peningkatan ekspresi gen cdk5 pada kultur sel leukimia

advertisement
PENINGKATAN EKSPRESI GEN CDK5 PADA KULTUR
SEL LEUKIMIA OLEH EKSTRAK HERBA DAN
BAKTERI VULKANIS
ESTI DWI RAHAYU
PROGRAM STUDI BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2006
ABSTRAK
ESTI DWI RAHAYU. Peningkatan Ekspresi Gen CDK5 pada Kultur Sel Leukimia
oleh Ekstrak Herba dan Bakteri Vulkanis. Dibimbing oleh I MADE ARTIKA dan
NOVIK NURHIDAYAT.
Kanker adalah suatu penyakit yang terjadi karena pertumbuhan sel yang
abnormal, cepat, dan tidak terkendali. Leukimia merupakan kanker yang menyerang
sel darah putih, sehingga produksi sel darah putih menjadi berlebih. Salah satu
penyebabnya adalah terhambatnya proses apoptosis. Peristiwa apoptosis merupakan
target utama untuk pengembangan terapi terhadap penyakit terutama kanker dan AIDS.
Oleh karena itu dilakukan pencarian senyawa bioaktif antikanker yang berfungsi
sebagai induser apoptosis. Senyawa selenium telah terbukti mampu menghambat
pertumbuhan kanker dengan memicu terjadi peristiwa apoptosis pada sel kanker. Hasil
penelitian terdahulu menyebutkan bahwa ciplukan rinjani, bawang putih rinjani dan
bakteri termofil Geobasillus 22a mengandung selenium tinggi (3.04-40.55 ppm),
berpotensi memicu apoptosis sel model Saccharomyces cerevisiae (7.79-23.28 %) dan
hasil analisis kromatografi gas menunjukkan adanya beberapa jenis senyawa selenium
yang terdapat dalam ekstrak airnya.
Penelitian ini dititikberatkan pada pengaruh ekstrak herba dan bakteri vulkanis
terhadap ekspresi gen cdk5, sebagai gen regulator apoptosis pada sel kanker dengan
mengunakan actb sebagai kontrol positif. RT-PCR digunakan untuk analisis target gen
apoptosis. Intensitas pita DNA diukur secara semikuantitatif dengan Bio Rad Count
TM Software. Apoptosis pada sel Namalwa dan HL-60 meningkat dengan adanya
peningkatan ekspresi gen cdk5. Ekstrak bakteri Geobasillus 22a lebih efektif
meningkatkan ekspresi gen cdk5 pada sel Namalwa, sedangkan ekstrak ciplukan
rinjani lebih efektif meningkatkan ekspresi cdk5 pada sel HL-60.
ABSTRACT
ESTI DWI RAHAYU. Upregulation of CDK5 gene expression in leukemic cell line by
vulcanize herb and bacteria extracts. Under the direction of I MADE ARTIKA and
NOVIK NURHIDAYAT.
Cancer is a disease caused by the abnormal, rapid and uncontrolled cell growth.
Leukemia is a cancer that attacks white blood cells, so that the production of white
blood cells become excessed. It can also be caused by the inhibition of apoptotic
process. Apoptosis has become the main target in improving cancer and AIDS therapy.
For these reasons there were studies conducted to find bioactive compounds for anticancer agent which can be used as apoptosis inducer. Selenium compounds were
proven to have the ability in slowing down the cancer growth by triggering apoptosis
process on cancer cells. Former researches proved that rinjani ciplukan, rinjani garlic,
and thermofil bacteria Geobacillus 22a contains high selenium (3.04-40.55 ppm)
which had potentials to cause Saccharomyces cereviciae cells apoptosis (7.79-23.28%)
and gas chromatography analysis showed that there were several types of selenium
compounds in the water extract.
This research was focused on the effect of vulcanize herb and bacteria extracts
on cdk5 genes as apoptosis gene regulator of cancer cells. RT-PCR was used to analyse
apoptosis target genes. DNA band intensity was measured semiquantitatively by using
Bio Rad Count TM Software. Mechanism apoptotic of Namalwa and HL-60 cells
increased with cdk5 gene expressions. Geobacillus 22a extract was more effective in
increasing cdk5 gene expressions of namalwa cells whereas the ciplukan rinjani extract
can increase cdk5 expression of HL-60 cells.
PENINGKATAN EKSPRESI GEN CDK5 PADA KULTUR
SEL LEUKIMIA OLEH EKSTRAK HERBA DAN
BAKTERI VULKANIS
ESTI DWI RAHAYU
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains pada
Program Studi Biokimia
PROGRAM STUDI BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2006
Judul Skripsi
Nama
NIM
: Peningkatan Ekspresi Gen CDK5 pada Kultur Sel Leukimia
oleh Ekstrak Herba dan Bakteri Vulkanis.
: Esti Dwi Rahayu
: G 44101015
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. I Made Artika M.App.Sc.
Ketua
Dr. Novik Nurhidayat
Anggota
Diketahui
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, M.S.
NIP 131473999
Tanggal Lulus :
PRAKATA
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena
hanya atas pertolonganNya penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah
ini. Tulisan ini saya persembahkan untuk bapak dan ibu yang selalu mendoakan
keberhasilan dan kesuksesan anaknya.
Karya ilmiah ini berjudul Peningkatan Ekspresi Gen CDK5 pada Kultur
Sel Leukimia oleh Ekstrak Herba dan Bakteri Vulkanis. Penelitian dilaksanakan di
Laboratorium Biosistematika dan Genetika Bidang Mikrobiologi, Pusat Penelitian
Biologi, LIPI, Bogor, Laboratorium Biologi Molekuler Eijkman dan Pusat
Penelitian Kimia, LIPI, Bandung.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak I Made Artika dan bapak
Novik Nurhidayat atas bimbingan dan kesabarannya selama ini. Rangkaian
terimakasih juga penulis ucapkan untuk bapak, ibu dan saudaraku yang telah
memberikan doa dan semangat. Terima kasih untuk ibu Candra, ibu Safarina
Malik, ibu Linar, ibu Hartin, Data, teh Ratih, teh Rina, teh Indah yang telah
membantu menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih juga untuk semua temanteman yang selalu memberikan semangat dan perhatiannya. Akhir kata penulis
berharap semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.
Bogor, Juni 2006
Esti Dwi Rahayu
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Solo Jawa Tengah pada tanggal 22 September 1983
sebagai anak kedua dari ayah Haryoso Hari Prasetyo dan ibu Sri Lestari Saksiati.
Tahun 2001 penulis lulus dari SMUN 5 Solo Jawa Tengah dan pada tahun
yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk
IPB). Penulis menempuh studi di Program Studi Biokimia, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pada tahun 2004, penulis mengikuti Praktek Kerja
Lapang di Laboratorium Biosistematika dan Genetika bidang Mikrobiologi LIPI,
Bogor.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
ix
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................
ix
PENDAHULUAN ...........................................................................................
1
TINJAUAN PUSTAKA
Senyawa Selenium ..................................................................................
Apoptosis ................................................................................................
Kultur Sel ................................................................................................
Herba Vulkanis .......................................................................................
Bakteri Termofil Geobasilus 22a ...........................................................
Bioinformatika ........................................................................................
Isolasi mRNA .........................................................................................
RT-PCR (Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction) .............
1
2
2
3
4
4
4
5
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat .......................................................................................
Metode ....................................................................................................
5
6
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelusuran Informasi Gen pada GenBank ............................................
Desain Primer .........................................................................................
Peremajaan dan Perhitungan Kultur Sel Kanker ....................................
Apoptosis pada Sel Kanker.....................................................................
Isolasi mRNA .........................................................................................
Ekspresi Gen cdk5 dan actb ....................................................................
Mekanisme Apoptosis.............................................................................
8
8
9
9
11
11
13
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan .................................................................................................
Saran .......................................................................................................
14
14
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................
14
LAMPIRAN .....................................................................................................
16
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Morfologi sel Namalwa ...................................................................................
3
2 Morfologi sel HL-60 ....................................................................................
3
3 Ciplukan (Physalis minima) rinjani ...........................................................
3
4 Bawang putih (Allium sativum) rinjani......................................................
4
5 Penampakan mikroskopis Geobasillus 22a ...............................................
4
6 Foto sel Namalwa setelah perlakuan .........................................................
10
7 Foto sel HL-60 setelah perlakuan ..............................................................
10
8 Pola pita ekspresi gen actb dan cdk5 pada sel Namalwa ..........................
11
9 Intensitas ekspresi cdk5 pada sel Namalwa ...............................................
12
10 Pola pita ekspresi gen actb dan cdk5 pada sel HL-60 ...............................
12
11 Intensitas ekspresi gen actb dan cdk5 pada HL-60 ........................ ..........
12
12 Mekanisme apoptosis melalui ekspresi gen actb dan cdk5............. ..........
13
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Metode penelitian ......................................................................................
17
2 Perlakuan pada sel Namalwa .....................................................................
18
3 Perlakuan pada sel HL-60............................................................. ............
19
4 Isolasi mRNA dengan MikroFastTrack 2.0 Kit ........................................
20
5 Sekuen gen cdk5 ........................................................................................
21
6 Sekuen gen beta aktin ................................................................................
23
7 Output primer3 cdk5 ..................................................................................
25
8 Hasil pengukuran intensitas pita cdk5 pada Namalwa ..............................
27
9 Hasil pengukuran intensitas pita cdk5 pada HL-60 ...................................
28
10 Prosedur pembuatan beberapa larutan.......................................................
29
1
PENDAHULUAN
Kanker merupakan penyebab kematian
nomor dua setelah penyakit jantung di
Indonesia. Kanker adalah suatu penyakit yang
terjadi karena pertumbuhan sel yang
abnormal, cepat dan tidak terkendali.
Leukimia atau kanker darah yaitu penyakit
yang disebabkan karena produksi sel darah
putih yang berlebih. Hal ini bisa merupakan
akibat dari terhambatnya proses apoptosis
(Jalal 1999).
Peristiwa apoptosis dijadikan sebagai
target utama untuk pengembangan terapi
terhadap penyakit terutama kanker dan AIDS
(Zea 2001). Oleh karena itu dilakukan
pencarian induser apoptosis yang berfungsi
sebagai antikanker. Senyawa selenium
merupakan senyawa yang efektif dalam
mencegah pertumbuhan kanker. Hal ini
disebabkan kemampuannya menginaktifkan
protein NF-kB (Nuclear Factor-kappa B)
yang berfungsi sebagai penghambat proses
apoptosis (Youn et al. 2001). Selain itu
senyawa selenium mampu menghambat siklus
sel pada fase S (sintesis DNA) sehingga
menyebabkan sel mengalami apoptosis (Jiang
2001).
Berdasarkan
kemampuan
senyawa
selenium
tersebut
Laboratorium
Biosistematika dan Genetika (Biosgent) LIPI
Bogor melakukan seleksi terhadap tanaman
dan mikroba dari daerah vulkanis. Hal ini
bertujuan untuk mencari sumber-sumber
selenium
dari
alam.
Hasil
seleksi
menunjukkan ciplukan rinjani, bawang putih
rinjani dan Geobasillus 22a memiliki
konsentrasi selenium mencapai 3.04-40.55
ppm dan mampu memodulasi apoptosis
dengan frekuensi petit mencapai 7.79-23.28
%.
Sel khamir yang mengalami petit
mengindikasikan terjadinya kerusakan fungsi
mitokondria yang ditandai dengan perubahan
morfologi menjadi kecil. Mitokondria
memegang peranan penting dalam proses
apoptosis. Oleh karena itu kerusakan fungsi
mitokondria pada sel khamir dapat memicu
terjadinya peristiwa apoptosis. Fenomena
apoptosis yang sama pada sel khamir dengan
sel mamalia, menyebabkan efek senyawa
selenium dalam ekstrak herba dan bakteri
vulkanis diyakini mampu memicu terjadinya
peristiwa apoptosis pada sel kanker.
Penelitian ini akan mempelajari efek
ekstrak herba dan bakteri vulkanis hasil
seleksi kemampuannya dalam memodulasi
apoptosis pada tingkat molekuler. Efek dari
ekstrak tersebut dapat dilihat dari ekspresi gen
cdk5 dan actb pada sel kanker namalwa dan
HL-60 yang telah diberi perlakuan dengan
ekstrak. Gen actb disini digunakan sebagai
kontrol positif. Gen cdk5 dan actb yang
diekspresikan dapat dilihat dari pita DNA
yang terbentuk pada gel elektroforesis. Pita
DNA tersebut merupakan produk amplifikasi
dari RT-PCR (Reverse TranscriptionPolymerase
Chain
Reaction)
dengan
menggunakan sampel mRNA. mRNA dari sel
kanker namalwa dan HL-60 setelah perlakuan
merupakan subyek untuk analisis RT-PCR
dengan menggunakan primer spesifik gen
terhadap cdk5 dan actb. Konsentrasi pita DNA
diukur dengan Bio Rad Count TM Software.
Hipotesis yang mendasari penelitian ini
adalah senyawa selenium yang terdapat pada
ekstrak herba dan bakteri vulkanis mampu
memicu peristiwa apoptosis pada kultur sel
leukimia, dengan cara meningkatkan ekspresi
gen regulator cdk5.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
pengaruh ekstrak herba dan bakteri vulkanis
terhadap ekspresi gen regulator apoptosis cdk5
pada kultur sel leukimia.
TINJAUAN PUSTAKA
Senyawa Selenium
Selenium (Se) adalah unsur mikro esensial
bagi manusia dan hewan yang diperoleh dari
sumber makanan seperti biji-bijian, padipadian dan sayuran. Kebutuhan selenium ratarata orang dewasa 50-70 µg sehari, namun
konsumsi lebih dari 500 µg sehari dapat
bersifat toksik (WHO 1987).
Kandungan Se pada tanaman bervariasi
sekali tergantung konsentrasi Se dalam tanah.
Se di dalam tanaman sebagian besar diubah
menjadi Se-metionin (Se-Met). Oleh karena
itu, makanan yang berasal dari tanaman
sebagian besar mengandung selenoprotein
dalam bentuk selenometionin. Hewan pada
umumnya
tidak
dapat
membentuk
selenometionin, hewan hanya menghasilkan
selenosistein (Tapiero et al. 2003).
Berdasarkan
penelitian
terdahulu
ditemukan bahwa senyawa selenium memiliki
sifat antikarsinogenik dan antitumorigenik
(Kim et al. 2001). Menurut Ganther (1999)
hal ini disebabkan karena senyawa selenium
memiliki kemampuan mencegah pertumbuhan
kanker dengan berbagai mekanisme.
Mekanisme senyawa selenium dalam
menghambat pertumbuhan kanker, dengan
cara meningkatkan terjadinya peristiwa
2
apoptosis. Menurut Gopalakrishna (2001)
senyawa selenium dapat menyebabkan protein
kinase C (PKC), yang mengatur pertumbuhan
kanker tidak aktif. Hal ini menyebabkan
penghambatan pertumbuhan dan penyebaran
kanker.
Selain itu senyawa selenium juga mampu
menginaktifkan protein inhibitor apoptosis
(NF-kB) sehingga peristiwa apoptosis dapat
berlangsung pada sel kanker (Ganther 1999).
Senyawa selenium dapat menyebabkan
apoptosis melalui mekanisme yang berbeda
yaitu dengan menghambat siklus sel pada fase
S (sintesis DNA) sehingga terjadi kegagalan
replikasi
DNA
yang
mengakibatkan
kerusakan fungsi mitokondria. Hal ini
mengindikasikan terjadinya apoptosis karena
organel mitokondria memegang peran sentral
dalam peristiwa apoptosis (Ip et al. 1990).
Apoptosis
Apoptosis berasal dari bahasa Yunani
yang berarti gugur atau rontok. Apoptosis atau
kematian sel terprogram diatur secara genetik
dan distimulasi oleh faktor pertumbuhan (Jalal
1999). Proses apoptosis berbeda dengan
nekrosis. Apoptosis merupakan proses
terprogram, dikontrol secara genetik, dan
merupakan proses aktif. Sedangkan nekrosis
merupakan kematian sel karena cidera, tidak
terkontrol dan pasif. Sel yang nekrosis akan
menumpahkan isi sel ke jaringan dan
menimbulkan reaksi inflamasi Apoptosis
terjadi tanpa kebocoran ataupun tumpahnya
komponen sitosol ke jaringan ekstraseluler
sehingga tidak menimbulkan inflamasi. Faktor
inilah yang menyebabkan apoptosis menjadi
target utama pengembangan terapi kanker.
Gen regulator apoptosis adalah cdk5
(Cyclin dependent kinase5) merupakan
kelompok cyclin dependent kinase (Cdks)
karena memiliki sekuen yang homolog dengan
Cdks lainnya (Tanaka T et al. 2001). Menurut
(Zhang J 2002) ekspresi cdk5 memfosforilasi
P53 sehingga menyebabkan protein tersebut
menjadi aktif. Aktifnya p53 memicu ekspresi
gen Bax dan p21 secara bergantian. Apabila
gen Bax yang terekspresi, ekspresi gen p21
dihambat sehingga PROCASPASE 9 aktif
menjadi caspase 9. Aktifnya CASPASE 9
memicu terjadinya proses apoptosis. Hal ini
menunjukkan bahwa cdk5 dan p53 memegang
peranan penting dalam mengatur peristiwa
apoptosis.
Kerusakan aktin sitoskeleton dapat
mengakibatkan sel mengalami apoptosis.
Protein yang berfungsi mempertahankan
bentuk sel dan letak organel di dalam
sitoplasma adalah protein beta aktin. Gen actb
akan terekspresi jika ada senyawa toksin dari
luar yang dapat mengganggu fosforilasi aktin
sitoskeleton sehingga menyebabkan morfologi
sel abnormal dan terjadi kerusakan aktin
sitoskeleton (Huang 1999; White 2001).
Kultur Sel
Kultur sel adalah teknik menumbuhkan
sel dalam media tertentu. Kultur sel dibedakan
menjadi dua yaitu kultur sel lestari dan sel
kanker. Sel dapat diambil dari jaringan asli
atau kultur primer atau cell line atau cell
strain dengan cara enzimatik atau mekanik
atau kimia. Cel line adalah kultur primer yang
telah disubkultur sekali. Sedangkan Cell
strain adalah sel yang diseleksi dengan
kloning atau secara fisik atau dengan teknik
lain. Perbedaan kultur sel lestari dengan kultur
sel kanker adalah kultur sel lestari diambil
dari jaringan normal sedangkan kultur sel
kanker diambil dari jaringan kanker (Freshney
2000).
Namalwa (Gambar 1) merupakan sel
Limfoma Burkitt yaitu kanker limfosit B pada
manusia yang tumbuh cepat. Sel namalwa di
isolasi dari seorang anak afrika yang
menderita Limfoma Burkitt pada tahun 1967.
Bentuk morfologi sel namalwa adalah
limfoblastoid, sel tunggal atau berkelompok
kecil dalam suspensi (www.DSMZ.com).
Namalwa ditumbuhkan dalam media
RPMI 1640 ditambah 10 % FBS (Fetal
Bovine Serum) dan 10 % PSF (Pinicillin
Streptomycin Fungizone). Densitas awal sel
ditumbuhkan adalah 104 sel/ml. Karena
kecepatan membelah sel namalwa 8 jam maka
dalam waktu satu hari dapat mencapai 106
sel/ml. Apabila densitas sel sudah mencapai
106 sel/ml, sel harus segera dipecah menjadi
dua flask agar sel tidak penuh. Penyimpanan
sel namalwa dalam 70 % medium, 20 % FBS
dan 10 % DMSO, densitas maksimum pada
waktu penyimpanan adalah 5-6X106 sel/ml
(www.DSMZ.com). Penyimpanan sel harus
menjaga penurunan temperatur, pertama tama
suhu 4 °C selama 30 menit, kemudian -20 °C
selama 2 jam dan terakhir pada suhu -70 °C
selama 24 jam, setelah itu baru disimpan di
nitrogen cair.
3
Gambar 1 Morfologi sel Namalwa.
HL-60 (Gambar 2) adalah sel leukimia
akut mieloid pada manusia. Sel ini diisolasi
dari saluran darah seorang wanita Caucasian
berusia 35 tahun yang mengidap penyakit
leukimia akut mieloid pada tahun 1976. Sel
HL-60 sering digunakan sebagai organisme
uji invitro, contohnya antara lain untuk
melihat pengaruh DMSO, phorbol ester TPA
dan reagen lainnya, menjelaskan mekanisme
gen MYC (www.DSMZ.com).
HL-60 tipe liar memiliki sifat yang cepat
tumbuh dan mengekspresikan oncogen. Selain
itu HL-60 dapat menyerupai megakariot dan
prekusor eritrosit. Sel ini berbentuk bulat dan
hidup tersuspensi dalam media. Sel HL-60
ditumbuhkan dalam 80 % media RPMI 1640
+ 10 % FBS + 10 % PSF. HL-60 ditumbuhkan
dengan densitas awal 0.5-1.0 x 106 sel/ml,
setelah sel mencapai densitas 1.5-2 x 106
sel/ml sel harus dibagi agar tidak penuh.
Pembagian sel ini dilakukan kurang lebih
setiap 1-2 hari. Sel diinkubasi dalam
inkubator CO2 pada suhu 37 °C, Rh 90 %
(www.DSMZ.com). Penyimpanan sel HL-60
dengan mensuspensikan sel dalam 200-300 µl,
90 % FBS + 10 % DMSO dan dibekukan
dengan menjaga penurunan temperatur.
Pertama – tama pada suhu 4 °C selama 30
menit, kemudian -20 °C selama 2 jam dan
terakhir pada suhu -70 °C selama 24 jam,
setelah itu baru disimpan di nitrogen cair.
Gambar 2 Morfologi sel HL-60.
Herba Vulkanis
Herba vulkanis adalah tanaman tidak
berkayu yang tumbuh di tanah vulkanis.
Tanah vulkanis mengandung unsur hara yang
diperlukan oleh tumbuhan. Tumbuhan yang
tumbuh di daerah vulkanis mengandung
senyawa-senyawa yang dapat digunakan
sebagai obat berbagai penyakit, seperti
selenium (Se), sulfur (S), besi (Fe) dan
sebagainya. Pada penelitian ini, herba
vulkanis terseleksi yang digunakan yaitu
ciplukan rinjani dan bawang putih rinjani.
Ciplukan (Gambar 3) memiliki nama latin
Physalis minima L. Ciplukan termasuk dalam
divisio
Spermatophyta,
subdivisi
Angiospermae, kelas Dicotyledoneae, ordo
Solanales, famili Solanaceae, genus Physalis
L, spesies Physalis minima L. Ciplukan
dikenal dengan berbagai istilah: Morel berry
(Inggris), Ciplukan (Indonesia), Ceplukan
(Jawa),
Cecendet
(sunda),
Yor-yoran
(Madura), Lapinonat (Seram), Keceplokan
(Bali), Dedes (Sasak), Leletokan (Minahasa).
Ciplukan termasuk tumbuhan liar, berupa
semak atau perdu yang rendah, biasanya
tingginya mencapai 1 meter dan mempunyai
umur kurang lebih 1 tahun. Tumbuh pada
ketinggian 0-1800 m dpl, tersebar di daerah
tegalan, sawah-sawah kering, serta dapat
ditemukan di daerah hutan jati. Bunganya
berwarna kuning, buahnya berbentuk bulat
dan berwarna hijau kekuningan bila masih
muda, tetapi bila sudah tua berwarma coklat
dengan rasa asam manis. Buah ciplukan yang
masih muda dilindungi cangkap (Suara
Merdeka 2004).
Tumbuhan ini memiliki efek farmakologis
seperti
analgetik,
peluruh
air
seni,
menetralkan racun, meredakan batuk, dan
mengaktifkan fungsi kelenjar tubuh. Akar,
daun, dan buah ciplukan dapat digunakan
untuk mengobati diabetes. Penelitian ini
menggunakan ekstrak air daun ciplukan yang
tumbuh di kawasan gunung Rinjani.
Bawang putih (Gambar 4) memiliki nama
latin Allium sativum termasuk divisio
Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas
Monocotyledoneae, ordo Liliflorae, famili
Liliaceae, genus Allium, spesies Allium
sativum L (Syamsiah 2003). Khasiat bawang
putih tergantung pada tempat tumbuhnya.
Bawang putih yang tumbuh di tanah kaya
selenium akan mengandung selenium yang
tinggi pula sehingga dapat bermanfaat sebagai
obat antipenuaan dan antikanker. Berdasarkan
hasil penelitian ditemukan bahwa bawang
putih mengandung senyawa selenium dalam
bentuk selenoprotein yang berfungsi sebagai
antioksidan dan antikanker.
Gambar 3 Ciplukan (Physalis minima) rinjani.
4
Gambar 4 Bawang putih (Allium sativum) rinjani.
Bakteri termofil Geobasillus
Bakteri termofil memiliki karakter dapat
tumbuh pada kondisi ekstrim seperti suhu, pH
dan konsentrasi garam disebut sebagai
ekstremofil. Bakteri termofil dapat tumbuh
pada suhu diatas 45 ºC dan diantaranya dapat
tumbuh diatas 80 ºC.
Mikroorganisme ini dapat dengan mudah
ditemukan pada daerah dengan aktivitas
geotermal seperti daerah pegunungan berapi,
sumber air panas, dan tempat cadangan
minyak bumi dan batu bara. Beberapa
organisme termofil telah diisolasi dari
beberapa sumber air panas di Indonesia antara
lain, sumber air panas Sileri, Cimanggu,
kawah Domas, kawah Papandayan, dan kawah
Wayang. Mikroorganisme termofil yang
diisolasi dari kawah Wayang merupakan
kelompok basil yang memiliki kekerabatan
yang
dekat
dengan
Geobasillus
thermoleovorans (Indrajaya 2003).
Pada penelitian ini digunakan ekstrak
bakteri termofil Geobasillus 22a (Gambar 5)
sebagai sumber bioaktif senyawa selenium.
Bakteri diisolasi dari sumber air panas
kawasan Gunung Rinjani. Bakteri termofil ini
memiliki morfologi berbentuk batang dan
tumbuh baik pada suhu 50 ºC.
Gambar 5 Penampakan mikroskopis Geobasillus
22a difoto dengan perbesaran 1000X.
menggunakan sekuens DNA dan asam amino
serta informasi yang berkaitan dengannya.
Contoh topik utama bidang ini meliputi basis
data untuk mengelola informasi biologis,
pensejajaran sekuens (sequence alignment),
prediksi struktur untuk meramalkan bentuk
struktur protein maupun struktur sekunder
RNA, analisis filogenetik, dan analisis
ekspresi gen.
Beberapa bank data yang bersifat antar
negara seperti GenBank (USA), EMBL
(Eropa), DDBJ (Jepang) telah mengorganisir
penyimpanan urutan DNA, RNA dan protein
sehingga dapat diakses melalui internet.
Pencarian database umumnya berdasarkan
hasil pensejajaran sekuen, baik sekuen DNA
maupun protein. Salah satu perangkat lunak
pencari database yang paling berhasil dan
umum digunakan yaitu BLAST ( Basic Local
Aligment Search Tool). Perangkat lunak ini
telah diadaptasi untuk melakukan pensejajaran
terhadap berbagai sekuen DNA maupun
protein. Hasil BLAST dapat memberikan
informasi mengenai homologi suatu sekuen
DNA,
RNA
ataupun
protein
(www.wikipedia.com).
Pada kebanyakan aplikasi PCR, primer
harus didesain agar dapat berkomplementer
secara tepat dengan DNA templat. Desain
primer dapat dilakukan dengan bantuan
program komputer untuk hasil yang lebih
efektif. Faktor yang mempengaruhi karakter
primer
dalam PCR
seperti
melting
temperature (Tm) dan kemungkinan homologi
antara primer dapat diprogram dalam
komputer.
Dalam mendesain primer harus dihindari
terjadinya primer dimer dan sedapat mungkin
dihindari
adanya
ketidaksesuaian
(mismatches) antara primer dengan templat.
Kadar basa G dan C dari suatu primer
seharusnya dalam jumlah yang relatif besar
(40-60 %) karena hal ini berpengaruh pada
penentuan suhu leleh dan suhu penempelan
dari PCR. Desain primer dapat dilakukan
dengan menggunakan program primer3 yang
bisa diakses dari internet.
Isolasi mRNA
Bioinformatika
Bioinformatika adalah ilmu yang
mempelajari penerapan teknik komputasi
untuk mengelola dan menganalisis informasi
biologis. Bidang ini mencakup penerapan
metode-metode matematika, statistika, dan
informatika untuk memecahkan masalahmasalah
biologis,
terutama
dengan
RNA (Ribonucleic Acid) adalah senyawa
kimia pembawa informasi genetik yang terdiri
atas monomer ribonukleosida monofosfat
yang dihubungkan oleh ikatan fosfodiester.
Dalam sel, RNA memiliki beberapa bentuk
yaitu rRNA (Ribosomal RNA), tRNA
(transfer RNA), dan mRNA (messenger
RNA). rRNA merupakan komponen utama
5
penyusun ribosom yang berperan dalam
sintesis rantai protein, tRNA berfungsi
membawa asam amino yang sesuai dengan
kodon mRNA dalam proses translasi,
sedangkan mRNA merupakan model cetakan
dalam proses penyusunan asam amino pada
rantai polipeptida.
Tahap isolasi mRNA merupakan kunci
keberhasilan proses RT-PCR. Isolasi mRNA
dilakukan dengan metode MicroFastTrack 2.0
mRNA Isolation Kit dari Invitrogen. Isolasi
mRNA memanfaatkan karakteristik ekor poli
(A) pada ujung 3’ mRNA yang dapat
berikatan dengan oligo(dT) selulosa.
Kuantitas mRNA dapat diketahui dengan
metode spektrofotometer. Absorbsi sinar UV
oleh mRNA secara optimal dicapai pada
panjang gelombang 260 nm.
RT-PCR (Reverse Transcriptase Polymerase
Chain Reaction)
PCR merupakan suatu reaksi in vitro
untuk menggandakan jumlah molekul DNA
pada target tertentu dengan cara mensintesis
molekul DNA baru yang berkomplemen
dengan molekul DNA target tersebut dengan
bantuan enzim dan oligonulkleotida sebagai
primer dalam suatu thermocycler.
Komponen utama pada PCR adalah:
(1) DNA sampel, (2) Bufer PCR, (3) dNTPs
(Deoxyoligonucleoside Triphosphates), (4)
MgCl2, (5) Primer, (6) Enzim DNA
polimerase. Sampel yang digunakan dapat
berupa DNA genom atau genomic library.
Bufer merupakan komponen yang sangat
bervariasi dalam PCR. Beberapa komponen
dasar dari bufer PCR ini adalah Tris-HCl dan
KCl dalam pH basa. dNTPs merupakan
campuran dari empat macam nukleosida
(dATP, dCTP, dGTP, dTTP) yang merupakan
bahan dasar polimerase dengan konsentrasi
optimum 10-15 μM. Konsentrasi ion Mg
dalam reaksi sangat dipengaruhi pada
konsentrasi dNTP. Konsentrasi MgCl2 yang
optimum adalah 0.5-5.0 mM. Primer
merupakan suatu oligonukleotida dengan
panjang 15-30 urutan basa. Konsentrasi
primer yang umum digunakan antara 0.1-1.0
µM. Taq Polimerase digunakan untuk PCR
karena tahan panas sehingga memungkinkan
proses
penempelan
dan
pemanjangan
dilakukan pada berbagai kondisi suhu
(Newton & Graham 1994).
Prinsip pelipatgandaan jumlah molekul
DNA pada target yang diinginkan melalui
teknik PCR adalah: (1) denaturasi, (2)
penempelan (annealing), (3) pemanjangan
primer (extension). Denaturasi berlangsung
pada suhu di atas 92 ºC dan ditandai oleh
memisahnya rantai ganda DNA menjadi dua
rantai tunggal. Penempelan primer umumnya
berlangsung pada suhu antara 37-65 ºC dan
ditandai dengan menyatunya kembali dua
untai tunggal DNA tersebut. Karena terdapat
primer dalam jumlah yang jauh lebih besar
dari DNA yang akan diamplifikasi maka
primer akan mempunyai kesempatan yang
lebih besar untuk melekat pada DNA rantai
tunggal pasangannya. Pemanjangan primer
berlangsung pada suhu antara 68-75 ºC dan
ditandai oleh sintesis DNA dari primer
tersebut mengikuti urutan nukleotida DNA
rantai tunggal pasangannya (Watson 1992).
RT-PCR merupakan kombinasi dari
sintesis cDNA dengan PCR. Berbeda dengan
PCR, sampel untuk RT-PCR berupa RNA
total atau RNA yang mengandung poli (A)+.
Primer yang digunakan dapat berupa primer
acak, oligo (dT), atau sebuah primer spesifik,
yang semuanya menggunakan enzim reverse
transcriptase. RT-PCR dapat dilakukan
melalui satu tahap atau dua tahap. Pada RTPCR dua tahap, sintesis cDNA dilakukan
pertama kali dalam bufer RT kemudian
dilanjutkan dengan PCR. Sedangkan pada RTPCR satu tahap, kedua reaksi terjadi dalam
satu tabung pada mesin PCR.
Hasil dari RT-PCR dianalisis dengan
elektroforesis gel agarosa dengan bufer TAE
(Tris-asam asetat-EDTA). Pengamatan hasil
elektroforesis dengan bantuan Etidium
Bromida (EtBr) dibawah sinar UV. Molekul
DNA yang tersisipi EtBr dapat berfloresensi
di bawah sinar UV. Jumlah molekul EtBr
yang berikatan dengan DNA sebanding
dengan jumlah DNA, sehingga intensitas pitapita DNA yang diamati dalam gel sebanding
dengan kuantitas DNA.
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah
ekstrak herba vulkanis (daun ciplukan dan
bawang putih rinjani), ekstrak Geobasillus
22a, kultur sel kanker namalwa dan HL-60,
ekstrak ragi, pepton, glukosa, agar, pinisilin,
streptomisin, L-Glutamin, media RPMI 1640,
FBS (Fetal Bovine Serum), PSF (Pinicillin
Streptomycin Fungizone) , akuades, etanol
100 %, MicroFastTrack 2.0 mRNA Isolation
Kit (Invitrogen), Phosphate Buffer Saline
(PBS) pH 7.4, akuades bebas ion, etanol
absolut, SuperScript one-step RT-PCR System
6
with Platinum Taq DNA Polymerase Kit
(Invitrogen), primer, gel agarosa, marker
100bp Ladder, bufer TAE, EtBr.
Alat-alat yang digunakan terdiri atas
sentrifus 5804R dan 8000r, sentrifus Hettich
EBA 8S, laminar air flow hood, inkubator
CO2, flask, hemasitometer, waterbath
Memmert, sonikator B.Braun Labsonic,
seperangkat alat elektroforesis Bio-rad, Milton
Roy Spectronic 1201, Perkin Elmer Gene
Amp PCR System 2400, neraca Mettler
PC4400, Rocking platform Certomat,
mikroskop nikon eclipse e400, mikropipet,
siringe 10 cc steril yang ujungnya terpasang
jarum berukuran 21, pipet tip steril, tabung
Eppendorf, shaker, autoklaf, oven, blender,
microfilter 0.22 μm dan alat-alat gelas.
Metode
Metode penelitian dimulai dari mencari
dan mengambil sekuen dari GenBank,
mendesain primer, pembuatan ekstrak herba
vulkanis (ciplukan dan bawang putih rinjani)
dan ekstrak bakteri Geobasillus 22a, treatment
sel kanker Namalwa dan HL-60 menggunakan
ekstrak herba vulkanis dan ekstrak bakteri,
isolasi RNA hingga uji ekspresi gen CDK5
dan ACTB melalui RT-PCR.
Mencari dan Mengambil Sekuen dari
GenBank
Homepage
diketik
www.ncbi.nlm.
nih.gov,/GenBank/ setelah masuk dalam
homepage yang dimaksud, kata kunci
nukleotida diketik ”CDK5”. Kemudian kombo
search diubah menjadi nukleotida pada kotak
dialog for yang masih kosong, terakhir
tombol go diklik. Accesion number diklik,
selanjutnya akan muncul sekuen gen CDK5
mRNA. Demikian juga untuk gen ACTB.
Desain Primer
Homepage
diketik
http://wwwgenome.wi.mit.edu/cgibin/primer/primer3ww
w.cgi. Kemudian sekuen kita dikopi dan paste
pada box sekuen. Klik kolom oligo dan
kemudian dienter. Untuk mengetahui adanya
dimer, hairpan pada primer masuk ke
homepage
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/
BLAST/ primer yang akan diblast dikopi dan
dipaste pada box sekuen, Box database diubah
menjadi nukleotida-nukleotida, kemudian klik
format.
Pembuatan Ekstrak Herba Vulkanis
Ekstrak herba vulkanis diperoleh dengan
cara maserasi dalam pelarut air. Herba
vulkanis (daun ciplukan dan bawang putih
rinjani) dikeringkan dalam oven bersuhu 60
ºC selama 2 hari kemudian dihaluskan hingga
berbentuk bubuk. Satu gram sampel daun
ciplukan dan bawang putih rinjani diekstrak
dengan 5.0 ml akuades bebas ion steril dalam
tabung sentrifuse dan di kocok selama 24 jam.
Campuran disentrifugasi kemudian disaring
dengan filter berukuran 0.22 μm.
Pembuatan Ekstrak Bakteri Geobasillus
22a
Bakteri Geobasillus 22a diinokulasi ke
dalam 600 mL media heterotrof yang
ditambah natrium selenit 10 ppm dan
diinkubasi di dalam oven 50 ºC selama 5 hari.
Geobasillus dikumpulkan dengan cara
sentrifugasi 10000 rpm 6 menit suhu ruang.
Pelet bakteri dicuci dengan 10 mL PBS
sebanyak 3 kali. Pada pencucian terakhir,
pelet digabung kemudian disuspensikan dalam
5 mL PBS. Selanjutnya pelet sel disonikasi
selama 20 menit pada power level 50 dan duty
cycle 0.7. Sel hasil sonikasi kemudian
disentrifugasi dengan kecepatan yang sama.
Supernatan disaring dengan filter berukuran
0.22 μm.
Pembuatan Media dan Peremajaan Kultur
Sel Kanker
Media RPM1 1640 Gibcol BRL dengan LGlutamine ditambah 37 g NaHCO3 dan 10 ml
NAA (asam amino nonesensial), kemudian
dikocok dengan stirer sampai larut. Setelah
homogen ditambahkan aqudes sampai 1000
ml, pHnya dibuat 7.2 kemudian disaring
dengan menggunakan milipore membran.
Setelah itu ditambahkan 10 ml PSF dan FBS
10 %.
Kultur sel kanker Namalwa dan HL-60
diremajakan dengan menumbuhkan kultur sel
dalam medium RPMI 1640 yang ditambahkan
10 % FBS kemudian diinkubasi pada
inkubator CO2 dengan kondisi suhu 37 ºC, 5
% CO2 dan Rh (kelembapan) 90 % selama 24
jam. Setelah 24 jam sebagian media sel
kanker namalwa dan HL-60 di buang, diganti
dengan media yang baru kemudian diinkubasi
kembali dalam inkubator CO2. Pergantian
media dilakukan apabila sel sudah penuh.
Perhitungan Sel Kanker dan Perlakuan
dengan Ekstrak Kasar Herba Vulkanis
Sel namalwa dan HL-60 termasuk sel
yang tersuspensi dalam media, sehingga untuk
menghitung jumlah sel/ml, sel dalam flask
dipipet
kemudian
diteteskan
pada
hemasitometer. Sel dalam hemasitometer
7
dihitung
dibawah
mikroskop
dengan
perbesaran 10X. Sel dengan densitas dan
viabilitas yang tinggi siap untuk di beri
perlakuan. Pertama-tama sel disentrifus,
supernatan di buang. Pelet sel di tambah 4 ml
media baru dan disuspensikan. Sel
dipindahkan dalam wellplate masing masing 1
ml dan ditambahkan ekstrak masing-masing 1
ml kemudian diinkubasi selama 12 jam.
Isolasi mRNA
Isolasi
mRNA
menggunakan
MikroFastTrack 2.0 mRNA Isolation Kit dari
invitrogen. Metode isolasi terdiri atas
beberapa tahap yaitu preparasi sampel sel,
isolasi mRNA, pencucian, elusi dan
presipitasi mRNA.
Tahap preparasi sampel, sel kanker
namalwa dan HL-60 setelah diberi perlakuan
dicuci dengan Phosphate Buffer Saline (PBS)
bersuhu 4 ºC sebanyak 3 kali. Sel namalwa
dan HL-60 masing-masing disuspensikan dan
dilisis dengan menambahkan 1ml bufer lisis
FastTrack 2.0 (20 μl protein degrader + 1ml
stok buffer) ke pelet lalu dihomogenkan
dengan pipet tip. Lisat dilewatkan pada siringe
steril yang ujungnya terpasang jarum
berukuran 21 sebanyak 2 kali.
Tahap isolasi mRNA, lisat sel diinkubasi
pada suhu 45 ºC selama 20 menit. Kemudian
lisat disentrifuse 4000 rpm selama 5 menit
pada suhu ruang dan sebanyak 800 μl
dipindahkan ke tabung sentrifuse baru.
Selanjutnya ditambahkan 55 μL larutan stok
NaCl 5 M. Campuran dihomogenkan dengan
membolak-balikkan tabung. Sisa DNA
disingkirkan dengan melewatkan lisat pada
siringe steril dengan jarum berukuran 21
sebanyak 2 kali. Lisat dituangkan ke dalam
tabung oligo(dT) selulosa. Tabung ditutup dan
dibiarkan selama 2 menit hingga oligo(dT)
terdispersi sempurna. Tabung dikocok di atas
rocking platform selama 20 menit pada suhu
ruang. Selulosa oligo(dT) diperoleh melalui
sentrifugasi 4000 rpm selama 5 menit pada
suhu ruang. Supernatan dibuang secara hatihati.
Tahap pencucian, Oligo(dT) selulosa
disuspensikan dalam 1.3 mL binding buffer
selanjutnya disentrifuse 4000 rpm selama 5
menit pada suhu ruang. Tahap tersebut
diulang sebanyak 2 kali. Bufer disingkirkan
dari selulosa. Selulosa disuspensikan kembali
dalam 0.3 mL binding buffer dan dipindahkan
ke spin kolom kemudian disentrifuse 4000
rpm selama 10 detik pada suhu ruang. Kolom
dipindahkan dari tabung mikrosentrifuse dan
cairan dalam tabung dibuang. Spin kolom
ditempatkan kembali ke dalam tabung dan
ditambahkan 500 μL binding buffer kemudian
disentrifuse 4000 rpm 10 detik suhu ruang.
Tahap ini diulang lagi sebanyak 3 kali.
Selanjutnya ditambahkan 200 μL Low Salt
Wash Buffer ke dalam kolom. Selulosa dan
bufer dihomogenkan dengan pipet tip steril
dan disentrifuse 4000 rpm 10 detik suhu
ruang.
Tahap elusi dan presipitasi mRNA, Spin
kolom
ditempatkan
dalam
tabung
mikrosentrifus yang baru. Sebanyak 100 µl
elution buffer dicampurkan ke dalam selulosa
dengan menggunakan pipet tip steril. Tabung
dan isinya disentrifuse 4000 rpm selama 10
detik suhu ruang. Selanjutnya ditambahkan
kembali 100 µl elution buffer ke kolom,
dihomogenkan dan disentrifuse lagi selama 10
detik. Kolom dipindahkan dan dalam tabung
berisi 200 µl sampel mRNA. mRNA
diendapkan dengan menambahkan 30 µl
sodium asetat 2 M dan 600 µl etanol absolut
dan 100 µl glycogen carrier 2 mg/mL lalu
dibekukan dalam freezer. Sampel mRNA
dicairkan dan disentrifuse 14000 rpm selama
30 menit pada 4 ºC. Supernatan (etanol)
dibuang, disentrifuse singkat dan sisa etanol
yang tertinggal dikeringanginkan dengan
membuka tutup tabung. Pelet disuspensikan
dalam 10 µl elution buffer.
RT-PCR (Reverse Transcriptase Polymerase
Chain Reaction)
RT-PCR menggunakan SuperScript OneStep RT-PCR System with Platinum Taq DNA
Polymerase Kit (invitrogen). Reaksi terdiri
atas dua tahap yaitu sintesis cDNA dan PCR
dalam satu tabung dengan menggunakan
primer spesifik gen yang diinginkan.
Sintesis
cDNA
diawali
dengan
menyiapkan master mix dalam 2 tabung
eppendorf 1.5 mL, masing-masing berisi 200
μL 2X reaksi bufer, 16 μL RT Platinum taq
mix dan 156 μL dH2O bebas ion steril. Tabung
pertama (a) ditambahkan primer actb forward
dan actb reverse masing-masing 8 μL. Tabung
kedua (b) ditambahkan primer cdk5 forward
dan cdk5 reverse masing-masing 8 μL. Primer
yang digunakan dalam reaksi:
actb forward
:
5’-CAGGATTCCATACCCA-3’
actb reverse
:
3’-GAGAAGATCTGGCACC-5’
cdk5 forward
:
5’-TGAGGTGGTCACACTGTGGT-3’
cdk5 reverse
:
3’-CTGGTCATCGACATCATTGC-5’
8
Selanjutnya disiapkan 16 buah tabung
PCR Tabung 1 dan 2 merupakan blanko,
masing-masing berisi 2 μL sampel mRNA
Namalwa-akudes bebas ion, tabung 3 dan 4
berisi masing-masing 2 μL sampel mRNA
Namalwa-ciplukan, tabung 5 dan 6 berisi
masing-masing 2 μL sampel mRNA
Namalwa-bawang putih sedangkan tabung 7
dan 8 berisi masing-masing 2 μl sampel
mRNA Namalwa-bacthotermo. Untuk sel HL60-akuades bebas ion tabung 9 dan 10
masing-masing berisi 2 μL sampel mRNA
yang merupakan blanko, tabung 11 dan 12
masing-masing berisi 2 sampel mRNA HL60-ciplukan, tabung 13 dan 14 masing-masing
berisi 2 sampel mRNA HL-60-bawang putih,
tabung 15 dan 16 masing-masing berisi
sampel mRNA HL-60-bacthotermo. Tabung
1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, dan 15 masing-masing
ditambahkan master mix dari tabung (b)
sebanyak 48 μL. Sedangkan tabung 2, 4, 6, 8,
10, 12, 14, dan 16 ditambahkan master mix
dari tabung (a) masing-masing sebanyak 48
μL. Total volume tiap tabung menjadi 50 μL.
Sampel dimasukkan dalam mesin PCR dan
diset pada hold suhu 50 ºC selama 30 menit
untuk sintesis cDNA. Reaksi diakhiri dengan
menekan tombol stop. Kemudian masuk ke
siklus PCR yang telah diprogram
untuk di running. Elektroforesis dilakukan
pada buffer TAE 1X dengan tegangan 90 volt
selama 1.5 jam. Selesai elektroforesis gel
divisualisasikan pada lampu ultraviolet (UV)
dan difoto dengan kamera digital. Marker
yang digunakan yaitu marker 100 bp Ladder.
Intensitas pita diukur dengan Bio Rad Count
TM Software.
Tabel 1 Pengaturan suhu dan siklus PCR
Suhu Waktu Banyaknya
(ºC)
mm:ss siklus
predenaturasi 94
4:00
1 siklus
denaturasi
94
0:30
penempelan
60
0:30
40 siklus
pemanjangan 65
0:30
Pemanjangan
65
7:00
1 siklus
tambahan
Primer cdk5 didesain dengan mengunakan
program
primer3.
Program
primer3
menghasilkan primer cdk5 forward yaitu
5’tgaggtggtcacactgtggt’3 dan untuk primer
cdk5
reverse
3’ctggtcatcgacatcattgc’5.
Sedangkan untuk primer actb forward yaitu
5’caggattccataccca’3 dan primer actb reverse
3’gagaagatctggcacc’5. Tm primer cdk5
forward dan cdk5 reverse masing-masing
60.05 ºC dan 60.08 ºC. Cdk5 forward
menempel pada basa nukleotida ke 541
sedangkan cdk5 reverse menempel pada 693
sehingga produk PCR berukuran 154 pasang
basa.
Output primer3 cdk5 tersebut memenuhi
syarat dari segi panjang primer, perbedaan
panjang primer, perbedaan Tm kedua primer
dan komposisi basa G+C. Panjang primer
cdk5 20 nukleotida sedangkan yang
disyaratkan antara 18 sampai 25 nukleotida.
Perbedaan panjang kedua primer 0 pb
sedangkan syaratnya 3 pb. Perbedaan Tm
primer cdk5 memenuhi syarat <5 ºC yaitu
hanya 0.03 ºC. Komposisi basa G+C primer
cdk5 dari 50-55 % memenuhi syarat 40-60 %.
Tetapi pada cdk5 kiri tidak memenuhi syarat
dalam hal basa ujung 3’ berupa timin. Ujung
3’ kedua primer seharusnya G atau C agar
Analisis Hasil RT-PCR
Analisis hasil RT-PCR dilakukan dengan
elektroforesis menggunakan gel agarosa 1.5
%. Agarosa sebanyak 1,5 g dilarutkan dalam
buffer TAE 1X sampai volumenya mencapai
100 ml dengan cara dipanaskan dalam
microwave oven, lalu dibiarkan sampai
suhunya mencapai 50-60 ºC. Kemudian
larutan ditambah 3 μl EtBr hingga merata, dan
segera dituangkan dalam cetakan gel. Setelah
gel memadat, sisir (comb) diangkat, lalu gel
dipindahkan ke tangki elektroforesis yang
berisi bufer TAE 1X.
Sampel hasil RT-PCR sebanyak 15 μl
dicampur dengan 3 μl blue juice. Stok Marker
100bp ladder sebanyak 15 μL dicampur
dengan 3 μL blue juice. Kemudian campuran
tersebut dimasukkan ke dalam sumur gel
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelusuran Informasi Gen pada GenBank
Sekuen gen cdk5 Homo sapiens diperoleh
dari GenBank dengan nomor akses
NM_004935. Gen cdk5 tersusun atas 1143
basa nukleotida. Coding sekuen dimulai dari
basa ke 62 sampai 940 yang akan
ditranslasikan menjadi protein CDK5 (cyclindependent kinase 5). Sedangkan sekuen gen
actb diperoleh dari GenBank dengan nomor
akses NM_001101. Gen actb tersusun atas
1793 basa nukleotida. Coding sekuen dimulai
dari basa ke 74 sampai 1201 yang akan
ditranslasikan menjadi protein ACTB. Sekuen
gen cdk5 dan actb dapat dilihat pada lampiran
4 dan 5.
Desain Primer
9
stabilitasnya cukup karena ikatan G-C lebih
kuat daripada A-T. Selain itu juga terdapat
basa komplemen sebanyak 11 pasang basa
untuk primer cdk5. Adanya basa komplemen
ini memungkinkan terjadinya primer dimer.
Primer cdk5 yang dihasilkan diuji dengan
program BLASTN untuk mengetahui adanya
dimer hairpan pada primer. Hasil yang
diperoleh
dari
program
BLASTN
menunjukkan bahwa primer cdk5 memiliki
homologi dengan Mus musculus chromosome
5. Primer cdk5 mempunyai homologi hanya
dengan satu spesies, berarti primer tersebut
masih spesifik untuk gen cdk5.
Peremajaaan dan Perhitungan Kultur Sel
Kanker
disesuaikan dengan kecepatan membelah
(doubling time) sel. Pergantian media
dilakukan untuk mencegah inhibisi kontak
atau inhibisi karena kepadatan.
Perhitungan jumlah sel dilakukan dengan
mengunakan metode hitungan mikroskopis
langsung yaitu metode hemasitometer.
Metode hemasitometer ini merupakan metode
perhitungan langsung yang sangat cepat dan
tidak memerlukan banyak peralatan. Jumlah
sel Namalwa dan HL-60 setelah ditumbuhkan
selama 24 jam sebanyak 2,8 x 105 dan 6 x 104.
Jumlah ini sudah memenuhi syarat untuk
diisolasi mRNAnya. Standar jumlah sel,
bahwa sel telah memenuhi syarat untuk
diisolasi mRNAnya adalah 1x 102-5x106.
Apoptosis pada Sel Kanker
Kultur sel Namalwa dan HL-60
merupakan sel leukimia. Leukimia adalah
penyakit yang disebabkan karena sumsum
tulang
mengalami
kegagalan
dalam
memproduksi sel darah putih yang normal dan
terjadi pertumbuhan yang tidak normal pada
sel bakal (stem sel). Perbedaan sel Namalwa
dan HL-60 terletak pada sel bakal yang
mengalami kelainan. Sel Namalwa adalah sel
leukimia
yang
mengalami
kelainan
diferensiasi dan pertumbuhan dari sel limfoid.
Sedangkan HL-60 adalah sel leukimia yang
mengalami
kelainan
diferensiasi
dan
pertumbuhan dari sel mieloid.
Sel Namalwa dan sel HL-60 tumbuh
optimal pada media RPMI 1640. Pada media
RPMI 1640 ditambahkan 10 % FBS bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan protein pada
pertumbuhan kultur sel. Fungsi lainnya antara
lain mengontrol pertumbuhan kultur sel dan
menetralisir senyawa toksin yang menganggu
pertumbuhan
kultur
sel.
Sedangkan
penambahan NaHCO3 pada pembuatan media
berfungsi sebagai bufer yang menjaga
kestabilan pH media agar tidak terlalu asam
atau terlalu basa. Sedangkan penambahan PSF
berfungsi untuk mencegah pertumbuhan
jamur, bakteri, khamir, dan mikrooganisme
lain yang dapat menganggu pertumbuhan sel.
Pergantian media pada sel namalwa dilakukan
setiap 24 jam, sedangkan untuk HL-60 setiap
48 jam. Perbedaan waktu pergantian media
Sel Namalwa setelah perlakuan dengan
ekstrak daun ciplukan rinjani, bawang putih
rinjani, dan bakteri Geobacillus 22a selama 12
jam, melalui pengamatan secara mikroskopis
mengalami perubahan ukuran sel. Sel menjadi
kecil atau petit, fenomena ini dapat dilihat
pada Gambar 6. Petitnya sel Namalwa
mengindikasikan
terjadinya
peristiwa
apoptosis. Perlakuan penambahan ekstrak
daun ciplukan rinjani, bawang putih rinjani,
dan bakteri Geobacillus 22a pada sel Namalwa,
menunjukkan bahwa dengan penambahan
ekstrak tersebut jumlah sel yang mengalami
petit meningkat dibandingkan dengan blanko.
Peningkatan jumlah sel Namalwa yang
mengalami petit mengindikasikan bahwa
dengan penambahan ekstrak daun ciplukan
rinjani, bawang putih rinjani, dan bakteri
Geobacillus 22a yang memiliki senyawa
selenium dapat meningkatkan peristiwa
apoptosis.
Pada blanko sel namalwa (Gambar 6A)
menunjukkan adanya sel petit yang
seharusnya menurut teori, sel kanker tidak
mengalami
apoptosis.
Fenomena
ini
menunjukkan bahwa perlakuan dengan air
menyebabkan konsentrasi diluar sel lebih
rendah daripada didalam sel, sehingga
lamanya waktu inkubasi menyebabkan sel
mengalami plasmolisis. Sel yang mengalami
plasmolisis akan menjadi petit.
10
(A)
(B)
(C)
(D)
Gambar 6 Foto sel namalwa setelah perlakuan dengan skala 40% : 35%. A= blanko namalwa, B= namalwa-ekstrak
daun ciplukan rinjani, C= namalwa-ekstrak bawang putih rinjani D= namalwa-ekstrak bakteri Geobasillus 22a.
Pada sel HL-60 setelah perlakuan
(Gambar 7) dengan ekstrak daun ciplukan
rinjani, bawang putih rinjani dan bakteri
Geobacillus 22a, melalui pengamatan secara
mikroskopis juga mengalami petit seperti
pada sel namalwa. Hal ini mengindikasikan
(A2)
(C2)
bahwa sel HL-60 juga mengalami apoptosis
setelah perlakuan. Senyawa selenium yang
terdapat pada ekstrak daun ciplukan rinjani,
bawang putih rinjani dan bakteri Geobacillus
22a juga mampu meningkatkan sel petit pada
sel HL-60.
(B2)
(D2)
Gambar 7 Foto sel HL-60 setelah perlakuan dengan skala 40% : 35%. A2= blanko HL-60, B2= HL-60+ekstrak
ciplukan rinjani, C2= HL-60+ekstrak bawang putih rinjani, D2= HL-60+ekstrak bakteri Geobasillus 22a.
11
Petitnya sel Namalwa dan HL-60
menunjukkan bahwa terjadi kerusakan fungsi
mitokondria pada sel tersebut. Mitokondria
berperan dalam pembentukkan energi seluler
ATP. Apabila terjadi kerusakan pada
mitokondria sel akan kekurangan energi
seluler ATP sehingga menjadi lemah, tidak
mempunyai cukup energi untuk melakukan
pembelahan sel sehingga ukurannya menjadi
kecil (petit).
Isolasi mRNA
Pada tahap preparasi sampel, sel Namalwa
dan HL-60 dilisis dengan menambahkan bufer
lisis yang berisi SDS dan protein/Rnase
degrader. SDS merupakan sejenis deterjen
sehingga akan melarutkan lipid yang
merupakan
komponen
membran
sel,
sedangkan protein/RNase degrader akan
memecah protein dan menginaktifkan RNase
yang dapat merusak RNA. Isi sel yang lain
seperti polisakarida, protein dan DNA
dipisahkan dari RNA dengan melewatkan lisat
pada siringe dengan jarum berukuran 21.
Penambahan oligo(dT) berfungsi mengikat
mRNA. Oligo(dT) akan berikatan dengan
mRNA yang memiliki poli-A pada ujung OH
diposisi 3’. Penambahan NaCl dan
pengocokan diatas rotator berfungsi untuk
mempermudah pengikatan RNA (pemekatan).
Pencucian resin RNA mengunakan Binding
Buffer untuk memisahkan RNA dengan DNA
dan protein kontaminan yang masih terbawa.
Sedangkan
pencucian
resin
RNA
menggunakan Low Salt Wash Buffer bertujuan
untuk menghilangkan sisa SDS dan
kontaminan RNA berupa rRNA.
mRNA dielusi dari oligo(dT) dengan
elution buffer. Penambahan sodium asetat,
glikogen dan etanol absolut bertujuan untuk
mengendapkan mRNA kemudian disimpan
dalam -80 °C sampai membeku. mRNA hasil
isolasi ini digunakan sebagai sampel untuk
RT-PCR.
templat dengan pemanasan 94 ºC selama 30
detik. Primer spesifik gen cdk5 dan actb
menempel pada pita cDNA pada pemanasan
60 ºC selama 30 detik. Proses pemanjangan
oleh Platinum taq Polimerase berlangsung
pada suhu 65 ºC selama 30 detik. Proses ini
terus berulang sampai 40 siklus. Pada akhir
proses amplifikasi diberikan pemanjangan
tambahan pada suhu 65 ºC selama 7 menit.
Setelah selesai RT-PCR, produk RT-PCR
dielektroforesis untuk melihat hasil ekspresi
gen cdk5 dan actb pada gel agarosa 1.5 %.
Hasil elektroforesis dari sampel sel Namalwa
ditunjukkan pada Gambar 8. Dari sana dapat
dilihat bahwa sample 1, 3, dan 7 merupakan
ekspresi gen cdk5 yang ditunjukkan oleh pita
amplikon berukuran 154 pb. Dan sampel 2,4,8
merupakan ekspresi gen actb yang
ditunjukkan oleh pita amplikon berukuran 650
pb.
Pada perlakuan dengan air, ekstrak daun
ciplukan rinjani dan bakteri Geobasillus 22a
menyebabkan gen actb dan cdk5 pada sel
Namalwa terekspresi. Peristiwa tersebut
menunjukkan terjadinya apoptosis pada sel
Namalwa. Sedangkan sel Namalwa yang
diberi perlakuan dengan ekstrak bawang putih
rinjani tidak mengekspresikan gen actb
maupun gen cdk5.
Pengamatan secara visual pada agarosa
tidak dapat membedakan secara jelas
perbedaan intensitas ekspresi gen cdk5. Oleh
karena itu diperlukan analisis intensitas pita
secara semikuantitatif. Intensitas pita cdk5
secara semikuantitatif disajikan pada Gambar
9. Dari diagram tersebut terlihat ekspresi cdk5
dengan perlakuan ekstrak Geobasillus 22a
(GB-cdk5) lebih tinggi dibandingkan dengan
perlakuan ekstrak daun ciplukan rinjani (CRcdk5)
tetapi
keduanya
lebih
tinggi
dibandingkan blanko.
1 2
Ekspresi Gen cdk5 dan actb
800 pb
Ekspresi gen cdk5 dan actb dapat dilihat
dengan mengunakan RT-PCR. Pertama-tama
dilakukan pembuatan cDNA dari templat
mRNA lalu dilanjutkan dengan amplifikasi
DNA menggunakan PCR.
Pembentukan pita cDNA oleh enzim
reverse transcriptase pada suhu inkubasi 50
ºC selama 30 menit, selanjutnya enzim
dinonaktifkan dengan pemanasan 94 ºC
selama 4 menit. cDNA dipisahkan dari
600 pb
3
4 5
6
7
8
100 pb
Gambar 8 Pola pita ekspresi gen atcb dan cdk5
pada sel Namalwa setelah perlakuan . Mk =
marker, 1 = blanko cdk5, 2 = blanko actb, 3 = CRcdk5, 4 = CR-actb, 6 = BP–actb, 7 = GB-cdk5, 8 =
GB–actb.
12
1
0.8
2
3
4
5
6 7
8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
800 pb
0.2
0.1
600 pb
0
Blanko-CDK5
CR-CDK5
GB-CDK5
SAMPEL
Gambar 9 Intensitas Ekspresi Gen cdk5 setelah
Perlakuan pada Sel Namalwa.
Ekstrak bakteri Geobasillus 22a mampu
meningkatkan ekspresi gen cdk5 hingga
37.83% sedangkan ekstrak daun ciplukan
rinjani hanya 30.81%. Sehingga dapat diambil
kesimpulan bahwa ekstrak bakteri Geobasillus
22a 7.02% lebih efektif meningkatkan
ekspresi gen cdk5 dibandingkan ekstrak daun
ciplukan rinjani pada sel Namalwa.
Perlakuan dengan ekstrak bawang putih
rinjani
pada
sel
Namalwa
tidak
mengekspresikan gen cdk5. Hal ini bisa
disebabkan karena perlakuan dengan ekstrak
bawang putih rinjani tidak mempengaruhi gen
cdk5 tetapi mempengaruhi gen yang lain pada
sel Namalwa. Atau dapat juga disebabkan
karena perlakuan dengan ekstrak bawang
putih rinjani pada sel Namalwa tidak
mempengaruhi mekanisme apoptosis tetapi
mempengaruhi mekanisme lain pada sel
Namalwa.
Dari Gambar 10 dapat dilihat bahwa
sampel 2 dan 8 merupakan ekspresi gen actb
pada sel HL-60 yang ditunjukkan oleh pita
amplikon berukuran 650 pb. Perlakuan
dengan air dan ekstrak bakteri Geobasillus
22a pada sel HL-60 dapat memicu ekspresi
dari gen actb.
Dari hasil elektroforesis sampel sel HL-60
yang difoto dengan kamera digital tidak
terlihat pita gen cdk5. Namun setelah
dilakukan analisis intensitas pita secara
semikuantitatif dengan Bio Rad Count TM
Software, terdapat ekspresi dari gen cdk5. Hal
ini disebabkan karena pengambilan foto
dengan kamera digital langsung diatas sinar
UV, hasilnya tidak terlalu jelas. Hasil
intensitas pita cdk5 pada sel HL-60 secara
semikuantitatif disajikan pada Gambar 11.
100 pb
Gambar 10 Pola pita ekspresi gen actb dan cdk5
pada sel HL-60 setelah perlakuan. Mk = marker, 1
= blanko cdk5, 2 = blanko actb, 3 = CR-cdk5, 4 =
CR- actb, 5 = BP-cdk5, 6 = BP-actb, 7 = GB-cdk5,
8 = GB-actb.
1
Intensitas Ekspresi gen CDK5
In te n si tas Ek spre si Ge n C DK5
0.9
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
Blanko CDK5
CR - CDK5
BP - CDK5
GB - CDK5
Sampel
Gambar 11 Intensitas Ekspresi cdk5 setelah
Perlakuan pada Sel HL-60.
Intensitas ekspresi gen cdk5 paling tinggi
pada perlakuan dengan ekstrak daun ciplukan
rinjani dan paling rendah pada perlakuan
dengan ekstrak bawang putih rinjani. Tetapi
ketiga sampel memiliki intensitas ekspresi gen
cdk5 lebih tinggi dari pada blanko.
Ekstrak daun ciplukan rinjani mampu
menaikkan ekspresi gen cdk5 sebesar 72.32%.
Sedangkan ekstrak bakteri Geobasillus 22a
mampu menaikan ekspresi cdk5 sebesar
67.94% dan pada ekstrak bawang putih rinjani
sebesar 9.97%. Pada sel HL-60 ekspresi gen
cdk5 ditingkatkan secara efektif dengan
ekstrak daun ciplukan rinjani.
Penambahan ekstrak herba dan bakteri
vulkanis mampu meningkatkan ekspresi gen
cdk5 pada sel namalwa dan HL-60. Pada sel
namalwa,
ekspresi
cdk5
mengalami
peningkatan paling tinggi pada perlakuan
dengan ekstrak bakteri Geobasillus 22a, hal
ini menunjukkan bahwa ekstrak bakteri
Geobasillus 22a dapat lebih memicu
terjadinya peristiwa apoptosis. Fenomena ini
menunjukkan bahwa konsentrasi selenium
yang tinggi mampu memicu apoptosis lebih
efektif pada sel namalwa. Sedangkan pada sel
HL-60 ekstrak daun ciplukan rinjani lebih
memicu peristiwa apoptosis dibandingkan
13
dengan ekstrak yang lain walaupun
konsentrasi seleniumnya paling rendah.
Peristiwa ini menunjukkan adanya senyawa
selenium lain yang lebih efektif memicu
apoptosis dengan konsentrasi rendah.
Persentase peningkatan ekspresi gen cdk5
pada sel HL-60 lebih tinggi dibandingkan
pada sel Namalwa, hal ini bukan disebabkan
karena perbedaan jumlah awal sel yang
digunakan. Tetapi nilai peningkatan ekspresi
gen cdk5 pada sel Namalwa dan HL-60
dibandingkan dengan ekspresi gen actb yang
berfungsi sebagai kontrol positif.
Mekanisme Apoptosis
Daun ciplukan rinjani, bawang putih dan
bakteri Geobasillus 22a yang diekstrak
dengan air ternyata mampu menarik lebih
banyak spesies selenium. Dari hasil penelitian
sebelumnya, ekstrak air tersebut mengandung
spesies selenoprotein berupa selenometionin.
Selenometionin adalah prekursor untuk
pembentukan metilselenol yang merupakan
metabolit aktif untuk memicu peristiwa
apoptosis kultur sel kanker. Metilselenol
memicu apoptosis pada kultur sel leukimia
(Namalwa dan HL-60). melalui peningkatan
ekspresi cdk5 dalam waktu 12 jam masa
inkubasi. Kemampuan ekstrak herba dan
bakteri vulkanis dalam meningkatkan ekspresi
gen cdk5 dan actb dapat dilihat pada Gambar
12.
Protein beta aktin adalah protein yang
berfungsi mempertahankan bentuk sel dan
letak organel di dalam sitoplasma. Protein ini
disandikan oleh gen actb. Ekspresi dari gen
actb dipicu oleh ekstrak herba dan bakteri
vulkanis. Ekspresi gen actb akan berhenti
apabila ekstrak herba dan bakteri vulkanis
mampu mengganggu fosforilasi aktin
sitoskeleton.
Ekstraseluler
SENYAWA
SELENIUM
Beta aktin
Protein G
Intraseluler
Adenilat
Siklase
cAMP
tinggi
Fosforilasi P53
Ekspresi Gen
cdk5
Ca2+
Tinggi
Banyak
kehilangan
energi
Ekspresi Gen
bax
Aktifasi
CASPASE
Petit
APOPTOSIS
Gambar 12 Mekanisme Apoptosis melalui Ekspresi Gen cdk5 dan actb (White et al.2001, Charis
et al.2003, Zhang et al. 2002).
14
Dalam sitoplasma sel, ekstrak herba dan
bakteri vulkanis akan memfosforilasi protein
G. Protein G yang aktif akan menstimulasi
adenilat siklase dan meningkatkan kadar
cAMP dalam sel.
Tingginya
kadar
cAMP
akan
meningkatkan ekspresi gen cdk5. Peningkatan
ekspresi gen cdk5 akan memfosforilasi protein
P53. Protein P53 aktif akan memicu ekspresi
gen bax, ekspresi gen bax dapat mengaktivasi
caspase yang bertugas memotong DNA
(fragmentasi DNA) pada sel namalwa dan
HL-60, sehingga sel Namalwa dan HL-60
mengalami apoptosis.
Kadar cAMP yang terlalu tinggi akan
meningkatkan kadar Ca2+ dalam sel, hal ini
mengakibatkan protein caspase menjadi aktif.
Protein ini yang bertanggungjawab memotong
DNA (fragmentasi DNA) sehingga terjadi
proses apoptosis pada sel Namalwa dan HL60.
Kadar Ca2+ yang tinggi disebabkan karena
terbukanya saluran Ca2+ pada membran sel.
Kadar Ca2+ yang terlalu tinggi dalam sel akan
mengakibatkan sel banyak kehilangan energi
seluler (ATP), Sel yang kekurangan ATP akan
menjadi lemah, tidak mempunyai cukup
energi untuk melakukan pembelahan sel
sehingga ukurannya menjadi kecil (petit). Sel
petit merupakan indikasi terjadinya apoptosis
pada sel Namalwa dan HL-60.
SIMPULAN DAN SARAN
Saran
Penelitian lanjutan diperlukan untuk
membuktikan bahwa memang benar gen cdk5
dan actb yang diekspresikan, akibat perlakuan
dengan ekstrak herba dan bakteri vulkanis,
selain itu dilakukan pencarian mekanisme lain
yang dipengaruhi oleh ekstrak bawang putih
rinjani pada sel Namalwa.
DAFTAR PUSTAKA
Charis CH, Charilaos TH, Michael K. 2003
Apoptosis in Heart Failure. Hellenic J
Cardiol. 44: 56-70.
Freshney RI. 2000. Culture of Animal Cells.
New York: Wiley-Liss.
Ganther HE. 1999. Selenium metabolism,
selenoproteins and mechanisms of cancer
prevention: complexities with thioredoxin
reductase. Carcinogenesis 20(9):16571666.
Gopalakrishna R, Gundimeda U. 2001.
Protein Kinase C as a molecular target for
cancer prevention by selenocompounds.
J.Nutr Cancer. 40(1):55-63
Indrajaya, Warganegara FM, Akhmaloka.
2003.
Isolasi
dan
identifikasi
mikroorganisme termofil isolat kawah
Wayang. J Mirobiol Ind: 53-56.
Simpulan
Ekstrak daun ciplukan rinjani, bawang
putih rinjani, dan bakteri Geobasillus 22a
yang memiliki senyawa selenium dapat
memicu proses apoptosis pada kultur sel
kanker darah putih (Leukimia) dengan
meningkatkan ekspresi gen cdk5.
Peningkatan ekspresi gen cdk5 pada sel
Namalwa paling tinggi terdapat pada sel yang
diberi perlakuan dengan ekstrak bakteri
Geobasillus 22a yaitu mencapai 37.83%.
Sedangkan pada sel HL-60 peningkatan
ekspresi cdk5 paling tinggi terdapat pada sel
yang diberi perlakuan dengan ekstrak daun
ciplukan rinjani yaitu mencapai 72.32%. Pada
sel Namalwa perlakuan dengan ekstrak
bawang putih rinjani tidak mengekspresikan
gen cdk5. Tapi pada sel HL-60 dengan
perlakuan bawang putih rinjani hanya mampu
meningkatkan ekspresi gen cdk5 sebesar
9.97%
Ip C, Hayes C, Budnick RM, Ganther HE.
1991. Chemical form of selenium, critical
metabolites, and cancer prevention.
Journal Cancer Research 51: 595-600.
Jalal EA. 1999. Apoptosis dan dasar
molecular kematian sel terprogram.
Journal Kedokteran YARSI 7(1): 35-41.
Jiang C, Kim KH, Wang Z, Lu J. 2004.
Methyl
selenium-induced
vascular
endothelial apoptosis is executed by
caspases and principally mediated by p38
MAPK pathway. Nutr Cancer 49(2):17483.
Kim YS, Milner J. 2001. Molecular targets for
selenium in cancer prevention. Nutr
Cancer. 40(1): 50-4.
15
Koolman J, Rohm KH, Wirth J. 2000. Atlas
Berwarna dan Teks Biokimia. Wanandi
SI, penerjemah; Sadikin M, editor..
Jakarta: Hipokrates. Terjemahan dari:
Color Atlas of Biochemistry.
Madeo F et al. 2002. Apoptosis in khamir: a
new model system with application in
cell biology and medicine. Curr. Genet.
41: 208-216.
Meijer L, Jezequel, Roberge M. 2003. The
role of cyclin-dependent kinases in
apoptosis. Progress in Cell Cycle
Research. 5: 453-459.
Newton CR, Graham A. 1994. PCR. UK: Bios
Scientific Publisher.
Syamsiah I S, Tajudin. 2003. Khasiat dan
Manfaat Bawang Putih Raja Antibiotik
Alami. Jakarta:Agromedia Pustaka.
Tanaka T 2001. Neuronal Cyclin-Dependent
Kinase 5 Activity Is Critical for Survival.
The Journal of Neuroscience. 21 (2):550558.
Tapiero H, Townsend DM, Tew KD. 2003.
The antioxidant role of selenium and
seleno-compounds.
J.Biomed
Pharmacother. 57(3-4):134-144.
Watson JD, Gilman M, Witkowski J, Zoller
M. 1992. Recombinant DNA. 2nd ed. New
York: WH Freeman.
White SR, Williams P, Wojcik KR, Sun S,
Hiemstra PS, Rabe KF, Dorscheid DR.
2001. Initiation of apoptosis by actin
cytoskeletal derangement in human airway
epithelial cells. Am. J. Respir. Cell Mol.
Biol. 24: 282-294.
WHO. 1987. Selenium Environmental Health
Criteria 58. Geneva: WHO.
Youn BW, Fiala ES, Sohn OS. 2001.
Mechanisms
of
organoselenium
compounds in chemoprevention: effects
on transcription factor-DNA binding.
Nutr Cancer 40(1): 28-33.
Zhang J, Krishnamurthy PK, Johnson G V W.
2002. Cdk5 phosphorylates p53 and
regulates its activity. Journal of
Neurochemistry 81(2) 307.
17
Lampiran 1 Metode Penelitian.
Daun ciplukan rinjani dan
bawang putih rinjani
Bakteri Geobasillus
22a
Dikeringkan, dihaluskan
inkubasi 50ºC 5 hari
sentrifuse
bubuk simplisia
Pelet dalam PBS
Ekstraksi dengan akuades bebas
ion
Maserasi selama 24 jam,
Sentrifuse
Ekstraksi dengan sonikasi
Sentrifuse
pelet
pelet
pelet
Supernatan
Supernatan
Perlakuan ke sel Namalwa dan HL-60
Selama 12 jam
Pengamatan mikroskopis
Sel petit
Isolasi mRNa
RT-PCR
Pengukuran produk PCR
elektroforesis gel Agarosa 1,5%
Pengukuran intensitas
pita DNA
18
Lampiran 2 Perlakuan sel Namalwa
Sel Namalwa dengan
densitas 2.8x105
1ml sel Namalwa
+ 1ml akuades
bebas ion
1ml sel Namalwa
+ 1ml ekstrak
ciplukan rinjani
1 ml sel Namalwa
+ 1ml ekstrak
bawang putih
Inkubasi 12 jam dalam inkubator CO2
pada suhu 37°C/Rh = 90%
Isolasi mRNA
1 ml sel Namalwa
+ 1ml ekstrak
bakteri geobasillus
22a
19
Lampiran 3 Perlakuan sel HL-60
Sel HL-60 dengan densitas
6x104
1ml sel HL-60 +
1ml akuades bebas
ion
1ml sel HL-60 +
1ml ekstrak
ciplukan rinjani
1 ml sel HL-60 +
1ml ekstrak
bawang putih
Inkubasi 12 jam dalam inkubator CO2
pada suhu 37°C/Rh = 90%
Isolasi mRNA
1 ml sel HL-60 +
1ml ekstrak bakteri
geobasillus 22a
20
Lampiran 4 Isolasi mRNA dengan MicroFastTrack 2.0 Kit
MicroFastTrack 2.0 Kit
Kultur sel Kanker
Lisis dengan detergen dan
RNA/Protein Degrader
Pengikatan dengan oligo(dT)
selulosa
Pencucian dengan Low Salt Wash
Buffer
Elusi dalam spin kolom
mRNA untuk sintesis cDNA, RT-PCR
21
Lampiran 5 Sekuen gen cdk5
1: NM_004935. Homo sapiens cycl...[gi:38454327]
LOCUS
NM_004935
1143 bp mRNA linear PRI 06-NOV-2005
DEFINITION
Homo sapiens cyclin-dependent kinase 5 (CDK5), mRNA.
ACCESSION
NM_004935
VERSION
NM_004935.2 GI:38454327
KEYWORDS .
SOURCE
Homo sapiens (human)
ORGANISM
Homo sapiens
Eukaryota; Metazoa; Chordata; Craniata; Vertebrata; Euteleostomi;
Mammalia; Eutheria; Euarchontoglires; Primates; Catarrhini;
Hominidae; Homo.
REFERENCE
1 (bases 1 to 1143)
AUTHORS
Rademakers,R., Sleegers,K., Theuns,J., Van den Broeck,M., Bel
Kacem,S., Nilsson,L.G., Adolfsson,R., van Duijn,C.M., Van
Broeckhoven,C. and Cruts,M.
TITLE
Association of cyclin-dependent kinase 5 and neuronal activators
p35 and p39 complex in early-onset Alzheimer's disease
JOURNAL
Neurobiol. Aging 26 (8), 1145-1151 (2005)
PUBMED
15917097
REMARK
GeneRIF: role of the CDK5 molecular complex in the genetic etiology
of early-onset Alzheimer disease; a yet unknown functional variant
in CDK5 or in a nearby gene might lead to increased susceptibility
for early-onset Alzheimer disease
REFERENCE
2 (bases 1 to 1143)
AUTHORS
Luo,S., Vacher,C., Davies,J.E. and Rubinsztein,D.C.
TITLE
Cdk5 phosphorylation of huntingtin reduces its cleavage by
caspases: implications for mutant huntingtin toxicity
JOURNAL
J. Cell Biol. 169 (4), 647-656 (2005)
PUBMED
15911879
REMARK
GeneRIF: These data predict that the ability of cdk5
phosphorylation to protect against htt cleavage, aggregation, and
toxicity is compromised in cells expressing toxic fragments of htt.
REFERENCE
3 (bases 1 to 1143)
AUTHORS
Hamdane,M., Bretteville,A., Sambo,A.V., Schindowski,K., Begard,S.,
Delacourte,A., Bertrand,P. and Buee,L.
TITLE
p25/Cdk5-mediated retinoblastoma phosphorylation is an early event
in neuronal cell death
JOURNAL
J. Cell. Sci. 118 (PT 6), 1291-1298 (2005)
PUBMED
15741232
REMARK
GeneRIF: an early event in neuronal cell death is p25/Cdk5-mediated
retinoblastoma phosphorylation
REFERENCE
4 (bases 1 to 1143)
AUTHORS
Rosales,J.L., Ernst,J.D., Hallows,J. and Lee,K.Y.
TITLE
GTP-dependent secretion from neutrophils is regulated by Cdk5
JOURNAL
J. Biol. Chem. 279 (52), 53932-53936 (2004)
PUBMED
15492003
REMARK
GeneRIF: data suggest that Cyclin-dependent kinase 5 (Cdk5)-Cdk5
Activator p35 is required to elicit the maximum GTP-induced
secretory response from neutrophils
.
FEATURES
Location/Qualifiers
source
1..1143
/organism="Homo sapiens"
/mol_type="mRNA"
/db_xref="taxon:9606"
/chromosome="7"
/map="7q36"
1..1143
gene
/gene="CDK5"
/note="synonym: PSSALRE"
/db_xref="GeneID:1020"
/db_xref="HGNC:1774"
22
Lanjutan lampiran 5
CDS
STS
/db_xref="HPRD:00449"
/db_xref="MIM:123831"
62..940
/gene="CDK5"
/EC_number="2.7.1.-"
/note="go_function: ATP binding [goid 0005524] [evidence
IEA];
go_function: nucleotide binding [goid 0000166] [evidence
IEA];
go_function: transferase activity [goid 0016740] [evidence
IEA];
go_function: protein-tyrosine kinase activity [goid
0004713] [evidence IEA];
go_function: cyclin-dependent protein kinase activity
[goid 0004693] [evidence TAS] [pmid 8090221];
go_process: cell cycle [goid 0007049] [evidence IEA];
go_process: cell division [goid 0051301] [evidence IEA];
go_process: cell proliferation [goid 0008283] [evidence
TAS] [pmid 8090221];
go_process: protein amino acid phosphorylation [goid
0006468] [evidence IEA]"
/codon_start=1
/product="cyclin-dependent kinase 5"
/protein_id="NP_004926.1"
/db_xref="GI:4826675"
/db_xref="GeneID:1020"
/db_xref="HGNC:1774"
/db_xref="HPRD:00449"
/db_xref="MIM:123831"
/translation="MQKYEKLEKIGEGTYGTVFKAKNRETHEIVALKRVRLDDDDEGV
PSSALREICLLKELKHKNIVRLHDVLHSDKKLTLVFEFCDQDLKKYFDSCNGDLDPEI
VKSFLFQLLKGLGFCHSRNVLHRDLKPQNLLINRNGELKLADFGLARAFGIPVRCYSA
EVVTLWYRPPDVLFGAKLYSTSIDMWSAGCIFAELANAGRPLFPGNDVDDQLKRIFRL
LGTPTEEQWPSMTKLPDYKPYPMYPATTSLVNVVPKLNATGRDLLQNLLKCNPVQRIS
AEEALQHPYFSDFCPP"
967..1092
/gene="CDK5"
/standard_name="SGC30025"
/db_xref="UniSTS:4723"
ORIGIN
1 tgcaacgccg gggccagagt cttaaaaccg agggcccgca ggggtccccg cggccgccgc
61 gatgcagaaa tacgagaaac tggaaaagat tggggaaggc acctacggaa ctgtgttcaa
121 ggccaaaaac cgggagactc atgagatcgt ggctctgaaa cgggtgaggc tggatgacga
181 tgatgagggt gtgccgagtt ccgccctccg ggagatctgc ctactcaagg agctgaagca
241 caagaacatc gtcaggcttc atgacgtcct gcacagcgac aagaagctga ctttggtttt
301 tgaattctgt gaccaggacc tgaagaagta ttttgacagt tgcaatggtg acctcgatcc
361 tgagattgta aagtcattcc tcttccagct actaaaaggg ctgggattct gtcatagccg
421 caatgtgcta cacagggacc tgaagcccca gaacctgcta ataaacagga atggggagct
481 gaaattggct gattttggcc tggctcgagc ctttgggatt cccgtccgct gttactcagc
541 tgaggtggtc acactgtggt accgcccacc ggatgtcctc tttggggcca agctgtactc
601 cacgtccatc gacatgtggt cagccggctg catctttgca gagctggcca atgctgggcg
661 gcctcttttt cccggcaatg atgtcgatga ccagttgaag aggatcttcc gactgctggg
721 gacgcccacc gaggagcagt ggccctctat gaccaagctg ccagactata agccctatcc
781 gatgtacccg gccacaacat ccctggtgaa cgtcgtgccc aaactcaatg ccacagggag
841 ggatctgctg cagaaccttc tgaagtgtaa ccctgtccag cgtatctcag cagaagaggc
901 cctgcagcac ccctacttct ccgacttctg tccgccctag gccccgggac ccccggcctc
961 caggctgggg cctggcctat ttaagccccc tcttgagagg ggtgagacag tgggggtgcc
1021 tggtgcgctg tgctccagca gtgctgggcc cagccggggt ggggtgcctg agcccgaatt
1081 tctcactccc tttgtggact ttatttaatt tcataaattg gctcctttcc cacagtcaaa
1141 aaa
23
Lampiran 6 Sekuen Gen actb
1: NM_001101 Homo sapiens acti...[gi:5016088]
LOCUS
NM_001101
1793 bp mRNA linear PRI 05-MAY-2006
DEFINITION Homo sapiens actin, beta (ACTB), mRNA.
ACCESSION NM_001101
VERSION NM_001101.2 GI:5016088
KEYWORDS .
SOURCE Homo sapiens (human)
ORGANISM Homo sapiens
Eukaryota; Metazoa; Chordata; Craniata; Vertebrata; Euteleostomi;
Mammalia; Eutheria; Euarchontoglires; Primates; Haplorrhini;
Catarrhini; Hominidae; Homo.
REFERENCE 1 (bases 1 to 1793)
AUTHORS Ou,H., Shen,Y.H., Utama,B., Wang,J., Wang,X., Coselli,J. and
Wang,X.L.
TITLE Effect of nuclear actin on endothelial nitric oxide synthase
expression
JOURNAL Arterioscler. Thromb. Vasc. Biol. 25 (12), 2509-2514 (2005)
PUBMED 16210567
REMARK GeneRIF: beta-actin is a transcription factor stimulates eNOS
expression; and the transcriptional effect appears to be
27nt-dependent
JOURNAL Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A. 75 (3), 1106-1110 (1978)
PUBMED 274701
COMMENT REVIEWED REFSEQ: This record has been curated by NCBI staff. The
reference sequence was derived from X00351.1 and X63432.1.
On Jun 8, 1999 this sequence version replaced gi:4501884
Summary: Beta actin is one of six different actin isoforms which
have been identified. ACTB is one of the two nonmuscle
cytoskeletal actins. Actins are highly conserved proteins that are
involved in cell motility, structure and integrity. Alpha actins
are a major constituent of the contractile apparatus.
COMPLETENESS: complete on the 3' end.
FEATURES
Location/Qualifiers
source
1..1793
/organism="Homo sapiens"
/mol_type="mRNA"
/db_xref="taxon:9606"
/chromosome="7"
/map="7p15-p12"
gene
1..1793
/gene="ACTB"
/note="synonym: PS1TP5BP1"
/db_xref="GeneID:60"
/db_xref="HGNC:132"
/db_xref="HPRD:00032"
/db_xref="MIM:102630"
CDS
74..1201
/gene="ACTB"
/go_component="actin filament; cytoskeleton; TIP60 histone
acetyltransferase complex [pmid 10966108]"
/go_function="ATP binding; nucleotide binding; protein
binding [pmid 15527767]; structural constituent of
cytoskeleton"
24
Lanjutan lampiran 6
/note="beta cytoskeletal actin; PS1TP5-binding protein 1"
/codon_start=1
/product="beta actin"
/protein_id="NP_001092.1"
/db_xref="GI:4501885"
/db_xref="CCDS:CCDS5341.1"
/db_xref="GeneID:60"
/db_xref="HGNC:132"
/db_xref="HPRD:00032"
/db_xref="MIM:102630"
/translation="MDDDIAALVVDNGSGMCKAGFAGDDAPRAVFPSIVGRPRHQGVM
VGMGQKDSYVGDEAQSKRGILTLKYPIEHGIVTNWDDMEKIWHHTFYNELRVAPEEHP
VLLTEAPLNPKANREKMTQIMFETFNTPAMYVAIQAVLSLYASGRTTGIVMDSGDGVT
HTVPIYEGYALPHAILRLDLAGRDLTDYLMKILTERGYSFTTTAEREIVRDIKEKLCY
VALDFEQEMATAASSSSLEKSYELPDGQVITIGNERFRCPEALFQPSFLGMESCGIHE
TTFNSIMKCDVDIRKDLYANTVLSGGTTMYPGIADRMQKEITALAPSTMKIKIIAPPE
RKYSVWIGGSILASLSTFQQMWISKQEYDESGPSIVHRKCF"
ORIGIN
1 cgcgtccgcc ccgcgagcac agagcctcgc ctttgccgat ccgccgcccg tccacacccg
61 ccgccagctc accatggatg atgatatcgc cgcgctcgtc gtcgacaacg gctccggcat
121 gtgcaaggcc ggcttcgcgg gcgacgatgc cccccgggcc gtcttcccct ccatcgtggg
181 gcgccccagg caccagggcg tgatggtggg catgggtcag aaggattcct atgtgggcga
241 cgaggcccag agcaagagag gcatcctcac cctgaagtac cccatcgagc acggcatcgt
301 caccaactgg gacgacatgg agaaaatctg gcaccacacc ttctacaatg agctgcgtgt
361 ggctcccgag gagcaccccg tgctgctgac cgaggccccc ctgaacccca aggccaaccg
421 cgagaagatg acccagatca tgtttgagac cttcaacacc ccagccatgt acgttgctat
481 ccaggctgtg ctatccctgt acgcctctgg ccgtaccact ggcatcgtga tggactccgg
541 tgacggggtc acccacactg tgcccatcta cgaggggtat gccctccccc atgccatcct
601 gcgtctggac ctggctggcc gggacctgac tgactacctc atgaagatcc tcaccgagcg
661 cggctacagc ttcaccacca cggccgagcg ggaaatcgtg cgtgacatta aggagaagct
721 gtgctacgtc gccctggact tcgagcaaga gatggccacg gctgcttcca gctcctccct
781 ggagaagagc tacgagctgc ctgacggcca ggtcatcacc attggcaatg agcggttccg
841 ctgccctgag gcactcttcc agccttcctt cctgggcatg gagtcctgtg gcatccacga
901 aactaccttc aactccatca tgaagtgtga cgtggacatc cgcaaagacc tgtacgccaa
961 cacagtgctg tctggcggca ccaccatgta ccctggcatt gccgacagga tgcagaagga
1021 gatcactgcc ctggcaccca gcacaatgaa gatcaagatc attgctcctc ctgagcgcaa
1081 gtactccgtg tggatcggcg gctccatcct ggcctcgctg tccaccttcc agcagatgtg
1141 gatcagcaag caggagtatg acgagtccgg cccctccatc gtccaccgca aatgcttcta
1201 ggcggactat gacttagttg cgttacaccc tttcttgaca aaacctaact tgcgcagaaa
1261 acaagatgag attggcatgg ctttatttgt tttttttgtt ttgttttggt tttttttttt
1321 tttttggctt gactcaggat ttaaaaactg gaacggtgaa ggtgacagca gtcggttgga
1381 gcgagcatcc cccaaagttc acaatgtggc cgaggacttt gattgcacat tgttgttttt
1441 ttaatagtca ttccaaatat gagatgcatt gttacaggaa gtcccttgcc atcctaaaag
1501 ccaccccact tctctctaag gagaatggcc cagtcctctc ccaagtccac acaggggagg
1561 tgatagcatt gctttcgtgt aaattatgta atgcaaaatt tttttaatct tcgccttaat
1621 acttttttat tttgttttat tttgaatgat gagccttcgt gccccccctt cccccttttt
1681 gtcccccaac ttgagatgta tgaaggcttt tggtctccct gggagtgggt ggaggcagcc
1741 agggcttacc tgtacactga cttgagacca gttgaataaa agtgcacacc tta
25
Lampiran 7 Primer cdk5
Primer3 Output
WARNING: Numbers in input sequence were deleted.
No mispriming library specified
No hyb oligo mishyb library specified
Using 1-based sequence positions
tm gc% any 3'
seq
OLIGO
start len
LEFT PRIMER
541 20 60.05 55.00 7.00 3.00 tgaggtggtcacactgtggt
RIGHT PRIMER
694 20 60.08 50.00 4.00 2.00 ctggtcatcgacatcattgc
HYB OLIGO
604 20 59.96 55.00 6.00 2.00 gtccatcgacatgtggtcag
SEQUENCE SIZE: 1143
INCLUDED REGION SIZE: 1143
PRODUCT SIZE: 154, PAIR ANY COMPL: 4.00, PAIR 3' COMPL: 2.00
1 tgcaacgccggggccagagtcttaaaaccgagggcccgcaggggtccccgcggccgccgc
61 gatgcagaaatacgagaaactggaaaagattggggaaggcacctacggaactgtgttcaa
121 ggccaaaaaccgggagactcatgagatcgtggctctgaaacgggtgaggctggatgacga
181 tgatgagggtgtgccgagttccgccctccgggagatctgcctactcaaggagctgaagca
241 caagaacatcgtcaggcttcatgacgtcctgcacagcgacaagaagctgactttggtttt
301 tgaattctgtgaccaggacctgaagaagtattttgacagttgcaatggtgacctcgatcc
361 tgagattgtaaagtcattcctcttccagctactaaaagggctgggattctgtcatagccg
421 caatgtgctacacagggacctgaagccccagaacctgctaataaacaggaatggggagct
481 gaaattggctgattttggcctggctcgagcctttgggattcccgtccgctgttactcagc
541 tgaggtggtcacactgtggtaccgcccaccggatgtcctctttggggccaagctgtactc
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
601 cacgtccatcgacatgtggtcagccggctgcatctttgcagagctggccaatgctgggcg
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
661 gcctctttttcccggcaatgatgtcgatgaccagttgaagaggatcttccgactgctggg
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
721 gacgcccaccgaggagcagtggccctctatgaccaagctgccagactataagccctatcc
781 gatgtacccggccacaacatccctggtgaacgtcgtgcccaaactcaatgccacagggag
841 ggatctgctgcagaaccttctgaagtgtaaccctgtccagcgtatctcagcagaagaggc
901 cctgcagcacccctacttctccgacttctgtccgccctaggccccgggacccccggcctc
961 caggctggggcctggcctatttaagccccctcttgagaggggtgagacagtgggggtgcc
1021 tggtgcgctgtgctccagcagtgctgggcccagccggggtggggtgcctgagcccgaatt
1081 tctcactccctttgtggactttatttaatttcataaattggctcctttcccacagtcaaa
1141 aaa
KEYS (in order of precedence):
>>>>>> left primer
<<<<<< right primer
^^^^^^ hyb oligo
ADDITIONAL OLIGOS
tm
start len
gc% any
3' seq
1 LEFT PRIMER
140 20 59.94 50.00 4.00 1.00 catgagatcgtggctctgaa
RIGHT PRIMER
364 20 60.07 55.00 5.00 3.00 ctcaggatcgaggtcaccat
HYB OLIGO
272 20 59.78 55.00 4.00 1.00 cacagcgacaagaagctgac
PRODUCT SIZE: 225, PAIR ANY COMPL: 5.00, PAIR 3' COMPL: 3.00
2 LEFT PRIMER
462 20 60.07 50.00 4.00 2.00 taaacaggaatggggagctg
RIGHT PRIMER
694 20 60.08 50.00 4.00 2.00 ctggtcatcgacatcattgc
HYB OLIGO
604 20 59.96 55.00 6.00 2.00 gtccatcgacatgtggtcag
PRODUCT SIZE: 233, PAIR ANY COMPL: 4.00, PAIR 3' COMPL: 2.00
26
Lanjutan lampiran 7
3 LEFT PRIMER
604 20 59.96 55.00 6.00 2.00 gtccatcgacatgtggtcag
RIGHT PRIMER
840 20 60.11 50.00 3.00 0.00 ctccctgtggcattgagttt
HYB OLIGO
675 20 60.08 50.00 4.00 1.00 gcaatgatgtcgatgaccag
PRODUCT SIZE: 237, PAIR ANY COMPL: 4.00, PAIR 3' COMPL: 0.00
4 LEFT PRIMER
675 20 60.08 50.00 4.00 1.00 gcaatgatgtcgatgaccag
RIGHT PRIMER
840 20 60.11 50.00 3.00 0.00 ctccctgtggcattgagttt
HYB OLIGO
734 20 59.83 60.00 5.00 1.00 gagcagtggccctctatgac
PRODUCT SIZE: 166, PAIR ANY COMPL: 5.00, PAIR 3' COMPL: 3.00
Statistics
con too in in
no tm tm high high
high
sid many tar excl bad GC too too any 3' poly end
ered Ns get reg GC% clamp low high compl compl X stab ok
Left 8914 0 0 0 487 0 1199 5392 0 8 0 187 1641
Right 8838 0 0 0 408 0 1276 5268 1 3 6 194 1682
Hyb 11206 0 0 0 608 0 1377 6991 0 0 1 0 2229
Pair Stats:
considered 284, unacceptable product size 266, high end compl 1, ok 17
primer3 release 1.0
(primer3_www_results.cgi v 0.4)
27
Lampiran 8 Hasil Pengukuran Intensitas Pita cdk5 pada Namalwa
No
Sampel
1
2
3
4
5
6
7
C CDK5
C Aktin
CR CDK5
CR Aktin
Bact.CDK5
Bact.Aktin
Dark
Adj. Vol.
ODu*mm2
27.565
18.273
22.062
18.065
21.180
18.480
35.611
Perhitungan intensitas ekspresi cdk5
8.046
Blanko
X 100% = 46.41%
17.338
13.549
Ciplukan
X 100% = 77.22%
17.546
14.431
Bactothermo
X 100% = 84.24%
17.131
Area mm2
Mean value
ODu
51.911
51.911
51.911
51.911
51.911
51.911
51.911
-8.046
-17.338
-13.549
-17.546
-14.431
-17.131
0.000
0.531
0.352
0.425
0.348
0.408
0.356
0.686
28
Lampiran 9 Hasil Pengukuran Intensitas Pita cdk5 pada sel HL-60
No
Sampel
1
2
3
4
5
6
7
8
9
C CDK5
C.Aktin
CR CDK5
CR Aktin
BP CDK5
BP Aktin
Bact CDK5
Bact Aktin
Dark
Adj. Vol.
ODu*mm2
31.770
17.650
18.584
17.442
33.378
38.491
19.103
17.131
35.922
Perhitungan intensitas ekspresi cdk5
-3.841
Blanko
X 100% = 21.39%
-17.961
-17.027
Ciplukan
X 100% = 93.71 %
-18.169
-2.233
Bawang putih
X 100% = 31.36%
-7.120
-16.508
Bacthotermo
X 100% = 89.33%
-18.480
Area mm2
Mean value
ODu
51.911
51.911
51.911
51.911
51.991
51.991
51.911
51.911
51.911
-3.841
-17.961
-17.027
-18.169
-2.233
-7.120
-16.508
-18.480
0.000
0.612
0.340
0.358
0.336
0.642
0.548
0.368
0.330
0.692
29
Lampiran 10 Prosedur pembuatan beberapa larutan.
Larutan microFastTrack 2.0 Lysis Buffer
1.
Jika stock buffer mempunyai endapan putih, larutan dipanaskan hingga 65ºC sampai larut.
2.
20 µl Protein/Rnase Degrader ditambahkan ke dalam 1 ml stock buffer untuk tiap isolasi.
Larutan Phosphate Buffer Saline (PBS)
137 mM NaCL
2,7 mM KCl
10 mM Na2 HPO4
1,8 mM KH2PO4
1.
Untuk 1 liter larutan ditambahkan:
8 g NaCl
0,20 g KCl
1,44 g Na2 HPO4
0,24 g KH2PO4
ke dalam 800 ml air destilata dan dicampur hingga larut.
2.
pH diatur menjadi 7,4 dengan 1 N HCl hingga volume akhir menjadi 1000 ml. PBS dapat
disimpan pada suhu ruang atau pada 4ºC.
Larutan stok TAE 50X
Stok buffer TAE 50X dibuat dari campuran 242 g tris base, 57,1 mL asam asetat glasial, 100
mL EDTA pH 8 kemudian ditambahkan H2O hingga volume akhir menjadi 1 liter. Buffer kerja
TAE 2X dibuat dari pengenceran stok TAE 50X.
Stok Marker 100bp Ladder
Stok marker berisi campuran 10 μL 100bpLadder, 40 μL Elution Buffer, dan 5 μL blue juice.
Download