Uploaded by User4297

MAKALAH KIMIA ORGANIK BAHAN ALAM (Minyak Atsiri)

advertisement
MAKALAH
KIMIA ORGANIK BAHAN ALAM
“MINYAK ATSIRI”
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 15
MATERI 9
-BALGIS
(A 251 16 057)
-TRISANTI VIANITA
-NOVITA ANGGI
(A 251 15 052)
(A 251 16 029)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat, kasih dan karuniaNya
sehingga Makalah Kimia Organik Bahan Alam yang berjudul “Minyak Atsiri”
dapat selesai dengan lancar. Maksud dari penulisan makalah ini adalah mengkaji
lebih dalam tentang minyak atsiri, kegunaannya dalam kehidupan, dan
peningkatan mutu minyak atsiri berdasarkan kajian dan penelitian secara kimia.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah banyak membantu membangun gagasan ini. Penulis juga
tahu dan sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu saran
dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar makalah ini dapat
berkembang dengan lebih baik. Penulis berharap agar makalah ini dapat
bermanfaat dan diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Palu, Februari 2019
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I .......................................................................................................................1
PENDAHULUAN ...................................................................................................1
A. Latar Belakang ................................................................................................1
BAB II ......................................................................................................................3
PEMBAHASAN ......................................................................................................3
A. Definisi Minyak Atsiri ....................................................................................3
B. Sifat Minyak Atsiri .........................................................................................4
C. Minyak atsiri golongan ester ..........................................................................4
BAB III ..................................................................................................................27
PENUTUP ..............................................................................................................27
A.Kesimpulan ....................................................................................................27
B. Saran ..............................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................28
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak dahulu orang telah mengenal berbagai jenis tanaman yang
memiliki bau spesifik. Bau tersebut ditimbulkan oleh tanaman, baik dari
batang, daun, rimpang atau keseluruhan bagian tanaman. Bau khas tsb,
ternyata ditimbulkan secara biokimia sejalan dengan perkembangan proses
hidupnya sebagai suatu produk metabolit sekunder yang disebut minyak
atsiri. Minyak ini dihasilkan oleh sel tanaman atau jaringan tertentu dari
tanaman secara terus menerus sehingga dapat memberi ciri tersendiri yang
berbeda-beda antara tanaman satu dengan tanaman lainnya. Minyak ini bukan
merupakan senyawa tunggal, tetapi tersusun oleh gabungan dari berbagai
senyawa pencetus bau lainnya yang jenis, sifat dan khasiatnya berbeda.
Minyak atsiri disebut juga minyak essensial, istilah essential dipakai
karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya. Minyak atsiri yang
disebut juga minyak eteris atau minyak terbang banyak diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan kemajuan teknologi di bidang minyak atsiri
maka usaha penggalian sumber-sumber minyak atsiri dan pendayagunaannya
dalam kehidupan manusia semakin meningkat. Minyak atsiri tersebut
digunakan sebagai bahan pengharum atau pewangi pada makanan, sabun,
pasta gigi, wangi-wangian dan obat-obatan. Untuk memenuhi kebutuhan itu,
sebagian besar minyak atsiri diambil dari berbagai jenis tanaman penghasil
minyak atsiri.
Minyak atsiri merupakan salah satu hasil sisa proses metabolisme
dalam tanaman, yang terbentuk karena reaksi antara berbagai persenyawaan
kimia dengan adanya air. Minyak tersebut disintesis dalam sel kelenjar pada
jaringan tanaman dan ada juga yang terbentuk dalam pembuluh resin,
misalnya minyak terpentin dari pohon pinus. Minyak atsiri selain dihasilkan
1
oleh tanaman dapat juga terbentuk dari hasil degradasi trigliserida oleh enzim
atau dapat dibuat secara sintesis.
Minyak atsiri biasanya digunakan sebagai salah satu campuran pada
bahan baku pada industri kosmetik, sabun dan deterjen, farmasi, produk
makanan dan minuman dan masih banyak produk lainnya. Minyak atsiri
digunakan sebagai pengikat aroma pada industri kosmetik dan farmasi serta
sebagai pemberi rasa pada industri makanan.
Walaupun minyak atsiri mengandung banyak bahan kimia yang
berbeda, akan tetapi rasa atau aroma intinya masih dapat ditambahkan oleh
satu sampai lima bahan campuran lain yang berbeda. Untuk alasan inilah
bahan sintetik atau nature-identical dapat mengancam keberlanjutan produksi
dari beberapa jenis minyak atsiri. Meskipun demikian, karena alasan
kontribusi minyak atsiri pada setiap produk hanya sedikit, banyak perusahaan
produk makanan yang memerlukan jenis minyak atsiri sebagai salah satu
bagian kecil dalam kebutuhan bahan bakunya berusaha terus mendapatkan
suplai yang kontinu dengan keseragaman mutu yang baik untuk menjaga
tidak terjadinya perubahan rasa pada produk yang dihasilkan.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan minyak atsiri.
2. Menjelaskan sifat fisika dan kimia minyak atsiri.
3. Menjelaskan minyak atsiri golongan ester.
4. Menjelaskan contoh tanaman yang mengandung minyak atsiri golongan
ester.
5. Menjelaskan metode memperoleh minyak atsiri.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Minyak Atsiri
Minyak atsiri didefinisikan sebagai produk hasil penyulingan dengan
uap dari bagian-bagian suatu tumbuhan. Minyak atsiri dapat mengandung
puluhan atau ratusan bahan campuran yang mudah menguap (volatile) dan
bahan campuran yang tidak mudah menguap (non-volatile), yang merupakan
penyebab karakteristik aroma dan rasanya. Kata essential oil diambil dari kata
quintessence, yang berarti bagian penting atau perwujudan murni dari suatu
material, dan pada konteks ini ditujukan pada aroma atau essence yang
dikeluarkan oleh beberapa tumbuhan (misalnya rempah-rempah, daun-daunan
dan bunga).
Minyak atsiri merupakan suatu produk yang memiliki bau khas
sebagai perkembangan proses hidup tanaman. Minyak atsiri dihasilkan oleh
sel tanaman atau jaringan tertentu dari tanaman secara terus menerus
sehingga dapat memberi ciri tersendiri yang berbeda-beda antara tanaman
satu dengan tanaman lainnya. Para ahli biologi menganggap, minyak atsiri
merupakan metabolit sekunder yang biasanya berperan sebagai alat
pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen
untuk bersaing dengan tumbuhan lain dalam mempertahankan ruang hidup.
Dalam bidang industri minyak atsiri digunakan dalam pembuatan
kosmetik, parfum, antiseptik, obat-obatan, flavouring agent dalam makanan
atau minuman, serta sebagai pencampur rokok kretek. Beberapa jenis minyak
atsiri digunakan sebagai bahan antiseptik internal dan eksternal, bahan
analgesik, hemolitik atau sebagai antizimatik, serta sebagai sedativa dan
stimulans untuk obat sakit perut.
3
B. Sifat Minyak Atsiri
1. Sifat Fisik
Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah.
Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf
manusia (terutama di hidung) sehingga seringkali memberikan efek
psikologis tertentu (baunya kuat). Setiap senyawa penyusun memiliki efek
tersendiri, dan campurannya dapat menghasilkan rasa yang berbeda.
2. Sifat Kimia
Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit
berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung
jawab atas suatu aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk
dalam golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut
dalam minyak/lipofil.
Secara kimia, minyak atsiri bukan merupakan senyawa tunggal,
tetapi tersusun dari berbagai macam komponen yang secara garis besar
terdiri dari kelompok terpenoid dan fenil propana.
3. Sifat Biologi
Dalam keadaan segar dan murni, minyak atsiri umumnya tidak
berwarna. Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat
teroksidasi. Untuk mencegahnya, minyak atsiri harus disimpan dalam
bejana gelas yang berwarna gelap, diisi penuh, ditutup rapat, serta
disimpan di tempat yang kering dan sejuk.
C. Minyak atsiri golongan ester
Minyak atsiri secara umum terdiri atas unsur-unsur karbon (C),
hidrogen (H), dan oksigen (O), kadang-kadang juga terdiri dari nitrogen (N)
dan belerang (S). Dalam minyak atsiri terdapat senyawa-senyawa golongan
monoterpen, sesquiterpen, fenol, alcohol, eter/ ester, dan kumarin. Sebagian
besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa organik terpena dan
terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/ lopofil. Terpen merupakan
4
persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh dan satuan terkecil dalam molekulnya
disebut isoprena. Senyawa terpen mempunyai rangka karbon yang terdiri dari
2 atau lebih satuan isopren. Klasifikasi dari terpen didasarkan atas jumlah
satuan isopren yang terdapat dalam molekulnya yaitu : monoterpen,
seskuiterpen, diterpen, triterpen, tetraterpen dan politerpen yang masingmasing terdiri dari 2,3.4.6.8 dan n satuan isopren (Finar, 1959).
Monoterpen terdiri dari 10 atom karbon. Monoterpen terdapat dalam
sebagian besar minyak atsiri terutama dalam minyak jeruk. Merupakan
minyak yang tidak berwarna, sangat stabil disimpan pada suhu yang dingin
dan berfungsi sebagai antseptik,
Contoh minyak atsiri adalah limonen
(dalam minyak lemon), pinen (dalam pinus) dan camphor (dalam kapur
barus).
Sesquiterpen merupakan terpen yang tidak mudah berubah seperti
monoterpen. Terdiri dari 15 atom karbon (sesqui = satu setengah).
Sesquiterpen memiliki efek anti inflammatory dan anti-infeksi. Contohnya
adalah minyak jahe (dalam jahe), cedrene (dalam cedarwood) dam
caryophyllen (dalam cengkeh). Rantai molekul terpen dalam minyak atsiri
merupakan rantai terbuka (terpen alifatis) dan rantai melingkar (terpen siklis).
Ester atau alkil alkanoat, adalah senyawa turunan alkana dengan
gugus fungsi -COO- dan rumus umum CnH2nO2. Ester merupakan salah satu
senyawa yang istimewa karena dapat ditemukan baik di buah-buahan, lilin,
dan lemak. Ester juga memiliki bau yang harum sehingga banyak
dimanfaatkan oleh manusia dalam berbagai bidang. Ester diberi nama alkil
alkanoat, dimana alkil adalah gugus karbon yang terikat pada atom O (gugus
R’) dan alkanoat adalah gugus R-COO-.
Adapun rumusan penentuan tata nama ester didasarkan pada beberapa hal:
1. Rantai induk adalah rantai terpanjang yang mengandung gugus alkanoat.
2. Penomoran dimulai dari atom C pertama yang terikat pada atom O.
5
Rumus penentuan tata nama senyawa ester secara umum adalah:
(no.cabang) (nama cabang) (nama rantai induk)
Contoh:
CH3-CH2-COO-CH2-CH3: etil propanoat
CH3-CH2-CH2-CH2-COO-CH3: metil pentanoat
CH3-CH2-COO-CH2-CH(CH3)-CH3: 2-metil propil propanoat
Golongan Ester/ Eter dalam minyak atsiri, dimana eter lebih
kuat daripada ester, namun keduanya memiliki sifat serupa. Merupakan
antIpasmodik yang kuat, antibakteri dan antiinflamasi. Sifatnya sangat
lembut pada kulit dan sangat efesien sebagai relaksasi.
Minyak atsiri ester yang terdapat dalam minyak atsiri sangat
banyak jenisnya, tetapi yang umum terdapat adalah ester asetat dari
terpineol, borneol dan geraniol. Senyawa lain yang terdapat dalam minyak
atsiri adalah senyawa alil-isotiosianat didalam minyak mosterd metil
salisilat didalam oleum gaultheriae.
D. Tanaman Minyak Atsiri Golongan Ester
1. JASMIM FOLIUM
6
Nama lain
: Daun Melati
Penggunaan
: Obat Bisul, Menghentikan ASI
Bunga melati J. officinale pada tingkat ketuaan M-1 berwarna putih
keunguan, saat panen tidak harum tetapi menjadi harum setelah mekar.
Ukuran bunga telah optimal (bobot kuntum 0,98 ± 0,01 g, diameter
kuntum 4,15 ± 0,47 mm, dan panjang kuntum 20,16 ± 1,78 mm).
(myrtinyl asetat)
Komposisi komponen kimia terdiri dari
-
lynalol (2,9%),
-
benzyl acetat (46,8%),
-
methyl salicilat (24,4%),
-
benzyl alcohol (1,3%),
-
Z. jasmone (20,2%),
-
neurol idol (2,7%),
-
dan indole (1,7%).
7
2. BURMANI CORTEX (sinamil asetat)
Nama lain :
Kulit manis jangan, Kulit kayu manis padang,Keningar
Nama tanaman asal :
Family :
Cinnamomum Burmani (Blume)
Lauraceae.
Zat berkhasiat utama / isi
:
Cinnamaldehyde
Minyak kulit kayu manis mengandung: sinamaldehid (merupakan fenil
propanoid golongan fenil propena)
-
Minyak atsiri yang mengandung sinamil aldehid, sinamil asetat, borneol,
simen. Zat penyamak, damar, bornil asetat
Komposisi kimia yang terdapat dalam minyak kayu manis jenis Cassia
adalah sinamat aldehyde, sinamil acetate, salisil aldehyde, asam sinamat,
asam salisilat, o-metoksin, benzaldehyde, metal o-coumaraldehyde, dan
phenil propil asetat.
Penggunaan :
Diaforetika, karminativa, anti
pewangi, bumbu masak
Pemerian
: Bau khas, rasa manis
Bagian yang digunakan
: Kulit batang
8
iritansia, bahan
3.
CENDANA (SANTALUM ALBUM LINN)
Kandungan Minyak Cendana:
Minyak
atsiri,
hars,
(seskuiterpenalkohol),
dan
santalen
zat
samak.
(seskuiterpena),
Minyak:
Santalol
santen,
santenon,
santalal, santalon, dan isovalerilaldehida.
Santalol (seskuiterpenalkohol)
Khasiat Minyak cendana :
Khasiat
kayu
cendana
adalah
sebagai
penurun
demam
(Antipiretik),pereda rasa nyeri (analgesik), meredakan kolik angin
dalam perut (karminatif), meningkatkan nafsu makan (stomakik),
dan menambah kecepatan pembentukan urin (diuretik).
Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa
orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang
9
sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk
penyembuhan cara Ayurveda, dan untuk menghilangkan rasa cemas.
Manfaat Minyak cendana.
Kayu:
- Antiseptik saluran kemih, Disentri, Mencret, Radang usus.
Daun:
-Asma.
Kulit kayu/Kulit akar: - Haid tidak teratur.
Selain untuk obat, Cendana dapat dimanfaatkan untuk bahan
kosmetika. Minyak Cendana juga digunakan sebagai obat gosok (dicampur
dengan minyak kelapa). Minyaknya mengandung santalol. Kayunya (yang
dipelihara sampai berumur 20 – 40 tahun) dijadikan perhiasan, patung,
kipas, kotak cerutu dan alat rumah tangga lainnya.
4. MINYAK GONDOPURO (GAULTBERIA PROCUMBEN)
Nama Simplisia gandapura:
Oleum
Gaultheriae
oil/Gaultheriae
aetheris
untuk
Minyak
Gandapura dan Gaultheriae Folium untuk Daun Gandapura. (Depkes,
1985)
Kandungan Kimia Daun gandapura:
Minyak atsiri, metil salisilat, glikosida, zat samak, dan harsa.
10
Metil salisilat adalah cairan dengan bau khas yang diperoleh dari
daun dan akar tumbuhan wangi. Zat ini juga dibuat dengan sintesis. Metil
salisilat termasuk senyawa ester yang dapat dibuat secara sintesis dengan
jalan mereaksikan suatu senyawa asam karbiksilat dengan alkohol dalam
suasana asam (Underwood, 1997).
Metil salisilat
Khasiat gandapura sebagai : Karminatif dan antiseptik.
5. MINYAK LAVENDER (Lavandula angustifolia)
Family : Lamiaceaea
Kandungan :
-
minyak esensial (1-3%)
-
alpha-pinene (0,22%)
-
camphene (0,06%)
11
-
beta-myrcene (5,33%)
-
cymene (0,3%)
-
limonene (1,06%)
-
cineol (0,51%)
-
linalool (26,12%)
-
borneol (1,21%)
-
terpinen-4-ol (4,64%)
-
linalyl acetate (26,32%)
-
geranyl acetate (2,14%)
-
caryophyllene (7,55%)
Linalool
Kegunaan
-
Rileksasi saraf
-
Aromaterapi
-
Menanggulangi insomnia
-
Mengusir serangga
6. POKO (Mentha arvensis L)
12
Family
: Lamiaceae
Bagian tanaman yang digunakan : Daun – daun dan pucuk tanaman
Kandungan : minyak atsiri 1% - 2%, mengandung mentol 80% - 90%,
menthone, d–piperitone, heksenolfenil-asetat, atil amil
karbinol,neomentol.
D- PIPERITONE
13
NEOMENTOL
Kegunaan
: berkhasiat untuk mengeluarkan gas dari saluran
pencernaan (karminatif), mengurangi ketegangan otot
(antipasmodik),
memperlancar
pengeluaran
keringat
(diaforetik), obat batuk, obat sakit perut dan obat sakit
kepala.
7. SERPILI (thymus serpyllum L)
Family
: lamiaceae
Bagian tanaman yang digunakan : pucuk berbunga
Kandungan : minyak atsiri 0,15% - 0,6% yang mengandung p-simol,
timol, karvakrol, simena, pinena, terpena alkohol, sineol,
zat pahit, serpillin, tanin
14
TIMOL
Kegunaan
KARVAKROL
: batuk
8. TIMI (thymus vulgaris L)
Family
: limiaceae
Nama daerah
: timi
Bagian tanaman yang digunakan : pucuk berbunga
Isi tanaman : minyak atsiri yang mengandung timol 20% - 30%,
karvakrol, p-simol ,pinen, borneol,linalool,bernilasetat,
timen, simen; abu lebih kurang 10%, tanin
15
BORNEOL
LINALOOL
PINENE
BORNYL ASETAT
16
Kegunaan
:obat batuk
Khasiat kandungan :
 Minyak atsiri dalam thyme mempunyai pengaruh sebagai penenang
dalam otot halus. Efek karminatifnya berguna untuk mengatasi
dispepsia,
 kandungan tannin yang tinggi membantu mengatasi diare.
 Thymol 20 kali lebih antiseptik daripada fenol, tetapi tidak
mempunyai efek iritasi terhadap mukosa usus sehingga aman untuk
digunakan.
 Minyaknya telah terbukti efektif dalam mengatasi serangan bakteri
Gram-positif and Gram-negatif, fungi, dan yeasts seperti Candida
albicans.
 Asam Rosmarinat mempunyai efek anti-inflammatory.
 Komponen yang pahit dalam thyme merangsang selera, membantu
pencernaan dan meningkatkan fungsi hati.
9. JAHE (Zingiber officinale Rosc.)
Famili : Zingiberaceae
Kandungan kimia :
17
Borneol
Rimpang jahe mengandung minyak atsiri, damar, mineral sineol,
fellandren, kamfer, borneol, zingiberin, zingiberol, gigerol ( misalnya di
bagian-bagian merah), zingeron, lipidas, asam aminos, niacin, vitamin A,
B1, C dan protein. Minyak jahe berwarna kuning dan kental. Minyak ini
kebanyakan mengandung terpen, fellandren, dextrokamfen, bahan
sesquiterpen
yang
dinamakan
zingiberen,
zingeron
damar,
pati.
Kandungan & Manfaat :
Menurut Farmakope Belanda, Zingiber Rhizoma (Rhizoma
Zingiberis- akar jahe) yang berupa umbi Zingerber officinale mengandung
6% bahan obat-obatan yang sering dipakai sebagai rumusan obat-obatan
atau sebagai obat resmi di 23 negara.
Jahe dipergunakan sebagai obat, atau bumbu dapur dan aneka
keperluan Iainnya. Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk
membangkitkan nafsu makan dan pencernaan. Jahe berguna sebagai obat
gosok untuk penyakit encok dan sakit kepala, sebagai obat luar untuk
sebagai obat mulas. Dapat menghangatkan tubuh dan mengeluarkan
keringat. Minyak atsirinya bermanfaat untuk menghilangkan nyeri,
anti inflamasi dan anti bakteri.
Jahe dipakai sebagai pencampur
beberapa jenis obat yaitu sebagai obat batuk, rnengobati Iuka luar dan
dalam ,melawan gatal (umbinya ditumbuk haIus) .
E. Metode memperoleh minyak atsiri:
1. Destilasi atau Penyulingan.
Pembuatan minyak atsiri dengan penyulingan dipengaruhi oleh 3
faktor, yaitu: besarnya tekanan uap yang digunakan, bobot molekul
18
masing-masing komponen dalam minyak, dan kecepatan keluarnya
minyak atsiri dari simplisia. Namun demikian, pembuatan minyak atisiri
dengan cara penyulingan mempunyai beberapa kelemahan:
a. Tidak baik terhadap beberapa jenis minyak yang mengalami kerusakan
oleh adanya panas dan air.
b. Minyak atisiri yang mengandung fraksi ester akan terhidrolisis karena
adanya air dan panas.
c. Komponen minyak yang larut dalam air tidak dapat tersuling.
d. Komponen minyak yang bertitik didih tinggi yang menentukan bau wangi
dan mempunyai daya ikat terhadap bau, sebgaian tidak ikut tersuling dan
tetap tertinggal dalam bahan.
Jenis-jenis destilasi / penyulingan, ada 3 yaitu:
destilasi air,
destilasi uap dan air, dan destilasi uap.:
a. Destilasi air
Pada destilasi air terjadi kontank langsung antara simplisia dengan
air mendidih. Simplisia yang telah dipotong-potong, digiling kasar, atau
digerus halus dididihkan dengan air, uap air dialirkan melalui pendingin,
sulingan berupa minyak yang belum murni ditampung.
Penyulingan
dengan cara ini sesuai untuk simplisia kering yang tidak rusak dengan
pendidihan. Penyulingan air biasa digunakan untuk menyari minyak atsiri
yang tahan panas dari grabahan maupun bahan yang berkayu dan keras.
Keuntungan metode ini adalah: kualitas minyak atsiri baik (jika
diperhatikan suhu tidak terlalu tinggi), alat sederhana dan mudah
diperoleh, dan mudah pengerjaannya.
Kerugian dari metode ini
adalah:
tidak semua bahan dapat
dilakukan dengan cara ini (terutama bahan yang mengandung sabun,
bahan yang larut dalam air, dan bahan yang mudah hangus), adanya air
sering menyebabkan terjadinya hidrolisis, dan waktu penyulingan yang
lama.
19
b. Destilasi uap dan air
Penyulingan degnan cara ini memakali alat semacam dandang.
Simplisia diletakkan di atas bagian yang berlubang-lubang sedangkan air
di lapisan bawah.
Uap dialirkan melalui pendingin dan sulingan
ditampung, minyak yang diperoleh belum murni. Cara ini baik untuk
simplisia basah atau kering yang rusak pada pendidihan. Untuk simplisia
basah atau kering yang rusak pada pendidihan. Untuk simplisia kering
harus dimaserasi lebih dulu, sedangkan untuk simplisia segar yang baru
dipetik tidak perlu dimaserasi. Cara penyulingan ini banyak dilakukan
sebagai industri rumah, karena peralatan mudah didapat dan hasil yang
diperoleh cukup baik.
Kerugian cara ini, hanya minyak dengan titik didih lebih rendah
dari air yang dapat tersuling sehingga hasil penyulingan tidak sempurna
(masih banyak minyak yang tertinggal di ampas).
c. Destilasi uap.
Minyak atsiri biasanya didapatkan dengan penyulingan uap pada
bagian tanaman yang mengandung minyak.
Metode penyulingan ini
tergantung pada kondisi bahan tanaman
Penyulingan dengan uap memerlukan air, uap panas yang biasanya
bertekanan lebih dari 1 atmosfer dialirkan melalui suatu pipa uap.
Peralatan yang dipakai tidak berbeda dnegn penyulingan air dan uap,
hanya diperlukan alat tambahan untuk memeriksa suhu dan tekanan. Bila
pemeriksaan telah dilakukan degnan air dan uap, hanya diperlukan alat
tambahan untuk memeriksa suhu dan tekanan. Bila pemeriksaan telah
dilakukan dengan baik, dengan cara ini akan diperoleh minyak yang lebih
banyak. Cara ini bisa juga digunakan untuk membuat minyak atisiri dari
biji, akar, kayu, yang umumnya mengandugn komponen minyak yang
bertitik didih tinggi. Penyulingan ini dapat digunakan utnuk membuat
minyak cengkeh, minyak kayumanis, minyak akar wangi, minyak sereh,
minyak kayuputih, dll.
20
Keuntungan dari cara ini adalah: kualitas minyak yang dihasilkan
cukup baik, tekanan dan suhu dapat diatur, waktu penyulingan pendek,
hidrolisis tidak terjadi.
Kerugian metode ini yaitu: peralatan yang mahal dan memerlukan
tenaga ahli.
Selain penyulingan dengan cara di atas, dikembangkan juga cara
sebagai berikut:
a. Penyulingan dengan air dan penyulingan dengan uap disertai dengan
pengurangan tekanan. Pengurangan tekanan akan memperpendek waktu
penyulingan pada tekanan 1 atmosfir. Keuntungan utama dengan cara ini
ialah minyak atsiri yang diperoleh berbau sama dengan bau aslinya, karena
penyulingan dilakukan pada suhu kurang dari 70oC (biasanya pada suhu
50oC)
hingga
penguraian
karena
suhu
tinggi
dapat
dihindari.
Kelemahannya, alat yang dibutuhkan mahal.
b. Penyulingan dengan air dan penyulingan dengan uap disertai penaikkan
tekanan.
Penyulingan dengan uap dengan menaikkan tekanan, baik dilakukan untuk
simplisia yang keras sepeti kayu, biji, kulit kayu. Dengan penyulingan ini
akan diperoleh minyak lebih banyak dan akan memperpendek waktu
penyulingan.
Kerugian degnan penyulingan ini ialah terjadi peruraian
minyak atisiri sehingga berbeda dengan bentuk aslinya dan diperoleh lebih
sedikit dibanding dengan cara lain.
Tanaman yang mengandung minyak atisiri bertitik didih rendah,
lebih baik disuling dengan tekanan kurang dari 1 atmosfir sedangkan yang
mengandung minyak bertitik didih tinggi dapat dengan penyulingan uap
bertekanan lebih tinggi dari 1 atmosfer.
Dalam metode penyulingan uap langsung (direct steam destillation)
ang dapat dipakai pada obat-obatan tanaman segar (peppermint, spearmint),
hasilnya dipotong dan ditempatkan secara langsung ke dalam tangki
penyuling logam pada truck bed.
21
Truck ini digerakkan pada shed
penyuling dimana steam lines ditempelkan pada bagian bawah tangki
penyuling. Cara ini digunakan untuk daun dan mengandung kadar minyak
yang tinggi sehingga tidak perlu maserasi. Uap ditekan melalui pipa dan
membawa tetesan minyak melalui pipa yang akhirnya melewati ruang
pengembun.
Selama penyulingan uap, komponen tertentu minyak atsiri dapat
terhidrolisis, sementara unsur lainnya dapat terdekomposisi dengan suhu
udara tinggi.
Metode penyulingan ideal yang menggunakan uap harus
memberikan tingkat difusi setinggi mungkin dari uap dan air melalui
membran tanaman sehingga hidrolisis dan dekomposisi tetap minimal.
2. Enflurasi, yaitu pengambilan minyak atsiri dari tanaman menggunakan
lemak atau vaselin.
Seringkali kandungan minyak atsiri dari bagian tanaman sangatlah
kecil, misal pada mahkota bunga.
Cara yang bisa dilakukan dengan
menghamparkan lemak (vaselin) pada lapisan tipis pelat kaca. Mahkota
bunga ditempatkan pada lemak selama beberapa jam, kemudian diulangi
yang baru beberapa kali. Setelah minyak terserap dalam lemak padat
tersebut, selanjutnya diekstraksi dengan alkohol. Selanjutnya dipisahkan
antara alkohol dan minyak atsiri. Penyarian minyak atsiri dengan lemak
padat tersebut dikenal dengan enfleurage.
Bunga-bunga tertentu seperti melati, mawar yang disuling akan
menghasilkan minyak yang tidak berbau sama dengan buanganya.
Minyak atsiri dari bunga-bunga tersebut di atas, dperoleh dengan cara:
a. Pembuatan dengan lemak tanpa pemanasan (Enflurasi / enfleurage).
Cara ini sudah dilkukan sejak berabad-abad yang lalu secara primitif.
Estela tanaman dipetik tanaman tersebut akan meneruskan proses
fisiologisnya dengan mengeluarkan bau khasnya. Sesegera setelah bunga
dipetik ditaburkan diatas lemak, lemak mengabsorbsi minyak tersebut.
Untuk memperbesar absorbsinya permukaan lemak digores. Tiap 1 kg
lemak diperlukan bunga melati sebanyak 2,5 sampai 3 kg. Untuk seluruh
proses enflurasi memerlukan waktu 8 sampai 10 minggu. Lemak yang
22
telah jenuh dengan minyak menguap, dikerok dengan sudip, kemudian
dilelehkan pada tempat tertutup. Lemak tersebut kemudian diekstraksi
dengan alkohol, lalu didinginkan pda suhu rendah (kalau mungkin 15oC)
untuk memisahkan dari lemaknya, disaring, kemudian dipekatkan degna
cara penyulingan. Cara ini dilkukan hanya untuk bunga-bunga tertentu,
memerlukan waktu lama dan memerlukan banyak tenaga yang terlatih
untuk mengerjakannya. Walaupun dengan cara ini dapat menghasilkan
minyak yang lebih baik. Syarat lemak yang digunakan adlah tidak berbau
dan mempunyai konsistensi tertentu.
b. Pembuatan dengan lemak panas.
Lemak dipanaskan pada suhu lebih kurang 80oC. Bugna segar dimaserasi
dengan lemak panas tersebut selama 1,5 jam. Bunga tesebut harus sering
diganti dengan yang baru sampai tiap kg lemak kontak dengan 2 sd 2,5 kg
bunga, kemudian dibiarkan selama lebih kurang satu jam dan disaring
melalui saringan logam. Untuk memisahkan lemak yang melekat, bunga
disiram dngan air panas kemunidan diperas dengan saringan kain. Air
akan mudah dipisahkan dari lemak tersebut.
Selanjutnya seperti cara
enflurasi pada point a.
3. Ekstraksi dengan pelarut minyak atsiri
Prinsip dari ekstraksi ini adalah melarutkan minyak atisiri yang
terdapat dalam simplisia dengan pelarut organik yang mudah menguap.
Simplisia diekstraksi dengan plarut yang cocok dalam suatu ekstraktor
pada suhu kamar, kemudian pelarut diuapkan dengan tekanan yang
dikurangi.
Dengan cara ini diperlukan banyak pelarut sehingga biaya
cukup mahal dan harus dilakukan oleh tenaga ahli.
Sebagai pelarut
biasanya dipakai eter minyak tanah.
Pelarut yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
-
Melarutkan sempurna komponen dari minyak atsiri yang terdapat dalam
tanaman.
23
-
Mempunyai titik didih rendah.
-
Tidak campur dengan air.
-
Inert, tidak bereaksi dengan komponen minyak atsiri.
-
Mempunyai satu titik didih, bila diuapkan tidk meninggalkan sisa.
-
Harga murah.
-
Bila mungkin tidak mudah terbakar.
Pelarut yang paling banyak digunakan adalah eter minyak tanah.
Alkohol tidak baik digunakan karena alkohol melarutkan air yang terdapat
dalam tanaman. Untuk simplisia tertentu alkohol menghasilkan bau yang
tidak enak. Alkohol baik digunakan untuk simplisia kering. Sari yang
diperoleh dikenal dengan nama tingtur yang banyak digunakan untuk
sediaan farmasi. Ekstraksi dengan pelarut mudah menguap, banyak banyak
digunakan
di berbagai negara dan secara umum dapat dipakai untuk
sediaan farmasi.
Ekstraksi dengan pelarut mudah menguap, banyak
digunakan di berbagai negara dan secara umum dapat dipakai
untuk
bermacam simplisia dan diperoleh minyak atsiri sesuai dengan aslinya.
Ekstraksi dengan pelarut organik umumnya digunakan untuk
mengekstraksi minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan dengan uap
dan air. Cara ini baik untuk mengekstraksi minyak dari bunga-bungaan,
misal: bunga cempaka, melati, mawar, dll.
Cara kerja ekstraksi dengan pelarut menguap cukup sederhana,
yaitu dengan cara memasukkan bahan yang akan diekstraksi ke dalam ketel
ekstraktor khusus dan kemudian ekstraksi berlangsung secara sistematik
pada suhu kamar, dengan menggunakan petroleum eter sebagai pelarut.
Pelarut akan berpenetrasi ke dalam bahan dan melarutkan minyak bunga
beserta beberapa jenis lilin dan albumin serta zat warna. Larutan tersebut
selanjutnya dipompa ke dalam evaporator dan minyak dipekatkan pada
suhu rendah. Setelah semua pelarut diuapkan dalam keadan vakum, maka
diperoleh minyak bunga yang pekat. Suhu harus tetap dijaga tidak terlalu
tinggi selama proses ini. Dengan demikian uap aktif yang terbentuk tidak
akan merusak persenyawan minyak bunga.
24
Jika dibandingkan dengan
mutu minyak bunga hasil penyulingan, maka minyak bunga hasil ekstraksi
menggunakan pelarut lebih mendekati bau bunga alamiah. Semua minyak
yang diekstraksi dengan pelarut menguap mempunyai warna gelap, karena
mengandung pigmen alamiah yang bersifat tidak dapat menguap.
Sebaliknya hasil penyulingan uap, umumnya berwarna cerah dan bersifat
larut dalam alkohol 95%.
Dalam industri parfum, sebagian besar produksi minyak atsiri
modern dilakukan dengan ekstraksi, dengan menggunakan sistem pelarut
yang berdasar pelarut yang mudah menguap seperti eter minyak tanah.
Keuntungan utama ekstraksi adalah suhu yang bisa dipertahankan kurang
lebih 50oC selama proses. Hasilnya minyak atsiri yang didapat mempunyai
bau yang lebih alami yang tidak dapat ditandingi minyak suling. Hal ini
karena selama penyulingan, dengan suhu yang tinggi, dapat mengubah
konstituen minyak atsiri.
Namun demikian, metode penyulingan
operasionalnya lebih murah dibandingkan dengan proses ekstraksi.
Simplisia dimasukkan ke dalam ekstraktor dan selanjutnya pelarut
oraganik murni dipompakan ke dalam ekstraktor. Pelarut organik akan
menembus ke dalam ekstraktor. Pelarut organik akan menembus ke dalam
jaringan simplisia dan akan melarutkan minyak serta bahan lainnya seperti
dmar dan lilin. Komponen tersebut merupakan pengotor, dan dipisahkan
dengan cara penyulingan pada suhu rendah dan tekanan rendah. Dengan
cara penyulingan ini diperoleh campuran pelarut dan minyak atsiri disebut
concrete.
Pemurnian concrete (pelarut + minyak atsiri) ini dilakukan dengan
melarutkan dalam alcohol, diambil fase alcohol.
Fase alcohol ini
didinginkan 0oC, diperoleh minyak atsiri dalam alcohol dan lilin.
Dilakukan penyaringan terhadap campuran ini, diambil fase minyak atsiri
dalam alkohol. Untuk memisahkan alkohol dan minyak atsiri, dilakukan
penyulingan pada tekanan dan suhu rendah, akan diperoleh alkohol dan
minyak atsiri murni.
25
4. Pengepresan
Pembuatan minyak atsiri dengan cara pengepresan (ekspresi)
dilakukan terhadap bahan berupa biji, buah atau kulit buah yang
dihasilkan dari tanaman yang termasuk jenis Sitrus, karena minyak atsiri
dari jenis tanaman tersebut akan mengalami kerusakan bila dibuat dengan
cara penyulingan. Cara ini juga digunakan untuk mengambil minyak
atsiri dari biji.
Berdasar tipe alat ekspresi dibedakan menjadi 2 macam yaitu
hidraulic expressing, dan expeller expressing.
5. Hidrolisis glikosida
Dilakukan hidrolisis untuk memecah menjadi aglikonnya (minyak
atsirinya).
Contoh minyak atsiri yang diperoleh dengan cara ini hádala
minyak mustar, diperoleh dengan hidrolisis enzimatis dari glikosida.
Dalam biji mustar hitam, glikosida sinigrin, dihidrolisis oleh myrosin
dengan menghasilkan minyak mustar. Biosintesis terjadinya hidrolisis
dapat dilihat dalam pembahasan glikosida, sub bab glikosida alil
isotiosianat.
6. Ecuelle.
Beberapa minyak atsiri tidak dapat disuling tanpa terjadi
dekomposisi, jadi dilakukan cara
yang lain
yaitu pengepresan
(expression) misalnya minyak lemon dan minyak jeruk. Di Amerika
Serikat, metode umum mendapat citrus oil meliputi menusuk kelenjar
minhyak dengan menggulingkan buah di atas sebuah bak yang dilapis
dengan duri-duri yang tajam guna merembeskan kulit ari dan menembus
kelenjar minyak yang ditempatkan di bagian luar kulit. Cara ini disebut
dengan metode ecuelle. Langkah menekan pada buah menghilangkan
minyak dari kelenjar dan semprotan air membasuh minyak yang masih
melekat pada kulit sementara ampas tersaring melalui tabung pusat yang
membuang bagian tengah buah.
dipisahkan dengan sentrifugasi.
26
Emulsi minyak-air yang dihasilkan
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Minyak atsiri merupakan suatu produk yang memiliki bau khas sebagai
perkembangan proses hidup tanaman. Minyak atsiri bersifat mudah menguap
karena titik uapnya rendah. Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat
memengaruhi saraf manusia (terutama di hidung) sehingga seringkali memberikan
efek psikologis tertentu.
Minyak atsiri secara umum terdiri atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen
(H), dan oksigen (O), kadang-kadang juga terdiri dari nitrogen (N) dan belerang
(S). Dalam minyak atsiri terdapat senyawa-senyawa golongan monoterpen,
sesquiterpen, fenol, alcohol, eter/ ester, dan kumarin. Sebagian besar minyak
atsiri termasuk dalam golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang
bersifat larut dalam minyak/ lopofil.
Minyak atsiri dapat diperoleh dengan cara destilasi atau penyulingan,
enflurasi, ekstraksi, pengepresan, hidrolisis glikosida dan ecuelle.
B. Saran
Kami merasa dalam penyajian makalah ini masih sangat banyak
kekurangan dan kelemahan maka dari itu sudi kiranya teman-teman memberikan
kritikan/saran, yang nantinya akan berguna untuk memperbaiki hasil makalah ini
dan bermanfaat bagi kita semua di masa yang akan datang.
27
DAFTAR PUSTAKA
Armando, R., 2009. Memproduksi 15 Minyak Asiri Berkualitas. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Harris, R., 1990. Tanaman Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta.
Herlina, N dan H. S. Ginting, 2002. Lemak dan Minyak. Fakultas Teknik Jurusan
Teknik Kimia USU, Medan.
Kastaman, R., 2003. Kajian Teknis Budidaya dan Manajemen Produksi
Pengolahan Minyak Nilam di Beberapa Sentra Nilam di Jawa Barat.
Dinas Koperasi dan UKM, Bandung.
Ketaren, 1985, Pengantar Teknologi Minyak Atsiri, Balai Pustaka, Jakarta
Lutony, T. L. dan Y. Rahmayati, 2002. Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Untung, O. 2009. Minyak Atsiri, Vol 07. PT Trubus Swadaya. Jakarta
28
Download