Uploaded by common.user20936

A18ast

advertisement
DETEKSI DAN IDENTIFIKASI NEMATODA
Ditylenchus dipsaci (Kühn) Filipjev PADA UMBI BAWANG
KONSUMSI (Allium spp.) DI BOGOR JAWA BARAT
AMALIA STYANINGRUM
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Deteksi Dan
Identifikasi Nematoda Ditylenchus Dipsaci (Kühn) Filipjev Pada Umbi Bawang
Konsumsi (Allium Spp.) di Bogor Jawa Barat” adalah benar karya saya dengan
arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada
perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2018
Amalia Styaningrum
NIM A34140076
ABSTRAK
AMALIA STYANINGRUM. Deteksi dan Identifikasi Nematoda Ditylenchus
dipsaci (Kühn) Filipjev pada Umbi Bawang Konsumsi (Allium spp.) di Bogor Jawa
Barat. Dibimbing oleh SUPRAMANA.
Nematoda umbi Ditylenchus dipsaci merupakan parasit utama pertanaman
bawang dan belum dilaporkan ada di wilayah Indonesia. Importasi umbi bawang
mencapai 17121.34 ton per tahun dapat menjadi media pembawa hama dan patogen
penting. Hama dan patogen yang terbawa berpotensi merusak pertanaman
Indonesia. Penelitian ini bertujuan mendeteksi dan mengidentifikasi secara
morfologi dan morfometri nematoda D. dipsaci yang terbawa umbi bawang
konsumsi, yaitu bawang putih (Allium sativum), bawang bombai (Allium cepa), dan
bawang merah (Allium ascalonicum) di Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilakukan
dengan 5 tahapan kegiatan yaitu pengambilan contoh umbi bawang, pendataan,
ekstraksi nematoda, perhitungan populasi nematoda, identifikasi morfologi dan
pengukuran morfometrik nematoda, dan analisis data. Pengambilan contoh umbi
bawang dilakukan di 5 pasar tradisional dan 5 pasar swalayan. Ekstraksi nematoda
dilakukan dengan menggunakan metode corong Baerrman yang dimodifikasi. Air
perendaman untuk ekstraksi nematoda menggunakan aquades bersuhu 4 ºC dan
diletakkan pada ruangan bersuhu 20 ºC dalam keadaan gelap selama 96 jam.
Populasi nematoda dihitung dengan cara sampling yang diulang sebanyak 3 kali.
Fiksasi nematoda dilakukan dengan menggunakan metode Ryss untuk
memudahkan pengamatan morfologi nematoda. Identifikasi morfologi dan
pengukuran karakter morfometrik nematoda dilakukan dengan mengacu pada
formula J G De Man. Analisis deskriptif data morfometrik nematoda dilakukan
dengan Microsoft Excel 2013. Nematoda D. dipsaci berhasil dideteksi pada bawang
putih konsumsi di 5 pasar tradisional dan 1 pasar swalayan. Nematoda berhasil
diidentifikasi secara morfologi dan morfometrik.
Kata kunci : bawang putih, nematoda umbi, pasar
ABSTRACT
AMALIA STYANINGRUM. Detection and Identificaton of Ditylenchus dipsaci
on Onion Bulbs (Allium spp.) for Consumption in Bogor, West Java. Supervised
by SUPRAMANA.
Stem and bulb nematode Ditylenchus dipsaci is the main parasitic nematode
of onions and has not been reported present in Indonesia. Importation of onion bulb
for consumption that reaches 17121.34 tons per year could be an important media
for pests and pathogens introduction. The introduction of invasive pests and
pathogens have the potential to damage Indonesian crops. This research aims to
detect the nematode Ditylenchus dipsaci carried on onion bulb for consumption,
includes garlic (Allium sativum), onions (Allium cepa), and shalllots (Allium
ascalonicum) in Bogor, West Java. Research was conducted in five steps that are
sampling, logging, extraction of nematodes, nematode counting, morphological
identification and morphometric measurements of nematodes, and data analysis.
Sample of onion bulbs were taken from 5 traditional markets and 5 supermarkets in
Bogor. Nematode extraction was done using a modified Baerman funnel method.
Nematode extraction was conducted by soaking sampled bulbs into 4ºC distilled
water and incubated in a dark room with temperature of 20ºC for 96 hour. Nematode
fixation was done according to Ryss method to facilitate morphological
observations. Nematode morphological identification and measurement of
morphometric characters were carried out based on the J G De Man formula.
Nematode morphometric descriptive data was analysed with Microsoft Excel 2013.
Ditylenchus dipsaci was detected on garlic bulbs sampled from five traditional
markets and one supermarket. The nematode was succesfully identified
morphologically and morphometrically.
Keywords : bulb nematode, garlic, markets
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2018
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.
DETEKSI DAN IDENTIFIKASI NEMATODA
Ditylenchus dipsaci (Kühn) Filipjev PADA UMBI BAWANG
KONSUMSI (Allium spp.) DI BOGOR JAWA BARAT
AMALIA STYANINGRUM
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian
pada
Departemen Proteksi Tanaman
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala karunia-Nya sehingga penelitian tugas akhir ini berhasil diselesaikan. Judul
penelitian yang dipilih dalam penelitian ini adalah Deteksi dan Identifikasi
Nematoda Ditylenchus dipsaci (Kühn) Filipjev pada Umbi Bawang Konsumsi
(Allium spp.) Di Bogor Jawa Barat sebagai deteksi dini dalam upaya pencegahan
masuknya organisme pengganggu tanaman karantina A1 ke dalam wilayah
Indonesia. Penelitian mulai dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan
Juli 2018 di Laboratorium Nematologi Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman,
Fakulitas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Supramana M.Si selaku
pembimbing, yang telah membimbing dan memberikan arahan selama penelitian
berlangsung. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Hermanu Triwidodo
M.Sc selaku dosen penguji tamu yang telah memberikan saran dan masukan
sehingga penulis dapat menghasilkan sebuah karya yang baik. Sebuah kesempatan
dan pengalaman yang sangat berharga bagi penulis dapat menyelesaikan karya
ilmiah.
Penghargaan penulis sampaikan kepada kedua orang tua Ayahanda Hadi
Sukatmo dan Ibunda Siti Khazanah, serta Amalia Injang Wulandari H yang telah
memberikan dukungan baik berupa moril dan materi sekaligus motivator terbesar
penulis. Ungkapan terima kasih penulis sampaikan kepada Fitrianingrum
Kurniawati, SP. M.Si, Elmi Muliya SP, M Danang Kusuma SP, Heri Ahmadi SP,
Aris Budiman SP yang telah membantu berdiskusi selama penelitian berlangsung.
Penulis ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan Laboratorium Nematologi
Tumbuhan, khususnya Nurul Fitria Indriyanti, Ade Indra Maulana SP, Ruth Sry
Yutika SP, Annisa Nur Imamah SPd, Zuhay Ratuz Zaffan SSi, Wahyuning Dwi
Novitasari, Desy Eka Putri, Ainun Oktavia Dwi S, Derma Erni Harefa SP, Prayogo
Probo Asmoro SP, Maurice Yoshua Hutahuruk SP yang telah membantu selama
penelitian berlangsung. Rekan-rekan Proteksi Tanaman 51, khususnya Triumami
Widjayanti, Sri Palupi, Safira Dewinta L, Pungky Roma Widjaya dan Milad
Rahmatillah terimakasih atas dukungan dan saran yang bersifat membangun bagi
penulis selama perkuliahan berlangsung hingga penyelesaian tugas akhir. Penulis
sampaikan kepada para pedagang di semua pasar lokasi pengambilan sampel yang
telah bersedia mempersilahkan penulis memilih bawang dalam waktu yang cukup
lama. Terimkasih juga penulis sampaikan kepada tenaga pendidik departemen
proteksi tanaman dan seluruh pihak yang turut membantu dalam pelaksanaan
penelitian. Terimkasih penulis ucapkan kepada semua anggota Equestrian Club IPB
yang telah memberikan dukungan dan semangat selama perkuliahan hingga
penyelesaian tugas akhir.
Semoga penelitian ini bermanfaat bagi yang siapapun yang membaca.
Bogor, Oktober 2018
Amalia Styaningrum
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Alat dan Bahan
Metode Penelitian
Pengambilan Sampel
Pendataan
Ekstraksi Nematoda
Perhitungan Populasi Nematoda
Fiksatif Nematoda dan Pembuatan Preparat
Identifikasi Morfologi dan Pengukuran Morfometrik
Nematoda
Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Deteksi dan Kepadatan Absolut Ditylenchus dipsaci
Gejala Penyakit pada Umbi Bawang
Morfologi dan Morfometrik Ditylenchus dipsaci
Ditylenchus dipsaci Betina
Tubuh
Diameter tubuh maksimum
Stilet
Esofagus
Struktur reproduktif
Ekor
Ditylenchus dipsaci Jantan
Tubuh
Diameter tubuh maksimum
Stilet
Esofagus
Struktur reproduktif
Ekor
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
x
x
x
1
1
2
2
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4
5
6
6
7
8
8
8
8
8
9
9
9
11
11
11
11
11
11
11
14
14
14
15
18
24
DAFTAR GAMBAR
1 Umbi bawang putih yang terinfestasi Ditylenchus dipsaci berdasarkan
lokasi pengambilan sampel, a. Pasar Anyar; b. Pasar TU Kemang; c. Pasar
Parung; d. Pasar Sukasari; e. Giant Swalayan
2 Morfologi Nematoda Ditylenchus dipsaci. a, Penampakan seluruh tubuh;
b. Posterior tubuh nematoda; c. Postvulval setengah dari panjang vulva ke
anus; d. anterior tubuh nematoda
3 Morfologi nematoda Ditylenchus dipsaci jantan. a. penampakan seluruh
tubuh; b. esofagus tubuh nematoda; c. stilet; d. posterior tubuh nematoda
7
8
12
DAFTAR TABEL
1 Populasi nematoda Ditylenchus dipsaci terbawa umbi bawang konsumsi
asal pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat
2 Populasi nematoda Ditylenchus dipsaci terbawa umbi bawang konsumsi
asal pasar swalayan di Bogor, Jawa Barat
3 Perbandingan nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina asal
pasar tradisional dan pasar swalayan dengan literatur
4 Perbandingan nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci jantan asal
pasar tradisional dan pasar swalayan dengan literatur
6
7
10
13
DAFTAR LAMPIRAN
1 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina berdasarkan lokasi
pengambilan sampel
2 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci jantan berdasarkan lokasi
pengambilan sampel
19
22
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bawang merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia.
Bawang yang umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia yaitu bawang merah
(Allium ascalonicum), bawang putih (Allium sativum), dan bawang bombai (Allium
cepa). Bawang biasanya digunakan sebagai bahan masakan (Thompson 1959).
Bawang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena kandungan zat allicin
yang bersifat sebagai antibakteri (Palungkung 1997).
Konsumsi bawang masyarakat Indonesia yang tinggi belum dapat diimbangi
dengan kecukupan pasokan dalam negeri. Importasi bawang merah, bawang
bombai dan bawang putih setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Bawang bombai
yang beredar di pasaran Indonesia dipasok dari beberapa negara seperti India, New
Zealand, dan Netherlands. Importasi bawang bombai mencapai 7164.725 ton per
tahun. Bawang putih Indonesia diimpor dari beberapa negara yaitu China, Taiwan,
dan India dengan angka importasi mencapai 40247.42 ton per tahun. China menjadi
negara pengekspor bawang putih terbesar yaitu 95% dari angka kebutuhan bawang
putih Indonesia. Importasi bawang merah mencapai 3951.878 ton per tahun. Negara
pengekspor bawang merah Indonesia adalah Taiwan, Philippines, Vietnam dan
India (Kementan 2018).
Harga bawang impor yang relatif lebih murah dari bawang lokal, serta
penampakan fisik yang lebih baik dibandingkan bawang lokal, membuat konsumen
lebih tertarik membeli bawang impor (Agromedia 2011). Importasi komoditas
pertanian menjadi solusi pemenuhan kebutuhan dalam negeri, namun dapat
menyebabkan dampak negatif pada pertanaman dalam negeri. Perdagangan
internasional menjadi salah satu media dalam penyebaran organisme pengganggu
tanaman karantina (OPTK) dari satu negara ke negara lain. Langkah pencegahan
masuknya organisme pengganggu tanaman karantina harus diwaspadai. OPTK
memiliki peluang berkembang secara invasif sebagai contoh Globodera
rostochiensis yang telah merusak pertanaman kentang Indonesia.
Berdasarkan Permentan RI No 31/Permentan/KR.010/7/2018 salah satu
organisme pengganggu tanaman karantina paling berbahaya di dunia yang dapat
terbawa oleh umbi bawang adalah nematoda Ditylenchus dipsaci. Nematoda ini
tergolong OPTK A1 yang harus diwaspadai karena kisaran inang yang luas. OPTK
A1 adalah organisme pengganggu tanaman karantina yang keberadaannya belum
ditemukan pada suatu wilayah negara. Tingginya angka importasi bawang
merupakan pintu masuk nematoda D. dipsaci ke wilayah Indonesia.
D. dipsaci adalah salah satu nematoda parasit tanaman dengan tingkat
kerugian ekonomi tertinggi di dunia. Tercatat lebih dari 450 spesies tanaman
diketahui sebagai inang. Nematoda ini biasanya ditemukan sebagai nematoda
endoparasit berpindah pada bagian tanaman yang berair seperti batang, daun dan
bunga, namun juga dapat menginfeksi umbi, rimpang dan rizome (EPPO 2008).
Siklus hidup nematoda akan berada di tanah mulai dari telur hingga juvenil 3.
Juvenil 4 akan menginfeksi umbi bawang pada pertanaman (Bridge 2007).
Nematoda juvenil 4 cenderung agregat pada suatu tempat tepat di bawah permukaan
jaringan membentuk gumpalan yang disebut eelworm wool dan dapat bertahan
2
hidup dalam kondisi kering selama bertahun-tahun (CABI 2018). D. dipsaci yang
ikut terpanen dapat bertahan sampai beberapa tahun pada umbi bawang yang
terinfestasi. Selanjutnya, nematoda akan keluar dari umbi untuk bereproduksi di
tanah pada kondisi yang optimum (Bridge 2007).
Umbi bawang yang terinfeksi nematoda D. dipsaci akan menunjukkan gejala
kecoklatan pada kulit, permukaan bawang mengalami hyperplasia dan hyperthropy
serta meningkatkan ketajaman aroma bawang. Namun, tidak semua infeksi
nematoda akan menunjukkan gejala yang sama, gejala laten atau gejala yang tidak
terihat juga dapat terjadi. Tajuk tanaman yang terinfeksi akan menunjukkan gejala
nekrotik (EPPO 2008). Negara Italia pernah mengalami kerugian besar akibat
infeksi nematoda D. dipsaci pada pertanaman bawang bombai dengan kehilangan
hasil mencapai lebih dari 60%. Prancis dan Polandia mengalami kehilangan hasil
sebesar 90% pada pertanaman bawang putih (Sturhan 1991). Negara tropis seperti
Brazil juga pernah mengalami kerugian mencapai 100% pada pertanaman bawang
putih di wilayah dataran dingin (Charachar et al. 2003).
Pencegahan masuknya OPTK A1 ke dalam wilayah Indonesia menjadi hal
penting dalam menjaga kesehatan pertanaman Indonesia untuk masa yang akan
datang. Oleh karena itu perlu dilakukan deteksi dan identifikasi nematoda D.dipsaci
terbawa umbi bawang pada umbi bawang merah, bawang putih, dan bawang
bombai yang beredar di pasar tradisional dan pasar swalayan yang ada di Bogor,
Jawa Barat.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mendeteksi dan mengidentifikasi nematoda
Ditylenchus dipsaci pada umbi bawang konsumsi, yaitu bawang putih (Allium
sativum), bawang merah (Allium ascalonicum) dan bawang bombai (Allium cepa)
di Bogor, Jawa Barat berdasarkan karakter morfologi dan morfometrik nematoda.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah diketahuinya data spesies OPTK nematoda
yang terbawa umbi bawang konsumsi yang berada di pasar tradisional dan pasar
swalayan yang ada di Bogor, Jawa Barat. Data keberadaan nematoda pada umbi
bawang konsumsi dapat digunakan oleh pihak terkait untuk melakukan tindakan
pencegahan masuknya OPTK ke lahan pertanian Indonesia.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Contoh umbi bawang diambil dari 5 pasar tradisional dan 5 pasar swalayan
di Bogor, Jawa Barat. Ekstraksi dan identifikasi nematoda dilakukan di
Laboratorium Nematologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas
Pertanian IPB. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juli 2018.
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan digital,
corong Baermann yang dimodifikasi, hand counter, mikroskop cahaya
(Compound), mikroskop stereo, dan mikroskop binokuler OLYMPUS BX51,
Indomicro HDMI camera, software ToupView.Ink 2015. Bahan yang digunakan
pada penelitian ini adalah FAA, gliserol, aquades, umbi bawang putih, bawang
merah dan bawang bombai konsumsi yang dipilih secara purposif.
Metode Penelitian
Pengambilan Sampel
Contoh umbi bawang pasar swalayan diperoleh dari Giant, Yogya, FoodMart,
SuperIndo dan Carrefour di Bogor. Contoh umbi bawang pasar tradisional
diperoleh dari Pasar Bogor, Pasar TU Kemang, Pasar Sukasari, Pasar Parung dan
Pasar Anyar. Pengambilan contoh umbi bawang dilakukan secara purposif yaitu
dengan memperhatikan kriteria spesifik umbi bawang impor. Contoh umbi bawang
yang diambil berupa umbi dengan kriteria mulus, berukuran besar dan mengkilap.
Contoh umbi bawang disimpan dalam kantung plastik.
Pendataan
Pendataan dilakukan untuk mendapatkan informasi awal dari contoh umbi.
Informasi awal yang diperlukan adalah lokasi pengambilan dan waktu pengambilan
contoh umbi. Pendataan contoh umbi dilakukan dengan menuliskan informasi pada
kertas label yang ditempelkan pada kantung plastik penyimpanan.
Ekstraksi Nematoda
Ekstraksi nematoda dilakukan dengan metode Baerman yang dimodifikasi.
Bawang merah dan bawang putih sebanyak 30 g dan sebuah bawang bombai
masing-masing ditempatkan ke dalam gelas saring. Bawang dikupas terlebih dahulu
dipisahkan antara kulit dengan umbi dan direndam bersamaan. Saringan diletakkan
tepat di atas gelas penampung. Gelas penampung disiramkan air aquades bersuhu
4ºC sampai bawang tergenang, kemudian diinkubasi selama 96 jam pada ruangan
gelap bersuhu 20ºC. Suspensi yang terkumpul kemudian disaring menggunakan
saringan 500 mesh dan dimasukkan dalam tabung contoh umbi bawang. Nematoda
4
dalam suspensi diamati dan dihitung dengan menggunakan mikroskop stereo (Flegg
dan Hooper 1970).
Perhitungan Populasi Nematoda
Perhitungan populasi nematoda yang telah diekstraksi dilakukan dengan
menggunakan mikroskop stereo dan dihitung menggunakan alat penghitung
(counter). Penghitungan dilakukan dengan menghitung nematoda yang terlihat
secara keseluruhan pada volume suspensi sebanyak 3 ml. Populasi nematoda
dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
N=
𝑉
𝑥𝑛
𝑣
Keterangan :
N = populasi nematoda
n = Jumlah rata-rata nematoda terhitung
V = Volume akhir ekstraksi pada botol sampel
𝑣 = Volume sampel pada sirakus
Fiksasi Nematoda dan Pembuatan Preparat
Fiksasi nematoda dilakukan dengan menggunakan metode Ryss (2017).
Nematoda dikumpulkan dalam tabung atau collection tube 1.5 mm menggunakan
air aquades sebanyak 10-20 ekor nematoda. Tabung ditambahkan dengan larutan
(Formalin 4% Asam Asetat 1%) FA 4:1 yang telah dipanaskan terlebih dahulu
sampai memenuhi tabung. Tabung dimasukkan ke dalam air yang dipanaskan
selama 1 jam dengan suhu tidak melebihi 85 ºC. Langkah tersebut dilakukan untuk
mengawetkan nematoda dan membuat tubuh nematoda kontras pada masingmasing bagian tubuh lainnya. Fiksatif nematoda akan mempermudah pengamatan
karakter morfologi dan pengukuran morfometrik dimensi tubuh nematoda. Tabung
diangkat dan ditunggu selama 2-12 jam pada suhu ruang. Nematoda dalam tabung
kemudian dicuci dengan aquades 4-5 kali untuk menghilangkan larutan FA.
Persiapan preparat nematoda dilakukan dengan membuat lingkaran parafin pada
gelas objek menggunakan cork borer. Nematoda yang telah tercuci dipancing dan
diletakkan pada campuran gliserol dan akuades dengan perbandingan 1:3. Gelas
objek diletakkan pada suhu ruang selama 24 jam. Pengamatan dilakukan dengan
memindahkan nematoda pada gliserol 15 µl dan ditutup dengan kaca penutup.
Tepian kaca penutup direkatkan dengan pewarna kuku bening untuk menghindari
pergeseran kaca penutup saat pengamatan dan menghindari kebocoran.
Identifikasi Morfologi dan Pengukuran Morfometrik Nematoda
Pengamatan morfologi nematoda dilakukan dengan mengamati nematoda di
bawah mikroskop cahaya yang sudah dibuat dalam preparat sebelumnya.
Identifikasi dilakukan dengan mengacu pada buku kunci identifikasi nematoda
tumbuhan dan mencocokkan dengan beberapa literatur. Identifikasi karakter
morfometrik berdasarkan formula J.G. De Man yaitu mengukur dimensi nematoda
secara proporsional (Zuckerman et al. 1985). Pengukuran tubuh nematoda dewasa
dilakukan dengan menggunakan mikroskop binokuler OLYMPUS BX51,
Indomicro HDMI camera, software ToupView.Ink 2015 yang telah dikalibrasi
dalam ukuran mikrometer. Parameter yang digunakan untuk identifikasi terhadap
5
neamtoda dewasa adalah panjang tubuh total, panjang stilet, panjang esofagus dari
pangkal stilet sampai perbatasan esofagus dengan usus, panjang ekor dari ujung
posterior sampai anus, dan diameter tubuh maksimum. Parameter pengukuran
morfometrik nematoda berdasarkan Formula J.G De Man (1876) yang telah
dimodifikasi kembali oleh Cobb (1914) dan Thorne (1949) adalah sebagai berikut:
n
L
V
s
T
G2
= Jumlah nematoda yang diukur
= panjang tubuh nematoda
= persentase panjang vulva dari anterior
= panjang stilet
= ukuran tubuh dari anus atau cloaca ke ujung terminus
= jarak dari vulva ke ujung posterior
a=
𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ
𝑑𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟
b=
𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑒𝑟𝑖𝑜𝑟 𝑘𝑒 𝑒𝑠𝑜𝑓𝑎𝑔𝑢𝑠 − 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑠𝑡𝑖𝑛𝑎𝑙 𝑣𝑎𝑙𝑣𝑒
c=
𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑒𝑘𝑜𝑟
Analisis Data
Data morfometrik nematoda diolah dengan Microsoft Excel 2013 dan
dianalisis secara deskriptif
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Deteksi dan Kepadatan Absolut Ditylenchus dipsaci
Nematoda D. dipsaci berhasil dideteksi pada umbi bawang putih konsumsi di
6 lokasi dari 10 lokasi pasar pengambilan contoh. Bawang merah dan bawang
bombai negatif dari nematoda D. dipsaci, namun terdeteksi positif terinfestasi
nematoda Aphelenchoides fragarieae. D. dipsaci terdeteksi positif pada bawang
putih di 5 pasar tradisional (Tabel 1). Hal ini terjadi karena pasokan bawang putih
di pasar tersebut berasal dari satu sumber yang sama yaitu Pasar TU Kemang. Pasar
TU Kemang mendapatkan pasokan bawang putih dari Pasar Induk Keramat Jati.
Kepadatan absolut nematoda pada contoh umbi bawang putih bervariasi pada setiap
pasar lokasi pengambilan sampel. Kepadatan absolut nematoda D. dipsaci pada
umbi bawang putih asal Pasar Bogor (1044 nematoda/10 g umbi) lebih tinggi
dibandingkan pada umbi bawang putih dari pasar lain. Kepadatan absolut nematoda
D. dipsaci pada umbi bawang putih asal Pasar Sukasari (15 nematoda/ 10 g umbi)
lebih rendah daripada pasar lain.
Tabel 1 Populasi nematoda Ditylenchus dipsaci terbawa umbi bawang konsumsi
asal pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat
Jumlah nematoda / 10 g umbi
Lokasi pengambilan
sampel
Bawang putih
Bawang merah Bawang bombai
Pasar Anyar
916
0a
0
Pasar Bogor
1044
0
0
Pasar Sukasari
15
0
0
Pasar Parung
54
0
0
Pasar Kemang
36
0
0
a : negatif (tidak terdeteksi) nematoda Ditylenchus dipsaci,
Nematoda D. dipsaci juga berhasil dideteksi pada umbi bawang putih pada
satu pasar swalayan yaitu Giant swalayan. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan
pasokan dari setiap pasar swalayan. Kepadatan absolut nematoda pada umbi
bawang putih yang berasal dari Giant swalayan sebanyak 85 nematoda / 10 g umbi
(Tabel 2). Perbedaan kepadatan absolut nematoda pada umbi bawang terjadi karena
adanya beberapa faktor. Faktor yang dapat mempengaruhi adalah adanya perbedaan
investasi nematoda pada lahan pertanaman, kondisi ruang penyimpanan dan
keadaan pada pendistribusian bawang. Kondisi tersebut merupakan kondisi tidak
terkontrol. Bawang putih yang beredar di pasaran Indonesia 80-90% merupakan
bawang impor asal China. Terdeteksinya nematoda D. dipsaci menunjukkan bahwa
bawang putih impor yang beredar merupakan media pembawa bagi nematoda
OPTK A1 ke wilayah negara Indonesia.
7
Tabel 2 Populasi nematoda Ditylenchus dipsaci terbawa umbi bawang konsumsi
asal pasar swalayan di Bogor, Jawa Barat
Jumlah nematoda / 10 g umbi
Lokasi pengambilan
sampel
Bawang putih
Bawang merah Bawang bombai
Giant swalayan
Food mart swalayan
Carrefour swalayan
Yogya swalayan
Superindo swalayan
85
0
0
0
0
0a
0
0
0
0
0
0
0
0
0
a : negatif (tidak terdeteksi) nematoda Ditylenchus dipsaci,
Gejala Penyakit pada Umbi Bawang
Bawang putih yang terinfestasi oleh D. dipsaci akan menunjukkan gejala
kecoklatan, permukaan bawang menjadi mulus dan bau bawang menjadi lebih
tajam (EPPO 2008). Bawang yang beredar di pasaran merupakan bawang yang
sudah melalui sortir dan proses pengupasan kulit bawang. Bawang dengan
penampakan baik yang hanya dapat ditemukan di pasar. Bagian bawang seperti
batang (scape) dan cakram bawang (basal plates) umunya dibuang atau dibersihkan
terlebih dahulu sebelum dijual kepada konsumen. Contoh umbi bawang yang
terdeteksi nematoda D. dipsaci baik yang berasal dari pasar tradisional dan pasar
swalayan tidak menunjukkan gejala (Gambar 1). Tidak bergejala atau biasa disebut
gejala laten terjadi karena nematoda yang terbawa umbi berada dalam fase dorman.
Nematoda dapat menghentikan siklus hidupnya dan dorman, jika pada kondisi
kurang menguntungkan (Bridge 2007).
a
b
c
d
e
f
Gambar 1 Umbi bawang putih yang terinfestasi Ditylenchus dipsaci berdasarkan
lokasi pengambilan sampel, a. Pasar Anyar; b. Pasar TU Kemang; c.
Pasar Parung; d. Pasar Sukasari; e. Giant Swalayan
8
Penyimpanan dan pendistribusian bawang berada pada kondisi optimum
bawang yaitu 30 ºC dan kelembaban 70%. Keadaan penyimpanan tersebut
membuat bawang dapat bertahan selama 3 bulan (Sinaga et al. 1993). Suhu dan
kelembaban ruang penyimpanan umbi bawang membuat nematoda berada pada
kondisi stres lingkungan. Sistem pertahanan tubuh D. dipsaci akan merespon stress
lingkungan dengan membentuk agregasi. Agregasi ini akan membentuk rumpun
atau agregat yang terdiri dari ribuan individu nematoda (Wharton 2002). Bentuk
agregat nematoda dalam keadaan cryptobiotic membentuk “wool” (ISPM 2015).
Wool nematoda dapat ditemukan pada cakram bawang seperti masa kapas berwarna
putih keabu-abuan. Hal ini terlihat dari kepadatan absolut D. dipsaci asal pasar
Bogor yang mencapai 1044 nematoda/ 10 g umbi bawang.
Morfologi dan Morfometrik Ditylenchus dipsaci
Morfologi nematoda merupakan landasan dalam taksonomi dan klasifikasi.
Determinasi spesies, genus dan kategori yang lebih tinggi didasarkan pada karakter
morfologinya. Bagian tubuh nematoda seperti stilet, esofagus, median bulbus, letak
vulva dari anterior nematoda dan bentuk ovarium menjadi dasar dalam identifikasi
nematoda (Mulyadi 2009). Nematoda Ditylencus dipsaci berhasil diidentifikasi
secara morfologi dan morfometrik (Tabel lampiran 1-2). Identifikasi morfometrik
nematoda dikelompokkan berdasarkan lokasi pasar pengambilan contoh. Nematoda
D.dipsaci dari masing-masing pasar memiliki variasi nilai rata-rata pengukuran
morfometrik. Nilai-nilai morfometrik bagian tubuh nematoda pada umumnya
berkorelasi dengan panjang tubuh. Hubungan tersebut berguna dalam klasifikasi
antar famili (Mulyadi 2009).
Ditylenchus dipsaci Betina
Tubuh. Tubuh nematoda berbentuk vermiform atau memiliki bentuk tubuh
seperti cacing (Gambar 2a). Tubuh nematoda lurus atau melengkung ketika terpapar
suhu panas. Panjang tubuh total nematoda betina terukur memiliki rentang panjang
785.77-1101.09 µm. Panjang rata-rata tubuh total D. dipsaci terpanjang yaitu
D.dipsaci asal pasar Bogor dengan rata-rata panjang 1013.98 µm (Tabel 3).
Nematoda terukur memiliki rentang panjang lebih pendek dari literatur menurut
Mollov et al. (2012) dan Tenuta et. al. (2014) yaitu 1411-1626 µm dan 1532-1578
µm.
Diameter tubuh maksimum. Diameter tubuh terukur memiliki rentang nilai
20.39 - 46.85 µm. Diameter rata-rata terbesar yaitu D. dipsaci asal pasar Bogor,
33.08 µm (Tabel 3). Diameter tubuh maksimum terpendek yaitu D. dipsaci asal
pasar Anyar dengan nilai rata-rata 27.4 µm (Tabel 3). Rentang tubuh masih
termasuk dalam rentang nilai literatur yaitu 31-45 µm. D. dipsaci merupakan
nematoda yang memiliki tubuh ramping. Kutikula nematoda memiliki anulasi halus
(Shurtleff 2000).
Stilet. Ujung anterior D. dipsaci memiliki permukaan rata tanpa anulasi yang
jelas dan sedikit set-off (Gambar 2d) atau tidak set-off. Stilet terukur memiliki
rentang nilai 10.03 -12.98 µm (Tabel 3). Panjang stilet terukur memiliki nilai lebih
panjang dibandingkan literatur menurut Tenuta et al. (2014). Menurut Shurtleff
9
(2000) stilet D. dipsaci memiliki ukuran yang pandek, ramping, dan memiliki basal
knob pada pangkal stilet atau biasa disebut stomatostilet.
Esofagus. Bentuk median bulb yaitu ovoid sampai fusiform (Gambar 2d),
dengan katup yang tidak terlalu jelas terletak di anterior sampai setengah dari
esofagus. Esofagus nematoda tidak tumpang tindih atau tidak overlap (Shurtleff
2000). Jarak median bulb dan esofagus ke anterior nematoda terukur memiliki
rentang nilai 52.21 – 86.19 µm (Tabel 3) dan 132-204 µm (Tabel 3). Jarak rata-rata
median bulb terpanjang adalah D. dipsaci asal pasar Anyar yaitu 77.2 µm. Hal ini
terjadi karena sebaran nilai median bulb pasar Anyar memiliki rentang yang tidak
terlalu jauh yaitu 71.18 – 86.05 µm (Tabel 3). Hal serupa juga terjadi di pasar Bogor
yang memiliki rentang yang tidak terlalu jauh. Jarak median bulb pasar Kemang,
pasar Parung dan Giant Swalayan memiliki rentang yang cukup jauh sehingga
menimbulkan variasi yang cukup besar. Jarak rata-rata esofagus terpanjang adalah
D. dipsaci asal Giant swalayan yaitu 178.8 µm (Tabel 3).
setoff
a
vulva
metacorpus
b
c
anus
postvulval
d
e
Gambar 2 Morfologi Nematoda Ditylenchus dipsaci. a, Penampakan seluruh
tubuh; b. Posterior tubuh nematoda; c. Postvulval setengah dari
panjang vulva ke anus; d. anterior tubuh nematoda;
Struktur reproduktif. Nematoda betina memiliki ovarium tunggal, berada
di anterior nematoda (Gambar 2b) (Shurtleff 2000). Vulva adalah celah transversal
yang berbeda yang terletak di bagian posterior tubuh (V = 75-80) (Shurtleff 2000).
Persentase jarak rata-rata vulva dari anterior terukur adalah 77-79 % (Tabel 3) dari
keenam lokasi terdeteksi. Persentase rata-rata vulva terukur sesuai dengan literatur
menurut Tenuta et al. (2014) yaitu 77 %. Uterus posterior yang belum sempurna
memanjang hingga setengah jarak antara vulva dan anus dan kira-kira sama
panjangnya dengan ekor (Decker 1989). Sel-sel gonad berada dalam satu atau dua
garis, tidak disusun di sekitar tulang belakang (Shurtleff 2000). Postvulval terlihat
pada (Gambar 2b-c) berada pada kisaran jarak 70% dari jarak vulva ke anus.
Ekor. Ekor memanjang pada kedua jenis kelamin. Umumnya panjang ekor
4-7 kali dari lebar tubuh anal. Ciri khas bentuk ekor yaitu memiliki ujung runcing
tajam atau membulat sempit (Shurtleff 2000). Panjang ekor rata-rata terukur dari
keenam lokasi adalah 80-88 µm. Panjang ekor terukur lebih pendek dibandingkan
dengan panjang ekor rata-rata literatur yaitu 89 µm dan 83 µm.
10
Tabel 3 Perbandingan nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina asal pasar tradisional dan pasar swalayan dengan literatur
Diameter
tubuh max
Literatur (µm)
Mollov et al.
Tenuta et. al.
(2012)
(2014)
8
1555
(1411-1626)
(1532-1578)
33
(32-35)
s
(11.05-12.3)
n
L
Median bulb
ke anterior
8.7 (7.5-9.8)
76 (73-80)
Esofagus
249 (240-258)
a
(38-44)
54 (45-63)
b
(5.8-8.0)
6.2 (6.1-6.3)
c
(14-17)
V%
(79-81)
G1
-
G2
T
(95-105)
17.4
(17.3-17.4)
77 (75-79)
1202
(1154-1250)
169
(165-173)
89 (88-91)
pengukuran Morfometrik (µm)
P. Kemang
P. Bogor
P. Anyar
P. Parung
Giant
10
880.70 ± 54.22a
(795.95-943.72)
28.74 ± 4.27
(20.39–37.60
10.89 ± 0.58
(10.13-11.63)
68.58 ±11.78
(52-.21-85.34)
163.16 ± 23.03
(132-204)
31.10 ± 3.65
(25.01–39. 03)
5.48 ± 0.68
(4.50-6.45)
11.03 ± 2.31
(7.73-16.34)
77 ± 0.03 (74-82)
678.84 ± 51.50
(730.31-589.77)
201.86 ± 25.86
(155.7–239.17)
82.517 ± 15.86
(57.74-114.69)
14
1013.98 ± 68.64
(930.12-1101.09)
33.08 ± 3.41
(28.73–37.9)
11.04 ± 0.73
(10.28-11.95)
73.26 ± 5.03
(65.15 – 77.74)
175.62 ± 3.27
(169.02-180.74)
27.54 ± 5.05
(21.69 – 39.50)
6.03 ± 1.13
(4.08-8.05)
12.17 ± 1.70
(9.00–14.74)
78 ± 0.9 (76-79)
729.48 ± 80.24
(539.64-847.19)
203.51 ± 40.19
(156-295.6)
88.254± 9.5
(71.25- 99.65)
5
889.6 ± 98.3
(785.77-1016.77)
27.4 ± 5.9
(20.85-36)
11.20 ± 0.6
(10.51–12.06)
77.2 ± 6.2
(71.18 – 86.05)
167.6 ± 3.9
(162.76-191.59)
33.3 ± 4.5
(25.73-35.01)
5.3 ± 0.5
(4.83-5.95)
11.2 ± 1.2
(9.44–12.35)
79 ± 0.03 (76-84)
700.4 ± 63.2
(627.3–775.54)
185.48 ± 41.94
(126.40 -241.23)
80.2 ± 12.2
(63.64-92.51)
10
923.95 ± 64.01
(804.24-1009.90)
32.98 ± 6.83
(23.91-46.85)
10.91 ± 0.91
(10.01-12.98)
70.77 ± 3.7
(53.2-86.19)
169.27 ± 15.08
(138-183.47)
28.84 ± 5.39
(21.41-36.62)
5.4 ± 1.3
(3.6-7.06)
9.13 ± 3.5
(5.08–12.65)
79 ± 0.02 (75-81)
729.65 ± 51.41
(618.34–814.81)
194.30 ± 26.93
(166.65-247.79)
82.06 ± 10.89
(68.64-99.85)
9
954.92 ± 120.4
(783.80-1156.19)
31.89 ± 5.82
(24.12-42.15)
10.78 ± 0.47
(10.03–11.75)
71.46 ± 7.72
(53.03 – 78.78)
178.80 ± 12.37
(164.30-199.58)
30.41 ± 4.09
(24.53-37.68)
5.36 ± 0.72
(4.09-6.46)
11.06 ± 1.77
(8.00–13.73)
77± 0.03 (72-82)
738.74 ± 112.63
(565.33–944.86)
216.09 ± 23.12
(190.08 -272.69)
87.73 ± 14.94
(77.19-129.16)
a : angka pada tabel terdiri dari rata-rata ± standar deviasi (nilai minimal dan nilai maksimum)
11
Ditylenchus dipsaci Jantan
Tubuh. Nematoda jantan memiliki ukuran tubuh lebih pendek dari nematoda
betina (Gambar 3a). D. dipsaci jantan memiliki rentang panjang tubuh total terukur
802.22-1084.81 µm. Nematoda jantan terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Bogor
dengan rata-rata 956.32 µm (Tabel 4). Nematoda jantan asal giant swalayan
memiliki rata-rata panjang tubuh total terpendek yaitu 855.70 µm (Tabel 4).
Menurut Literatur Mollov et al. (2012) dan Tenuta at al. (2014) rentang panjang
total tubuh nematoda jantan adalah 1201-1558. Nematoda jantan terukur memiliki
ukuran lebih pendek dari literatur.
Diameter Tubuh Masksimum. Diameter tubuh maksimum jantan terpanjang yaitu
D. dipsaci asal pasar Parung dengan rata-rata 28.01 µm, dan terpendek yaitu,
D.dipsaci asal giant swalayan memiliki diameter rata-rata paling pendek yaitu
25.47 µm (Tabel 4). Diameter terukur memiliki nilai lebih pendek dibandingkan
dengan diameter rata-rata menurut Tenuta et al. (2014) yaitu 28 µm.
Stilet. Nematoda jantan memiliki panjang stilet yang tidak berbeda nyata
dengan nematoda betina (Gambar 3c). Stilet jantan memiliki nilai terukur serupa
dengan Tenuta et al. (2014) dan Mollov et al. (2012). Panjang rata-rata stilet jantan
terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Anyar yatitu 11.33 µm (Tabel 4). Nematoda
asal Anyar dan Bogor memiliki rata-rata panjang stilet yang sama, namun D.dipsaci
Bogor memiliki standar deviasi yang lebih tinggi sehingga D. dipsaci Anyar
memiliki rata-rata panjang stilet terpanjang. Sedangkan, Stilet terpendek dimiliki
oleh D. dipsaci Giant yaitu 10.65 µm (Tabel 4).
Esofagus. Jarak rata-rata median bulb ke anterior menurut Tenuta et al.
(2014) yaitu 73 µm. Rentang panjang median bulb terukur berkisar 51.35-79.66 µm
(Tabel 4). Jarak median bulb terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Anyar, dan
terpendek adalah D. dipsaci asal Giant Swalyan. Panjang esofagus terukur memiliki
nilai yang lebih pendek dibandingkan dengan literatur menurut Tenuta et al. (2014).
Panjang esofagus rata-rata terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Anyar 183.54 µm
dan terpendek adalah D. dipsaci Giant swalayan 167.39 µm (Tabel 4). Esofagus
nematoda tidak overlap atau tumpang tindih (Gambar 3b).
Struktur Reproduktif. Nematoda jantan memiliki spikula sebagai alat
reproduksi (Gambar 3d). Menurut Mollov et al. (2012) dan Tenuta et al. (2014)
rentang panjang spikula yaitu, 22-28 µm. Rentang panjang spikula terukur adalah
17.17 – 29.22 µm (Tabel 4). Panjang rata-rata spikula terpanjang yaitu D. dipsaci
asal pasar Anyar, dan terpendek D. dipsaci asal Giant Swalayan. Menurut Tenuta
et al. (2014) panjang bursa berada pada rentang 62-97 µm dengan rata-rata 29 µm.
Nilai bursa terukur lebih pendek daripada literatur. Panjang bursa rata-rata
terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Kemang, 62.76 µm dan bursa terpendek
adalah D.dipsaci asal Giant swalayan, 50.87 µm (Tabel 4)
Ekor. Perhitungan panjang ekor nematoda jantan lebih pendek dari panjang
ekor betina karena telah dilakukan pengukuran panjang bursa terlebih dahulu.
Sehingga panjang ekor tercantum adalah panjang ekor tanpa bursa. Pajang rata-rata
ekor tanpa bursa menurut Tenuta et al. (2014) yaitu 29 µm dengan rentang nilai 2534 µm. Nilai ini lebih pendek dibandingkan dengan nilai terukur. Panjang ekor
tanpa bursa terpanjang yaitu D. dipsaci asal pasar Anyar dengan rata-rata 44.09 µm,
sedangkan terpendek adalah D. dipsaci asal Giant swalayan dengan rata-rata 36.75
µm (Tabel 4).
12
metakorpu
s
a b
stilet
c
d
spikula
bursa
Gambar 3 Morfologi nematoda Ditylenchus dipsaci jantan. a. penampakan
seluruh tubuh; b. esofagus tubuh nematoda; c. stilet; d. posterior tubuh nematoda
Variasi nilai morfometrik nematoda D. dipsaci dari masing-masing lokasi
pengambilan sampel dipengaruhi oleh geografis dan kondisi lingkungan yang dapat
menghasilkan adanya ekotipe dan populasi spesifik inang (Mulyadi 2009). Waktu
penyimpanan juga dapat mempengaruhi perbedaan nilai morfometrik nematoda.
Menurut Tarte dan Mai (1976) ukuran morfologi nematoda mengalami perubahan
setelah disimpan selama 6 bulan pada suhu ruang dan dalam keadaan tidak
tersedianya makanan. Perubahan ini terjadi pada ukuran tubuh total, diameter tubuh
maksimum, panjang esofagus, stilet, rasio a dan rasio b. Nilai morfometrik
nematoda dapat mengalami peningkatan, penurunan, atau tidak mengalami
perubahan. Rasio V nematoda betina atau persentase vulva dari anterior terhadap
panjang tubuh total tidak mengalami perubahan.
Tabel 4 Perbandingan nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci jantan asal pasar tradisional dan pasar swalayan dengan literatur
n
L
Literatur (µm)
Mollov et al. Tenuta et. al.
(2012)
(2014)
9
22
1362
(1372-1558)
(1201-1473)
Diameter
tubuh max
s
28 (24-34)
(11.5-12.3)
Median bulb
ke anterior
11 (10-12)
73 (68-85)
esofagus
189
(159-207)
44.4
(39.7-53.5)
a
(40-50)
b
(6.5-7.0)
6.9 (6.3-7.8)
c
(14-16)
14.9
(13.9-16.3)
spikula
(22-27)
26 (22-28)
bursa
82 (62-97)
ekor tanpa
bursa
29 (25-34)
Hasil pengukuran Morfometrik (µm)
P. Kemang
P. Bogor
P. Anyar
P. Parung
Giant
5
904.92 ± 46.72a
(840.16-949.11)
26.66 ± 4.11
(21.05 – 31.68)
11.02 ± 0.7
(10.09-11.97)
72.91 ± 2.39
(70.27 – 76.78)
172.79 ± 2.66
(168.98 -175.70)
34.42 ± 3.92
(29.49-39.91)
5.24 ± 0.28
(4.84-5.53)
8.94 ± 0.42
(8.49-9.57)
24.52 ± 2.85
(20.59-26.86)
62.76 ± 1.68
(60.29-64.9)
38.80 ± 7.67
(30.08-44.72)
9
956.32 ± 57.86
(881.87- 1084.81)
26.43± 2.84
(22.37-31.51)
11.06 ± 0.68
(10.16-12.09)
73.09 ± 8.69
(51.35-79.66)
175.19 ± 6.29
(165.71-185.93)
36.53 ± 5.26
(30.66-42.05)
5.46 ± 0.31
(4.91-6.05)
9.84 ± 1.04
(8.23-11.18)
23.07 ± 2.39
(20.16-27.71)
59.24 ± 5.26
(47.13-66.70)
38.86 ± 7.83
(29.55-53.56)
5
878.34 ± 40.68
(829.46-920.27)
26.14 ± 2.84
(23.58-29.60)
11.33 ± 0.32
(10.99-11.70)
80.60 ± 8.86
(76.02-85.73)
183.54 ± 8.86
(174.57-197.66)
33.88 ± 3.58
(29.19-37.27)
4.8 ± 0.48
(4.20 – 5.16)
8.56 ± 0.91
(7.43 – 9.92)
24.93 ± 2.95
(20.83-27.70)
59.54 ± 3.08
(55.85-64.02)
44.09 ± 12.79
(27.79-62.53)
5
867.51 ± 18.49
(837.12-883.64)
28.01 ± 7.00
(24.34-32.23)
11.33 ± 0.60
(10.59-11.94)
77.73 ± 4.87
(72.69-84.30)
167.68 ± 6.22
(159.94-176.67)
31.30 ± 3.62
(28.15-35.50)
5.17 ± 0.26
(4.89-5.52)
8.41 ± 0.54
(7.62-9.05)
23.42 ± 3.62
(17.17-26.00)
62.38 ± 1.62
(60.87-64.70)
40.74 ± 7.77
(35.67-54.45)
5
855.70 ± 67.22
(802.22-929.60)
25.47 ± 3.64
(21.94-29.66)
10.65 ± 0.49
(10.02-11.37)
72.46 ± 5.09
(67.03-79.11)
167.39 ± 8.64
(158.64-177.88)
34.27 ± 6.37
(27.50-42.00)
5.11 ± 0.15
(4.98-5.30)
10.02 ± 1.67
(8.66-12.91)
22.80 ± 4.03
(19.45-29.22)
50.87 ± 9.1
(40.37-60.71)
36.75 ± 9.35
(21.81-47.33)
a: angka pada tabel terdiri dari rata-rata ± standar deviasi (nilai minimal dan nilai maksimum)
13
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Ditylenchus dipsaci berhasil dideteksi pada bawang putih konsumsi asal pasar
tradisional dan pasar swalayan di wilayah Bogor. Nematoda D. dipsaci
diidentifikasi berdasarkan karakter kunci morfologi dan morfometrik.
Saran
Terdeteksinya D. dipsaci pada bawang putih konsumsi di Bogor dapat
memberikan informasi kepada pihak yang berkepentingan untuk melakukan
tindakan preventif. Perlu dilakukan penelitian mengenai pengendalian yang efektif
terhadap nematoda D. dipsaci. Selain itu dengan ditemukannnya nematoda
Aphelenchoides fragariae pada bawang merah maka perlu dilakukan penelusuran
lebih lanjut pada lahan pertanaman bawang merah di berbagai wilayah indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Agromedia. 2011. Petunjuk Praktis Bertanam Bawang. Jakarta (ID): AgroMedia
Pustaka.
Bridge J, Starr JL. 2007. Plant Nematodes of Agricultural Importance. London
(UK): Manson Publishing.
Charchar JM, Tenente RCV, Aragao FAS. 2003. Resistencia de cultivares de alho
a Ditylenchus dipsaci. Nematologia Brasileira 27 (2) : 179-184.
Decker H. 1989. Plant Nematodes and Their Control (Phytonematology). New
Delhi : Paul Press.
[EPPO]. 2008. Ditylenchus destructor and Ditylenchus dipsaci. Bulletin EPPO 38:
363-373.
Flegg JJ, Hooper DJ. 1970. Extraction of free living stages from the soil. P. 5-22.
In: Southey, J.F. (1970). Laboratory methods for work with plant and soil
nematodes. Technical Bulletin 2, Ministry of Agriculture, Fisheries and Food,
Her majesty’s Stationary Office. London : 148.
[ISPM]. 2015. International standar for phytosanitary measures ISPM 27 diagnostic
protocols DP 8 : Ditylenchus dipsaci and Ditylenchus destructor [internet].
[diakses pada 4 agustus 2018]. Tersedia pada: http://www.uvhvvr.gov.si/
fileadmin/uvhvvr.gov.si/pageuploads/DELOVNA_PODROCJA/Mednarodn
e_zadeve/Dok/ISPM_2015/ISPM_27_DP_08_20047_Ditylenchus_dipsaci_
and_Ditylenchus_destructor__2015-09-21.pdf
[Kementan RI]. 2018. Basis data ekspor-impor komoditi pertanian [internet].
[diakses pada: 2018 mei 19]. Tersedia pada : http://database.pertanian.go.id.
Mollov DS, Subbotin SA, Rosen C. 2012. [Abstrack]. First report of Ditylenchus
dipsaci on garlic in Minnesota. Robertson AE, editor. APS Journals 96 (11).
Doi : 10.1094/PDIS-06-12-0532-PDN.
Mulyadi. 2009. Nematologi Pertanian. Yogyakarta (ID):UGM Press.
[Permentan] Peraturan Menteri Pertanian. 2018. Jenis organisme pengganggu
tumbuhan karantina. Jakarta (ID): Permentan.
Palungkung R, Budiarti A. 1997. Bawang putih Dataran Rendah. Jakarta (ID):
Penebar Swadaya
Ryss AY. 2017. A simple express technique to process nematodes for collection
slide mounts. Jurnal of Nematology 49 (1):27-32.
Sinaga RM, Musaddad D. 1993. Pengaruh suhu dan kelembaban terhadap mutu
bawang putih (Allium sativum) cv Lumbu Hijau di ruang penyimpanan.
Laporan Penelitian Proyek ARM 1992/1993. Balai Penelitian Hortikultura
Lembang.
Shurtleff MC. Averre CW. 2000. Diagnosing Plant Disease Caused By Nematodes.
Minnesota (USA): APS Press.
Sturhan D, Brezeski MW. 1991. Stem and bulb nematode, Ditylenchus spp.,
Manual of Agricultural Nematology, Nickle WR editor. New York (US):
Marcel Dekker Inc.
Tarte R, Mai WF. 1976. Morphological variation in Pratylenchus penetrans.
Journal of Nematology 8 (3): 185-195.
Tenuta M, Madani M, Briar S, Molina O, Gulden R, Subbotin SA. 2014.
Occurrence of Ditylenchus Weischeri and Not D. dipsaci in field pea harvest
16
samples and Cirsium arvense in the Canadian praires. Jurnal of
Nematologists 46 (4):376-384.
Thompson HC. 1959. Vegetable Crops. United State (US): McGraw-Hill Book
Company, Inc.
Thorne. 1949. Nematode Morphometric Parameters. Diakses pada: [2018 agustus
16]. Tersedia pada : http:/nemaplex.ucdavis.edu/Methods/De%20Man%20F
ormula.htm
Wharton DA. 2002. Nematode Survival Strategies. The Biology of Nematology. Lee
DL, editor. London (UK) : Taylor and Francis.
Zuckerman BM, Mai WF, Harrison MB. 1985. Plant Nematology, Laboratory
Manual. Massachusetts (US): The University of Massachusetts Agricultural
Experiment Satation Amherst.
LAMPIRAN
18
Kode
BPA
BPA
BPA
BPA
BPA
Mean
Sd
Min
Max
BPB
BPB
BPB
BPB
BPB
BPB
BPB
BPB
BPB
BPB
BPB
BPB
Lampiran 1 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina berdasarkan lokasi pengambilan sampel
Median
vulva ke
L
s
esofagus
G
T
G1
G2
a
b
c
bulb
anus
Pasar Anyar
1016.77 12.06
86.05
170.95
29.04
92.51 775.54 241.23 148.72
35.01
5.95 10.99
829.64 11.03
79.62
171.59
23.90
87.89 639.86 189.78
99.50
34.71
4.84 9.44
926.30 10.51
71.18
165.01
36.00
76.76 726.81 199.49 123.31
25.73
5.61 12.07
785.77 11.39
72.12
162.76
20.85
63.64 659.37 126.40
74.74
37.69
4.83 12.35
797.81 11.82
74.72
165.14
24.21
69.06 627.30 170.51 104.28
32.95
4.83 11.55
871.26 11.36
76.74
167.09
26.80
77.97 685.78 185.48 110.11
33.22
5.21 11.28
98.28
0.62
6.15
3.94
5.92
12.21
63.18
41.94
27.67
4.52
0.53 1.15
785.77 10.51
71.18
162.76
20.85
63.64 627.30 126.40
74.74
25.73
4.83 9.44
1016.77 12.06
86.05
171.59
36.00
92.51 775.54 241.23 148.72
37.69
5.95 12.35
Pasar Bogor
825.56 10.56
68.69
189.88
34.22
91.69 650.07 175.48
83.79
4.35
12.02 24.13
887.53 11.04
52.30
162.21
30.47
75.39 691.76 195.77 120.38
5.47
16.97 29.13
889.63 10.97
52.84
139.21
37.04
61.28 733.03 156.60
95.32
6.39
16.84 24.02
925.20 10.05
42.62
114.97
42.65
67.14 741.42 183.78 116.64
8.05
21.71 21.69
818.26 11.70
44.95
111.00
33.52
63.65 651.80 166.46 102.81
7.37
18.20 24.41
1002.42 10.74
57.12
131.41
46.18
68.00 805.79 196.63 128.63
7.63
17.55 21.71
987.23 11.05
59.86
170.46
36.89
72.29 691.63 295.60 223.31
5.79
16.49 26.76
955.89 11.47
75.89
149.53
24.20
71.25 776.75 179.14 107.89
6.39
12.60 39.50
838.67 11.45
64.23
97.23
29.53
70.89 678.14 160.53
89.64
8.63
13.06 28.40
1065.95 10.28
65.15
180.74
33.86
99.65 815.38 250.57 150.92
5.90
16.36 31.48
930.12 11.63
72.45
177.08
34.15
90.42 731.59 198.53 108.11
5.25
12.84 27.24
987.11 10.70
77.74
176.29
34.33
90.70 766.41 220.70 130.00
5.60
12.70 28.75
V
76%
77%
78%
84%
79%
79%
0.03
76%
84%
79%
78%
82%
80%
80%
80%
70%
81%
81%
76%
79%
78%
Kode
L
BPB
BPB
Mean
Sd
Min
max
1101.09
985.62
942.88
86.01
818.26
1101.09
BPP
BPP
BPP
BPP
BPP
BPP
BPP
BPP
BPP
BPP
Mean
Sd
Min
Max
923.47
881.09
784.24
920.83
1009.90
1003.35
949.86
886.41
880.40
979.91
921.95
68.42
784.24
1009.90
BPK
BPK
797.91
836.57
Lampiran 1 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina ... (lanjutan)
Median
vulva ke
S
esofagus
G
T
G1
G2
a
bulb
anus
10.50
77.01
174.96
37.90
92.67 847.19 253.90 161.23
6.29
11.95
73.93
169.02
28.73
86.54 770.19 215.43 128.89
5.83
11.01
63.20
153.14
34.55
78.68 739.37 203.51
124.83 6.35
0.57
11.86
29.57
5.61
12.69
61.35
40.19
35.83 1.18
10.05
42.62
97.23
24.20
61.28 650.07 156.60
83.79 4.35
11.95
77.74
189.88
46.18
99.65 847.19 295.60
223.31 8.63
Pasar Parung
11.85
66.68
174.33
39.85
81.98 742.27 181.20
99.22 23.17
10.01
76.80
169.26
23.91
72.31 701.21 179.88
107.57 36.85
26.15
10.11
76.63
176.52
29.99
68.64 598.34 185.90 117.26
26.91
10.32
78.07
175.83
34.22
88.60 722.73 198.10 109.50
30.75
10.59
76.18
178.16
32.84
88.38 814.81 195.09 106.71
12.98
86.19
277.88
46.85
72.64 768.23 235.12 162.48
21.42
10.86
58.53
174.08
33.80
86.74 764.77 185.09
28.10
98.35
10.99
71.28
183.47
30.57
70.07 719.76 166.65
29.00
96.58
11.12
53.20
144.50
24.04
71.36 712.26 168.14
36.62
96.78
99.85 732.12 247.79 147.94
29.09
10.27
64.14
138.70
33.68
10.91
70.77
179.27
32.98
80.06 727.65 194.30 114.24
28.81
0.91
10.06
37.67
6.83
10.56
56.37
26.93
22.83
5.02
10.01
53.20
138.70
23.91
68.64 598.34 166.65
96.58
21.42
12.98
86.19
277.88
46.85
99.85 814.81 247.79 162.48
36.85
Pasar Kemang
11.44
77.11
166.08
29.04
82.29 589.77 208.14 125.85
27.48
11.47
65.71
132.79
25.66
74.79 619.99 216.58 141.79
32.60
b
c
V
14.30
13.33
15.35
2.82
12.02
21.71
29.05
34.31
27.90
4.90
21.69
39.50
77%
78%
79%
0.03
70%
82%
5.30
5.21
4.44
5.24
5.67
3.61
5.46
4.83
6.09
7.06
5.29
0.93
3.61
7.06
11.26
12.18
11.43
10.39
11.43
13.81
10.95
12.65
12.34
9.81
11.63
1.16
9.81
13.81
80%
80%
76%
78%
81%
77%
81%
81%
81%
75%
79%
0.02
75%
81%
4.80
6.30
9.70 74%
11.19 74%
19
20
Kode
L
BPK
BPK
BPK
BPK
BPK
BPK
BPK
BPK
Mean
Sd
Min
Max
901.43
943.72
903.20
886.01
795.95
876.85
924.90
940.49
880.70
54.23
795.95
943.72
BPGS
BPGS
BPGS
BPGS
BPGS
BPGS
BPGS
BPGS
BPGS
BPGS
Mean
1033.83
783.8
866.47
964.11
1036.19
1156.19
871.32
1088.06
840.43
908.75
954.92
Lampiran 1 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina ... (lanjutan)
Median
vulva ke
S
esofagus
G
T
G1
G2
a
bulb
anus
11.02
52.21
1644.27 28.09
82.57 700.87 200.56 117.99
32.09
10.13
56.19
154.12
31.23
57.74 704.55 239.17 181.43
30.22
10.21
55.71
140.10
28.64
100.28 671.75 231.45 131.17
31.54
10.31
67.56
160.74
29.20
114.69 730.31 155.70
41.01
30.34
10.37
65.61
142.03
20.39
74.12 618.19 177.76 103.64
39.04
11.31
85.34
195.02
28.89
73.67 700.83 176.02 102.35
30.35
11.63
83.45
172.33
28.63
89.30 724.24 200.66 111.36
32.31
11.09
76.90
204.15
37.60
75.72 727.93 212.56 136.84
25.01
10.90
68.58
311.16
28.74
82.52 678.84 201.86 119.34
31.10
0.58
11.78
468.97
4.28
15.86
51.51
25.86
35.88
3.65
10.13
52.21
132.79
20.39
57.74 589.77 155.70
41.01
25.01
11.63
85.34
1644.27 37.60
114.69 730.31 239.17 181.43
39.04
Giant Swalayan
11.75
73.32
164.3
42.15
129.16 761.14 272.69 143.53
24.53
11.01
76.79
167.62
27.05
86.74 565.33 218.47 107.72
28.98
10.57
74.93
191.9
27.32
85.86 667.49 198.98 113.12
31.72
10.41
74.42
172.59
29.48
83.13 748.41 215.7
132.57
32.70
10.87
75.89
179.92
29.14
87.06 808.37 227.82 140.76
35.56
10.63
78.78
179.1
38.06
84.2
944.86 211.33 127.13
30.38
11.15
70.86
172.98
30.97
83.91 667.77 203.55 119.64
28.13
10.93
63.26
199.58
38.39
82.24 865.35 222.71 140.47
28.34
10.03
73.33
193.46
32.18
77.79 640.85 199.58 121.79
26.12
10.47
53.03
166.59
24.12
77.19 717.82 190.08
113
37.68
10.78
71.46
178.80
31.89
87.73 738.74 216.09 125.96
30.41
b
c
V
0.55
6.12
6.45
5.51
5.60
4.50
5.37
4.61
4.98
1.70
0.55
6.45
10.92
16.34
9.01
7.73
10.74
11.90
10.36
12.42
11.03
2.32
7.73
16.34
78%
75%
74%
82%
78%
80%
78%
77%
77%
0.03
74%
82%
6.29
4.68
4.52
5.59
5.76
6.46
5.04
5.45
4.34
5.46
5.36
8.00
9.04
10.09
11.60
11.90
13.73
10.38
13.23
10.80
11.77
11.06
74%
72%
77%
78%
78%
82%
77%
80%
76%
79%
0.77
Sd
Min
Max
Kode
BPJA
Mean
Sd
Min
Max
BPJK
Mean
Sd
Min
120.41
783.80
1156.19
Lampiran 1 Nilai morfometrik nematoda Ditylenchus dipsaci betina ... (lanjutan)
0.47
7.72
12.37
5.82
14.94 112.63 23.12
12.95
4.09
10.03
53.03
164.30
24.12
77.19 565.33 190.08 107.72
24.53
11.75
78.78
199.58
42.15
129.16 944.86 272.69 143.53
37.68
L
920.27
908.34
829.46
841.25
892.36
878.34
40.68
829.46
920.27
840.16
929.51
934.3
949.11
871.51
904.92
46.72
840.16
0.72
4.34
6.46
Lampiran 2 Nilai morfometrik nematoda jantan dari pasar tradisional dan pasar swalayan
diameter
s
Median bulb
esofagus
G
T
anus
spikula
Pasar Anyar
10.99
82.34
178.4
29.6
104.78
15.9
27.7
11.48
81.06
185.54
24.37
107.55
15.92
26.87
11.47
85.73
197.66
23.58
83.64
12.78
20.83
11.7
76.02
181.52
28.85
102.03
17.32
26.4
10.99
77.87
174.57
24.32
120.18
15.54
22.83
11.33
80.60
183.54
26.14
103.64
15.49
24.93
0.32
3.81
8.86
2.84
13.16
1.66
2.95
10.99
76.02
174.57
23.58
83.64
12.78
20.83
11.70
85.73
197.66
29.60
120.18
17.32
27.70
Pasar Kemang
10.7
76.78
173.42
21.05
92.47
15.27
22.38
11.35
72.98
175.7
28.98
109.54
17.69
26.25
10.09
72.04
168.98
31.68
107.23
17.58
26.86
11.97
70.27
174.47
27.24
107.52
16.07
26.5
10.98
72.47
171.37
24.37
91.02
17.04
20.59
11.02
72.91
172.79
26.66
101.56
16.73
24.52
0.70
2.39
2.66
4.11
9.01
1.04
2.85
10.09
70.27
168.98
21.05
91.02
15.27
20.59
1.77 0.03
8.00 72%
13.73 82%
bursa
60.03
60.17
55.85
64.02
57.65
59.54
3.08
55.85
64.02
62.39
64.9
63.4
62.8
60.29
62.76
1.68
60.29
21
22
Max
949.11
Kode
L
912.43
930.57
937.11
1084.81
985.4
974.64
965.98
881.87
934.05
956.32
57.86
881.87
1084.81
BPJB
Mean
Sd
Min
Max
BPJB
Mean
Sd
Min
Max
879.18
873.5
837.12
864.09
883.64
867.51
18.49
837.12
883.64
Lampiran 2 Nilai morfometrik nematoda jantan ... (lanjutan)
11.97
76.78
175.70
31.68
109.54
17.69
Pasar Bogor
Diameter
s
Median bulb
esofagus
G
T
anus
10.83
73.93
172.75
25.83
90.98
16.57
10.41
77.23
169.02
28.48
111.15
17.36
10.47
76.5
170.32
27.22
113.87
16.26
11.62
72.46
179.35
25.8
102.42
19.11
11.9
79.66
185.93
24.61
101.96
18.5
11.07
77.98
176.76
23.48
93.95
13.06
11
78.34
177.18
31.51
89.61
15.41
10.16
51.35
179.66
22.37
78.88
13.79
12.09
70.32
165.71
28.59
100.06
18.41
11.06
73.09
175.19
26.43
98.10
16.50
0.68
8.69
6.29
2.84
10.99
2.11
10.16
51.35
165.71
22.37
78.88
13.06
12.09
79.66
185.93
31.51
113.87
19.11
Pasar Parung
11.82
74.04
168.14
31.23
115.32
14.46
11.47
72.69
164.36
25
99.73
16.43
10.59
81.08
169.3
28.32
101.16
14.75
11.94
84.3
176.67
24.34
101.73
14.7
10.83
76.52
159.94
31.16
97.65
14.04
11.33
77.73
167.68
28.01
103.12
14.88
0.60
4.87
6.22
3.28
7.00
0.91
10.59
72.69
159.94
24.34
97.65
14.04
11.94
84.30
176.67
31.23
11p5.32
16.43
26.86
64.90
spikula
25.06
27.71
21.56
25.11
22.35
22.37
21.61
20.16
21.66
23.07
2.39
20.16
27.71
bursa
60.03
66.7
60.31
58.73
63.18
58.59
60.06
47.13
58.39
59.24
5.26
47.13
66.70
24.59
17.17
26
25.7
23.64
23.42
3.62
17.17
26.00
60.87
61.02
64.7
63.31
61.98
62.38
1.62
60.87
64.70
Kode
BPJGS
Mean
Sd
Min
Max
L
802.22
815.51
802.55
928.6
929.6
855.70
67.22
802.22
929.60
s
10.02
10.46
10.63
11.37
10.78
10.65
0.49
10.02
11.37
Lampiran 2 Nilai morfometrik nematoda jantan ... (lanjutan)
Giant Swalayan
diameter
Median bulb
esofagus
G
T
anus
71.74
158.64
28.83
81.46
14.9
67.03
163.88
29.66
86.02
13.75
68.39
161.27
21.94
62.18
11.99
76.05
175.26
22.11
101.08
13.92
79.11
177.88
24.83
107.34
15.21
72.46
167.39
25.47
87.62
13.95
5.09
8.64
3.64
17.73
1.26
67.03
158.64
21.94
62.18
11.99
79.11
177.88
29.66
107.34
15.21
spikula
19.5
22.02
19.45
23.81
29.22
22.80
4.03
19.45
29.22
bursa
45.17
48.08
40.37
60.71
60.01
50.87
9.10
40.37
60.71
23
24
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Lampung Tengah, Lampung, pada tanggal 15 November
1995 dari orang tua yaitu Bapak Hadi Sukatmo dan Ibu Siti Khazanah. Penulis
adalah anak kedua dari dua bersaudara. Penulis pernah mengenyam pendidikan di
TK Satya Dharma Sudjana, SDN 02 Gunung Madu, SMP Satya Dharma Sudjana,
dan SMAN 01 Metro. Penulis mengawali masa kuliah sebagai peserta Seleksi
Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) pada tahun 2014 hingga
menyelesaikan pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor dengan Mayor
Proteksi Tanaman dan Minor Agronomi dan Hortikultura pada tahun 2018.
Penulis aktif di beberapa organisasi intra kampus selama mengenyam
pendidikan di Institut Pertanian Bogor. Tahun 2014 dan 2015 penulis aktif sebagai
staf komisi 4 olahraga dan seni Dewan Perwakilan Mahasiswa Tingkat Persiapan
Bersama (DPM TPB). Penulis juga aktif sebagai pengurus di Unit Kegiatan
Mahasiswa Equestrian Club IPB (UKM berkuda) tahun (2014-2018) dan Tenis
lapang faperta (2016-2018). Penulis merupakan anggota organisasi mahasiswa
daerah Keluarga Mahasiswa Lampung (KEMALA) tahun (2014-2018). Penulis
juga aktif mengikuti beberapa kepanitian di Institut Pertanian Bogor. Penulis
terlibat sebagai asisten praktikum matakuliah Hama dan Penyakit Tanaman Pangan
dan Hortikultura (2017), asisten praktikum mata kuliah Teknik Penyajian Ilmiah
(2018), Penyakit Benih dan Pascapanen D3 (2018), dan asisten Praktikum
Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat (2018). Penulis pernah terlibat dalam
kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai mahasiswa peserta KKN-T
Revolusi Mental di Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor pada
tahun 2017. Penulis menerima dana hibah penelitian pada pekan kreativitas
mahasiswa tahun 2017 (PKM-P) yang berjudul BIO-BASIC : Bioinsektisida
Berbasis Bakteri Simbion Cicak.
Download