DETEKSI DAN IDENTIFIKASI NEMATODA Ditylenchus dipsaci (Kühn) Filipjev PADA UMBI BAWANG KONSUMSI (Allium spp.) DI BOGOR JAWA BARAT AMALIA STYANINGRUM DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2018 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Deteksi Dan Identifikasi Nematoda Ditylenchus Dipsaci (Kühn) Filipjev Pada Umbi Bawang Konsumsi (Allium Spp.) di Bogor Jawa Barat” adalah benar karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Oktober 2018 Amalia Styaningrum NIM A34140076 ABSTRAK AMALIA STYANINGRUM. Deteksi dan Identifikasi Nematoda Ditylenchus dipsaci (Kühn) Filipjev pada Umbi Bawang Konsumsi (Allium spp.) di Bogor Jawa Barat. Dibimbing oleh SUPRAMANA. Nematoda umbi Ditylenchus dipsaci merupakan parasit utama pertanaman bawang dan belum dilaporkan ada di wilayah Indonesia. Importasi umbi bawang mencapai 17121.34 ton per tahun dapat menjadi media pembawa hama dan patogen penting. Hama dan patogen yang terbawa berpotensi merusak pertanaman Indonesia. Penelitian ini bertujuan mendeteksi dan mengidentifikasi secara morfologi dan morfometri nematoda D. dipsaci yang terbawa umbi bawang konsumsi, yaitu bawang putih (Allium sativum), bawang bombai (Allium cepa), dan bawang merah (Allium ascalonicum) di Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan 5 tahapan kegiatan yaitu pengambilan contoh umbi bawang, pendataan, ekstraksi nematoda, perhitungan populasi nematoda, identifikasi morfologi dan pengukuran morfometrik nematoda, dan analisis data. Pengambilan contoh umbi bawang dilakukan di 5 pasar tradisional dan 5 pasar swalayan. Ekstraksi nematoda dilakukan dengan menggunakan metode corong Baerrman yang dimodifikasi. Air perendaman untuk ekstraksi nematoda menggunakan aquades bersuhu 4 ºC dan diletakkan pada ruangan bersuhu 20 ºC dalam keadaan gelap selama 96 jam. Populasi nematoda dihitung dengan cara sampling yang diulang sebanyak 3 kali. Fiksasi nematoda dilakukan dengan menggunakan metode Ryss untuk memudahkan pengamatan morfologi nematoda. Identifikasi morfologi dan pengukuran karakter morfometrik nematoda dilakukan dengan mengacu pada formula J G De Man. Analisis deskriptif data morfometrik nematoda dilakukan dengan Microsoft Excel 2013. Nematoda D. dipsaci berhasil dideteksi pada bawang putih konsumsi di 5 pasar tradisional dan 1 pasar swalayan. Nematoda berhasil diidentifikasi secara morfologi dan morfometrik. Kata kunci : bawang putih, nematoda umbi, pasar ABSTRACT AMALIA STYANINGRUM. Detection and Identificaton of Ditylenchus dipsaci on Onion Bulbs (Allium spp.) for Consumption in Bogor, West Java. Supervised by SUPRAMANA. Stem and bulb nematode Ditylenchus dipsaci is the main parasitic nematode of onions and has not been reported present in Indonesia. Importation of onion bulb for consumption that reaches 17121.34 tons per year could be an important media for pests and pathogens introduction. The introduction of invasive pests and pathogens have the potential to damage Indonesian crops. This research aims to detect the nematode Ditylenchus dipsaci carried on onion bulb for consumption, includes garlic (Allium sativum), onions (Allium cepa), and shalllots (Allium ascalonicum) in Bogor, West Java. Research was conducted in five steps that are sampling, logging, extraction of nematodes, nematode counting, morphological identification and morphometric measurements of nematodes, and data analysis. Sample of onion bulbs were taken from 5 traditional markets and 5 supermarkets in Bogor. Nematode extraction was done using a modified Baerman funnel method. Nematode extraction was conducted by soaking sampled bulbs into 4ºC distilled water and incubated in a dark room with temperature of 20ºC for 96 hour. Nematode fixation was done according to Ryss method to facilitate morphological observations. Nematode morphological identification and measurement of morphometric characters were carried out based on the J G De Man formula. Nematode morphometric descriptive data was analysed with Microsoft Excel 2013. Ditylenchus dipsaci was detected on garlic bulbs sampled from five traditional markets and one supermarket. The nematode was succesfully identified morphologically and morphometrically. Keywords : bulb nematode, garlic, markets © Hak Cipta milik IPB, tahun 2018 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB. DETEKSI DAN IDENTIFIKASI NEMATODA Ditylenchus dipsaci (Kühn) Filipjev PADA UMBI BAWANG KONSUMSI (Allium spp.) DI BOGOR JAWA BARAT AMALIA STYANINGRUM Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Proteksi Tanaman DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2018 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga penelitian tugas akhir ini berhasil diselesaikan. Judul penelitian yang dipilih dalam penelitian ini adalah Deteksi dan Identifikasi Nematoda Ditylenchus dipsaci (Kühn) Filipjev pada Umbi Bawang Konsumsi (Allium spp.) Di Bogor Jawa Barat sebagai deteksi dini dalam upaya pencegahan masuknya organisme pengganggu tanaman karantina A1 ke dalam wilayah Indonesia. Penelitian mulai dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Juli 2018 di Laboratorium Nematologi Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman, Fakulitas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Supramana M.Si selaku pembimbing, yang telah membimbing dan memberikan arahan selama penelitian berlangsung. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Hermanu Triwidodo M.Sc selaku dosen penguji tamu yang telah memberikan saran dan masukan sehingga penulis dapat menghasilkan sebuah karya yang baik. Sebuah kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga bagi penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah. Penghargaan penulis sampaikan kepada kedua orang tua Ayahanda Hadi Sukatmo dan Ibunda Siti Khazanah, serta Amalia Injang Wulandari H yang telah memberikan dukungan baik berupa moril dan materi sekaligus motivator terbesar penulis. Ungkapan terima kasih penulis sampaikan kepada Fitrianingrum Kurniawati, SP. M.Si, Elmi Muliya SP, M Danang Kusuma SP, Heri Ahmadi SP, Aris Budiman SP yang telah membantu berdiskusi selama penelitian berlangsung. Penulis ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan Laboratorium Nematologi Tumbuhan, khususnya Nurul Fitria Indriyanti, Ade Indra Maulana SP, Ruth Sry Yutika SP, Annisa Nur Imamah SPd, Zuhay Ratuz Zaffan SSi, Wahyuning Dwi Novitasari, Desy Eka Putri, Ainun Oktavia Dwi S, Derma Erni Harefa SP, Prayogo Probo Asmoro SP, Maurice Yoshua Hutahuruk SP yang telah membantu selama penelitian berlangsung. Rekan-rekan Proteksi Tanaman 51, khususnya Triumami Widjayanti, Sri Palupi, Safira Dewinta L, Pungky Roma Widjaya dan Milad Rahmatillah terimakasih atas dukungan dan saran yang bersifat membangun bagi penulis selama perkuliahan berlangsung hingga penyelesaian tugas akhir. Penulis sampaikan kepada para pedagang di semua pasar lokasi pengambilan sampel yang telah bersedia mempersilahkan penulis memilih bawang dalam waktu yang cukup lama. Terimkasih juga penulis sampaikan kepada tenaga pendidik departemen proteksi tanaman dan seluruh pihak yang turut membantu dalam pelaksanaan penelitian. Terimkasih penulis ucapkan kepada semua anggota Equestrian Club IPB yang telah memberikan dukungan dan semangat selama perkuliahan hingga penyelesaian tugas akhir. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi yang siapapun yang membaca. Bogor, Oktober 2018 Amalia Styaningrum DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Alat dan Bahan Metode Penelitian Pengambilan Sampel Pendataan Ekstraksi Nematoda Perhitungan Populasi Nematoda Fiksatif Nematoda dan Pembuatan Preparat Identifikasi Morfologi dan Pengukuran Morfometrik Nematoda Analisis Data HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Deteksi dan Kepadatan Absolut Ditylenchus dipsaci Gejala Penyakit pada Umbi Bawang Morfologi dan Morfometrik Ditylenchus dipsaci Ditylenchus dipsaci Betina Tubuh Diameter tubuh maksimum Stilet Esofagus Struktur reproduktif Ekor Ditylenchus dipsaci Jantan Tubuh Diameter tubuh maksimum Stilet Esofagus Struktur reproduktif Ekor SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP x x x 1 1 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 5 6 6 7 8 8 8 8 8 9 9 9 11 11 11 11 11 11 11 14 14 14 15 18 24 DAFTAR GAMBAR 1 Umbi bawang putih yang terinfestasi Ditylenchus dipsaci berdasarkan lokasi pengambilan sampel, a. Pasar Anyar; b. Pasar TU Kemang; c. Pasar Parung; d. Pasar Sukasari; e. Giant Swalayan 2 Morfologi Nematoda Ditylenchus dipsaci. a, Penampakan seluruh tubuh; b. Posterior tubuh nematoda; c. Postvulval setengah dari panjang vulva ke anus; d. anterior tubuh nematoda 3 Morfologi nematoda Ditylenchus dipsaci jantan. a. penampakan seluruh tubuh; b. esofagus tubuh nematoda; c. stilet; d. posterior tubuh nematoda 7 8 12 DAFTAR TABEL 1 Populasi nematoda Ditylenchus dipsaci terbawa umbi bawang konsumsi asal pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat 2 Populasi nematoda Ditylenchus dipsaci terbawa umbi bawang konsumsi asal pasar swalayan di Bogor, Jawa Barat 3 Perbandingan nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina asal pasar tradisional dan pasar swalayan dengan literatur 4 Perbandingan nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci jantan asal pasar tradisional dan pasar swalayan dengan literatur 6 7 10 13 DAFTAR LAMPIRAN 1 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina berdasarkan lokasi pengambilan sampel 2 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci jantan berdasarkan lokasi pengambilan sampel 19 22 PENDAHULUAN Latar Belakang Bawang merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia. Bawang yang umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia yaitu bawang merah (Allium ascalonicum), bawang putih (Allium sativum), dan bawang bombai (Allium cepa). Bawang biasanya digunakan sebagai bahan masakan (Thompson 1959). Bawang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena kandungan zat allicin yang bersifat sebagai antibakteri (Palungkung 1997). Konsumsi bawang masyarakat Indonesia yang tinggi belum dapat diimbangi dengan kecukupan pasokan dalam negeri. Importasi bawang merah, bawang bombai dan bawang putih setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Bawang bombai yang beredar di pasaran Indonesia dipasok dari beberapa negara seperti India, New Zealand, dan Netherlands. Importasi bawang bombai mencapai 7164.725 ton per tahun. Bawang putih Indonesia diimpor dari beberapa negara yaitu China, Taiwan, dan India dengan angka importasi mencapai 40247.42 ton per tahun. China menjadi negara pengekspor bawang putih terbesar yaitu 95% dari angka kebutuhan bawang putih Indonesia. Importasi bawang merah mencapai 3951.878 ton per tahun. Negara pengekspor bawang merah Indonesia adalah Taiwan, Philippines, Vietnam dan India (Kementan 2018). Harga bawang impor yang relatif lebih murah dari bawang lokal, serta penampakan fisik yang lebih baik dibandingkan bawang lokal, membuat konsumen lebih tertarik membeli bawang impor (Agromedia 2011). Importasi komoditas pertanian menjadi solusi pemenuhan kebutuhan dalam negeri, namun dapat menyebabkan dampak negatif pada pertanaman dalam negeri. Perdagangan internasional menjadi salah satu media dalam penyebaran organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) dari satu negara ke negara lain. Langkah pencegahan masuknya organisme pengganggu tanaman karantina harus diwaspadai. OPTK memiliki peluang berkembang secara invasif sebagai contoh Globodera rostochiensis yang telah merusak pertanaman kentang Indonesia. Berdasarkan Permentan RI No 31/Permentan/KR.010/7/2018 salah satu organisme pengganggu tanaman karantina paling berbahaya di dunia yang dapat terbawa oleh umbi bawang adalah nematoda Ditylenchus dipsaci. Nematoda ini tergolong OPTK A1 yang harus diwaspadai karena kisaran inang yang luas. OPTK A1 adalah organisme pengganggu tanaman karantina yang keberadaannya belum ditemukan pada suatu wilayah negara. Tingginya angka importasi bawang merupakan pintu masuk nematoda D. dipsaci ke wilayah Indonesia. D. dipsaci adalah salah satu nematoda parasit tanaman dengan tingkat kerugian ekonomi tertinggi di dunia. Tercatat lebih dari 450 spesies tanaman diketahui sebagai inang. Nematoda ini biasanya ditemukan sebagai nematoda endoparasit berpindah pada bagian tanaman yang berair seperti batang, daun dan bunga, namun juga dapat menginfeksi umbi, rimpang dan rizome (EPPO 2008). Siklus hidup nematoda akan berada di tanah mulai dari telur hingga juvenil 3. Juvenil 4 akan menginfeksi umbi bawang pada pertanaman (Bridge 2007). Nematoda juvenil 4 cenderung agregat pada suatu tempat tepat di bawah permukaan jaringan membentuk gumpalan yang disebut eelworm wool dan dapat bertahan 2 hidup dalam kondisi kering selama bertahun-tahun (CABI 2018). D. dipsaci yang ikut terpanen dapat bertahan sampai beberapa tahun pada umbi bawang yang terinfestasi. Selanjutnya, nematoda akan keluar dari umbi untuk bereproduksi di tanah pada kondisi yang optimum (Bridge 2007). Umbi bawang yang terinfeksi nematoda D. dipsaci akan menunjukkan gejala kecoklatan pada kulit, permukaan bawang mengalami hyperplasia dan hyperthropy serta meningkatkan ketajaman aroma bawang. Namun, tidak semua infeksi nematoda akan menunjukkan gejala yang sama, gejala laten atau gejala yang tidak terihat juga dapat terjadi. Tajuk tanaman yang terinfeksi akan menunjukkan gejala nekrotik (EPPO 2008). Negara Italia pernah mengalami kerugian besar akibat infeksi nematoda D. dipsaci pada pertanaman bawang bombai dengan kehilangan hasil mencapai lebih dari 60%. Prancis dan Polandia mengalami kehilangan hasil sebesar 90% pada pertanaman bawang putih (Sturhan 1991). Negara tropis seperti Brazil juga pernah mengalami kerugian mencapai 100% pada pertanaman bawang putih di wilayah dataran dingin (Charachar et al. 2003). Pencegahan masuknya OPTK A1 ke dalam wilayah Indonesia menjadi hal penting dalam menjaga kesehatan pertanaman Indonesia untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu perlu dilakukan deteksi dan identifikasi nematoda D.dipsaci terbawa umbi bawang pada umbi bawang merah, bawang putih, dan bawang bombai yang beredar di pasar tradisional dan pasar swalayan yang ada di Bogor, Jawa Barat. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mendeteksi dan mengidentifikasi nematoda Ditylenchus dipsaci pada umbi bawang konsumsi, yaitu bawang putih (Allium sativum), bawang merah (Allium ascalonicum) dan bawang bombai (Allium cepa) di Bogor, Jawa Barat berdasarkan karakter morfologi dan morfometrik nematoda. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah diketahuinya data spesies OPTK nematoda yang terbawa umbi bawang konsumsi yang berada di pasar tradisional dan pasar swalayan yang ada di Bogor, Jawa Barat. Data keberadaan nematoda pada umbi bawang konsumsi dapat digunakan oleh pihak terkait untuk melakukan tindakan pencegahan masuknya OPTK ke lahan pertanian Indonesia. BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Contoh umbi bawang diambil dari 5 pasar tradisional dan 5 pasar swalayan di Bogor, Jawa Barat. Ekstraksi dan identifikasi nematoda dilakukan di Laboratorium Nematologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juli 2018. Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan digital, corong Baermann yang dimodifikasi, hand counter, mikroskop cahaya (Compound), mikroskop stereo, dan mikroskop binokuler OLYMPUS BX51, Indomicro HDMI camera, software ToupView.Ink 2015. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah FAA, gliserol, aquades, umbi bawang putih, bawang merah dan bawang bombai konsumsi yang dipilih secara purposif. Metode Penelitian Pengambilan Sampel Contoh umbi bawang pasar swalayan diperoleh dari Giant, Yogya, FoodMart, SuperIndo dan Carrefour di Bogor. Contoh umbi bawang pasar tradisional diperoleh dari Pasar Bogor, Pasar TU Kemang, Pasar Sukasari, Pasar Parung dan Pasar Anyar. Pengambilan contoh umbi bawang dilakukan secara purposif yaitu dengan memperhatikan kriteria spesifik umbi bawang impor. Contoh umbi bawang yang diambil berupa umbi dengan kriteria mulus, berukuran besar dan mengkilap. Contoh umbi bawang disimpan dalam kantung plastik. Pendataan Pendataan dilakukan untuk mendapatkan informasi awal dari contoh umbi. Informasi awal yang diperlukan adalah lokasi pengambilan dan waktu pengambilan contoh umbi. Pendataan contoh umbi dilakukan dengan menuliskan informasi pada kertas label yang ditempelkan pada kantung plastik penyimpanan. Ekstraksi Nematoda Ekstraksi nematoda dilakukan dengan metode Baerman yang dimodifikasi. Bawang merah dan bawang putih sebanyak 30 g dan sebuah bawang bombai masing-masing ditempatkan ke dalam gelas saring. Bawang dikupas terlebih dahulu dipisahkan antara kulit dengan umbi dan direndam bersamaan. Saringan diletakkan tepat di atas gelas penampung. Gelas penampung disiramkan air aquades bersuhu 4ºC sampai bawang tergenang, kemudian diinkubasi selama 96 jam pada ruangan gelap bersuhu 20ºC. Suspensi yang terkumpul kemudian disaring menggunakan saringan 500 mesh dan dimasukkan dalam tabung contoh umbi bawang. Nematoda 4 dalam suspensi diamati dan dihitung dengan menggunakan mikroskop stereo (Flegg dan Hooper 1970). Perhitungan Populasi Nematoda Perhitungan populasi nematoda yang telah diekstraksi dilakukan dengan menggunakan mikroskop stereo dan dihitung menggunakan alat penghitung (counter). Penghitungan dilakukan dengan menghitung nematoda yang terlihat secara keseluruhan pada volume suspensi sebanyak 3 ml. Populasi nematoda dihitung menggunakan rumus sebagai berikut: N= 𝑉 𝑥𝑛 𝑣 Keterangan : N = populasi nematoda n = Jumlah rata-rata nematoda terhitung V = Volume akhir ekstraksi pada botol sampel 𝑣 = Volume sampel pada sirakus Fiksasi Nematoda dan Pembuatan Preparat Fiksasi nematoda dilakukan dengan menggunakan metode Ryss (2017). Nematoda dikumpulkan dalam tabung atau collection tube 1.5 mm menggunakan air aquades sebanyak 10-20 ekor nematoda. Tabung ditambahkan dengan larutan (Formalin 4% Asam Asetat 1%) FA 4:1 yang telah dipanaskan terlebih dahulu sampai memenuhi tabung. Tabung dimasukkan ke dalam air yang dipanaskan selama 1 jam dengan suhu tidak melebihi 85 ºC. Langkah tersebut dilakukan untuk mengawetkan nematoda dan membuat tubuh nematoda kontras pada masingmasing bagian tubuh lainnya. Fiksatif nematoda akan mempermudah pengamatan karakter morfologi dan pengukuran morfometrik dimensi tubuh nematoda. Tabung diangkat dan ditunggu selama 2-12 jam pada suhu ruang. Nematoda dalam tabung kemudian dicuci dengan aquades 4-5 kali untuk menghilangkan larutan FA. Persiapan preparat nematoda dilakukan dengan membuat lingkaran parafin pada gelas objek menggunakan cork borer. Nematoda yang telah tercuci dipancing dan diletakkan pada campuran gliserol dan akuades dengan perbandingan 1:3. Gelas objek diletakkan pada suhu ruang selama 24 jam. Pengamatan dilakukan dengan memindahkan nematoda pada gliserol 15 µl dan ditutup dengan kaca penutup. Tepian kaca penutup direkatkan dengan pewarna kuku bening untuk menghindari pergeseran kaca penutup saat pengamatan dan menghindari kebocoran. Identifikasi Morfologi dan Pengukuran Morfometrik Nematoda Pengamatan morfologi nematoda dilakukan dengan mengamati nematoda di bawah mikroskop cahaya yang sudah dibuat dalam preparat sebelumnya. Identifikasi dilakukan dengan mengacu pada buku kunci identifikasi nematoda tumbuhan dan mencocokkan dengan beberapa literatur. Identifikasi karakter morfometrik berdasarkan formula J.G. De Man yaitu mengukur dimensi nematoda secara proporsional (Zuckerman et al. 1985). Pengukuran tubuh nematoda dewasa dilakukan dengan menggunakan mikroskop binokuler OLYMPUS BX51, Indomicro HDMI camera, software ToupView.Ink 2015 yang telah dikalibrasi dalam ukuran mikrometer. Parameter yang digunakan untuk identifikasi terhadap 5 neamtoda dewasa adalah panjang tubuh total, panjang stilet, panjang esofagus dari pangkal stilet sampai perbatasan esofagus dengan usus, panjang ekor dari ujung posterior sampai anus, dan diameter tubuh maksimum. Parameter pengukuran morfometrik nematoda berdasarkan Formula J.G De Man (1876) yang telah dimodifikasi kembali oleh Cobb (1914) dan Thorne (1949) adalah sebagai berikut: n L V s T G2 = Jumlah nematoda yang diukur = panjang tubuh nematoda = persentase panjang vulva dari anterior = panjang stilet = ukuran tubuh dari anus atau cloaca ke ujung terminus = jarak dari vulva ke ujung posterior a= 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ 𝑑𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟 b= 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑟 𝑘𝑒 𝑒𝑠𝑜𝑓𝑎𝑔𝑢𝑠 − 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑠𝑡𝑖𝑛𝑎𝑙 𝑣𝑎𝑙𝑣𝑒 c= 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑒𝑘𝑜𝑟 Analisis Data Data morfometrik nematoda diolah dengan Microsoft Excel 2013 dan dianalisis secara deskriptif HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Deteksi dan Kepadatan Absolut Ditylenchus dipsaci Nematoda D. dipsaci berhasil dideteksi pada umbi bawang putih konsumsi di 6 lokasi dari 10 lokasi pasar pengambilan contoh. Bawang merah dan bawang bombai negatif dari nematoda D. dipsaci, namun terdeteksi positif terinfestasi nematoda Aphelenchoides fragarieae. D. dipsaci terdeteksi positif pada bawang putih di 5 pasar tradisional (Tabel 1). Hal ini terjadi karena pasokan bawang putih di pasar tersebut berasal dari satu sumber yang sama yaitu Pasar TU Kemang. Pasar TU Kemang mendapatkan pasokan bawang putih dari Pasar Induk Keramat Jati. Kepadatan absolut nematoda pada contoh umbi bawang putih bervariasi pada setiap pasar lokasi pengambilan sampel. Kepadatan absolut nematoda D. dipsaci pada umbi bawang putih asal Pasar Bogor (1044 nematoda/10 g umbi) lebih tinggi dibandingkan pada umbi bawang putih dari pasar lain. Kepadatan absolut nematoda D. dipsaci pada umbi bawang putih asal Pasar Sukasari (15 nematoda/ 10 g umbi) lebih rendah daripada pasar lain. Tabel 1 Populasi nematoda Ditylenchus dipsaci terbawa umbi bawang konsumsi asal pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat Jumlah nematoda / 10 g umbi Lokasi pengambilan sampel Bawang putih Bawang merah Bawang bombai Pasar Anyar 916 0a 0 Pasar Bogor 1044 0 0 Pasar Sukasari 15 0 0 Pasar Parung 54 0 0 Pasar Kemang 36 0 0 a : negatif (tidak terdeteksi) nematoda Ditylenchus dipsaci, Nematoda D. dipsaci juga berhasil dideteksi pada umbi bawang putih pada satu pasar swalayan yaitu Giant swalayan. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan pasokan dari setiap pasar swalayan. Kepadatan absolut nematoda pada umbi bawang putih yang berasal dari Giant swalayan sebanyak 85 nematoda / 10 g umbi (Tabel 2). Perbedaan kepadatan absolut nematoda pada umbi bawang terjadi karena adanya beberapa faktor. Faktor yang dapat mempengaruhi adalah adanya perbedaan investasi nematoda pada lahan pertanaman, kondisi ruang penyimpanan dan keadaan pada pendistribusian bawang. Kondisi tersebut merupakan kondisi tidak terkontrol. Bawang putih yang beredar di pasaran Indonesia 80-90% merupakan bawang impor asal China. Terdeteksinya nematoda D. dipsaci menunjukkan bahwa bawang putih impor yang beredar merupakan media pembawa bagi nematoda OPTK A1 ke wilayah negara Indonesia. 7 Tabel 2 Populasi nematoda Ditylenchus dipsaci terbawa umbi bawang konsumsi asal pasar swalayan di Bogor, Jawa Barat Jumlah nematoda / 10 g umbi Lokasi pengambilan sampel Bawang putih Bawang merah Bawang bombai Giant swalayan Food mart swalayan Carrefour swalayan Yogya swalayan Superindo swalayan 85 0 0 0 0 0a 0 0 0 0 0 0 0 0 0 a : negatif (tidak terdeteksi) nematoda Ditylenchus dipsaci, Gejala Penyakit pada Umbi Bawang Bawang putih yang terinfestasi oleh D. dipsaci akan menunjukkan gejala kecoklatan, permukaan bawang menjadi mulus dan bau bawang menjadi lebih tajam (EPPO 2008). Bawang yang beredar di pasaran merupakan bawang yang sudah melalui sortir dan proses pengupasan kulit bawang. Bawang dengan penampakan baik yang hanya dapat ditemukan di pasar. Bagian bawang seperti batang (scape) dan cakram bawang (basal plates) umunya dibuang atau dibersihkan terlebih dahulu sebelum dijual kepada konsumen. Contoh umbi bawang yang terdeteksi nematoda D. dipsaci baik yang berasal dari pasar tradisional dan pasar swalayan tidak menunjukkan gejala (Gambar 1). Tidak bergejala atau biasa disebut gejala laten terjadi karena nematoda yang terbawa umbi berada dalam fase dorman. Nematoda dapat menghentikan siklus hidupnya dan dorman, jika pada kondisi kurang menguntungkan (Bridge 2007). a b c d e f Gambar 1 Umbi bawang putih yang terinfestasi Ditylenchus dipsaci berdasarkan lokasi pengambilan sampel, a. Pasar Anyar; b. Pasar TU Kemang; c. Pasar Parung; d. Pasar Sukasari; e. Giant Swalayan 8 Penyimpanan dan pendistribusian bawang berada pada kondisi optimum bawang yaitu 30 ºC dan kelembaban 70%. Keadaan penyimpanan tersebut membuat bawang dapat bertahan selama 3 bulan (Sinaga et al. 1993). Suhu dan kelembaban ruang penyimpanan umbi bawang membuat nematoda berada pada kondisi stres lingkungan. Sistem pertahanan tubuh D. dipsaci akan merespon stress lingkungan dengan membentuk agregasi. Agregasi ini akan membentuk rumpun atau agregat yang terdiri dari ribuan individu nematoda (Wharton 2002). Bentuk agregat nematoda dalam keadaan cryptobiotic membentuk “wool” (ISPM 2015). Wool nematoda dapat ditemukan pada cakram bawang seperti masa kapas berwarna putih keabu-abuan. Hal ini terlihat dari kepadatan absolut D. dipsaci asal pasar Bogor yang mencapai 1044 nematoda/ 10 g umbi bawang. Morfologi dan Morfometrik Ditylenchus dipsaci Morfologi nematoda merupakan landasan dalam taksonomi dan klasifikasi. Determinasi spesies, genus dan kategori yang lebih tinggi didasarkan pada karakter morfologinya. Bagian tubuh nematoda seperti stilet, esofagus, median bulbus, letak vulva dari anterior nematoda dan bentuk ovarium menjadi dasar dalam identifikasi nematoda (Mulyadi 2009). Nematoda Ditylencus dipsaci berhasil diidentifikasi secara morfologi dan morfometrik (Tabel lampiran 1-2). Identifikasi morfometrik nematoda dikelompokkan berdasarkan lokasi pasar pengambilan contoh. Nematoda D.dipsaci dari masing-masing pasar memiliki variasi nilai rata-rata pengukuran morfometrik. Nilai-nilai morfometrik bagian tubuh nematoda pada umumnya berkorelasi dengan panjang tubuh. Hubungan tersebut berguna dalam klasifikasi antar famili (Mulyadi 2009). Ditylenchus dipsaci Betina Tubuh. Tubuh nematoda berbentuk vermiform atau memiliki bentuk tubuh seperti cacing (Gambar 2a). Tubuh nematoda lurus atau melengkung ketika terpapar suhu panas. Panjang tubuh total nematoda betina terukur memiliki rentang panjang 785.77-1101.09 µm. Panjang rata-rata tubuh total D. dipsaci terpanjang yaitu D.dipsaci asal pasar Bogor dengan rata-rata panjang 1013.98 µm (Tabel 3). Nematoda terukur memiliki rentang panjang lebih pendek dari literatur menurut Mollov et al. (2012) dan Tenuta et. al. (2014) yaitu 1411-1626 µm dan 1532-1578 µm. Diameter tubuh maksimum. Diameter tubuh terukur memiliki rentang nilai 20.39 - 46.85 µm. Diameter rata-rata terbesar yaitu D. dipsaci asal pasar Bogor, 33.08 µm (Tabel 3). Diameter tubuh maksimum terpendek yaitu D. dipsaci asal pasar Anyar dengan nilai rata-rata 27.4 µm (Tabel 3). Rentang tubuh masih termasuk dalam rentang nilai literatur yaitu 31-45 µm. D. dipsaci merupakan nematoda yang memiliki tubuh ramping. Kutikula nematoda memiliki anulasi halus (Shurtleff 2000). Stilet. Ujung anterior D. dipsaci memiliki permukaan rata tanpa anulasi yang jelas dan sedikit set-off (Gambar 2d) atau tidak set-off. Stilet terukur memiliki rentang nilai 10.03 -12.98 µm (Tabel 3). Panjang stilet terukur memiliki nilai lebih panjang dibandingkan literatur menurut Tenuta et al. (2014). Menurut Shurtleff 9 (2000) stilet D. dipsaci memiliki ukuran yang pandek, ramping, dan memiliki basal knob pada pangkal stilet atau biasa disebut stomatostilet. Esofagus. Bentuk median bulb yaitu ovoid sampai fusiform (Gambar 2d), dengan katup yang tidak terlalu jelas terletak di anterior sampai setengah dari esofagus. Esofagus nematoda tidak tumpang tindih atau tidak overlap (Shurtleff 2000). Jarak median bulb dan esofagus ke anterior nematoda terukur memiliki rentang nilai 52.21 – 86.19 µm (Tabel 3) dan 132-204 µm (Tabel 3). Jarak rata-rata median bulb terpanjang adalah D. dipsaci asal pasar Anyar yaitu 77.2 µm. Hal ini terjadi karena sebaran nilai median bulb pasar Anyar memiliki rentang yang tidak terlalu jauh yaitu 71.18 – 86.05 µm (Tabel 3). Hal serupa juga terjadi di pasar Bogor yang memiliki rentang yang tidak terlalu jauh. Jarak median bulb pasar Kemang, pasar Parung dan Giant Swalayan memiliki rentang yang cukup jauh sehingga menimbulkan variasi yang cukup besar. Jarak rata-rata esofagus terpanjang adalah D. dipsaci asal Giant swalayan yaitu 178.8 µm (Tabel 3). setoff a vulva metacorpus b c anus postvulval d e Gambar 2 Morfologi Nematoda Ditylenchus dipsaci. a, Penampakan seluruh tubuh; b. Posterior tubuh nematoda; c. Postvulval setengah dari panjang vulva ke anus; d. anterior tubuh nematoda; Struktur reproduktif. Nematoda betina memiliki ovarium tunggal, berada di anterior nematoda (Gambar 2b) (Shurtleff 2000). Vulva adalah celah transversal yang berbeda yang terletak di bagian posterior tubuh (V = 75-80) (Shurtleff 2000). Persentase jarak rata-rata vulva dari anterior terukur adalah 77-79 % (Tabel 3) dari keenam lokasi terdeteksi. Persentase rata-rata vulva terukur sesuai dengan literatur menurut Tenuta et al. (2014) yaitu 77 %. Uterus posterior yang belum sempurna memanjang hingga setengah jarak antara vulva dan anus dan kira-kira sama panjangnya dengan ekor (Decker 1989). Sel-sel gonad berada dalam satu atau dua garis, tidak disusun di sekitar tulang belakang (Shurtleff 2000). Postvulval terlihat pada (Gambar 2b-c) berada pada kisaran jarak 70% dari jarak vulva ke anus. Ekor. Ekor memanjang pada kedua jenis kelamin. Umumnya panjang ekor 4-7 kali dari lebar tubuh anal. Ciri khas bentuk ekor yaitu memiliki ujung runcing tajam atau membulat sempit (Shurtleff 2000). Panjang ekor rata-rata terukur dari keenam lokasi adalah 80-88 µm. Panjang ekor terukur lebih pendek dibandingkan dengan panjang ekor rata-rata literatur yaitu 89 µm dan 83 µm. 10 Tabel 3 Perbandingan nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina asal pasar tradisional dan pasar swalayan dengan literatur Diameter tubuh max Literatur (µm) Mollov et al. Tenuta et. al. (2012) (2014) 8 1555 (1411-1626) (1532-1578) 33 (32-35) s (11.05-12.3) n L Median bulb ke anterior 8.7 (7.5-9.8) 76 (73-80) Esofagus 249 (240-258) a (38-44) 54 (45-63) b (5.8-8.0) 6.2 (6.1-6.3) c (14-17) V% (79-81) G1 - G2 T (95-105) 17.4 (17.3-17.4) 77 (75-79) 1202 (1154-1250) 169 (165-173) 89 (88-91) pengukuran Morfometrik (µm) P. Kemang P. Bogor P. Anyar P. Parung Giant 10 880.70 ± 54.22a (795.95-943.72) 28.74 ± 4.27 (20.39–37.60 10.89 ± 0.58 (10.13-11.63) 68.58 ±11.78 (52-.21-85.34) 163.16 ± 23.03 (132-204) 31.10 ± 3.65 (25.01–39. 03) 5.48 ± 0.68 (4.50-6.45) 11.03 ± 2.31 (7.73-16.34) 77 ± 0.03 (74-82) 678.84 ± 51.50 (730.31-589.77) 201.86 ± 25.86 (155.7–239.17) 82.517 ± 15.86 (57.74-114.69) 14 1013.98 ± 68.64 (930.12-1101.09) 33.08 ± 3.41 (28.73–37.9) 11.04 ± 0.73 (10.28-11.95) 73.26 ± 5.03 (65.15 – 77.74) 175.62 ± 3.27 (169.02-180.74) 27.54 ± 5.05 (21.69 – 39.50) 6.03 ± 1.13 (4.08-8.05) 12.17 ± 1.70 (9.00–14.74) 78 ± 0.9 (76-79) 729.48 ± 80.24 (539.64-847.19) 203.51 ± 40.19 (156-295.6) 88.254± 9.5 (71.25- 99.65) 5 889.6 ± 98.3 (785.77-1016.77) 27.4 ± 5.9 (20.85-36) 11.20 ± 0.6 (10.51–12.06) 77.2 ± 6.2 (71.18 – 86.05) 167.6 ± 3.9 (162.76-191.59) 33.3 ± 4.5 (25.73-35.01) 5.3 ± 0.5 (4.83-5.95) 11.2 ± 1.2 (9.44–12.35) 79 ± 0.03 (76-84) 700.4 ± 63.2 (627.3–775.54) 185.48 ± 41.94 (126.40 -241.23) 80.2 ± 12.2 (63.64-92.51) 10 923.95 ± 64.01 (804.24-1009.90) 32.98 ± 6.83 (23.91-46.85) 10.91 ± 0.91 (10.01-12.98) 70.77 ± 3.7 (53.2-86.19) 169.27 ± 15.08 (138-183.47) 28.84 ± 5.39 (21.41-36.62) 5.4 ± 1.3 (3.6-7.06) 9.13 ± 3.5 (5.08–12.65) 79 ± 0.02 (75-81) 729.65 ± 51.41 (618.34–814.81) 194.30 ± 26.93 (166.65-247.79) 82.06 ± 10.89 (68.64-99.85) 9 954.92 ± 120.4 (783.80-1156.19) 31.89 ± 5.82 (24.12-42.15) 10.78 ± 0.47 (10.03–11.75) 71.46 ± 7.72 (53.03 – 78.78) 178.80 ± 12.37 (164.30-199.58) 30.41 ± 4.09 (24.53-37.68) 5.36 ± 0.72 (4.09-6.46) 11.06 ± 1.77 (8.00–13.73) 77± 0.03 (72-82) 738.74 ± 112.63 (565.33–944.86) 216.09 ± 23.12 (190.08 -272.69) 87.73 ± 14.94 (77.19-129.16) a : angka pada tabel terdiri dari rata-rata ± standar deviasi (nilai minimal dan nilai maksimum) 11 Ditylenchus dipsaci Jantan Tubuh. Nematoda jantan memiliki ukuran tubuh lebih pendek dari nematoda betina (Gambar 3a). D. dipsaci jantan memiliki rentang panjang tubuh total terukur 802.22-1084.81 µm. Nematoda jantan terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Bogor dengan rata-rata 956.32 µm (Tabel 4). Nematoda jantan asal giant swalayan memiliki rata-rata panjang tubuh total terpendek yaitu 855.70 µm (Tabel 4). Menurut Literatur Mollov et al. (2012) dan Tenuta at al. (2014) rentang panjang total tubuh nematoda jantan adalah 1201-1558. Nematoda jantan terukur memiliki ukuran lebih pendek dari literatur. Diameter Tubuh Masksimum. Diameter tubuh maksimum jantan terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Parung dengan rata-rata 28.01 µm, dan terpendek yaitu, D.dipsaci asal giant swalayan memiliki diameter rata-rata paling pendek yaitu 25.47 µm (Tabel 4). Diameter terukur memiliki nilai lebih pendek dibandingkan dengan diameter rata-rata menurut Tenuta et al. (2014) yaitu 28 µm. Stilet. Nematoda jantan memiliki panjang stilet yang tidak berbeda nyata dengan nematoda betina (Gambar 3c). Stilet jantan memiliki nilai terukur serupa dengan Tenuta et al. (2014) dan Mollov et al. (2012). Panjang rata-rata stilet jantan terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Anyar yatitu 11.33 µm (Tabel 4). Nematoda asal Anyar dan Bogor memiliki rata-rata panjang stilet yang sama, namun D.dipsaci Bogor memiliki standar deviasi yang lebih tinggi sehingga D. dipsaci Anyar memiliki rata-rata panjang stilet terpanjang. Sedangkan, Stilet terpendek dimiliki oleh D. dipsaci Giant yaitu 10.65 µm (Tabel 4). Esofagus. Jarak rata-rata median bulb ke anterior menurut Tenuta et al. (2014) yaitu 73 µm. Rentang panjang median bulb terukur berkisar 51.35-79.66 µm (Tabel 4). Jarak median bulb terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Anyar, dan terpendek adalah D. dipsaci asal Giant Swalyan. Panjang esofagus terukur memiliki nilai yang lebih pendek dibandingkan dengan literatur menurut Tenuta et al. (2014). Panjang esofagus rata-rata terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Anyar 183.54 µm dan terpendek adalah D. dipsaci Giant swalayan 167.39 µm (Tabel 4). Esofagus nematoda tidak overlap atau tumpang tindih (Gambar 3b). Struktur Reproduktif. Nematoda jantan memiliki spikula sebagai alat reproduksi (Gambar 3d). Menurut Mollov et al. (2012) dan Tenuta et al. (2014) rentang panjang spikula yaitu, 22-28 µm. Rentang panjang spikula terukur adalah 17.17 – 29.22 µm (Tabel 4). Panjang rata-rata spikula terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Anyar, dan terpendek D. dipsaci asal Giant Swalayan. Menurut Tenuta et al. (2014) panjang bursa berada pada rentang 62-97 µm dengan rata-rata 29 µm. Nilai bursa terukur lebih pendek daripada literatur. Panjang bursa rata-rata terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Kemang, 62.76 µm dan bursa terpendek adalah D.dipsaci asal Giant swalayan, 50.87 µm (Tabel 4) Ekor. Perhitungan panjang ekor nematoda jantan lebih pendek dari panjang ekor betina karena telah dilakukan pengukuran panjang bursa terlebih dahulu. Sehingga panjang ekor tercantum adalah panjang ekor tanpa bursa. Pajang rata-rata ekor tanpa bursa menurut Tenuta et al. (2014) yaitu 29 µm dengan rentang nilai 2534 µm. Nilai ini lebih pendek dibandingkan dengan nilai terukur. Panjang ekor tanpa bursa terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Anyar dengan rata-rata 44.09 µm, sedangkan terpendek adalah D. dipsaci asal Giant swalayan dengan rata-rata 36.75 µm (Tabel 4). 12 metakorpu s a b stilet c d spikula bursa Gambar 3 Morfologi nematoda Ditylenchus dipsaci jantan. a. penampakan seluruh tubuh; b. esofagus tubuh nematoda; c. stilet; d. posterior tubuh nematoda Variasi nilai morfometrik nematoda D. dipsaci dari masing-masing lokasi pengambilan sampel dipengaruhi oleh geografis dan kondisi lingkungan yang dapat menghasilkan adanya ekotipe dan populasi spesifik inang (Mulyadi 2009). Waktu penyimpanan juga dapat mempengaruhi perbedaan nilai morfometrik nematoda. Menurut Tarte dan Mai (1976) ukuran morfologi nematoda mengalami perubahan setelah disimpan selama 6 bulan pada suhu ruang dan dalam keadaan tidak tersedianya makanan. Perubahan ini terjadi pada ukuran tubuh total, diameter tubuh maksimum, panjang esofagus, stilet, rasio a dan rasio b. Nilai morfometrik nematoda dapat mengalami peningkatan, penurunan, atau tidak mengalami perubahan. Rasio V nematoda betina atau persentase vulva dari anterior terhadap panjang tubuh total tidak mengalami perubahan. Tabel 4 Perbandingan nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci jantan asal pasar tradisional dan pasar swalayan dengan literatur n L Literatur (µm) Mollov et al. Tenuta et. al. (2012) (2014) 9 22 1362 (1372-1558) (1201-1473) Diameter tubuh max s 28 (24-34) (11.5-12.3) Median bulb ke anterior 11 (10-12) 73 (68-85) esofagus 189 (159-207) 44.4 (39.7-53.5) a (40-50) b (6.5-7.0) 6.9 (6.3-7.8) c (14-16) 14.9 (13.9-16.3) spikula (22-27) 26 (22-28) bursa 82 (62-97) ekor tanpa bursa 29 (25-34) Hasil pengukuran Morfometrik (µm) P. Kemang P. Bogor P. Anyar P. Parung Giant 5 904.92 ± 46.72a (840.16-949.11) 26.66 ± 4.11 (21.05 – 31.68) 11.02 ± 0.7 (10.09-11.97) 72.91 ± 2.39 (70.27 – 76.78) 172.79 ± 2.66 (168.98 -175.70) 34.42 ± 3.92 (29.49-39.91) 5.24 ± 0.28 (4.84-5.53) 8.94 ± 0.42 (8.49-9.57) 24.52 ± 2.85 (20.59-26.86) 62.76 ± 1.68 (60.29-64.9) 38.80 ± 7.67 (30.08-44.72) 9 956.32 ± 57.86 (881.87- 1084.81) 26.43± 2.84 (22.37-31.51) 11.06 ± 0.68 (10.16-12.09) 73.09 ± 8.69 (51.35-79.66) 175.19 ± 6.29 (165.71-185.93) 36.53 ± 5.26 (30.66-42.05) 5.46 ± 0.31 (4.91-6.05) 9.84 ± 1.04 (8.23-11.18) 23.07 ± 2.39 (20.16-27.71) 59.24 ± 5.26 (47.13-66.70) 38.86 ± 7.83 (29.55-53.56) 5 878.34 ± 40.68 (829.46-920.27) 26.14 ± 2.84 (23.58-29.60) 11.33 ± 0.32 (10.99-11.70) 80.60 ± 8.86 (76.02-85.73) 183.54 ± 8.86 (174.57-197.66) 33.88 ± 3.58 (29.19-37.27) 4.8 ± 0.48 (4.20 – 5.16) 8.56 ± 0.91 (7.43 – 9.92) 24.93 ± 2.95 (20.83-27.70) 59.54 ± 3.08 (55.85-64.02) 44.09 ± 12.79 (27.79-62.53) 5 867.51 ± 18.49 (837.12-883.64) 28.01 ± 7.00 (24.34-32.23) 11.33 ± 0.60 (10.59-11.94) 77.73 ± 4.87 (72.69-84.30) 167.68 ± 6.22 (159.94-176.67) 31.30 ± 3.62 (28.15-35.50) 5.17 ± 0.26 (4.89-5.52) 8.41 ± 0.54 (7.62-9.05) 23.42 ± 3.62 (17.17-26.00) 62.38 ± 1.62 (60.87-64.70) 40.74 ± 7.77 (35.67-54.45) 5 855.70 ± 67.22 (802.22-929.60) 25.47 ± 3.64 (21.94-29.66) 10.65 ± 0.49 (10.02-11.37) 72.46 ± 5.09 (67.03-79.11) 167.39 ± 8.64 (158.64-177.88) 34.27 ± 6.37 (27.50-42.00) 5.11 ± 0.15 (4.98-5.30) 10.02 ± 1.67 (8.66-12.91) 22.80 ± 4.03 (19.45-29.22) 50.87 ± 9.1 (40.37-60.71) 36.75 ± 9.35 (21.81-47.33) a: angka pada tabel terdiri dari rata-rata ± standar deviasi (nilai minimal dan nilai maksimum) 13 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Ditylenchus dipsaci berhasil dideteksi pada bawang putih konsumsi asal pasar tradisional dan pasar swalayan di wilayah Bogor. Nematoda D. dipsaci diidentifikasi berdasarkan karakter kunci morfologi dan morfometrik. Saran Terdeteksinya D. dipsaci pada bawang putih konsumsi di Bogor dapat memberikan informasi kepada pihak yang berkepentingan untuk melakukan tindakan preventif. Perlu dilakukan penelitian mengenai pengendalian yang efektif terhadap nematoda D. dipsaci. Selain itu dengan ditemukannnya nematoda Aphelenchoides fragariae pada bawang merah maka perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut pada lahan pertanaman bawang merah di berbagai wilayah indonesia. DAFTAR PUSTAKA Agromedia. 2011. Petunjuk Praktis Bertanam Bawang. Jakarta (ID): AgroMedia Pustaka. Bridge J, Starr JL. 2007. Plant Nematodes of Agricultural Importance. London (UK): Manson Publishing. Charchar JM, Tenente RCV, Aragao FAS. 2003. Resistencia de cultivares de alho a Ditylenchus dipsaci. Nematologia Brasileira 27 (2) : 179-184. Decker H. 1989. Plant Nematodes and Their Control (Phytonematology). New Delhi : Paul Press. [EPPO]. 2008. Ditylenchus destructor and Ditylenchus dipsaci. Bulletin EPPO 38: 363-373. Flegg JJ, Hooper DJ. 1970. Extraction of free living stages from the soil. P. 5-22. In: Southey, J.F. (1970). Laboratory methods for work with plant and soil nematodes. Technical Bulletin 2, Ministry of Agriculture, Fisheries and Food, Her majesty’s Stationary Office. London : 148. [ISPM]. 2015. International standar for phytosanitary measures ISPM 27 diagnostic protocols DP 8 : Ditylenchus dipsaci and Ditylenchus destructor [internet]. [diakses pada 4 agustus 2018]. Tersedia pada: http://www.uvhvvr.gov.si/ fileadmin/uvhvvr.gov.si/pageuploads/DELOVNA_PODROCJA/Mednarodn e_zadeve/Dok/ISPM_2015/ISPM_27_DP_08_20047_Ditylenchus_dipsaci_ and_Ditylenchus_destructor__2015-09-21.pdf [Kementan RI]. 2018. Basis data ekspor-impor komoditi pertanian [internet]. [diakses pada: 2018 mei 19]. Tersedia pada : http://database.pertanian.go.id. Mollov DS, Subbotin SA, Rosen C. 2012. [Abstrack]. First report of Ditylenchus dipsaci on garlic in Minnesota. Robertson AE, editor. APS Journals 96 (11). Doi : 10.1094/PDIS-06-12-0532-PDN. Mulyadi. 2009. Nematologi Pertanian. Yogyakarta (ID):UGM Press. [Permentan] Peraturan Menteri Pertanian. 2018. Jenis organisme pengganggu tumbuhan karantina. Jakarta (ID): Permentan. Palungkung R, Budiarti A. 1997. Bawang putih Dataran Rendah. Jakarta (ID): Penebar Swadaya Ryss AY. 2017. A simple express technique to process nematodes for collection slide mounts. Jurnal of Nematology 49 (1):27-32. Sinaga RM, Musaddad D. 1993. Pengaruh suhu dan kelembaban terhadap mutu bawang putih (Allium sativum) cv Lumbu Hijau di ruang penyimpanan. Laporan Penelitian Proyek ARM 1992/1993. Balai Penelitian Hortikultura Lembang. Shurtleff MC. Averre CW. 2000. Diagnosing Plant Disease Caused By Nematodes. Minnesota (USA): APS Press. Sturhan D, Brezeski MW. 1991. Stem and bulb nematode, Ditylenchus spp., Manual of Agricultural Nematology, Nickle WR editor. New York (US): Marcel Dekker Inc. Tarte R, Mai WF. 1976. Morphological variation in Pratylenchus penetrans. Journal of Nematology 8 (3): 185-195. Tenuta M, Madani M, Briar S, Molina O, Gulden R, Subbotin SA. 2014. Occurrence of Ditylenchus Weischeri and Not D. dipsaci in field pea harvest 16 samples and Cirsium arvense in the Canadian praires. Jurnal of Nematologists 46 (4):376-384. Thompson HC. 1959. Vegetable Crops. United State (US): McGraw-Hill Book Company, Inc. Thorne. 1949. Nematode Morphometric Parameters. Diakses pada: [2018 agustus 16]. Tersedia pada : http:/nemaplex.ucdavis.edu/Methods/De%20Man%20F ormula.htm Wharton DA. 2002. Nematode Survival Strategies. The Biology of Nematology. Lee DL, editor. London (UK) : Taylor and Francis. Zuckerman BM, Mai WF, Harrison MB. 1985. Plant Nematology, Laboratory Manual. Massachusetts (US): The University of Massachusetts Agricultural Experiment Satation Amherst. LAMPIRAN 18 Kode BPA BPA BPA BPA BPA Mean Sd Min Max BPB BPB BPB BPB BPB BPB BPB BPB BPB BPB BPB BPB Lampiran 1 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina berdasarkan lokasi pengambilan sampel Median vulva ke L s esofagus G T G1 G2 a b c bulb anus Pasar Anyar 1016.77 12.06 86.05 170.95 29.04 92.51 775.54 241.23 148.72 35.01 5.95 10.99 829.64 11.03 79.62 171.59 23.90 87.89 639.86 189.78 99.50 34.71 4.84 9.44 926.30 10.51 71.18 165.01 36.00 76.76 726.81 199.49 123.31 25.73 5.61 12.07 785.77 11.39 72.12 162.76 20.85 63.64 659.37 126.40 74.74 37.69 4.83 12.35 797.81 11.82 74.72 165.14 24.21 69.06 627.30 170.51 104.28 32.95 4.83 11.55 871.26 11.36 76.74 167.09 26.80 77.97 685.78 185.48 110.11 33.22 5.21 11.28 98.28 0.62 6.15 3.94 5.92 12.21 63.18 41.94 27.67 4.52 0.53 1.15 785.77 10.51 71.18 162.76 20.85 63.64 627.30 126.40 74.74 25.73 4.83 9.44 1016.77 12.06 86.05 171.59 36.00 92.51 775.54 241.23 148.72 37.69 5.95 12.35 Pasar Bogor 825.56 10.56 68.69 189.88 34.22 91.69 650.07 175.48 83.79 4.35 12.02 24.13 887.53 11.04 52.30 162.21 30.47 75.39 691.76 195.77 120.38 5.47 16.97 29.13 889.63 10.97 52.84 139.21 37.04 61.28 733.03 156.60 95.32 6.39 16.84 24.02 925.20 10.05 42.62 114.97 42.65 67.14 741.42 183.78 116.64 8.05 21.71 21.69 818.26 11.70 44.95 111.00 33.52 63.65 651.80 166.46 102.81 7.37 18.20 24.41 1002.42 10.74 57.12 131.41 46.18 68.00 805.79 196.63 128.63 7.63 17.55 21.71 987.23 11.05 59.86 170.46 36.89 72.29 691.63 295.60 223.31 5.79 16.49 26.76 955.89 11.47 75.89 149.53 24.20 71.25 776.75 179.14 107.89 6.39 12.60 39.50 838.67 11.45 64.23 97.23 29.53 70.89 678.14 160.53 89.64 8.63 13.06 28.40 1065.95 10.28 65.15 180.74 33.86 99.65 815.38 250.57 150.92 5.90 16.36 31.48 930.12 11.63 72.45 177.08 34.15 90.42 731.59 198.53 108.11 5.25 12.84 27.24 987.11 10.70 77.74 176.29 34.33 90.70 766.41 220.70 130.00 5.60 12.70 28.75 V 76% 77% 78% 84% 79% 79% 0.03 76% 84% 79% 78% 82% 80% 80% 80% 70% 81% 81% 76% 79% 78% Kode L BPB BPB Mean Sd Min max 1101.09 985.62 942.88 86.01 818.26 1101.09 BPP BPP BPP BPP BPP BPP BPP BPP BPP BPP Mean Sd Min Max 923.47 881.09 784.24 920.83 1009.90 1003.35 949.86 886.41 880.40 979.91 921.95 68.42 784.24 1009.90 BPK BPK 797.91 836.57 Lampiran 1 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina ... (lanjutan) Median vulva ke S esofagus G T G1 G2 a bulb anus 10.50 77.01 174.96 37.90 92.67 847.19 253.90 161.23 6.29 11.95 73.93 169.02 28.73 86.54 770.19 215.43 128.89 5.83 11.01 63.20 153.14 34.55 78.68 739.37 203.51 124.83 6.35 0.57 11.86 29.57 5.61 12.69 61.35 40.19 35.83 1.18 10.05 42.62 97.23 24.20 61.28 650.07 156.60 83.79 4.35 11.95 77.74 189.88 46.18 99.65 847.19 295.60 223.31 8.63 Pasar Parung 11.85 66.68 174.33 39.85 81.98 742.27 181.20 99.22 23.17 10.01 76.80 169.26 23.91 72.31 701.21 179.88 107.57 36.85 26.15 10.11 76.63 176.52 29.99 68.64 598.34 185.90 117.26 26.91 10.32 78.07 175.83 34.22 88.60 722.73 198.10 109.50 30.75 10.59 76.18 178.16 32.84 88.38 814.81 195.09 106.71 12.98 86.19 277.88 46.85 72.64 768.23 235.12 162.48 21.42 10.86 58.53 174.08 33.80 86.74 764.77 185.09 28.10 98.35 10.99 71.28 183.47 30.57 70.07 719.76 166.65 29.00 96.58 11.12 53.20 144.50 24.04 71.36 712.26 168.14 36.62 96.78 99.85 732.12 247.79 147.94 29.09 10.27 64.14 138.70 33.68 10.91 70.77 179.27 32.98 80.06 727.65 194.30 114.24 28.81 0.91 10.06 37.67 6.83 10.56 56.37 26.93 22.83 5.02 10.01 53.20 138.70 23.91 68.64 598.34 166.65 96.58 21.42 12.98 86.19 277.88 46.85 99.85 814.81 247.79 162.48 36.85 Pasar Kemang 11.44 77.11 166.08 29.04 82.29 589.77 208.14 125.85 27.48 11.47 65.71 132.79 25.66 74.79 619.99 216.58 141.79 32.60 b c V 14.30 13.33 15.35 2.82 12.02 21.71 29.05 34.31 27.90 4.90 21.69 39.50 77% 78% 79% 0.03 70% 82% 5.30 5.21 4.44 5.24 5.67 3.61 5.46 4.83 6.09 7.06 5.29 0.93 3.61 7.06 11.26 12.18 11.43 10.39 11.43 13.81 10.95 12.65 12.34 9.81 11.63 1.16 9.81 13.81 80% 80% 76% 78% 81% 77% 81% 81% 81% 75% 79% 0.02 75% 81% 4.80 6.30 9.70 74% 11.19 74% 19 20 Kode L BPK BPK BPK BPK BPK BPK BPK BPK Mean Sd Min Max 901.43 943.72 903.20 886.01 795.95 876.85 924.90 940.49 880.70 54.23 795.95 943.72 BPGS BPGS BPGS BPGS BPGS BPGS BPGS BPGS BPGS BPGS Mean 1033.83 783.8 866.47 964.11 1036.19 1156.19 871.32 1088.06 840.43 908.75 954.92 Lampiran 1 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina ... (lanjutan) Median vulva ke S esofagus G T G1 G2 a bulb anus 11.02 52.21 1644.27 28.09 82.57 700.87 200.56 117.99 32.09 10.13 56.19 154.12 31.23 57.74 704.55 239.17 181.43 30.22 10.21 55.71 140.10 28.64 100.28 671.75 231.45 131.17 31.54 10.31 67.56 160.74 29.20 114.69 730.31 155.70 41.01 30.34 10.37 65.61 142.03 20.39 74.12 618.19 177.76 103.64 39.04 11.31 85.34 195.02 28.89 73.67 700.83 176.02 102.35 30.35 11.63 83.45 172.33 28.63 89.30 724.24 200.66 111.36 32.31 11.09 76.90 204.15 37.60 75.72 727.93 212.56 136.84 25.01 10.90 68.58 311.16 28.74 82.52 678.84 201.86 119.34 31.10 0.58 11.78 468.97 4.28 15.86 51.51 25.86 35.88 3.65 10.13 52.21 132.79 20.39 57.74 589.77 155.70 41.01 25.01 11.63 85.34 1644.27 37.60 114.69 730.31 239.17 181.43 39.04 Giant Swalayan 11.75 73.32 164.3 42.15 129.16 761.14 272.69 143.53 24.53 11.01 76.79 167.62 27.05 86.74 565.33 218.47 107.72 28.98 10.57 74.93 191.9 27.32 85.86 667.49 198.98 113.12 31.72 10.41 74.42 172.59 29.48 83.13 748.41 215.7 132.57 32.70 10.87 75.89 179.92 29.14 87.06 808.37 227.82 140.76 35.56 10.63 78.78 179.1 38.06 84.2 944.86 211.33 127.13 30.38 11.15 70.86 172.98 30.97 83.91 667.77 203.55 119.64 28.13 10.93 63.26 199.58 38.39 82.24 865.35 222.71 140.47 28.34 10.03 73.33 193.46 32.18 77.79 640.85 199.58 121.79 26.12 10.47 53.03 166.59 24.12 77.19 717.82 190.08 113 37.68 10.78 71.46 178.80 31.89 87.73 738.74 216.09 125.96 30.41 b c V 0.55 6.12 6.45 5.51 5.60 4.50 5.37 4.61 4.98 1.70 0.55 6.45 10.92 16.34 9.01 7.73 10.74 11.90 10.36 12.42 11.03 2.32 7.73 16.34 78% 75% 74% 82% 78% 80% 78% 77% 77% 0.03 74% 82% 6.29 4.68 4.52 5.59 5.76 6.46 5.04 5.45 4.34 5.46 5.36 8.00 9.04 10.09 11.60 11.90 13.73 10.38 13.23 10.80 11.77 11.06 74% 72% 77% 78% 78% 82% 77% 80% 76% 79% 0.77 Sd Min Max Kode BPJA Mean Sd Min Max BPJK Mean Sd Min 120.41 783.80 1156.19 Lampiran 1 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina ... (lanjutan) 0.47 7.72 12.37 5.82 14.94 112.63 23.12 12.95 4.09 10.03 53.03 164.30 24.12 77.19 565.33 190.08 107.72 24.53 11.75 78.78 199.58 42.15 129.16 944.86 272.69 143.53 37.68 L 920.27 908.34 829.46 841.25 892.36 878.34 40.68 829.46 920.27 840.16 929.51 934.3 949.11 871.51 904.92 46.72 840.16 0.72 4.34 6.46 Lampiran 2 Nilai morfometrik nematoda jantan dari pasar tradisional dan pasar swalayan diameter s Median bulb esofagus G T anus spikula Pasar Anyar 10.99 82.34 178.4 29.6 104.78 15.9 27.7 11.48 81.06 185.54 24.37 107.55 15.92 26.87 11.47 85.73 197.66 23.58 83.64 12.78 20.83 11.7 76.02 181.52 28.85 102.03 17.32 26.4 10.99 77.87 174.57 24.32 120.18 15.54 22.83 11.33 80.60 183.54 26.14 103.64 15.49 24.93 0.32 3.81 8.86 2.84 13.16 1.66 2.95 10.99 76.02 174.57 23.58 83.64 12.78 20.83 11.70 85.73 197.66 29.60 120.18 17.32 27.70 Pasar Kemang 10.7 76.78 173.42 21.05 92.47 15.27 22.38 11.35 72.98 175.7 28.98 109.54 17.69 26.25 10.09 72.04 168.98 31.68 107.23 17.58 26.86 11.97 70.27 174.47 27.24 107.52 16.07 26.5 10.98 72.47 171.37 24.37 91.02 17.04 20.59 11.02 72.91 172.79 26.66 101.56 16.73 24.52 0.70 2.39 2.66 4.11 9.01 1.04 2.85 10.09 70.27 168.98 21.05 91.02 15.27 20.59 1.77 0.03 8.00 72% 13.73 82% bursa 60.03 60.17 55.85 64.02 57.65 59.54 3.08 55.85 64.02 62.39 64.9 63.4 62.8 60.29 62.76 1.68 60.29 21 22 Max 949.11 Kode L 912.43 930.57 937.11 1084.81 985.4 974.64 965.98 881.87 934.05 956.32 57.86 881.87 1084.81 BPJB Mean Sd Min Max BPJB Mean Sd Min Max 879.18 873.5 837.12 864.09 883.64 867.51 18.49 837.12 883.64 Lampiran 2 Nilai morfometrik nematoda jantan ... (lanjutan) 11.97 76.78 175.70 31.68 109.54 17.69 Pasar Bogor Diameter s Median bulb esofagus G T anus 10.83 73.93 172.75 25.83 90.98 16.57 10.41 77.23 169.02 28.48 111.15 17.36 10.47 76.5 170.32 27.22 113.87 16.26 11.62 72.46 179.35 25.8 102.42 19.11 11.9 79.66 185.93 24.61 101.96 18.5 11.07 77.98 176.76 23.48 93.95 13.06 11 78.34 177.18 31.51 89.61 15.41 10.16 51.35 179.66 22.37 78.88 13.79 12.09 70.32 165.71 28.59 100.06 18.41 11.06 73.09 175.19 26.43 98.10 16.50 0.68 8.69 6.29 2.84 10.99 2.11 10.16 51.35 165.71 22.37 78.88 13.06 12.09 79.66 185.93 31.51 113.87 19.11 Pasar Parung 11.82 74.04 168.14 31.23 115.32 14.46 11.47 72.69 164.36 25 99.73 16.43 10.59 81.08 169.3 28.32 101.16 14.75 11.94 84.3 176.67 24.34 101.73 14.7 10.83 76.52 159.94 31.16 97.65 14.04 11.33 77.73 167.68 28.01 103.12 14.88 0.60 4.87 6.22 3.28 7.00 0.91 10.59 72.69 159.94 24.34 97.65 14.04 11.94 84.30 176.67 31.23 11p5.32 16.43 26.86 64.90 spikula 25.06 27.71 21.56 25.11 22.35 22.37 21.61 20.16 21.66 23.07 2.39 20.16 27.71 bursa 60.03 66.7 60.31 58.73 63.18 58.59 60.06 47.13 58.39 59.24 5.26 47.13 66.70 24.59 17.17 26 25.7 23.64 23.42 3.62 17.17 26.00 60.87 61.02 64.7 63.31 61.98 62.38 1.62 60.87 64.70 Kode BPJGS Mean Sd Min Max L 802.22 815.51 802.55 928.6 929.6 855.70 67.22 802.22 929.60 s 10.02 10.46 10.63 11.37 10.78 10.65 0.49 10.02 11.37 Lampiran 2 Nilai morfometrik nematoda jantan ... (lanjutan) Giant Swalayan diameter Median bulb esofagus G T anus 71.74 158.64 28.83 81.46 14.9 67.03 163.88 29.66 86.02 13.75 68.39 161.27 21.94 62.18 11.99 76.05 175.26 22.11 101.08 13.92 79.11 177.88 24.83 107.34 15.21 72.46 167.39 25.47 87.62 13.95 5.09 8.64 3.64 17.73 1.26 67.03 158.64 21.94 62.18 11.99 79.11 177.88 29.66 107.34 15.21 spikula 19.5 22.02 19.45 23.81 29.22 22.80 4.03 19.45 29.22 bursa 45.17 48.08 40.37 60.71 60.01 50.87 9.10 40.37 60.71 23 24 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Lampung Tengah, Lampung, pada tanggal 15 November 1995 dari orang tua yaitu Bapak Hadi Sukatmo dan Ibu Siti Khazanah. Penulis adalah anak kedua dari dua bersaudara. Penulis pernah mengenyam pendidikan di TK Satya Dharma Sudjana, SDN 02 Gunung Madu, SMP Satya Dharma Sudjana, dan SMAN 01 Metro. Penulis mengawali masa kuliah sebagai peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) pada tahun 2014 hingga menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor dengan Mayor Proteksi Tanaman dan Minor Agronomi dan Hortikultura pada tahun 2018. Penulis aktif di beberapa organisasi intra kampus selama mengenyam pendidikan di Institut Pertanian Bogor. Tahun 2014 dan 2015 penulis aktif sebagai staf komisi 4 olahraga dan seni Dewan Perwakilan Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (DPM TPB). Penulis juga aktif sebagai pengurus di Unit Kegiatan Mahasiswa Equestrian Club IPB (UKM berkuda) tahun (2014-2018) dan Tenis lapang faperta (2016-2018). Penulis merupakan anggota organisasi mahasiswa daerah Keluarga Mahasiswa Lampung (KEMALA) tahun (2014-2018). Penulis juga aktif mengikuti beberapa kepanitian di Institut Pertanian Bogor. Penulis terlibat sebagai asisten praktikum matakuliah Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura (2017), asisten praktikum mata kuliah Teknik Penyajian Ilmiah (2018), Penyakit Benih dan Pascapanen D3 (2018), dan asisten Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat (2018). Penulis pernah terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai mahasiswa peserta KKN-T Revolusi Mental di Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor pada tahun 2017. Penulis menerima dana hibah penelitian pada pekan kreativitas mahasiswa tahun 2017 (PKM-P) yang berjudul BIO-BASIC : Bioinsektisida Berbasis Bakteri Simbion Cicak.