kemudian lepas dalam keadaan
terbalik. Lalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, lalu
keringkan.
NILAI ISI = ∑/16 X 80
C. TEKNIK (10)
22
Teruji menjelaskan secara sistematis
23
Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
24
Memberi kesempatan untuk bertanya & member umpan balik
25
Percaya diri & tidak ragu
26
Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
NILAI TEKNIK = ∑/5 X 10
PENGUJI
(……………………………………)
T E S F O R M AT I F
Ny. H umur 24 tahun melahirkan anak pertama 2 menit yang lalu. Plasenta belum lahir.
Terdapat semburan darah tiba-tiba dari jalan lahir, kontraksi uterus baik. TFU 2 jari
diatas pusat.
1. Asuhan segera yang dilakukan Bidan pada Ny. H setelah kelahiran anak pertama adalah
A. Meregangkan tali pusat
B. Menyuntikkan oksitosin
C. Melakukan masase uterus
D. Melakukan manual plasenta
E. Cek kemungkinan adanya janin kedua
2. Semburan darah yang dialami Ny. H disebabkan karena ...
A. Inversio uteri
B. Perlukaan jalan lahir
C. Lepasnya insersi plasenta
D. Adanya sisa selaput ketuban
E. Robekan pada dinding uterus
3. Seorang perempuan usia 26 tahun melahirkan di puskesmas dan ditolong oleh bidan.
Bayi lahir pukul 10.20 WITA, dengan jenis kelamin perempuan, berat badan 2800 gram,
PB 49cm, dan langsung menangis. Setelah bayi lahir, bidan melakukan manajemen aktif
kala III.
Apakah tindakan pertama dari manajemen aktif kala III yang harus dilakukan oleh bidan?
a. Menyuntikan oksitosin
b. Mengeluarkan plasenta
c. Melakuakn PTT
d. Pemantuan TTV
e. Massase uterus
4. Seorang perempuan usia 26 tahun P1A0 sudah melahirkan 35 menit yang lalu. Setelah
muncul tanda pelepasan plasenta, bidan melakukan manajemen aktif kala III.
Bagaimana tahapan manajemen aktif kala III yang tepat?
a. Masasa fundus uteri-oksitosin-PTT
b. Oksitosin-masase fundus uteri- PTT
c. Oksitosin-PTT-Masase fundus
d. PTT-oksitosin- masasa fundus uteri
e. Massase-PTT – Oksitosin
5. Seorang wanita berumur 30 melakukan persalinan di BPM. Bayi lahir dengan berat
3000gram. Setelah menggunting tali pusat dan diklem. Kemudian apa yang harus
dilakukan bidan ?
a. Melakukan manajemen aktif kala III
b. Melakukan IMD
c. Melakukan masase uterus
d. Melakukan pemeriksaan fisik bayi.
6. NY. T G1P0A0 melahirkan di rumah sakit dan ditolong oleh bidan. Bayi lahir pukul
20.30 WIB dengan BB : 2800gram. Kemudia bidan melakukan manajemen aktif kala III.
Setelah 1 jam plasenta tidak kunjung terlepas. Apakah tindakan yang harus dilakukan
bidan ?
a. Melakukan rujukan.
b. Melakukan pemasangan infuse.
c. Melakukan masase uterus
d. Melakukan manual plasenta
Download