PENGANTAR Perkembangan sosial anak

advertisement
PENGANTAR
Perkembangan sosial anak-anak dapat dilihat dari tingkatan kemampuannya dalam
berhubungan dengan orang lain dan menjadi anggota masyarakat sosial yang produktif. Hal
ini mencakup bagaimana seorang anak belajar untuk memiliki suatu kepercayaan terhadap
perilakunya dan hubungan sosialnya. Perkembangan sosial meliputi Kompetensi Sosial
(kemampuan untuk bermanfaat bagi lingkungan sosialnya), Kemampuan Sosial (perilaku
yang digunakan dalam situasi sosial), Pengamatan Sosial (memahami pikiran-pikiran, niat,
dan perilaku diri sendiri maupun orang lain), Perilaku Prososial ( sikap berbagi, menolong,
bekerjasama, empati, menghibur, meyakinkan {reassure = to make somebody feel less
anxious or worried}, bertahan, dan menguatkan orang lain ); Perolehan nilai dan moral
(perkembangan standar untuk memutuskan mana yang benar atau salah, kemampuan untuk
memperhatikan keutuhan dan kesejahteraan orang lain)
Pada tahun awal perkembangannya, seorang anak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat
di dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan tentang tahap-tahap
perkembangan perilaku dapat menolong kita untuk memahami tindakan setiap anak dan
memberikan pengalaman yang akan mendukung perkembangan sosial mereka yang positif.
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan sosial atau dapat juga dikatakan
sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral,
dan tradisi, meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan
bekerjasama.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan
orangtua terhadapnya dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, norma-norma
kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anak
bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan sosial meliputi perubahan peningkatan pengetahuan yang berbentuk spiral
tentang dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini dipengaruhi baik oleh pengalaman maupun
hubungan sosial anak dengan orang dewasa dalam kehidupannya, dan oleh tingkatan
perkembangankognitifnya. 4 aspek kognisi yang berhubungan dengan perkembangan sosial
anak :
a. Perpindahan dari sikap egosentris – melihat dunia hanya dari sudut pandangnya sendiri –
ke perkembangan kemampuan untuk memahami bagaimana pikiran/pendapat orang lain
dan apa yang dirasakan oleh orang lain
b. Pertumbuhan dalam kemampuan untuk memahami sebab dan akibat – untuk melihat
hubungan antra sikap seseorang dan konsekwensi yang harus dipikul.
c. Perubahan dari berpikir konkrit (kamu adalah temanku jika kamu bermain dengan aku) ke
pola piker abstrak (kamu adalah temanku walau ketika aku tidak melihat kamu setiap
hari, karena kita suka bermain bersama)
d. Perkembangan kognisi yang kompleks, seperti kemapuan untuk memahami hubungan
keluarga yang lebih luas (ibu saya adalah seorang ibu, bibi, istri dan juga anak
Pengaruh Kecerdasan Sosial Emosional
terhadap Prestasi Sekolah
(ke 2, 1 oktober 2013)
Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial
(zoon politicon). Syamsuddin mengungkapkan bahwa "sosialisasi adalah proses belajar untuk
menjadi makhluk sosial"1, seseorang memiliki sikap sosial apabila ia selalu memperhatikan
ataupun berbuat baik terhadap orang lain, sehingga dapat dikatakan bahwa sikap sosial
merupakan beberapa atau serentetan tindakan menuju kebaikan terhadap sesamanya 2, dan
kata sosial itu sendiri memiliki makna yang beragam, dari yang menyamakan sebagai
tindakan-tindakan yang menyenangkan (seperti: sepak bola, volly dsb) hingga pandangan
yang lebih serius misalnya meningkatkan kehidupan ke taraf yang lebih baik melalui
kehidupan sosial.
Perkembangan dan pertumbuhan sosial anak tidak dapat lepas dari perkembangan
lainnya, seperti fisik, mental dan emo1si. Hubungan ketiganya sangat erat kaitannya,
sehingga salah satu faktor saja dapat menjadi dasar untuk menghasilkan perkembangan
sosial itu sendiri, misalnya fisik dan fisiologis, taraf kesiapan mental dan taraf kematangan
emosional, karena faktor inilah yang akan mempengaruhi dan dipengaruhi orang lain,
sehingga akan menentukan cepat lambatnya perkembangan di setiap fase. Power ( dalam
Crow&Crow) mendefinisikan bahwa perkembangan sosial adalah sebagai kemajuan yang
progresif melalui kegiatan yang terarah dari individu dalam pemahaman atas warisan sosial
dan formasi pola tingkah lakunya yang luwes.
Menurut Elizabeth B. Hurlock perkembangan sosial adalah kemampuan seseorang
dalam bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi dengan unsur sosialisasi
dimasyarakat. hal ini akan banyak dipengaruhi oleh sifat pribadi setiap individu yaitu
introvert atau ekstrovert.
1
2
Syamsuddin, Psikologi Pendidikan, 1995 (ed. Revisi), Bandung : Remaja rosydakary, hal. 105
Zaini Hasan dan Salladin, Pengantar Ilmu Sosial, 1996,Jakarta: Jl. Pintu satu Senayan.hal 1
Sedangkan Singgih D. Gunarsah, mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan
kegiatan manusia sejak lahir, dewasa, sampai akhir hidupnya akan terus melakukan
penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya yang menyangkut norma-norma dan sosial
budaya masyarakatnya.
Emosi, menurut L. Crow &Crow, adalah pengalaman yang afektif yag disertai oleh
penyesuaian batin secara menyeluruh, dimana keadaan mental dan fisiologi sedang dalam
kondisi yang meluap-luap, juga dapat diperlihatkan dengan tingkah laku yang jelas dan
nyata3. Menurut Goleman, emosi adalah perasaan dan pikiran khasnya; suatu keadaan
biologis dan psikologis; suatu rentangan dari kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan
menurut kamus The American College Dictionary, emosi adalah suatu keadaan afektif yang
disadari dimana dialami perasaan seperti kegembiraan (joy), kesedihan,takut,benci dan cinta .
Di tengah persaingan dalam dunia pendidikan saat ini, setiap pelajar menginginkan prestasi
yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan ada rasa khawatir jika nantinya
mereka mengalami kegagalan sehingga belajar yang keras (seperti mencari tempat les dan
privat) dilakukan,
agar nantinya, pada jenjang berikutnya mereka tidak
mengalami
kegagalan dan mendapatkan lembaga favorit dengan harapan akan membawa kesuksesan
dalam kehidupannya kelak.
Usaha semacam itu jelas positif, namun masih ada faktor lain yang tidak kalah
pentingnya dalam mencapai keberhasilan selain kecerdasan ataupun kecakapan intelektual,
faktor tersebut adalah kecerdasan emosional. Karena kecerdasan intelektual saja tidak
memberikan persiapan bagi individu untuk menghadapi gejolak, kesempatan ataupun
kesulitan-kesulitan dan kehidupan. Dengan kecerdasan emosional, individu mampu
mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca dan
menghadapi perasaan-perasaan orang lain dengan efektif.
Seseorang dengan keterampilan emosional yang baik maka sangat dimungkinkan
kehidupannya mendatang akan lebih bahagia karena ia memiliki keinginan untuk berprestasi,
33
L .Crow &Crow, Educational Psyicology, Terjemahan Abd. Rachman Abror, 1998, Yogyakarta: Nur Cahaya,hal
98
Sementara seseorang yang tidak mempunyai keterampilan emosional yang baik maka ia tidak
akan dapat mengendalikan emosinya dan tidak dapat berpikir jernih karena adanyag linggi
yam pertarungan batin yang merusak kemampuan pemusatkan pikirannya.
Sebuah laporan dari National Center for Clinical Infant Programs (1992) menyatakan
bahwa keberhasilan di sekolah bukan diramalkan oleh kumpulan fakta seorang siswa atau
kemampuan dininya untuk membaca, melainkan oleh ukuran-ukuran emosional dan sosial :
yakni pada diri sendiri dan mempunyai minat; tahu pola perilaku yang diharapkan orang lain
dan bagaimana mengendalikan dorongan hati untuk berbuat nakal; mampu menunggu,
mengikuti petunjuk dan mengacu pada guru untuk mencari bantuan; serta mengungkapkan
kebutuhan-kebutuhan saat bergaul dengan siswa lain. Hampir semua siswa yang prestasi
sekolahnya buruk, menurut laporan tersebut, tidak memiliki satu atau lebih unsur-unsur
kecerdasan emosional ini (tanpa memperdulikan apakah mereka juga mempunyai kesulitankesulitan kognitif seperti kertidakmampuan belajar).
Keterampilan sosial emosional ini tidak dapat begitu saja terjadi tetapi ia memerlukan
proses untuk mewujudkannya yang dimulai dari pembentukan sosial emosional
di
lingkungannya. orang yang terlatih terampil secara emosional, maka ia akan semakin
terampil memecahkan permasalahan dirinya sendiri, mengendalikan gagasan-gagasan yang
negatip dalam berbagai kondisi dan juga dapat menerima apa yang diinginkan oleh teman
yang lainnya.
Orang tua mempunyai peluang yang luar biasa untk mempengaruhi kecerdasan
emosional anak-anak mereka dengan menolong mereka mempelajari tingkah laku yang
menghibur diri sejak masa bayi dan seterusnya. Miskipun bayi-bayi itu tidak berdaya,
mereka mampu belajar dari tanggapan kita terhadap ketidaknyamanan mereka bahwa
emosi itu mempunyai sebuah arah bahwa dimungkinkan untuk beralih dari perasaanperasaan sedih sekali, amarah dan takut menuju pada perasaa-perasaan nyaman dan segar
(John Gottman, 2003: 29)
Dalam peneniltian Murray tentang perkembangan kebutuhan berprestasi (n-Ach),
menemukan pengaruh kebutuhan ini pada banyak sisi kehidupan manusia. Orang dengan
kebutuhan berprestasi yang tinggi cenderung menunjukkan berbagai perbedaan dengan
mereka yang kebutuhan prestasinya rendah. Sukar untuk menentukan apa yang
mempengaruhi n-Ach ini menjadi tinggi atau rendah. Perkembangan n-Ach tentu
dipengaruhi oleh model pengasuhan anak, dan hubungan anak dengan orang
tua/lingkungan, namun hubungan ini sangat kompleks. Dari penelitian yang intensif,
ditemukan tujuh ciri orang yang memiliki n-Ach yang tinggi dan empat anteseden orang
yang mempunyai n-Ach tinggi:
Ciri orang yang memiliki n-Ach tinggi:
1. Lebih kompetitif
2. Lebih bertanggungjawab terhadap keberhasilan diri
3. Senang menetapkan tujuan yang menantang tapi cukup realistik
4. Memilih tugas yang tingkat kesulitannya cukupan, yang tidak pasti apakah bisa
diselesaikan atau tidak
5. Senang dengan kerja interprener yang beresiko tetapi cocok dengan kemampuannya
6. Menolak kerja rutin
7. Bangga dengan pencapaian dan mampu menunda untuk memperoleh kepuasan
yang lebih besar, konsep diri positip, berprestasi di sekolah
Empat anteseden (pemberi dukungan) n-Ach tinggi:
1. Orangtua dan lingkungan budaya memberikan tekanan yang cukup kuat
(menganggap penting) dalam hal berperstasi yang tinggi
2. Anak diajar untuk percaya keada diri sendiri dan berusaha memantapkan tujuan
menjadi orang yang berprestasi tinggi
3. Pekerjaan kedua orangtua mungkin berpengaruh. Ayah yang pekerjaannya
melibatkan
pengambilan
keputusan
dan
inisiatif
dapat
mendorong anak
mengembangkan motivasi berprestasi
4. Kelas sosial dan pertumbuhan ekonomi (nasional) yang tinggi dapat mempengaruhi
n-Ach. (Alwisol,Psikologi kepribadian, 2008, Malang: UMM Press.
Komunikasi Orangtua-Anak
(Pert. Ke 3, 8 Okt.2013)
Dalam perkembangan sosial anak, ketika mereka berumur satu tahun ia hanya dapat
berhubungan dengan ayah dan ibunya serta orang lain yang tinggal bersama keluarganya
dengan tugas masing 2 dalam rangka memenuhi kebutuhan anak, dan dalam proses
berikutnya, anak akan dapat menghubungkan dirinya dengan masyarakat yang baru,
didalamnya mulai terjadi perkembangan baru, yakni perkembangan sosial.
Di lingkungan rumah tangga, anak suka menuntut kasih sayang ibunya hanya untuk
dirinya sendiri, dan ketika usia tiga tahun dalam dirinya mulai timbul rasa iri hati kepada
orang seisi rumah, khususnya kepada adik dan kakaknya dan terkadang ia berselisih dengan
orang dewasa di rumah itu. Perselisihan itu timbul karena ia bersikap seperti mau
menurutkan kehendaknya sendiri.
Dikalangan anak yang lain yang tampak menonjol adalah sikap simpatinya. Rasa simpati
sudah dikenal sejak masa kanak-kanak walaupun dalam perwujudannya masih sangat
sederhana, seperti suka manolong, melindungi teman, membela anak yang lain dsb.
Dikemudian hari laju perkebangan sosial ini tampaknya semakin menggembirakan karena
anak mulai memahami kepada siapa ia harus bersimpati dan kepada siapa ia harus bersikap
tidak simpati. Ia tidak merasa takut atau malu jika berada diantara orang-orang yang
disukainya tetapi ia akan merasa takut jika berada diantara orang-orang yang tidak
disukainya4
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat
juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma
kelompok, moral dan tradisi, meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling
berkomunikasi dan bekerja sama.
Dibawah ini kami sampaikan bagaimana sosialisasi dan perkembangan anak:
Kegiatan Orangtua
Pencapaian Pengembangan Prerilaku anak
1. Memberikan makanan dan memelihara
kesehatan fisik anak
2. Melatih
dan
menyalurkan
kebutuhan fisiologis
3. Mengajar dan melatih keterampilan
berbahasa, fisik dll
4
1. Untuk
Mengembangkan
sikap
percaya kepada orang lain
2. Mampu mengendalikan dorongan
biologis
dan
belajar
untuk
menyalurkan
pada tempat yang
diterima masyarakat
3. Belajar
menguasai
objek-obek
,belajar, bahasa, berjalan dll
Zulkifli, Psikologi Perkembangan (Bandung: Remaja Rosydakarya) 2001, hal. 46
4. Mengenalkan lingkungan kepada
anak
5. Mengajarkan tentang budaya, nilainilai (agana) dan mendorong anak
untuk menerimanya sebagai bagian
dirinya
6. Mengembangkan
keterampilan
interpersonal , motf, perasaan dan
berlaku dalam berhubungan dengan
orang lain
7. Membimbing mengoreksi, dan
membantu
anak
untuk
meerumuskan
tujuan
dan
merencanakan aktivitasnya
4. Mengembangkan
pemahaman
tentang tingkah laku sosial
5. Mengembangkan
pemahaman
tentang
baik-buruk,merumuskan
tujuan dan kreteria pilihan dan
perilaku yang baik
6. Belajar memahami perspektip (
pandangan) orang lain dan merespon
harapan/pendapat mereka secara
selekif
7. Memiliki
pemahaman
untuk
mengatur diri dan memahami krieria
a untuk menilai penampilan/perilaku
sendiri 5
Bagaimana sebaiknya komunikasi dengan nak-anak dilakukan? Apakah komunikasi hanya
berjalan satu arah dari Anda sebagai orangtua/guru kepada anak, atau terjadi dua arah?
idealnya komunikasi dengan anak ini berjalan dua arah, dari orangtua/guru ke anak dan dari
anak ke orangtua/guru. Miskipun, banyak kita ketahui bahwa masih ada keluarga yang hanya
menerapkan komunikasi satu arah, yaitu dari orangtua ke anak.
"Karena komunikasi tak lancar dan hanya berjalan satu arah, maka banyak anak yang malas
ngobrol dengan orangtu/guru tentang masalah mereka,"
Untuk menciptakan komunikasi dua arah yang menyenangkan, ada trik yang bisa dilakukan.
1. Bersedia mendengarkan
Mungkin sampai saat ini Indonesia masih menerapkan budaya yang menjadikan posisi
orangtua/guru lebih tinggi daripada anak, sehingga anak harus menuruti semua perintah
orangtua/guru. Aturan ini tidak salah jika dimanfaatkan dengan tepat. Namun, seringkali
budaya ini "dimanfaatkan" orangtua (terutama) untuk memaksakan kehendaknya pada anak,
sekalipun si anak tak suka.
"Dalam berkomunikasi, seharusnya orangtua/guru juga harus mau dan bisa mendengarkan
keinginan dan apa yang dirasakan anak-anak mereka. Dengan demikian, kedekatan anak dan
orangtua akan terjalin dan saling memahami satu sama lain," tambahnya.
5
Syamsu Yusuf, Psiklologi Perkembangan anak dan remaja, (Bandung: Remaja Rosydakarya, 2001) Hal. 123
Orangtua/guru yang tak pernah mau mendengar keinginan dan permintaan anak akan
membuat anak merasa tertekan lalu mencari pelarian yang sifatnya negatif.
2. Beri pertanyaan yang tepat
Sering berkumpul bersama bukan jaminan komunikasi orangtua dan anak terjalin baik.
Seringkali saat berkumpul, suasana masih terasa kaku karena tidak ada obrolan yang panjang
dan bermakna, yang terjalin di antara semua pihak. Sesekali mungkin hanya terdengar
obrolan pendek dan terputus-putus. Misalnya, "Bagaimana hari ini?", lalu anak hanya
menjawab, "Baik".
Obrolan seperti ini tidak bisa dikategorikan sebagai komunikasi yang bermakna. Jika ada
salah satu anggota keluarga yang bersikap seperti ini (menjawab dan bertanya seadanya),
maka kita harus bisa memancing mereka untuk bercerita lebih banyak. Dengan demikian kita
bisa melihat perkembangan diri, cara anak bersosialisasi, dan lain-lain. Misalnya, "Tadi kata
bu guru kamu menang lomba di sekolah, memangnya kamu bikin apa sih? Ceritain mama,
dong."
3. Lihat kondisi
Ketika mengajak anak atau keluarga ngobrol, ada baiknya untuk melihat kondisi mereka
terlebih dulu. Ketika suasana tidak kondusif, otomatis komunikasi yang terjalin juga tidak
akan maksimal. Alih-alih menjawab pertanyaan kita, anak justru kesal karena diberondong
berbagai pertanyaan. Jangan ajak anak ngobrol saat mereka sedang lelah atau habis
bepergian. Beri mereka waktu untuk beristirahat dan menenangkan pikiran.
4. Selingi dengan camilan
Agar suasana ngobrol jadi lebih santai dan tenang, tak ada salahnya untuk menghadirkan
camilan dan minuman segar untuk disantap saat ngobrol. Karena mungkin makanan dan
minuman bisa menjadi senjata ampuh untuk memecahkan kebekuan saat ngobrol.
5. Perhatikan posisi tubuh
Saat pertanyaan sudah tepat, camilan sudah disiapkan, dan anak dalam kondisi yang santai,
mengapa komunikasi masih tidak lancar? Hmm... mungkin saja posisi tubuh kita yang jadi
penyebabnya.
"Jangan salah, posisi tubuh kita, saat sedang bicara ke anak juga akan memengaruhi
psikologis anak. Ketika ingin ngobrol penting, jangan sesekali kita berbicara sambil berdiri,
terutama saat ia duduk. Posisi tubuh seperti ini diasumsikan sebagai posisi tubuh yang
mengancam lawan bicara," Sebaiknya, kita dalam posisi duduk dan merangkulnya6.
Menatapnya dengan penuh cinta. "Kasih sayang dan perhatian yang tulus akan terlihat dari
cara kita memandang anak. Ada pancaran kebahagiaan dan kehangatan yang akan dirasakan
anak melalui tatapan mata kita,"
Untuk mengakrabkan hubungan dengan anak, sebaiknya orangtua menyediakan waktu
khusus bersama anak, tidak harus menyediakan waktu khusus untuk melakukan suatu
kegiatan besar seperti berakhir pekan atau berlibur bersama. Sediakan saja lebih banyak
waktu ketika kita hanya berdua bersama anak untuk saling bercerita, bertukar pengalaman,
bermain, atau bahkan curhat.7
Setiap orangtua menginginkan anak-anaknya bertumbuh menjadi individu-individu yang
dewasa secara sosial, dan mereka mungkin merasa kesulitan dalam menemukan cara
terbaik untuk memcapai pertumbuhan ini.
Seorang ahli perkembangan sosial Diana Baumrind (1971) menyakini bahwa para oranttua
tidak boleh menghukum atau mengucilkan anak, tetapi sebagai gantinya orangtua harus
mengembangakan aturan-aturan bagi anak-anak dan mencurahkan kasih sayang kepada
mereka. Ia menekankan tiga t ipe pengasuhan yang dikaitkan dengan aspek-aspek berbeda
dalam perilaku sosial anak: otoriter, otoritatif dan laissez Faire (permisif):
1. Pengasuhan otoriter ialah suagtu gaya membatasi dan menghukum yang menuntut
anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua dan menghormati pekerjaaan dan
usaha. Orang tua yang otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak
memberi peluang yang besar kepada anak-anak untuk berbacara (bermusyawarah) .
gaya kepengasuhan ini diasosiasikan dengan inkopetensi sosial anak.
6
http://female.kompas.com/read/2013/05/17/21024071/Agar.Komunikasi.OrangtuaAnak.Lebih.Efek
tif
7
http://female.kompas.com/read/2012/11/06/16515891/3.Cara.Lekatkan.Hubungan.Orangtua.dan.
Anak.
2. Pengasuhan otoritatif, ialah mendorong anak-anak agar mandiri tetapi masih
menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan mereka.
Musyawarah-musyawarah yang ekstensif memungkinkan dilaksnakan. Dan orangtua
menunjukkan kehangatan dan kasih sayang . pengasuhan ini diasosiasikan dengan
kompetensi sosial anak.
3. Pengasuhan permisif terjadi dalam dua bentuk: permissive indifferent , adalah gaya
pengasuhan yang mana orangtua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Gaya
ini lebih mengembangkan suatu perasaan bahwa aspek-aspek lain kehidupan
orantua adalah lebih penting dari pada anak mereka. Sedangkan gaya pengasuhan
permisive indulgent: suatu gaya pengasuhan dimana orangtua sangat terlibat dalam
kehidupan anak mereka tetapi menetapkan sedikit batas/kendali terhadap mereka.
Orangtua membiarkan anak-anak melakukan apa saja yang mereka inginkan dan
beranggapan bahwa dengan kombinasi keterlibatan yang hangat dengan sedikit
kekangan akan menghasilkan orang-orang yang kreatif dan percaya diri.8
Orangtua juga perlu menyesuaikan perilaku mereka terhadap anak, yang didasarkan pada
kedewasaan perkembangan anak.
Perasaan sosial atau perasaan komunitas mengandung makna suatu perasaan yang
tidak dapat diekspresikan dalam kata-kata. Istilah itu mengandung makna suatu perasaan
meyatu dengan kemanusiaan, menjadi anggota dari komnitas umat manusia. Orang yang
gemainschafgefuh (bhs.Jerman)nya berkembang baik, berjuang bukan untuk superioritas
pribadi tetapi untuk kesempurnaan semua orang dalam masyarakat luas.
Menurut Adler (dalam Alwison, 2008:65) mengatakan bahwa untuk membimbing tingkah
laku, setiap orang menciptakan tujuan final yang semu (fictional final Goal), memakai bahan
yang diperoleh dari keturunan dan lingkungan. Tujuan ini semu karena mereka tidak harus
didasarkan pada kenyataan, tetapi tujuan itu lebih menggambarkan fikiran orang itu
mengenai bagaimana seharusnya kenyataan itu didasarkan pada interpretasi subjektifnya
mengenai dunia. Tujuan final adalah hasil dari kekuatan kreatif individu; kemampuan untuk
membentuk tingkah laku diri dan menciptakan kepribadian diri. Pada usia 4-5 tahun, fikiran
8
JW. Santrock, 2002,Perkembangan masa hidup, Jakarta: Erlangga
kreatif anak mencapai tingkat perkembangan yang membuat mereka mampu menentukan
tujuan final.
Jika anak diabaikan atau dimanja, sebagian besar tujuan final mereka tetap tidak disadari
dan ia membuat hipotesa bahwa anak semacam itu akan mengkompensasi perasaan
inferiornya (perasaan lemah dan terampil dalam menghadapi tugas yang harus
diselesaikan), dengan cara yang rumit dan tidak jelas hubungannya dengan tujuan final
mereka. Tapi jika anak mengalami cinta dan keamanan, mereka membuat tujuan yang
sebagaian besar disadari dan difahami. Anak yang secara psikologis sehat, berjuang menjadi
superioritas (yang terus-menerus berusaha menjadi lebih baik, menjadi semakin dekat
dengan tujuan final), memakai tolok ukur kesuksesan dan minat sosial. Walaupun tujuan
final tidak pernah disadari secara lengkap, individu yang secara psikologis masak akan
memahami dan berjuang mengejar tujuan itu dengan kesadaran yang tinggi.
Walaupun minat sosial itu ada sejak anak dilahirkan, namun ia tetap membutuhkan
bimbingan terutama dari ibu sebagai manusia pertama bertugas untuk mengembangkan
potensi sosial pada diri anak, baik ketika masih dalam kandungan maupun setelah ia
dilahirkan.
Adanya pembinaan rasa dan minat sosial dari orangtuna, berupa pemberian informasi
tentang orang-orang disekitarnya baik yang berkaitan dengan pekerjaan/karir maupun
masyarakat pada umumnya, sebagai latihan dan pengalaman pendahuluan pada masa awal
kanak-kanak sebagai masa prakelompok. Dasar untuk sosialisasi diletakkan den;gan
meningkatnya hubungan antara anak dengan teman-teman sebayanya dari tahun ke tahun.
Anak tidak hanya lebih banyak bermain dengan anak-anak lain tapi juga lebih banyak
berbicara, dan jenis hubungan sosial lebih penting dari pada jumlahnya. Kontak sosial
menjadi lebih baik daripada hubungan sosial yang sering ttpi sifat hubungannya kurang baik.
Bebarapa pola perilaku sosial dan tidak sosial pada anak yang perlu diketahui:
A. Pola perilaku sosial:
1. Meniru: agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan perilaku orang yang
sangat dikagumi
2. Persaingan, yang diawali pada kehidupan di rumah hingga dalam permainan
3. Kerjasama, bermain kooperatif dan kegiatan kelompok mulai berkembang seiring
dengan meningkatnya kesempatan untuk bermain dengan anak lain
4. Simpati yang akan berkembang seiring dengan frekwensi kontak bermain
5. Empati, miskipun masih sulit bagi anak untuk dapat merasakan hal ini, hingga
masa awal kanak-kanak berakhir
6. Dukungan sosial. Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak akhir, dukungan dari
teman-tamannya lebih penting daripada persetujuan orang-orang dewasa.
7. Membagi, sebagai bentuk perilaku yang biasanya dengannya anak meperoleh
dukungan so sial dari yang lain.
8. Perilaku akrab, kepada orang diluar rumah maupun benda-benda kesayangannya
B. Perilaku anti sosial:
1. Negativisme, yakni melawan otoritas orang dewasa
2. Agresif, yang diawali dengan serangan fisik hingga serangan verbal dalam bentuk
memaki-maki atau menyalahkan orang lain.
3. Perilaku berkuasa, yang akan meningkat dengan bertambahnya kesempatan
untuk kontak sosial
4. Memikirkan diri sendiri, meluasnya cakrawala sosial akan mengurangi perilaku ini
miskipun murah hati juga masih belum maksimal.
5. Mementingkan diri sendiri, cepatnya perubahan ini bergantung pada banyakknya
kontak dengan orang-orang di luar rumah dan berapa besar keinginan mereka
untuk diterima oleh tman-temannya.
6. Merusak.9
Melihat dari adanya beberapa perilaku sosial dan tidak sosial anak, maka orangtua perlu
memberikan pelatihan terhadap emosi anak agar ia dapat berperilaku sosial sebagaimana
yang diharapkan lingkungan dan orang-orang terdekatnya . Miski begitu, tidak semua
orangtua memberikan bimbingan kepada anak-anaknya. Ada sebagian orangtua yang
membiarkan anak-anak mereka memperlihatkan rasa amarah, sedihdan takut dan juga tidak
mengabaikannya. Orangtua memaknai hal itu digunakan untuk memberi pengalaman hidup
dan akan membuat ikatan orang tua dan anak menjadi lebih erat. Disamping itu, masih
banyak pula orangtua yang belum berhasil untuk secara efektif mengatasi perasaan99
Elizabeth B. Hurlock
perasaan negatif anak. Diantara para orangtua yang gagal mengajarkan kecerdasan
emosional kepada anak-anak mereka, telah teridentifikasi menjadi tiga tipe:
1. Orangtua yang mengabaikan, tidak menghiraukan, menganggap sepi atau
meremehkan emosi-emosi nagatif anak mereka
2. Orang yang tidak menyetujuai, yang berfikir kritis terhadap ungkapan perasaanperasaan negatif anak mereka barangkali memarahi atau menghukum karena
mengungkapkan emosinya
3. Orangutua Laissez-Faire, yang menerima emosi anak mereka dan berempati kepada
mereka, tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada
tingkahlaku anak mereka.10
Cobalah perhatikan percakapan di bawah ini, sekedar untuk perenungan dan instrospeksi:
Percakapan seorang anak dengan ibunya:
Diana : Ayoo, segera pakai jaketmu, Arin... Sudah waktunya pergi
Arin
: Tidak! Aku tidak mau pergi ke tempat penitipan
Diana : Kamu tidak mau pergi? Kenapa tidak?
Arin
: Karena aku ingin di rumah saja bersama ibu
Diana : Oh, begitu?
Arin
: Ya, aku ingin di rumah saja
Diana : Wah rasa ibu tahu perasaanmu. Suatu hari ibu ingin bisa duduk bersantai
dikursi dan melihat-lihat buku bersamamu, bukannya buru-buru pergi. Tapi,
tahu tidak? Ibu sudah ada janji penting dengan teman-teman di kantor. Ibu
harus ada disana jam sembilan dan ibu tidak bisa melanggar janji itu.
Arin (mulai menangis): tapi mengapa tidak bisa? Ibu jahat, aku tidak mau pergi..
Diana : kemarilah Rin...(sambil memangkunya). Maafkan ibu, sayang, tapi kita tak
mungkin tinggal di rumah. Ibu tahu, ini membuatmu tidak enak, bukan?
Arin
(mengangguk) : ya..
Diana : ibu juga sediih (ia membiarkan Arin manangis sebentar dan terus
memeluknya sambil mengusap air matanya). Ibu tahu apa yang dapat kita
lakukan. Nanti kita pikirkan besuk pagi karena besuk ibu tidak pergi ke
kantor. Kita bisa seharian bersama. Apa yang ingin kamu lakukan besok?
1010
John Goggman,Ph.D bersama Joan DeClaire, 2003, Kiat-kiat membesarkan anak yang memiliki Kecerdasan
Emosional, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Arin
: makan pizza dan buat ice cream bu?
Diana : tentu..itu bagus sekali, lainnya lagi?
Arin
: bisa tidak saya bawa boneka ke pantai?
Diana : ibu rasa bisa.
Arin
: bisa tidak kalau ngajak meila sekalian?
Diana : barangkali. Kita harus tanya ibunya dulu. Tapi sekarang kita harus pergi ok
Arin
: Ok.
Proses tersebut bisa terjadi dalam lima langkah:
a. Menyadari emosi anak
b. Mengakui emosi itu sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar
c. Mendengarkan dengan penuh empati dan meneguhkan perasaan anak
d. Menolong anaknya menemukan kata-kata untuk memberi nama emosi yang sedang
dialaminya
e. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah yang dihadapi.
UPAYA MENGEMBANGKAN KOMPETENSI SOSIAL EMOSIONAL ANAK
(pertemuan ke 4 /2013)
Upaya mengembangkan kompetensi sosial anak adalah sebuah usaha guru dan orang tua
untuk mengembangkan kemampuan sosial emosional anak dalam kehidupan sehari-hari
yang sangat berpengaruh bagi kehidupan dunianya yang identik dengan sikap sosial.
Setiap
anak
membutuhkan
keamanan
emosional
dan
mendapatkan
hak
mengembangkan keinginannya untuk bersosialisasi dengan lingkungannya sesuai dengan
tahap perkembangan
dan kemampuan anak
dengan dipengaruhi oleh stimulasi dari
lingkungan terdekatnya. Salah satu tugas perkembangan awal masa kanak-kanak yang
penting adalah memperoleh latihan dan pengalaman pendahuluan yang diperlukan untuk
menjadi anggota “kelompok” dalam akhir masa kanak-kanak. Ini disebut sebagai masa pra
kelompok.
Elizabeth B. Hurlock, mengklaisifikasi pola sosialisasi awal anak yang ditandai
dengan kesukaannya untuk bermain dengan sesama (jenis kelamin) menjadi tiga, yaitu:
1. Bermain sejajar, yaitu bermain sendiri-sendtiri , tidak bermain dengan anak-anak
lain, jika terjadi kontak, ini cenderung bersifat perkelaihan, bukan kerjasama. Ini
adalah bentuk kegiatan sosial pertama anak dengan teman sebayanya.
2. Bermain asosiatif, yakni anak terlIbat dalam kegiatan yang menyerupai kegiatan
anak-anak lain
3. Bermain kooperatif, yakni anak sudah menjadi anggota kelompo dan saling
berinteraksi.
Miskipun demikian, masih terdapat beberapa anak yang belia (2 Th) lebih suka
menonton dan menjadi pengamat, tidak berusaha benar-benar bermain dengan mereka,
sambil memperhatikan perilaku sosial teman yang lain dalam berbagai aktivitas berbeda.
Perilaku ini merupakan pengalaman sosialisasi pendahuluan sehingga ia mengerti dasardasar permainan kelompok, sadar akan pendapat orang lain dan berusaha untuk
menonjolkan diri dengan memperlihatkan “kebisaannya”. Dalam tahun-tahun selanjutnya ia
memperhalus pola perilaku sosialnya dan mempelajari pola perilaku baru yang dapat
diterima oleh kelompok teman-temannya.
Pada usia 3-4 th anak mulai bermain bersama dalam kelompok, berbicara satu sama lain
saat bermain dan memilih beberapa anak untuk dijadikan teman bermain bersama dan
perilaku yang terjadi adalah mereka saling mengamati satu dengan yang lainnya, melakukan
percakapan dan memberikan saran secara lisan.
Sedangkan pada usia prasekolah, perkembangan sosial anak sudah tampak jelas, karena
mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya. Tanda-tanda
perkembangan sosial pada tahap ini adalah:
1. Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan keluarga maupun dalam
lingkungan bermain
2. Sedikit demi sedikit, anak sudah mulai tunduk pada peraturan
3. Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain
4. Anak mulai bermain bersama anak-anak lain atau sebaya (peer group)
Kematangan penyesuaian sosial anak akan sangat terbantu apabila mereka dimasukkan ke
Taman Kanak-kanak, karena TK merupakan “jembatan bergaul”, tempat yang memberikan
peluang kepada anak untuk belajar dan memperluas pergaulan sisialnya dan mentaati
peraturan.
Perkembangan
emosi
anak
selalu
berhubungan
dengan
seluruh
aspek
perkembangannya. Anak yang lebih muda mengalami hampir semua jenis emosi yang
secara normal dialami oleh orang dewasa, namun, rangsangan yang membangkitkan emosi
dan cara anak mengungkapkannya berbeda-beda. Hal ini , tergantung pada pola asuh orang
tua dalam menghadapi berbagai setuasi emosional diantaranya; amarah, takut, cemburu,
ingin tahu, irihati, gembira, sedih dan aksih sayang.
Beberapa
strategi
yang
dapat
dilakukan
orangtua/guru
perkembangan sosial anak adalah:
1. Memberi contoh yang baik
2. Mengajarkan pengenalan emosi
3. Menanggapi dan memahami perasaana anak
4. Melatih mengendalikan diri dan mengelola emosi
5. Menerapkan disiplin dengan konsep empati
6. Melatih keterampilan komunikasi dan sosial
7. Memberi iklim positip
8. Tidak menabukan, amarah,sedih dan cemas
9. Melatih empati dan perduli pada orang lain
10. Mengajari akibat perilaku
11. Beri reinforceme atas perilaku
untuk
menstimulasi
Apakah Saya Guru yang Baik
(Mengembangkan Rasa Sosial)
Pertemuan ke 5
Dalam konsep belajar Konstruktivisme yang dipelopori olehJJean Piaget dan Vygotsky
menakankan bahwa perubahan kognitif ke arah perkembangan terjadi ketika kosep-konsep
yang sebelumnya sudah ada mulai bergeser karena ada sebuah informasi baru yang
diterima melalui proses ketidakseimbangan. Selain itu, keduanya juga menekankan pada
pentingnya lingkungan sosial dalam belajar dengan menyatakan bahwa integrasi
kemampuan dalam belajar kelompok akan dapat meningkatkan perubahan secara
konseptual .
Salah satu konsep dasar pendekatan konstruktivisme dalam belajar adalah adanya
interaksi sosial dengan lingkungannya. Menurut Vygotsky, belajar adalah sebuah proses
yang melibatkan dua elemn penting, pertama, belajar merupakan secara biologi sebagai
proses dasar, kedua, proses secara psikososial sebagai proses yang lebih tinggi dan
esensinya berkaitan dengan lingkungan sosial budaya, sehingga munculnya perilaku
seseorang adalah karena intervening kedua elemen tersebut.
Pada saat seseorang mendapatkan stimulus dari lingkungannya, ia akan menggunakan
fisiknya berupa alat indranya untuk menangkap atau menyerap stimulus tersebut, kemudian
dengan menggunakan saraf otaknya informasi yang telah diterima tersebut diolah.
Keterlibatan alat indra dalam menyerap stimulus dan saraf otak dalam mengelola informasi
yang diperoleh merupakan proses secara fisik-psikologi sebagai elemen dasar dalam belajar.
Pengetahuan yang telah ada sebagai hasil dari proses elemen dasar akan lebih
berkembang ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan sosial budaya mereka. Lebih
lanjut Vygotsky mengatakan bahwa fungsi mental tingkat tinggi biasanya ada dalam
percakapan atau komunikasi dan kerjasama di antara individu-individu (proses sosialisasi)
sebelum akhirnya itu berada dalam diri individu (internalisasi). Oleh karenanya, pada saat
seseorang berbagi pengetahuan dengan orang lain dan akhirnya pengetahuan itu menjadi
pengetahuan personal, disebut dengan “private speech”, di sini Vygotsky ingin menjelaskan
bahwa kesadaran sebagai akhir dari sosialisasi tersebut. Dalam belajar bahasa, misalnya
ucapan partama kita dengan orang lain adalah bertujuan untuk komunikasi, akan tetapi
sekali kita menguasainya, ucapan atau bahasa itu akan terinternalisasi dalam diri kita dan
akan menjadi “inner speech” atau “private speech’.
Private speech ini dapat diamati saat seorang anak sering berbisara dengan dirinya
sendiri, terutama jika ia dihadapkan dengan tugas-tugas sulit. Namun demikian,
sebagaimana studi-studi yang dilakukan, anak-anak sering menggunakan private speech
ketika menghadapi tugas-tugas yang kompleks ini lebih efektif memecahkan tugas-tugas
daripada anak-anak yang kurang menggunakan private speech.11 Misalnya, pikiran seorang
gadis kecil usia 5 tahun yang ingin mengambil buku di atas almari, ia tetap berusaha keras,
hingga berhasil, dan dilakukan sesuai dengan private speech yang ia ketahui.
Sebuah monolog “ Saya tahu bahwa saya akan mendapatkan uang yang lebih sedikit
dengan menjadi guru, itu kenyataan yang telah saya terima.” belum lagi harus berhadapan
dengan murid yang mengganggu dan tidak memiiki rasa hormat, pengurus yayasan, teman
sejawat yang kurang dapat diajak kerjasama, tumpukan kertas dan buku yang harus
diselesaikan, bahkan tekanan dari para orangtua yang terkadang banyak menuntut dan
akhirnya kelelahan emosi dan tekanan mental.
Keluhan tersebut benar adanya, mengajar adalah pekerjaan yag sulit dan menantang
anak-anak mengalami tekanan emosi, mental dan fisik yang memengaruhi perilaku dan
kemampuan belajar mereka dan saryangnya banyak role model mereka yang mendorong
untuk memprlakukan diri mereka sendiri dan diri orang lain sangat tidak hormat: banyak PR,
Ujian yang menghabiskan banyak uang dll., dan guru sangat memimpikan bahwa mereka
akan berdiri di depan kalas, berkeliling dan membantu anak dengan tenang dan teratur,
menghadapi lautan wajah kecil yang tenang , mengagumi gurunya, patuh dan manis dan
tidak akan berubah menjadi wajah yang membosankan, berisik serta berantakan.
Miskipun begitu...menjadi guru merupakan hal yang menyenangkan. Buktinya...mengajar
adalah profesi yang paling indah di dunia karena ia adalah pembuat kontribusi langsung dan
terukur bagi bangsa kita dan dunia dengan membantu anak-anak mengenal pengetahuan
dan keterampilan. Guru (perlu terus belajar) dan menghabiskan waktu hidup mencapai
tujuan yang terhormat dan hidup dengan tujuan yang jelas.
11
Baharuddin&Esa Nur Wahyuni, Teori belajar dan Pembelajaran, 2007, Yogyakarta: Arruz Medir, hal. 125
Guru terbagi menjadi tiga rasa dasar; super, excellent dan good. Rasa apa yang
diinginkan sebagai guru tergantung pada kekuatan personal, hubungan pertemanan, tujuan
profesional dan prioritas individual.Putuskan sesuatu yang penting dan menjadi prioritas
1. Menjadi guru super, membutuhkan energi fisik, emosi dan mental yang tinggi. Guruguru super biasanya tiba di sekolah lebih awal dan pulang paling akhir. Mereka juga
menghadiri seminar dan melanjutkan kuliah pendidikan, sukarelawan bagi kegiatan
murid, dan memberikan diri mereka bagi murid-murid yang membutuhkan bantuan
ekstra di dalam maupun di luar kalas. Guru super menikmati hubungan yang solid
dengan para muridnya, mereka tidak harus berfokus pada berapa banyak waktu atau
energi untuk menerapkan disiplin di kelas-kelas mereka. Guru super yang sudah
berkeluarga perlu mendapatkan ijin dari suami maupun anak. Jika tidak...tidak usah
dipaksakan.
2. Guru excellent, menikmati pekerjaan mereka, tetapi mereka membatasi jumlah
waktu dan energi yang mereka baktikan untuk mengajar. Mereka peduli dan
melaukan yang terbaik bagi murid mereka tetapi tidak mengorbankan kebutuhan
keluarga mereka sendiri. Mereka juga melakukan kerja lembur, tetapi memberikan
batasan waktu lembur yang mau mereka kerjakan. Guru ini berprinsip bahwa
pekerjaan menjadi prioritas utama dan hal itu harus dijelaskan kepada teman dan
keluarganya.
3. Guru yang good, mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik, tetapi mereka
memahami batasan mereka sendiri dengan sangat jelas antara profesionalitas dan
waktu pribadi. Mereka memperlakukan murid mereka dengan rasa hormat dan
mereka melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa semua murid mempeajari
materi yang disyaratkan untuk tingkat pedidikan selanjutnya, tetapi mereka tidak
berkewajiban untuk menyelamatkan murid-muridnya satu persatu. Guru good tiba
disekolah cukup awal untuk menyiapkan diri, tetapi mereka tidak menawarkan
kunjungan ke rumah mereka atau tidak juga jam istirahatnya.12
12
LouAnne Johnson, Pengajaran yang Kreatif dan Menarik, 2008, Indeks)
Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Kondusif untuk
Mengembangkan Kompetensi Sosial
(pert.ke 6 dan 7)
A. Urgensi Menata Ruang Kelas
Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak, adalah sebuah generasi yang memiliki
pengalaman yang berbeda, anak-anakpun menikmati dan merasakan segala sesuatu tentang
mereka. Mereka mengembangkan perasaan keinginan untuk membuat berbagai hal, dan
membuatnya lebih baik serta lebih sempurna. Keinginan mereka yang kuat adalah untuk
mengetahui dan memahami. Dan orangtua mereka tetap merupakan pemberi pengaruh
yang penting dalam kehidupan mereka, miskipun pertumbuhan mereka juga dibentuk oleh
rangkaian teman-teman yang berada di sekelilingnya.
Sosioemosional anak menjadi semakin kompleks dan berbeda pada masa pertengahan
dan akhir anak-anak. Relasi keluarga dan teman sebaya terus memainkan peran penting
pada masa pertengahan dan akhir anak-anak, sekolah dan guru merupakan aspek
kehidupan anak yang semakin terstruktur.
Bronfenbrenner dan Erikson mengemukakan tentang lingkungan yang sangat berperan
terhadap perkembangan sosioemosional anak, dan setiap faktor yang memengaruhi
memberi dampak yang positip dan negatip terhadap perkembangan anak. lingkungan kelas
dalam sekolah baik fisik maupun sosialnya berpengaruh terhadap perkembangan fisik,
kognitif, maupun bahasa serta sosialemosional anak, bahkan dapat mengurangi munculnya
perilaku bermasalah dan meningkatkan kerjasama antar teman-teman dalam kelas.
Ruang kelas diatur untuk meningkatkan interaksi dan pembelajaran. Meja, kursi dan
tempat mengerjakan tugas dikelompokkan: tempat mengerjakan memiliki berbagai materi
belajar untuk mendorong proyek kelompok, percobaan dan aktifitas kreatif. Tempat-tempat
yang kita lihat di kelas prasekolah masih ada di kelas TK: meja, pasir/air, tempat komputer,
tempat bermain dan tempat membaca diatur untuk berinteraksi, yang menurut teori
figotsky dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan bahasa. Selain itu, kelas (TK) yang
berkualitas adalah kelas dimana anak merasa berada pada rumah sendiri, hasil karya anak
dipajang sehingga mereka merasa memilikinya.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menyediakan lingkungan yang
berkualitas:
1. Meyediakan banyak materi yang mendukung anak belajar membaca dan menulis.
Keduanya adalah menjadi prioritas utama sehingga pastikan guru menawarkan
berbagai jenis buku dan bahan untuk menulis
2. Memasukkan anak dalam kelompok-kelompok yang berbeda jumlah anggota dan
tingkat kemampuannya. Kegiatan ini menyebabkan terjadinya interaksi sosial dan
belajar bersama sehingga mendorong anak untuk bekerjasama dan membantu
teman lain dalam meningkatkan pembelajaran
3. Mengembangkan pengaturan kelas yang mendukung standar sekolah dan negera,
cohtoh untuk memenuhi standar membaca, buatlah anak mudah mendapatkan buku
yang diperlukan. Dan pastikan juga ruang kelas memiliki tempat yang nyaman untuk
waktu membaca individu atau kelompok
4. Bekerjasama dengan peserta didik untuk membuat ruang kelas yang sesuai dengan
selera guru dan peserta didik.
Sedangkan lingkungan yang kondusif, antara lain dapat dikembangkan melalui berbagai
layanan dan kegiatan sebagai berikut;
1. Memberikan pilihan pelayanan bagi setiap anak dalam belajar dan bermain, hal itu
akan membangkitkan semangat belajar yang tinggi.
2. Mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman dan aman bagi
perkembangan
potensi seluruh anak secara optimal termasuk dalam kegiatan
belajar dan bermain yang menarik dan menantang, serta manajemen kelas yang
efektif.
Teori tentang Perkembangan Sosioemosional anak diantaranya adalah teori Ekologi
yang dikembangkan oleh Bronfenbrenner, yang utamanya adalah pada konteks sosial anak
dimana anak tinggal dan orang-orang yang memengaruhi perkembangannya. Menurutnya
ada lima sistem lingkungan yang memengaruhi kehidupan anak, yaitu:
1. Mikrosistem, adalah settting dimana individu menghabiskan banyak waktu, dirumah,
disekolah, teman sebaya maupun keluarga. Dalam mikrosistem ini individu
berinteraksi langsung dengan orangtua, guru, teman sebaya maupun orang lain.
Menurutnya, peserta didik bukan penerima pengalaman secara pasif di dalam
setting ini, tetapi ia orang yang berinteraksi secara timbal balik dengan oranglain dan
membantu mengkonstruksi setting tersebut
2. Mesostem, adalah kaitan antar-mikrosistem. Contoh adalah hubungan antara
pengalaman dalam keluarga dengan pengalaman di sekolah dan antara keluarga dan
teman sebaya.
3. Ekosistem, terjadi ketika pengalaman di setting lain (dimana pst didik tidak berperan
aktif) memengaruhi pengalaman pst didik dan guru dalam kontek mereka sendiri.
Misalnya dewan sekolah dan dewan pengawas taman di dalam suatu komunitas.
Mereka memegang peran yang kuat dalam menentukan kualitas sekolah, taman,
fasilitas rekreasi dan perpustakaan. Dalam hal ini keputusan mereka bisa membantu
atau menghambat perkembangan anak
4. Makrosistem,adalah kultur yang lebih luas. Kultur adalah istilah luas yang mencakup
peran etnis dan faktor sosioekonomi dalam perkembangan anak. Kultur adalah
konteks terluas dimana pst didik dan pendidik tinggal, termasuk nilai dan adat
istiadat masyarakat.
5. Kronosistem, adalah kondisi sosiohistoris dari perkembangan anak. Misalnya anakanak sekarang adalah generasi pertama yang mendapatkan perhatian setiap hari,
generasi pertama yang tumbuh dalam lingkungan elektronik yang dipenuhi oleh
komputer dan bentuk media baru, generasi pertama yang tumbuh dalam kota yang
semrawut dan tak terpusat dls.
Dalam perencanaan dan organisasi lingkungan fisik, seorang guru perlu
menetapkan tujuan pendidikan dalam kelasnya, mereka akan selalu mengfokuskan
bagaimana mereka harus menata lingkungan fisik dan dilanjutkan dengan
merencanakan dan mengorgansasikan lingkungan sosial yang akan menopang
prestasi dari tujuan pendidikan. Anak-anak dapat dibantu agar lebih peka terhadap
kebutuhan dan perasaan anak lain maupun kebutuhan anak itu sendiri, anak-anak
juga akan mampu mengendalikan dorongan-dorongan serta tingkahlaku sehingga
menjadi anak yang lebih mudah diajak kerjasama. Hubungan-hubungan yang
ditumbuhkan oleh guru akan menumbuhkan hubungan dengan anak maupun orang
dewasa lain didalam kelas akan terefleksi dalam tingkah laku yang muncul di dalam
kelas.
Perencanaan dan pengorganisasian lingkungan fisik
Sebelum menata ruangan, guru perlu mengetahui dan menyadari susunan lingkungan
fisik dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapainya.
Pertama kali yang dapat membantu perencanaan dan pengeorganisasian
lingkungan fisik kelas adalah informasi berupa catatan atau laporan tertulis yang akan
diperoleh guru beberapa waktu sebalum sekolah dimulai, melalui pertemuan pertama
dengan murid yang datang bersama ortu akan menambah informasi seperti apa kelas akan
dirancang dan diorganisasikan oleh guru sesuai anak didik yang telah ditemuinya secara
individual.
Kedua, guru tahu apa yang harus dilakukan anak yang berkaitan dengan tujuan
khusus yang hendak dicapai. Apabila anak-anak diharapkan mampu bersosialisasi, guru
harus merencanakan dan mengorganisasi ruang yang memungkinkan anak mampu
mengembangkan bersosialisas melalui kerjasama, jika merencanakan agar anak menjadi
kreatif, maka guru harus rtmenyediakan meteri terlebih dahulu dapat berupa balok, cat
air dll.
B. Latar Belakang
Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara
untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera. Upaya peningkatan kualitas sumber
daya manusia tidak bisa terpisah dengan masalah pendidikan bangsa. Menurut Mulyasa
(2006:3) ”Setidaknya terdapat tiga syarat utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan
pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia
(SDM) yakni: (1) sarana gedung, (2) buku yang berkualitas, (3) guru dan tenaga
kependidikan yang yang professional.
Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah.
Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan
tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu
kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah
proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen
pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat
dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang
telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
Pengelolaan kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas.
Kegiatan pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana
dan kondisi kelas. Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan
efisien. Misalnya memberi penguatan, mengembangkan hubungan guru dengan siswa dan
membuat aturan kelompok yang produktif.
Di kelaslah segala aspek pendidikan pengajaran bertemu dan berproses. Guru dengan
segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-sifat individualnya.
Kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber pelajaran dengan segala
pokok bahasanya bertemu dan berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari
pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu
sudah selayaknyalah kelas dikelola dengan bagi, professional, dan harus terus-menerus.
” Masalah yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah
pengelolaan kelas. Aspek yang sering didiskusikan oleh penulis professional dan pengajar
adalah juga pengelolaan kelas”. Mengingat tugas utama dan paling sulit bagi pengajar adalah
pengelolaan kelas, sedangkan tidak ada satu pendekatan yang dikatakan paling baik.
Sebagian besar guru kurang mampu membedakan masalah pengajaran dan masalah
pengelolaan. Masalah pengajaran harus diatasi dengan cara pengajaran dan masalah
pengelolaan
harus
diatasi
dengan
cara
pengelolaan.
Pengelolaan kelas diperlukan karena dari hari ke hari bahkan dari waktu ke waktu tingkah
laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Hari ini siswa dapat belajar dengan baik dan tenang,
tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya
dimasa mendatang boleh jadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk
perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional siswa.
Tugas perkembangan sosial emosional anak berusia 3-5 tahun adalah sebagai berikut:
1. Anak usia 3 tahun diharapkan dapat:
Memilih teman bermain
Memulai interaksi sosial dengan anak lain
Berbagi mainan, bahan ajar atau makanan
2. Anak usia 3 tahun, 6 bulan diharapkan dapat:
Menunggu atau menunda keinginan selama 5 menit
Menikmati kedekatan sementara dengan salah satu teman bermain
3.
Anak usia 4 tahun diharapkan dapat:
Menunjukkan kebanggan terhadap keberhasilan
Membuat sesuatu karena imajinasi yang dominan
4. Anak usia 4 tahun, 6 bulan diharapkan dapat:
Menunjukkan rasa percaya diri
Menceritakan kejadian yang baru berlalu
Lebih disukai ditemani teman sebaya dibanding orang dewasa
Menggunakan barang milik orang dengan hati-hati
5.
Anak usia 5 tahun diharapkan dapat:
Memiliki beberapa kawan, mungkin satu sahabat
Memuji, memberi semangat, atau menolong anak lain
6.
Anak usia 5 tahun, 6 bulan diharapkan dapat:
Mencari kemandirian lebih banyak. Sering kali puas, menikmati berhubungan
dengan anak lain meski pada saat krisis muncul. Berteman secara mandiri.
Anak yang berusia tujuh dan delapan tahun mulai menunjukkan ketekunan di
dalam usaha yang mereka lakukan untuk mencapai tujuan mereka. Ini sering
menyebabkan orang tua mereka menjadi kesal dimana ketika anak meminta orang tua
untuk melakukan suatu hal secara berulang kali. Pada usia ini anak-anak
mengembangkan sikap empati yang lebih memperkenalkan diri kepada orang lain dan
juga merasa bersalah ketika mereka melukai orang lain, baik secara fisik ataupun
emosional. Mereka mencoba untuk menimbulkan rasa nyaman terhadap keluarga atau
teman tanpa diminta untuk melakukannya.13
13
http://amisisiliasari.blogspot.com/2012/11/karakteristik-perkembangan-emosi-anak.html
KARAKTERISTIK NILAI SOSIAL YANG PERLU
DIKEMBANGKAN
(pert. Ke 8)
Sosial emosional anak usia TK berada dalam tahap kerja keras lawan rendah diri
yang mana tahap ini peserta didik akan terus belajar untuk mengatur emosi dan interaksi
sosial mereka.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan perkembangan sosial emosional
positip pada mereka adalah:

Memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk ikut serta secara fisik dan mental
dalam aktivitas yang mencakup permasalahan dan aktivitas sosial dengan orang lain.
Contoh: menyanyi di depan kelas, menceritakan kembali isi buku yang telah dibacakan, di
depan temannya,mengikuti lomba lari estafet, menjadi pemimpin dalam upacara
bendera,

Ajarkan dan contohkan cara berteman dan menjada pertemanan
Contoh: saling meminjamkan mainan, mengacak tempat duduk anak setiap hari. Dan
mamber maaf jika melakukan kesalahan, mau berbagi dengan temannya

Contohkan respon sosial dan emosi positip. Bacakan cerita dan bahas perasaan-
perasaan seperti marah, bahagia, dan bangga.
Contoh: bermain peran,dapat memuji hasil karya teman, mengajak bermain dan saling
berbagi

Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjadi pimpinan dalam proyek
dan aktivitas
Contoh: menjadi ketua kelas, menjadi mayoret drumband, meronce dalam satu
kelompok,

Berikan harapan anda tentang sikap yang baik dan bahasa dengan peserta didik.
Contoh: memberi motivasi dan hadiah (bintang) terhadap anak
Sebagian besar anak, terutama mereka yang telah mengikuti prasekolah, sangat
percaya diri , ingin ikut serta dan dapat menerima tangggaungjawab. Mereka senang
mengunjungi tempat-tempat dan melakukan banyak hal, melakukan percobaan
mengenai banyak hal dan bekerjasama daengan orang lain.14
Selanjutnya, Gottman (dalam Casmini) menambahkan beberapa strategi tambahan agar
emosi anak dapat berkembang dengan baik antara lain:
1. Hindari kritik berlebihan, karena akan menyebabkan yang bersangkutahn
mengalami sindroma “takun salah” dalam setiap akan melakukan sesuatu.
2. Gunakan pujian, ketika anak dapat mengenal dan mengekpresikan emosinya
dengan benar sesuai batas yang dapat diterima oleh masyarakat.
3. Jangan “berpihak pada musuh”, jika anak sendiri yang selalu disalahkan, acap kali
menimbulkan persepsi pada anak bahwa orangbua berpihak pada musuh dan ia
merasa tidak mendapatkan dukungan dan perlindungan. Sebenarnya masalah
utamanya bukanlah berkaitan dengan keberpihakan tapi soal empati orangtua
terhadap perasaan anak
4. Memerikan
kesempatan
pada
anak
untuk
menyelesaikan
sendiri
permasalahannya
5. Memberi pilihan, hormati keinginan-keinginannya karena hal ini akan
mendorong anak memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk berani mengambil
keputusan
6. Jujur pada anak, yang akan mendorong mereka untuk melaksanakan hal yang
sama
7. Membaca buku bersama anak, untuk menjaga keakraban antara orangtua dan
anak
8. Sabar dengan proses. Mengembangkan emosi anak adalah proses panjang yang
memerlukan kesabaran orangtua
9. Berhusnudzon pada kodrat Allah, menghindari pada kekhawatiran yang
berlebihan.15
14
George S.Morisson, Dasar Pendidikan Anak usia dini...............
Casmini, S.Ag.,M.Si,2007, Emotiondengan berbagai pedoman dan bahan pelatihan tentang penguatan, metal
Parenting, Yogyakarta: Pilar Mediade pembelajaran
15
Karakteristik dan nilai perkembangan emosi dipengaruhi oleh kematangan dan belajar, baik
dari lingkungan keluarga maupun pergaulan dengan sesamanya. Maka, hal ini menyebabkan
adanya perbedaan antara reaksi emosi anak dan orang dewasa. Adapun karakteristik reaksi
emosi anak adalah sebagai berikut:
1. Reaksi anak sangat kuat: mereka akan memprelihatkan reaksi emosi yang sama
kuatnya dalam menghadapi setiap peristiwa, baik yang sderhana sifatnya meupun
yang berrat, karena bagi mereka semua peristiwa dianggap menarik dan
menakjubkan, tidak ada peristiwa yang dianggap sederhana, semua peristiwa
memiliki niliai yang sangat berarti. Dalam hal kekuatan makin bertambah matangnya
emosi anak, maka akan semakin terampil dalam memilah dan memilih kadar
keterlibatan emosionalnya.
2. Reaksi emosi sering kali muncul pada setiap peristiwa dengan cara yang diinginkan.
Kita sering melihat anak-anak tiba-tiba manangis ataru merajuk dengan sebab yang
tidak jelas. Mereka melakukan itu karena memang menginginkannya, sekalipun tidak
ada penctusnya, misalnya: anak tiba-tiba menangis karena merasa bosan. Untuk
anak yang lebih muda usianya, hal ini masih bisa ditoleransinsi, namun bagi anak usia
4-5 tahun, hal ini tidak dapat diterima oleh lingkungannya. Mereka akan belajar
mengontrol diri dan memperlihatkan reaksi emosi dengan cara yang dapat diterima
oleh lingkungan.
3. Reaksi emosi anak mudah berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Bagi anak
sangat mungkin saat ini ia manangis dengan keras, namun ketika ibunya
mengalihkan perhatiannya pada benda-benda yang disukainya, ia dapat langsung
berhenti manangis dan melupakan kejadian yang baru saja membuatnya marah dan
kecewa.
4. Reaksi emosi bersifat individual. Artinya, sekalipun peristiwa pencetus emosi adalah
sama, namun reaksi setiap orang akan berbeda dalam menyikapinya, hal ini
disebabkan karena adanya pengalaman yang diperoleh berbebeda pada setiap
individu.
5. Keadaan emosi anak dapat dikenali melalui gejala tingkah laku yang ditampilkan.
Pada dasarnya semua anak lebih mudah mengekspresikan emosinya melalui sikap
dan perilaku, dibandingkan mengungkapkannya secara verbal. Hal ini juga tampak
pada anak yang mengalami hambatan dalam mengekspresikan kehidupan emosinya
secara terbuka. Mereka biasanya memperlihatkan gejala tingkah laku : melamun,
gelisah, menghisap jari, menggigit kuku, kesulitan bicara
Beberapa bentuk reaksi emosi anak sebenarnya hampir sama dengan orang
dewasa, perbedaannya hanya saja penyebab pencetusnya reaksi emosi dan cara
mengekspresikannya, yang berkaitan erat dengan tingkat usia dan kemampuan anak sesuai
dengan perkembangan jasmani dan ruhaninya.
Beberapa bentuk emosi yang pada umumnya terjadi pada awal masa kanak-kanak menurut
Hurlock adalah sebagai birikut,
1. Amarah: yang sering kalimuncul sebagai reaksi terhadap frustasi, sakit hati, dan
merasa terancam. Frustasi yang disebabkan karena keinginannya tidak terpenuhi,
merupakan hal yang paling sering menimbullkan kemarahan pada tiap tingkatan usia
dan pada usia anak-anak amarah ini terkadang dapat dijadikan senjata sehingga
keinginannya terpenuhi.
Secara umum hal-hal yang menimbulkan rasa marah, apabila anak terhambat
melakukan sesuatu baik yang disebabkan oleh dirinya sendiri maupun dari orang
lain, misalnya adanya berbagai batasan terhadap gerak yang diinginkan atau
direncanakan anak, seerta kejengkelan yang menumpuk. Anak usia Batita, biasanya
karena secara fisik ia merasa tidak nyaman, dihambat untuk bergerak, dimandikan
atau dipakaikan baju. Kadang-kadang ketidakmampuan anak untuk menyatakan
suatu secara verbal saat awal belajar bicara dan kurang mndapat perhatian juga bisa
membuat mereka marah. Sedangkan saat usia pra sekolah dengan pengalaman
sosial yang lebih banyak, maka permasalahan anak yang membuat mereka marah
adalah ketika permainannya direbut atau diambil anak yang lain.
Perkembangan-perkembangan emosi di atas perlu mendapat perhatian dan
bimbingan dari pendidik agar
mereka mampu berkomunikasi dengan baik dan
memiliki toleransi, rasa sosial dan mampu mengelola emosi tanpa ada paksaan yang
berarti pada anak.
Reaksi marah dapat dibedakan menjadi dua :
a. Marah yang impulsif, biasanya disebut juga agresi. Marah jenis ini ditunjukkan
langsung pada orang lain, binatang atau objek, bisa dalam bentuk rekasi fisik
maupun verbal, bisa ringan atau intens. Amukan atau tempertantrum adalah hal
yang biasa dijumpai pada anak-anak. biasanya anak-anak juga tidak ragu-ragu
untuk menyakiti orang/anak lain dengan cara seperti: menggigit, memukul,
meludah, menendang ataupun mendorong dan terkadang dilanjutkan dengan
tambahan kata-kata kasar ataupun ejekan-ejekan.
b. Marah yang terhambat adalah marah yang tidak dicetuskan karena dikendalikan
atau di tahan. Biasanya anak-anak beraksi menarik diri, melarikan diri dari
anak/orang lain. Gejalanya kemudian anak akan bersikap lesu, masa bodoh atau
tidak berani. Oleh karenanya, anak yang marah dengan dara inisering merasa siasia atau tidak berguna. Inilah cara mereka untuk menerima frustrasi dan mereka
menganggap menahan marah adalah lebih bik daripada mengekspresikannya
karena mereka terbebas dari resiko penolakan sosial.
2. Takut , reaksi rasa takut pada bayi dan anak-anak berupa rasa tak berdaa yang
tampak pada ekspres wajah yang khas, tangisan yang merupakan perminta/an
tolong,
menyembunyikan muka/wajah dan sejauh mungkin menghindari
orang/objek yang ditakuti atau bersembunyi di balik kursi.
Ekspresi rasa takut ini akan berubah seiring dengan bertambahnya usia anak,
selain mereka menghindari dari objek yang ditakuti, gejala rasa takut ini juga
diperlihatkan dengan gejala fisik diantaranya mata membelalak, diam tak bergerak,
menangis, bersembunyi atau memegang orang lain. Gray (1971) mengemukakan
beberapa bentuk penyebab rasa takut pada anak dapat diakibatkan oleh adanya
rangsangan berupa suaa keras, pengalaman menghadapi tempat atau orang asing,
tempat tinggi, kamar gelap, berada seorang diri, rasa sakit atau interaksi sosial,
terancam atau marah dengan orang lain.
Pada periode awal anak, rasa takut timbul disaat dirinya merasa terancam oleh
benda-benda yang ditemuinya. Strangernxiety di sini anak belum mengenal/mampu
memahami bahwa bukan dirinya yang terancam oleh benda tersebut. Reaksi yang
ditampilkan adalah anak melakukan gerakan motorik, misalnya berlari, bersembunyi,
memegang orang lain serta memengang orang yang dikenalnya.
Pada periode akhir anak-anak, rasa takut timbul akibat fantasi yang dibentuk oleh
itu sendiri yang menyebabkan harga rinya terancam oleh lingkungannya, misalnya
takut gagal, berbeda dengan orang lain, status dsb. Keadaan ini disebabkan anak
telah mengalami perkembangan kemampuan berpikir sehingga mampu membentuk
fantasi dan menilai dirinya sendiri. Reaksi yang aksi yang ditampilkan dapat langsung,
misalnya: sembuembunyi, berlari, menangis ataupun marah. Reaksi ini dapat pula
secara langsung, misalnya sakit perutberlari, menangis ataupun marah. Reaksi ini
dapat pula secara langsung, misalnya sakit perut, badan panas, badan panas, badan
panas, pusing dls.
Berkenaan dengan rasa takut ini Hurlock (1991) mengemukakan adanya reaksi
emosi yang berdekatan dengan reaksi takut, yaitu shynees atau rasa malu.
Emmbarassment atau merasa kesulitan, khawatir dan anxiety atau cemas, dengan
penjelasan sebagai berikut:
a. Shnees atau malu adalah reaksi takut yang ditandai dengan
rasa segan,
berjumpa dengan orang yang dianggap asing. Sejak usia enam bulan anak sudah
mengalami perkembangan intelektual, sehingga mereka mulai mampu
membedakan antara orang yang sudah dikenalnya dan yang tidak, namun
mereka belum matang untuk bisa memahami bahwa orang yang tidak dikenalnya
tidak mengancam dirinya.
Jika anak sudah mampu merangkak,biasanya
bersembunyi atau mengintip. Pada periode awal dan akhir anak, reaksi ini timbul
bila mereka memiliki perasaan tidak mengnal perlakuan orang lain kepadanya.
Perasaan ini timbul tidak terbatas pada orang yang tak dikenalnya, tetapi jugyang
dikenalnya, misalnya bertemu dengan tamu baru, guru baru atau orang tuanya
yang menonton ia menyanyi/menari. Reaksi ini timbul karena adanya perasaan
tidak pasti akan reaksi orang lain pada dirinya, takut orang lain menertawakan
dirinya.
b. Embarrassment ( merasa sulit, tidak mampu atau malu melakukan sesuatu)
merupakan reaksi takut akan penilaian orang lain pada dirinya. Timbulnya reaksi
diperoleh dari lingkungan sosialnya. Reaksi ini berhubungan dengan kesadaran
akan dirinya yang terancam. Persaaan ini belum dimiliki oleh anak-anak di bawah
usia 5-6 tahun karena pada usia ini reaksi embarr udiassment belum muncul.
c. Khawatir timul disebabkan oleh rasa takut yang dibentuk oleh pikiran anak
sendiri, biasanya mengenai hal-hal khususu, misalnya takut sekolah, takut t
d. Unxty atau lemas, merupakan perasaan takut sesuatu yang tidak jelas dan
dirasakan oleh anak sendiri karena sifatnya subjektif. Kadangkala merekapun
tidak dapat menggambarkan secara jelas apa yang membuatnya takut . perasaan
cemas ini kadang ditanai dengan perubahan secara fisiologis, seperti berkeringat,
muka pucat tega.
3. cemburu,adalah reaksi normal terhadap hilangnya kasih sayang, yang nyata maupun
sekedar dugaan. perasaan ini muncul karena anak takut kehilangan atau merasa
tersaingi dalam mamperoleh perhatian dan kasih sayang dari orang yang dicintai .
cemburu adalah bentuk lain dari amarah, yang menimbulkan rasa kesal atau benci
terhadap orang yang disayang maupun terhadap saingannya. Rasa cemburu biasanya
bercampur dengan marah dan takut, yang membuat anak tidak nyaman.
Reaksi cemburu dapat langsung ataupun ditekan. Reaksi cemburu yang lansung
dapat berwujud perlawanan agresif, menggigit, menendang, memukul dll.
Sedangkan yang tidak langsung bersifat lebih halung sehingga lebih sukar untuk
dikendalikan, meliputi pengunduran diri
ke arah perilaku infantile seperti
mengompol, mengisap jempol, makan makanan yang aneh2, perilaku merusak dan
melampiaskan perasaan kepada binatang atau mainan.
Tiga penyebab perasan cemburu yang terjadi pada anak –anak adalah:
a. biasanya berasal dari kondisi di rumah, misalnya kehadiran adik baru yang
menyita lebih banyak waktu sang ibu.
b. Situasi sosial di sekolah, juga bisa menyebabkan seorang anak memiliki rasa
cemburu. Anak memiliki rasa posesif (ingin memiliki sendiri perhatian) terhadap
guru atau teman tertentu. Dan anak akam menjadi kesal dan marah jika guru
atau temannya memberikan perhatian kepada yang lain
c. Cemburu jika saudaranya atau temannya yang lain mempunyai barang atau
mainan yang lebih dari miliknya
4. Rasa ingin Tahu, yang melibatkan emosi kegembiraan dalam diri anak, terutama jika
mereka dihadapkan pada aktivitas atau benda-benda baru. Rasa ingin tahu ini sangat
efektif dalam membantu proses pembelajaran
5. Iri hati. Rasa ini muncul pada saat anak merasa tidak memperoleh perhatian yang
diharapkan sebagaimana yang diperoleh teman atau saudaranya. Hal ini muncul
lebih bersifat emosi negatif, ia timbul karena anak kurang memiliki rasa aman dan
kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
6. Senang/gembira. Adalah emosi yang menyenangkan. Rasa ini ditimulkan bila seorang
anak mendapatkan apa yang ia inginkan. Rasa ini dapat berbentuk kepuasan dalam
hati, s bisa pula lebih ekspresif, yaitu tersenyum, tertawa, sampai tertawa terbahakbahak. Pada saat ini terjadilah relaksasi tubuh secara menyeluruh . anak-anak
mengekspresikan rasa gembira ini dengan cara dan intensitas yang bervariasi.
Semakin bertambah usia, semakin bervariasi pula hal-hal yang bisa menimbulkan
kegembiraannya.
Dengan
bertambahnya
usia,
anak
juga
akan
belajar
mengekspresikan kegembiaanya
Pertemuan ke...9.. 4 Desember 2013
PENDEKATAN DAN METODE PENGEMBANGAN
SOSIAL EMOSIONAL ANAK
Pembelajaran Sosial emosional pada anak penting dikembangkan, karena terdapat
beberapa hal mendasar yang mendorong untuk mempersiapkan mereka menghadapi
kehidupan yang akan datang. Beberapa alasan tersebut diantaranya:
1. Semakin kompleknya permasalahan kehidupan di sekitar anak, termasuk didalamnya
perkembangan IPTEK yang banyak memberikan tekanan pada anak, dan
mempengaruhi perkembangan emosi maupun sosial mereka.
2. Penanaman kesadaran bahwa anak adalah investasi masa depan yang perlu
dipersiapkan secara maksimal, baik aspek perkembangan emosi maupun keterampilan
sosialnya
3. Rentang usia emas tidaklah lama, maka diperlukan stimulasi dan fisilitas se optimal
mungkin agar tidak ada satu fasepun yang terlewatkan
4. Anak tidak mampu hidup dan berkembang dengan IQ semata tetapi EQ jauh lebih
dibutuhkan sebagai bekal kehidupan mereka
5. Telah tumbuh kesadaran pada setiap anak dan orang tua, tetantang tuntutan untuk
dibekali dan memiliki kecerdasan sosial emosional sejak dini
Kecerdasan
emosional
merupakan
usaha-usaha
yang
diarahkan
pada
pengembangan dan peningkatan kualitas emosional anak sehingga mampu disamping
ia mampu mengenali perasaan diri sendiri, ia akan mampu mengenali perasaan orang
lain, mampu memotivasi diri sendiri serta mampu mengelola emosi dan perilaku
sosial yang lebih baik. Indikator mutu emosional tersebut meliputi; kualitas empati,
kualitas dalam mengungkapkan dan memahami perasaan, mengalokasikan rasa
marah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai atau tidak, kemampuan
memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan dan kualitas kesetiakawanan..
Perhatian orang tua dan para pendidik pada kecerdasan emosional,tidak lepst dari
pengaruh dimunculkannya beberapa pandangan dan teori yang menanggapi prinsipprinsip Emotional Intellegence, yang dapat membawa dampak positip pada sebagian
orang yakni semakin memperhatikan aspek perkembangan emosi anak disamping
perkembanagn skoatisnya (proses belajar di sekolah)16
A. Pengembangan Pendekatan Sosial Emosional
1. Pendekatan terpadu
Karakteristik perkembangan anak TK bersifat holistik atau menyeluruh, atau terpadu,
artinya antara aspek yang satu dengan yang lain saling berkaitan, aspek perkembangan
yang satu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek perkembangan lainnya.
Pembelajaran yang cocok adalah pembelajaran terpadu dengan berbasis pada
tema, karena melalui tema anak akan lebih mudah dalam membangun konsep tentang
benda atau peristiwa yang ada dilingkungannya. Dengan pembelajaran terpadu sejak
dini anak sudah terlatih mengaitkan informsi yang satu dengan lainnya sehingga
seccara wajar dapat menghadapi situasi yang berbeda-beda serta sekaligus dapat
belajar secara aktif dan terlibat langsung dalam kehidupan nyata , bahkan
pembelajaran ini dapat menyentuh semua aspak kecerdasan anak.
2. Pendekatan rutin
Pendekatan ini sering juga disebut sebagai pembiasaan yang dilakkukan dengan cara
penjadwalan secara terus menerus hingga pola perilaku yang diharapkan melekat
menjadi kebiasaan positip pada setiap anak
3. Pendekatan terprogram
Pelaksanaan pendekatan ini dilakukan melalui kegiattan terprogram yang dibuat secara
terncana,
16
menjadi sasaran atau agenda utama saat program itu eilaksanakan.
Monty P Satiadarma&Fidelis E.Waruwu,2003, Mendidik Kecerdasan, Jakarta: Pustaka Populer Obor
Pembelajaran dapat dirancang dalam silabus, baik untuk jangka waktu yang panjang
maupun pendek (RKH/RKM) dll
4. Pendekatan spontan
Yakni pembelajaran yang dikembangkan untuk menanggapi stimulus langsung dari
anak sebagai konsekuensi konteks pembelajaran yang bersifat dinamis, terutama pada
kelas TK. Penting dilakukan pembelajaran spontan karena pemberian efek kepuasan
yang sangat tinggi pada anak
5. Pendekatan keteladanan
Yang dimaksudkan adalah pembelajaran yang ditampilkan melalui contoh-contoh
yang baik dan menggunakan bebagai contoh yang telah diterima oleh masyarakat dan
sesuai dengan standar serta sistm nilai tertentu. Pendekatan ini penting karena anak
ussia TK merupakan peniru yang hebat dan meudah menyerap dari apa yang
dilihatnya.
B. Sasaran Pengembangan Emosi di Taman Kanak-kanak
Sebagaimana teori belajar era Quantum yang menyatakan bahwa informasi yang
memasuki otak akan menuju otak tengah. Otak tengah berfungsi sebagai semacam pusat
pengarah. Jika memutuskan informasi penting, ia mengalihkan informasi tersebut ke “otak
berpikir”. Fungsi otak tengah tidak hanya sebuah “pusat pengarah”, tetapi juga bagian otak
yang mengendalikan emosi. Jadi jika informasi baru disampaikan dengan cara yang
menyenangkan, maka seseorang dapat belajar dan mengingat dengan baik. Jika hal yang
dipelajari memasukkan unsur wrna, ilustrasi, permainan dan iringan lagu, emosi terlibat
secara positip sehingga orang akan belajar lebih baik.17
Hal yang penting untuk diperhatikan dan dibutuhkan anak dalam upaya pengembangan
emosi yang sehat adalah sebagai berikut:
1. Rasa cinta dan kasih sayang
2. Rasa saling memiliki
3. Rasa diterima apa adanya
4. Diberi kesempatan untuk mandiri dan membuat keputusan sendiri
5. Rasa aman
6. Diberi kepercayaan pada dirinya
7. Diperlakukan sebagai seseorang yang mempunyai identitas.
Ada lima cara yang dapat dilakukan guru untuk membantu proses pengembangan
emosi anak, yaitu kemampuan untuk mengenali emosi diri, kemampuan untuk mengelola
dan mengeksprseikan emosi secara tepat, kemampuan untuk memotivasi diri, kemampuan
17
Hamruni, Edutainment dalam Pendidikan Islam& Teori Pembelajaran Quantum, 2009, Yogyakarta: Fak.
Tarbiah UIN Sunan Kalijaga hal. 213
untuk memahami perassaan orang lain dan kemampuan untuk membina hubungan dengan
orang lain. Sedangkan materi pembelajaran emosi di taman kanak-kanak meliputi rasa
cinta, kasih sayang, empati serta pengendalian emosi.
C. Metode Pengembangan Sosial di Taman Kanak-kanak
Salah satu keahliah guru yang diharapkan adalah kemampuannya dalam memilih
metode pembelajaran yang paling tepat untuk peserta didiknya. Metode yang dapat digunakan
untuk
membantu
proses
pengembangan
sosial
diantaranya
adalah:
1. Bernyanyi dan bermain musik
Musik memberikan dampak nyata pada perkembangan emosional manusia.oleh
karenanya, bermain musik bagi anak penting dan memberikan pengaruh yang kuat dalam
pengembangan emosinya. Musik dapat menumbuhkan rasa kebangsaan, kesatuan, kagum,
gembira,bahkan kepuasan rohaniah dan jasmani. Manfaat yang lain diantaranya adalah
mendorong gerak pikir dan rasa membangkaitkan kekuatan dalam jiwa dan membantuk
watak. Musik juga dapat memerikan kepuasan rohaniah dan membangkitkan kekuatan
dalam jiwa dan membentuk watak. Selain itu....musik merupakan salah satu instrumen atau
media bagi seseorang untuk dapat merasakan kasih sayang, keagungan ilahi serta semesta
alam.
1. Bermain peran
Adalah permainan yang dilakukan anak dengan cara memerankan tokok-tokoh, bendabenda, binatang ataupun tumbuhan yang ada disekitar anak. melalui permaian ini daya
majinasi kreatvitas, empati serta penghayatan anak dapat berkembang. Anak-anak dapat
menjadi apapun yang diinginkannya dan ia juga dapat melakukan manipulasi terhadap
objek, seperti yyaang diharapkannya. Jika ia mengagumi ibunya, maka ia akan
memerankan tokoh ibunnya seperti yang biasa ia lihat.
Salah satu cara bagi anak untuk menelusuri dunianya, salah satunya adalah dengan
meniru tindakan dan karaketr dari orang-orang yang berada disekitarnya. Ini merupakan
bagian paling awal dari bentuk drama, yang tidak dapat disamakan dengan drama atau
ditafsirkan sebagai penampilan.
2. Hand puppet
Hand pupet atau permainan dengan menggunakan boneka tangan, merupakan salah satu
permainan yang digemari anak-anak usia TK.. melalui permainan ini anak akan belajar
berkomunikasi,
berimajinasi,
mengekspresikan
perasaannya
dan
meningkatkan
kepercayaan dirinya. Untuk melakukan permainan yang lebih menyenangkan anak
membutuhkan kawan dalam melakukannya, walaupun masih ada beberapa anak yang
bermain sendiri dan berbicara sendiri memainkan bola tangannya. Namun sekalipun
permainan dilakukan anak sendirian, itu pun tidak menjadi masalah selama anak tidak
menolak teman-temannya. Dengan adanya manfaat yang cukup besar dalam
mengekspresikan emosi, sebagian terapis telah menggunakan permainan Hand Pupetini
untuk tarapi. Dengan permainan ini anak-anak yang mengalami permasalahan emosional
pun akan tererbabantu. Yang menjadi catatan: hendaklah mencari boneka yang
menakutkan bagi anak serta mengkomunikasikan
tentang materi-materi yang sesuai
dengan perkembangan anak.
3. Bercerita
Bercerita bagi seorang anak adalah suatu yang menyenangkan. Melalui cerita anak dapat
mengembangkan imajinasinya menjadi apapun yang dia inginkan. Dalam cerita...seorang
anak dapat memperoleh nilai yang banyak dan berarti bagi proses pembelajaran dan
perkembangan sosialnya. Bercerita juga dapat berfungsi untuk membangun hubungan
yang erat dengan anak. melalui bercrita, para pendidik dapat berinteraksi secara hangat
dan akrab, terlebih lagi jika mereka dapat melengkapi dengan cerita-cerit itu dengan
unsur humor.
4. Permainan gerak dan lagu: merupakan aktivitas bermain musik sambil menari, dan anak
akan lebih senang jika kita memodifikasi lagu-lagu yang diperdengarkan. Teknik
pelaksaaannya mudah, permata kita dapat memutar musik klasik di awal kegiatan, anakanak diminta bergerak bebas mengikuti alunan musik. Tiba-tiba musik dimatikan di
tenga-tengah dan anak-anak pun berhenti bergerak dan berpura-pura menjadi patung.
Begitu dan seterusnya di ulang lagi dengan menggunakan berbagai macama lagu
sehingga semakin menyenangkan dan emosi aanak aan semakin terekspresikan.
5. Relaksasi dan meditasi.
CHARAKTER BUILD
(pert ke 10)
Dalam segi bahasa charakter building atau membangun karakter terdiri dari dua suku kata
yaitu membangun (to build) dan karakter (character) artinya membangun yang mempunyai
sifat memperbaiki, membina, mendirikan. Sedangkan karakter adalah tabiat, watak, akhlaq
atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.
Arti lain membangun karakter (charakter building) adalah suatu proses atau usaha yang
dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan,
akhlaq (budi pekerti) insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan perangkat dan
tingkah laku yang baik berdasarkan Pancasila.
Lewis A. Barbara (2004) mengemukakan adanya 10 pilar karakter terjabar menjadi 56
indiktor nilai yaitu:
1. Peduli
2. Sadar akan hidup berkomunitas
3. Mau bekerjasama
4. Adil
5. Rela memaafkan
6. Jujur
7. Menjaga hubungan
8. Hormat terhadap sesama
9. Bertanggungjawab dan
10. Mengutamakan keselamatan
 Upaya membangun karakter akan menggambarkan hal-hal pokok antara lain :
1. Merupakan suatu proses yang terus menerus dilakukan untuk membentuk tabiat,
watak dan sifat-sifat kejiwaan yang berlandaskan kepada semangat pengabdian dan
kebersamaan.
2. Menyempurnakan karakter yang ada untuk terwujudnya karakter yang diharapkan
dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan.
3. Membina karakter yang ada sehingga menampilkan karakter yang kondusif dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dilandasi dengan nilainilai falsafah bangsa yaitu Pancasila.
 Faktor-faktor yang membangun karakter
1. Ideologi
2. Politik
3. Ekonomi
4. Social budaya
5. Agama
6. Normatif
7. Pendidikan
8. Lingkungan
9. Kepemimpinan
 Pembangunan karakter pada anak usia dini
Ini bisa dimulai semenjak anak masih berada pada usia balita. Menurut sebuah sumber
disebutkan bahwa perkembangan otak dimulai sejak awal kehidupannya. Pada usia 0-6
tahun merupakan waktu dimana otak anak sedang berkembang dengan sangat
pesatnya. Usia seperti ini biasa disebut dengan Golden Age. Mereka menyerap serta
menyimpan seluruh informasi yang mereka terima tanpa bisa memilih-milihnya. Pada
saat inilah perkembangan fisik, mental, dan spiritual mulai terbangun.
Pada usia Golden Age ini orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam
pembentukan karakteristik pada anak yang nantinya akan membentuk bagaimana
karakter anak di masa depan. Menurut teori “Tabula Rasa” anak diibaratkan sebagai
kertas
kosong
yang
nantinya
perlahan-lahan
mulai
diisi
dengan
berbagai
gambar/coretan menggunakan tinta yang berasal dari orang tua sebagai orang
terdekatnya. Pola didik orang tua pada usia Golden Age ini akan berpengaruh terhadap
keberhasilan / kesuksesan anaknya di masa depan. Orang tualah yang nantinya akan
menentukan apakah anak tersebut akan berkembang sebagai pribadi yang semangat,
berani atau malah menjadi pribadi yang penakut bahkan pengecut.
Kebiasaan orang tua memberikan hukuman serta tekanan yang berlebihan
terhadap anak akan memunculkan karakter negatif pada anak. Misalnya rendah diri,
minder, takut untuk bersosialisasi, serta tidak berani mengambil resiko. Karakter-
karakter inilah yang nantinya akan terus meresap dalam alam bawah sadar anak dan
akan mereka bawa hingga dewasa. Sebagai contoh orang tua melarang anaknya bermain
dan memaksa mereka untuk terus belajar agar mendapatkan nilai bagus serta prestasi
yang tinggi di kelas. Pemaksaan seperti ini hanya akan membuat anak tertekan dan tidak
bisa berkembang secara optimal. Padahal kesuksesanpun tidak diukur melalui seberapa
tinggi prestasi anak di kelas tapi seberapa berani anak untuk mengambil resiko serta
bertanggung jawab atau setiap keputusan yang akan diambilnya.
Untuk itu para orang tua perlu mengetahui serta banyak membaca tentang
bagaimana cara yang tepat untuk mendidik seorang anak sehingga dapat
mengoptimalkan karakter-karakter positif pada diri anak. Pada dasarnya untuk
menumbuhkan karakter positif pada anak sehingga bisa menjadi orang yang sukses
harus dimulai dengan mengembangkan 3 hubungan dasar manusia (triangle
relationship) yaitu hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan lingkungan,
hubungan dengan Tuhan.
Hubunagn dengan diri sendiri/intrapersonal dapat dikembangkan dengan cara
membiarkan anak berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya dengan
memberikan kepercayaan kepada anak dalam pengambilan keputusan akan
membiasakan untuk bertanggung jawab dalam setiap keputusannya. Untuk hubungan
dengan lingkungan yang perlu dilakukan adalah dengan membiasakan anak untuk selalu
bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Kebiasaan seperti ini akan meningkatkan
rasa percaya diri pada anak untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga anak tidak
tumbuh menjadi anak yang minder dan antisosial. Hubungan dengan Tuhan juga harus
dikembangkan untuk menjaga kemampuan spiritual anak sehingga memiliki ketahanan
mental yang baik, tidak mudah depresi dan tidak mudah putus asa.
Perkembangan karakter dalam suatu sistem pendidikan adalah katerkaitan antara
komponen-komponen karakter yang mengandung nilai-nilai perilaku yang dapat
dilakukan atau bertindak secara bertahap dan saling berhubungan antara pengetahuan
nilai-nilai perilaku dengan sikap atau emosi yang kuat untuk melaksanakannya, baik
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dirinya, sesama, lingkungan bangsa dan negara serta
dunia Internasional.
Kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa
tersebut secara sadar menghargai pentingnya nilai karakter, karena mungkin saja
perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah, bukan karena
tingginya penghargaan akan nilai itu, oleh karenanya dalam pendidikan karakter
diperlukan juga aspek perasaan (domain affection atau emosi).
Pendidikan karakter di Taman kanak-kanak, sesuai dengan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
(UUSPN) yang diantaranya menyebutkan bahwa pendidikan karakter sebagai pendidikan
nilai, budi pekerti, moral,dan pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan seluruh
warga sekolah untuk memberikan keputusan baik buruk, Keteladanan, memelihara apa
yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh
hati.
Berdasarkan pada keterangan di atas, pendidikan karakter bukan hanya
mengajarakan baik dan buruk, benar dan salah tetapi pendidikan karakter adalah usahausaha menanamkan kebiasaan yang baik sehingga peserta didik mampu bersikap dan
bertindak berdasarkan pada nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya.
Dengan
demikian, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan pengetahuan yang baik,
perasaan yang baik dan perilaku yang baik sehingga terbentuk perwujudan kesatuan
perilaku dan sikap hidup peserta didik.
MEMPELAJARI KARAKTER RAJA KECIL
Ada beberapa orang yang berprinsip bahwa kedisiplinan perlu ditanamkan sejak dini
dengan cara yang keras, demi pembentukan karakter dimasa yang akan datang. Namun
ketika disampaikan bahwa “seharusnya yang terjadi justru sebaliknya, para orangtua
semestinya belajar karakter dari anak kita yang masih usia dini”, dan mereka terkejut....
alasan untuk perilaku kedua adalah, bahwa anak usia dini itu masih suci dan ma’sum. Fitrah
ilahiah masih aktif bekerja pada diri mereka serta belum tertutupi oleh prilaku dosa. Oleh
karenanya, rasulullah saw. Dalam sebuah riwayat mengatakan bahwa beliau paling suka jika
bercengkrerama dengan anak-anak kecil, dengan alasan lima hal:
1. Anak kecil suka menangis, apalagi kalau dia merasa telah berbuat salah, dengan
cepat pasti dia segera menangis. Menangis adalah tanda kelembutan hati sehingga
anak usia dini adalah manusia paling lembut hatinya. Sebaliknya, orang deswasa
malah jarang menangis. Jadi, ketika anak menangis dengan berbagai alasan, sungguh
tepat bagi orang tua untuk instrospeksi diri tentang makna tangisan mereka
2. Anak kecil suka main tanah, dan biasanya dibuat dalam berbagai bentuk. Hakikat dari
permainan itu memberikan indikator bahwa anak kecil sebenarnya mengetahui dari
mana dia berasal dan kemana akan kembali, jawabannya adalah tanah. Hal itu jarang
dilakukan orangtua/dewasa karena kebanyakan mereka melupakan asal dan tujuan
hidupnya. Oki ..ketika anak bermain tanah orangtua perlu berinstrospeksi bahwa
semua terbuat dan akan kembali ke tanah.
3. Anak kecil tidak punya rasa dendam. Anak-anak bila meminta mainan dari temannya
dan tidak berhasil maka ia langsung berkelahi dan beberapa menit kemudian ia
lansung bermain bersama dan bercanda gurau kembali seolah tidak terjadi
perkelahian sebelumnya.
4. Anak kecil tidak suka menyimpan sesuatu untuk hari esok. Jika memiliki sesuatu,
anak-anak biasanya lebih suka langsung dihabiskan, baik dengan cara dibagikan
maupun dimakan sendiri, karena mereka tidak punya perencanaan untuk
menyimpan yang dimilikinya untuk hari esok, jadi mereka tidak pelit, tampaknya
mereka mempunyai keyakinan bahwa rezeki itsudah dijamin oleh Allah, sehingga
mereka tampaknya memahami betul konsep tawakal dalam kehidupan ini.
5. Anak kecil cepat membuat dan cepat merusak. Ketika kita perhatikan, betapa anakanak bermain balok, dibuat bangunan yang sedemikian bagusnya. Ketika sudah
selesai ia pandangi bangunan itu dengan cermat dan akhirnya puas. Setelah
itu...tanpa alasan yang jelas, dirusaklah susunan balok tersebut. Jika orang dewasa
memperhatikan sepertinya anak ini memberikan pelajaran bahwa di dunia ini tidak
ada yang kekal selain Allah SWT.18
Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, dituliskan bahwa: “Pendidikan
Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi
serta bertanggungjawab.”
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, karakter memiliki arti: Sifat-sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.
Sedangkan menurut Ditjen Mandikdasmen Kementerian Pendidikan Nasional,
arakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu
untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan
negara.
Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat
keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia
buat.
Pengembangan atau pembentukan karakter diyakini perlu dan penting
untuk dilakukan oleh sekolah dan stakeholders-nya untuk menjadi pijakan dalam
penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah. Tujuan pendidikan karakter pada
dasarnya adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik (insan kamil), kondisi ini
akan mendorong peserta didik tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk
melakukan berbagai hal yang terbaik.19
1818
Munif Chatib, 2012, orangtuanya manusia, Bandung: PT.Mizan Pustaka
Kementerian Pendidikan Nasional, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat
Pemginaan SMP2010, Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama
19
Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan
(acting) dan kebiasaan (habit) dan karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja,
seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan saja belum tentu mampu bertindak
sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk
melakukan kebaikan tersebut. Oleh karenanya diperlukan tiga komponen karakter
yang baik (components of good character), yaitu moral knowing (pengetahuan
tentang moral), moral feeling (penguatan emosi) tentang moral dan moral action
atau perbuatan moral.
Terkait dengan pendidikan karakter dan pebntukan akhlak mulia ini,
pemerintah telah memberikan respon positip dengan digulirkannya kebijakan
Nasional pembangunan karakter bangsa yang berisi tentang arah kebijakan,
kerangka dasar, tahapan serta strategi yang digunakan dalam pembentukan karakter
bangsa. Kebijakan yang terkait dengan strategi pembangunan karakter bangsa
melalui pendidikan telah ditindak lanjuti oleh kementerian Pendidikan Nasional
dengan berbagai pedoman dan bahan pelatihan tentang penguatan metode
pembelajaran berdasarkan nilai-nilai budaya untuk membentuk daya saing dan
karakter ba ngsa. Pendidikan karakter yang dikembangkan melalui jalur pendidikan
akan melingkupi pengetahuan, sikap dan perilaku terkait dengan nilai-nilai moral,
yang terdiri dari:
Religius, jujur, toleransi disiplin,kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin
tahu semangat kebangsaa, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, citnta
damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan bertanggungjawab.
Anak Berperilaku “Anti Sosial”
Anti sosial yang dimaksud adalah bertingkah laku yang tidak sesuai dengan
norma nilai atau harapan sosial yang dilakukan oleh anak usia dini/prasekolah,
diantaranya:
a. Negativisme, yakni melawan otoritas orang dewasa, atau dapat dikatakan sebagai
perlawanan terhadap tekanan dari ihak lain untuk berperilaku tertentu. biasanya
dimulai sejak anak berusia 2 tahun dan mencapai puncaknya antara hun dan
mencapai puncaknya antara 3sampai 6 tahun. Ekspresi fisiknya menyerupai dengan
ledakan kemarahan tettapi secara bertahap diganti dengan penolakan lisan untuk
menuruti perintah
b. Agresif, adalah tindakan permusuhan yang nyata atau ancaman permusuhan yang
diawali dengan serangan fisik hingga serangan verbal dalam bentuk memaki-maki
atau menyalahkan orang lain, terutama kepada anak yang lebih kecil.
c. Perilaku berkuasa atau bossy atau suka memerintah, yang dilalui oleh anak yang
berusia kurang dari enam tahun. Pada saat ini anak ingin menunjukkan
superioritasnya dengan cara menyuruh orang lain untuk melakukan apa yang
diperintahkannya.
20
yang akan meningkat dengan bertambahnya kesempatan
untuk kontak sosial, jika perilaku ini dapat diarahkan, maka akan menumbuhkan
sifat kepemimpinan pada anak.
d. Memikirkan diri sendiri (egosentris), yakni mereka berpikir dan berbicara tentang
diri mereka sendiri Kecenderungan ini akan menetap hilang atau berkembang
semakin kuat, tergantung pada kesadaran anak bahwa hal rersebut akan membuat
mereka tidak populer, Meluasnya cakrawala sosial akan mengurangi perilaku ini
miskipun murah hati juga masih belum maksimal.
e. Mementingkan diri sendiri, cepatnya perubahan ini bergantung pada banyakknya
kontak dengan orang-orang di luar rumah dan berapa besar keinginan mereka
untuk diterima oleh teman-temannya. Yang dianggap Sebagai penunjang sifat
egosentris adalah:
20
1)
Perlindungan secara berlebihan
2)
Favoritisme orangtua
Drost, dkk,2003, Perilaku Anak Usia Dini, Kasus dan Pemecahannya, yogyakarta: Kanesius
3)
Aspirasi orangtua
4)
Usia orangtua, yang biasanya orangtua muda lebih mementingkan
kepentingan diri sendiri
5)
Pusat perhatian di rumah
6)
Urutan posisi kelahiran
7)
Ukuran keluarga
8)
Jenis kelamin anak 21
f. Merusak22
Ledakan amarah yang dilakukan anak sering disertai dengan tindakan merusak
benda-benda yang ada di sekitarnya, tidak perduli itu milik sendiri atau milik orang
lain. Semakin hebat marahnya semakin luas tindakan merusaknya.
Penyebab Perilaku Anti Sosial
Perilaku tidak sosial atau bahkan anti sosial tidak terjadi begitu saja tetapi melalui
proses selama masa kehidupan anak yang dibentuk dari keluarga maupun lingkungan
yang terjadi di sekitar mereka. Miskipun begitu, terdapat hal-hal yang secara umum
menjadi penyebab dan penentu bagaimana seorang anak berperilaku sosial,
1. Gaya Pengasuhan Orangtua. Sebagaimana yang disampaikan oleh Diana Baumrind,
yang menekankan pada tiga tipe pengasuhan yang dikaitkan dengan aspek-aspek
yang berbeda dalam perilaku sosial anak. Ia menekankan tiga t ipe pengasuhan yang
dikaitkan dengan aspek-aspek berbeda dalam perilaku sosial anak: otoriter, otoritatif
dan laissez Faire (permisif):
1) Pengasuhan otoriter ialah suatu gaya membatasi dan menghukum yang menuntut
anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua dan menghormati pekerjaaan
dan usaha. Orang tua yang otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak
memberi
peluang
yang
besar
kepada
anak-anak
untuk
berbacara
(bermusyawarah) . gaya kepengasuhan ini diasosiasikan dengan inkopetensi sosial
anak.
21
Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak jilid 2, Jakarta: Erlangga, hal. 263
John Goggman,Ph.D bersama Joan DeClaire, 2003, Kiat-kiat membesarkan anak yang memiliki Kecerdasan
Emosional, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
22
2) Pengasuhan otoritatif, ialah mendorong anak-anak agar mandiri tetapi masih
menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan mereka.
Musyawarah-musyawarah yang ekstensif memungkinkan dilaksnakan. Dan
orangtua menunjukkan kehangatan dan kasih sayang . pengasuhan ini
diasosiasikan dengan kompetensi sosial anak.
3) Pengasuhan permisif terjadi dalam dua bentuk: permissive indifferent , adalah
gaya pengasuhan yang mana orangtua sangat tidak terlibat dalam kehidupan
anak. Gaya ini lebih mengembangkan suatu perasaan bahwa aspek-aspek lain
kehidupan orantua adalah lebih penting dari pada anak mereka. Sedangkan gaya
pengasuhan permisive indulgent: suatu gaya pengasuhan dimana orangtua sangat
terlibat dalam kehidupan anak mereka tetapi menetapkan sedikit batas/kendali
terhadap mereka. Orangtua membiarkan anak-anak melakukan apa saja yang
mereka inginkan dan beranggapan bahwa dengan kombinasi keterlibatan yang
hangat dengan sedikit kekangan akan menghasilkan orang-orang yang kreatif dan
percaya diri.23
2. Faktor Bawaan (hereditas), adalah merupakan faktor pertama yang mempengaruhi
perkembangan individu. Disini hereditas diartikan sebagai totalitas karakteristik
individu yang diwariskan orangtua kepada anak atau segala potensi, baik fisik
maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi (pembuahan ovum oleh
sperma) sebagai pewarisan dari pihak orangtua melalui gen-gen.24
Sedangkan yang diturunkan orangtua kepada anaknya adalah sifat strukturnya bukan
tingkah laku yang diperoleh sebagai hasil belajar atau pengalaman. Penurunan sifatsifat ini mengikuti beberapa prinsip sebagai berikut:
1) Reproduksi, yang berarti bahwa penurunan sifat-sifatnya hanya berlangsung
melalui sel benih
2) Konformitas (keseragaman), proses penurunan sifat akan mengikuti pola jenis
generai sebalumnya, contohnya manusia akan menurunkan sifat-sifat manusia
kepada anaknya
23
JW. Santrock, 2002,Perkembangan masa hidup, Jakarta: Erlangga
24
Syamsu yusuf,2001, Psikologi Perkembangan Anak& Remaja, Bandung: Remadja Rosydakarya, hal.31
3) Variasi, disebabkan jumlah gen-gen dalam setiap kromosom sangat banyak, maka
konbinasi gen-gen pada setiap pembuahan akan mempunyai kemungkinan yang
banyak pula. Oleh karenanya, untuk setiap proses penurunan sifat akan terjadi
penurunan yang beraneka ragam, antara kakan dan adik mungkin akan berlainan
sifatnya
4) Regresi Fillial, yakni penurunan sifat yang cenderung ke arah rata-rata.
3. Faktor lingkungan, yakni faktor dari luar diri anak, yang mempengaruhi peroses
perkembangan mereka yang meliputi suasana dan cara pendidikan lingkungan
tertentu, yang dapat menstimulasi atau justru menghambat dan mengganggu
perkembangan anak. Sedangkan urie Bronfrenbrenner dan Ann Crouter (dalam
Syamsyu Yusuf, 2001:35) mengemukakan bahwa lingkungan perkembangan
merupakan “berbagai peristiw, situasi atau kondisi di luar organisme yang diduga
mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan individu”. Sedangkan lingkungan
sendiri terdiri dari atas lingkungan fisik, yakni meliputi segala sesuatu dari mulekul
yang ada disekitar janin sebelum lahir sampai kepada rancangan arstektur suatu
rumah dan sosial yaknimeliputi seluruh manusia yang secara potensial mempengaruhi
dan dipengaruhi oleh perkembangan individu.
4. Perkembangan hubungan dengan Teman sebaya
Teman sebaya (peer) adalah anak-anak yang tingkat usia dan kematangannya
kuranglebih sama. 25
Hubungan sosial dengan teman sebaya memiliki arti yang sangat penting bagi
perkembangan pribadi anak. salah satu fungsi kelompok teman sebaya yang paling
penting ialah menyediakan suatu sumber informasi dan perbandingan tentang dunia
di luar keluarga. Anak-anak akan menerima umpan balik tentang kemampuankemampuan mereka dari kelompok teman sebaya.26
Relasi yang baik antar teman sebaya memiliki peran penting dalam perkembangan
sosial secara normal, dan ketidakmampuannya, dapat menyebabkan perilaku-perilaku
yang tidak diharapkan, misalnya kenakalan sampai perilaku kriminal yang lain.
25
26
JW.Santrock, 1983, Life Spand Development, Jakarta: Erlangga, hal. 268
Desmita, 2012, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Remadja Rosydakarya, hal. 145
Download