Uploaded by User19736

Laporan Tutorial Skenario B Blok 25 Kelompok B4

LAPORAN TUTORIAL
SKENARIO B BLOK 25
Tutor : dr. Kms. Ya’kub Rahardiyanto, Sp.PK,M.Kes
Disusun oleh: Kelompok B4
Kelas Beta 2016
Ima Suryani
(04011181621222)
Nendy Oktari
(04011181621223)
Ahmad Ghozian Adani
(04011281621087)
Pahrul Rozi
(04011281621095)
Retno Putri Nusantari
(04011281621096)
Debby Ariansyah
(04011281621097)
Chindy Putri Oktrisna
(04011281621103)
Aulia Qudusi Ramadhani
(04011281621105)
Melissa Shalimar Lavinia G
(04011281621107)
Anisah Rizqa Syafitri
(04011281621115)
Arindi Maretzka
(04011281621117)
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan tutorial yang
berjudul “Laporan Tutorial Skenario B Blok 25” sebagai tugas kompetensi
kelompok.
Kami menyadari bahwa laporan tutorial ini jauh dari sempurna. Oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna
perbaikan di masa mendatang.
Dalam penyelesaian laporan tutorial ini, kami banyak mendapat bantuan,
bimbingan dan saran. Pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan syukur,
hormat, dan terima kasih kepada :
1. Tuhan yang Maha Esa, yang telah merahmati kami dengan kelancaran diskusi
tutorial,
2. dr. Kms. Ya’kub Rahardiyanto, Sp.PK, M.Kes selaku tutor kelompok B4,
3. Teman-teman sejawat FK Unsri, terutama kelas PSPD Beta 2016.
Semoga Tuhan memberikan balasan pahala atas segala amal yang
diberikan kepada semua orang yang telah mendukung kami dan semoga laporan
tutorial ini bermanfaat bagi kita dan perkembangan ilmu pengetahuan. Semoga
kita selalu dalam lindungan Tuhan.
Palembang, 15 Agustus 2019
Kelompok B4
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................
i
DAFTAR ISI......................................................................................................
ii
KEGIATAN DISKUSI.......................................................................................
iii
SKENARIO B BLOK 25...................................................................................
1
I.
KLARIFIKASI ISTILAH.......................................................................
2
II. IDENTIFIKASI MASALAH ................................................................
3
III. ANALISIS MASALAH.........................................................................
4
IV. SINTESIS...............................................................................................
24
V. KERANGKA KONSEP.........................................................................
51
VI. KESIMPULAN......................................................................................
51
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................
52
iv
KEGIATAN DISKUSI
Tutor
: dr. Kms. Ya’kub Rahardiyanto, Sp.PK, M.Kes
Moderator
: Anisah Rizqa Syafitri
Sekretaris 1
: Aulia Qudusi Ramadhani
Sekretaris 2
: Retno Putri Nusantari
Presentan
:
Pelaksanaan
: 12 dan 14 Agustus 2019
13.00 -15.30 WIB
Peraturan selama tutorial:
-
Tidak ada forum dalam forum
-
Fokus pada proses tutorial
-
Mengangkat tangan apabila ingin mengutarakan pendapat, lalu menunggu
hingga dipersilahkan oleh moderator
-
Gadget dapat digunakan apabila dibutuhkan
v
SKENARIO B BLOK 25 TAHUN 2019
Yudi, anak laki-laki umur 2 tahun, BB 12 kg, TB 87 cm dibawa ibunya ke UGD
RSMH karena mengalami kesulitan bernafas. Tiga hari sebelumnya, Yudi
menderita panas tidak tinggi disertai batuk pilek. Batuk terdengar kasar, seperti
anjing menyalak.
Pada penilaian umum terlihat :
Anak sadar, menangis terus dengan suara sesekali terdengar parau. Masih bisa
ditenangkan oleh ibunya. Sewaktu anak diperiksa, anak berontak dan langsung
menangis memeluk ibunya. Bibir dan mukosa tidak sianosis, kulit tidak pucat dan
tidak mottled. Nafas terlihat cepat dengan peningkatan usaha nafas. Terdengar
stridor inspirasi.
Kemudian dokter melakukan survey primer.
Jalan nafas tidak terlihat lendir maupun benda asing, tonsil T1/T1 dan faring
dalam batas normal. Respiratory rate: 45x/menit. Nafas cuping hidung (+),
gerakan dinding dada simetris kiri dan kanan, tampak retraksi supra sternal dan
sela iga. Suara nafas vasikuler. Tidak terdengar ronkhi. Tidak terdengar wheezing.
SpO2 95%. Bunyi jantung dalam batas normal, wheezing jantung tidak terdengar.
Nadi brachialis kuat nadi radialis kuat. Laju Nadi 135x/menit. Kulit berwarna
merah muda, hangat, capillary refill time <2 detik. Tidak ditemukan kelainan pada
survey disability.
Dokter jaga memutuskan memberikan O2 dengan sungkup rebreathing, tetapi anak
menolak, menghindar serta berontak.
1
I. Klarifikasi istilah
No
1
Istilah
Mottled
Pengertian
: Bintik atau bercak dengan berbagai warna
atau corak.
2
Batuk terdengar kasar, : Suara udara melewati pita suara pada laring
seperti anjing menyalak.
yang mengalami pembengkakan atau jalan
nafas lain di sekitar.
3
Suara parau
: Suara serak atau kasar.
4
Sianosis
: Diskolorasi kebiruan dari kulit dan membrane
mukosa
akibat
konsentrasi
hemoglobin
tereduksi yang berlebihan dalam darah.
5
Stridor inspirasi
: Suara kasar atau serak bernada tinggi atau
rendah yang muncul saat inspirasi akibat
penyemmpitan atau terhalangnya sebagian
saluran nafas atas.
6
Tonsil T1/T1
: Pembesaran tonsil dengan ukuran batas
medial tonsil melewati pilar anterior sampai
seperempat jarak anterior sampai uvula.
7
Nafas cuping hidung
: Pelebaran cuping hidung ketika bernafas dan
merupakan suatu tanda adanya kesulitan
bernafas.
8
SpO2
: Saturasi
oksigen;
pengukuran
seberapa
banyak hemoglobin yang terikat dengan
oksigen dibandingkan dengan hemoglobin
yang tidak terikat dengan oksigen.
9
Capillary refill time
: Tes yang dilakukan cepat pada daerah kuku
untuk memonitor dehidrasi dan jumlah aliran
darah ke jaringan (perfusi).
10
Sungkup rebreathing
: Teknik pemberian oksigen konsentrasi tinggi,
dimana CO2 dihirup kembali.
11
Wheezing
: Suara pernafasan frekuensi tinggi nyaring
yang terdengar di akhir ekspirasi.
2
12
Ronkhi
: Suara tambahan yang dihasilkan aliran udara
melalui saluran nafas yang berisi sekret atau
eksudat akibat saluran nafas yang menyempit.
13
Nafas vasikuler
: Bunyi nafas normal pada paru selama
ventilasi.
14
Survey disability
: Pemeriksaan neurologis yang terdiri dari
alert, verbal stimuli response, painful, atau
unresponsive disertai pemeriksaan kesadaran
atau GCS.
II. Identifikasi Masalah
1. Yudi, anak laki-laki umur 2 tahun, BB 12 kg, TB 87 cm dibawa ibunya
ke UGD RSMH karena mengalami kesulitan bernafas.
2. Tiga hari sebelumnya, Yudi menderita panas tidak tinggi disertai batuk
pilek. Batuk terdengar kasar, seperti anjing menyalak.
3. Pada penilaian umum terlihat :
Anak sadar, menangis terus dengan suara sesekali terdengar parau. Masih
bisa ditenangkan oleh ibunya. Sewaktu anak diperiksa, anak berontak dan
langsung menangis memeluk ibunya. Bibir dan mukosa tidak sianosis,
kulit tidak pucat dan tidak mottled. Nafas terlihat cepat dengan
peningkatan usaha nafas. Terdengar stridor inspirasi.
4. Kemudian dokter melakukan survey primer.
Jalan nafas tidak terlihat lendir maupun benda asing, tonsil T1/T1 dan
faring dalam batas normal. Respiratory rate: 45x/menit. Nafas cuping
hidung (+), gerakan dinding dada simetris kiri dan kanan, tampak retraksi
supra sternal dan sela iga. Suara nafas vasikuler. Tidak terdengar ronkhi.
Tidak terdengar wheezing. SpO2 95%. Bunyi jantung dalam batas
normal, wheezing jantung tidak terdengar. Nadi brachialis kuat nadi
radialis kuat. Laju Nadi 135x/menit. Kulit berwarna merah muda, hangat,
capillary refill time <2 detik. Tidak ditemukan kelainan pada survey
disability.
3
5. Dokter jaga memutuskan memberikan O2 dengan sungkup rebreathing,
tetapi anak menolak, menghindar serta berontak.
III. Analisis masalah
1. Yudi, anak laki-laki umur 2 tahun, BB 12 kg, TB 87 cm dibawa
ibunya ke UGD RSMH karena mengalami kesulitan bernafas.
a. Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem pernafasan pada anak?
Saluran pernapasan terdiri dari rongga hidung, rongga mulut,
faring, laring, trakea, dan paru. Laring membagi saluran pernapasan
menjadi dua bagian, yakni saluran pernapasan atas dan saluran
pernapasan bawah. Setelah melalui saluran hidung dan faring,
tempat udara pernapasan dihangatkan dan dilembabkan oleh uap air,
udara inspirasi berjalan menuruni trakea, melalui bronkiolus,
bronkiolus respiratorius, dan duktus alveolaris sampai alveolus.
Antara trakea dan kantong alveolar terdapat 23 kali percabangan
saluran udara. Enam belas percabangan pertama saluran udara
merupakan zona konduksi yang meyalurkan udara dari dan ke
lingkungan luar. Bagian ini terdiri atas bronkus, bronkiolus, dan
bronkiolus terminalis. Tujuh percabangan berikutnya merupakan
zona peralihan dan zona respirasi, dimana proses pertukaran gas
terjadi, terdiri atas bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, dan
alveolus.
4
Gambar 1. Struktur anatomi saluran pernafasan trakea hingga
alveolus.
Adanya percabangan saluran udara yang majemuk ini
meningkatkan luas total penampang melintang saluran udara, dari
2,5 cm2 di trakea, menjadi 11.800 cm2 di alveoli. Akibatnya,
kecepatan aliran udara di dalam saluran udara kecil berkurang ke
nilai yang sangat rendah.
Tiap alveolus dikelilingi oleh pembuluh kapiler paru. Di
sebagian besar daerah, udara dan darah hanya dipisahkan oleh epitel
alveolus dan endotel kapiler sehingga keduanya hanya terpisah
sejauh 0,5 µm. Tiap alveolus dilapisi oleh 2 jenis sel epitel, yaitu sel
tipe 1 dan sel tipe 2. Sel tipe 1 merupakan sel gepeng sebagai sel
pelapis utama, sedangkan sel tipe 2 (pneumosit granuler) lebih tebal,
banyak mengandung badan inklusi lamelar dan mensekresi
surfaktan. Surfaktan merupakan zat lemak yang berfungsi untuk
menurunkan tegangan permukaan.
5
Gambar 2. Tabel signifikansi jalan nafas bayi.
b. Bagaimana hubungan usia dan jenis kelamin dengan keluhan
Yudi?
Kejadian distress pernapasan untuk anak usia 0,5-5 tahun
berjumlah 12,8 insiden per 100.000 orang/tahun. Perbandingan lakilaki dan perempuan, 63%:54%. Perbedaan mortalitas keduanya tidak
signifikan.
Croup biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan-3 tahun,
dengan puncaknya pada usia 1-2 tahun. Croup dapat dijumpai pada
bayi kurang dari 3 bulan dan remaja usia 12-15 tahun, namun jarang
sekali dijumpai pada orang dewasa. Penyakit ini lebih sering terjadi
pada anak laki-laki daripada anak perempuan, dengan rasio 3:2.
Angka kejadiannya meningkat pada musim dingin dan musim gugur,
tetapi penyakit ini tetap dapat terjadi sepanjang tahun. Pasien croup
merupakan 15% dari seluruh pasien dengan infeksi respiratori yang
berkunjung ke dokter. Kekambuhan sering terjadi pada usia 3-6
tahun dan berkurang sejalan dengan pematangan struktur anatomi
saluran respiratorik atas. Hampir 15%pasien sindrom croup
6
mempunyai keluarga dengan riwayat penyakit yang sama. Suatu
studi retrospektif di Belgia mendapatkanbahwa 16% dari anak
berusia 5-8 tahun mengalami minimal satu kali episode croup,
sedangkan 5% mengalami croup berulang (sedikitnya 3 episode).
c. Apa kemungkinan penyebab dari kesulitan bernafas pada Yudi?
Kesulitan bernapas (distres pernapasan) disebabkan oleh infeksi
berbagai virus, seperti parainfluenza tipe 1 dan 3 virus, influenza
A
dan
B,
adenovirus,
respiratory
syncytial
virus
dan
metapneumovirus yang menyebabkan inflamasi umum pada saluran
pernapasan dan edema mukosa saluran napas atas. Hal ini akan
menimbulkan obstruksi saluran nafas atas, terutama pada regio
subglotis yang menimbulkan manifestasi berupa kesulitan bernafas
(Malhotra and Krilov, 2001).
Pada kasus terjadi kesulitan bernapas yang disertai demam tidak
tinggi, stridor inspirasi, batuk barking yang merupakan tanda dari
croup.
d. Bagaimana mekanisme kesulitan bernafas yang dialami Yudi?
Croup menyebabkan pembengkakan pada laring, trakea, dan bronkus
besar karena infiltrasi sel darah putih. Pembengkakan menghasilkan
obstruksi jalan nafas parsial yang, jika signifikan, menghasilkan
peningkatan pernapasan secara dramatis, dan turbulen yang khas,
aliran udara bising yang dikenal sebagai stridor.
7
e. Bagaimana hubungan status gizi Yudi dengan keluhan?
Balita dengan status gizi kurang beresiko 5,5 kali lebih besar
dibandingkan dengan anak dengan status gizi baik (Nasution et al.,
2009).
Gizi yang baik memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap status
imunitas dan pemeliharaan kesehatan tubuh anak, status gizi kurang
akan menurunkan kekebalan dan memudahkan anak untuk terserang
penyakit infeksi khususnya IRA bawah. Oleh karena itu status gizi
anak harus selalu dijaga (Arisanti et al., 2015)
Pada anak tidak cukupnya konsumsi makanan akan menyebabkan
turunnya
berat
badan,
pertumbuhan
terhambat,
menurunnya
imunitas, dan kerusakan mukosa, perubahan dalam sirkulasi paru
menyebabkan perubahan sistem pernafasan disertai penurunan
kekebalan seluler setempat yang memudahkan pasien terserang
infeksi saluran pernafasan (Wilar et al., 2006).
Gambar 3. Grafik weight-for length anak laki-laki WHO.
Pada kasus, tumbuh kembang Yudi baik berdasarkan berat dan tinggi
badannya, sehingga infeksi croup yang dialami Yudi bukan karena
status gizi yang buruk.
8
f. Bagaimana tatalaksana awal yang dilakukan pada kasus?
Penilaian awal: PAT
Appearance
: tidak ada kelainan
Breathing
: peningkatan usaha napas yang ditandai dengan
adanya, retraksi, dan napas cuping hidung
Circulation
: tidak ada kelainan
Kasus merupakan moderate respiratory distress (takipnea,
retraksi dinding dada, napas cuping hidung), bukan failure karena
belum ada tanda hipoksemia (bayi masih rewel), sianosis ataupun
gejala kardiovaskular.
Tatalaksana awal:
•
Posisikan anak pada posisi senyaman mungkin untuk
memperbaiki jalan nafas.
•
Tenangkan anak misalnya dengan cara membacakan cerita
•
Bila anak rewel minta ibu untuk membantu memasangkan
selang oksigen ke anaknya. Berikan O2 100% dengan
sungkup 6L/menit atau anak dipangku ibu dan oksigen di
hamburkan di depannya
•
Pemberian oksigen diatur supaya anak tidak rewel.
Primary assessment
Airwayà Jalan napas yang baik untuk oksigenasi dan ventilasi.
Penilaian
: terdapat stridor à obstruksi pada saluran nafas
Management : tempatkan anak pada posisi yang nyaman
Penanganan mengoptimalkan dengan:
•
Meletakkan kepala secara “SNIFFING POSITION” (posisi
menghirup): kepala anak digerakkan kearah depan dan atas
dengan manuver chin lift dan jaw thrust.
•
Membersihkan
rongga
mulut
dan
orofaring.
Kepala
dimiringkan ke kiri.
9
•
Pada anak tidak sadar perlu mempertahankan jalan nafas
secara mekanik yaitu oral airways yang dimasukkan secara
langsung dan gentle dengan bantuan spatula lidah. Bisa juga
Intubasi
orotraceal
untuk
trauma
kepala
berat,
dan
krikotiroidotomi.
Breathingà Evaluasi pernafasan.
Penilaian
: retraksi suprasternal dan sela iga, dan nafas
cuping hidung à peningkatan usaha bernapas
Management
: berikan oksigen dengan cara blow- by
tehnique.
Circulation dan disability normal.
2. Tiga hari sebelumnya, Yudi menderita panas tidak tinggi disertai
batuk pilek. Batuk terdengar kasar, seperti anjing menyalak.
a. Apa makna klinis dari kalimat di atas?
Panas tidak terlalu tinggi menandakan adanya infeksi virus,
tiga hari sebelumnya menandakan suatu kondisi yang akut, dan
batuk kasar seperti anjing menyalak merupakan suatu tanda dan
gejala croup.
Gejala tiga hari sebelumnya menandakan suatu kondisi akut.
Panas tidak tinggi disertai batuk pilek menandakan adanya infeksi
virus pada traktus respiratorius. Batuk terdengar kasar seperti
anjing menyalak menandakan adanya infeksi dari penyakit seperti
laringitis difteri, laringitis, laringotrakheitis akut, dan croup
spasmodik.
b. Bagaimana mekanisme batuk yang terdengar kasar, seperti
anjing menyalak?
Infeksi virus - virus menempel di jaringan epitel yang dilapisi
mucus bersilia bersel goblet pada laring - reseptor batuk merangsang
saraf afferent - pengiriman stimulus ke pusat batuk (dorsal medula
oblongata) - merangsang saraf motorik - menghasilkan reflek batuk.
10
Infeksi tadi menyebabkan terjadinya diffuse peradangan yang
menyebabkan eritema dan edema dinding mukosa dari saluran napas.
Edema pada kolumna subglotis yang terjadi menyebabkan
penyempitan saluran penafasan inilah yang menyebabkan suara
batuk yang dihasilakn seperti anjing menyalak.
c. Bagaimana hubungan keluhan tiga hari sebelumnya dengan
keluhan yang dialami sekarang?
Keluhan 3 hari yang lalu merupakan keluhan yang terjadi pada
fase prodromal croup. Fase prodromal croup meliputi hidung
tersumbat, demam ringan, dan kemungkinan faring hiperemis
eritematosa.
d. Apa kemungkinan penyebab panas tidak tinggi disertai batuk
pilek pada kasus?
Gejala tersebut disebabkan oleh virus yang menginfeksi saluran
pernapasan. Virus yang masuk melalui rongga hidung akan memicu
respon tubuh untuk mengeluarkan mukus yaitu pilek. Bila virus
sudah menyebar mencapai laring, akan terjadi reaksi inflamasi. Hal
ini dapat mengaktivasi reseptor batuk. Respon inflamasi tersebut
memicu pengeluaran pirogen endogen dalam usaha makrofag
melawan virus dan menyebabkan demam. Reaksi inflamasi di bagian
laring terutama area subglotik akan menyebabkan obstruksi sehingga
terjadi kesulitan bernafas.
•
Virus masuk melalui rongga hidungà respon protektif à
pengeluaran mucus à pilek
•
Virus menyebar ke bagian laring akan menyebabkan reaksi
inflamasià aktivasi reseptor batuk à batuk.
•
Mikroorganisme menginfeksiàmakrofag menghasilkan pirogen
endogen (IL-1, TNF, IL-6, INF) à merangsang endotel
hipotalamusàmenghasilkan
asam
arakidonat
à
memicu
pengeluaran PGE2 (dibantu oleh enzim COX) à memengaruhi
11
termostat
hipotalamus à peningkatan set point suhu tubuh à
demam.
•
Lowgrade fever karena penyebab infeksi adalah virus.
3. Pada penilaian umum terlihat :
Anak sadar, menangis terus dengan suara sesekali terdengar parau.
Masih bisa ditenangkan oleh ibunya. Sewaktu anak diperiksa, anak
berontak dan langsung menangis memeluk ibunya. Bibir dan
mukosa tidak sianosis, kulit tidak pucat dan tidak mottled. Nafas
terlihat cepat dengan peningkatan usaha nafas. Terdengar stridor
inspirasi.
a. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan umum di atas?
Hasil
Interpretasi
Anak sadar
Normal, tidak ada penurunan kesadaran
Anak
menangis
terus Tidak normal, suara parau yang terdengar saat
dengan suara sekali-kali menangis dan stridor inspirasi menunjukkan
terdengar parau
Terdengar
penyempitan saluran udara pada orofaring,
stridor subglotis atau trakea.
inspirasi
Bibir dan mukosa tidak Normal, tidak ada hipoperfusi jaringan
sianosis
Kulit tidak pucat dan
tidak mottled
Napas
terlihat
dengan
usaha napas
cepat
peningkatan
Tidak normal, menandakan bahwa
pernapasan
tidak
dapat
sistim
mempertahankan
oksigenasi dan atau ventilasi. Peningkatan
usaha
napas
adalah
upaya
untuk
mempertahankan fungsi tersebut saat terjadi
gangguan
sistim
pernapasan.
Takipnu
merupakan tanda yang paling sering dijumpai.
Tabel 2. Interpretasi hasil pemeriksaan umum.
b. Bagaimana mekanisme abnormalitas hasil pemeriksaan umum
di atas?
12
•
Suara parau
Infeksi respirasi, terutama virus bermula di dalam nasofaring
dan menyebar ke epitelium respirasi laring dan trakea. Inflamasi
difus, eritema, dan edema berkembang di dinding trakea, dan
mobilitas pita suara terganggu. Bagian trakea di bawah laring
(trakea subglotis) merupakan bagian tersempit saluran napas
atas anak. Area ini dikelilingi kartilago yang kaku, dimana
setiap pembengkakan pada regio tersebut menyempitkan saluran
napas dan merestriksi aliran udara secara signifikan. Hal ini
menimbulkan stridor inspirasi yang dapat terdengar, sementara
pembengkakan pita suara dapat menimbulkan suara parau.
Dengan perkembangan penyakit, lumen trakea menjadi makin
terobstruksi oleh eksudat fibrinosus dan pseudomembran.
Potongan histologis laring dan trakea menunjukkan edema
dengan infiltrasi seluler histiosit, limfosit, sel plasma dan
leukosit polimorfonuklear (Malhotra dan Krilov, 2001).
•
Anak berontak dan langsung menangis
Hal ini menunjukan kalau anak dalam keadaan sadar, respon
verbalnya baik. Namun, sebaiknya kita tidak membuat anak
menangis karena pada saat anak menangis semakin besar energy
yang diperlukan untuk bernafas, anak bisa bertambah sesak.
•
Nafas terlihat cepat dengan peningkatan usaha nafas
Invasi virus di mukosa laring à inflamasi, edema à
penyempitan saluran napas à kesulitan bernapas à kompensasi
napas cepat dan peningkatan usaha napas (work of breathing)
yang ditandai dengan retraksi suprasternal dan intercostal
13
•
Terdengar stridor inspirasi
Tabel 3. Gejala croup.
Ø Infeksi pada laring dan trakea à inflamasi, eritema, dan edema
struktur terkaità mengganggu gerakan plica vocalis.
Ø Diameter saluran napas atas yang paling sempit adalah pada
bagian trakea dibawah laring (subglottic trachea).
Ø Spasme dan edema à obstruksi parsial saluran napas atas à
meningkatkan kecepatan dan turbulensi aliran udara yang
lewatàmelewati plica vocalis dan arytenoepiglottic foldsà
menggetarkan struktur tersebut à terdengar stridor
4. Kemudian dokter melakukan survey primer.
Jalan nafas tidak terlihat lendir maupun benda asing, tonsil T1/T1
dan faring dalam batas normal. Respiratory rate: 45x/menit. Nafas
cuping hidung (+), gerakan dinding dada simetris kiri dan kanan,
tampak retraksi supra sternal dan sela iga. Suara nafas vasikuler.
Tidak terdengar ronkhi. Tidak terdengar wheezing. SpO2 95%.
Bunyi jantung dalam batas normal, wheezing jantung tidak
terdengar. Nadi brachialis kuat nadi radialis kuat. Laju Nadi
135x/menit. Kulit berwarna merah muda, hangat, capillary refill time
<2 detik. Tidak ditemukan kelainan pada survey disability.
14
a. Bagaimana interpretasi hasil survey primer di atas?
Parameter
Kasus
Normal
Interpretasi
Jalan napas
Halangan
Tidak
terlihat Tidak
terlihat Normal
lendir dan benda lendir dan benda
asing
asing
Tonsil
T1/T1
T1/T1
Normal
Faring
Normal
Normal
Normal
Positif
Negatif
Abnormal
Simetris
Simetris
Normal
Usaha napas
Napas
cuping
hidung
Gerakan
dinamis
dinding
dada
Retraksi
suprasternal
dan Negatif
Abnormal
sela iga
Suara
Vesikular
Vesikular
Normal
Suara
Ronki, wheezing
Ronki, wheezing
Normal
napas
(-)
(-)
95%
94-100%
Normal
Normal
Normal
Normal
Tidak ada
Tidak ada
Normal
Kuat
Kuat
Normal
napas
tambahan
SpO2
Sirkulasi
Bunyi
jantung
Bising
jantung
Nadi
brakialis
15
Nadi
Kuat
Kuat
Normal
Laju nadi
135x/menit
90-150x/menit
Normal
CRT
<2 menit
<2 menit
Normal
Warna
Merah muda
Merah muda
Normal
Negatif
Negatif
Normal
radialis
kulit
Disability
Tabel 4. Terpretasi hasil survey primer.
b. Bagaimana mekanisme abnormalitas hasil survey primer di atas?
•
Takipneu
Pada kasus terjadi edema laring yang menyebabkan jalan napas
tertutup. Akibatnya terjadi gangguan pertukaran gas di paruparu yang menyebabkan kadar CO2 di dalam tubuh naik. Tubuh
melakukan kompensasi berupa peningkatan laju pernapasan
untuk
meningkatkan
pertukaran
gas
di
paru-paru
dan
menurunkan kadar CO2 dalam tubuh.
•
Napas Cuping Hidung
Obstruksi
jalan
napas
menyebabkan
tubuh
melakukan
kompensasi berupa peningkatan usaha napas. Saat terjadi
peningkatan usaha napas, tubuh memperluas nares (bukaan
hidung) sehingga jalan napas menjadi lebar. Terjadilah
manifestasi napas cuping hidung.
•
Retraksi Suprasternal dan Sela Iga
Retraksi terjadi ketika tekanan negatif paru-paru tidak tercukupi
oleh aliran udara pada saluran napas sehingga bagian dinding
dada yang tidak ditopang oleh tulang akan tertarik masuk ke
dalam rongga dada.
c. Bagaimana gambaran klinis hasil survey primer di atas?
16
Gambar 4. Retraksi suprasternal.
Gambar 5. Retraksi intercostal.
d. Bagaimana cara pemeriksaan survey disability pada kasus?
Survei disabilitas dilakukan dengan meilai kesadaran dengan cepat,
apakah pasien sadar, hanya respon terhadap nyeri, atausama sekali
tidak sadar. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan mengukur dengan
Glasgow Coma Scale.
A = awake
V = respon bicara (verbal)
P = respon nyeri
U = tidak ada respon
5. Dokter jaga memutuskan memberikan O2 dengan sungkup
rebreathing, tetapi anak menolak, menghindar serta berontak.
a. Bagaimana indikasi pemberian O2 dengan sungkup rebreathing?
Menurut American Collage of Chest Physicans and National Heart
Lung and Blood Institute, rekomendasi pemberian terapi oksigen
adalah pada beberapa keadaan sebagai berikut:
Indikasi yang direkomendasikan
a.
Cardiac respiratory arrest dan respiratory arrest
b.
Hipoksemia (PaO2 <60 mmHg, SaO2 <90%)
c.
Hipotensi (tekanan darah sistolik <100 mmHg)
d.
Curah jantung rendah dan asidosis metabolic (Bikarbonat <18
mmol/L)
e.
Distress respirasi(RR>24/menit)
Indikasi yang masih dipertanyakan
17
a.
Infark miokardial tanpa komplikasi
b.
Sesak napas tanpa hipoksemia
c.
Sickle Cell Crisis
d.
Angina
Tabel 5. Indikasi pemberian terapi O2.
Oksigen nasal 1-2 liter
Sungkup muka 3-5 liter
Rebreathing
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi daripada
sungkup muka sederhana yakni 60-80% dengan aliran oksigen 812L/menit. Indikasi penggunaan adalah pada pasien dengan tekanan
karbondioksida rendah, karena pada sungkup rebreathing udara
inspirasi sebagian bercampur dengan udara ekspirasi sehingga
konsentrasi karbondioksida lebih tinggi daripada sungkup sederhana.
b. Apa saja jenis pemberian O2 pada anak?
Pemilihan teknik dan alat yang akan digunakan sangat ditentukan
oleh kondisi pasien yang akan diberikan terapi oksigen (O2). Teknik
dan alat yang akan digunakan dalam pemberian terapi oksigen (O2)
hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Mampu mengatur konsentrasi atau fraksi oksigen (O2) (FiO2)
udara inspirasi.
b. Tidak menyebabkan akumulasi karbon dioksida (CO2).
c. Tahanan terhadap pernapasan mininal
d. Irit dan efisien dalam penggunaan oksigen (O2).
e. Diterima dan nyaman digunakan oleh pasien.
Cara pemberian terapi oksigen (O2) dibagi menjadi dua
jenis, yaitu (1) sistem arus rendah dan (2) sistem arus tinggi. Pada
sistem arus rendah, sebagian dari volume tidal berasal dari udara
18
kamar. Alat ini memberikan fraksi oksigen (O2) (FiO2) 21%-90%,
tergantung dari aliran gas oksigen (O2) dan tambahan asesoris seperti
kantong penampung. Alat-alat yang umum digunakan dalam sistem
ini adalah: nasal kanul, nasal kateter, sungkup muka tanpa atau
dengan kantong penampung dan oksigen (O2) transtrakeal. Alat ini
digunakan pada pasien dengan kondisi stabil, volume tidalnya
berkisar antara 300-700 ml pada orang dewasa dan pola napasnya
teratur. Pada sistem arus tinggi, adapun alat yang digunakan yaitu
sungkup venturi yang mempunyai kemampuan menarik udara kamar
pada perbandingan tetap dengan aliran oksigen sehingga mampu
memberikan aliran total gas yang tinggi dengan fraksi oksigen (O2)
(FiO2) yang tetap. Keuntungan dari alat ini adalah fraksi oksigen
(O2) (FiO2) yang diberikan stabil serta mampu mengendalikan suhu
dan humidifikasi udara inspirasi sedangkan kelemahannya adalah
alat ini mahal, mengganti seluruh alat apabila ingin mengubah fraksi
oksigen (O2) (FiO2) dan tidak nyaman bagi pasien.
Sungkup muka dengan kantong penampung.
Terdapat dua jenis sungkup muka dengan kantong penampung
yang seringkali digunakan dalam pemberian terapi oksigen (O2),
yaitu sungkup muka partial rebreathing dan sungkup muka
nonrebreathing. Keduanya terbuat dari bahan plastik namun
perbedaan di antara kedua jenis sungkup muka tersebut terkait
dengan adanya katup pada tubuh sungkup dan di antara sungkup dan
kantong penampung. Sungkup muka partial rebreathing tidak
memiliki katup satu arah di antara sungkup dengan kantong
penampung sehingga udara ekspirasi dapat terhirup kembali saat fase
inspirasi sedangkan pada sungkup muka nonrebreathing, terdapat
katup satu arah antara sungkup dan kantong penampung sehingga
pasien hanya dapat menghirup udara yang terdapat pada kantong
penam-pung dan menghembuskannya melalui katup terpisah yang
terletak pada sisi tubuh sungkup.5 Sungkup muka dengan kantong
19
penam-pung dapat mengantarkan oksigen (O2) sebanyak 10-15 liter/
menit dengan fraksi oksigen (O2) (FiO2) sebesar 80-85% pada
sungkup muka partial rebreathing bahkan hingga 100% pada
sungkup muka nonrebreathing. Kedua jenis sungkup muka ini
sangat
dianjurkan
penggunaannya
pada
pasien-pasien
yang
membutuhkan terapi oksigen (O2) oleh karena infark miokard dan
keracunan karbon monoksida (CO).
Gambar 6. Sungkup muka partial rebreathing dan nonrebreathing.
c. Bagaimana prinsip pemberian O2 dengan sungkup rebreathing
pada kasus?
Aliran oksigen pada partial rebreathing mask sebesar 6-12 L/min.
pemberian oksigen hingga anak mampu menjaga nilai SaO2 > 90%
pada suhu ruangan. Bila anak sudah stabil dan membaik, lepaskan
oksigen selama beberapa menit. Jika nilai SaO2 tetap berada di atas
90%, hentikan pemberian oksigen, namun periksa kembali setengah
jam kemudian dan setiap 3 jam berikutnya pada hari pertama
penghentian pemberian
oksigen, untuk memastikan anak benar-
benar stabil. Bila pulse oxymetry tidak tersedia, lama waktu
pemberian oksigen dapat dipandu melalui tanda klinis yang timbul
pada anak), walaupun hal ini tidak begitu dapat diandalkan.
20
d. Bagaimana indikasi pemberhentian pemberian O2 dengan
sungkup rebreathing pada kasus?
Bertujuan mempertahankan saturasi oksigen > 90%. Indikasi
pemberian terapi oksigen jika (a) retraksi dinding dada; (b) frekuensi
napas lebih dari 70x/menit.
Jika anak sudah stabil dan saturasi oksigen diatas 90%, hentikan
pemberian oksigen namun periksa kembali setengah jam kemudian
dan setiap 3 jam berikutnya pada hari pertama penghentian
pemberian oksigen untuk memastikan anak benar-benar stabil.
e. Bagaimana evaluasi dan monitoring terapi oksigen?
•
Jika tersedia, pemberian oksigen harus dipandu dengan pulse
oxymetry. Berikan oksigen pada anak dengan kadar SaO2 <
90%, dan naikkan pemberian oksigen untuk mencapai SaO2
hingga > 90%. Jika pulse oxymetry tidak tersedia, kebutuhan
terapi oksigen harus dipandu dengan tanda klinis, yang tidak
begitu tepat.
•
Persediaan oksigen harus tersedia setiap waktu. Sumber oksigen
untuk rumah sakit rujukan tingkat pertama, umumnya adalah
silinder/tabung oksigen dan konsentrator oksigen. Alat-alat ini
harus diperiksa kompatibilitasnya.
•
Bila persediaan oksigen terbatas, prioritas harus diberikan untuk
anak dengan pneumonia sangat berat, bronkiolitis, atau serangan
asma yang: mengalami sianosis sentral, atau tidak bisa minum
(disebabkan oleh gangguan respiratorik).
•
Jika persediaan oksigen banyak, oksigen harus diberikan pada
anak dengan salah satu tanda berikut: tarikan dinding dada
bagian bawah yang dalam, frekuensi napas 70 kali/menit atau
lebih, merintih pada setiap kali bernapas (pada bayi muda), dan
ada anggukan kepala (head nodding).
•
Pantau anak sedikitnya setiap 3 jam untuk mengidentifikasi dan
memperbaiki masalah yang terjadi, meliputi:
21
o Nilai SaO2 menggunakan pulse oxymetry
o Kateter nasal atau prongs yang bergeser
o Kebocoran sistem aliran oksigen
o Kecepatan aliran oksigen tidak tepat
o Jalan napas anak tersumbat oleh lendir/kotoran hidung
(bersihkan hidung dengan ujung kain yang lembap atau
sedot perlahan).
o Distensi lambung (periksa posisi kateter dan perbaiki, jika
diperlukan).
•
Bila anak sudah stabil dan membaik, lepaskan oksigen selama
beberapa menit. Jika nilai SaO2 tetap berada di atas 90%,
hentikan pemberian oksigen, namun periksa kembali setengah
jam kemudian dan setiap 3 jam berikutnya pada hari pertama
penghentian pemberian oksigen, untuk memastikan anak benarbenar stabil.
Pemantauan
terapi
oksigen
dapat
dilakukan
dengan
memperhatikan keadaan fisik pasien, penilaian analisa gas darah dan
pulse oximetry. Apabila kondisi anak membaik dan stabil serta
saturasi oksigen sudah mencapai 90%, oksigen dilepaskan selama
beberapa menit dan jika nilai saturasi oksigen tetap berada di atas
90% hentikan pemberian oksigen dengan tetap follow up setiap
setengah jam atau 3 jam dengan menggunakan pulse oxymetry. Pada
dasarnya, pemberian terapi oksigen harus berkesinambungan sampai
kondisi pasien mengalami perbaikan. Penghentian terapi oksigen
seara tiba-tiba dapat menyebabkan hilangnya cadangan oksigen
tubuh sehingga terjadi penurunan tekanan di alveolar.
f. Bagaimana sikap dan perlakuan dokter jaga dalam menghadapi
pasien anak yang tidak kooperatif pada kasus ini?
• Anak yang tidak kooperatif tidak seharusnya dipaksa agar mau
mengenakan sungkup. Dokter bisa membiarkan sang anak
mengekspresikan perasaannya
22
• Sungkup oksigen dapat diarahkan di depan wajah anak tanpa
dipasangkan sehingga anak dapat menghirup oksigen tanpa
merasa tidak nyaman.
• Beri kontrol anak atas pengobatan. Misalnya, anak yang
memutuskan apakah akan duduk di kursi atau pangkuan untuk
proses penyuntikan. Hal ini mungkin akan menurunkan sakit
dibanding anak yang tidak diberi pilihan.
• Nafas yang dalam dan stabil dapat membantu mengurangi rasa
sakit dan mendapatkan kendali diri.
• Alihkan perhatian anak dari rasa sakit. Berbicara, video game,
latihan pernapasan, meniup gelembung, televisi, musik, buku
pop-up, membaca dan dibaca adalah semua pengalih perhatian.
• Dokter juga dapat membantu dengan memfokuskan perhatian
anak pada aktivitas sebelumnya yang sudah dikenal, atau
membaca cerita favorit.
• Beri sentuhan yang menenangkan seperti membelai, memegang,
menggoyang, membelai, berpelukan dan memijat.
• Saat anak kooperatif, dokter dapat memberi afirmasi positif
seperti, “Kamu hebat.”
g. Apa komplikasi pemberian oksigen yang tidak tepat?
-
Keracunan O2
Dapat terjadi bila O2 yang diberikan dengan konsentrasi tinggi
dalam waktu yang relatif lama. Keaddan ini dapat merusak
strukstur jaringan paru seperti atelektasis dan kerusakan
surfaktan. Akibatnya proses difusi di paru akan terganggu.
-
Depresi ventilasi
Pemberian O2 yang tidak di monitor dengan konsentrasi dan
aliran yang tepat dengan retensi CO2 yang dapat menekan
ventilasi
-
Dapat menimbulkan kebakaran dan peledakan
-
Terjadi aspirasi bila muntah
23
-
Penumpukan CO2 bila aliran O2 diberikan lebih rendah dari
ketentuan masing-masing alat
-
Apabila neonatus dengan distress napas bayi diterapi dengan
konsentrasi tinggi, mereka mungkin mengalami fibrosis di
belakang lensa mata yang menyebabkan kebutaan. Hal ini dapat
dihindari dengan menjadi PO2 arteri < 140 mmHg
Hipotesis
Yudi, anak laki-laki, usia 2 tahun, mengalami kegawatan nafas suspek croup.
IV. Sintesis
1. Respiratory Distress
a. Diagnosis banding
No
1
Penilaian
Status
mental
Tonus
otot/
posisi
tubuh
Gerakan
dada
Upaya
napas
Distress Nafas
Sadar,
agitasi,
melawan
Normal,
posisi
tripod
Gagal Nafas
Henti Nafas
Agitasi hebat atau Tidak responsif
kurang responsive
Normal
atau Atonia
hipotonia
Ada
Ada
Tidak ada
Meningkat
Tidak ada
5
Warna
kulit
Kemerahan
pucat
6
Tindakan
Pendekatan segera,
bekerja
dengan
tingkat
sedang,
bantu anak dalam
posisi nyaman, beri
O2
tanpa
menyebabkan
agitasi, pengobatan
berdasarkan
evaluasi
Sangat meningkat
diselingi periode
apnea
Pucat, berbercak
(mottled)
atau
sianosis
Gerak cepat, buka
saluran
nafas,
hisap
lendir,
berikan
O2,
segera
berikan
bantuan ventilasi
tekanan
positif
bila pasien tidak
membaik,
pengobatan
2
3
4
atau
Sianosis
Segera
buka
saluran nafas, hisap
lendir, berikan O2,
segera
berikan
bantuan ventilasi
tekanan
positif,
nilai
ulang
ada/kembalinya
nafas
spontan,
pengobatan
24
selanjutnya.
berdasarkan
evaluasi
selanjutnya
Tabel 6. Diagnosis banding respiratory distress.
berdasarkan
evaluasi
selanjutnya
b. Definisi
Distress
pernapasan
merupakan
suatu
keadaan
sistem
respirasi
melakukan kompensasi untuk memperbaiki pertukaran gas yang menurun
dalam paru serta mempertahankan oksigenasi dan ventilasi.
c. Etiologi
Perubahan Fisiologis
Volume
Tidal
↑
Frekuensi
Pernapasan
Sedikit ↑
Temuan Lain
↓
↑
Penyakit
obstruktif
jalan nafas atas
Normal
↓
Penyakit
obstruktif
jalan nafas bawah
Normal
atau ↓
Bervariasi
Mendengkur, pernapasan
paksa pada inspirasi
Inspirasi
memanjang,
pernapasan paksa pada
inspirasi
Ekspirasi
memanjang,
pernapasan paksa pada
ekspirasi dan sering pada
inspirasi
Mungkin
ada
tanda
kelemahan otot lain
Tanpa tanda distress
Hipoksemia,
asidemia,
demam,
peningkatan
metabolism
Penyakit restriktif
Penyakit
↓
neuromuscular
Gangguan
Normal
pengendalian
atau ↓
Tabel 7. Etiologi respiratory distress.
↑
↓
-
d. Patofisiologi
Distres pernapasan dapat disebabkan oleh obstruksi jalan napas atas
atau bawah atau gangguan parenkim paru. Obstruksi jalan napas atas
yang paling sering terjadi pada bayi dan anak dikarenakan perbedaan
anatomi dan fisiologi sistem respirasi pada anak. Tanda obstruksi jalan
napas atas komplit adalah tidak dapat bicara, menangis atau batuk..
25
Manifestasi obstruksi jalan napas atas juga termasuk napas cuping
hidung, snoring, gurgling, drooling, disfagia, serak, stridor, retraksi, dan
pergerakan paradoksikal dada/abdomen.
Stridor merupakan suara napas abnormal (high-pitched) yang
dihasilkan oleh aliran udara turbulen melalui jalan napas yang mengalami
obstruksi parsial pada tingkat supraglotis, glotis, subglotis, trakea, dan
bronkus. Udara menghasilkan tekanan yang sama di semua arah, namun
ketika udara bergerak secara linier, udara akan menghasilkan tekanan ke
arah depan dan menurunkan tekanan lateral. Hal ini sesuai dengan prinsip
Bernoulli “as the velocity of flow through a collapsible tube increases,
the pressure that holds the tube open decreases”. Ketika udara melewati
jalan napas yang fleksibel pada anak, tekanan lateral untuk menjaga jalan
napas tetap terbuka dapat menurun dan menyebabkan jalan napas
cenderung kolaps. Proses ini dapat menyebabkan aliran udara menjadi
turbulen sehingga menghasilkan stridor.
Retraksi mengindikasikan adanya peningkatan usaha napas yang
terjadi ketika compliance paru menurun atau resistensi jalan napas
meningkat. Peningkatan resistensi jalan napas dapat menyebabkan
terjadinya peningkatan tekanan negatif intrapleura. Tekanan intrapleura
yang bertambah negatif selama inspirasi melawan resistensi tinggi jalan
napas
akan
menyebabkan
retraksi
bagian-bagian
yang
mudah
terpengaruh pada dinding dada, yaitu jaringan interkostal, subkostal,
fossa supraclavivula, dan suprasternal.
Napas cuping hidung adalah tanda sensitif akan adanya distres
pernapasan. Pengembangan cuping hidung memperbesar pasase hidung
anterior dan menurunkan resistensi jalan napas atas. Selain itu dapat juga
menstabilkan jalan napas atas dengan mencegah tekanan negatif faring
selama inspirasi.
e. Manifestasi Klinis
Distres pernapasan merupakan kesulitan untuk bernapas secara
subjektif. Manifestasi dari distres pernapasan dapat dinilai dengan
26
objektif dimana terdapat satu atau lebih gejala yaitu perubahan pola
pernapasan (cepat, lambat, lemah, atau tidak ada), peningkatan usaha
napas, dan retraksi dinding dada. Pada anak, manifestasi awal distres
pernapasan adalah takipneu. Takipneu tanpa tanda lain distres pernapasan
lain adalah bagian dari upaya kompensasi sitem pernapasan terhadap
asidosis metabolik, seperti pada: syok, ketoasidosis diabetikum, diare
dengan dehidrasi, keracunan salisilat, dan insufisiensi ginjal kronik.
Frekuensi napas yang sangat lambat dan ireguler pada anak sakit gawat
akut adalah tanda klinis yang menghawatirkan dan biasanya adalah
penyebab tersering penurunan frekuensi napas. Perlambatan frekuensi
napas atau iregularitas napas merupakan pertanda perburukan klinis.
Pada anak dengan peningkatan kerja napas sering ditandai dengan
napas cuping hidung, retraksi interkostal, subkostal, dan suprasternal.
Tanda tersebut dijumpai pada obstruksi jalan napas atau penyakit
alveolar. Meningkatnya kerja napas akan meningkatkan kebutuhan
oksigen otot pernapasan yang akhirnya akan meningkatakan produksi
karbon dioksida. Anggukan kepala ke atas saat inspirasi (head bobbing),
merintih (runting), stridor, ekspirasi memanjang adalah tanda gangguan
mekanika pernapasan. Adanya head bobbing menandakan adanya
peningkatan usaha napas. Retraksi dada disertai dengan distensi abdomen
menandakan adanya obstruksi jalan napas bagian atas (seesaw
respiration). Pola pernapasan mata gergaji disebut juga pernapasan
abdominal, pola pernapasan ini tidak efisien karena volume tidal tidak
adekuat dan mudah menyebabkan kelelahan.
Merintih terjadi karena penutupan glotis lebih awal dan kontraksi
diafragma yang terlambat waktu ekspirasi. Penutupan glotis tersebut
dibutuhkan sebagai mekanisme kompensasi untuk meningkatkan
kapasitas residufungsional paru dengan demikian dapat mencegah kolaps
alveolus dan mencegah kehilangan volume paru. Merintih biasanya
terjadi pada edema paru, pneumonia, penyakit membran hialin, dan
atelektasis. Stridor (inspiratoir) adalah tanda obstruksi jalan nafas bagian
atas (ekstratorakal) misalnya obestruksi oleh oledah yang besar,
27
laringomalasia, paralisis pita suara, hemangioma, tumor jalan napas,
kista, infeksi jalan napas atas, edema jalan napas atas, dan aspirasi benda
asing. Ekspirasi memanjang yang dsertai wheezing adalah tanda
obstruksi jalan napas bawah (intratorakal) seperti pada asma, bronkitis,
edema paru, dan benda asing intratorakal.
Distres pernapasan dapat diawali dengan derajat ringan hingga
terjadi gagal napas. Derajat distres pernapasan dapat dilihat pada tabel
berikut:
Mild
• Takipneu
• Dispneu atau sesak napas
• Takipneu
Moderate
• Retraksi dinding dada minimal
• Napas cuping hidung
• Takipneu (>70x/menit)
• Episode apneu/bradipneu/pernapasan ireguler
Severe
• Retraksi subkostal
• Head bobbing (keterlibatan otot sternocleidomastoideus)
• Sianosis
• Distres pernapasan + sianosis atau tanda hipoksemia pada
sistem saraf pusat dan/atau kardiovaskular
Respiratory
Failure
• Tanda hipoksemia sistem saraf pusat: restlessness,
penurunan kesadaran, somnolen, kejang, dan koma
• Tanda hipoksemia kardiovaskuler: takikardi, bradikardi,
hipotensi, dan henti jantung
Tabel 8. Derajat distress pernafasan.
28
2. Croup
a. Diagnosis banding
Tabel 9. Diagnosis banding croup.
Usia
Kategori
sering
terjadi
Epiglotitis
1-8
akut
tahun
Riwayat
penyakit
dahulu dan
Sesak dan
Prodormal
Awitan
Gejala dan
batuk
demam
menggong
keluarga
Tidak ada
gong
Coryza
Cepat (4- Ya,
(kadang)
12 jam)
Tidak ada
biasanya
39,5C
Laringitis
Semua
Imunisasi (-) Biasanya
Lambat
Ya,
difteri
usia
atau
(2-3 hari)
biasanya
tidak faringitis
adekuat
Laringitis
Anak
Tidak ada
Ada
37,8-39,4
Biasanya
Variasi 12 Ya,
37,8-
dan
hidung
jam-4 hari
pada
dewasa
tersumbat
adenovirus
atau coryza
dan
39,4.
Ada
virus
influenza,
biasanya
minimal
pada infeksi
virus lain
Laringotra
3 bulan- Riwayat
Biasanya
Sedang,
Ya,
kheitis
3 tahun
coryza
tetapi
bervariasi
bervariasi
37,8-40,5
akut
keluarga
croup
Ada
12- 48 jam
Croup
3 bulan - Mungkin
Biasanya
Progresif
Viral
3tahun
coryza
12
riwayat
keluarga
Ya,
Ada
jam-7 bervariasi
hari
37,8 - 40,5
Mendadak
Tidak ada
croup
Croup
3 bulan - Riwayat
Coryza
ada
29
spasmodik
3tahun
keluarga
minimal
croup,
selalu
malam
biasanya
terdapat
serangan
sebelumnya
Benda
Semua
Biasanya
asing
usis
riwayat
Tidak ada
Biasanya
Tidak
mendadak
kecuali
makan
ada
Biasanya
tidak ada
infeksi
sekunder
Edema
Semua
Riwayat
angioneuro usia
alergi,
tik akut
riwayat
Alergi kulit Cepat
Tidak ada
Tidak ada
ada kadangkadang
serangan
sebelumnya
b. Algoritma diagnosis
Gambar 7. Algoritma diagnosis croup.
30
Diagnosis croup umumnya bisa ditegakkan dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang adekuat. Gejala croup cukup khas, sehingga cukup mudah
dibedakan dari diagnosis bandingnya.
•
Anamnesis
Gejala klinis awali dengan suara serak, batuk menggonggong dan stridor
inspiratoir. Bila terjadi obstruksi, stridor akan makin berat tetapi dalam
kondisi yang sudah payah stridor melemah. Dalam waktu 12-48 jam sudah
terjadi gejala obstruksi saluran napas atas. Pada beberapa kasus hanya didapati
suara serak dan batuk menggonggong, tanpa obstruksi napas. Keadaan ini
akan membaik dalam waktu 3 sampai 7 hari. Pada obstruksi napas yang makin
berat, ditandai dengan takipneu, takikardia, sianosis dan pernapasan cuping
hidung. Juga perlu ditanyakan:
•
Riwayat infeksi atau alergi.
•
Riwayat penyakit keluarga, terutama rhinitis alergi, dermatitis alergi,
urtikaria, asma.
•
Riwayat pengobatan.
Pada beberapa kasus hanya didapati suara serak dan batuk menggonggong,
tanpa obstruksi napas. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 3 sampai 7
hari. Pada kasus lain terjadi obstruksi napas yang makin berat, ditandai dengan
takipneu, takikardia, sianosis dan pernapasan cuping hidung. Pada
pemeriksaan toraks dapat ditemukan adanya retraksi supraklavikular,
suprasternal, interkostal, epigastrial. Bila anak mengalami hipoksia, anak akan
tampak gelisah, tetapi jika hipoksia bertambah berat anak tampak diam,
lemas, kesadaran menurun. Pada kondisi yang berat dapat menjadi gagal
napas. Pada kasus yang berat proses penyembuhan terjadi setelah 7-14 hari.
•
Pemeriksaan Fisik
Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan tanda klinis yang timbul. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan suara serak, hidung berair, peradangan faring,
dan frekuensi napas yang sedikit meningkat. Kondisi pasien bervariasi sesuai
dengan derajat stres pernapasan yang diderita. Pemeriksaan langsung area
31
laring pada pasien croup tidak terlalu diperlukan. Akan tetapi, bila diduga
terdapat epiglotitis (serangan akut, gawat napas/respiratory distress, disfagia,
drooling), maka pemeriksaan tersebut sangat diperlukan.
Sistem paling sering digunakan untuk mengklasifikasikan croup beratnya
adalah Skor Westley. Hal ini terutama digunakan untuk tujuan penelitian,
jarang digunakan dalam praktek klinis. Ini adalah jumlah poin yang
dipaparkan untuk lima faktor: tingkat kesadaran, sianosis, stridor, masuknya
udara, dan retraksi. Hal-hal yang diberikan untuk setiap faktor terdaftar dalam
tabel ke kanan, dan skor akhir berkisar dari 0 sampai 17.
•
Pemeriksaan Penunjang
Croup pada umumnya merupakan diagnosis klinis, dengan petunjuk
diagnostik berdasarkan pada anamnesis dan temuan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan radiologis tidak
perlu dilakukan karena diagnosis biasanya dapat ditegakkan hanya dengan
anamnesis, gejala klinis, dan pemeriksaan fisik.
•
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium jarang memberikan kontribusi bermakna
dalam mengkonfirmasi diagnosis. Jumlah sel darah lengkap (CBC) biasanya
nonspesifik, walaupun jumlah sel darah putih (WBC) dan selisihnya mungkin
menyarankan etiologi viral dengan limfositosis. Bila ditemukan peningkatan
leukosit >20.000/mm3 yang didominasi PMN, kemungkinan telah terjadi
superinfeksi, misalnya epiglotitis.
Mengidentifikasi etiologi virus spesifik (misalnya, jenis virus
parainfluenza) melalui pencucian dengan hidung biasanya tidak diperlukan,
namun mungkin berguna untuk menentukan kebutuhan isolasi di tempat
perawatan di rumah sakit atau, dalam kasus influenza A, untuk memutuskan
apakah terapi antiviral harus dimulai. Pengukuran gas darah arterial (arterial
blood gas/ABG) tidak diperlukan dan tidak mengungkapkan hipoksia atau
hiperkarbia, kecuali jika terjadi kelelahan pernapasan.
•
Laringoskopi
Laringoskopi sebaiknya dihindari kecuali pada keadaan yang tidak
biasa (misalnya, perjalanan penyakit tidak khas, anak memiliki gejala yang
32
menunjukkan gangguan anatomis atau bawaan yang mendasarinya). Prosedur
ini juga mungkin diperlukan bagi pasien dengan trakeitis bakteri untuk
mendapatkan kultur yang diperlukan, dalam upaya untuk menyesuaikan
pengobatan
antibiotik
dengan
benar.
Prosedur
lain
yang
mungkin
diindikasikan dan memerlukan bimbingan otolaringologist pediatrik adalah
sebagai berikut:
o Laringoskopi langsung, jika anak tidak dalam keadaan tertekan akut
o Laringoskopi serat optik.
o Bronkoskopi (untuk kasus croup rekuren untuk menyingkirkan gangguan
saluran napas).
o Pemeriksaan radiologis.
•
Radiologi
Diagnosis croup utamanya ditegakkan berdasarkan presentasi klinis.
Pemeriksaan radiologi jarang bermanfaat dalam menegakkan diagnosis,
namun dapat digunakan pada keadaan dimana dicurigai ada penyakit lain.
Foto polos dapat memverifikasi diagnosis atau gangguan lain yang
menyebabkan stridor yang menyerupai croup. Foto servikal lateral dapat
membantu mendeteksi diagnosis klinis seperti benda asing yang tertelan,
benda asing esofagus, stenosis subglotis kongenital, epiglotitis, abses
retrofaringeal atau trakeitis bakteri (trakea yang menebal). Hal yang
terpenting, croup adalah diagnosis klinis.
Foto polos anteroposterior (AP) dari jaringan lunak leher secara klasik
menunjukkan steeple sign (juga dikenal sebagai tanda titik pensil), yang
menandakan penyempitan subglotis, sedangkan foto polos servikal lateral
dapat menunjukan kondisi hipofaring yang membesar (balon) selama
inspirasi. Namun, temuan x-ray ini mungkin tidak terlihat pada hingga 50%
anak-anak dengan gejala klinis croup. Pasien harus dipantau saat pemeriksaan
radiologis, karena progresivitas obstruksi jalan napas dapat terjadi dengan
cepat. Melalui pemeriksaan radiologis, croup dapat dibedakan dengan
berbagai diagnosis bandingnya. Gambaran foto jaringan lunak (intensitas
rendah) saluran napas atas dapat dijumpai sebagai berikut:
33
o Pada trakeitis bakterial, tampak gambaran membran trakea yang compangcamping.
o Pada epiglotitis, tampak gambaran epiglotitis yang menebal.
o Pada abses retrofaringeal, tampak gambaran posterior faring yang
menonjol.
Gambar 8. Algoritma tatalaksana croup.
34
c. Definisi
Laringotrakeitis atau Sindrom croup, adalah sindrom klinis yang ditandai
dengan suara serak, batuk menggonggong, stridor inspirasi, dengan atau
tanpa adanya stres pernapasan. Penyakit ini sering terjadi pada anak.
Istilah lain untuk croup ini adalah laringitis akut yang menunjukkan
lokasi inflamasi, yang jika meluas sampai trakea disebut laringotrakeitis,
dan jika sampai ke bronkus digunakan istilah laringotrakeobronkitis.
d. Epidemiologi
Sindrom croup biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan−6 tahun,
dengan puncaknya pada usia 1−2 tahun. Akan tetapi, croup dapat juga
terjadi pada anak berusia 3 bulan dan di atas 15 tahun.
Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak
perempuan, dengan rasio 3:2. Angka kejadiannya meningkat pada musim
dingin dan musim gugur, tetapi penyakit ini tetap dapat terjadi sepanjang
tahun. Pasien croup merupakan 15% dari seluruh pasien dengan infeksi
respiratori yang berkunjung ke dokter.
Kekambuhan sering terjadi pada usia 3−6 tahun dan berkurang sejalan
dengan pematangan struktur anatomi saluran respiratori-atas. Hampir
15% pasien sindrom croup mempunyai keluarga dengan riwayat penyakit
yang sama.
e. Etiologi
Virus penyebab tersering sindrom croup (sekitar 60% kasus) adalah
Human Parainfluenza virus type 1 (HPIV-1), HPIV-2,3, dan 4, virus
Influenza A dan B, Adenovirus, Respiratory Syncytial virus (RSV), dan
virus campak. Meskipun jarang, pernah juga ditemukan Mycoplasma
pneumonia.
35
f. Patofisiologi
Virus penyebab tersering sindrom croup (sekitar 60% kasus) adalah
Human Parainfluenza virus type 1 (HPIV-1), HPIV-2,3, dan 4, virus
Influenza A dan B, Adenovirus, Respiratory Syncytial virus (RSV), dan
virus campak. Seperti infeksi respiratori pada umumnya, infeksi virus
pada
laringotrakeitis,
laringotrakeobronkitis,
dan
laringotrakeobronkopneumonia dimulai dari nasofaring dan menyebar ke
epitelium trakea dan laring. Peradangan difus, eritema, dan edema yang
terjadi pada dinding trakea menyebabkan terganggunya mobilitas pita
suara serta area subglotis mengalami iritasi. Hal ini menyebabkan suara
pasien menjadi serak (parau). Aliran udara yang melewati saluran
respiratori-atas mengalami turbulensi sehingga menimbulkan stridor,
diikuti dengan retraksi dinding dada (selama inspirasi). Pergerakan
dinding dada dan abdomen yang tidak teratur menyebabkan pasien
kelelahan serta mengalami hipoksia dan hiperkapnea. Pada keadaan ini
dapat terjadi gagal napas atau bahkan henti napas.
g. Patogenesis
Seperti
infeksi
laringotrakeitis,
respiratori
pada
umumnya,
laringotrakeobronkitis,
dan
infeksi
virus
pada
laringotrakeobronko-
pneumonia dimulai dari nasofaring dan menyebar ke epitelium trakea dan
laring. Peradangan difus, eritema, dan edema yang terjadi pada dinding
trakea menyebabkan terganggunya mobilitas pita suara serta area
subglotis mengalami iritasi. Hal ini menyebabkan suara pasien menjadi
serak (parau). Aliran udara yang melewati saluran respiratori-atas
mengalami turbulensi sehingga menimbulkan stridor, diikuti dengan
retraksi dinding dada (selama inspirasi). Pergerakan dinding dada dan
abdomen yang tidak teratur menyebabkan pasien kelelahan serta
mengalami hipoksia dan hiperkapnea. Pada keadaan ini dapat terjadi
gagal napas atau bahkan henti napas.
h. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis biasanya didahului dengan demam yang tidak begitu
tinggi selama 12−72 jam, hidung berair, nyeri menelan, dan batuk ringan.
36
Kondisi ini akan berkembang menjadi batuk nyaring,suara menjadi parau
dan kasar. Gejala sistemik yang menyertai seperti demam, malaise. Bila
keadaan berat dapat terjadi sesak napas, stridor inspiratorik yang berat,
retraksi, dan anak tampak gelisah, dan akan bertambah berat pada malam
hari. Gejala puncak terjadi pada 24 jam pertama hingga 48 jam. Biasanya
perbaikan akan tampak dalam waktu satu minggu. Anak akan sering
menangis, rewel, dan akan merasa nyaman jika duduk di tempat tidur
atau digendong.
i. Klasifikasi
Secara umum croup dikelompokan dalam 2 kelompok yaitu :
1. Viral croup: ditandai oleh gejala prodromal infeksi respiratori;
gejala obstruksi saluran respiratori berlangsung selama 3−5 hari.
Beberapa penulis menyebutkan kelompok ini Laringotrakeobronkitis
2. Spasmodic croup: spasmodic cough, terdapat faktor atopik, tanpa
gejala prodromal; anak dapat tiba-tiba mengalami gejala obstruksi
saluran respiratori, biasanya pada waktu malam menjelang tidur;
serangan terjadi sebentar, kemudian normal kembali.
Berdasarkan derajat kegawatan, croup dibagi menjadi empat kategori.
1. Ringan; ditandai dengan adanya batuk keras menggonggong yang
kadang-kadang muncul, stridor yang tidak terdengar ketika pasien
beristirahat/tidak beraktivitas, dan retraksi ringan dinding dada.
2. Sedang; ditandai dengan batuk menggonggong yang sering timbul,
stridor yang mudah didengar ketika pasien beristirahat/tidak
beraktivitas, retraksi dinding dada yang sedikit terlihat, tetapi tidak
ada gawat napas (respiratory distress).
3. Berat; ditandai dengan batuk menggonggong yang sering timbul,
stridor inspirasi yang terdengar jelas ketika pasien beristirahat, dan
kadang-kadang disertai dengan stridor ekspirasi, retraksi dinding
dada, dan gawat napas.
4. Gagal napas mengancam; batuk kadang-kadang tidak jelas,
terdengar stridor (kadangkadang sangat jelas ketika pasien
beristirahat), gangguan kesadaran, dan letargi.
37
j. Tatalaksana
Tatalaksana utama bagi pasien croup adalah mengatasi obstruksi jalan
napas. Sebagian besar pasien croup tidak perlu dirawat di RS, melainkan
cukup dirawat di rumah. Pasien dirawat di RS bila dijumpai salah satu
dari gejala-gejala berikut: anak berusia di bawah 6 bulan, terdengar
stridor progresif, stridor terdengar ketika sedang beristirahat, terdapat
gejala gawat napas, hipoksemia, gelisah, sianosis, gangguan kesadaran,
demam tinggi, anak tampak toksik, dan tidak ada respons terhadap terapi.
•
Epinefrin
Sindrom croup biasanya cukup diatasi dengan terapi uap saja, tetapi
kadang-kadang membutuhkan farmakoterapi. Nebulisasi epinefrin
telah digunakan untuk mengatasi sindrom croup selama hampir 30
tahun,
dan
pengobatan
dengan
epinefrin
ini
menyebabkan
trakeostomi hampir tidak diperlukan.
Nebulisasi epinefrin sebaiknya juga diberikan kepada anak dengan
sindrom croup sedang—berat yang disertai dengan stridor saat
istirahat dan membutuhkan intubasi, serta pada anak dengan retraksi
dan stridor yang tidak mengalami perbaikan setelah diberikan terapi
uap dingin.
•
Kortikosteroid
Kortikosteroid mengurangi edema pada mukosa laring melalui
mekanisme antiradang. Uji klinik menunjukkan adanya perbaikan
pada pasien laringotrakeitis ringan–sedang yang diobati dengan
steroid oral atau parenteral dibandingkan dengan plasebo.
•
Intubasi endotrakeal
Intubasi endotrakeal dilakukan pada pasien sindrom croup yang
berat, yang tidak responsif terhadap terapi lain.
•
Antibiotik
Pemberian antibiotik tidak diperlukan pada pasien sindrom croup,
kecuali
pasien
dengan
laringotrakeobronkitis
atau
laringotrakeopneumonitis yang disertai infeksi bakteri. Pasien
38
diberikan terapi empiris sambil menunggu hasil kultur. Terapi awal
dapat menggunakan sefalosporin generasi ke-2 atau ke-3.
Pemberian sedatif dan dekongestan oral tidak dianjurkan pada pasien
sindrom croup.
k. Komplikasi
Komplikasi pada 15% kasus dilaporkan terjadi komplikasi, misalnya
otitis media, dehidrasi, dan pneumonia (jarang terjadi). Sebagian kecil
pasien memerlukan tindakan intubasi. Gagal jantung dan gagal napas
dapat terjadi pada pasien yang perawatan dan pengobatannya tidak
adekuat. Pneumonia karena virus, yang timbul pada 1-2% anak yang
menderita croup. Pneumonia akibat virus parainfluenza dan pneumonia
bakterial sekunder umumnya timbul pada pada pasien yang memiliki
kondisi imunokompromais.
l. Edukasi dan Pencegahan
Edukasi
1. memberitahukan
kepada
Pencegahan
orang
tua
dengan 1. Meberikan vaksin Hemophillus
menjaga kondisi anak dengan baik mulai dari Influenza
(Hib),
difteri
dan
mencukupi makan dan minum sehari-hari serta campak pada anak-anak
segera ke dokter jika mendapati gejala penyakit
2. Mengajarkan etika batuk dan
2. Menjelaskan kepada orang tua pasien supaya bersin pada anak
mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter 3. Menjauhkan anak dari kontak
hingga tuntas dan kontrol kembali ke dokter ketika keluarga
obat habis atau terjadi perburukan kondisi
atau
orang
yang
memiliki keluhan atau penyakit
3. Menjauhkan anak dari asap rokok atau polutan yang sama
lain, buat suasana sekitar anak senyaman mungkin
4. Kondisikan anak agar tenang dan jangan
menangis
5. Menjauhkan anak dari anggota keluarga atau
orang yang lain dengan gejala yang sama
6. Edukasikan kepada orang tua, tentang warning
sign sesaat sebelum anak dipulangkan
39
Tabel. 10 Edukasi dan pencegahan pada Crop (Feierabend RH, Shahram
MN, Hoarsenes in adlut. Am Fam Physician, 2009)
m. Indikasi rujukan
Sebagian besar croup termasuk dalam derajat ringan dan sedang, serta
umumnya membaik dengan sendirinya (self limited), sehingga cukup
dengan rawat jalan . Namun sebagian kecil dengan derajat berat dapat
mengalami obstruksi respiratori atas berat hingga mengalami gagal
napas. Kurang dari 15% anak yang memerlukan rawat inap dan hanya 15% yang memerlukan intubasi. Anak dengan derajat croup berat atau
ancaman gagal napas ini yang memerlukan rujukan ke fasilitas medis
yang lebih tinggi. Pada kelompok ini, henti napas dapat terjadi mendadak
saat episode batuk yang hebat.
n. Prognosis
Ad vitam
: bonam
Ad fungtionam
: bonam
Ad Sanationam
: dubia – bonam
Jika spasmodik bisa berulang apabila ada pemicu, dan jarang terjadi pada
viral croup.
o. Kompetensi dokter umum
Pseudo Croup acute epiglotitis: 3A
Terapi oksigen: 4A
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan
memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi
menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau
kecacatan pada pasien. Lulusan dokter mampu menentukan
rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya dan
mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
40
3. Kegawatdaruratan anak
a. PAT (Assessment)
Penilaian kegawatdaruratan pasien dimulai dari mengamati pasien secara
umum. Teknik penilaian PAT dilakukan tanpa memegang anak dan
disesuaikan dengan perkembangan. Dengan melihat dan mendengar, pemeriksa
dapat mendapatkan kesan akan kegawatan anak. Dengan PAT anak dapat
dinilai tingkat keparahan kondisinya, membantu menentukan urgensi untuk
perawatan, dan mengidentifikasi secara umum masalah fisiologis yang dialami.
Tiga komponen PAT yaitu Appearance (penampilan anak), Work of Breathing
(upaya napas), dan Circulation to Skin (sirkulasi kulit).
1. Penampilan anak
Penampilan anak seringkali merupakan cerminan kecukupan ventilasi dan
oksigenasi otak. Namun demikian beberapa keadaan lain dapat pula
mempengaruhi penampilan anak seperti hipoglikemi, keracunan, infeksi
otak, perdarahan atau edema otak atau juga penyakit kronik pada susunan
saraf pusat.
Penampilan anak dapat dinilai dengan berbagai skala. Metoda ‘ticles’
meliputi penilaian tonus (T= tone), interaktisi (I= interactiveness),
41
konsolabilitas (C= consolability), cara melihat (L= look/gaze) dan berbicara
atau menangis (S= speech/cry)
Karakteristik
Hal yang dinilai
Tone
Apakah anak bergerak aktif atau menolak pemeriksaan
dengan kuat? Apakah tonus ototnya baik atau lumpuh?
Interactiveness Bagaimana
kesadarannya?
Apakah
suara
mempengaruhinya? Apakah ia mau bermain dengan
mainan atau alat pemeriksaan? Apakah anak tidak
bersemangat saat berinteraksi dengan orang tua/
pengasuh?
Consolabillity
Apakah ia dapat ditenangkan orang tua atau pengasuh
atau pemeriksa? Apakah anak menangis terus atau
tampak agitasi sekalipun dilakukan pendekatan yang
lembut?
Look/Gaze
Apakah ia dapat memfokuskan penglihatan? Apakah
pandangannya kosong?
Speech/Cry
Apakah anak berbicara atau menangis dengan kuat?
Apakah suaranya lemah?
Tabel 11. Penilaian dengan metoda ‘Ticles’ (TICLS)
2. Upaya napas
Upaya napas merefleksikan usaha anak mengatasi gangguan oksigenasi dan
ventilasi. Karakteristik hal yang dinilai adalah suara napas yang tidak
normal, posisi tubuh yang khas, retraksi, cuping hidung.
Karakteristik
Hal yang dinilai
Suara napas yang tidak normal
Mengorok, parau, stridor, merintih, menangis
Posisi tubuh yang tidak normal
Sniffing, tripoding, menolak berbaring, head
bobbing
Retraksi
Supraklavikula, interkosta, subternal
Cuping hidung
Napas cuping hidung
42
Tabel 12. Penilaian Upaya Napas.
3. Sirkulasi kulit
Sirkulasi kulit mencerminkan kecukupan curah jantung dan perfusi ke organ
vital. Hal yang dinilai antara lain pucat, mottling, sianosis
Karakteristik
Hal yang dinilai
Pucat
Kulit atau mukosa tampak kurang merah karena
kurangnya aliran darah ke darah tersebut
Mottling
Kulit berbecak kebiruan akbiat vasokontriksi
Sianosis
Kulit dan mukosa tampak biru
Tabel 13. Penilaian sirkulasi kulit
Penilaian ke 3 hal ini, tanpa menyentuh anak, telah dapat memberikan gambaran
kasar tentang kegawatan anak dengan cepat. Secara ringkas penggunaan PAT
dapat dilihat apda gambar di bawah ini.
Gawat Napas
Penampilan N
Upaya napas ↑
Sirkulasi kulit (N)
Gagal Napas
Penampilan ↓
Upaya napas ↑/↓
Sirkulasi kulit N/↓
Syok
Penampilan ↓
Upaya napas N
43
Sirkulasi kulit ↓
Gangguan metabolik, gangguan primer susunan syaraf pusat atau
intoksikasi
Penampilan ↓
Upaya napas N
Sirkulasi kulit N
Gambar: Metoda PAT
b. Survei Primer
Survei primer disebut juga dengan Survei ABCDE. Teknik ini dilakukan
dengan pemeriksaan fisik pada anak. Komponen pemeriksaan antara lain:
§
A= Airway
§
B= Breathing
§
C= Circulation
§
D= Disability
§
E= Exposure
1. Airway (jalan napas)
Sekalipun dengan teknik ‘PAT’ telah diketahui adanya obstruksi jalan
napas, namun derajat obstruksi perlu lebih terinci, antara lain untuk tindakan
resusitasi. Menilai jalan napas (airway) pada anak dengan kesadaran
menurun dilakukan dengan teknik ‘look, listen, feel’ yaitu membuka jalan
napas dengan posisi sniffing, lalu melihat pengembangan dada sambil
mendengar suara napas dan merasakan udara yang keluar dari hidung/mulut.
Penilaian jalan napas diekspresikan sebagai:
§ Jalan napas bebas
44
§ Jalan napas masih dapat dipertahankan
§ Jalan napas harus dipertahankan dengan intubasi
§ Obstruksi total jalan napas
Gambar 9. Teknik ‘look, listen, feel’
2. Breathing (kinerja napas)
Kinerja napas dinilai dengan menghitung frekuensi napas, menilai upaya
napas dan penampilan anak. Sesuai tingkat tumbuh kembang anak,
frekuensi normal berbeda-beda dengan perubahan usia. Frekuensi napas
juga dipengaruhi oleh berbagai keadaan. Pernapasan yang cepat dapat
terjadi pada demam, nyeri, ketakutan/kecemasan, atau emosi yang
meningkat. Pernapasan yang lambat dapat terjadi pada anak yang kelelahan
akibat gawat napas yang tidak segera ditolong. Karena itu dalam menilai
upaya napas perlu diperhatikan nilai ekstrim. Frekuensi napas di atas 60
kali/menit untuk semua usia, apalagi disertai retraksi dan kesadaran
menurun sangat mungkin menandakan gagal napas. Freksuensi napas
kurang dari 20 kali/menit untuk anak di bawah 6 tahun dan 15 kali/menit
untuk anak kurang dari 15 tahun juga harus mendapat perhatian khusus.
Tabel 14. Frekuensi pernapasan normal sesuai usia
Usia
Frekuensi pernapasan (pernapasan/menit)
< 1 th
30 – 40
2 – 5 th
20 – 30
5 – 12 th
15 – 20
>12 th
12 – 16
45
Penilaian upaya napas dilakukan dengan melihat, mendengar, juga
menggunakan stetoskop dan alat pulse-oxymetry bila ada. Interpretasi suara
napas abnormal dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Suara
Penyebab
Contoh diagnosis
Stridor
Obstruksi jalan napas
Croup, benda asing, abses
atas
retrofarings
Obstruksi jalan napas
Asthma, benda asing,
bawah
bronkiolitis
Meningitis
Merintih (grunting) Oksigenasi tidak adekuat
Kontusi paru, pneumonia,
pada ekspirasi
tenggelam, IRDS
Ronkhi basah pada
Cairan lendir atau darah
inspirasi
dalam jalan napas
Suara napas tidak
§ Obstruksi jalan napas
ada dengan upaya
Pneumonia, kontusi paru
§
total
berat, pneumotoraks,
napas yang
meningkat
Benda asing asthma
hemotoraks
§ Gangguan transmisi
suara
§
Efusi pleura, pneumonia,
pneumotoraks
Tabel 15. Interprestasi suara napas abnormal
Pulse oxymetry merupakan alat sederhana untuk menilai kinerja napas.
Pembacaan di atas saturasi 94% secara kasar dapat menunjukkan kecukupan
oksigenasi. Pembacaan di bawah 90% pada anak dengan oksigen 100%
dapat menunjukkan bahwa anak memerlukan ventilator.
Interpretasi
pulseoxymetry harus dilakukan bersama dengan penilaian upaya napas,
frekuensi napas dan penampilan anak. Anak dengan gangguan napas
kadang-kadang masih dapat mempertahankan kadar oksigen darah dengan
work of breathing yang meningkat. Sementara anak dengan kelainan
jantung bawaan biru dapat menunjukkan saaturasi yang rendah tanpa
distress napas.
46
3. Circulation (sirkulasi)
Penilaian sirkulasi dilakukan dengan menghitung denyut jantung, perfusi
organ dan tekanan darah. Takikardi dapat merupakan tanda awal hipoksia
atau perfusi yang buruk. Namun dapat juga terjadi pada demam, nyeri,
ketakutan, dan emosi yang meningkat. Bradikardi dapat memerikan indikasi
hipoksia atau iskemia.
Perfusi organ dapat dinilai dengan menilai denyut nadi perifer, capillary
refill time dan tingkat kesadaran. Produksi urine juga merupakan indikator
yang baik, namun biasanya kurang diperhatikan orang tua. Perhatikan
kualitas nadi. Bila nadi brakial kuat, biasanya anak tidak mengalami
hipotensi. Bila denyut nadi perifer tidak teraba, cobalah meraba di femoral
atau karotis. Tidak adanya denyut nadi sentral merupakan indikasi untuk
segera dilakukan tindakan pijat jantung. Capillary refill time normal kurang
dari 2-3 detik. Namun demikian capillary refill time dipengaruhi juga oleh
faktor lingkungan, misalnya suhu udara yang dingin.
Umur
Sebaran normal ( denyut/menit)
< 3 bulan
85 – 200
3 bulan – 2 tahun
100 – 190
2 – 10 tahun
60 – 140
Tabel 16. Nilai normal denyut jantung sesuai usia
Tekanan darah dipengaruhi ukuran manset. Lebar manset yang benar adalah
dua pertiga panjang lengan atas. Pemeriksaan tekanan darah membutuhkan
kooperasi anak. Tekanan darah tinggi pada anak yang tidak berkooperasi
baik mungkin dapat menyesatkan. Namun tekanan darah rendah
menandakan syok. Formula tekanan darah sistolik terendah:
Tekanan Sistolik minimal= 70 + 2 x umur (dalam tahun)
47
4. Disability (status neurologik)
Evaluasi neurologik meliputi fungsi korteks dan batang otak. Fungsi
korteks dinilai dengan skala ‘AVPU’ Anak dengan penurunan skala AVPU
pasti disertai kelainan penampilan pada skla PAT. Anak dengan sakit atau
cedera sedang dapat mengalami gangguan penampilan pada skala PAT,
namun mempunyai skala AVPU pada tingkat A (A= Alert).
Kategori
‘Alert’
Rangsang
Tipe respon
Lingkungan normal Sesuai
Reaksi
Interaksi normal untuk
tingkat usia
‘Verbal’
Perintah sederhana
§ Sesuai
atau rangsang suara § Tidak sesuai
‘Pain’
Nyeri
§ Sesuai
§ Bereaksi terhadap nama
§ Tidak spesifik/ bingung
§ Menghindar rangsang
§ Tidak sesuai § Mengeluarkan
suara
tanpa tujuan atau dapat
melokali-sasi nyeri
§ Patologis
§ Posture
‘Unresponsive’ Tak ada respon yang dapat dilihat terhadap semua rangsang
Tabel 17. Skala ‘AVPU’
Skala lain yang banyak digunakan untuk menilai fungsi korteks adalah
skala koma Glasgow. Penggunaan skala koma Glasgow untuk pasien gawat
di lapangan seringkali di anggap tidak praktis dan kontroversial.
Untuk mengevaluasi fungsi batang otak dilakukan pemeriksaan pola
napas sentral, postur tubuh (dekortikasi/deserebrasi/flacid), pupil dan
reaksinya terhadap cahaya serta evaluasi syaraf kranial lain. Refleks pupil
dapat menjadi tidak normal akibat hipoksia, obat-obatan, kejang atau
herniasi batang otak.
Penilaian lebih lanjut dilakukan atas gerakan motorik. Perhatikan
gerakan-gerakan asimetrik, kejang, posture atau flasiditas. Pemeriksaan
neurologis lebih lengkap dilakukan pada tahap pemeriksaan tambahan.
48
5. Exposure (paparan)
Untuk melengkapi perlu juga dinilai hal lain yang dapat langsung terlihat,
contoh: ruam akibat morbili, hematoma akibat trauma dsb. Ketika
melakukan pemeriksaan jagalah agar anak (terutama bayi) tidak kedinginan.
c. Survei Sekunder
Survei Sekunder adalah pemeriksaan dari kepala ke ujung pasien secara rinci,
untuk menentukan tingkat cedera. Ini terjadi setelah situasi yang mengancam
jiwa telah dikendalikan.
d. Survei Tersier
Survei ini dilakukan 24 jam pasca cedera. Survey ini berupa pemeriksaan
kepala hingga ujung yang komprehensif untuk menentukan cedera yang tidak
ditemukan pada saat survei awal.
e. PEWS
Pediatric Early Warning Score (PEWS) merupakan salah satu alat atau
sistem skoring menggunakan karakteristik pasien yang dapat mendeteksi
perburukan klinis pada anak di ruang rawat inap. Sistem skoring Pediatric
Early Warning Score difokuskan pada tiga komponen penilaian yaitu perilaku,
status kardiovaskular, dan status respirasi.
Komponen perilaku yang merupakan kriteria
pengamatan penting,
karena sering kali merupakan tanda awal syok/gangguan kardiovaskular dan
pada umumnya orang tua juga dapat mengenali. Perubahan perilaku yang
diamati diberi skor sesuai seperti yang diamati sehingga anak yang tidak
tertarik pada lingkungannya akan mendapat skor tiga (letargi). Warna dan
waktu pengisian kapiler dipilih untuk menilai komponen kardiovaskular
dibandingkan tekanan darah arteri. Kedua tanda-tanda tersebut digunakan
karena tidak semua staf terampil dalam menilai waktu pengisian kapiler.
Komponen pernapasan dinilai bersama dengan kebutuhan oksigen yang
merupakan indikator fisiologis penting pasien sakit kritis. Penilaian tanpa
peralatan khusus, hal ini menghilangkan ketergantungan pada ketersediaan
monitor saturasi. Penilaian rerata parameter pernapasan digunakan untuk
meningkatkan sensitivitas.
49
Pediatric Early Warning Score mempunyai skor total antara 0-13, skor
total ≥ 4 atau skor 3 pada salah satu domain PEWS, hal ini mencerminkan nilai
kritis yang membutuhkan tindakan konsultatif.
Pada tahun 2007, dilakukan evaluasi sistem skoring yang telah
dimodifikasi dari PEWS yaitu Pediatric Advance Warning Score (PAWS) dan
kemampuan untuk mengidentifikasi pasien dengan kelainan jantung, pasca
bedah dan medis.
Tabel 18. Pediatric Early Warning Score
Tabel 19. Pediatric Advance Warning System
Setiap skor diberi kode warna
•
Hijau = skor 0-2
•
Oranye = skor 4
•
Kuning = skor 3
50
•
Merah = skor 5 atau lebih
Kode warna yang diperoleh akan menentukan tindakan yang akan dilakukan
sesuai dengan jenjang kompetensi ditempat masing-masing.
V. Kerangka Konsep
Yudi, anak laki-laki 2 tahun,
mengalami infeksi virus
Inflamasi di
laringotrakeobronkus
Demam febris
Batuk & pilek
Edema parsial di saluran
pernafasan atas
Obstruksi jalan
nafas
Airway:
Breathing:
• Sesak
• Stridor inspirasi
• Batuk terdengar kasar
(barking cough)
• Takipnea
• Retraksi suprasternal
& intercostal
• Nafas cuping hidung
VI. Kesimpulan
Yudi, anak laki-laki usia 2 tahun, mengalami distres pernafasan et causa
croup.
51
DAFTAR PUSTAKA
Alwinsyah Abidin, E.N Keliat, Firman Sakti Wibawanto. Acute Respiratory
Distress Syndrome (ARDS). Hal 1-17.
Bakhtiar. 2016. Manifestasi Klinis, Pemeriksaan Penunjang, Diagnosis dan
Tatalaksana Croup pada Anak. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Volume 16
Nomor 3.
Croup (Laringotrakeobronkitis akut), Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi Pertama.
Badan Penerbit IDAI: 2008. Hal. 320-328
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. 2014. Current Evidences in
Pediatric
Emergencies
Management.
(https://fk.ui.ac.id/wpcontent/uploads/2018/02/Buku-PKB-68.pdf diakses 12 Agustus 2019).
Feierabend RH, Shahram MN, 2009. Hoarsenes in adultt. Am Fam Physician.
Hiebert JC, Zhao YD, Willis EB. 2016. Bronkhoscopy finding in recurrent croup:
a sytematic review and meta-analisis. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. hal.
86-90.
Guidelines for the diagnosis and management of croup. 2008. Alberta Medical
Association. 2011.
IDAI. 2008. Croup (Laringotrakeobronkitis akut): Buku Ajar Respirologi Anak.
Edisi Pertama. Jakarta: IDAI.
IDAI. 2013. Kurva Pertumbuhan WHO (http://www.idai.or.id/professionalresources/growth-chart/kurva-pertumbuhan-who,
diakses
pada
26
September 2017)
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2017.
Tindakan
Darurat
pada
Gawat
Napas
Bayi
dan
Anak.
(http://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id/wpcontent/uploads/2017/03/PGD02_Gawat-Napas-edit-1-Q.pdf diakses 12
Agustus 2019).
I Putu Gede Nova Indra Maya.2017. Terapi oksigen. Hal1-27
Indonesian, J. O. C. (2016) ‘Acute respiratory distress syndrome. Introduction’,
Indonesian Journal of Chest, 3(4), pp. 54–56. doi: 10.1016/S02105691(06)74495-3.
52
Kliegman, R. M., Stanton, B. M. D., St. Geme, J., Schor, N. F. Behrman, R. E. 2011. Nelson
Textbook of Pediatrics E–Book: “Language Developmental and Communication
Disorder”. Elsevier Health Sciences
Leaver, S. K. and Evans, T. W. (2007) ‘Acute respiratory distress syndrome Acute
respiratory distress syndrome’, The Lancet, 6736(April 2008), pp. 1–7. doi:
10.1136/bmj.39293.624699.AD.
Malhotra, A. and Krilov, L. R. (2001) ‘Viral Croup’, Pediatrics in Review, 22(1),
pp. 5–11.
Matthay MA, Zemans RL. The Acute Respiratory Distress Syndrome:
Pathogenesis and Treatment. Annu Rev Pathol. 2011;6:147-63.
Pierrakos C, Karanikolas M, Scoletta S, Karamouzos V, Velissaris D. Acute
Respiratory Distress Syndrome: Pathophysiology and Theurapeutic
Options. J Clin Med Res. 2011;4(1):7-16.
Pudjiadi, A. H., Latief, A., & Budiwardhana, N. (2013). Buku Ajar Pediatri Gawat
Darurat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (Vol. kedua, pp. 77–81). Jakarta:
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Pulungan, A. B., Hendarto, A. and Dkk (2014) Current Evidences in Pediatric
Emergencies Management, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Departemen Ilmu Kesehatan Anak.
Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB. 2012. Buku ajar Respirologi anak.
Rajapaksa S, Starr M. 2010. Croup assessment and management. Austr Fam
Physician. 38 (5) : 280-2.
Rismala, Dewi. 2016. Pediatric Early Warning Score: Bagaimana Langkah Kita
Selanjutnya?.
(https://saripediatri.org/index.php/sari-
pediatri/article/download/50/31 diakses 13 Agustus 2019).
Tatalaksana Penyakit Respirasi dan Kritis Paru.
(Perhimpunan Respirologi Indonesia); 2013.
Bandung:
PERPARI
The Pediatric Acute Lung Injury Consensus Conference Group., 2015. Pediatric
Acute Respiratory Distress Syndrome: Consensus Recommendations From
the Pediatric Acute Lung Injury Consensus Conference. Pediatr Crit Care
Med, 16(5), pp. 428-439.
53
Tim Editor. 2016 Acute Respiratory Distress Syndrome. Indonesia Journal of
Chest Critical Emergency Medicine. Vol 3. No 2.
World Health Organization. 2009. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di
Rumah Sakit (http://www.ichrc.org/buku-saku-pelayanan-kesehatan-anakdi-rumah-sakit diakses 12 Agustus 2019).
Zoorob R, Sidani M, Murray J. 2011. Croup: An Overview. American Family
Physicia. 83 (9). hal. 1067-1072.
54