Uploaded by common.user8611

BAB II

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Memiliki buah hati yang sehat, aktif, dan cerdas adalah impian setiap
orang tua. Sayangnya, karena beberapa faktor, impian ini tidak bisa
diwujudkan. Sang buah hati lahir dengan kelainan yang mengakibatkan
gangguan pada kemampuan motorik maupun sensoriknya seperti autisme.
Anak autisme sama dengan anak-anak lainnya. Mereka membutuhkan
bimbingan dan dukungan yang lebih dari orang tua dan lingkungannya untuk
tumbuh dan berkembang agar dapat hidup mandiri. Autisme hanya satu dari
begitu banyak kelainan, baik yang diketahui saat dilahirkan atau dikemudian
hari (Danuatmadja, 2003).
Autisme adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis
perkembangan pervasif pada anak yang mengakibatkan ganguan atau
keterlambatan pada bidang kognitif, bahasa, peilaku, komunikasi dan interaksi
sosial. Kondisi seperti ini tentu akan sangat mempengaruhi perkembangan
anak, baik fisik maupun mental. Autisme adalah ganguan perkembangan yang
kompleks yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak sehingga
mengakibatkan ganguaan perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan
sosialisasi, sensori dan belar. Biasanya gejala sudah mulai tampak pada anak
berusia di bawah 3 tahun. Anak autisme sama dengan anak- anak lainnya,
mereka membutuhkan bimbingan dan dukungan yang lebih dari orang tua dan
1
2
lingkungan untuk tumbuh dan berkembang agar dapat hidup mandiri,
(Ginanjar, 2002).
Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 60.000 - 15.000 anak
dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalensi autisme 10-20
kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan1 diantra 1000 anak.
Di Pensylavia, Amerika Serikat jumlah anak autisme dalam lima tahun terkhir
meningkat 500% menjadi 40 dari 10.000 kelahiran. Di California pada tahun
2002 disimpulkan terdapat 9 kasus anak autisme perharinya. Di Inggris pada
awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autisme meningkat sangat
pesat, dicurigai 1 diantra 10 anak menyandang autisme. Beberapa penel;itian di
negara berkembang memperkirakan 15-20 dari 1000 anak mengalami
gangguan autisme, bahkan dikota kota tertentu angka tersebut mencapai 1/250
anak atau 60 kasus/10000 kelahiran (Judarwanto, 2006).
Di Indonesia, dalam suatu wawancara di Koran Kompas; Dr. Melly
Budhiman, seorang Psikiater Anak dan Ketua Yayasan Autisme Indonesia
menyebutkan adanya peningkatan yang luar biasa. “ Bila seepuluh tahun yang
lalu jumlah penyandang autisme diperkirakan 1/5.000 anak, sekarang menjadi
1/500 anak”. Tahun 2000 yang lalu, Dr. Ika Widyawati; staf bagian psikiatri
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memperkirakan terdapat kurang
lebih 6.900 anak penyandang autisme di Indonesia (Kompas, 2008).
Di Provinsi Bengkulu terdapat beberapa tempat yang membuka layanan
terapi autis untuk anak autis diantranya klinik autis RSKJO Seoprapto dan
Yayasan Mutiara Bunda. Setelah peneliti melakukan studi pendahuluan
3
didapatkan pada pada tahun 2013 terdapat 139 anak autis dan tahun 2015
terdapat 144 anak. Diantara anak autis yang didata di sub rekam medis,
beberapa anak melakukan terapi di klinik autis RSKJO Soeprapto Bengkulu
diantanya pada tahun 2014 terdapat 45 anak dengan usia 2-5 tahun ada 18 anak
dan 6-10 tahun ada 21 anak. Pada tahun 2015 terdapat 52 anak dengan usia 2-5
tahun ada 41 anak dan 6-10 tahun ada 22 anak. Di Klinik Autis RSKJO
Soeprapto Bengkulu dilakukan metode terapi ABA (Applied Behavior
Analysis) dan menerima anak dengan udia antara 2-10 tahun (Sub Rekam
Medis RSJKO Soeprapto, 2015).
Salah satu terapi penting bagi anak autis badalah terapi perilaku ABA.
Terapi ini sudah dikenal ini sudah dikenal luas karena hasilnya memuaskan.
Terapai ABA sering digunakan untuk penanganan anak autistik. Terapi ini
sangat representatif bagi penanggulanagan anak spesial dengan gejala autisme.
Sebab, memilki prinsip yang terukur, terarah dan sistematis, juga variasi yang
diajarkan luas, sehingga dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, sosial
dan motorik halus maupun kasar (Danuatmaja, 2003).
Terapi ABA adalah metode tatalaksana perilaku yang berkembang sejak
puluhan tahun yang lalu, ditemukan oleh seorang psikolog Amerika,
Universitas California Los Angles, Amerika Serikat yang bernama Ivar
O.Lovaas. Sekitar tahun 1970, ia melalui eksperimen dengan cara
mengaplikasikan teori B.F. Skinner Operant Conditioning. Di dalam teori ini
disebutkan suatu pola perilaku akan menjadi mantap jika perilaku itu di peroleh
4
si perilaku (penguat positif) karena mengakibatkan hilangnya hal-hal yang
tidak diinginkan (penguat negatif).
Melalui terapi perilaku ABA, anak autis akan mengalami kemajuan
seperti anak normalnya karena metode ini memiliki kelebihan dibandingkan
metode lainnya. Metode ini bersifat terstruktur, kurikulumnya yang jelas, dan
keberhasilannya dapat dinilai secara objektif (Muslimah, 2009).
Berdasarkan uraian di diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tentang “ Pengaruh terapi
ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap
kemampuan interaksi sosial pada anak autis yang diterapi di klinik autis
RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis menetapan rumusan
masalah yaitu apakah terdapat pengaruh terapi
ABA (Applied Behavior
Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis di klinik autis
RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016 ?.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mempelajari pengaruh terapi
ABA (Applied Behavior
Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis di klinik
autis RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016.
5
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran interaksi sosial pada anak autis sebelum
terapi ABA (Applied Behavior Analysis) di klinik autis RSJKO
Soeprapto Bengkulu tahun 2016
b. Untuk mengetahui gambaran interaksi sosial pada anak autis sesudah
terapi ABA (Applied Behavior Analysis) di klinik autis RSJKO
Soeprapto Bengkulu tahun 2016
c. Untuk mengetahui pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis)
terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis di klinik autis
RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan serta pengalaman
bagipeneliti sendiri dalam melakukan penelitian sederhana secara
sistematis tentang pengaruh terapi
ABA (Applied Behavior Analysis)
terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis.
2. Bagi Institusi Pendidikan STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu
Penelitian ini nantinya diharapakan menambah literatur danbanhan
kajian bagi mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti khususnya tentang
pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan
interaksi sosial pada anak autis
3. Bagi Institusi Klinik Autis RSJKO Soeprapto Bengkulu
6
Memberikan informasi bagi Klinik Autis RSJKO Soeprapto
Bengkulu mengenai pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis)
terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis.
7
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Kajian Teori
1. Autisme
a. Pengertian Autis
Istilah autisme berasal dari kata autos yang berarti dari diri sendiri
dan isme yang berarti paham. Ini berarti bahwa autisme memilki makna
keadaan yang menyebabkan anak-anak hanya memiliki perhatian
terhadap dirinya sendiri.
Autisme juga diartikan sebagai ganguan perkembangan komplek
yang disebabkan
oleh
adanya kerusakan
pada otak sehingga
mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, prilaku,
kemampuan sosialisasi, sensori dan belajar. Anak autisme sama dengan
anak lainnya, mereka membutuhkan bimbingan dan dukungan yang
lebih dari orang tua dan lingkungannya untuk tumbuh dan berkembang
agar dapat hidup mandiri. Autisme hanya satu dari begitu banyak
kelainan,baik yang diketahui saat anak dilahirkan atau ditemukan di
kemudian hari.(Ginanjar,2002).
Menurut Handojo(2008) autis berasal dari berasal dari bahasa
yunani yaitu “auto” yang artinya sendiri. Penyandang autisme seakanakan hidup di dunianya sendiri.
Menurut D.S. Prasetyono (2008) Autisme merupakan suatu
kumpulan sindrom yang menganggu saraf. Penyakit ini menganggu
6
8
perkembangan anak, diagnosisnya diketahui dari gejala-gejala yang
tampak dan ditunjukkan dengan adanya penyimpangan perkembangan.
Ganguan autisme mulai tampak sebelum usia 3 tahun dan 3-4 kali
lebih banyak pada anak laki-laki, tanpa memandang lapisan sosial
ekonomi, tingkat pendidikan orang tua, ras, etnik maupun agama.
Dengan ciri fungsi abnormal dalam tiga bidang: interaksi sosial,
komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang, sehingga kesulitan
mengungkapkan perasaan maupun keinginannya yang mengakibatkan
hubungan
dengan
orang
lain
menjadi
terganggu.
Ganguan
perkembangan yang dialami anak autistik menyebabkan tidak belajar
dengan cara yang sama seperti anak lainnya seusianya dan belajar jauh
lebih sedikit dari lingkunganya bila dibandingkan dengan anak lain.
Autisme merupakan kombinasi dari beberapa kegagalan perkembangan,
biasanya mengalami gangguan pada:
1) Komunikasi, perkembangan bahasa sangat lambat atau bahkan tidak
ada sama sekali. Penggunaan kata-kata yang tidak sesusai dengan
makna yang dimaksud. Lebih sering berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa tubuh dari pada kata-kata.
2) Interaksi Sosial, lebih senang menyendiri dari pada bersama orang
lain; menunjukan minat yang sangat kecil untuk berteman; respon
terhadap isyarat sosial seperti kontak mata dan senyum kurang.
3) Perilaku, bisa berperilaku hiper-aktif ataupun hipo-pasif, marah
tanpa sebab jelas, perhatian yang sangat besar pada suatu benda,
9
menampakkan agresi pada diri sendiri dan orang lain, mengalami
kesulitan dalam perubahan rutinitas.
4) Gangguan Bermain, anak autistik umumnya kurang memiliki
spontanitas dalam permainan yang bersifat imajinatif; tidak dapat
mengimitasi orang lain; dan tidak mempunyai inisiatif.
5) Gangguan Sensorik, mempunyai sensitifitas indra (penglihatan,
pendengaran, peraba, penciuman dan perasa ) yang sangat tinggi
atau bisa pula sebaliknya, (Bonny Danuatmadja, 2003)
b. Klasifikasi
Ada beberapa pendapat tentang klasifikasi anak autis ini, antara
lain menurut Handojo (2008) klasifikasi anak dengan kebutuhan
khususnya (Spesial Needs) adalah :
1) Autisma binfantil atau autisma masa kanak-kanak
Tatalaksana dalam pengenalan ciri-ciri anak autis dia atas 5
tahun usia ini. Perkembangan otak anak akan sangat lambat. Usia
paling ideal adalah 2-3 tahun, karena pada usia ini perkembangan
otak anak berada pada tahap paling cepat.
2) Sindroma Aspeger
Sindroma Aspeger mirip dengan autis infanil, dalam hal
kurang interaksi sosial. Tetapi mereka masih mampu berkomunikasi
cukup baik. Anak seperti ini, memperlihatkan perilakunya yang tidak
wajar dan minat yang terbatas.
10
3) Anttention Deficit ( Hiperactive ) Disorder atau (ADHD).
ADHD dapat diterjemahkan dengan Gangguan Pemusatan
Perhatian dan Hiperakti- tivitas atau GPPH. Hiperktivitas addalah
perilaku motorik yang berlebihan.
4) Anak “ Giftred”
Anak Giftred adalah anak dengan intelegensi yang mirip
dengan intelegensi yang super atau genius, namun memiliki gejalagejala perilaku mirip dengan autisma. Dengan intelegensi yang jauh
diatas normal, perilaku mereka sering kali terkesan aneh.
Menurut Bonny Danuatmadja ( 2003 ), Ada beberapa tipe
Autisme berdasarkan perilakunya:
a) Aloof
Anak dengan autisme dari tipe ini senantiasa berusaha
menarik diri dari kotak sosial, dan cenderung untuk menyendiri
di pojok.
b) Passive
Anak dengan autisme tipe ini tidak berusaha mengadakan
kontak sosial melainkan hanya menerima saja.
c) Active but odd
Pada tipe ini, anak melakukan pendekatan namun hanya
bersifat satu sisi yang bersifat repetitif dan aneh.
11
c. Etiologi
Penyebab autisme belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli
menyebutkan autis disebabkan karena multifaktoral. Seperti gangguan
perkembangan lainnya, autismee dipandang sebagai gangguan yang
memiliki banyak sebab, ssekaligus penyebabnya tidak sama dari satu
kasus ke kasus lainnya, padahal, penyebab-penyebab tunggal dari
ganguan autisme. Bahkan hingga kini belum bisa ditegakkan penyebab
pasti autisme, ( Kurniasih, 2002).
Berikut adalah dugan penyebab autisme :
1) Kelainan Neuroanatomi dan biokimia otak
a) Ukuran kepala
Penyandang autis sering menunjukkan ukuran kepala yang
agak besar, walaupun bahkan makrosefali (Courchence,2001).
Permeriksaan dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
menunjukan volume
otak yang lebih besar. Namun otak yang
besar atau kecil bukanlah sesuatu gejala yang khas pada autis.
b) Cerebellum
Pemeriksaan MRI yang dilakukan oleh Erix Courchense
(Departemen of Nueroscience School of Medicine, University of
California, San Diego, 2001) didapatkan bahwa cerebellum pada
sebagian besar penyandanag autis lebih kecil dari pada anak-anak
normal, terutama pada lobus VI-VII ini banyak terdapat sel
purkinye (Maulana,2010).
12
Cerebellum bertanggung jawab atas berbagai fungsi yaitu
proses sensori, daya ingat, berfikir, belajar berbahasa daan proses
atensi.
Sehingga
kelainan
pada
cerebellum
menyebabkan
penyandang autis sangat sulit memusatkan perhatian, namun sekali
perhatian itu terpusat maka akan sulit baginya untuk mengalihkan
perhatiannya (Melly Budiman, 2000)
c) Batang Otak
Hasimoto melaporkan ditemukan batang otak yang kecil
disertai inti syaraf otak ke VII (syaraf facialis) yang lebih kecil.
Ganguan syaraf facialis yang menyebabkan kelainan ekspresi
wajah pada penyandang autis (Hardiono, 2001)
d) Hipokampus dan Amygdala
Beberapa peneliti menemukan berkurangnya ukuran sel
neuro di hipokampus dan amygdala. Gangguan pada amygdala
yang mengontrol fungsi agresi dan emosi menjadikan penyandang
autis kurang dapat mengendalikan emosi. Sedangakan gangguan
pada hipokampus bertanggung jawab dalam proses belajar dan
daya ingat mengakibatkan tibulnya kesulitan dalam menyimpan
informasi baru dalam memorinya dan terjadi perilaku yang
berulang-ulang, aneh dan hiperaktif (Maulana, 2010).
2) Faktor Genetika
Gejala autis pada anak disebabkan faktor keturunan. Setidaknya,
telah ditemukan dua puluh gen yang terkait dengfan autisme. Hasil
13
penelitian terhadap keluarga anak kembar adanya faktor genetik yangf
berperan dalam perkembangan autis pada anak kembar satu telur 0%
pada penelitian terhadap keluarga ditemukan 2,5% - 3% autis pada
saudara kandung. Penelitian
terbaru menemukan peningkatan
gangguan psikiatri pada anggota keluarga dari penyandang autis
berupa peningkatan insiden gangguan afektif dan ansietas, juga
peningkatan gangguan dalam fungsi sosial. Selain itu juga telah
ditemukan adanya hubungan antara autis dengan suatu keaadaan
abnormal dari kromosom X. Pada sindrom ini ditemukan kumpulan
berbagai gejala, seperti retardasi mental dari ringan sampai berat,
kesulitan belajar, daya ingat jangka pendek yang buruk, fisik yang
abnormal pada 80% laki-laki dewasa, seranggan kejang dan
hiperfleksi. Sering tampak pula gangguan perilaku seperti hiperaktif,
gangguan pemusatan perhatian, infulsif, dan ansietas. Gambaran autis
seperti tidak mau bertukar pandangan, streotipik, penglihatan katakata dan perhatian yang terpusat pada suatu objek yang
ditemukan. Walaupun
sering
demikian kedua kondisi tersebut masih
diperdebatkan (Budiman, 2000)
3) Teori Psikosisial
Teori yang ditemukan oleh Kenner menyebutkan adanya
pengaruh psikogenetik sebagai penyebab autis, dikarenakan orang tua
yang emosional, kaku dan obsesif yang mengasuh anak mereka dalam
suatu atmosfir yang secara emosional kurang hangat bahkan dingin.
13
14
Hal ini dapat diakibatkan oleh rutinitas ibu sebagai wanita pekerja
yang
menuntut
untuk
tetap
konsisten
pada
pekerjaan,
mempertahankan kreativitas, hubungan dengan teman sekerja,
pencapaian prestasi dan aktualisasi diri. Disamping itu peran lain yang
harus dijalani sebagai istri dan sebagai ibu rumah tangga yang harus
memberikan pengasuhan pada anak, (Marsa, 2002)
4) Keracunan logam berat
Kandungan logam berat ini diduga sebagai penyebab kerusakan
otak pada anak autis. Hal ini bisa terjadi karena adanya sekresi logfam
berat dari tubuh terganggu secara genetik. Beberapa logam berat,
seperti arsenic(as), antimony(sb), air raksa(hg), dan timbak(pb),
adalah racun otak yang sangat kuat. Kemungkinan lain anak autis
disebabkan karena keracunan merkuri (Hadiono, 2001)
d. Patofisiologi
Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan.
Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai
pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai ank
berusia sekitar dua tahun. Setelah terjadi proses pengaturan otak berupa
bertambah dan berkurangnya struktur akson, denrit dan sinaps. Proses ini
di pengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal
sebagai brain growth factor dan proses belajar anak.
Makan banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan
akson, dendrit dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari
15
lingkungan. Bagian otak yang digunakan dlam belajar menunjukkan
pertambahan akson, dendrit dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak
digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit dan
sinaps. Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak
adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses-proses
tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalis pertumbuhan sel saraf.
Pada pemeriksaan darah bayi baru lahir, diketahui pertumbuhan
abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan
neoropeptida otak yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung
jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi,
pertumbuhan, dam perkembangan jalinan sel saraf. Banyak pakar telah
sepakat bahwa pada otak anak dijumpai suatu kelainan pada otaknya,
(Purwanti, 2007).
Dari penelitian yang dilakukan oleh pakar dari banyak negara
ditemukan beberapa fakta yaitu adanya kelainan anatomis pada lobus
paratalis, cerebelum dari sistem limbik. 43% penyandang autisme
mempunyai kelainan pada lobus parietalis otaknya, yang menyebabkan
anak cuek terhadap lingkungannya. Kelainan juga ditemukan pada otak
kecil (cerebellum) terutama pada lobus VI dan VII. Otak kecil
bertanggungf jawab atas proses sensori, daya ingat, belajar, berbahasa,
dan proses atensi (perhatian).
Pertumbuham
abnormal
bagian
otak
tertentu
menekan
pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melporkan
16
berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemprosesan
indra dan implus saraf) di otak kecil pada autisme.
Pada penelitian pada otopsi, ditemukan bahwa sel-sel di dalam
cerebellum, yang disebut sel p[urkinye, sangat sedikit jumlahnya,
sedangkan sel-sel ini mempunyai kandungan serotonin (neurotransmitter
yang bertanggung jawab untuk hubungan diantara sel-sel otak) yang
tinggi. Pada 30% penyandang autisme, seronin kadarnya tinggi dalam
darah dan dopamin diduga kadarnya rendah dalam darah. Selain itu pada
anak autis juga mengalami penurunan kadar endrphin yang dibutuhkan
dalam aktifis otak. Dengan kata lain ketidak seimbangan antara
neurotransmitter di dalam otak akan menyebabkan kacaunya lalu lalang
implus di dalam otak. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang
pertubuhan akson, gilia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat),
mielein sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau
sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel
Purkinye.
Peningkatan
brain
derived
neurotropic
faktor
dan
neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Peurkinye.
Ditemukan pula kelainan yang khas di daerah sistem limbik yang
disebut hippocampus dan amygdala terjadi gangguan fungsi kontrol
terhadap agresi dan emosi. Anak kurang dapat mengendalikan emosinya,
seringkali terlalu agresif atau sangat pasif. Amygdala juga bertanggung
jawab terhadap berbagai ransangan sensori seperti pendengaran,
penglihatan, penciuman, perabaan, perasa, dan rasa takut. Hippocampus
17
bertanggung jawab terhadap fungsi belajar dan daya ingat. Terjadilah
kesulitan penyampaian informasi baru, (Maulana, 2010).
e. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang ditemui penderita Autisme :
1) Penarikan diri, kemampuan komunikasi verbal (berbicara) dan
nonverbal yang tidak atau kurang berkembang, serta kurangnya
sosialisasi mempersulit estimasi potensi intelektual kelainan pola
bicara,
gangguan
kemampuan
mempertahankan
percakapan,
permainan sosial abnormal, tidak adanya empati dan ketidak
mampuan berteman. Dalam tes nonverbal yang memiliki kemampuan
bicara bagus namun masih dipengaruhi, dapat memperagakan
kapasitas intelektual yang memadai.
2) Gerakan tubuh
yang stereotipik, kebutuhan kesamaan yang
mencolok, minat yang sempit, keasyikan dengan bagian-bagian
tubuh.
3) Anak biasa duduk pada waktu lama sibuk pada tangannya, menetap
pada objek. Kesibukannya dengan objek berlanjut dan mencolok saat
dewasa dimana anak tercenggang dengan objek mekanik.
4) Perilaku ritualistik dan konvulsif tercermin pada kebutuhan anak
untuk
memelihara
lingkungan
yang
tetap
(tidak
menyukai
perubahan), anak menjadi terkait dan tidak bisa dipisahkan dari suatu
objek, dan dapat diramalkan.
5) Ledakan marah menyertai gangguan secara rutin.
18
6) Kontak mata minimal atau tidak ada
7) Pengamatan visual terhadap gerakan jari tangan, hilangnya respon
terhadap nyri dan kurangnya respon terkejud terhadap suara keras
yang mendadak menunjukkan sensitivitas pada ransangan lain.
8) Keterbatasan kogfnitif, pada tipe defisit pemprosesan kognitif tampak
pada emosional.
9) Menunjukkan echolalia (mengulangi satu ungkapan atau kata secara
tepat) saat berbicara, pembalikan kata ganti pronomial, berpusi yang
tidak berujung pangkal, bentuk bahasa aneh lainnya berbentuk
menonjol.
10) Intelegensi dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam
retardasi secara fungsional.
Sikap dan gerakan yang tidak biasa seperti mengepakkan tangan dan
mengedipkan mata, wajah, yang menyeringai, melompat-lompat,
berjalan-jalan, berjingkat-jingkat, (Aden, 2010).
f. Kriteria Diagnostik
Dalam DSM-IV-R, secara ringkas kriteria diagnostik gangguan
autistik adalah sebagai berikut:
1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbal bali:
a) Gangguan yang nyata dalam berbagai tingkah laku non verbal
seperti kontak mata, ekspresi wajah, dan posisi tubuh;
b) Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman
sebaya sesuai dengan tingkat perkembangan;
19
c) Kurang nya spontanitas dalam berbagai kesenangan, minat atau
prestasi dengan orang lain; dan
d) Kurang mampu melakukan hubungan sosial atau emosional
timbal balik.
2) Ganguan kualitatif dalam komunikasi:
a) Keterlambatan perkembangan bahasa atau tidak bicara sam
sekali; pada individu yang mampu berbicara,
b) Terdapat
gangguan
pada
kemampuan
memulai
atau
mempertahankan percakpan dengan orang lain;
c) Penggunaan bahasa
yang setereotip, repetitif atau sulit
dimengerti.
3) Pola sereotip yang kaku pada tingkah laku, minat dan aktivitas:
a) Preokupasi pada satu pola minat atau lebih;
b) Infeksibilitas pada rutinitas atau ritual yang spesifik dan non
fungsional;
c) Gerakan motorik yang stereotip dan repetitif;
d) Preokupasi yang menetap pada bagian-bagian objek.
4) Gangguan dalam perasaan/emosi:
a) Tidak dapat ikut merasakan yang dirasakan oleh orang lain,
misalnya melihat anak menangis tidak akan merasa kasihan malah
merasa terganggu, dan mungkin anak yang mendatangi anak
tersebut dan memukulnya.
20
b) Kadang tertawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab yang
nyata.
c) Sering
mengamuk
tak
terkendali,
terutama
jika
tidak
mendapatkan apa yang diinginkan, bisa menjadi agresif atau
destruktif.
5) Ganguan dalam persepsi sensori:
a) Mencium-cium atau mengigit atau benda-benda apa saja.
b) Bila mendengar suara tertentu lansung menutup telinga.
c) Tidak menyukai rabaan atau pelukan.
d) Merasakan sangat tidak nyaman jika dipakaikan pakaian dari
bahan yang kasar.
6) Ganguan pola bermain:
a) Tidak berbain seperti anak-anak umumnya.
b) Tidak suka bermain dengan anak sebayanya.
c) Tidak bermain sesuai fungsi mainan,misalnya sepeda dibalik lalu
rodanya diputar-putar.
d) Menyenangi benda-benda yang berputar, seperti kipas angin,
roda.
e) Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang
dan dibawa kemana-mana, (Ginanjar, 2002).
g. Penatalaksanan Medis
Kimia otak yang kadarnya abnormaol pada penyandang autis
adalah serotonin 5-hydroxytryptamine (5-HFT), yaitu neurotransmiter
21
atau penghantar sinyal di sel-sel saraf. Sekitar 30-50% penyandang autis
mempunyai kadar serotonin tinggi dalam darah. Kadar neuropinefrin
dopamin,dan serotonin5-HFT pada anak normal dalam keadaan stabil
dan saling berhubungan. Akan tetapi, tidak demikian pada penyandang
autis. Tetapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau
perjalanan gangguan autistik, tetapi efektif mengurangi perilaku autistik
seperti hiperaktivitas, penarikan diri, stereotipik, menyakiti diri sendiri,
agresivitas, dan gangguan tidur.
Sejumlah observasi menyatakan, manipulasi terhadap sistem
dopamin dan serotonin dapat bermanfaat bagi oasien autis. Antipsikologi
generasi baru, yaitu antipsikotik atipikal, merupakan antagonis kuat
terhadap reseptor serotonin 5-HFT dan dopamin tipe 2 (D2). Resperidone
bisa digunakan sebagai antagonis reseptor dopamin D2 dan serotonin 5HT untuk mengurangi agresivitas, hiperaktivitas, dan tingkah laku
menyakiti diri sendiri. Olanzapine, digunkan karena mampu menghambat
secra luas bebagai reseptor, olanzapine bisa mengurangi hiperaktivitas,
gangguan bersosialisasi, gangguan reaksi afektual (alam perasaan),
ganguan respos sensori, gangguan penggunaan bahasa, perilaku
menyakiti diri sendiri, agresi, iritabilitas emosi atau kemaran, serta
keadaan cemas dan depresi.
Untuk meningkatkan keterampilan sosial serta kegiatan sehari-hari,
penyandang autis perlu diterapi secara nonmedikamentosa yang
melibatkan berbagai disiplin ilmu.
22
Menurut dr. Ika Widyawati sp.Kj dari bagian Ilmu Penyakit Jiwa
FKUI, antara terapi edukasi untuk meningkatkan interaksi sosial dan
komunikasi, terapi perilaku untuk mengendalikan perilaku yang
menuggu/membahayakan, terapi wicara, terapi okupasi/fisik, sensoriintegrasi yaitu pengorganisasian informasi lewat semua indra, latihan
integrasi pendengaran untuk mengurangi hipersensitivitas terhadap suara,
intervensi keluarga, dan sebagainya. Untuk memperbaiki gangguan
saluran pencernaan yang bisa memperburuk kondisi dan gejala autis,
dilakukan terapi biomedis. Terapi itu meliputi pengaturan diet dengan
menghindari zat-zat yang menimbulkan alergi (kasein dan gluten),
pemberian suplemen vitamin dan mineral, serta pengobatan terhadap
jamur dan bakteri yang berada di dinding usus. Dengan berbagai terapi
itu, diharapkan penyandang autis bisa menjalani hidup sebagaimana
anak-anak lain dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri dan
berprestasi (Budiman, 2001).
h. Dampak psikologi anak autisme
1) Dampak psikologi bagi orang tua
Tidak mudah bagi orang tua untuk menerima kenyataan bahwa
anaknya mengalami kelainan. Hingga impian, harapan, kebingungan
kekhawatiran atas masa depan anak, biaya financial yang harus di
keluarkan, dan kerepotan kerepoyan lainnya merupakan bebban berat
yang harus dihadapi orang tua. Semua hal tersebut sangat berpotensi
menjadi steresor dalam kehidupan dan proses interaksi denagan anak.
23
2) Dampak psikologi bagi anggota keluarga
Pertama dampak psikologis terhadap sang kakak pada awal
kelahirannya hal ini belum menjadi masalah. Permasalahan muncul
setelah sekian lama sang kakak menyadari bahwa dengan hadir sang
adik perhatian ayah, ibu dan anggota keluargan yang lain tercurah
kepada si adik. Bahkan kecemburuannya ditambah lagi dengan
perasan kesal, menyaksikan semua perhatian orang tua tercurah
kepada adiknya yang autisme.
3) Dampak psikologis bagi lingkungan masyarakat
Umumnya anggota masyarakat belum bisa menerima penyandang
autisme dalam kelompok sosialnya. Orang tua anak normal sering
melarang anaknya bergaul dengan anak autistik. Pernah juga kejadian
orang tua normal memindahkan anaknya sekolah karena di sekolah
yang lama terdapat anak autistik (Muslimah, 2009)
2. Terapi perilaku ABA
a. Pengertian
Menurut Handojo (2003) terapi Applied Behavior Analysis atau
ABA sering digunakan untuk penanganan anak autitik. Terapi ini sangat
representatif bagi penanggulangan anak spesial dengan gejala autisme.
Sebab, memiliki prisip yang terukur, terarah dan sistematis, juga variasi
yang diajarkan luas, sehingga keterampilan komunikasi, sosial dan
motorik halus maupun kasar.
24
Terapi ABA adalah metode tatalaksana perilaku yang berkembang
sejak puluhan tahun lalu, ditemukan psikolog amerika, Universitas
California Los Angeles, Amerika Serikat yang bernama Ivar O.Lovaas.
Sekitar
tahun
1970,
ia
memulai
eksperimen
dengan
cara
mengaplikasikan teori B.F Skinner, Operant Conditioningi. Di dalam
teori ini disebutkan suatu pola perilaku akan menjadi mantap jika
perilaku itu diperoleh si pelaku ( penguat positif) karena mengakibatkan
hilangnya hal-hal yang tidak diinginkan (penguat negatif). Sementara
suatu perilaku tertentu akan hilang bila perilaku itu di ulang terusmenerus dan mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan (hukuman)
atau hilangnya hal-hal yang menyenangkan si perilaku (penghapusan).
Lovaas melakukan eksperimen, dengan meminjamkan teori
psikologi B.F Skinner dengan sejumlah treatmen pada anak autistik.
Hasil eksperiment itu dipublikasikan dalam buku Behavioral Treatment
and Normal Educational dan Intellectual functioning in Young Autistic
Children sekitar tahun 1987 (Muslimah, 2009)
Model terapi dengan menggunakan metode Lovaas ini secara
aplikatif berpegang pada psikologi yang menuntut perubahan perilku.
Direncanakan anak autistik mengalmi gangguan perilaku, maka harus
digantikan dengan perilaku-perilaku wajar. Terapi ini adalah aplikasi
ilmu pengetahuan mengenai perilaku yang bertujuan meningkatkan atau
menurunkan perilaku tertentu, meningkatkan kualitasnya, menhentikan
perilaku yang tidak sesuai, dan mengajarkan perilaku-perilaku baru.
25
Terapi ABA mendasarkan proses pengajaran pada pemberian stimulus
(intuksi), respon individu (perilaku) dan konsekuensi (akibat Perilaku )
menjadi sasaran proses pengajaran dan binbingan.
Oleh sebab itu, berangkat dari teori ini, lovaas dan The Lovaas
Institute mengembangkan teknik ini dan menjabarkannya menjadi
beberapa pengertian di bawah ini:
1) Applied
Meletakkan penugasan pada kondisi yang real.
2) Behavioral Analysis
Observasi dan analisis yang dilakukan untuk obyek perilaku
tertentu dengan tujuan untuk merubah atau menciptakan perilaku
baru yang diinginkan.
Sehingga secara ringkas dapat dikatakan bahwa Applied
Behavioral Analysis (ABA) adalah suatu teknik yang telah disusun
secara sistematis untuk mengrangi perilaku yang tidak diinginkan
dan meningkatkan perilaku yang diharapkan (Ekalitani, 2010).
b. Langkah –Langkah Pelaksanaan Terapi Perilaku ABA
Terapi perilaku ABA merupakan suatu metode untuk membangun
kemampuan yang secara sosial bermanfaat dan mengurangi atau
menghilangkan hal-hal kebalikannya yang merupakan masalah. Adapun
langkah-langkah pelaksanaan terapi perilaku ABA adalah sebagai
berikut:
26
1) Buatlah jam belajar yang menyenangkan dan pertahankan. Mulailah
dengan jam belajar yang singkat (5-10 menit), dan istirahat dengan
waktu yang sama.tambahkan jam belajar jika anak sudah mulai
toleran dan patuh pada perintah.
2) Pilih kamar yang sunyi untuk intruksi yang bebas dari gangguan
(pengalihan penglihatan).
3) Siapkan rencana belajar yang berhubungan dengan tugas yang
diajarkan dan lembar penilaian untuk memonitor kemajuan.
4) Siapkan dua buah kursi kecil, satu untuk anak dan satu untuk terapis.
5) Duduklah disalah satu kursi dan dudukan anak menghadap ke anda.
6) Kaitkan kedua tumit anda ke kaki depan kursi anak, agar posisi kedua
kursi tidak mudah berubah.
7) Mulailah dengan menekankan keterampilan, seperti tetap di kursi dan
mengikuti perintah.
8) Hindarkan tugas yang mengakibatkan bahan-bahan yang mudah
patah, dilempar, atau digunakan secara tidak sesuai.
9) Hindarkan menggunakan imbalan yang sukar diberikan dan diambil
lagi. Benda-benda yang sering anak mainkan cocok sebagai
imbalannya. Jika imbalan yang dipilih menganggu latihan maka
singkirkan benda tersebut paling tidak selama satu jam pelajran.
10) Anak perlu sering diberi pujian untuk hanya duduk di kursi, membuat
kontak mata, dan mengikuti
perintah. Jika anak berusaha
27
meninggalkan kursi, berikan prompt fisik pada anak untuk kembali
duduk.
11) Saat terapi semua anak pasti melakukan amukan (tantrum), jangan
sampai menghentikan aktivitas belajar dan acuhkan sampai anak
tenang. Selanjutnya bberikan tugfas tugas sederhana secara bertahap,
(Danuatmadja, 2003).
c. Prinsip pelaksanaan Terapi perilaku ABA
Prinsip awal pelaksanaan terapi ini adalah dengan meningkatkan
kemampuan reseptif atau pemahaman anak autis. Dimulai dengan
jumlah latihan yang sedikit untuk beberapa minggu pertama. Cara ini
akan membantu terapis untuk trampil pada metode pengajaran dan
membantu anak terbiasa pada kegiatan terstruktur. Secara umum
program ini meliputi program kesiapan
diri (misalnya berespon
terhadap nama), program bahasa kognitif (misaknya mengikuti preintah
satu tahap), program meniru (misalnya meniru gerakan motorik kasar),
dan program bahasa ekspresif (misalnya menunjukkan benda-benda
yang diinginkan dan tugas menyamakan misalnya menyamakan bendabenda yang identik) (Danuatmadja, 2003)
d. Teknik Terapi perilaku ABA
Berikut adalah tehnik terapi perilaku ABA:
1) Terapi memberi suatu stimulus atau ransangan berupa intruksi ke anak
yang memperhatikan terapis tugas di tangannya.
28
2) Stimulus bini mungklin diikuti oleh prompt untuk menimbulkan
respon yang dimaksud.
3) Anak berespon benar/tepat atu salah/tidak tepat, atau tidak berespon
(dianggap salah).
4) Terapis berespon dengan memberi imbalan atas respon anak, yaitu
memberi hadiah jika benar dan mengatakan “tidak” jika salah.
5) Tiap materi yang diajarkan, dimulai dengan pemberian intruksi oleh
terapis, tunggulah selama 5 detik. Bila tidak ada respon dari anak,
lanjutkan dengan intruksi ke-2 lalu tunggu lagi 5 detik. Bila tetap
belum ada respon dari anak, lanjutkan dengan intruksi ke-3 lansung
prompt dan berilah imbalan.
Beberapa hal yang ada dalam teknik terapi perilaku ABA:
1) Intruksi
Intruksi yang diberikan singkat, jelas, konsisten, dan hanya diberikan
sekali, jangan diulang-ulang. Yang dimaksud singkat adalah intruksi
hanya terdiri dari kata, misalnya “tiru”, “lihat”, “masukkan”,
“samakan”, “buka”, “tunujuk”, dan “biru’’ dengan prompt. Berikan
dengan suara netral, cukup keras, dan tegas, tetapi tidak membentakbentak. Intruksi yang diberikan harus sesuai dengan apa yang ingin
diajarkan dan hanya mengajarkan satu aktivitas.
2) Respon
Dalaam merespon intruksi terapis, anak mungkin melakukan dengan
benar, setengah besar, salah satu tidak merespon sama sekali, yang
29
juga dinilai salah. Secara umum, jika anak salah merespon, biarkan
sekitar 2-3 detik untuk anak memulai responnya, berikan umpan balik
lisan ringan “tidak”, kemudian berikan umpan balik lisan ringan
“tidak’’, kemudian berikan intruksi yang ketiga kali dan harus
bersamaan dengan prompt, seperti sentuhan di lengan atau tangan,
atau bantuan penuh pada tangan (hand over hand), setelah itu berikan
imbalan.
3) Prompt ( bantuan, dorongan, dan arahan)
Prompt adalah setiap bantuan yang diberikan pada anak untuk
menghasilkan respon yang benar. Prompt merupakan tambahan, jadi
tidak selalu digunakan jika memang tidak diperlukan, bahkan saat
pertama latihan pun. Beberapa anak memerlukan tambahan bantuan
untuk melakukan keterampilan atau perilaku yang dingginkan.
Sebagai contoh, jika intruksi “pegang hidung” diberikan dan anak
tidak merespon, terapis dapat melakukan prompt secara fisik dengan
menggerakkan tangan anak ketika memberi intruksi “pegang
hidung’’.
a) Jenis Prompt
(1) Prompat lisan
(2) Prompt contoh
(3) Prompt fisik
(4) Prompt dengan menunjuk
(5) Prompt visual
30
(6) Prompt posisi
(7) Prompt dengan ukuran benda
b) Pengurangan prompt
Ada empat cara pengurangan prompt secara bertahap (graduated
guidance) antara lain:
(1) Dari banyak ke sedikit (most to least)
(2) Dari sedikit kebanyak (leats to most)
(3) Perlambatan waktu (time delay)
(4) Perbedaan imbalan (differential reinforcement)
c) Petunjuk penggunan prompt
Adapun petunjuk penggunaan adalah sebagai berikut:
(1) Gunakan prompt yang paling minimal dan alami. Misal jika
anak melaksankan respon yang benar dengan suatu Prompt
visual, seperti terapis memandang ke kartu yang benar, jangan
gunakan prompt fisik.
(2) Hilangkan sedikit demi sedikit prompt dengan segera jika
tidak bisa lebih awal.
(3) Simpan imbalan yang sangt besar untuk perilaku yang muncul
tanpa suatu prompt. Anak akan termotivasi untuk tidak
bergantung pada prompt karena imbalannya jauh lebih besar.
(4) Berikan prompt dan perintah pada saat sama atau berdekatan.
Prompt harus berpasangan dengan intruksi.
31
(5) Variasikan Prompt. Ganti Prompt dari uji-coba yang satu ke
yang lainnya. Ganti Prompt dari yang lebih tegas ke yang
kurang tegas. Hilangkan sedikit demi sedikit Prompt dengan
cara ini, sampai kemudian dihilangkan.
d) Imbalan (Reward)
Imbalan mempunyai dua aspek terpenting, yaitu jenisnya dan
bagaimana cara memberikannya.
(1) Jenis Imbalan
(a) Imbalan Positif
Imbalan yang diberikan setelah suatu perilaku, kemudian
akan meningkatkan perilaku tersebut.
(b) Imbalan Negatif
Imbalan yang jika diberikan maka anak tidak akan
meningkatkan perilaku tersebut.
(2) Pemadaman (Extinction)
Pemadaman berarti suatu stimulus yang merupakan suatu
imbalan yang tidak lagi diberikan.
Contohnya : jika selama ini anak mendapatkan perhatian
terhadap amukan ( tantrum ) dan perhatian tersebut sebagai
reward positif sehingga anak memelihara tantrumnya maka
cara efektif untuk menghilangkannya adalah dengan tidak lagi
memberikan perhatian saat anak tantrum.
Berikut ini adalah 3 hal penting pada pemadaman:
32
(a) Prinsip pemadaman adalah pengurangan bertahap dari
kekuatan perilaku tersebut bukan suatu penurunan tajam
dan dramatis seperti ciri hukuman.
(b) Biasanya, pada awal pemadaman terdapat peningkatan
kekuatan
perilaku
karena
anak
semakin
berusaha
mendapatkan kembali imbalan.
(c) Anak akan lebih kreatif pada usahanya untuk memperoleh
perhatian untuk amukkannya.
(3) Hukuman ( Punishment)
Hukuman merupakan perlakuan terhadap kekerasan dari
perilaku yang tidak di kehendaki dengan harapan terjadi
penurunan kekerasan dari perilaku yang tidak dikehendaki
tersebut. Bentuk hukuman dapat berupa kata “tidak’’,
Berikut ini beberapa pertimbangan dalam penggunaan
hukuman:
(a) Jika tidak ingin membiarkan suatu perilaku berlanjud,
misalnya anak dengan lajak-diri berat atau sangat agfresif.
(b) Jika prosedur lainnya telah gagal, seperti pemadaman dan
lainnya.
(c) Sebaiknya gunakan hukuman yang paling rinagan, yang
terbukti efektif untuk suatu perilaku tertentu.
(4) Time Out
33
Time
Out
berarti
menghilangkan
kesempatan
anak
mendapatkan imbalan.
Contohnya : jika anak berperilaku mengacau di kelas atau
ruang terapi, segera pindahkan anak kesuatu kamar yang tidak
ada orang, mainan, atau benda /aktivitas yang mempunyai
potensi memberikan imbalan.
(5) Cara memberikan imbalan (Reward)
Adapun cara memberikan imbalan/reward :
(a) Imbalan harus tergantung perilaku dan diberikan setelah
terjadinya perilaku tersebut
(b) Pelaksanaan harus konsisten. Imbalan diberikan dengan
cara yang sama dan bersamaan dengan perilaku yang
sama pada setiap saat.
(c) Pemberian imbalan jangan bermakna ganda.
(d) Imbalan haru mudah dibedakan oleh anak,(Bonny
Danuatmadja, 2003 )
e. Penilaian Perkembangan Terapi Perilaku ABA
Pada terapi perilaku ABA terdiri dari siklus yang dimulai dengan
intruksi oleh terapis, tunggulah selama 5 detik dan lihat respon anak. Bila
tidak ada respon dari anak, lanjutkan dengan untruksi ke-2 lalu tunggu
lagi 5 detik. Bila tetap tidak ada respon dari anak, lanjutkan dengan
intruksi ke-3, lansung prompt dan berilah imbalan. Secara skematis bisa
digambarakan sebagai berikut:
34
1) Siklus Penuh
Intruksi ke-1 tunngu 5 detik  bila respon anak tak ada, lanjutkan
dengan intruksi ke-2  tunggu 5 detik bila respon masih belum
ada, lanjutkan dengan intruksi ke-3  lansung Prompt dan segera
berikan Imbalan pencacatan hasil terapi diatas adalah P
2) Silus Tidak Penuh
Intruksi ke-2 tunggu 5 detikbila respon anak masih belum ada,
lanjutkan dengan Intruksi ke-3 anak bisa melakukan tanpa
Promptsegera berikan Imbalan
3) Siklus Pendek
Interuksi ke-3anak bisa melakukan tanpa Promptsegera berikan
Imbalan
Pencacatan hasil terapi diatas adalah A
Hasil dari siklus adalah P karena anak masih memerlukan Prompt
suara dan prompt fisik. Hasil dari siklus ke-2 dicacat juga sebagai P+
karena masih ada Prompt suara. Dan hasil siklus ke-3 yang diberi nilai
A (Achieved), yang berarti anak mampu melakukan apa yang
dintruksikan secara mandiri.
Apabila dapat dicapai siklus ke-3 berturut turut 3 kali tanpa
diselingi oleh terjadinya siklus pertama dan siklus ke-2, maka
tercapailah keadaan mastered
bagi anak. Setelah anak mendapatkan
keadaan mastered maka latihan materi yang bersangkutan dapat
dihentikan dan dilanjutkan ke materi berikutnya.
35
f. Faktor yang Mempengaruhi Keefektifitan terapi
Melalui terapi anak autis akan mengalami kemajuan seperti anak
normal lainnya. Keefektifan terapi tergantung beberapa faktor berikut
ini:
1) Berat-ringannya gejala. Hal ini tergantung padda berat – ringannya
gangguan di dalam sel otak sendiri.
2) Usia. Diagnosa ini sangat lah penting, sebab semakin muda umur
anak pada saat terapi dimulai, semakin besar kemungkinan untuk
berhasil. Dikatan bahwa usia ideal adalah antara usia 2-5 tahun,
dimana sel otak bisa dirangsang untuk membentuk cabang-cabang
neuron baru.
3) Kecerdasan. Makin cerdas anak tersebut makin cepat dia bisa
mengungkap hal-hal yang diajarkan kepadanya.
4) Kemampuan bicara ddan berbahasa. Tidak semua penyandang
autisme berhasil mengembangkan fungsi bicara dan berbahasanya.
Dua puluh persen dari penyandang autisme tidak mampu bicara
seumur hidup, namun ada pula yang bisa bicara dengan lancar.
Mereka yang fungsi bicara dan berbahasanya baik, tentu saja lebih
mampu diajar berkomunikasi.
5) Insensitas terapi. Penangngan pada penyandang autis harus
dilakukan dengan sangat sensitif. Beberapa pakar mengatakan bahwa
terapi sebaiknya dilakuka 4-8 jam sehari sehari. Namun disamping
itu, seluruh keluarga pun harus ikut terlibat melakukan komunikasi
36
dengan anak sejak anak tersebut bangun pagi hingga siap tidur pada
malam hari, (Maulana, 2010)
3. Interaksi sosial
a. Pengertian
Interaksi sosial adalah hubungan antar manusia dalam bentuk
tindakantindakan berdasarkan nilai-niai atau norma sosial yang berlaku
dimasyarakat
mempengaruhi
yang menghasilkan
dan
hubungan
suatu
tetap
proses
yang pada
pengaruh
akhirnya
memungkinkan pembentukan struktur sosial (Sunaryo, 2004).
Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu
atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi,
mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau
sebaliknya (Gunarsa, 2008a). Interaksi sosial meliputi hubungan
individu dan individu, individu dan kelompok, kelompok dan kelompok
dalam bentuk kerja sama, persaingan atau pertikaian (Sitorus dalam
Sunaryo, 2004)
b. Jenis Interaksi Sosial
Menurut Sunaryo (2004), interaksi sosial dibagi menjadi tiga jenis,
yaitu:
1) Interaksi antara individu dan individu
Interaksi ini terjadi pada saat dua individu bertemu, baik
adanya tindakan maupun tanpa tindakan. Hal yang terpenting
adalah individu sadar bahwa ada pihak lain yang menimbulkan
37
perubahan pada diri individu tersebut yang dimungkinkan
oleh
faktor–faktor tertentu, misalnya bunyi sepatu atau bau parfum
yang menyengat
2) Interaksi antara individu dan kelompok
Bentuk interaksi ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Interaksi
ini terlihat mencolok
pada
saat
terjadi
benturan
antara
kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok.
3) Interaksi antara kelompok dan kelompok
Kelompok merupakan suatu kesatuan, bukan pribadi. Ciri kelompok
adalah ada
pelaku
lebih
dari
satu,
komunikasi
dengan
menggunakan simbol, ada tujuan tertentu dan ada dimensi
waktu yang menentukan sifat aksi yang sedang berlangsung.
c. Bentuk Interaksi Sosial
Menurut Soekanto dalam Sunaryo (2004), terdapat beberapa
bentuk interaksi sosial, yaitu:
1) Kerja sama (cooperation)
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara individu
dengan individu lain atau kelompok untuk mencapai tujuan
bersama.
Kerja
sama
timbul
karena adanya
kepentingan
bersama. Kerja sama merupakan salah satu bentuk interaksi
sosial yang utama. Bentuk-bentuk kerja sama yaitu:
a) kerja sama spontan, yaitu kerja sama yang timbulnya secara
spontan;
38
b) kerja sama langsung, yaitu kerja sama atas dasar perintah
penguasa atau atasan
c) kerja sama kontrak, yaitu kerja sama karena ada kepentingan
atau tujuan tertentu
d) kerja sama tradisional, yaitu kerja sama sebagai unsur
sistem sosial, misalnya tolong menolong dan gotong royong.
2) Akomodasi atau penyesuaian diri (accommodation)
Akomodasi
merupakan
usaha-usaha
untuk
meredakan
pertentangan dan mencapai kestabilan. Tujuan akomodasi adalah
untuk mengurangi pertentangan dan memungkinkan terjadinya kerja
sama.
3) Persaingan (competition)
Persaingan adalah proses sosial dimana individu atau
kelompok manusia saling bersaing, mencari keuntungan melalui
bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat
perhatian umum dengan cara menarik perhatian publik. Fungsi
persaingan yaitu menyalurkan keinginan individu atau kelompok
yang
bersifat
kompetitif,
mengadakan
seleksi,
menyaring
golongan fungsional, sebagai jalan agar keinginan, kepentingan dan
nilai-nilai tersalurkan dengan baik.
4) Pertentangan atau pertikaian (conflic)
Pertentangan atau pertikaian adalah proses sosial dimana
individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya
39
dengan
jalan
menantang pihak lawan yang disertai dengan
ancaman. Penyebab terjadinya pertentangan adalah perbedaan antar
individu,
kepentingan,
Pertentangan dapat
kebudayaan,
dan
perubahan sosial.
mengakibatkan menurunnya solidaritas,
goyah atau retaknya persatuan kelompok, perubahan kepribadian
individu, akomodasi, dominasi dan takluknya salah satu pihak
d. Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial
Sunaryo (2004) menyatakan terdapat
4 faktor penting yang
mendasar dalam interaksi sosial, yaitu:
1) Imitasi
Imitasi adalah proses belajar dengan cara meniru atau mengikuti
perilaku orang lain. Imitasi dapat mengarah kepada hal-hal yang
positif atau negatif. Imitasi
yang
positif
akan
mendorong
seseorang untuk mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang
berlaku.
Imitasi
yang
negatif
mengakibatkan
terjadinya
penyimpangan-penyimpangan dan melemahkan pengembangan daya
kreasi seseorang.
2) Identifikasi
Identifikasi adalah usaha seseorang untuk menerapkan normanorma, sikap, cita-cita atau pedoman-pedoman tingkah laku
dalam
bermacam-macam situasi
kehidupannya.
Identifikasi
dari
orang
lain
kedalam
merupakan keinginan dalam diri
40
seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Proses ini dapat
berlangsung dengan sengaja atau tanpa sengaja.
3) Simpati
Simpati adalah perasaan tertarik yang timbul dalam diri seseorang
dan membuatnya seolah-olah berada dalam keadaan yang sama.
4) Sugesti
Sugesti adalah cara pemberian suatu pandangan atau pengaruh oleh
seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga
orang tersebut mengikuti tanpa berpikir panjang
e. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial
Interaksi sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1) Motivasi
Motivasi
merupakan
kekuatan
dalam
diri
seseorang
yang
menggerakkan seseorang untuk berbuat sesuatu. Motivasi yang
dimiliki
seseorang
mampu mempengaruhi seseorang untuk
melakukan interaksi sosial.
2) Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin bisa mempengaruhi interaksi seseorang
terhadap orang lain. Contohnya, laki-laki cenderung menghindari
sekelompok perempuan
kosmetik,
yang
sedang
sebaliknya perempuan
membicarakan
cenderung
menghindar
percakapan laki-laki tentang sepak bola atau otomotif.
3) Lingkungan
tentang
dari
41
Lingkungan yang dimaksud adalah kondisi sekitar individu baik
lingkungan alam,
kebudayaan,
mempengaruhi proses sosialisasi.
dan
masyarakat
Kondisi
yang
lingkungan
dapat
sekitar
tidak menentukan, tetapi mampu mempengaruhi dan membatasi
proses sosialisasi seseorang.
4) Nilai
Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku. Nilai tersebut
adalah apa yang dianggap sehingga penting dalam hidup oleh
seseorang dan pengaruh dari ekspresi pemikiran dan ide.
5) Latar belakang sosiokultural
Budaya merupakan bentuk kondisi yang menunjukkan dirinya
melalui tingkah laku. Budaya mempengaruhi
anak dalam
melakukan interaksi dengan lingkungan sosialnya
f. Proses Interaksi Sosial
Soekanto
dalam
Sunaryo
(2004),
menyataan
ada
dua
syarat
terjadinya interaksi sosial, yaitu:
1) Komunikasi
Pemahaman makna dari pesan yang disampaikan harus ada dalam
komunikasi. Komunikasi hampir sama dengan kontak sosial, tetapi
adanya kontak sosial belum tentu terjadi komunikasi. Kontak tanpa
komunikasi tidak memiliki arti.
42
2) Kontak sosial
Kontak sosial merupakan aksi individu dalam bentuk isyarat yang
memiliki makna bagi pelaku dan penerima memberikan reaksi.
Kontak sosial dapat bersifat positif dan negatif. Kontak sosial
positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial
negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik
g. Cara mengukur kemampuan interaksi sosial anak autis
Kemampuan interaksi sosial anak autis
dapat diukur dengan
menggunakan check list dari Autism Treatment Evaluation Checklist
(ATEC), yang meliputi (Handojo, 2003):
1)
Tidak merespon bila dipanggil
2)
Mengabaikan orang lain
3)
Perhatian kurang
4)
Tidak kooperatif
5)
Kontak mata kurang
6)
Suka menyendiri
7)
Tidak bisa menyapa orang lain
8)
Menghindari kontak dengan orang lain
9)
Tidak dapat meniru
10) Menolak untuk dipeluk
11) Tidak dapat berbagi
12) Tidak dapat mengalah
13) Temper tantrum
43
14) Jarang tersenyum
15) Tidak sensitif pada perasaan orang lain
16) Tidak tertarik pada mainan
17) Ekspresi muka kurang hidup
18) Gerak-gerik kurang tertuju
19) Menangis/tertawa tanpa sebab
20) tidak bisa bermain dengan teman sebaya.
4. Hubungan terapi ABA dengan kemampuan interaksi sosial
Ketidakmampuan berinteraksi sosial merupakan salah satu dari
trias autis. Trias autis meliputi gangguan kualitatif dalam interaksi
sosial, perilaku, komunikasi dan bahasa (Astuti, 2009). Gangguan
interaksi pada anak autis ditunjukkan dengan kontak mata yang sangat
kurang, tidak bisa bermain dengan teman sebaya, tidak bisa berempati
dan kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan timbal balik.
Karakteristik yang sangat menonjol pada anak-anak autistik ini adalah
terisolasinya dia dari lingkungan sosialnya. Anak autis akan terlihat
tidak
ceria
dalam
hidupnya
sebagai
layaknya
anak -anak
yang
seusianya yang masih gemar bermain. Mereka tidak pernah menaruh
perhatian
atau keinginannya untuk menghargai perasaan orang lain
(Yuwono, 2009).
Anak autis akan menghindari orang sekitarnya dan akan berusaha
menghindar dari pertemuan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya,
dengan kata lain bahwa kehidupan sosial anak-anak autis ini selalu aneh
dan sulit diterima oleh masyarakat. Kondisi tersebut mengakibatkan anak
44
autis memerlukan suatu pembelajaran untuk melatih kemampuan anak
dalam melakukan interaksi sosial (Yuwono, 2009)
Bentuk terapi yang dapat diberikan pada anak autis dengan gangguan
dalam interaksi sosial salah satunya adalah dengan metode ABA. Metode
ABA adalah metode tata laksana perilaku (Handojo, 2003). Dasar dari
metode ini adalah menggunakan pendekatan teori behavioral, dimana
pada tahap penanganan dini ditekankan pada kepatuhan, keterampilan
anak dalam meniru dan membangun kontak mata (Yuwono, 2009).
Terapi perilaku ABA dikatakan berpengaruh diberikan pada anak bila
seseorang anak dapat mencapai nilai A (Achieved) secara 3 kali berturutturut tanpa diselingi prompt. Keadaan tersebut dikatakan keadaan mastered
yang berarti anak berhasil melakukan intruksi secara mandiri. Apabila anak
telah mencapai keadaan mastered maka pemberian materi dapat
dijlanjutkan ketahap selanjutnya, (Handojo, 2009)
Jika seseorang anak autis terlambat mendapatkan intervensi hingga
dewasa maka gejala autisme dapat semakin parah, bahkan tak
tertanggulangi. Semakin muda usia anak pada saat terapi dilakukam,
semakin besar pula peluang untuk berhasil. Usia yang efektif dilakukan
terapi adalah 2-5 tahun, saat sel otak masih bisa diransang untuk membantu
perkembangan cabang-cabang neuron baru dalam menerima informasi
yang disampaikan. Namun bukan berarti bahwa anak autis yang berusia
lebih dari 5 tahun harus dibiarkan tanpa adanya intervensi, karena tidak ada
alternatif lain, maka sekalipun umur anak melebeihi 5 tahun, terapi harus
dilakukan sekalipun tidak secepat pada usia ideal. Pada usia 5-7 tahun
45
perkembangan otak anak melambat menjadi 25% dari usia sebelum 5 tahun
(Handojo,2003).
Mendidik anak autis dengan mengajarkan perilaku dasar adalah
memberikan stimulasi sensori dan motoris yang cukup, kosisten, dan
berkelanjutan. Stimulasi yang terus-menerus dan menyenangkan akan
direkam oleh otak anak, yang lama-kelamaan akan membentuk engram
sensori maupun motorik. Dengan terbentuknya rekaman yang solid dan
stabil maka proses respon prilakau akan berjalan secara otomatis.
B. Kerangka Konsep
Berdasarkan latar belakang dan tinjuan pustaka di atas, maka kerangka
konsep pada penelitian ini adalh sebagai berikut:
Sebelum Terapi
Kemampuan
Interaksi Sosial
Setelah Terapi
Terapi ABA
Gambar 1.
Kerangka Konsep penelitian
Kemampuan
Interaksi Sosial
46
C. Definisi Operasional Penelitian
1. Terapi ABA
Terapi ABA adalah metode tatalaksana perilaku berdasarkan
aplikasi
ilmu
meningkatkan
pengetahuan
atau
mengenai
menurunkan
perilaku
perilaku
yang
tertentu,
bertujuan
meningkatkan
kualitasnya, menghentikan perilaku yang tidak sesuai, dan mengajarkan
perilaku-perilaku baru
Teknik melakukan terapi ABAsebgai berikut:
1) Buatlah jam belajar yang menyenangkan dan pertahankan.
2) Siapkan rencana belajar yang berhubungan dengan tugas yang
diajarkan dan lembar penilaian untuk memonitor kemajuan.
3) Siapkan dua buah kursi kecil, satu untuk anak dan satu untuk terapis.
4) Duduklah disalah satu kursi dan dudukan anak menghadap ke anda.
5) Kaitkan kedua tumit anda ke kaki depan kursi anak, agar posisi kedua
kursi tidak mudah berubah.
6) Mulailah dengan menekankan keterampilan, seperti tetap di kursi dan
mengikuti perintah.
7) Hindarkan tugas yang mengakibatkan bahan-bahan yang mudah
patah, dilempar, atau digunakan secara tidak sesuai.
8) Anak perlu sering diberi pujian untuk hanya duduk di kursi, membuat
kontak mata, dan mengikuti
perintah. Jika anak berusaha
meninggalkan kursi, berikan prompt fisik pada anak untuk kembali
duduk.
47
9) Saat terapi semua anak pasti melakukan amukan (tantrum), jangan
sampai menghentikan aktivitas belajar dan acuhkan sampai anak
tenang.
2. Variabel Penelitian
Tabel 1
Defenisi Operasional
No
1
Variabel
Kemampuan
Interaksi
Sosial
Defenisi
Operasional
Suatu bentuk
hubungan
interaksi yang
dilakukan oleh
anak penderita
autis dengan
teman
temannya
(penderita
autis yang
lain)
Cara
Ukur
Observasi
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala
Lembar
Observasi
Skor
kemempun
interaksi
sosial anak
sebelum
dan
sesudah
dilakukan
Terapi
ABA
Rasio
D. Hipotesis
Ho
: Tidak ada pengaruh terapi
ABA (Applied Behavior Analysis)
terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis di klinik autis
RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016.
Ha
: Ada pengaruh terapi
ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap
kemampuan interaksi sosial pada anak autis di klinik autis RSJKO
Soeprapto Bengkulu tahun 2016.
48
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilakukan di klinik autis Rumah Sakit Jiwa Soeprapto
Bengkulu pada 16 aguatus – 16 September Tahun 2016
B. Desain Penelitian
Jenis
penelitian
yang
dilakukan
dalam
penelitian
ini
adalah
penelitian pre experimental dengan rancangan one group pretest posttest
yaitu rancangan yang tidak ada kelompok pembanding (kontrol) namun sudah
dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan peneliti dapat
menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah eksperimen dilakukan
(posttest). Pengukuran yang dilakukan sebelum eksperimen (P1) disebut
pretest. Perlakuan
yang diberikan berupa
kemampuan bersosialisasi. Setelah diberikan
pemberian metode
ABA:
metode ABA: kemampuan
bersosialisasi, peneliti mengukur kembali kemampuan interaksi sosial anak
autis tersebut (P2) disebut posttest.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak penderita autis
yang berjumlah 31 orang, yang melakukan terapi di Rumah Sakit Jiwa
Soeprapto Bengkulu tahun 2016.
47
49
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini menggunakan Total Sampling sebanyak
31 orang, yaitu semua anak autisme yang di terapi di klinik autis RSJKO
Soeprapto Bengkulu.
D. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil
observasi langsung pada anak autis yang di terapi di klinik autis RSJKO
Soeprapto Bengkulu.
E. Teknik Pengolahan dan Analisa Data
1. Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Editing yaitu melihat apakah isi data pada lembar cek list yang akan
diolahtersebut tersedia lengkap dan apakah sudah relevan dengan tujuan
penelitian
b. Coding yaitu pemberian code pada lembar cek list yang telah di edit.
c. Tabulating yaitu mentabulasi data berdasarkan kelompok data yang
telah ditentukan ke dalam master tabel.
d. Entry yaitu memasukkan data yang sudah dilakukan editing dan
codingtersebut kedalam computer
e. Cleaning yaitu memastikan apakah semua data sudah siap untuk di
analisis.
50
2. Teknik Analisis Data
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran
interaksi sosial pada anak autis sebelum dan sesudah terapi ABA
(Applied Behavior Analysis) di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu
b. Uji Normalitas
Sebelum dilakukan analisis bivariat, terlebih dahulu dilakukan
uji normalitas. Untuk menguji kenormalan data kememampuan
interaksi sosial sebelum dan sesudah dilalukan terapi ABA akan
dilakukan uji Shapiro-wilk, karena sempel yang diperoleh kurang dari
50 dan data berdistribusi normal jika nilai signifikansi lebih besar dari
taraf signifikansi 0,05 (p > α) dari masing masing variabel.
c. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui pengaruh terapi
ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial
pada anak autis yang diterapi di klinik autis RSJKO Soeprapto
Bengkulu tahun 2016 menggunakan Compared Mean Paired T Test
Download