1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memiliki buah hati yang sehat, aktif, dan cerdas adalah impian setiap orang tua. Sayangnya, karena beberapa faktor, impian ini tidak bisa diwujudkan. Sang buah hati lahir dengan kelainan yang mengakibatkan gangguan pada kemampuan motorik maupun sensoriknya seperti autisme. Anak autisme sama dengan anak-anak lainnya. Mereka membutuhkan bimbingan dan dukungan yang lebih dari orang tua dan lingkungannya untuk tumbuh dan berkembang agar dapat hidup mandiri. Autisme hanya satu dari begitu banyak kelainan, baik yang diketahui saat dilahirkan atau dikemudian hari (Danuatmadja, 2003). Autisme adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis perkembangan pervasif pada anak yang mengakibatkan ganguan atau keterlambatan pada bidang kognitif, bahasa, peilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Kondisi seperti ini tentu akan sangat mempengaruhi perkembangan anak, baik fisik maupun mental. Autisme adalah ganguan perkembangan yang kompleks yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak sehingga mengakibatkan ganguaan perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensori dan belar. Biasanya gejala sudah mulai tampak pada anak berusia di bawah 3 tahun. Anak autisme sama dengan anak- anak lainnya, mereka membutuhkan bimbingan dan dukungan yang lebih dari orang tua dan 1 2 lingkungan untuk tumbuh dan berkembang agar dapat hidup mandiri, (Ginanjar, 2002). Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalensi autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan1 diantra 1000 anak. Di Pensylavia, Amerika Serikat jumlah anak autisme dalam lima tahun terkhir meningkat 500% menjadi 40 dari 10.000 kelahiran. Di California pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus anak autisme perharinya. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autisme meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantra 10 anak menyandang autisme. Beberapa penel;itian di negara berkembang memperkirakan 15-20 dari 1000 anak mengalami gangguan autisme, bahkan dikota kota tertentu angka tersebut mencapai 1/250 anak atau 60 kasus/10000 kelahiran (Judarwanto, 2006). Di Indonesia, dalam suatu wawancara di Koran Kompas; Dr. Melly Budhiman, seorang Psikiater Anak dan Ketua Yayasan Autisme Indonesia menyebutkan adanya peningkatan yang luar biasa. “ Bila seepuluh tahun yang lalu jumlah penyandang autisme diperkirakan 1/5.000 anak, sekarang menjadi 1/500 anak”. Tahun 2000 yang lalu, Dr. Ika Widyawati; staf bagian psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memperkirakan terdapat kurang lebih 6.900 anak penyandang autisme di Indonesia (Kompas, 2008). Di Provinsi Bengkulu terdapat beberapa tempat yang membuka layanan terapi autis untuk anak autis diantranya klinik autis RSKJO Seoprapto dan Yayasan Mutiara Bunda. Setelah peneliti melakukan studi pendahuluan 3 didapatkan pada pada tahun 2013 terdapat 139 anak autis dan tahun 2015 terdapat 144 anak. Diantara anak autis yang didata di sub rekam medis, beberapa anak melakukan terapi di klinik autis RSKJO Soeprapto Bengkulu diantanya pada tahun 2014 terdapat 45 anak dengan usia 2-5 tahun ada 18 anak dan 6-10 tahun ada 21 anak. Pada tahun 2015 terdapat 52 anak dengan usia 2-5 tahun ada 41 anak dan 6-10 tahun ada 22 anak. Di Klinik Autis RSKJO Soeprapto Bengkulu dilakukan metode terapi ABA (Applied Behavior Analysis) dan menerima anak dengan udia antara 2-10 tahun (Sub Rekam Medis RSJKO Soeprapto, 2015). Salah satu terapi penting bagi anak autis badalah terapi perilaku ABA. Terapi ini sudah dikenal ini sudah dikenal luas karena hasilnya memuaskan. Terapai ABA sering digunakan untuk penanganan anak autistik. Terapi ini sangat representatif bagi penanggulanagan anak spesial dengan gejala autisme. Sebab, memilki prinsip yang terukur, terarah dan sistematis, juga variasi yang diajarkan luas, sehingga dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, sosial dan motorik halus maupun kasar (Danuatmaja, 2003). Terapi ABA adalah metode tatalaksana perilaku yang berkembang sejak puluhan tahun yang lalu, ditemukan oleh seorang psikolog Amerika, Universitas California Los Angles, Amerika Serikat yang bernama Ivar O.Lovaas. Sekitar tahun 1970, ia melalui eksperimen dengan cara mengaplikasikan teori B.F. Skinner Operant Conditioning. Di dalam teori ini disebutkan suatu pola perilaku akan menjadi mantap jika perilaku itu di peroleh 4 si perilaku (penguat positif) karena mengakibatkan hilangnya hal-hal yang tidak diinginkan (penguat negatif). Melalui terapi perilaku ABA, anak autis akan mengalami kemajuan seperti anak normalnya karena metode ini memiliki kelebihan dibandingkan metode lainnya. Metode ini bersifat terstruktur, kurikulumnya yang jelas, dan keberhasilannya dapat dinilai secara objektif (Muslimah, 2009). Berdasarkan uraian di diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis yang diterapi di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis menetapan rumusan masalah yaitu apakah terdapat pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016 ?. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mempelajari pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016. 5 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui gambaran interaksi sosial pada anak autis sebelum terapi ABA (Applied Behavior Analysis) di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016 b. Untuk mengetahui gambaran interaksi sosial pada anak autis sesudah terapi ABA (Applied Behavior Analysis) di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016 c. Untuk mengetahui pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016 D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Untuk menambah pengetahuan dan wawasan serta pengalaman bagipeneliti sendiri dalam melakukan penelitian sederhana secara sistematis tentang pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis. 2. Bagi Institusi Pendidikan STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu Penelitian ini nantinya diharapakan menambah literatur danbanhan kajian bagi mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti khususnya tentang pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis 3. Bagi Institusi Klinik Autis RSJKO Soeprapto Bengkulu 6 Memberikan informasi bagi Klinik Autis RSJKO Soeprapto Bengkulu mengenai pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis. 7 BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Kajian Teori 1. Autisme a. Pengertian Autis Istilah autisme berasal dari kata autos yang berarti dari diri sendiri dan isme yang berarti paham. Ini berarti bahwa autisme memilki makna keadaan yang menyebabkan anak-anak hanya memiliki perhatian terhadap dirinya sendiri. Autisme juga diartikan sebagai ganguan perkembangan komplek yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, prilaku, kemampuan sosialisasi, sensori dan belajar. Anak autisme sama dengan anak lainnya, mereka membutuhkan bimbingan dan dukungan yang lebih dari orang tua dan lingkungannya untuk tumbuh dan berkembang agar dapat hidup mandiri. Autisme hanya satu dari begitu banyak kelainan,baik yang diketahui saat anak dilahirkan atau ditemukan di kemudian hari.(Ginanjar,2002). Menurut Handojo(2008) autis berasal dari berasal dari bahasa yunani yaitu “auto” yang artinya sendiri. Penyandang autisme seakanakan hidup di dunianya sendiri. Menurut D.S. Prasetyono (2008) Autisme merupakan suatu kumpulan sindrom yang menganggu saraf. Penyakit ini menganggu 6 8 perkembangan anak, diagnosisnya diketahui dari gejala-gejala yang tampak dan ditunjukkan dengan adanya penyimpangan perkembangan. Ganguan autisme mulai tampak sebelum usia 3 tahun dan 3-4 kali lebih banyak pada anak laki-laki, tanpa memandang lapisan sosial ekonomi, tingkat pendidikan orang tua, ras, etnik maupun agama. Dengan ciri fungsi abnormal dalam tiga bidang: interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang, sehingga kesulitan mengungkapkan perasaan maupun keinginannya yang mengakibatkan hubungan dengan orang lain menjadi terganggu. Ganguan perkembangan yang dialami anak autistik menyebabkan tidak belajar dengan cara yang sama seperti anak lainnya seusianya dan belajar jauh lebih sedikit dari lingkunganya bila dibandingkan dengan anak lain. Autisme merupakan kombinasi dari beberapa kegagalan perkembangan, biasanya mengalami gangguan pada: 1) Komunikasi, perkembangan bahasa sangat lambat atau bahkan tidak ada sama sekali. Penggunaan kata-kata yang tidak sesusai dengan makna yang dimaksud. Lebih sering berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dari pada kata-kata. 2) Interaksi Sosial, lebih senang menyendiri dari pada bersama orang lain; menunjukan minat yang sangat kecil untuk berteman; respon terhadap isyarat sosial seperti kontak mata dan senyum kurang. 3) Perilaku, bisa berperilaku hiper-aktif ataupun hipo-pasif, marah tanpa sebab jelas, perhatian yang sangat besar pada suatu benda, 9 menampakkan agresi pada diri sendiri dan orang lain, mengalami kesulitan dalam perubahan rutinitas. 4) Gangguan Bermain, anak autistik umumnya kurang memiliki spontanitas dalam permainan yang bersifat imajinatif; tidak dapat mengimitasi orang lain; dan tidak mempunyai inisiatif. 5) Gangguan Sensorik, mempunyai sensitifitas indra (penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman dan perasa ) yang sangat tinggi atau bisa pula sebaliknya, (Bonny Danuatmadja, 2003) b. Klasifikasi Ada beberapa pendapat tentang klasifikasi anak autis ini, antara lain menurut Handojo (2008) klasifikasi anak dengan kebutuhan khususnya (Spesial Needs) adalah : 1) Autisma binfantil atau autisma masa kanak-kanak Tatalaksana dalam pengenalan ciri-ciri anak autis dia atas 5 tahun usia ini. Perkembangan otak anak akan sangat lambat. Usia paling ideal adalah 2-3 tahun, karena pada usia ini perkembangan otak anak berada pada tahap paling cepat. 2) Sindroma Aspeger Sindroma Aspeger mirip dengan autis infanil, dalam hal kurang interaksi sosial. Tetapi mereka masih mampu berkomunikasi cukup baik. Anak seperti ini, memperlihatkan perilakunya yang tidak wajar dan minat yang terbatas. 10 3) Anttention Deficit ( Hiperactive ) Disorder atau (ADHD). ADHD dapat diterjemahkan dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperakti- tivitas atau GPPH. Hiperktivitas addalah perilaku motorik yang berlebihan. 4) Anak “ Giftred” Anak Giftred adalah anak dengan intelegensi yang mirip dengan intelegensi yang super atau genius, namun memiliki gejalagejala perilaku mirip dengan autisma. Dengan intelegensi yang jauh diatas normal, perilaku mereka sering kali terkesan aneh. Menurut Bonny Danuatmadja ( 2003 ), Ada beberapa tipe Autisme berdasarkan perilakunya: a) Aloof Anak dengan autisme dari tipe ini senantiasa berusaha menarik diri dari kotak sosial, dan cenderung untuk menyendiri di pojok. b) Passive Anak dengan autisme tipe ini tidak berusaha mengadakan kontak sosial melainkan hanya menerima saja. c) Active but odd Pada tipe ini, anak melakukan pendekatan namun hanya bersifat satu sisi yang bersifat repetitif dan aneh. 11 c. Etiologi Penyebab autisme belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktoral. Seperti gangguan perkembangan lainnya, autismee dipandang sebagai gangguan yang memiliki banyak sebab, ssekaligus penyebabnya tidak sama dari satu kasus ke kasus lainnya, padahal, penyebab-penyebab tunggal dari ganguan autisme. Bahkan hingga kini belum bisa ditegakkan penyebab pasti autisme, ( Kurniasih, 2002). Berikut adalah dugan penyebab autisme : 1) Kelainan Neuroanatomi dan biokimia otak a) Ukuran kepala Penyandang autis sering menunjukkan ukuran kepala yang agak besar, walaupun bahkan makrosefali (Courchence,2001). Permeriksaan dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) menunjukan volume otak yang lebih besar. Namun otak yang besar atau kecil bukanlah sesuatu gejala yang khas pada autis. b) Cerebellum Pemeriksaan MRI yang dilakukan oleh Erix Courchense (Departemen of Nueroscience School of Medicine, University of California, San Diego, 2001) didapatkan bahwa cerebellum pada sebagian besar penyandanag autis lebih kecil dari pada anak-anak normal, terutama pada lobus VI-VII ini banyak terdapat sel purkinye (Maulana,2010). 12 Cerebellum bertanggung jawab atas berbagai fungsi yaitu proses sensori, daya ingat, berfikir, belajar berbahasa daan proses atensi. Sehingga kelainan pada cerebellum menyebabkan penyandang autis sangat sulit memusatkan perhatian, namun sekali perhatian itu terpusat maka akan sulit baginya untuk mengalihkan perhatiannya (Melly Budiman, 2000) c) Batang Otak Hasimoto melaporkan ditemukan batang otak yang kecil disertai inti syaraf otak ke VII (syaraf facialis) yang lebih kecil. Ganguan syaraf facialis yang menyebabkan kelainan ekspresi wajah pada penyandang autis (Hardiono, 2001) d) Hipokampus dan Amygdala Beberapa peneliti menemukan berkurangnya ukuran sel neuro di hipokampus dan amygdala. Gangguan pada amygdala yang mengontrol fungsi agresi dan emosi menjadikan penyandang autis kurang dapat mengendalikan emosi. Sedangakan gangguan pada hipokampus bertanggung jawab dalam proses belajar dan daya ingat mengakibatkan tibulnya kesulitan dalam menyimpan informasi baru dalam memorinya dan terjadi perilaku yang berulang-ulang, aneh dan hiperaktif (Maulana, 2010). 2) Faktor Genetika Gejala autis pada anak disebabkan faktor keturunan. Setidaknya, telah ditemukan dua puluh gen yang terkait dengfan autisme. Hasil 13 penelitian terhadap keluarga anak kembar adanya faktor genetik yangf berperan dalam perkembangan autis pada anak kembar satu telur 0% pada penelitian terhadap keluarga ditemukan 2,5% - 3% autis pada saudara kandung. Penelitian terbaru menemukan peningkatan gangguan psikiatri pada anggota keluarga dari penyandang autis berupa peningkatan insiden gangguan afektif dan ansietas, juga peningkatan gangguan dalam fungsi sosial. Selain itu juga telah ditemukan adanya hubungan antara autis dengan suatu keaadaan abnormal dari kromosom X. Pada sindrom ini ditemukan kumpulan berbagai gejala, seperti retardasi mental dari ringan sampai berat, kesulitan belajar, daya ingat jangka pendek yang buruk, fisik yang abnormal pada 80% laki-laki dewasa, seranggan kejang dan hiperfleksi. Sering tampak pula gangguan perilaku seperti hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian, infulsif, dan ansietas. Gambaran autis seperti tidak mau bertukar pandangan, streotipik, penglihatan katakata dan perhatian yang terpusat pada suatu objek yang ditemukan. Walaupun sering demikian kedua kondisi tersebut masih diperdebatkan (Budiman, 2000) 3) Teori Psikosisial Teori yang ditemukan oleh Kenner menyebutkan adanya pengaruh psikogenetik sebagai penyebab autis, dikarenakan orang tua yang emosional, kaku dan obsesif yang mengasuh anak mereka dalam suatu atmosfir yang secara emosional kurang hangat bahkan dingin. 13 14 Hal ini dapat diakibatkan oleh rutinitas ibu sebagai wanita pekerja yang menuntut untuk tetap konsisten pada pekerjaan, mempertahankan kreativitas, hubungan dengan teman sekerja, pencapaian prestasi dan aktualisasi diri. Disamping itu peran lain yang harus dijalani sebagai istri dan sebagai ibu rumah tangga yang harus memberikan pengasuhan pada anak, (Marsa, 2002) 4) Keracunan logam berat Kandungan logam berat ini diduga sebagai penyebab kerusakan otak pada anak autis. Hal ini bisa terjadi karena adanya sekresi logfam berat dari tubuh terganggu secara genetik. Beberapa logam berat, seperti arsenic(as), antimony(sb), air raksa(hg), dan timbak(pb), adalah racun otak yang sangat kuat. Kemungkinan lain anak autis disebabkan karena keracunan merkuri (Hadiono, 2001) d. Patofisiologi Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai ank berusia sekitar dua tahun. Setelah terjadi proses pengaturan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson, denrit dan sinaps. Proses ini di pengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factor dan proses belajar anak. Makan banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari 15 lingkungan. Bagian otak yang digunakan dlam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit dan sinaps. Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses-proses tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalis pertumbuhan sel saraf. Pada pemeriksaan darah bayi baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neoropeptida otak yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dam perkembangan jalinan sel saraf. Banyak pakar telah sepakat bahwa pada otak anak dijumpai suatu kelainan pada otaknya, (Purwanti, 2007). Dari penelitian yang dilakukan oleh pakar dari banyak negara ditemukan beberapa fakta yaitu adanya kelainan anatomis pada lobus paratalis, cerebelum dari sistem limbik. 43% penyandang autisme mempunyai kelainan pada lobus parietalis otaknya, yang menyebabkan anak cuek terhadap lingkungannya. Kelainan juga ditemukan pada otak kecil (cerebellum) terutama pada lobus VI dan VII. Otak kecil bertanggungf jawab atas proses sensori, daya ingat, belajar, berbahasa, dan proses atensi (perhatian). Pertumbuham abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melporkan 16 berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemprosesan indra dan implus saraf) di otak kecil pada autisme. Pada penelitian pada otopsi, ditemukan bahwa sel-sel di dalam cerebellum, yang disebut sel p[urkinye, sangat sedikit jumlahnya, sedangkan sel-sel ini mempunyai kandungan serotonin (neurotransmitter yang bertanggung jawab untuk hubungan diantara sel-sel otak) yang tinggi. Pada 30% penyandang autisme, seronin kadarnya tinggi dalam darah dan dopamin diduga kadarnya rendah dalam darah. Selain itu pada anak autis juga mengalami penurunan kadar endrphin yang dibutuhkan dalam aktifis otak. Dengan kata lain ketidak seimbangan antara neurotransmitter di dalam otak akan menyebabkan kacaunya lalu lalang implus di dalam otak. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertubuhan akson, gilia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat), mielein sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Peningkatan brain derived neurotropic faktor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Peurkinye. Ditemukan pula kelainan yang khas di daerah sistem limbik yang disebut hippocampus dan amygdala terjadi gangguan fungsi kontrol terhadap agresi dan emosi. Anak kurang dapat mengendalikan emosinya, seringkali terlalu agresif atau sangat pasif. Amygdala juga bertanggung jawab terhadap berbagai ransangan sensori seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, perasa, dan rasa takut. Hippocampus 17 bertanggung jawab terhadap fungsi belajar dan daya ingat. Terjadilah kesulitan penyampaian informasi baru, (Maulana, 2010). e. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis yang ditemui penderita Autisme : 1) Penarikan diri, kemampuan komunikasi verbal (berbicara) dan nonverbal yang tidak atau kurang berkembang, serta kurangnya sosialisasi mempersulit estimasi potensi intelektual kelainan pola bicara, gangguan kemampuan mempertahankan percakapan, permainan sosial abnormal, tidak adanya empati dan ketidak mampuan berteman. Dalam tes nonverbal yang memiliki kemampuan bicara bagus namun masih dipengaruhi, dapat memperagakan kapasitas intelektual yang memadai. 2) Gerakan tubuh yang stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat yang sempit, keasyikan dengan bagian-bagian tubuh. 3) Anak biasa duduk pada waktu lama sibuk pada tangannya, menetap pada objek. Kesibukannya dengan objek berlanjut dan mencolok saat dewasa dimana anak tercenggang dengan objek mekanik. 4) Perilaku ritualistik dan konvulsif tercermin pada kebutuhan anak untuk memelihara lingkungan yang tetap (tidak menyukai perubahan), anak menjadi terkait dan tidak bisa dipisahkan dari suatu objek, dan dapat diramalkan. 5) Ledakan marah menyertai gangguan secara rutin. 18 6) Kontak mata minimal atau tidak ada 7) Pengamatan visual terhadap gerakan jari tangan, hilangnya respon terhadap nyri dan kurangnya respon terkejud terhadap suara keras yang mendadak menunjukkan sensitivitas pada ransangan lain. 8) Keterbatasan kogfnitif, pada tipe defisit pemprosesan kognitif tampak pada emosional. 9) Menunjukkan echolalia (mengulangi satu ungkapan atau kata secara tepat) saat berbicara, pembalikan kata ganti pronomial, berpusi yang tidak berujung pangkal, bentuk bahasa aneh lainnya berbentuk menonjol. 10) Intelegensi dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara fungsional. Sikap dan gerakan yang tidak biasa seperti mengepakkan tangan dan mengedipkan mata, wajah, yang menyeringai, melompat-lompat, berjalan-jalan, berjingkat-jingkat, (Aden, 2010). f. Kriteria Diagnostik Dalam DSM-IV-R, secara ringkas kriteria diagnostik gangguan autistik adalah sebagai berikut: 1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbal bali: a) Gangguan yang nyata dalam berbagai tingkah laku non verbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, dan posisi tubuh; b) Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat perkembangan; 19 c) Kurang nya spontanitas dalam berbagai kesenangan, minat atau prestasi dengan orang lain; dan d) Kurang mampu melakukan hubungan sosial atau emosional timbal balik. 2) Ganguan kualitatif dalam komunikasi: a) Keterlambatan perkembangan bahasa atau tidak bicara sam sekali; pada individu yang mampu berbicara, b) Terdapat gangguan pada kemampuan memulai atau mempertahankan percakpan dengan orang lain; c) Penggunaan bahasa yang setereotip, repetitif atau sulit dimengerti. 3) Pola sereotip yang kaku pada tingkah laku, minat dan aktivitas: a) Preokupasi pada satu pola minat atau lebih; b) Infeksibilitas pada rutinitas atau ritual yang spesifik dan non fungsional; c) Gerakan motorik yang stereotip dan repetitif; d) Preokupasi yang menetap pada bagian-bagian objek. 4) Gangguan dalam perasaan/emosi: a) Tidak dapat ikut merasakan yang dirasakan oleh orang lain, misalnya melihat anak menangis tidak akan merasa kasihan malah merasa terganggu, dan mungkin anak yang mendatangi anak tersebut dan memukulnya. 20 b) Kadang tertawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab yang nyata. c) Sering mengamuk tak terkendali, terutama jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, bisa menjadi agresif atau destruktif. 5) Ganguan dalam persepsi sensori: a) Mencium-cium atau mengigit atau benda-benda apa saja. b) Bila mendengar suara tertentu lansung menutup telinga. c) Tidak menyukai rabaan atau pelukan. d) Merasakan sangat tidak nyaman jika dipakaikan pakaian dari bahan yang kasar. 6) Ganguan pola bermain: a) Tidak berbain seperti anak-anak umumnya. b) Tidak suka bermain dengan anak sebayanya. c) Tidak bermain sesuai fungsi mainan,misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar-putar. d) Menyenangi benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda. e) Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang dan dibawa kemana-mana, (Ginanjar, 2002). g. Penatalaksanan Medis Kimia otak yang kadarnya abnormaol pada penyandang autis adalah serotonin 5-hydroxytryptamine (5-HFT), yaitu neurotransmiter 21 atau penghantar sinyal di sel-sel saraf. Sekitar 30-50% penyandang autis mempunyai kadar serotonin tinggi dalam darah. Kadar neuropinefrin dopamin,dan serotonin5-HFT pada anak normal dalam keadaan stabil dan saling berhubungan. Akan tetapi, tidak demikian pada penyandang autis. Tetapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik, tetapi efektif mengurangi perilaku autistik seperti hiperaktivitas, penarikan diri, stereotipik, menyakiti diri sendiri, agresivitas, dan gangguan tidur. Sejumlah observasi menyatakan, manipulasi terhadap sistem dopamin dan serotonin dapat bermanfaat bagi oasien autis. Antipsikologi generasi baru, yaitu antipsikotik atipikal, merupakan antagonis kuat terhadap reseptor serotonin 5-HFT dan dopamin tipe 2 (D2). Resperidone bisa digunakan sebagai antagonis reseptor dopamin D2 dan serotonin 5HT untuk mengurangi agresivitas, hiperaktivitas, dan tingkah laku menyakiti diri sendiri. Olanzapine, digunkan karena mampu menghambat secra luas bebagai reseptor, olanzapine bisa mengurangi hiperaktivitas, gangguan bersosialisasi, gangguan reaksi afektual (alam perasaan), ganguan respos sensori, gangguan penggunaan bahasa, perilaku menyakiti diri sendiri, agresi, iritabilitas emosi atau kemaran, serta keadaan cemas dan depresi. Untuk meningkatkan keterampilan sosial serta kegiatan sehari-hari, penyandang autis perlu diterapi secara nonmedikamentosa yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. 22 Menurut dr. Ika Widyawati sp.Kj dari bagian Ilmu Penyakit Jiwa FKUI, antara terapi edukasi untuk meningkatkan interaksi sosial dan komunikasi, terapi perilaku untuk mengendalikan perilaku yang menuggu/membahayakan, terapi wicara, terapi okupasi/fisik, sensoriintegrasi yaitu pengorganisasian informasi lewat semua indra, latihan integrasi pendengaran untuk mengurangi hipersensitivitas terhadap suara, intervensi keluarga, dan sebagainya. Untuk memperbaiki gangguan saluran pencernaan yang bisa memperburuk kondisi dan gejala autis, dilakukan terapi biomedis. Terapi itu meliputi pengaturan diet dengan menghindari zat-zat yang menimbulkan alergi (kasein dan gluten), pemberian suplemen vitamin dan mineral, serta pengobatan terhadap jamur dan bakteri yang berada di dinding usus. Dengan berbagai terapi itu, diharapkan penyandang autis bisa menjalani hidup sebagaimana anak-anak lain dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri dan berprestasi (Budiman, 2001). h. Dampak psikologi anak autisme 1) Dampak psikologi bagi orang tua Tidak mudah bagi orang tua untuk menerima kenyataan bahwa anaknya mengalami kelainan. Hingga impian, harapan, kebingungan kekhawatiran atas masa depan anak, biaya financial yang harus di keluarkan, dan kerepotan kerepoyan lainnya merupakan bebban berat yang harus dihadapi orang tua. Semua hal tersebut sangat berpotensi menjadi steresor dalam kehidupan dan proses interaksi denagan anak. 23 2) Dampak psikologi bagi anggota keluarga Pertama dampak psikologis terhadap sang kakak pada awal kelahirannya hal ini belum menjadi masalah. Permasalahan muncul setelah sekian lama sang kakak menyadari bahwa dengan hadir sang adik perhatian ayah, ibu dan anggota keluargan yang lain tercurah kepada si adik. Bahkan kecemburuannya ditambah lagi dengan perasan kesal, menyaksikan semua perhatian orang tua tercurah kepada adiknya yang autisme. 3) Dampak psikologis bagi lingkungan masyarakat Umumnya anggota masyarakat belum bisa menerima penyandang autisme dalam kelompok sosialnya. Orang tua anak normal sering melarang anaknya bergaul dengan anak autistik. Pernah juga kejadian orang tua normal memindahkan anaknya sekolah karena di sekolah yang lama terdapat anak autistik (Muslimah, 2009) 2. Terapi perilaku ABA a. Pengertian Menurut Handojo (2003) terapi Applied Behavior Analysis atau ABA sering digunakan untuk penanganan anak autitik. Terapi ini sangat representatif bagi penanggulangan anak spesial dengan gejala autisme. Sebab, memiliki prisip yang terukur, terarah dan sistematis, juga variasi yang diajarkan luas, sehingga keterampilan komunikasi, sosial dan motorik halus maupun kasar. 24 Terapi ABA adalah metode tatalaksana perilaku yang berkembang sejak puluhan tahun lalu, ditemukan psikolog amerika, Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat yang bernama Ivar O.Lovaas. Sekitar tahun 1970, ia memulai eksperimen dengan cara mengaplikasikan teori B.F Skinner, Operant Conditioningi. Di dalam teori ini disebutkan suatu pola perilaku akan menjadi mantap jika perilaku itu diperoleh si pelaku ( penguat positif) karena mengakibatkan hilangnya hal-hal yang tidak diinginkan (penguat negatif). Sementara suatu perilaku tertentu akan hilang bila perilaku itu di ulang terusmenerus dan mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan (hukuman) atau hilangnya hal-hal yang menyenangkan si perilaku (penghapusan). Lovaas melakukan eksperimen, dengan meminjamkan teori psikologi B.F Skinner dengan sejumlah treatmen pada anak autistik. Hasil eksperiment itu dipublikasikan dalam buku Behavioral Treatment and Normal Educational dan Intellectual functioning in Young Autistic Children sekitar tahun 1987 (Muslimah, 2009) Model terapi dengan menggunakan metode Lovaas ini secara aplikatif berpegang pada psikologi yang menuntut perubahan perilku. Direncanakan anak autistik mengalmi gangguan perilaku, maka harus digantikan dengan perilaku-perilaku wajar. Terapi ini adalah aplikasi ilmu pengetahuan mengenai perilaku yang bertujuan meningkatkan atau menurunkan perilaku tertentu, meningkatkan kualitasnya, menhentikan perilaku yang tidak sesuai, dan mengajarkan perilaku-perilaku baru. 25 Terapi ABA mendasarkan proses pengajaran pada pemberian stimulus (intuksi), respon individu (perilaku) dan konsekuensi (akibat Perilaku ) menjadi sasaran proses pengajaran dan binbingan. Oleh sebab itu, berangkat dari teori ini, lovaas dan The Lovaas Institute mengembangkan teknik ini dan menjabarkannya menjadi beberapa pengertian di bawah ini: 1) Applied Meletakkan penugasan pada kondisi yang real. 2) Behavioral Analysis Observasi dan analisis yang dilakukan untuk obyek perilaku tertentu dengan tujuan untuk merubah atau menciptakan perilaku baru yang diinginkan. Sehingga secara ringkas dapat dikatakan bahwa Applied Behavioral Analysis (ABA) adalah suatu teknik yang telah disusun secara sistematis untuk mengrangi perilaku yang tidak diinginkan dan meningkatkan perilaku yang diharapkan (Ekalitani, 2010). b. Langkah –Langkah Pelaksanaan Terapi Perilaku ABA Terapi perilaku ABA merupakan suatu metode untuk membangun kemampuan yang secara sosial bermanfaat dan mengurangi atau menghilangkan hal-hal kebalikannya yang merupakan masalah. Adapun langkah-langkah pelaksanaan terapi perilaku ABA adalah sebagai berikut: 26 1) Buatlah jam belajar yang menyenangkan dan pertahankan. Mulailah dengan jam belajar yang singkat (5-10 menit), dan istirahat dengan waktu yang sama.tambahkan jam belajar jika anak sudah mulai toleran dan patuh pada perintah. 2) Pilih kamar yang sunyi untuk intruksi yang bebas dari gangguan (pengalihan penglihatan). 3) Siapkan rencana belajar yang berhubungan dengan tugas yang diajarkan dan lembar penilaian untuk memonitor kemajuan. 4) Siapkan dua buah kursi kecil, satu untuk anak dan satu untuk terapis. 5) Duduklah disalah satu kursi dan dudukan anak menghadap ke anda. 6) Kaitkan kedua tumit anda ke kaki depan kursi anak, agar posisi kedua kursi tidak mudah berubah. 7) Mulailah dengan menekankan keterampilan, seperti tetap di kursi dan mengikuti perintah. 8) Hindarkan tugas yang mengakibatkan bahan-bahan yang mudah patah, dilempar, atau digunakan secara tidak sesuai. 9) Hindarkan menggunakan imbalan yang sukar diberikan dan diambil lagi. Benda-benda yang sering anak mainkan cocok sebagai imbalannya. Jika imbalan yang dipilih menganggu latihan maka singkirkan benda tersebut paling tidak selama satu jam pelajran. 10) Anak perlu sering diberi pujian untuk hanya duduk di kursi, membuat kontak mata, dan mengikuti perintah. Jika anak berusaha 27 meninggalkan kursi, berikan prompt fisik pada anak untuk kembali duduk. 11) Saat terapi semua anak pasti melakukan amukan (tantrum), jangan sampai menghentikan aktivitas belajar dan acuhkan sampai anak tenang. Selanjutnya bberikan tugfas tugas sederhana secara bertahap, (Danuatmadja, 2003). c. Prinsip pelaksanaan Terapi perilaku ABA Prinsip awal pelaksanaan terapi ini adalah dengan meningkatkan kemampuan reseptif atau pemahaman anak autis. Dimulai dengan jumlah latihan yang sedikit untuk beberapa minggu pertama. Cara ini akan membantu terapis untuk trampil pada metode pengajaran dan membantu anak terbiasa pada kegiatan terstruktur. Secara umum program ini meliputi program kesiapan diri (misalnya berespon terhadap nama), program bahasa kognitif (misaknya mengikuti preintah satu tahap), program meniru (misalnya meniru gerakan motorik kasar), dan program bahasa ekspresif (misalnya menunjukkan benda-benda yang diinginkan dan tugas menyamakan misalnya menyamakan bendabenda yang identik) (Danuatmadja, 2003) d. Teknik Terapi perilaku ABA Berikut adalah tehnik terapi perilaku ABA: 1) Terapi memberi suatu stimulus atau ransangan berupa intruksi ke anak yang memperhatikan terapis tugas di tangannya. 28 2) Stimulus bini mungklin diikuti oleh prompt untuk menimbulkan respon yang dimaksud. 3) Anak berespon benar/tepat atu salah/tidak tepat, atau tidak berespon (dianggap salah). 4) Terapis berespon dengan memberi imbalan atas respon anak, yaitu memberi hadiah jika benar dan mengatakan “tidak” jika salah. 5) Tiap materi yang diajarkan, dimulai dengan pemberian intruksi oleh terapis, tunggulah selama 5 detik. Bila tidak ada respon dari anak, lanjutkan dengan intruksi ke-2 lalu tunggu lagi 5 detik. Bila tetap belum ada respon dari anak, lanjutkan dengan intruksi ke-3 lansung prompt dan berilah imbalan. Beberapa hal yang ada dalam teknik terapi perilaku ABA: 1) Intruksi Intruksi yang diberikan singkat, jelas, konsisten, dan hanya diberikan sekali, jangan diulang-ulang. Yang dimaksud singkat adalah intruksi hanya terdiri dari kata, misalnya “tiru”, “lihat”, “masukkan”, “samakan”, “buka”, “tunujuk”, dan “biru’’ dengan prompt. Berikan dengan suara netral, cukup keras, dan tegas, tetapi tidak membentakbentak. Intruksi yang diberikan harus sesuai dengan apa yang ingin diajarkan dan hanya mengajarkan satu aktivitas. 2) Respon Dalaam merespon intruksi terapis, anak mungkin melakukan dengan benar, setengah besar, salah satu tidak merespon sama sekali, yang 29 juga dinilai salah. Secara umum, jika anak salah merespon, biarkan sekitar 2-3 detik untuk anak memulai responnya, berikan umpan balik lisan ringan “tidak”, kemudian berikan umpan balik lisan ringan “tidak’’, kemudian berikan intruksi yang ketiga kali dan harus bersamaan dengan prompt, seperti sentuhan di lengan atau tangan, atau bantuan penuh pada tangan (hand over hand), setelah itu berikan imbalan. 3) Prompt ( bantuan, dorongan, dan arahan) Prompt adalah setiap bantuan yang diberikan pada anak untuk menghasilkan respon yang benar. Prompt merupakan tambahan, jadi tidak selalu digunakan jika memang tidak diperlukan, bahkan saat pertama latihan pun. Beberapa anak memerlukan tambahan bantuan untuk melakukan keterampilan atau perilaku yang dingginkan. Sebagai contoh, jika intruksi “pegang hidung” diberikan dan anak tidak merespon, terapis dapat melakukan prompt secara fisik dengan menggerakkan tangan anak ketika memberi intruksi “pegang hidung’’. a) Jenis Prompt (1) Prompat lisan (2) Prompt contoh (3) Prompt fisik (4) Prompt dengan menunjuk (5) Prompt visual 30 (6) Prompt posisi (7) Prompt dengan ukuran benda b) Pengurangan prompt Ada empat cara pengurangan prompt secara bertahap (graduated guidance) antara lain: (1) Dari banyak ke sedikit (most to least) (2) Dari sedikit kebanyak (leats to most) (3) Perlambatan waktu (time delay) (4) Perbedaan imbalan (differential reinforcement) c) Petunjuk penggunan prompt Adapun petunjuk penggunaan adalah sebagai berikut: (1) Gunakan prompt yang paling minimal dan alami. Misal jika anak melaksankan respon yang benar dengan suatu Prompt visual, seperti terapis memandang ke kartu yang benar, jangan gunakan prompt fisik. (2) Hilangkan sedikit demi sedikit prompt dengan segera jika tidak bisa lebih awal. (3) Simpan imbalan yang sangt besar untuk perilaku yang muncul tanpa suatu prompt. Anak akan termotivasi untuk tidak bergantung pada prompt karena imbalannya jauh lebih besar. (4) Berikan prompt dan perintah pada saat sama atau berdekatan. Prompt harus berpasangan dengan intruksi. 31 (5) Variasikan Prompt. Ganti Prompt dari uji-coba yang satu ke yang lainnya. Ganti Prompt dari yang lebih tegas ke yang kurang tegas. Hilangkan sedikit demi sedikit Prompt dengan cara ini, sampai kemudian dihilangkan. d) Imbalan (Reward) Imbalan mempunyai dua aspek terpenting, yaitu jenisnya dan bagaimana cara memberikannya. (1) Jenis Imbalan (a) Imbalan Positif Imbalan yang diberikan setelah suatu perilaku, kemudian akan meningkatkan perilaku tersebut. (b) Imbalan Negatif Imbalan yang jika diberikan maka anak tidak akan meningkatkan perilaku tersebut. (2) Pemadaman (Extinction) Pemadaman berarti suatu stimulus yang merupakan suatu imbalan yang tidak lagi diberikan. Contohnya : jika selama ini anak mendapatkan perhatian terhadap amukan ( tantrum ) dan perhatian tersebut sebagai reward positif sehingga anak memelihara tantrumnya maka cara efektif untuk menghilangkannya adalah dengan tidak lagi memberikan perhatian saat anak tantrum. Berikut ini adalah 3 hal penting pada pemadaman: 32 (a) Prinsip pemadaman adalah pengurangan bertahap dari kekuatan perilaku tersebut bukan suatu penurunan tajam dan dramatis seperti ciri hukuman. (b) Biasanya, pada awal pemadaman terdapat peningkatan kekuatan perilaku karena anak semakin berusaha mendapatkan kembali imbalan. (c) Anak akan lebih kreatif pada usahanya untuk memperoleh perhatian untuk amukkannya. (3) Hukuman ( Punishment) Hukuman merupakan perlakuan terhadap kekerasan dari perilaku yang tidak di kehendaki dengan harapan terjadi penurunan kekerasan dari perilaku yang tidak dikehendaki tersebut. Bentuk hukuman dapat berupa kata “tidak’’, Berikut ini beberapa pertimbangan dalam penggunaan hukuman: (a) Jika tidak ingin membiarkan suatu perilaku berlanjud, misalnya anak dengan lajak-diri berat atau sangat agfresif. (b) Jika prosedur lainnya telah gagal, seperti pemadaman dan lainnya. (c) Sebaiknya gunakan hukuman yang paling rinagan, yang terbukti efektif untuk suatu perilaku tertentu. (4) Time Out 33 Time Out berarti menghilangkan kesempatan anak mendapatkan imbalan. Contohnya : jika anak berperilaku mengacau di kelas atau ruang terapi, segera pindahkan anak kesuatu kamar yang tidak ada orang, mainan, atau benda /aktivitas yang mempunyai potensi memberikan imbalan. (5) Cara memberikan imbalan (Reward) Adapun cara memberikan imbalan/reward : (a) Imbalan harus tergantung perilaku dan diberikan setelah terjadinya perilaku tersebut (b) Pelaksanaan harus konsisten. Imbalan diberikan dengan cara yang sama dan bersamaan dengan perilaku yang sama pada setiap saat. (c) Pemberian imbalan jangan bermakna ganda. (d) Imbalan haru mudah dibedakan oleh anak,(Bonny Danuatmadja, 2003 ) e. Penilaian Perkembangan Terapi Perilaku ABA Pada terapi perilaku ABA terdiri dari siklus yang dimulai dengan intruksi oleh terapis, tunggulah selama 5 detik dan lihat respon anak. Bila tidak ada respon dari anak, lanjutkan dengan untruksi ke-2 lalu tunggu lagi 5 detik. Bila tetap tidak ada respon dari anak, lanjutkan dengan intruksi ke-3, lansung prompt dan berilah imbalan. Secara skematis bisa digambarakan sebagai berikut: 34 1) Siklus Penuh Intruksi ke-1 tunngu 5 detik bila respon anak tak ada, lanjutkan dengan intruksi ke-2 tunggu 5 detik bila respon masih belum ada, lanjutkan dengan intruksi ke-3 lansung Prompt dan segera berikan Imbalan pencacatan hasil terapi diatas adalah P 2) Silus Tidak Penuh Intruksi ke-2 tunggu 5 detikbila respon anak masih belum ada, lanjutkan dengan Intruksi ke-3 anak bisa melakukan tanpa Promptsegera berikan Imbalan 3) Siklus Pendek Interuksi ke-3anak bisa melakukan tanpa Promptsegera berikan Imbalan Pencacatan hasil terapi diatas adalah A Hasil dari siklus adalah P karena anak masih memerlukan Prompt suara dan prompt fisik. Hasil dari siklus ke-2 dicacat juga sebagai P+ karena masih ada Prompt suara. Dan hasil siklus ke-3 yang diberi nilai A (Achieved), yang berarti anak mampu melakukan apa yang dintruksikan secara mandiri. Apabila dapat dicapai siklus ke-3 berturut turut 3 kali tanpa diselingi oleh terjadinya siklus pertama dan siklus ke-2, maka tercapailah keadaan mastered bagi anak. Setelah anak mendapatkan keadaan mastered maka latihan materi yang bersangkutan dapat dihentikan dan dilanjutkan ke materi berikutnya. 35 f. Faktor yang Mempengaruhi Keefektifitan terapi Melalui terapi anak autis akan mengalami kemajuan seperti anak normal lainnya. Keefektifan terapi tergantung beberapa faktor berikut ini: 1) Berat-ringannya gejala. Hal ini tergantung padda berat – ringannya gangguan di dalam sel otak sendiri. 2) Usia. Diagnosa ini sangat lah penting, sebab semakin muda umur anak pada saat terapi dimulai, semakin besar kemungkinan untuk berhasil. Dikatan bahwa usia ideal adalah antara usia 2-5 tahun, dimana sel otak bisa dirangsang untuk membentuk cabang-cabang neuron baru. 3) Kecerdasan. Makin cerdas anak tersebut makin cepat dia bisa mengungkap hal-hal yang diajarkan kepadanya. 4) Kemampuan bicara ddan berbahasa. Tidak semua penyandang autisme berhasil mengembangkan fungsi bicara dan berbahasanya. Dua puluh persen dari penyandang autisme tidak mampu bicara seumur hidup, namun ada pula yang bisa bicara dengan lancar. Mereka yang fungsi bicara dan berbahasanya baik, tentu saja lebih mampu diajar berkomunikasi. 5) Insensitas terapi. Penangngan pada penyandang autis harus dilakukan dengan sangat sensitif. Beberapa pakar mengatakan bahwa terapi sebaiknya dilakuka 4-8 jam sehari sehari. Namun disamping itu, seluruh keluarga pun harus ikut terlibat melakukan komunikasi 36 dengan anak sejak anak tersebut bangun pagi hingga siap tidur pada malam hari, (Maulana, 2010) 3. Interaksi sosial a. Pengertian Interaksi sosial adalah hubungan antar manusia dalam bentuk tindakantindakan berdasarkan nilai-niai atau norma sosial yang berlaku dimasyarakat mempengaruhi yang menghasilkan dan hubungan suatu tetap proses yang pada pengaruh akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial (Sunaryo, 2004). Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya (Gunarsa, 2008a). Interaksi sosial meliputi hubungan individu dan individu, individu dan kelompok, kelompok dan kelompok dalam bentuk kerja sama, persaingan atau pertikaian (Sitorus dalam Sunaryo, 2004) b. Jenis Interaksi Sosial Menurut Sunaryo (2004), interaksi sosial dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: 1) Interaksi antara individu dan individu Interaksi ini terjadi pada saat dua individu bertemu, baik adanya tindakan maupun tanpa tindakan. Hal yang terpenting adalah individu sadar bahwa ada pihak lain yang menimbulkan 37 perubahan pada diri individu tersebut yang dimungkinkan oleh faktor–faktor tertentu, misalnya bunyi sepatu atau bau parfum yang menyengat 2) Interaksi antara individu dan kelompok Bentuk interaksi ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Interaksi ini terlihat mencolok pada saat terjadi benturan antara kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok. 3) Interaksi antara kelompok dan kelompok Kelompok merupakan suatu kesatuan, bukan pribadi. Ciri kelompok adalah ada pelaku lebih dari satu, komunikasi dengan menggunakan simbol, ada tujuan tertentu dan ada dimensi waktu yang menentukan sifat aksi yang sedang berlangsung. c. Bentuk Interaksi Sosial Menurut Soekanto dalam Sunaryo (2004), terdapat beberapa bentuk interaksi sosial, yaitu: 1) Kerja sama (cooperation) Kerja sama adalah suatu usaha bersama antara individu dengan individu lain atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama timbul karena adanya kepentingan bersama. Kerja sama merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang utama. Bentuk-bentuk kerja sama yaitu: a) kerja sama spontan, yaitu kerja sama yang timbulnya secara spontan; 38 b) kerja sama langsung, yaitu kerja sama atas dasar perintah penguasa atau atasan c) kerja sama kontrak, yaitu kerja sama karena ada kepentingan atau tujuan tertentu d) kerja sama tradisional, yaitu kerja sama sebagai unsur sistem sosial, misalnya tolong menolong dan gotong royong. 2) Akomodasi atau penyesuaian diri (accommodation) Akomodasi merupakan usaha-usaha untuk meredakan pertentangan dan mencapai kestabilan. Tujuan akomodasi adalah untuk mengurangi pertentangan dan memungkinkan terjadinya kerja sama. 3) Persaingan (competition) Persaingan adalah proses sosial dimana individu atau kelompok manusia saling bersaing, mencari keuntungan melalui bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian publik. Fungsi persaingan yaitu menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang bersifat kompetitif, mengadakan seleksi, menyaring golongan fungsional, sebagai jalan agar keinginan, kepentingan dan nilai-nilai tersalurkan dengan baik. 4) Pertentangan atau pertikaian (conflic) Pertentangan atau pertikaian adalah proses sosial dimana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya 39 dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman. Penyebab terjadinya pertentangan adalah perbedaan antar individu, kepentingan, Pertentangan dapat kebudayaan, dan perubahan sosial. mengakibatkan menurunnya solidaritas, goyah atau retaknya persatuan kelompok, perubahan kepribadian individu, akomodasi, dominasi dan takluknya salah satu pihak d. Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial Sunaryo (2004) menyatakan terdapat 4 faktor penting yang mendasar dalam interaksi sosial, yaitu: 1) Imitasi Imitasi adalah proses belajar dengan cara meniru atau mengikuti perilaku orang lain. Imitasi dapat mengarah kepada hal-hal yang positif atau negatif. Imitasi yang positif akan mendorong seseorang untuk mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku. Imitasi yang negatif mengakibatkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan dan melemahkan pengembangan daya kreasi seseorang. 2) Identifikasi Identifikasi adalah usaha seseorang untuk menerapkan normanorma, sikap, cita-cita atau pedoman-pedoman tingkah laku dalam bermacam-macam situasi kehidupannya. Identifikasi dari orang lain kedalam merupakan keinginan dalam diri 40 seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Proses ini dapat berlangsung dengan sengaja atau tanpa sengaja. 3) Simpati Simpati adalah perasaan tertarik yang timbul dalam diri seseorang dan membuatnya seolah-olah berada dalam keadaan yang sama. 4) Sugesti Sugesti adalah cara pemberian suatu pandangan atau pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga orang tersebut mengikuti tanpa berpikir panjang e. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial Interaksi sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : 1) Motivasi Motivasi merupakan kekuatan dalam diri seseorang yang menggerakkan seseorang untuk berbuat sesuatu. Motivasi yang dimiliki seseorang mampu mempengaruhi seseorang untuk melakukan interaksi sosial. 2) Jenis kelamin Perbedaan jenis kelamin bisa mempengaruhi interaksi seseorang terhadap orang lain. Contohnya, laki-laki cenderung menghindari sekelompok perempuan kosmetik, yang sedang sebaliknya perempuan membicarakan cenderung menghindar percakapan laki-laki tentang sepak bola atau otomotif. 3) Lingkungan tentang dari 41 Lingkungan yang dimaksud adalah kondisi sekitar individu baik lingkungan alam, kebudayaan, mempengaruhi proses sosialisasi. dan masyarakat Kondisi yang lingkungan dapat sekitar tidak menentukan, tetapi mampu mempengaruhi dan membatasi proses sosialisasi seseorang. 4) Nilai Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku. Nilai tersebut adalah apa yang dianggap sehingga penting dalam hidup oleh seseorang dan pengaruh dari ekspresi pemikiran dan ide. 5) Latar belakang sosiokultural Budaya merupakan bentuk kondisi yang menunjukkan dirinya melalui tingkah laku. Budaya mempengaruhi anak dalam melakukan interaksi dengan lingkungan sosialnya f. Proses Interaksi Sosial Soekanto dalam Sunaryo (2004), menyataan ada dua syarat terjadinya interaksi sosial, yaitu: 1) Komunikasi Pemahaman makna dari pesan yang disampaikan harus ada dalam komunikasi. Komunikasi hampir sama dengan kontak sosial, tetapi adanya kontak sosial belum tentu terjadi komunikasi. Kontak tanpa komunikasi tidak memiliki arti. 42 2) Kontak sosial Kontak sosial merupakan aksi individu dalam bentuk isyarat yang memiliki makna bagi pelaku dan penerima memberikan reaksi. Kontak sosial dapat bersifat positif dan negatif. Kontak sosial positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik g. Cara mengukur kemampuan interaksi sosial anak autis Kemampuan interaksi sosial anak autis dapat diukur dengan menggunakan check list dari Autism Treatment Evaluation Checklist (ATEC), yang meliputi (Handojo, 2003): 1) Tidak merespon bila dipanggil 2) Mengabaikan orang lain 3) Perhatian kurang 4) Tidak kooperatif 5) Kontak mata kurang 6) Suka menyendiri 7) Tidak bisa menyapa orang lain 8) Menghindari kontak dengan orang lain 9) Tidak dapat meniru 10) Menolak untuk dipeluk 11) Tidak dapat berbagi 12) Tidak dapat mengalah 13) Temper tantrum 43 14) Jarang tersenyum 15) Tidak sensitif pada perasaan orang lain 16) Tidak tertarik pada mainan 17) Ekspresi muka kurang hidup 18) Gerak-gerik kurang tertuju 19) Menangis/tertawa tanpa sebab 20) tidak bisa bermain dengan teman sebaya. 4. Hubungan terapi ABA dengan kemampuan interaksi sosial Ketidakmampuan berinteraksi sosial merupakan salah satu dari trias autis. Trias autis meliputi gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, perilaku, komunikasi dan bahasa (Astuti, 2009). Gangguan interaksi pada anak autis ditunjukkan dengan kontak mata yang sangat kurang, tidak bisa bermain dengan teman sebaya, tidak bisa berempati dan kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan timbal balik. Karakteristik yang sangat menonjol pada anak-anak autistik ini adalah terisolasinya dia dari lingkungan sosialnya. Anak autis akan terlihat tidak ceria dalam hidupnya sebagai layaknya anak -anak yang seusianya yang masih gemar bermain. Mereka tidak pernah menaruh perhatian atau keinginannya untuk menghargai perasaan orang lain (Yuwono, 2009). Anak autis akan menghindari orang sekitarnya dan akan berusaha menghindar dari pertemuan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya, dengan kata lain bahwa kehidupan sosial anak-anak autis ini selalu aneh dan sulit diterima oleh masyarakat. Kondisi tersebut mengakibatkan anak 44 autis memerlukan suatu pembelajaran untuk melatih kemampuan anak dalam melakukan interaksi sosial (Yuwono, 2009) Bentuk terapi yang dapat diberikan pada anak autis dengan gangguan dalam interaksi sosial salah satunya adalah dengan metode ABA. Metode ABA adalah metode tata laksana perilaku (Handojo, 2003). Dasar dari metode ini adalah menggunakan pendekatan teori behavioral, dimana pada tahap penanganan dini ditekankan pada kepatuhan, keterampilan anak dalam meniru dan membangun kontak mata (Yuwono, 2009). Terapi perilaku ABA dikatakan berpengaruh diberikan pada anak bila seseorang anak dapat mencapai nilai A (Achieved) secara 3 kali berturutturut tanpa diselingi prompt. Keadaan tersebut dikatakan keadaan mastered yang berarti anak berhasil melakukan intruksi secara mandiri. Apabila anak telah mencapai keadaan mastered maka pemberian materi dapat dijlanjutkan ketahap selanjutnya, (Handojo, 2009) Jika seseorang anak autis terlambat mendapatkan intervensi hingga dewasa maka gejala autisme dapat semakin parah, bahkan tak tertanggulangi. Semakin muda usia anak pada saat terapi dilakukam, semakin besar pula peluang untuk berhasil. Usia yang efektif dilakukan terapi adalah 2-5 tahun, saat sel otak masih bisa diransang untuk membantu perkembangan cabang-cabang neuron baru dalam menerima informasi yang disampaikan. Namun bukan berarti bahwa anak autis yang berusia lebih dari 5 tahun harus dibiarkan tanpa adanya intervensi, karena tidak ada alternatif lain, maka sekalipun umur anak melebeihi 5 tahun, terapi harus dilakukan sekalipun tidak secepat pada usia ideal. Pada usia 5-7 tahun 45 perkembangan otak anak melambat menjadi 25% dari usia sebelum 5 tahun (Handojo,2003). Mendidik anak autis dengan mengajarkan perilaku dasar adalah memberikan stimulasi sensori dan motoris yang cukup, kosisten, dan berkelanjutan. Stimulasi yang terus-menerus dan menyenangkan akan direkam oleh otak anak, yang lama-kelamaan akan membentuk engram sensori maupun motorik. Dengan terbentuknya rekaman yang solid dan stabil maka proses respon prilakau akan berjalan secara otomatis. B. Kerangka Konsep Berdasarkan latar belakang dan tinjuan pustaka di atas, maka kerangka konsep pada penelitian ini adalh sebagai berikut: Sebelum Terapi Kemampuan Interaksi Sosial Setelah Terapi Terapi ABA Gambar 1. Kerangka Konsep penelitian Kemampuan Interaksi Sosial 46 C. Definisi Operasional Penelitian 1. Terapi ABA Terapi ABA adalah metode tatalaksana perilaku berdasarkan aplikasi ilmu meningkatkan pengetahuan atau mengenai menurunkan perilaku perilaku yang tertentu, bertujuan meningkatkan kualitasnya, menghentikan perilaku yang tidak sesuai, dan mengajarkan perilaku-perilaku baru Teknik melakukan terapi ABAsebgai berikut: 1) Buatlah jam belajar yang menyenangkan dan pertahankan. 2) Siapkan rencana belajar yang berhubungan dengan tugas yang diajarkan dan lembar penilaian untuk memonitor kemajuan. 3) Siapkan dua buah kursi kecil, satu untuk anak dan satu untuk terapis. 4) Duduklah disalah satu kursi dan dudukan anak menghadap ke anda. 5) Kaitkan kedua tumit anda ke kaki depan kursi anak, agar posisi kedua kursi tidak mudah berubah. 6) Mulailah dengan menekankan keterampilan, seperti tetap di kursi dan mengikuti perintah. 7) Hindarkan tugas yang mengakibatkan bahan-bahan yang mudah patah, dilempar, atau digunakan secara tidak sesuai. 8) Anak perlu sering diberi pujian untuk hanya duduk di kursi, membuat kontak mata, dan mengikuti perintah. Jika anak berusaha meninggalkan kursi, berikan prompt fisik pada anak untuk kembali duduk. 47 9) Saat terapi semua anak pasti melakukan amukan (tantrum), jangan sampai menghentikan aktivitas belajar dan acuhkan sampai anak tenang. 2. Variabel Penelitian Tabel 1 Defenisi Operasional No 1 Variabel Kemampuan Interaksi Sosial Defenisi Operasional Suatu bentuk hubungan interaksi yang dilakukan oleh anak penderita autis dengan teman temannya (penderita autis yang lain) Cara Ukur Observasi Alat Ukur Hasil Ukur Skala Lembar Observasi Skor kemempun interaksi sosial anak sebelum dan sesudah dilakukan Terapi ABA Rasio D. Hipotesis Ho : Tidak ada pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016. Ha : Ada pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016. 48 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di klinik autis Rumah Sakit Jiwa Soeprapto Bengkulu pada 16 aguatus – 16 September Tahun 2016 B. Desain Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian pre experimental dengan rancangan one group pretest posttest yaitu rancangan yang tidak ada kelompok pembanding (kontrol) namun sudah dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah eksperimen dilakukan (posttest). Pengukuran yang dilakukan sebelum eksperimen (P1) disebut pretest. Perlakuan yang diberikan berupa kemampuan bersosialisasi. Setelah diberikan pemberian metode ABA: metode ABA: kemampuan bersosialisasi, peneliti mengukur kembali kemampuan interaksi sosial anak autis tersebut (P2) disebut posttest. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak penderita autis yang berjumlah 31 orang, yang melakukan terapi di Rumah Sakit Jiwa Soeprapto Bengkulu tahun 2016. 47 49 2. Sampel Sampel dalam penelitian ini menggunakan Total Sampling sebanyak 31 orang, yaitu semua anak autisme yang di terapi di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu. D. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil observasi langsung pada anak autis yang di terapi di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu. E. Teknik Pengolahan dan Analisa Data 1. Teknik Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Editing yaitu melihat apakah isi data pada lembar cek list yang akan diolahtersebut tersedia lengkap dan apakah sudah relevan dengan tujuan penelitian b. Coding yaitu pemberian code pada lembar cek list yang telah di edit. c. Tabulating yaitu mentabulasi data berdasarkan kelompok data yang telah ditentukan ke dalam master tabel. d. Entry yaitu memasukkan data yang sudah dilakukan editing dan codingtersebut kedalam computer e. Cleaning yaitu memastikan apakah semua data sudah siap untuk di analisis. 50 2. Teknik Analisis Data a. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran interaksi sosial pada anak autis sebelum dan sesudah terapi ABA (Applied Behavior Analysis) di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu b. Uji Normalitas Sebelum dilakukan analisis bivariat, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas. Untuk menguji kenormalan data kememampuan interaksi sosial sebelum dan sesudah dilalukan terapi ABA akan dilakukan uji Shapiro-wilk, karena sempel yang diperoleh kurang dari 50 dan data berdistribusi normal jika nilai signifikansi lebih besar dari taraf signifikansi 0,05 (p > α) dari masing masing variabel. c. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui pengaruh terapi ABA (Applied Behavior Analysis) terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis yang diterapi di klinik autis RSJKO Soeprapto Bengkulu tahun 2016 menggunakan Compared Mean Paired T Test