Uploaded by User8110

MATERI INDERA

advertisement
Informasi Seputar Gangguan Indera & Fungsional





o
o
o
o
o
o
o
Apakah bahaya Gangguan Indera & Fungsional
Tanda atau gejala apa saja yang perlu diketahui?
Apa penyebab Gangguan Indera & Fungsional
Bagaimana cara menentukan Gangguan Indera & Fungsional
Bagaimana cara mengatasi Gangguan Indera & Fungsional
Bahaya Gangguan Indera, yaitu:
Tidak bisa melihat lingkungan sekitar untuk para penyandang tuna netra atau gangguan
indera penglihatan, mereka tidak bisa melihat apa yang ada di sekitar mereka. Kesulitan
untuk meletakkan barang-barang dan berjalan sangat sulit dilakukan, tersandung,
tertabrak, dan tertimpa benda lain adalah bahaya dari gangguan Indera.
Untuk para penyandang tuna rungu atau gangguan indera pendengaran, tentu saja
mereka tidak bisa berkomunikasi dengan sesama manusia. Mereka juga tidak dapat
berbicara karena mereka tidak mendapat eksplorasi kata-kata atau kalimat yang
digunakan untuk berkomunikasi. Semua itu bisa membuat mereka tidak bisa beraktifitas
karena tidak dapat menyampaikan pesan atau apa yang mereka rasakan.
Bahaya Gangguan Fungsional dikategorikan menurut jenisnya, yaitu:
Disabilitas Fisik, seperti terjatuh dan luka jika fasilitas tidak memadai untuk para
penyandang gangguan fungsional.
Disabilitas Intelektual, seperti keterbelakangan pendidikan karena para disabilitas
intelektual perlu pendamping dan metode khusus untuk mentrasfer ilmu sehingga
mendapat pengetahuan yang sama.
Disabilitas Sensorik, seperti berkurangnya fungsi dari panca indera tersebut.
Disabilitas Mental, seperti melukai diri sendiri dan orang lain karena keadaan stres dan
depresi dapat membuat penderita tidak dapat berpikir logis.
Tanda atau gejala dari Gangguan Indera adalah :
Indera Penglihatan
Gejala yang perlu diketahui dari gangguan indera penglihatan tentu saja yang
berhubungan dengan kemampuan melihat, seperti: mata berkunang atau ada titik-titik
hitam berjalan ketika melihat. Ada juga berupa kemampuan penglihatan yang berkurang
seperti yang dialami penderita katarak.
o
o
o
o
o
o
o
o
Indera Pendengaran
Gejala gangguan indera pendengaran yaitu kotoran kuping yang terus keluar yang
menyebabkan jenis tuli congek atau kurangnya fungsi pendengaran karena lingkungan
bising biasanya ditandai dengan telinga yang berdengung terus menerus. Telinga yang
selalu gatal dan keluar kotoran telinga juga merupakan gejala gangguan Indera.
Sesuai dengan tujuan dari pemerintah yaitu Nawa Cita dari presiden, maka salah satu
dukungan yang diperoleh ada di goal pemerintah, yaitu meningkatkan kualitas hidup
manusia Indonesia adalah sejalan dengan peningkatan kegiatan dari para disabilitas.
Program akhir yang dicapai dari pembangunan kesehatan yaitu masyarakat mencapai
kualitas kesehatan yang baik. Untuk itu salah satunya program Indonesia Sehat adalah
penanggulangan gangguan Indera dan Fungsional. Sasaran Prioritas:
Pendekatan Siklus Hidup
Semua manusia mengalami siklus kehidupan dari dalam kandungan sampai dengan
usia lanjut. Dengan pelayanan kesehatan kandungan, pemeriksaan bayi dari bulan ke
bulan sampai dengan tahap remaja. Pelayanan lansia juga diperhatikan seperti
konsultasi fisik dan mental.
Pendekatan Keluarga
Keluarga merupakan unsur terdekat dari individu. Dalam hal ini petugas puskesmas
punya andil dalam hal itu. Agar deteksi secara dini dan pengobatannya disegerakan.
Usaha preomotif dan preventif juga bisa dilakukan.
Pengendalian Faktor Risiko Gangguan Penglihatan dan Kebutaan dengan Perilaku Cerdik
dan Patuh:
Sesuai dengan nawacita Presiden, ada jargon yang bisa digunakan supaya
mencapai goal bersama.
Hal pertama yaitu cek kondisi kesehatan secara berkala bukan hanya ketika kondisi
badan sakit.
Lalu kebiasaan merokok perlu dijauhkan dari kegiatan sehari-hari. Rajin berolahraga
dan melakukan diet dengan nutrisi seimbang.
Jangan lupa untuk relaksasi dan mengendalikan stres.
Semua itu bisa menunjang manusia Indonesia yang produktif.
Untuk mencegah terjadinya penurunan prestasi belajar anak maka dianjurkan
mengikuti tes tajam penglihatan dan pendengaran yang dilaksanakan melalui
program penjaringan anak sekolah.
Skrining dan deteksi dini ini dilaksanakan minimal sekali setahun secara berkala. 70-80
% katarak merupakan penyebab kebutaan.
Untuk Skrining atau deteksi dini dapat dilakukan oleh kader dengan mudah melalui test
hitung jari. Deteksi tajam penglihatan dan pendengaran dapat dilaksanakan secara
terintegrasi di Posbindu PTM dengan cara hitung jari dan tes suara.
Masyarakat mendapatkan pelayanan deteksi dini tajam penglihatan (di bawah 40 tahun
menggunakan E-tumbling dan di atas 40 tahun dengan menggunakan hitung jari).
o
o
Upaya Pelayanan Kesehatan Penyandang Disabilitas, yaitu:
Promotif: media berfungsi untuk mempromosikan program-program pemerintah.
Preventif: langkah pencegahan secara dini.
o
Kuratif: pelayanan pemerintah dalam bentuk Rumah Sakit khusus untuk penyandang
disabilitas.
Singkatnya, Pemerintah sebagai bagian dari masyarakat harus mencari solusi untuk
membuat manusia penyandang disabilitas hidup normal. Peran pemerintah bisa berupa
penyediaan fasilitas bagi penyandang disabilitas seperti tempat khusus parkir atau
perpustakaan untuk para tuna netra juga sangat berarti.
Sementara peran pemerintah tidak bisa lepas dari peran masyarakat untuk menerima
penyandang disabilitas secara terbuka dan memberikan dukungan sehingga mereka
bisa menjalani kehidupan normal.
Untuk pemeriksaan mata, Tri biasanya akan menempatkan warga berjarak 6 meter darinya, atau
setara 12 langkah kaki.
Warga harus berdiri membelakangi cahaya, supaya tidak silau.
Kemudian, warga akan diminta menutup salah satu mata, sementara Tri mengajukan lima pertanyaan
tentang jumlah jari yang ia tunjukkan.
"Dari lima pertanyaan, kalau mereka benar tiga kali berarti matanya tidak bermasalah. Kalau tiga kali
salah, berarti bermasalah," katanya.
Sedangkan untuk pendengaran, Tri biasanya mengajak warga mengobrol, jika masih merespon
dengan baik maka tidak ada masalah.
Cara lain adalah dengan menggesek-gesek jari telunjuk dan ibu jari di dekat telinga warga.
Bila terdengar, berarti kondisi pendengarannya baik.
Menurut dr. Era, keberadaan kader indera membantu puskesmas mengetahui lebih luas warga yang
mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran.
"Jelas meningkat, karena mereka bisa sampai ke sekolah-sekolah. Temuan kasus meningkat, luas
karena mereka bisa ke mana-mana. Nah, yang paling rawan itu anak-anak. Mereka kan tidak tahu
kalau kabur matanya, ternyata itu sebuah masalah. Dengan adanya kader indera, mereka sangat
terbantu karena kader ini aktif," pungkasnya.
Salah satu metode deteksi dini gangguan penglihatan adalah hitung jari," ujar dr
Aldi dalam temu media Hari Penglihatan Sedunia di Kementerian Kesehatan,
Selasa (2/10/2018).
Deteksi dini gangguan penglihatan hitung jari ini memiliki prinsip sederhana, dan
bisa dilakukan untuk usia 15 tahun ke atas oleh kader di Posbindu. Caranya
sangat mudah dan aplikatif di mana seseorang hanya perlu melihat objek di
depannya sejauh tiga meter yang sedang mengacungkan jari.
Jika jawabannya tepat, namun pandangan agak buram, maka seseorang hanya
mengalami gangguan penglihatan tipe sedang. Namun jika jari tidak ter lihat maka
gangguan penglihatan yang dialami tergolong berat.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada lebih dari 285 juta
penduduk dunia yang mengalami gangguan penglihatan dan 39 juta di antaranya
mengalami kebutaan. 124 Juta lainnya mengalami low vision serta 153 juta
mengalami gangguan penglihatan karena kelainan refraksi yang tidak terkoreksi.
Sekitar 90 persen para penyandang gangguan penglihatan dan kebutaan ini hidup
di negara dengan pendapatan rendah, yang jika dibiarkan begitu saja t anpa ada
tindakan apapun, maka jumlah penderita gangguan penglihatan dan kebutaan ini
akan meningkat dua kali lipat pada 2020.
Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Kemenkes, dr. Anung Sugihantono M.Kes mengatakan bahwa tema Hari
Penglihatan Sedunia tahun 2018 adalah 'Eye Care Everywhere' yang menekankan
aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan mata bagi semua orang. Sedangkan
tema nasionalnya adalah 'Mata Sehat Untuk Semua'.
Pada puncak acara Hari Penglihatan Sedunia yang akan dilaksanakan pada 11
Oktober 2018 di Kota Surabaya mendatang, Kementerian Kesehatan, kata Anung
akan meluncurkan SIGALIH atau Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan
Penglihatan (SIGALIH).
Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Penglihatan Nasional yang
disingkat SIGALIH merupakan suatu sistem informasi yang berbasis web atau
android untuk melaporkan pencatatan dan pelaporan skrining gangguan
penglihatan warga negara Indonesia yang melakukan deteksi dini di Posbindu.
Sistem ini juga diharapkan akan terhubung dengan Rumah Sakit sehingga akan
dapat diketahui tindak lanjut terhadap pasien yang telah dirujuk.
"Dengan hal ini kita bisa mengambil melakukan upaya pencegahan. Di sisi lain
bisa memudahkan juga untuk melakukan tindakan baik operasi yang nemang
diperlukan pada satu kasus yang berkaitan dengan kesehatan mata," tandas
Anung.
Saat ini sudah ada alat khusus yang dapat mengukur ketajaman visus atau penglihatan
mata Anda secara langsung. Alat yang disebut sebagai autorefractometer ini sudah banyak
tersedia di berbagai klinik mata serta toko optik. Namun, pemeriksaan ketajaman visus mata
secara tradisional tidak boleh sampai dilupakan. Bagaimana, sih, prosedur pemeriksaan
ketajaman visus mata secara tradisional?
Pemeriksaan mata dengan kartu Snellen
(Snellen chart)
Pemeriksaan ketajaman visus mata umumnya dilakukan dengan bantuan kartu Snellen atau
Snellen chart. Kartu ini dikembangkan oleh seorang dokter spesialis mata dari Belanda,
Herman Snellen, pada tahun 1860an. Ada banyak variasi dari kartu Snellen ini. Namun,
secara umum ada sebelas baris huruf kapital yang berisi beberapa macam huruf. Semakin
ke bawah ukuran tulisan akan semakin kecil.
Avgeekery.com
Arti angka pada kartu Snellen
Mungkin Anda pernah bertanya-tanya apa maksud dari angka-angka yang ada pada setiap
baris kartu Snellen. Angka tersebut memiliki arti khusus. Jadi, setiap baris dilengkapi dengan
angka yang merupakan jarak (biasanya dalam satuan kaki) di mana mata orang normal dan
sehat dapat membaca huruf pada baris tersebut.
Misalnya kalau ada angka 20/200 di samping barisan huruf pertama. Angka pertama, yaitu
20, mewakili jarak antara Anda dengan kartu Snellen tersebut. Biasanya jarak Anda dengan
kartu Snellen memang 20 kaki atau 6 meter jauhnya.
Sedangkan angka kedua, yaitu 200, mewakili jarak di mana mata Anda masih mampu
membaca huruf pada barisan tersebut dengan jelas. Angka 200 berarti 200 kaki atau 60
meter.
Penilaian visus mata
Ketajaman visus mata normal manusia yaitu 20/20 atau dalam satuan meter 6/6. Ini berarti
dalam jarak 20 kaki atau 6 meter, mata Anda masih cukup tajam untuk melihat tulisan yang
memang normalnya dapat terbaca dari jarak tersebut.
Akan tetapi, jika visus mata Anda adalah 20/40, berarti mata Anda dengan jarak 20 kaki atau
6 meter hanya mampu membaca huruf yang cukup besar yang dapat dibaca pada jarak 40
kaki atau 12 meter.
Prosedur pemeriksaan visus mata dengan
kartu Snellen
Sekarang Anda sudah memahami mengenai dasar dari ketajaman visus. Nah, berikut ini
adalah pembahasan mengenai prosedur pemeriksaan mata dengan kartu Snellen.







Pastikan ruangan mendapat cahaya yang cukup terang.
Anda akan diminta untuk duduk atau berdiri dengan jarak 6 meter dari kartu Snellen.
Tutup salah satu mata Anda dengan menggunakan tangan. Apabila tersedia, Anda mungkin
akan dipakaikan kacamata khusus dengan penutup mata.
Periksakan mata kiri dan kanan secara terpisah. Mata dengan pandangan yang lebih buram
akan dites terlebih dulu.
Mulailah membaca mulai dari baris paling atas ke bawah, hingga Anda tidak mampu lagi
membaca huruf pada baris tersebut. Bacalah dengan suara lantang dan jelas.
Jika hasil pemeriksaan tidak mencapai barisan huruf 20/20 atau 6/6, maka prosedur akan
diulang dengan menggunakan kacamata pinhole. Apabila dengan pinhole visus mengalami
perbaikan, maka gangguan penglihatan bisa disebabkan oleh kelainan refraksi seperti rabun
jauh (miopi).
Ulangi prosedur ini untuk mata berikutnya.
Cara lain untuk memeriksa visus mata
Biasanya dengan menggunakan kartu Snellen sudah cukup untuk menilai ketajaman visus
atau penglihatan seseorang. Namun, pada kasus tertentu di mana Anda sama sekali tidak
mampu membaca huruf yang terlalu buram, maka pemeriksa atau dokter mata akan
menggunakan tangan.
Pertama, Anda akan diminta untuk menghitung jumlah jari pemeriksa dari jarak satu sampai
enam meter. Apabila Anda tidak dapat menghitungnya, pemeriksa akan menggerakkan
tangannya. Kalau masih belum bisa melihat dengan jelas, pemeriksa akan menggunakan
lampu atau penerangan.
Penyakit mata sangat beragam dan tidak semuanya dapat menular. Jika penyakit mata
disebabkan virus atau bakteri maka bisa menular, sedangkan jika penyebabnya alergi tidak akan
menular. Cara penanganan dan pencegahan macam-macam penyakit mata ini pun berbeda,
tergantung penyebabnya. Berikut ini beragam penyakit mata yang perlu Anda ketahui : agar
tidak terjadi glaukoma karena kepekaan saraf pada otot konjungtiva pada mata
Miopi
Miopi yakni seseorang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak jauh. Biasanya terjadi pada
pelajar.dapat dibantu dengan kacamata berlensa cekung.
Hipermetropi
Hipermetropi yaitu seseroang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat dari mata.
Dapat dibantu dengan kacamata berlensa cembung.
Presbiopi
Presbiopi adalah seseorang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat maupun
berjarak jauh.Dapat dibantu dengan kacamata berlensa rangkap. Biasa terjadi pada lansia.
Kerabunan dan kebutaan Buta berarti seseorang tidak dapat melihat benda apapun sama sekali.
Buta bisa saja diakibatkan keturunan, maupun kecelakaan. Rabun berarti seseorang hanya
dapat melihat dengan samar-samar. Orang-orang yang buta maupun rabun biasanya
"membaca" dengan jari-jarinya. Ini disebut huruf Braille.
Buta warna
Buta warna adalah suatu kondisi dimana seseorang sama sekali tidak dapat membedakan
warna. Yang dapat dilihat hanyalah warna hitam, abu-abu, dan putih. Buta warna biasanya
merupakan penyakit turunan. Artinya jika seseorang buta warna, hampir pasti anaknya juga buta
warna. Katarak Katarak adalah suatu penyakit mata di mana lensa mata menjadi buram karena
penebalan Lensa Mata dan terjadi pada orang lanjut usia (lansia). Astigmatis = ketidakaturan
lengkung - lengkung permukaan bias mata yang berakibat cahaya tidak fokus pada satu titik
retina(bintik kuning). Dapat dibantu dengan kacamata slinder/Operasi refraktif.
Rabun senja
Rabun senja adalah penyakit mata yang disebabkan karena mata kekurangan vitamin A.
Penderita biasanya tidak bisa melihat pada saat sore hari saja.
Konjungtivitis (menular)
Merupakan penyakit mata akibat iritasi atau peradangan akibat infeksi di bagian selaput yang
melapisi mata. Gejalanya mata memerah, berarir, terasa nyeri, gatal, penglihatan kabur, dan
keluar kotoran. Penyakit ini mudah menular dan bisa berlangsung berbulan-bulan. Beberapa
faktor menjadi penyebabnya, seperti infeksi virus atau bakteri, alergi (debu, serbuk, angin, bulu
atau asap), pemakaian lensa kontak dalam jangka waktu panjang dan kurang bersih. Bayi pun
bisa mengalami sakit mata, hanya penyebabnya berbeda yaitu karena infeksi ketika melewati
jalan lahir. Pada bayi, penyakit ini disebut konjungtivitis gonokokal dan umumnya mata bayi baru
lahir akan ditetesi obat mata atau salep antibiotika untuk mematikan bakteri penyebabnya. Jika
Anda atau keluarga mengalami penyakit ini, lakukan penanganannya dengan cara berikut:
Kompres mata dengan air hangat Gunakan obat tetes mata atau salep antibiotika seseui resep
dokter. Bersihkan tangan sebelum mengoleskan salep agar iritasi tidak tambah parah. Cegah
penularan penyakit ke orang lain dengan memisahkan alat-alat yang digunakan oleh Anda dan
orang-orang.
Trakoma (menular)
Infeksi pada mata yang disebabkan bakteri Chlamydia trachomatis yang berkembang biak di
lingkungan kotor atau bersanitasi buruk serta bisa menular. Penyakit ini sering menyerang anakanak, khususnya di negara berkembang. Memiliki gejala : mata memerah, mengeluarkan
kotoran, pembengkakan kelopak mata dan kelenjar getah bening dan kornea terlihat keruh.
Penanganan :
Jauhkan alat/benda yang sudah dipakai penderita dari orang lain. Salep antibiotika mengandung
tetracycline dan erthromycin biasanya akan diberikan selama satu bulan atau lebih. Jika tidak
segera ditangani dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut pada kornea sehingga
menyebabkan bulu mata melipat ke dalam lalu terjadi gangguan penglihatan. Pembedahan
mungkin perlu dilakukan jika terjadi kelainan bentuk pada kelopak mata atau kornea.
Keratokonjungtivitas Vernalis (KV)
Penyakit iritasi/peradangan pada bagian kornea (selaput bening) akibat alergi sehingga
menimbulkan rasa sakit. Memiliki gejala mata merah, berair, kelopak mata bengkak, gatal, dan
adanya kotoran mata. KV merupakan peradangan yang berulang atau musimam dan
penderitanya cenderung kambuh, khususnya di musim panas. Kadang ada penderita KV yang
mengalami kerusakan pada sebagian kecil kornea sehingga menyebabkan nyeri yang akut.
Penanganannya dengan cara berikut :
Jangan menyentuh atau menggosok mata karena bisa menyebabkan iritasi. Kompres mata
dengan air hangat. Dokter biasanya akan memberikan obat tetes mata.
Endoftalmitis
Infeksi pada lapisan mata bagian dalam sehingga bola mata bernanah. Gejalanya mata merah,
terasa nyeri bahkan sampai mengalami gangguan penglihatan. Infeksi ini cukup berat sehingga
harus segera ditangani karena bisa menimbulkan kebutaan. Penyebab biasanya karena mata
tertusuk sesuatu.
Penanganan:
Obat antibiotika biasanya akan diberikan oleh dokter mata Dilakukan pembedahan untuk
mengeluarkan nanah yang ada di bola mata.
Selulitis Orbitalis (SO)
Penyakit mata akibat peradangan pada jaringan di sekitar bola mata. Gejalanya mata merah,
nyeri, kelopak mata bengkak, bola mata menonjol dan bengkak, serta demam. Pada anak-anak,
SO sering terjadi akibat cedera mata, infeksi sinus atau infeksi berasal dari gigi. Dokter biasanya
akan melakukan rontgen gigi dan mulut atau CT Scan sinus untuk memastikan penyebabnya.
Jika tidak segera mendapatkan penanganan, penyakit bisa berakibat fatal, seperti buta, infeksi
otak atau pembekuan darah di otak. Berikut penanganan yang bisa Anda lakukan : Jika kasus
tergolong ringan, dapat diberikan antibiotika secara oral. Pada kasus berat akan diberikan
antibiotika melalui pembuluh darah atau melakukan pembedahan untuk mengeluarkan nanah
atau mengeringkan sinus yang terinfeksi.
Blefaritis
Peradangan yang terjadi pada kelopak mata akibat produksi minyak berlebihan dan berasal dari
lapisan mata. Memiliki gejala berupa mata merah, panas, nyeri, gatal, berarti, terdapat luka di
bagian kelopak mata dan membengkak, bahkan rontoknya bulu mata. Blefaritis terbagi dua jenis,
yaitu blefaritis anterior (peradangan mata bagian luap depan yaitu di melekatnya bulu mata,
disebabkan bakteri stafilokukus). Dan blefaritis posterior (peradangan di kelopak mata bagian
dalam, bagian kelopak mata dan bersentuhan dengan mata, disebabkan adanya kelainan pada
kelenjar minyak).
Penanganan:
Rajin membersihkan sekitar kelopak mata untuk menghilangkan kelebihan minyak dengan
menggunakan pembersih khusus. Salep antibiotika untuk membunuh bakteri.
Dakrosistitis
Penyakit mata yang disebabkan penyumbatan pada duktus nasolakrimalis (saluran yang
mengalirkan air mata ke hidung). Penyumbatan disebabkan alergi sehingga menyebabkan
infeksi di sekitar kantung air mata yang menimbulkan nyeri, warna merah dan bengkak, bisa
mengeluarkan nanah dan mengalami demam.
Penanganan:
Pemberian antiobiotika oral atau melalui pembuluh darah. Pengompresan dengan air hangat di
sekitar kantung air mata. Pembedahan perlu dilakukan jika terjadi kantung nanah.
Ulkus Kornea (UK)
Infeksi pada kornea bagian luar dan biasanya terjadi akibat jamur, virus, protozoa, atau
beberapa jenis bakteri seperti stafilokokus, pseudomonas atau pneumokukus. Awalnya bisa
karena kelilipan atau tertusuk benda asing. Penyakit ini bisa terjadi di seluruh permukaan kornea
sampai bagian dalam dan belakang kornea. Ketika penyakit ini memburuk dapat menyebabkan
komplikasi infeksi di bagian kornea yang lebih dalam, perforasi kornea (terjadi lubang), kelainan
letak iris (Selaput pelangi) dan kerusakan mata. Memiliki gejala mata merah, gatal, berair, nyeri,
muncul kotoran mata, peka pada cahaya, terdapat bintik nanah warna kuning keputihan pada
bagian kornea, dan gangguan penglihatan.
Penanganan:
Perlu melakukan pemeriksaan seperti tes refraksi, tes air mata, pengukuran kornea,dan tes
respons refleks pupil. UK tingkat ringan dapat ditangani dengan tetes mata mengandung
antibiotika, antivirus atau antijamur. Jika berat mungkin memerlukan pembedahan untuk
pencangkokan kornea.
Degenerasi Makula[1]
Pada orang yang berusia di atas 65 tahun, kebutaan permanen mungkin saja terjadi.
Penyebabnya adalah degenerasi makula yang dapat mengganggu penglihatan fungsional Anda.
Makula adalah bagian dari retina yang berfungsi untuk mengatur fokus pandangan. Selain usia,
degenerasi makula bisa disebabkan diabetes, merokok, obesitas, dan hipertensi.
Penanganan Ada penangan secara alami yang bisa signifikan mengurangi rasa sakit yang di
timbulkan karena sakit mata di antaranya adalah:
A. Mentimun untuk obat mata (Water melon) Untuk membuat obat sakit mata dari mentimun
anda perlu menyiapkan beberapa bahan berikut : - 2 irisan mentimun - Air dingin Cara
melakukan pengobatan dengan merendam irisan timun ke dalam air dingin selama 2-3 menit.
Kemudiam letakkan timun tersebut diatas mata selama 10 menit. Ulangi ini bila diperlukan untuk
memberikan bantuan dari rasa sakit saja.
Alasan: Mengapa harus timun? Mentimun memiliki efek pendinginan pada tubuh kita. Efeknya
juga sama dengan mata kita. Mentimun juga digunakan berbagai klinik kecantika untuk
menenangkan mata dan menyembuhkan rasa sakit atau iritasi. Khasiat buah Mentimun juga di
percaya dapat membantu menyingkirkan masalah lingkaran hitam pada mata dab iritasi ringan
yang disebabkan mata kering.
B. Lidah buaya / Aloe Vera Selain dapat di gunakan untuk mengatasi masalah ketombe pada
rambut, efek dingin dari Lidah buaya juga dapat dimanfaatkan untuk pengobatan mata, siapkan
bahan berupa : - 1 sendok teh gel lidah buaya - 1-2 sendok makan air dingin - 2 kapa katun atau
seperlunya. Cara meracik obat sakit mata menggunakan lidah buaya, silahkan ambil gel lidah
buaya segar dan encerkan dengan air dingin. Rendam kapas di tempat ini dan letakkan di
kelopak mata selama 10 menit. Lakukan hal ini dua kali sehari.
Alasan : Lidah buaya telah dikenal memiliki khasiat penyembuhan. Ini memiliki efek relaksasi
pada mata Anda karena sifatnya yang dingin dan menenangkan. Lidah Buaya juga mengandung
senyawa antimikroba dan antioksidan yang bisa mengobati penyebab rasa sakit di mata Anda.
Hal yang perlu anda perhatikan. Gunakan hanya gel Lidah Buaya yang masih segar atau
organik. Tidak disarankan menggunakan Varietas lain karena mungkin mengandung zat aditif
yang dapat menimbulkan iritasi mata Anda.
Degenerasi makula dapat dicegah dengan konsumsi makanan yang
mengandung lutein dan zeaxanthin. Misalnya, daun pepaya, bayam, kol Brussels, kuning telur,
jagung, avokad, kacang pistachio, goji berries, paprika oranye, kiwi, anggur, jus jeruk,
dan zucchini. Degenerasi makula juga bisa dihambat dengan memperbanyak konsumsi minyak
ikan Omega-3.[2]
Apa itu Pemeriksaan Mata?
Pemeriksaan mata adalah istilah umum yang merujuk pada rangkaian pemeriksaan untuk
menilai kesehatan mata. Pemeriksaan dimulai dari yang paling sederhana, seperti
membaca grafik huruf standar, hingga tes yang jauh lebih rumit dengan menggunakan lensa
bertenaga tinggi dan mesin untuk mengamati struktur internal mata.
Pemeriksaan mata rutin sangatlah penting, terlepas dari usia dan kesehatan fisik. Tidak
hanya untuk membuat resep lensa kontak atau kacamata, tapi juga untuk memeriksa
kehadiran penyakit dan menilai kesehatan mata sebagai indikator kesehatan. Selain itu,
melalui prosedur ini, dokter spesialis mata akan mampu mengenali dan mendiagnosis
penyakit sistemik kronis.
Siapa yang Perlu Menjalani Pemeriksaan Mata dan Hasil yang
Diharapkan
Pemeriksaan mata rutin sangat direkomendasi bagi siapa saja sebagai pemeriksaan
pemeliharaan kesehatan rutin. Orang dewasa harus menjalani pemeriksaan ini untuk
mengikuti perkembangan resep lensa dan tanda-tanda penyakit mata. Di sisi lain, anakanak pun harus memeriksakan mata ke dokter untuk menjaga perkembangan penglihatan
yang normal, memastikan ketajaman dan kecakapan mata untuk aktivitas pembelajaran.
Idealnya, pemeriksaan mata dilakukan satu kali dalam setahun.
Namun, ada beberapa kasus yang mengharuskan pemeriksaan mata. Ciri dan kondisi
umum yang segera memerlukan pemeriksaan ini, antara lain:


Mata tampak merah atau kering, atau tiba-tiba terasa sangat gatal
Melihat kilatan cahaya, titik hitam atau floater

Orang-orang yang mengidap diabetes atau penyakit lain yang mengganggu kesehatan
mata

Kesulitan mengemudi atau melihat di kegelapan atau saat malam hari

Orang-orang yang merasa sakit kepala, penglihatan kabur, mengalami penurunan
penglihatan atau pening selama beberapa saat setelah menggunakan komputer atau
perangkat serupa

Orang-orang yang merasa pening, mabuk, atau sulit mengikuti objek bergerak

Membaca buku dari jarak agak jauh atau sangat dekat agar dapat terbaca dengan
jelas


Perubahan pada penglihatan
Mengalami trauma di bagian kepala yang membuat perubahan pada penglihatan
Pasien dengan riwayat keluarga yang mengidap penyakit glaukoma atau diabetes
(retinopati diabetik), khususnya yang menginjak usia 50 tahun atau lebih, memerlukan
lebih banyak pemeriksaan mata. Pemeriksaan ini pun sangat penting untuk mengenali
dan mendiagnosis penyakit, seperti degenerasi makula akibat penuaan dan kata rak.
Cara Kerja Pemeriksaan Mata
Dalam pemeriksaan mata, dokter spesialis mata memeriksa ketajaman penglihatan untuk
menentukan resep lensa kontak atau kacamata. Dokter pun akan memeriksa kemungkinan
penyakit atau masalah mata yang memicu penurunan atau kehilangan fungsi penglihatan.
Langkah-langkah pemeriksaan mata biasanya terdiri dari:


Bagi pasien yang baru pertama kali menjalani pemeriksaan mata, dokter biasanya
bertanya mengenai riwayat penyakit atau gejala penurunan penglihatan yang sedang
dirasakan.
Dokter akan melakukan uji ketajaman penglihatan untuk menentukan resep lensa
kontak atau kacamata agar dapat meningkatkan kemampuan melihat.

Dengan bantuan cahaya,dokter akan mengevaluasi permukaan dan bagian dalam
mata. Kemungkinan, dokter akan memberi obat tetes mata untuk memperbesar mata
atau mengukur tekanan mata.
Jenis-jenis tes yang akan direkomendasi atau dilakukan oleh dokter berdasarkan gejala
yang dirasakan pasien, antara lain:

Tes otot mata - Dilakukan untuk memeriksa kesehatan otot yang mengatur gerakan mata,
serta mengevaluasitanda-tanda kemunduran otot atau kordinasi.

Tes ketajaman penglihatan - Tes standar untuk mengukur ketajaman penglihatan, biasanya
dilakukan dengan cara membaca grafik huruf dalam berbagai ukuran.

Pemeriksaan refraksi - Seringkali dilakukan menggunakan komputer refraktor atau dengan
retinoskopi untuk mengukur resep lensa kontak dan kacamata. Pada pemeriksaan ini
biasanya dilakukan penyetelan dengan menggunakan sebuah perangkat yang dilengkapi
dengan beberapa lensa untuk mendapatkan kombinasi yang memberikan penglihatan paling
jelas.

Pemeriksaan lapang pandang (Perimetri) - Pemeriksaan yang menentukan jangkauan
penglihatan. Kehilangan lapang penglihatan merupakan ciri penyakit mata.

Tes buta warna - Tes ini menilai kekurangan dan menentukan kebutaan warna.

Pemeriksaan slit-lamp - Mikroskop slit-lamp atau lampu celah digunakan untuk memeriksan
struktur di dalam mata. Cairan flourescein yang digunakan untuk mewarnai selaput air
mata, dapat membantu menampakkan sel-sel yang rusak.

Pemeriksaan retina (Oftalmoskopi/Funduskopi) - Pemeriksaan yang dilakukan pada struktur
belakang mata, termasuk retina, untuk memeriksa kemungkinan penyakit mata.

Pemeriksaan glaukoma (Tonometri) - Pengukuran tekanan (intraocular) mata untuk
mengenali kehadiran glaukoma, kondisi yang merusak saraf optik. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan tanpa mesin (non-kontak) atau menggunakan tonometer slit-lamp (tonometri
aplanasi).

Uji ketebalan retina: Pemeriksaan ini direkomendasi bila tekanan mata lebih tinggi dari
tekanan normal. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan perangkat yang
memanfaatkan gelombang suara untuk mengukur ketebalan retina. Uji ketebalan retina
berlangsung selama beberapa detik dengan bantuan anestesi tetes mata.
Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pemeriksaan Mata
Pemeriksaan mata hanya membutuhkan beberapa menit atau kurang dari satu jam.
Pemeriksaan rutin yang sangat sederhana dan singkat ini, biasanya tidak menyebabkan
komplikasi atau resiko apapun. Namun, jenis pemeriksaan tertentu yang memerlukan
tetesan anestesi atau fluorescein dapat membuat mata menjadi buram selama beberapa
saat dan kembali normal dalam beberapa jam.

Rujukan
Emmett T. Cunningham; Paul Riordan-Eva. Vaughan & Asbury's general
ophthalmology. (18th ed.). McGraw-Hill Medical.
Pemeriksaan Visual Acuity
1. Pasien diberi jarak dari Snellen Chart sejauh 5 meter atau 6 meter atau 20 kaki
(denominatornya akan berbeda untuk setiap jarak yang digunakan. Seringkali
digunakan jarak 5 meter.)
2. Tingkat mata pasien dengan Snellen Chart harus sejajar dan lurus.
3. Pasien diminta untuk menutup satu mata dengan okluder, atau bila tidak ada,
dengan telapak tangan, bukan dengan jari karena dapat menekan mata.
Biasanya yang ditutupi mata kiri dahulu, atau mata yang bermasalah dahulu,
agar pasien tidak menghafal huruf yang ada di chart.
4. Pasien diminta untuk membaca huruf yang ditunjuk oleh dokter. Catat
denominator pada baris terakhir yang masih bisa dibaca oleh pasien. Bila pasien
bisa membaca semua huruf sampai denominator 20, berarti ketajaman matanya
normal (5/5 atau 6/6 atau 20/20).
5. Bila mata pasien masih kabur saat membaca Snellen Chart, gunakan pinhole
untuk mengetahui apakah matanya kabur karena kelainan refraksi atau kelainan
lain (contoh: katarak). Pasien yang memiliki kelainan refraksi akan lebih jelas
membaca chart saat menggunakan pinhole.
6. Bila Pasien sama sekali tidak bisa melihat huruf di chartnya dari atas, akan
dilakukan pemeriksaan lanjutan, yaitu hitung jari hingga lambaian tangan.
7. Pemeriksaan hitung jari dimulai dari jarak 5 meter terlebih dahulu. Dokter
mengacungkan jari diposisikan lurus dari pandangan pasien, kemudian pasien
diminta untuk memberitahu dokter berapa jumlah jari yang diacungkan. Bila
pasien dapat menyebutkan jumlah jari dengan benar, skornya adalah 5/60.
8. Bila pasien masih tidak bisa melihat, maju 1 meter. Bila masih tidak bisa, maju 1
meter lagi, dan begitu seterusnya hingga jarak antara dokter dan pasien hanya 1
meter. Skornya secara berurutan menjadi 4/60, 3/60, 2/60 dan 1/60.
9. Bila setelah pemeriksaan hitung jari dari jarak 1 meter pasien masih tidak bisa
menyebut dengan benar, dilakukan pemeriksaan lambaian tangan.
10. Pemeriksaan lambaian tangan dilakukan dari jarak 1 meter dan dilakukan
dengan cara dokter melambaikan tangannya dari kea rah tertentu kemudian
meminta pasien untuk memberitahu ke arah mana gerakan tangannya. Bila
pasien bisa menyebut dengan benar, skornya menjadi 1/300.
11. Pemeriksaan selanjutnya yang biasa dilakukan adalah persepsi cahaya.
12. Dokter memakai senter yang dinyala-matikan secara acak kemudian meminta
pasien untuk memberitahu apakan senternya menyala atau tidak.
13. Bila pasien dapat membedakan nyala dan matinya senter, dilanjutkan dengan
meminta pasien untuk menentukan sumber cahaya.
14. Dokter mengarahkan sinar senter dari arah tertentu dekat mata pasien, kemudian
pasien diminta untuk memberitahu dari arah mana cahayanya datang.
img-20140205-wa00051.jpg800×362 70.7 KB
Pinhole
Black-occluder-short.jpg800×640 15.5 KB
Okluder
Snellen Chart
Apabila mengacu pada contoh diatas, angka 20/50 itu menunjukkan nilai visual acuity
naturalis pasien tersebut. Artinya, apabila orang normal dapat membaca dengan jelas
pada jarak 15 meter (50 feet), pasien hanya dapat membaca dengan jelas pada jarak 6
meter (20 feet).
Pemeriksaan visus (visual acuity naturalis) merupakan pemeriksaan subyektif pasien
dilihat dari sisi ketajaman penglihatannya.
Bila pasien memiliki visus 20/20 (dalam feet) atau 6/6 (dalam meter) yang merupakan
visus normal manusia, tetapi masih mengeluh tidak dapat membaca dengan jelas,
berarti pasien diindikasikan memiliki kelainan refraksi rabun dekat (hipermetropi),
sehingga dapat dibantu dengan menggunakan kacamata berlensa positif / plus.
Sebaliknya, apabila pasien mengalami penurunan visus dan tidak dapat membaca
tulisan dengan jelas, maka pasien diindikasikan memiliki kelainan refraksi rabun jauh
(miopi), sehingga dapat dibantu dengan menggunakan kacamata berlensa
negatif/minus.
Untuk mengetahui pasien menggunakan kacamata minus berapa, maka angka hasil
visus tersebut harus dikoreksi dengan menggunakan power lensa yang sesuai, dan jika
diindikasikan membutuhkan kacamata ber-lensa minus, maka akan digunakan kekuatan
power terkecil yang dapat membantu pasien untuk membaca huruf terkecil atau pada
konversinya menunjukkan visual acuity orang normal, yaitu 20/20 atau 6/6.
Dengan kata lain, untuk mengetahui minus berapa, maka pasien diminta mencoba
kacamata satu persatu hingga ditemukan minus yang cocok untuk membaca normal,
(6/6).
Snellen chart adalah poster yang berfungsi untuk mendeteksi tajam penglihatan
seseorang. Berhubung ada perbedaan antara sistem pengukuran yang dipakai di Indonesia (juga
sebagian besar negara lain di dunia) dan Amerika Serikat, Snellen chart ini pun terdapat dalam
dua versi angka. Yang satu dalam angka metrik dan yang satu lagi dalam angka imperial. Snellen
chart metrik dinyatakan dalam pembanding 6 meter (6/6, 6/9, 6/12, dan seterusnya sampai
6/60). Sedangkan Snellen chart imperial adalah seperti yang terdapat di gambar di bawah ini.
Angkanya dinyatakan dalam pembanding 20 kaki (20/20 sampai 20/200). Apakah 20 kaki sama
dengan 6 meter? Sebenarnya tidak: 20 kaki sama dengan 6 meter lebih 10 cm (tepatnya 609.6
cm). Tapi tentu saja kelebihan 10 cm itu boleh diabaikan.
Lalu apa fungsi angka pecahan yang ada di samping tiap baris? Dalam pemeriksaan tajam
penglihatan, angka yang berperan penting adalah angka di sebelah baris terbawah yang bisa
dibaca oleh subjek. Misalnya subjek hanya bisa membaca sampai baris 6/9. Ini berarti orang
dengan tajam penglihatan normal sudah dapat membaca baris tersebut pada jarak 9 meter.
Sementara itu subjek baru dapat membacanya pada jarak 6 meter. Semakin tinggi letak baris
terbawah yang bisa dibaca oleh subjek, berarti semakin buruk tajam penglihatannya.
Subjek yang tidak dapat membaca sampai dengan baris 6/6 (atau 20/20) mungkin mengalami
gangguan penglihatan karena penyakit organik pada mata, atau gangguan refraksi murni.
Penyakit organik pada mata berarti ada kelainan struktural yang mengakibatkan tajam
penglihatan menurun. Misalnya ada kerusakan pada kornea ataupun kekeruhan pada lensa (pada
katarak). Namun pada gangguan refraksi murni, tidak ada kelainan struktural yang ditemukan
pada mata. Untuk membedakan keduanya digunakan pemeriksaan pinhole. Pinholeadalah sebuah
layar hitam dengan lubang kecil di tengah yang dipasang di depan mata yang diperiksa. Jika
tajam penglihatan membaik dengan bantuan pinhole, berarti tidak ada kelainan struktural pada
mata.
Jika seseorang tidak dapat membaca Snellen chart sama sekali bahkan dengan bantuan lensa,
pemeriksaan selanjutnya adalah hitung jari (count fingers). Orang normal dapat menghitung jari
pada jarak 60 meter. Jadi apabila subjek baru dapat menghitung jari pada jarak 2 meter, berarti
tajam penglihatannya 2/60. Pemeriksaan berikutnya adalah lambaian tangan (hand motion).
Orang normal dapat melihat lambaian pada jarak 300 meter. Sama seperti hitung jari, apabila
subjek baru dapat melihat lambaian pada jarak 1 meter, berarti tajam penglihatannya 1/300.
Pemeriksaan terakhir adalah ada atau tidaknya persepsi sinar (light perception).
(jarak antara penempatan poster snellen dengan Subyek/orang yang diperiksa sejauh 6 m)





Snellen chart dinamai menurut penemunya, yaitu seorang dokter mata dari Belanda bernama Hermann
Snellen.
Oleh WHO, seseorang yang tidak dapat membaca huruf teratas pada Snellen chart setelah dibantu dengan
kacamata sudah dianggap buta secara hukum. Di lain pihak, cukup banyak orang miopia yang tidak
mampu membaca huruf teratas pada Snellen chart tanpa bantuan kacamata. Orang-orang seperti ini tidak
termasuk di dalam kategori buta secara hukum itu, karena setelah dibantu kacamata mereka umumnya
tidak bermasalah untuk membaca huruf di baris 6/6 atau bahkan di bawahnya.
Pada sebagian Snellen chart, ada baris 6/5, 6/4, dan 6/3 (seperti yang terlihat pada gambar). Namun jika
dalam aspek peresepan kacamata, baris-baris tersebut tidak bermakna.
Snellen chart dianggap kurang objektif dalam menilai tajam penglihatan, karena jumlah huruf yang
berbeda-beda pada tiap baris dan jarak huruf yang semakin dekat pada baris-baris bawah.
Untuk anak yang belum dapat membaca ataupun orang buta huruf, seluruh huruf di Snellen chart diganti
dengan huruf E. Subjek diminta mengatakan ke mana arah huruf E membuka. Chart modifikasi ini
disebut juga Tumbling-E chart. Khusus untuk anak juga kadang dipakai poster bergambar (Allen chart)
atau HOTV chart (Snellen chart yang hanya berisi huruf H, O, T, dan V).
Tes Rinne dan tes Weber merupakan pemeriksaan untuk mengetahui adanya gangguan
pendengaran, dan apakah mengalami gangguan pendengaran konduktif atau sensorineural.
Diagnosis ini dilakukan untuk mendapatkan perawatan dini dan menentukan rencana
pengobatan yang tepat. Berikut ulasan lengkap seputar tes Rinne dan tes Weber.
Apa itu tes Rinne dan tes Weber?
Tes Rinne merupakan tes pendengaran yang dilakukan untuk mengevaluasi suara
pendengaran dengan membandingkan persepsi suara yang dihantarkan oleh konduksi
udara dengan konduksi tulang melalui mastoid.
Tes Weber merupakan cara lain untuk mengevaluasi gangguan pendengaran konduktif dan
sensorineural. Hasil tes Rinne harus dibandingkan dengan tes Weber untuk mendeteksi
gangguan pendengaran sensorineural.
Gangguan pendengaran konduktif terjadi saat gelombang suara tidak mampu melewati
telinga bagian tengah ke telinga bagian dalam. Hal ini bisa disebabkan oleh masalah di
saluran telinga, gendang telinga, atau telinga tengah, seperti:



Infeksi
Penumpukan kotoran telinga
Gendang telinga yang tertusuk


Cairan di telinga tengah
Kerusakan tulang kecil di telinga tengah
Gangguan pendengaran sensorineural merupakan kerusakan yang terjadi di bagian mana
pun dari sistem saraf khusus telinga. Ini termasuk saraf pendengaran, sel-sel rambut di
telinga bagian dalam, dan bagian lain dari koklea. Biasanya jenis gangguan pendengaran ini
terjadi akibat paparan suara yang bising dan semakin bertambahnya usia.
Manfaat tes Rinne dan tes Weber
Tes Rinne dan tes Weber sering digunakan karena tes ini mudah termasuk tes yang
sederhana dan mudah dilakukan. Kedua tes ini sering kali menjadi tes pertama yang
digunakan untuk menentukan penyebab perubahan atau kehilangan pendengaran pada
seseorang.
Tes tersebut dapat membantu mengidentifikasi kondisi yang menyebabkan gangguan
pendengaran. Beberapa kondisi yang menyebabkan hasil tes Rinne atau tes Weber tidak
normal antara lain:






Perforasi gendang telinga
Kotoran telinga
Infeksi telinga
Cairan telinga bagian tengah
Otosklerosis, adalah ketidakmampuan tulang kecil di telinga tengah (tulang sangurdi)
bergerak dengan baik
Cedera pada saraf telinga
Bagaimana prosedur tes Rinne dan tes
Weber?
Tes Rinne dan tes Weber dilakukan dengan menggunakan garputala frekuensi tinggi (512
Hertz) untuk menguji bagaimana Anda merespon suara dan getaran di dekat telinga Anda.
Berikut uraian prosedur tes Rinne dan tes Weber.
Tes Rinne
1.
2.
3.
4.
Dokter meletakkan garputala di tulang mastoid (di belakang salah satu telinga).
Bila Anda sudah tidak bisa mendengar suara, Anda diminta memberi isyarat kepada dokter.
Kemudian, dokter akan menggerakkan garputala di samping telinga Anda.
Bila Anda sudah tidak bisa mendengar suara itu lagi, Anda diminta memberi isyarat kepada
dokter.
5. Dokter mencatat berapa lama Anda mendengar setiap suara.
Tes Weber
1. Dokter meletakkan garputala di tengah kepala Anda
2. Anda mencatat di bagain telinga mana getaran yang terasa; telinga kiri, telinga kanan,
keduanya.
Bagaimana hasil tes Rinne dan tes Weber?
Tes Rinne
Konduksi udara menggunakan organ-organ pada telinga daun telinga, gendang telinga, dan
osikel (tiga tulang pendengaran) untuk memperkuat suara dan mengalirkan suara ke
konduksi tulang dan menyebabkan suara dapat langsung ditransmisikan ke telinga dalam
atau melalui tengkorak ke telinga sebelahnya.



Pendengaran normal, menunjukkan waktu konduksi udara yang dua kali lebih lama dari
waktu konduksi tulang. Dengan kata lain, Anda akan mendengar suara di samping telinga
Anda dua kali selama Anda akan mendengar suara di belakang telinga Anda.
Ganguan pendengaran konduktif, suara konduksi tulang terdengar lebih lama dari
konduksi udara.
Gangguan pendengaran sensorineural, suara konduksi udara terdengar lebih lama dari
konduksi tulang, tapi mungkin tidak dua kali lebih lama.
Tes Weber



Pendengaran normal akan menghasilkan getaran yang sama di kedua telinga.
Gangguan pendengaran konduktif akan menyebabkan getaran terasa di telinga yang
tidak normal.
Gangguan pendengaran sensorineural akan menyebabkan getaran terasa di telinga
normal.
Baca Juga:
Tes pendengaran adalah prosedur pemeriksaan untuk mengetahui
kemampuan mendengar seseorang. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur
seberapa baik suara terhantar ke otak.
Suara yang didengar berasal dari getaran pada udara di sekeliling kita, yang
kemudian membentuk gelombang suara yang merambat dalam frekuensi tertentu.
Proses mendengar terjadi saat gelombang suara masuk melalui telinga dan
dihantarkan oleh saraf ke otak. Proses mendengar ini akan terganggu jika ada
bagian telinga yang rusak, sehingga terjadi gangguan pendengaran.
Gangguan pendengaran bisa dibagi menjadi tuli konduktif dan tuli sensorineural. Tuli
konduktif terjadi jika ada masalah pada saluran telinga atau bagian tengah telinga,
sehingga gelombang suara terhalang dan tidak bisa masuk ke bagian dalam telinga.
Tuli konduktif bisa menyebabkan hilangnya pendengaran sementara atau permanen.
Sedangkan tuli sensorineural terjadi jika koklea (organ di bagian dalam telinga) atau
saraf pendengaran tidak berfungsi normal, sehingga suara tidak terhantar ke otak.
Tuli sensorineural umumnya permanen, serta bisa terjadi pada salah satu atau
kedua telinga.
Tuli konduktif dan sensorineural bisa terjadi secara terpisah atau bersamaan.
Indikasi Tes Pendengaran
Dokter akan menyarankan untuk dilakukan tes pendengaran pada seseorang yang
mengalami tanda-tanda berikut:





Merasa ada dengungan pada telinga (tinnitus).
Bicara terlalu keras hingga membuat lawan bicara terganggu.
Sering meminta lawan bicara mengulang ucapan
Sulit mendengar percakapan, terutama pada suasana yang ramai.
Menonton televisi dengan suara yang keras, hingga mengganggu orang lain.
Persiapan Tes Pendengaran
Beberapa hal yang perlu diketahui pasien sebelum menjalani tes pendengaran,
antara lain adalah:






Beri tahu dokter jika belakangan ini Anda mendengar suara nyaring yang membuat
telinga sakit dan berdenging, atau mengalami infeksi pada telinga.
Beri tahu dokter jika mengalami gangguan dalam mendengar percakapan, atau
merasakan gejala hilang pendengaran.
Beri tahu dokter jika sedang mengonsumsi antibiotik yang bisa merusak fungsi organ
pendengaran, seperti gentamicin.
Dokter akan memeriksa bagian dalam telinga. Jika terdapat kotoran telinga yang
mengeras, dokter akan mengeluarkannya agar tidak memengaruhi hasil tes.
Beberapa tes dilakukan dengan mengenakan headphone. Pasien akan diminta
melepas kacamata, anting, aksesoris pada rambut, dan alat bantu pendengaran agar
tidak mengganggu tes.
Bagi yang akan menjalani tes BERA, pasien akan diminta keramas sebelum tes
dilakukan.
Prosedur Tes Pendengaran
Ada beberapa macam tes pendengaran yang bisa dijalani pasien gangguan
pendengaran. Konsultasikan dengan dokter THT mengenai tes mana yang tepat
untuk dilakukan.
Tes bisik
Dalam tes bisik, dokter akan meminta pasien menutup lubang telinga yang tidak
diperiksa dengan jari. Setelah itu, dokter akan membisikkan beberapa kata, atau
membisikkan kombinasi huruf dan angka. Saat berbisik pada pasien, dokter akan
berada kurang dari 1 meter di belakang pasien, untuk mencegah pasien membaca
gerak bibir.
Pasien akan diminta mengulangi apa yang diucapkan dokter. Jika pasien tidak bisa
mengulangi kata yang dibisikkan, dokter akan menggunakan kombinasi huruf dan
angka yang berbeda, atau mengulangi pengucapan kata dengan lebih keras, hingga
pasien bisa mendengarnya. Kemudian tes diulangi pada telinga yang satunya lagi.
Pasien dianggap lulus tes bisik jika mampu mengulangi 50% kata yang diucapkan
dokter.
Tes garpu tala
Dalam tes ini, garpu tala dengan frekuensi 512Hz digunakan untuk mengetahui
respons pasien pada suara dan getaran di dekat telinga. Tes garpu tala bisa
dilakukan dengan tes Weber dan tes Rinne.
Untuk tes Weber, dokter akan membenturkan garpu tala pada objek yang keras
untuk membuat getaran, kemudian ujung garpu tala diletakkan di depan dahi,
hidung, atau gigi. Pada pasien yang pendengarannya normal, suara akan terdengar
keras di kedua telinga. Jika suara terdengar lebih keras pada telinga yang
kondisinya baik, tandanya pasien mengalami tuli sensorineural. Sedangkan jika
suara garpu tala terdengar lebih jelas pada kondisi telinga yang buruk, berarti pasien
mengalami tuli konduktif.
Tes garpu tala juga bisa dilakukan dengan tes Rinne. Sama seperti tes Weber,
dokter akan membenturkan garpu tala untuk membuat getaran. Kemudian garpu tala
diletakkan di bagian belakang telinga dan samping telinga pasien, untuk
membandingkan hantaran tulang dan hantaran udara. Pada pasien yang
pendengarannya normal, pasien akan mendengar suara di samping telinga
(hantaran udara) dua kali lebih panjang dibanding jika mendengar suara di belakang
telinga (hantaran tulang). Pada tuli sensorineural, hantaran udara juga akan
terdengar lebih panjang dibanding dengan hantaran tulang, namun tidak sampai 2
kali. Sedangkan jika pasien mengalami gangguan pendengaran konduksi, hantaran
tulang akan terdengar lebih panjang dari hantaran udara.
Tes audiometri tutur
Tes ini digunakan untuk mengetahui seberapa baik pasien mendengar dan
memahami percakapan sederhana. Dalam tes ini, pasien akan diminta mengulangi
kata-kata yang diucapkan dokter, mulai dari suara lembut hingga nyaring.
Pada tes tahap pertama, dokter akan mengucapkan kata-kata yang terdiri dari dua
suku kata dalam suara yang lembut, lalu pasien diminta untuk mengulang dengan
akurasi minimal 50%. Kemudian pada tes tahap dua, dokter akan mengucapkan 50
kata yang terdengar mirip dengan suara nyaring (40 desibel), dan pasien kembali
diminta mengulangi kata-kata yang diucapkan.
Hasil tes audiometri tutur bisa digunakan untuk menentukan apakah alat bantu
dengar dibutuhkan oleh pasien, dan untuk mengetahui letak kerusakan organ
pendengaran. Pendengaran pasien dianggap normal jika bisa mengulangi 90 hingga
95% kata-kata yang diucapkan dokter saat tes.
Tes audiometri nada murni
Tes ini menggunakan audiometer, suatu alat yang menghasilkan nada-nada murni,
dan diperdengarkan pada pasien melalui headphone. Nada-nada tersebut bervariasi
dalam frekuensi dan intensitas suaranya, mulai dari 250Hz, hingga 8000Hz. Tes
akan dimulai dengan intensitas suara yang masih terdengar, lalu dikurangi secara
bertahap hingga tidak lagi terdengar oleh pasien. Kemudian, intensitas suara akan
ditingkatkan kembali hingga pasien bisa mendengarnya. Pasien akan diminta untuk
memberi tanda dengan menekan tombol yang sudah disediakan, jika masih bisa
mendengar suara meski sangat samar.
Tes audiometri dilakukan di ruangan khusus. Pada tes ini, masing-masing telinga
akan dites secara terpisah, dimulai terlebih dulu pada telinga dengan kondisi baik.
Pasien akan menjalani beberapa kali tes, di mana dalam setiap tes, nada yang
diperdengarkan pada pasien akan semakin tinggi. Setelah itu, headphone akan
dilepas, dan alat penggetar akan dipasang pada bagian belakang telinga. Pasien
akan kembali diminta memberi respons jika mendengar nada.
Auditory Brain Stem Response Test
Tes ini disebut juga dengan tes brainstem evoke response audiometry (BERA).
Dalam tes ini, dokter menggunakan elektroda yang tersambung pada mesin untuk
merekam respons otak pasien. Pada pasien anak-anak yang tidak bisa tenang saat
akan dipasang elektroda, dokter akan memberikan obat penenang. Berikut ini
prosedur yang dijalankan pada tes BERA:
- Elektroda dipasang pada ubun-ubun dan masing-masing daun telinga pasien.
- Setelah elektroda terpasang, pasien akan diminta menggunakan earphone.
- Suara ‘klik’ dan suara-suara lain akan diperdengarkan pada pasien
melalui earphone.
- Mesin akan merekam respons otak pasien terhadap suara.
Hasil tes akan menunjukkan peningkatan aktivitas otak setiap kali pasien mendengar
suara yang dihasilkan mesin. Jika hasil tes tidak menunjukkan peningkatan aktivitas
otak saat suara diperdengarkan, kemungkinan pasien mengalami tuli. Hasil tes yang
tidak normal bisa juga berarti ada gangguan pada otak atau sistem saraf pasien.
Otoacoustic emissions (OAE)
Tes otoacoustic emissions (OAE) digunakan untuk memeriksa gangguan di telinga
bagian dalam, khususnya bagian koklea (rumah siput). Umumnya dilakukan untuk
memeriksa gangguan pendengaran pada bayi yang baru lahir, namun bisa juga
dilakukan untuk orang dewasa.
Dalam tes ini, alat kecil yang dilengkapi earphone dan mikrofon diletakkan di liang
telinga. Kemudian, dokter akan menghantarkan suara ke telinga pasien
melalui earphone, dan mikrofon akan mendeteksi respons koklea berupa getaran.
Pada pendengaran yang normal, getaran tersebut akan menghasilkan suara kecil
yang menggema ke liang telinga. Suara dari getaran itu lah yang diukur.
Respons yang dihasilkan koklea akan ditampilkan di layar monitor, sehingga pasien
tidak perlu memberikan tanda apa pun jika mendengar suara. Dokter akan menilai
suara apa yang menghasilkan respons, dan bagaimana kekuatan responsnya.
Melalui tes ini, dokter bisa menentukan jenis gangguan pendengaran yang dialami
pasien.
OAE juga bisa mendeteksi penyumbatan di bagian luar dan tengah telinga. Jika ada
penyumbatan, suara tidak akan masuk ke bagian dalam telinga, dan koklea tidak
akan menghasilkan respons apa pun.
Timpanometri
Sebelum menjalankan tes, dokter akan terlebih dulu memeriksa liang telinga pasien
untuk memastikan tidak ada kotoran telinga atau benda lain yang menghalangi
gendang telinga. Setelah liang telinga dipastikan bersih, dokter akan memasang alat
khusus di masing-masing telinga pasien. Rasa sedikit tidak nyaman akan dirasakan
pasien saat dipasangkan alat tersebut.
Setelah terpasang, alat khusus tersebut akan menghembuskan udara dalam
tekanan yang bervariasi ke dalam telinga, untuk membuat gendang telinga bergerak.
Gerakan gendang telinga tersebut kemudian akan ditampilkan dalam grafik di
timpanogram.
Grafik pada timpanogram akan menunjukkan apakah gendang telinga pasien
bergerak normal, terlalu kaku, atau terlalu banyak bergerak. Melalui timpanogram,
dokter juga bisa mengetahui apakah ada robekan pada gendang telinga pasien atau
cairan pada telinga tengah.
Pasien tidak dibolehkan berbicara, bergerak, atau melakukan gerakan menelan
selama tes berlangsung, karena akan memengaruhi hasil tes.
Hasil timpanometri bisa terbagi ke dalam hasil normal dan abnormal. Pendengaran
pasien dianggap tidak ada masalah jika tekanan udara pada telinga tengah berkisar
antara +50 hingga -150 decapascal, tidak terdapat cairan di bagian tengah telinga,
dan pergerakan gendang telinga masih normal.
Sedangkan hasil abnormal dapat menunjukkan adanya:
- Cairan atau tumor di bagian tengah telinga.
- Kotoran yang menutupi gendang telinga.
- Lubang atau luka pada membran timpani.
Timpanometri hanya dilakukan untuk memeriksa bagian tengah telinga. Dokter akan
menyarankan pasien untuk menjalani tes lain, jika tes timpanometri menunjukkan
hasil abnormal.
Setelah Tes Pendengaran
Dokter dan pasien akan mendiskusikan hasil tes, di antaranya tingkat gangguan
pendengaran yang dialami pasien, dan kemungkinan penggunaan alat bantu
dengar. Pasien juga disarankan mengenakan pelindung telinga jika sedang berada
di tempat yang bising.
Gangguan pendengaran diukur dalam satuan desibel (dB). Pasien yang menjalani
tes pendengaran bisa mendapatkan hasil sebagai berikut:




Gangguan pendengaran ringan (21-45 dB). Pasien sulit membedakan kata yang
diucapkan dengan suara pelan.
Gangguan pendengaran sedang (46-60 dB). Pasien sulit mendengar apa yang
sedang diperbincangkan, terutama jika ada suara keras di sekitarnya, seperti suara
dari televisi dan radio.
Gangguan pendengaran sedang hingga berat (61-90). Pasien sulit mendengar
percakapan biasa.
Gangguan pendengaran berat (91 dB). Pasien sulit mendengar hampir semua suara.
Umumnya pasien dengan gangguan pendengaran berat memerlukan alat bantu
dengar.
Efek Samping Tes Pendengaran
Tes pendengaran aman untuk dilakukan oleh semua orang, dan tidak menimbulkan
efek samping apa pun.
Terakhir diperbarui: 15 Mei 2018
Ditinjau oleh: dr. Tjin Willy
Referensi
Deteksi katarak di https://www.cekmata.com/
Pemeriksaan Visus Menggunakan Kartu
Snellen
Oleh : Amrin Madolan Juni 12, 2016 2 Komentar
Mata merupakan indera utama kita, oleh karena itu kita perlu menjaga kesehatannya, jika
tidak yakin dengan kondisi kesehatan mata kita, maka lakukanlah pemeriksaan kesehatan
mata.
Sebelumnya kami telah membagikan tips pemeriksaan kesehatan mata dengan
menggunakan buku ishihara (huruf tokek).
Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan sedikit tips yang berjudul "Pemeriksaan Visus
Menggunakan Kartu Snellen" dengan tujuan untuk sedikit memberikan pengertian kepada kita
tentang metode pemeriksaan tersebut hingga pada proses menginterpretasikan hasil dari
pemeriksaan tersebut.
Pemeriksaan Visus untuk Tes Ketajaman Penglihatan
Pemeriksaan Visus merupakan pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui ketajaman
penglihatan
seseorang.
Pemeriksaan
Visus
dapat
dilakukan
dengan
beberapa
cara/metode/alat, diantaranya:
1. Pemeriksaan menggunakan kartu snellen (Echart, Alphabet, Cincin Landolt, dan
Gambar Bintang). Alat pemeriksaan ini terdiri dari tiga jenis yaitu: Bentuk kertas,
Elektrik/Optotip dan Proyektor.
2. Pemeriksaan yang berikutnya dengan menggunakan Lensa Coba/Lensa Set/Lensa
Mata.
3. Gagang Coba Trial/Frame/Kaca Mata
Yang akan menjadi pembahasan kita kali ini adalah pemeriksaan dengan Kartu Snellen tipe
Alphabet beserta kelanjutan dari pemeriksaan tersebut jika terjadi kelainan berupa hitung jari,
goyang tangan dan cahaya gelap/terang.
Pemeriksaan Visus Menggunakan Kartu Snellen (Alphabet)
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Pemeriksaan Visus Menggunakan Kartu
Snellen sebagaimana yang akan dijelaskan di bawah ini berupa Ketentuan Pemeriksaan,
Cara Pemeriksaan, Cara Menginterpretasikan Hasil, dan Tindak Lanjut terhadap Hasil
Pemeriksaan.
Ketentuan pemeriksaan
Sebelum melakukan pemeriksaan, berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Orang yang diperiksa berada pada posisi 6 meter atau 20 kaki dari kartu snallen,
karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan istirahat atau tanpa
akomodasi;
2. Kartu snellen diletakkan sejajar dengan mata orang yang diperiksa;
3. Pastikan ruang tempat pemeriksaan cukup cahaya (tidak gelap dan tidak silau);
4. Orang yang diperiksa tidak buta huruf (tau membaca huruf), jika yang bersangkutan
buta huruf makan dapat menggunakan Echart atau menggunakan Cincin Landolt.
5. Orang yang diperiksa harus berumur > 5 Tahun.
6. Tidak melakukan pemeriksaan sendiri, artinya harus ada paling tidak 2 orang yaitu
orang yang diperiksa dan pemeriksa yang bertugas mengarahkan orang yang
diperiksa.
7. Pemeriksa berdiri di samping kartu snellen.
Pemeriksaan Visus
Cara Pemeriksaan
Setelah semua persiapan pemeriksaan siap, maka mulailah lakukan pemeriksaan dengan
cara sebagai berikut:
1. Jika mata kanan yang akan diperiksa, maka orang yang diperiksa harus menutup
mata sebelah kiri menggunakan tangan kiri dan memperhatikan instruksi yang
diberikan oleh pemeriksa, begitu pula sebaliknya, jika mata kiri yang diperiksa maka
mata kanan yang ditutup. Sebagai catatan, ketika menutup mata usahakan mata
yang ditutup jangan ditekan agar tidak berdampak pada pemeriksaan mata yang
sebelumnya ditutup.
2. Pemeriksa menunjuk huruf-huruf yang ada pada kartu snellen, dari atas ke bawah
atau dari huruf paling besar ke satu tingkat dibawanya dan dari kiri ke kanan pada
baris huruf kemudian orang diperiksa menyebutkan huruf yang ditunjuk oleh
pemeriksa. Jika terjadi ketidaksesuaian antara yang ditunjuk dengan yang di
sebutkan, maka dapat diulangi hingga 3 kali untuk memastikan.
3. Pemeriksa mencatat batas akhir huruf yang dapat terbaca.
Menafsirkan Hasil Pemeriksaan
Setelah melakukan pemeriksaan, maka kita menafsirkan hasil pemeriksaan atas ketajaman
penglihatan
orang
yang
diperiksa
dengan
ketentuan
sebagai
berikut:

Perhatikan gambar snellen alphabet berikut:
Snellen Alphabet

Bila orang diperiksa tidak dapat membaca kartu pada baris tertentu di atas visus normal, cek
pada 1 baris tersebut
1. Bila cuma tidak bisa membaca 1 huruf, berarti visusnya terletak pada baris tersebut
dengan false 1. Bila tidak dapat membaca 2, berarti visusnya terletak pada baris
tersebut dengan false 2.Bila tidak dapat membaca lebih dari setengah jumlah huruf
yang ada, berarti visusnya berada di baris tepat di atas baris yang tidak dapat
dibaca.
2. Bila tidak dapat membaca satu baris, berarti visusnya terdapat pada baris di
atasnya.

Bila terdapat penurunan visus, maka cek dengan menggunakan pinhole (alat untuk
memfokuskan titik pada penglihatan orang diperiksa)

Snelleen chart yang yang digunakan dalam ukuran kaki = normalnya 20/20.

Jika orang diperiksa dapat membaca seluruh huruf pada baris ke 8. Berarti visus normal

Bila hanya dapat membaca huruf E, D, F, C pada baris ke 6 maka visus 20/30 dengan false 2.
Artinya, orang normal dapat membaca pada jarak 30 kaki sedangkan orang diperiksa hanya
dapat membacanya pada jarak 20 kaki.

Bila orang diperiksa membaca huruf Z, P pada baris ke 6 maka visus 20/40;

Bila tidak dapat membaca huruf pada baris ke 6, cek baris ke 5 dengan ketentuan seperti di atas.

Cara pemeriksaan berlaku untuk Echart dan Cincin Landolt.

Bila
tidak
o
bisa
membaca
kartu,
maka
dilanjutkan
dengan
penghitungan
jari.
Penghitungan jari di mulai pada jarak tepat di depan Snellen Chart (6 m dari orang
diperiksa)

Dapat menghitung jari pada jarak 6 m maka visus 6/60

Bila tidak dapat menghitung jari pada jarak 6 m, mka maju 1 m dan lakukan
penghitungan jari. Bila orang diperiksa dapat membaca maka visus 5/60.

Begitu seterusnya, bila tidak dapat menghitung jari 5 m, di majukan jadi 4 m,
3 m, sampai 1 m di depan orang diperiksa.

Bila tidak bisa menghitung jari pada jarak tertentu, maka dilakukan pemeriksaan penglihatan
dengan
o
lambaian
Lambaian
tangan
dilakukan
tepat
tangan.
1
m
di
depan
orang
diperiksa.
Dapat berupa lambaian ke kiri dan kanan, atau atas bawah. Jika orang diperiksa dapat
menyebutkan arah lambaian, berarti visus 1/300

Bila tidak bisa melihat lambaian tangan, maka dilakukan penyinaran, dapat menggunakan 'pen
light'. Bila dapat melihat sinar, berarti visusnya 1/~. Tentukan arah proyeksi :
o
Bila orang diperiksa dapat menyebutkan dari mana arah sinar yang datang, berarti visus
1/~ dengan proyeksi baik. Proyeksi sinar ini di cek dari 4 arah. Hal tersebut untuk
mengetahui apakah tangkapan retina masih bagus pada 4 sisinya, temporal, nasal,
superior, dan inferior.
o
Bila tak dapat menyebutkan dari mana arah sinar yang datang, berarti visus 1/~ dengan
proyeksi salah.

Bila tidak dapat melihat cahaya, maka dikatakan visus 0.
Kategori Visus
Visus dibagi dalam tujuh kategori. Adapun penggolongan kategori visus adalah sebagai
berikut:
Penglihatan Normal
Kategori penglihatan normal jika hasil pemeriksaan berada pada kisaran seperti pada tabel
berikut:
Penglihatan Normal
Penglihatan Hampir Normal
Dikatakan penglihatan hampir normal jika hasil pemeriksaan berada pada kisaran seperti
pada
tabel
berikut:
Penglihatan Hampir Normal
Pada keadaan ini tidak menimbulkan masalah yang gawat tapi perlu diketahui penyebabnya
karena
kemungkinan
masih
dapat
diselesaikan.
Low Vision Sedang
Dikatakan penglihatan Low Vision Sedang jika hasil pemeriksaan berada pada kisaran seperti
pada
tabel
berikut:
Low Vision Sedang
Pada keadaan ini, orang tersebut masih bisa membaca dengan cepat jika menggunakan
kacamata
pembesar.
Low Vision Berat
Dikatakan Low Vision Berat jika hasil pemeriksaan berada pada kisara seperti yang tercantum
pada
tabel
berikut:
Low Vision Berat
Pada keadaan ini, orang tersebut masih mungkin orientasi dan mobilitas umum akan tetapi
mendapat kesukaran pada lalu lintas dan melihat nomor mobil. Untuk membaca diperlukan
lensa
pembesar
kuat
dan
membaca
menjadi
lambat.
Low Vision Nyata
Dikatakan Low Vision Nyata jika hasil pemeriksaan berada pada kisaran seperti pada tabel
berikut
ini:
Low Vision Nyata
Pada kondisi ini, semakin bertambahnya masalah orientasi dan mobilisasi. Diperlukan tongkat
putih untuk mengenal lingkungan. Hanya minat yang kuat agar masih mungkin membaca
dengan
kaca
pembesar,
umumnya
memerlukan
Braille,
radio,
pustaka
kaset.
Hampir Buta
Penglihatan kurang dari 4 kaki untuk menghitung jari pada saat pemeriksaan. Penglihatan
tidak bermanfaat kecuali pada keadaan tertentu. Orang dengan keadaan ini harus
mempergunakan
alat
nonvisual.
Buta Total
Tidak mengenal rangsangan sinar sama sekali pada saat pemeriksaan. Seluruhnya
tergantung pada alat indera lainnya atau bukan mat.
Demikianlah yang dapat kami bagikan tentang Pemeriksaan Visus Menggunakan Kartu
Snellen, semoga dapat bermanfaat.
Beberapa tanda dan gejala katarak adalah:






Pandangan kabur seperti berkabut.
Warna di sekitar terlihat memudar.
Rasa silau saat Anda melihat lampu mobil, matahari atau lampu. Anda juga dapat
melihat lingkaran di sekeliling cahaya.
Pandangan ganda.
Penurunan penglihatan di malam hari.
Sering mengganti ukuran kacamata.
Kenali Gejala dan Ciri-ciri Katarak
Lantas, apa sih ciri-ciri katarak itu? Bagaimana kita tahu kalau diri sendiri
atau orang lain mungkin menderita gangguan mata satu ini? Berikut
beberapa di antaranya:
1. Warna putih di bagian hitam mata
Ciri utama katarak pada mata adalah memutihnya bagian hitam mata,
tepatnya pada lensa mata. Lensa mata ini sebenarnya bening atau
transparan, namun kalau dari luar hanya terlihat hitam saja. Pada tahap
awal memang tidak terlihat nyata, lambat laun terlihat seperti berawan,
lalu kemudian putih pekat. Hal inilah yang membuat penderitanya
mengalami gangguan penglihatan bahkan sampai kebutaan.
ciri khas katarak mata: lensa memutih
2. Daya lihat saat malam terganggu
Kalau di siang hari, pandangan tampak normal-normal saja, namun
menjadi lebih kabur ketika malam tiba, maka bisa jadi ini merupakan salah
satu gejala bahwa Anda terkena katarak. Akibatnya, Anda
mungkin kesulitan menyetir kendaraan di malam hari.
Terkait bahaya dari ciri katarak satu ini, sebuah penelitian dilakukan di
Universitas Curtin (Australia). Para ahli menyarankan penderita katarak
melakukan pengobatan dengan segera guna
mengurangi risiko kecelakaan hingga 13%. Jadi kalau Anda mengalami
gejala ini, segera konsultasikan ke dokter dan jangan menyetir saat malam
agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Iklan dari HonestDocs
HonestDocs Health Shop - Pesan Obat Jadi Lebih Mudah!
GRATIS biaya antar obat ke seluruh Indonesia hingga Rp.30,000
(minimum transaksi Rp.50,000)
Pesan Sekarang
Mungkin gejala katarak seperti ini akan mirip dengan rabun senja atau nyctalopia,
untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter mata.
3. Mata jadi sensitif terhadap cahaya
Ketika mata terkena katarak, maka indera penglihatan akan menjadi
sensitif terhadap cahaya. Ketika terkena sorotan lampu atau blitz kamera
misalnya, maka mata akan terasa sakit, begitu silau dan Andapun berusaha
untuk menghindarinya.
4. Melihat lingkar cahaya di mana-mana
Adanya gumpalan ‘awan’ kecil di lensa mata membuat cahaya yang
masuk mata jadi menyebar. Inilah yang membuat Anda melihat lingkar
cahaya saat menatap lampu atau sumber cahaya lainnya. Dan lingkar
cahaya ini pulalah yang seringkali membuat aksi menyetir di malam hari
terasa sulit dan berbahaya.
5. Pandangan jadi ganda
Menyebarnya cahaya yang masuk lensa mata juga dapat membuat
pandangan Anda jadi ganda. Hasilnya, sebuah obyek jadi terlihat ada 2
atau lebih. Meski katarak merupakan pemicu utama kondisi ini, namun
pandangan ganda (diplopia) juga dapat disebabkan oleh
gangguan medis lain seperti tumor otak, pembengkakan kornea, sklerosis
ganda, atau stroke.
6. Sering ganti kacamata
Apakah belakangan ini Anda mendapati diri terus-menerus membutuhkan
kacamata baru karena yang lama tetap kurang jelas ketika dikenakan?
Lagi-lagi mungkin bukan minus atau silinder bertambah yang jadi
penyebabnya, melainkan katarak. Bila Anda mengalami gejala katarak
yang satu ini, maka segeralah konsultasikan ke dokter. Mata Anda
mungkin mengidap katarak atau gangguan lain yang butuh perawatan
segera.
7. Semuanya terlihat serba kuning
Begitu katarak semakin parah, maka gumpalan protein yang menutupi
lensa mungkin akan berubah warna menjadi kuning atau kecoklatan.
Akibatnya, semua cahaya yang melalui bagian ini akan memberikan hasil
kuning juga. Bila ini sampai terjadi, maka obyek sekeliling Anda akan
tampak kuning semua.
8. Susah membedakan warna
Karena semua tampak putih ataupun kuning, maka Anda jadi kesulitan
untuk mengenali warna sebuah obyek.
9. Yang bersih jadi tampak kotor
Buramnya pandangan juga dapat membuat gelas bersih yang Anda lihat
seperti kotor atau bernoda. Padahal yang bermasalah bukan gelasnya,
namun kualitas daya lihat mata.
10. Kesulitan memperkirakan kedalaman atau ketinggian suatu
obyek
Salah satu dari ciri-ciri katarak selanjutnya adalah kesulitan dalam menilai
kedalaman dan ketinggian objek. Saat melihat kolam renang
atau bathtub, Anda merasa kesulitan untuk mengira-ngira seberapa dalam
itu. Bahkan ketika ingin menjejakkan kaki ke anak tangga di depan mata,
Anda juga sulit mengira-ngira tinggi anak tangga tersebut.
11. Butuh cahaya lebih terang saat beraktivitas
Ketika melakukan aktivitas seperti membaca, menjahit, menulis, atau
membuat kerajinan, mata katarak selalu membutuhkan cahaya lebih terang
atau posisi lampu yang dekat letaknya.
Simak juga: Cara Menjaga Kesehatan Mata yang Benar Menurut Dokter
Itulah tadi beberapa ciri-ciri katarak yang harus diwaspadai. Dan
dikarenakan gangguan mata satu ini bisa memicu kebutaan kalau dibiarkan
terus-menerus, maka bila Anda mengalami gejala katarak di atas, segera
konsultasikan ke dokter untuk penanganannya.
1. Katarak
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidarasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa. Biasanya kekeruhan mengenai kedua
mata dan berjalan progressif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang
lama. Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat
kelainan congenital, atau penyulit penyakit mata local menahun.
2. Rabun Jauh
Rabun jauh adalah kebalikan dari rabun dekat, mata dengan lensa terlalu cembung atau bulat
mata terlalu panjang. Rabun jauh adalah ketidakmampuan mata untuk melihat dalam jarak yang
jauh. Bayangan yang dihasilkan akan jatuh didepan retina. Penderita rabun jauh dapat
menggunakan kacamata berlensa cekung atau negatif. Lensa cekung akan menempatkan
kembali bayangan tepat dititk retina, sehingga mata dapat melihat benda yang jauh. Siapa yang
bisa terkena rabun jauh? Mereka yang : memiliki keturunan orang tuanya yang juga penderita
miopia, kurang asupan makanan bergizi terutama makanan yang mengandung vitamin A,
memiliki kebiasaan buruk melihat benda dengan jarak yang sangat dekat misalnya melihat
televisi terlalu dekat, membaca terlalu dekat dan kurang cahaya dll.
3. Rabun Dekat
Rabun dekat atau hipermetropi atau hiperopia adalah gangguan pada penglihatan yang
disebabkan lensa mata terlalu pipih. Bayangan benda yang dilihat terbentuk di belakang retina
sehingga mata tidak dapat melihat benda-benda yang dekat. Penglihatan penderita hipermetropi
dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata berlensa cembung atau positif. Dengan lensa
cembung, sinar yang jatuh di belakang retina akan dikembalikan tepat pada retina sehingga
dapat melihat benda dari jarak dekat.
4. Rabun Senja
Rabun senja atau nyctalopia atau hemeralopi adalah gangguan penglihatan kala senja atau
malam hari atau dalam cahaya redup. Rabun senja juga sering disebut rabun ayam, karena
ayam tidak dapat melihat jelas saat senja atau malam hari. Rabun senja terjadi karena adanya
kerusakan pada sel retina yang seharusnya dapat bekerja saat melihat benda/objek dengan
cahaya yang kurang atau redup. Penyebab terjadinya rabun senja antara lain; katarak, rabun
jauh, pemakaian obat-obatan tertentu, kekurangan vitamin A (walaupun sangat jarang), bawaan
dari lahir, mata minus dll. Penderita rabun senja dapat menyebabkan masalah dengan
mengemudi di malam hari, kesulitan melihat bintang, berjalan di ruangan/tempat yang gelap dll.
Rabun senja dapat dikurangi dengan mengkonsumsi suplemen vitamin A atau jika sangat
mengganggu penglihatan secara signifikan, maka sangat penting untuk memeriksakan diri ke
dokter spesialis mata. Agar diketahui penyebabnya dan dapat segera diperbaiki, misalnya
dengan kacamata atau pengangkatan katarak.
5. Presbiopi (Mata Tua)
Presbiopi adalah suatu keadaan gangguan penglihatan yang umum terjadi karena faktor usia.
Presbiopi sering disebut kondisi penuaan mata, dimana menyebabkan tidak mampu fokus
melihat dari jarak dekat dan tidak dapat melihat benda jauh dengan jelas, karena ada masalah
yang berkaitan dengan pembiasan pada mata. Mata tidak mampu memfokuskan cahaya
langsung ke retina akibat pengerasan dari lensa alami. Penuaan mempengaruhi serat otot di
sekitar mata sehingga sulit bagi mata tua untuk fokus pada objek dekat, sehingga
ketidakefektifan lensa menyebabkan cahaya berfokus ke retina, menyebabkan berkurangnya
penglihatan pada benda-benda yang dekat. Ketika kita muda, lensa mata masih lembut dan
fleksibel, memungkinkan otot-otot kecil di dalam mata dapat dengan mudah membentuk kembali
lensa untuk fokus pada benda dekat maupun jauh. Kacamata berlensa cekung dan cembung
sekaligus adalah cara paling sederhana dan paling aman aman untuk mengoreksi presbiopi.
6. Buta Warna
Buta warna terjadi ketika ada masalah dengan butiran sensor-warna (pigmen) dalam sel-sel
saraf tertentu dari mata. Buta warna sama sekali bukanlah bentuk kebutaan, tetapi kekurangan
dalam cara Anda melihat warna dan kesulitan dalam membedakan warna tertentu, seperti biru
dan kuning atau merah dan hijau. Buta warna dapat menurun dan laki-laki lebih sering terkena
kasus buta warna daripada perempuan. Buta warna karena keturunan tidak dapat disembuhkan,
tetapi dapat dibantu dengan memakai kacamata lensa warna, untuk membantu membedakan
warna lebih dengan mudah. Atau dengan kacamata dengan lensa yang dapat mengurangi
cahaya, karena jika terlalu terang atau silau penderita buta warna lebih sulit membedakan
warna.
7. Pterygium
Pterygium adalah salah satu penyakit mata yang ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan
selaput tipis di konjungtiva yang menutupi bagian putih dari mata dan meluas ke kornea.
Pterygium hampir mirip dengan pinguecula. Hanya saja pterygium berbentuk segitiga dan
puncaknya terletak di kornea. Penyebab pterygium juga belum diketahui secara pasti. Namun
pterygium lebih sering terjadi pada orang yang sering terpapar sinar UV, angin, berdebu dan
orang-orang yang bekerja diluar rumah. Para petani dan nelayan serta orang-orang yang tinggal
di dekat garis khatulistiwa lebih banyak terkena pterygium. Pterygium adalah pertumbuhan
jaringan non-kanker, namun jika pertumbuhannya cepat dan meluas ke kornea, maka
penglihatan penderita pterygium akan menjadi kabur dan silau. Gejala pterygium diantaranya
mata akan terasa mengganjal, sedikit gatal, berair, tetapi adapula yang tidak memiliki gejala. Hal
yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi pertumbuhan pterygium adalah
menghindari kontak langsung dengan sinar UV dengan mengguanakan kacamata hitam jika
berada diluar dengan sinar matahari yang menyengat, menjaga mata tetap lembab dan
menghindari iritasi. Hubungi dokter jika pertumbuhan pterygium terjadi dengan cepat dan
mengganggu visi.
8. Pinguecula
Pinguecula adalah salah satu degenerasi konjungtiva mata (membran mukosa tipis yang
membatasi dalam dari kelopak mata dan melipat ke belakang membungkus permukaan depan
dari bola mata) yang umum terjadi. Pinguecula merupakan pertumbuhan jaringan tipis (selaput)
non-kanker di konjungtiva dan tidak berbahaya. Pinguecula terlihat seperti benjolan kecil di ujung
bola mata dekat dengan kornea dan berwarna kekuningan. Penyebab pastinya belum diketahui,
namun penyebab paling umum terjadi adalah karena paparan sinar matahari dan iritasi mata.
Pinguecula tidak memerlukan pengobatan, misalnya dengan tindakan operasi atau tindakan
medis lainnya. Hal yang dapat dilakukan agar terhindar dari pinguecula adalah dengan menjaga
mata tetap basah, menghindari paparan langsung ultraviolet dengan menggunakan kacamata
hitam, hindari iritasi mata. Hubungi dokter jika pinguecula berubah ukuran, berubah warna dan
berubah bentuk.
9. Astigmatisma
Astigmatisma atau mata silindris adalah suatu kondisi mata/penglihatan dimana penglihatan
menjadi kabur, disebabkan oleh bentuk kornea yang tidak teratur, dimana lensa mata
mempunyai cekungan yang berbeda antara tengah dan pinggir. Dikarenakan bayangan benda
jatuh di retina mata ada dua tidak satu, sehingga efeknya adalah penderita melihat benda
seakan menjadi dua/kabur/blur. Penderita astigmatisma reguler (melihat garis vertikal terlihat
kabur dan garis horisontal terlihat jelas) dapat dikoreksi dengan kacamata berlensa silindris.
Selain dengan kacamata, penderita silindris dapat mendapatkan visi yang jelas dengan
menggunakan lensa kontak, orthokeratology, laser dan prosedur operasi bias lainnya.
10. Kebutaan
Kebutaan adalah kondisi dimana kurangnya persepsi visual karena faktor fisiologis (fisik) dan
neurologi (syaraf), yang merujuk kepada hilangnya penglihatan yang tidak dapat dikoreksi/diobati
dengan kacamata atau lensa kontak. Kebutaan terbagi menjadi dua, parsial dan lengkap.
Kebutaan parsial berarti memiliki visi/pandangan yang sangat terbatas. Kebutaan lengkap berarti
tidak dapat melihat apa-apa dan tidak bisa melihat cahaya. Kebutaan/kehilangan penglihatan
dapat terjadi secara tiba-tiba atau selama periode waktu. Kebutaan dapat terjadi karena
beberapa sebab, diantaranya adalah;
- kecelakaan atau luka pada permukaan mata
- diabetes
- galukoma, mengacu pada kondisi mata/penyakit mata yang menyebabkan kerusakan pada
syaraf optik, sehingga lama kelamaan menjadi kebutaan.
- degenerasi makula, adalah gangguan mata yang perlahan-lahan menurunkan ketajaman,
penglihatan sentral sehingga sulit untuk melihat detil seperti membaca dan menulis.
Seiring dengan perkembangan dunia medis, kebutaan dapat disembuhkan dengan implan
steroid dalam suntikan melepaskan obat antiinflamasi di dekat retina. Namun biayanya pun
sangatlah mahal. Beberapa tips agar terhindar dari kebutaan, ada baiknya perlu diikuti, seperti;
menggunakan sunglasses agar terhindar dari sinar UV, menerapkan pola hidup sehat dengan
mengkonsumsi makanan yang mengandung vit A, memeriksakan mata secara rutin bila sudah
mencapai usia 40 tahun, berhati-hati dalam menggunakan lensa kontak.
Download