Uploaded by common.user18390

Analisis Pemahaman Konsep dan Rasa Ingin Tahu pada Pembelajaran Inkuiri Alberta

advertisement
ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP DAN RASA INGIN TAHU
PADA PEMBELAJARAN INKUIRI ALBERTA
BERBASIS ASESMEN DIAGNOSTIK
ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP DAN RASA INGIN TAHU
PADA PEMBELAJARAN INKUIRI ALBERTA BERBASIS ASESMEN
DIAGNOSTIK
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian untuk menguji efektivitas, mendeskripsikan
kemampuan pemahaman konsep, kesalahan, dan karakter rasa ingin tahu pada
pembelajaran Inkuiri Alberta. Metode yang digunakan adalah penelitian Mix
Method, dan desain penelitiannya adalah Concurrent Embaded. Uji yang
digunakan adalah uji t. Sebanyak 36 siswa kelas VIII B ditentukan KAM nya
berdasarkan nilai UTS matematika. Setiap KAM diambil 2 siswa yang dijadikan
subjek penelitian. Siswa kelas VIII B diberikan pembelajaran Inkuiri Alberta.
Data kualitatif dianalisis kemampuan pemahaman konsep, kesalahan, dan karakter
rasa ingin tahunya. Pembelajaran Inkuiri Alberta terbukti efektif. Subjek kategori
rendah belum mampu memenuhi hampir setiap indikator. Subjek kategori sedang
cukup mampu dalam beberapa indikator saja. Sementara kategori tinggi mampu
pada hampir semua indikator pemahaman konsep. Kesalahan Fakta dan prinsip
terjadi pada kategori rendah dan sedang, sedangkan kesalahan keterampilan dan
konsep hanya terjadi pada kategori rendah. Karakter RIT kategori rendah sangat
buruk, karakter RIT kategori sedang pada level cukup dan butuh motivasi guru,
sementara karakter RIT kategori tinggi pada level tinggi.
Kata kunci: Kemampuan Pemahaman Konsep, Kesalahan matematis, Karakter
Rasa Ingin Tahu, Asesmen Diagnostik.
BAB I : PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Daya
matematika
adalah
kemampuan
untuk
mengeksplorasi,
menyusun konjektur, dan memberikan alasan secara logis (NCTM, 1999).
Hal ini berhubungan erat dengan kemampuan pemahaman konsep seseorang.
Dalam mempelajari matematika, pemahaman konsep sangat penting untuk
siswa karena konsep matematika yang satu dengan yang lain. Jika siswa telah
memahami konsep-konsep matematika maka akan memudahkan dalam
mempelajari konsep-konsep berikutnya yang lebih kompleks.
Kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal juga perlu adanya analisis
untuk mengetahui jenis kesalahan dan penyebab kesalahan dilakukan siswa
sehingga guru dapat memberikan jenis bantuan kepada siswa. Kesalahan
merupakan penyimpangan terhadap hal yang benar yang sifatnya sistematis,
konsisten, maupun insedental pada daerah tertentu. Abidin (2012)
menambahkan bahwa kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika dapat
dibedakan
menjadi
empat
jenis,
yaitu
kesalahan
fakta,
kesalahan
keterampilan, kesalahan konsep dan kesalahan prinsip.
Pembelajaran matematika sangat berperan terhadap pembentukan
karakter pada diri siswa. Ada banyak karakter yang diharapkan muncul dalam
suatu pembelajaran matematika, salah satunya adalah karakter rasa ingin tahu.
Karakter rasa ini tahu adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya,
dilihat, dan didengar (Kemendiknas, 2010: 39). Menurut Surya (2006: 39)
rasa ingin tahu merupakan bagian yang mengawali kemauan terbentuknya
kreativitas. Kepekaan dalam mengamati objek merupakan suatu proses
berfikir yang didasari oleh rasa ingin tahu.
Hendriana (2012) menyatakan siswa cenderung menghafalkan
konsep-konsep matematika dan definisi tanpa memahami maksud isinya.
Kecenderungan tersebut berdampak pada hasil belajar matematika yang
kurang memuaskan. Indikasi dari hal ini dapat dilihat pada hasil ujian
nasional mata pelajaran matematika jenjang pendidikan dasar sampai
menengah. Kemampuan matematika para siswa di Indonesia yang rendah
diketahui dari hasil evaluasi The Third International Mathematics and
Science Study (TIMSS). Indonesia menduduki peringkat 38 dari 42 negera
pada tahun 2011 (Mullis, 2012). Sedangkan dari hasil Programme for
International Student Assessment (PISA), Indonesia menduduki peringkat 64
dari 65 negara pada tahun 2012 (OECD, 2013).
Berdasarkan hasil ulangan harian matematika kelas VIII pada materi
bangun ruang sisi datar di SMP 1 Dawe Kudus tahun ajaran 2013/2014
didapat bahwa rata-rata nilai ulangannya masih dibawah KKM yaitu 61. Hal
ini dapat diindikasikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan
dalam mengerjakan soal matematika pada materi bangun ruang sisi datar.
Data hasil pekerjaan siswa menunjukkan bahwa siswa melakukan banyak
kesalahan baik dalam kesalahan keterampilan, kesalahan konsep dan
kesalahan prinsip.
Oleh karena itu perlu adanya suatu pembelajaran yang dapat
meningkatkan pemahaman konseptual siswa pada pokok bahasan geometri
yaitu pembelajaran Inkuiri Alberta. Menurut Donham (dalam Alberta, 2004),
pembelajaran inkuiri Alberta adalah suatu pembelajaran yang berbasis inkuiri
yang terdiri dari beberapa tahap. Pada dasarnya pembelajaran inkuiri model
Alberta adalah metode inkuiri bebas yang d imodifikasi. Tahap-tahap dalam
pembelajaran inkuiri model Alberta menurut Donham (dalam Alberta, 2004)
terdiri dari merencanakan (planning), mengingat kembali (retrieving),
menyelesaikan (processing), mencipta/ menghasilkan (creating), berbagi
(sharing), dan mengevaluasi (evaluating).
Salah satu pendekatan yang dapat menanamkan konsep siswa adalah
pendekatan kosntruktivisme. Sugandi (2007: 85) menjelaskan bahwa
pendekatan konstruktivis adalah suatu pendekatan dimana siswa harus
menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi
lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Dalam pendekatan kontruktivisme, siswa tidak lagi menerima paket-paket
konsep yang telah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri yang
mengemasnya. Kesalahan siswa merupakan bagian dari pembelajaran yang
tetap harus dihargai karena hal itu tandanya ia sedang belajar.
Penilaian yang akan digunakan dalam penelitian ini juga diupayakan
dapat mengukur sejauhmana kemampuan pemahaman konsep yang dimiliki
oleh siswa dan kesalahan kesalahan yang terjadi yaitu dengan menggunakan
penilaian diagnostik. Dalam penilaian diagnostik ini pula diharapkan nanti
dapat dijelaskan bagimana karakter rasa ingin tahun siswa dalam
pembelajaran matematika.
Hasil penelitian yang dikembangkan oleh Sun (2013) menjelaskan
bahwa hasil penilaian diagnostik efektif menggambarkan kemampuan
kognitif yang dimiliki siswa. Maisura (2014) menjelaskan bahwa penilaian
diagnostik juga dapat digunakan untuk mengetahui kesalahan kesalahan siswa
dalam pelajaran matematika. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya,
peneliti
memandang
perlu
dilakukan
penelitian
untuk
mendeskripsikan lebih jelas tentang kemampuan pemahaman konsep siswa
dan kesalahan-kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal geometri serta
penelusuran sejauhmana karakter rasa ingin tahu yang dimiliki siswa dalam
pembelajaran Inkuiri model Alberta yang didasarkan pada hasil penilaian
diagnostik.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Dari
beberapa
permasalahan
pada
latar
belakang
dapat
diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut.
a. Pemahaman konsep siswa pada materi geometri masih rendah. Hal ini
diketahui dari rata-rata hasil ulangan matematika materi geometri masih
rendah yakni 61.
b. Proses
pembelajaran
belum
dapat
mengembangkan
kemampuan
pemahaman konsep. Berdasarkan hasil obeservasi di SMPN 1 Dawe
Kudus terlihat bahwa dalam pembelajaran, siswa hanya menerima konsep
tanpa mengkonstruk pemahamannya sendiri.
c. Kurangnya variasi model pembelajaran, karena berdasarkan hasil
observasi di SMPN 1 Dawe Kudus hanya pembelajaran ekspositori yang
digunakan.
d. Perlu diadakan kajian/ penelitian yang menganalisis pemahaman konsep
siswa.
C. PEMBATASAN MASALAH
Pembatasan masalah dilakukan agar penelitian yang dikembangkan
dapat lebih fokus dan memberikan hasil yang optimal. Pembatasan masalah
dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut.
a. Penelitian hanya dilakukan pada siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe
Kabupaten Kudus.
b. Penelitian dilaksanakan pada Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015.
c. Pemilihan materi bangun ruang sisi datar ini dibatasi pada sub materi
kubus dan balok.
d. Penilaian yang digunakan dalam menentukan kemampuan dan kesalahan
konsep pada materi geometri adalah penilaian diagnostik.
e. Karakter yang akan dianalisis adalah karakter rasa ingin tahu siswa pada
materi geometri.
D. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian yang telah disajikan di depan, jelas bahwa yang menjadi
fokus pengkajian penelitian ini adalah kecenderungan penelitian pendidikan
matematika. Sehingga muncul pertanyaan mendasar :
a. Apakah pembelajaran Inkuiri Alberta pendekatan konstruktivis efektif?
b. Bagaimanakah kemampuan pemahaman konsep siswa pada pembelajaran
Inkuiri Alberta pendekatan konstruktivis berbasis diagnostik?
c. Bagaimanakah kesalahan-kesalahan matematis siswa pada pembelajaran
Inkuiri Alberta pendekatan konstruktivis berbasis diagnostik?
d. Bagaimanakah karakter rasa ingin tahu siswa pada pembelajaran Inkuiri
Alberta pendekatan konstruktivis?
E. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Untuk menguji efektifitas pembelajaran Inkuiri Alberta Pendekatan
Konstruktivis dalam meningkatkan kemampuan pemahaman konsep pada
materi geometri.
b. Mendeskripsikan
kemampuan
pemahaman
konsep
siswa
pada
pembelajaran Inkuiri Alberta Pendekatan Konstruktivis .
c. Mendeskripsikan
kesalahan-kesalahan
matematis
siswa
pada
pembelajaran Inkuiri Alberta Pendekatan Konstruktivis.
d. Mendeskripsikan karakter rasa ingin tahu siswa pada pembelajaran Inkuiri
Alberta Pendekatan Konstruktivis.
BAB II : LANDASAN TEORI
A. PEMAHAMAN KONSEP
Pemahaman konsep merupakan salah satu jenjang kemampuan dalam
proses berpikir di mana siswa dituntut untuk memahami yang berarti
mengetahui sesuatu hal dan melihatnya dari berbagai segi.
Indikator pemahaman konsep menurut depdiknas sebagaimana yang
telah dimodifikasi Fauzan (2011) adalah sebagai berikut.
No
Indikator
1
Mengklasifikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu
2
Menyajikan konsep ke bentuk representasi matematika
3
Menggunakan prosedur atau operasi tertentu
4
Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah
B. KESALAHAN MATEMATIKA
Abidin (2012) menjelaskan bahwa kesalahan dalam menyelesaikan
soal matematika dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu kesalahan fakta,
kesalahan keterampilan, kesalahan konsep dan kesalahan prinsip.
C. KARAKTER RASA INGIN TAHU
Rasa ingin tahu adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya,
dilihat, dan didengar (Kemendiknas, 2010: 39). Menurut Surya (2006: 39)
rasa ingin tahu merupakan bagian yang mengawali kemauan terbentuknya
kreativitas.
D. DIAGNOSTIK
Diagnostik berarti suatu tindakan menganalisis suatu permasalahan,
mengidentifikasi penyebabnya secara tepat untuk tujuan pengambilan
keputusan, dan hasil keputusan tersebut dilaporkan dalam bentuk deskriptif.
E. PEMBELAJARAN INKUIRI ALBERTA
Pada dasarnya pembelajaran inkuiri model Alberta adalah metode
inkuiri bebas yang dimodifikasi. Dalam pembelajarannya, permasalahan
ditentukan oleh guru sehingga konten permasalahan tidak keluar dari
kurikulum.
Langkah
No
1
2
Merencanakan
(Planning)
3
4
1
Mengingat
kembali
(Retrieving)
2
3
1
Penyelesaian
(Processing)
2
3
1
Mencipta
(Creating)
2
1
Berbagi
(Sharing)
2
3
1
Mengevaluasi
(Evaluating)
2
3
Kegiatan Guru
Menginformasikan tujuan pembelajaran.
Menciptakan
lingkungan
kelas
yang
memungkinkan terjadi pertukaran ide yang
terbuka.
Membagi siswa dalam kelompok–kelompok
Memberikan permasalaan kepada siswa
Membimbing siswa dalam mengingat kembali
konsep-konsep bangun datar
Membimbing siswa untuk mecari keterkaitan
antar konsep
Mendorong
keterbukaan,
proses-proses
demokrasi dan cara belajar siswa aktif.
Mendorong kerja sama siswa dalam mengaitkan
antar konsep
Mendorong
siswa
untuk
membangun
pengetahuannya sendiri melalui konsep-konsep
yang sudah dimilikinya
Mendorong siswa untuk kreatif dalam
penemuan konsep
Membimbing siswa untuk merumuskan hasil
diskusi kelompok
Membimbing siswa untuk menuliskan hasil
diskusi kelompok ke dalam lembar hasil
diskusi.
Menunjuk salah satu kelompok untuk
menyajikan hasil diskusi
Mempresentasikan hasil diskusi kelompok di
depan kelas
Memberikan penguatan pada siswa
Mendorong siswa untuk mengevaluasi hasil
presentasi diskusi kelompok
Membimbing siswa untuk menarik kesimpulan
Memberikan siswa soal soal latihan yang
berhubungan dengan pemahaman konsep
bangun ruang sisi datar
F. KERANGKA BERPIKIR
Salah satu tujuan pembelajaran matematika menurut Permendiknas No. 22 Tahun
2006 adalah mengembangkan kemampuan pemahaman konsep
Kenyataan dilapangan siswa cenderung menghafalkan konsep
tanpa memahami maksud isinya
Rata-rata hasil ulangan harian siswa kelas VIII SMPN 1 Dawe Kudus pada
materi geometri belum mencapai KKM yaitu 61
Diperlukan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan pemahaman
konsep siswa yaitu pembelajaran Inkuiri Alberta
Penilaian Diagnostik
Wawancara
Kemampuan
pemahaman konsep &
Kesalahan-kesalahan
siswa dalam
menyelesaikan soal
dapat dianalisis
Kemampuan
pemahaman konsep
siswa kelas VII
SMPN 1 Dawe
meningkat
Pembelajaran Inkuiri
Alberta terbukti
efektif
Observasi KRIT +
wawancara
Karakter rasa ingin
tahu siswa dalam
pembelajaran
Inkuiri Alberta
dapat dianalisis
G. HIPOTESIS
a. Kemampuan pemahaman konsep siswa pada pembelajaran Inkuiri Alberta
Pendekatan Konstruktivis mencapai nilai kriteria ketuntasan minimum
(KKM);
b. Kemampuan pemahaman konsep siswa pada pembelajaran Inkuiri Alberta
Pendekatan Konstruktivis lebih baik daripada kemampuan pemahaman
konsep siswa pada pembelajaran konvensional;
c. Peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa pada pembelajaran
Inkuiri Alberta Pendekatan Konstruktivis lebih baik daripada peningkatan
kemampuan pemahaman konsep siswa pada pembelajaran konvensional.
BAB III METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kombinasi kualitatif dan
kuantitatif. Model kombinasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe
concurrent triangulation. Concurrent triangulation adalah metode penelitian
yang mengabungkan antara metode kualitatif dan kuantitatif dengan cara
mencampur kedua metode tersebut secara seimbang (Sugiyono: 2013:499).
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 1 Dawe Kudus tahun
ajaran 2014/2015. Dari kelas-kelas VIII yang ada di SMP Negeri 1 Dawe
dipilih 2 kelas secara acak sebagai sampel penelitian sesuai dengan desain
penelitian. Teknik penentuan sampel penelitian kuantitatif berdasarkan
cluster random sampling. Dari teknik tersebut di dapat kelas VIII B sebagai
kelas eksperimen yang dikenai pembelajaran Inkuiri Alberta Pendekatan
Konstruktivis, dan kelas VIII D sebagai kelas kontrol yang dikenai
pembelajaran ekspositori. Teknik pemilihan subyek pada penelitian kualitatif
adalah non-probability sampling, yaitu pengambilan subyek dimana setiap
obyek penelitian yang diambil tidak memiliki peluang yang sama untuk
dijadikan subyek penelitian. Jenis non-probability sampling yang digunakan
adalah purposive sampling, dimana pengambilan subyek berdasarkan kategori
kemampuan awal matematis.
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini terdiri atas: observasi,
tes, dan wawancara. Jenis tes dalam penelitian ini yaitu tes Diagnostik. Tes
Diagnostik dilakukan setelah siswa melakukan proses pembelajaran pada
materi geometri terhadap kelas eksperimen dan kontrol. Wawancara
dirancang untuk menggali sejauhmana kemampuan pemahaman konsep,
kesalahan, dan karakter rasa ingin tahu siswa. Sedangkan observasi hanya
digunakan untuk mengukur sejauhmana karakter rasa ingin tahu saja..
Analisis data dilakukan pada saat tahap sebelum di lapangan hingga
tahap analisis selama di lapangan. Analisis sebelum di lapangan dilakukan
dengan validasi perangkat dan instrumen penelitian. Analisis selama di
lapangan merupakan menyusun secara sistematis data kuantitatif dan
kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi, tes Diagnostik, dan wawancara.
Analisis data kuantitatif yang diperoleh dari data tes Diagnostik untuk
menentukan keefektikan Inkuiri Alberta pendekatan Konstruktivis. terdiri
atas: uji ketuntasan dengan uji z, uji beda rata-rata dengan uji t, dan uji
peningkatan N-Gain. Sedangkan analisis data kualitatif dilakukan dengan cara
mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan dari data yang
telah dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut.
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil perhitungan ketuntasan belajar kelas eksperimen
menggunakan uji proporsi pihak kanan didapat zhitung = 1,92. Pada 𝛼 = 5 %
diperoleh 𝑧0,5−𝛼 = z0,45 = 1,64. Karena zhitung > 𝑧0,5−𝛼 , maka H1 diterima. Jadi
dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa kelas
eksperimen yang sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal yaitu 70
mencapai lebih dari 75%. Berdasarkan hasil perhitungan uji beda rata-rata
hasil tes Diagnostik diperoleh thitung = 2,844. Taraf nyata 5% dan dk = 70
diperoleh ttabel = 1,99. Karena thitung > ttabel maka H0 ditolak. Oleh karena itu
dapat simpulkan bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa kelas
eksperimen lebih tinggi daripada siswa pada kelas kontrol. Berdasarkan hasil
perhitungan uji beda rata-rata skor n-gain diperoleh thitung = 4,81, sedangkan
untuk dk = 70 dan taraf nyata 5% maka diperoleh ttabel = 1,99. Karena thitung >
ttabel maka H0 ditolak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa peningkatan
kemampuan pemahaman konsep siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada
siswa kelas kontrol.
Model pembelajaran inkuiri alberta pendekatan konstruktivis efektif
terhadap kemampuan pemahaman konsep siswa. Hal ini dikarenakan (1)
presentasi peserta didik dengan
pembelajaran inkuiri alberta pendekatan
konstruktivis yang sudah mencapai ketuntasan, yaitu 70 lebih dari 75%; (2)
rata-rata hasil tes diagnostik yang dikenakan pembelajaran inkuiri alberta
pendekatan konstruktivis lebih tinggi dari pada siswa yang dikenakan
pembelajaran ekspositori; dan (3) peningkatan kemampuan pemahaman
konsep siswa yang dikenai pembelajaran inkuiri alberta pendekatan
konstruktivis lebih tinggi daripada siswa yang dikenai pembelajaran
ekspositori, Hal ini sejalan dengan pendapat Harlen (2013) yang menjelaskan
bahwa pembelajaran Inkuiri efektif dalam membangun pemahaman
konseptual siswa pada pembelajaran matematika, karena pada dasarnya
pembelajaran Inkuiri merangsang siswa untuk menuangkan ide-ide mereka
dalam membangun sebuah pemahaman dalam pembelajaran.
Beberapa ahli juga menyatakan bahwa pembelajaran Inkuiri Alberta
Pendekatan Konstruktivis efektif. Wang et al (2013) dalam penelitiannya
tentang
pembelajaran
Inkuiri
menjelaskan
bahwa
selain
mampu
meningkatkan prestasi belajar siswa. Camenzuli & Buhagiar (2014) juga
menambahkan bahwa pembelajaran berbasis Inkuiri mampu meningkatkan
prestasi belajar siswa yang memiliki permasalahan berupa kesulitan belajar.
Tes diagnostik dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis
kemampuan pemahaman konsep pada tiap kategori kemampuan awal
matematis siswa. Kemampuan pemahaman konsep kelompok siswa kategori
rendah pada indikator pertama siswa belum dapat mengklasifikasi objek
berdasarkan sifat tertentu. Pada indikator kedua, siswa cukup mampu dalam
menyajikan konsep ke bentuk representasi matematika walaupun masih
terkendala dalam penyelesaian. Pada indikator ketiga, siswa belum mampu
menggunakan prosedur dan operasi penyelesaian dengan benar, dan pada
indikator keempat siswa masih sukar dalam mengaplikasikan konsep atau
algoritma pemecahan masalah karena belum dapat memahami soal dengan
benar.
Kemampuan pemahaman konsep kelompok siswa kategori sedang
pada indikator pertama siswa mampu mengklasifikasi objek berdasarkan sifat
tertentu. Pada indikator kedua, siswa cukup mampu dalam menyajikan
konsep ke bentuk representasi matematika walaupun penyelesaian akhir
kurang lengkap. Pada indikator ketiga, siswa sudah mampu menggunakan
prosedur dan operasi penyelesaian dengan benar, namun juga belum
sempurna, dan pada indikator keempat siswa belum mampu mengaplikasikan
konsep atau algoritma pemecahan masalah karena belum dapat memahami
soal dengan benar.
Kemampuan pemahaman konsep kelompok siswa kategori tinggi pada
indikator pertama siswa mampu mengklasifikasi objek berdasarkan sifat
tertentu. Pada indikator kedua, siswa mampu dalam menyajikan konsep ke
bentuk representasi matematika. Pada indikator ketiga, siswa sudah mampu
menggunakan prosedur dan operasi penyelesaian dengan benar, dan pada
indikator keempat siswa mampu mengaplikasikan konsep atau algoritma
pemecahan masalah meskipun penyelesaian akhirnya masih belum lengkap
Tes
diagnostik
dalam
penelitian
ini
juga
digunakan
untuk
menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal. Kesalahan fakta
terjadi pada kelompok siswa kategori rendah dan sedang. Penyebab utama
kesalahan fakta pada kedua kelompok adalah siswa kurang teliti dalam
melengkapi jawaban. Kesalahan fakta merupakan salah satu kesalahan siswa
yang paling dominan dalam menyelesaikan soal. Hal ini sejalan dengan
Hidayat (2012) yang menyatakan bahwa salah satu kesalahan yang sering
dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal adalah kesalahan fakta, sementara
itu Satoto dkk (2013: 7) yang juga menyatakan bahwa kesalahan memahami
masalah/ fakta merupakan jenis kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa.
Kesalahan keterampilan hanya terjadi pada kelompok siswa kategori
rendah. Siswa melakukan kesalahan dalam melakukan operasi aljabar.
Penyebab utama kesalahan keterampilan adalah siswa kurang teliti dan
kurang mahir dalam menyelesaikan operasi aljabar. kesalahan keterampilan
merupakan salah satu kesalahan yang sering dialami oleh siswa. Hal ini
sejalan dengan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu
Sugiyono (2014) yang menyatakan bahwa kesalahan proses/ kesalahan
keterampilan seringkali dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal.
Sugiyono (2014) juga menambahkan bahwa salah hitung dan kurang teliti
merupakan salah satu penyebab dari kesalahan keterampilan
Kesalahan Konsep hanya terjadi pada kelompok siswa kategori
rendah. Penyebab utama kesalahan konsep adalah siswa belum memahami
konsep jaring-jaring dan volum balok. Kesalahan konsep merupakan salah
satu kesalahan yang sering dialami oleh siswa. Hal ini sejalan dengan
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu Sugiyono (2014) yang
menyatakan bahwa kesalahan pemahaman/ kesalahan konsep merupakan
seringkali dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal. Salah satu faktor
penyebab terjadinya kesalahan konsep adalah kurangnya pemahaman siswa
dalam memahami soal.
Kesalahan Prinsip Kesalahan prinsip terjadi pada kelompok siswa
kategori rendah dan sedang. Hal ini terjadi karena siswa tidak merencanakan
penyelesaian dengan baik. Penyebab utama kesalahan prinsip adalah siswa
kurang teliti dan kurang memahami soal. Kesalahan prinsip merupakan tipe
kesalahan yang tidak dapat dilepaskan oleh siswa. Hal ini dikarenakan
mereka kurang teliti dan kurang memahami keterkaitan antar konsep pada
soal tersebut. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Hidayat (2012) yang
dalam penelitiannya menjelaskan bahwa kesalahan terbesar siswa dalam
menjawab soal selain kesalahan fakta adalah kesalahan prinsip.
Karakter rasa ingin tahu pada tiap kategori kemampuan awal
matematis pada pembelajaran Inkuiri Alberta Pendekatan Konstruktivis
adalah sebagai berikut. Rasa ingin tahu pada kelompok siswa kategori rendah
masih sangat rendah. Semangat siswa dalam pembelajaran masih kurang.
Siswa seringkali menggantungkan temannya dalam mengerjakan LKS dan
LLS. Siswa tidak pernah mengajukan pertanyaan apalagi menyumbangkan
ide.
Rasa ingin tahu pada kelompok siswa kategori sedang berada pada
level cukup. Siswa mempunyai semangat belajar cukup, namun seringkali
masih mudah terpengaruh oleh teman-temannya. Siswa suka berdiskusi
dengan teman sekelasnya, mencari cara untuk menemukan jawaban dari
buku-buku catatan dan tidak malu untuk bertanya pada guru. Namun tidak
jarang mereka putus asa ketika menghadapi soal yang sukar.
Rasa ingin tahu pada kelompok siswa kategori tinggi berada pada
level tinggi. Siswa selalu terlihat aktif dalam kelompoknya. Siswa juga sering
memberikan ide-ide kepada kelompoknya. Siswa juga seringkali mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada guru tentang materi pelajaran yang sedang
dibahas. Dalam mengerjakan soal soal matematika, banyak sumber belajar
yang mereka gunakan.
BAB V : PENUTUP
Pada dasarnya pembelajaran Inkuiri alberta pendekatan konstruktivis
merupakan pembelajaran yang terbukti efektif dalam meningkatkan
kemampuan pemahaman konsep siswa. Oleh karena itu perlu dikembangkan
lagi pembelajaran Inkuiri Alberta Pendekatan Konstruktivis pada beberapa
materi yang setipe.
Selain meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa, guru
juga sangat dianjurkan untuk menekan tingkat kesalahan siswa. Ada empat
jenis kesalahan siswa dalam mengerjakan soal, yaitu kesalahan fakta,
kesalahan keterampilan, kesalahan konsep, dan kesalahan prinsip. Kelompok
siswa kategori rendah merupakan kelompok siswa yang paling membutuhkan
bantuan dan arahan oleh guru, karena keempat jenis kesalahan dilakukan oleh
kelompok ini.
Pembelajaran Inkuiri alberta pendekatan konstruktivis juga mampu
meningkatkan karakter rasa ingin tahu siswa pada setiap kategori siswa.
Namun hanya pada kelompok siswa kategori rendah, peningkatan karakter
rasa ingin tahu tidak begitu signifikan. Untuk itu perlu adanya dorongan dan
motivasi guru pada kategori ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2012. Analisis Kesalahan Matematika Prodi Pendidikan Matematika
Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry dalam Mata Kuliah Trigonometri dan
Kalkulus. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, 13 (1), 183-196.
Alberta. 2004. Focus on Inquiry: a teacher’s guide to implementing inquiry-based
learning. Toronto: Nelson Publications, Canada.
Camenzuli, J. & Buhagiar, M.A. 2014. Using Inquiry-Based Learning to Support
the Mathematical Learning of Students with SEBD. Jthe International
Journal of Emotional Education, Volume 6 Nomor 2 halaman: 69-85.
Malta : University of Malta.
Hendriana, H. 2012. “Pembelajaran Matematika Humanis dengan Metaphorical
Thinking Untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa”. Jurnal Iinfinity,
Volume 1 No. 1. Hal 90-103.
Harlen, W. 2013. “ Inquiry-based learning in science and mathematics”. Jurnal,
Review of Science, Mathematics, and Ict Education. Volume 7 No.2. Hal
9-33.
Hidayat, B.R. dkk. 2013. “Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal
pada materi ruang dimensi tiga ditinjau dari gaya kognitif siswa”. Jurnal
pendidikan matematika solusi. Volume 1 Nomor 1 Maret.
Kemendiknas. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
Jakarta : Puskur Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional.
Maisura. 2014. “Remidial Teaching didasarkan pada diagnosa kesulitan siswa
kelas II madrasah tsanawiyah”. Jurnal Didaktika Matematika. Vol 1 No. 1
April. ISSN : 2355-4185
Mullis, I.V.S., et al. 2012. TIMSS 2011 International Results in Mathematics.
Boston: Lynch School of Education
National Council of Teachers of Mathematics (NCTM). 1999. Mathematical
Reasoning. Tersedia di www.nctm.org
Organization for Economic Coperation and Development (OECD). 2013. PISA
2012 Results in Focus. Tersedia di www.oecd.org/pisa.
Satoto,
S.dkk. 2013. Analisis Kesalahan Hasil Belajar Siswa dalam
Menyelesaikan Soal dengan Prosedur Newman. Unnes Journal of
Mathematics Education, Volume 2 No. 1
Sugandi, A. 2007. Teori Pembelajaran. Semarang : UPT MKK UNNES.
Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuatitatif, Kualitatif
dan R&D). Bandung: Alfabeta
Sugiyono, S.dkk. 2014. Kesalahan Prosedur Newman pada Siswa Sekolah
Menengah Pertama. Jurnal Ilmiah STKIP PGRI Ngawi. Volume 13 No.
1 . P58-P64.
Sun, Y. & Suzuki M. 2013. Diagnostic Assessment for Improving Teaching
Practice. International Journal of Information and Education Technology,
Volume 3, Nomor 6. Hal 607-610. http://www.ijiet.org/papers/345T021.pdf (diakses 5 November 2014)
Wang, P.H. et al. 2013. The Learning Effectiveness of Inquiry-Based Instruction
Among Vocational High School Students. Educational Research
International.Vol. 2 No.2 ISSN-L: 2307-3713, ISSN: 2307-3721.
Berikut akan dijelaskan perbedaan yang mencolok dari ketiga jenis laporan penelitian.
No
Judul Laporan
Penelitian
1.
ANALISIS
PEMAHAMAN
KONSEP DAN
RASA INGIN
TAHU
PADA
PEMBELAJARAN
INKUIRI
ALBERTA
BERBASIS
ASESMEN
DIAGNOSTIK
Jenis
Penelitian
Mix
Method
Susunan Laporan
Penelitian
Rumusan
Masalah
Hipotesis
BAB
I 1. Apakah
Ada
PENDAHULUAN
pembelajaran
a. Kemampuan
Latar
Belakang,
Inkuiri Alberta
pemahaman
Identifikasi
pendekatan
konsep
siswa
Masalah,
konstruktivis
pada
Pembatasan
efektif?
pembelajaran
Masalah, Rumusan
Inkuiri Alberta
Penelitian, Tujuan 2. Bagaimanakah
Pendekatan
Penelitian,
kemampuan
Konstruktivis
Penegasan Istilah,
pemahaman
berbasis
Manfaat Penelitian
konsep siswa
diagnostik
BAB II LANDASAN
pada
mencapai nilai
TEORI
DAN
pembelajaran
kriteria
TINJAUAN
Inkuiri Alberta
ketuntasan
PUSTAKA
pendekatan
minimum
Landasan
Teori,
konstruktivis
(KKM) yaitu 70
Kerangka Berpikir,
berbasis
Hipotesis
diagnostik?
b. Kemampuan
BAB III METODE
pemahaman
PENELITIAN
3. Bagaimanakah
konsep
siswa
Desain Penelitian,
kesalahanpada
Populasi
dan
kesalahan
pembelajaran
Sampel Penelitian,
matematis
Inkuiri Alberta
Data dan Sumber
siswa
pada
Pendekatan
Data Penelitian,
pembelajaran
Konstruktivis
Kerangka
Berpikir
Analisis Data
Kesimpulan
Penelitian
Ada
Penelitian
ini
merupakan jenis
penelitian
kombinasi
kualitatif
dan
kuantitatif. Model
kombinasi yang
digunakan dalam
penelitian
ini
adalah
tipe
concurrent
embedded
strategy.
Concurrent
embedded
strategy
adalah
penggabungan
metode penelitian
kualitatif
dan
kuantitatif yang
dilakukan secara
bersama-sama,
baik
dalam
pengumpulan data
maupun
1) Pembelajaran
Inkuiri
Alberta
Pendekatan
Konstruktivis
terbukti
efektif.
Hal ini karena,
a. Proporsi
siswa
pada pembelajaran
Inkuiri
Alberta
pendekatan
Konstruktivis
sudah
mencapai
ketuntasan, yaitu
70 lebih dari 75%;
b. Rata-rata
nilai
kemampuan
pemahaman
konsep siswa yang
dikenai
pembelajaran
Inkuiri
Alberta
Pendekatan
Konstruktivis lebih
baik
daripada
siswa yang dikenai
Metode
Inkuiri Alberta
lebih
baik
Pengumpulan
pendekatan
daripada
Data, Instrumen
konstruktivis
kemampuan
Penelitian, Teknik
berbasis
pemahaman
Analisis Data
diagnostik?
konsep
siswa
BAB IV GAMBARAN
pada
UMUM LATAR 4. Bagaimanakah
pembelajaran
PENELITIAN
karakter rasa
konvensional
Lokasi Penelitian,
ingin
tahu
Siswa dan Tenaga
siswa
pada c. Peningkatan
Pendidik,
pembelajaran
kemampuan
Kemampuan
Inkuiri Alberta
pemahaman
Siswa di Bidang
pendekatan
konsep
siswa
Matematika dan
konstruktivis?
pada
Karakteristik
pembelajaran
Warga Sekolah,
Inkuiri Alberta
Kurikulum
dan
Pendekatan
Sistem
Konstruktivis
Pembelajaran
lebih
baik
BAB V HASIL DAN
daripada
PEMBAHASAN
peningkatan
Hasil
Penelitian,
kemampuan
Pembahasan
pemahaman
BAB VI SIMPULAN,
konsep
siswa
DAN SARAN
pada
Simpulan, Saran
pembelajaran
DAFTAR PUSTAKA
konvensional.
analisisnya, bobot
antara penelitian
kualitatif
dan
kuantitatif
berbeda. Dalam
penelitian
ini,
penelitian
kualitatif sebagai
metode sekunder
sedangkan
penelitian
kuantitatif sebagai
metode primer.
Deskriptif
kualitatif
cara
mereduksi data,
menyajikan data,
dan
menarik
kesimpulan dan
memverifikasi
dari data yang
telah
dikumpulkan.
Kuantitatif
dengan
cara
mencari
keefektifan suatu
pembelajaran.
Indikator efektif
adalah
tuntas,
pembelajaran
konvensional yaitu
pembelajaran
model ekspositori;
dan
c. Peningkatan
kemampuan
pemahaman
konsep siswa pada
setiap kelompok
kemampuan awal
matematis siswa
yang
dikenai
pembelajaran
Inkuiri
Alberta
Pendekatan
Konstruktivis lebih
baik
daripada
peningkatan
kemampuan
pemahaman
konsep siswa pada
setiap kelompok
kemampuan awal
matematis siswa
yang
dikenai
pembelajaran
ekspositori.
2) Kemampuan
pemahaman
lebih baik, dan
peningkatan.
konsep
tiap
kategori
kemampuan awal
matematis
pada
pembelajaran
Inkuiri
Alberta
Pendekatan
Konstruktivis
adalah
sebagai
berikut.
a. Kemampuan
pemahaman
konsep kelompok
siswa
kategori
rendah
pada
indikator pertama
siswa belum dapat
mengklasifikasi
objek berdasarkan
sifat tertentu. Pada
indikator
kedua,
siswa
cukup
mampu
dalam
menyajikan konsep
ke
bentuk
representasi
matematika
walaupun
masih
terkendala dalam
penyelesaian. Pada
indikator
ketiga,
siswa
belum
mampu
menggunakan
prosedur
dan
operasi
penyelesaian
dengan benar, dan
pada
indikator
keempat
siswa
masih sukar dalam
mengaplikasikan
konsep
atau
algoritma
pemecahan
masalah
karena
belum
dapat
memahami
soal
dengan benar.
b. Kemampuan
pemahaman
konsep kelompok
siswa
kategori
sedang
pada
indikator pertama
siswa
mampu
mengklasifikasi
objek berdasarkan
sifat tertentu. Pada
indikator
kedua,
siswa
cukup
mampu
dalam
menyajikan konsep
ke
bentuk
representasi
matematika
walaupun
penyelesaian akhir
kurang
lengkap.
Pada
indikator
ketiga, siswa sudah
mampu
menggunakan
prosedur
dan
operasi
penyelesaian
dengan
benar,
namun juga belum
sempurna,
dan
pada
indikator
keempat
siswa
belum
mampu
mengaplikasikan
konsep
atau
algoritma
pemecahan
masalah
karena
belum
dapat
memahami
soal
dengan benar.
c. Kemampuan
pemahaman
konsep kelompok
siswa
kategori
tinggi
pada
indikator pertama
siswa
mampu
mengklasifikasi
objek berdasarkan
sifat tertentu. Pada
indikator
kedua,
siswa
mampu
dalam menyajikan
konsep ke bentuk
representasi
matematika. Pada
indikator
ketiga,
siswa
sudah
mampu
menggunakan
prosedur
dan
operasi
penyelesaian
dengan benar, dan
pada
indikator
keempat
siswa
mampu
mengaplikasikan
konsep
atau
algoritma
pemecahan
masalah meskipun
penyelesaian
akhirnya
masih
belum lengkap.
3) Kesalahankesalahan
siswa
pada tiap kategori
kemampuan awal
matematis
pada
pembelajaran
Inkuiri
Alberta
Pendekatan
Konstruktivis
adalah
sebagai
berikut.
a. Kesalahan Fakta
Kesalahan
fakta
terjadi
pada
kelompok
siswa
kategori
rendah
dan
sedang.
Penyebab utama
kesalahan
fakta
pada
kedua
kelompok adalah
siswa kurang teliti
dalam melengkapi
jawaban.
b. Kesalahan
Keterampilan
Kesalahan
keterampilan
hanya terjadi pada
kelompok
siswa
kategori
rendah.
Siswa melakukan
kesalahan dalam
melakukan operasi
aljabar. Penyebab
utama kesalahan
keterampilan
adalah
siswa
kurang teliti dan
kurang
mahir
dalam
menyelesaikan
operasi aljabar.
c. Kesalahan Konsep
Kesalahan konsep
hanya terjadi pada
kelompok
siswa
kategori
rendah.
Penyebab utama
kesalahan konsep
adalah
siswa
belum memahami
konsep
jaringjaring dan volum
balok.
d. Kesalahan Prinsip
Kesalahan prinsip
terjadi
pada
kelompok
siswa
kategori
rendah
dan sedang. Hal ini
terjadi
karena
siswa
tidak
merencanakan
penyelesaian
dengan
baik.
Penyebab utama
kesalahan prinsip
adalah
siswa
kurang teliti dan
kurang memahami
soal.
4) Karakter rasa ingin
tahu pada tiap
kategori
kemampuan awal
matematis
pada
pembelajaran
Inkuiri
Alberta
Pendekatan
Konstruktivis
adalah
sebagai
berikut.
a. Kelompok Siswa
Kategori Rendah
Rasa ingin tahu
pada
kelompok
siswa
kategori
rendah
masih
sangat
rendah.
Semangat
siswa
dalam
pembelajaran
masih
kurang.
Siswa seringkali
menggantungkan
temannya dalam
mengerjakan LKS
dan LLS. Siswa
tidak
pernah
mengajukan
pertanyaan apalagi
menyumbangkan
ide.
b. Kelompok Siswa
Kategori Sedang
Rasa ingin tahu
pada
kelompok
siswa
kategori
sedang
berada
pada level cukup.
Siswa mempunyai
semangat belajar
cukup,
namun
seringkali masih
mudah terpengaruh
oleh
temantemannya. Siswa
suka
berdiskusi
dengan
teman
sekelasnya,
mencari cara untuk
menemukan
jawaban dari bukubuku catatan dan
tidak malu untuk
bertanya
pada
guru. Namun tidak
jarang
mereka
putus asa ketika
menghadapi soal
yang sukar.
c. Kelompok Siswa
Kategori Tinggi
Rasa ingin tahu
pada
kelompok
siswa
kategori
tinggi berada pada
level tinggi. Siswa
selalu terlihat aktif
dalam
kelompoknya.
Siswa juga sering
memberikan ideide
kepada
kelompoknya.
Siswa
juga
seringkali
mengajukan
pertanyaanpertanyaan kepada
guru
tentang
materi
pelajaran
yang
sedang
dibahas.
Dalam
mengerjakan soal
soal matematika,
banyak
sumber
belajar
yang
mereka gunakan
Download