Ah! Benarkah aku akan mati sebelum hari ini berakhir?

advertisement
Hari Terakhir
Seorang Terpidana Mati
Karya Victor Hugo
Terjemahan M. Lady Lesmana
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
ADEGAN – I
Dihukum mati!
Lima minggu sudah aku hidup bersama pikiran ini, selalu berdua
dengannya, selalu dihantui kehadirannya, bungkuk menanggung
bebannya!
Dulu, sebab bagiku rasanya telah bertahun-tahun daripada
beberapa minggu, aku adalah manusia bebas, seperti manusia lainnya.
Setiap hari, setiap jam, setiap menit mempunyai gagasan. Jiwaku yang
muda dan kaya penuh dengan angan-angan. Secara iseng, jiwaku sering
menanyakan angan-angan itu kepadaku satu demi satu, tanpa urutan
dan tanpa akhir, menyulam arabeks yang tidak ada habisnya di kain
kehidupan kasar dan tipis ini. Angan-angan tentang gadis-gadis, jubah
uskup, pertempuran-pertempuran yang dimenangkan, teater penuh suara
dan cahaya, lalu gadis-gadis lagi dan jalan-jalan di malam hari yang
suram di bawah lengan-lengan raksasa pohon-pohon sarangan. Dalam
bayanganku, itu selalu merupakan hari raya. Aku bisa memikirkan apa
yang kuinginkan, aku bebas.
Sekarang aku menjadi tawanan. Tubuhku terantai di dalam sebuah
sel, jiwaku terpenjara di dalam sebuah pikiran. Pikiran yang mengerikan,
berlumuran darah, yang tidak dapat dialihkan. Aku hanya memiliki satu
pikiran, satu keyakinan dan kepastian: dihukum mati! Apapun yang
kulakukan, pikiran ini selalu menyertaiku, tanpa ampun, seolah hantu
timah di sisiku, sendiri, penuh rasa cemburu, mengusir semua pelipur lara,
menatap wajahku yang merana. Dan bila kupalingkan muka atau
kupejamkan mata, ia mengguncangku dengan kedua tangannya yang
sedingin es. Ia menyusup ke segala bentuk pelarian yang dipakai jiwaku
untuk menghindarinya, menimbrung disemua ucapan yang ditujukan
padaku seperti refrein lagu yang mengerikan, menempel bersamaku di
terali besi selku yang begitu buruk, menghantuiku disaat terjaga,
memata-mataiku disaat tidur gelisah, dan muncul kembali dalam mimpimimpiku dalam bentuk pisau.
Dihukum mati!
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
Eh, kenapa tidak? Semua orang telah dijatuhi hukuman mati
dengan penangguhan yang tidak ditentukan, demikian kuingat telah
membacanya dalam sebuah buku yang judulnya aku lupa dan hanya itu
saja isinya yang bagus. Jadi apa bedanya dengan keadaanku sekarang?
Sejak hukumanku dijatuhkan, beberapa orang yang berumur
panjang telah mati! Berapa orang muda yang bebas dan sehat, yang ingin
melihat melihat kepalaku menggelinding suatu hari nanti telah
mendahuluiku! Dan sampai hal itu terlaksana, berapa lagi barangkali
akan mendahuluiku diantara mereka yang sedang berjalan dan bernapas
dengan bebas, yang masuk dan keluar sekehendak hati mereka!
Lagi pula, apa yang kusesalkan dari kehidupan ini? Hari-hari yang
suram dan roti hitam di ruang tahanan, jatah kuah encer yang diciduk
dari rahang orang-orang hukuman yang dirantai, perlakuan dan ucapan
kasar yang ditujukan kepadaku yang telah dipoles halus oleh pendidikan,
kekurang ajaran para pengawal dan penjaga penjara, tidak ada manusia
yang menganggapku pantas diajak bicara atau yang kuanggap pantas
kuajak bicara, selalu tersentak kaget oleh yang telah kulakukan atau
yang akan dilakukan orang terhadapku: itulah kira-kira, dalam
kenyataan, semua yang kumiliki, yang bisa dirampas algojo dariku.
Ah, sangat mengerikan!
ADEGAN – II
Oh, seandainya aku melarikan diri, betapa aku akan berlari
melintasi ladang-ladang!
Tidak, jangan lari,. Itu akan menarik perhatian dan menimbulkan
kecurigaan. Sebaliknya, aku harus berjalan pelan-pelan, kepala tegak,
sambil bernyanyi. Aku harus berusaha mendapatkan pakaian kerja yang
sudah lama dipakai, berwarna biru dengan gambar-gambar merah. Itu
merupakan penyamaran yang bagus. Semua petani sayur di sekitar sini
memakainya.
Ah! Pemimpi malang! Jebol dulu tembok setebal tiga kaki yang
mengurungmu ini! Kematian! Kematian!
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
Kalau saja aku tahu bagaimna itu dilakukan dan dengan cara
bagaimana orang mati di sana! Tapi itu menakutkan, aku tidak tahu.
Nama bendanya saja sudah menakutkan, dan aku tidak mengerti
bagaimana hingga sekarang aku bisa menuliskan dan mengucapkannya.
Aku tidak berani mengajukan satupun pertanyaan mengenainya,
tapi sangat mengerikan tidak mengetahui apa itu ataupun bagaimana
menghadapinya. Kelihatannya ada semacam jungkitan dan anda
ditelungkupkan lalu…-- Ah, rambutku akan memutih semua sebelum
kepalaku menggelinding
Suatu hari, menjelang jam sebelas pagi.
Seorang terpidana mati akan dieksekusi hari itu juga. Peralatan itu
didirikan untuknya.
Aku memalingkan muka sebelum sempat melihatnya. Di samping
keretaku ada seorang wanita yang berkata kepada seorang bocah:
-- Tuh, lihat! Pisaunya jatuhnya tidak lancar, mereka pasti akan
melumuri alurnya dengan lilin.
Barangkali merekajuga sedang berada pada tahap itu sekarang.
Lonceng baru saja berdentang sebelas kali.
Mereka barangkali sedang menggemuki alurnya.
Ah! Kali ini, aku tidak akan bisa memalingkan kepalaku lagi.
ADEGAN – III
Kupejamkan mata, dan berusah melupakan masa kini dalam masa
lampau. Saat aku termenung, kenangan masak kanak-kanak dan masa
mudaku terlintas kembali satu persatu, lembut, tenang, penuh tawa,
seperti pulau-pulau bunga mengambang di atas jurang pikiran yang
kelam dan kabur, yang berputar di dalam benakku.
Aku terkenang waktu masih kecil, waktu menjadi anak sekolah
yang penuh tawa dan segar, selalu bermain-main, berteriak-teriak di jalan
utama berumput di taman liar tempat masa kecilku lewat dengan cepat.
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
Lalu, emapat tahun kemudian, aku masih tetap di sana, tetap
kanak-kanak tapi sudah jadi pemimpi dan selalu dipenuhi gairah. Ada
seorang gadis remaja di taman yang sendiri itu.
Seorang Gadis yang bermata bundar dan berambut lebat itu
berkulit coklat keemasan, bibirnya merah dan pipinya merah jambu. Pepa,
gadis itu, berumur empat belas tahun.
Ibuku dan ibunya menyuruh kami berlari-lari bersama-sama:
kita ke sana untuk jalan-jalan.
Kami disuruh bermain, tapi kami mengobrol, dua bocah yang
berumur sama tapi berjeniskelamin beda.
Padahal tidak ada setahun sebelumnya, kami berlari-lari dan
bergumul bersama-sama. Aku merebut apel yang paling bagus di pohon
dari Pepita, aku memukulnya demi sebuah sarang burung. Ia menangis
dan aku berkata: Rasakan! Dan kami mengadu ke ibu kami masingmasing, yang dengan suara keras menyalahkan kami tapi dengan berbisik
membenarkan apa yang kami lakukan.
Kini ia menyandarkan dirinya kelenganku, dan aku merasa sangat
bangga dan terharu. Kami berjalan perlahan-lahan, kami berbicara lirih.
Ia menjatuhkan sapu tangannya dan aku memungutnya untuknya.
Tangan kami bergetar saat saling bersentuhan. Ia berbicara padaku
tentang burung-burung kecil, tentang bintang yang tampak jauh disana,
tentang langit yang memerah di belakang pepohonan saat
matahariterbenam, atau tentang teman-teman seasramanya, gaunnya,
pita-pitanya. Kami berbicara tentang hal-hal yang dungu, dan wajah
kami berdua memerah. Gadis cilik itu kini telah menjadi remaja.
Senja itu, -- kami berada di bawah pohon sarangan, di ujung
taman. Setelah keheningan panjang menguasai acara jalan-jalan kami,
tiba-tiba ia melepaskanlenganku dan berkata: Ayo lari!
Masih tanpa jelas dipelupuk mataku dirinya yang saat
itumengenakan pakaian berkabung serba hitam karena neneknya
meninggal dunia. Sebuah gagasan kekanak-kanakan melintas di
kepalanya, Pepa kembali menjadi Pepita, dan ia berkata kepadaku: Ayo
lari!
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
Ia beranjak berlari di depanku dengan pinggangnya yang ramping
seperti pinggang lebah, dan kakinya yang kecil menyibakkan gaunnya
hingga betis. Aku mengejarnya, ia menghindar. Arus udara yang
ditimbulkannya terkadang menyingkap mantelnya yang tanpa lengan,
sehingga punggungnya yang coklat dan segar itu terlihat.
Aku menjadi lupa segalanya. Aku berhasil menangkapnya di dekat
puing sebuah sumur resapan tua. Kuraih pinggangnya – sebagai
pemenang aku berhak melakukannya – dan kududukkan ia dia atas
gundukan rumput. Ia tidak menolak. Napasnya terengah-engah dan…
-- Ah, seandainya saja ibu melihat bagaimana kami berlari-lari!
Aku, aku diam tak bersuara.
Di dadaku ada surga.
Itu merupakan senja yang takkan kulupakan selama hidupku.
Selama hidupku
ADEGAN – IV
Itu hari itu!
Direktur penjara sendiri datang menjengukku. Ia bertanya ……
( direkturpenjara ) apa yang bisa aku lakukan untuk menyenangkan
hatimu atau apa yang bisa aku lakukan untukmu?…..
Tidak ada.
Dan ia juga mengungkapkan harapannya agar aku tidak mempunyai
keluhan terhadapnya atau terhadap anak buahnya, dengan penuh
perhatian ia menanyaiku tentang….
( direktur penjara ) bagai mana kesehatanmu ? dan bagaimana
melewatkan malam yang baru saja berlalu?….
Baik- baik saja.
Saat meninggalkanku, ia menyebutku dengan ….tuan!
Itu hari ini!
Bahkan disaat ini juga, di sekitarku, di rumah-rumah, dan di tempattempat lain ada banyak orang lalu-lalang, mengobrol dan tertawa,
membaca koran, memikirkan usaha mereka, ada banyak pedagang
berjualan, gadis-gadis mempersiapkan gaun mereka untuk pesta nanti
malam, ibu-ibu bercanda dengan anak-anaknya.
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
Ibu!
Aku baru saja membuat surat wasiat.
Tapi Apa gunanya?
Aku dihukum dan diharuskan membayar biaya pengadilan, dan
semua yang kupunyai hampir tidak cukup untuk membayarnya.
Guillotine itu sangat mahal, ibu!
Aku meninggalkan seorang ibu, aku meninggalkan seorang istri,
aku meninggalkan seorang anak.
Seorang gadis cilik berumur tiga tahun, lembut, merah jambu,
lemah, bermata hitam, dan berambut panjang berwarna kecoklatcoklatan.
Umurnya dua tahun satu bulan ketika aku melihatnya terakhir
kali.
Jadi, setelah aku mati, ada tiga wanita tanpa anak, tanpa suami,
tanpa ayah. Ada tiga yatim dari jenis berbeda, tiga janda karena hukum.
Kuterima bahwa hukuman yang dijatuhkan kepadaku memang
setimpal, tapi ketiga orang tidak bersalah ini, apa yang telah mereka
lakukan? Itu tidak penting. Mereka telah dipermalukan, mereka telah
hancur, itulah keadilan.
Bukan ibuku, yang sudah lanjut usianya, yang kukhawatirkan.
Istriku juga tidak membuatku khawatir.
Kecuali kalau ia menjadi gila. Orang berkata bahwa itu membuat
orang hidup, tapi setidak-tidaknya, daya pikirnya tidak menderita,
daya pikirnya tidur, seperti mati.
Tapi putriku, anakku, Marie, gadisku cilikku yang malang, yang
tertawa, yang bermain, yang bernyanyi saat ini dan tidak memikirkan
apapun, ialah yang membuatku sedih!
Oh, putriku yang malang! Jam sepuluh. Enam jam lagi, dan aku
akan mati! Aku akan menjadi sesuatu yang menjijikan yang berserak di
atas meja dingin di ruang-ruang kuliah. Sebuah kepala yang akan dicetak
di satu sisi, dan tubuh yang akan dipotong-potong di sisi lain. Lalu
sisanya akan dimasukkan ke dalam sebuah peti mati penuh, dan
semuanya kemudian dikirim ke makam.
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
Itu yang mereka lakukan terhadap ayahmu, orang-orang yang
tidak satupun membenciku ini, yang semua merasa iba terhadapku dan
semua bisa menyelamatkanku. Mereka akan membunuhku. Apa kamu
bisa mengerti hal itu Marie? Membunuhku dengan darah dingin, dalam
suatu upacara, demi kebaikan! Ah! Ya, Tuhan!
Putriku malang, ayahmu yang sedemikian mencintaimu, ayahmu
yang menciumi lehermu yang putih dan wangi, yang tanpa henti
mengelus ikal rambutmu yang seperti sutra, yang memegang wajah
ayumu yang bundar dengan tangannya, yang membuatmu meloncatloncat di pangkuannya dan yang dimalam hari mengatupkan tangantangan mungilmu untuk berdo’a kepada Tuhan!
Siapa yang akan melakukan itu semua buatmu sekarang? Siapa
yang akan mencintaimu? Semua anak seusiamu punya ayah, kecuali
kamu. Bagaimana melepaskanmu, anakku, dari kebiasaan perayaan
tahun baru, hadiah-hadiah tahun baru, mainan yang bagus-bagus,
permen dan ciuman? Bagaimana melepaskanmu, anak yatim yang
malang, dari kebiasaan minum dan makan?
Ah! Seandainya para juri itu melihatmu, melihat Marie mungilku!
Mereka pasti akan mengerti bahwa ayah dari seorang anak yang berumur
tiga tahun ini tidak boleh dibunuh.
Dan saat menjadi besar besok, jika kamu bisa bertahan hingga
besar, kamu mau menjadi apa? Ayahmu akan menjadi sebuah kenangan
bagi seluruh masyarakat. Mukanya akan memerah karenaku, karenaku
yang mencintainya dengan segala kelembutan hatiku. Oh! Marie kecilku
yang tercinta! Benarkah kau akan merasa malu dan membenciku?
Betapa malangnya! Betapa jahatnya yang telah kulakukan dan
betapa jahatnya yang kulakukan terhadap masyarakat sehingga ia
menjadi ikut jahat!
Ah! Benarkah aku akan mati sebelum hari ini berakhir?
Benarkah itu aku?
ADEGAN – V
Lonceng baru saja berdentang.
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
Penyesalanku menjelang pelaksanaan hukuman sedemikian
besarnya sehingga tiada lagi tempat untuk memikirkan kematian.
Masa kecilku yang indah! Masa remajaku yang menyenangkan!
Wahai hukum yang malang dan wahai orang-orang malang, aku
bukan orang jahat!
Apakah aku benar-benar bisa memikirkan kegilaan ini?
Menyingkirkan sejauhnya panggung pemancungan setelah aku
menaikinya!
Aku tanya Anda, apa yang bisa kuperoleh kembali.
Matahari, musim-musim semi, kebun penuh bunga, burung-burung
yang bangun dipagi hari, awan, pohon, alam, kebebasan, kehidupan,
semua itu tidak lagi menjadi milikku!
Akulah yang harus diselamatkan!
Grasiku! Grasiku!
Barangkali aku mendapat grasi.
Panggilkan pembelaku! Pembelaku, cepat!
Tapi tolong ampuni hidupku!
Jam satu seperempat. Kurasakan nyeri hebat di kepala.
Mereka berkata bahwa itu tidak apa-apa, tidak terasa sakit,
bahwa itu merupakan akhir yang lembut dan kematian yang ditempuh
dengan cara ini menjadi sangat sederhana.
Bagaimana dengan tangga penyiksaan yang mengantar ke
panggung pemancungan?
Lagi pula, tidak terasa sakit!
Bagaimana mereka bisa yakin tentang hal itu?
Siapa yang mengatakannya kepada mereka?
Tidak pernah ada cerita bahwa sebuah kepala yang terpancung
lalu berdiri sendiri di pinggir keranjangnya, dengan berlumuran darah,
dan berteriak kepada semua orang: Tidak sakit!
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
Apa mereka tidak pernah mencoba untuk menempatkan diri
mereka, bahkan dalam bayangan saja, pada posisi orang yang berada di
sana, saat pisau yang berat menghujam menggigit daging, mengoyak
syaraf, meremukkan tulang belakang…
Tapi, apa yang mereka katakan?
Setengah detik! Rasa sakitnya lenyap…
Dalam semua itu mereka hanya melihat pisau berbentuk segitiga
jatuh lurus ke bawah, dan…
ADEGAN – VI
Di situ aku berada sekarang. Perjalanan yang paling tidak enak
sudah ditempuh. Bunderan itu berada di sana, dan di bawah jendela
berkumpul orang-orang mengerikan yang sedang menggonggong, dan
menungguku, dan tertawa.
Jam berdentang tiga kali waktu aku diberitahu bahwa waktunya
telah tiba.
Aku gemetar, seolah aku memikirkan hal lain sejak enam jam
terakhir, sejak enam minggu, sejak enam bulan. Rasanya seperti
mengalami sesuatu yang tidak terduga.
Mereka membawaku melintasi lorong-lorong dan menuruni tangga.
Mereka mendorongku ke sebuah bilik kecil di sela-sela dua pintu di lantai
dasar. Bilik itu kotor, gelap dan sempit. Atapnya melengkung, dan
diterangi sedikit cahaya dari luar yang saat itu hujan dan berkabut.
Kini kedua pintu depan dibuka lebar-lebar.
Sorak-sorai sengit, udara dingin dan cahaya putih menerobos
sampai ke tempatku yang berada di kegelapan.
Untuk saat yang sangat menakutkan inilah kusimpan
keberanianku. Aku berjalan tiga langkah, dan muncul diambang pintu.
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
-- Itu dia! Itu dia! Lihat ! Ia keluar akhirnya. Teriak orang –
orang itu.
.
Dan orang-orang yang berada dipaling dekat denganku bertepuk
tangan sedemikian kerasnya.
Di depannya, sedikit sebelum menara kotak yang berada di sudut
gedung, ada beberapa kedai minum yang lantai tengahnya dijejali para
penonton yang gembira mendapat tempat duduk yang strategis. Mereka
terutama kaum wanita. Itu pasti merupakan hari yang sangat
menguntungkan bagi pemilik kedai.
Orang-orang menyewakan meja, kursi, panggung, kereta-kereta.
Semuanya melengkung dijejali penonton. Para pedagang darah manusia
itu berteriak-teriak memekakkan telinga:
-- Tempat? Tempat? Siapa mau tempat?
Rasa geram terhadap orang-orang itu muncul dalam diriku. Aku
ingin gantian berteriak kepada pada mereka:
-- Siapa mau tempatku?
Sementara kereta itu terus berjalan. Disetiap jengkal
yangdilaluinya, kerumunan orang di belakangnya buyar, dan kulihat
mereka membentuk lagi kerumunan baru dibeberapa tempat yang akan
kulewati.
Ketika hampir sampai di tengah panggung pemancungan, yang
sedemikian lebar dan sedemikian dijejali manusia sehingga kami harus
lewat dengan susah payah, rasa takut yang dahsyat tiba-tiba
menyerangku. Aku khawatir akan jatuh pingsan dan kehilangan
keponggahanku yang terakhir! Kubuat diriku mabuk, agar menjadi buta
tuki terhadap segalanya, kecuali terhadap pendeta yang kata-katanya
terkadang saja terdengar karena tertutup keributan.
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
Aku terhuyung-huyung di bangku, yang ada dipikiranku hanyalah
pendeta dan salib.
Kereta berjalan maju dan maju. Toko-toko tanpa seperti lewat, dan
plang-plangnya saling bersusulan.
Tiba-tiba deretan toko yang memenuhi pandanganku itu terputus
di ujung bunderan. Suara orang-orang menjadi semakin gemuruh, semakin
meninggi, semakin riang lagi. Kereta mendadak berhenti, dan aku hampir
tersungkur ke lantai. Pendeta menahanku, menyorongkan tangannya
kepadaku, aku turun, melangkah satu tindak, lalu aku berbalik untuk
melangkah lagi, tapi tidak mampu.
Di antara dua lentera di pinggir sungai, tampak olehku sebuah
benda yang sangat mengerikan.
Oh! Ini kenyataan!
Orang lalu membawaku naik ke sini.
Algojo yang memuakkan!
Ia mendekati hakim itu, untuk mengatakan bahwa pelaksanaan
hukuman harus dilakukan pada saat yang telah ditentukan.
Kini waktunya telah tiba…
Orang-orang hina!
Kelihatannya ada orang naik tangga…PUKUL EMPAT.
TAMAT YAAAA….
_matahari
2005
Sekretariat : JL.Kramajaya No 59A lantai 2, RT 12,
teater -
Tenggarong, Kutai Kartanegara - Kalimantan Timur - INDONESIA
Web : http://www.lanjongartfoundation.org - Email : [email protected]
Mobile a.n Mimi: 08175454200
Download