PENGARUH VITAMIN A TERHADAP TERBENTUKNYA RESIDU

advertisement
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 1998
PENGARUH VITAMIN A TERHADAP TERBENTUKNYA RESIDU
INSEKTISIDA ENDOSULFAN PADA TELUR AYAM
INDRANINGSIH
Balai Penelitian Vetriner
Jalan R.E. Martadmata 30, P.O. Box 151, Bogor 16114
ABSTRAK
Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pestisida golongan organoklorin sifatnya
persisten di alam, salah satu akibatnya dapat menyebabkan gangguan reproduksi pada bangsa
burung yang hidup di lingkungan tersebut. Upaya untuk mengurangi terbentukltya residu
endosulfan pada telur ayam telah dilakukan . Pada penelitian ini digunakan vitamin A, untuk
dilihat sejauh mana dapat menunmkan terbenttilcnya residu pada telur ayam. Dalam penelitian ini
digunakan 15 ekor ayam petelur (galur Rhode Island Red) yang telah berproduksi dibagi dalani 3
grup. Grup I diberikan dosis harian endosulfan (1 mg/kg bobot bahan) selama 15 hari dengan cara
dicekok . Grup II diberi endosulfan dengan dosis dan cara yang sama ditambah vitamin A 12.000
IU setiap hari sampai 28 hari setelah pemberian endosulfan . Grup III sebagai hewan kontrol hanya
mendapatkan cekokan air . Makanan clan minuman diberikan ad libitunt . Sampel benipa telur
diambil pada hari ke-1, 3, 6, 10, 15, 21, dan 28 sesudah pemberian endosulfan. Sampel diekstrasi
dengan pelarut organik dan residunya didekteksi dengan kromatografi gas . Hasil yang didapat
menunjukkan bahwa Grup II yang mendapat vitamin A, kadar residu endosulfan lebili rendah
dibandingkan dengan Grup I. Residu endosulfan clan metabolitnya menurun pada hari ke-28 sudah
tidak terdeteksi lagi pada Grup I, sedangkan pada Grup II residu sudah tidak terdeteksi pada hari
ke-21 . Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa vitamin A mempercepat perubalian
endosulfan menjadi metabolitnya dan mempercepat eliminasinya sehingga dapat ntengurangi
timbulnya residu pada telur.
Kata kunci : Vitamin A, residu endosulfan, telur ayam
PENDAHULUAN
Pestisida adalah bahan yang digunakan untttk mengendalikan populasi jasad yang dianggap
sebagai hama yang secara langsung maupun secara tidak langsung menlgikan kepentingan
manusia. Berdasarkan kegunaannya pestisida dibedakan atas insektisida, nentatosida, akarisida,
herbisida, fungisida, ovisida, larvasida, rodentisida, algasida dan moluscisida . Menunit struktur
atau golongan zat kimianya pestisida dibagi Inenjadi pestisida alamiali clan pestisida sintetik .
Berdasarkan rutnus bangunnya insektisida dibagi nienjadi tiga kelompok besar yaitu insektisida
organoklorin, organofosfat clan karbamat. Sedangkan sebagai racun insektisida dapat dibedakan
antara lain : Racun sistemik, artinya racun dapat diserap melalui sistem organisme Inisalnya
melalui pencernaan yang kemudian diserap ke dalam jaringan sampai ke organ dan nienganggu
fungsi organ tersebut ; Racun kontak, racun ini langsung diserap melalui kulit pada saat
penggunaan insektisida atau dapat pula serangga target terkena sisa insektisida atau residu
beberapa waktu setelah penyeniprotan (TARuMINGKENG, 1992) .
Pestisida dapat kontak dengan hewan secara langsung dari lingkungan atau melalui
penyerapan. Hewan dapat dapat menyerap pestisida dapat terserap melalui saluran pencernaan
bersama palcan clan minuman, melalui penyerapan pada perkutan, penghirupan melalui udara (per
inhalasi).
1055
Seminar Nosional Peternakan dan Veteriner 1998
Insektisida yang masuk ke dalam tubuh merupakan zat-zat asing yang lazim diseb
xenobiotik . Hewan yang terkena berupaya menghilangkan akibat yang ditimbulkan, tubt
memodifikasi zat-zat xenobiotik dengan proses detoksifikasi menjadi zat yang kurang beracun at,
tidak beracun sama sekah, yang kemudian dikeluarkan melalui urin clan feses. Proses detoksifika
zat xenobiotik ada dua tahap yaitu primer (non sintesis) dan sekunder (sintesis) . Penibalian z
racun dapat berlangsung dengan reaksi oksidasi, reduksi, hidrolisis clan sintesis . Detoksifika
tahap primer (non sintesis) adalah melalui proses oksidasi, hidrolisis clan kegiatan enzimatik yai
menghasilkan produk yang bersifat polar . Sedangkan detoksifikasi tahap sekunder (sintesis) adal,
dengan reaksi konjugasi yang menghasilkan konjugat-konjugat sebagai produk sintesis . Pa(
proses metabolisme non sintesis terdapat tiga tipe enzim yang berperan sebagai biokalisator, anta
lain Enzim hidrolase (karboksilesterase, amidase, fosfatase, dan esterase tipe A), Enzim glutatio:
s-tranferase yang kegiatannya tergantung pada glutation dalam bentuk tereduksi, clan Enzi
oksidase mikrosoma yang ditandai oleh adanya keperluan akan NADPH mikrosoma dan oksigen
vitro untuk degradasi substrat (TARumINGKENG, 1992) .
Endosulfan merupakan salah satu insektisida golongan organoflorin siklodiena yang sud,
mulai terbatas penggunaannya. Nilai ambang batas residu endosulfan pada tanaman berkis
antara 2-3 mg/kg, sedangkan pada produk hewani adalah 0,2 mg/kg bobot badan (DEPARTEMI
PERTANIAN, 1995).
Thiodan (endosulfan teknis) merupakan kristal coklat yang 90-95% dari kandungann,
terdiri dari a-endosulfan dan P-endosulfan dengan perbandingan 7:3. Kedua isomir ini persisti
untuk didegradasi tetapi senyawa metabolitnya mudah untuk dihancurkan . Waktu panih dalam
kira-kira 4 hari, tetapi kondisi pH yang rendah akan memperpanjang waktu paruhnya. Dalam
endosulfan dapat didegradasi menjadi endosulfan alkohol . Di dalam tanah isomir a lebili cep
hilang dibandingkan dengan isomir (1 dan membentuk hasil degradasi berupa senyawa endosulfi
sulfat (WHO, 1992).
Endosulfan dapat mengalami dua proses degradasi melalui proses oksidasi menghasilkan senyav
metabolit produk oksidasinya dan metabolit yang lain, dan hidrolisis menghasilkan metabol
metabolit yang hidrofilik clan sebagian terjadi proses konjugasi dari produk hidrofiliknya . Pai
tahap ini endosulfan lakton dan endosulfandiol akan diekskresikan keluar tubuh (GoEBEL el a
1982) .
Tanda-tanda hewan keracunan endosulfan dalam konsentrasi akut antara lain hiper aktif d
kejang otot sampai akhirnya mati. Pemberian secara oral pada tikus memberikan nilai LD
berkisar antara 30-79 mg/kg bobot badan sedangkan pada itik adalah 76 mg/kg bobot badan (WH
1992).
SUNDARI (1992) telah mengadakan penelitian terhadap pencemaran yang terjadi di perair,
Bogor. Hasil penelitiannya memberikan informasi bahwa beberapa perairan di Bogor tenitat
yang berasal dari limbah perkebunan telah tercemar oleh berbagai insektisida, salah satunya adal
endosulfan. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh TARMIDI (1996) dari sampel daging ya
diambil dari rumah potong hewan ternyata beberapa di antaranya mengandung residu pestisida d
salah satunya adalah endosulfan. Di saping itu, pernah dilaporkan bahwa residu bebera
insektisida terdeteksi pada telur bunmg liar (INDRANINGSIH et al. 1988) .
Berkaitan dengan sifat insektisida yang larut pada lemak keadaan tertentu dengan terikatil
residu dalam lemak, residu akan terbawa ke depot penyimpanan lemak dan tidak tertut
kemungkinan akan tersimpan dalam telur . Vitamin A dalam makanan tenitama berbentuk
105 6
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 1998
karoten dan retinol . Penyerapannya menlbutullkan penlbebasan endogen protein dan adanya leniak
makanan serta asam empedu . Dalam usus p-karoten dipecah menjadi dua unit retinol yang
kemudian oleh kilomikron diangkut ke hati dan organ lain nlelalui saluran limpa dan darall
(LINDER, 1992).
Ppenelitian pada tikus yang diberi polibromida bifenil (PBB) dengan ransum defisiensi
vitamin A menunjukan adanya penurunan jumlall simpanan vitamin A dalam hati yang sangat
besar dan vitamin A yang tersimpan berubah bentuk (DARJONO, 1983) . Pemberian vitamin A yang
melebihi kebutuhan normal pada keadaan hewan terkena racun insektisida DDT secara kronik
dapat mengurangi kerusakan organ tertentu (hati dan saluran empedu) dan mengurangi residu
metabolit DDT dalam hati (INDRANINGSIH, 1985).
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keberadaan residu endosulfan dalam telur ayam
dan mengetahui pengaruh pemberian tambahan vitamin A terhadap terbentuknya residu dalam
telur ayam.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dimulai dengan pemberian thiodan dan vitamin A secara oral kepada ayam
petelur. Lima belas ekor ayam petelur (galur Rhode Island Red) yang telah berproduksi, dibagi ke
dalam tiga grup masing-masing 5 ekor, Grup I : dicekok endosulfan dengan dosis 1 mg/kg bobot
badan setiap hari selama 15 hari, Grup II : dicekok endosulfan dengan dosis dan cara yang sanla
dan vitamin A 12.000 IU setiap hari sampai 28 hari setelah dosis endosulfan, Gntp III : adalall
hewan kontrol hanya mendapat cekokan air saja .
Pakanan dan minuman diberikan ad libitum. Penganlbilan sampel telur ayam dilakukan pada
hari ke-1, 3, 6, 10, 15, 21, dan 28 setelah pemberian endosulfan.
Analisis residu endosulfan pada telur dilakukan dengan tiga tahap yaitu proses ekstraksi,
clean up dan kromatografi gas . Prosedur analisis ini diambil dari Journal of AOAC (1984) .
Ekstraksi
Sampel telur tanpa kulit ditimbang . Kemudian dikocok hingga homogen dan ditanlballkan
aseton sebanyak 100 ml . Campuran dikocok kembali dan dibearkan selama satu malanl . Campuran
kemudian disaring dan dipindahkan ke dalam corong pisah untuk siap diekstraksi . Larutan hasil
penyaringan diekstrak mengunakan pelarut lleksana sebanyak 50 ml yang dilakukan dua kali.
Hasil ekstraksi dicuci dengan 100 ml akuades dan dipisahkan . Sisa akuades yang nulngkin masih
ada ditarik kembali dengan mengunakan Na2SO4 anhidrat. Ekstrak lahl diuapkan dengan
menggunakan rotavapor hingga volumenya sekitar 1 nil .
Clean up
Dalam memisahkan senyawa-senyawa lain yang tidak dikellendaki yang masih mungkin
terbawa setelah proses ekstraksi dilakukan proses clean up dengan mengunakan kromatografl
kolom. Florisil yang telah dipanaskan dimasukkan ke dalam kolom setinggi kira-kira 10 cm dan di
atasnya juga ditambahkan Na2SO4 anhidrat. Florisil kemudian dibasahi dengan petrolitun eter dan
dilanjutkan dengan sampel di clean up. Proses clean up dimulai dengan nlengalirkan sanlpel ke
dalam kolom, selanjutnya satnpel dielusi dengan mengalirkan canlpuran dietileter dan petroliunl
eter (15 :85) sebanyak 100 ml. Kemudian dilanjutkan dengan campuran dietileter dan petrolium
eter (30 :70) sebanyk 100 ml . Lanitan yang mengalir ditanlpung dalanl florentin dan diuapkan
dengan rotavapor hingga kering .
105 7
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 1993
Kromatografi gas
Sampel yang telah dikeringkan dilarutkan kembali dengan
diinjeksikan ke kromatografi gas. Alat kromatografi gas dikondisikan
1,5%OV-17+1,95 %, OV-210 /Cromosorb WHP, 80-100 mesh; Gas
injektor 250°C; Suhu detektor 300 °C; Suhu kolom 222 °C; Kecepatan
aliran gas 30 ml/menit ; Sensitifitas 16x10 -" amp/mv.
5 ml heksana dan siap
sebagai berikut: Isi kolom
pembawa Nitrogen, Suhu
kertas 0,5 mm/ment Laju
HASIL
Hasil analisis sampel telur untuk residu alpha dan beta endosulfan dapat dilihat pada Tabel 1
dan dari Grup I masih dapat terdeteksi adanya parent compound (alpha da11 beta endosulfan)
sedangkan dari Grup II sudah tidak terdeteksi lagi . Residu endosulfan tidak ditemukan adanya
pada sampel telur dari hewan kontrol .
Tabel 1.
Residu a dan (3 endosulfan pada telur dari ayam percobaan
Hari
pengamatan
1
Residu endosulfan ( pb)
a
Gntp I
(3
4,50
0,96
3
3,94
-
6
1,30
-
10
4,70
-
15
5,72
-
21
3,40
-
28
-
-
Gnip II
a
Grup
Keterangan :
I : yang mendapat dosis harian endosulfan 1 mglkg bobot badan selama 15 hari
Grup II dan mendapat tambahan vitamin A 12 .000 IU selama 28 hari setelah dosis endosulfan
Grup III dan hewan kontrol
Analisis yang dilakukan pada telur yang berasal dari ayam diberi endosulfan sebanyak 1
mg/kg bobot badan/hari selama 15 hari berturut-tulut memberikan hasil adanya residu endosulfan .
Hasil deteksi senyawa metabolit dari endosulfan dapat dilihat pada Tabel 2. Pada Gnip I tidak
dideteksi adanya residu hidroksi endosulfanether sedangkan pada Grup II metabolit endosulfan
yang terdeteksi ada 3 macam yaitu endosulfan ether, hidroksi endosulfan ether dan endosulfan
lakton .
Residu endosulfan total dalam telur ayam dapat dilihat pada Tabel 3 . Terdeteksinya residu
endosulfan telah membuktikan bahwa pemberian thiodan sebanyak 1 mg/kg bobot badan pada
ayam telah menyebabkan masuknya residu endosulfan ke dalam telur. Pada tiap selang waktu
pengambilan diperoleh kadar total endosulfan yang berbeda dan cenderung nlenunm . Pada Gnip I
residu endosulfan sudah tidak terdeteksi lagi pada hari ke-28 sedangkan dari Gnip 11 terjadi lebih
cepat yaitu pada hari ke-21 .
PEMBAHASAN
Penunman kadar endosulfan di atas kenlungkinan karena telah terjadinya proses detoksifikasi
dalam tubuh ayam. Proses detoksifikasi niengurangi kadar residu karena hasil detoksifikasi
105 8
Seminar Nasional Peternakan don Veteriner 1998
diekskresikan melalui feses dan urine . Menurut DGRGUGH et al . (1978) penelitian yang dilakukan
terhadap tikus yang diberi endosulfan sebanyk 2 mglkg bobot badan, lima hari setelah pemberian
75% dari total dosis ditemukan dalam feses dan 13% dalam urin. Begitu juga pada pelllberian
endosulfan sebanyk 5 mg/kg berat pakan. Setelah 14 hari pemberian 56% dari total residu
dieliminasikan dalam feses dan 8% dalam urine .
Tabel 2.
Residu metabolit endosulfan pada telur dari ayam percobaan
Hari
Pengamatan
Residu metabolit endosulfan (ppb)
Grup II
Grup I
EE
EL
EE
HEE
EL
EE
6,7
14,46
8,74
0,02
-
10,86
-
13,28
4,06
-
-
6
9,19
-
12,13
4,14
-
-
10
3
-
4,24
3,02
-
-
-
5,48
0,72
-
-
1
3
HEE
Gnip III
15
21
HEE
El,
28
Keterangan
EE
HEE
EL
Grup I
Gnrp IT
Grup III
Tabel 3.
Endosulfan Ether
Hidroksi Endosulfan Ether
Endosulfan Lakton
Yang mendapat dosis harian endosulfan 1 mg/kg bobot badan selama 15 hari
dan mendapat tambahan vitamin A 12000 IU selama 28 hari setelah dosis endosulfan
dan hewan kontrol
Total residu endosulfan dan metabolitnya pada telur dari ayam
Gntp
Keterangan
Total residu endosulfan (ppb) pada hari ke
6
10
15
1
3
12,16
14,80
10,49
7,7
5,72
3,4
21
23,22
17,34
16,27
7,26
6,2
-
28
Grup I : yang mendapat dosis harian endosulfan 1 mg/kg bobot badan selama 15 hari
Grup IT : dan mendapat tambahan vitamin A 12 .000 ILl selama 28 hari setelah dosis endosullan
Grup III : hewan kontrol
Selain itu proses pelurullan dari senyawa endosulfan itu juga memungkinkan terjadinya
penurunan kadarnya. Residu insektisida dapat hilang atau tentrai dan prosesnya kadang-kadang
berlangsung dengan konstan . Adanya degradasi enzimatik dapat meyebabkan terjadinya
penguraian residu insektisida (TARUMINGKENG, 1992) .
Hasil analisis residu endosulfan pada telur ayam yang berasal dari ayam yang diberi thiodan
dan vitamin A dapat dilihat pada Tabel 1, 2 dan 3 . Analisis telur hari pertama setelah pemberian
endosulfan, kadar total residu lebill banyak dibandingkan telur pada pengambilan hari lainnya .
Selanjutnya pada hari ke-3 dan seterusnya terjadi penunlnan dengan tajam . Banyaknya metabolit
endosulfan yang terdeteksi pada Gnlp 11 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan detoksifikasi
endosulfan sehingga banyak terurai menjadi metabolitnya . Hal ini disebabkan adanya tanlbalian
vitamin A yang berf ingsi menstimulir metabolisme sehingga enzinl nikrosomal lebill aktif dan
1059
SeminarNasional Peternakan dan Peteriner 1998
mempercepat proses perubahan endosulfan menjadi metabolitnya yang tidak toksik dan mudah
diekskresikan keluar tubuh dalam bentuk feces atau urin (DARJONO, 1983 dan TARUMINGKENG,
1992).
Besamya konsentrasi endosulfan total yang dihasilkan pada Grup II disebabkan, olell
banyaknya senyawa metabolit yang terbentuk . Sampel yang dianalisis dari hari ke-1 sampai hari
ke-21 tidak menunjukkan adanya senyawa a-endosulfan ataupun beta-endosulfan . Hal ini
kemungkinan disebabkan pada waktu tersebut semua endosulfan yang masuk dalarn tubuli
mengalami proses detoksifikasi sehingga terbentuk senyawa metabolitnya . Penambahan vitamin A
mempercepat terbentuknya senyawa metabolit sehingga sebagian terbawa ke dalam telur. Vitamin
A adalah salah satu senyawa kimia yang dapat mengaktifkan degradasi xenobiotik sehingga dapat
mengaktifkan detoksifikasi . Pada Grup I dari total residu endosulfan masih terdeteksi kadar ocendosulfan dan p-endosulfan yang terdeteksi sebesar 38,5%. Hal ini kemungkinan disebabkan
karena tidak adanya vitamin A tambahan, yang mengaktifkan mikrosomal enzim dalam proses
detoksifikasi (MENZER, 1971).
KESIMPULAN DAN SARAN
Pemberian vitamin A sebanyak 12.000 IU pada ayam yang diberi dosis harian endosulfan 1
mg/kb bobot badan selama 15 hari, hanya mampu menuninkan kadar oc-endosulfan dan senyawa
metabolitnya serta mempercepat waktu hilangnya residu . Dengan demikian pernberian vitamin A
telah dapat membantu mengaktifkan kerja enzim mikrosoma sehingga proses detoksifikasi dalam
hati berlangsung lebih aktif
Senyawa metabolit seperti endosulfan eter, ILidroksi endosulfan eter dan endosulfan laklon
yang terbentuk dari hasil detoksifikasi, adalah senyawa-senyawa yang mempunyai nilai LD50 yang
cukup besar sehingga tidak terinasuk senyawa toksik dari endosulfan . Konsentrasi total residu
endosulfan dan metabolitnya yang terdeteksi, berkisar di bawah 0,023 mg/kg, masill di baivall nilai
batas ambang yang diperbolelikan, jadi walaupun mengandung residu endosulfan telur masill antan
untuk dikonsurnsi .
DAFTAR PUSTAKA
AOAC . 1984 .
Official Methods of Analysis Association of Ojjicial Analytical Chemist.
William, Association ofOfficia Analytical, Inc . Virginia, USA.
14
Ed. edited by S
Vitamin status, Polybriminated Biphenyl (PBB) toxicosis, and conunon bile duct hvperplacia
in rats. Toxicology and Applied Pharmacology 71 :184 .
DARJONO. 1983 .
DOROUGH, H.W ., K . HUTHMAN, T.C . MARSHALL,
DEPARTEMEN PERTANIAN. 1995 .
and
H.E . BRYANT . 1978 .
Pest biocheni. Plivsiol . 8:241 .
Pestisida tuttuk Pertanlan. Subdirektorat Pestisida Direktorat Perlindungan
Tanaman Pangan, Pasar Minggu, Jakarta.
GOEBEL, H., S. GORBACH, W. KNAUF, R.H . RIMPAU, and H. HUTTENBACH 1982 .
GUNTER and J.A. GUNTER, Springer-Verlag, New York.
INDRANINGSIH . 1985 .
Yogyakarta .
Penganrh Vitamin A dan DDT pada Ayam Jantan. Thesis Universitas Gadjah Mada,
R. MARYAM, R. RANDY, and R .B.
eggs. Penyakit Hewan XX 36 : 98-100 .
INDRANINGSIH,
1060
Residue Review . Ed. F .A.
MARSHALL . 1988.
Organochlorine 1)esticide residue in bird
SeminarNasional Peternakan dan Veteriner 1998
LINDER, M.C .
191 .
1992 . Nutrition andMetabolism . In Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Ul Press, Jakarta. 178-
R.E . 1971 . Effect of Enzyme Inducing Agents on Fat Storage and Toxicology of Insecticide.
Insecticide Resistance Synergysm, Enzyme Induction . vol II, Gordon and Beash Science Publisher,
New York .
MENZER,
SUNDARI, T.
1992 . Analisis Organoklorin pada Perairan. Skripsi Akademi Kimia Analisis, Bogor.
1996 . Uji Stabilitas dan Analisis Residu BHC, DDT dan Endosulfan dalam Daging Sapi dengan
Kromatografi Gas. Skripsi Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Pakuan, Bogor.
TARL iDi, T.
R.C . 1972. Insektisida, Sifat, Mekanismre Kerla dan Dampak Penggunaannya . Universitas
Kristen Krida Wacana, Jakarta.
TARUMINGKENG,
W.H .O . 1992 . UNEP, ILO and WHO. Endosulfan 40, WHO, Geneva .
TANYA JAWAB
J. Manurung : Vitamin A, bila dicampur dalam makanan, dan diberikan berlebihan apakah tidak
ada efeknya secara patologi ?
Indraningsih : Pemberian Viatamin A sampai 30 .000 IU belum menimbulkan gejala keracunan
sedangkan dalam penelitian ini penambahan Vitamin A hanya 12 .000 IU, sehingga bisa
mengaktifkan toksifikasi .
Download